MODUL AJAR Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti — Kelas 2 (Fase A) Topik: Bab 3 — Orang Suci Agama Hindu INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti |
|---|
| Fase / Kelas | Fase A / Kelas 2 |
|---|
| Topik | Bab 3 — Orang Suci Agama Hindu |
|---|
| Alokasi Waktu | 29 JP (29 x 35 menit = 1015 menit) |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 10 |
|---|
| Tahun Ajaran | 2026/2027 |
|---|
| Semester | 2 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- TP 2.3.1 Menyebutkan contoh perilaku Subha Karma terhadap orang suci agama Hindu
- TP 2.3.2 Menyebutkan contoh perilaku Asubha Karma yang harus dihindari terhadap orang suci agama Hindu
- TP 2.3.3 Mengelompokkan perilaku Subha Karma dan Asubha Karma terhadap orang suci agama Hindu
- TP 2.3.4 Menunjukkan contoh perilaku Tri Kaya Parisudha terhadap orang suci agama Hindu
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | ✓ | | Kewargaan | | | Penalaran Kritis | ✓ | | Kreativitas | | | Kolaborasi | ✓ | | Kemandirian | ✓ | | Kesehatan | | | Komunikasi | ✓ |
PERTANYAAN PEMANTIK- Pernahkah kalian bertemu dengan orang suci seperti Ida Pedanda atau Pemangku di pura atau pasraman?
- Bagaimana sikap dan perkataan yang baik ketika kita bertemu dengan orang suci?
- Bagaimana sikap yang baik saat kita bertemu dengan Orang Suci (seperti Sulinggih atau Pemangku)?
- Perbuatan baik apa saja yang pernah kalian lakukan ketika berkunjung ke tempat Orang Suci?
- Apa arti perbuatan Asubha Karma yang sering kita dengar dalam ajaran Susila?
- Bagaimana sikap yang keliru atau tidak boleh kita lakukan saat bertemu atau mendengarkan nasihat Orang Suci (Sulinggih/Pinandita)?
- Perilaku buruk apa saja yang tidak boleh kita lakukan saat berada di dekat orang suci Hindu?
- Mengapa kita harus menghindari perilaku yang tidak sopan di hadapan Sulinggih atau Pemangku?
- Jika kita bertemu Sulinggih atau Pinandita, tindakan apa saja yang baik dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan?
- Bagaimana cara kita membedakan perilaku Subha Karma (perbuatan baik) dan Asubha Karma (perbuatan buruk) terhadap orang suci agama Hindu?
- Bagaimana cara kita membedakan perbuatan yang baik dan perbuatan yang buruk saat bertemu orang suci?
- Apa yang terjadi jika kita tidak sengaja melakukan perbuatan yang tidak sopan di dekat Sulinggih atau Pemangku?
- Pernahkah kalian bertemu atau melihat Sulinggih/Pinandita di pura atau pasraman?
- Bagaimana cara kita bersikap, berbicara, dan berpikir yang baik saat berada di dekat Orang Suci?
- Bagaimana caramu berbicara yang sopan saat bertemu dengan Orang Suci (Sulinggih/Pinandita)?
- Apa contoh perbuatan baik yang dapat kamu tunjukkan bersama teman saat berada di dekat Orang Suci?
- Bagaimana caramu menunjukkan pikiran yang bersih saat bertemu orang suci?
- Perilaku apa yang kamu tunjukkan melalui ucapan dan perbuatan ketika berada di dekat orang suci?
- Bagaimana sikap tangan dan ucapan salam kita saat bertemu dengan seorang sulinggih atau pinandita?
- Mengapa kita harus memilih perilaku yang baik (Subha Karma) dan menjauhi perilaku buruk (Asubha Karma) di hadapan orang suci?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1 — Menyebutkan Contoh Perilaku Subha Karma terhadap Orang Suci Agama Hindu secara Terbimbing — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.3.1 Menyebutkan contoh perilaku Subha Karma terhadap orang suci agama Hindu
Pendahuluan:- Guru membuka pelajaran dengan panganjali umat 'Om Swastyastu' dan mengajak murid berdoa bersama Gayatri Mantram dengan sikap hening dan khidmat (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik dengan menanyakan: 'Siapa yang tahu apa arti Subha Karma dan sebutkan 1 contoh perbuatan baik yang kita lakukan saat bertemu orang suci?' (acuan jawaban: Subha Karma = perbuatan baik; contoh perbuatan baik: menyapa dengan panganjali/mencakupkan tangan, berbicara sopan, memberi tempat duduk, atau berpunia) (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menyebutkan contoh perilaku Subha Karma (perbuatan baik) terhadap orang suci agama Hindu secara terbimbing (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru menayangkan gambar cerita bergambar Sudarma dan Ayu yang sedang berkunjung ke kediaman orang suci (Sulinggih/Pemangku) dan membimbing murid mencermati perbuatan baik apa saja yang tampak (10 menit).
- Guru membimbing murid melafalkan dan mengidentifikasi 4 contoh perilaku Subha Karma terhadap orang suci: (1) Menyapa dengan mengucapkan panganjali Om Swastyastu sambil mencakupkan tangan di dada, (2) Berbicara santun dan lemah lembut saat mendengarkan nasihat, (3) Memberikan tempat duduk yang bersih dan layak, (4) Menyerahkan punia dengan rasa tulus ikhlas (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru memandu permainan interaktif 'Tebak Kartu Subha Karma': Guru memperlihatkan 4 kartu bergambar situasi satu per satu, lalu membimbing murid menyebutkan contoh perilaku Subha Karma yang sesuai. Kartu 1: Gambar anak mencakupkan tangan di depan Pandita (acuan: menyapa dengan salam Om Swastyastu); Kartu 2: Gambar anak mendengarkan dharma wacana dengan tertib (acuan: mendengarkan nasihat orang suci dengan tenang/sopan); Kartu 3: Gambar anak mempersilakan orang suci duduk (acuan: memberikan tempat duduk yang hormat); Kartu 4: Gambar anak menghaturkan sesari/punia di atas baki (acuan: menghaturkan punia dengan tulus ikhlas) (10 menit).
- Secara bergantian dan dengan bimbingan guru, murid menyebutkan kembali contoh perilaku Subha Karma terhadap orang suci berdasarkan pertanyaan panduan guru (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Guru mengajak murid merefleksikan bersama: 'Perilaku Subha Karma apa yang paling mudah kalian lakukan jika besok bertemu Ida Pedanda atau Pemangku di pura?' lalu murid menyebutkan pilihannya secara terbimbing (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan kembali 4 contoh perilaku Subha Karma terhadap orang suci yang telah dipelajari: menyapa dengan panganjali, berbicara sopan/mendengarkan nasihat, menghormati tempat duduk, dan berpunia tulus ikhlas (5 menit).
- Guru memberikan apresiasi atas partisipasi murid, mengingatkan bahwa pada pertemuan berikutnya kita akan belajar menyebutkan contoh perilaku ini secara mandiri, lalu menutup pelajaran dengan Parama Santih: 'Om Santih, Santih, Santih Om' (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu gambar situasi dengan kata kunci tertulis yang lebih besar, sedangkan murid yang lebih cepat diberikan kartu tanpa teks.
- Proses: Bimbingan langsung (scaffolding) dengan panduan pertanyaan pancingan bagi murid yang masih ragu menyebutkan contoh perilaku Subha Karma.
- Produk: Murid dapat menyebutkan contoh perilaku Subha Karma secara lisan langsung atau dengan bantuan memilih kartu gambar terlebih dahulu lalu menyebutkannya.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik lisan di awal pembelajaran: 'Apa arti Subha Karma dan sebutkan 1 contoh perbuatan baik terhadap orang suci?' (acuan jawaban: Subha Karma = perbuatan baik; contoh perbuatan baik: menyapa dengan salam panganjali, bertutur kata sopan, atau berpunia).
Proses:- Pengamatan ketercapaian murid saat menyebutkan 4 contoh perilaku Subha Karma melalui permainan tebak kartu: (1) Menyapa dengan panganjali 'Om Swastyastu', (2) Berbicara sopan/mendengarkan nasihat, (3) Memberi tempat duduk yang layak, (4) Menghaturkan punia dengan tulus ikhlas.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan di akhir sesi terbimbing: Setiap murid menyebutkan minimal 2 contoh perilaku Subha Karma terhadap orang suci dari daftar acuan (acuan: panganjali/salam sopan, berkata santun/taat nasihat, memberi tempat duduk yang layak, atau menghaturkan punia tulus).
Formatif:- Tanya jawab lisan terpandu saat telaah gambar Sudarma dan Ayu
- Observasi unjuk lisan menyebutkan contoh perilaku Subha Karma pada permainan tebak kartu bergambar
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menyebutkan contoh perilaku Subha Karma terhadap orang suci agama Hindu | Belum mampu menyebutkan contoh perilaku Subha Karma terhadap orang suci meskipun telah diberikan bimbingan penuh dan stimulus gambar. | Mampu menyebutkan 1 contoh perilaku Subha Karma terhadap orang suci dengan bimbingan ketat guru (acuan: dari 4 contoh: menyapa dengan panganjali, berbicara santun/taat nasihat, memberi tempat duduk yang layak, atau berpunia tulus). | Mampu menyebutkan 2 sampai 3 contoh perilaku Subha Karma terhadap orang suci secara terbimbing sesuai acuan materi. | Mampu menyebutkan seluruh 4 contoh perilaku Subha Karma terhadap orang suci secara tepat dan lancar dengan bimbingan minimal (acuan: menyapa dengan panganjali, berbicara santun/taat nasihat, memberi tempat duduk yang layak, dan berpunia tulus). |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah media gambar situasi dan kartu tebak gambar efektif membantu murid Fase A mengenali dan menyebutkan perilaku Subha Karma terhadap orang suci?
- Bagian mana dari bimbingan guru yang perlu disederhanakan agar seluruh murid berani menyebutkan contoh perilaku secara lisan?
Murid:- Apakah kalian senang bermain tebak kartu perilaku baik hari ini?
- Contoh perilaku baik apa yang paling kalian ingat saat bertemu orang suci?
Pertemuan 2 — Menyebutkan Contoh Perilaku Subha Karma terhadap Orang Suci Agama Hindu secara Mandiri — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.3.1 Menyebutkan contoh perilaku Subha Karma terhadap orang suci agama Hindu
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan panganjali umat 'Om Swastyastu' dan mengajak murid berdoa bersama Gayatri Mantram serta mengondisikan kelas agar tertib (5 menit).
- Guru melakukan apersepsi dengan mengaitkan pembelajaran pertemuan sebelumnya tentang makna Subha Karma (perbuatan baik) dan menyampaikan tujuan pertemuan ini: menyebutkan contoh perilaku Subha Karma terhadap Orang Suci secara mandiri (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal singkat: guru menunjukkan 2 gambar situasi (Gambar A: anak mencakupkan tangan memberi salam anjali kepada Sulinggih; Gambar B: anak berteriak dan memotong pembicaraan Pemangku) lalu meminta 3 orang perwakilan murid secara cepat menyebutkan gambar mana yang merupakan perbuatan baik/Subha Karma (acuan: Gambar A adalah Subha Karma karena memberi salam anjali dengan santun) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Menggembirakan, Berkesadaran):- Guru membimbing murid menyanyikan lagu riang bertema 'Menghormati Orang Suci' (lirik sederhana: 'Bertemu Sulinggih cakupkan tangan, mendengar nasihat dengan tenang, berpunia tulus hati senang') agar suasana belajar ceria dan menyenangkan (10 menit).
- Guru menyajikan media visual berupa 4 kartu bergambar perilaku baik di papan tulis: (1) Menyapa dengan salam panganjali/mencakupkan tangan di dada; (2) Mendengarkan nasihat Orang Suci dengan tenang tanpa memotong bicara; (3) Menyerahkan punia secara ikhlas dan sopan; (4) Berperilaku tenang, tertib, dan santun saat berada di pasraman/tempat Orang Suci (15 menit).
