TUJUAN PEMBELAJARAN (TP) PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DAN BUDI PEKERTI Fase B · Kelas III (Tiga) · Semester 1 (Ganjil) 1. IDENTITAS| Mata Pelajaran | Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti |
|---|
| Fase / Kelas | Fase B / Kelas III (Tiga) |
|---|
| Semester | 1 (Ganjil) |
|---|
| Jumlah TP | 48 |
|---|
2. CAPAIAN PEMBELAJARAN (CP)Murid memahami dirinya sebagai pribadi yang tumbuh dan berkembang serta mewujudkan iman melalui perbuatan baik; memahami karya keselamatan Allah melalui tokoh-tokoh Perjanjian Lama (Yusuf, Musa, Yosua); memahami Yesus sebagai pemenuhan janji Allah yang mewartakan Kerajaan Allah melalui perkataan, perbuatan, dan mukjizat. 3. DAFTAR TUJUAN PEMBELAJARANKode TP: Bab.Pertemuan.Urutan TP Bab 1 — Aku Tumbuh Dan Berkembang Dalam Kebaikan| No | Kode TP | Elemen | Tujuan Pembelajaran |
|---|
| 1 | — | Pribadi Peserta Didik | Murid mampu menjelaskan proses pertumbuhan dan perkembangan dirinya dari bayi hingga sekarang berdasarkan pengamatan gambar dan pengalaman pribadi. | | 2 | — | Pribadi Peserta Didik | Murid mampu menyebutkan perubahan kemampuan fisik yang dialaminya seiring bertambahnya usia sebagai anugerah Tuhan. | | 3 | — | Pribadi Peserta Didik | Murid mampu menjelaskan cara-cara merawat pertumbuhan diri yang baik (makan bergizi, olahraga, belajar, berlatih) sebagai wujud syukur atas anugerah Tuhan. | | 4 | — | Pribadi Peserta Didik | Murid mampu menunjukkan sikap taat pada nasihat orang tua dan guru sebagai bagian dari upaya bertumbuh dan berkembang sesuai kehendak Allah. | | 5 | — | Pribadi Peserta Didik | Murid mampu memahami bahwa kemampuan untuk berbuat baik adalah anugerah Tuhan yang harus dipelihara dan dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari. | | 6 | — | Pribadi Peserta Didik | Murid mampu menyebutkan contoh perbuatan baik yang dapat dilakukan di rumah, di sekolah, dan di lingkungan sekitar. | | 7 | — | Pribadi Peserta Didik | Murid mampu menjelaskan isi nasihat Santo Paulus dalam Roma 12:9-12 tentang selalu melakukan yang baik dan menolak yang jahat sebagai pedoman bertumbuh dalam kebaikan. | | 8 | — | Gereja | Murid mampu mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan atas kemampuan berbuat baik melalui doa pribadi sederhana. | | 9 | — | Masyarakat | Murid mampu mempraktikkan perbuatan baik kepada sesama di lingkungan rumah, sekolah, dan alam sekitar sebagai wujud iman dan pertumbuhan dalam kebaikan. | | 10 | — | Masyarakat | Murid mampu menjelaskan manfaat rajin berbuat baik bagi diri sendiri, sesama, dan lingkungan sebagai tanda hidup damai sesuai kehendak Allah. | | 11 | — | Pribadi Peserta Didik | Murid mampu menunjukkan pemahaman tentang dirinya sebagai pribadi yang tumbuh dan berkembang atas anugerah Tuhan melalui tes tertulis dan unjuk karya (jadwal belajar/gambar perbuatan baik). | | 12 | — | Pribadi Peserta Didik | Murid mampu mengungkapkan komitmen untuk terus bertumbuh dan berkembang dalam kebaikan dengan rajin berbuat baik kepada sesama dan ciptaan Tuhan lainnya. |
Bab 2 — Allah Menyelamatkan Melalui Tokoh-Tokoh Perjanjian Lama| No | Kode TP | Elemen | Tujuan Pembelajaran |
|---|
