MODUL AJAR Pendidikan Pancasila — Kelas 9 (Fase D) Topik: Bab 4 — Menjaga dan Melestarikan Tradisi, Kearifan Lokal, serta Budaya dalam Masyarakat Global INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | Pendidikan Pancasila |
|---|
| Fase / Kelas | Fase D / Kelas 9 |
|---|
| Topik | Bab 4 — Menjaga dan Melestarikan Tradisi, Kearifan Lokal, serta Budaya dalam Masyarakat Global |
|---|
| Alokasi Waktu | 16 JP (16 x 40 menit = 640 menit) |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 8 |
|---|
| Tahun Ajaran | 2026/2027 |
|---|
| Semester | 2 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- TP 9.4.1 Mengidentifikasi pentingnya pelestarian tradisi, kearifan lokal, dan budaya daerah sebagai identitas nasional dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika
- TP 9.4.2 Menunjukkan sikap tanggung jawab dalam menjaga kelestarian praktik tradisi, kearifan lokal, dan budaya daerah dalam masyarakat global
- TP 9.4.3 Berperan aktif mempraktikkan kearifan lokal daerah dalam kehidupan masyarakat global
- TP 9.4.4 Berperan aktif menampilkan ekspresi tradisi dan budaya daerah dalam pergaulan masyarakat global
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | | | Kewargaan | ✓ | | Penalaran Kritis | ✓ | | Kreativitas | ✓ | | Kolaborasi | ✓ | | Kemandirian | ✓ | | Kesehatan | | | Komunikasi | |
PERTANYAAN PEMANTIK- Apa contoh tradisi atau kearifan lokal di daerahmu yang masih dilakukan sampai hari ini?
- Mengapa tradisi dan kearifan lokal daerah penting dijaga sebagai identitas bangsa Indonesia di tengah era globalisasi?
- Mengapa kekayaan budaya dari berbagai daerah di Indonesia justru memperkokoh rasa persatuan kita sebagai satu bangsa, bukan memecah belah?
- Bagaimana keragaman budaya daerah dapat menjadi identitas nasional yang membanggakan di mata dunia?
- Ketika tren budaya asing dari media sosial semakin digemari, apa tanggung jawab kita terhadap kelestarian tradisi daerah kita sendiri?
- Bagaimana cara kita membentengi praktik tradisi lokal agar tidak tergeser oleh pengaruh negatif budaya global?
- Ketika produk atau tren budaya asing membanjiri kehidupan sehari-hari, mengapa kearifan lokal daerah kita tetap penting untuk dijaga?
- Bagaimana bentuk tindakan nyata seorang pelajar yang bertanggung jawab dalam melestarikan kearifan lokal di tengah pergaulan dunia digital saat ini?
- Bagaimana tata cara kearifan lokal musyawarah mufakat (seperti Rembug Desa atau Kerapatan Adat) dapat dipraktikkan saat kita menghadapi perbedaan pendapat dalam interaksi masyarakat global?
- Mengapa mempraktikkan tata cara kearifan lokal gotong royong tetap relevan ketika bekerja sama dengan orang-orang dari berbagai latar belakang budaya dunia?
- Bagaimana ajaran leluhur dalam kearifan lokal daerah dapat dipraktikkan untuk mengatasi krisis lingkungan modern seperti polusi dan sampah plastik?
- Mengapa nilai kearifan lokal tentang kebersamaan penting dipraktikkan dalam menghadapi masalah sosial di era global?
- Bagaimana bentuk ekspresi seni tradisi daerah yang dapat kita tampilkan agar diapresiasi oleh masyarakat global?
- Mengapa generasi muda perlu berperan aktif menampilkan seni budaya daerah secara percaya diri di panggung pergaulan internasional?
- Bagaimana pembuktian konkret bahwa kita bangga dan bertanggung jawab melestarikan tradisi daerah di era pergaulan masyarakat global?
- Mengapa pelestarian nilai kearifan lokal dan budaya daerah menjadi benteng utama penguat identitas nasional kita?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1 — Mengidentifikasi Pentingnya Pelestarian Tradisi dan Kearifan Lokal Daerah sebagai Identitas Nasional — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 9.4.1 Mengidentifikasi pentingnya pelestarian tradisi, kearifan lokal, dan budaya daerah sebagai identitas nasional dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengondisikan kelas agar siap belajar (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu mengidentifikasi pentingnya pelestarian tradisi dan kearifan lokal daerah sebagai identitas nasional dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui 2 pertanyaan lisan: (1) Sebutkan 1 contoh tradisi atau kearifan lokal daerah di Indonesia! (acuan: tradisi adat seperti Sekaten, Rambu Solo', Subak, Tedak Siten, Nyadran, dll.); (2) Mengapa tradisi tersebut perlu dilestarikan bagi bangsa kita? (acuan: agar tidak punah, menjadi ciri khas/pembeda dari bangsa lain, memperkuat jati diri/identitas nasional) (4 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid menyimak penjelasan guru dan mencermati teks singkat mengenai tradisi dan kearifan lokal daerah (misal: sistem Subak di Bali dan tradisi gotong royong Rambu Solo' di Toraja) yang memuat nilai filosofis luhur pembentuk jati diri bangsa (10 menit).
- Murid secara berpasangan mengikuti kuis tebak cepat 'Kartu Tradisi Nusantara' untuk mengidentifikasi 3 pasangan nama tradisi daerah dan fungsi identitasnya: (1) Subak Bali -> identitas kearifan pengelolaan air dan keselarasan alam; (2) Nyadran Jawa -> identitas kerukunan dan bakti leluhur; (3) Tradisi Lompat Batu Nias -> identitas ketangkasan dan kedewasaan pemuda lokal (10 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran):- Murid menerima Lembar Kerja yang berisi 4 kutipan profil kearifan lokal: (1) Hutan Larangan Adat di Riau, (2) Upacara Seren Taun di Jawa Barat, (3) Tradisi Tiwah di Kalimantan Tengah, dan (4) Rumah Gadang di Sumatera Barat (10 menit).
- Murid secara mandiri mengidentifikasi dan mencatat pada lembar kerja alasan pentingnya pelestarian dari keempat kearifan lokal tersebut sebagai identitas nasional: (1) Hutan Larangan Adat -> penting dilestarikan sebagai identitas bangsa yang menjaga kelestarian alam dan kedaulatan adat; (2) Seren Taun -> penting sebagai identitas rasa syukur atas pangan dan kebersamaan masyarakat agraris; (3) Tiwah -> penting sebagai identitas penghormatan leluhur dan penguat ikatan kekerabatan; (4) Rumah Gadang -> penting sebagai identitas arsitektur tahan gempa dan filosofi musyawarah mufakat (18 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid bersama guru mencocokkan hasil identifikasi dengan kunci acuan dan mendiskusikan makna mendalam tradisi daerah sebagai benteng identitas nasional dari kepunahan akibat pengaruh budaya asing (12 menit).
Penutup:- Murid bersama guru merumuskan simpulan bahwa tradisi dan kearifan lokal daerah merupakan unsur pembentuk identitas nasional dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika yang wajib dilestarikan (5 menit).
- Guru memberikan penguatan, menyampaikan apresiasi atas keterlibatan murid, dan menginformasikan topik pertemuan berikutnya yaitu keragaman budaya daerah sebagai penguat identitas nasional (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks profil tradisi yang dilengkapi kata kunci fungsi identitas (misal: penanda kata 'kelestarian alam', 'rasa syukur'), sedangkan murid yang telah mahir mengidentifikasi teks profil tradisi naratif utuh.
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan dipandu guru dengan pertanyaan pemandu untuk menemukan alasan pelestarian, sedangkan murid mandiri mengerjakan seluruh analisis lembar kerja secara individual.
- Produk: Tidak ada diferensiasi produk karena seluruh murid mengidentifikasi pada format lembar kerja yang sama.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik lisan: (1) Sebutkan 1 contoh tradisi atau kearifan lokal daerah di Indonesia! (acuan: Subak Bali, Sekaten Yogyakarta, Rambu Solo' Toraja, Tedak Siten Jawa, atau tradisi daerah setempat); (2) Mengapa tradisi lokal penting bagi bangsa kita? (acuan: menjadi ciri khas/pembeda bangsa di mata dunia, menjaga jati diri bangsa, memperkokoh persatuan Bhinneka Tunggal Ika).