- Murid bersama guru membaca dan menyebutkan kembali keempat contoh perilaku Subha Karma tersebut secara lisan dengan penuh kesadaran dan penghormatan terhadap Orang Suci (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru mengadakan permainan kuis gerak cepat 'Tepuk Benar Subha Karma': guru membacakan 4 pernyataan situasi secara bergantian: (1) 'Menyela saat Sulinggih sedang memimpin doa puja', (2) 'Duduk tenang mendengarkan petuah Pemangku', (3) 'Mencakupkan tangan saat menyapa Orang Suci', (4) 'Menolak berpunia dengan cemberut'. Murid bertepuk tangan dua kali hanya jika pernyataan tersebut merupakan Subha Karma (acuan tindakan benar: murid bertepuk tangan pada butir 2 dan 3, serta diam pada butir 1 dan 4) (15 menit).
- Setiap murid menerima lembar kerja mandiri 'Daftar Perilaku Baikku'. Secara individu tanpa bantuan teman, murid memilih dan menyebutkan (memberi tanda centang dan melafalkan secara lisan pada saat guru berkeliling) 4 contoh perilaku Subha Karma terhadap Orang Suci dari 6 pilihan yang tersedia pada lembar kerja: (1) Memberi salam anjali, (2) Berteriak di pasraman, (3) Mendengarkan nasihat dengan santun, (4) Menyerahkan punia dengan tulus, (5) Memotong ucapan pandita, (6) Duduk tertib dan tenang di hadapan Orang Suci (acuan 4 jawaban tepat Subha Karma: nomor 1, 3, 4, dan 6) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Guru memanggil murid secara bergantian untuk menyebutkan kembali secara mandiri minimal 3 contoh perilaku Subha Karma terhadap Orang Suci yang akan mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari (acuan jawaban: memilih dari memberi salam anjali, mendengarkan nasihat, berpunia ikhlas, atau duduk tenang/sopan) sembari guru mencatat ketercapaian pada lembar observasi mandiri (10 menit).
- Murid diajak duduk hening sejenak (hening berkesadaran), merenungkan rasa hormat di dalam hati kepada Orang Suci sebagai penuntun kebenaran, dan menyadari pentingnya selalu berbuat Subha Karma saat bertemu mereka (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan 4 contoh perilaku Subha Karma utama terhadap Orang Suci yang telah dipelajari hari ini (memberi salam anjali, mendengarkan nasihat, berpunia secara tulus, dan bersikap tertib/sopan di pasraman) (5 menit).
- Guru memberikan apresiasi atas kemandirian murid selama kegiatan, mengingatkan untuk terus mempraktikkan Subha Karma, lalu menutup pembelajaran dengan doa penutup dan Parama Santih 'Om Santih, Santih, Santih Om' (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Bagi murid yang masih memerlukan bantuan visual disediakan kartu bergambar konkret dengan simbol jempol hijau, sedangkan bagi murid yang sudah cepat memahami disediakan teks kalimat pendek tanpa bantuan gambar.
- Proses: Murid yang memerlukan bimbingan didampingi guru dengan pembacaan soal satu per satu saat memilih contoh Subha Karma, sedangkan murid yang mandiri langsung mengerjakan dan menyebutkan seluruh contoh Subha Karma secara lisan tanpa jeda.
- Produk: Bagi murid yang belum lancar menulis diperbolehkan menyebutkan contoh perilaku Subha Karma langsung secara lisan atau melingkari gambar, sedangkan murid mahir menyebutkan contoh perilaku Subha Karma secara mandiri lengkap dengan contoh situasi penerapannya.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tes diagnostik lisan berbasis 2 gambar situasi di awal pembelajaran: Murid diminta menyebutkan gambar yang menunjukkan perilaku Subha Karma (acuan: Gambar A anak mencakupkan tangan memberi salam anjali kepada Sulinggih adalah Subha Karma; Gambar B berteriak memotong pembicaraan bukan Subha Karma).
Proses:- Observasi keterlibatan dan ketepatan respons saat kuis gerak 'Tepuk Benar Subha Karma' (acuan: murid bertepuk tangan tepat pada butir 2 'Duduk tenang mendengarkan petuah' dan butir 3 'Mencakupkan tangan menyapa Orang Suci').
- Penilaian lembar kerja mandiri 'Daftar Perilaku Baikku': Murid menandai dan menyebutkan 4 perilaku Subha Karma dari 6 pilihan (acuan kunci: (1) Memberi salam anjali, (3) Mendengarkan nasihat dengan santun, (4) Menyerahkan punia dengan tulus, (6) Duduk tertib dan tenang di hadapan Orang Suci).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman individu di akhir sesi: Murid secara mandiri menyebutkan minimal 3 dari 4 contoh perilaku Subha Karma terhadap Orang Suci (acuan daftar jawaban benar: memberi salam anjali, mendengarkan nasihat, berpunia secara ikhlas, bersikap tertib dan sopan di hadapan Orang Suci).
Formatif:- Kuis lisan dan gerak 'Tepuk Benar Subha Karma' pada tahap aplikasi pemahaman
- Penilaian unjuk kerja mandiri menyebutkan contoh perilaku Subha Karma melalui lembar kerja mandiri dan verifikasi lisan
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menyebutkan contoh perilaku Subha Karma terhadap Orang Suci secara mandiri (acuan 4 target: memberi salam anjali, mendengarkan nasihat, berpunia tulus, bersikap tenang/sopan) | Belum mampu menyebutkan contoh perilaku Subha Karma terhadap Orang Suci atau hanya menyebutkan 1 contoh dengan bimbingan penuh guru. | Menyebutkan 2 contoh perilaku Subha Karma terhadap Orang Suci sesuai acuan dengan sedikit bimbingan guru. | Menyebutkan 3 contoh perilaku Subha Karma terhadap Orang Suci sesuai acuan secara mandiri. | Menyebutkan seluruhnya (4 contoh) perilaku Subha Karma terhadap Orang Suci sesuai acuan secara mandiri dan lancar tanpa bantuan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah seluruh murid sudah mampu menyebutkan contoh-contoh perilaku Subha Karma terhadap Orang Suci tanpa bergantung pada arahan guru?
- Bagian kegiatan mana yang paling efektif dalam menumbuhkan kemandirian murid memahami perilaku baik terhadap Orang Suci?
Murid:- Perilaku baik (Subha Karma) apa yang paling mudah kamu ingat dan ingin kamu lakukan saat bertemu pemangku atau sulinggih?
- Apakah kamu merasa senang dan percaya diri saat menyebutkan contoh perilaku baik tadi di depan guru?
Pertemuan 3 — Menyebutkan Contoh Perilaku Asubha Karma yang Harus Dihindari terhadap Orang Suci Agama Hindu secara Terbimbing serta Tes Lisan Giliran 1 (10 Murid) — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.3.2 Menyebutkan contoh perilaku Asubha Karma yang harus dihindari terhadap orang suci agama Hindu
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan panganjali umat 'Om Swastyastu' dan mengajak murid melantunkan doa Gayatri mantram secara khidmat bersama-sama (5 menit).
- Guru memeriksa kehadiran murid dan mengondisikan kesiapan ruang belajar yang tenang dan tertib (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat dengan bertanya: 'Anak-anak, jika Subha Karma artinya perbuatan baik, apa arti dari Asubha Karma?' (acuan jawaban: perbuatan buruk / tidak baik / yang harus dihindari) dan 'Sebutkan 1 contoh perbuatan yang tidak boleh dilakukan kepada Orang Suci!' (acuan jawaban: mengejek/berkata kasar, ribut/bermain-main saat beliau berwacana, tidak mematuhi nasihat beliau, berlaku tidak sopan) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru menjelaskan konsep dasar Asubha Karma sebagai perilaku tidak baik/buruk yang pantang dan harus dihindari terhadap Orang Suci seperti Sulinggih maupun Pemangku (10 menit).
- Guru memodelkan dan membimbing murid menyebutkan 4 contoh perilaku Asubha Karma terhadap Orang Suci: (1) Berkata kasar atau berbohong kepada Orang Suci; (2) Bermain-main atau ribut saat Orang Suci memberikan darma wacana; (3) Mengabaikan atau menolak nasihat baik Orang Suci; (4) Bersikap tidak sopan atau mencemooh keberadaan Orang Suci di pura/pasraman (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan):- Guru memandu permainan interaktif 'Tebak Perilaku Pantangan': Guru membacakan 4 situasi perilaku nyata, murid bersama-sama merespons dengan menyebutkan apakah perilaku itu Asubha Karma yang harus dihindari: Butir (1) 'Rani berteriak memotong pembicaraan Sulinggih' -> Murid menyebut: 'Asubha Karma, berkata tidak sopan'; Butir (2) 'Dewa diam mendengarkan puja mantra Pemangku' -> Murid menyebut: 'Bukan Asubha Karma / ini perbuatan baik'; Butir (3) 'Kadek berlari-larian dan bercanda saat Pinandita memimpin doa' -> Murid menyebut: 'Asubha Karma, ribut saat upacara'; Butir (4) 'Wayan pura-pura tidak mendengar saat dinasihati Sulinggih' -> Murid menyebut: 'Asubha Karma, mengabaikan nasihat Orang Suci' (15 menit).
- Pelaksanaan Tes Lisan Giliran 1 untuk 10 murid pertama (secara berurutan dipanggil ke meja guru satu per satu), di mana masing-masing murid menyebutkan minimal 2 contoh perilaku Asubha Karma yang harus dihindari terhadap Orang Suci (dari daftar acuan 4 perilaku yang telah dipelajari), sementara 10 murid lainnya mengerjakan lembar pengenalan visual dengan mewarnai tanda silang (X) pada gambar perilaku Asubha Karma (bermain saat wacana dan membantah) (30 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Guru bersama seluruh murid meninjau kembali apa saja contoh perilaku Asubha Karma terhadap Orang Suci dan mengapa perilaku tersebut harus dihindari oleh seorang murid Hindu (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap pencapaian 10 murid yang telah mengikuti tes lisan giliran 1 serta mengingatkan 10 murid berikutnya untuk tes lisan giliran 2 pada pertemuan berikutnya (5 menit).
- Guru menutup pertemuan dengan doa penutup Parama Santih 'Om Santih, Santih, Santih, Om' secara tertib dan santun (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan kartu bergambar situasi perilaku tidak sopan terhadap Orang Suci untuk murid yang membutuhkan bantuan visual konkret dalam mengingat contoh perbuatan.
- Proses: Memberikan bimbingan bertahap (scaffolding kalimat pemicu) bagi murid yang belum lancar menyebutkan contoh secara lisan; bagi murid yang cepat diberikan kesempatan menyebutkan seluruh 4 contoh perilaku Asubha Karma beserta dampaknya secara mandiri.
- Produk: Pada tes lisan, murid dapat menyebutkan contoh perilaku secara langsung dengan kata-kata sendiri sesuai makna inti acuan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab lisan diagnostik di awal pembelajaran: (1) 'Apa arti dari Asubha Karma?' (Acuan: perbuatan buruk / tidak baik / perbuatan yang dilarang/harus dihindari); (2) 'Sebutkan 1 contoh perbuatan yang tidak boleh dilakukan kepada Orang Suci saat berada di pura atau pasraman!' (Acuan salah satu dari: mengejek/berkata kasar, ribut/bermain-main saat beliau berwacana, tidak mematuhi nasihat beliau, bersikap tidak sopan).
