Modul AjarPertemuan 1Bab 7Fase DSemester 2

Modul Ajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas 9: Makna Iman kepada Qada dan Qadar serta Hubungannya dengan Ikhtiar dan Doa

Modul Ajar ini disusun untuk satu pertemuan tatap muka mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kelas 9 dengan topik "Makna Iman kepada Qada dan Qadar serta Hubungannya dengan Ikhtiar dan Doa". Dokumen mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Kurikulum Merdeka, lengkap dengan tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen ringkas.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Kelas 9: Makna Iman kepada Qada dan Qadar serta Hubungannya dengan Ikhtiar dan Doa

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti - Kelas 9

Bab 7 - Pertemuan 1

MODUL AJAR

Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti — Kelas 9 (Fase D)

Topik: Makna Iman kepada Qada dan Qadar serta Hubungannya dengan Ikhtiar dan Doa

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti
Fase / KelasFase D / Kelas 9
TopikMakna Iman kepada Qada dan Qadar serta Hubungannya dengan Ikhtiar dan Doa
Alokasi Waktu2x40 menit
Jumlah Pertemuan1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Murid dapat menjelaskan makna iman kepada qada dan qadar beserta dalil Al-Qur'an dan hadis yang mendasarinya sebagai bagian dari rukun iman.
  2. Murid dapat menjelaskan hubungan antara qada dan qadar dengan ikhtiar dan doa dalam kehidupan sehari-hari, serta meyakini bahwa Allah Swt. memberikan qada dan qadar kepada seluruh makhluk-Nya.
  3. Murid dapat memahami ayat Al-Qur'an dan hadis tentang sabar dan ikhtiar dalam menghadapi qada dan qadar Allah Swt.

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Pernahkah kalian berusaha keras untuk mendapatkan sesuatu, tetapi hasilnya tidak sesuai harapan? Bagaimana perasaan kalian saat itu, dan apa yang kalian lakukan setelahnya?
  2. Menurut kalian, apakah semua yang terjadi dalam hidup manusia sudah ditentukan oleh Allah Swt. sejak awal? Lalu mengapa kita masih harus berusaha dan berdoa?
  3. Apa perbedaan antara orang yang pasrah tanpa usaha dengan orang yang bertawakal setelah berikhtiar? Mana yang menurut kalian lebih tepat dalam Islam?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam dan mengajak murid membaca basmalah bersama, dilanjutkan dengan doa belajar secara khusyuk (2 menit).
  • Guru mengecek kehadiran murid dan mengondisikan kelas agar siap belajar.
  • Asesmen awal diagnostik: Guru menampilkan dua pernyataan di papan tulis — (1) 'Karena semua sudah ditakdirkan, tidak perlu berusaha keras.' dan (2) 'Manusia wajib berikhtiar meskipun hasil akhir ada di tangan Allah.' — murid diminta mengacungkan tangan sesuai pilihan mereka dan menyampaikan alasan singkat (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini secara ringkas dan mengaitkannya dengan kehidupan nyata murid, misalnya persiapan ujian akhir yang sedang mereka hadapi (2 menit).
  • Guru memancing rasa ingin tahu dengan pertanyaan pemantik pertama dan kedua, memberi waktu murid berpikir sejenak sebelum memasuki kegiatan inti (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru membagikan kartu konsep mini (bisa berupa potongan kertas) berisi empat istilah kunci: Qada, Qadar, Takdir Mu'allaq, dan Takdir Mubram. Murid diminta membaca definisi masing-masing secara mandiri selama 3 menit, lalu menuliskan satu contoh nyata dari kehidupan sehari-hari untuk setiap istilah di buku catatan mereka.
  • Guru menampilkan atau menuliskan Q.S. Ar-Ra'd [13]: 11 di papan tulis beserta terjemahannya. Murid diajak membaca bersama dengan tartil, kemudian guru menjelaskan konteks turunnya ayat dan hubungannya dengan makna qada dan qadar secara singkat dan interaktif (tanya-jawab ringan).
  • Guru menyampaikan hadis Nabi tentang kewajiban ikhtiar disertai tawakal — misalnya hadis 'ikat untamu lalu bertawakallah' — dan menjelaskan makna serta relevansinya dengan konsep qada dan qadar.
  • Guru mengajukan pertanyaan pemahaman lisan: 'Setelah membaca ayat dan hadis ini, apa yang bisa kalian simpulkan tentang hubungan antara usaha manusia dan ketetapan Allah?' Beberapa murid diminta menjawab secara lisan.

