MODUL AJAR Bahasa Inggris — Kelas 10 (Fase E) Topik: Merencanakan Penulisan Fractured Story: Menyusun Kerangka Narasi Alternatif INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | Bahasa Inggris |
|---|
| Fase / Kelas | Fase E / Kelas 10 |
|---|
| Topik | Merencanakan Penulisan Fractured Story: Menyusun Kerangka Narasi Alternatif |
|---|
| Alokasi Waktu | 2x45 menit |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 1 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- Murid dapat menyusun kerangka teks naratif fractured story (meliputi perubahan orientasi, komplikasi, dan/atau resolusi) dari cerita tradisional yang sudah dipilih, menggunakan panduan 'What if' dan 'What is Next?' sebagai struktur perencanaan.
- Murid dapat mengungkapkan pendapat dan mempertahankan argumen secara lisan mengenai pilihan perubahan cerita yang mereka usulkan dalam kerangka fractured story, dengan menggunakan conditional sentences yang tepat.
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | | | Kewargaan | | | Penalaran Kritis | ✓ | | Kreativitas | ✓ | | Kolaborasi | ✓ | | Kemandirian | ✓ | | Kesehatan | | | Komunikasi | ✓ |
PERTANYAAN PEMANTIK- Bayangkan jika Cinderella menolak pergi ke pesta kerajaan — apa yang akan terjadi selanjutnya, dan bagaimana akhir ceritanya akan berubah?
- Mengapa kita perlu merencanakan perubahan cerita secara terstruktur sebelum mulai menulis, alih-alih langsung menulis begitu saja?
- Jika kamu bisa mengubah SATU hal dari cerita rakyat favoritmu — karakter, latar, atau akhir cerita — apa yang akan kamu ubah dan mengapa?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1Pendahuluan:- Guru menyapa murid dan mengecek kehadiran (2 menit).
- Asesmen Awal (Diagnostik): Guru menampilkan dua gambar cerita rakyat terkenal (misalnya Malin Kundang dan Bawang Merah Bawang Putih) di papan/layar, lalu meminta murid menuliskan di sticky note atau kertas kecil: (a) nama cerita yang mereka pilih untuk diubah, dan (b) satu elemen yang ingin mereka ubah. Guru mengumpulkan dan membaca sekilas untuk memetakan kesiapan murid (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini: menyusun kerangka fractured story menggunakan panduan 'What if' dan 'What is Next?', serta berlatih menyampaikan dan mempertahankan argumen pilihan perubahan cerita secara lisan (3 menit).
- Guru mengajukan pertanyaan pemantik secara lisan kepada kelas dan meminta 2–3 murid merespons singkat untuk membangun rasa ingin tahu (5 menit).
- Guru mengingatkan kembali secara singkat struktur teks naratif (orientasi, komplikasi, resolusi) dan penggunaan conditional sentences (If + Simple Past, would + V1) yang telah dipelajari sebelumnya sebagai bekal kegiatan inti (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru menampilkan satu contoh kerangka fractured story lengkap di papan/layar — misalnya versi alternatif cerita Puteri Mandalika — menggunakan format Narrative Text Organizer (kolom: Traditional Version vs. My Version/Fractured) dan panduan 'What if' serta 'What is Next?' (5 menit).
- Guru menjelaskan secara eksplisit bagaimana setiap bagian kerangka (orientasi, komplikasi, resolusi) dapat diubah, dan menunjukkan contoh penggunaan conditional sentence dalam panduan 'What if': misalnya, 'What if Puteri Mandalika decided to choose one of the princes? → If Puteri Mandalika chose one prince, the other princes would be angry at first.' (5 menit).
- Murid membaca contoh kerangka secara mandiri selama 2 menit, kemudian berpasangan mendiskusikan: 'Perubahan apa saja yang dilakukan? Apakah perubahan itu logis dan menarik?' Pasangan berbagi temuan singkat ke kelas (5 menit).
- Guru mengklarifikasi pertanyaan yang muncul dan menegaskan kriteria kerangka yang baik: perubahan harus konsisten, logis, dan menggunakan minimal satu conditional sentence dalam panduan 'What if' (3 menit).
Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):- Murid bekerja secara mandiri memilih satu cerita tradisional/rakyat yang sudah mereka kenal (boleh cerita Indonesia maupun internasional). Guru mengingatkan bahwa murid boleh memilih cerita yang sudah diidentifikasi pada asesmen awal (2 menit).
- Murid mengisi Narrative Text Organizer di lembar kerja yang disediakan guru: mengisi kolom 'Traditional Version' (judul, karakter, latar, masalah, solusi) terlebih dahulu untuk memastikan pemahaman cerita asli (5 menit).
