| 1 | — | Murid dapat menerima keragaman budaya benda dan nonbenda di Indonesia sebagai anugerah yang patut disyukuri. | 3 |
| 2 | — | Murid dapat mendeskripsikan perbedaan antara budaya benda dan budaya nonbenda secara umum dengan contoh konkret. | 3 |
| 3 | — | Murid dapat mengelompokkan budaya benda dan budaya nonbenda yang berkaitan dengan agama Buddha di Indonesia. | 3 |
| 4 | — | Murid dapat menangkap makna nilai-nilai Buddhis yang terkandung dalam keragaman budaya benda dan nonbenda. | 3 |
| 5 | — | Murid dapat mengidentifikasi masalah yang timbul dari keragaman budaya benda dan nonbenda di Indonesia. | 3 |
| 6 | — | Murid dapat menjelaskan cara Buddha Sakyamuni mengatasi masalah kehidupan sosial sebagai teladan dalam menyelesaikan masalah keragaman budaya. | 3 |
| 7 | — | Murid dapat menguraikan cara mengatasi masalah keragaman budaya berdasarkan nilai-nilai Buddhadharma dan Hukum Sebab Akibat yang Saling Bergantungan. | 3 |
| 8 | — | Murid dapat membuat tabel masalah dan solusi terkait keragaman budaya di lingkungan rumah, sekolah, dan vihara. | 3 |
| 9 | — | Murid dapat mendeskripsikan peran tokoh pendiri bangsa Indonesia dalam menerima dan menjaga keragaman budaya. | 3 |
| 10 | — | Murid dapat menunjukkan sikap mencintai tanah air dan menjaga persatuan sebagai wujud pengamalan nilai-nilai Pancasila Buddhis. | 3 |
| 11 | — | Murid dapat membandingkan peran tokoh teladan pendiri bangsa dengan tokoh teladan pejuang penyebar Dharma di Indonesia. | 3 |
| 12 | — | Murid dapat menunjukkan perilaku meneladan sikap tokoh pejuang Dharma dalam menghadapi hambatan untuk meraih kesuksesan. | 3 |
| 13 | — | Murid dapat mendeskripsikan peran Buddha Sakyamuni dalam menerima keragaman budaya dan menunjukkan sikap keteladanan Buddha terhadap Upali. | 3 |
| 14 | — | Murid dapat meneladan sikap toleransi Buddha Sakyamuni terhadap keragaman sebagai dasar sikap bersatu dalam perbedaan. | 3 |
| 15 | — | Murid dapat menunjukkan bukti dan menjelaskan sikap toleransi Raja Asoka terhadap keragaman budaya dan agama. | 3 |
| 16 | — | Murid dapat mengaplikasikan enam faktor yang membawa keharmonisan dalam kehidupan di rumah, sekolah, dan vihara. | 3 |
| 17 | — | Murid dapat menjelaskan hubungan antara budaya bangsa dan budaya agama Buddha serta mengamalkan sikap mencintai perbedaan sebagai wujud dialog moderasi beragama. | 3 |
| 18 | — | Murid dapat menunjukkan sikap keteladanan diri sendiri di rumah, sekolah, dan vihara berdasarkan nilai-nilai Buddhadharma dan Pancasila Buddhis. | 3 |
| 19 | — | Murid dapat menunjukkan pemahaman menyeluruh tentang keragaman budaya benda dan nonbenda, peran tokoh teladan (pendiri bangsa, pejuang Dharma, Buddha Sakyamuni, Raja Asoka), serta mengamalkan nilai toleransi dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. | 3 |
| 20 | — | Murid dapat mengidentifikasi berbagai bahasa yang digunakan dalam doa dan puja agama Buddha (Pali, Sanskrit, Indonesia, daerah) beserta contoh penggunaannya. | 3 |
| 21 | — | Murid dapat menjelaskan kaitan antara penggunaan bahasa dalam doa (paritta) dengan budaya agama Buddha sebagai bagian dari kehidupan beragama sehari-hari. | 3 |
| 22 | — | Murid dapat membedakan penggunaan bahasa agama Buddha (Pali/Sanskrit) dengan bahasa Indonesia dan bahasa daerah dalam membaca paritta dan kitab suci. | 3 |
| 23 | — | Murid dapat menunjukkan sikap bangga menggunakan bahasa agama Buddha dan bahasa daerah sebagai bagian dari identitas umat Buddha Indonesia. | 3 |
| 24 | — | Murid dapat menerapkan penggunaan bahasa doa agama Buddha yang dipadukan dengan bahasa daerah setempat sebagai wujud budaya bangsa. | 3 |
| 25 | — | Murid dapat menyanyikan lagu/gending Buddhis dengan perpaduan seni dan budaya daerah sebagai bentuk persatuan dalam keberagaman. | 3 |
| 26 | — | Murid dapat menganalisis peran bahasa agama Buddha (Triratna, Ratana Sutta) dan bahasa Indonesia sebagai pembentuk identitas agama sekaligus pemersatu bangsa. | 3 |
