Modul AjarPertemuan 1Bab 7Fase CSemester 2

Modul Ajar Pendidikan Pancasila Kelas 6: Sejarah dan Makna Gotong Royong sebagai Tradisi Bangsa Indonesia

Modul Ajar ini disusun untuk satu pertemuan tatap muka mata pelajaran Pendidikan Pancasila kelas 6 dengan topik "Sejarah dan Makna Gotong Royong sebagai Tradisi Bangsa Indonesia". Dokumen mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Kurikulum Merdeka, lengkap dengan tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen ringkas.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Pendidikan Pancasila Kelas 6: Sejarah dan Makna Gotong Royong sebagai Tradisi Bangsa Indonesia

Pendidikan Pancasila - Kelas 6

Bab 7 - Pertemuan 1

MODUL AJAR

Pendidikan Pancasila — Kelas 6 (Fase C)

Topik: Sejarah dan Makna Gotong Royong sebagai Tradisi Bangsa Indonesia

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPendidikan Pancasila
Fase / KelasFase C / Kelas 6
TopikSejarah dan Makna Gotong Royong sebagai Tradisi Bangsa Indonesia
Alokasi Waktu2x35 menit
Jumlah Pertemuan1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Murid dapat menjelaskan sejarah gotong royong sebagai tradisi yang telah mengakar sejak zaman nenek moyang bangsa Indonesia dengan menyebutkan minimal dua bukti historisnya.
  2. Murid dapat menguraikan makna gotong royong dalam konteks menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia sebagai salah satu wujud bela negara.

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Pernahkah kalian melihat atau ikut kegiatan gotong royong di lingkungan rumah? Apa yang kalian rasakan saat itu?
  2. Menurut kalian, mengapa nenek moyang kita sudah bergotong royong sejak dulu? Apa manfaatnya bagi kehidupan bersama?
  3. Apa yang akan terjadi jika masyarakat Indonesia tidak lagi bergotong royong?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam dan doa bersama.
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik: meminta 3-4 murid menceritakan pengalaman gotong royong yang pernah mereka lakukan atau lihat di lingkungan sekitar.
  • Guru menampilkan gambar atau foto kegiatan gotong royong (membangun rumah adat, kerja bakti, panen bersama) dan mengajukan pertanyaan pemantik: 'Mengapa nenek moyang kita sudah bergotong royong sejak dulu?'
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini dan menuliskannya di papan tulis agar murid memahami arah belajar mereka.

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru membacakan atau meminta murid membaca teks tentang sejarah gotong royong: tradisi sejak zaman nenek moyang, bukti Prasasti Baru di Mataram Kuno abad ke-10, peran berbagai golongan (sudra, waisya, brahmana) dalam membangun candi, serta konsep dana/seva dalam agama Hindu dan gotong royong dalam agama Buddha.
  • Murid mengidentifikasi minimal dua bukti historis gotong royong dari teks yang dibaca dan mencatatnya di buku tulis.
  • Guru menjelaskan makna gotong royong sebagai wujud persatuan dan kesatuan bangsa serta kaitannya dengan bela negara dan pengamalan sila ketiga Pancasila.
  • Guru melakukan tanya jawab untuk memastikan pemahaman: 'Sebutkan dua bukti bahwa gotong royong sudah ada sejak zaman dahulu!' dan 'Mengapa gotong royong disebut sebagai wujud bela negara?'

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid dibagi dalam kelompok kecil (4-5 orang) secara heterogen.
  • Setiap kelompok mendiskusikan dan mengisi lembar kerja yang berisi: (1) Dua bukti historis gotong royong di Nusantara, (2) Makna gotong royong bagi persatuan dan kesatuan bangsa, (3) Satu contoh gotong royong di lingkungan sekitar yang mereka ketahui dan bagaimana kegiatan itu menjaga persatuan.
  • Perwakilan setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi secara singkat di depan kelas.
  • Kelompok lain memberikan tanggapan atau pertanyaan untuk memperkaya pemahaman bersama.

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid secara individu menuliskan refleksi singkat di buku tulis: 'Apa hal baru yang saya pelajari hari ini tentang gotong royong?' dan 'Bagaimana saya bisa menerapkan gotong royong di lingkungan sekolah atau rumah sebagai wujud bela negara?'
  • Guru mengajak 2-3 murid membacakan refleksinya dan memberikan apresiasi.
  • Guru bersama murid menyimpulkan bahwa gotong royong adalah tradisi luhur bangsa Indonesia yang sudah ada sejak zaman nenek moyang dan menjadi salah satu cara menjaga persatuan serta kesatuan bangsa.

Penutup:

  • Guru melakukan asesmen akhir: murid menjawab dua pertanyaan tertulis singkat di selembar kertas (exit ticket): (1) Sebutkan dua bukti historis gotong royong di Nusantara! (2) Jelaskan mengapa gotong royong penting untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa!
  • Guru memberikan umpan balik singkat dan motivasi agar murid mempraktikkan gotong royong di kehidupan sehari-hari.
  • Guru menutup pelajaran dengan salam.