Proses:- Cek respons murid saat aktivitas kelompok 'Tebak Perilaku Pantangan' terhadap 4 situasi konkret: (1) Memotong pembicaraan Sulinggih (Asubha Karma: berkata tidak sopan); (2) Mendengarkan puja mantra (Subha Karma/bukan Asubha); (3) Berlari-lari saat Pinandita memimpin upacara (Asubha Karma: ribut/bermain saat upacara); (4) Mengabaikan nasihat Sulinggih (Asubha Karma: menolak nasihat Orang Suci).
- Tes lisan terstruktur Giliran 1 untuk 10 murid dengan instruksi: 'Sebutkan contoh perilaku Asubha Karma yang harus dihindari terhadap Orang Suci agama Hindu!' (Daftar acuan 4 perilaku: (1) Berkata kasar/kotor atau berbohong kepada Orang Suci; (2) Ribut, bercanda, atau bermain-main saat Orang Suci memimpin upacara/memberikan darma wacana; (3) Mengabaikan, membantah, atau menolak nasihat Orang Suci; (4) Bersikap sombong/tidak sopan/mencemooh Orang Suci. Kriteria: Murid menyebutkan minimal 2 contoh secara tepat).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman penutup: Guru meminta 2 perwakilan murid menyebutkan kembali secara lisan contoh perilaku Asubha Karma terhadap Orang Suci yang baru saja dipelajari (acuan: bermain-main saat darma wacana, berkata bohong/kasar kepada Sulinggih/Pemangku).
Formatif:- Tes lisan terbimbing untuk 10 murid giliran 1 (menyebutkan contoh perilaku Asubha Karma yang harus dihindari terhadap Orang Suci)
- Observasi partisipasi dan keaktifan murid selama permainan tebak perilaku Asubha Karma
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menyebutkan contoh perilaku Asubha Karma yang harus dihindari terhadap Orang Suci agama Hindu | Belum mampu menyebutkan contoh perilaku Asubha Karma terhadap Orang Suci meskipun telah diberikan bimbingan langsung oleh guru (0 contoh dari 4 daftar acuan). | Mampu menyebutkan 1 contoh perilaku Asubha Karma terhadap Orang Suci dari 4 daftar acuan dengan bimbingan penuh/bantuan pemicu kata dari guru. | Mampu menyebutkan minimal 2 contoh perilaku Asubha Karma terhadap Orang Suci dari 4 daftar acuan secara terbimbing sederhana sesuai target indikator ketercapaian. | Mampu menyebutkan 3 sampai 4 contoh perilaku Asubha Karma terhadap Orang Suci dari 4 daftar acuan secara lengkap dan lancar. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 30 menit mencukupi untuk pelaksanaan tes lisan 10 murid giliran 1 secara tenang dan efektif?
- Bagaimana respons dan keterlibatan 10 murid lainnya saat mengerjakan lembar gambar ketika tes lisan berlangsung?
- Apakah bimbingan verbal yang diberikan mampu memantik pemahaman murid mengenai perilaku yang harus dihindari?
Murid:- Apa saja contoh perilaku buruk (Asubha Karma) terhadap Orang Suci yang paling kamu ingat agar tidak kamu tiru?
- Bagaimana perasaanmu setelah berhasil menyebutkan contoh perbuatan yang harus dihindari saat tes lisan tadi?
Pertemuan 4 — Menyebutkan Contoh Perilaku Asubha Karma yang Harus Dihindari terhadap Orang Suci Agama Hindu secara Mandiri serta Tes Lisan Giliran 2 (10 Murid) — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.3.2 Menyebutkan contoh perilaku Asubha Karma yang harus dihindari terhadap orang suci agama Hindu
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam panganjali 'Om Swastyastu', doa bersama Gayatri Mantram, dan memeriksa kehadiran murid (5 menit).
- Guru mengaitkan pembelajaran dengan materi pertemuan sebelumnya tentang perilaku Asubha Karma (buruk) yang harus dihindari terhadap orang suci Hindu (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menunjukkan 2 gambar situasi: Gambar A (anak berteriak saat Sulinggih memimpin puja) dan Gambar B (anak mendengarkan dharma wacana dengan tenang). Guru meminta murid secara lisan menyebutkan mana perilaku Asubha Karma yang harus dihindari (acuan jawaban benar: Gambar A adalah perilaku Asubha Karma karena berteriak saat orang suci berpuja) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Guru memberikan penguatan konsep secara singkat bahwa Asubha Karma terhadap orang suci adalah perbuatan tidak terpuji/buruk yang dilarang agama, seperti berkata kasar, berteriak, mengabaikan nasihat, menertawakan orang suci, atau bermain-main di tempat pemujaan (10 menit).
- Guru memandu permainan tebak cepat 'Hindari Perilaku Buruk' untuk menggembirakan kelas, di mana guru menyebutkan sebuah tindakan dan murid mengangkat kartu silang merah jika itu perilaku Asubha Karma terhadap orang suci yang harus dihindari: (1) Berkata bohong kepada Pemangku [Asubha Karma], (2) Memberi salam panganjali [Subha Karma], (3) Berlari-lari di depan Sulinggih yang sedang memimpin upacara [Asubha Karma], (4) Mengejek pakaian kepanditaan [Asubha Karma] (10 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Guru membagikan lembar kerja mandiri kepada seluruh murid berisi tugas melingkari atau mencentang gambar yang menunjukkan perilaku Asubha Karma terhadap orang suci yang harus dihindari dari 4 pilihan gambar: Gambar 1 (Anak mencoret-coret tempat duduk orang suci - Asubha Karma), Gambar 2 (Anak menyapa sopan - Subha Karma), Gambar 3 (Anak berbicara kotor saat Pemangku memberi nasihat - Asubha Karma), Gambar 4 (Anak menarik pakaian Sulinggih saat sembahyang - Asubha Karma) [acuan kunci jawaban: Gambar 1, Gambar 3, dan Gambar 4] (25 menit).
- Bersamaan saat murid mengerjakan lembar kerja mandiri, guru memanggil 10 murid Giliran 2 satu per satu ke meja guru untuk mengikuti Tes Lisan Giliran 2 (masing-masing 3-4 menit). Guru mengajukan pertanyaan: 'Sebutkan 3 contoh perilaku Asubha Karma yang harus kamu hindari terhadap orang suci agama Hindu!' (Acuan jawaban benar minimal 3 dari daftar berikut: [1] Berkata kasar/kotor kepada orang suci, [2] Berkata bohong kepada orang suci, [3] Berteriak/membuat gaduh saat orang suci memimpin doa, [4] Mengabaikan/menolak nasihat orang suci, [5] Berlari-lari/bermain di depan orang suci saat upacara, [6] Mengejek/menertawakan orang suci) (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Guru mengajak seluruh murid mengonfirmasi jawaban lembar kerja mandiri bersama-sama dan menegaskan kembali pentingnya kesadaran diri menjauhi Asubha Karma kepada Sulinggih maupun Pemangku dalam kehidupan sehari-hari (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik langsung atas hasil pengerjaan mandiri dan tes lisan 10 murid Giliran 2 yang telah selesai (3 menit).
- Guru bersama murid menyimpulkan intisari perilaku Asubha Karma terhadap orang suci yang wajib dihindari umat Hindu (2 menit).
- Guru menutup pertemuan dengan doa Paramasanti 'Om Santih, Santih, Santih, Om' (tidak ada rangkuman akhir bab/penutupan bab karena pembelajaran bab berlanjut ke Pertemuan 5) (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan lembar mandiri dengan gambar visual jelas untuk murid yang membutuhkan visualisasi konkret, serta kartu bertulis teks sederhana bagi murid yang sudah lancar membaca.
- Proses: Pada tes lisan mandiri, murid yang masih ragu diberi petunjuk situasi konkret (misal: 'Kalau orang suci sedang memimpin doa, apa yang tidak boleh kita lakukan?'), sedangkan murid cepat diminta menyebutkan 4-5 contoh secara mandiri.
- Produk: Murid menyelesaikan lembar kerja mandiri berupa pemilihan gambar perilaku Asubha Karma dan menjawab tes lisan menyebutkan contoh Asubha Karma sesuai acuan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Guru menunjukkan 2 gambar situasi: Gambar A (anak berteriak saat Sulinggih memimpin puja) dan Gambar B (anak mendengarkan dharma wacana dengan tenang). Murid diminta menyebutkan gambar yang memuat contoh perilaku Asubha Karma yang harus dihindari. Acuan jawaban benar: Gambar A (berteriak saat orang suci berpuja).
Proses:- Lembar Kerja Mandiri: Murid memilih perilaku Asubha Karma dari 4 gambar yang disajikan. Butir soal: Gambar 1 (mencoret tempat duduk orang suci), Gambar 2 (menyapa sopan), Gambar 3 (berkata kotor saat dinasihati Pemangku), Gambar 4 (menarik jubah Sulinggih saat sembahyang). Kunci jawaban benar: Gambar 1, Gambar 3, dan Gambar 4.
- Tes Lisan Giliran 2 (10 murid): Murid diminta menyebutkan secara mandiri minimal 3 contoh perilaku Asubha Karma terhadap orang suci Hindu. Acuan jawaban benar diterima: (1) Berkata kasar/kotor kepada orang suci, (2) Berkata bohong kepada orang suci, (3) Berteriak/membuat gaduh saat orang suci memimpin upacara, (4) Mengabaikan/tidak mendengarkan nasihat orang suci, (5) Berlari/bermain di depan orang suci saat upacara, (6) Mengejek atau menertawakan orang suci.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman penutup: Murid mengonfirmasi secara serentak 3 contoh perilaku Asubha Karma yang harus dihindari terhadap orang suci Hindu (acuan: tidak boleh berteriak saat pemujaan, tidak boleh berbohong kepada orang suci, dan tidak boleh berkata kasar kepada orang suci).
Formatif:- Asesmen diagnostik awal: mengidentifikasi perilaku Asubha Karma dari 2 gambar pemantik situasi
- Asesmen proses tertulis mandiri: lembar kerja memilih 3 dari 4 gambar perilaku Asubha Karma terhadap orang suci
- Asesmen proses lisan individual (Tes Lisan Giliran 2 untuk 10 murid): menyebutkan minimal 3 contoh perilaku Asubha Karma yang harus dihindari terhadap orang suci agama Hindu
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menyebutkan contoh perilaku Asubha Karma yang harus dihindari terhadap orang suci agama Hindu secara mandiri | Belum mampu menyebutkan contoh perilaku Asubha Karma terhadap orang suci agama Hindu walaupun diberikan bimbingan. | Mampu menyebutkan 1 contoh perilaku Asubha Karma yang harus dihindari terhadap orang suci agama Hindu secara mandiri sesuai acuan daftar perilaku. | Mampu menyebutkan 2-3 contoh perilaku Asubha Karma yang harus dihindari terhadap orang suci agama Hindu secara mandiri sesuai acuan daftar perilaku. | Mampu menyebutkan 4 atau lebih contoh perilaku Asubha Karma yang harus dihindari terhadap orang suci agama Hindu secara mandiri dan lancar sesuai acuan daftar perilaku. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu pelaksanaan tes lisan untuk 10 murid pada Giliran 2 berjalan efektif bersamaan dengan pengerjaan tugas mandiri?
- Bagaimana tingkat kemandirian murid kelas 2 dalam menyebutkan contoh perilaku Asubha Karma terhadap orang suci Hindu?
Murid:- Apakah kamu sudah tahu perbuatan apa saja yang tergolong Asubha Karma dan dilarang dilakukan di depan orang suci?
- Perilaku buruk apa yang paling kamu ingat untuk selalu dihindari saat bertemu Sulinggih atau Pemangku?
Pertemuan 5 — Mengelompokkan Perilaku Subha Karma dan Asubha Karma terhadap Orang Suci Agama Hindu secara Terbimbing — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.3.3 Mengelompokkan perilaku Subha Karma dan Asubha Karma terhadap orang suci agama Hindu
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam panganjali 'Om Swastyastu' dan memimpin doa Dainika Upasana bersama murid (5 menit).
