MODUL AJAR IPS — Kelas 9 (Fase D) Topik: Bab 2 — Mitigasi Bencana dan Perubahan Sosial Budaya INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | IPS |
|---|
| Fase / Kelas | Fase D / Kelas 9 |
|---|
| Topik | Bab 2 — Mitigasi Bencana dan Perubahan Sosial Budaya |
|---|
| Alokasi Waktu | 23 JP (23 x 40 menit = 920 menit) |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 8 |
|---|
| Tahun Ajaran | 2026/2027 |
|---|
| Semester | 1 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- TP 9.2.1 Menjelaskan faktor aktivitas manusia terhadap potensi bencana alam
- TP 9.2.2 Merefleksikan upaya mitigasi bencana untuk menunjang sustainable development goals (SDGs) dalam konteks lokal, regional, dan global
- TP 9.2.3 Menerapkan konsep mitigasi bencana melalui simulasi untuk memperkuat pemahaman dan keterampilan
- TP 9.2.4 Mengelaborasi perubahan sistem sosial budaya dalam masyarakat yang majemuk untuk mewujudkan integrasi bangsa dengan prinsip kebhinekaan
- TP 9.2.5 Mengomunikasikan hasil penyelidikan perubahan sistem sosial budaya dengan menggunakan media informasi yang tepat
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | | | Kewargaan | ✓ | | Penalaran Kritis | ✓ | | Kreativitas | ✓ | | Kolaborasi | ✓ | | Kemandirian | ✓ | | Kesehatan | | | Komunikasi | ✓ |
PERTANYAAN PEMANTIK- Mengapa banjir atau tanah longsor sering kali terjadi bukan murni karena hujan deras semata?
- Aktivitas manusia apa saja di sekitar kita yang dapat memperbesar risiko terjadinya bencana alam?
- Bagaimana kearifan lokal atau kebiasaan warga di sekitar kita dapat mengurangi dampak risiko bencana alam?
- Mengapa upaya mitigasi bencana di tingkat lokal sangat penting untuk mewujudkan lingkungan tempat tinggal yang aman dan berkelanjutan sesuai target SDGs nomor 11?
- Mengapa penanganan bencana di suatu negara sering kali memerlukan kerja sama lintas negara di tingkat kawasan Asia Tenggara (ASEAN) maupun dunia?
- Bagaimana upaya mitigasi bencana di tingkat regional dan global dapat mendukung ketercapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama ketahanan kota dan aksi iklim?
- Apa tindakan pertama yang harus segera kalian lakukan di dalam kelas saat sirine gempa bumi berbunyi?
- Bagaimana cara kita mengevakuasi diri secara aman dari lantai kelas menuju titik kumpul terbuka tanpa menimbulkan bahaya kepanikan?
- Bagaimana kebiasaan berbelanja atau berkomunikasi masyarakat saat ini berbeda jika dibandingkan dengan satu atau dua dekade lalu?
- Mengapa suatu perubahan sosial budaya di masyarakat dapat berlangsung sangat cepat sementara perubahan lainnya berjalan lambat?
- Mengapa faktor pendorong dan penghambat perubahan sosial budaya dapat memengaruhi kerukunan hidup dalam masyarakat Indonesia yang majemuk?
- Bagaimana cara kita menyikapi perubahan sosial budaya agar keragaman suku, agama, dan budaya tetap menyatu dalam bingkai integrasi bangsa?
- Bagaimana cara menyampaikan temuan tentang perubahan sosial budaya di sekitar kita agar mudah dipahami oleh orang lain?
- Mengapa pemilihan media informasi seperti infografik atau video pendek sangat memengaruhi kejelasan penyampaian hasil penyelidikan?
- Bagaimana keterkaitan antara tindakan manusia sehari-hari dengan ancaman bencana dan keberlangsungan tujuan pembangunan berkelanjutan?
- Mengapa kesiapsiagaan menghadapi bencana dan sikap terbuka terhadap perubahan sosial budaya sangat menentukan keutuhan masyarakat kita?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1 — Menjelaskan Faktor Aktivitas Manusia terhadap Potensi Bencana Alam di Lingkungan Sekitar — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 9.2.1 Menjelaskan faktor aktivitas manusia terhadap potensi bencana alam
Pendahuluan:- Guru membuka pelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran, dan menyampaikan tujuan pembelajaran mengenai faktor aktivitas manusia terhadap potensi bencana alam (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui 2 pertanyaan lisan: (1) Apa perbedaan faktor alam dan faktor manusia pemicu banjir? (acuan: faktor alam curah hujan tinggi/pasang air laut; faktor manusia membuang sampah sembarangan/penyempitan saluran air); (2) Mengapa penebangan pohon di lereng bukit memicu longsor? (acuan: hilangnya akar tanaman pengikat butiran tanah dan penahan air) (7 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid mencermati pemaparan materi dan studi kasus mengenai 3 keterkaitan aktivitas manusia dengan potensi bencana: (1) Alih fungsi lahan hutan/resapan air menjadi kawasan terbangun memicu banjir limpasan; (2) Penebangan pohon di lereng curam memicu tanah longsor; (3) Pengeringan dan pembakaran lahan gambut memicu kebakaran hutan dan lahan (kebakaran gambut) (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Secara berpasangan, murid mengikuti kuis tantangan kartu sebab-akibat 'Cocok Bencana' yang menyenangkan: memasangkan 3 kartu aktivitas manusia dengan potensi bencana yang ditimbulkannya beserta penjelasannya: Kartu A 'Penebangan hutan bambu di tebing terjal' pasangannya Bencana Tanah Longsor (penjelasan: akar hilang sehingga tanah labil); Kartu B 'Penumpukan sampah padat di saluran drainase kota' pasangannya Bencana Banjir Genangan (penjelasan: aliran tersumbat kapasitas saluran turun); Kartu C 'Pembuatan parit drainase berlebihan di lahan basah gambut' pasangannya Bencana Kebakaran Lahan Gambut (penjelasan: gambut kering mudah menyulut api) (15 menit).
- Murid secara berkelompok mengerjakan Lembar Analisis Kasus untuk menjelaskan secara tertulis hubungan sebab-akibat faktor aktivitas manusia terhadap potensi bencana alam pada 3 skenario: Skenario 1 (Pembangunan vila di perbukitan tanpa terasering memicu tanah longsor); Skenario 2 (Betonisasi halaman pemukiman tanpa sumur resapan memicu banjir genangan); Skenario 3 (Pembukaan ladang dengan tebas-bakar di musim kemarau memicu kabut asap/kebakaran lahan) (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru mereview hasil analisis hubungan sebab-akibat aktivitas manusia dengan potensi bencana serta menyimpulkan bahwa perilaku manusia memegang peranan krusial dalam memicu atau memperparah bencana alam (5 menit).
Penutup:- Murid mengerjakan cek pemahaman akhir secara mandiri berupa 2 soal penjelasan tertulis faktor aktivitas manusia terhadap potensi bencana (7 menit).
- Guru memberikan umpan balik langsung, mengapresiasi kerja sama kelas, dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam (3 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan alur logika bergambar (aktivitas -> dampak fisik tanah/air -> jenis bencana), sedangkan murid mahir menganalisis studi kasus gabungan dua aktivitas manusia sekaligus.
- Proses: Scaffolding bertahap bagi kelompok yang kesulitan menghubungkan sebab-akibat dengan memberikan petunjuk kata kunci kata kerja kausalitas.
- Produk: Penjelasan faktor aktivitas manusia dapat disajikan dalam bentuk bagan alur kausalitas atau uraian paragraf berstruktur sebab-akibat.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab lisan diagnostik: (1) Sebutkan contoh aktivitas manusia yang menyebabkan saluran air meluap hingga terjadi banjir! (acuan: pembuangan sampah ke sungai/saluran, penyempitan bantaran sungai oleh bangunan); (2) Mengapa bukit yang gundul lebih mudah mengalami tanah longsor daripada bukit yang berhutan lebat? (acuan: ketiadaan akar pohon pengikat tanah dan penahan laju resapan air hujan berlebih).
Proses:- Observasi keterlibatan diskusi dan pengerjaan kuis berpasangan 'Cocok Bencana' dengan 3 kartu: Kartu A 'Penebangan hutan bambu di tebing terjal' (acuan pasangan: Bencana Longsor karena daya ikat akar hilang); Kartu B 'Penumpukan sampah di drainase' (acuan pasangan: Bencana Banjir Genangan karena saluran tersumbat); Kartu C 'Pengeringan berlebihan lahan basah gambut' (acuan pasangan: Kebakaran Lahan Gambut karena gambut kering sangat mudah terbakar).
- Pemeriksaan ketepatan penjelasan pada Lembar Analisis Kasus 3 skenario: Skenario 1 (Pembangunan vila lereng bukit -> erosi dan longsor), Skenario 2 (Betonisasi tanpa sumur resapan -> banjir limpasan permukaan), Skenario 3 (Tebas-bakar lahan saat kemarau -> kebakaran hutan/lahan).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman mandiri di akhir sesi (2 butir soal uraian singkat): (1) Jelaskan mengapa alih fungsi hutan resapan air menjadi kawasan perumahan padat dapat meningkatkan potensi banjir di daerah hilir! (acuan: hilangnya daerah resapan mengurangi infiltrasi air tanah dan meningkatkan debit limpasan permukaan secara drastis); (2) Jelaskan faktor aktivitas manusia yang memicu kebakaran pada lahan gambut! (acuan: pembukaan saluran drainase berlebihan yang membuat lahan gambut kering dan teknik tebas-bakar lahan yang tidak terkendali).