| 27 | — | Murid dapat menunjukkan perilaku positif dalam menggunakan bahasa agama Buddha dan bahasa Indonesia secara berdampingan berlandaskan nilai moderasi beragama. | 3 |
| 28 | — | Murid dapat menggunakan bahasa Indonesia dan/atau bahasa daerah dalam membaca terjemahan kitab suci agama Buddha sebagai kebiasaan yang mencerminkan identitas bangsa. | 3 |
| 29 | — | Murid dapat mengaitkan nilai-nilai Buddhadharma yang terdapat dalam kitab suci dengan penggunaan bahasa dan budaya lokal sebagai wujud pengamalan Pancasila Buddhis. | 3 |
| 30 | — | Murid dapat mendemonstrasikan kemampuan menggunakan berbagai bahasa (Pali, Indonesia, daerah) dalam doa dan pembacaan kitab suci sebagai bukti pemahaman terhadap bahasa dan budaya agama Buddha. | 3 |
| 31 | — | Murid dapat merefleksikan peran bahasa agama Buddha dan bahasa Indonesia/daerah sebagai pembentuk identitas dan pemersatu bangsa berdasarkan nilai-nilai Buddhadharma dan Pancasila. | 3 |
| 32 | — | Murid dapat mendeskripsikan sikap diri sendiri dan orang lain dalam berterima kasih atas pertolongan berdasarkan kisah Bodhisattva. | 3 |
| 33 | — | Murid dapat menunjukkan contoh perilaku berterima kasih atas pertolongan yang mencerminkan nilai-nilai Buddhadharma dalam kehidupan sehari-hari. | 3 |
| 34 | — | Murid dapat menguraikan sifat-sifat Bodhisattva yang tercermin dalam riwayat kehidupan Pangeran Siddharta sebagai bentuk teladan nilai moral. | 3 |
| 35 | — | Murid dapat mengaitkan sifat-sifat Bodhisattva dengan nilai-nilai moral dalam kehidupan individu berlandaskan Hukum Sebab Akibat yang Saling Bergantungan. | 3 |
| 36 | — | Murid dapat menjelaskan nilai moral balas budi yang diteladankan oleh Bodhisattva dan Buddha Sakyamuni berdasarkan kisah dalam kitab suci (Itivuttaka: 106). | 3 |
| 37 | — | Murid dapat mengamalkan nilai balas budi dan rasa syukur sebagai bagian dari nilai-nilai Buddhadharma dalam kehidupan di rumah, sekolah, dan vihara. | 3 |
| 38 | — | Murid dapat merelevansikan sifat Bodhisattva serta nilai-nilai moral dalam riwayat kehidupan Pangeran Siddharta dan Buddha dengan sikap teladan dalam kehidupan sehari-hari. | 3 |
| 39 | — | Murid dapat menunjukkan sikap meneladan Bodhisattva dan Buddha dalam menyelesaikan masalah kehidupan individu dan sosial di lingkungan sekitarnya. | 3 |
| 40 | — | Murid dapat menjelaskan cara belajar dan semangat pantang menyerah Pangeran Siddharta sebagai Bodhisattva dalam menghadapi hambatan untuk meraih kesuksesan. | 3 |
| 41 | — | Murid dapat mengamalkan sikap pantang menyerah yang diteladankan Bodhisattva dan Buddha dalam kegiatan belajar sehari-hari berlandaskan nilai-nilai Pancasila Buddhis. | 3 |
| 42 | — | Murid dapat mengidentifikasi hambatan-hambatan yang dihadapi Buddha Sakyamuni dan cara beliau mengatasinya sebagai teladan dalam meraih kesuksesan. | 3 |
| 43 | — | Murid dapat menerapkan nilai-nilai ketekunan dan keteguhan hati yang diteladankan Buddha Sakyamuni untuk menghadapi rintangan dalam kehidupan sehari-hari. | 3 |
| 44 | — | Murid dapat meneladan sifat Bodhisattva serta nilai-nilai moral dalam riwayat kehidupan Pangeran Siddharta dan Buddha untuk menghadapi hambatan dalam meraih kesuksesan secara nyata. | 3 |
| 45 | — | Murid dapat mengamalkan sikap bersatu dalam perbedaan dan moderasi beragama dengan meneladani nilai-nilai universal Bodhisattva dan Buddha dalam kehidupan bermasyarakat. | 3 |
| 46 | — | Murid dapat menunjukkan pemahaman menyeluruh tentang sifat, nilai moral, dan keteladanan Bodhisattva serta Buddha Sakyamuni dalam berterima kasih, menghadapi hambatan, dan meraih kesuksesan melalui asesmen sumatif. | 3 |
| 47 | — | Murid dapat mengungkapkan sikap dan komitmen pribadi untuk meneladani nilai-nilai Bodhisattva dan Buddha dalam kehidupan sehari-hari sebagai pengamalan nilai-nilai Buddhadharma dan Pancasila Buddhis. | 3 |