Modul AjarPertemuan 4Bab 2Fase ESemester 1

Modul Ajar Prakarya dan Kewirausahaan Pengolahan Kelas 10: Produksi Produk dan Kemasan Olahan Nonpangan Nabati Pewangi Alami

Modul Ajar ini disusun untuk satu pertemuan tatap muka mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan Pengolahan kelas 10 dengan topik "Produksi Produk dan Kemasan Olahan Nonpangan Nabati Pewangi Alami". Dokumen mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Kurikulum Merdeka, lengkap dengan tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen ringkas.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Prakarya dan Kewirausahaan Pengolahan Kelas 10: Produksi Produk dan Kemasan Olahan Nonpangan Nabati Pewangi Alami

Prakarya dan Kewirausahaan Pengolahan - Kelas 10

Bab 2 - Pertemuan 4

MODUL AJAR

Prakarya dan Kewirausahaan Pengolahan — Kelas 10 (Fase E)

Topik: Produksi Produk dan Kemasan Olahan Nonpangan Nabati Pewangi Alami

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPrakarya dan Kewirausahaan Pengolahan
Fase / KelasFase E / Kelas 10
TopikProduksi Produk dan Kemasan Olahan Nonpangan Nabati Pewangi Alami
Alokasi Waktu2x45 menit
Jumlah Pertemuan1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Murid dapat membuat produk olahan nonpangan nabati pewangi alami (seperti lilin aromaterapi kopi atau pengharum ruangan nabati) sesuai desain yang telah dirancang dengan memperhatikan keselamatan kerja dan kebersihan.
  2. Murid dapat membuat kemasan produk nonpangan nabati pewangi alami sesuai desain kemasan yang telah disepakati kelompok.

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Pernahkah kalian mencium aroma lilin atau pengharum ruangan di rumah? Apakah kalian tahu bahan alami apa yang bisa menghasilkan wangi serupa?
  2. Mengapa produk pewangi alami dari bahan nabati seperti kopi atau rempah bisa lebih bernilai jual tinggi dibandingkan pewangi sintetis?
  3. Jika produk yang kalian buat sudah bagus tetapi kemasannya biasa saja, apakah menurut kalian produk itu tetap akan laku di pasaran? Mengapa?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam dan memastikan seluruh murid siap belajar (1 menit).
  • Asesmen awal: Guru menayangkan dua gambar — satu produk lilin aromaterapi kopi jadi dan satu produk tanpa kemasan — kemudian meminta murid menuliskan satu kata yang muncul di benak mereka di sticky note atau buku masing-masing (2 menit).
  • Guru menyampaikan pertanyaan pemantik secara lisan dan memberi ruang 2–3 murid untuk merespons singkat (3 menit).
  • Guru mengingatkan hasil kerja pertemuan sebelumnya: desain produk dan desain kemasan yang telah disepakati tiap kelompok (2 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran 10.2.4.1 dan 10.2.4.2 serta alur kegiatan hari ini secara ringkas: produksi produk → produksi kemasan → refleksi (2 menit).
  • Guru menekankan prosedur keselamatan kerja: tidak menyentuh lilin panas dengan tangan langsung, menggunakan alas tahan panas, dan menjaga area kerja tetap bersih (3 menit).
  • Murid berkumpul di kelompoknya masing-masing dan memastikan bahan serta alat sudah tersedia di meja kerja (2 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru menayangkan atau membagikan langkah-langkah produksi lilin aromaterapi kopi secara visual (poster/slide/video singkat 1–2 menit): mengiris lilin, melelehkan, menuang berlapis dengan kopi bubuk ke dalam gelas kaca, memasang sumbu.
  • Setiap kelompok mencocokkan langkah di tayangan dengan desain produk mereka sendiri: adakah perbedaan bahan atau urutan? Murid menandai perbedaan tersebut pada lembar kerja kelompok (berisi kolom: Langkah Standar | Modifikasi Kelompok | Alasan Modifikasi).
  • Guru berkeliling dan mengajukan satu pertanyaan penggali per kelompok, misalnya: 'Kenapa kalian memilih kopi dengan tingkat gilingan ini?' atau 'Bagaimana kalian memastikan suhu lilin cair tidak terlalu tinggi?', mendorong penalaran kritis sebelum mulai produksi.
  • Setiap kelompok menyepakati pembagian peran kerja: siapa yang melelehkan lilin, menuang, menjaga sumbu, dan mencatat proses (2 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Tahap Produksi Produk (±30 menit): Setiap kelompok memproduksi lilin aromaterapi kopi atau produk pewangi nabati sesuai desain yang telah dirancang. Guru memastikan seluruh kelompok menerapkan prosedur keselamatan: menggunakan wadah tahan panas, tidak tergesa-gesa saat menuang lilin cair, dan menjaga kebersihan meja kerja.
  • Selama proses produksi, satu anggota kelompok bertugas mendokumentasikan setiap tahapan (foto atau catatan tertulis) sebagai bahan portofolio dan bahan refleksi.
  • Guru melakukan observasi formatif berkeliling ke setiap kelompok, mencatat kesesuaian proses dengan desain yang dirancang dan kepatuhan terhadap keselamatan kerja menggunakan lembar observasi.
  • Jika ada kelompok yang menghadapi kendala (misal lilin tidak meleleh merata, sumbu tidak tegak), guru mendampingi dengan pertanyaan pemecahan masalah, bukan langsung memberikan solusi: 'Menurut kalian, apa yang bisa dilakukan agar sumbu tetap tegak saat lilin cair dituang?'
  • Produk yang sudah jadi diletakkan di area yang aman untuk mendingin, sambil kelompok menyiapkan bahan kemasan.
  • Tahap Produksi Kemasan (±20 menit): Setiap kelompok membuat kemasan produk sesuai desain yang telah disepakati pada pertemuan sebelumnya (misal: label nama produk, bahan, cara penggunaan, identitas kelompok; dilengkapi elemen visual yang menarik).
  • Kelompok memastikan kemasan memuat informasi minimal: nama produk, komposisi bahan utama, cara penggunaan, dan nama produsen/kelompok.
  • Guru mengingatkan bahwa kemasan adalah wajah produk — kerapian, keterbacaan, dan daya tarik visual menjadi bagian dari penilaian.
  • Produk dikemas dan disajikan di meja masing-masing kelompok untuk siap dipresentasikan dan dinilai.