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan, Berkesadaran):

  • Murid dibagi ke dalam kelompok kecil beranggotakan 4–5 orang. Setiap kelompok mendapatkan satu skenario kehidupan nyata, misalnya: (a) seorang siswa gagal masuk sekolah favorit meski sudah belajar keras, (b) seseorang tertimpa musibah kehilangan orang tua, (c) seorang atlet kalah di pertandingan penting. Kelompok mendiskusikan bagaimana seharusnya seorang Muslim bersikap dalam skenario tersebut berdasarkan konsep qada, qadar, ikhtiar, doa, sabar, dan tawakal.
  • Setiap kelompok menuangkan hasil diskusi dalam bentuk bagan sederhana atau infografis mini di selembar kertas A4 atau karton kecil. Bagan minimal memuat: (1) nama skenario, (2) qada/qadar yang terjadi, (3) bentuk ikhtiar yang sudah dilakukan, (4) sikap terbaik yang harus diambil (sabar/syukur/tawakal), dan (5) dalil pendukung (ayat atau hadis yang relevan).
  • Guru berkeliling memantau proses diskusi, memberikan umpan balik formatif langsung kepada tiap kelompok, dan memastikan setiap anggota kelompok aktif berkontribusi.
  • Setiap kelompok mempresentasikan bagan mereka secara singkat (2 menit per kelompok) di depan kelas. Kelompok lain diberi kesempatan memberikan tanggapan atau pertanyaan singkat.

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid secara individu mengisi lembar refleksi singkat (bisa di buku tulis) dengan menjawab tiga pertanyaan: (1) Satu hal baru yang saya pelajari hari ini tentang qada dan qadar adalah..., (2) Satu situasi dalam hidupku yang kini aku pahami lebih baik setelah belajar ini adalah..., (3) Satu sikap yang ingin aku terapkan mulai hari ini berkaitan dengan ikhtiar dan tawakal adalah...
  • Guru mengajak 2–3 murid sukarela untuk berbagi jawaban refleksi mereka secara lisan. Guru merespons dengan apresiasi dan penguatan nilai-nilai Islam yang terkandung.
  • Guru memfasilitasi penilaian sejawat (peer assessment) sederhana: tiap murid memberikan bintang 1–3 pada bagan kelompok lain yang dipajang, beserta satu catatan positif singkat.
  • Guru merangkum poin-poin utama pembelajaran hari ini: makna qada dan qadar, perbedaan takdir mu'allaq dan mubram, dalil Al-Qur'an dan hadis, serta sikap Muslim yang tepat — ikhtiar, doa, sabar, dan tawakal.

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran dengan teknik 'satu kalimat kunci': setiap murid melengkapi kalimat 'Iman kepada qada dan qadar mengajarkan saya untuk...' secara lisan atau tertulis (2 menit).
  • Guru memberikan asesmen akhir berupa 3 soal tertulis singkat (isian/uraian pendek) yang dikerjakan secara mandiri selama 5 menit.
  • Guru menyampaikan pesan penutup yang menginspirasi: mengingatkan murid bahwa keyakinan kepada qada dan qadar bukan berarti pasif, melainkan mendorong semangat berusaha dengan hati yang tenang.
  • Guru menginformasikan materi pertemuan berikutnya dan meminta murid membaca bahan bacaan terkait hikmah beriman kepada qada dan qadar.
  • Pembelajaran ditutup dengan doa bersama dan salam.

Diferensiasi:

  • Konten: Bagi murid yang belum lancar membaca tulisan Arab, guru menyediakan kartu terjemahan ayat dan hadis dalam bahasa Indonesia saja. Bagi murid yang sudah mahir, disediakan kartu tambahan berisi teks Arab asli beserta transliterasi dan tafsir singkat dari kitab tafsir populer.
  • Proses: Murid yang memerlukan dukungan lebih dapat bekerja dalam kelompok dengan teman sebaya yang lebih kuat (peer tutoring) dan mendapat panduan berupa lembar kerja terstruktur dengan pertanyaan scaffold. Murid yang cepat memahami dapat diberikan tantangan tambahan: mencari satu dalil lain (selain yang diberikan guru) dari Al-Qur'an atau hadis yang berkaitan dengan sabar dan ikhtiar.
  • Produk: Murid yang memiliki kemampuan visual-spasial tinggi dapat membuat infografis digital menggunakan aplikasi di ponsel (jika tersedia). Murid lain cukup menggunakan bagan tulis tangan. Semua produk dinilai berdasarkan ketepatan konten, bukan estetika presentasi.