- Guru mengecek kesiapan fisik dan kerapian murid, lalu mengaitkan materi pertemuan sebelumnya tentang perilaku baik dan buruk secara umum dengan apersepsi tentang orang suci (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik lisan dengan menanyakan 2 contoh perilaku terhadap orang suci: (1) 'Menyapa Sulinggih dengan panganjali' dan (2) 'Berteriak-teriak di samping pemangku yang sedang memuja'. Acuan jawaban diagnostik: butir 1 adalah perilaku baik (Subha Karma) dan butir 2 adalah perilaku buruk/harus dihindari (Asubha Karma) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru memperkenalkan dua papan kantong di depan kelas bertuliskan 'Subha Karma (Perbuatan Baik)' dan 'Asubha Karma (Perbuatan Buruk)' terhadap orang suci agama Hindu (5 menit).
- Guru membacakan dan memodelkan cara mengelompokkan 2 contoh kartu perilaku di depan kelas: Kartu A 'Menghaturkan punia secara tulus kepada Sulinggih' dimasukkan ke kantong Subha Karma; Kartu B 'Mengejek pakaian pemangku' dimasukkan ke kantong Asubha Karma (10 menit).
- Guru membimbing seluruh murid secara klasikal untuk menelaah makna kata Subha Karma (perilaku patut dicontoh) dan Asubha Karma (perilaku patut dihindari) saat berhadapan dengan orang suci (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan):- Guru membagikan Lembar Aktivitas Berpasangan yang memuat 6 kartu teks/gambar perilaku terhadap orang suci: (1) Menyapa dengan ramah sambil mencakupkan tangan; (2) Memotong pembicaraan Sulinggih saat memberi nasihat; (3) Mendengarkan dharma wacana orang suci dengan tenang; (4) Menertawakan mantra pemangku; (5) Membantu membawakan sarana upakara orang suci; (6) Berlari-larian mengganggu upacara puja (10 menit).
- Melalui permainan ceria 'Pilah Kartu Suci', guru mendampingi murid langkah demi langkah menempelkan/memasukkan 6 kartu tersebut ke dalam dua kolom: Kolom Subha Karma atau Kolom Asubha Karma. Acuan penempatan: Subha Karma = kartu (1), (3), (5); Asubha Karma = kartu (2), (4), (6) (20 menit).
- Guru berkeliling memberikan bimbingan langsung (scaffolding) kepada pasangan murid yang masih ragu memilah perilaku Subha Karma dan Asubha Karma (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Guru bersama murid memeriksa bersama hasil pengelompokan 6 kartu pada papan tulis untuk memastikan ketepatan penempatan setiap kartu perilaku (10 menit).
- Murid diajak menyadari pentingnya memilih Subha Karma dan menjauhi Asubha Karma saat berada di pasraman maupun di pura bersama orang suci (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan intisari pembelajaran pemilahan perilaku Subha Karma dan Asubha Karma terhadap orang suci (5 menit).
- Guru memberikan penguatan terhadap keaktifan belajar murid serta menutup pertemuan dengan doa parama santi 'Om Santih, Santih, Santih Om' (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan kartu perilaku yang dilengkapi ilustrasi gambar sederhana bagi murid yang masih tahap membaca awal.
- Proses: Memberikan bimbingan terarah dan pendampingan bertahap bagi murid yang memerlukan bantuan dalam membedakan Subha Karma dan Asubha Karma.
- Produk: Semua murid mengelompokkan 6 kartu perilaku yang sama ke dalam kolom Subha Karma dan Asubha Karma.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik lisan 2 butir perilaku terhadap orang suci: Butir (1) Menyapa Sulinggih dengan panganjali; Butir (2) Berteriak-teriak di samping pemangku yang sedang memuja. Kriteria acuan: Butir (1) tepat dikategorikan perbuatan baik/Subha Karma; Butir (2) tepat dikategorikan perbuatan buruk/Asubha Karma.
Proses:- Observasi kinerja terbimbing mengelompokkan 6 kartu perilaku terhadap orang suci: (1) Menyapa dengan ramah sambil mencakupkan tangan [Subha Karma]; (2) Memotong pembicaraan Sulinggih saat memberi nasihat [Asubha Karma]; (3) Mendengarkan dharma wacana orang suci dengan tenang [Subha Karma]; (4) Menertawakan mantra pemangku [Asubha Karma]; (5) Membantu membawakan sarana upakara orang suci [Subha Karma]; (6) Berlari-larian mengganggu upacara puja [Asubha Karma]. Penilaian menggunakan rubrik ketepatan pengelompokan.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan konfirmasi pada akhir tahap refleksi terhadap 2 kartu acak dari materi: Kartu (3) Mendengarkan dharma wacana dengan tenang (acuan: Subha Karma) dan Kartu (6) Berlari-larian mengganggu upacara puja (acuan: Asubha Karma).
Formatif:- Penilaian kinerja pemilahan kartu perilaku Subha Karma dan Asubha Karma secara terbimbing
- Catatan observasi keaktifan dan ketepatan pengelompokan selama proses pembelajaran
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Mengelompokkan perilaku Subha Karma dan Asubha Karma terhadap orang suci agama Hindu | Mengelompokkan dengan tepat 1–2 dari 6 kartu perilaku terhadap orang suci (Daftar kartu acuan: Subha Karma = 1, 3, 5; Asubha Karma = 2, 4, 6) meskipun dengan bimbingan penuh guru. | Mengelompokkan dengan tepat 3–4 dari 6 kartu perilaku terhadap orang suci (Daftar kartu acuan: Subha Karma = 1, 3, 5; Asubha Karma = 2, 4, 6) dengan bimbingan terarah dari guru. | Mengelompokkan dengan tepat 5 dari 6 kartu perilaku terhadap orang suci (Daftar kartu acuan: Subha Karma = 1, 3, 5; Asubha Karma = 2, 4, 6) secara terbimbing. | Mengelompokkan seluruh 6 kartu perilaku terhadap orang suci (Daftar kartu acuan: Subha Karma = 1, 3, 5; Asubha Karma = 2, 4, 6) secara tepat dan konsisten dengan bimbingan minimal. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah penggunaan kartu bergambar dan kantong perilaku efektif memfasilitasi murid kelas 2 dalam mengelompokkan Subha Karma dan Asubha Karma?
- Bagian langkah manakah dari scaffolding terbimbing yang paling membantu murid yang belum lancar membaca?
Murid:- Apakah kamu merasa senang bermain memilah kartu perbuatan baik dan buruk terhadap orang suci hari ini?
- Perilaku mana yang paling mudah kamu bedakan antara perbuatan baik (Subha Karma) dan perbuatan buruk (Asubha Karma)?
Pertemuan 6 — Mengelompokkan Perilaku Subha Karma dan Asubha Karma terhadap Orang Suci Agama Hindu secara Mandiri — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.3.3 Mengelompokkan perilaku Subha Karma dan Asubha Karma terhadap orang suci agama Hindu
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan panganjali 'Om Swastyastu' dan mengajak murid berdoa Dainika Upasana bersama secara khidmat (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat dengan menunjukkan 2 gambar perilaku terhadap orang suci di papan tulis: (1) Menyapa orang suci dengan tangan mencakup anjali, (2) Berteriak mengejek di depan orang suci; lalu meminta murid mengacungkan jempol ke atas jika tergolong Subha Karma dan jempol ke bawah jika tergolong Asubha Karma (acuan: gambar 1 = Subha Karma, gambar 2 = Asubha Karma) (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu mengelompokkan perilaku Subha Karma (perbuatan baik) dan Asubha Karma (perbuatan buruk/dihindari) terhadap orang suci agama Hindu secara mandiri (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru membimbing murid mengingat kembali konsep Subha Karma (perilaku patut ditiru) dan Asubha Karma (perilaku yang harus dihindari) saat berhadapan dengan orang suci seperti Sulinggih dan Pemangku melalui tayangan bagan dua kolom di papan tulis (10 menit).
- Guru membacakan 6 kartu perilaku terhadap orang suci satu per satu dengan artikulasi jelas: (1) 'Mendengarkan nasihat sulinggih dengan tenang', (2) 'Mengejek pakaian pemangku', (3) 'Menghaturkan punia dengan ikhlas', (4) 'Berlari-lari sambil berteriak di dekat orang suci yang memuja', (5) 'Menyapa pemangku dengan panganjali', (6) 'Berkata bohong kepada sulinggih', lalu mengajak murid mencermati kata kunci tiap kartu (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru membagikan lembar kerja mandiri 'Kotak Pemilahan Karma' yang berisi tabel dua kolom ('Subha Karma' dan 'Asubha Karma') serta set 6 kartu pernyataan perilaku: (1) 'Mendengarkan nasihat sulinggih dengan tenang', (2) 'Mengejek pakaian pemangku', (3) 'Menghaturkan punia dengan ikhlas', (4) 'Berlari-lari sambil berteriak di dekat orang suci yang memuja', (5) 'Menyapa pemangku dengan panganjali', (6) 'Berkata bohong kepada sulinggih' (10 menit).
- Murid secara mandiri membaca/mencermati dan menempelkan keenam kartu perilaku tersebut ke kolom yang benar pada lembar kerjanya tanpa bantuan teman atau guru (acuan kunci jawaban: Kolom Subha Karma = kartu 1, 3, 5; Kolom Asubha Karma = kartu 2, 4, 6) (25 menit).
- Sebagai aktivitas penguatan yang menggembirakan, guru mengadakan permainan cepat 'Tepuk Karma': guru menyebutkan satu nomor kartu dari lembar kerja, murid serentak bertepuk tangan 2 kali jika itu Subha Karma dan menyilangkan tangan di dada jika itu Asubha Karma secara ceria dan kompak (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Guru memandu murid memeriksa kembali lembar kerja yang telah diisi secara teliti dengan mencocokkan pada kunci verifikasi bersama di papan tulis (5 menit).
- Murid menghitung jumlah kartu yang berhasil dikelompokkan dengan tepat dan menyadari perilaku mana yang sudah dipahami perbedaannya antara perbuatan baik dan yang harus dihindari terhadap orang suci (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan konfirmasi dan umpan balik langsung terhadap hasil kerja mandiri pengelompokan perilaku murid (5 menit).
- Guru dan murid menyimpulkan kembali pentingnya memilah perilaku Subha Karma untuk dilakukan dan Asubha Karma untuk dijauhi saat berada di dekat orang suci (3 menit).
- Pembelajaran ditutup dengan doa Parama Santhi: 'Om Santih, Santih, Santih, Om' (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Kartu perilaku dilengkapi simbol visual warna (hijau untuk panduan awal Subha Karma dan merah untuk Asubha Karma) bagi murid yang masih tahap awal membaca, sedangkan teks polos diberikan kepada murid yang sudah lancar membaca.
- Proses: Bagi murid yang membutuhkan bimbingan, guru membacakan ulang isi kartu secara bergantian; bagi murid yang cepat selesai mandiri, diberikan tantangan tambahan mengelompokkan 2 kartu pengayaan: (7) 'Duduk bersila dengan sopan saat orang suci bercerita' [Subha Karma] dan (8) 'Menyela doa pemangku dengan tertawa keras' [Asubha Karma].
- Produk: Murid menempelkan potongan kartu teks pada kolom tabel yang sesuai, atau menuliskan nomor kartu pada kolom tabel bila motorik halus menempel memerlukan waktu lebih lama.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pemberian 2 stimulus perilaku terhadap orang suci di papan tulis: (1) Menyapa orang suci dengan tangan mencakup anjali, (2) Berteriak mengejek di depan orang suci. Kriteria acuan: Murid tepat mengidentifikasi stimulus 1 sebagai Subha Karma (jempol atas) dan stimulus 2 sebagai Asubha Karma (jempol bawah).
