Modul AjarPertemuan 9Bab 3Fase DSemester 2

Modul Ajar IPS Kelas 9: Karakteristik Negara Maju dan Upaya Indonesia Menjadi Negara Maju

Modul Ajar ini disusun untuk satu pertemuan tatap muka mata pelajaran IPS kelas 9 dengan topik "Karakteristik Negara Maju dan Upaya Indonesia Menjadi Negara Maju". Dokumen mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Kurikulum Merdeka, lengkap dengan tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen ringkas.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar IPS Kelas 9: Karakteristik Negara Maju dan Upaya Indonesia Menjadi Negara Maju

IPS - Kelas 9

Bab 3 - Pertemuan 9

MODUL AJAR

IPS — Kelas 9 (Fase D)

Topik: Karakteristik Negara Maju dan Upaya Indonesia Menjadi Negara Maju

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranIPS
Fase / KelasFase D / Kelas 9
TopikKarakteristik Negara Maju dan Upaya Indonesia Menjadi Negara Maju
Alokasi Waktu2x40 menit
Jumlah Pertemuan1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Murid dapat mengidentifikasi karakteristik negara maju dan membandingkannya dengan kondisi pembangunan Indonesia saat ini melalui diskusi kelompok.
  2. Murid dapat merancang gagasan kampanye dukungan terhadap upaya pembangunan Indonesia untuk menjadi negara maju berdasarkan analisis potensi dan tantangan yang ada.

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Apa yang terlintas di pikiranmu ketika mendengar kata 'negara maju'? Negara mana yang langsung kamu bayangkan dan mengapa?
  2. Pada tahun 2020, Amerika Serikat secara resmi memasukkan Indonesia ke dalam kategori negara maju. Menurutmu, apakah Indonesia memang sudah layak disebut negara maju? Alasanmu apa?
  3. Jika kamu menjadi seorang menteri, langkah konkret apa yang paling pertama kamu lakukan agar Indonesia benar-benar bisa menjadi negara maju dalam 20 tahun ke depan?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam dan meminta murid mengamati sebuah gambar atau infografis singkat yang menampilkan dua negara secara berdampingan: satu negara maju (misalnya Jepang atau Jerman) dan Indonesia — menonjolkan perbedaan infrastruktur, angka melek huruf, dan pendapatan per kapita. (2 menit)
  • Guru menyampaikan pertanyaan pemantik secara lisan, memberi jeda agar murid berpikir sejenak sebelum beberapa sukarelawan menjawab secara singkat. (3 menit)
  • Asesmen awal diagnostik: guru menampilkan empat pernyataan di papan tulis atau slide (contoh: 'Negara maju identik dengan banyak pabrik besar', 'PDB tinggi cukup untuk disebut negara maju', 'Indonesia sudah termasuk negara maju', 'SDM unggul lebih penting dari sumber daya alam'). Murid mengacungkan tangan atau menuliskan 'Setuju/Tidak Setuju' di secarik kertas kecil. Guru mencatat pola jawaban untuk menyesuaikan kedalaman pembahasan. (5 menit)
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini secara ringkas: murid akan mengidentifikasi karakteristik negara maju, membandingkannya dengan kondisi Indonesia, lalu merancang ide kampanye nyata sebagai bentuk kontribusi. (2 menit)
  • Guru membagi murid menjadi kelompok 3–4 orang. Setiap kelompok mendapat lembar kerja kelompok (LKK) yang sudah disiapkan. (3 menit)

