Modul AjarBab 3Fase DSemester 1

Modul Ajar Pendidikan Pancasila Kelas 9 Bab 3: Kemerdekaan Berpendapat Warga Negara pada Era Keterbukaan Informasi

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Pendidikan Pancasila kelas 9 untuk Bab 3 "Kemerdekaan Berpendapat Warga Negara pada Era Keterbukaan Informasi", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Pendidikan Pancasila Kelas 9 Bab 3: Kemerdekaan Berpendapat Warga Negara pada Era Keterbukaan Informasi

Pendidikan Pancasila - Kelas 9

Bab 3

MODUL AJAR

Pendidikan Pancasila — Kelas 9 (Fase D)

Topik: Bab 3 — Kemerdekaan Berpendapat Warga Negara pada Era Keterbukaan Informasi

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPendidikan Pancasila
Fase / KelasFase D / Kelas 9
TopikBab 3 — Kemerdekaan Berpendapat Warga Negara pada Era Keterbukaan Informasi
Alokasi Waktu10 JP (10 x 40 menit = 400 menit)
Jumlah Pertemuan5
Tahun Ajaran2026/2027
Semester1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 9.3.1 Mempraktikkan kemerdekaan berpendapat secara lisan sebagai warga negara dalam musyawarah kelas pada era keterbukaan informasi
  2. TP 9.3.2 Mempraktikkan kemerdekaan berpendapat secara tertulis sebagai warga negara melalui penyusunan surat aspirasi pada era keterbukaan informasi
  3. TP 9.3.3 Mempraktikkan kemerdekaan berpendapat sebagai warga negara melalui media digital secara bertanggung jawab pada era keterbukaan informasi
  4. TP 9.3.4 Mempraktikkan kemerdekaan berpendapat sebagai warga negara melalui penyampaian aspirasi pada kanal keterbukaan informasi publik

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan✓
Penalaran Kritis✓
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian✓
Kesehatan
Komunikasi✓

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Bagaimana cara menyampaikan usulan atau pandangan secara lisan di hadapan teman-teman tanpa menyinggung perasaan orang lain?
  2. Mengapa dalam musyawarah kelas setiap warga negara/warga kelas memiliki hak yang sama untuk berpendapat?
  3. Bagaimana cara warga negara menyampaikan aspirasi perbaikan fasilitas umum secara tertulis tanpa menimbulkan fitnah atau ujaran kebencian?
  4. Mengapa sebuah surat aspirasi harus memuat fakta persoalan, alasan kepentingan bersama, dan usulan solusi yang santun?
  5. Bagaimana cara kita menyampaikan opini di media sosial agar tetap kritis namun tidak melanggar hukum dan norma?
  6. Apa perbedaan mendasar antara kritik yang membangun dengan ujaran kebencian di ruang digital?
  7. Apa yang dapat dilakukan warga negara ketika melihat fasilitas umum di sekitarnya rusak atau layanan publik belum berjalan optimal?
  8. Bagaimana kanal keterbukaan informasi publik seperti platform LAPOR! memfasilitasi aspirasi warga negara secara resmi dan bertanggung jawab?
  9. Bagaimana kita membuktikan kemerdekaan berpendapat yang bertanggung jawab melalui lisan, tulisan, media daring, hingga kanal informasi publik?
  10. Mengapa setiap bentuk aspirasi yang kita sampaikan sebagai warga negara wajib menghargai hak orang lain dan disertai fakta?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Mempraktikkan Kemerdekaan Berpendapat secara Lisan dalam Musyawarah Kelas (Pengambilan Bukti Amatan Giliran 14 Murid Pertama) — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.3.1 Mempraktikkan kemerdekaan berpendapat secara lisan sebagai warga negara dalam musyawarah kelas pada era keterbukaan informasi

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan topik pembelajaran yaitu praktik kemerdekaan berpendapat secara lisan dalam musyawarah kelas (4 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik lisan berupa kuis cepat bertajuk 'Pilar Pendapat' mengenai 2 prinsip kemerdekaan berpendapat yang bertanggung jawab: (1) Menghargai hak orang lain dan (2) Berdasarkan fakta/alasan yang jelas; serta menanyakan contoh situasi musyawarah di kelas (6 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid menyimak penjelasan guru mengenai simulasi musyawarah warga kelas bertema 'Pemanfaatan Papan Mading Digital dan Fisik Kelas untuk Keterbukaan Informasi Kegiatan Siswa' beserta tata cara menyampaikan pendapat lisan yang santun dan bertanggung jawab (10 menit).
  • Murid memainkan simulasi interaktif berpasangan 'Estafet Gagasan' di mana satu murid mengutarakan 1 gagasan lisan dan pasangannya mengidentifikasi apakah gagasan tersebut sudah memenuhi etika penyampaian pendapat lisan (10 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru memfasilitasi musyawarah kelas dengan topik 'Penataan Jadwal dan Rubrik Informasi Mading Kelas'; 14 murid giliran pertama mempraktikkan penyampaian pendapat secara lisan secara bergantian dengan mengajukan usul konkret dan alasan rasionalnya (25 menit).
  • Guru melakukan observasi terstruktur dan mencatat pemenuhan indikator kemerdekaan berpendapat secara lisan (gagasan jelas, didukung alasan logis, dan menjunjung etika kesantunan) untuk 14 murid pertama pada lembar observasi amatan (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid yang telah berpendapat maupun yang menyimak saling memberikan apresiasi atas keberanian mengutarakan pandangan lisan di forum musyawarah kelas secara terbuka dan santun (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap praktik kemerdekaan berpendapat lisan yang telah dilaksanakan oleh 14 murid pertama, serta mengumumkan bahwa giliran 14 murid tersisa akan diobservasi pada sesi asesmen berikutnya (5 menit).
  • Guru menutup sesi pembelajaran dengan doa bersama dan salam penutup (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu panduan pemantik berpendapat berisi frasa pembuka lisan (misalnya: 'Menurut hemat saya...', 'Usulan saya didasarkan pada pertimbangan...') bagi murid yang memerlukan dukungan perancah bahasa.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan waktu tambahan menyusun pokok pikiran sebelum berbicara secara lisan, sedangkan murid yang sudah percaya diri dipersilakan menyampaikan pendapat lisan disertai argumen perbandingan solusi secara langsung.
  • Produk: Semua murid menghasilkan bukti unjuk kerja yang sama yaitu penyampaian pendapat secara lisan dalam musyawarah kelas, dengan variasi kompleksitas argumen yang diajukan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik: 'Sebutkan 2 prinsip kemerdekaan berpendapat secara bertanggung jawab!' (Acuan jawaban: (1) Menghormati hak dan kebebasan orang lain/tidak menghina, dan (2) Disertai alasan/fakta logis tanpa kebohongan).