Proses:- Pemeriksaan ketepatan pengelompokan mandiri pada lembar kerja berisi 6 kartu perilaku terhadap orang suci. Daftar kartu target lengkap dan kunci penempatan: (1) 'Mendengarkan nasihat sulinggih dengan tenang' -> Subha Karma, (2) 'Mengejek pakaian pemangku' -> Asubha Karma, (3) 'Menghaturkan punia dengan ikhlas' -> Subha Karma, (4) 'Berlari-lari sambil berteriak di dekat orang suci yang memuja' -> Asubha Karma, (5) 'Menyapa pemangku dengan panganjali' -> Subha Karma, (6) 'Berkata bohong kepada sulinggih' -> Asubha Karma. Aturan penskoran: tepat menempatkan kartu pada kolom Subha Karma (butir 1, 3, 5) dan kolom Asubha Karma (butir 2, 4, 6).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman reflektif di akhir inti: verifikasi mandiri terhadap 6 kartu perilaku pada lembar kerja murid. Kriteria penerimaan: Murid mampu mengenali dan membetulkan letak kartu perilaku yang keliru sesuai acuan kunci (Subha Karma: 1, 3, 5; Asubha Karma: 2, 4, 6) secara jujur dan mandiri.
Formatif:- Asesmen diagnostik awal: respons gestur jempol murid terhadap 2 contoh perilaku di papan tulis.
- Asesmen formatif unjuk kerja mandiri: lembar kerja penempelan 6 kartu perilaku ke dalam kolom Subha Karma dan Asubha Karma.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Mengelompokkan perilaku Subha Karma dan Asubha Karma terhadap orang suci agama Hindu | Mengelompokkan dengan tepat 1–2 dari 6 kartu perilaku Subha Karma dan Asubha Karma terhadap orang suci agama Hindu secara mandiri (acuan: kartu 1, 3, 5 = Subha Karma; kartu 2, 4, 6 = Asubha Karma). | Mengelompokkan dengan tepat 3–4 dari 6 kartu perilaku Subha Karma dan Asubha Karma terhadap orang suci agama Hindu secara mandiri (acuan: kartu 1, 3, 5 = Subha Karma; kartu 2, 4, 6 = Asubha Karma). | Mengelompokkan dengan tepat 5 dari 6 kartu perilaku Subha Karma dan Asubha Karma terhadap orang suci agama Hindu secara mandiri (acuan: kartu 1, 3, 5 = Subha Karma; kartu 2, 4, 6 = Asubha Karma). | Mengelompokkan dengan tepat seluruh 6 kartu perilaku Subha Karma dan Asubha Karma terhadap orang suci agama Hindu secara mandiri tanpa kesalahan (acuan: kartu 1, 3, 5 = Subha Karma; kartu 2, 4, 6 = Asubha Karma). |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah instruksi pengelompokan mandiri sudah dipahami dengan jelas oleh seluruh murid kelas 2 tanpa memerlukan bimbingan berlebih?
- Bagian mana dari kartu perilaku Subha Karma atau Asubha Karma yang paling sering tertukar penempatannya oleh murid?
- Apakah murid dapat menyelesaikan tugas mandiri tepat waktu dalam alokasi yang disediakan?
Murid:- Perilaku baik (Subha Karma) apa yang paling ingin kamu lakukan saat bertemu Sulinggih atau Pemangku?
- Apakah kamu merasa mudah atau sulit membedakan perbuatan baik dan perbuatan yang harus dihindari pada tugas hari ini?
Pertemuan 7 — Menunjukkan Contoh Perilaku Tri Kaya Parisudha terhadap Orang Suci Agama Hindu secara Terbimbing — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.3.4 Menunjukkan contoh perilaku Tri Kaya Parisudha terhadap orang suci agama Hindu
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan panganjali umat 'Om Swastyastu' dan mengajak murid berdoa bersama Dainika Upasana sebelum belajar (5 menit).
- Guru mengecek kehadiran dan kesiapan belajar murid di kelas (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menunjukkan contoh perilaku Tri Kaya Parisudha (Manacika, Wacika, Kayika yang baik dan suci) terhadap orang suci agama Hindu secara terbimbing (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menunjukkan 2 gambar perilaku: Gambar A (anak mencakupkan tangan memberi salam panganjali ke Pandita) dan Gambar B (anak berteriak membelakangi Pandita). Guru menanyakan gambar mana yang menunjukkan perilaku suci jasmani/badan (Kayika Parisudha) terhadap orang suci (acuan: Gambar A) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru menayangkan media visual tentang tiga bagian Tri Kaya Parisudha terhadap orang suci: Manacika (berpikir suci/tenang), Wacika (berkata sopan/halus), dan Kayika (berperilaku sopan seperti mencakupkan tangan) (10 menit).
- Guru membimbing murid mengidentifikasi 3 kartu contoh perilaku: Kartu 1 'Berpikir tulus menghormati pandita' (Manacika), Kartu 2 'Menyapa pandita dengan bahasa santun' (Wacika), dan Kartu 3 'Duduk bersila dengan tenang di hadapan pandita' (Kayika) (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru membagikan Lembar Kerja Memilih Gambar Perilaku yang memuat 3 nomor situasi terhadap orang suci. Guru membimbing murid menunjukkan pilihan yang benar: (1) Perilaku berpikir/Manacika Parisudha: Pilihan A 'Ikhlas mendengarkan wejangan' vs Pilihan B 'Mencurigai pandita'; (2) Perilaku berkata/Wacika Parisudha: Pilihan A 'Mengucapkan salam Om Swastyastu dengan lembut' vs Pilihan B 'Mengejek nada suara pandita'; (3) Perilaku berbuat/Kayika Parisudha: Pilihan A 'Menghaturkan canang sari dengan santun' vs Pilihan B 'Berlari melompati tempat duduk pandita' (acuan jawaban: 1-A, 2-A, 3-A) (10 menit).
- Guru mengadakan aktivitas menggembirakan 'Tebak Kartu Parisudha': guru mengangkat 3 kartu situasi lalu meminta seluruh murid bersama-sama menunjukkan simbol tangan (jari 1 di kepala untuk Manacika, jari 2 di dekat bibir untuk Wacika, tangan Anjali di dada untuk Kayika). Tiga situasi: Situasi 1 'Mendoakan keselamatan Sulinggih dalam hati' (simbol jari di kepala/Manacika), Situasi 2 'Mengucapkan terima kasih setelah diberi tirtha' (simbol jari di bibir/Wacika), Situasi 3 'Merapikan tempat duduk untuk Pandita' (simbol anjali/Kayika) (15 menit).
- Secara terbimbing, murid maju bergiliran atau menunjuk kartu pada papan bagan Tri Kaya Parisudha (kolom Pikiran, Perkataan, Perbuatan) berdasarkan 3 contoh tindakan nyata terhadap Orang Suci: Kartu A 'Tidak berpikiran iri pada wejangan pandita' (Pikiran/Manacika), Kartu B 'Berbicara dengan nada rendah dan ramah' (Perkataan/Wacika), Kartu C 'Mundhur perlahan saat berpamitan' (Perbuatan/Kayika) (acuan: A-Pikiran, B-Perkataan, C-Perbuatan) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Guru membimbing murid mengulas kembali apakah contoh-contoh tindakan tadi mencerminkan Manacika, Wacika, atau Kayika Parisudha saat berada di dekat Orang Suci (10 menit).
- Murid mengungkapkan perasaan mereka setelah berhasil mengenali dan menunjukkan contoh perilaku Tri Kaya Parisudha secara terbimbing (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan intisari pelajaran bahwa Tri Kaya Parisudha terhadap orang suci meliputi pikiran yang suci (Manacika), perkataan yang santun (Wacika), dan perbuatan yang sopan (Kayika) (5 menit).
- Guru memberikan tindak lanjut untuk mengingat ketiga contoh perilaku suci tersebut dan mengakhiri sesi dengan doa Parama Santih 'Om Santih, Santih, Santih, Om' (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan kartu contoh perilaku yang dilengkapi gambar visual simbolik (simbol kepala untuk pikiran, mulut untuk perkataan, tangan anjali untuk perbuatan) bagi murid yang membutuhkan scaffolding membaca.
- Proses: Bagi murid yang masih ragu, guru mendampingi secara langsung (scaffolding penuh) saat membedakan contoh Wacika dan Kayika. Bagi murid yang cepat memahami, diberikan lembar tambahan untuk menunjukkan 1 contoh tindakan Manacika lain dari pilihan yang tersedia.
- Produk: Murid menunjukkan contoh perilaku dapat berupa menunjuk kartu gambar atau memberi tanda centang pada opsi jawaban yang tepat.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik visual terbimbing (4 menit): Menunjukkan 2 gambar perilaku saat di depan pandita (Gambar A: anak mencakupkan tangan memberi panganjali; Gambar B: anak berteriak membelakangi pandita). Pertanyaan: 'Manakah gambar yang menunjukkan perilaku perbuatan baik (Kayika Parisudha) terhadap orang suci?' (Acuan jawaban: Gambar A).
Proses:- Formatif terbimbing pada kegiatan inti (lembar kerja 3 butir): Memeriksa ketepatan murid dalam menunjukkan 3 contoh perilaku Tri Kaya Parisudha terhadap orang suci. Butir 1: Pilihan A 'Ikhlas mendengarkan wejangan' vs Pilihan B 'Mencurigai pandita' (Acuan: A/Manacika). Butir 2: Pilihan A 'Mengucapkan salam Om Swastyastu dengan lembut' vs Pilihan B 'Mengejek nada suara pandita' (Acuan: A/Wacika). Butir 3: Pilihan A 'Menghaturkan canang sari dengan santun' vs Pilihan B 'Berlari melompati tempat duduk pandita' (Acuan: A/Kayika).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan singkat (3 butir cepat di akhir inti/refleksi): Guru membacakan situasi dan murid menunjukkan kartu bagian Tri Kaya Parisudha yang sesuai. Situasi 1: 'Tidak berpikiran buruk kepada Pandita' (Acuan: Manacika). Situasi 2: 'Menyapa Pinandita dengan sopan' (Acuan: Wacika). Situasi 3: 'Mencakupkan tangan memberi hormat' (Acuan: Kayika).
Formatif:- Pengamatan unjuk kerja terbimbing dalam menunjukkan contoh perilaku Tri Kaya Parisudha (Manacika, Wacika, Kayika) terhadap orang suci pada lembar kerja dan papan bagan.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menunjukkan contoh perilaku Tri Kaya Parisudha terhadap orang suci | Belum mampu menunjukkan contoh perilaku Tri Kaya Parisudha terhadap orang suci meskipun telah diberikan bimbingan penuh (0 dari 3 butir benar). | Mampu menunjukkan 1 dari 3 contoh perilaku Tri Kaya Parisudha terhadap orang suci secara tepat dengan bimbingan intensif guru (acuan: Butir 1-A Manacika, Butir 2-A Wacika, Butir 3-A Kayika). | Mampu menunjukkan 2 sampai 3 contoh perilaku Tri Kaya Parisudha terhadap orang suci secara tepat dengan bimbingan arahan guru (acuan: Butir 1-A Manacika, Butir 2-A Wacika, Butir 3-A Kayika). | Mampu menunjukkan seluruh (3 dari 3) contoh perilaku Tri Kaya Parisudha (Manacika, Wacika, Kayika) terhadap orang suci secara tepat, konsisten, dan mandiri tanpa keraguan (acuan: Butir 1-A Manacika, Butir 2-A Wacika, Butir 3-A Kayika). |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah penggunaan simbol visual (kepala, bibir, tangan) mempermudah murid Fase A memahami pembagian Tri Kaya Parisudha terhadap orang suci?
