Modul AjarBab 4Fase DSemester 2

Modul Ajar Seni Teater Kelas 9 Bab 4: Memproduksi Pertunjukan Teater

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Seni Teater kelas 9 untuk Bab 4 "Memproduksi Pertunjukan Teater", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Seni Teater Kelas 9 Bab 4: Memproduksi Pertunjukan Teater

Seni Teater - Kelas 9

Bab 4

MODUL AJAR

Seni Teater — Kelas 9 (Fase D)

Topik: Bab 4 — Memproduksi Pertunjukan Teater

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranSeni Teater
Fase / KelasFase D / Kelas 9
TopikBab 4 — Memproduksi Pertunjukan Teater
Alokasi Waktu16 JP (16 x 40 menit = 640 menit)
Jumlah Pertemuan8
Tahun Ajaran2026/2027
Semester2

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 9.4.1 Mengeksplorasi olah tubuh, mimik wajah, dan vokal sebagai dasar keaktoran murid dalam latihan dialog pertunjukan teater
  2. TP 9.4.2 Mengeksplorasi tata artistik panggung dengan mempertimbangkan elemen-elemen rupa yang sederhana dari bahan yang ada di lingkungan sekitar
  3. TP 9.4.3 Merancang tata artistik panggung dengan mempertimbangkan elemen-elemen rupa yang sederhana serta memanfaatkan teknologi digital
  4. TP 9.4.4 Memainkan peran dalam sebuah pertunjukan sederhana di kelas atau satuan pendidikan
  5. TP 9.4.5 Membuat pertunjukan teater yang relevan dengan kehidupan murid

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan✓
Penalaran Kritis✓
Kreativitas✓
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan✓
Komunikasi✓

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Bagaimana gerak tubuh dan ekspresi wajah kita dapat menyampaikan karakter tokoh tanpa harus mengucapkan kata-kata?
  2. Mengapa seorang aktor perlu melakukan pemanasan olah tubuh dan melatih kelenturan mimik wajah sebelum memainkan peran?
  3. Mengapa seorang aktor harus melatih kejelasan vokal dan artikulasi agar dialog drama tersampaikan dengan baik kepada penonton?
  4. Bagaimana olah vokal, mimik wajah, dan gerak tubuh saling mendukung ketika mengekspresikan kalimat dialog di atas panggung?
  5. Bagaimana benda-benda sederhana di sekitar kita, seperti ranting kering atau kardus bekas, dapat diubah menjadi properti atau latar panggung yang hidup?
  6. Elemen rupa apa saja (garis, bentuk, warna, tekstur) yang paling cepat membantu penonton mengenali suasana panggung teater?
  7. Bagaimana aplikasi digital di gawai atau komputer dapat mempermudah kita membuat rancangan sketsa panggung teater?
  8. Elemen rupa apa saja (seperti garis, bidang, warna, dan tekstur) yang perlu tampak jelas dalam sketsa panggung digital agar suasana adegan terlihat nyata?
  9. Bagaimana caramu mengingat posisi dan perpindahan gerak (bloking) saat membawakan peran di panggung kelas?
  10. Apa yang terjadi pada pertunjukan jika salah satu pemeran lupa naskah atau salah menempati area bloking panggung?
  11. Bagaimana kita memastikan setiap adegan dalam lakon berjalan tersambung tanpa jeda canggung bersama tim panggung?
  12. Apa yang perlu dilakukan seorang pemeran saat berada di panggung agar peran tetap hidup ketika berinteraksi dengan properti dan tata panggung sesungguhnya?
  13. Bagaimana sebuah pertunjukan teater dapat mencerminkan persoalan nyata yang dihadapi murid sehari-hari?
  14. Apa pesan penting tentang kehidupan remaja di sekolah yang ingin kalian sampaikan kepada penonton melalui pertunjukan teater hari ini?
  15. Bagaimana penggabungan olah tubuh, mimik, vokal, dan tata panggung dapat menghidupkan pesan cerita kehidupan sehari-hari secara utuh?
  16. Mengapa kerja tim dan kedisiplinan bloking sangat menentukan keberhasilan sebuah produksi pertunjukan teater?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Eksplorasi Olah Tubuh dan Mimik Wajah sebagai Dasar Keaktoran Tokoh — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.4.1 Mengeksplorasi olah tubuh, mimik wajah, dan vokal sebagai dasar keaktoran murid dalam latihan dialog pertunjukan teater