Formatif:- Tanya jawab diagnostik di awal pembelajaran
- Kuis berpasangan kartu sebab-akibat 'Cocok Bencana'
- Penilaian kinerja pengerjaan Lembar Analisis Kasus faktor aktivitas manusia terhadap potensi bencana
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Penjelasan Faktor Aktivitas Manusia terhadap Potensi Bencana | Belum mampu menjelaskan keterkaitan antara aktivitas manusia dan potensi bencana alam secara tepat (hanya menyebut jenis bencana tanpa menguraikan mekanisme aktivitas manusia pemicunya). | Mampu menjelaskan 1 faktor aktivitas manusia terhadap potensi bencana alam dengan alur sebab-akibat yang tepat sesuai acuan materi. | Mampu menjelaskan 2 faktor aktivitas manusia terhadap potensi bencana alam secara tepat dan runut sesuai mekanisme sebab-akibat materi. | Mampu menjelaskan 3 faktor aktivitas manusia (alih fungsi hutan lereng memicu longsor, betonisasi/sampah memicu banjir, dan pengeringan/pembakaran gambut memicu kebakaran lahan) secara lengkap, mendalam, dan mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alur aktivitas 'Memahami - Mengaplikasi - Merefleksi' berhasil membantu murid melihat hubungan logis antara tindakan manusia dan bencana alam?
- Apakah diferensiasi bimbingan melalui bagan alur cukup efektif membantu murid yang kesulitan menjelaskan mekanisme sebab-akibat?
Murid:- Aktivitas manusia apa di lingkungan sekitarku yang kini aku sadari dapat memicu bencana alam?
- Bagian mana dari penjelasan sebab-akibat bencana tadi yang paling mudah atau paling menantang untuk kupahami?
Pertemuan 2 — Merefleksikan Upaya Mitigasi Bencana untuk Menunjang Sustainable Development Goals (SDGs) dalam Konteks Lokal — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 9.2.2 Merefleksikan upaya mitigasi bencana untuk menunjang sustainable development goals (SDGs) dalam konteks lokal, regional, dan global
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan belajar murid, dan memandu doa bersama (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-2 mengenai refleksi upaya mitigasi bencana dalam mendukung SDGs konteks lokal, serta mengaitkannya dengan pentingnya menjaga keselamatan pemukiman warga (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik dengan meminta murid menjawab 2 pertanyaan pemantik kesiapan: (1) 'Apa arti mitigasi bencana?' (acuan: upaya/tindakan untuk mengurangi risiko atau dampak bencana sebelum bencana terjadi) dan (2) 'Sebutkan 1 contoh praktik lokal warga menghadapi bencana alam!' (acuan: rumah panggung menghadapi banjir/gempa, menanam bakau di pesisir, kentongan ronda, atau terasering lereng) (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid mencermati pemaparan guru dan infografis mengenai keterkaitan mitigasi bencana lokal dengan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDGs Nomor 11 (Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan), yang mencakup prinsip ketahanan pemukiman, keterlibatan warga, dan perlindungan kearifan lokal (15 menit).
- Guru mengadakan kuis cepat interaktif 'Tebak SDGs & Mitigasi Lokal' berisi 3 pernyataan: (1) 'Pembangunan tanggul alami menggunakan tanaman vetiver di tebing desa mendukung permukiman aman' (acuan: Tepat/Mendukung SDGs 11), (2) 'Penebangan pohon di hulu sungai untuk perumahan mempercepat pencapaian SDGs' (acuan: Tidak tepat/Menghambat), (3) 'Kearifan rumah panggung kayu khas Nusantara terbukti lentur meredam guncangan gempa lokal' (acuan: Tepat/Mendukung SDGs 11) (15 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Murid dibagi ke dalam kelompok berpasangan untuk menganalisis Lembar Telaah Kasus Lokal yang menyajikan 2 studi kasus nyata di Indonesia: Kasus A (Kearifan rumah tahan gempa suku Sasak/Sunda dan penataan jalur evakuasi desa) dan Kasus B (Konservasi hutan mangrove oleh masyarakat pesisir guna menahan abrasi serta tsunami skala lokal) (20 menit).
- Setiap kelompok menguraikan lembar analisis dengan menjawab 2 panduan telaah: (1) bentuk tindakan mitigasi lokal yang dilakukan masyarakat, dan (2) bagaimana tindakan tersebut secara konkret mendukung target SDGs 11 (menciptakan kawasan pemukiman yang tangguh, aman, dan berkelanjutan) (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid menyusun refleksi tertulis individual pada Lembar Refleksi Mitigasi Lokal mengenai sejauh mana upaya mitigasi berbasis kearifan lokal di lingkungan sekitarnya telah diterapkan secara efektif, serta merumuskan makna pentingnya peran warga dalam menjaga kelestarian dan keselamatan permukiman (acuan penilaian: memuat evaluasi kondisi nyata lokal dan keselarasan dengan prinsip keselamatan pemukiman berkelanjutan SDGs 11) (20 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan intisari pembelajaran mengenai keterkaitan kuat antara mitigasi bencana berbasis lokal dan pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs 11) (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik atas lembar refleksi murid, memberikan apresiasi atas ketajaman analisis reflektif, serta menyampaikan pengantar ringkas topik pertemuan berikutnya (konteks regional dan global) tanpa menutup materi bab secara keseluruhan (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan lembar telaah kasus dengan panduan kata kunci pemantik (misal: penahan gelombang, kelenturan kayu, keselamatan warga); murid yang lebih cepat diberikan studi kasus tambahan mengenai integrasi sistem peringatan dini tradisional (kentongan) dengan tata ruang desa.
- Proses: Kelompok pendampingan intensif mendapatkan arahan bertahap dari guru dalam menghubungkan tindakan warga dengan poin SDGs 11, sedangkan kelompok mandiri langsung berdiskusi mengelaborasikan argumen reflektif.
- Produk: Refleksi disajikan dalam format teks narasi 1 paragraf terstruktur atau diagram alur sebab-dampak mitigasi lokal terhadap keberlanjutan pemukiman.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik lisan di awal pembelajaran: (1) 'Apa arti mitigasi bencana?' (acuan: tindakan atau upaya terencana untuk mengurangi risiko dan dampak bencana sebelum peristiwa terjadi); (2) 'Sebutkan 1 contoh praktik warga di tingkat lokal dalam menghadapi potensi bencana!' (acuan yang diterima: pembuatan tanggul tanah/terasering, rumah panggung tradisional, sistem kentongan ronda, penanaman mangrove di pesisir, atau pembersihan rutin saluran air desa).
Proses:- Formatif telaah kasus kelompok: Mengidentifikasi ketepatan analisis keterkaitan antara praktik mitigasi lokal (Kasus A: arsitektur tradisional lentur gempa; Kasus B: pelestarian mangrove) dengan pilar SDGs 11 (keamanan, ketangguhan, dan keberlanjutan permukiman warga). Kriteria: ketepatan menjelaskan fungsi mitigasi tindakan lokal dan kejelasan hubungan sebab-akibat terhadap ketercapaian lingkungan aman berkelanjutan.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman/umpan balik reflektif individu melalui Lembar Refleksi: Murid menuliskan refleksi minimal memuat 2 poin utama: (1) Evaluasi keberhasilan/keberadaan praktik mitigasi di lingkungan lokal (acuan: menyebutkan tindakan nyata pencegahan bencana oleh masyarakat setempat), dan (2) Pemaknaan kontribusi praktik tersebut terhadap prinsip pemukiman aman berkelanjutan (SDGs 11) (acuan: menjelaskan bahwa mitigasi lokal menjaga kelangsungan hidup warga dan melindungi pemukiman dari kerusakan fatal).
Formatif:- Penilaian asesmen awal diagnostik lisan/tulis mengenai konsep mitigasi dan contoh lokal
- Observasi lembar kerja telaah kasus mitigasi lokal dan keterkaitannya dengan SDGs 11
- Penilaian lembar refleksi individu murid mengenai mitigasi bencana lokal menunjang SDGs
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Kemampuan Merefleksikan Upaya Mitigasi Bencana Lokal dalam Menunjang SDGs | Belum mampu mengaitkan tindakan mitigasi bencana di tingkat lokal dengan tujuan SDGs (hanya menyebutkan nama bencana tanpa refleksi tindakan pencegahan). | Mampu mengidentifikasi bentuk tindakan mitigasi bencana lokal, namun belum mampu merefleksikan kaitannya dengan tujuan pemukiman yang aman dan berkelanjutan (SDGs 11). | Mampu merefleksikan upaya mitigasi bencana lokal secara tepat dengan menghubungkan tindakan masyarakat lokal terhadap pencapaian pemukiman yang aman, tangguh, dan berkelanjutan (SDGs 11). | Mampu merefleksikan secara mendalam dan komprehensif upaya mitigasi bencana lokal dengan menganalisis kekuatan kearifan lokal serta dampaknya secara berkelanjutan terhadap keamanan lingkungan warga sesuai target SDGs 11 secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 120 menit cukup efektif untuk memandu murid memahami keterkaitan mitigasi bencana lokal dengan SDGs 11?