- Bagian bimbingan mana yang paling membutuhkan arahan tambahan bagi murid yang lambat memahami?
Murid:- Apakah kamu senang bermain tebak simbol perilaku Tri Kaya Parisudha tadi?
- Contoh perilaku baik mana yang paling mudah kamu tunjukkan saat bertemu orang suci?
Pertemuan 8 — Menunjukkan Contoh Perilaku Tri Kaya Parisudha terhadap Orang Suci Agama Hindu secara Berpasangan — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.3.4 Menunjukkan contoh perilaku Tri Kaya Parisudha terhadap orang suci agama Hindu
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam Panganjali 'Om Swastyastu' dan mengajak murid berdoa bersama Dainika Upasana sebelum belajar (5 menit).
- Guru mengecek kehadiran dan kesiapan belajar murid, serta mengondisikan tempat duduk berpasangan teman sebangku (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik lisan dengan mengajukan 3 pertanyaan pemantik bagian Tri Kaya Parisudha terhadap orang suci: (1) 'Apakah berpikir hormat termasuk Manacika?'; (2) 'Apakah menyapa sopan termasuk Wacika?'; (3) 'Apakah menyakupkan tangan Anjali termasuk Kayika?' Acuan jawaban benar: ketiganya bernilai 'Ya/Benar' (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Berkesadaran):- Guru menayangkan 3 gambar papan contoh perilaku Tri Kaya Parisudha terhadap orang suci: Gambar A menunjukkan anak berpikiran tenang dan hormat mendengarkan wejangan (Manacika Parisudha), Gambar B menunjukkan anak mengucapkan 'Om Swastyastu' dengan lembut (Wacika Parisudha), dan Gambar C menunjukkan sikap Anjali Pranama menghormati Sulinggih (Kayika Parisudha) (15 menit).
- Murid menyimak penegasan guru bahwa Tri Kaya Parisudha terdiri atas Manacika (berpikir yang baik), Wacika (berkata yang baik), dan Kayika (berbuat yang baik) yang ditunjukkan kepada Orang Suci agama Hindu (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru membagikan 1 set LKPD Berpasangan berisi 6 kartu perilaku bergambar dan bertuliskan teks konkret kepada setiap pasangan murid. Rincian 6 kartu: Kartu 1: 'Berpikiran tenang mendengarkan petuah Sulinggih', Kartu 2: 'Menyapa Pinandita dengan kata santun', Kartu 3: 'Membungkukkan badan dan menyakupkan tangan saat lewat di depan Sulinggih', Kartu 4: 'Niat tulus mendoakan kesehatan Sulinggih', Kartu 5: 'Berbicara jujur dan tidak memotong ucapan Pemangku', Kartu 6: 'Membantu membawakan sarana upakara milik Orang Suci' (15 menit).
- Dalam aktivitas tantangan 'Cocok Pasang Kartu Tri Kaya', murid berpasangan mendiskusikan dan menempelkan keenam kartu ke dalam tabel 3 kolom (Kolom Manacika, Kolom Wacika, Kolom Kayika). Acuan penempatan tepat: Manacika Parisudha = Kartu 1 dan Kartu 4; Wacika Parisudha = Kartu 2 dan Kartu 5; Kayika Parisudha = Kartu 3 dan Kartu 6 (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Setiap pasangan saling memeriksa hasil pengelompokan kartu dengan pasangan di sebelahnya berdasarkan kunci acuan yang dibacakan guru di papan tulis, lalu memberikan tanda centang pada pasangan kartu yang tepat (10 menit).
- Guru memfasilitasi murid menyimpulkan pentingnya menyelaraskan pikiran, perkataan, dan perbuatan baik saat berhadapan dengan Orang Suci agar mendapatkan vibrasi kesucian (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan apresiasi dan umpan balik atas kerja sama berpasangan seluruh murid dalam menunjukkan contoh perilaku Tri Kaya Parisudha (5 menit).
- Guru menyampaikan bahwa pada pertemuan berikutnya (Pertemuan 9) murid akan berlatih menunjukkan contoh perilaku Tri Kaya Parisudha secara mandiri (3 menit).
- Pembelajaran ditutup dengan doa Parama Santih: 'Om Santih, Santih, Santih Om' (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan kartu dengan paduan teks ringkas berhuruf besar dan ikon visual tindakan bagi pasangan yang membutuhkan dukungan literasi visual.
- Proses: Pasangan yang memerlukan bimbingan mendapatkan arahan langsung guru per kategori perilaku, sedangkan pasangan yang cepat diberi kesempatan mencocokkan kartu secara mandiri lebih awal.
- Produk: Pasangan murid menunjukkan hasil klasifikasi kartu perilaku Tri Kaya Parisudha pada lembar kerja klasifikasi 3 kolom.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab lisan diagnostik kesiapan konsep: Menjawab 'Benar' atau 'Salah' pada 3 pernyataan guru: (1) Berpikiran hormat kepada Sulinggih adalah Manacika (Acuan: Benar); (2) Berbicara santun kepada Pinandita adalah Wacika (Acuan: Benar); (3) Bersikap Anjali kepada Orang Suci adalah Kayika (Acuan: Benar).
Proses:- Penilaian lembar kerja klasifikasi kartu berpasangan: Ketepatan menunjukkan 6 kartu contoh perilaku Tri Kaya Parisudha terhadap Orang Suci. Acuan pasangan tepat: Manacika (Kartu 1: Berpikiran tenang mendengarkan petuah Sulinggih; Kartu 4: Niat tulus mendoakan kesehatan Sulinggih); Wacika (Kartu 2: Menyapa Pinandita dengan kata santun; Kartu 5: Berbicara jujur dan tidak memotong ucapan Pemangku); Kayika (Kartu 3: Membungkukkan badan dan menyakupkan tangan; Kartu 6: Membantu membawakan sarana upakara milik Orang Suci).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan penutup: Guru menyebutkan 1 tindakan 'Mengucapkan terima kasih atas doa Sulinggih', murid secara serempak berpasangan menunjukkan kategori unsurnya (Acuan: Wacika Parisudha).
Formatif:- Observasi unjuk kerja berpasangan: Mengamati ketepatan pasangan murid menunjukkan dan menempatkan 6 kartu contoh perilaku Tri Kaya Parisudha terhadap Orang Suci pada kolom yang sesuai.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menunjukkan contoh perilaku Tri Kaya Parisudha terhadap orang suci | Menunjukkan contoh perilaku Tri Kaya Parisudha terhadap orang suci secara tepat hanya 1–2 kartu dari 6 kartu acuan bersama pasangannya. | Menunjukkan contoh perilaku Tri Kaya Parisudha terhadap orang suci secara tepat sebanyak 3–4 kartu dari 6 kartu acuan bersama pasangannya. | Menunjukkan contoh perilaku Tri Kaya Parisudha terhadap orang suci secara tepat sebanyak 5 kartu dari 6 kartu acuan bersama pasangannya. | Menunjukkan seluruh 6 kartu contoh perilaku Tri Kaya Parisudha terhadap orang suci secara tepat sesuai acuan (2 Manacika, 2 Wacika, 2 Kayika) bersama pasangannya. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah instruksi permainan mencocokkan kartu berpasangan dapat dipahami dengan jelas oleh seluruh pasangan murid?
- Bagaimana keterlibatan aktif kedua murid dalam tiap pasangan saat menentukan penempatan contoh perilaku Tri Kaya Parisudha?
Murid:- Bagian perilaku Tri Kaya Parisudha mana yang paling mudah kamu dan teman pasanganmu temukan?
- Perilaku baik apa yang ingin kamu tunjukkan langsung ketika bertemu dengan Orang Suci?
Pertemuan 9 — Menunjukkan Contoh Perilaku Tri Kaya Parisudha terhadap Orang Suci Agama Hindu secara Mandiri — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.3.4 Menunjukkan contoh perilaku Tri Kaya Parisudha terhadap orang suci agama Hindu
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan panganjali umat 'Om Swastyastu' dan mengajak murid berdoa bersama (5 menit).
- Guru mengecek kehadiran murid dan mengondisikan suasana kelas yang tertib dan nyaman (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menampilkan 3 kartu perilaku untuk dijawab serentak: (1) Berkata sopan 'Om Swastyastu' kepada Sulinggih, (2) Berpikir iri saat orang suci memberi wejangan, (3) Menghaturkan punia dengan dua tangan; murid mengacungkan jempol ke atas jika merupakan perilaku Tri Kaya Parisudha yang baik dan jempol ke bawah jika bukan (acuan: nomor 1 dan 3 jempol ke atas/benar, nomor 2 jempol ke bawah/bukan) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru mengingatkan kembali tiga bagian Tri Kaya Parisudha (Manacika = pikiran bersih, Wacika = perkataan benar/santun, Kayika = perbuatan baik) melalui tayangan gambar perilaku terhadap orang suci secara berkesadaran (10 menit).
- Guru memodelkan cara menunjukkan dan mengidentifikasi contoh perilaku Tri Kaya Parisudha terhadap orang suci secara mandiri menggunakan 3 contoh situasi nyata di pasraman/griya: Manacika (berniat tulus belajar ajaran dharma), Wacika (menyapa dan berterima kasih dengan santun kepada pemangku/sulinggih), Kayika (duduk bersila rapi dan mencakupkan tangan saat orang suci memimpin doa) (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru membagikan Lembar Aktivitas Mandiri 'Misi Detektif Tri Kaya Parisudha' yang berisi 6 butir pernyataan perilaku terhadap orang suci kepada setiap murid (5 menit).
- Setiap murid secara mandiri mengerjakan lembar aktivitas dengan memberi tanda centang (v) pada kolom bagian Tri Kaya Parisudha yang tepat (Manacika / Wacika / Kayika) untuk 6 perilaku berikut: (1) Berpikiran hormat dan suci saat melihat Sulinggih melafalkan mantra [Manacika], (2) Mengucapkan salam panganjali 'Om Swastyastu' dengan nada santun kepada Pemangku [Wacika], (3) Mencakupkan kedua tangan di depan dada (anjali) menyapa orang suci [Kayika], (4) Tidak berpikiran buruk atau berburuk sangka terhadap nasihat pandita [Manacika], (5) Bertanya tentang ajaran agama dengan kata-kata yang sopan [Wacika], (6) Membantu membawakan sarana persembahyangan untuk Pandita [Kayika] (30 menit).
- Guru mengadakan permainan kuis menggembirakan 'Tunjuk Cepat Tri Kaya' di mana guru membacakan 3 skenario acak tambahan dan murid mengangkat kartu simbol bertuliskan 'M' (Pikiran), 'W' (Ucapan), atau 'K' (Perbuatan) secara mandiri: Skenario A 'Mengucapkan terima kasih setelah diperciki tirtha' [Acuan: W - Wacika], Skenario B 'Duduk tenang tidak berlari-larian di dekat Sulinggih' [Acuan: K - Kayika], Skenario C 'Merasa bahagia dan tulus menerima wejangan suci' [Acuan: M - Manacika] (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru mencocokkan hasil Lembar Aktivitas Mandiri berdasarkan kunci jawaban dan murid memeriksa hasil pekerjaannya sendiri dengan jujur (10 menit).
- Murid merefleksikan pengalamannya menunjukkan contoh perilaku Manacika, Wacika, dan Kayika terhadap orang suci secara mandiri tanpa bantuan teman (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap capaian belajar murid dalam menunjukkan contoh perilaku Tri Kaya Parisudha terhadap orang suci secara mandiri (3 menit).
- Guru menyampaikan apresiasi atas kemandirian dan ketertiban seluruh murid selama mengikuti kegiatan (1 menit).