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru menyajikan materi singkat (5–7 menit) menggunakan peta konsep di slide: karakteristik negara maju mencakup (a) pendapatan per kapita tinggi, (b) angka melek huruf dan IPM tinggi, (c) industrialisasi dan teknologi maju, (d) infrastruktur memadai, (e) angka kemiskinan dan pengangguran rendah. Guru menekankan bahwa tidak ada satu tolok ukur tunggal — setiap indikator saling terkait.
  • Guru memandu murid masuk ke Diskusi Kelompok (Aktivitas 7 adaptasi): setiap kelompok membaca dua sumber data pendek yang disediakan di LKK — satu berisi indikator negara maju versi OECD/UNDP, satu berisi data terkini Indonesia (PDB per kapita, IPM, persentase penduduk miskin, kontribusi industri terhadap PDB). Murid diminta mengisi tabel perbandingan: kolom 'Karakteristik Negara Maju' vs 'Kondisi Indonesia Saat Ini' vs 'Kesimpulan: Sudah/Belum/Sebagian'. (10 menit)
  • Setiap kelompok juga mendiskusikan pertanyaan kunci dari buku siswa: 'Apakah pernyataan Amerika Serikat bahwa Indonesia sudah menjadi negara maju sudah tepat?' — dikaitkan langsung dengan tabel perbandingan yang baru mereka isi.
  • Dua kelompok mempresentasikan hasil tabel perbandingannya secara singkat (masing-masing 2 menit). Kelompok lain memberi tanggapan satu kalimat. Guru meluruskan miskonsepsi yang muncul.

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Guru memperkenalkan konteks proyek kampanye: 'Kalian sudah tahu di mana posisi Indonesia. Sekarang, bayangkan kalian adalah tim komunikasi yang ingin mengajak masyarakat mendukung pembangunan Indonesia menuju negara maju. Apa pesan yang ingin kalian sampaikan?'
  • Setiap kelompok menerima panduan singkat merancang kampanye di LKK: (1) pilih satu potensi unggulan Indonesia sebagai fokus kampanye (misalnya: bonus demografi, sumber daya alam, digitalisasi ekonomi, industri kreatif), (2) identifikasi satu tantangan utama yang menghalangi potensi tersebut, (3) rumuskan pesan kampanye dalam satu kalimat kuat (slogan), (4) tentukan format kampanye yang realistis (poster digital, video pendek 30 detik, infografis, atau konten media sosial), (5) tuliskan tiga poin isi kampanye yang didukung data/fakta dari sumber yang sudah dipelajari. (12 menit)
  • Kelompok yang lebih cepat selesai didorong mengembangkan rancangan dengan menambahkan target audiens kampanye dan memilih platform penyebaran yang paling efektif beserta alasannya.
  • Murid yang membutuhkan lebih banyak dukungan dapat menggunakan kerangka bantuan di bagian bawah LKK: daftar potensi dan tantangan Indonesia sudah tersedia, mereka tinggal memilih dan mengembangkan argumennya.

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Setiap kelompok mempresentasikan rancangan kampanye mereka dalam format 'pitch' singkat: 90 detik per kelompok menyampaikan potensi yang dipilih, slogan, dan satu poin isi kampanye. Kelompok lain memberi bintang penilaian sejawat (1–3 bintang) pada secarik sticky note kecil beserta satu kalimat komentar membangun. (10 menit)
  • Guru memfasilitasi diskusi refleksi kelas: 'Dari semua rancangan kampanye yang baru kalian dengar, pesan mana yang paling kuat dan mengapa? Apa yang membuat sebuah kampanye efektif dalam menggerakkan orang?' (3 menit)
  • Murid secara individu mengisi 'Lembar Refleksi Diri' di LKK — tiga pertanyaan singkat: (a) Hal baru apa yang aku pelajari hari ini tentang negara maju dan Indonesia? (b) Bagian mana yang masih membuatku bingung atau ingin aku pelajari lebih dalam? (c) Satu tindakan nyata apa yang bisa aku lakukan sebagai pelajar untuk mendukung Indonesia menjadi negara maju? (4 menit)
  • Guru mengumpulkan lembar refleksi sebagai bahan asesmen proses dan dasar tindak lanjut pembelajaran berikutnya.