Proses:

  • Pengamatan keterlibatan dan performa lisan 14 murid pertama selama musyawarah kelas berlangsung berdasarkan keterpenuhan kriteria: (1) Menyampaikan usulan konkret mengenai topik mading kelas, (2) Memberikan minimal 1 alasan pendukung yang logis, (3) Menggunakan tata krama berbahasa santun (Kriteria penerimaan: ketiga unsur terpenuhi secara lisan).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan singkat di akhir musyawarah: 'Apa yang harus kita lakukan bila usulan lisan kita dalam musyawarah kelas belum disepakati forum?' (Kriteria penerimaan operasional: Murid menyatakan sikap menghormati keputusan bersama musyawarah dan menerima hasil mufakat dengan lapang dada).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja penyampaian pendapat lisan dalam musyawarah kelas menggunakan lembar amatan 14 murid pertama.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Praktik Kemerdekaan Berpendapat secara Lisan dalam Musyawarah KelasBelum mampu mengemukakan pendapat secara lisan dalam musyawarah kelas meskipun telah diberikan kesempatan dan bimbingan guru.Mampu mengemukakan pendapat secara lisan dalam musyawarah kelas dengan bantuan pertanyaan pancingan guru, namun belum disertai alasan pendukung usulan.Mampu menyampaikan pendapat secara lisan secara mandiri dalam musyawarah kelas dengan usulan yang jelas dan disertai 1 alasan pendukung yang logis.Mampu menyampaikan pendapat secara lisan secara mandiri dalam musyawarah kelas dengan usulan yang runtut, jelas, serta didukung lebih dari 1 alasan logis dan relevan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah pengelolaan giliran berpendapat bagi 14 murid pertama telah berjalan tertib, aman secara psikologis, dan adil?
  • Bagaimana respons dan kesiapan murid yang belum terbiasa berbicara di depan umum saat musyawarah berlangsung?

Murid:

  • Bagaimana perasaanmu saat menyampaikan pendapat secara langsung di hadapan teman-teman sekelas?
  • Apakah pendapat atau usulan yang kamu sampaikan sudah didasari alasan yang kuat dan mudah dipahami teman-teman?

Pertemuan 2 — Mempraktikkan Kemerdekaan Berpendapat secara Tertulis sebagai Warga Negara melalui Penyusunan Surat Aspirasi — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.3.2 Mempraktikkan kemerdekaan berpendapat secara tertulis sebagai warga negara melalui penyusunan surat aspirasi pada era keterbukaan informasi

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengondisikan kesiapan belajar kelas (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu mempraktikkan penyampaian pendapat secara tertulis sebagai warga negara dalam bentuk penyusunan surat aspirasi yang ditujukan kepada pimpinan sekolah atau penyelenggara layanan publik (4 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen diagnostik singkat dengan membagikan lembar kuis awal berisi 2 pertanyaan tertulis: (1) Sebutkan 5 bagian pokok dalam struktur surat aspirasi resmi! dan (2) Tuliskan 1 contoh kalimat usulan aspirasi yang santun dan rasional terkait fasilitas toilet sekolah! (8 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Murid mencermati telaah model naskah 'Surat Aspirasi Pelajar untuk Kepala Sekolah' yang memuat 5 komponen utama: (1) Tempat & tanggal serta tujuan surat, (2) Salam & kalimat pembuka, (3) Uraian fakta persoalan lingkungan sekolah disertai bukti amatan, (4) Usulan solusi rasional yang santun demi kepentingan bersama, (5) Kalimat penutup, salam penutup, dan tanda tangan/nama pengirim (10 menit).
  • Guru memandu murid membedakan kalimat aspirasi berbasis fakta solutif dengan kalimat keluhan emosional/destruktif dalam konteks kemerdekaan berpendapat yang bertanggung jawab berdasarkan UUD NRI 1945 (7 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid mengikuti tantangan 'Bedah Kartu Aspirasi' secara berpasangan: murid menerima 3 kartu contoh cuplikan paragraf isi surat (Kartu A: keluhan mencela tanpa solusi; Kartu B: permintaan egois tanpa data; Kartu C: aspirasi tertib memuat data keterbatasan buku perpustakaan dan usulan penambahan rak buku tematik) lalu mencocokkan kartu yang memenuhi etika kemerdekaan berpendapat secara cepat (8 menit).
  • Setiap murid secara mandiri menyusun draf naskah 'Surat Aspirasi Warga Sekolah' yang ditujukan kepada Kepala Sekolah mengenai perbaikan layanan/fasilitas sekolah (pilihan fokus: perpustakaan sekolah, kantin sehat, fasilitas pemilahan sampah, atau lapangan olahraga) dengan memenuhi kelengkapan 5 komponen sistematika dan etika kesantunan bahasa tertulis (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid melakukan swaperiksa (self-assessment) terhadap naskah surat aspirasi yang telah ditulisnya menggunakan lembar cek mandiri untuk memastikan ketiadaan kalimat bernada kebencian/menyerang pribadi dan memastikan hadirnya alternatif solusi yang realistis (8 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan umum dan umpan balik langsung terhadap draf surat aspirasi murid berdasarkan ketepatan struktur dan etika penyampaian pendapat tertulis (4 menit).
  • Murid menyerahkan naskah surat aspirasi yang telah disusun untuk ditinjau guru dan guru menyampaikan pengantar topik pertemuan berikutnya yaitu praktik kemerdekaan berpendapat melalui media digital secara bertanggung jawab tanpa mengakhiri keseluruhan bab (3 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang memerlukan bimbingan diberikan format panduan surat rumpang yang memuat penuntun kalimat pembuka dan kerangka paragraf usulan; murid yang sudah mahir menyusun surat aspirasi dengan elaborasi data komparasi dampak positif usulan solusi secara mandiri.
  • Proses: Murid dengan kecepatan belajar reguler menulis naskah secara bertahap dengan pendampingan langsung pada bagian perumusan solusi; murid yang bergerak cepat dapat menambahkan bukti visual/sketsa denah kebutuhan fasilitas pada lampiran surat aspirasi.
  • Produk: Semua murid menghasilkan produk yang sama yaitu naskah surat aspirasi berstruktur lengkap 5 bagian, dengan variasi pemilihan fokus topik persoalan lingkungan sekolah yang diamati.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Kuis diagnostik tertulis 2 butir pada tahap pendahuluan: (1) Menyebutkan 5 bagian pokok surat aspirasi (acuan jawaban: [a] Tempat/tanggal & tujuan surat, [b] Salam & kalimat pembuka, [c] Uraian fakta masalah, [d] Rumusan usulan solusi/aspirasi, [e] Penutup & identitas pengirim); (2) Menuliskan 1 kalimat aspirasi tertulis yang santun dan rasional (kriteria penerimaan: bahasa sopan, menyebutkan objek toilet sekolah, dan memberikan saran perbaikan nyata, misal 'Kami mengusulkan agar jadwal piket kebersihan toilet ditambah menjadi dua kali sehari agar siswa dapat belajar dengan nyaman').