- Guru menutup pertemuan dengan doa parama santih bersama: 'Om Santih, Santih, Santih, Om' (1 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan lembar aktivitas mandiri dengan teks bertuliskan besar dan disertai ikon visual (simbol kepala/pikiran untuk Manacika, simbol bibir/ucapan untuk Wacika, simbol tangan/perbuatan untuk Kayika) bagi murid yang memerlukan dukungan membaca.
- Proses: Bagi murid yang memerlukan bimbingan, guru membacakan butir pernyataan secara perlahan satu per satu; bagi murid berkemampuan cepat, murid langsung menyelesaikan 6 butir pernyataan lembar aktivitas secara mandiri penuh.
- Produk: Murid menunjukkan pilihan bagian Tri Kaya Parisudha dengan memberi tanda centang pada lembar kerja atau menunjukkan kartu kode simbol saat kuis.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik respon cepat terhadap 3 kartu perilaku terhadap orang suci dengan isyarat jempol (acuan: Kartu 1 'Berkata sopan Om Swastyastu kepada Sulinggih' = jempol ke atas; Kartu 2 'Berpikir iri saat orang suci memberi wejangan' = jempol ke bawah; Kartu 3 'Menghaturkan punia dengan dua tangan' = jempol ke atas).
Proses:- Pemeriksaan ketepatan pengisian Lembar Aktivitas Mandiri (6 butir): (1) Berpikiran hormat dan suci saat melihat Sulinggih melafalkan mantra [Kunci: Manacika], (2) Mengucapkan salam panganjali 'Om Swastyastu' dengan santun kepada Pemangku [Kunci: Wacika], (3) Mencakupkan tangan di depan dada menyapa orang suci [Kunci: Kayika], (4) Tidak berpikiran buruk atau berburuk sangka terhadap nasihat pandita [Kunci: Manacika], (5) Bertanya tentang ajaran agama dengan kata-kata sopan [Kunci: Wacika], (6) Membantu membawakan sarana persembahyangan untuk Pandita [Kunci: Kayika]. Penskoran: Tiap butir benar bernilai 1 (skor maksimal 6).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman mandiri di akhir kegiatan inti melalui pencocokan hasil lembar kerja dengan kunci acuan (kriteria ketercapaian: murid mampu menunjukkan secara tepat minimal 4 dari 6 contoh perilaku Tri Kaya Parisudha terhadap orang suci secara mandiri).
Formatif:- Penilaian kinerja pengerjaan Lembar Aktivitas Mandiri 'Misi Detektif Tri Kaya Parisudha' (memasangkan 6 perilaku ke dalam kategori Manacika, Wacika, atau Kayika terhadap orang suci).
- Observasi respon mandiri pada permainan kuis 'Tunjuk Cepat Tri Kaya' (3 butir skenario acak).
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menunjukkan contoh perilaku Tri Kaya Parisudha terhadap orang suci agama Hindu secara mandiri | Menunjukkan 1-2 contoh perilaku Tri Kaya Parisudha terhadap orang suci secara tepat pada lembar kerja dan masih membutuhkan bantuan guru. | Menunjukkan 3 contoh perilaku Tri Kaya Parisudha terhadap orang suci secara tepat pada lembar kerja dengan sedikit bantuan guru. | Menunjukkan 4-5 contoh perilaku Tri Kaya Parisudha terhadap orang suci secara tepat pada lembar kerja secara mandiri (acuan 6 butir: Manacika [butir 1, 4], Wacika [butir 2, 5], Kayika [butir 3, 6]). | Menunjukkan seluruh 6 contoh perilaku Tri Kaya Parisudha terhadap orang suci secara tepat pada lembar kerja secara mandiri tanpa bantuan (acuan: butir 1 Manacika, butir 2 Wacika, butir 3 Kayika, butir 4 Manacika, butir 5 Wacika, butir 6 Kayika). |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah desain lembar aktivitas mandiri sudah cukup jelas membantu murid membedakan contoh perilaku Manacika, Wacika, dan Kayika terhadap orang suci?
- Bagaimana tingkat kemandirian murid kelas 2 dalam menunjukkan contoh perilaku Tri Kaya Parisudha tanpa bergantung pada arahan teman sebangku?
Murid:- Bagian mana dari perilaku Tri Kaya Parisudha (pikiran, ucapan, atau perbuatan) terhadap orang suci yang paling mudah aku tunjukkan?
- Apakah aku sudah bisa menentukan contoh perilaku Manacika, Wacika, dan Kayika secara mandiri hari ini?
Pertemuan 10 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 2.3.1 Menyebutkan contoh perilaku Subha Karma terhadap orang suci agama Hindu
- TP 2.3.2 Menyebutkan contoh perilaku Asubha Karma yang harus dihindari terhadap orang suci agama Hindu
- TP 2.3.3 Mengelompokkan perilaku Subha Karma dan Asubha Karma terhadap orang suci agama Hindu
- TP 2.3.4 Menunjukkan contoh perilaku Tri Kaya Parisudha terhadap orang suci agama Hindu
Pendahuluan:- Guru membuka sesi sumatif dengan mengucapkan salam Panganjali 'Om Swastyastu', memimpin doa belajar Gayatri Mantram, serta mengecek kehadiran 28 murid kelas 2 (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pertemuan ke-10, yaitu pelaksanaan asesmen sumatif akhir Bab 3 untuk mengukur pemahaman dan penerapan perilaku terhadap orang suci agama Hindu melalui tiga rangkaian tugas mandiri (2 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Guru membagikan lembar kerja berkantong/kolom klasifikasi dan 6 kartu bergambar kepada 28 murid, lalu menjelaskan aturan pengerjaan tugas 1 secara tenang dan berkesadaran: 6 kartu terdiri atas 3 perilaku Subha Karma (Kartu A: Berpakaian rapi dan bersih saat sowan, Kartu B: Mendengarkan nasihat sulinggih dengan hening, Kartu C: Menghaturkan punia dengan tulus) dan 3 perilaku Asubha Karma (Kartu D: Berbicara kasar/berteriak di pasraman, Kartu E: Duduk lebih tinggi dari orang suci tanpa izin, Kartu F: Mencela atau menertawakan orang suci), murid wajib mengelompokkannya secara mandiri tanpa berdiskusi (5 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Seluruh 28 murid secara serentak dan mandiri menempelkan 6 kartu bergambar perilaku terhadap orang suci ke dalam kolom Subha Karma atau Asubha Karma pada lembar kerja klasifikasi masing-masing (acuan kunci: kolom Subha Karma = Kartu A, B, C; kolom Asubha Karma = Kartu D, E, F) selama 25 menit, lalu guru mengumpulkan seluruh artefak lembar kerja murid (5 menit) — total tugas klasifikasi mandiri 30 menit (30 menit).
- Guru membagikan lembar kegiatan mewarnai ornamen canang untuk dikerjakan secara hening oleh murid di meja masing-masing, sembari guru memanggil bergiliran 8 murid sisa rotasi tes lisan konfirmasi (TP 1 & TP 2): masing-masing murid secara individual menjawab 1 contoh Subha Karma (acuan: menyapa sopan/menghaturkan punia/mendengarkan wejangan) dan 1 contoh Asubha Karma yang harus dihindari terhadap orang suci (acuan: mengejek/berkata kasar/berlarian membuat gaduh) dengan durasi 2 menit per murid (8 murid x 2 menit = 16 menit + 4 menit pencatatan checklist = 20 menit) (20 menit).
- Guru mengondisikan seluruh 28 murid secara bergiliran tampil mandiri ke depan kelas untuk unjuk kerja peragaan perilaku Tri Kaya Parisudha (TP 4): menunjukkan sikap panganjali dengan kedua telapak tangan terkatup rapat di depan dada, membungkukkan badan sedikit dengan khidmat, mengucapkan salam 'Om Swastyastu' secara tenang, serta mempertahankan sikap berdiri hening penuh rasa hormat (28 murid x 1,5 menit = 42 menit + 3 menit perpindahan dan pengisian rubrik = 45 menit), sementara murid lainnya tetap duduk tertib merapikan kartu gambar dan menyelesaikan pewarnaan ornamen canang (35 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Guru mengajak seluruh murid melakukan hening sejenak (pranayama ringan) untuk memaknai pengalaman memilah perilaku terpuji dan membiasakan sikap hormat Tri Kaya Parisudha kepada orang suci dalam kehidupan sehari-hari (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan apresiasi atas ketertiban, kejujuran, dan kemandirian seluruh murid selama menuntaskan tiga rangkaian asesmen sumatif Bab 3 (3 menit).
- Guru bersama murid menutup pertemuan dengan doa penutup 'Parama Santhi': 'Om Santih, Santih, Santih, Om' (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Tidak ada penyesuaian materi karena asesmen sumatif mengukur indikator yang seragam sesuai kriteria ketuntasan.
- Proses: Akomodasi akses berupa pembacaan instruksi secara lisan bagi murid yang membaca permulaannya masih berkembang lambat tanpa memberi petunjuk jawaban pemilahan.
- Produk: Format bukti asesmen seragam bagi seluruh murid: artefak lembar tempel klasifikasi, rekaman checklist lisan, dan lembar observasi peragaan Tri Kaya Parisudha.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pengecekan kesiapan alat dan pemahaman alur asesmen melalui 1 pertanyaan konfirmasi: 'Apakah anak-anak sudah siap memilah kartu perilaku baik dan buruk serta memperagakan sikap hormat kepada orang suci?' (acuan kesiapan: murid memahami instruksi kerja mandiri tanpa membuka buku atau bertanya pada teman).
Proses:- Pemantauan ketertiban pengerjaan mandiri pada saat penempelan kartu pemilahan dan pengondisian kelas hening saat tes lisan serta unjuk kerja peragaan berlangsung.
Sumatif Bab:- Kombinasi asesmen kinerja pemilahan kartu bergambar secara serentak, tes lisan bergiliran terencana, dan unjuk kerja peragaan sikap hormat: Lembar hasil pemilahan kartu bergambar Subha Karma dan Asubha Karma terhadap orang suci, catatan checklist lisan murid dalam menyebutkan contoh perilaku Subha Karma dan Asubha Karma terhadap orang suci, serta lembar rubrik peragaan perilaku Tri Kaya Parisudha (salam panganjali dan sikap tenang penuh rasa hormat).
