Modul AjarPertemuan 3Bab 2Fase DSemester 1

Modul Ajar Matematika Kelas 8: Menghitung Panjang Hipotenusa dengan Teorema Pythagoras

Modul Ajar ini disusun untuk satu pertemuan tatap muka mata pelajaran Matematika kelas 8 dengan topik "Menghitung Panjang Hipotenusa dengan Teorema Pythagoras". Dokumen mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Kurikulum Merdeka, lengkap dengan tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen ringkas.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Matematika Kelas 8: Menghitung Panjang Hipotenusa dengan Teorema Pythagoras

Matematika - Kelas 8

Bab 2 - Pertemuan 3

MODUL AJAR

Matematika — Kelas 8 (Fase D)

Topik: Menghitung Panjang Hipotenusa dengan Teorema Pythagoras

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranMatematika
Fase / KelasFase D / Kelas 8
TopikMenghitung Panjang Hipotenusa dengan Teorema Pythagoras
Alokasi Waktu2x40 menit
Jumlah Pertemuan1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Murid dapat menghitung panjang hipotenusa segitiga siku-siku menggunakan teorema Pythagoras jika panjang kedua sisi siku-sikunya diketahui.
  2. Murid dapat menentukan panjang salah satu sisi siku-siku segitiga jika panjang hipotenusa dan sisi siku-siku lainnya diketahui menggunakan teorema Pythagoras.

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Jika kamu ingin memasang tangga sandaran di tembok setinggi 4 meter dan jarak kaki tangga ke tembok 3 meter, berapa panjang tangga yang kamu butuhkan?
  2. Bagaimana cara kita mencari sisi yang belum diketahui pada sebuah segitiga siku-siku jika dua sisi lainnya sudah diketahui?
  3. Apakah hasil akar kuadrat selalu berupa bilangan bulat? Apa yang terjadi jika hasilnya bukan bilangan bulat?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1

Pendahuluan:

  • Guru mengucapkan salam dan mengajak murid berdoa bersama sebelum memulai pembelajaran.
  • Guru memeriksa kehadiran murid dan memastikan kesiapan belajar (buku, alat tulis, kondisi tempat duduk).
  • Asesmen awal diagnostik: Guru menampilkan dua soal kilat di papan tulis — (1) Berapa hasil dari 3² + 4²? (2) Berapa √25? — murid menjawab di buku, kemudian dibahas bersama untuk memastikan prasyarat operasi kuadrat dan akar kuadrat sudah dikuasai.
  • Guru mengaitkan materi dengan konteks nyata menggunakan pertanyaan pemantik tentang tangga sandaran. Murid diberi waktu 1–2 menit untuk berpikir dan berbagi jawaban awal secara lisan.
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini: menghitung hipotenusa dan menentukan sisi siku-siku menggunakan teorema Pythagoras.
  • Guru menyampaikan garis besar alur kegiatan: eksplorasi konsep → latihan terapan → refleksi bersama.

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru menampilkan gambar segitiga siku-siku berlabel (sisi a, sisi b, dan hipotenusa c) di papan tulis atau layar proyektor. Murid diminta mengidentifikasi secara lisan: mana sisi siku-siku dan mana hipotenusa.
  • Guru menuliskan rumus teorema Pythagoras: c² = a² + b², dan menjelaskan maknanya — kuadrat hipotenusa sama dengan jumlah kuadrat dua sisi siku-siku.
  • Guru mengajak murid menelusuri rumus secara berkesadaran: 'Mengapa kita perlu menguadratkan sisi terlebih dahulu sebelum menjumlahkan?' Murid diberi waktu berpikir 1 menit, lalu 2–3 murid berbagi jawaban.
  • Guru mendemonstrasikan contoh menghitung hipotenusa (TP 8.2.3.1): Diketahui a = 6 cm, b = 8 cm. Hitung c. Langkah: c² = 6² + 8² = 36 + 64 = 100, maka c = √100 = 10 cm. Guru memodelkan penulisan langkah secara runtut di papan tulis.
  • Guru mendemonstrasikan contoh menentukan sisi siku-siku (TP 8.2.3.2): Diketahui c = 13 cm, a = 5 cm. Hitung b. Langkah: b² = c² − a² = 169 − 25 = 144, maka b = √144 = 12 cm.
  • Murid mencatat kedua contoh tersebut di buku catatan mereka dengan penulisan langkah yang lengkap dan runtut sebagai referensi pribadi.
  • Guru mengecek pemahaman awal dengan teknik 'Acungkan Jari': 'Siapa yang sudah paham perbedaan cara menghitung hipotenusa dan mencari sisi siku-siku?' — sebagai sinyal guru untuk menyesuaikan kecepatan penjelasan.

