MODUL AJAR Sosiologi — Kelas 11 (Fase F) Topik: Bab 2 — Konflik Sosial INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | Sosiologi |
|---|
| Fase / Kelas | Fase F / Kelas 11 |
|---|
| Topik | Bab 2 — Konflik Sosial |
|---|
| Alokasi Waktu | 45 JP (45 x 45 menit = 2025 menit) |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 18 |
|---|
| Tahun Ajaran | 2026/2027 |
|---|
| Semester | 1 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- TP 11.2.1 Menganalisis konflik yang terjadi di masyarakat berdasarkan konsep dan faktor penyebabnya
- TP 11.2.2 Melakukan kajian literasi atas fenomena konflik sosial dan kekerasan dari berbagai sumber
- TP 11.2.3 Mengamati fenomena konflik sosial dan kekerasan akibat perbedaan di lingkungan sekitar
- TP 11.2.4 Mengolah data fenomena konflik sosial secara sistematis untuk menyusun pemetaan konflik
- TP 11.2.5 Menyajikan data fenomena konflik sosial secara sistematis dalam bentuk bagan visual pemetaan konflik
- TP 11.2.6 Merancang projek kolaboratif yang solutif atas konflik sosial dan kekerasan akibat perbedaan dalam pendekatan pemberdayaan
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | | | Kewargaan | ✓ | | Penalaran Kritis | ✓ | | Kreativitas | ✓ | | Kolaborasi | ✓ | | Kemandirian | ✓ | | Kesehatan | | | Komunikasi | ✓ |
PERTANYAAN PEMANTIK- Mengapa dalam kehidupan masyarakat perselisihan atau pertentangan antarkelompok hampir selalu dapat terjadi?
- Kapan suatu perbedaan antarkelompok mulai berkembang menjadi sebuah konflik sosial?
- Mengapa dua orang yang mengalami peristiwa yang sama bisa memiliki pandangan dan reaksi yang bertolak belakang sehingga memicu perselisihan?
- Bagaimana perbedaan kepribadian, perasaan, dan pendirian antarindividu dapat berkembang menjadi konflik sosial di masyarakat?
- Mengapa perbedaan kepentingan ekonomi atau politik antarkelompok dapat memicu benturan terbuka di masyarakat?
- Bagaimana perbedaan tata nilai atau kebudayaan dapat mempertajam konflik sosial yang terjadi di sekitar kita?
- Bagaimana kita mengenali apakah suatu peristiwa dalam berita merupakan pertentangan gagasan (konflik) atau sudah berujung pada perusakan dan cedera fisik (kekerasan)?
- Informasi apa saja yang perlu kita cermati dalam sebuah artikel berita agar tidak keliru mengartikan konflik sosial dan kekerasan?
- Apakah setiap pertentangan atau konflik sosial selalu berwujud kekerasan fisik?
- Bagaimana literatur sosiologi membedakan antara proses konflik sosial dan tindakan kekerasan?
- Ketika terjadi bentrokan atau konflik sosial, apa saja kerugian fisik maupun nonfisik yang dialami masyarakat?
- Bagaimana dokumen studi kasus membantu kita mengidentifikasi dampak langsung dan tidak langsung dari peristiwa kekerasan?
- Perbedaan sosial apa sajakah (seperti latar belakang kelompok, kebiasaan, atau kepentingan) yang sering kalian jumpai di antara warga lingkungan sekolah?
- Bagaimana sebuah perbedaan sosial yang tampak sepele di lingkungan sekitar sekolah dapat bergeser menjadi ketegangan atau memicu perselisihan antarkelompok?
- Tanda-tanda apa di lingkungan sekitar kita yang menunjukkan adanya ketegangan atau potensi gesekan antarwarga akibat perbedaan?
- Bagaimana kita membedakan situasi perbedaan sosial yang masih berpotensi konflik laten dengan situasi yang sudah mengarah pada potensi kekerasan?
- Bagaimana cara kita mendokumentasikan fakta pengamatan tentang perbedaan sosial di sekitar sekolah agar tidak bercampur dengan prasangka pribadi?
- Bukti konkret apa saja yang menunjukkan adanya gesekan atau potensi konflik akibat perbedaan kepentingan antarkelompok di lingkungan sekitar?
- Bagaimana cara kita memilah siapa saja yang menjadi pemeran utama, pihak pendukung, dan penengah dalam suatu peristiwa konflik sosial?
- Mengapa data mentah hasil pengamatan atau wawancara konflik perlu diklasifikasikan ke dalam kategori pihak primer, sekunder, dan tersier?
- Bagaimana kita membedakan antara peristiwa yang memicu ledakan konflik dengan kepentingan mendasar yang tersembunyi di balik aktor yang berkonflik?
- Mengapa mengolah data isu pemicu dan kepentingan aktor secara sistematis penting sebelum kita membuat pemetaan konflik sosial?
- Bagaimana kita dapat mengidentifikasi apakah hubungan antara dua kelompok yang berkonflik bersifat kerja sama, persaingan, konfrontasi terbuka, atau terputus?
- Mengapa data relasi antaraktor perlu ditabulasikan secara sistematis sebelum dituangkan ke dalam bentuk bagan visual pemetaan konflik?
- Bagaimana kita menuangkan daftar pihak yang berselisih dan isu pertentangannya ke dalam simbol visual agar mudah dipahami?
- Mengapa lingkaran dan persegi menjadi simbol visual standar untuk membedakan antara aktor dan isu dalam pemetaan konflik?
- Bagaimana garis zig-zag, garis ganda, dan garis putus-putus memperlihatkan perbedaan relasi antarpihak dalam konflik sosial?
- Mengapa dinamika kepentingan dan aliansi antarpihak perlu dituangkan dalam simbol visual pemetaan konflik secara tepat?
- Bagaimana sebuah bagan visual dapat memperjelas posisi pihak-pihak yang bertikai dan inti masalah dalam suatu konflik sosial?
- Mengapa simbol visual (seperti bentuk bangun, jenis garis, dan ketebalan) harus disusun secara sistematis dan seragam dalam pemetaan konflik?
- Mengapa solusi penyelesaian konflik sosial di masyarakat perlu melibatkan potensi dan peran aktif pihak-pihak yang berkonflik, bukan sekadar pemberian bantuan sepihak?
- Bagaimana kita dapat merancang sebuah ide projek kolaboratif yang tidak hanya meredakan ketegangan, tetapi juga memberdayakan kelompok yang berselisih agar hidup harmonis?
- Bagaimana menerjemahkan gagasan awal pemecahan konflik menjadi tahapan rencana aksi yang realistis dan terukur?
- Mengapa pelibatan aktif pihak yang berkonflik menjadi kunci keberhasilan dalam pendekatan pemberdayaan sosial?
- Bagaimana integrasi data observasi lapangan dan literatur sosiologis membantu kita memetakan akar konflik secara objektif?
- Mengapa pendekatan pemberdayaan menjadi kunci penting dalam merancang resolusi konflik sosial yang berkelanjutan?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1 — Menganalisis Konsep Konflik yang Terjadi di Masyarakat — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.2.1 Menganalisis konflik yang terjadi di masyarakat berdasarkan konsep dan faktor penyebabnya
Pendahuluan:- Guru membuka kelas, mengecek kehadiran murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu menganalisis konsep dasar konflik yang terjadi di masyarakat (5 menit).
- Murid mengerjakan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan cepat tentang pemahaman konsep konflik sosial (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid mencermati pemaparan konsep konflik sosial menurut Soerjono Soekanto (proses sosial di mana individu/kelompok berusaha memenuhi tujuan dengan menentang pihak lawan disertai ancaman/kekerasan) dan UU No. 7 Tahun 2012 (perseteruan/benturan fisik dengan kekerasan antarkelompok yang menimbulkan disintegrasi) (15 menit).
- Dalam kelompok berpasangan, murid memainkan kuis kartu tebak konsep untuk mengklasifikasikan 4 kartu skenario ke dalam 'Konflik Sosial' atau 'Bukan Konflik Sosial': Kartu 1: Dua warga berselisih batas tanah warisan keluarga tanpa melibatkan publik; Kartu 2: Demonstrasi warga penolak relokasi pasar berujung bentrokan dengan aparat keamanan; Kartu 3: Dua murid saling sindir nilai ujian di media sosial pribadi; Kartu 4: Kerusuhan antarsuporter sepak bola di jalan umum hingga merusak fasilitas publik (acuan: Kartu 1 dan 3 = Bukan Konflik Sosial melainkan konflik interpersonal pribadi; Kartu 2 dan 4 = Konflik Sosial karena melibatkan kelompok, berdampak luas, serta mengganggu keteraturan masyarakat) (20 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid secara berkelompok menganalisis 1 teks studi kasus konflik masyarakat yang disediakan: 'Kasus Perselisihan Warga Kelurahan Melati dan Perusahaan Pengembang terkait Penutupan Akses Jalan Umum' (35 menit).
- Murid mengisi lembar kerja analisis untuk mengurai 3 komponen konsep konflik: (1) Aktor yang berkonflik (acuan: Forum Warga Kelurahan Melati vs Manajemen Perusahaan Pengembang); (2) Pokok pertentangan/tujuan yang saling berbenturan (acuan: Warga mempertahankan hak lintas publik harian vs Pengembang membutuhkan penutupan jalur demi perluasan tapak proyek); (3) Dampak ketergangguan pada keteraturan masyarakat (acuan: Akses logistik desa terputus dan timbul aksi blokade jalan) (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama kelompok menyimpulkan karakteristik utama sebuah peristiwa dapat dikategorikan sebagai konflik sosial di masyarakat (15 menit).
Penutup:- Murid mengerjakan asesmen akhir berupa cek pemahaman 2 butir soal uraian singkat (7 menit).
- Guru memberikan umpan balik dan menginformasikan topik pertemuan berikutnya mengenai faktor perbedaan antarindividu penyebab konflik tanpa mengakhiri bab (3 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks kasus dengan penandaan (highlight) pada kata-kata kunci aktor dan isu; murid mahir menganalisis teks kasus utuh tanpa penanda.
- Proses: Kelompok terpandu didampingi guru pada penguraian 3 komponen konsep; kelompok mandiri mengurai lembar kerja secara otonom.
- Produk: Format pengisian lembar kerja berupa isian tabel terstruktur.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Kuis lisan diagnostik: Murid menjawab pertanyaan 'Apakah perbedaan pendapat antarteman di ruang obrolan pribadi termasuk konflik sosial di masyarakat? Sebutkan alasannya!' (acuan: Bukan konflik sosial, karena merupakan konflik antarpribadi/interpersonal dan tidak melibatkan kelompok sosial atau berdampak pada disintegrasi ruang publik).
Proses:- Observasi keterlibatan analisis kelompok saat mengklasifikasikan 4 kartu skenario konsep konflik (acuan klasifikasi: Kartu 1 Bukan, Kartu 2 Konflik Sosial, Kartu 3 Bukan, Kartu 4 Konflik Sosial).
- Pemeriksaan lembar kerja penguraian 3 komponen konsep konflik dari studi kasus (acuan: aktor, pokok benturan tujuan, dampak disintegrasi sosial terurai tepat).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman tertulis 2 butir soal: 1. Tuliskan pengertian konflik sosial menurut acuan sosiologis! (acuan: proses sosial atau pertentangan antara dua pihak/kelompok atau lebih yang berusaha menyingkirkan atau mengalahkan lawan demi mencapai tujuan tertentu); 2. Sebutkan 2 unsur mutlak yang membedakan konflik sosial masyarakat dari pertengkaran pribadi biasa! (acuan: melibatkan kelompok/kolektivitas dan menimbulkan dampak disintegrasi atau gangguan keteraturan masyarakat).
Formatif:- Penilaian kinerja pengisian Lembar Kerja Analisis Konsep Konflik pada studi kasus (mengukur ketepatan aktor, benturan kepentingan, dan dampak ketergangguan sosial)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menganalisis Konsep Konflik Sosial | Murid belum mampu mengidentifikasi komponen konsep konflik (hanya menyebutkan 1 komponen dari aktor, tujuan benturan, atau dampak sosial secara tepat). | Murid mampu mengidentifikasi 2 dari 3 komponen konsep konflik pada kasus yang dianalisis dengan tepat. | Murid mampu menganalisis secara tepat seluruh 3 komponen konsep konflik (aktor yang terlibat, tujuan yang saling berbenturan, serta dampak ketergangguan keteraturan masyarakat) pada studi kasus. | Murid mampu menganalisis secara tepat seluruh 3 komponen konsep konflik secara lengkap, runtut, dan menguraikan kaitan logis antara benturan tujuan aktor dengan ketergangguan tatanan masyarakat secara mendalam. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu pada tahap pengerjaan lembar kerja analisis kasus cukup proporsional?
- Bagian konsep mana yang paling sering membuat murid keliru membedakan konflik personal dengan konflik sosial?
Murid:- Apa pemahaman baru yang saya peroleh tentang batas antara perselisihan biasa dan konflik sosial?
- Komponen konsep konflik mana yang menurut saya paling menantang untuk ditemukan dalam studi kasus?
Pertemuan 2 — Menganalisis Faktor Perbedaan Antarindividu sebagai Penyebab Konflik di Masyarakat — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.2.1 Menganalisis konflik yang terjadi di masyarakat berdasarkan konsep dan faktor penyebabnya
Pendahuluan:- Guru membuka pelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran, dan menyampaikan fokus materi yaitu menganalisis faktor perbedaan antarindividu sebagai penyebab konflik (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen diagnostik singkat dengan meminta murid merespons secara lisan satu pertanyaan pemetaan: 'Apa yang membedakan pertengkaran biasa dengan konflik yang disebabkan oleh benturan pendirian antarindividu?' (acuan jawaban: pertengkaran biasa bersifat situasional sesaat, sedangkan konflik akibat perbedaan antarindividu berakar pada benturan nilai, pendirian, watak, atau cara pandang yang dipertahankan masing-masing pihak sehingga saling menegasikan) (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Menggembirakan):- Murid menyimak ulasan guru mengenai konsep perbedaan antarindividu (perbedaan pendirian, perasaan, dan kepribadian) sebagai faktor pendorong konflik dalam perspektif sosiologi (15 menit).
- Dalam suasana menyenangkan, murid memainkan kuis interaktif cepat 'Pilah Fakta Kasus' secara berpasangan untuk membedakan pemicu konflik: Guru membacakan 3 cuplikan kasus singkat: (Kasus 1: Dua warga bersitegang karena perbedaan selera musik saat jam istirahat; Kasus 2: Perebutan lahan perkebunan sawit antara dua perusahaan; Kasus 3: Perdebatan sengit dua anggota panitia karang taruna mengenai asas keterbukaan laporan keuangan akibat perbedaan prinsip hidup). Setiap pasangan mengangkat kartu 'Individu' atau 'Struktural/Kepentingan Luas' (acuan jawaban benar: Kasus 1 = Individu; Kasus 2 = Struktural/Kepentingan Luas; Kasus 3 = Individu) (15 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Murid dibagi ke dalam kelompok kerja (4 orang per kelompok) dan menerima Lembar Analisis Kasus Konflik Antarindividu yang memuat teks narasi: 'Perselisihan Antara Pak Joko dan Pak Rudi Terkait Batas Pagar dan Pohon Mangga' (narasi memuat: perbedaan sifat Pak Joko yang perfeksionis dan kaku dengan Pak Rudi yang santai dan ekspresif, serta perbedaan pendirian tentang hak privasi lingkungan perumahan) (15 menit).
- Kelompok melakukan analisis terhadap narasi kasus dengan mengidentifikasi 3 komponen utama: (1) wujud perbedaan pendirian/kepribadian antarpihak, (2) proses benturan perbedaan tersebut bertransformasi menjadi konflik terbuka, dan (3) dampak langsung interaksi sosial yang terganggu (30 menit).
- Perwakilan kelompok memaparkan hasil analisis lembar kerja secara bergiliran, sementara kelompok lain menyandingkan hasil identifikasi faktor penyebab perbedaan antarindividu berdasarkan narasi kasus yang dibagikan (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru merefleksikan bagaimana kesadaran akan keberagaman karakter dan cara pandang personal dapat mencegah eskalasi konflik antarindividu dalam kehidupan sehari-hari di sekolah dan masyarakat (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan konsep dan memeriksa ketercapaian analisis murid melalui lembar cek singkat (5 menit).
- Guru menyampaikan agenda pertemuan berikutnya yaitu faktor perbedaan kepentingan dan kebudayaan, lalu menutup pembelajaran dengan doa bersama (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan pendampingan diberikan lembar panduan analisis yang menyertakan penanda visual pada teks kasus untuk mempermudah menemukan benturan karakter antarindividu; murid mahir diberikan narasi kasus yang lebih kompleks dengan variasi benturan psikologis dan relasi sosial bertingkat.
- Proses: Guru memberikan scaffolding terarah bagi kelompok yang kesulitan mengurai alur eskalasi konflik dari tingkat perbedaan pendirian menuju pertentangan terbuka.
- Produk: Analisis dapat dituangkan dalam bentuk bagan alur kausalitas atau tabel uraian analisis analitis sesuai kesepakatan kelompok.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan lisan diagnostik: 'Jelaskan perbedaan mendasar antara konflik akibat faktor perbedaan antarindividu dengan konflik yang murni disebabkan oleh perbedaan kepentingan kelompok!' (acuan: faktor perbedaan individu berakar pada benturan karakter, watak, pendirian, dan perasaan perseorangan yang saling bertentangan; sedangkan konflik kelompok berakar pada perebutan sumber daya, status, atau kekuasaan antarorganisasi/komunitas).