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, doa bersama, dan memeriksa kesiapan fisik murid untuk aktivitas olah gerak (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini: mengeksplorasi olah tubuh dan mimik wajah sebagai dasar keaktoran tokoh drama (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik keaktoran fisik: guru menyebutkan 3 emosi dasar secara bergantian yaitu (1) terkejut bahagia, (2) marah tertahan, dan (3) cemas/panik; seluruh murid secara serentak mengekspresikannya melalui postur tubuh dan mimik wajah selama masing-masing 15 detik, guru mengamati kelenturan dan ketepatan ekspresi fisik murid (acuan ekspresi: (1) terkejut bahagia = mata terbuka lebar, senyum mengembang, postur tegak mengangkat; (2) marah tertahan = alis bertaut turun, rahang mengencang rapat, kepalan tangan menegang kaku di samping badan; (3) cemas/panik = mata gelisah bergerak, bahu terangkat membungkuk, gerakan tangan meremas gelisah) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid menyimak penjelasan dan demonstrasi guru mengenai prinsip olah tubuh (kesadaran ruang, kelenturan sendi, pusat bobot tubuh/center of gravity) dan mimik wajah (otot dahi, mata, pipi, serta bibir) sebagai dasar penciptaan karakter tokoh (5 menit).
  • Murid melakukan pemanasan peregangan dinamis dan eksplorasi gerak pembentukan imajinasi ruang tubuh sesuai panduan Buku Guru Unit 1: 'Merentang Karet' (tubuh merenggang maksimal lalu memadat menyusut) dan 'Aku Balon' (tubuh mengembang terisi udara lalu perlahan mengempis kaku) (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid secara berpasangan memainkan permainan eksplorasi ekspresi yang menggembirakan 'Cermin Aktor': satu murid menjadi pemeran utama yang mengeksplorasi transisi 3 mimik wajah bertahap (dari datar, sedih mendalam, lalu tertawa lepas) dan gestur tubuhnya, sementara pasangannya menirukan gerak dan mimik tersebut secara persis seperti pantulan cermin, lalu bertukar peran (15 menit).
  • Setiap murid menerima lembar panduan eksplorasi 3 tipe karakter tokoh fisik: (1) Tokoh Bangsawan/Wibawa (postur tegak, dada tegap, langkah kaki lambat dan mantap, mimik tenang dengan tatapan mata tajam), (2) Tokoh Penakut/Cemas (postur membungkuk, bahu tertarik ke atas, langkah ragu-ragu dan tergesa, mimik mata liar berkedip cepat dengan bibir terkatup rapat), dan (3) Tokoh Jenaka/Lincah (postur lentur elastis, gerakan melompat kecil bebas, mimik wajah senyum lebar dengan kerutan dahi dinamis) (5 menit).
  • Secara mandiri atau berpasangan, murid mengeksplorasi peragaan olah tubuh dan mimik wajah untuk ketiga karakter tokoh tersebut melintasi ruang kelas sesuai panduan karakter (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid duduk melingkar, mengatur kembali ritme napas (cooling down), dan secara bergiliran mengidentifikasi bagian tubuh mana yang paling sulit digerakkan serta perubahan otot wajah apa yang paling jelas membedakan karakter wibawa dan karakter penakut (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap eksplorasi tubuh dan mimik yang telah dilakukan murid, menegaskan bahwa tubuh dan wajah adalah alat utama aktor menyampaikan kebenaran peran (5 menit).
  • Guru menyampaikan agenda pertemuan berikutnya yaitu eksplorasi olah vokal dan artikulasi dalam latihan dialog drama, lalu menutup pembelajaran dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu panduan visual bergambar siluet pose tubuh dan foto mimik otot wajah untuk membantu murid yang membutuhkan referensi visual konkret.
  • Proses: Bagi murid yang masih ragu mengeksplorasi gerak diberikan bimbingan latihan di depan cermin atau berpasangan dekat dengan guru; bagi murid yang sudah lentur dan percaya diri ditantang melakukan eksplorasi transisi cepat antar-karakter yang kontras (dari tokoh wibawa langsung berganti tokoh penakut secara spontan).
  • Produk: Eksplorasi gerak tubuh dan mimik wajah dapat disesuaikan dengan jangkauan mobilitas fisik individu murid.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Unjuk kerja diagnostik keaktoran fisik: murid mengekspresikan 3 emosi secara spontan melalui tubuh dan mimik: (1) terkejut bahagia, (2) marah tertahan, dan (3) cemas/panik. Kriteria ketercapaian: (1) terkejut bahagia = mata terbuka lebar, senyum mengembang, postur dada terangkat; (2) marah tertahan = alis turun bertaut, rahang mengatup kencang, tinju mengepal kaku; (3) cemas/panik = tatapan gelisah, bahu membungkuk tinggi, jemari tangan bergetar/meremas.