- Murid mengisi panduan 'What if' dan 'What is Next?' untuk merencanakan perubahan pada minimal satu elemen cerita (orientasi, komplikasi, atau resolusi). Murid wajib menuliskan kalimat 'What if' menggunakan conditional sentence yang tepat (misalnya: 'What if the tortoise gave up halfway? → If the tortoise gave up, the hare would win and become arrogant.') (10 menit).
- Diferensiasi proses: Murid yang membutuhkan dukungan lebih dapat menggunakan sentence starters yang disediakan guru ('What if [character] decided to... → If [character] decided to..., [consequence] would...'); murid yang sudah mahir didorong untuk mengubah lebih dari satu elemen dan menggunakan variasi conditional sentences (Type 1 dan Type 2).
- Setelah kerangka selesai, murid bergabung dalam kelompok kecil (3–4 orang). Setiap murid mempresentasikan kerangka fractured story-nya secara lisan selama ±1,5 menit, menyampaikan pilihan perubahan dan alasannya menggunakan conditional sentences (15 menit).
- Anggota kelompok lain memberikan tanggapan/pertanyaan, dan murid yang presentasi mempertahankan argumennya. Guru berkeliling memantau, memberikan umpan balik lisan singkat, dan mencatat observasi untuk asesmen proses.
- Guru memilih 2–3 kelompok untuk berbagi satu kerangka terbaik ke seluruh kelas secara singkat, kemudian memberikan apresiasi dan umpan balik konstruktif (5 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Guru memfasilitasi refleksi kelas dengan mengajukan pertanyaan: 'Apa yang paling menantang saat menyusun kerangka fractured story tadi? Bagaimana conditional sentences membantumu merencanakan perubahan cerita?' Murid merespons secara lisan atau menuliskan di kertas (5 menit).
- Murid mengisi checklist mandiri (adaptasi dari Task 6B Buku Siswa) untuk mengevaluasi kelengkapan kerangka mereka: apakah sudah mengubah karakter/latar/masalah/resolusi, apakah sudah menggunakan conditional sentence, apakah perubahan logis dan konsisten (3 menit).
- Guru meminta 2 murid berbagi refleksi: satu hal yang berhasil mereka lakukan dengan baik dan satu hal yang ingin mereka perbaiki pada kerangka mereka (3 menit).
- Guru menyimpulkan pembelajaran: menegaskan kembali fungsi kerangka sebagai fondasi penulisan fractured story yang akan dikembangkan pada pertemuan berikutnya (2 menit).
Penutup:- Asesmen Akhir (Sumatif Pertemuan): Murid mengumpulkan lembar Narrative Text Organizer dan panduan 'What if'/'What is Next?' yang telah diisi sebagai bukti hasil belajar pertemuan ini. Guru menginformasikan bahwa lembar ini akan dinilai menggunakan rubrik yang sudah disampaikan (3 menit).
- Guru memberikan umpan balik umum terhadap kualitas kerangka yang diamati selama kegiatan, menyebutkan pola kekuatan dan area yang perlu diperkuat (2 menit).
- Guru menyampaikan tindak lanjut: murid diminta menyempurnakan kerangka mereka di rumah jika diperlukan, karena kerangka ini akan menjadi dasar penulisan draf fractured story pada pertemuan berikutnya (2 menit).
- Guru menutup pembelajaran dengan mengajak murid mengapresiasi usaha satu sama lain dan mengingatkan bahwa setiap cerita alternatif yang mereka buat mencerminkan cara berpikir kreatif yang unik (1 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan dukungan dapat memilih cerita yang lebih sederhana dan pendek (misalnya fabel singkat seperti 'The Ant and the Grasshopper'), sementara murid yang sudah mahir dapat memilih cerita dengan plot lebih kompleks (misalnya cerita rakyat multi-tokoh seperti Sangkuriang atau Romeo and Juliet versi singkat).
- Proses: Murid yang membutuhkan dukungan diberikan sentence starters untuk conditional sentences dan kerangka yang sudah sebagian terisi sebagai scaffolding. Murid yang mahir diminta mengubah lebih dari satu elemen cerita dan menggunakan variasi conditional sentences (Type 1 dan Type 2) serta menambahkan moda visual (sketsa karakter/latar) pada kerangka mereka.
- Produk: Murid yang membutuhkan dukungan cukup mengubah satu elemen cerita (misalnya hanya resolusi) dalam kerangka mereka. Murid yang mahir diharapkan menghasilkan kerangka yang mengubah minimal tiga elemen cerita secara kohesif dan mempresentasikannya dengan argumen yang lebih elaboratif menggunakan conditional sentences yang bervariasi.