Proses:- Pemeriksaan ketepatan pengisian Lembar Analisis Kasus Konflik: Mengukur ketepatan kelompok dalam menganalisis 3 aspek (acuan: (1) Perbedaan karakter/pendirian: Pak Joko kaku-perfeksionis menuntut batas mutlak, Pak Rudi santai mengabaikan batas ranting; (2) Proses benturan: teguran personal berubah menjadi adu mulut dan pemboikotan komunikasi; (3) Dampak relasi: renggangnya kerukunan bertetangga dan terciptanya polarisasi antarwarga sekitar).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman tertulis individu (3 butir singkat): (1) Tuliskan 2 contoh wujud perbedaan antarindividu yang memicu konflik! (acuan: perbedaan pendirian/pandangan hidup, perbedaan kepribadian/watak, atau perbedaan persepsi emosional); (2) Mengapa ketiadaan kompromi atas perbedaan karakter personal dapat memicu konflik sosial? (acuan: karena masing-masing pihak memaksakan kehendak subjektifnya dan menolak memahami batas personal pihak lain); (3) Tentukan apakah kasus adu argumen pemilihan ketua kelas karena beda preferensi sifat kepemimpinan termasuk faktor perbedaan antarindividu! (acuan: Ya, karena berakar dari benturan persepsi dan preferensi personal individu pemilih).
Formatif:- Penilaian proses analisis lembar kerja studi kasus konflik faktor perbedaan antarindividu
- Observasi partisipasi penalaran analitis dalam kerja kelompok
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Analisis Faktor Perbedaan Antarindividu Penyebab Konflik | Murid belum mampu mengidentifikasi benturan karakter atau pendirian antarindividu dalam kasus konflik sosial yang disajikan. | Murid mampu menyebutkan wujud perbedaan antarindividu pada kasus, tetapi belum mampu menguraikan bagaimana perbedaan tersebut menjadi penyebab terjadinya konflik. | Murid mampu menganalisis keterkaitan antara perbedaan karakter/pendirian antarindividu dengan munculnya konflik sosial secara tepat dan runtut sesuai kasus. | Murid mampu menganalisis keterkaitan perbedaan antarindividu penyebab konflik secara mendalam, kritis, terperinci pada alur eskalasi konflik, serta menghubungkannya dengan dinamika relasi sosial di masyarakat. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah desain narasi kasus konflik perbedaan antarindividu cukup kontekstual dan mudah dipahami oleh seluruh murid?
- Bagaimana keterlibatan murid dalam menganalisis alur eskalasi konflik antarindividu selama proses kerja kelompok?
Murid:- Bagian mana dari analisis faktor perbedaan antarindividu yang paling menantang untuk saya pahami?
- Bagaimana pemahaman tentang faktor perbedaan antarindividu ini mengubah cara pandang saya ketika menghadapi perselisihan pendapat dengan teman?
Pertemuan 3 — Menganalisis Faktor Perbedaan Kepentingan dan Kebudayaan Penyebab Konflik di Masyarakat — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.2.1 Menganalisis konflik yang terjadi di masyarakat berdasarkan konsep dan faktor penyebabnya
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kesiapan murid, dan mengondisikan kelas dalam suasana berkesadaran (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat: murid diminta mengidentifikasi faktor utama penyebab konflik dari 2 kasus singkat pada kartu: Kasus A (konflik sengketa lahan antara perusahaan kelapa sawit dan petani lokal) dan Kasus B (ketegangan warga asli dan pendatang akibat perbedaan adat penyelenggaraan pesta adat malam hari) (acuan: Kasus A = perbedaan kepentingan ekonomi/sumber daya; Kasus B = perbedaan kebudayaan/adat nilai) (10 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yakni menganalisis faktor perbedaan kepentingan dan perbedaan kebudayaan sebagai penyebab terjadinya konflik di masyarakat (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Menggembirakan):- Murid mencermati pemaparan konsep dan ilustrasi sosiologis mengenai perbedaan kepentingan (ekonomi, kekuasaan, profesi) serta perbedaan kebudayaan (nilai, norma, adat kebiasaan) dalam memicu pertentangan sosial (15 menit).
- Prinsip Menggembirakan diwujudkan lewat kuis interaktif berpasangan 'Tebak Akar Konflik': murid secara cepat membedakan faktor penyebab dari 4 kartu kasus: Kartu 1 (persaingan buruh dan pengusaha terkait upah minimum), Kartu 2 (perdebatan warga tentang tradisi menyembelih hewan qurban di jalan umum vs aturan tata kota), Kartu 3 (perebutan kursi ketua pasar antarorganisasi pedagang), dan Kartu 4 (gesekan antarwarga pendatang dan pribumi karena perbedaan jam malam adat) (acuan: Kartu 1 = kepentingan; Kartu 2 = kebudayaan; Kartu 3 = kepentingan; Kartu 4 = kebudayaan) (15 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Murid menerima Lembar Kerja Analisis Kasus Konflik berisi 2 teks fenomena riil: Kasus I (Konflik Reklamasi Pesisir antara Nelayan Tradisional dan Pengembang Resor Mewah) dan Kasus II (Ketegangan Sosial di Kampung Multietnis terkait Batasan Jam Bunyi Musik Tradisional Upacara Adat) (10 menit).
- Murid secara mandiri menganalisis Kasus I: menguraikan pihak yang berkonflik, perbedaan kepentingan yang diperjuangkan (nelayan mempertahankan mata pencaharian pesisir vs investor mengejar profit pariwisata), serta mekanisme perbedaan tersebut menimbulkan konflik terbuka (acuan: teridentifikasi pihak nelayan vs pengembang resor, perbedaan kepentingan mata pencaharian vs keuntungan bisnis, dan analisis sebab-akibat benturan) (25 menit).
- Murid secara mandiri menganalisis Kasus II: menguraikan pihak yang berkonflik, perbedaan nilai budaya/kebiasaan yang berbenturan (kebiasaan musik ritual semalam suntuk vs norma ketenangan istirahat malam warga pendatang), serta mekanisme benturan nilai budaya tersebut memicu prasangka dan konflik antarwarga (acuan: teridentifikasi pihak warga pemangku adat vs warga pemukiman modern, perbedaan norma tradisi upacara vs kenyamanan istirahat, dan analisis proses benturan budaya) (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyandingkan hasil analisis Kasus I dan Kasus II untuk menarik kesimpulan logis mengenai perbedaan mendasar antara konflik bermotif kepentingan dan konflik bermotif kebudayaan dalam realitas sosial masyarakat (acuan: motif kepentingan berakar pada perebutan sumber daya/tujuan material, sedangkan motif kebudayaan berakar pada perbedaan sistem nilai/norma/pedoman hidup) (15 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan hasil analisis faktor perbedaan kepentingan dan kebudayaan sebagai pemicu konflik di masyarakat (5 menit).
- Guru memberikan cek pemahaman akhir melalui 1 soal reflektif singkat tertulis, memberikan umpan balik pencapaian kompetensi, dan menutup pertemuan dengan doa bersama (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks kasus dengan penandaan kata kunci (highlight) pada elemen kepentingan dan kebudayaan; murid yang mahir diberikan teks kasus tanpa penandaan dengan kompleksitas aktor yang lebih berlapis.
- Proses: Murid yang masih kesulitan menganalisis diberikan lembar bantuan berupa pertanyaan penuntun sebab-akibat; murid yang sudah mahir menganalisis langsung secara mandiri.
- Produk: Analisis disajikan pada lembar kerja terstruktur dengan tingkat kedalaman eksplanasi yang disesuaikan kesiapan murid tanpa mengubah kriteria ketepatan analisis sosiologis.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Murid mengidentifikasi faktor utama penyebab konflik dari 2 kasus singkat pada kartu: Kasus A (sengketa batas tanah ulayat dan konsesi perkebunan sawit) dan Kasus B (ketegangan akibat aturan kebisingan ritual adat pada kawasan hunian campuran) (acuan ketepatan: Kasus A = perbedaan kepentingan ekonomi/sumber daya; Kasus B = perbedaan kebudayaan/sistem norma adat).
Proses:- Penilaian lembar kerja analisis kasus konflik yang menilai kemampuan murid menganalisis aktor, substansi perbedaan kepentingan (Kasus I: nelayan vs investor resor), substansi perbedaan kebudayaan (Kasus II: tradisi upacara adat vs norma ketenangan warga), dan mekanisme keterkaitan faktor dengan timbulnya konflik (acuan: tepat menguraikan pihak berkonflik, tepat menunjukkan inti perbedaan kepentingan pada Kasus I, tepat menunjukkan inti perbedaan nilai kebudayaan pada Kasus II, serta tepat merumuskan hubungan sebab-akibat munculnya konflik).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman akhir: Murid menjawab pertanyaan tertulis 'Sebutkan 1 perbedaan mendasar antara konflik yang dipicu oleh faktor perbedaan kepentingan dengan konflik yang dipicu oleh faktor perbedaan kebudayaan!' (acuan kriteria penerimaan: jawaban tepat menyatakan bahwa konflik perbedaan kepentingan bersumber pada perebutan akses atau tujuan material/posisi/sumber daya, sedangkan konflik perbedaan kebudayaan bersumber pada pertentangan tata nilai, sistem norma, keyakinan, atau adat istiadat hidup).
Formatif:- Asesmen awal diagnostik melalui identifikasi faktor pada 2 kasus pemicu konflik.
- Asesmen proses melalui Lembar Kerja Analisis Faktor Konflik (analisis Kasus I: perbedaan kepentingan dan Kasus II: perbedaan kebudayaan) dengan rubrik analitik.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Analisis Faktor Perbedaan Kepentingan Penyebab Konflik | Belum mampu mengidentifikasi aktor dan substansi perbedaan kepentingan yang memicu konflik pada kasus yang dianalisis secara tepat. | Mampu mengidentifikasi aktor yang berkonflik, namun belum tepat menganalisis substansi perbedaan kepentingan yang menjadi pemicu konflik. | Mampu menganalisis aktor dan substansi perbedaan kepentingan ekonomi/posisi yang memicu konflik secara tepat sesuai acuan kasus. | Mampu menganalisis secara mendalam dan komprehensif seluruh aktor, substansi perbedaan kepentingan, serta keterkaitan kausalitas timbulnya konflik secara runtut dan mandiri. | | Analisis Faktor Perbedaan Kebudayaan Penyebab Konflik | Belum mampu mengidentifikasi nilai atau unsur kebudayaan yang menjadi penyebab benturan sosial pada kasus yang dianalisis. | Mampu menyebutkan unsur kebudayaan yang ada, namun belum tepat menguraikan bagaimana benturan nilai/norma budaya tersebut memicu konflik antarwarga. | Mampu menganalisis perbedaan nilai, adat kebiasaan, atau norma kebudayaan yang berbenturan dan memicu konflik secara tepat sesuai acuan kasus. | Mampu menganalisis secara kritis dan utuh perbedaan sistem nilai kebudayaan, prasangka yang timbul, serta dinamika pertentangan yang dihasilkan secara runtut dan mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu untuk analisis kasus mandiri (Kasus I dan Kasus II) sudah memadai bagi seluruh murid?
- Bagian mana dari konsep perbedaan kepentingan vs kebudayaan yang paling sering membingungkan murid, dan bagaimana penguatan yang perlu disiapkan pada sesi berikutnya?
Murid:- Apa perbedaan utama yang saya pahami antara konflik yang bersumber dari perebutan kepentingan ekonomi/politik dengan konflik yang berakar pada perbedaan nilai budaya?
- Setelah menganalisis kasus nyata tadi, bagaimana saya memandang keberagaman kebudayaan dan perbedaan kepentingan di lingkungan sekitar saya?
Pertemuan 4 — Melakukan Kajian Literasi Pengertian Konflik Sosial dan Kekerasan dari Artikel Berita — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.2.2 Melakukan kajian literasi atas fenomena konflik sosial dan kekerasan dari berbagai sumber
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menciptakan suasana belajar yang kondusif (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-4, yaitu melakukan kajian literasi pengertian konflik sosial dan kekerasan dari teks artikel berita (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal singkat untuk memetakan kesiapan murid dalam membedakan unsur konflik sosial dan kekerasan melalui kuis cepat berbasis 2 cuplikan berita singkat pada proyektor/papan tulis: Cuplikan A berbunyi 'Warga RT 02 menolak rencana alih fungsi lapangan bola menjadi ruko dan mengajukan petisi keberatan kepada pengembang' dan Cuplikan B berbunyi 'Aksi saling lempar batu antarwarga di Jalan Pemuda menyebabkan tiga kios rusak dan dua orang terluka'. Murid diminta menuliskan kategori tiap cuplikan pada kertas kecil (acuan: Cuplikan A = konflik sosial berupa benturan kepentingan tanpa perusakan fisik; Cuplikan B = kekerasan berupa tindakan fisik yang merusak barang dan melukai orang) (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak panduan kajian literasi yang dijelaskan guru mengenai dua konsep utama yang harus ditemukan dalam teks berita: (1) pengertian konflik sosial sebagai proses sosial di mana individu/kelompok berusaha memenuhi tujuan dengan menentang pihak lawan melalui perselisihan/perbedaan kepentingan; (2) pengertian kekerasan sebagai penggunaan kekuatan fisik atau ancaman yang menimbulkan cedera, luka, kerusakan barang, atau korban jiwa (10 menit).
- Guru membagikan Lembar Kajian Berita yang memuat 1 teks berita berjudul 'Sengketa Batas Lahan Perkebunan dan Penolakan Relokasi di Desa Sinar Makmur'. Teks berita memuat informasi faktual mengenai perdebatan klaim batas lahan antarwarga serta insiden pembakaran satu pos jaga oleh oknum saat ketegangan memuncak (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Dalam aktivitas kolaboratif berpasangan yang menyenangkan bernama 'Tantangan Detektif Literasi', murid membaca teks artikel berita secara cermat dan menandai kalimat atau frasa yang menunjukkan pengertian konflik sosial (warna kuning) dan unsur kekerasan (warna hijau) (20 menit).
- Murid bersama pasangannya mengisi tabel kajian literasi pada lembar kerja yang memuat 4 butir penemuan berbasis teks berita: (1) kutipan kalimat yang menunjukkan pengertian konflik sosial; (2) penjelasan mengapa kutipan tersebut bermakna konflik sosial; (3) kutipan kalimat yang menunjukkan peristiwa kekerasan; (4) penjelasan mengapa kutipan tersebut bermakna kekerasan. Kunci acuan jawaban teks: Butir 1 memuat kutipan kalimat perselisihan klaim batas tanah atau perbedaan pendapat relokasi; Butir 2 memuat penjelasan adanya benturan kepentingan/pertentangan antarwarga; Butir 3 memuat kutipan insiden pembakaran pos jaga perkebunan; Butir 4 memuat penjelasan adanya tindakan perusakan fisik benda secara nyata (35 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Setiap pasangan murid bertukar lembar kerja dengan pasangan sebelah untuk saling mencocokkan kutipan dan alasan yang ditemukan berdasarkan kunci acuan deskripsi konflik sosial dan kekerasan yang ditampilkan guru (15 menit).
- Murid secara berkesadaran menuliskan satu catatan refleksi di bagian bawah lembar kerja mengenai ketepatan pemahamannya dalam membedakan pengertian konflik sosial dan kekerasan saat membaca peristiwa di media massa (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan dan meluruskan temuan kajian literasi terkait batas konseptual konflik sosial (perselisihan/oposisi) dan kekerasan (dampak/tindakan fisik merusak) dari berita (10 menit).
- Guru memandu murid menyimpulkan intisari pembelajaran pertemuan ini dan menyampaikan bahwa pada pertemuan berikutnya kajian literasi akan dilanjutkan dengan membandingkan literatur teori sosiologi, lalu menutup sesi dengan doa bersama (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks berita dengan kata-kata kunci (misal: 'berselisih paham', 'merusak fasilitas') yang telah dicetak tebal. Murid yang mahir diberikan teks artikel berita tanpa penandaan dengan alur peristiwa yang lebih panjang.
- Proses: Murid yang memerlukan bimbingan didampingi guru secara berkala saat mengekstraksi kutipan. Murid yang mahir bekerja secara mandiri menganalisis perbedaan nuansa makna konflik dan kekerasan pada teks.
- Produk: Seluruh murid menyelesaikan tabel kajian literasi 4 butir penemuan, dengan variasi kedalaman kutipan teks yang dicantumkan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Kuis tertulis singkat berbasis 2 cuplikan berita pada apersepsi untuk memeriksa kesiapan membedakan konsep konflik sosial dan kekerasan. Cuplikan A: 'Warga RT 02 menolak rencana alih fungsi lapangan bola menjadi ruko dan mengajukan petisi keberatan kepada pengembang' (Acuan: Konflik sosial / pertentangan kepentingan tanpa kerusakan fisik). Cuplikan B: 'Aksi saling lempar batu antarwarga di Jalan Pemuda menyebabkan tiga kios rusak dan dua orang terluka' (Acuan: Kekerasan / tindakan fisik yang merusak barang dan mencederai fisik).
Proses:- Pemeriksaan ketepatan pengisian tabel kajian literasi 4 butir pada artikel berita 'Sengketa Batas Lahan Perkebunan dan Penolakan Relokasi di Desa Sinar Makmur'. Acuan jawaban: (1) Kutipan konflik sosial: memuat kalimat tentang perselisihan klaim batas tanah warga dan pihak perkebunan atau penolakan relokasi; (2) Penjelasan konflik sosial: menunjukkan adanya oposisi/perbedaan kepentingan tanpa kekerasan fisik; (3) Kutipan kekerasan: memuat kalimat aksi pembakaran satu unit pos jaga oleh oknum warga; (4) Penjelasan kekerasan: menunjukkan adanya penggunaan tindakan fisik yang mengakibatkan kerusakan aset/fasilitas.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman tertulis singkat (1 butir) pada akhir sesi: 'Tentukan apakah peristiwa berikut termasuk konflik sosial atau kekerasan: Serikat buruh menggelar orasi damai menuntut kenaikan upah di depan gerbang pabrik tanpa merusak pagar sedikit pun.' Acuan jawaban benar: Peristiwa tersebut adalah konflik sosial (bukan kekerasan), karena berupa pertentangan kepentingan/tuntutan hak tanpa adanya kekuatan fisik yang merusak atau melukai.