| 13 | — | Yesus Kristus | Murid mampu menjelaskan pengertian karya keselamatan Allah yang diwujudkan melalui tokoh-tokoh Perjanjian Lama (Yusuf, Musa, dan Yosua) berdasarkan Kitab Suci. | | 14 | — | Yesus Kristus | Murid mampu menyebutkan nama-nama tokoh Perjanjian Lama dan peran mereka secara umum sebagai sarana keselamatan Allah bagi umat Israel. | | 15 | — | Yesus Kristus | Murid mampu menceritakan kembali kisah Yusuf yang mengalami berbagai penderitaan (dijual saudara-saudaranya, dipenjara) berdasarkan Kitab Suci Perjanjian Lama. | | 16 | — | Pribadi Peserta Didik | Murid mampu menjelaskan bahwa kesulitan dan cobaan yang dialami Yusuf merupakan jalan Allah untuk membentuk dirinya menjadi pribadi yang tangguh dan taat. | | 17 | — | Yesus Kristus | Murid mampu menjelaskan bagaimana pertolongan Allah menyertai Yusuf sehingga ia berhasil menjadi penguasa di Mesir dan menyelamatkan keluarganya. | | 18 | — | Pribadi Peserta Didik | Murid mampu menunjukkan sikap meneladani Yusuf dengan berusaha meraih prestasi melalui kerja keras, ketabahan, dan senantiasa mengandalkan pertolongan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. | | 19 | — | Yesus Kristus | Murid mampu menggambarkan situasi penderitaan bangsa Israel akibat perbudakan di Mesir dan menjelaskan bagaimana Allah memanggil Musa untuk membebaskan umat-Nya. | | 20 | — | Yesus Kristus | Murid mampu menjelaskan bahwa Allah berpihak pada mereka yang menderita dan menindas, serta memanggil orang-orang pilihan-Nya untuk membela keadilan dan kebenaran. | | 21 | — | Yesus Kristus | Murid mampu menceritakan kembali peristiwa Musa memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir, termasuk peristiwa penyeberangan Laut Teberau, berdasarkan Kitab Keluaran 14:5-31. | | 22 | — | Yesus Kristus | Murid mampu menjelaskan bahwa Tuhan menyertai dan memberikan kemenangan kepada orang yang berani membela sesama dari penindasan, sebagaimana ditunjukkan oleh Musa. | | 23 | — | Masyarakat | Murid mampu mengidentifikasi berbagai bentuk penderitaan yang dialami orang-orang di sekitarnya (akibat bencana alam maupun ketidakadilan sesama manusia) dan menjelaskan pentingnya sikap berani menolong. | | 24 | — | Pribadi Peserta Didik | Murid mampu menuliskan bentuk-bentuk pertolongan konkret yang dapat dilakukan untuk sesama yang menderita di sekitarnya sebagai wujud meneladani Musa. | | 25 | — | Yesus Kristus | Murid mampu menceritakan kisah Yosua yang dipilih Allah sebagai pemimpin bangsa Israel untuk menggantikan Musa dan memimpin umat memasuki tanah Kanaan. | | 26 | — | Yesus Kristus | Murid mampu menjelaskan ciri-ciri kepemimpinan Yosua yang tegas, berani, bersemangat, dan taat pada perintah Allah sebagai tanda penyertaan Tuhan. | | 27 | — | Yesus Kristus | Murid mampu menjelaskan bagaimana Tuhan menyertai dan memberikan kemenangan kepada Yosua karena ketaatan dan keteguhannya melaksanakan perintah Allah dalam memimpin bangsa Israel memasuki tanah Kanaan. | | 28 | — | Masyarakat | Murid mampu menunjukkan sikap meneladani Yosua dengan membiasakan diri untuk taat melaksanakan kehendak Allah dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan keluarga dan sekolah. | | 29 | — | Yesus Kristus | Murid mampu membandingkan keteladanan Yusuf, Musa, dan Yosua sebagai sarana karya keselamatan Allah, serta merumuskan nilai-nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupannya. | | 30 | — | Gereja | Murid mampu mengungkapkan rasa syukur kepada Allah yang senantiasa menyertai dan menolong manusia melalui doa pribadi yang diungkapkan secara lisan maupun tulisan. | | 31 | — | Yesus Kristus | Murid mampu menunjukkan pemahaman tentang karya keselamatan Allah yang tercermin pada kisah Yusuf, Musa, dan Yosua melalui asesmen sumatif tertulis (pilihan ganda dan uraian singkat). | | 32 | — | Pribadi Peserta Didik | Murid mampu mendemonstrasikan kemampuan menerapkan keteladanan tokoh-tokoh Perjanjian Lama melalui asesmen keterampilan berupa penugasan praktik (menuliskan atau menceritakan kembali salah satu kisah tokoh dan nilai yang diteladaninya). |