- Bagaimana keterlibatan aktif murid saat menganalisis studi kasus nyata kearifan lokal di Indonesia?
- Apakah instrumen lembar refleksi yang disediakan mampu memicu penalaran kritis murid secara optimal?
Murid:- Apa hal paling bermakna yang saya pelajari hari ini tentang kearifan lokal dalam menghadapi bencana alam?
- Mengapa keterlibatan masyarakat sekitar sangat menentukan keberhasilan perlindungan lingkungan dan pencapaian SDGs?
- Bagian mana dari kegiatan refleksi hari ini yang paling menantang bagi saya?
Pertemuan 3 — Merefleksikan Upaya Mitigasi Bencana untuk Menunjang Sustainable Development Goals (SDGs) dalam Konteks Regional dan Global — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 9.2.2 Merefleksikan upaya mitigasi bencana untuk menunjang sustainable development goals (SDGs) dalam konteks lokal, regional, dan global
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, serta mengondisikan kesiapan belajar (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu merefleksikan upaya mitigasi bencana dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) pada konteks regional dan global (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan singkat berupa 2 pertanyaan pemetaan kesiapan: (1) Sebutkan 1 contoh bentuk kerja sama mitigasi antarnegara di tingkat Asia Tenggara (ASEAN)! (acuan jawaban: AHA Centre / sistem peringatan dini bersama / bantuan penanggulangan tanggap darurat); (2) Nomor target SDGs berapakah yang berfokus pada kota dan permukiman inklusif, aman, dan berkelanjutan? (acuan jawaban: SDGs nomor 11) (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid menyimak paparan singkat dan infografis mengenai 2 skenario studi kasus nyata mitigasi regional dan global: (1) Kasus Regional ASEAN: Pembentukan AHA Centre (ASEAN Coordinating Centre for Humanitarian Assistance on disaster management) untuk koordinasi sistem peringatan dini tsunami dan logistik darurat lintas negara Asia Tenggara; (2) Kasus Global Sendai Framework & SDGs 13: Kesepakatan PBB dalam Kerangka Kerja Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana yang terintegrasi dengan aksi iklim dunia guna meminimalkan kerugian infrastruktur (15 menit).
- Murid berpasangan memainkan permainan cepat 'Pasang Kartu SDGs-Mitigasi' yang menggembirakan: murid mencocokkan 3 kartu aksi mitigasi regional/global dengan 3 target SDGs yang sesuai (Kartu Aksi 1: 'Pemasangan pelampung deteksi tsunami bersama di Samudra Hindia' -> Pasangan: SDGs 11 'Kota dan Permukiman Berkelanjutan'; Kartu Aksi 2: 'Kerja sama restorasi mangrove lintas batas Pasifik untuk peredam badai' -> Pasangan: SDGs 13 'Penanganan Perubahan Iklim'; Kartu Aksi 3: 'Dana adaptasi bencana PBB untuk penguatan fasilitas air bersih pascabencana di pulau-pulau kecil' -> Pasangan: SDGs 6 'Air Bersih dan Sanitasi') (15 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Murid duduk dalam kelompok kerja (4 orang) untuk menganalisis Lembar Analisis Mitigasi Regional-Global berisi 2 kasus: Kasus A (Kerja sama sistem pemantauan kabut asap kebakaran hutan lintas batas di Asia Tenggara) dan Kasus B (Program aliansi global pelindung terumbu karang penahan abrasi pantai) (15 menit).
- Setiap kelompok menguraikan keterkaitan masing-masing kasus mitigasi tersebut dengan minimal 2 target SDGs yang relevan (misalnya SDGs 11, 13, atau 15) dengan mengisi tabel kerja: mengidentifikasi bentuk mitigasi, cakupan wilayah (regional/global), serta dampak pencapaian target SDGs (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid secara individu menuliskan refleksi kritis pada lembar refleksi dengan menjawab 2 pertanyaan penuntun: (1) Apa makna penting kerja sama antarnegara dalam mitigasi bencana bagi perlindungan masyarakat dunia? (kriteria penerimaan: menyertakan alasan saling ketergantungan geografis atau pembagian sumber daya/teknologi); (2) Bagaimana capaian mitigasi regional/global tersebut berpengaruh terhadap keberlanjutan hidup dan SDGs di Indonesia? (kriteria penerimaan: menyertakan hubungan perlindungan warga negara dari dampak bencana lintas batas seperti kabut asap/tsunami) (20 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan poin-poin utama mengenai peran mitigasi bencana regional dan global dalam mendukung SDGs (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik terhadap hasil pengerjaan analisis dan refleksi murid serta menginformasikan agenda pertemuan berikutnya mengenai simulasi kesiapsiagaan sekolah, lalu menutup sesi dengan doa dan salam (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan infografis visual sederhana bagi murid yang membutuhkan bantuan membaca data teks, serta teks laporan studi kasus mendalam bagi murid yang lebih cepat.
- Proses: Memberikan bimbingan terarah (scaffolding) berupa pertanyaan pemandu bagi kelompok yang membutuhkan bantuan, sementara kelompok yang mahir bekerja secara mandiri dan menghubungkan analisis dengan minimal 3 target SDGs.
- Produk: Refleksi akhir dapat disajikan dalam bentuk paragraf terstruktur atau bagan alur refleksi analitis.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab lisan diagnostik di awal pembelajaran berupa 2 pertanyaan terarah: (1) Sebutkan 1 contoh bentuk kerja sama mitigasi antarnegara di tingkat Asia Tenggara (ASEAN)! (acuan jawaban: AHA Centre / sistem peringatan dini bersama / bantuan penanggulangan tanggap darurat); (2) Nomor target SDGs berapakah yang berfokus pada kota dan permukiman inklusif, aman, dan berkelanjutan? (acuan jawaban: SDGs nomor 11).
Proses:- Observasi formatif saat pengerjaan tugas kelompok menganalisis keterkaitan mitigasi Kasus A (kabut asap ASEAN) dan Kasus B (terumbu karang global) dengan SDGs (acuan: ketepatan menghubungkan kasus A dengan SDGs 11/13/15 dan kasus B dengan SDGs 13/14).
- Pemeriksaan ketepatan pencocokan 3 pasangan kartu mitigasi-SDGs pada tahap Memahami.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman tertulis melalui lembar refleksi mandiri berisi 2 pertanyaan: (1) Makna penting kerja sama mitigasi antarnegara (kriteria penerimaan: memuat konsep kesalingtergantungan antarnegara dalam menghadapi bencana lintas batas); (2) Dampak nyata mitigasi global terhadap keberlanjutan SDGs di Indonesia (kriteria penerimaan: memuat hubungan mitigasi internasional dengan pengurangan risiko bencana nyata di Indonesia seperti tsunami/polusi asap).
Formatif:- Penilaian proses diskusi analisis keterkaitan mitigasi regional-global dengan SDGs menggunakan lembar kerja kelompok
- Penilaian lembar refleksi tertulis individu tentang kontribusi mitigasi global terhadap SDGs
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Merefleksikan upaya mitigasi bencana dalam konteks regional dan global terhadap SDGs | Belum mampu mengaitkan upaya mitigasi bencana regional atau global dengan target SDGs pada lembar refleksi. | Mampu mengaitkan 1 upaya mitigasi regional atau global dengan target SDGs namun penjelasan refleksinya masih sebatas menyebutkan kembali fakta tanpa memaknai dampaknya. | Mampu merefleksikan 2 upaya mitigasi regional dan global dengan menghubungkannya secara tepat pada target SDGs yang relevan serta menjelaskan dampaknya bagi keberlanjutan. | Mampu merefleksikan lebih dari 2 upaya mitigasi regional dan global secara mendalam, tepat menghubungkan dengan target SDGs yang relevan, serta mengevaluasi makna penting kerja sama internasional bagi Indonesia secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah pemilihan contoh kasus AHA Centre dan kerangka global Sendai efektif membantu murid memahami mitigasi tingkat regional dan global?
- Bagaimana keterlibatan murid dalam merefleksikan keterkaitan upaya mitigasi dengan target-target SDGs?
Murid:- Apa hal baru yang saya pahami tentang pentingnya kerja sama antarnegara dalam menghadapi ancaman bencana?
- Mengapa ketercapaian SDGs di tingkat global sangat dipengaruhi oleh kesiapan mitigasi bencana di berbagai wilayah dunia?
Pertemuan 4 — Menerapkan Konsep Mitigasi Bencana melalui Simulasi Kesiapsiagaan di Lingkungan Sekolah — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 9.2.3 Menerapkan konsep mitigasi bencana melalui simulasi untuk memperkuat pemahaman dan keterampilan
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan fisik ruang kelas, serta mengondisikan murid untuk memulai pembelajaran mitigasi bencana (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menerapkan konsep mitigasi bencana melalui simulasi kesiapsiagaan gempa bumi di lingkungan sekolah (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal singkat: murid menjawab kuis cepat acung tangan mengenai 3 langkah dasar penyelamatan saat gempa (Drop, Cover, Hold On) untuk mengecek kesiapan prosedural simulasi (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak penjelasan guru dan mencermati panduan Aktivitas 2.3 mengenai 3 tahap simulasi kesiapsiagaan bencana gempa bumi di sekolah: (1) Perlindungan diri saat goncangan (Drop/merunduk, Cover/berlindung di bawah meja kokoh, Hold On/memegang kaki meja serta melindungi kepala); (2) Evakuasi teratur (jalan cepat, tidak panik, tidak mendorong, melindungi kepala dengan tas/tangan, mengikuti jalur evakuasi sekolah); dan (3) Prosedur berkumpul di titik kumpul aman (lapangan terbuka yang jauh dari tiang, kaca, dan kabel listrik) (15 menit).