Formatif:- Penilaian kinerja kajian literasi melalui pengisian tabel identifikasi pengertian konflik sosial dan kekerasan pada teks artikel berita.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Kajian literasi pengertian konflik sosial dan kekerasan dari artikel berita | Murid belum mampu menemukan kutipan teks berita yang tepat untuk pengertian konflik sosial maupun kekerasan (0 butir tepat dari 4 butir tabel kajian literasi). | Murid mampu menemukan 1-2 kutipan teks berita secara tepat untuk pengertian konflik sosial atau kekerasan, namun penjelasan maknanya belum sesuai acuan konseptual. | Murid mampu menemukan 3-4 butir kutipan dan penjelasan pengertian konflik sosial serta kekerasan dari teks artikel berita secara tepat sesuai kunci acuan kajian literasi. | Murid mampu menemukan seluruh 4 butir kutipan dan penjelasan pengertian konflik sosial serta kekerasan dari teks artikel berita secara tepat, lengkap, dan mandiri tanpa bimbingan guru sesuai kunci acuan kajian literasi. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah teks artikel berita yang disediakan cukup kontekstual dan memudahkan murid mengidentifikasi batas pengertian konflik sosial dan kekerasan?
- Bagaimana keterlibatan murid selama aktivitas 'Tantangan Detektif Literasi' dalam menemukan bukti teks?
Murid:- Informasi apa yang paling membantuku membedakan peristiwa perselisihan biasa (konflik) dengan tindakan kekerasan saat membaca berita?
- Bagian mana dari langkah kajian literasi hari ini yang masih membuatku ragu atau sulit?
Pertemuan 5 — Melakukan Kajian Literasi Perbedaan Konflik Sosial dan Kekerasan dari Literatur Sosiologi — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.2.2 Melakukan kajian literasi atas fenomena konflik sosial dan kekerasan dari berbagai sumber
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan tujuan kajian literasi sosiologi tentang perbedaan konflik sosial dan kekerasan (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen diagnostik singkat dengan membagikan lembar berisi 2 kutipan konsep untuk menguji kesiapan awal murid dalam membedakan definisi literatur: (1) 'Proses disosiatif di mana dua pihak berusaha saling menyingkirkan atau mengalahkan demi mencapai tujuan' (acuan: Konflik Sosial); (2) 'Penggunaan kekuatan fisik atau ancaman yang disengaja dan menimbulkan luka, kerusakan fisik, atau kematian' (acuan: Kekerasan) (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid secara berpasangan membaca teks literatur sosiologi (adaptasi kutipan Lewis A. Coser dan Johan Galtung) yang disajikan guru mengenai 3 dimensi pembeda konflik sosial dan kekerasan: (a) Bentuk interaksi (proses sosial disosiatif vs perusakan/pemaksaan fisik langsung), (b) Derajat keterbukaan aturan (dapat memiliki batasan atau norma regulasi vs pelanggaran batas hukum/kemanusiaan), dan (c) Dampak yang ditimbulkan (berpotensi integratif/pembaruan norma vs murni kehancuran fisik/trauma) (25 menit).
- Murid berpartisipasi dalam tantangan berpasangan interaktif 'Cepat Tepat Literatur': guru menampilkan 3 ringkasan konsep di layar dan pasangan murid mengangkat kartu penanda [KONFLIK SOSIAL] atau [KEKERASAN] dengan riang dan bersemangat. Rincian 3 ringkasan konsep: (1) Perdebatan alot dua fraksi organisasi buruh dalam musyawarah penetapan tuntutan upah (acuan: Konflik Sosial); (2) Aksi pengeroyokan massa terhadap fasilitas umum saat unjuk rasa buruh (acuan: Kekerasan); (3) Persaingan gagasan antarpartai politik di parlemen terkait regulasi lingkungan hidup (acuan: Konflik Sosial) (15 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Murid berkolaborasi dalam kelompok kecil (3-4 orang) melakukan kajian literasi mendalam menggunakan Lembar Kajian Literatur untuk menganalisis 4 kutipan fenomena dalam literatur sosiologi: Kutipan 1 (Negosiasi alot sengketa lahan adat tanpa kontak fisik), Kutipan 2 (Pengrusakan perumahan warga akibat bentrok antarkelompok), Kutipan 3 (Boikot massal serikat buruh terhadap produk pabrik secara damai), Kutipan 4 (Penyerangan fisik bersenjata tajam antarpemuda) (30 menit).
- Setiap kelompok mengelompokkan dan mengisi tabel komparasi literatur untuk ke-4 kutipan tersebut ke dalam kategori Konflik Sosial atau Kekerasan beserta alasan teoretisnya (acuan jawaban: Kutipan 1 = Konflik Sosial karena bentuk disosiatif tanpa agresi fisik; Kutipan 2 = Kekerasan karena terdapat destruksi fisik manifes; Kutipan 3 = Konflik Sosial karena resistensi non-fisik terorganisasi; Kutipan 4 = Kekerasan karena penggunaan serangan fisik yang melukai raga) (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid mengidentifikasi kembali catatan hasil kajian komparasi literatur masing-masing, memeriksa ketepatan analisis kelompok berdasarkan kunci sintesis konsep guru, dan menyadari pentingnya kejernihan konsep sosiologi dalam memandang dinamika sosial masyarakat tanpa menyamaratakan semua konflik sebagai kekerasan (10 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan inti kajian literasi bahwa konflik sosial berfokus pada pertentangan kepentingan antarpihak yang tidak selalu destruktif, sedangkan kekerasan merupakan perwujudan kekuatan destruktif yang menimbulkan kerusakan atau kerugian fisik/material (5 menit).
- Guru memberikan asesmen akhir berupa 2 pertanyaan cek pemahaman singkat tertulis, menyampaikan tindak lanjut untuk membaca dokumen studi kasus pada pertemuan berikutnya, dan menutup kelas dengan doa bersama (10 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan literatur dengan teks adaptasi berglosarium istilah bagi murid yang membutuhkan perancah membaca, serta menyajikan kutipan teks jurnal sosiologis yang lebih kompleks bagi murid yang berpencapaian tinggi.
- Proses: Memberikan bimbingan terarah dan pemodelan kata kunci bagi kelompok yang kesulitan menafsir teks, sementara kelompok mandiri mengkaji literatur secara langsung tanpa pendampingan intensif.
- Produk: Format isian tabel kajian literatur disediakan dengan panduan kolom terstruktur bagi kelompok berkembang, sedangkan kelompok mahir menambahkan sintesis komparasi pada baris simpulan tabel.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tes diagnostik singkat tertulis menjodohkan 2 definisi literatur dengan istilah sosiologisnya: Butir (1) 'Proses disosiatif di mana dua pihak berusaha saling menyingkirkan demi mencapai tujuan' (acuan jawaban: Konflik Sosial); Butir (2) 'Penggunaan kekuatan fisik atau ancaman yang menimbulkan luka atau kerusakan badaniah secara sengaja' (acuan jawaban: Kekerasan).
Proses:- Observasi kajian literatur kelompok dalam mengisi tabel komparasi 4 kutipan fenomena: Kutipan 1 (Negosiasi alot sengketa lahan adat -> acuan: Konflik Sosial); Kutipan 2 (Pengrusakan perumahan warga akibat bentrok -> acuan: Kekerasan); Kutipan 3 (Boikot massal buruh terhadap produk -> acuan: Konflik Sosial); Kutipan 4 (Penyerangan fisik bersenjata tajam -> acuan: Kekerasan). Kriteria ketepatan: minimal 3 dari 4 kutipan terklasifikasi dan beralasan teoretis tepat.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman tertulis individual 2 butir pada penutup: (1) Sebutkan 1 pembeda utama antara konflik sosial dan kekerasan berdasarkan literatur sosiologi! (kriteria penerimaan: menyebutkan perbedaan pada aspek fisik/non-fisik, ada/tidaknya destruksi badaniah, atau bentuk interaksinya); (2) Tentukan apakah 'aksi unjuk rasa buruh yang menutup akses jalan secara damai' termasuk konflik sosial atau kekerasan! (acuan jawaban: Konflik Sosial, karena merupakan bentuk disosiatif penyampaian tuntutan tanpa serangan atau perusakan fisik).
Formatif:- Penilaian Kinerja Kajian Literatur melalui Lembar Kerja Komparasi Konsep Konflik dan Kekerasan
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Kajian Literasi Perbedaan Konflik Sosial dan Kekerasan | Mampu mengklasifikasikan 1 dari 4 kutipan fenomena literatur secara tepat sesuai acuan konsep. | Mampu mengklasifikasikan 2 dari 4 kutipan fenomena literatur secara tepat sesuai acuan konsep. | Mampu mengklasifikasikan 3 dari 4 kutipan fenomena literatur secara tepat disertai alasan teoretis sesuai acuan konsep. | Mampu mengklasifikasikan seluruh (4 dari 4) kutipan fenomena literatur secara tepat disertai alasan teoretis sosiologis yang komprehensif secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah pemilihan teks literatur sosiologi yang digunakan cukup kontekstual dan mudah dipahami oleh murid kelas 11?
- Bagaimana keterlibatan murid dalam aktivitas tantangan berpasangan Cepat Tepat Literatur dalam membangun kegembiraan belajar?
Murid:- Apa hal paling mendasar yang membedakan konflik sosial dengan kekerasan setelah saya membaca literatur hari ini?
- Bagian mana dari teks kajian literatur yang masih menantang untuk saya bedakan kategorinya?
Pertemuan 6 — Melakukan Kajian Literasi Fenomena Dampak Konflik Sosial dan Kekerasan dari Dokumen Studi Kasus — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.2.2 Melakukan kajian literasi atas fenomena konflik sosial dan kekerasan dari berbagai sumber
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan belajar murid, dan menyampaikan fokus pertemuan yaitu melakukan kajian literasi dokumen studi kasus dampak konflik dan kekerasan (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal singkat melalui kuis klasifikasi dampak konflik dengan menampilkan 3 contoh pernyataan: (1) 'Rusaknya 5 ruko dan pos keamanan', (2) 'Rasa trauma berkepanjangan dan saling curiga antarwarga', (3) 'Macetnya distribusi sembako antardesa'. Murid diminta menuliskan kategori dampaknya (fisik/material, psikososial, atau ekonomi) pada secarik kertas (acuan: (1) fisik/material, (2) psikososial, (3) ekonomi) (10 menit).
- Guru mengaitkan hasil asesmen awal dengan pentingnya membaca teliti teks dokumen studi kasus agar dapat mengekstrak data dampak secara objektif (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid mencermati panduan pembacaan dokumen studi kasus konflik dan lembar kajian literasi yang memuat 4 kategori dampak: (1) Kerusakan fisik/material, (2) Korban jiwa/luka fisik, (3) Kerugian ekonomi/mata pencaharian, dan (4) Dampak relasi sosial/psikologis (15 menit).
- Murid membaca secara mandiri teks dokumen studi kasus berjudul 'Dinamika Sengketa Lahan Perkebunan Desa Sukamaju' yang memuat data faktual dampak bentrokan antarkelompok (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Dalam kelompok berpasangan, murid memainkan tantangan 'Detektif Dokumen': berpacu menemukan dan mencatat kutipan data dampak spesifik dari teks studi kasus ke dalam 4 kategori tabel kajian literasi (20 menit).
- Murid berpasangan mengisi tabel kajian literasi dampak konflik berdasarkan teks 'Dinamika Sengketa Lahan Perkebunan Desa Sukamaju' (acuan data dokumen: fisik/material = 4 unit traktor dan pos jaga dibakar; korban jiwa/luka = 6 warga luka berat akibat lemparan batu; ekonomi = panen sawit terhenti selama 2 minggu dan kerugian ditaksir Rp150 juta; relasi sosial/psikologis = putusnya komunikasi antardusun dan rasa cemas anak-anak bersekolah) (30 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid melakukan saling silang lembar kerja dengan pasangan sebelah untuk mencocokkan kelengkapan 4 butir dampak yang diekstraksi dari dokumen studi kasus berdasarkan kunci jawaban guru (15 menit).
- Murid menyimpulkan temuan utama mengenai ragam dampak konflik sosial dan kekerasan yang ditemukan dalam dokumen literasi tersebut (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik menyeluruh atas ketepatan hasil kajian literasi dokumen murid dan menegaskan pentingnya data dampak terverifikasi (5 menit).
- Guru dan murid menutup pembelajaran dengan doa bersama dan salam penutup (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan dokumen studi kasus dengan penanda visual (stabilo/garis bawah) pada kata kunci peristiwa bagi murid yang membutuhkan scaffolding literasi, serta dokumen tanpa penanda bagi murid yang sudah mahir.
- Proses: Memberikan pendampingan langsung dalam membedakan dampak fisik dan psikososial pada kelompok yang memerlukan bimbingan, sedangkan pasangan yang mahir diarahkan mengekstrak dampak turunan jangka panjang dari teks yang sama.
- Produk: Tabel kajian literasi dapat diisi dalam format poin ringkas berdasar kutipan langsung dokumen atau narasi sintesis data dampak secara mandiri.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Kuis singkat klasifikasi 3 pernyataan dampak konflik sosial: (1) 'Rusaknya 5 ruko dan pos keamanan', (2) 'Rasa trauma berkepanjangan dan saling curiga antarwarga', (3) 'Macetnya distribusi sembako antardesa'. (Kunci acuan: 1 = Dampak fisik/material; 2 = Dampak psikologis/relasi sosial; 3 = Dampak ekonomi/mata pencaharian).
Proses:- Observasi keterlibatan pasangan murid dalam menemukan bukti kutipan dokumen studi kasus 'Dinamika Sengketa Lahan Perkebunan Desa Sukamaju'.
- Pemeriksaan ketepatan pengisian lembar kajian literasi 4 kategori dampak konflik berdasarkan dokumen (Acuan: Fisik = 4 traktor dan pos jaga terbakar; Korban fisik = 6 luka berat; Ekonomi = panen terhenti 2 minggu & rugi Rp150 juta; Relasi sosial = pemutusan komunikasi antardusun & ketakutan murid sekolah).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman singkat: Murid menuliskan kembali 1 dampak manifes (langsung terlihat) dan 1 dampak laten (tersembunyi/psikologis) yang paling menonjol dari studi kasus yang dikaji (Kriteria penerimaan: dampak manifes merujuk pada kerusakan fisik/luka/kerugian uang konkret; dampak laten merujuk pada trauma/ketakutan/renggangnya hubungan antarwarga).
Formatif:- Asesmen Awal: Kuis identifikasi 3 contoh ragam dampak konflik pada secarik kertas.
- Asesmen Proses: Pemeriksaan lembar kerja tabel kajian literasi ekstraksi 4 dampak konflik dari dokumen studi kasus.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Kajian Literasi Dampak Konflik dan Kekerasan dari Dokumen Studi Kasus | Mampu mengekstrak 1 kategori data dampak konflik dan kekerasan dari dokumen studi kasus secara tepat dengan bimbingan penuh guru. | Mampu mengekstrak 2-3 kategori data dampak konflik dan kekerasan dari dokumen studi kasus secara tepat dengan sedikit arahan. | Mampu mengekstrak seluruh 4 kategori data dampak (fisik/material, korban/luka, ekonomi, relasi sosial) dari dokumen studi kasus secara tepat dan mandiri. | Mampu mengekstrak seluruh 4 kategori data dampak dari dokumen studi kasus secara tepat dan lengkap beserta kutipan bukti tekstualnya secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah teks studi kasus yang dipilih memiliki tingkat keterbacaan yang sesuai dengan kemampuan membaca kritis murid kelas 11?
- Bagaimana keterlibatan murid selama aktivitas pencarian data dampak secara berpasangan?
Murid:- Bagian mana dari dokumen studi kasus yang paling mudah dan paling sulit saya temukan datanya?
- Pelajaran apa yang saya dapatkan mengenai dampak nyata kekerasan dan konflik sosial terhadap kehidupan warga?
Pertemuan 7 — Mengamati Fenomena Perbedaan Sosial Pemicu Konflik di Lingkungan Sekitar Sekolah — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.2.3 Mengamati fenomena konflik sosial dan kekerasan akibat perbedaan di lingkungan sekitar
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan fokus pembelajaran hari ini yaitu mengamati fenomena perbedaan sosial pemicu konflik di lingkungan sekitar sekolah (5 menit).
- Guru memberikan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan cepat tentang indikator perbedaan pemicu ketegangan sosial untuk mengecek kesiapan observasi murid (10 menit).
- Guru mengarahkan murid menyimak apersepsi singkat mengenai pentingnya kepekaan indra sosial dalam melihat gesekan kecil di sekitar sebelum berkembang menjadi konflik terbuka (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Menggembirakan):- Murid menyimak penjelasan lembar instrumen observasi lapangan yang memuat 4 aspek pengamatan: (1) wujud perbedaan sosial yang tampak, (2) interaksi/gesekan antarpihak yang teramati, (3) potensi isu pemicu ketegangan, dan (4) tanda-tanda awal kekerasan fisik/verbal/relasional di area sekolah (15 menit).
- Murid dalam kelompok kecil (3-4 orang) memainkan simulasi cepat 'Detektif Gesekan Sosial' di kelas dengan mencermati 1 foto/skenario situasi kantin sekolah yang ramai untuk melatih ketelitian mata mengamati tanda-tanda perbedaan antarkelompok (15 menit).
Mengaplikasi (Bermakna, Berkesadaran):- Murid bersama kelompoknya bergerak melakukan observasi lapangan terarah di area lingkungan sekitar sekolah (kantin, tempat parkir siswa/ojek, area tongkrongan gerbang luar, dan lapangan olahraga) menggunakan panduan lembar observasi untuk mencatat secara faktual fenomena perbedaan sosial yang berpotensi memicu ketegangan (20 menit).