Penutup:

  • Guru bersama murid menarik simpulan pembelajaran: karakteristik negara maju mencakup indikator ekonomi, sosial, dan teknologi — Indonesia memiliki potensi besar namun masih menghadapi sejumlah tantangan struktural. (2 menit)
  • Guru memberikan umpan balik kualitatif singkat terhadap rancangan kampanye yang dipresentasikan: menyebut dua atau tiga kelompok yang argumennya paling berbasis data dan kreatif, serta mengingatkan seluruh kelas bahwa rancangan ini akan dikembangkan lebih lanjut pada aktivitas proyek akhir tema. (2 menit)
  • Guru menyampaikan pratinjau pertemuan berikutnya dan mengingatkan murid untuk mulai mengumpulkan data atau referensi tambahan untuk proyek kampanye mereka. (1 menit)
  • Guru menutup kelas dengan mengajak murid menyimpulkan dalam satu kata: 'Apa satu kata yang paling menggambarkan perasaan atau pemahamanmu setelah pembelajaran hari ini?' Beberapa murid berbagi secara spontan. (2 menit)

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan dukungan lebih mendapat LKK dengan kerangka terstruktur: daftar indikator negara maju sudah tercetak, tabel perbandingan sudah memiliki kolom bantuan, dan daftar pilihan potensi Indonesia sudah disediakan sehingga mereka fokus pada proses berpikir, bukan mencari data dari nol. Murid yang sudah siap secara akademis mendapat tantangan tambahan berupa pertanyaan analitis: membandingkan indikator Indonesia dengan dua negara ASEAN lain (misalnya Malaysia dan Vietnam) dan menganalisis faktor apa yang membuat salah satunya lebih maju.
  • Proses: Diskusi kelompok dapat dilakukan dengan pengelompokan fleksibel: guru dapat mempertimbangkan campuran kemampuan agar murid yang lebih kuat dapat mendukung yang lain secara peer learning. Bagi murid yang pendiam atau kurang percaya diri berbicara, guru memberi opsi menyampaikan hasil diskusi secara tertulis di papan atau melalui aplikasi kolaborasi digital jika tersedia.
  • Produk: Rancangan kampanye tidak dibatasi satu format — murid dapat memilih poster, skrip video, infografis, atau draf konten media sosial sesuai minat dan kekuatan masing-masing. Yang dinilai adalah kedalaman analisis potensi dan tantangan serta kekuatan argumen, bukan keindahan desain.

ASESMEN

Awal:

  • Guru menampilkan empat pernyataan tentang negara maju di papan tulis atau slide. Murid menyatakan 'Setuju' atau 'Tidak Setuju' dengan mengacungkan tangan atau menuliskannya di kertas kecil.
  • Pernyataan diagnostik: (1) Negara maju identik dengan banyak pabrik besar dan kekayaan alam melimpah. (2) PDB yang tinggi sudah cukup untuk disebut negara maju. (3) Indonesia saat ini sudah memenuhi mayoritas karakteristik negara maju. (4) Kualitas SDM lebih menentukan kemajuan suatu negara dibanding kekayaan alamnya.
  • Guru mencatat pola jawaban secara cepat dan menggunakannya untuk menyesuaikan penekanan materi — jika mayoritas murid setuju dengan pernyataan 1 atau 2, guru perlu lebih menekankan indikator multidimensi negara maju.

Proses:

  • Observasi berkeliling saat diskusi kelompok berlangsung: guru mencatat kelompok yang argumennya tepat sasaran dan kelompok yang masih kesulitan mengaitkan data dengan indikator negara maju.
  • Guru mengajukan pertanyaan pancingan kepada kelompok yang tampak stagnan: 'Data mana di LKK yang paling mendukung kesimpulanmu?' atau 'Menurutmu, mengapa Indonesia belum memenuhi indikator ini?'
  • Penilaian sejawat saat presentasi pitch kampanye: murid memberi bintang (1–3) dan satu kalimat komentar konstruktif pada sticky note — hasilnya dikumpulkan guru sebagai data asesmen proses.
  • Lembar Refleksi Diri individual di akhir tahap Merefleksi: guru membaca sekilas jawaban pertanyaan kedua ('Bagian yang masih membuatku bingung') untuk mengidentifikasi topik yang perlu diulas ulang di pertemuan berikutnya.

