| 1 | — | Murid dapat menjelaskan pengertian bilangan berpangkat positif (basis dan eksponen) berdasarkan pola perkalian berulang dengan benar. | 3 |
| 2 | — | Murid dapat membaca dan menulis notasi bilangan berpangkat positif (a^n) serta menghitung nilainya untuk bilangan bulat dan pecahan. | 3 |
| 3 | — | Murid dapat menjelaskan dan menggunakan sifat perkalian bilangan berpangkat (a^m × a^n = a^(m+n)) melalui eksplorasi pola. | 3 |
| 4 | — | Murid dapat menjelaskan dan menggunakan sifat pembagian bilangan berpangkat (a^m ÷ a^n = a^(m−n)) melalui eksplorasi pola. | 3 |
| 5 | — | Murid dapat menjelaskan dan menggunakan sifat perpangkatan bilangan berpangkat ((a^m)^n = a^(m×n)) melalui eksplorasi tabel. | 3 |
| 6 | — | Murid dapat menjelaskan dan menggunakan sifat perpangkatan pada perkalian bilangan ((a×b)^m = a^m × b^m) melalui eksplorasi contoh. | 3 |
| 7 | — | Murid dapat menjelaskan makna dan membuktikan bahwa setiap bilangan (selain nol) berpangkat nol sama dengan 1 (a^0 = 1) melalui pola pembagian. | 3 |
| 8 | — | Murid dapat menjelaskan makna bilangan berpangkat negatif (a^(−n) = 1/a^n) dan menghitung nilainya dengan benar. | 3 |
| 9 | — | Murid dapat menjelaskan dan menghitung nilai bilangan pecahan berpangkat ((a/b)^n = a^n/b^n) untuk bilangan bulat positif n. | 3 |
| 10 | — | Murid dapat menyelesaikan operasi penjumlahan dan pengurangan ekspresi bilangan berpangkat dengan basis yang sama. | 3 |
| 11 | — | Murid dapat menerapkan sifat-sifat operasi bilangan berpangkat untuk menyelesaikan masalah kontekstual (misalnya kapasitas memori digital, pertumbuhan, dan pengukuran). | 3 |
| 12 | — | Murid dapat memberikan estimasi hasil operasi bilangan berpangkat dalam konteks pemecahan masalah sehari-hari. | 3 |
| 13 | — | Murid dapat menjelaskan pengertian bilangan bentuk akar dan hubungannya dengan pangkat pecahan (a^(1/n) = ⁿ√a). | 3 |
| 14 | — | Murid dapat mengubah bilangan pangkat pecahan (pembilang satu) ke bentuk akar dan sebaliknya dengan benar. | 3 |
| 15 | — | Murid dapat menentukan hasil penjumlahan dan pengurangan bilangan bentuk akar sejenis (senama) dengan benar. | 3 |
| 16 | — | Murid dapat menyederhanakan bentuk akar sebelum melakukan operasi penjumlahan dan pengurangan. | 3 |
| 17 | — | Murid dapat menentukan hasil perkalian bilangan bentuk akar (√a × √b = √(ab)) dan menyederhanakan hasilnya. | 3 |
| 18 | — | Murid dapat menentukan hasil pembagian bilangan bentuk akar (√a ÷ √b = √(a/b)) dan menyederhanakan hasilnya. | 3 |
| 19 | — | Murid dapat merasionalkan penyebut pecahan yang berbentuk akar tunggal (a/√b) dengan mengalikan sekawan. | 3 |
| 20 | — | Murid dapat menyelesaikan masalah kontekstual yang melibatkan operasi bilangan bentuk akar termasuk merasionalkan penyebut. | 3 |
| 21 | — | Murid dapat menulis bilangan sangat besar dan sangat kecil dalam bentuk baku (notasi ilmiah: a × 10^n, 1 ≤ a < 10) dan sebaliknya. | 3 |
| 22 | — | Murid dapat membandingkan dan mengurutkan bilangan yang ditulis dalam bentuk baku serta menggunakannya untuk menyelesaikan masalah kontekstual (misalnya jarak planet, ukuran virus). | 3 |