- Murid memverifikasi dan merapikan catatan temuan pengamatan lapangan bersama kelompok di ruang kelas, memilah antara data fakta yang teramati secara langsung dan asumsi pribadi terkait potensi konflik akibat perbedaan (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Perwakilan kelompok membacakan 2 butir temuan perbedaan sosial paling menonjol hasil amatan mereka di lingkungan sekolah, lalu guru memvalidasi objektivitas data amatan (15 menit).
- Murid menuliskan refleksi singkat pada catatan belajarnya mengenai tantangan terbesar dalam membedakan antara sekadar perbedaan yang wajar dengan perbedaan yang berpotensi memicu perselisihan (15 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan hasil observasi lapangan mengenai ragam perbedaan sosial pemicu konflik di lingkungan sekitar sekolah (10 menit).
- Guru menutup pertemuan dengan memberikan arahan untuk menyimpan rapi lembar hasil amatan guna pengamatan lanjutan di pertemuan berikutnya dan salam penutup (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan panduan observasi dengan indikator terstruktur rinci (ceklist perilaku) bagi murid yang membutuhkan bimbingan, dan lembar observasi terbuka berbasis narasi fenomena bagi murid yang lebih mandiri.
- Proses: Memberikan pendampingan langsung pada kelompok yang kesulitan mengidentifikasi pembeda sosial di lokasi observasi, sementara kelompok yang mandiri dibebaskan mengeksplorasi dua titik amatan berbeda (misal: kantin dan area gerbang).
- Produk: Format pencatatan hasil amatan dapat berupa tabel ceklist beranotasi atau catatan lapangan naratif faktual yang memuat 4 aspek pengamatan yang ditentukan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab lisan diagnostik: 'Jika di area parkir terlihat antrean motor diterobos oleh kelompok tertentu hingga terjadi saling tatap sinis, perbedaan apa yang memicu gesekan tersebut?' (Acuan jawaban: perbedaan kepentingan antarpengguna atau perbedaan status senioritas antarkelompok murid).
Proses:- Pemeriksaan pengisian instrumen lembar amatan saat murid melakukan observasi langsung di area lingkungan sekolah, dengan kriteria: keterisian 4 aspek amatan (wujud perbedaan sosial, interaksi/gesekan, isu pemicu, tanda potensi kekerasan) secara faktual dan tanpa praduga subjektif.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman di akhir sesi melalui peninjauan lembar catatan amatan murid dengan kriteria minimal: mencatat minimal 2 temuan fenomena perbedaan sosial riil di lingkungan sekitar sekolah yang disertai deskripsi faktual pemicu konfliknya.
Formatif:- Penilaian kinerja pengamatan lapangan menggunakan lembar observasi pencatatan data fenomena perbedaan sosial pemicu konflik
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Keteramatan Fenomena Perbedaan Sosial Pemicu Konflik | Mencatat kurang dari 2 fenomena perbedaan sosial di sekitar sekolah atau deskripsi amatan masih berupa opini/asumsi tanpa fakta empiris. | Mencatat 2 fenomena perbedaan sosial di sekitar sekolah namun hanya mencantumkan 1-2 dari 4 aspek amatan yang ditentukan. | Mencatat 2 fenomena perbedaan sosial pemicu konflik secara faktual dan memuat minimal 3 dari 4 aspek amatan yang ditentukan. | Mencatat 2 fenomena perbedaan sosial pemicu konflik atau lebih secara komprehensif, objektif-faktual, dan memuat lengkap seluruh 4 aspek amatan yang ditentukan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 35 menit observasi lapangan cukup bagi murid untuk menemukan fenomena perbedaan sosial yang relevan di sekitar sekolah?
- Apakah murid dapat membedakan data empiris hasil pengamatan dengan asumsi atau stereotipe pribadi?
Murid:- Hal baru apa yang saya sadari mengenai dinamika perbedaan antarkelompok di lingkungan sekolah setelah melakukan pengamatan langsung?
- Bagian mana dari pengamatan tadi yang paling menantang untuk dicatat secara objektif tanpa prasangka?
Pertemuan 8 — Mengamati Potensi Konflik Sosial dan Kekerasan Akibat Perbedaan di Lingkungan Sekitar — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.2.3 Mengamati fenomena konflik sosial dan kekerasan akibat perbedaan di lingkungan sekitar
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan membangun kesiapan belajar murid (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui kuis cepat 'Deteksi Sinyal Perbedaan': murid mencocokkan 3 kartu situasi sosial di sekitar sekolah dengan jenis potensinya: (1) 'Pedagang kaki lima berbeda asal daerah berebut batas lapak di depan gerbang' (acuan: potensi konflik terbuka antarkelompok); (2) 'Keluhan warga sekitar terkait suara bising knalpot motor murid di jam istirahat' (acuan: potensi konflik antargenerasi/norma); (3) 'Komentar saling sindir antarorganisasi siswa di media sosial karena beda jadwal penggunaan aula' (acuan: potensi konflik laten kepengurusan) (10 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yakni mengamati potensi konflik sosial dan kekerasan akibat perbedaan di lingkungan sekitar secara teliti dan objektif (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Menggembirakan):- Murid secara berpasangan mencermati panduan lembar pengamatan potensi konflik dan kekerasan yang memuat 4 indikator amatan: tanda ketegangan sosial, bentuk perbedaan pemicu (kepentingan/budaya/norma), pihak yang berpotensi berselisih, dan sinyal ancaman fisik/verbal (15 menit).
- Murid mengikuti simulasi permainan 'Radar Sosiologis': setiap pasangan menganalisis 1 cuplikan studi kasus nyata lingkungan sekitar berupa rekaman interaksi parkir liar vs juru parkir resmi untuk mengidentifikasi 3 potensi titik gesekan (acuan titik gesekan: tarif tidak resmi, perebutan lahan trotoar, dan lontaran kata kasar yang memicu kekerasan) (15 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Murid dalam kelompok kecil (3-4 orang) melakukan observasi langsung terarah di zona lingkungan sekitar sekolah (kantin, area penjemputan/gerbang luar, ruang tunggu parkir, atau fasilitas olahraga) dengan memegang instrumen observasi untuk mencatat bukti konkret potensi konflik atau potensi kekerasan akibat perbedaan status, aturan, atau kepentingan (40 menit).
- Setiap kelompok mengelompokkan hasil amatan lapangan ke dalam format instrumen observasi dengan kriteria verifikasi: lokasi amatan, fakta perbedaan sosial yang terlihat, indikasi potensi ketegangan, dan potensi kekerasan yang mungkin muncul bila tidak diantisipasi (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid menempelkan draf instrumen observasi di meja masing-masing, lalu saling memeriksa keakuratan data fakta lapangan antarkelompok untuk memverifikasi objektivitas catatan amatan (tanpa asumsi pribadi) (10 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan aspek-aspek kunci yang teramati terkait potensi konflik sosial dan potensi kekerasan di lingkungan sekitar (5 menit).
- Guru memberikan penguatan terhadap ketelitian data amatan murid dan menyampaikan agenda pertemuan berikutnya yaitu mendokumentasikan hasil pengamatan fenomena konflik sosial (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan instrumen observasi dengan panduan daftar periksa indikator terstruktur di area sekolah yang paling mudah diamati (kantin); murid yang mahir mengamati area yang lebih dinamis dan kompleks seperti interaksi di gerbang luar sekolah saat jam sibuk.
- Proses: Scaffolding pendampingan langsung diberikan kepada kelompok yang ragu membedakan antara interaksi wajar dan indikasi potensi konflik laten.
- Produk: Catatan hasil observasi dapat berupa format tabel instrumen isian terstruktur atau catatan lapangan deskriptif berbasis poin fakta amatan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Kuis 3 kartu situasi awal: Murid mengidentifikasi potensi dari 3 kasus: (1) 'Pedagang kaki lima berbeda asal daerah berebut batas lapak di depan gerbang' (acuan kunci: potensi konflik terbuka antarkelompok); (2) 'Keluhan warga sekitar terkait suara bising knalpot motor murid di jam istirahat' (acuan kunci: potensi konflik antargenerasi/norma); (3) 'Komentar saling sindir antarorganisasi siswa di media sosial karena beda jadwal penggunaan aula' (acuan kunci: potensi konflik laten kepengurusan).
Proses:- Penilaian lembar observasi lapangan: Memeriksa kelengkapan dan ketepatan catatan amatan murid mencakup 4 indikator: (1) lokasi amatan spesifik, (2) bentuk perbedaan sosial pemicu, (3) bukti faktual potensi konflik laten/terbuka, dan (4) bukti faktual potensi kekerasan fisik/verbal (acuan: catatan memuat minimal 3 fakta nyata tanpa opini bias).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman akhir: Murid menuliskan 1 temuan fakta amatan paling kritis di lingkungan sekitar beserta 1 indikasi konkret potensi kekerasannya pada secarik kertas keluar (exit ticket) (kriteria penerimaan: jawaban menyebutkan fakta empiris lokasi dan bentuk gesekan yang teramati di lapangan, bukan dugaan fiktif).
Formatif:- Kuis diagnostik pencocokan 3 kartu situasi sosial dengan jenis potensi konfliknya pada tahap pendahuluan
- Observasi unjuk kerja saat murid melakukan pengamatan langsung di lapangan menggunakan lembar observasi indikator potensi konflik dan potensi kekerasan
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Pengamatan potensi konflik sosial akibat perbedaan | Mencatat situasi lingkungan tanpa menyertakan fakta perbedaan sosial atau tanda ketegangan sosial yang teramati. | Mencatat 1 fakta amatan perbedaan sosial yang memicu ketegangan, namun bukti potensi konflik masih bercampur dengan asumsi/opini pribadi. | Mencatat secara objektif 2-3 fakta amatan potensi konflik sosial (faktor perbedaan pemicu dan tanda ketegangan) sesuai bukti lapangan. | Mencatat secara objektif dan mendalam lebih dari 3 fakta amatan potensi konflik sosial lengkap dengan perbedaan pemicu, tanda ketegangan laten maupun terbuka secara mandiri. | | Pengamatan potensi kekerasan di lingkungan sekitar | Belum mampu mengamati atau mengidentifikasi adanya indikasi potensi kekerasan verbal maupun fisik di lingkungan amatan. | Mengidentifikasi potensi kekerasan namun terbatas pada kekerasan fisik nyata tanpa mencatat indikasi awal (verbal/gestur). | Mengamati dan mencatat indikasi potensi kekerasan (ancaman fisik atau ujaran/gestur agresif) berdasarkan fakta empiris lapangan. | Mengamati dan memetakan derajat potensi kekerasan (mulai dari gesekan verbal, provokasi, hingga risiko fisik) secara rinci, akurat, dan objektif. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah instrumen observasi yang disiapkan cukup memandu murid menemukan data faktual potensi konflik tanpa memancing ketegangan nyata di lapangan?
- Bagaimana keterlibatan setiap kelompok saat mengamati interaksi sosial di lingkungan sekitar sekolah?
Murid:- Hal konkret apa yang paling mengejutkan yang kamu temukan dari pengamatan mengenai potensi ketegangan di sekitarmu hari ini?
- Kesulitan apa yang kamu hadapi saat harus membedakan fakta yang kamu lihat langsung dengan dugaan atau prasangka pribadimu?
Pertemuan 9 — Mendokumentasikan Hasil Pengamatan Fenomena Konflik Sosial Akibat Perbedaan — 3 JP (3 x 45 menit = 135 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.2.3 Mengamati fenomena konflik sosial dan kekerasan akibat perbedaan di lingkungan sekitar
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan belajar murid, dan memimpin doa bersama (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-9, yaitu mendokumentasikan hasil pengamatan fenomena konflik sosial akibat perbedaan ke dalam instrumen pencatatan data lapangan yang objektif (5 menit).
- Murid mengerjakan asesmen awal diagnostik singkat secara lisan/tertulis untuk menguji kesiapan membedakan fakta pengamatan langsung dari opini (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid mencermati panduan format instrumen dokumentasi hasil pengamatan yang mencakup 4 kolom komponen esensial: (1) Entitas/Pihak yang berbeda sosial, (2) Wujud interaksi/perbedaan yang diamati, (3) Tanda gesekan/potensi konflik empiris di lingkungan, dan (4) Bukti faktual pendukung (catatan perilaku lapangan/foto situasi) (15 menit).
- Dalam format permainan cepat 'Tebak Fakta vs Opini Observasi', murid secara berpasangan memilah 4 kartu catatan lapangan berikut: Kartu 1: 'Dua kelompok pedagang di depan pagar sekolah beradu argumen memperebutkan lapak pembeli' (Fakta); Kartu 2: 'Pedagang baru itu berniat jahat dan sengaja merebut pelanggan pedagang lama' (Opini); Kartu 3: 'Terpasang papan pengumuman larangan parkir sepihak oleh warga RT sebelah yang memicu protes antarwarga' (Fakta); Kartu 4: 'Warga RT sebelah memang sangat egois dan tidak peduli lingkungan' (Opini). Murid mencocokkan kategori dengan tepat (15 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid duduk bersama kelompok pengamatan yang telah dibentuk pada pertemuan sebelumnya, lalu membuka kembali catatan mentah hasil observasi lingkungan sekitar (dari Pertemuan 7 dan 8) mengenai fenomena perbedaan sosial dan potensi konflik (15 menit).
- Setiap kelompok menyaring dan mendokumentasikan temuan pengamatan mereka ke dalam Format Lembar Kerja Dokumentasi Hasil Pengamatan Fenomena Konflik Sosial, dengan mengisi secara faktual minimal 2 fenomena perbedaan sosial pemicu gesekan (misal: perselisihan area parkir siswa vs warga sekitar, atau persaingan ruang kantin/pedagang luar gerbang) (25 menit).
- Murid saling memeriksa kelengkapan isi tabel dokumentasi antar-anggota kelompok untuk memastikan setiap butir memuat deskripsi objektif tanda-tanda gesekan nyata akibat perbedaan tanpa opini subjektif (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama kelompok merefleksikan proses dokumentasi pengamatan: apakah catatan yang dibuat sudah mencerminkan realitas empiris di lingkungan sekitar dan bebas dari prasangka (15 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan pentingnya objektivitas dalam mendokumentasikan fenomena konflik sosial hasil pengamatan lapangan (10 menit).
- Guru memberikan umpan balik atas lembar kerja dokumentasi yang telah dikumpulkan serta menginformasikan agenda pertemuan berikutnya (Pertemuan 10) mengenai pengolahan data aktor dan pihak terlibat, kemudian menutup sesi dengan doa (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan lembar template tabel dengan kalimat pemandu (prompting questions) untuk mendeskripsikan fakta; murid yang mahir diberikan tabel terbuka untuk mendokumentasikan rincian kronologis atau detail variasi pihak yang terlibat.
- Proses: Kelompok yang kesulitan memisahkan opini dari data lapangan didampingi guru melalui verifikasi langsung terhadap catatan lapangan mentah mereka.
- Produk: Format penyajian dokumentasi data pengamatan dapat berupa tabel lembar kerja fisik atau lembar kerja digital (spreadsheet/dokumen).
Asesmen Pertemuan:Awal:- Murid mengidentifikasi sifat dari 2 pernyataan pengamatan berikut: (1) 'Kelompok siswa X dan Y saling mengejek di lorong kelas saat jam istirahat' (acuan jawaban: Fakta empiris); (2) 'Kelompok siswa X pasti berniat mencari masalah dengan kelompok Y' (acuan jawaban: Opini/asumsi pribadi). Kriteria: murid tepat mengidentifikasi minimal 2 dari 2 pernyataan sesuai acuan.
Proses:- Observasi formatif terhadap proses murid mendokumentasikan data pengamatan ke dalam 4 kolom tabel instrumen: (1) pihak/entitas, (2) wujud perbedaan sosial, (3) indikator gesekan/potensi konflik, dan (4) bukti faktual pengamatan lingkungan.
Akhir Pertemuan:- Pemeriksaan kelengkapan Lembar Kerja Dokumentasi Hasil Pengamatan: memastikan terisinya minimal 2 kasus/fenomena nyata di lingkungan sekitar dengan deskripsi faktual objektif pada keempat komponen tabel (acuan kriteria: tidak memuat kalimat prasangka/penilaian moral sepihak, memuat pihak yang berselisih, wujud perbedaan latar belakang/posisi, dan bukti tanda ketegangan sosial yang teramati).
Formatif:- Penilaian kinerja pengisian Lembar Kerja Dokumentasi Hasil Pengamatan Fenomena Konflik Sosial Akibat Perbedaan menggunakan rubrik observasi
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Kelengkapan dan Keobjektifan Dokumentasi Hasil Pengamatan Konflik Sosial | Dokumentasi hanya memuat 1 fenomena, atau data lapangan yang dicatat masih didominasi opini/prasangka subjektif tanpa rincian fakta tanda gesekan. | Mendokumentasikan minimal 2 fenomena perbedaan sosial dan potensi konflik, namun deskripsi tanda gesekan masih kurang lengkap atau bukti faktual belum terinci jelas. | Mendokumentasikan minimal 2 fenomena perbedaan sosial pemicu gesekan secara faktual, objektif, dan mencakup 4 kolom komponen (pihak, perbedaan, tanda gesekan, bukti faktual) dengan tepat. | Mendokumentasikan lebih dari 2 fenomena perbedaan sosial pemicu gesekan secara sistematis, sepenuhnya objektif, memuat rincian bukti empiris lingkungan yang sangat spesifik dan runtut tanpa bantuan guru. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alur pembelajaran membantu murid menyaring data pengamatan mentah menjadi dokumentasi fakta yang objektif?
- Bagian mana dari instrumen dokumentasi pengamatan yang paling sering memicu kesulitan bagi murid saat membedakan fakta dan asumsi?
Murid:- Tantangan apa yang saya hadapi saat mencatat hasil pengamatan konflik sosial agar terbebas dari opini pribadi?
- Bagaimana dokumentasi yang objektif membantu saya memahami realitas gesekan sosial di sekitar sekolah secara lebih adil?