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Setiap kelompok melakukan gallery walk singkat (5 menit): semua kelompok berdiri, berjalan melihat hasil produk dan kemasan kelompok lain, lalu menempelkan satu sticky note berisi satu apresiasi dan satu saran konstruktif di meja tiap kelompok.
  • Kembali ke meja masing-masing, tiap kelompok membaca masukan dari kelompok lain dan mendiskusikan: apa yang sudah sesuai desain? Apa yang perlu diperbaiki jika ada waktu tambahan?
  • Setiap murid mengisi lembar refleksi individual (bisa digital atau kertas) dengan dua pertanyaan: (1) Bagian mana dari proses produksi yang paling menantang dan bagaimana saya mengatasinya? (2) Seberapa yakin saya bahwa produk dan kemasan ini siap dijual? (skor 1–5 dengan alasan singkat).
  • Guru merangkum temuan lapangan secara lisan: pola keberhasilan yang diamati, satu atau dua hal yang perlu diperhatikan kelompok ke depan, serta mengaitkan pengalaman hari ini dengan nilai wirausaha nyata.

Penutup:

  • Guru meminta 2–3 murid menyampaikan satu hal yang paling mereka pelajari hari ini dalam satu kalimat (2 menit).
  • Guru memberikan umpan balik singkat terhadap keseluruhan proses produksi yang diamati: apresiasi atas upaya kelompok, catatan umum untuk perbaikan (3 menit).
  • Guru mengumumkan tindak lanjut: produk dan kemasan yang telah dibuat akan digunakan pada pertemuan berikutnya untuk kegiatan promosi dan pemasaran.
  • Murid bersama-sama membersihkan area kerja, memastikan alat dicuci dan disimpan kembali, serta sisa bahan dibuang/disimpan dengan benar (2 menit).
  • Guru menutup pembelajaran dengan salam (1 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang belum familiar dengan proses pelelehan lilin dapat diberikan lembar langkah bergambar (visual step-by-step) yang lebih rinci. Murid yang sudah mahir dapat diberikan tantangan tambahan: memodifikasi aroma dengan menambahkan bahan nabati lain (misal cengkih atau kayu manis) dan mendokumentasikan hasilnya.
  • Proses: Kelompok yang membutuhkan lebih banyak dukungan didampingi lebih intensif oleh guru selama produksi, dengan pertanyaan scaffolding bertahap. Kelompok yang bekerja lebih cepat didorong untuk menyempurnakan estetika kemasan atau membuat variasi ukuran kemasan (kemasan mini dan kemasan standar).
  • Produk: Murid yang kesulitan membuat kemasan cetak dapat menggantinya dengan kemasan digital sederhana (label yang dirancang di aplikasi di HP mereka) atau kemasan tangan yang tetap memuat informasi wajib. Murid yang mampu lebih dapat menambahkan QR code atau tagline produk pada kemasan mereka.