Proses:

  • Tantangan 'Bedah Kartu Aspirasi' (acuan kunci: Kartu C adalah pilihan benar sebagai aspirasi yang etis dan solutif; Kartu A dan Kartu B adalah pengalih/distraktor).
  • Observasi pengerjaan penulisan naskah surat aspirasi menggunakan lembar cek formatif: keterisian tempat/tanggal, tujuan, salam pembuka, isi (fakta persoalan + rekomendasi solusi santun), dan penutup/identitas.

Akhir Pertemuan:

  • Pemeriksaan naskah final draf Surat Aspirasi yang memuat kriteria ketercapaian: naskah wajib memuat kelengkapan 5 komponen sistematika serta memuat minimal 1 usulan solusi konkret yang relevan dengan persoalan fasilitas/layanan sekolah yang diangkat tanpa memuat ujaran penghinaan personal.

Formatif:

  • Penilaian proses lembar cek struktur dan draf naskah Surat Aspirasi Pelajar (aspek kelengkapan komponen dan kesantunan/ketajaman usulan aspirasi tertulis).

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kelengkapan Sistematika Surat Aspirasi TertulisMenyusun surat aspirasi dengan hanya memuat 1-2 komponen dari 5 komponen sistematika acuan (tempat/tanggal/tujuan, pembuka, uraian masalah, usulan solusi, penutup/identitas).Menyusun surat aspirasi dengan memuat 3 komponen dari 5 komponen sistematika acuan.Menyusun surat aspirasi dengan memuat 4 komponen dari 5 komponen sistematika acuan secara runtut.Menyusun surat aspirasi secara lengkap dan runtut memuat seluruh 5 komponen sistematika acuan (tempat/tanggal & tujuan, salam & pembuka, uraian masalah berbasis fakta, usulan solusi rasional, serta penutup & identitas pengirim).
Kualitas Perumusan Aspirasi dan Solusi TertulisIsi surat hanya berupa keluhan/tuntutan sepihak tanpa menyebutkan fakta masalah dan tanpa menawarkan usulan solusi perbaikan.Isi surat menyebutkan masalah lingkungan sekolah namun usulan solusi belum realistis atau masih bernada menyalahkan pihak lain.Isi surat memuat fakta masalah lingkungan sekolah yang jelas dan menyampaikan 1 usulan solusi yang rasional demi kepentingan bersama.Isi surat memuat fakta masalah lingkungan sekolah secara objektif, menyertakan lebih dari 1 usulan solusi konkret yang dapat diterapkan, serta berorientasi penuh pada kepentingan bersama warga sekolah.
Kesantunan Bahasa dan Etika Kemerdekaan BerpendapatBahasa yang digunakan tidak baku, kasar, menyudutkan pribadi tertentu, dan melanggar etika penyampaian pendapat tertulis.Bahasa yang digunakan cukup santun tetapi masih memuat beberapa kalimat bernada menghakimi atau tidak objektif.Bahasa yang digunakan santun, menghormati pihak penerima surat, objektif, dan tidak memuat kata-kata yang menyerang individu.Bahasa yang digunakan sangat santun, baku, persuasif, argumentatif, dan menjunjung tinggi etika keterbukaan informasi publik secara konsisten.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 25 menit mandiri cukup bagi seluruh murid untuk merumuskan usulan aspirasi tertulis secara terstruktur?
  • Bagian sistematika surat mana yang paling banyak membutuhkan bimbingan perbaikan oleh murid saat menyusun surat aspirasi?
  • Bagaimana keterlibatan murid dalam membedakan ungkapan aspirasi yang bertanggung jawab dengan keluhan destruktif?

Murid:

  • Apa perbedaan utama antara sekadar mengeluh dengan menyampaikan aspirasi tertulis sebagai warga negara yang baik?
  • Bagian mana dari surat aspirasi yang saya buat hari ini yang paling menunjukkan usulan solusi nyata untuk sekolah saya?
  • Tantangan apa yang saya hadapi saat memilih kata-kata yang santun namun tetap tegas dalam menyampaikan pendapat tertulis?