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Guru membagi murid menjadi kelompok kecil (3–4 orang) secara heterogen berdasarkan hasil asesmen awal.
  • Setiap kelompok mendapat Lembar Kerja Murid (LKPD) berisi 4 soal berlevel: (1) Hitung hipotenusa segitiga dengan a = 9 cm, b = 12 cm. (2) Hitung hipotenusa segitiga dengan a = 5 cm, b = 5 cm (hasil irasional). (3) Diketahui c = 17 cm dan a = 8 cm, temukan b. (4) Sebuah tangga sepanjang 10 m disandarkan ke tembok, jarak kaki tangga ke tembok 6 m — berapa tinggi tembok yang dapat dicapai tangga?
  • Murid berdiskusi dan mengerjakan LKPD bersama kelompok. Guru berkeliling, mengamati proses kerja, dan memberikan pertanyaan pancingan seperti 'Sisi mana yang belum diketahui?' atau 'Langkah apa yang perlu dilakukan pertama?' — bukan langsung memberi jawaban.
  • Asesmen proses: Guru mengamati dan mencatat kemampuan murid dalam menuliskan langkah penyelesaian secara runtut, ketepatan penggunaan rumus, serta cara kelompok berdiskusi.
  • Setelah diskusi kelompok selesai (±12 menit), satu wakil kelompok mempresentasikan penyelesaian satu soal yang dipilih guru secara acak. Kelompok lain memberi tanggapan atau koreksi.
  • Guru memfasilitasi konfirmasi jawaban dan meluruskan miskonsepsi yang muncul, terutama terkait penentuan mana yang merupakan hipotenusa dan cara menuliskan langkah akar kuadrat.
  • Murid secara mandiri mengerjakan 2 soal latihan individual (tanpa diskusi) yang diberikan guru sebagai latihan cepat untuk mengecek pemahaman pribadi masing-masing.

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru mengajak murid berhenti sejenak dan bertanya: 'Dari semua langkah pengerjaan tadi, langkah mana yang paling menantang buatmu dan mengapa?'
  • Murid menuliskan jawaban refleksi di buku masing-masing dalam 2–3 kalimat, kemudian 2–3 murid berbagi secara sukarela.
  • Guru mengajukan pertanyaan pemandu refleksi konsep: 'Apa perbedaan mendasar antara mencari hipotenusa dan mencari sisi siku-siku menggunakan rumus Pythagoras?' Murid menjawab secara berpasangan (think-pair-share) lalu dirangkum bersama.
  • Guru memperlihatkan kembali konteks nyata (gambar tangga atau konstruksi bangunan) dan bertanya: 'Sekarang setelah kalian bisa menghitung, di situasi nyata apa lagi teorema ini berguna?' — untuk memperkuat makna pembelajaran.
  • Murid mengisi lembar 'Exit Ticket' berisi satu soal singkat dan satu kalimat refleksi: 'Hari ini saya belajar bahwa... dan saya masih bingung tentang...' Lembar ini dikumpulkan ke guru sebagai data asesmen formatif akhir sesi.

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran hari ini: cara menghitung hipotenusa (c² = a² + b²) dan cara menentukan sisi siku-siku (a² = c² − b² atau b² = c² − a²).
  • Guru memberikan apresiasi atas partisipasi dan kerja keras murid selama pembelajaran.
  • Guru menyampaikan informasi pembelajaran berikutnya, yaitu Tripel Pythagoras, dan mengaitkan bahwa kemampuan hari ini akan menjadi dasar untuk materi tersebut.
  • Guru menutup kelas dengan mengajak murid berdoa bersama.