Akhir:

  • Rancangan kampanye kelompok dikumpulkan di akhir pertemuan dalam bentuk LKK yang sudah diisi. Guru menilai menggunakan rubrik empat level pada tiga aspek utama: (1) ketepatan dan kelengkapan identifikasi karakteristik negara maju serta perbandingannya dengan Indonesia, (2) kedalaman analisis potensi dan tantangan yang dipilih sebagai fokus kampanye, (3) kreativitas dan kelayakan rancangan kampanye termasuk kekuatan slogan dan dukungan data/fakta.
  • Nilai akhir pertemuan ini bersifat formatif-mengarah-sumatif: digunakan sebagai umpan balik untuk pengembangan proyek kampanye pada pertemuan-pertemuan selanjutnya dalam ATP yang sama.

Formatif:

  • Asesmen diagnostik awal: respons 'Setuju/Tidak Setuju' terhadap empat pernyataan tentang negara maju di awal pembelajaran — digunakan untuk memetakan miskonsepsi awal murid.
  • Observasi diskusi kelompok: guru berkeliling memantau kualitas argumen, partisipasi, dan ketepatan penggunaan data saat murid mengisi tabel perbandingan.
  • Penilaian sejawat (peer assessment): setiap kelompok memberi bintang dan komentar tertulis terhadap rancangan kampanye kelompok lain.
  • Lembar Refleksi Diri: diisi secara individual di akhir kegiatan inti — guru menggunakan hasilnya untuk mengidentifikasi murid yang masih membutuhkan penguatan.

Sumatif:

  • Rancangan kampanye kelompok yang dikumpulkan di akhir pertemuan: dinilai menggunakan rubrik dengan aspek ketepatan identifikasi karakteristik negara maju, kedalaman analisis potensi dan tantangan Indonesia, kreativitas dan kekuatan pesan kampanye, serta kualitas argumentasi berbasis data.
  • Catatan: rancangan ini merupakan produk awal yang akan dikembangkan lebih lanjut pada aktivitas proyek akhir tema — penilaian sumatif akhir dilakukan setelah proyek selesai.

RUBRIK PENILAIAN

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Identifikasi dan Perbandingan Karakteristik Negara MajuMurid hanya menyebutkan satu atau tidak ada karakteristik negara maju dengan tepat, atau tidak mampu menghubungkannya dengan kondisi Indonesia.Murid menyebutkan 2–3 karakteristik negara maju secara benar tetapi perbandingan dengan kondisi Indonesia masih sangat umum dan tidak didukung data.Murid mengidentifikasi 4–5 karakteristik negara maju dengan tepat dan membandingkannya dengan kondisi Indonesia menggunakan sebagian data yang tersedia di LKK.Murid mengidentifikasi 5 atau lebih karakteristik negara maju secara akurat, membandingkannya dengan kondisi Indonesia menggunakan data konkret, dan menarik kesimpulan yang logis dan bernuansa tentang posisi Indonesia.
Analisis Potensi dan Tantangan IndonesiaMurid tidak mampu mengidentifikasi potensi atau tantangan Indonesia secara relevan, atau hanya menyalin ulang informasi tanpa analisis.Murid menyebutkan satu potensi dan satu tantangan Indonesia tetapi belum mampu menjelaskan kaitannya satu sama lain atau dengan tujuan menjadi negara maju.Murid menganalisis satu potensi unggulan dan satu tantangan utama Indonesia dengan cukup jelas, serta menjelaskan bagaimana keduanya saling berkaitan dalam konteks pembangunan.Murid menganalisis potensi dan tantangan Indonesia secara mendalam, didukung fakta atau data spesifik, dan mampu menjelaskan hubungan sebab-akibat serta relevansinya terhadap upaya Indonesia menjadi negara maju.
Rancangan Gagasan KampanyeRancangan kampanye tidak memiliki fokus yang jelas, tidak ada slogan, dan isi kampanye tidak berkaitan dengan potensi atau tantangan Indonesia yang telah dianalisis.Rancangan kampanye memiliki topik yang jelas dan slogan yang cukup relevan, tetapi isi kampanye masih terlalu umum dan kurang didukung argumen atau data.Rancangan kampanye memiliki slogan yang relevan, format yang dipilih sesuai, dan paling sedikit dua dari tiga poin isi kampanye didukung fakta atau data dari materi pembelajaran.Rancangan kampanye memiliki slogan yang kuat dan orisinal, format yang tepat sasaran dengan pertimbangan audiens yang jelas, serta seluruh poin isi kampanye didukung data dan argumen yang koheren dan meyakinkan.
Kolaborasi dan Partisipasi dalam Diskusi KelompokMurid hampir tidak berpartisipasi dalam diskusi kelompok, tidak berkontribusi pada pengisian LKK, atau mendominasi tanpa mendengarkan pendapat anggota lain.Murid sesekali berpartisipasi dalam diskusi dan berkontribusi pada sebagian tugas kelompok, tetapi keterlibatannya tidak konsisten.Murid aktif berpartisipasi, menyampaikan pendapat yang relevan, dan mendengarkan serta merespons pendapat anggota lain secara konstruktif.Murid sangat aktif berkontribusi, mendorong anggota lain untuk berpartisipasi, membantu mengarahkan diskusi agar tetap fokus, dan secara konsisten membangun di atas gagasan orang lain untuk menghasilkan ide yang lebih kuat.