- Murid dalam kelompok mengidentifikasi denah jalur evakuasi kelas masing-masing menuju lapangan sekolah serta memastikan tidak ada rintangan di lorong keluar pintu kelas (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Tantangan Drill Cepat (Game Kesiapsiagaan): Guru membunyikan lonceng/peluit tanda 'Gempa Dimulai', seluruh murid secara serentak mempraktikkan respon cepat 'Drop, Cover, Hold On' di bawah meja selama 45 detik dengan tepat dan tertib (15 menit).
- Pelaksanaan Simulasi Penuh: Guru membunyikan peluit kedua sebagai tanda 'Goncangan Mereda'. Seluruh murid langsung menerapkan prosedur evakuasi teratur keluar kelas dengan melindungi kepala menggunakan tas, menuruni tangga/lorong secara tertib tanpa berlari dan tanpa saling mendorong, menyusuri jalur evakuasi yang ditentukan hingga mencapai titik kumpul aman di lapangan terbuka sekolah (35 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Di titik kumpul, murid bersama guru melakukan pengecekan kelengkapan anggota kelompok dan mengevaluasi penerapan simulasi: memeriksa ketepatan posisi perlindungan diri, ketertiban selama evakuasi, durasi waktu evakuasi, serta kepatuhan terhadap rute evakuasi yang telah ditetapkan (15 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan pentingnya keterampilan dan kesigapan dalam menerapkan mitigasi bencana gempa bumi di sekolah (10 menit).
- Guru menutup pertemuan dengan memberikan apresiasi atas kedisiplinan murid selama simulasi dan mengingatkan bahwa kesiapsiagaan bencana akan dilanjutkan pembahasannya pada dinamika masyarakat di pertemuan berikutnya (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan panduan visual grafis langkah mitigasi bagi kelompok yang membutuhkan penguatan langkah urutan evakuasi, serta denah rute kompleks bagi kelompok yang siap dengan tantangan navigasi alternatif.
- Proses: Bagi murid yang masih ragu, guru memberikan pendampingan langsung saat latihan merunduk dan melindungi diri; bagi murid yang sudah cekatan, mereka ditugaskan menjadi pemandu rute (guide) barisan kelompok evakuasi.
- Produk: Penerapan konsep mitigasi diukur melalui unjuk kerja langsung pada 3 indikator tindakan: respon berlindung mandiri, ketertiban jalur evakuasi, dan keberhasilan berkumpul di titik aman.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik prosedural: Murid diminta memperagakan secara verbal/tindakan 3 prinsip 'Drop, Cover, Hold On' saat gempa bumi. Acuan ketepatan: (1) Drop = merunduk/menjatuhkan badan ke lantai; (2) Cover = berlindung di bawah meja kokoh atau menutupi kepala dan leher; (3) Hold On = memegang erat kaki meja penopang sampai getaran berhenti.
Proses:- Observasi unjuk kerja simulasi: Mengamati ketepatan murid dalam menerapkan 3 tindakan mitigasi simulasi: (1) Sikap tanggap berlindung (Drop, Cover, Hold On dengan kepala terlindungi penuh); (2) Sikap evakuasi (bergerak cepat tanpa lari panik, tidak dorong-mendorong, tas melindungi kepala); (3) Sikap di titik kumpul (menuju area terbuka tanpa penghalang dan melapor aman).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman tindakan melalui lembar ceklis kendali mitigasi: Murid menceklis 3 pernyataan tindakan yang telah mereka terapkan dengan kriteria tepat: (1) Mengambil posisi Drop, Cover, Hold On dalam <10 detik sejak sirine; (2) Menggunakan rute evakuasi sekolah tanpa mendahului atau mendorong teman; (3) Bertahan di lapangan terbuka menjauhi gedung dan instalasi kabel hingga arahan selesai. (Acuan: terlaksananya ketiga tindakan tanpa pelanggaran keselamatan).
Formatif:- Asesmen unjuk kerja simulasi kesiapsiagaan bencana menggunakan lembar observasi penerapan prosedur mitigasi (Drop, Cover, Hold On, Evakuasi Rute Aman, dan Posisi Titik Kumpul).
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Penerapan Perlindungan Diri (Drop, Cover, Hold On) | Belum mampu menerapkan posisi merunduk, tidak mencari pelindung meja, atau kepala tidak terlindungi saat simulasi dimulai. | Menerapkan posisi berlindung di bawah meja namun terlambat (>15 detik) atau tidak memegangi kaki meja penopang. | Menerapkan prosedur Drop, Cover, Hold On secara tepat dan sigap saat aba-aba goncangan berbunyi sesuai instruksi keselamatan. | Menerapkan prosedur Drop, Cover, Hold On secara sangat sigap, tepat, mandiri, dan konsisten melindungi seluruh bagian kepala serta leher dengan kokoh. | | Penerapan Evakuasi melalui Rute Aman Menuju Titik Kumpul | Berlari panik, saling mendorong, atau tidak mengikuti rute evakuasi menuju titik kumpul yang telah ditetapkan. | Mengikuti rute evakuasi namun sesekali masih berlari mendahului barisan atau tidak melindungi kepala selama perjalanan keluar gedung. | Menerapkan evakuasi secara tertib, berjalan cepat tanpa mendorong, melindungi kepala dengan tas/tangan, dan tiba di titik kumpul aman sesuai rute. | Menerapkan seluruh prosedur evakuasi rute aman dengan tertib konsisten, melindungi kepala secara sempurna, mandiri tanpa panik, dan segera berbaris teratur di titik kumpul. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alur dan durasi simulasi evakuasi berjalan secara aman, tertib, dan mencerminkan situasi kesiapsiagaan nyata?
- Bagian mana dari langkah mitigasi yang paling sering diabaikan murid (misalnya kepanikan saat di lorong atau posisi Drop, Cover, Hold On) yang memerlukan latihan pengulangan?
Murid:- Bagaimana perasaanmu saat mempraktikkan simulasi gempa bumi tadi, apakah kamu sudah merasa percaya diri untuk menyelamatkan diri sendiri?
- Hal penting apa yang harus selalu kamu ingat saat mengevakuasi diri dari dalam gedung sekolah menuju lapangan aman?
Pertemuan 5 — Mengelaborasi Bentuk dan Dinamika Perubahan Sistem Sosial Budaya dalam Masyarakat yang Majemuk — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 9.2.4 Mengelaborasi perubahan sistem sosial budaya dalam masyarakat yang majemuk untuk mewujudkan integrasi bangsa dengan prinsip kebhinekaan
Pendahuluan:- Guru membuka pelajaran dengan salam, memeriksa kesiapan belajar murid, dan memandu doa singkat (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-5 mengenai bentuk dan dinamika perubahan sistem sosial budaya dalam masyarakat majemuk (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen diagnostik awal: murid menjawab 2 pertanyaan pemantik lisan secara acak tentang contoh perubahan sosial di lingkungan mereka untuk memetakan pemahaman dasar bentuk perubahan lambat/cepat (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna):- Murid menyimak penjelasan konsep mengenai klasifikasi bentuk-bentuk perubahan sosial budaya: berdasarkan waktu (evolusi/lambat vs revolusi/cepat), pengaruh (kecil vs besar), dan perencanaan (direncanakan vs tidak direncanakan) (15 menit).
- Murid mencermati 4 kartu studi kasus konkret yang ditampilkan guru: (1) Adat masyarakat Baduy dalam mempertahankan tradisi leluhur tanpa listrik; (2) Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan RI 1945 dan perombakan struktur tata negara; (3) Tren model gaya rambut dan pakaian remaja; (4) Pembangunan jalan tol lintas daerah dan industrialisasi kota (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid dibagi ke dalam kelompok kecil beranggotakan 4-5 orang untuk menjalankan permainan kartu tantangan klasifikasi 'Pilah Dinamika Sosial' dengan mengelompokkan 4 kartu studi kasus ke dalam tabel bentuk perubahan sosial budaya (acuan kunci: Kasus 1 = waktu/evolusi lambat; Kasus 2 = waktu/revolusi cepat dan pengaruh besar; Kasus 3 = pengaruh kecil; Kasus 4 = pengaruh besar dan direncanakan) (15 menit).
- Setiap kelompok mengelaborasi dinamika perubahan pada lembar kerja: menguraikan alasan pengelompokan bentuk perubahan, pihak masyarakat yang terlibat, serta dampaknya terhadap keberagaman sistem sosial setempat (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid membandingkan hasil elaborasi antarkelompok dengan bimbingan guru untuk memverifikasi ketepatan klasifikasi dan kedalaman analisis dinamika sosial budaya (15 menit).
- Secara berkesadaran, murid merumuskan keterkaitan bahwa masyarakat majemuk senantiasa mengalami dinamika perubahan baik lambat maupun cepat tanpa harus kehilangan nilai-nilai persatuan (10 menit).
Penutup:- Murid bersama guru menyimpulkan inti pembelajaran mengenai bentuk (waktu, pengaruh, perencanaan) dan dinamika perubahan sosial budaya (5 menit).