ASESMENAwal:- Murid menuliskan di sticky note/kertas kecil: (a) nama cerita tradisional yang ingin mereka ubah, dan (b) satu elemen yang ingin diubah. Guru membaca sekilas untuk memetakan kesiapan dan pengetahuan awal murid tentang cerita tradisional dan konsep perubahan narasi.
- Guru mengajukan pertanyaan lisan singkat: 'Siapa yang masih ingat apa itu conditional sentence? Bisakah kamu beri satu contoh?' untuk mengecek pemahaman awal tentang fitur bahasa yang akan digunakan.
Proses:- Observasi berkeliling saat murid mengisi Narrative Text Organizer: guru memperhatikan apakah murid dapat mengidentifikasi elemen cerita asli dengan benar sebelum merencanakan perubahan.
- Pemantauan penggunaan conditional sentences pada panduan 'What if': guru memberikan umpan balik korektif langsung jika ditemukan kesalahan struktur kalimat.
- Observasi presentasi lisan dalam kelompok kecil: guru menggunakan lembar observasi sederhana untuk mencatat kualitas argumen dan penggunaan bahasa setiap murid.
- Checklist mandiri murid di akhir tahap Mengaplikasi sebagai refleksi proses sebelum presentasi.
Akhir:- Pengumpulan lembar kerja Narrative Text Organizer dan panduan 'What if'/'What is Next?' yang telah diisi murid, sebagai bukti pencapaian TP 10.6.6.1. Dinilai menggunakan rubrik aspek: kelengkapan kerangka, kesesuaian dan kreativitas perubahan narasi, serta ketepatan penggunaan conditional sentences.
- Penilaian presentasi lisan dalam kelompok kecil sebagai bukti pencapaian TP 10.6.6.2. Dinilai menggunakan rubrik aspek: kejelasan penyampaian pendapat, ketepatan penggunaan conditional sentences, dan kemampuan mempertahankan argumen saat ditanya.
Formatif:- Observasi guru saat murid berdiskusi berpasangan pada tahap Memahami: guru mencatat pemahaman murid terhadap struktur kerangka fractured story.
- Pemantauan guru saat murid mengisi Narrative Text Organizer dan panduan 'What if'/'What is Next?': guru memberikan umpan balik lisan langsung kepada murid yang mengalami kesulitan.
- Observasi presentasi lisan dalam kelompok kecil: guru menilai kemampuan murid menyampaikan dan mempertahankan argumen menggunakan conditional sentences.
- Checklist mandiri murid pada tahap Merefleksi sebagai asesmen diri (self-assessment).
Sumatif:- Pengumpulan lembar Narrative Text Organizer dan panduan 'What if'/'What is Next?' yang telah diisi murid, dinilai menggunakan rubrik 4 level untuk aspek kelengkapan kerangka, kesesuaian perubahan narasi, dan penggunaan conditional sentences.
- Penilaian presentasi lisan dalam kelompok kecil menggunakan rubrik untuk aspek kejelasan argumen, penggunaan conditional sentences, dan kemampuan mempertahankan pendapat.
RUBRIK PENILAIAN| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Kelengkapan Kerangka Fractured Story (TP 10.6.6.1) | Murid hanya mengisi sebagian kecil Narrative Text Organizer (kurang dari 2 elemen) dan tidak melengkapi panduan 'What if'/'What is Next?'. | Murid mengisi Narrative Text Organizer dengan 2–3 elemen dan melengkapi panduan 'What if'/'What is Next?' namun perubahan yang diusulkan tidak jelas atau tidak konsisten dengan cerita asli. | Murid mengisi Narrative Text Organizer secara lengkap dan melengkapi panduan 'What if'/'What is Next?' dengan perubahan yang jelas dan logis pada minimal satu elemen cerita (orientasi, komplikasi, atau resolusi). | Murid mengisi Narrative Text Organizer secara lengkap dan detail, serta melengkapi panduan 'What if'/'What is Next?' dengan perubahan yang kreatif, logis, dan konsisten pada lebih dari satu elemen cerita, disertai penjelasan yang kohesif. | | Ketepatan Penggunaan Conditional Sentences dalam Kerangka (TP 10.6.6.1 & 10.6.6.2) | Murid tidak menggunakan conditional sentences dalam panduan 'What if' atau menggunakannya dengan struktur yang salah secara konsisten. | Murid menggunakan conditional sentences namun dengan banyak kesalahan struktur (misalnya penggunaan tense yang tidak