Proses:- Pemeriksaan lembar kerja mandiri murid dalam mengidentifikasi pentingnya pelestarian 4 kearifan lokal sebagai identitas nasional. Butir dan acuan jawaban: (1) Hutan Larangan Adat Riau -> penting menjaga identitas keselarasan lingkungan dan aturan adat; (2) Seren Taun Sunda -> penting menjaga identitas budaya agraris dan rasa syukur komunal; (3) Tiwah Dayak -> penting menjaga identitas nilai kekerabatan dan penghormatan leluhur; (4) Rumah Gadang Minangkabau -> penting menjaga identitas kearifan lokal arsitektur tradisional dan sistem musyawarah.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman tertulis singkat (1 butir reflektif): Mengapa kepunahan tradisi lokal dapat mengancam identitas nasional Indonesia? (Kriteria penerimaan: jawaban memuat konsep bahwa identitas nasional Indonesia tersusun dari kekayaan budaya dan kearifan lokal daerah, sehingga hilangnya tradisi daerah akan melunturkan jati diri dan keunikan bangsa di mata pergaulan global).
Formatif:- Asesmen diagnostik lisan di awal pembelajaran
- Penilaian penugasan lembar kerja identifikasi pentingnya pelestarian 4 tradisi/kearifan lokal daerah sebagai identitas nasional
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Mengidentifikasi pentingnya pelestarian tradisi dan kearifan lokal daerah sebagai identitas nasional | Belum mampu mengidentifikasi pentingnya pelestarian tradisi dan kearifan lokal sebagai identitas nasional (hanya tepat 0-1 dari 4 acuan tradisi pada LK). | Mampu mengidentifikasi pentingnya pelestarian tradisi dan kearifan lokal sebagai identitas nasional secara tepat pada 2 dari 4 acuan tradisi pada LK. | Mampu mengidentifikasi pentingnya pelestarian tradisi dan kearifan lokal sebagai identitas nasional secara tepat pada 3 dari 4 acuan tradisi pada LK secara mandiri. | Mampu mengidentifikasi pentingnya pelestarian tradisi dan kearifan lokal daerah sebagai identitas nasional secara lengkap dan tepat pada seluruh 4 acuan tradisi pada LK secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah murid dapat mengaitkan hubungan antara pelestarian tradisi lokal dengan penguatan identitas nasional?
- Bagian langkah pembelajaran mana yang membutuhkan waktu lebih lama dan perlu disesuaikan pada pertemuan berikutnya?
Murid:- Hal baru apa yang kamu pahami tentang pentingnya menjaga tradisi daerah bagi jati diri bangsa kita?
- Apakah kamu dapat mengidentifikasi alasan mengapa tradisi daerah di sekitarmu harus terus dilestarikan?
Pertemuan 2 — Mengidentifikasi Keragaman Budaya Daerah sebagai Penguat Identitas Nasional dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 9.4.1 Mengidentifikasi pentingnya pelestarian tradisi, kearifan lokal, dan budaya daerah sebagai identitas nasional dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa bersama untuk menyiapkan suasana belajar yang berkesadaran (3 menit).
- Guru mengecek kehadiran dan memberikan apersepsi singkat yang mengaitkan materi pertemuan sebelumnya mengenai tradisi dengan topik hari ini, yaitu keragaman budaya daerah sebagai penguat identitas nasional dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika (4 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini serta melakukan diagnostik awal singkat: meminta murid menuliskan pada secarik kertas 1 nama rumah adat dan 1 nama tarian daerah yang mereka ketahui beserta daerah asalnya (acuan: contoh rumah adat seperti Tongkonan-Toraja, Gadang-Minangkabau, Joglo-Jawa; contoh tarian seperti Saman-Aceh, Kecak-Bali, Jaipong-Jawa Barat) (8 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Menggembirakan, Bermakna):- Murid menyimak penjelasan guru melalui infografik ringkas tentang keragaman budaya daerah (rumah adat, pakaian adat, kesenian daerah, upacara adat) dan peranannya sebagai penguat identitas nasional dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika (10 menit).
- Murid secara berpasangan mengikuti kuis cepat 'Cocok Budaya' untuk mengidentifikasi pasangan asal daerah dari 4 unsur budaya berikut: (1) Rumah Gadang berasal dari Sumatera Barat, (2) Tari Saman berasal dari Aceh, (3) Pakaian Adat Bodo berasal dari Sulawesi Selatan, dan (4) Upacara Ngaben berasal dari Bali (acuan: pasangan daerah tersebut) (10 menit).
Mengaplikasi (Bermakna, Berkesadaran):- Guru membagikan Lembar Kerja Identifikasi Budaya yang memuat 4 cuplikan profil keragaman budaya nusantara: (A) Tradisi Lompat Batu (Fahombo) Nias, (B) Rumah Tongkonan Toraja, (C) Seni Tenun Ikat Nusa Tenggara Timur, dan (D) Gamelan Jawa-Bali (5 menit).
- Murid mengerjakan LK secara mandiri untuk mengidentifikasi: (1) daerah asal masing-masing unsur budaya (acuan: A-Sumatera Utara/Nias, B-Sulawesi Selatan/Toraja, C-NTT, D-Jawa/Bali) dan (2) peran budaya daerah tersebut sebagai penguat identitas nasional dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika (acuan jawaban: kekayaan budaya daerah membentuk jati diri bersama bangsa Indonesia yang membedakannya secara khas dan membanggakan dari bangsa lain di dunia) (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid dan guru memeriksa bersama hasil identifikasi, di mana murid menandai ketepatan identifikasi asal daerah dan argumen fungsi identitas nasional pada lembar kerjanya masing-masing berdasarkan kunci acuan (10 menit).
Penutup:- Guru bersama murid merangkum intisari pembelajaran bahwa keragaman budaya daerah dari Sabang sampai Merauke merupakan fondasi utama identitas nasional yang dipersatukan oleh semboyan Bhinneka Tunggal Ika (5 menit).
- Guru menyampaikan umpan balik hasil belajar, mengingatkan bahan bacaan untuk pertemuan ke-3, dan menutup sesi dengan doa penutup (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Untuk murid yang memerlukan bimbingan, lembar kerja dilengkapi dengan opsi pilihan nama daerah pemandu; untuk murid berkemampuan cepat, lembar kerja memuat tantangan mengidentifikasi nilai filosofis pengikat Bhinneka Tunggal Ika pada unsur budaya tersebut.
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan mendapatkan arahan langsung secara berkala dari guru dalam mencocokkan asal daerah unsur budaya.
- Produk: Format penulisan hasil identifikasi dapat disajikan dalam bentuk tabel isian sederhana atau peta pikiran (mind map) identifikasi budaya daerah.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik tertulis singkat: Murid menuliskan 1 contoh rumah adat dan 1 contoh tarian tradisional beserta daerah asalnya. (Acuan jawaban benar: Rumah Adat: Tongkonan-Toraja/Sulawesi Selatan, Gadang-Minangkabau/Sumatera Barat, Joglo-Jawa Tengah/Yogyakarta, Honai-Papua; Tarian Tradisional: Saman-Aceh, Kecak/Pendet-Bali, Jaipong-Jawa Barat, Piring-Sumatera Barat).
Proses:- Formatif LK Identifikasi Budaya Daerah (4 butir profil budaya): Ketepatan mengidentifikasi asal daerah dan peran budaya daerah sebagai penguat identitas nasional. Acuan: (1) Tradisi Fahombo -> Nias/Sumatera Utara; (2) Rumah Tongkonan -> Toraja/Sulawesi Selatan; (3) Tenun Ikat -> Nusa Tenggara Timur; (4) Gamelan -> Jawa/Bali; serta penjelasan peran: keberagaman unsur budaya daerah tersebut menjadi kekayaan pemersatu dan pembentuk jati diri khas bangsa Indonesia dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman penutup (exit ticket 1 butir): 'Sebutkan 1 alasan mengapa keragaman budaya daerah memperkuat, bukan melemahkan identitas nasional kita!' (Kriteria penerimaan: jawaban menyatakan bahwa keragaman budaya dihimpun dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika menjadi kekayaan unik bangsa Indonesia yang diakui dunia).