Pertemuan 3 — Mempraktikkan Kemerdekaan Berpendapat sebagai Warga Negara melalui Media Digital secara Bertanggung Jawab — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.3.3 Mempraktikkan kemerdekaan berpendapat sebagai warga negara melalui media digital secara bertanggung jawab pada era keterbukaan informasi

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan memimpin doa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-3, yaitu mempraktikkan kemerdekaan berpendapat sebagai warga negara melalui media digital secara bertanggung jawab (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat melalui kuis cepat 3 pernyataan etika digital untuk memetakan pemahaman awal murid (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid menyimak paparan guru mengenai prinsip kemerdekaan berpendapat di media digital yang bertanggung jawab sesuai aturan hukum: berdasar fakta valid, bahasa santun tanpa ujaran kebencian (SARA), serta berorientasi solusi publik (10 menit).
  • Murid berpasangan memainkan kuis interaktif 'Cek Fakta & Etika' menganalisis 2 draf postingan: Postingan A (tuduhan tanpa bukti) dan Postingan B (kritik fasilitas berbasis fakta) untuk menentukan pemenuhan etika berpendapat digital (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid memilih 1 dari 2 isu publik sekolah/remaja yang disediakan: Isu 1 'Tumpukan Sampah Plastik di Lingkungan Sekitar' atau Isu 2 'Etika Penggunaan Gawai Saat Jam Belajar' untuk bahan opini digital (5 menit).
  • Murid mempraktikkan penyusunan 1 teks opini singkat (utas/status media digital sepanjang 60–100 kata) pada lembar kerja simulasi media sosial dengan memenuhi 3 kriteria: mencantumkan argumen berbasis fakta/alasan logis, menggunakan bahasa santun tanpa unsur SARA/perundungan, dan menyertakan rekomendasi/solusi positif (22 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid saling menukarkan draf opini digital dengan teman sebangku untuk memeriksa kesesuaian draf terhadap 3 kriteria tanggung jawab digital (fakta, kesantunan, solusi) serta memberikan catatan perbaikan konstruktif (10 menit).
  • Murid membaca catatan rekan sebangku dan menyadari pentingnya kehati-hatian serta tanggung jawab kewargaan sebelum membagikan pendapat di ruang siber (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap praktik perumusan opini digital yang bertanggung jawab yang telah dikerjakan murid (5 menit).
  • Guru memandu murid menyimpulkan pembelajaran hari ini dan menutup sesi dengan salam (3 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan pilihan 2 isu publik: isu faktual lingkungan fisik (sampah plastik) atau isu kebiasaan digital (penggunaan gawai).
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan kerangka opini 3 kalimat (fakta - tanggapan - saran); murid mahir menyusun opini komparatif dengan data pendukung mandiri.
  • Produk: Opini digital disusun dalam bentuk draf simulasi mikroblog (utas) atau infografik teks sederhana 60–100 kata.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Kuis diagnostik 3 pernyataan: (1) 'Bebas berpendapat di media sosial berarti boleh mengunggah apa saja tanpa batasan hukum' (Kunci: Salah - dibatasi hak orang lain dan UU ITE); (2) 'Mengkritik kebijakan publik di media sosial harus menyertakan data atau fakta yang dapat dipertanggungjawabkan' (Kunci: Benar); (3) 'Menyebarkan identitas pribadi orang lain tanpa izin saat berdebat di media sosial diperbolehkan sebagai bentuk kebebasan berpendapat' (Kunci: Salah - melanggar privasi dan UU ITE).

Proses:

  • Pemeriksaan lembar kerja draf opini digital murid: memastikan draf memuat fakta/alasan logis, tidak mengandung ujaran kebencian/SARA, dan memuat usulan solusi.

Akhir Pertemuan:

  • Pengecekan draf akhir opini media digital: memeriksa apakah draf memenuhi 3 kriteria penerimaan operasional (fakta pengamatan, penggunaan bahasa santun tanpa kata kasar/fitnah, dan 1 rekomendasi solusi nyata).

Formatif:

  • Penilaian proses penyusunan draf opini media digital berdasarkan 3 kriteria: argumen berbasis fakta, bahasa santun tanpa SARA/perundungan, dan pemberian solusi konstruktif.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Praktik Kemerdekaan Berpendapat melalui Media Digital secara Bertanggung JawabDraf opini belum memuat fakta/alasan logis dan belum menyertakan solusi, serta masih terdapat kata-kata yang tidak santun.Draf opini memuat bahasa santun tetapi belum didasarkan pada fakta yang jelas dan belum memberikan rekomendasi solusi.Draf opini memuat argumen berbasis fakta, menggunakan bahasa santun bebas ujaran kebencian/SARA, serta menyertakan 1 usulan solusi secara tepat.Draf opini memuat argumen berbasis fakta yang sangat terperinci, bahasa santun bebas ujaran kebencian/SARA, serta memberikan lebih dari 1 alternatif solusi nyata secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah murid telah mampu membedakan dengan jelas antara opini kritis yang bertanggung jawab dengan ujaran yang berpotensi melanggar etika/hukum di media digital?
  • Bagaimana keterlibatan murid selama menyusun draf opini media digital pada lembar kerja simulasi?

Murid:

  • Hal apa yang perlu saya perhatikan dan periksa kembali sebelum mengunggah tulisan opini di akun media sosial saya?
  • Mengapa kebebasan berekspresi di internet harus diimbangi dengan tanggung jawab hukum dan etika?

Pertemuan 4 — Mempraktikkan Kemerdekaan Berpendapat sebagai Warga Negara melalui Penyampaian Aspirasi pada Kanal Keterbukaan Informasi Publik — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.3.4 Mempraktikkan kemerdekaan berpendapat sebagai warga negara melalui penyampaian aspirasi pada kanal keterbukaan informasi publik