Bab 3 — Yesus Tampil Di Depan Umum| No | Kode TP | Elemen | Tujuan Pembelajaran |
|---|
| 33 | — | Yesus Kristus | Melalui tanya jawab dan pengamatan gambar, murid mampu menjelaskan bahwa Yesus adalah pemenuhan janji Allah yang hadir untuk menyelamatkan manusia. | | 34 | — | Yesus Kristus | Melalui cerita dan diskusi, murid mampu menyebutkan minimal dua alasan mengapa Yesus mulai tampil di depan umum sebagai wujud karya keselamatan Allah. | | 35 | — | Yesus Kristus | Melalui pembacaan Kitab Suci (Markus 1:9-11) dan bercerita, murid mampu menjelaskan peristiwa pembaptisan Yesus di Sungai Yordan sebagai awal penampilan-Nya di depan umum. | | 36 | — | Gereja | Melalui refleksi, murid mampu menghubungkan peristiwa baptis Yesus dengan sakramen baptis yang mereka terima sebagai tanda menjadi anak Allah. | | 37 | — | Pribadi Peserta Didik | Melalui diskusi kelompok dan penugasan, murid mampu menunjukkan sikap ketaatan dan kerendahan hati yang diteladani dari peristiwa pembaptisan Yesus dalam kehidupan sehari-hari. | | 38 | — | Gereja | Melalui doa bersama, murid mampu mengungkapkan rasa syukur atas pembaptisan mereka sebagai tanda menjadi bagian dari umat Allah. | | 39 | — | Yesus Kristus | Melalui pembacaan Kitab Suci (Markus 6:30-44), pengamatan gambar, dan tanya jawab, murid mampu menceritakan kembali peristiwa Yesus memberi makan lima ribu orang sebagai wujud karya keselamatan Allah. | | 40 | — | Yesus Kristus | Melalui diskusi, murid mampu menjelaskan bahwa mukjizat Yesus memperbanyak lima roti dan dua ikan menunjukkan bahwa Yesus mewartakan Kerajaan Allah melalui perbuatan nyata. | | 41 | — | Pribadi Peserta Didik | Melalui refleksi dan aksi nyata, murid mampu menunjukkan sikap rela berbagi rezeki kepada sesama yang membutuhkan sebagai bentuk peneladanan terhadap Yesus. | | 42 | — | Masyarakat | Melalui kegiatan kelompok, murid mampu merencanakan satu tindakan berbagi (makanan atau kebutuhan lain) kepada orang yang membutuhkan di lingkungan sekitarnya. | | 43 | — | Yesus Kristus | Melalui pembacaan Kitab Suci dan bercerita, murid mampu menjelaskan pesan utama perumpamaan anak yang hilang sebagai gambaran kasih pengampunan Allah kepada manusia. | | 44 | — | Gereja | Melalui tanya jawab dan penugasan, murid mampu menghubungkan tindakan Yesus mengampuni dengan sakramen tobat sebagai sarana pengampunan dosa dalam Gereja Katolik. | | 45 | — | Pribadi Peserta Didik | Melalui refleksi pribadi dan diskusi, murid mampu menunjukkan kesediaan untuk mengampuni teman atau sesama yang bersalah sebagai wujud iman yang diteladani dari Yesus. | | 46 | — | Masyarakat | Melalui doa dan kegiatan aksi, murid mampu mengungkapkan niat konkret untuk mewujudkan sikap pengampunan dalam kehidupan sehari-hari di keluarga dan lingkungan sekitar. | | 47 | — | Yesus Kristus | Melalui asesmen sumatif tertulis dan lisan, murid mampu menunjukkan pemahaman tentang karya keselamatan Allah melalui peristiwa Yesus dibaptis, Yesus memberi makan lima ribu orang, dan Yesus mengampuni. | | 48 | — | Pribadi Peserta Didik | Melalui asesmen sumatif, murid mampu menunjukkan sikap dan perilaku yang mencerminkan peneladanan terhadap Yesus dalam kehidupan sehari-hari sebagai wujud iman yang nyata. |
|