- Guru memberikan penguatan dan menginformasikan bahwa materi ini akan dilanjutkan pada pertemuan ke-6 mengenai faktor penyebab dan penghambat perubahan sosial budaya demi integrasi bangsa (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu studi kasus dengan narasi ringkas disertai kata kunci penuntun (misal: ada kata 'bertahap puluhan tahun' atau 'mendadak'), sedangkan murid cepat diberikan narasi studi kasus yang memuat dinamika multifaktor.
- Proses: Kelompok dengan kesiapan belajar berkembang didampingi secara berkala oleh guru dalam membedah kategori perubahan; murid yang lebih mahir mengelaborasi 4 kasus secara mandiri dengan elaborasi sebab-akibat yang lebih mendalam.
- Produk: Elaborasi lembar kerja dapat dituangkan dalam bagan alur klasifikasi ringkas maupun uraian paragraf analisis komparatif sesuai kesiapan kelompok.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab lisan diagnostik: Murid diminta mengidentifikasi apakah 'peralihan dari penggunaan uang koin/kertas ke dompet digital (QRIS)' tergolong perubahan yang direncanakan atau tidak, dan apakah dampaknya kecil atau besar (Acuan: tergolong perubahan yang direncanakan oleh otoritas perbankan/BI dan membawa pengaruh besar dalam kebiasaan transaksi ekonomi masyarakat majemuk).
Proses:- Observasi pengerjaan Lembar Kerja Kelompok 'Pilah Dinamika Sosial' mengklasifikasikan 4 kasus: (1) Adat masyarakat Baduy tanpa listrik (Acuan: waktu lambat/evolusi); (2) Proklamasi Kemerdekaan RI 1945 (Acuan: waktu cepat/revolusi dan pengaruh besar); (3) Tren gaya pakaian/rambut remaja (Acuan: pengaruh kecil); (4) Pembangunan jalan tol dan industrialisasi (Acuan: pengaruh besar dan direncanakan). Kriteria ketepatan: minimal 3 dari 4 kasus terklasifikasi dan terelaborasi alasannya secara tepat.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman tertulis singkat (tiket keluar): Murid menjawab 1 pertanyaan reflektif: Mengapa perubahan kecil seperti tren gaya berpakaian tidak sampai merusak struktur sistem sosial dalam masyarakat majemuk? (Kriteria penerimaan operasional: jawaban menyebutkan bahwa perubahan kecil hanya terjadi pada aspek tampilan luar/gaya hidup individu dan tidak mengubah fungsi institusi utama seperti lembaga keluarga, hukum, maupun sistem kenegaraan).
Formatif:- Penilaian proses keterlibatan diskusi dan ketepatan klasifikasi kartu dinamika perubahan sosial budaya pada Lembar Kerja Kelompok 'Pilah Dinamika Sosial'
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Mengelaborasi Bentuk Perubahan Sosial Budaya | Hanya mampu mengklasifikasikan 1 dari 4 kasus bentuk perubahan sosial budaya dengan tepat tanpa memberikan alasan elaborasi. | Mampu mengklasifikasikan 2 dari 4 kasus bentuk perubahan sosial budaya dengan tepat disertai alasan singkat. | Mampu mengklasifikasikan dan mengelaborasi minimal 3 dari 4 kasus bentuk perubahan sosial budaya (waktu, pengaruh, perencanaan) dengan tepat dan logis sesuai acuan. | Mampu mengklasifikasikan dan mengelaborasi seluruh (4 dari 4) kasus bentuk perubahan sosial budaya dengan tepat, komprehensif, serta menguraikan dinamika dampaknya pada masyarakat majemuk secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah konteks studi kasus konkret yang diberikan mempermudah murid membedakan bentuk-bentuk perubahan sosial budaya?
- Bagaimana pembagian peran murid dalam kelompok saat memainkan kartu tantangan dan mengelaborasi dampaknya?
Murid:- Perubahan sosial budaya mana di sekitarmu yang menurutmu membawa pengaruh paling besar dalam kehidupan sehari-hari?
- Bagian mana dari klasifikasi perubahan (waktu, pengaruh, perencanaan) yang paling mudah dan paling menantang untuk kamu pahami?
Pertemuan 6 — Mengelaborasi Faktor Perubahan Sistem Sosial Budaya untuk Mewujudkan Integrasi Bangsa dengan Prinsip Kebhinekaan — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 9.2.4 Mengelaborasi perubahan sistem sosial budaya dalam masyarakat yang majemuk untuk mewujudkan integrasi bangsa dengan prinsip kebhinekaan
Pendahuluan:- Guru membuka pelajaran dengan salam, berdoa bersama, memeriksa kehadiran murid, serta menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen diagnostik singkat: murid diminta menjawab secara lisan pengelompokan 2 pernyataan berikut apakah termasuk faktor pendorong atau penghambat perubahan sosial: (1) 'Kontak intensif antarsuku melalui perdagangan' dan (2) 'Sikap vested interest atau mempertahankan tradisi kelompok secara kaku' [acuan kunci: (1) Faktor pendorong; (2) Faktor penghambat] (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Murid secara mandiri mencermati teks paparan materi mengenai faktor-faktor perubahan sosial budaya (faktor penyebab eksternal/internal serta faktor penghambat) dan kaitannya dengan tantangan menjaga integrasi bangsa di tengah kemajemukan (15 menit).
- Guru memfasilitasi tanya jawab interaktif untuk memperjelas konsep elaborasi faktor perubahan sosial budaya dan prinsip kebhinekaan dalam mencegah konflik horizontal (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru mengadakan permainan kuis kartu tantangan klasifikasi 'Tebak Faktor & Dampak Integrasi' secara berpasangan yang menggembirakan: pasangan murid bergantian mencocokkan 4 kartu skenario perubahan sosial budaya dengan faktor dan pengaruhnya terhadap integrasi bangsa. 4 kartu tersebut adalah: (1) Skenario A: Masuknya media sosial digital yang membuka pertukaran budaya antardaerah [acuan: faktor penemuan baru/iptek, pendorong integrasi jika disikapi terbuka]; (2) Skenario B: Kelompok masyarakat yang menutup diri dari suku pendatang karena prasangka budaya [acuan: faktor sikap eksklusif/prasangka, penghambat integrasi]; (3) Skenario C: Program transmigrasi yang mempertemukan beragam latar belakang kebiasaan bertani [acuan: faktor kontak budaya luar, pendorong akulturasi/integrasi]; (4) Skenario D: Konflik antarkelompok akibat perebutan sumber daya di wilayah majemuk [acuan: faktor pertentangan sosial, tantangan perusak integrasi bila tanpa kebhinekaan] (20 menit).
- Murid secara individu mengerjakan Lembar Elaborasi Sosial Budaya: mengelaborasi 3 faktor utama perubahan sosial budaya (faktor teknologi komunikasi, migrasi penduduk, dan sikap etnosentrisme) beserta peran prinsip kebhinekaan dalam menyelaraskan perubahan tersebut agar memperkokoh integrasi nasional (35 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid merefleksikan pemahaman mengenai bagaimana cara pandang menghargai kebhinekaan dapat mencegah perpecahan ketika sistem sosial budaya di lingkungannya terus berubah (10 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan faktor-faktor perubahan sosial budaya dan pentingnya prinsip kebhinekaan demi keutuhan integrasi bangsa (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik pembelajaran terhadap elaborasi yang telah dikerjakan murid serta menyampaikan topik untuk pertemuan berikutnya (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan lembar panduan analisis yang memuat kata kunci pemantik hubungan kausalitas (faktor -> dampak majemuk -> solusi kebhinekaan), sedangkan murid yang lebih cepat diberikan skenario studi kasus kontemporer dengan dinamika multikultural yang lebih kompleks.
- Proses: Pada tahap mengaplikasi, murid yang membutuhkan scaffolding dapat berkonsultasi langsung pada contoh analogi yang diberikan guru, sementara murid berkemampuan lanjut melakukan elaborasi mandiri secara mendalam.
- Produk: Elaborasi disajikan dalam format Lembar Elaborasi Sosial Budaya; murid dengan pemahaman lanjut menyertakan analisis perbandingan 3 faktor secara utuh, sedangkan murid yang masih berkembang fokus mengelaborasi 2 faktor dengan panduan terstruktur.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik klasifikasi faktor perubahan: Murid mengidentifikasi 2 contoh situasi: (1) Kontak antarsuku melalui perdagangan dan (2) Sikap mempertahankan tradisi kelompok secara tertutup (kunci acuan: [1] adalah faktor pendorong perubahan sosial budaya; [2] adalah faktor penghambat perubahan sosial budaya).
Proses:- Penilaian ketepatan pengerjaan 4 kartu skenario perubahan pada tahap Mengaplikasi: (1) Skenario A = faktor iptek/komunikasi (pendorong); (2) Skenario B = sikap prasangka/eksklusif (penghambat); (3) Skenario C = kontak budaya/migrasi (pendorong akulturasi); (4) Skenario D = pertentangan/konflik sosial (penghambat integrasi bila tidak dimitigasi).