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan dukungan lebih mendapat teks bacaan dengan kalimat lebih sederhana dan gambar pendukung. Murid yang cepat memahami mendapat teks tambahan tentang berbagai bentuk gotong royong di daerah lain (misalnya subak di Bali, mapalus di Minahasa).
  • Proses: Murid yang membutuhkan dukungan lebih didampingi guru atau teman sebaya saat diskusi kelompok. Murid yang cepat memahami berperan sebagai fasilitator kelompok yang membantu teman memahami materi.
  • Produk: Murid yang membutuhkan dukungan lebih cukup menuliskan dua bukti historis dalam kalimat sederhana. Murid yang cepat memahami menuliskan paragraf pendek yang menghubungkan bukti historis dengan makna gotong royong bagi persatuan bangsa.

ASESMEN

Awal:

  • Guru meminta 3-4 murid menceritakan pengalaman gotong royong yang pernah dilakukan atau dilihat untuk mengecek pengetahuan awal murid tentang konsep gotong royong.
  • Guru mengajukan pertanyaan lisan: 'Apa yang kalian ketahui tentang gotong royong? Apakah gotong royong sudah ada sejak zaman dahulu?'

Proses:

  • Guru mengamati partisipasi murid dalam diskusi kelompok dan mencatat murid yang aktif maupun yang memerlukan bimbingan.
  • Guru memeriksa lembar kerja kelompok untuk memastikan murid mampu menyebutkan bukti historis dan menguraikan makna gotong royong.
  • Guru memberikan pertanyaan lisan kepada beberapa murid saat presentasi untuk mengecek kedalaman pemahaman.

Akhir:

  • Exit ticket: Murid menjawab secara tertulis dua pertanyaan: (1) Sebutkan minimal dua bukti historis bahwa gotong royong sudah ada sejak zaman nenek moyang bangsa Indonesia! (2) Jelaskan makna gotong royong dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa sebagai wujud bela negara!

Formatif:

  • Observasi keaktifan murid dalam tanya jawab dan diskusi kelompok.
  • Penilaian lembar kerja kelompok tentang bukti historis dan makna gotong royong.
  • Catatan anekdotal terhadap kemampuan murid menyebutkan bukti historis secara lisan.

Sumatif:

  • Exit ticket berupa dua pertanyaan tertulis singkat yang mengukur pencapaian TP 6.7.1.1 dan TP 6.7.1.2.

RUBRIK PENILAIAN

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menjelaskan sejarah gotong royong dengan bukti historis (TP 6.7.1.1)Murid belum dapat menyebutkan bukti historis gotong royong meskipun dengan bimbingan guru.Murid dapat menyebutkan satu bukti historis gotong royong dengan bimbingan guru.Murid dapat menyebutkan dua bukti historis gotong royong secara mandiri.Murid dapat menyebutkan lebih dari dua bukti historis gotong royong dan menjelaskan konteksnya secara rinci dan mandiri.
Menguraikan makna gotong royong untuk persatuan dan kesatuan sebagai wujud bela negara (TP 6.7.1.2)Murid belum dapat menjelaskan hubungan gotong royong dengan persatuan dan kesatuan bangsa.Murid dapat menyebutkan bahwa gotong royong penting untuk persatuan tetapi belum mampu menjelaskan kaitannya dengan bela negara.Murid dapat menguraikan makna gotong royong dalam menjaga persatuan dan kesatuan serta menyebutkan kaitannya dengan bela negara.Murid dapat menguraikan makna gotong royong dalam menjaga persatuan dan kesatuan, menjelaskan kaitannya dengan bela negara, serta memberikan contoh penerapan konkret di lingkungan sekitar.
Kolaborasi dalam diskusi kelompokMurid tidak berpartisipasi dalam diskusi kelompok.Murid berpartisipasi minimal dalam diskusi kelompok dengan dorongan dari guru atau teman.Murid aktif berdiskusi, mendengarkan pendapat teman, dan berkontribusi pada hasil kerja kelompok.Murid memimpin diskusi, membantu teman memahami materi, dan menyampaikan hasil kerja kelompok dengan percaya diri.

REFLEKSI

Refleksi Guru:

  • Apakah seluruh murid dapat menyebutkan minimal dua bukti historis gotong royong sesuai TP 6.7.1.1?
  • Apakah strategi diskusi kelompok efektif membantu murid menguraikan makna gotong royong bagi persatuan bangsa?
  • Apakah diferensiasi yang diberikan sudah memfasilitasi kebutuhan murid yang beragam?
  • Langkah apa yang perlu diperbaiki untuk pertemuan berikutnya?

Refleksi Murid:

  • Apa hal baru yang saya pelajari hari ini tentang sejarah gotong royong?
  • Mengapa gotong royong penting untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia?
  • Bagaimana saya bisa menerapkan semangat gotong royong di sekolah atau rumah sebagai wujud bela negara?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Siswa Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas VI, Bab 7: Menjaga Persatuan dan Kesatuan dengan Gotong Royong.
  2. Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila untuk SD/MI Kelas VI, halaman 226-232.
  3. Gambar atau foto kegiatan gotong royong di berbagai daerah Indonesia (membangun rumah adat, kerja bakti, panen bersama).
  4. Lembar kerja kelompok yang disiapkan guru berisi kolom bukti historis, makna gotong royong, dan contoh penerapan.
  5. Video pendek tentang tradisi gotong royong di Nusantara (opsional, jika tersedia fasilitas LCD/proyektor).

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.