ASESMEN

Awal:

  • Guru menayangkan dua gambar (produk jadi dengan kemasan menarik vs. produk tanpa kemasan) dan meminta murid menuliskan satu kata respons di sticky note/buku — untuk mendeteksi sejauh mana murid memahami pentingnya kemasan sebelum kegiatan dimulai.
  • Guru menanyakan secara lisan: 'Kelompok mana yang desain produknya sudah final? Siapa yang masih ragu dengan langkah produksinya?' — untuk mengidentifikasi kelompok yang perlu scaffolding lebih intensif.

Proses:

  • Observasi guru berkeliling selama produksi menggunakan lembar observasi dengan indikator: (1) mengikuti prosedur keselamatan kerja, (2) proses sesuai desain yang dirancang, (3) setiap anggota berkontribusi aktif.
  • Pengecekan lembar kerja kelompok (Langkah Standar vs. Modifikasi Kelompok) untuk memastikan murid dapat menghubungkan teori dengan praktik yang mereka lakukan.
  • Guru mengajukan pertanyaan lisan penggali ke setiap kelompok minimal satu kali selama proses produksi berlangsung.

Akhir:

  • Penilaian produk olahan nonpangan nabati pewangi alami menggunakan rubrik 4 level berdasarkan aspek: kesesuaian dengan desain, kualitas fisik produk, dan penerapan keselamatan kerja.
  • Penilaian kemasan produk menggunakan rubrik 4 level berdasarkan aspek: kelengkapan informasi, kerapian, dan daya tarik visual.
  • Lembar refleksi individual dikumpulkan sebagai bukti proses berpikir dan kesadaran diri murid.

Formatif:

  • Lembar observasi guru selama proses produksi: mencakup kepatuhan prosedur keselamatan kerja, kesesuaian proses dengan desain, dan kerja sama kelompok.
  • Lembar kerja kelompok (kolom: Langkah Standar | Modifikasi Kelompok | Alasan Modifikasi) yang dikumpulkan setelah tahap Memahami.
  • Sticky note gallery walk: apresiasi dan saran antarkelompok sebagai data formatif peer assessment.
  • Lembar refleksi individual dengan skor kepercayaan diri 1–5 disertai alasan.

Sumatif:

  • Penilaian produk jadi: kesesuaian produk dengan desain yang dirancang, kualitas fisik produk (tekstur lilin, kerataan lapisan, sumbu terpasang baik), dan aroma yang dihasilkan.
  • Penilaian kemasan: kelengkapan informasi pada kemasan (nama produk, komposisi, cara penggunaan, identitas kelompok), kerapian, dan daya tarik visual.

