LKPDPertemuan 2Bab 3Fase ASemester 1

LKPD Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti Kelas 2: Menemukan Budaya Komunikasi yang Bijaksana Berdasarkan Kisah Jataka

LKPD ini disusun untuk satu pertemuan Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti kelas 2 dengan topik "Menemukan Budaya Komunikasi yang Bijaksana Berdasarkan Kisah Jataka".

MEJAGURU.ID - DOKUMEN LKPD

LKPD Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti Kelas 2: Menemukan Budaya Komunikasi yang Bijaksana Berdasarkan Kisah Jataka

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti - Kelas 2

Bab 3 Pertemuan 2

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD)

Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti — Kelas 2 (Fase A)

Topik: Menemukan Budaya Komunikasi yang Bijaksana Berdasarkan Kisah Jataka

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti
Fase / KelasFase A / Kelas 2
TopikMenemukan Budaya Komunikasi yang Bijaksana Berdasarkan Kisah Jataka
Alokasi Waktu3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)
Tipe Aktivitascampuran
Tahun Ajaran2026/2027
Semester1
Nama Murid.................................
Kelas.................................

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Menemukan budaya komunikasi yang bijaksana di lingkungannya berdasarkan kisah jataka

PETUNJUK UMUM

  • Awali kegiatan belajarmu dengan bersikap tenang dan membaca doa atau mengulang paritta singkat.
  • Bacalah cerita atau dengarkan gurumu membacakan cuplikan kisah Serivanija Jataka.
  • Gunakan pensil atau pensil warna untuk memilih, mencentang, dan menuliskan jawaban pada lembar yang tersedia.
  • Bekerjasamalah dengan ceria bersama teman dan tanyakan kepada gurumu jika ada petunjuk yang belum kamu pahami.

KEGIATAN

Kegiatan 1: Menemukan Ucapan Bijaksana dari Kisah Serivanija Jataka

Estimasi: 30 menit

Alat & Bahan:

  • Pensil
  • Penghapus
  • Teks ringkasan Serivanija Jataka pada lembar kerja

Petunjuk Pengerjaan:

  1. Bacalah ringkasan cerita Serivanija Jataka berikut: Ada pedagang jujur bernama Bodhisatta (Seriva) dan pedagang serakah. Pedagang serakah berbicara kasar, merendahkan piring emas milik nenek dan cucunya, lalu berkata bohong: 'Piring ini jelek dan tidak berharga sama sekali!'. Sebaliknya, Bodhisatta berbicara dengan sopan, ramah, dan jujur: 'Ibu, piring ini terbuat dari emas murni dan sangat berharga.'
  2. Amati dua kotak ucapan pedagang pada lembar kerjamu.
  3. Temukan dan berikan tanda centang (✓) pada kotak ucapan yang menunjukkan cara berbicara jujur dan bijaksana.
  4. Berikan tanda silang (✗) pada kotak ucapan yang kasar dan tidak jujur.

Pertanyaan:

1. Dari ringkasan kisah di atas, kalimat manakah yang merupakan ucapan bijaksana dan jujur dari pedagang Bodhisatta? Beri tanda (✓) pada pilihanmu: [ ] A. 'Piring ini jelek dan tidak berharga sama sekali!' | [ ] B. 'Ibu, piring ini terbuat dari emas murni dan sangat berharga.'

2. Temukan dua ciri cara berbicara Bodhisatta yang patut ditiru berdasarkan kisah tersebut! Tuliskan kata yang tepat pada titik-titik berikut dengan memilih kata yang tersedia: (kasar / jujur / ramah / sombong).

Tersedia 2 kotak pilihan ganda dengan lambang centang/silang di samping kalimat ucapan, serta 2 baris isian rumpang bertuliskan: 'Ciri ucapan Bodhisatta adalah: 1. ....... dan 2. .......'.

Kegiatan 2: Menemukan Contoh Komunikasi Bijaksana di Sekitarku

Estimasi: 35 menit

Alat & Bahan:

  • Pensil
  • Penggaris

Petunjuk Pengerjaan:

  1. Ingatlah sikap bijaksana pedagang Bodhisatta yang selalu berkata jujur dan sopan.
  2. Sekarang, amatilah 4 situasi percakapan di lingkungan sekolah dan rumah pada tabel di bawah.
  3. Temukan contoh komunikasi yang bijaksana dengan memberi tanda centang (✓) pada kolom 'Bijaksana' atau kolom 'Belum Bijaksana'.

Pertanyaan:

1. Tentukan apakah contoh kalimat berikut merupakan komunikasi bijaksana atau belum bijaksana sesuai ajaran kisah Jataka!

  1. Kalimat: 'Tolong pinjamkan aku pensil warna, terima kasih ya teman.'
  2. Kalimat: 'Kamu lambat sekali bermainnya, sana pergi!'
  3. Kalimat: 'Ibu guru, permisi, saya ingin bertanya pelajaran tadi.'
  4. Kalimat: 'Bukan aku yang menumpahkan air itu, pasti dia!' (padahal diri sendiri yang menumpahkan).
Ruang tabel jawaban

Format tabel 4 baris dan 3 kolom: Kolom 1 (Nomor & Contoh Kalimat Komunikasi), Kolom 2 (Centang: Bijaksana), Kolom 3 (Centang: Belum Bijaksana).

Kegiatan 3: Menemukan Pasangan Kata Komunikasi yang Tepat

Estimasi: 40 menit

Alat & Bahan:

  • Pensil
  • Pensil warna/penggaris untuk menarik garis

Petunjuk Pengerjaan:

  1. Bacalah 3 situasi sehari-hari pada kolom sebelah kiri.
  2. Tariklah garis lurus untuk memasangkan situasi tersebut dengan ucapan komunikasi bijaksana yang tepat di kolom sebelah kanan.
  3. Setelah selesai memasangkan, jawablah pertanyaan singkat tentang mengapa kita perlu menjaga ucapan seperti Bodhisatta.

Pertanyaan:

1. Pasangkan situasi berikut dengan ucapan bijaksana yang tepat:

  • Situasi A: Kamu tidak sengaja menginjak kaki teman saat berbaris.
  • Situasi B: Temanmu membagikan kue kepadamu saat istirahat.
  • Situasi C: Kamu membutuhkan bantuan untuk mengambil buku di rak yang tinggi.

Pilihan ucapan:

  1. 'Terima kasih banyak atas kuenya, teman.'
  2. 'Tolong bantu saya mengambil buku itu, Kak.'
  3. 'Maaf ya, aku tidak sengaja menginjak kakimu.'

2. Berdasarkan kisah Serivanija Jataka, mengapa kita harus menemukan dan membiasakan ucapan yang bijaksana kepada teman dan keluarga?

Kotak menjodohkan dengan garis panah (3 kotak situasi di kiri dan 3 kotak ucapan di kanan), diikuti 2 baris bergaris untuk menuliskan jawaban uraian singkat nomor 2.

REFLEKSI

1. Bagaimana perasaanmu setelah belajar menemukan ucapan yang bijaksana seperti Bodhisatta dalam kisah Serivanija Jataka?

2. Ucapan sopan dan jujur apa yang paling ingin kamu ucapkan kepada teman atau orang tuamu hari ini?

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka lkpd pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.