Pertemuan 10 — Mengolah Data Aktor dan Pihak Terlibat dalam Fenomena Konflik Sosial — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.2.4 Mengolah data fenomena konflik sosial secara sistematis untuk menyusun pemetaan konflik
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran, dan menyampaikan fokus kegiatan yaitu mengolah data aktor dan pihak yang terlibat dalam fenomena konflik sosial (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal singkat melalui kuis cepat klasifikasi aktor pada kasus sengketa lahan fasilitas umum: (1) Warga RT 01 pemilik hunian terdampak langsung, (2) Ormas pendukung dari luar wilayah, (3) Tokoh mediasi dari pihak Kelurahan; murid diminta mengelompokkan ke dalam kategori pihak primer, pihak sekunder, dan pihak tersier (acuan: (1) = pihak primer/terlibat langsung, (2) = pihak sekunder/terlibat tidak langsung/pendukung, (3) = pihak tersier/pihak netral/mediator) (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid mencermati panduan tabel inventarisasi aktor konflik yang memuat tiga kategori posisi: Aktor Utama/Primer (berkepentingan langsung dan berhadapan langsung), Aktor Sekunder/Pendukung (memiliki ikatan tidak langsung atau mendukung pihak utama), dan Aktor Tersier/Netral (penengah, mediator, atau penegak aturan formal) (10 menit).
- Secara berpasangan, murid memainkan tantangan ceria 'Sortir Cepat Kartu Aktor' menggunakan 3 potongan profil peran dari kasus sengketa lapak pedagang kaki lima: Peran A: 'Pedagang lama yang mempertahankan area dagang' (acuan: Aktor Primer), Peran B: 'Pemasok barang dagangan yang menyuarakan simpati' (acuan: Aktor Sekunder), Peran C: 'Petugas Satpol PP yang menengahi penataan' (acuan: Aktor Tersier) untuk melatih ketepatan identifikasi kategori sebelum mengolah data kelompoknya sendiri (10 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid duduk bersama kelompok kerja penelitian dan membuka kembali catatan data lapangan/dokumen hasil observasi konflik sosial yang telah dihimpun pada pertemuan sebelumnya (10 menit).
- Murid mengolah data mentah tersebut dengan memilah, mengelompokkan, dan mencatat seluruh aktor serta pihak terlibat ke dalam Tabel Klasifikasi Aktor Konflik yang memuat kolom: Nama Aktor/Kelompok, Peran Nyata di Lapangan, dan Kategori Pihak (Primer, Sekunder, atau Tersier) (25 menit).
- Guru berkeliling memberikan bimbingan teknis pengolahan data, memastikan setiap data aktor diletakkan pada kategori yang tepat berdasarkan bukti tindakan faktual di lapangan (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid melakukan verifikasi mandiri terhadap tabel hasil olahan data kelompok menggunakan lembar cek mandiri keselarasan peran aktor untuk memastikan tidak ada pihak yang salah dikelompokkan atau terlewatkan (5 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan alur pengolahan data aktor konflik sosial yang telah dikelompokkan ke dalam kategori primer, sekunder, dan tersier sebagai dasar penyusunan pemetaan konflik (3 menit).
- Guru memberikan umpan balik atas ketuntasan pengisian tabel klasifikasi aktor dan menyampaikan bahwa data terolah ini akan dilanjutkan untuk pengolahan data isu pemicu dan kepentingan pada Pertemuan 11 (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Kelompok yang membutuhkan pendampingan diberikan panduan contoh isian tabel pengolahan data aktor dengan kalimat rujukan operasional, sedangkan kelompok yang sudah mahir mengolah data aktor dari kasus dengan lebih banyak faksi/sub-kelompok.
- Proses: Guru memberikan scaffolding terstruktur bagi kelompok yang ragu menentukan batas aktor sekunder vs tersier melalui pertanyaan penuntun keterlibatan langsung.
- Produk: Tabel pengolahan data aktor dapat disajikan dalam format cetak lembar kerja tabel atau format dokumen spreadsheet digital sesuai kesiapan fasilitas kelompok.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik kesiapan mengolah data aktor: Murid mengelompokkan 3 contoh pihak dalam kasus sengketa lahan ke dalam kategori yang tepat: (1) Warga pemilik hunian terdampak -> acuan: pihak primer; (2) Ormas pendukung luar daerah -> acuan: pihak sekunder; (3) Pihak Kelurahan penengah -> acuan: pihak tersier.
Proses:- Formatif kinerja saat pengolahan data: Pengecekan ketepatan pengisian Tabel Klasifikasi Aktor Konflik yang mencakup identifikasi nama pihak/kelompok, uraian peran nyata, dan penetapan kategori pihak (primer, sekunder, tersier) berdasarkan data empiris kelompok.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman akhir sesi: Murid menjawab 1 pertanyaan verifikasi: 'Sebutkan 3 kategori klasifikasi aktor dalam pengolahan data konflik sosial dan berikan contoh perannya masing-masing!' (acuan jawaban: Pihak primer = pihak yang berkonflik langsung/berhadapan; Pihak sekunder = pihak yang memiliki hubungan tidak langsung/pendukung faksi; Pihak tersier = pihak ketiga/penengah/mediator netral).
Formatif:- Penilaian kinerja pengolahan data aktor konflik sosial menggunakan lembar observasi dan periksa tabel klasifikasi pihak (primer, sekunder, tersier).
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Pengolahan Data Aktor dan Pihak Terlibat | Mengolah data dengan mencantumkan nama aktor namun belum mengelompokkannya ke dalam kategori pihak primer, sekunder, dan tersier secara tepat. | Mengolah data aktor dan berhasil mengelompokkan 1 kategori pihak (primer, sekunder, atau tersier) secara tepat dengan bantuan guru. | Mengolah data aktor secara sistematis dengan mengelompokkan minimal 2 kategori pihak (primer, sekunder, dan/atau tersier) secara tepat sesuai data temuan. | Mengolah data seluruh aktor secara sistematis, lengkap, dan tepat ke dalam ketiga kategori pihak (primer, sekunder, dan tersier) disertai rincian peran nyata tanpa kesalahan klasifikasi secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alur kegiatan pengolahan data aktor berhasil membantu murid membedakan secara objektif pihak primer, sekunder, dan tersier?
- Bagian mana dari pengelompokan aktor yang paling sering menimbulkan keraguan pada murid saat mengolah data lapangan?
Murid:- Apakah saya sudah mampu membedakan aktor primer, sekunder, dan tersier dari data konflik yang kami amati?
- Kesulitan apa yang saya temukan saat mengelompokkan peran aktor ke dalam tabel pemetaan data?
Pertemuan 11 — Mengolah Data Isu Pemicu dan Kepentingan Aktor dalam Fenomena Konflik Sosial — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.2.4 Mengolah data fenomena konflik sosial secara sistematis untuk menyusun pemetaan konflik
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengondisikan kesiapan belajar (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-11: mengolah data isu pemicu dan kepentingan aktor dalam fenomena konflik sosial secara sistematis untuk tabel pemetaan konflik (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat: murid diminta mengidentifikasi perbedaan isu pemicu (trigger issue) dan kepentingan substantif (underlying interest) berdasarkan 1 studi kasus mini: 'Perselisihan antarpedagang kaki lima dan pengelola pasar karena penempatan lapak di pintu masuk'. Acuan jawaban: Isu pemicu = penempatan lapak di pintu masuk pasar; Kepentingan aktor pedagang = mempertahankan penghasilan dan akses pembeli; Kepentingan pengelola pasar = ketertiban dan kelancaran arus pengunjung (9 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid mencermati panduan kategorisasi pengolahan data konflik: membedakan 'isu pemicu' (peristiwa/faktor langsung pemicu friksi) dan 'kepentingan aktor' (kebutuhan dasar, ekonomi, prestise, atau kekuasaan yang ingin dicapai aktor) dalam lembar kerja klasifikasi sistematis (15 menit).
- Guru memodelkan teknik memilah dan memasukkan data mentah wawancara/catatan lapangan ke dalam format tabel pengolahan data komponen konflik (kolom: Aktor, Isu Pemicu Langsung, Kepentingan Laten/Mendasar) (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid berpasangan mengikuti 'Tantangan Detektif Isu dan Kepentingan' secara interaktif: setiap pasangan menganalisis 2 berkas data temuan lapangan yang disiapkan dan mengolahnya ke dalam tabel pemetaan data konflik (20 menit).
- Murid secara mandiri/berpasangan mengolah data hasil penyelidikan lapangan masing-masing kelompok dengan mengisi tabel sistematis berisi minimal 2 isu pemicu spesifik dan 2 kepentingan utama dari masing-masing aktor yang berkonflik (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid memeriksa ketepatan dan keteraturan tabel hasil olahan datanya menggunakan daftar cek verifikasi kejelasan isu vs kepentingan aktor yang disiapkan guru (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan dan umpan balik terhadap hasil pengolahan data isu pemicu dan kepentingan aktor (5 menit).
- Guru dan murid menyimpulkan pembelajaran hari ini dan menyampaikan agenda pertemuan ke-12 tentang pengolahan data relasi antaraktor untuk melengkapi tabel pemetaan konflik (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan perancah (scaffolding) diberikan kartu bantuan berisi kata kunci pembeda antara isu pemicu (gejala permukaan) dan kepentingan (motif/tujuan mendalam); murid yang mahir diberikan data narasi konflik yang lebih berlapis.
- Proses: Bimbingan terarah intensif oleh guru pada kelompok yang masih keliru menyamakan isu pemicu dengan kepentingan mendasar; kerja mandiri bagi kelompok yang sudah tepat memilah.
- Produk: Tingkat kerincian elaborasi kepentingan aktor pada tabel pemetaan: kelompok reguler mengidentifikasi minimal 2 isu dan 2 kepentingan; kelompok mahir mengelaborasi relasi antara kepentingan ekonomi dan posisi kuasa aktor.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tes diagnostik singkat tertulis di awal pembelajaran: Murid memilah kasus mini 'Perselisihan antarpedagang kaki lima dan pengelola pasar karena penempatan lapak di pintu masuk'. Kriteria penilaian/kunci acuan: Tepat menuliskan (1) Isu pemicu = perebutan/penempatan lapak di area pintu masuk pasar; (2) Kepentingan pedagang = kepastian pendapatan dan keterjangkauan pembeli; (3) Kepentingan pengelola pasar = ketertiban sirkulasi jalan dan ketaatan regulasi pasar.
Proses:- Cek formatif pengerjaan tabel pengolahan data pada saat aktivitas 'Tantangan Detektif Isu dan Kepentingan': Guru memverifikasi bahwa murid mengolah data mentah menjadi 2 kolom terpisah (isu pemicu dan kepentingan mendasar) tanpa mencampuradukkan posisi/tindakan fisik dengan kepentingan laten para pihak.
Akhir Pertemuan:- Pengecekan hasil tabel pengolahan data konflik milik kelompok murid. Acuan penilaian: (1) Isu pemicu teridentifikasi spesifik berdasarkan fakta peristiwa pemantik; (2) Kepentingan aktor terurai secara objektif berdasarkan kebutuhan ekonomi/sosial/posisi aktor, minimal memuat 2 aktor, 2 isu pemicu, dan 2 kepentingan.
Formatif:- Penilaian unjuk kerja pengolahan data pada tabel klasifikasi isu pemicu dan kepentingan aktor konflik sosial menggunakan lembar observasi dan rubrik analitis.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Pengolahan Data Isu Pemicu Konflik | Belum mampu memilah data isu pemicu, data yang dimasukkan masih berupa deskripsi umum peristiwa tanpa menunjuk pemantik konflik yang spesifik. | Mampu mengolah dan mencatat 1 data isu pemicu namun masih bercampur dengan kronologi umum atau persepsi subjektif. | Mampu mengolah data sekurang-kurangnya 2 isu pemicu konflik secara tepat, terpisah dari data kronologi umum, dan disajikan secara sistematis dalam tabel. | Mampu mengolah seluruh data isu pemicu konflik secara tepat, terperinci, sistematis dalam tabel, serta mampu membedakan isu pemicu langsung dan faktor latar belakang secara mandiri. | | Pengolahan Data Kepentingan Aktor | Belum mampu mengolah data kepentingan aktor, kolom kepentingan masih terisi tindakan/perilaku lahiriah aktor. | Mampu mengidentifikasi kepentingan dari 1 aktor saja, atau kepentingannya masih dirumuskan secara samar. | Mampu mengolah data kepentingan dari sekurang-kurangnya 2 pihak aktor yang berkonflik secara tepat dan logis dalam tabel pengolahan data pemetaan. | Mampu mengolah data kepentingan dari seluruh aktor (primer maupun sekunder) secara tepat, tajam membedakan antara posisi lahiriah dan motif kebutuhan/kepentingan mendalam secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah instruksi membedakan isu pemicu dan kepentingan mendasar sudah cukup jelas dipahami murid?
- Bagian mana dari pengolahan data lapangan yang paling menyulitkan murid dan membutuhkan bimbingan tambahan pada sesi berikutnya?
Murid:- Apakah saya sudah dapat membedakan dengan jelas antara apa yang memicu pertengkaran (isu pemicu) dengan apa yang sebenarnya diinginkan oleh masing-masing aktor (kepentingan)?
- Bagaimana keterampilan mengolah data isu dan kepentingan ini membantu saya melihat konflik secara lebih adil dan objektif?
Pertemuan 12 — Mengolah Data Relasi Antaraktor secara Sistematis untuk Tabel Pemetaan Konflik — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.2.4 Mengolah data fenomena konflik sosial secara sistematis untuk menyusun pemetaan konflik
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-12 yaitu mengolah data relasi antaraktor secara sistematis ke dalam tabel matriks relasi untuk pemetaan konflik (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menampilkan 3 deskripsi situasi relasi di papan tulis: (1) Sengketa batas lahan antarpetani berujung perdebatan sengit dan saling lapor, (2) Warga dan pengembang perumahan menandatangani kesepakatan bagi hasil pengelolaan air, (3) Dua kelompok pemuda tidak pernah berkomunikasi sama sekali setelah keributan tahun lalu. Murid menuliskan jenis relasinya pada selembar kertas kecil (acuan jawaban: 1 = konflik/perselisihan; 2 = kerja sama/aliansi; 3 = hubungan terputus/rusak) (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid menyimak penjelasan guru mengenai format tabel matriks relasi konflik yang mencakup 4 komponen sistematis: Pasangan Aktor (Pihak A - Pihak B), Sifat/Bentuk Relasi (kerja sama, persaingan, konflik/perselisihan, netral, atau terputus), Indikator Hubungan di Lapangan (bukti perilaku/interaksi), dan Potensi Eskalasi/Deeskalasi (10 menit).
- Murid bersama pasangannya mengikuti kuis cepat 'Tebak Simbol dan Sifat Relasi' di mana guru menunjukkan 4 kartu kasus relasi mikro: (A) Asosiasi pedagang pasar saling mendukung pendanaan renovasi kios (acuan: kerja sama); (B) Pemilik toko dan pedagang kaki lima saling adu mulut memperebutkan trotoar (acuan: konflik/perselisihan); (C) Pihak kepolisian memfasilitasi dialog tanpa memihak (acuan: mediator/netral); (D) Tokoh adat dan pimpinan perusahaan menghentikan semua kontak negosiasi (acuan: hubungan terputus). Pasangan murid mengangkat kartu jawaban dengan cepat dan ceria (10 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid bekerja dalam kelompok projeknya masing-masing, membuka kembali catatan data temuan pengamatan aktor dan isu konflik yang telah dikumpulkan pada Pertemuan 10 dan 11 (5 menit).
- Murid mengolah dan mentabulasikan data relasi antaraktor dari data kasus kelompok ke dalam LKPD 'Tabel Matriks Relasi Antaraktor Pemetaan Konflik' secara sistematis, mengisi minimal 3 relasi pasangan aktor yang memuat kolom: Pasangan Aktor, Sifat Relasi, Bukti/Indikator Faktual dari data lapangan, dan Derajat Keterlibatan/Dinamika Hubungan (acuan kriteria: seluruh kolom terisi lengkap dengan bukti faktual yang konsisten dengan data aktor pada pertemuan sebelumnya) (25 menit).
- Guru berkeliling memberikan umpan balik langsung (assessment for learning) pada ketepatan kategorisasi sifat relasi dan kelengkapan bukti empiris yang dicantumkan murid di dalam tabel (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid memeriksa kembali keutuhan tabel matriks relasi kelompoknya menggunakan daftar centang verifikasi mandiri (apakah semua aktor utama sudah dipasangkan? apakah sifat relasi didukung fakta lapangan?) untuk memastikan data siap dijadikan acuan pembuatan bagan visual pada pertemuan berikutnya (10 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan alur sistematis pengolahan data relasi: identifikasi pasangan aktor, penentuan sifat hubungan, serta verifikasi bukti interaksi lapangan ke dalam tabel (3 menit).
- Guru melakukan asesmen akhir/cek pemahaman singkat: murid menuliskan 1 pasangan aktor dan 1 sifat relasi beserta buktinya dari hasil olahan kelompok pada lembar keluar (exit slip) (acuan kriteria: pasangan aktor jelas, sifat relasi tepat teridentifikasi, bukti interaksi konkret) (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan contoh tabel matriks relasi yang sudah terisi satu baris sebagai acuan pemodelan; murid cepat diberikan kasus dengan relasi majemuk/multisektor (misal: aktor ketiga berperan ganda sebagai penyedia dana sekaligus mediator).
- Proses: Guru memberikan perancah (scaffolding) berupa daftar kata kunci sifat relasi (aliansi, koalisi, kompetisi, konflik laten, konfrontasi) bagi kelompok yang kesulitan mengklasifikasikan data.