ASESMEN

Awal:

  • Guru menampilkan dua pernyataan kontras tentang takdir: (1) 'Karena semua sudah ditakdirkan, tidak perlu berusaha keras.' (2) 'Manusia wajib berikhtiar meskipun hasil akhir ada di tangan Allah.' Murid memilih pernyataan yang mereka setujui dan menyampaikan alasan singkat. Guru mencatat pola jawaban kelas untuk menyesuaikan penekanan materi.
  • Guru mengajukan pertanyaan lisan: 'Siapa yang tahu apa itu qada dan qadar? Coba sebutkan dengan kata-katamu sendiri.' Respons murid digunakan untuk mengetahui prior knowledge dan miskonsepsi awal.

Proses:

  • Observasi aktif guru selama diskusi kelompok: guru mencatat apakah setiap anggota kelompok berkontribusi, mampu mengidentifikasi jenis takdir dalam skenario, dan menghubungkannya dengan dalil yang tepat.
  • Tanya-jawab lisan interaktif selama penjelasan ayat Q.S. Ar-Ra'd [13]: 11 dan hadis: guru mengajukan pertanyaan pemahaman spontan kepada murid secara acak.
  • Umpan balik langsung (real-time feedback) saat guru berkeliling memantau proses pembuatan bagan kelompok — guru memberikan koreksi konsep atau apresiasi di tempat.
  • Lembar refleksi individu tiga pertanyaan yang diisi murid di tahap Merefleksi, digunakan guru untuk memahami kedalaman internalisasi nilai.

Akhir:

  • Tiga soal uraian pendek yang dikerjakan secara individu selama 5 menit di penutup: (1) Jelaskan makna qada dan qadar beserta satu dalil Al-Qur'an atau hadis yang mendukungnya. (2) Apa perbedaan takdir mu'allaq dan takdir mubram? Berikan masing-masing satu contoh. (3) Jelaskan bagaimana hubungan antara qada, qadar, ikhtiar, dan doa dalam kehidupan seorang Muslim.
  • Penilaian produk bagan/infografis kelompok menggunakan rubrik 4 level yang mencakup aspek: ketepatan konsep, kelengkapan dalil, dan keterkaitan dengan konteks kehidupan nyata.

Formatif:

  • Asesmen diagnostik awal: respons murid terhadap dua pernyataan tentang takdir di awal pembelajaran (mengungkap miskonsepsi awal).
  • Pengamatan guru selama diskusi kelompok menggunakan catatan anekdotal: apakah murid mampu mengaitkan konsep qada, qadar, ikhtiar, dan doa dengan skenario kehidupan nyata.
  • Pertanyaan lisan tanya-jawab interaktif selama tahap Memahami untuk mengecek pemahaman murid terhadap makna ayat dan hadis.
  • Penilaian sejawat (peer assessment) bintang 1–3 terhadap bagan/infografis kelompok lain dengan catatan positif singkat.

Sumatif:

  • Tiga soal uraian pendek di akhir pembelajaran yang mencakup: (1) definisi qada dan qadar beserta satu dalil, (2) perbedaan takdir mu'allaq dan mubram dengan contoh, (3) penjelasan hubungan antara qada, qadar, ikhtiar, dan doa.
  • Produk bagan/infografis kelompok yang dinilai menggunakan rubrik berdasarkan ketepatan konsep, kelengkapan dalil, dan keterkaitan dengan kehidupan nyata.