- Pemeriksaan Lembar Elaborasi Sosial Budaya: Menilai ketepatan murid dalam mengelaborasi keterkaitan 3 faktor perubahan (teknologi komunikasi, migrasi, dan etnosentrisme) terhadap dinamika masyarakat majemuk dan upaya mewujudkan integrasi bangsa berprinsip kebhinekaan.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman singkat di penutup sesi: Murid menuliskan 1 rumusan simpulan singkat mengenai fungsi prinsip kebhinekaan saat menghadapi perubahan sistem sosial budaya yang cepat di masyarakat majemuk (kriteria penerimaan operasional: simpulan menyatakan bahwa kebhinekaan menjadi pedoman toleransi dan penerimaan atas perbedaan sehingga perubahan budaya tidak memicu konflik melainkan memperkuat integrasi).
Formatif:- Asesmen diagnostik lisan di awal pembelajaran mengenai faktor pendorong dan penghambat perubahan sosial.
- Observasi ketepatan klasifikasi pada permainan kartu berpasangan 'Tebak Faktor & Dampak Integrasi'.
- Pemeriksaan ketepatan Lembar Elaborasi Sosial Budaya mengenai faktor perubahan sistem sosial budaya dan integrasi bangsa.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Mengelaborasi faktor perubahan sistem sosial budaya dalam masyarakat majemuk untuk integrasi bangsa | Belum mampu mengaitkan faktor perubahan sosial budaya dengan kondisi masyarakat majemuk maupun integrasi bangsa, atau uraian faktor tidak tepat sesuai materi. | Mampu menguraikan faktor perubahan sistem sosial budaya pada masyarakat majemuk, namun belum dapat mengelaborasikan keterkaitannya dengan upaya mewujudkan integrasi bangsa. | Mampu mengelaborasi faktor perubahan sistem sosial budaya dalam masyarakat majemuk secara tepat dan menghubungkannya dengan upaya mewujudkan integrasi bangsa berprinsip kebhinekaan secara runtut. | Mampu mengelaborasi seluruh faktor perubahan sistem sosial budaya secara mendalam, kritis, dan komprehensif dalam konteks kemajemukan masyarakat serta merumuskan implikasinya terhadap penguatan integrasi bangsa dengan prinsip kebhinekaan secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alur pembelajaran Memahami-Mengaplikasi-Merefleksi berjalan efektif dalam membantu murid mengelaborasi kaitan perubahan sosial dengan integrasi bangsa?
- Bagaimana keterlibatan aktif murid selama permainan kuis kartu berpasangan dan pengerjaan lembar elaborasi?
Murid:- Apa hal terpenting yang saya pelajari hari ini tentang menjaga persatuan di tengah perubahan budaya yang terjadi di sekitar kita?
- Bagian mana dari faktor perubahan sosial budaya yang menurut saya paling menantang untuk dipahami dan dijelaskan?
Pertemuan 7 — Mengomunikasikan Hasil Penyelidikan Perubahan Sistem Sosial Budaya Menggunakan Media Informasi — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 9.2.5 Mengomunikasikan hasil penyelidikan perubahan sistem sosial budaya dengan menggunakan media informasi yang tepat
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran, dan menyampaikan fokus kegiatan yaitu mengomunikasikan hasil penyelidikan perubahan sistem sosial budaya (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik kesiapan penyajian dengan meminta murid menjawab 2 pertanyaan pemantik singkat: (1) Sebutkan 1 media informasi visual yang cocok untuk data ringkas, dan (2) Apa isi utama laporan penyelidikan yang wajib disajikan? (acuan kriteria jawaban: [1] infografik/poster visual ringkas; [2] bentuk perubahan sosial, faktor penyebab, dan dampaknya bagi masyarakat) (10 menit).
- Guru mengaitkan hasil penyelidikan yang sudah dikumpulkan murid pada pertemuan sebelumnya dengan pentingnya memilih media penyajian yang tepat bagi audiens sekolah (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Berkesadaran):- Murid dalam kelompok mencermati 3 contoh format media informasi (infografik digital Canva, lembar buletin mini, dan slide presentasi ringkas) yang menampilkan hasil penyelidikan perubahan cara berbelanja daring dan transaksi nontunai (15 menit).
- Murid mengidentifikasi komponen pokok yang harus dikomunikasikan dalam media informasi, yaitu judul penyelidikan, bentuk perubahan, faktor pendorong, dan dampaknya terhadap integrasi sosial (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Kelompok menyusun draf akhir media informasi (memilih antara infografik digital atau lembar buletin dinding) yang memuat temuan penyelidikan perubahan sosial budaya lokal yang telah dilakukan kelompok (20 menit).
- Setiap kelompok menyajikan dan mengomunikasikan media informasinya dalam pameran mini meja kelas (gallery walk), di mana perwakilan kelompok memaparkan isi temuan perubahan sosial budaya kepada pengunjung meja (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid saling memberikan catatan umpan balik tertulis pada lembar catatan kunjung terkait kejelasan pesan dan kesesuaian media informasi yang digunakan kelompok penyaji (acuan: kejelasan data temuan dan ketepatan media) (10 menit).
- Kelompok membaca catatan umpan balik yang diterima dan merumuskan 1 hal perbaikan pada media informasinya agar pesan perubahan sosial budaya tersampaikan lebih komunikatif (10 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan prinsip utama dalam mengomunikasikan hasil penyelidikan sosial budaya menggunakan media informasi (5 menit).
- Guru memandu murid melakukan refleksi singkat mengenai pengalaman mengomunikasikan hasil kerja kelompok menggunakan media pilihan (3 menit).
- Guru mengingatkan murid untuk mempersiapkan diri menghadapi Asesmen Sumatif Bab Mitigasi Bencana dan Perubahan Sosial Budaya pada pertemuan berikutnya, lalu menutup pembelajaran dengan doa dan salam (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan contoh media informasi berbentuk visual grafis sederhana dan contoh infografik digital yang lebih kaya struktur data temuan.
- Proses: Kelompok yang membutuhkan bimbingan didampingi menyusun poin-poin pesan utama, sedangkan kelompok yang mandiri langsung mendesain tata letak media informasi secara penuh.
- Produk: Kelompok bebas menentukan jenis media informasi yang digunakan untuk mengomunikasikan hasil penyelidikan: infografik digital, slide ringkas, atau buletin cetak/tulis tangan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik lisan/tulis di awal sesi: (1) Sebutkan 1 media informasi visual yang cocok untuk data ringkas? (acuan: infografik, bagan ringkas, poster visual), (2) Apa komponen inti laporan penyelidikan yang wajib ada dalam media? (acuan: memuat bentuk perubahan sosial, faktor penyebab/pendorong, dan dampaknya bagi masyarakat).
Proses:- Observasi formatif saat penyusunan dan pengomunikasian hasil penyelidikan: guru memeriksa kelengkapan isi media (judul, data bentuk perubahan, faktor pendorong, dampak) dan kejelasan penyampaian pesan selama pameran mini meja kelas.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman akhir sesi: Murid menuliskan 1 alasan kesesuaian media informasi yang mereka pilih dengan temuan penyelidikan kelompoknya (kriteria penerimaan: jawaban mengaitkan karakter media yang dipilih, misalnya 'infografik dipilih karena banyak data persentase dan gambar', dengan kejelasan penyampaian temuan perubahan sosial budaya).
Formatif:- Penilaian unjuk kerja penyajian media informasi hasil penyelidikan menggunakan lembar observasi dan rubrik
- Catatan umpan balik antar-kelompok pada sesi pameran karya (gallery walk)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Kelengkapan Isi Hasil Penyelidikan dalam Media Informasi | Media informasi memuat kurang dari 2 komponen temuan (hanya memuat judul tanpa bentuk perubahan, faktor, atau dampaknya). | Media informasi memuat 2 komponen temuan (misalnya hanya memuat bentuk perubahan dan faktor, tanpa dampak). | Media informasi memuat secara lengkap 3 komponen pokok penyelidikan (bentuk perubahan sosial budaya, faktor pendorong, dan dampaknya). | Media informasi memuat 3 komponen pokok penyelidikan secara lengkap, rinci, dan disertai data pendukung konkret hasil penyelidikan. | | Ketepatan Penggunaan Media Informasi dalam Mengomunikasikan Pesan | Media informasi yang digunakan tidak terstruktur sehingga pesan hasil penyelidikan sulit dipahami audiens. | Media informasi yang digunakan cukup terstruktur, namun visualisasi atau penataan teks masih belum mendukung kejelasan pesan temuan. | Media informasi yang digunakan tepat, tata letak teks dan visual serasi sehingga pesan hasil penyelidikan terbaca jelas oleh audiens. | Media informasi yang digunakan sangat tepat, penataan visual dan keterbacaan pesan sangat efektif dan mandiri dalam menarik perhatian audiens. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah pemilihan media informasi yang beragam membantu murid mengomunikasikan temuan penyelidikan mereka secara efektif?
- Bagaimana keterlibatan setiap anggota kelompok selama sesi penyajian dan pertukaran umpan balik media informasi?
Murid:- Bagian mana dari media informasi kelompokmu yang paling jelas menyampaikan fakta perubahan sosial budaya kepada teman lain?
- Apa hal yang ingin kamu perbaiki pada caramu menyajikan data agar pesan lebih mudah dipahami orang lain?