Formatif:- Penilaian tes diagnostik awal identifikasi unsur budaya daerah pada tahap pendahuluan
- Penilaian kinerja pengerjaan Lembar Kerja Identifikasi Budaya Daerah sebagai Penguat Identitas Nasional selama tahap inti
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Identifikasi Keragaman Budaya Daerah dan Asal Daerahnya | Mengidentifikasi dengan tepat 0-1 dari 4 asal daerah keragaman budaya pada LK acuan (Fahombo-Nias, Tongkonan-Toraja, Tenun Ikat-NTT, Gamelan-Jawa/Bali). | Mengidentifikasi dengan tepat 2 dari 4 asal daerah keragaman budaya pada LK acuan dengan bimbingan guru. | Mengidentifikasi dengan tepat 3 dari 4 asal daerah keragaman budaya pada LK acuan secara mandiri. | Mengidentifikasi dengan tepat seluruh 4 asal daerah keragaman budaya pada LK acuan secara tepat dan mandiri. | | Identifikasi Peran Budaya Daerah sebagai Penguat Identitas Nasional dalam Bhinneka Tunggal Ika | Belum mampu mengidentifikasi keterkaitan antara budaya daerah dengan penguatan identitas nasional. | Mengidentifikasi peran budaya daerah sebagai identitas nasional namun belum mengaitkannya dengan prinsip persatuan Bhinneka Tunggal Ika. | Mengidentifikasi peran budaya daerah sebagai penguat identitas nasional dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika sesuai kriteria acuan. | Mengidentifikasi peran budaya daerah sebagai penguat identitas nasional dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika secara lengkap, mendalam, dan mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah aktivitas kuis cepat 'Cocok Budaya' efektif membangkitkan minat dan kesiapan murid dalam mengenali ragam budaya nusantara?
- Apakah alokasi waktu 20 menit pada pengerjaan LK mandiri mencukupi bagi semua murid untuk mengidentifikasi peran budaya daerah sebagai identitas nasional?
Murid:- Budaya daerah baru apa yang paling menarik yang saya ketahui dan identifikasi hari ini?
- Bagaimana pemahaman saya tentang semboyan Bhinneka Tunggal Ika setelah melihat begitu beragamnya budaya daerah di Indonesia?
Pertemuan 3 — Menunjukkan Sikap Tanggung Jawab dalam Menjaga Kelestarian Praktik Tradisi dan Budaya Daerah dari Pengaruh Negatif Budaya Global — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 9.4.2 Menunjukkan sikap tanggung jawab dalam menjaga kelestarian praktik tradisi, kearifan lokal, dan budaya daerah dalam masyarakat global
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan murid, dan mengondisikan suasana belajar yang berkesadaran (2 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menunjukkan sikap tanggung jawab dalam menjaga kelestarian tradisi dan budaya daerah dari pengaruh negatif budaya global (3 menit).
- Murid mengerjakan asesmen diagnostik singkat dengan memilih sikap yang menunjukkan tanggung jawab pada 2 situasi terkait tradisi daerah (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Berkesadaran):- Murid menyimak ulasan guru tentang bentuk-bentuk sikap tanggung jawab dalam menjaga kelestarian praktik tradisi dan budaya lokal di tengah arus informasi global (10 menit).
- Murid menelaah 4 kartu contoh tindakan untuk membedakan tindakan yang menunjukkan tanggung jawab menjaga tradisi daerah dan tindakan yang membiarkan tradisi tergeser budaya global: (1) Lebih memilih memakai pakaian adat saat perayaan daerah daripada menirukan gaya busana luar negeri yang tidak sopan; (2) Menganggap upacara tradisi daerah kuno dan menolak berpartisipasi karena lebih suka konten luar; (3) Tetap mempelajari dan menggunakan bahasa daerah saat berkomunikasi di rumah meski fasih bahasa asing; (4) Menghapus dokumentasi seni tradisi karena merasa malu dengan tren modern di media sosial (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan):- Guru mengadakan permainan interaktif 'Kartu Sikap Tanggung Jawab' di mana murid secara berpasangan saling memberikan respon cepat setuju/tidak setuju dan menentukan pilihan tindakan bertanggung jawab berdasarkan kartu situasi yang disediakan (15 menit).
- Secara mandiri, murid mengerjakan lembar tugas analisis sikap untuk menentukan bentuk sikap tanggung jawab pada 4 skenario pengaruh budaya global terhadap tradisi lokal: Skenario 1: Tren tarian modern menggeser minat latihan tari tradisional daerah; Skenario 2: Makanan cepat saji asing membuat kuliner tradisional dilupakan; Skenario 3: Perayaan pesta budaya asing lebih diminati daripada upacara adat bersih desa; Skenario 4: Kosakata bahasa daerah mulai ditinggalkan karena menganggap bahasa gaul asing lebih keren (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid memeriksa kembali hasil analisis sikap tanggung jawab masing-masing dan mencocokkannya dengan acuan sikap bertanggung jawab yang dibimbing guru (10 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan pentingnya memiliki sikap tanggung jawab pribadi dalam melestarikan praktik tradisi dan budaya lokal dari pengaruh negatif budaya global (5 menit).
- Guru memberikan penguatan terhadap komitmen pelestarian budaya dan menutup pembelajaran dengan salam (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan kartu situasi dengan rumusan kalimat yang lebih sederhana dan dilengkapi gambar ilustrasi bagi murid yang memerlukan bimbingan membaca pemahaman.
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan berupa pertanyaan penuntun dalam menentukan sikap, sedangkan murid yang sudah mahir menganalisis 4 skenario secara mandiri tanpa bantuan.
- Produk: Semua murid menghasilkan lembar analisis sikap tanggung jawab pada 4 skenario yang sama.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Murid menentukan pilihan sikap (Bertanggung Jawab / Tidak Bertanggung Jawab) pada 2 pernyataan berikut: (1) Ikut serta menyaksikan pawai budaya daerah di lingkungan tempat tinggal meskipun sedang ramai tren musik pop luar negeri (Acuan: Bertanggung Jawab); (2) Menolak memakai batik pada hari perayaan sekolah karena menganggap motif tradisional sudah ketinggalan zaman dibandingkan busana luar negeri (Acuan: Tidak Bertanggung Jawab).
Proses:- Penilaian lembar kerja mandiri penentuan sikap tanggung jawab melestarikan tradisi pada 4 skenario: (1) Skenario tarian modern menggeser tari tradisional (Acuan sikap bertanggung jawab: Tetap berkomitmen meluangkan waktu latihan tari tradisional serta bangga mempraktikkannya); (2) Skenario makanan cepat saji menggeser kuliner tradisional (Acuan sikap bertanggung jawab: Memprioritaskan mengonsumsi dan mempromosikan olahan kuliner tradisional khas daerah); (3) Skenario upacara bersih desa sepi peminat karena perayaan asing (Acuan sikap bertanggung jawab: Berpartisipasi aktif dalam upacara tradisi adat setempat dan menghormati tata caranya); (4) Skenario kosakata bahasa daerah ditinggalkan (Acuan sikap bertanggung jawab: Membiasakan bertutur menggunakan bahasa daerah dalam pergaulan sehari-hari dengan sopan). Kriteria: Menentukan sikap tanggung jawab yang tepat sesuai acuan pada minimal 3 dari 4 skenario.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman di akhir sesi: Murid menuliskan 1 bentuk sikap tanggung jawab konkret yang akan dilakukannya minggu ini untuk menjaga tradisi daerah dari pengaruh pergaulan global (Kriteria penerimaan: Tindakan memuat perbuatan nyata menjaga tradisi/budaya daerah dan membentengi diri dari pengaruh budaya global).
Formatif:- Penilaian asesmen awal (diagnostik) menentukan sikap tanggung jawab pada 2 butir pernyataan.
- Penilaian lembar kerja mandiri penentuan sikap tanggung jawab pada 4 skenario pengaruh budaya global.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menunjukkan sikap tanggung jawab menjaga kelestarian praktik tradisi dan budaya daerah dari pengaruh negatif budaya global | Menunjukkan sikap tanggung jawab menjaga kelestarian tradisi dan budaya daerah dengan tepat pada 1 dari 4 skenario yang diberikan. | Menunjukkan sikap tanggung jawab menjaga kelestarian tradisi dan budaya daerah dengan tepat pada 2 dari 4 skenario yang diberikan. | Menunjukkan sikap tanggung jawab menjaga kelestarian tradisi dan budaya daerah dengan tepat pada 3 dari 4 skenario yang diberikan. | Menunjukkan sikap tanggung jawab menjaga kelestarian tradisi dan budaya daerah dengan tepat pada seluruh 4 skenario yang diberikan secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah aktivitas permainan kartu situasi efektif membantu murid mengidentifikasi dan menunjukkan sikap tanggung jawab dalam menjaga tradisi?
- Bagaimana keterlibatan murid dalam merefleksikan pengaruh negatif budaya global terhadap praktik budaya daerah mereka sendiri?
Murid:- Sikap tanggung jawab apa yang paling mudah dan paling menantang untuk saya terapkan dalam menjaga budaya daerah saat ini?
- Apakah saya sudah mampu membentengi diri dari pengaruh budaya luar yang bertentangan dengan tradisi lokal?