Proses:

  • Pengamatan langsung selama tahap Mengaplikasi pada peragaan 3 karakter tokoh fisik (Bangsawan/Wibawa, Penakut/Cemas, Jenaka/Lincah). Lembar ceklis ketercapaian peragaan: (1) postur tubuh sesuai ciri anatomis karakter acuan, (2) perpindahan gerak/langkah konsisten sesuai ritme karakter acuan, dan (3) bentuk mimik wajah (tatapan mata dan bentuk mulut) selaras dengan karakter acuan.

Akhir Pertemuan:

  • Cek penguasaan eksplorasi pada tahap refleksi penutup: murid diminta memperagakan pose beku (freeze pose) selama 5 detik yang memadukan postur tubuh dan mimik wajah salah satu karakter yang dipilih secara mandiri, dinilai berdasarkan kejelasan pembacaan karakter fisik acuan.

Formatif:

  • Pengamatan unjuk kerja eksplorasi olah gerak tubuh (kelenturan, postur, ruang)
  • Pengamatan ketepatan eksplorasi mimik wajah sesuai karakter tokoh (kontraksi otot dahi, tatapan mata, bibir/rahang)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Eksplorasi Olah Tubuh KarakterGerakan tubuh masih kaku, postur tidak menunjukkan perbedaan ciri fisik antara tokoh bangsawan, penakut, maupun jenaka, serta membutuhkan instruksi gerak berulang dari guru.Mampu mengeksplorasi postur tubuh untuk 1 dari 3 karakter tokoh secara tepat sesuai ciri acuan gerak dengan bimbingan berkala.Mampu mengeksplorasi postur dan gerak tubuh untuk 2 dari 3 karakter tokoh secara konsisten sesuai ciri acuan gerak secara mandiri.Mampu mengeksplorasi postur dan gerak dinamis tubuh untuk seluruh (3) karakter tokoh secara tepat, lentur, dan konsisten sesuai ciri acuan gerak secara mandiri.
Eksplorasi Mimik Wajah KarakterEkspresi wajah datar atau monoton saat peragaan, belum tampak perubahan kontraksi otot wajah (mata, alis, mulut) sesuai emosi/karakter tokoh.Mampu memperlihatkan perubahan mimik wajah yang sesuai ciri acuan untuk 1 dari 3 karakter tokoh.Mampu memperlihatkan perubahan mimik wajah yang sesuai ciri acuan untuk 2 dari 3 karakter tokoh secara mandiri dan jelas.Mampu memperlihatkan transisi mimik wajah yang sangat ekspresif, mendalam, dan presisi sesuai ciri acuan untuk seluruh (3) karakter tokoh secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah instruksi gerak pemanasan dan eksplorasi tubuh cukup jelas dan aman dipraktikkan oleh seluruh murid?
  • Bagaimana tingkat kepercayaan diri murid saat mengeksplorasi mimik wajah di depan teman pasangannya?
  • Apakah ada murid yang mengalami hambatan gerak atau rasa malu berlebih yang memerlukan pendekatan personal?