- kinerja pemilahan kartu bergambar secara serentak: 28 murid masing-masing mengerjakan lembar klasifikasi berkantong/kolom secara mandiri dan serentak selama 35 menit (5 menit penjelasan instruksi dan pembagian bahan, 25 menit murid menempel 6 kartu bergambar perilaku terhadap orang suci ke dalam kolom Subha Karma atau Asubha Karma, 5 menit pengumpulan hasil). Artefak lembar kerja individual diperiksa guru setelah kegiatan selesai menggunakan kunci pedoman penskoran, tanpa menyita waktu observasi lisan bergantian di kelas. (35 menit; individual; instrumen: lembar kerja pemilahan kartu bergambar dan pedoman penskoran klasifikasi)
- tes lisan bergiliran terencana (portofolio bertahap dan konfirmasi slot sumatif): Portofolio amatan tes lisan individual untuk 2 kompetensi (TP 1 dan TP 2) secara bergiliran. Rotasi bukti bertahap dilaksanakan pada sesi latihan TP yang sudah terjadwal: Sesi ke-3 menguji 10 murid (10 murid × 2 menit = 20 menit + 2 menit transisi/pencatatan = 22 menit), Sesi ke-4 menguji 10 murid (10 murid × 2 menit = 20 menit + 2 menit transisi/pencatatan = 22 menit), dengan murid lain berkegiatan mandiri mewarnai gambar orang suci. Sisa 8 murid dikonfirmasi pada slot sumatif terakhir: 8 murid × 2 menit per murid = 16 menit + 4 menit transisi dan pencatatan = 20 menit <= 20 menit. Total murid yang dinilai tepat 28 murid menggunakan lembar checklist analitik yang sama (menyebutkan 1 contoh Subha Karma dan 1 contoh Asubha Karma yang harus dihindari terhadap orang suci). (20 menit; individual; instrumen: lembar checklist tes lisan berisi indikator contoh Subha Karma dan Asubha Karma terhadap orang suci per murid)
- unjuk kerja peragaan satu kompetensi secara bergiliran: Unjuk kerja peragaan perorangan untuk 1 kompetensi (TP 4: menunjukkan perilaku Tri Kaya Parisudha berupa penyampaian salam panganjali 'Om Swastyastu' dengan sikap tangan anjali di dada dan sikap tenang penuh rasa hormat di depan orang suci). Penilaian langsung 28 murid secara bergiliran pada slot sumatif terakhir: 28 murid × 1,5 menit per murid = 42 menit + 8 menit perpindahan dan pencatatan rubrik = 50 menit <= 50 menit. Selama giliran peragaan berlangsung, murid lain mengerjakan kegiatan mandiri merapikan kartu gambar dan mewarnai ornamen canang yang tidak memerlukan observasi langsung guru. (50 menit; individual; instrumen: rubrik unjuk kerja peragaan Tri Kaya Parisudha (panganjali dan sikap hormat))
Sumatif:- Kombinasi asesmen kinerja pemilahan kartu bergambar secara serentak, tes lisan bergiliran terencana, dan unjuk kerja peragaan sikap hormat: Lembar hasil pemilahan kartu bergambar Subha Karma dan Asubha Karma terhadap orang suci, catatan checklist lisan murid dalam menyebutkan contoh perilaku Subha Karma dan Asubha Karma terhadap orang suci, serta lembar rubrik peragaan perilaku Tri Kaya Parisudha (salam panganjali dan sikap tenang penuh rasa hormat).
- kinerja pemilahan kartu bergambar secara serentak: 28 murid masing-masing mengerjakan lembar klasifikasi berkantong/kolom secara mandiri dan serentak selama 35 menit (5 menit penjelasan instruksi dan pembagian bahan, 25 menit murid menempel 6 kartu bergambar perilaku terhadap orang suci ke dalam kolom Subha Karma atau Asubha Karma, 5 menit pengumpulan hasil). Artefak lembar kerja individual diperiksa guru setelah kegiatan selesai menggunakan kunci pedoman penskoran, tanpa menyita waktu observasi lisan bergantian di kelas. (35 menit; individual; instrumen: lembar kerja pemilahan kartu bergambar dan pedoman penskoran klasifikasi)
- tes lisan bergiliran terencana (portofolio bertahap dan konfirmasi slot sumatif): Portofolio amatan tes lisan individual untuk 2 kompetensi (TP 1 dan TP 2) secara bergiliran. Rotasi bukti bertahap dilaksanakan pada sesi latihan TP yang sudah terjadwal: Sesi ke-3 menguji 10 murid (10 murid × 2 menit = 20 menit + 2 menit transisi/pencatatan = 22 menit), Sesi ke-4 menguji 10 murid (10 murid × 2 menit = 20 menit + 2 menit transisi/pencatatan = 22 menit), dengan murid lain berkegiatan mandiri mewarnai gambar orang suci. Sisa 8 murid dikonfirmasi pada slot sumatif terakhir: 8 murid × 2 menit per murid = 16 menit + 4 menit transisi dan pencatatan = 20 menit <= 20 menit. Total murid yang dinilai tepat 28 murid menggunakan lembar checklist analitik yang sama (menyebutkan 1 contoh Subha Karma dan 1 contoh Asubha Karma yang harus dihindari terhadap orang suci). (20 menit; individual; instrumen: lembar checklist tes lisan berisi indikator contoh Subha Karma dan Asubha Karma terhadap orang suci per murid)
- unjuk kerja peragaan satu kompetensi secara bergiliran: Unjuk kerja peragaan perorangan untuk 1 kompetensi (TP 4: menunjukkan perilaku Tri Kaya Parisudha berupa penyampaian salam panganjali 'Om Swastyastu' dengan sikap tangan anjali di dada dan sikap tenang penuh rasa hormat di depan orang suci). Penilaian langsung 28 murid secara bergiliran pada slot sumatif terakhir: 28 murid × 1,5 menit per murid = 42 menit + 8 menit perpindahan dan pencatatan rubrik = 50 menit <= 50 menit. Selama giliran peragaan berlangsung, murid lain mengerjakan kegiatan mandiri merapikan kartu gambar dan mewarnai ornamen canang yang tidak memerlukan observasi langsung guru. (50 menit; individual; instrumen: rubrik unjuk kerja peragaan Tri Kaya Parisudha (panganjali dan sikap hormat))
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Mengelompokkan perilaku Subha Karma dan Asubha Karma terhadap orang suci (TP 2.3.3) — Acuan Kartu: Subha Karma = (A) Berpakaian rapi/bersih, (B) Mendengarkan nasihat hening, (C) Menghaturkan punia; Asubha Karma = (D) Berbicara kasar/berteriak, (E) Duduk lebih tinggi tanpa izin, (F) Mencela/menertawakan orang suci | Tepat mengelompokkan 1-2 kartu ke dalam kolom yang benar sesuai acuan kunci jawaban. | Tepat mengelompokkan 3-4 kartu ke dalam kolom yang benar sesuai acuan kunci jawaban. | Tepat mengelompokkan 5 kartu ke dalam kolom yang benar sesuai acuan kunci jawaban. | Tepat mengelompokkan seluruh 6 kartu ke dalam kolom Subha Karma dan Asubha Karma secara mandiri dan tepat sesuai acuan kunci jawaban. | | Menyebutkan contoh perilaku Subha Karma terhadap orang suci (TP 2.3.1) — Acuan: menyapa santun/menghaturkan punia/mendengarkan petuah/membantu pasraman | Belum mampu menyebutkan contoh perilaku Subha Karma terhadap orang suci walau telah diberi bimbingan lisan. | Menyebutkan contoh perilaku baik tetapi belum spesifik ditujukan terhadap orang suci agama Hindu. | Menyebutkan 1 contoh perilaku Subha Karma terhadap orang suci secara tepat sesuai acuan dengan sedikit jeda/ragu. | Menyebutkan 1 contoh atau lebih perilaku Subha Karma terhadap orang suci secara tepat, lancar, dan mandiri sesuai acuan. | | Menyebutkan contoh perilaku Asubha Karma yang harus dihindari terhadap orang suci (TP 2.3.2) — Acuan: berkata kotor/menertawakan/membuat gaduh/duduk sembarangan di tempat pemujaan | Belum mampu menyebutkan contoh perilaku Asubha Karma yang harus dihindari terhadap orang suci walau telah dipancing pertanyaan. | Menyebutkan contoh perilaku buruk secara umum namun belum berkaitan dengan orang suci agama Hindu. | Menyebutkan 1 contoh perilaku Asubha Karma yang harus dihindari terhadap orang suci secara tepat sesuai acuan dengan sedikit arahan. | Menyebutkan 1 contoh atau lebih perilaku Asubha Karma yang harus dihindari terhadap orang suci secara tepat, lancar, dan mandiri sesuai acuan. | | Menunjukkan contoh perilaku Tri Kaya Parisudha terhadap orang suci (TP 2.3.4) — Acuan: posisi kedua telapak tangan anjali rapat di dada, ucapan salam 'Om Swastyastu' hening/santun, badan membungkuk hormat | Belum mampu menunjukkan posisi tangan anjali dan sikap tubuh yang tenang di depan orang suci walau telah dicontohkan kembali. | Menunjukkan posisi tangan panganjali di dada namun sikap tubuh masih belum tenang/membungkuk hormat. | Menunjukkan peragaan salam panganjali dengan posisi tangan di dada dan sikap tubuh tenang penuh hormat sesuai acuan dengan sedikit pengingat. | Menunjukkan seluruh rangkaian perilaku Tri Kaya Parisudha (posisi panganjali tegak di dada, badan membungkuk khidmat, ucapan santun) secara luwes, tenang, dan mandiri sesuai acuan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah pengelolaan waktu untuk pemilahan kartu (35 menit), tes lisan 8 murid konfirmasi (20 menit), dan unjuk kerja peragaan 28 murid (45 menit) berjalan efektif sesuai alokasi 105 menit?
- Apakah instrumen rubrik dan lembar checklist mampu merekam ketercapaian keempat Tujuan Pembelajaran bab secara objektif dan akurat bagi seluruh murid?
Murid:- Bagian mana dari kegiatan asesmen tadi yang paling mudah kamu kerjakan: menempel kartu, menjawab pertanyaan lisan, atau memperagakan salam panganjali?
- Apakah kamu merasa bangga dan siap selalu bersikap hormat serta berkata sopan saat bertemu sulinggih atau pinandita?
SUMBER BELAJAR- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas II (Kemendikbudristek, 2021)
- Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas II (Kemendikbudristek, 2021)
- Media kartu gambar situasi interaksi dengan orang suci (Sulinggih/Pemangku)
- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas II, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2021
- Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas II, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2021
- Kartu gambar situasi perilaku di hadapan Orang Suci (salam anjali, mendengarkan nasihat, berpunia, duduk tenang)
- Lembar Kerja Murid 'Daftar Perilaku Baikku'
- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas II (Kemendikbudristek 2021, Bab 3)
- Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas 2 (Kemendikbudristek 2021, Bab 3)
- Kartu gambar situasi perilaku (situasi sopan vs situasi ribut/membantah saat bersama Orang Suci)
- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas II (Kemendikbudristek 2021), Bab 3 Halaman 118-122
- Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas II (Kemendikbudristek 2021), Bab 3 Halaman 87-93
- Kartu tanda silang merah untuk permainan tebak perilaku
- Lembar kerja gambar situasi perilaku Asubha Karma
- Daftar catatan skor tes lisan 10 murid Giliran 2
- Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas II (Kemendikbudristek, 2021) Bab 3
- Kartu bergambar dan kartu teks perilaku Subha Karma dan Asubha Karma terhadap orang suci
- Papan kantong/kantong klasifikasi perilaku
- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas II, Kemendikbudristek, 2021.
- Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas II, Kemendikbudristek, 2021 (Bab 3: Orang Suci Agama Hindu).
- Lembar Kerja Mandiri 'Kotak Pemilahan Karma' dan set kartu pernyataan perilaku terhadap orang suci agama Hindu.
- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas II (Kemendikbudristek 2021).
- Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas II (Kemendikbudristek 2021).
- Kartu bergambar dan kartu kalimat perilaku Tri Kaya Parisudha terhadap Orang Suci.
- Papan bagan tiga kolom Tri Kaya Parisudha.
- Kartu bergambar dan bertuliskan contoh perilaku Tri Kaya Parisudha terhadap Orang Suci (Manacika, Wacika, Kayika).
- Papan klasifikasi tabel 3 kolom Tri Kaya Parisudha.
- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas II (Kemendikbudristek, 2021).
- Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas II (Kemendikbudristek, 2021).
- Lembar Aktivitas Mandiri 'Misi Detektif Tri Kaya Parisudha' dan kartu simbol huruf M, W, K.
- Buku Panduan Guru Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas II (Kemendikbudristek RI, 2021, Bab 3: Orang Suci Agama Hindu)
- Buku Siswa Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti untuk SD Kelas II (Kemendikbudristek RI, 2021, Bab 3: Orang Suci Agama Hindu)
- Lembar Kerja Klasifikasi Pemilahan Perilaku Mandiri (2 kolom: Subha Karma & Asubha Karma)
- Set 6 kartu bergambar perilaku terhadap orang suci beserta perekat/lem
- Lembar lembar mewarnai ornamen canang untuk aktivitas hening penyela
- Lembar checklist observasi tes lisan dan rubrik unjuk kerja Tri Kaya Parisudha
|