Pertemuan 4 — Menunjukkan Sikap Tanggung Jawab Melalui Komitmen Pelestarian Kearifan Lokal dalam Kehidupan Masyarakat Global — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 9.4.2 Menunjukkan sikap tanggung jawab dalam menjaga kelestarian praktik tradisi, kearifan lokal, dan budaya daerah dalam masyarakat global
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengajak berdoa bersama (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-4, yaitu menunjukkan sikap tanggung jawab melalui komitmen pelestarian kearifan lokal di tengah kehidupan masyarakat global (2 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis respons cepat mengangkat kartu hijau (setuju) atau kartu merah (tidak setuju) terhadap 2 pernyataan: Pernyataan 1 'Kearifan lokal daerah sudah kuno sehingga tidak perlu diterapkan di era modern' (acuan kunci: Tidak Setuju); Pernyataan 2 'Menggunakan dan mempromosikan produk berbasis kearifan lokal di media sosial adalah bentuk tanggung jawab generasi muda' (acuan kunci: Setuju) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid membaca secara hening teks studi kasus singkat tentang ancaman kepunahan kearifan lokal pengelolaan air 'Subak' dan tradisi lumbung pangan lokal akibat pergeseran gaya hidup konsumtif global (7 menit).
- Guru memandu tanya jawab terarah untuk mengidentifikasi wujud tanggung jawab pelestarian kearifan lokal, di mana murid menandai 3 prinsip utama komitmen: menghargai nilai luhur kearifan lokal, mengutamakan pemanfaatan kearifan lokal dalam keseharian, serta menolak perilaku yang merusak tradisi lokal (8 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid mengikuti 'Tantangan Komitmen Bijak': setiap murid menerima Lembar Komitmen Pribadi yang berisi 4 situasi tantangan global dan diminta menentukan pilihan sikap tanggung jawab yang tepat secara mandiri (10 menit).
- Murid mengerjakan Lembar Komitmen Pribadi dengan memilih tindakan bertanggung jawab beserta alasan konkret pada 4 situasi berikut: (1) Masuknya makanan cepat saji impor yang menggeser kuliner tradisional berbahan pangan lokal (acuan: berkomitmen mengonsumsi dan mengenalkan kuliner lokal); (2) Tren busana luar negeri yang membuat generasi muda malu memakai kain tenun/batik lokal (acuan: berkomitmen bangga memakai batik/tenun lokal pada aktivitas yang sesuai); (3) Maraknya obat-obatan instan berbahan kimia yang menyingkirkan jamu tradisional ramah lingkungan (acuan: berkomitmen merawat pengetahuan pengobatan herbal lokal); (4) Pola hidup individualis digital yang mengikis tradisi gotong royong warga (acuan: berkomitmen terlibat dalam kegiatan sosial gotong royong di lingkungan) (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid memeriksa kesesuaian komitmen yang telah dipilih dengan kriteria sikap tanggung jawab (kesadaran nilai, keberlanjutan tindakan, dan keteguhan menghadapi arus global) (10 menit).
- Murid secara hening menyimpulkan satu ikrar komitmen pribadi paling utama yang siap dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik menyeluruh terhadap hasil lembar komitmen murid dan mengonfirmasi ketepatan wujud sikap tanggung jawab yang telah dirumuskan (5 menit).
- Guru dan murid menyimpulkan pembelajaran hari ini bahwa kearifan lokal merupakan benteng identitas bangsa di era global, lalu menutup pertemuan dengan doa bersama (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan contoh tindakan nyata sederhana (pilihan ganda terarah), sedangkan murid yang lebih cepat diberikan situasi tantangan global yang lebih kompleks beserta analisis dampaknya.
- Proses: Murid yang memerlukan pendampingan mendapatkan scaffolding bertahap dari guru dalam merumuskan alasan komitmen, sedangkan murid yang mandiri langsung mengisi lembar kerja secara utuh.
- Produk: Tingkat kedalaman rumusan komitmen disesuaikan: murid reguler merumuskan komitmen tindakan langsung, sedangkan murid berkemampuan tinggi menambahkan rencana aksi pencegahan dampak negatif global.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Kuis respons cepat diagnostik berupa 2 pernyataan bersikap: (1) 'Kearifan lokal daerah sudah kuno sehingga tidak perlu diterapkan di era modern' (acuan respons tepat: Tidak Setuju); (2) 'Menggunakan dan mempromosikan produk berbasis kearifan lokal di media sosial adalah bentuk tanggung jawab generasi muda' (acuan respons tepat: Setuju).
Proses:- Pemeriksaan lembar kerja komitmen pribadi murid pada 4 situasi tantangan global. Acuan tindakan tanggung jawab yang dinilai: (1) Situasi kuliner lokal vs cepat saji: memilih mengonsumsi dan mempromosikan pangan lokal; (2) Situasi kain tradisional vs busana impor: memilih bangga mengenakan batik/tenun daerah; (3) Situasi herbal/jamu vs obat kimia impor: memilih melestarikan penggunaan obat tradisional ramah lingkungan; (4) Situasi gotong royong vs individualisme digital: memilih aktif berpartisipasi dalam gotong royong masyarakat.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman penutup: Murid mengidentifikasi 1 komitmen tindakan tanggung jawab paling konkret yang akan dijalankan minggu ini untuk menjaga kearifan lokal di lingkungan sekitarnya (kriteria penerimaan operasional: tindakan berfokus pada kearifan lokal, bersifat nyata/dapat diobservasi, dan menunjukkan penolakan terhadap dampak negatif budaya global).
Formatif:- Penilaian proses menggunakan Lembar Komitmen Pribadi untuk mengukur kemampuan menunjukkan sikap tanggung jawab dalam menjaga kelestarian kearifan lokal menghadapi tantangan global.
- Observasi diagnostik respon awal saat apersepsi.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Sikap Tanggung Jawab Menjaga Kelestarian Kearifan Lokal dalam Masyarakat Global | Menunjukkan komitmen sikap tanggung jawab pada kurang dari 2 situasi dari 4 situasi tantangan kearifan lokal yang disajikan. | Menunjukkan komitmen sikap tanggung jawab secara tepat pada 2 dari 4 situasi tantangan kearifan lokal yang disajikan dengan bimbingan. | Menunjukkan komitmen sikap tanggung jawab secara tepat pada 3 dari 4 situasi tantangan kearifan lokal yang disajikan secara mandiri. | Menunjukkan komitmen sikap tanggung jawab secara tepat pada seluruh 4 situasi tantangan kearifan lokal yang disajikan secara mandiri disertai ketegasan alasan yang relevan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah seluruh murid mampu menunjukkan sikap tanggung jawab yang konkret dan relevan terhadap pelestarian kearifan lokal?
- Bagaimana efektivitas tahapan tantangan komitmen pribadi dalam membangun kesadaran kritis murid terhadap pengaruh global?
Murid:- Apa hal paling bermakna yang saya pelajari hari ini tentang tanggung jawab menjaga kearifan lokal daerah?
- Tindakan tanggung jawab apa yang paling mudah dan siap segera saya lakukan dalam kehidupan sehari-hari untuk melestarikan kearifan lokal?
Pertemuan 5 — Berperan Aktif Mempraktikkan Tata Cara Kearifan Lokal Daerah dalam Kehidupan Masyarakat Global — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 9.4.3 Berperan aktif mempraktikkan kearifan lokal daerah dalam kehidupan masyarakat global
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan membimbing doa bersama (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-5, yaitu berperan aktif mempraktikkan tata cara kearifan lokal daerah dalam kehidupan masyarakat global (2 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal singkat: Murid menjawab kuis cepat pencocokan 3 prinsip tata cara kearifan lokal dengan konteks interaksi global (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid mencermati panduan 3 tata cara kearifan lokal yang relevan dengan tantangan masyarakat global: (1) Musyawarah mufakat (Rembug Adat) untuk resolusi konflik komunikasi lintas budaya; (2) Gotong royong (Gugur Gunung/Sambat) untuk penyelesaian proyek kolaboratif bersama; (3) Tepaslira (Toleransi dan tenggang rasa) untuk etika berkomunikasi santun di ruang publik digital global (10 menit).