Murid:

  • Bagian otot tubuh atau wajah mana yang terasa paling meregang saat latihan tadi?
  • Karakter mana di antara ketiga karakter (Bangsawan, Penakut, Jenaka) yang paling menantang untuk kamu ekspresikan melalui tubuh dan mimik? Mengapa?

Pertemuan 2 — Eksplorasi Olah Vokal dan Artikulasi dalam Latihan Dialog Drama — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.4.1 Mengeksplorasi olah tubuh, mimik wajah, dan vokal sebagai dasar keaktoran murid dalam latihan dialog pertunjukan teater

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan memimpin pemanasan pernapasan diafragma sederhana dalam formasi lingkaran (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan hari ini, yaitu mengeksplorasi olah vokal, mimik wajah, dan tubuh dalam latihan dialog drama (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik dengan meminta murid secara bergiliran mengucap satu vokal murni /A/ panjang selama 5 detik dengan membuka rongga mulut secara relaks (acuan: suara bulat, tidak tercekat di leher, napas ditopang diafragma) (7 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid menyimak demonstrasi guru tentang teknik vokal dasar keaktoran yang mencakup proyeksi suara, resonansi, artikulasi konsonan-vokal (A-I-U-E-O), serta keselarasan mimik wajah dan postur tubuh saat berbicara (7 menit).
  • Murid dalam formasi lingkaran mempraktikkan eksplorasi vokal terpimpin: mengembuskan vokal bertingkat nada (rendah ke tinggi) dan senam wajah untuk melenturkan otot rahang serta bibir (8 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid melakukan permainan keaktoran vokal 'Tebak Nada dan Emosi': murid melafalkan frasa dialog target 'Kita harus berangkat sekarang juga!' secara bergantian dengan variasi volume (berbisik, sedang, lantang) dipadukan dengan mimik wajah terkejut atau cemas (10 menit).
  • Murid berpasangan memilih 1 dari 2 teks dialog pendek yang disediakan untuk dieksplorasi bersama: Teks 1 (Tokoh A: 'Apakah pintu sudah terkunci rapat?', Tokoh B: 'Sudah, tapi ada suara derap langkah mendekat!') atau Teks 2 (Tokoh A: 'Jangan lepaskan talinya sekarang!', Tokoh B: 'Beban ini terlalu berat untuk kutahan sendiri!'). Setiap pasangan mengeksplorasi artikulasi kata yang tepat, dinamika vokal (tinggi-rendah/keras-lembut), mimik wajah sesuai situasi, dan gestur tubuh penyangga (15 menit).
  • Setiap pasangan maju ke depan bergantian melafalkan dialog yang dipilih dengan menerapkan kejelasan artikulasi vokal, mimik wajah, dan postur tubuh yang telah dilatih (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid dan guru mendiskusikan sensasi fisik yang dialami saat memproduksi suara yang didukung napas diafragma dibandingkan dengan suara tenggorokan saat melafalkan dialog (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan dan apresiasi atas eksplorasi vokal, mimik, dan tubuh yang telah dilakukan seluruh murid (5 menit).
  • Guru menyampaikan tindak lanjut untuk pertemuan berikutnya (tata artistik panggung) dan menutup pembelajaran dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan pilihan teks dialog pendek dengan tingkat kompleksitas artikulasi konsonan yang bervariasi (Teks 1 dengan konsonan letup sederhana p/t/k dan Teks 2 dengan kombinasi konsonan getar r/b/t).
  • Proses: Bagi murid yang artikulasinya masih kurang jelas diberikan latihan tambahan senam bibir/lidah dengan tempo lambat, sedangkan murid yang sudah artikulatif ditantang memvariasikan jarak lontaran proyeksi vokal.
  • Produk: Unjuk kerja dialog berpasangan dievaluasi berdasarkan kejelasan pengucapan kata, ketepatan mimik wajah, dan keselarasan sikap tubuh dasar keaktoran.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pelafalan vokal murni tunggal /A/ selama minimal 5 detik oleh murid secara bergiliran untuk memetakan kesiapan olah vokal dan pernapasan (acuan: suara bulat terdengar jelas dari jarak 3 meter, rongga mulut terbuka vertikal selebar 2 jari, tanpa nada tercekat).