Pertemuan 8 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 40 menit = 120 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 9.2.1 Menjelaskan faktor aktivitas manusia terhadap potensi bencana alam
- TP 9.2.2 Merefleksikan upaya mitigasi bencana untuk menunjang sustainable development goals (SDGs) dalam konteks lokal, regional, dan global
- TP 9.2.3 Menerapkan konsep mitigasi bencana melalui simulasi untuk memperkuat pemahaman dan keterampilan
- TP 9.2.4 Mengelaborasi perubahan sistem sosial budaya dalam masyarakat yang majemuk untuk mewujudkan integrasi bangsa dengan prinsip kebhinekaan
- TP 9.2.5 Mengomunikasikan hasil penyelidikan perubahan sistem sosial budaya dengan menggunakan media informasi yang tepat
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan ruang kelas, dan menyampaikan bahwa pertemuan ke-8 adalah sesi Asesmen Sumatif Bab 2 untuk mengukur penguasaan materi mitigasi bencana dan perubahan sosial budaya secara utuh (3 menit).
- Guru membimbing murid melakukan hening sejenak untuk memusatkan konsentrasi dan menumbuhkan kesadaran diri agar dapat mengerjakan tugas asesmen secara jujur, mandiri, dan bertanggung jawab (2 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Guru membagikan Lembar Asesmen Tertulis Uraian dan menjelaskan teknis pengerjaan 3 butir soal: Soal 1 (menjelaskan kausalitas 3 aktivitas manusia: alih fungsi lahan lereng perbukitan, pembuangan sampah ke saluran air, dan perusakan mangrove pantai terhadap potensi bencana banjir bandang, longsor, dan abrasi); Soal 2 (menuliskan refleksi 2 kontribusi nyata mitigasi bencana struktural dan non-struktural terhadap pencapaian pilar SDGs nomor 11 dan 13 secara lokal hingga global); Soal 3 (menelaah studi kasus modernisasi digital di masyarakat majemuk dengan menguraikan 2 faktor pendorong dan merumuskan 1 solusi menjaga integrasi bangsa berlandaskan kebhinekaan) (5 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Murid secara individual dan mandiri mengerjakan Lembar Asesmen Tertulis Uraian (TP 1, TP 2, TP 4) dengan batas waktu pengerjaan 45 menit, di mana murid menguraikan jawaban berdasarkan acuan kunci jawaban: Soal 1 mengaitkan alih fungsi lahan dengan longsor/banjir bandang, penumpukan sampah dengan banjir luapan, dan pembabatan mangrove dengan abrasi pantai; Soal 2 merefleksikan mitigasi tanggul/rute evakuasi/edukasi kebencanaan terhadap target SDGs 11 permukiman aman dan SDGs 13 aksi iklim; Soal 3 mengelaborasi penetrasi teknologi komunikasi dan keterbukaan informasi sebagai pendorong integrasi yang diperkuat lewat sikap toleransi dan konsensus nilai kebhinekaan (45 menit).
- Murid dalam kelompok regu (4 kelompok @ 7 murid bergantian tampil masing-masing 6-7 menit) mempraktikkan unjuk kerja simulasi mitigasi bencana gempa bumi (TP 3): mendemonstrasikan tindakan penyelamatan diri drop, cover, hold on di bawah meja selama guncangan, lalu berjalan tertib melindungi kepala menyusuri jalur evakuasi menuju titik kumpul aman sekolah sesuai instruksi tanda bahaya (26 menit).
- Murid dalam kelompok kerja (5 kelompok @ 5-6 murid bergantian tampil masing-masing 6-7 menit) mempresentasikan unjuk kerja penyajian media informasi poster/infografis (TP 5) hasil penyelidikan bentuk perubahan sosial budaya (modernisasi, akulturasi) dan faktor pendorong/penghambat di lingkungan sekitar secara lisan dan visual (34 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid mengisi lembar refleksi belajar sumatif singkat mengenai tantangan, pengalaman belajar selama Bab 2, dan komitmen menerapkan mitigasi serta merawat keragaman budaya dalam kehidupan bermasyarakat (3 menit).
Penutup:- Guru mengumpulkan seluruh lembar asesmen tertulis dan lembar observasi unjuk kerja, memberikan apresiasi atas kedisiplinan dan kerja sama seluruh murid, serta menutup rangkaian pembelajaran Bab 2 dengan rangkuman dan doa bersama (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Memberikan lembar soal tertulis dengan format ukuran huruf lebih besar bagi murid dengan hambatan visual tanpa mengubah bobot pertanyaan maupun indikator penilaian.
- Proses: Menyediakan akses jalur landai tanpa undakan saat simulasi evakuasi bagi murid dengan keterbatasan mobilitas fisik agar tetap dapat mempraktikkan navigasi rute evakuasi secara aman.
- Produk: Format penyajian media informasi pada unjuk kerja penyelidikan dapat berupa poster cetak/manual atau infografis digital sesuai ketersediaan sarana murid tanpa mengubah kriteria ketepatan isi.
Asesmen Pertemuan:Sumatif Bab:- Asesmen kombinasi tertulis uraian-reflektif dan unjuk kerja terpadu (simulasi mitigasi bencana serta presentasi media informasi penyelidikan perubahan sosial budaya): Lembar asesmen tertulis komprehensif berisi penjelasan kausalitas aktivitas manusia terhadap bencana, tulisan refleksi kaitan mitigasi dengan SDGs, dan lembar analisis telaah dampak perubahan sosial budaya terhadap integrasi bangsa, disertai unjuk kerja kelompok berupa peragaan simulasi prosedur penyelamatan diri/evakuasi bencana di sekolah dan penyajian paparan media informasi hasil penyelidikan perubahan sosial budaya.
- Tes tertulis uraian dan analisis kasus terstruktur serentak: Lembar jawaban uraian tertulis murid yang memuat: (1) penjelasan sebab-akibat faktor aktivitas manusia terhadap potensi bencana alam di lingkungan, (2) tulisan reflektif mengenai kontribusi nyata upaya mitigasi bencana terhadap pencapaian pilar SDGs dalam konteks lokal hingga global, dan (3) lembar telaah analisis studi kasus dinamika perubahan sistem sosial budaya serta dampaknya terhadap integrasi bangsa dengan prinsip kebhinekaan. (50 menit; individual; instrumen: Pedoman penskoran dan rubrik penilaian jawaban uraian/analisis kasus)
- Unjuk kerja praktik simulasi mitigasi bencana kelompok: Kinerja tim dalam mendemonstrasikan tindakan respons cepat penyelamatan diri (drop, cover, hold on) dan navigasi rute evakuasi aman di lingkungan sekolah sesuai skenario darurat bencana gempa bumi/kebakaran yang dinilai secara serentak per kelompok regu (4 kelompok @ 7 murid bergantian tampil 6-7 menit). (30 menit; kelompok; instrumen: Lembar observasi dan rubrik unjuk kerja kesiapsiagaan simulasi evakuasi)
- Presentasi unjuk kerja penyajian media informasi kelompok: Paparan lisan dan sajian media informasi (infografis/poster kelompok) mengenai temuan hasil penyelidikan bentuk serta faktor pendorong/penghambat perubahan sistem sosial budaya di masyarakat (5 kelompok @ 5-6 murid tampil masing-masing 7-8 menit termasuk tanggapan). (40 menit; kelompok; instrumen: Rubrik penilaian presentasi dan keterbacaan media informasi)
Sumatif:- Asesmen kombinasi tertulis uraian-reflektif dan unjuk kerja terpadu (simulasi mitigasi bencana serta presentasi media informasi penyelidikan perubahan sosial budaya): Lembar asesmen tertulis komprehensif berisi penjelasan kausalitas aktivitas manusia terhadap bencana, tulisan refleksi kaitan mitigasi dengan SDGs, dan lembar analisis telaah dampak perubahan sosial budaya terhadap integrasi bangsa, disertai unjuk kerja kelompok berupa peragaan simulasi prosedur penyelamatan diri/evakuasi bencana di sekolah dan penyajian paparan media informasi hasil penyelidikan perubahan sosial budaya.