- Murid dalam kelompok kecil (4-5 orang) menganalisis 1 dari 3 lembar skenario tantangan masyarakat global: Skenario A (Perdebatan sengit dalam proyek kelompok daring internasional yang berbeda zona waktu dan pendapat), Skenario B (Kerja sama tim relawan muda lintas negara menyusun rencana bantuan bencana secara adil dan merata), atau Skenario C (Komentar saling merendahkan budaya di media sosial global yang memicu ketegangan komunitas online) untuk menentukan tata cara kearifan lokal yang tepat diterapkan (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid dalam kelompok secara bergembira mempraktikkan tata cara kearifan lokal yang sesuai melalui simulasi peran interaktif 'Sidang Kearifan Nusantara untuk Solusi Global' berdasarkan skenario yang dipilih (kelompok Skenario A mempraktikkan tata cara musyawarah Rembug Adat dengan aturan mendengarkan hingga tuntas dan mufakat; kelompok Skenario B mempraktikkan tata cara pembagian peran gotong royong Sambat; kelompok Skenario C mempraktikkan tata cara dialog tepaslira) (25 menit).
- Kelompok saling mengamati dan memberikan umpan balik formatif menggunakan lembar ceklis peran aktif praktik tata cara kearifan lokal daerah (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid secara individu merefleksikan peran aktif dirinya selama mempraktikkan tata cara kearifan lokal daerah dalam menyelesaikan skenario tantangan interaksi global tersebut (10 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan pentingnya mempraktikkan tata cara kearifan lokal secara konsisten dalam interaksi keseharian di era global (3 menit).
- Guru memberikan penguatan terhadap pencapaian kelas dan mengingatkan persiapan untuk pertemuan berikutnya tentang nilai kearifan lokal menghadapi isu lingkungan dan sosial (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu alur langkah konkret tata cara (urutan musyawarah mufakat / gotong royong); murid yang siap mandiri diberikan skenario dengan multi-isu yang lebih kompleks.
- Proses: Pada tahap simulasi peran, murid dapat memilih peran aktif sebagai fasilitator musyawarah, penyampai solusi kearifan lokal, atau penengah konflik budaya.
- Produk: Bukti ketercapaian berupa unjuk kerja simulasi peran aktif mempraktikkan tata cara kearifan lokal serta lembar refleksi diri individu.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Kuis menjodohkan 3 tata cara kearifan lokal dengan situasi penerapan di dunia global: Butir 1: Tata cara bermusyawarah mendengarkan semua pihak hingga mencapai mufakat -> Pasangan: Mengatasi kebuntuan beda pandangan dalam forum kolaborasi daring internasional; Butir 2: Tata cara kerja bersama tanpa pamrih (gotong royong) -> Pasangan: Menyelesaikan tugas bakti kemanusiaan bersama pemuda lintas negara; Butir 3: Tata cara tenggang rasa (tepaslira) -> Pasangan: Menggunakan etika berbahasa santun dan tidak menghina tradisi lain di media sosial internasional (Acuan benar: 1-kebuntuan musyawarah, 2-gotong royong kemanusiaan, 3-etika tenggang rasa media sosial).
Proses:- Ceklis observasi peran aktif dalam simulasi: (1) Mengambil peran konkret dalam mempraktikkan tata cara kearifan lokal sesuai skenario (Rembug/Gotong Royong/Tepaslira); (2) Menunjukkan tindakan tata cara yang operasional dalam merespons tantangan interaksi masyarakat global; (3) Menjaga keselarasan tata cara kearifan lokal tanpa memaksakan kehendak.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman dan refleksi diri: Murid menuliskan 1 tindakan konkret yang telah dipraktikkannya dalam simulasi serta 1 komitmen tindakan nyata mempraktikkan tata cara kearifan lokal daerah saat berinteraksi di ruang media sosial global (Kriteria penerimaan: Murid menuliskan peran aktif yang selaras dengan nilai kearifan lokal daerah seperti musyawarah/gotong royong/tepaslira dan relevan dengan konteks pergaulan global).
Formatif:- Asesmen diagnostik awal: Kuis kilat menjodohkan 3 prinsip kearifan lokal dengan contoh tindakan di era global
- Lembar observasi unjuk kerja simulasi: Mengamati peran aktif murid dalam mempraktikkan tata cara kearifan lokal daerah pada situasi interaksi global
- Lembar refleksi diri: Keterlibatan dan peran aktif mempraktikkan tata cara kearifan lokal
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Peran aktif mempraktikkan tata cara kearifan lokal daerah dalam skenario interaksi global | Belum menunjukkan peran aktif dalam mempraktikkan langkah tata cara kearifan lokal daerah (hanya pasif atau tidak menjalankan peran dalam simulasi). | Mulai berperan aktif mempraktikkan tata cara kearifan lokal daerah namun masih ragu-ragu dan membutuhkan arahan penuh dari guru/teman. | Berperan aktif mempraktikkan seluruh langkah tata cara kearifan lokal daerah (musyawarah/gotong royong/tepaslira) secara runtut dan mandiri sesuai skenario tantangan masyarakat global. | Berperan aktif secara konsisten mempraktikkan tata cara kearifan lokal daerah secara runtut, solutif terhadap dinamika skenario masyarakat global, serta konsisten menjaga etika interaksi tanpa diingatkan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alur simulasi peran memberikan kesempatan yang merata bagi setiap murid untuk berperan aktif mempraktikkan tata cara kearifan lokal daerah?
- Bagaimana keterlibatan murid dalam menghubungkan tata cara adat/kearifan lokal dengan situasi nyata masyarakat global?
Murid:- Peran apa yang saya jalankan saat mempraktikkan tata cara kearifan lokal tadi, dan apakah saya sudah terlibat aktif?
- Bagaimana perasaan saya saat menerapkan tata cara kearifan lokal daerah Indonesia untuk menyelesaikan masalah pergaulan global?
Pertemuan 6 — Berperan Aktif Mempraktikkan Nilai Kearifan Lokal Daerah Menghadapi Isu Lingkungan dan Sosial dalam Masyarakat Global — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 9.4.3 Berperan aktif mempraktikkan kearifan lokal daerah dalam kehidupan masyarakat global
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran, dan memfasilitasi suasana kelas yang berkesadaran (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-6 yaitu berperan aktif mempraktikkan nilai kearifan lokal daerah dalam menghadapi isu lingkungan dan sosial di era masyarakat global (2 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui 2 pertanyaan lisan: (1) Sebutkan 1 contoh kearifan lokal daerah di Indonesia yang bertujuan menjaga alam! (acuan: Subak di Bali, Sasi di Maluku/Papua, Pranata Mangsa di Jawa, Nyabuk Gunung, atau Hutan Larangan Adat); (2) Sebutkan 1 contoh kearifan lokal untuk kerukunan sosial! (acuan: Sambatan/Gotong Royong di Jawa, Pela Gandong di Ambon, Si Tou Timou Tumou Tou di Minahasa, atau Dalihan Na Tolu di Batak) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak paparan singkat guru dan membaca lembar kasus mengenai 3 kearifan lokal dan isu global yang dihadapi: Kasus 1: Krisis air dan alih fungsi lahan vs kearifan lokal 'Subak' (pembagian air adil dan berkesadaran lingkungan); Kasus 2: Eksploitasi laut dan sampah perairan vs tradisi 'Sasi' (larangan mengambil hasil laut pada periode tertentu demi regenerasi); Kasus 3: Individualisme dan kesenjangan sosial di perkotaan vs tradisi 'Gotong Royong/Sambatan' (bahu-membahu tanpa pamrih) (10 menit).
- Murid secara berpasangan menganalisis nilai utama dari ketiga praktik kearifan lokal tersebut dan mencocokkan tindakan nyata yang relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid membentuk kelompok (4-5 orang) untuk memainkan permainan simulasi tantangan peran 'Aksi Nyata Kearifan Nusantara': setiap kelompok mengambil 1 amplop tantangan berisi 1 skenario isu global dan kartu aksi kearifan lokal (5 menit).
- Kelompok mempraktikkan peran konkret berbasis kearifan lokal melalui simulasi tindakan pemecahan masalah dengan 3 skenario yang dibagikan guru: Skenario A (Isu sampah plastik di kantin sekolah - dipraktikkan melalui penerapan nilai Sasi: membuat aturan pembatasan plastik berkala); Skenario B (Isu pemborosan energi dan air di sekolah - dipraktikkan melalui nilai Subak: manajemen giliran piket konservasi air dan hemat energi); Skenario C (Isu perundungan daring dan apatisme sosial - dipraktikkan melalui nilai Pela Gandong/Gotong Royong: posko solidaritas dan empati kawan) (15 menit).
- Setiap kelompok mendemonstrasikan secara bergiliran 1 praktik aksi nyata berbasis nilai kearifan lokal tersebut di hadapan kelas sesuai skenario masing-masing (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid secara mandiri menuliskan 1 komitmen tindakan nyata berbasis kearifan lokal daerah yang akan dipraktikkan secara konsisten di lingkungan rumah/sekolah dalam menghadapi masalah lingkungan atau sosial (5 menit).