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan memandu doa bersama (3 menit).
  • Guru mengaitkan pembelajaran sebelumnya tentang etika media digital dengan materi penyampaian aspirasi resmi pada kanal keterbukaan informasi publik (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen diagnostik singkat dengan meminta murid mencocokkan 3 kartu fungsi kanal informasi publik: Kartu A 'Laporan Pengaduan', Kartu B 'Permintaan Informasi Publik', dan Kartu C 'Aspirasi Kebijakan' dengan 3 contoh skenario: (1) Jalan berlubang di depan puskesmas belum diperbaiki, (2) Meminta rincian anggaran BOS sekolah, (3) Usulan penambahan bus sekolah rute pedesaan (acuan: 1 cocok dengan Kartu A, 2 cocok dengan Kartu B, 3 cocok dengan Kartu C) (6 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-4 dan kriteria penyusunan draf aspirasi pada formulir simulasi kanal informasi publik LAPOR! (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mencermati bagan alur simulasi keterbukaan informasi publik (kanal SP4N-LAPOR!) yang memuat 4 elemen formulir resmi: (1) Judul laporan/aspirasi, (2) Lokasi kejadian/instansi tujuan, (3) Uraian aspirasi berbasis fakta, dan (4) Rekomendasi/usulan solusi yang diharapkan (8 menit).
  • Murid bersama teman sebangku memainkan kuis kilat 'Pilah Fakta vs Hoaks' dengan memeriksa 4 kartu contoh narasi aduan publik: Aduan 1 'Lampu jalan padam di Jl. Merdeka sejak 3 hari lalu', Aduan 2 'Pemerintah sengaja membiarkan jalan rusak demi keuntungan pribadi', Aduan 3 'Antrean faskes manual menumpuk sejak pukul 06.00 WIB tanpa nomor antrean digital', dan Aduan 4 'Petugas faskes semua jahat dan tidak profesional' (acuan kunci valid: Aduan 1 dan 3 berbasis fakta; Aduan 2 dan 4 berbasis opini emosional tanpa bukti) (7 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid memilih salah satu dari 2 skenario isu layanan publik nyata: Skenario 1 'Fasilitas trotoar dan penyeberangan zebra cross di depan sekolah tertutup pedagang kaki lima sehingga membahayakan murid' atau Skenario 2 'Sampah di tempat penampungan sementara dekat lapangan umum meluap dan tidak diangkut selama lima hari' (5 menit).
  • Murid secara mandiri mempraktikkan penyampaian aspirasi dengan mengisi Lembar Kerja Simulasi Kanal Keterbukaan Informasi Publik yang memuat lengkap 4 komponen: Judul, Instansi Tujuan, Deskripsi Fakta (apa, di mana, kapan), dan Saran Solusi yang santun (15 menit).
  • Murid saling menukarkan draf formulir dengan teman sebangku untuk memeriksa kesesuaian 4 komponen isi formulir menggunakan lembar ceklis saling silang (7 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Dua orang perwakilan murid membacakan draf formulir aspirasi kanal publik yang telah disusun, lalu guru memberikan penguatan terhadap ketepatan pemilihan instansi tujuan dan kejelasan deskripsi fakta (8 menit).
  • Murid menuliskan refleksi singkat tentang pentingnya keterbukaan informasi publik dalam menjamin hak kemerdekaan berpendapat warga negara secara beradab dan bertanggung jawab (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran mengenai tata cara penyampaian aspirasi warga negara melalui kanal keterbukaan informasi publik (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik atas latihan pengisian formulir simulasi hari ini serta mengingatkan murid untuk mempersiapkan diri menghadapi Asesmen Sumatif Bab 3 pada pertemuan berikutnya (4 menit)
  • Guru menutup pertemuan dengan doa bersama dan salam penutup (1 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan lembar formulir berformat panduan rumpang dengan kalimat pengarah (scaffolding), sedangkan murid mahir diberikan lembar formulir terbuka tanpa format rumpang.
  • Proses: Murid yang memerlukan pendampingan dibimbing guru dalam menyusun deskripsi fakta, sedangkan murid mandiri langsung menyusun narasi aspirasi beserta rekomendasi solusi.
  • Produk: Murid bebas menyusun aspirasi publik untuk isu lingkungan sekolah atau isu fasilitas umum di wilayah pemukiman tempat tinggalnya dengan tetap memenuhi 4 komponen resmi.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pencocokan 3 kartu fungsi kanal informasi publik dengan 3 skenario situasi (acuan: Kartu A 'Laporan Pengaduan' -> Skenario 1 'Jalan berlubang di depan puskesmas'; Kartu B 'Permintaan Informasi Publik' -> Skenario 2 'Meminta rincian anggaran BOS sekolah'; Kartu C 'Aspirasi Kebijakan' -> Skenario 3 'Usulan penambahan bus sekolah rute pedesaan'). Kriteria ketercapaian: murid mampu mencocokkan minimal 2 pasangan secara tepat.

Proses:

  • Observasi pengerjaan Lembar Kerja Simulasi Kanal Keterbukaan Informasi Publik dengan kriteria: (1) Menyebutkan judul laporan secara spesifik, (2) Menentukan instansi publik yang berwenang dengan tepat, (3) Menuliskan deskripsi peristiwa berbasis fakta konkret tanpa ujaran kebencian, dan (4) Menyampaikan saran solusi perbaikan secara santun.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman formatif di akhir pertemuan: Murid menjawab 2 pertanyaan tiket keluar (exit ticket): (1) Tuliskan 1 contoh kanal resmi pemerintah Indonesia untuk menyampaikan pengaduan/aspirasi (acuan: SP4N-LAPOR! / lapor.go.id / PPID / kotak aduan dinas terkait); (2) Sebutkan 2 unsur wajib yang harus dicantumkan dalam aduan/aspirasi agar dapat ditindaklanjuti oleh petugas (acuan: lokasi kejadian yang jelas, rincian peristiwa berbasis fakta, bukti pendukung, atau instansi yang dituju). Penerimaan: murid menjawab minimal 1 contoh kanal dan 2 unsur wajib secara benar.

Formatif:

  • Penilaian unjuk kerja pengisian formulir simulasi kanal keterbukaan informasi publik berdasarkan kelengkapan 4 komponen (judul, instansi tujuan, deskripsi fakta, dan saran solusi) dan kesantunan bahasa penyampaian aspirasi.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Praktik Penyampaian Aspirasi pada Kanal Keterbukaan Informasi PublikMemuat kurang dari 2 komponen formulir kanal publik (dari 4 komponen: judul, instansi tujuan, deskripsi fakta, dan saran perbaikan) dan deskripsi belum berbasis fakta.Memuat 2 dari 4 komponen formulir kanal publik dengan deskripsi berbasis fakta namun instansi tujuan belum tepat dan belum disertai saran perbaikan.Memuat 3 dari 4 komponen formulir kanal publik dengan deskripsi berbasis fakta dan penentuan instansi tujuan yang tepat.Memuat lengkap 4 komponen formulir kanal publik (judul, instansi tujuan, deskripsi fakta konkret, dan usulan solusi yang logis) secara mandiri dan santun.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah murid dapat membedakan dengan jelas antara keluhan emosional di media sosial dengan penyampaian aspirasi resmi pada kanal informasi publik?
  • Bagian mana dari langkah simulasi kanal informasi publik yang memerlukan bimbingan tambahan bagi murid?