| 23 | — | Murid dapat menunjukkan pemahaman menyeluruh tentang konsep bilangan berpangkat, bentuk akar, dan bentuk baku melalui penyelesaian soal asesmen sumatif secara mandiri. | 3 |
| 24 | — | Murid dapat menerapkan sifat-sifat operasi bilangan berpangkat dan bentuk akar dalam menyelesaikan masalah kontekstual pada soal asesmen sumatif. | 3 |
| 25 | — | Murid dapat menghitung kuadrat suatu bilangan bulat positif dan menentukan akar kuadrat dari bilangan kuadrat sempurna melalui eksplorasi pola bilangan. | 3 |
| 26 | — | Murid dapat membedakan bilangan rasional dan bilangan irasional yang muncul sebagai hasil akar kuadrat dari bilangan yang bukan kuadrat sempurna. | 3 |
| 27 | — | Murid dapat menganalisis hubungan luas tiga persegi yang dibangun pada sisi-sisi segitiga siku-siku untuk menemukan konsep teorema Pythagoras (c² = a² + b²). | 3 |
| 28 | — | Murid dapat membuat skema atau prosedur pembuktian teorema Pythagoras menggunakan model persegi pada kertas berpetak. | 3 |
| 29 | — | Murid dapat menghitung panjang hipotenusa segitiga siku-siku menggunakan teorema Pythagoras jika panjang kedua sisi siku-sikunya diketahui. | 3 |
| 30 | — | Murid dapat menentukan panjang salah satu sisi siku-siku segitiga jika panjang hipotenusa dan sisi siku-siku lainnya diketahui menggunakan teorema Pythagoras. | 3 |
| 31 | — | Murid dapat menentukan apakah suatu kelompok tiga bilangan bulat positif merupakan tripel Pythagoras dengan memverifikasi hubungan c² = a² + b². | 3 |
| 32 | — | Murid dapat menghasilkan tripel Pythagoras menggunakan rumus p² + q², p² − q², dan 2pq untuk pasangan bilangan bulat positif p > q. | 3 |
| 33 | — | Murid dapat menggunakan kebalikan teorema Pythagoras untuk menentukan apakah suatu segitiga dengan tiga panjang sisi yang diketahui merupakan segitiga siku-siku. | 3 |
| 34 | — | Murid dapat membedakan segitiga siku-siku, segitiga lancip, dan segitiga tumpul berdasarkan hubungan c², a², dan b² dari ketiga sisinya. | 3 |
| 35 | — | Murid dapat menentukan panjang sisi-sisi segitiga siku-siku sama kaki (sudut 45°–45°–90°) menggunakan teorema Pythagoras dan menemukan pola perbandingan sisinya (s : s : s√2). | 3 |
| 36 | — | Murid dapat menghitung panjang sisi yang belum diketahui pada segitiga siku-siku sama kaki dengan menerapkan perbandingan sisi segitiga istimewa 45°–45°–90°. | 3 |
| 37 | — | Murid dapat menentukan panjang sisi-sisi segitiga siku-siku dengan sudut 30°–60°–90° menggunakan teorema Pythagoras dan menemukan pola perbandingan sisinya (s : s√3 : 2s). | 3 |
| 38 | — | Murid dapat membandingkan perbandingan sisi pada segitiga istimewa 30°–60°–90° dan 45°–45°–90° untuk menyelesaikan soal penentuan panjang sisi. | 3 |
| 39 | — | Murid dapat menyelesaikan masalah kontekstual dalam kehidupan sehari-hari (seperti tinggi tangga, panjang diagonal, dan jarak tempuh) dengan menerapkan teorema Pythagoras. | 3 |
| 40 | — | Murid dapat memodelkan situasi nyata ke dalam bentuk segitiga siku-siku dan menentukan besaran yang ditanyakan menggunakan teorema Pythagoras. | 3 |
| 41 | — | Murid dapat menerapkan teorema Pythagoras untuk menghitung jarak antara dua titik pada bidang koordinat Kartesius menggunakan rumus jarak d = √((x₂−x₁)² + (y₂−y₁)²). | 3 |