- Tes tertulis uraian dan analisis kasus terstruktur serentak: Lembar jawaban uraian tertulis murid yang memuat: (1) penjelasan sebab-akibat faktor aktivitas manusia terhadap potensi bencana alam di lingkungan, (2) tulisan reflektif mengenai kontribusi nyata upaya mitigasi bencana terhadap pencapaian pilar SDGs dalam konteks lokal hingga global, dan (3) lembar telaah analisis studi kasus dinamika perubahan sistem sosial budaya serta dampaknya terhadap integrasi bangsa dengan prinsip kebhinekaan. (50 menit; individual; instrumen: Pedoman penskoran dan rubrik penilaian jawaban uraian/analisis kasus)
- Unjuk kerja praktik simulasi mitigasi bencana kelompok: Kinerja tim dalam mendemonstrasikan tindakan respons cepat penyelamatan diri (drop, cover, hold on) dan navigasi rute evakuasi aman di lingkungan sekolah sesuai skenario darurat bencana gempa bumi/kebakaran yang dinilai secara serentak per kelompok regu (4 kelompok @ 7 murid bergantian tampil 6-7 menit). (30 menit; kelompok; instrumen: Lembar observasi dan rubrik unjuk kerja kesiapsiagaan simulasi evakuasi)
- Presentasi unjuk kerja penyajian media informasi kelompok: Paparan lisan dan sajian media informasi (infografis/poster kelompok) mengenai temuan hasil penyelidikan bentuk serta faktor pendorong/penghambat perubahan sistem sosial budaya di masyarakat (5 kelompok @ 5-6 murid tampil masing-masing 7-8 menit termasuk tanggapan). (40 menit; kelompok; instrumen: Rubrik penilaian presentasi dan keterbacaan media informasi)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Penjelasan Kausalitas Faktor Aktivitas Manusia terhadap Bencana (TP 9.2.1) | Belum mampu menjelaskan keterkaitan aktivitas manusia dengan potensi bencana (hanya menyebutkan nama aktivitas tanpa penjelasan kausalitas atau salah analisis). | Menjelaskan secara tepat hubungan sebab-akibat 1 dari 3 aktivitas manusia terhadap potensi bencana alam (acuan: alih fungsi lahan lereng perbukitan menyebabkan longsor, pembuangan sampah ke sungai memicu banjir luapan, perusakan mangrove memicu abrasi pantai). | Menjelaskan secara tepat hubungan sebab-akibat 2 dari 3 aktivitas manusia terhadap potensi bencana alam sesuai acuan yang ditentukan. | Menjelaskan secara tepat dan lengkap hubungan sebab-akibat seluruhnya (3 dari 3 aktivitas manusia: alih fungsi lahan dengan longsor, pembuangan sampah dengan banjir luapan, perusakan mangrove dengan abrasi) secara runtut dan logis. | | Refleksi Mitigasi Bencana terhadap Pencapaian SDGs (TP 9.2.2) | Belum mampu merefleksikan kontribusi upaya mitigasi bencana terhadap pencapaian pilar SDGs lokal hingga global. | Merefleksikan kontribusi mitigasi bencana terhadap pencapaian pilar SDGs namun baru mencakup 1 konteks atau belum mengaitkan pilar tujuan secara tepat (acuan: SDGs 11 tentang Kota dan Permukiman Berkelanjutan atau SDGs 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim). | Merefleksikan secara tepat kontribusi nyata mitigasi bencana lokal/regional terhadap pencapaian salah satu pilar SDGs (SDGs 11 atau SDGs 13) dengan uraian argumen yang terstruktur. | Merefleksikan secara mendalam dan tepat kontribusi nyata upaya mitigasi bencana (struktural dan non-struktural) dalam konteks lokal hingga global terhadap pencapaian kedua pilar SDGs (SDGs 11 dan SDGs 13). | | Penerapan Mitigasi melalui Simulasi Kesiapsiagaan (TP 9.2.3) | Tidak mampu mendemonstrasikan tindakan perlindungan diri (drop, cover, hold on) dan rute evakuasi sesuai protokol darurat simulasi gempa. | Mendemonstrasikan tindakan perlindungan diri (drop, cover, hold on) namun masih ragu/keliru pada navigasi rute evakuasi menuju titik kumpul aman (acuan: postur merunduk-berlindung di bawah meja dan memegang kaki meja, bergerak keluar tertib melindungi kepala). | Mendemonstrasikan seluruh prosedur tindakan perlindungan diri (drop, cover, hold on) dan mengikuti jalur evakuasi menuju titik kumpul aman dengan tertib sesuai skenario darurat. | Mendemonstrasikan seluruh prosedur tindakan kesiapsiagaan (drop, cover, hold on, navigasi evakuasi aman, dan prosedur absensi di titik kumpul) secara cepat, tepat, konsisten, dan tanggap instruksi tanpa kepanikan. | | Elaborasi Perubahan Sistem Sosial Budaya dan Integrasi (TP 9.2.4) | Belum mampu mengelaborasi dinamika perubahan sosial budaya maupun dampaknya terhadap integrasi bangsa. | Mengelaborasi faktor perubahan sistem sosial budaya namun belum mampu merumuskan keterkaitannya dengan upaya mewujudkan integrasi bangsa dalam masyarakat majemuk (acuan: pengaruh modernisasi/teknologi terhadap pola hidup dan potensi gesekan sosial). | Mengelaborasi faktor pendorong/penghambat perubahan sosial budaya dan mengaitkannya dengan pentingnya menjaga integrasi bangsa dengan prinsip kebhinekaan. | Mengelaborasi secara komprehensif faktor perubahan sistem sosial budaya, menganalisis tantangannya terhadap integrasi bangsa, serta memberikan rekomendasi penguatan nilai kebhinekaan secara logis dan kontekstual. | | Penyajian Media Informasi Hasil Penyelidikan (TP 9.2.5) | Media informasi tidak memuat data hasil penyelidikan perubahan sosial budaya dan penyampaian informasi tidak terstruktur. | Menyajikan media informasi yang memuat sebagian data penyelidikan perubahan sosial budaya namun keterbacaan data visual atau penyampaian lisan masih kurang jelas (acuan: poster/infografis memuat definisi, contoh bentuk perubahan, dan faktor penyebab). | Mengomunikasikan seluruh hasil penyelidikan perubahan sosial budaya secara sistematis menggunakan media informasi (infografis/poster) yang runtut, jelas, dan mudah dipahami. | Mengomunikasikan hasil penyelidikan perubahan sistem sosial budaya secara sangat terstruktur, komunikatif, dan menarik dengan keselarasan penuh antara data penyelidikan dan sajian media informasi. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu pembagian 3 bentuk tugas sumatif (tertulis, simulasi, dan presentasi media) terlaksana secara efektif dan tertib di kelas?
- Bagaimana tingkat penguasaan murid secara umum pada dimensi pemahaman konsep (kausalitas bencana, SDGs, integrasi) dibandingkan keterampilan proses (simulasi mitigasi dan komunikasi penyelidikan)?
Murid:- Dari seluruh materi mitigasi bencana dan perubahan sosial budaya yang diuji hari ini, bagian mana yang paling saya kuasai dan paling relevan dengan kehidupan saya sehari-hari?
- Keterampilan praktis apa yang telah saya kuasai selama mempelajari mitigasi dan perubahan sosial budaya yang dapat saya terapkan saat menghadapi situasi darurat atau interaksi di lingkungan beragam?
SUMBER BELAJAR- Buku Panduan Guru IPS Kelas IX Revisi (Kemendikbudristek), Bab 2 Mitigasi Bencana dan Perubahan Sosial Budaya
- Buku Siswa IPS Kelas IX Revisi (Kemendikbudristek), Bab 2 Subbab A Halaman 90-101
- Set Kartu Sebab-Akibat Bencana (Aktivitas Manusia vs Jenis Bencana Alam)
- Lembar Analisis Kasus Aktivitas Manusia dan Bencana Lingkungan Sekitar
- Buku Panduan Guru IPS Kelas IX Edisi Revisi, Kemendikbudristek
- Buku Siswa IPS Kelas IX Edisi Revisi, Bab 2: Mitigasi Bencana dan Perubahan Sosial Budaya
- Lembar Telaah Kasus: Praktik Kearifan Arsitektur Tahan Gempa dan Konservasi Mangrove Pesisir
- Bahan tayang infografis Target Sasaran SDGs Nomor 11 (Sustainable Cities and Communities)
- Buku Panduan Guru IPS Kelas IX SMP/MTs Kemendikbudristek Edisi Revisi
- Buku Siswa IPS Kelas IX SMP/MTs Kemendikbudristek Edisi Revisi (Bab 2: Mitigasi Bencana dan Perubahan Sosial Budaya)
- Infografis Sekretariat Nasional SDGs Indonesia dan Profil AHA Centre ASEAN
- Buku Panduan Guru IPS Kelas IX Revisi (Bab 2, Subbab Aktivitas 2.3 Simulasi Bencana Gempa Bumi di Sekolah)
- Buku Siswa IPS Kelas IX Revisi (Bab 2, Halaman 107)
- Denah Rute Evakuasi dan Titik Kumpul Sekolah
- Peluit / Bel Penanda Simulasi Darurat
- Buku Panduan Guru Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMP/MTs Kelas IX, Kemendikbudristek 2022, Bab 2
- Buku Siswa Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMP/MTs Kelas IX, Kemendikbudristek 2022, Halaman 127–129
- Set kartu kasus 'Pilah Dinamika Sosial' dan Lembar Kerja Kelompok
- Buku Panduan Guru Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMP/MTs Kelas IX (Edisi Revisi), Bab 2
- Buku Siswa Ilmu Pengetahuan Sosial untuk SMP/MTs Kelas IX (Edisi Revisi), Bab 2: Mitigasi Bencana dan Perubahan Sosial Budaya
- Kartu Skenario 'Tebak Faktor & Dampak Integrasi'
- Lembar Elaborasi Sosial Budaya
- Buku Panduan Guru IPS SMP Kelas IX Kemendikbudristek
- Buku Siswa IPS SMP Kelas IX Kemendikbudristek Bab 2
- Aplikasi desain Canva / kertas karton, spidol warna, lembar buletin mini
- Contoh lembar infografik hasil penyelidikan perubahan sosial budaya masyarakat
- Buku Panduan Guru IPS Kelas IX Edisi Revisi (Kemendikbudristek, Bab 2)
- Buku Siswa IPS Kelas IX Edisi Revisi (Kemendikbudristek, Bab 2)
- Lembar Asesmen Sumatif Tertulis Uraian dan Studi Kasus
- Instrumen Lembar Observasi Praktik Simulasi Kesiapsiagaan Bencana
- Media Informasi Kelompok (Infografis/Poster Hasil Penyelidikan Perubahan Sosial Budaya)
- Rambu-rambu Jalur Evakuasi dan Denah Titik Kumpul Lingkungan Sekolah
|