Murid:

  • Apakah kamu sekarang memahami cara menyampaikan aspirasi secara resmi kepada penyelenggara pelayanan publik?
  • Langkah apa yang paling penting diperhatikan agar aspirasi yang kita sampaikan melalui kanal publik dapat ditindaklanjuti secara efektif?

Pertemuan 5 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.3.1 Mempraktikkan kemerdekaan berpendapat secara lisan sebagai warga negara dalam musyawarah kelas pada era keterbukaan informasi
  • TP 9.3.2 Mempraktikkan kemerdekaan berpendapat secara tertulis sebagai warga negara melalui penyusunan surat aspirasi pada era keterbukaan informasi
  • TP 9.3.3 Mempraktikkan kemerdekaan berpendapat sebagai warga negara melalui media digital secara bertanggung jawab pada era keterbukaan informasi
  • TP 9.3.4 Mempraktikkan kemerdekaan berpendapat sebagai warga negara melalui penyampaian aspirasi pada kanal keterbukaan informasi publik

Pendahuluan:

  • Guru membuka sesi asesmen sumatif dengan salam, doa, memeriksa kehadiran 28 murid, dan menyampaikan tujuan asesmen akhir Bab 3 terkait kemerdekaan berpendapat warga negara (4 menit).
  • Guru membagikan amplop berkas asesmen sumatif individual kepada setiap murid yang berisi Lembar Tugas 1 (Telaah Reflektif Musyawarah), Lembar Tugas 2 (Naskah Surat Aspirasi Sekolah dan Draf Teks Opini Media Digital), serta Lembar Tugas 3 (Formulir Simulasi Pengajuan Aspirasi Kanal Keterbukaan Informasi Publik) (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru membacakan petunjuk teknis pelaksanaan tiga rangkaian asesmen sumatif serta tata tertib pengerjaan mandiri tanpa komunikasi antar-murid, menegaskan bahwa 14 murid yang belum dinilai unjuk kerja lisannya pada Pertemuan 1 akan dipanggil bergiliran maju ke forum meja amatan guru masing-masing selama 2 menit, sementara 14 murid lainnya yang sudah dinilai pada Pertemuan 1 fokus mengerjakan telaah reflektif mandiri (3 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Berkesadaran):

  • Pelaksanaan Tugas 1: Sisa 14 murid secara bergiliran maju menyampaikan pendapat lisan dalam simulasi musyawarah kelas dengan topik 'Penyediaan Ruang Baca Terbuka dan Aturan Penggunaan Gawai di Sekolah' dengan durasi masing-masing 2 menit (total 28 menit + 4 menit transisi antarmurid dan pencatatan lembar amatan bernama oleh guru), dinilai berdasarkan kejelasan gagasan pemecahan masalah, kesantunan berbahasa lisan tanpa merendahkan, dan penghormatan terhadap pendapat orang lain; sementara itu, 14 murid pertama yang telah selesai di Pertemuan 1 mengisi telaah reflektif tertulis mandiri di bangku masing-masing (32 menit).
  • Pelaksanaan Tugas 2: Seluruh 28 murid secara serentak dan mandiri menyusun naskah surat aspirasi resmi kepada kepala sekolah terkait perbaikan sarana/lingkungan sekolah (bagian A) serta menyusun naskah draf opini media digital bertema 'Etika Berpendapat Warga Net di Media Sosial' (bagian B) yang wajib mematuhi etika komunikasi daring, bebas ujaran kebencian, dan menghormati hak orang lain selama 24 menit kerja tenang di bawah pengawasan ketertiban oleh guru (24 menit).
  • Pelaksanaan Tugas 3: Seluruh 28 murid secara mandiri dan serentak mengisi lembar formulir simulasi kanal keterbukaan informasi publik (format resmi pengaduan/aspirasi publik) dengan skenario kasus 'Keterlambatan Publikasi Laporan Penggunaan Anggaran Kegiatan Kesiswaan Sekolah' yang memuat: (1) Identitas pemohon aspirasi, (2) Uraian kronologis persoalan informasi, (3) Bukti pendukung relevan (papan pengumuman/situs belum diperbarui), dan (4) Usulan solusi konkret pemenuhan transparansi informasi publik (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kelengkapan nama, nomor presensi, dan seluruh isian naskah pada lembar portofolio asesmen sumatif sebelum diserahkan, serta merefleksikan proses penyampaian pendapat yang bertanggung jawab (2 menit).

Penutup:

  • Guru mengumpulkan seluruh lembar artefak tugas tertulis dan formulir simulasi dari 28 murid serta merangkum ketercapaian seluruh rangkaian materi kemerdekaan berpendapat warga negara pada era keterbukaan informasi (Bab 3) (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Memberikan format lembar tugas dengan teks berjarak spasi jelas dan instruksi tertulis yang diperbesar bagi murid dengan kebutuhan hambatan penglihatan tanpa mengubah standar kriteria tugas.
  • Proses: Menyediakan meja khusus asesmen lisan musyawarah yang tenang di dekat meja guru bagi murid yang membutuhkan ketenangan artikulasi lisan tanpa mengurangi durasi 2 menit amatan.
  • Produk: Format media draf opini digital dapat dituangkan dalam bentuk simulasi layout unggahan media sosial kertas kerja atau format esai kolom digital cetak sesuai kesiapan murid.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pengecekan kesiapan teknis alat tulis dan pemahaman terhadap 3 bagian lembar kerja sumatif sebelum asesmen dimulai secara serentak.

Proses:

  • Observasi keterlibatan mandiri dan kepatuhan terhadap instruksi pengerjaan sumatif selama durasi pengerjaan kelas berlangsung.