- Produk: Format pengolahan data tabel matriks relasi dapat diselesaikan dalam format tabel cetak LKPD bergaris atau dokumen spreadsheet digital sesuai kesiapan fasilitas murid.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik menentukan sifat relasi dari 3 deskripsi kasus singkat di awal pembelajaran: (1) Sengketa batas lahan antarpetani berujung perdebatan sengit dan saling lapor (acuan: konflik/perselisihan), (2) Warga dan pengembang perumahan menandatangani kesepakatan bagi hasil pengelolaan air (acuan: kerja sama/aliansi), (3) Dua kelompok pemuda tidak pernah berkomunikasi sama sekali setelah keributan tahun lalu (acuan: hubungan terputus/rusak)
Proses:- Observasi formatif saat pengerjaan LKPD Tabel Matriks Relasi Antaraktor: Guru memeriksa apakah setiap kelompok mengolah data dengan mengidentifikasi minimal 3 relasi pasangan aktor secara sistematis, mengkategorikan sifat relasi dengan tepat, dan menyertakan indikator/bukti faktual dari data lapangan (acuan kriteria: ketepatan kategori sifat relasi, kesesuaian bukti interaksi, dan konsistensi dengan data aktor/isu sebelumnya)
Akhir Pertemuan:- Exit Slip Cek Pemahaman: Menuliskan 1 pasangan relasi aktor yang telah diolah dalam tabel, sifat hubungannya, dan 1 bukti interaksinya dari data kasus masing-masing (kriteria penerimaan: pasangan aktor terdefinisi dari data kasus, sifat hubungan tergolong valid [kerja sama/konflik/netral/terputus/persaingan], dan bukti interaksi berupa fakta empiris perilaku antarpihak)
Formatif:- Penilaian Kinerja Pengolahan Data: Mengamati ketepatan dan kelengkapan murid dalam mengisi tabel matriks relasi antaraktor konflik pada LKPD
- Cek Pemahaman (Exit Slip): Menilai ketepatan murid mendeskripsikan 1 pasangan relasi aktor beserta bukti interaksinya
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Sistematika dan Kelengkapan Tabulasi Relasi Antaraktor | Mengolah kurang dari 2 pasangan aktor ke dalam tabel relasi, kolom tabel sebagian besar kosong atau tidak terisi sistematis. | Mengolah 2 pasangan aktor ke dalam tabel relasi, namun data indikator interaksi lapangan belum terisi lengkap. | Mengolah minimal 3 pasangan aktor ke dalam tabel relasi secara sistematis dengan seluruh kolom (pasangan aktor, sifat relasi, indikator bukti) terisi lengkap. | Mengolah lebih dari 3 pasangan aktor ke dalam tabel relasi secara mandiri, lengkap, dan sistematis dengan analisis dinamika hubungan timbal balik yang mendalam. | | Ketepatan Kategorisasi Sifat Relasi Berdasarkan Data | Keliru menentukan sifat relasi antaraktor (misal: relasi konfrontasi dikategorikan sebagai netral/kerja sama) dan tanpa bukti data. | Menentukan sifat relasi antaraktor dengan beberapa kesalahan kategorisasi atau bukti data yang dicantumkan kurang relevan. | Tepat menentukan sifat relasi antaraktor (kerja sama, persaingan, konflik, netral, atau terputus) sesuai acuan bukti data lapangan. | Tepat menentukan seluruh sifat relasi antaraktor secara konsisten disertai bukti faktual yang detail dan menunjukkan variasi intensitas relasi. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 90 menit memadai bagi setiap kelompok untuk mentabulasikan seluruh data relasi aktor ke dalam tabel matriks?
- Apakah murid mampu membedakan dengan jelas antara relasi persaingan (kompetisi) dan relasi konflik terbuka dari data lapangan mereka?
Murid:- Bagian mana yang paling menantang ketika menentukan sifat hubungan antaraktor yang datanya tidak secara terang-terangan menunjukkan permusuhan?
- Apakah tabel matriks relasi yang kelompok saya susun hari ini sudah cukup jelas untuk dijadikan pedoman pembuatan gambar peta konflik pertemuan berikutnya?
Pertemuan 13 — Menyajikan Data Aktor dan Isu Konflik Sosial dalam Draf Bagan Pemetaan Konflik — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.2.5 Menyajikan data fenomena konflik sosial secara sistematis dalam bentuk bagan visual pemetaan konflik
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengondisikan suasana belajar yang tertib (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran bahwa hari ini murid akan menyajikan data aktor dan isu konflik yang telah diolah pada pertemuan sebelumnya ke dalam draf bagan visual pemetaan konflik (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen diagnostik singkat: murid mengerjakan kuis cepat mencocokkan simbol pemetaan konflik (lingkaran untuk aktor dan persegi untuk isu) berdasarkan data tabel konflik sederhana yang ditampilkan di layar guru (4 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Menggembirakan):- Murid mencermati model konvensi visual pemetaan konflik pada Buku Siswa halaman 115, yaitu representasi simbol lingkaran (kekuatan dan pihak aktor yang terlibat) dan simbol persegi (isu/topik konflik yang diperebutkan) (10 menit).
- Murid dalam kelompok kecil (3-4 orang) mengikuti permainan visual 'Tebak Simbol Cepat' di mana guru menunjukkan 4 kartu data kasus sengketa lahan kantin sekolah lalu kelompok secara serentak mengangkat kartu simbol yang tepat: (1) Pedagang Kantin Lama -> Kartu Lingkaran; (2) Kenaikan Tarif Sewa Kios -> Kartu Persegi; (3) Pengelola Sekolah -> Kartu Lingkaran; (4) Hak Penempatan Lokasi Usaha -> Kartu Persegi (acuan: aktor diwakili simbol lingkaran, isu/pokok masalah diwakili simbol persegi) (10 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Murid membuka kembali lembar kerja data aktor dan isu konflik sosial yang telah dihimpun pada pertemuan 10-12, lalu menyiapkan kertas manila/bagan kerja visual (10 menit).
- Secara berkelompok, murid menggambar draf bagan visual pemetaan konflik dengan menyajikan seluruh aktor yang terlibat menggunakan simbol lingkaran (dengan ukuran proporsional terhadap peran/kekuatannya) dan menuliskan label nama aktor di dalam/samping lingkaran tersebut (15 menit).
- Murid melengkapi draf bagan visual dengan menyajikan seluruh isu/pokok perselisihan di antara para aktor tersebut menggunakan simbol persegi tepat di area tengah atau relevan dengan pihak terkait (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid saling memeriksa draf bagan visual pemetaan konflik antarkelompok untuk memverifikasi apakah semua aktor sudah berwujud lingkaran dan semua isu sudah berwujud persegi secara lengkap dan sistematis sesuai catatan data awal (10 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan teknik dasar penyajian data aktor dan isu dalam draf visual pemetaan konflik berdasarkan konvensi simbol sosiologis (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik atas draf bagan yang telah dibuat dan menyampaikan bahwa draf ini akan dilanjutkan pada pertemuan 14 untuk menggambarkan garis relasi dinamika antarpihak (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan templat visual cetak berisi kerangka lingkaran dan persegi yang siap diisi label aktor dan isu, sedangkan murid yang mandiri membuat draf bagan visual dari kertas polos secara bebas terstruktur.
- Proses: Guru memberikan pendampingan langsung kepada kelompok yang masih tertukar dalam menempatkan simbol aktor dan isu, sementara kelompok mahir dipersilakan menyusun draf bagan dengan data aktor majemuk (lebih dari 3 aktor).
- Produk: Draf bagan visual disajikan pada kertas manila/sketsa plano dengan pewarnaan yang membedakan simbol aktor (lingkaran) dan simbol isu konflik (persegi).
Asesmen Pertemuan:Awal:- Kuis mencocokkan simbol visual pemetaan konflik: Murid menentukan simbol untuk komponen konflik pada kasus sengketa jam operasional perpustakaan. Soal: Tentukan simbol pemetaan untuk (1) Petugas Perpustakaan, (2) Jam Tutup Terlalu Awal, (3) Murid Pengunjung. (Acuan jawaban benar: 1 = Lingkaran, 2 = Persegi, 3 = Lingkaran; indikator kesiapan: murid mampu menjawab tepat minimal 2 dari 3 butir).
Proses:- Cek berkala draf bagan visual kelompok: Guru memeriksa lembar kerja draf bagan pemetaan konflik saat pengerjaan inti berlangsung dengan kriteria penerimaan: (1) Semua aktor dari data pertemuan sebelumnya tersaji dalam bentuk simbol lingkaran; (2) Semua isu perselisihan tersaji dalam bentuk simbol persegi; (3) Pelabelan teks nama aktor dan isu tertulis jelas dan tidak saling tertukar.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman draf visual: Setiap kelompok menunjukkan draf bagan visual di mejanya dan menyebutkan jumlah aktor serta jumlah isu yang berhasil disajikan ke dalam simbol visual. (Kriteria penerimaan: draf memuat minimal 2 aktor dalam simbol lingkaran dan minimal 1 isu perselisihan dalam simbol persegi sesuai data kasus kelompok).
Formatif:- Penilaian kinerja penyusunan draf bagan visual pemetaan konflik (ketepatan simbolisasi aktor dan isu)
- Observasi lembar kerja draf bagan pemetaan konflik
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Penyajian Data Aktor dalam Simbol Visual | Menyajikan data aktor tanpa menggunakan simbol visual lingkaran yang sesuai atau tertukar dengan simbol isu. | Menyajikan sebagian data aktor dalam bentuk simbol visual lingkaran dengan bimbingan penuh guru. | Menyajikan seluruh data aktor secara tepat dan sistematis menggunakan simbol visual lingkaran secara mandiri. | Menyajikan seluruh data aktor secara sistematis dan proporsional (ukuran lingkaran mencerminkan kekuatan peran aktor) menggunakan simbol visual lingkaran secara mandiri dan rapi. | | Penyajian Data Isu Konflik dalam Simbol Visual | Belum menyajikan isu konflik dalam draf bagan atau tidak menggunakan simbol visual persegi. | Menyajikan sebagian isu konflik dalam bentuk simbol persegi namun pelabelan isunya belum sistematis. | Menyajikan seluruh data isu konflik secara sistematis menggunakan simbol visual persegi dengan pelabelan yang tepat. | Menyajikan seluruh data isu pokok dan sub-isu konflik secara sistematis dan terstruktur menggunakan simbol visual persegi secara mandiri dan jelas. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah murid dapat membedakan secara visual antara penyajian aktor (lingkaran) dan penyajian isu (persegi) dalam bagan pemetaan konflik?
- Apakah alokasi waktu 90 menit mencukupi bagi seluruh kelompok untuk menuntaskan draf visual bagan pemetaan konflik?
Murid:- Bagian mana dari pembuatan draf bagan visual pemetaan konflik yang paling menantang bagi kelompokmu?
- Apakah kelompokmu sudah berhasil memindahkan seluruh catatan nama pihak yang berkonflik dan pokok masalahnya ke dalam simbol gambar yang tepat?
Pertemuan 14 — Menyajikan Hubungan dan Dinamika Kepentingan Antarpihak dalam Bagan Visual Pemetaan Konflik — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.2.5 Menyajikan data fenomena konflik sosial secara sistematis dalam bentuk bagan visual pemetaan konflik
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-14 mengenai visualisasi hubungan serta dinamika kepentingan antarpihak pada bagan pemetaan konflik (5 menit).
- Guru memberikan asesmen diagnostik singkat: murid diminta menjodohkan 3 simbol bagan konflik dengan maknanya secara tertulis pada lembar pembuka: (1) Garis zig-zag, (2) Garis ganda sejajar, (3) Garis putus-putus dengan panah (acuan: 1 = perselisihan/konflik terbuka; 2 = hubungan persekutuan/aliansi erat; 3 = hubungan pengaruh informal/sementara) (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Menggembirakan, Bermakna):- Murid secara berpasangan mencermati panduan visualisasi relasi konflik dan memainkan kuis cepat 'Tebak Garis Hubungan' di papan tulis untuk mencocokkan simbol relasi dengan 4 deskripsi dinamika: (a) sengketa batas lahan antarwarga -> garis zig-zag; (b) kerja sama pedagang dan asosiasi -> garis ganda sejajar; (c) komunikasi berkala tokoh adat -> garis putus-putus; (d) pengaruh dominan pihak ketiga -> garis panah berarah satu (15 menit).
- Murid mendiskusikan cara menyajikan posisi kepentingan pihak primer dan sekunder agar keterkaitan simbolik garis dan ukuran lingkaran terlihat sistematis pada bagan (10 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid dalam kelompok kerja melanjutkan draf pemetaan konflik dari pertemuan sebelumnya, dengan menambahkan simbol visual relasi (garis zig-zag untuk konflik, garis ganda untuk aliansi, garis lurus putus-putus untuk relasi renggang) serta menyematkan keterangan label dinamika kepentingan di setiap garis relasi (30 menit).
- Murid memeriksa kesesuaian sajian bagan visual kelompoknya dengan daftar periksa: ketepatan minimal 4 relasi antaraktor dan peletakan simbol isu/kepentingan (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid melakukan peninjauan silang antar-meja secara berpasangan dengan saling memberikan catatan tertulis pada lembar reviu mengenai kejelasan simbol visual relasi kepentingan yang disajikan kelompok lain (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap kelengkapan simbol visual hubungan antarpihak dan memastikan draf visual kelompok siap difinalisasi pada pertemuan berikutnya (3 menit).
- Murid merapikan lembar kerja pemetaan konflik dan guru menutup kegiatan pembelajaran dengan salam (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Kelompok yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan konvensi simbol relasi visual; kelompok yang mahir diberikan tantangan menambahkan dimensi relasi asimetris menggunakan simbol panah ganda berbobot tebal-tipis.
- Proses: Guru memberikan bimbingan berkala bagi kelompok yang masih kesulitan menerjemahkan relasi kepentingan ke dalam bentuk garis visual.
- Produk: Penyajian visual bagan pemetaan konflik dapat digambar manual pada kertas plano berukuran A2 atau menggunakan aplikasi bagan digital sesuai kesiapan fasilitas murid.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Menjodohkan 3 simbol bagan pemetaan konflik dengan maknanya pada lembar diagnostik singkat: (1) Garis zig-zag; (2) Garis ganda sejajar; (3) Garis putus-putus dengan panah (acuan ketepatan: 1 = perselisihan/konflik terbuka; 2 = aliansi/persekutuan erat; 3 = hubungan pengaruh informal/sementara)
Proses:- Observasi formatif saat kelompok menyajikan relasi dan dinamika kepentingan antarpihak pada bagan visual dengan daftar cek 4 relasi aktor: garis konflik, garis aliansi, garis relasi informal, dan penanda arah pengaruh dominan
Akhir Pertemuan:- Pengecekan draf visual bagan pemetaan kelompok dengan kriteria penerimaan operasional: memuat minimal 4 relasi antaraktor yang disimbolkan secara tepat menggunakan kaidah garis visual pemetaan konflik serta dilengkapi label dinamika kepentingan masing-masing pihak
Formatif:- Penilaian kinerja penyajian bagan visual pemetaan konflik berdasarkan rubrik ketepatan simbol relasi dan dinamika kepentingan
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Penyajian Simbol Hubungan Antarpihak pada Bagan Visual | Menyajikan kurang dari 2 simbol hubungan antarpihak pada bagan visual atau seluruh simbol garis relasi belum tepat sesuai kaidah pemetaan konflik | Menyajikan 2 simbol hubungan antarpihak dengan tepat pada bagan visual dengan bimbingan guru | Menyajikan 3 sampai 4 simbol hubungan antarpihak (garis zig-zag, garis ganda, garis putus-putus, garis berpanah) secara tepat pada bagan visual secara mandiri | Menyajikan lebih dari 4 simbol hubungan antarpihak secara tepat dan sistematis pada bagan visual dengan keterbacaan relasi yang sangat jelas secara mandiri | | Penyajian Dinamika Kepentingan Antarpihak pada Bagan Visual | Belum menyematkan keterangan label dinamika kepentingan pada garis hubungan antarpihak di bagan visual | Menyematkan label dinamika kepentingan pada sebagian garis hubungan antarpihak namun belum lengkap | Menyematkan label dinamika kepentingan pada seluruh garis hubungan antarpihak secara sistematis dan sesuai konteks data kasus | Menyematkan label dinamika kepentingan pada seluruh garis hubungan antarpihak secara sistematis, terperinci, dan memperlihatkan relasi timbal-balik secara mandiri |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 90 menit mencukupi bagi setiap kelompok untuk memvisualisasikan simbol relasi dan dinamika kepentingan?
- Bagian simbol atau relasi manakah yang paling sering membingungkan murid saat dituangkan ke dalam bagan?
Murid:- Simbol visual hubungan mana yang paling mudah dan paling sulit saya terapkan dalam menggambarkan relasi antarpihak?
- Apakah bagan visual yang kami susun sudah memperlihatkan secara jelas siapa bersekutu dengan siapa dan siapa berkonflik dengan siapa?
Pertemuan 15 — Menyajikan Hasil Final Bagan Visual Pemetaan Konflik Sosial secara Sistematis — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.2.5 Menyajikan data fenomena konflik sosial secara sistematis dalam bentuk bagan visual pemetaan konflik
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan mengkondisikan ruang kelas agar kondusif untuk kerja visual (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menyajikan hasil final bagan visual pemetaan konflik sosial secara sistematis dan terbaca jelas (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen diagnostik singkat: murid diminta memasangkan 3 simbol visual pemetaan konflik berikut ke artinya secara cepat: (1) Lingkaran = Pihak/aktor konflik; (2) Garis zig-zag = Hubungan konflik/perselisihan; (3) Persegi = Isu/masalah utama konflik (acuan kecocokan: 1-Aktor, 2-Konflik, 3-Isu) (4 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid dalam kelompok mencermati lembar panduan standarisasi bagan visual pemetaan konflik yang memuat 4 unsur kelayakan penyajian: penempatan isu sentral (persegi), penataan posisi aktor (lingkaran proporsional), ketepatan simbol relasi (garis lurus, garis ganda, garis putus-putus, zig-zag, panah), serta legenda keterangan bagan (acuan telaah: kejelasan hierarki visual dan kelengkapan legenda) (10 menit).