tepat) sehingga makna kurang jelas. | Murid menggunakan conditional sentences dengan struktur yang sebagian besar tepat (minimal Type 2: If + Simple Past, would + V1) sehingga makna perubahan cerita dapat dipahami dengan jelas. | Murid menggunakan conditional sentences dengan struktur yang tepat dan bervariasi (Type 1 dan/atau Type 2), serta mengintegrasikannya secara natural dalam kerangka dan presentasi lisan. | | Kemampuan Menyampaikan dan Mempertahankan Argumen Lisan (TP 10.6.6.2) | Murid tidak dapat menyampaikan pilihan perubahan cerita secara lisan, atau hanya membaca teks tanpa penjelasan argumen. | Murid dapat menyampaikan pilihan perubahan cerita secara lisan namun argumen tidak jelas atau tidak dapat mempertahankan pendapat saat ditanya oleh teman. | Murid dapat menyampaikan pilihan perubahan cerita secara lisan dengan argumen yang jelas dan dapat merespons pertanyaan teman dengan jawaban yang relevan menggunakan conditional sentences. | Murid dapat menyampaikan pilihan perubahan cerita secara lisan dengan argumen yang kuat, terstruktur, dan persuasif, serta mempertahankan pendapat dengan percaya diri menggunakan conditional sentences yang tepat dan bervariasi. | | Kreativitas dan Kesesuaian Perubahan Narasi (TP 10.6.6.1) | Perubahan yang diusulkan tidak relevan dengan cerita asli atau hanya mengubah detail yang sangat minor (misalnya hanya nama karakter) tanpa dampak pada alur cerita. | Perubahan yang diusulkan relevan dengan cerita asli namun kurang kreatif atau hanya mengikuti contoh yang diberikan guru tanpa modifikasi berarti. | Perubahan yang diusulkan relevan, logis, dan menunjukkan kreativitas dalam mengubah minimal satu elemen utama cerita (karakter, latar, masalah, atau resolusi) dengan dampak yang jelas pada alur. | Perubahan yang diusulkan sangat kreatif, orisinal, dan kohesif — mengubah lebih dari satu elemen utama cerita dengan cara yang menghasilkan narasi alternatif yang menarik dan bermakna. |
REFLEKSIRefleksi Guru:- Apakah seluruh murid dapat memahami dan menggunakan panduan 'What if' dan 'What is Next?' untuk menyusun kerangka fractured story? Apa yang perlu saya jelaskan lebih lanjut pada pertemuan berikutnya?
- Apakah scaffolding yang saya berikan (sentence starters, contoh kerangka) sudah cukup membantu murid yang membutuhkan dukungan, tanpa membatasi kreativitas murid yang sudah mahir?
- Seberapa efektif kegiatan presentasi lisan dalam kelompok kecil dalam mendorong murid menggunakan conditional sentences secara natural? Apa yang perlu saya perbaiki dalam pengelolaan kegiatan ini?
- Apakah alokasi waktu untuk setiap tahap (Memahami, Mengaplikasi, Merefleksi) sudah proporsional? Tahap mana yang perlu penyesuaian waktu?
Refleksi Murid:- Apa yang paling kamu pelajari hari ini tentang cara merencanakan fractured story? Apakah kamu merasa lebih siap untuk menulis ceritamu?
- Bagian mana yang paling menantang bagimu: mengisi kerangka cerita, menggunakan conditional sentences, atau menyampaikan argumenmu secara lisan? Mengapa?
- Apakah perubahan cerita yang kamu rencanakan sudah cukup kreatif dan logis? Apa yang ingin kamu perbaiki atau tambahkan pada kerangkamu?
SUMBER BELAJAR- Buku Siswa: Bahasa Inggris 'Work in Progress' untuk SMA/SMK/MA Kelas X (Task 5 dan Task 6, Bab 6 Fractured Stories)
- Buku Panduan Guru: Bahasa Inggris 'Work in Progress' untuk SMA/SMK/MA Kelas X (Bab 6, halaman 141–158)
- Lembar Kerja Narrative Text Organizer (disiapkan guru, berisi kolom Traditional Version vs. My Version/Fractured, serta panduan 'What if' dan 'What is Next?')
- Lembar Checklist Mandiri (adaptasi dari Task 6B Buku Siswa)
- Contoh kerangka fractured story cerita Puteri Mandalika (disiapkan guru sebagai model)
- Proyektor/layar untuk menampilkan contoh kerangka dan gambar cerita rakyat
- Sticky note atau kertas kecil untuk asesmen awal
- Akses internet (opsional, untuk murid yang ingin mencari ringkasan cerita tradisional yang dipilih)
|