Proses:

  • Pengamatan langsung saat murid melatih frasa latihan 'Kita harus berangkat sekarang juga!' dan teks dialog pilihan (Teks 1: Tokoh A: 'Apakah pintu sudah terkunci rapat?', Tokoh B: 'Sudah, tapi ada suara derap langkah mendekat!' ATAU Teks 2: Tokoh A: 'Jangan lepaskan talinya sekarang!', Tokoh B: 'Beban ini terlalu berat untuk kutahan sendiri!') dengan fokus pada kejelasan artikulasi setiap kata, ekspresi mimik wajah, dan sikap tubuh penyangga vokal.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan di akhir sesi: murid menyebutkan kembali fungsi pernapasan diafragma dan artikulasi bibir-lidah dalam pengucapan dialog drama di panggung teater (acuan jawaban: napas diafragma memberi daya tahan/volume suara agar terdengar tanpa merusak pita suara, dan gerakan bibir-lidah yang terbuka menghasilkan pengucapan kata yang jelas/tidak bergumam sehingga pesan dialog sampai ke penonton).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja latihan pernapasan diafragma dan artikulasi fonem vokal
  • Penilaian performa eksplorasi vokal, mimik wajah, dan tubuh dalam pembacaan dialog drama berpasangan menggunakan rubrik

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Eksplorasi Vokal dan Artikulasi dalam DialogMelafalkan dialog dengan artikulasi tidak jelas (bergumam) dan volume vokal sangat lemah sehingga kata-kata sulit dipahami.Melafalkan dialog dengan sebagian artikulasi kata jelas, namun volume vokal belum stabil dan masih mengandalkan suara tenggorokan.Melafalkan seluruh kata dalam teks dialog dengan artikulasi vokal dan konsonan yang jelas, volume terdengar tegas, serta ditopang pernapasan yang baik.Melafalkan seluruh kata dalam teks dialog dengan artikulasi sangat jelas dan presisi, volume dan dinamika vokal terkontrol mantap, serta proyeksi vokal menjangkau seluruh ruangan secara mandiri.
Eksplorasi Mimik Wajah dan Tubuh Penopang DialogMenampilkan mimik wajah kaku/tanpa ekspresi dan postur tubuh pasif atau membungkuk saat mengucapkan dialog.Menampilkan mimik wajah yang mulai berubah namun belum konsisten selaras dengan emosi dialog, serta gestur tubuh masih canggung.Menampilkan mimik wajah yang selaras dengan kalimat dialog serta sikap tubuh tegak dan terbuka dalam menopang pengeluaran suara.Menampilkan mimik wajah yang ekspresif dan hidup secara konsisten sesuai makna dialog, dipadukan dengan sikap tubuh yang kokoh, luwes, dan sepenuhnya terintegrasi dengan vokal.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid berani mengeksplorasi volume suara dan membuka rongga mulut dengan percaya diri?
  • Bagian latihan dialog manakah yang paling efektif membantu murid memahami pentingnya artikulasi dan mimik wajah?