REFLEKSI

Refleksi Guru:

  • Apakah asesmen diagnostik awal saya berhasil mengungkap miskonsepsi murid, dan apakah saya sudah meresponsnya secara efektif selama pembelajaran?
  • Apakah alokasi waktu untuk setiap tahap (Memahami, Mengaplikasi, Merefleksi) sudah proporsional? Tahap mana yang terasa terburu-buru atau terlalu lambat?
  • Seberapa baik diferensiasi yang saya terapkan menjangkau murid yang membutuhkan dukungan tambahan maupun murid yang sudah siap dengan tantangan lebih tinggi?
  • Apakah pertanyaan pemantik dan diskusi kelas berhasil membangun koneksi antara materi dengan kehidupan nyata murid, sehingga pembelajaran terasa bermakna bagi mereka?
  • Berdasarkan lembar refleksi murid, konsep atau keterampilan mana yang masih perlu diperkuat pada pertemuan berikutnya?

Refleksi Murid:

  • Hal baru apa yang aku pelajari hari ini tentang negara maju dan posisi Indonesia? Adakah yang mengubah cara pandangku?
  • Bagian mana dari materi atau diskusi hari ini yang masih membuatku bingung atau ingin aku pelajari lebih dalam?
  • Dalam merancang kampanye tadi, apa bagian yang paling menantang? Bagaimana aku mengatasinya bersama kelompok?
  • Satu tindakan nyata apa — sekecil apapun — yang bisa aku lakukan sebagai pelajar untuk berkontribusi pada pembangunan Indonesia menuju negara maju?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Siswa IPS Kelas IX (Kemendikbudristek, 2022) — Bab 3: Tantangan Pembangunan Indonesia, bagian Karakteristik Negara Maju dan Lembar Aktivitas 7 (Diskusi Kelompok)
  2. Buku Panduan Guru IPS Kelas IX (Kemendikbudristek, 2022) — Panduan Pertemuan 10, Tema 03
  3. Infografis atau data terkini Indonesia: PDB per kapita, Indeks Pembangunan Manusia (IPM/HDI), persentase penduduk miskin, kontribusi sektor industri terhadap PDB — dapat diambil dari BPS (bps.go.id) atau UNDP Human Development Report
  4. Lembar Kerja Kelompok (LKK) — disiapkan guru, berisi tabel perbandingan karakteristik negara maju vs kondisi Indonesia, panduan rancangan kampanye, dan lembar refleksi diri
  5. Slide presentasi guru (peta konsep karakteristik negara maju) — disiapkan guru menggunakan PowerPoint/Google Slides atau Canva
  6. Gambar atau infografis perbandingan dua negara (negara maju vs Indonesia) untuk stimulus visual di awal pembelajaran
  7. Sticky note/kertas kecil untuk penilaian sejawat saat presentasi pitch kampanye
  8. Referensi tambahan pengembangan proyek kampanye: https://www.youtube.com/watch?v=hnzCGNnU_WM (sesuai rekomendasi Buku Guru)

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.