- Murid bersama kelompoknya memeriksa draf visual yang telah dirintis pada pertemuan sebelumnya menggunakan daftar periksa (checklist) teknis untuk memastikan tidak ada simbol hubungan yang ambigu atau terputus tanpa keterangan (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid bermain tantangan mini 'Uji Keterbacaan Cepat' antar-kelompok: dua kelompok saling menukar bagan draf selama 5 menit untuk menemukan apakah letak aktor utama dan garis zig-zag (konflik) langsung terbaca dalam waktu kurang dari 30 detik tanpa perlu penjelasan lisan, lalu memberikan catatan perbaikan visual (permainan interaktif visual) (10 menit).
- Setiap kelompok memfinalisasi bagan visual pemetaan konflik pada kertas plano atau media digital grafis, menyempurnakan ketebalan garis relasi, memberi label nama aktor dan peranannya, menegaskan kotak isu pokok konflik, serta menambahkan legenda simbol secara rapi dan sistematis (35 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid memajang hasil final bagan visual pemetaan konflik kelompok masing-masing pada dinding kelas dalam pameran galeri visual (gallery walk) dan meninjau keteraturan susunan bagan kelompok lain (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap hasil karya visual seluruh kelompok mengenai pentingnya visualisasi sistematis dalam membedah dinamika konflik (4 menit).
- Guru menyampaikan agenda lanjutan untuk pertemuan berikutnya (Pertemuan 16: merancang gagasan awal projek kolaboratif solutif) dan menutup pertemuan dengan doa serta salam (1 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan contoh format bagan pemetaan dengan variasi tingkat kepadatan aktor (3 aktor sederhana hingga 5+ aktor kompleks dengan pihak ketiga/mediator).
- Proses: Kelompok yang membutuhkan pendampingan diberikan panduan cetak simbol relasi baku (template garis dan bentuk), sedangkan kelompok yang sudah mahir diarahkan menyusun relasi multi-arah yang melibatkan aliansi ganda dan kekuatan pengaruh.
- Produk: Penyajian bagan visual final dapat berupa media cetak/gambar manual pada kertas plano warna atau desain bagan digital menggunakan aplikasi presentasi/grafis sesuai kesiapan murid.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pengecekan kesiapan simbol visual pemetaan konflik: murid mencocokkan 3 pasangan simbol-arti berikut: (1) Lingkaran -> Aktor yang terlibat; (2) Garis zig-zag -> Relasi perselisihan/konflik; (3) Persegi -> Isu/topik konflik (acuan: murid tepat menjodohkan minimal 2 dari 3 simbol secara benar).
Proses:- Observasi sistematisasi pembuatan bagan visual: mengamati ketepatan kelompok dalam menyajikan data relasi aktor (lingkaran berlabel), garis relasi berlegenda, dan penempatan kotak isu konflik secara terstruktur selama kerja studio (acuan: bagan memuat minimal aktor utama, aktor sekunder, isu pokok, dan relasi konflik antaraktor).
Akhir Pertemuan:- Pengecekan keterbacaan hasil final bagan visual: murid menuliskan 1 kesimpulan pembacaan relasi terkuat dan relasi paling berkonflik langsung dari bagan final kelompok lain saat gallery walk (acuan: jawaban sesuai dengan simbol garis ganda [aliansi] dan garis zig-zag [konflik] yang tertera pada bagan yang diamati).
Formatif:- Penilaian unjuk kerja penyajian bagan visual pemetaan konflik berdasarkan rubrik sistematika, kelengkapan elemen, dan kejelasan simbol relasi.
- Daftar periksa (checklist) keterbacaan bagan pada aktivitas tantangan saling periksa antarkelompok.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Sistematika Penyajian Bagan Visual | Bagan visual disajikan tanpa struktur yang teratur, letak aktor dan isu bercampur aduk tanpa alur visual yang dapat dipahami. | Bagan visual disajikan dengan memisahkan aktor dan isu, namun tata letak alur relasi masih belum runtut sehingga sulit dibaca. | Bagan visual disajikan secara runtut dan sistematis; posisi isu pokok, aktor utama, aktor pendukung, serta alur relasi tertata logis dan mudah ditelusuri. | Bagan visual disajikan secara sangat sistematis, proporsional, dan estetik; alur interaksi antarpihak, hierarki aktor, dan pusat persoalan langsung terbaca secara runtut, mandiri, dan komprehensif. | | Ketepatan dan Kelengkapan Simbol Data Pemetaan | Menyajikan kurang dari 2 elemen simbol standar (hanya bentuk tanpa garis relasi atau tanpa legenda). | Menyajikan simbol aktor dan isu, tetapi simbol relasi (garis hubungan, garis konflik) belum tepat atau tidak dilengkapi legenda. | Menyajikan seluruh data konflik (aktor, isu, dan relasi antarpihak) dengan simbol yang tepat sesuai kaidah dan dilengkapi legenda keterangan yang jelas. | Menyajikan data konflik secara lengkap dengan konsistensi simbol standar tinggi, memuat diferensiasi relasi majemuk (aliansi, konflik terbuka, hubungan putus, arah pengaruh) disertai legenda yang sangat detail dan akurat. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 35 menit pada tahap Mengaplikasi mencukupi bagi setiap kelompok untuk merapikan hasil final bagan visual?
- Apakah panduan simbol visual pemetaan konflik sudah cukup membantu murid menyajikan data tanpa kebingungan teknis?
Murid:- Bagian mana dari pembuatan bagan visual pemetaan konflik yang paling menantang bagi kelompok saya?
- Apakah bagan visual yang kami hasilkan sudah dapat mempermudah orang lain memahami siapa saja yang berkonflik dan apa penyebabnya?
Pertemuan 16 — Merancang Gagasan Awal Projek Kolaboratif Solutif atas Konflik Berbasis Pemberdayaan — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.2.6 Merancang projek kolaboratif yang solutif atas konflik sosial dan kekerasan akibat perbedaan dalam pendekatan pemberdayaan
Pendahuluan:- Guru membuka pelajaran dengan salam, berdoa bersama, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-16 tentang perancangan gagasan awal projek kolaboratif solutif berbasis pemberdayaan (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat dengan mengajukan pertanyaan lisan pemantik tentang prinsip dasar perancangan solusi konflik berbasis pemberdayaan; murid merespons secara langsung untuk memetakan kesiapan belajarnya (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Menggembirakan):- Murid menyimak paparan guru dan mencermati lembar panduan tentang 3 pilar perancangan solusi konflik berbasis pemberdayaan: (1) partisipatif/keterlibatan aktif pihak yang berselisih, (2) pemanfaatan aset/potensi lokal bersama, dan (3) keberlanjutan relasi damai (10 menit).
- Murid dalam kelompok kecil (3-4 orang) mengikuti permainan tantangan mencocokkan 'Kartu Ide Solusi' dengan kategori 'Pemberdayaan' vs 'Bukan Pemberdayaan' secara ceria dan cepat, lalu memeriksa ketepatannya bersama panduan guru (10 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Setiap kelompok memilih satu kasus konflik sosial akibat perbedaan (misalnya perselisihan antarwarga RT terkait batas pengelolaan sampah dan ruang UMKM) dari hasil pengamatan dan pemetaan visual pada pertemuan sebelumnya (10 menit).
- Setiap kelompok merancang draf gagasan awal projek kolaboratif pada Lembar Kerja Perancangan Gagasan Projek yang memuat 4 komponen: (1) Judul & Isu Konflik Akibat Perbedaan, (2) Bentuk Kolaborasi Antarpihak, (3) Aspek Pemberdayaan/Potensi yang Dimanfaatkan, dan (4) Dampak Solutif Jangka Panjang yang Diharapkan (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid melakukan peninjauan silang antar-draf kelompok: masing-masing kelompok membaca draf kelompok sebelah dan memberikan satu catatan penguatan mengenai apakah ide projek yang dirancang sudah benar-benar menerapkan prinsip kolaboratif dan pemberdayaan masyarakat (10 menit).
Penutup:- Guru memandu murid menyimpulkan esensi perancangan gagasan projek kolaboratif berbasis pemberdayaan serta memberikan umpan balik menyeluruh atas lembar draf kerja kelompok yang telah diselesaikan (5 menit).
- Guru memberikan tindak lanjut untuk menyempurnakan rincian gagasan awal menjadi rencana aksi terstruktur pada pertemuan ke-17, lalu menutup sesi dengan doa bersama (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan lembar panduan berstruktur (scaffolding pertanyaan pemandu) bagi kelompok yang memerlukan bantuan, serta lembar studi kasus multi-isu yang lebih kompleks bagi kelompok yang bergerak lebih cepat.
- Proses: Guru memberikan pendampingan terarah pada kelompok yang masih kesulitan merumuskan unsur pemberdayaan, sementara kelompok yang mandiri didorong mengeksplorasi potensi kemitraan lokal yang lebih luas.
- Produk: Draf perancangan gagasan projek dapat dituangkan dalam bentuk peta konsep grafis (sketsa visual) atau tabel rancangan konseptual 4 kolom sesuai preferensi kelompok.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab lisan diagnostik di awal pembelajaran: 'Jika terjadi perselisihan antarpemuda karena perebutan pengelolaan lahan parkir dan ruang kreatif, manakah yang tergolong rancangan berbasis pemberdayaan: (A) Memanggil aparat kepolisian untuk membubarkan dan melarang penggunaan lahan, atau (B) Membentuk koperasi pemuda bersama untuk mengelola sentra kreatif dan pembagian hasil kerja secara transparan?' (Acuan jawaban benar: Opsi B, karena melibatkan kolaborasi pihak yang berselisih dan mengembangkan potensi/kemandirian ekonomi secara produktif).
Proses:- Penilaian pengerjaan permainan pencocokan kartu: Murid mengklasifikasikan 4 kartu skenario solusi berikut: (1) Pemberian sembako gratis bulanan tanpa pelatihan bagi warga berselisih -> Bukan Pemberdayaan; (2) Pelatihan kewirausahaan bersama dan pembentukan forum dialog warga antar-etnis pengrajin lokal -> Pemberdayaan; (3) Pembangunan pos satpam oleh pihak ketiga tanpa melibatkan warga sekitar -> Bukan Pemberdayaan; (4) Projek pembuatan taman bacaan dan ruang dialog rukun tetangga yang dikelola bersama oleh perwakilan kedua kubu pemuda -> Pemberdayaan (Kriteria: kelompok mengelompokkan secara tepat keempat kartu sesuai acuan tersebut).
- Penilaian draf Lembar Kerja Perancangan Gagasan Projek Kolaboratif yang memuat: (1) Identifikasi kasus konflik sosial akibat perbedaan, (2) Bentuk kegiatan kolaboratif antarpihak, (3) Aset/potensi masyarakat yang diberdayakan, dan (4) Solusi keberlanjutan yang ditargetkan.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman penutup: Tiap kelompok menuliskan satu kalimat refleksi ringkas di lembar kerja yang menjawab: 'Bagian mana dari ide projek rancangan kelompokmu yang paling menjamin bahwa pihak-pihak yang berkonflik akan bekerja sama secara aktif dan mandiri?' (Kriteria penerimaan: Jawaban menyebutkan peran konkret para pihak yang berkonflik dalam mengelola aktivitas atau aset bersama secara partisipatif, bukan sekadar menjadi penerima bantuan pasif).
Formatif:- Asesmen diagnostik lisan di pendahuluan mengenai konsep solusi berbasis pemberdayaan
- Observasi unjuk kerja dan penilaian produk draf Lembar Kerja Perancangan Gagasan Projek Kolaboratif saat kerja kelompok
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Perancangan Komponen Kolaboratif dalam Projek Solutif | Gagasan projek belum memuat peran kolaboratif antarpihak yang berselisih (pihak yang berkonflik hanya diposisikan sebagai objek/penerima solusi pasif). | Gagasan projek mulai memuat keterlibatan pihak yang berselisih, namun peran kolaborasi masih didominasi pihak luar dan belum seimbang. | Gagasan projek memuat rancangan peran kolaboratif yang jelas dan seimbang antara pihak-pihak yang mengalami konflik/perbedaan. | Gagasan projek memuat rancangan kolaboratif yang komprehensif, terperinci dalam pembagian peran setara, serta memfasilitasi kerja sama mandiri antarpihak secara berkelanjutan. | | Penerapan Pendekatan Pemberdayaan dalam Rancangan Projek | Rancangan projek bersifat karitatif/bantuan sepihak semata tanpa mengidentifikasi dan memanfaatkan potensi atau kapasitas warga yang berkonflik. | Rancangan projek mulai menyebutkan potensi warga, namun bentuk solusinya belum secara nyata meningkatkan kapasitas atau kemandirian pihak yang berselisih. | Rancangan projek secara tepat memadukan pemanfaatan aset/potensi lokal untuk membangun kemandirian dan penyelesaian konflik secara solutif. | Rancangan projek secara mendalam mengoptimalkan potensi lokal, merumuskan mekanisme peningkatan kapasitas warga, serta menjamin keberlanjutan relasi harmonis jangka panjang. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 90 menit mencukupi bagi murid untuk merumuskan ide projek yang benar-benar berorientasi pemberdayaan dan bukan sekadar aksi karitatif?
- Bagaimana respons dan dinamika kolaborasi murid saat mengonversi data konflik menjadi gagasan projek solutif?
- Apakah teknik scaffolding yang diberikan sudah efektif membantu kelompok yang mengalami kesulitan merumuskan solusi berbasis aset?
Murid:- Tantangan apa yang kelompokmu hadapi saat mencoba menyatukan kepentingan pihak yang berkonflik ke dalam satu ide projek bersama?
- Apa hal baru yang kamu pelajari mengenai perbedaan antara menyelesaikan konflik dengan sekadar memberi bantuan dibanding melalui pemberdayaan masyarakat?
Pertemuan 17 — Merancang Rencana Aksi Projek Kolaboratif Solutif atas Konflik Sosial dalam Pendekatan Pemberdayaan — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.2.6 Merancang projek kolaboratif yang solutif atas konflik sosial dan kekerasan akibat perbedaan dalam pendekatan pemberdayaan
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan memfasilitasi murid melakukan hening sejenak untuk memusatkan perhatian pada kegiatan perancangan aksi (3 menit).
- Guru mengaitkan hasil rancangan gagasan awal dari Pertemuan 16 dengan tahapan perumusan rencana aksi teknis berbasis pendekatan pemberdayaan (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen diagnostik singkat dengan mengajukan pertanyaan lisan mengenai 4 komponen wajib dalam matriks rencana aksi: tujuan kegiatan, tahapan aktivitas, pihak/aktor yang diberdayakan, serta pembagian peran kolaboratif kelompok (4 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid mencermati format tabel matriks rencana aksi projek kolaboratif yang ditampilkan guru, mencakup kolom: (1) Nama Aksi, (2) Tujuan Solutif, (3) Tahapan Kegiatan Lapangan, (4) Aktor Sasaran Pemberdayaan, (5) Pembagian Peran Tim, dan (6) Jadwal/Indikator Keberhasilan (10 menit).
- Murid mengikuti permainan cepat 'Cocok Logika Rencana Aksi' di mana perwakilan kelompok menjodohkan kartu masalah konflik dengan kartu tahapan aksi pemberdayaan yang tepat guna memperkuat pemahaman sebelum menyusun rancangan mandiri (10 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Secara berkelompok (4-5 murid), murid merancang draf rencana aksi operasional untuk memecahkan konflik yang telah dipetakan, dengan merinci tahapan sosialisasi, dialog warga, hingga pelatihan bersama yang menempatkan aktor berkonflik sebagai subjek aktif (25 menit).
- Setiap kelompok merumuskan pembagian peran kerja internal dan jadwal rinci pelaksanaan projek kolaboratif solutif ke dalam lembar kerja rencana aksi masing-masing (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid melakukan telaah silang meja (desk check) dengan kelompok lain untuk memeriksa apakah langkah kerja yang dirancang benar-benar mengedepankan pemberdayaan pihak yang bertikai atau sekadar bantuan searah (10 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan pentingnya kejelasan alur teknis rencana aksi agar solusi konflik dapat terlaksana secara terstruktur dan partisipatif (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik menyeluruh atas kelengkapan draf rencana aksi, menginformasikan persiapan portofolio untuk asesmen sumatif di Pertemuan 18, dan menutup pembelajaran dengan doa bersama (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan contoh templat matriks aksi yang dilengkapi panduan isian rincian kegiatan bagi kelompok yang membutuhkan bimbingan bertahap, serta templat matriks analisis risiko konflik untuk kelompok yang lebih cepat.
- Proses: Guru memberikan bimbingan intensif pada kelompok yang kesulitan menentukan indikator keberhasilan pemberdayaan, sementara kelompok yang mandiri langsung menyusun mitigasi kendala lapangan.
- Produk: Rancangan rencana aksi dapat disajikan dalam bentuk matriks tabel digital maupun lembar kerja rencana aksi grafis fisik pada kertas manila.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik: 'Sebutkan 4 komponen utama yang harus ada dalam menyusun rencana aksi penyelesaian konflik berbasis pemberdayaan!' (Acuan jawaban: (1) Tujuan spesifik penyelesaian konflik, (2) Tahapan kegiatan nyata/terukur, (3) Keterlibatan/pemberdayaan aktor yang berkonflik, (4) Pembagian peran/tanggung jawab kelompok).
Proses:- Pemeriksaan draf lembar kerja rancangan rencana aksi: Memastikan setiap kelompok mengisi 4 aspek wajib, yaitu: (1) Langkah aksi penyelesaian konflik berurutan logis, (2) Bentuk partisipasi aktif warga/aktor, (3) Pembagian peran kerja tim yang jelas, dan (4) Keterukuran jadwal pelaksanaan.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman penutup: Kelompok memastikan matriks rencana aksi memuat minimal 3 tahapan konkret aksi solutif (Persiapan dialog/koordinasi, Pelaksanaan forum bersama/pelatihan kapasitas, Evaluasi kemitraan warga) dengan kriteria bahwa masyarakat berkonflik menjadi pelaku utama penyelesaian masalah.