- Murid dan guru menyimpulkan relevansi nilai luhur tradisi daerah sebagai panduan bertindak dalam dinamika masyarakat global (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik atas demonstrasi praktik peran tiap kelompok serta menegaskan pentingnya aksi konkret kearifan lokal dalam mengatasi isu global (3 menit).
- Guru menyampaikan agenda pertemuan berikutnya (Pertemuan 7 mengenai menampilkan ekspresi seni tradisi dan budaya daerah) serta menutup kelas dengan doa bersama (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan lembar kasus bergambar untuk murid yang membutuhkan visualisasi konkret, dan artikel isu global kontekstual untuk murid yang siap dengan bacaan analisis.
- Proses: Memberikan bimbingan terarah bagi kelompok yang kesulitan menghubungkan nilai tradisi dengan aksi modern, serta memberikan keleluasaan merancang variasi aksi nyata bagi kelompok yang bergerak cepat.
- Produk: Praktik aksi peran dapat didemonstrasikan dalam bentuk simulasi langsung musyawarah adat, peragaan langkah kerja konservasi, atau pembuatan maklumat kesepakatan aksi bersama.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik lisan di awal sesi: (1) Sebutkan 1 contoh kearifan lokal daerah di Indonesia untuk pelestarian alam! (kriteria benar jika menyebut salah satu: Subak di Bali, Sasi di Maluku/Papua, Pranata Mangsa di Jawa, Nyabuk Gunung, Hutan Larangan Adat); (2) Sebutkan 1 contoh kearifan lokal daerah untuk kerukunan sosial! (kriteria benar jika menyebut salah satu: Sambatan/Gotong Royong, Pela Gandong, Si Tou Timou Tumou Tou, Dalihan Na Tolu).
Proses:- Lembar observasi praktik bermain peran nilai kearifan lokal: mengamati keaktifan murid dalam memerankan tindakan konkret yang mencerminkan nilai Subak/Sasi/Gotong Royong sesuai skenario isu lingkungan/sosial yang dihadapi (kriteria: aktif memperagakan solusi konkret yang relevan dengan filosofi kearifan lokal yang dipilih).
Akhir Pertemuan:- Pengecekan tulisan refleksi komitmen aksi mandiri murid: 1 aksi nyata menghadapi isu lingkungan atau sosial berbasis nilai kearifan lokal (kriteria penerimaan operasional: aksi bersifat konkret, dapat dilakukan sendiri oleh murid, dan mencerminkan nilai pelestarian alam atau solidaritas sosial kearifan lokal).
Formatif:- Asesmen diagnostik lisan di awal pembelajaran untuk mengecek pemahaman dasar kearifan lokal lingkungan dan sosial.
- Observasi unjuk kerja simulasi peran praktik nilai kearifan lokal daerah dalam mengatasi isu lingkungan/sosial.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Praktik Peran Aktif Kearifan Lokal Daerah | Belum menunjukkan peran aktif dalam mempraktikkan nilai kearifan lokal daerah untuk mengatasi masalah lingkungan atau sosial pada skenario simulasi. | Menunjukkan peran dalam simulasi tetapi tindakan yang dipraktikkan belum mencerminkan nilai kearifan lokal daerah secara tepat, masih membutuhkan arahan penuh guru. | Berperan aktif mempraktikkan tindakan konkret yang selaras dengan nilai kearifan lokal daerah (seperti Subak, Sasi, atau Gotong Royong) dalam mengatasi masalah lingkungan atau sosial sesuai skenario simulasi secara mandiri. | Berperan sangat aktif dan konsisten mempraktikkan tindakan konkret yang tepat dan relevan dengan nilai kearifan lokal daerah dalam simulasi serta mampu merumuskan komitmen aksi nyata sehari-hari secara mandiri dan meyakinkan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah langkah simulasi peran efektif memfasilitasi murid mempraktikkan nilai kearifan lokal secara konkret?
- Bagaimana keterlibatan setiap anggota kelompok dalam mendemonstrasikan aksi nyata menghadapi isu lingkungan dan sosial?
Murid:- Nilai kearifan lokal mana yang paling mudah dan bermakna untuk saya praktikkan dalam kehidupan sehari-hari?
- Tantangan apa yang saya hadapi saat mencoba menerapkan nilai kearifan lokal dalam memecahkan masalah lingkungan di sekolah?
Pertemuan 7 — Berperan Aktif Menampilkan Ekspresi Seni Tradisi dan Budaya Daerah dalam Pergaulan Masyarakat Global — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 9.4.4 Berperan aktif menampilkan ekspresi tradisi dan budaya daerah dalam pergaulan masyarakat global
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, mengecek kehadiran, serta memfasilitasi doa bersama (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-7, yaitu berperan aktif menampilkan ekspresi tradisi dan budaya daerah dalam pergaulan masyarakat global (2 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal singkat untuk mengecek kesiapan murid mengenai bentuk ekspresi seni tradisi daerah (misalnya tari, musik perkusi tradisional, tembang daerah, atau tutur tradisi) yang siap ditampilkan dalam pergaulan global (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid mencermati pemodelan singkat 3 bentuk peragaan seni tradisi Nusantara yang berpotensi ditampilkan di forum internasional: (1) Gerak Tari Saman/Kecak beregu berirama rancak, (2) Nyanyian Tembang/Lagu Tradisional Nusantara 'Yamko Rambe Yamko' dengan tepukan ritmis, (3) Olah Vokal Yel/Tutur Tradisi Nusantara bersemangat kebersamaan (10 menit).
- Dalam kelompok kecil yang beranggotakan 4-5 murid, murid memilih dan merencanakan 1 bentuk ekspresi seni tradisi Nusantara yang akan ditampilkan bersama, serta menentukan pembagian peran peragaan dalam kelompoknya secara sadar dan terarah (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Secara bergembira dan kolaboratif, setiap kelompok melakukan latihan peragaan gerak/vokal ekspresi seni tradisi daerah yang dipilih sesuai panduan peragaan kelompok (15 menit).
- Setiap kelompok bergiliran menampilkan peragaan ekspresi seni tradisi dan budaya daerah secara langsung di depan kelas dalam format panggung mini simulasi pergaulan global 'Nusantara Youth Cultural Showcase' dengan durasi tampil 2-3 menit per kelompok, sementara kelompok lain berperan aktif memberikan tepuk apresiasi budaya (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru memaknai pengalaman menampilkan ekspresi budaya daerah dan mengevaluasi keterlibatan aktif dirinya dalam unjuk peragaan budaya tersebut untuk kesiapan pergaulan global (5 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan pentingnya keaktifan generasi muda dalam mengekspresikan seni tradisi daerah sebagai sarana mengenalkan identitas bangsa ke masyarakat global (5 menit).
- Guru menyampaikan apresiasi atas penampilan seluruh kelompok dan mengingatkan murid untuk mempersiapkan diri menghadapi pelaksanaan Asesmen Sumatif Bab 4 pada pertemuan berikutnya (Pertemuan 8), lalu menutup pertemuan dengan doa bersama (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan contoh peragaan ekspresi seni tradisi dalam berbagai tingkat kerumitan gerak dan vokal (gerak tepuk ritmis sederhana, tembang bersahaja, hingga peragaan tari tradisi berkelompok).
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan mendapat bimbingan langsung dari guru dalam ritme tepuk/gerak dasar, sedangkan kelompok yang mandiri dapat memvariasikan susunan formasi peragaan kelompoknya secara mandiri.
- Produk: Kelompok bebas memilih satu bentuk ekspresi seni tradisi daerah yang ditampilkan: gerak tari tradisi sederhana, olah tembang/lagu daerah berirama ritmis, atau tutur/perkusi tubuh bernuansa tradisi Nusantara.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik singkat: Guru meminta murid menyebutkan 1 bentuk seni pertunjukan tradisi daerah Nusantara yang paling diminati dan siap ditampilkan bersama kelompok dalam simulasi pertukaran budaya global. Kriteria ketercapaian diagnostik: Murid mampu menyebutkan minimal 1 nama bentuk seni tradisi yang valid (Acuan jawaban yang diterima: Tari Saman, Tari Kecak, Tari Poco-poco, Tari Tor-tor, Tembang Gundhul Pacul, Sajojo, Yamko Rambe Yamko, Rampak Kendang/Tepuk Nusantara, dsb.).