RUBRIK PENILAIAN

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kesesuaian Produk dengan Desain yang DirancangProduk yang dibuat berbeda secara signifikan dari desain yang dirancang tanpa alasan yang dapat dijelaskan.Produk yang dibuat sebagian sesuai desain, tetapi ada beberapa komponen utama yang tidak terpenuhi.Produk yang dibuat sebagian besar sesuai desain; perbedaan kecil yang ada dapat dijelaskan oleh kelompok.Produk yang dibuat sepenuhnya sesuai desain yang dirancang; jika ada modifikasi, dapat dijelaskan secara logis dan hasilnya lebih baik.
Kualitas Fisik Produk (Lilin Aromaterapi / Pengharum Nabati)Produk tidak terbentuk dengan baik (lilin tidak mengeras merata, sumbu tidak terpasang, atau aroma tidak terdeteksi).Produk terbentuk tetapi masih terdapat cacat fisik yang cukup mencolok (misal lapisan tidak rata, sumbu miring) yang memengaruhi fungsi produk.Produk terbentuk dengan baik, cacat fisik minimal, aroma cukup terasa, dan produk dapat berfungsi sebagai pewangi.Produk terbentuk dengan sangat baik, tampilan rapi dan menarik, aroma kuat dan menyenangkan, serta produk siap digunakan dan dipasarkan.
Penerapan Keselamatan Kerja dan KebersihanKelompok tidak memperhatikan keselamatan kerja (misal memegang lilin panas tanpa pelindung) dan area kerja sangat kotor.Kelompok sesekali menerapkan prosedur keselamatan tetapi masih perlu diingatkan guru; area kerja kurang bersih.Kelompok sebagian besar menerapkan prosedur keselamatan secara mandiri dan menjaga kebersihan area kerja dengan baik.Kelompok secara konsisten menerapkan seluruh prosedur keselamatan kerja secara mandiri dan area kerja sangat bersih dan terorganisir sepanjang proses produksi.
Kelengkapan Informasi pada KemasanKemasan tidak memuat informasi produk sama sekali atau hanya memuat nama produk saja.Kemasan memuat 1–2 dari 4 informasi wajib (nama produk, komposisi bahan utama, cara penggunaan, identitas kelompok).Kemasan memuat 3 dari 4 informasi wajib dengan tulisan yang terbaca jelas.Kemasan memuat lengkap 4 informasi wajib, ditulis dengan jelas, dan ditambah elemen informasi atau visual tambahan yang relevan (misal tanggal pembuatan, tagline, atau ilustrasi).
Daya Tarik Visual dan Kerapian KemasanKemasan tidak rapi, tulisan sulit dibaca, dan tidak ada upaya estetika yang terlihat.Kemasan cukup rapi tetapi tampilan visual sederhana dan kurang menarik perhatian calon pembeli.Kemasan rapi, tulisan terbaca jelas, dan terdapat elemen visual (warna, ilustrasi, atau tata letak) yang membuat kemasan cukup menarik.Kemasan sangat rapi, estetis, dan memiliki identitas visual yang kuat sehingga langsung menarik perhatian; mencerminkan nilai jual produk dengan baik.
Kolaborasi dan Kontribusi KelompokHanya 1–2 anggota yang bekerja aktif; sebagian besar anggota tidak berkontribusi dalam proses produksi.Sebagian anggota berkontribusi tetapi pembagian peran tidak merata dan perlu dorongan dari guru.Sebagian besar anggota berkontribusi aktif dengan pembagian peran yang cukup jelas.Seluruh anggota berkontribusi aktif dengan pembagian peran yang jelas, saling mendukung, dan menyelesaikan tugas secara mandiri tanpa perlu dorongan guru.

REFLEKSI

Refleksi Guru:

  • Apakah seluruh kelompok berhasil menyelesaikan produksi produk DAN kemasan dalam alokasi waktu yang tersedia? Jika tidak, di tahap mana waktu paling banyak terpakai?
  • Kelompok mana yang membutuhkan scaffolding paling banyak hari ini, dan apa kebutuhan spesifik mereka yang perlu diakomodasi pada pertemuan berikutnya?
  • Apakah pertanyaan penggali yang saya ajukan selama proses produksi berhasil mendorong murid berpikir kritis, atau cenderung langsung memberikan solusi?
  • Apakah prosedur keselamatan kerja sudah dipatuhi secara konsisten oleh seluruh kelompok? Apa yang perlu saya perkuat pada pertemuan berikutnya?

Refleksi Murid:

  • Bagian mana dari proses membuat produk pewangi hari ini yang paling menantang buat kamu, dan bagaimana kamu mengatasinya?
  • Apakah produk dan kemasan yang kamu buat sudah sesuai dengan desain yang kelompokmu rancang? Apa yang berbeda, dan mengapa?
  • Seberapa siap produk dan kemasanmu untuk dijual ke orang lain? (1 = belum siap sama sekali, 5 = sangat siap) — tuliskan alasanmu.
  • Satu hal apa yang akan kamu lakukan secara berbeda jika kamu mengulang proses produksi ini?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Prakarya dan Kewirausahaan: Pengolahan untuk SMA/MA Kelas X (Kemendikbudristek, 2022) — khususnya Bab 2 Unit 2 dan Kegiatan Pembelajaran 4.
  2. Desain produk dan desain kemasan hasil kerja kelompok dari pertemuan sebelumnya.
  3. Bahan produksi: lilin kecil, sumbu lilin, gelas kaca, kopi bubuk (atau bahan nabati pewangi lain sesuai desain kelompok).
  4. Alat produksi: wadah tahan panas, kompor/microwave, sendok/pengaduk tahan panas, alas meja tahan panas.
  5. Bahan kemasan: kertas/karton, gunting, lem, spidol/pulpen warna, atau stiker label.
  6. Sticky note untuk asesmen awal dan gallery walk.
  7. Lembar kerja kelompok (kolom: Langkah Standar | Modifikasi Kelompok | Alasan Modifikasi).
  8. Lembar observasi guru untuk penilaian proses.
  9. Lembar refleksi individual murid.
  10. Slide/poster/video singkat langkah-langkah pembuatan lilin aromaterapi kopi sebagai referensi visual.

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.