| 42 | — | Murid dapat menyelesaikan masalah yang melibatkan penentuan jarak dua titik pada bidang koordinat Kartesius dalam konteks geometri maupun situasi nyata. | 3 |
| 43 | — | Murid dapat menunjukkan pemahaman menyeluruh tentang teorema Pythagoras, meliputi pembuktian, tripel Pythagoras, segitiga istimewa, dan penerapannya dalam soal kontekstual serta koordinat Kartesius, sebagai bukti pencapaian kompetensi Bab 2. | 3 |
| 44 | — | Murid dapat membedakan kalimat terbuka dan kalimat tertutup serta menentukan nilai kebenaran dari suatu pernyataan matematika. | 3 |
| 45 | — | Murid dapat menyatakan suatu situasi sehari-hari ke dalam bentuk kalimat matematika (terbuka atau tertutup) dengan mengidentifikasi variabel, koefisien, dan konstanta. | 3 |
| 46 | — | Murid dapat mengenali bentuk umum persamaan linier satu variabel dan membedakannya dari persamaan kuadrat serta persamaan dengan dua variabel. | 3 |
| 47 | — | Murid dapat mengubah masalah kontekstual sehari-hari yang berkaitan dengan persamaan linier satu variabel menjadi model matematika. | 3 |
| 48 | — | Murid dapat menerapkan aturan penjumlahan dan pengurangan pada kedua ruas untuk menyelesaikan persamaan linier satu variabel. | 3 |
| 49 | — | Murid dapat memverifikasi solusi persamaan linier satu variabel dengan mensubstitusi nilai variabel ke dalam persamaan semula. | 3 |
| 50 | — | Murid dapat menerapkan aturan perkalian dan pembagian pada kedua ruas untuk menyelesaikan persamaan linier satu variabel yang lebih kompleks. | 3 |
| 51 | — | Murid dapat memecahkan masalah sehari-hari yang berkaitan dengan persamaan linier satu variabel menggunakan operasi perkalian dan pembagian. | 3 |
| 52 | — | Murid dapat mengenali bentuk umum pertidaksamaan linier satu variabel dan membedakannya dari persamaan linier satu variabel. | 3 |
| 53 | — | Murid dapat mengubah masalah kontekstual sehari-hari yang berkaitan dengan pertidaksamaan linier satu variabel menjadi model matematika. | 3 |
| 54 | — | Murid dapat menerapkan sifat penjumlahan dan pengurangan pada pertidaksamaan linier satu variabel serta memahami bahwa tanda pertidaksamaan tidak berubah. | 3 |
| 55 | — | Murid dapat menerapkan sifat perkalian dan pembagian pada pertidaksamaan linier satu variabel, termasuk perubahan tanda pertidaksamaan saat dikalikan atau dibagi bilangan negatif. | 3 |
| 56 | — | Murid dapat memecahkan masalah kontekstual sehari-hari yang berkaitan dengan persamaan linier satu variabel secara lengkap mulai dari pemodelan hingga interpretasi solusi. | 3 |
| 57 | — | Murid dapat memecahkan masalah kontekstual sehari-hari yang berkaitan dengan pertidaksamaan linier satu variabel secara lengkap mulai dari pemodelan hingga interpretasi himpunan penyelesaian. | 3 |
| 58 | — | Murid dapat menyelesaikan persamaan linier satu variabel dengan menerapkan operasi penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian secara tepat sebagai bukti pencapaian kompetensi bab. | 3 |
| 59 | — | Murid dapat menyelesaikan pertidaksamaan linier satu variabel dan menyajikan himpunan penyelesaiannya, serta memecahkan masalah kontekstual terkait, sebagai bukti pencapaian kompetensi bab. | 3 |