Formatif:- Tanya jawab diagnostik komponen rencana aksi pemberdayaan pada tahap pendahuluan
- Observasi lembar kerja perancangan matriks rencana aksi projek kolaboratif solutif saat kerja kelompok
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Perancangan Tahapan Aksi Solutif | Rancangan aksi belum memuat tahapan yang sistematis dan belum mengarah pada penyelesaian konflik. | Merancang tahapan aksi solutif konflik tetapi alur kegiatannya belum runtut atau masih bersifat teoritis tanpa langkah praktis. | Merancang tahapan aksi solutif konflik secara runtut, operasional, dan realistis untuk diterapkan di lingkungan sosial. | Merancang tahapan aksi solutif konflik secara runtut, operasional, realistis, serta dilengkapi identifikasi mitigasi kendala lapangan. | | Penerapan Pendekatan Pemberdayaan | Rancangan aksi tidak melibatkan peran aktif pihak/masyarakat yang berkonflik (hanya intervensi sepihak kelompok). | Rancangan aksi menempatkan masyarakat hanya sebagai penerima informasi/objek pasif tanpa peran dialogis. | Rancangan aksi menempatkan pihak/masyarakat yang berkonflik sebagai subjek aktif yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan rekonsiliasi/pemberdayaan. | Rancangan aksi secara konsisten menempatkan aktor konflik sebagai mitra kolaboratif utama dalam merumuskan dan menjalankan kesepakatan bersama. | | Pembagian Peran Kolaboratif | Belum ada pembagian tugas kerja yang jelas antaranggota kelompok dalam rencana aksi. | Pembagian tugas kerja kelompok dicantumkan tetapi belum merata atau terdapat anggota tanpa peran spesifik. | Pembagian peran dan tanggung jawab kerja kelompok terinci secara merata dan jelas untuk setiap tahapan aksi. | Pembagian peran dan alur koordinasi antaranggota tim dirancang sangat detail, transparan, dan saling mendukung ketercapaian projek. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alur kegiatan perancangan membantu murid menyusun langkah kerja yang realistis dan berorientasi pemberdayaan?
- Bagian mana dari perancangan rencana aksi yang paling banyak membutuhkan intervensi dan scaffolding guru?
Murid:- Apakah rencana aksi yang kelompok kami susun sudah memberikan ruang bagi pihak yang berkonflik untuk mandiri menyelesaikan perselisihan?
- Tantangan utama apa yang kami hadapi dalam membagi tugas dan menyusun linimasa aksi kolaboratif ini?
Pertemuan 18 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 45 menit = 90 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 11.2.1 Menganalisis konflik yang terjadi di masyarakat berdasarkan konsep dan faktor penyebabnya
- TP 11.2.2 Melakukan kajian literasi atas fenomena konflik sosial dan kekerasan dari berbagai sumber
- TP 11.2.3 Mengamati fenomena konflik sosial dan kekerasan akibat perbedaan di lingkungan sekitar
- TP 11.2.4 Mengolah data fenomena konflik sosial secara sistematis untuk menyusun pemetaan konflik
- TP 11.2.5 Menyajikan data fenomena konflik sosial secara sistematis dalam bentuk bagan visual pemetaan konflik
- TP 11.2.6 Merancang projek kolaboratif yang solutif atas konflik sosial dan kekerasan akibat perbedaan dalam pendekatan pemberdayaan
Pendahuluan:- Guru membuka sesi asesmen sumatif bab dengan salam, memeriksa kesiapan fisik dan psikis murid, serta mengondisikan ruang kelas agar kondusif untuk asesmen portofolio (2 menit).
- Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif bab, mekanisme pengerjaan dua bagian portofolio (Bagian 1 Individual 40 menit, Bagian 2 Kelompok 40 menit), serta kriteria ketuntasan berdasarkan rubrik penilaian (3 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Murid mencermati petunjuk teknis pada Lembar Asesmen Sumatif Bagian 1 (Tugas Mandiri: Analisis Studi Kasus, Kajian Literatur, dan Integrasi Observasi) serta Bagian 2 (Tugas Kelompok: Tabel Pemetaan Konflik, Bagan Visual, dan Proposal Pemberdayaan) yang dibagikan guru (3 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Murid mengerjakan Tugas 1 secara individual dan serentak: menganalisis faktor penyebab konflik pada studi kasus terlampir, menyintesis kajian pustaka pembeda konflik dan kekerasan beserta dampaknya, serta mengintegrasikan catatan hasil observasi fenomena perbedaan di lingkungan sekitar ke dalam lembar kerja tertulis (38 menit).
- Murid berkumpul dalam kelompok kerjanya untuk mengerjakan Tugas 2 secara kolaboratif dan serentak: memfinalisasi tabel pengolahan data komponen konflik (aktor, isu, kepentingan), menggambar bagan visual relasi konflik secara sistematis, serta menyusun draf proposal projek kolaboratif solutif berbasis pendekatan pemberdayaan (40 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Setiap murid memeriksa kelengkapan berkas portofolio (lembar tugas individual dan dokumen kelompok) sebelum diserahkan serentak ke meja guru (2 menit).
Penutup:- Semua berkas asesmen portofolio dikumpulkan secara teratur oleh ketua kelompok ke meja guru (1 menit).
- Guru memberikan apresiasi atas ketertiban proses asesmen, mengajak murid merangkum perjalanan belajar Bab 2 'Konflik Sosial', dan menutup sesi dengan doa bersama (1 menit).
Diferensiasi:- Proses: Akomodasi aksesibilitas bagi murid dengan hambatan visual/motorik berupa penyediaan format teks lembar studi kasus berhuruf besar (large print) dan penyesuaian posisi meja kerja tanpa mengubah instrumen, bobot soal, durasi waktu pengerjaan, maupun standar penilaian.
Asesmen Pertemuan:Sumatif Bab:- penilaian portofolio laporan studi kasus dan rancangan projek kolaboratif pemetaan konflik sosial: berkas portofolio tertulis dan visual yang memuat analisis faktor konflik, telaah pustaka pembeda konflik-kekerasan, catatan observasi lapangan, tabel pengolahan data aktor-isu-kepentingan, bagan visual peta konflik, serta proposal projek kolaboratif solutif berbasis pemberdayaan
- penugasan lembar kerja analisis studi kasus tertulis serentak: lembar kerja analisis studi kasus yang memuat uraian identifikasi faktor penyebab konflik, sintesis kajian literatur tentang perbedaan konflik dan kekerasan beserta dampaknya, serta laporan integrasi hasil catatan observasi lingkungan sekitar yang dikerjakan mandiri oleh seluruh murid secara serentak (45 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian esai analitis dan telaah pustaka)
- penugasan projek pemetaan konflik dan penyusunan proposal kolaboratif serentak: dokumen kerja kelompok berisi tabel pengolahan data komponen konflik (pemetaan aktor, isu pemicu, dinamika kepentingan), bagan visual pemetaan relasi konflik, serta draf proposal projek kolaboratif penyelesaian konflik berbasis pendekatan pemberdayaan yang diselesaikan dan dikumpulkan serentak di kelas (45 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian pemetaan konflik dan proposal projek pemberdayaan)
Sumatif:- penilaian portofolio laporan studi kasus dan rancangan projek kolaboratif pemetaan konflik sosial: berkas portofolio tertulis dan visual yang memuat analisis faktor konflik, telaah pustaka pembeda konflik-kekerasan, catatan observasi lapangan, tabel pengolahan data aktor-isu-kepentingan, bagan visual peta konflik, serta proposal projek kolaboratif solutif berbasis pemberdayaan
- penugasan lembar kerja analisis studi kasus tertulis serentak: lembar kerja analisis studi kasus yang memuat uraian identifikasi faktor penyebab konflik, sintesis kajian literatur tentang perbedaan konflik dan kekerasan beserta dampaknya, serta laporan integrasi hasil catatan observasi lingkungan sekitar yang dikerjakan mandiri oleh seluruh murid secara serentak (45 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian esai analitis dan telaah pustaka)
- penugasan projek pemetaan konflik dan penyusunan proposal kolaboratif serentak: dokumen kerja kelompok berisi tabel pengolahan data komponen konflik (pemetaan aktor, isu pemicu, dinamika kepentingan), bagan visual pemetaan relasi konflik, serta draf proposal projek kolaboratif penyelesaian konflik berbasis pendekatan pemberdayaan yang diselesaikan dan dikumpulkan serentak di kelas (45 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian pemetaan konflik dan proposal projek pemberdayaan)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menganalisis Konflik dan Kajian Literatur (TP 11.2.1, TP 11.2.2, TP 11.2.3) | Menganalisis kurang dari 2 elemen acuan (faktor penyebab, perbedaan konseptual konflik vs kekerasan, dampak sosial, atau catatan observasi tidak terhubung secara tepat). | Menganalisis 2 dari 4 elemen acuan secara tepat (mengidentifikasi faktor penyebab dan membedakan konflik-kekerasan, namun dampak dan integrasi observasi lingkungan belum tepat). | Menganalisis 3 dari 4 elemen acuan secara tepat (faktor penyebab, pembeda konflik-kekerasan beserta dampak, serta integrasi catatan observasi lingkungan disajikan runtut). | Menganalisis seluruh (4 dari 4) elemen acuan secara lengkap, tepat, dan mendalam sesuai kunci/acuan jawaban studi kasus. | | Pengolahan Data dan Pemetaan Visual Konflik (TP 11.2.4, TP 11.2.5) | Tabel pengolahan data hanya memuat 1 aktor dan bagan visual relasi konflik tidak menggunakan simbol representasi hubungan sosial. | Tabel pengolahan data memuat 2 aktor beserta isunya, namun bagan visual relasi antarpemangku kepentingan belum menunjukkan dinamika konflik secara sistematis. | Tabel pengolahan data memuat lengkap 3 aktor utama beserta isu dan kepentingan, serta menyajikan bagan visual relasi konflik bersimbol sistematis. | Tabel pengolahan data memuat lengkap lebih dari 3 pihak/aktor beserta dinamika kepentingan secara mendalam, serta bagan visual relasi tersaji sangat sistematis, presisi, dan komprehensif. | | Rancangan Projek Kolaboratif Pemberdayaan (TP 11.2.6) | Rancangan projek belum berbasis pendekatan pemberdayaan dan tahapan aksi tidak menunjukkan penyelesaian solutif. | Rancangan projek memuat ide resolusi konflik, namun prinsip pemberdayaan dan tahapan kolaborasi masyarakat masih bersifat pasif/sepihak. | Rancangan projek memuat tujuan pemberdayaan yang jelas, tahapan aksi nyata partisipatif, serta solusi yang relevan bagi para pihak yang berkonflik. | Rancangan projek memuat program pemberdayaan inovatif, tahapan aksi kolaboratif multipihak yang sangat aplikatif, dan mekanisme keberlanjutan resolusi damai yang terukur. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 40 menit tugas individual dan 40 menit tugas kelompok berjalan proporsional dan tertib?
- Bagaimana ketercapaian penguasaan murid pada keterpaduan analisis konsep dan keterampilan visual pemetaan konflik berdasarkan rubrik asesmen sumatif bab?
Murid:- Sejauh mana saya mampu menghubungkan teori konflik dan kajian pustaka dengan realitas empiris hasil pengamatan lingkungan?
- Apakah draf projek pemberdayaan yang dirancang kelompok saya benar-benar menawarkan resolusi yang adil dan memulihkan relasi para pihak?
SUMBER BELAJAR- Buku Panduan Guru Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XI, Kemendikbudristek 2022
- Buku Siswa Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XI, Kemendikbudristek 2022, Bab 2 Konflik Sosial
- UU No. 7 Tahun 2012 tentang Penanganan Konflik Sosial
- Lembar Kerja Analisis Kasus Konflik Masyarakat
- Buku Siswa Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XI, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia 2021
- Buku Panduan Guru Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XI, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia 2021
- Lembar Kerja Studi Kasus: Dinamika Konflik Antarwarga Terkait Perbedaan Pendirian Personal
- Buku Panduan Guru Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XI, Kemendikbudristek 2021 (Bab 2: Konflik Sosial, hlm. 104-124).
- Buku Teks Murid Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XI, Kemendikbudristek 2021 (hlm. 78-83).
- Lembar Kerja Analisis Kasus Konflik Sosial (Kasus I: Reklamasi Pesisir dan Nelayan; Kasus II: Upacara Adat dan Ketertiban Pemukiman).
- Buku Panduan Guru Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XI, Kemendikbudristek 2021, Bab 2: Konflik Sosial.
- Buku Panduan Siswa Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XI, Kemendikbudristek 2021, Bab 2: Konflik Sosial.
- Teks artikel berita simulasi: 'Sengketa Batas Lahan Perkebunan dan Penolakan Relokasi di Desa Sinar Makmur'.
- Lembar Kerja Kajian Literasi Media (Tabel Detektif Literasi Konflik dan Kekerasan).
- Buku Panduan Guru Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XI, Kemendikbudristek 2021
- Buku Panduan Siswa Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XI, Kemendikbudristek 2021 (Bab 2 Aktivitas 2.3 & 2.4)
- Lembar kutipan adaptasi literatur konsep konflik Lewis A. Coser dan Johan Galtung
- Kartu respons konsep 'Konflik Sosial' dan 'Kekerasan'
- Buku Panduan Guru Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XI (Kemendikbudristek, 2024)
- Buku Teks Siswa Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XI (Kemendikbudristek, 2024)
- Lembar Kerja Siswa: Tabel Kajian Literasi Dampak Konflik
- Teks Dokumen Studi Kasus: 'Dinamika Sengketa Lahan Perkebunan Desa Sukamaju'
- Buku Panduan Guru Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XI, Kemendikbudristek, Bab 2 Konflik Sosial.
- Buku Siswa Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XI, Kemendikbudristek, Bab 2 Konflik Sosial.
- Lembar Instrumen Observasi Lapangan 'Pengamatan Fenomena Perbedaan Sosial di Lingkungan Sekolah'.
- Buku Panduan Guru Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XI (Kemendikbudristek 2021, Bab 2: Konflik Sosial)
- Buku Siswa Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XI (Kemendikbudristek 2021, Bab 2: Konflik Sosial)
- Lembar Instrumen Observasi Lapangan Potensi Konflik dan Kekerasan Lingkungan Sekolah
- Papan amatan / clipboard dan alat tulis pencatat lapangan
- Buku Panduan Guru Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XI (Pusat Perbukuan Kemendikbudristek)
- Buku Siswa Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XI Bab 2 (Kemendikbudristek)
- Buku catatan lapangan dan catatan hasil observasi lingkungan sekitar sekolah (Pertemuan 7 dan 8)
- Format Lembar Kerja Dokumentasi Pengamatan Konflik Sosial
- Buku Panduan Guru Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XI, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2021
- Buku Siswa Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XI, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2021, Bab 2 Subbab Pemetaan dan Analisis Konflik
- Format Tabel Klasifikasi Aktor Konflik (LKPD Pengolahan Data Penyelidikan Konflik)
- Catatan data mentah hasil pengamatan/wawancara kelompok dari sesi sebelumnya
- Buku Panduan Guru Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XI (Pusat Perbukuan, Kemendikbudristek 2021) Bab 2 Hal. 122-126.
- Buku Siswa Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XI (Kemendikbudristek 2021) Bab 2 Hal. 114-118.
- Lembar Kerja Pengolahan Data Pemetaan Konflik: Format Tabel Aktor, Isu Pemicu, dan Kepentingan.
- Buku Panduan Guru Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XI, Kemendikbudristek 2021, Bab 2 Konflik Sosial (Aktivitas 2.11)
- Buku Panduan Siswa Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XI, Kemendikbudristek 2021, Bab 2 Konflik Sosial
- Lembar Kerja Murid (LKPD): Matriks Analisis Relasi Antaraktor Konflik
- Kartu Skenario Relasi Mikro untuk kuis cepat tebak relasi
- Buku Panduan Guru Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XI, Pusat Perbukuan Kemendikbudristek 2021 (halaman 126)
- Buku Siswa Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XI, Pusat Perbukuan Kemendikbudristek 2021 (halaman 114-115)
- Kertas manila/plano, spidol warna, penggaris cetakan bentuk geometri, dan sticky notes
- Buku Siswa Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XI, Bab 2: Pemetaan dan Analisis Konflik Sosial (Aktivitas 2.11 dan Pembahasan Pemetaan Konflik)
- Kertas plano, spidol warna, penggaris, atau perangkat lunak diagram daring
- Buku Panduan Guru Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XI, Bab 2: Konflik Sosial, Subbab Pemetaan dan Analisis Data
- Buku Panduan Siswa Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XI, Kemendikbudristek, Materi Alat Bantu Analisis Konflik (Conflict Mapping)
- Kertas plano, spidol warna, penggaris, sticky notes, dan contoh poster bagan pemetaan konflik sosial
- Buku Siswa Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XI, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2021
- Lembar Kerja Perancangan Projek Kolaboratif Solutif Berbasis Pemberdayaan
- Set Kartu Kasus dan Kartu Skenario Solusi Sosiologis
- Buku Siswa Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XI, Kemendikbudristek 2021
- Lembar Kerja Matriks Perencanaan Aksi Pemberdayaan Komunitas
- Kumpulan studi kasus pemetaan konflik sosial lokal hasil observasi pertemuan sebelumnya
- Buku Panduan Guru Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XI (Kemendikbudristek 2021)
- Buku Siswa Sosiologi untuk SMA/MA Kelas XI (Kemendikbudristek 2021) Bab 2 Konflik Sosial
- Lembar Asesmen Sumatif Bab 2 (Studi Kasus Sengketa Pemanfaatan Lahan dan Format Portofolio Pemetaan Konflik)
- Rubrik Penilaian Asesmen Sumatif Portofolio Bab 2
|