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang belum menguasai prasyarat operasi kuadrat/akar diberikan kartu referensi berisi tabel nilai kuadrat 1–20 sebagai scaffolding selama mengerjakan LKPD.
  • Proses: Murid yang mengalami kesulitan diarahkan guru dengan pertanyaan scaffolding bertahap ('Sisi mana yang terpanjang? Itu hipotenusa atau sisi siku-siku?'). Murid yang lebih cepat mengerjakan soal ekstensi: mencari pasangan sisi yang membentuk segitiga siku-siku dari sekumpulan bilangan yang diberikan.
  • Produk: Murid dapat menyajikan hasil kerja dalam bentuk tulisan langkah terstruktur di LKPD, atau membuat diagram/sketsa segitiga berlabel sebagai bagian dari penyelesaian — sesuai gaya belajar masing-masing.

ASESMEN

Awal:

  • Guru menampilkan 2 soal prasyarat di papan tulis: (1) Berapa 3² + 4²? (2) Berapa √144?
  • Murid menjawab di buku selama 2 menit, kemudian jawaban dibahas bersama.
  • Guru menggunakan hasil jawaban untuk mengidentifikasi murid yang belum menguasai operasi kuadrat/akar dan menyiapkan scaffolding berupa kartu referensi tabel kuadrat.

Proses:

  • Observasi berkelanjutan selama diskusi kelompok: guru mencatat apakah murid mengidentifikasi hipotenusa dengan benar, menuliskan langkah secara runtut, dan menggunakan rumus yang tepat.
  • Presentasi kelompok: guru menilai kemampuan murid menjelaskan prosedur penyelesaian kepada kelompok lain.
  • Teknik 'Acungkan Jari' setelah demonstrasi untuk mendeteksi murid yang masih bingung sebelum masuk ke latihan mandiri.
  • Pertanyaan pancingan individual saat guru berkeliling: murid diminta menjelaskan alasan pemilihan rumus yang digunakan.

Akhir:

  • Latihan individual 2 soal mandiri (1 soal mencari hipotenusa, 1 soal mencari sisi siku-siku) yang dikerjakan tanpa bantuan teman.
  • Exit Ticket: 1 soal aplikasi kontekstual singkat (misalnya menghitung panjang kawat diagonal pada bingkai persegi panjang) ditambah kalimat refleksi 'Hari ini saya belajar bahwa... dan saya masih bingung tentang...'
  • Guru menilai hasil latihan dan exit ticket menggunakan rubrik 4 level untuk menentukan ketercapaian TP 8.2.3.1 dan 8.2.3.2.

Formatif:

  • Asesmen diagnostik awal dengan soal kilat operasi kuadrat dan akar kuadrat (2 soal lisan/tulis di papan).
  • Observasi guru selama diskusi kelompok menggunakan lembar pengamatan: ketepatan rumus, keruntutan langkah, dan kemampuan menjelaskan alasan.
  • Teknik 'Acungkan Jari' untuk mengecek pemahaman setelah demonstrasi guru.
  • Exit Ticket di akhir sesi inti berisi 1 soal singkat dan kalimat refleksi murid.

Sumatif:

  • Latihan individual 2 soal yang dikerjakan tanpa diskusi di akhir kegiatan mengaplikasi, dinilai menggunakan rubrik 4 level.
  • Exit Ticket digunakan sebagai data sumatif sesi untuk menentukan tindak lanjut pembelajaran berikutnya.