Proses:- Penilaian formatif menggunakan lembar observasi peran aktif penampilan peragaan seni tradisi daerah. Indikator pengamatan: (1) Keikutsertaan aktif dalam memperagakan gerak/vokal seni tradisi yang dipilih kelompok dari awal hingga akhir, (2) Kesungguhan dan kekompakan menampilkan peragaan seni tradisi dalam simulasi pergaulan global.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman dan refleksi diri singkat (1 menit): Murid menuliskan pada secarik kertas satu kalimat peran aktif konkret apa yang telah ia berikan dalam peragaan ekspresi seni tradisi kelompoknya tadi (Kriteria penerimaan: pernyataan memuat tindakan nyata murid saat peragaan, seperti memimpin tepukan ritmis, menyanyikan bait lagu daerah, atau memperagakan pola gerak tradisi bersama kelompok).
Formatif:- Observasi unjuk kerja keaktifan menampilkan ekspresi seni tradisi dan budaya daerah pada panggung mini kelas
- Lembar ceklist peran aktif murid dalam latihan dan peragaan seni tradisi berkelompok
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Peran Aktif Menampilkan Ekspresi Tradisi dan Budaya Daerah | Belum menunjukkan peran aktif dalam menampilkan ekspresi seni tradisi dan budaya daerah; bersikap pasif atau tidak ikut serta saat peragaan berlangsung. | Mulai berperan dalam menampilkan ekspresi seni tradisi dan budaya daerah, namun hanya mengikuti sebagian peragaan dengan dorongan guru. | Berperan aktif menampilkan ekspresi seni tradisi dan budaya daerah secara konsisten dari awal hingga akhir penampilan peragaan kelompok. | Berperan aktif menampilkan ekspresi seni tradisi dan budaya daerah secara konsisten, penuh inisiatif, mandiri, serta memperagakan gerak/vokal tradisi secara selaras dan percaya diri sepanjang peragaan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah seluruh murid mendapatkan kesempatan yang setara untuk berperan aktif menampilkan ekspresi seni tradisi daerah sesuai minatnya?
- Bagaimana respons dan rasa percaya diri murid saat melakukan simulasi panggung ekspresi seni budaya dalam konteks pergaulan global?
Murid:- Bagian mana dari ekspresi seni tradisi daerah tadi yang paling membuat saya bersemangat dan bangga saat menampilkannya?
- Bagaimana perasaan saya setelah berhasil tampil memperagakan budaya daerah bersama teman-teman untuk pergaulan dunia?
Pertemuan 8 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 9.4.1 Mengidentifikasi pentingnya pelestarian tradisi, kearifan lokal, dan budaya daerah sebagai identitas nasional dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika
- TP 9.4.2 Menunjukkan sikap tanggung jawab dalam menjaga kelestarian praktik tradisi, kearifan lokal, dan budaya daerah dalam masyarakat global
- TP 9.4.3 Berperan aktif mempraktikkan kearifan lokal daerah dalam kehidupan masyarakat global
- TP 9.4.4 Berperan aktif menampilkan ekspresi tradisi dan budaya daerah dalam pergaulan masyarakat global
Pendahuluan:- Guru membuka sesi asesmen sumatif dengan salam, doa, memeriksa kehadiran murid, serta menyampaikan bahwa pertemuan ini adalah pelaksanaan Asesmen Sumatif Bab 4 untuk mengukur pencapaian seluruh tujuan pembelajaran bab (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Guru membagikan Lembar Asesmen Sumatif Bagian 1 (tes tertulis uraian TP 9.4.1 dan lembar penilaian diri komitmen tanggung jawab TP 9.4.2) serta menjelaskan tata tertib dan rubrik penilaian unjuk kerja Bagian 2 (peragaan TP 9.4.3 dan TP 9.4.4) (5 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Murid mengerjakan Asesmen Sumatif Bagian 1 secara mandiri dan serentak yang memuat 2 butir soal: Soal 1 (TP 9.4.1) menganalisis alasan pentingnya pelestarian tradisi/kearifan lokal bagi identitas nasional dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika (acuan kunci: mengidentifikasi 3 aspek nilai luhur pemersatu bangsa, filter nilai asing, dan kekayaan budaya dalam keberagaman); Soal 2 (TP 9.4.2) mengisi lembar penilaian diri rencana komitmen tanggung jawab personal dalam masyarakat global (kriteria: memuat minimal 2 rencana tindakan konkret menjaga tradisi dari pengaruh negatif globalisasi) (30 menit).
- Murid secara berkelompok (5 kelompok @5-6 murid) menampilkan unjuk kerja peragaan tradisi dan praktik kearifan lokal daerah dalam masyarakat global secara bergiliran di hadapan kelas (5 kelompok x 7 menit penampilan = 35 menit, guru mengobservasi dan menilai performa individual setiap anggota kelompok secara terpisah untuk TP 9.4.3 dan TP 9.4.4) (35 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Setelah seluruh rangkaian unjuk kerja selesai, guru memfasilitasi transisi akhir dan murid melakukan refleksi singkat terhadap ketuntasan pengerjaan tes tertulis serta penampilan unjuk kerja kelompok (2 menit).
Penutup:- Guru mengumpulkan seluruh lembar kerja tertulis murid, memberikan apresiasi atas dedikasi dan kesungguhan seluruh murid dalam menyelesaikan seluruh asesmen sumatif Bab 4, memberikan rangkuman umum ketercapaian bab, dan menutup pembelajaran dengan doa (3 menit).
Diferensiasi:- Konten: Akomodasi akses: naskah soal dan petunjuk teknis unjuk kerja dicetak dengan teks yang jelas dan keterbacaan tinggi bagi seluruh murid tanpa mengubah bobot kompetensi yang diuji.
- Proses: Akomodasi waktu: murid yang memerlukan waktu membaca ekstra diberikan kesempatan membaca lembar soal lebih awal tanpa mengubah batas durasi pengerjaan tertulis.
- Produk: Produk akhir terstandarisasi: seluruh murid menghasilkan lembar jawaban tertulis mandiri dan rekaman observasi unjuk kerja dengan kriteria capaian yang sama sesuai rubrik sumatif.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pengecekan kesiapan asesmen sumatif: murid mengonfirmasi kesiapan lembar tulis dan properti/rencana peragaan tradisi kelompok sebelum asesmen dimulai.
Proses:- Observasi individual terpisah saat penampilan unjuk kerja kelompok menggunakan rubrik analitik untuk TP 9.4.3 (keterlibatan mempraktikkan kearifan lokal) dan TP 9.4.4 (penghayatan dan ekspresi tradisi daerah).