RUBRIK PENILAIAN

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Ketepatan Menjelaskan Makna Qada dan QadarMurid belum dapat menjelaskan makna qada dan qadar, atau penjelasannya tidak tepat dan mengandung miskonsepsi.Murid dapat menyebutkan makna qada dan qadar secara sederhana namun belum lengkap dan belum menyertakan dalil.Murid dapat menjelaskan makna qada dan qadar dengan tepat disertai satu dalil Al-Qur'an atau hadis yang relevan.Murid dapat menjelaskan makna qada dan qadar secara lengkap, membedakan takdir mu'allaq dan mubram, serta menyertakan lebih dari satu dalil dengan penjelasan konteksnya.
Pemahaman Hubungan Qada-Qadar dengan Ikhtiar dan DoaMurid tidak dapat menjelaskan hubungan antara qada dan qadar dengan ikhtiar dan doa, atau memahami keduanya sebagai hal yang bertentangan.Murid menyadari adanya hubungan antara qada-qadar dengan ikhtiar dan doa, namun belum bisa menjelaskannya dengan logis.Murid dapat menjelaskan bahwa ikhtiar dan doa tidak bertentangan dengan qada-qadar, dan mampu memberikan satu contoh konkret dari kehidupan nyata.Murid dapat menjelaskan secara sistematis hubungan qada-qadar dengan ikhtiar, doa, sabar, dan tawakal, didukung dalil, dan memberikan lebih dari satu contoh kontekstual yang relevan.
Pemahaman Ayat dan Hadis tentang Sabar dan IkhtiarMurid tidak dapat menyebutkan atau menjelaskan ayat/hadis tentang sabar dan ikhtiar yang berkaitan dengan qada dan qadar.Murid dapat menyebutkan salah satu ayat atau hadis yang relevan namun belum bisa menjelaskan kandungannya.Murid dapat menyebutkan dan menjelaskan makna satu ayat Al-Qur'an (Q.S. Ar-Ra'd [13]: 11) atau hadis tentang sabar dan ikhtiar dengan benar.Murid dapat menyebutkan, menjelaskan, dan mengaitkan lebih dari satu ayat/hadis tentang sabar dan ikhtiar dengan sikap yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kualitas Produk Bagan/Infografis KelompokBagan tidak lengkap, konsep tidak tepat, dan tidak menyertakan dalil maupun sikap yang seharusnya diambil.Bagan memuat sebagian elemen (skenario dan sikap) namun dalil tidak lengkap dan kaitan antar konsep belum jelas.Bagan memuat semua elemen yang diminta (skenario, qada/qadar, ikhtiar, sikap, dalil) dengan kaitan antar konsep yang jelas dan mudah dipahami.Bagan lengkap, konsep tepat, dalil lebih dari satu, disajikan dengan kreatif dan komunikatif sehingga mudah dipahami oleh orang lain, serta mencerminkan internalisasi nilai secara mendalam.

REFLEKSI

Refleksi Guru:

  • Apakah pertanyaan pemantik yang saya ajukan berhasil memunculkan rasa ingin tahu murid dan membuka diskusi yang bermakna?
  • Apakah semua murid — termasuk yang cenderung pasif — mendapat kesempatan untuk terlibat aktif dalam diskusi dan presentasi?
  • Apakah strategi diferensiasi yang saya terapkan (kartu konsep, scaffolding, tantangan tambahan) sudah cukup membantu murid dengan kebutuhan belajar yang berbeda?
  • Seberapa dalam pemahaman murid tentang hubungan antara qada-qadar dengan ikhtiar dan doa, berdasarkan hasil asesmen akhir dan lembar refleksi mereka?
  • Apa yang perlu saya perbaiki dalam penyampaian dalil Al-Qur'an dan hadis agar lebih mudah dipahami dan diingat oleh murid?

Refleksi Murid:

  • Satu hal baru yang saya pelajari hari ini tentang qada dan qadar adalah...
  • Sebelumnya saya mengira bahwa percaya pada takdir berarti..., namun sekarang saya memahami bahwa...
  • Dalam kehidupan saya sendiri, satu situasi yang kini saya lihat dengan cara berbeda setelah belajar tentang qada dan qadar adalah...
  • Satu sikap nyata yang ingin saya terapkan mulai hari ini berkaitan dengan ikhtiar, doa, dan tawakal adalah...
  • Bagian materi hari ini yang masih membingungkan saya atau ingin saya pelajari lebih dalam adalah...

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Siswa: Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti untuk SMP/MTs Kelas IX, Penulis: Iis Suryatini dan Hasyim Asy'ari, Kemendikbudristek 2022 (ISBN: 978-602-244-679-8).
  2. Al-Qur'an dan terjemahannya, terutama Q.S. Ar-Ra'd [13]: 11 dan Q.S. Az-Zumar [39]: 53.
  3. Hadis tentang tawakal: 'Ikat untamu, kemudian bertawakallah kepada Allah' (H.R. At-Tirmidzi).
  4. Kartu konsep mini (qada, qadar, takdir mu'allaq, takdir mubram) yang disiapkan guru.
  5. Lembar kerja skenario kehidupan nyata untuk diskusi kelompok (disiapkan guru).
  6. Lembar refleksi individu tiga pertanyaan (disiapkan guru).
  7. Papan tulis/whiteboard dan spidol untuk menampilkan ayat dan poin-poin kunci.
  8. Kertas A4 atau karton kecil beserta alat tulis warna untuk membuat bagan/infografis kelompok.
  9. Ponsel/tablet (opsional, untuk murid yang membuat infografis digital).

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.