RUBRIK PENILAIAN

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menghitung panjang hipotenusa (TP 8.2.3.1)Murid tidak dapat mengidentifikasi hipotenusa atau tidak menerapkan rumus Pythagoras sama sekali.Murid mengidentifikasi hipotenusa dengan benar dan menuliskan rumus c² = a² + b², tetapi melakukan kesalahan dalam proses perhitungan (operasi kuadrat atau akar).Murid menghitung panjang hipotenusa dengan langkah yang runtut dan hasil yang benar untuk soal dengan jawaban bilangan bulat.Murid menghitung panjang hipotenusa dengan langkah runtut dan hasil benar untuk semua tipe soal, termasuk yang hasilnya bilangan irasional, serta mampu menjelaskan prosedurnya secara lisan atau tertulis.
Menentukan panjang sisi siku-siku (TP 8.2.3.2)Murid tidak dapat membedakan cara mencari sisi siku-siku dari mencari hipotenusa, atau menggunakan rumus yang salah.Murid menuliskan rumus b² = c² − a² dengan benar, tetapi melakukan kesalahan dalam proses substitusi angka atau operasi aritmatika.Murid menentukan panjang sisi siku-siku dengan langkah runtut dan hasil yang benar pada soal terstruktur.Murid menentukan panjang sisi siku-siku dengan benar pada soal terstruktur maupun soal kontekstual (cerita), serta mampu menjelaskan mengapa operasi pengurangan digunakan bukan penjumlahan.
Keruntutan langkah penyelesaianMurid langsung menuliskan jawaban akhir tanpa menunjukkan langkah pengerjaan.Murid menuliskan sebagian langkah, tetapi tidak konsisten atau ada langkah penting yang dilewati.Murid menuliskan semua langkah utama (identifikasi sisi, penulisan rumus, substitusi, perhitungan, kesimpulan) secara runtut.Murid menuliskan langkah secara runtut, lengkap, dan disertai keterangan singkat yang memudahkan pembaca memahami alur penyelesaian.
Penerapan pada konteks nyataMurid tidak dapat mentransfer pengetahuan teorema Pythagoras ke situasi kontekstual dalam soal cerita.Murid mengidentifikasi informasi yang diketahui dalam soal cerita, tetapi belum berhasil menyusun langkah penyelesaian yang tepat.Murid berhasil menyelesaikan soal kontekstual sederhana menggunakan teorema Pythagoras dengan hasil yang benar.Murid menyelesaikan soal kontekstual dengan benar, mampu membuat sketsa segitiga siku-siku dari situasi yang dideskripsikan, dan menafsirkan hasil hitungan dalam konteks masalah.

REFLEKSI

Refleksi Guru:

  • Apakah semua murid memahami perbedaan antara menghitung hipotenusa dan menentukan sisi siku-siku setelah demonstrasi saya?
  • Murid mana yang menunjukkan kesulitan, dan scaffolding apa yang paling efektif membantu mereka?
  • Apakah alokasi waktu antar tahap (Memahami–Mengaplikasi–Merefleksi) sudah proporsional, atau ada tahap yang perlu diperpanjang/diperpendek di pertemuan berikutnya?
  • Apakah konteks nyata yang saya gunakan (tangga, konstruksi bangunan) berhasil membuat murid merasa bahwa materi ini relevan dengan kehidupan mereka?
  • Apa yang perlu saya siapkan untuk menindaklanjuti hasil Exit Ticket, terutama bagi murid yang masih bingung?

Refleksi Murid:

  • Apa perbedaan yang kamu pahami antara mencari hipotenusa dan mencari sisi siku-siku menggunakan teorema Pythagoras?
  • Bagian mana dari pelajaran hari ini yang paling menantang buatmu, dan apa yang kamu lakukan untuk mengatasinya?
  • Di situasi nyata apa kamu bisa menggunakan teorema Pythagoras selain contoh yang dibahas hari ini?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Siswa Matematika SMP/MTs Kelas VIII Kurikulum Merdeka (Kemendikbudristek) — Bab 2: Teorema Pythagoras, Subbab B
  2. Buku Panduan Guru Matematika SMP/MTs Kelas VIII Kurikulum Merdeka (Kemendikbudristek) — Bab 2
  3. LKPD (Lembar Kerja Murid) yang disiapkan guru — berisi 4 soal berlevel untuk diskusi kelompok dan 2 soal latihan mandiri
  4. Kartu referensi tabel nilai kuadrat 1–20 (sebagai scaffolding untuk murid yang memerlukan)',
  5. Papan tulis / layar proyektor untuk demonstrasi langkah penyelesaian
  6. Alat tulis dan penggaris untuk menggambar sketsa segitiga siku-siku
  7. Lembar Exit Ticket yang disiapkan guru

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.