Sumatif Bab:

  • Kombinasi unjuk kerja penyampaian pendapat lisan musyawarah, penilaian produk naskah aspirasi dan opini digital, serta unjuk kerja simulasi pengajuan aspirasi kanal informasi publik: Rekaman amatan unjuk kerja penyampaian pendapat lisan dalam musyawarah kelas yang santun dan menghargai perbedaan, naskah surat aspirasi tertulis perbaikan lingkungan sekolah, draf teks opini media digital yang bertanggung jawab dan mematuhi etika daring, serta lembar isian simulasi pengajuan aspirasi pada kanal keterbukaan informasi publik yang memuat uraian masalah, bukti pendukung, dan usulan solusi
  • unjuk kerja penyampaian pendapat lisan bergiliran: Portofolio amatan satu TP lisan secara bergiliran, 14 murid × 2 menit per murid = 28 menit + 4 menit perpindahan/pencatatan <= 32 menit. Memerlukan 2 sesi untuk 28 murid: 1 sesi latihan musyawarah pada Pertemuan 1 untuk 14 murid pertama (14 × 2 menit = 28 menit + 4 menit pencatatan = 32 menit terintegrasi), dan sisa 14 murid dinilai pada slot sumatif akhir (14 × 2 menit = 28 menit + 4 menit transisi/pencatatan = 32 menit). Guru mengamati kejelasan gagasan, kesantunan berbahasa, dan penghormatan pendapat orang lain menggunakan lembar amatan bernama; murid lain yang sedang tidak giliran melakukan telaah reflektif mandiri. (32 menit; individual; instrumen: rubrik unjuk kerja penyampaian pendapat lisan musyawarah kelas dengan catatan individual)
  • penilaian produk naskah aspirasi dan draf opini digital serentak: 28 murid secara serentak dan mandiri menyusun naskah surat aspirasi resmi kepada kepala sekolah untuk perbaikan fasilitas sekolah (TP 2) dan menyusun draf teks opini media digital yang mematuhi etika komunikasi daring serta menghormati hak orang lain (TP 3) selama 26 menit kerja bersama; guru memberikan instruksi terpadu dan mengawasi ketertiban kelas. Artefak individual berupa naskah surat dan draf opini digital bernama milik tiap murid dinilai sesudah sesi pembelajaran dengan rubrik penilaian produk, bukan observasi tatap muka satu per satu. (26 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian produk naskah surat aspirasi dan draf teks opini digital)
  • unjuk kerja simulasi pengisian kanal keterbukaan informasi publik serentak: 28 murid secara mandiri dan serentak mengerjakan simulasi pengajuan aspirasi pada lembar formulir kanal keterbukaan informasi publik (format kanal aduan/aspirasi publik resmi) selama 22 menit; lembar mencakup data identitas permohonan, deskripsi kronologis permasalahan keterbukaan informasi, bukti pendukung yang relevan, dan rekomendasi solusi konkret. Guru mengarahkan skenario simulasi secara klasikal, lalu artefak lembar isian individual bernama tiap murid diperiksa dan dinilai sesudah kegiatan menggunakan rubrik unjuk kerja simulasi. (22 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian lembar isian simulasi pengajuan aspirasi kanal informasi publik)

Sumatif:

  • Kombinasi unjuk kerja penyampaian pendapat lisan musyawarah, penilaian produk naskah aspirasi dan opini digital, serta unjuk kerja simulasi pengajuan aspirasi kanal informasi publik: Rekaman amatan unjuk kerja penyampaian pendapat lisan dalam musyawarah kelas yang santun dan menghargai perbedaan, naskah surat aspirasi tertulis perbaikan lingkungan sekolah, draf teks opini media digital yang bertanggung jawab dan mematuhi etika daring, serta lembar isian simulasi pengajuan aspirasi pada kanal keterbukaan informasi publik yang memuat uraian masalah, bukti pendukung, dan usulan solusi
  • unjuk kerja penyampaian pendapat lisan bergiliran: Portofolio amatan satu TP lisan secara bergiliran, 14 murid × 2 menit per murid = 28 menit + 4 menit perpindahan/pencatatan <= 32 menit. Memerlukan 2 sesi untuk 28 murid: 1 sesi latihan musyawarah pada Pertemuan 1 untuk 14 murid pertama (14 × 2 menit = 28 menit + 4 menit pencatatan = 32 menit terintegrasi), dan sisa 14 murid dinilai pada slot sumatif akhir (14 × 2 menit = 28 menit + 4 menit transisi/pencatatan = 32 menit). Guru mengamati kejelasan gagasan, kesantunan berbahasa, dan penghormatan pendapat orang lain menggunakan lembar amatan bernama; murid lain yang sedang tidak giliran melakukan telaah reflektif mandiri. (32 menit; individual; instrumen: rubrik unjuk kerja penyampaian pendapat lisan musyawarah kelas dengan catatan individual)
  • penilaian produk naskah aspirasi dan draf opini digital serentak: 28 murid secara serentak dan mandiri menyusun naskah surat aspirasi resmi kepada kepala sekolah untuk perbaikan fasilitas sekolah (TP 2) dan menyusun draf teks opini media digital yang mematuhi etika komunikasi daring serta menghormati hak orang lain (TP 3) selama 26 menit kerja bersama; guru memberikan instruksi terpadu dan mengawasi ketertiban kelas. Artefak individual berupa naskah surat dan draf opini digital bernama milik tiap murid dinilai sesudah sesi pembelajaran dengan rubrik penilaian produk, bukan observasi tatap muka satu per satu. (26 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian produk naskah surat aspirasi dan draf teks opini digital)
  • unjuk kerja simulasi pengisian kanal keterbukaan informasi publik serentak: 28 murid secara mandiri dan serentak mengerjakan simulasi pengajuan aspirasi pada lembar formulir kanal keterbukaan informasi publik (format kanal aduan/aspirasi publik resmi) selama 22 menit; lembar mencakup data identitas permohonan, deskripsi kronologis permasalahan keterbukaan informasi, bukti pendukung yang relevan, dan rekomendasi solusi konkret. Guru mengarahkan skenario simulasi secara klasikal, lalu artefak lembar isian individual bernama tiap murid diperiksa dan dinilai sesudah kegiatan menggunakan rubrik unjuk kerja simulasi. (22 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian lembar isian simulasi pengajuan aspirasi kanal informasi publik)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Praktik Kemerdekaan Berpendapat Lisan dalam Musyawarah Kelas (TP 9.3.1)Menyampaikan pendapat lisan dengan suara tidak jelas, tidak memuat gagasan pemecahan masalah (hanya keluhan), menggunakan bahasa yang menyela atau tidak santun, serta mengabaikan pendapat teman.Menyampaikan pendapat lisan yang memuat gagasan masalah tetapi belum menawarkan solusi konkret, bahasa cukup santun namun masih menunjukkan sikap memotong pembicaraan orang lain.Menyampaikan gagasan pemecahan masalah dengan bahasa lisan yang santun, runtut, serta secara nyata menghormati dan tidak memotong pendapat teman dalam alokasi waktu 2 menit.Menyampaikan gagasan pemecahan masalah secara sangat runtut, argumentatif, santun, responsif mengapresiasi dan menghubungkan pendapat teman secara demokratis tanpa mendominasi.
Praktik Kemerdekaan Berpendapat Tertulis melalui Surat Aspirasi (TP 9.3.2)Naskah surat aspirasi tidak memuat identitas jelas, masalah sarana sekolah tidak diuraikan faktual, dan kalimat yang digunakan menuntut tanpa etika kesantunan.Naskah surat memuat masalah sarana sekolah dan identitas, namun usulan perbaikan belum logis dan terdapat beberapa pilihan kata yang kurang santun.Naskah surat aspirasi memuat identitas pengirim, uraian faktual kondisi sarana sekolah yang perlu diperbaiki, usulan solusi yang realistis, serta menggunakan bahasa tertulis yang resmi dan santun.Naskah surat aspirasi sangat lengkap, uraian kondisi fasilitas sekolah didukung data/lokasi spesifik, solusi sangat konstruktif dan aplikatif, serta tata bahasa resmi sangat santun dan persuasif.
Praktik Berpendapat melalui Media Digital secara Bertanggung Jawab (TP 9.3.3)Draf teks opini digital memuat konten spekulatif/hoaks, menggunakan kata-kata provokatif atau menyerang pihak lain secara personal, serta mengabaikan etika digital.Draf teks opini memuat pandangan pribadi yang bebas dari hoaks, namun argumentasi penghormatan hak orang lain masih lemah dan terdapat kalimat bernada menyalahkan.Draf teks opini digital menyajikan gagasan yang jelas, didasari etika komunikasi digital, menghargai perbedaan pandangan orang lain, serta bebas dari fitnah, ujaran kebencian, maupun pelanggaran hukum.Draf teks opini digital menyajikan telaah kritis yang mendalam tentang kemerdekaan berpendapat di dunia maya, bahasa sangat etis dan inspiratif, serta mempromosikan literasi digital yang bertanggung jawab.
Penyampaian Aspirasi pada Kanal Keterbukaan Informasi Publik (TP 9.3.4)Mengisi formulir simulasi hanya 1 dari 4 komponen acuan: identitas tidak lengkap, persoalan tidak relevan dengan transparansi informasi, tanpa bukti, dan tanpa solusi.Mengisi formulir simulasi dengan 2 dari 4 komponen acuan terpenuhi secara jelas (misalnya: identitas terisi dan persoalan tertulis namun bukti dan solusi konkret belum ada).Mengisi formulir simulasi dengan memenuhi 4 komponen acuan secara tepat: (1) identitas pemohon jelas, (2) uraian persoalan transparansi informasi runtut, (3) bukti pendukung relevan, dan (4) usulan solusi konkret perbaikan layanan informasi.Mengisi seluruh 4 komponen acuan pada formulir simulasi secara amat terperinci, analisis kronologis masalah informasi sangat runtut, bukti pendukung valid, dan rekomendasi solusi keterbukaan informasi sangat sistematis.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 32 menit untuk menilai unjuk kerja lisan 14 murid tersisa dan 34 menit untuk tugas tertulis serta simulasi berjalan efektif dan tertib?
  • Bagaimana tingkat pemahaman murid dalam membedakan kebebasan berpendapat yang bertanggung jawab dengan penyampaian informasi tanpa etika?

Murid:

  • Bentuk penyampaian pendapat mana yang paling menantang bagiku (musyawarah lisan, surat aspirasi, opini digital, atau kanal pengaduan publik)?
  • Bagaimana aku akan menerapkan etika berpendapat secara santun dan bertanggung jawab di kehidupan nyata dan media sosial setelah bab ini selesai?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SMP/MTs Kelas IX, Kemendikbudristek 2023, Bab 3.
  2. Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SMP/MTs Kelas IX, Kemendikbudristek 2023, Bab 3.
  3. Lembar Panduan Musyawarah Kelas dan Kartu Frasa Pemantik Pendapat Lisan.
  4. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SMP/MTs Kelas IX, Kemendikbudristek 2023
  5. Buku Panduan Siswa Pendidikan Pancasila untuk SMP/MTs Kelas IX, Kemendikbudristek 2023 (Bab 3: Subbab Praktik Kemerdekaan Berpendapat - Pesan untuk Kepala Sekolah)
  6. Lembar Peraga Contoh Naskah Surat Aspirasi Resmi
  7. Kartu Aktivitas 'Bedah Kartu Aspirasi'
  8. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas IX (Kemendikbudristek, 2023)
  9. Buku Siswa Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas IX Bab 3 (Kemendikbudristek, 2023)
  10. Lembar Kerja Siswa: Format Simulasi Utas/Status Media Sosial Edukatif
  11. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas IX (Kemendikbudristek 2023)
  12. Buku Teks Pendidikan Pancasila SMP/MTs Kelas IX Bab 3 (Kemendikbudristek 2023)
  13. Panduan Tata Kelola Pengaduan Pelayanan Publik Nasional (SP4N-LAPOR!)
  14. Lembar Kerja Siswa: Formulir Simulasi Aspirasi Kanal Informasi Publik
  15. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SMP/MTs Kelas IX (Kemendikbudristek, 2023, Hal. 106-110)
  16. Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SMP/MTs Kelas IX (Kemendikbudristek, 2023, Bab 3, Hal. 72-88)
  17. Format instrumen simulasi kanal pengaduan/keterbukaan informasi publik (SP4N LAPOR! / Layanan Informasi Publik)

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.