Sumatif Bab:- Asesmen campuran (tes tertulis uraian dan penilaian diri individual serentak, dilanjutkan unjuk kerja kolaboratif kelompok dengan penilaian kontribusi individual): Lembar kerja individu yang memuat uraian analisis pelestarian tradisi dan lembar komitmen tanggung jawab pribadi, serta performa unjuk kerja peragaan tradisi/kearifan lokal kelompok dengan penilaian peran individual yang terukur
- tes tertulis uraian dan lembar refleksi komitmen individual: Lembar jawaban tertulis murid yang dikerjakan mandiri secara serentak, memuat analisis alasan pentingnya tradisi bagi identitas nasional dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika (kriteria TP 1: ketepatan identifikasi nilai luhur dan kejelasan argumentasi identitas nasional) serta lembar penilaian diri berisi rencana tindakan tanggung jawab personal dalam masyarakat global (kriteria TP 2: kejelasan komitmen pribadi dan contoh tindakan konkret) (35 menit; individual; instrumen: pedoman penskoran analitik TP 1 (indikator: ketepatan identifikasi nilai tradisi dan kedalaman argumen identitas nasional) dan rubrik penilaian diri TP 2 (indikator: keterukuran rencana aksi dan relevansi tanggung jawab moral))
- unjuk kerja peragaan tradisi dan praktik kearifan lokal beregu: Penampilan peragaan tradisi dan praktik kearifan lokal daerah dalam konteks masyarakat global yang dibawakan dalam kelompok (5-6 murid per kelompok, 5 kelompok @8 menit = 40 menit, ditambah transisi 5 menit), di mana setiap anggota dinilai secara individual melalui kriteria terpisah untuk TP 3 (kontribusi nyata memeragakan tata cara kearifan lokal) dan TP 4 (penghayatan nilai serta ekspresi gerak/ucap ragam budaya daerah) (45 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja dengan kriteria individual terpisah: Kriteria TP 3 memuat indikator keterlibatan aktif dan ketepatan penerapan praktik kearifan lokal; Kriteria TP 4 memuat indikator penghayatan nilai budaya, kefasihan ekspresi artistik tradisi, dan kepercayaan diri peragaan di hadapan audiens)
Sumatif:- Asesmen campuran (tes tertulis uraian dan penilaian diri individual serentak, dilanjutkan unjuk kerja kolaboratif kelompok dengan penilaian kontribusi individual): Lembar kerja individu yang memuat uraian analisis pelestarian tradisi dan lembar komitmen tanggung jawab pribadi, serta performa unjuk kerja peragaan tradisi/kearifan lokal kelompok dengan penilaian peran individual yang terukur
- tes tertulis uraian dan lembar refleksi komitmen individual: Lembar jawaban tertulis murid yang dikerjakan mandiri secara serentak, memuat analisis alasan pentingnya tradisi bagi identitas nasional dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika (kriteria TP 1: ketepatan identifikasi nilai luhur dan kejelasan argumentasi identitas nasional) serta lembar penilaian diri berisi rencana tindakan tanggung jawab personal dalam masyarakat global (kriteria TP 2: kejelasan komitmen pribadi dan contoh tindakan konkret) (35 menit; individual; instrumen: pedoman penskoran analitik TP 1 (indikator: ketepatan identifikasi nilai tradisi dan kedalaman argumen identitas nasional) dan rubrik penilaian diri TP 2 (indikator: keterukuran rencana aksi dan relevansi tanggung jawab moral))
- unjuk kerja peragaan tradisi dan praktik kearifan lokal beregu: Penampilan peragaan tradisi dan praktik kearifan lokal daerah dalam konteks masyarakat global yang dibawakan dalam kelompok (5-6 murid per kelompok, 5 kelompok @8 menit = 40 menit, ditambah transisi 5 menit), di mana setiap anggota dinilai secara individual melalui kriteria terpisah untuk TP 3 (kontribusi nyata memeragakan tata cara kearifan lokal) dan TP 4 (penghayatan nilai serta ekspresi gerak/ucap ragam budaya daerah) (45 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja dengan kriteria individual terpisah: Kriteria TP 3 memuat indikator keterlibatan aktif dan ketepatan penerapan praktik kearifan lokal; Kriteria TP 4 memuat indikator penghayatan nilai budaya, kefasihan ekspresi artistik tradisi, dan kepercayaan diri peragaan di hadapan audiens)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| TP 9.4.1: Mengidentifikasi pentingnya pelestarian tradisi, kearifan lokal, dan budaya daerah sebagai identitas nasional dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika (Acuan: 3 aspek nilai luhur mencakup pemersatu keberagaman bangsa, filter pengaruh budaya luar, dan pembentuk jati diri nasional) | Hanya mengidentifikasi 1 dari 3 aspek nilai luhur pelestarian tradisi dan kearifan lokal secara tepat. | Mengidentifikasi 2 dari 3 aspek nilai luhur pelestarian tradisi dan kearifan lokal secara tepat. | Mengidentifikasi seluruh 3 aspek nilai luhur pelestarian tradisi dan kearifan lokal sebagai identitas nasional dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika secara tepat. | Mengidentifikasi seluruh 3 aspek nilai luhur pelestarian tradisi dan kearifan lokal secara tepat serta menguraikan keterkaitan antaraspek sebagai identitas nasional dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika secara mendalam dan mandiri. | | TP 9.4.2: Menunjukkan sikap tanggung jawab dalam menjaga kelestarian praktik tradisi, kearifan lokal, dan budaya daerah dalam masyarakat global (Kriteria: memuat rencana komitmen personal dan contoh tindakan konkret) | Menuliskan komitmen tanggung jawab secara umum tanpa disertai contoh tindakan konkret pelestarian dalam masyarakat global. | Menunjukkan komitmen tanggung jawab pribadi dengan menuliskan 1 contoh tindakan konkret menjaga tradisi dari dampak negatif budaya global. | Menunjukkan komitmen tanggung jawab pribadi dengan menuliskan minimal 2 contoh tindakan konkret yang terukur dalam menjaga kelestarian tradisi di tengah masyarakat global. | Menunjukkan komitmen tanggung jawab pribadi secara mendalam dengan menuliskan minimal 2 contoh tindakan konkret yang terukur beserta langkah mitigasi tantangan di era globalisasi secara mandiri. | | TP 9.4.3: Berperan aktif mempraktikkan kearifan lokal daerah dalam kehidupan masyarakat global (Indikator: keterlibatan aktif dan ketepatan penerapan tata cara kearifan lokal) | Kurang terlibat aktif dan belum tepat dalam mempraktikkan tata cara kearifan lokal dalam penampilan kelompok. | Terlibat dalam peragaan namun masih memerlukan arahan anggota lain agar tata cara kearifan lokal diperagakan dengan tepat. | Berperan aktif dan mempraktikkan tata cara kearifan lokal daerah secara tepat dan konsisten sepanjang peragaan unjuk kerja. | Berperan aktif secara konsisten mempraktikkan tata cara kearifan lokal daerah secara tepat, runtut, dan mampu memandu kelancaran alur praktik peragaan kelompok secara mandiri. | | TP 9.4.4: Berperan aktif menampilkan ekspresi tradisi dan budaya daerah dalam pergaulan masyarakat global (Indikator: penghayatan nilai budaya, kefasihan ekspresi gerak/ucap, dan kepercayaan diri peragaan) | Menampilkan ekspresi tradisi daerah dengan ragu-ragu dan belum menunjukkan kefasihan gerak atau tutur budaya yang dibawakan. | Menampilkan ekspresi tradisi daerah dengan cukup percaya diri namun penghayatan nilai dan kefasihan gerak/tutur budaya masih terbatas. | Berperan aktif menampilkan ekspresi tradisi dan budaya daerah dengan penghayatan nilai yang baik, gerak/tutur fasih, dan percaya diri di hadapan audiens. | Berperan aktif menampilkan ekspresi tradisi dan budaya daerah dengan penghayatan nilai luhur yang sangat mendalam, gerak/tutur sangat fasih dan ekspresif, serta percaya diri penuh di hadapan audiens. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 35 menit untuk tes tertulis dan 35 menit untuk unjuk kerja kelompok cukup memfasilitasi setiap murid menunjukkan kompetensinya secara optimal?
- Bagaimana ketercapaian murid kelas 9 pada masing-masing tujuan pembelajaran Bab 4 berdasarkan data asesmen sumatif ini?
Murid:- Bagian mana dari asesmen sumatif ini yang paling menggambarkan komitmen dan pemahaman saya tentang tradisi daerah?
- Apa tindakan nyata yang akan terus saya jalankan sehari-hari sebagai bukti tanggung jawab menjaga budaya bangsa di era global?
SUMBER BELAJAR- Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SMP/MTs Kelas IX (Pusat Perbukuan Kemendikbudristek 2023, Bab 4)
- Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SMP/MTs Kelas IX (Pusat Perbukuan Kemendikbudristek 2023, Bab 4)
- Kartu Tradisi Nusantara dan Lembar Kerja Siswa (teks profil 4 kearifan lokal: Hutan Larangan Adat, Seren Taun, Tiwah, Rumah Gadang)
- Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SMP/MTs Kelas IX, Kemendikbudristek 2023
- Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SMP/MTs Kelas IX, Kemendikbudristek 2023, Bab 4
- Infografik dan kartu informasi profil keragaman budaya nusantara (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi)
- Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas IX (Kemendikbudristek, 2023) Bab 4
- Buku Siswa Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas IX (Kemendikbudristek, 2023) Bab 4
- Kartu situasi dan lembar kerja skenario pengaruh budaya global
- Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas IX, Kemendikbudristek 2023.
- Buku Siswa Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas IX, Bab 4, Kemendikbudristek 2023.
- Lembar Kerja Siswa: Studi Kasus dan Lembar Komitmen Pribadi Pelestarian Kearifan Lokal.
- Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas IX, Kemendikbudristek
- Buku Teks Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas IX, Kemendikbudristek
- Lembar Kerja Skenario Simulasi 'Sidang Kearifan Nusantara untuk Solusi Global'
- Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas IX, Kemendikbudristek 2023, Bab 4.
- Buku Siswa Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas IX, Kemendikbudristek 2023, Bab 4.
- Lembar skenario simulasi isu lingkungan dan sosial global (Subak, Sasi, Gotong Royong).
- Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas IX (Kemendikbudristek, Bab 4)
- Buku Panduan Siswa Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas IX (Kemendikbudristek, Bab 4)
- Rekaman audio instrumen musik tradisi Nusantara / iringan ritmis ketukan
- Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas IX, Kemendikbudristek 2022
- Buku Siswa Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas IX, Kemendikbudristek 2022
- Lembar Asesmen Sumatif Tertulis Uraian dan Lembar Refleksi Komitmen Diri Bab 4
- Rubrik Observasi Asesmen Unjuk Kerja Tradisi dan Kearifan Lokal
|