Murid:

  • Bagaimana perbedaan yang kamu rasakan saat berbicara menggunakan napas diafragma dibandingkan napas dada/leher biasa?
  • Tantangan apa yang kamu hadapi saat harus menyelaraskan mimik wajah dengan lontaran vokal dialog drama?

Pertemuan 3 — Eksplorasi Tata Artistik Panggung Menggunakan Elemen Rupa dari Bahan Lingkungan Sekitar — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.4.2 Mengeksplorasi tata artistik panggung dengan mempertimbangkan elemen-elemen rupa yang sederhana dari bahan yang ada di lingkungan sekitar

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan belajar, dan menyampaikan tujuan pertemuan hari ini yaitu mengeksplorasi tata artistik panggung menggunakan bahan dari lingkungan sekitar (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat: menampilkan 3 benda lingkungan (kardus bekas, botol plastik bening, ranting pohon kering) dan meminta murid menuliskan 1 elemen rupa dominan serta fungsi artistiknya untuk latar teater pada secarik kertas (acuan: kardus = bidang/tekstur datar untuk dinding/batu; botol plastik = bentuk tabung/transparan untuk lampu/wadah; ranting = garis/tekstur kasar untuk pohon/hutan) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mengamati 3 contoh benda di sekitar ruang kelas (kardus berkas, botol plastik bekas, dan ranting kering) yang ditunjukkan guru, lalu bersama-sama mengidentifikasi elemen rupa dasar (titik, garis, bidang, bentuk, warna, tekstur) yang melekat pada benda tersebut (10 menit).
  • Dalam kelompok kecil, murid menerima 'Tantangan Tebak Bentuk Artistik' (permainan menggembirakan): murid menyusun 2 jenis benda lingkungan dalam waktu 3 menit untuk membentuk siluet latar teater sederhana dan kelompok lain menebak wujud latar yang dimaksud (10 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid secara berkelompok mengeksplorasi dan memanipulasi bahan-bahan lingkungan yang telah dikumpulkan (kardus bekas, daun/ranting kering, tali rafia, koran bekas) menjadi model tiruan properti/elemen tata panggung (misalnya membuat tekstur dinding gua dari remasan koran, atau miniatur pohon dari ranting dan daun) dengan mempertimbangkan elemen bentuk dan tekstur (25 menit).
  • Setiap kelompok menata hasil olahan elemen rupa tersebut di atas meja panggung mini (area eksplorasi kelas) guna menguji kesesuaian komposisi tata letak visualnya (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama kelompoknya mengevaluasi hasil eksplorasi tata artistik yang telah dibuat: mengidentifikasi bahan lingkungan mana yang paling efektif memunculkan kesan visual tertentu dan bagian mana yang memerlukan perbaikan susunan elemen rupa (5 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan bagaimana pemanfaatan bahan lingkungan sekitar dapat diolah melalui elemen rupa untuk mendukung artistik panggung teater (3 menit).
  • Guru memberikan umpan balik dan mengarahkan murid untuk merapikan bahan-bahan sisa eksplorasi ke tempat pemilahan sampah kelas (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan contoh eksplorasi 1 elemen rupa (misal: fokus pada bentuk saja menggunakan kardus), sedangkan murid yang lebih mahir mengeksplorasi kombinasi minimal 3 elemen rupa (garis, tekstur, dan bentuk) dari berbagai bahan.
  • Proses: Kelompok yang kesulitan diberikan pendampingan bertahap dalam memotong dan merekatkan bahan, sementara kelompok yang mandiri langsung bereksplorasi membuat variasi susunan artistik.
  • Produk: Kelompok menghasilkan model/maket susunan elemen artistik panggung dari bahan lingkungan dengan tingkat kerumitan komposisi rupa yang disesuaikan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik tertulis singkat: Murid mengidentifikasi elemen rupa dominan dan fungsi artistik dari 3 benda lingkungan (kardus bekas, botol plastik, ranting kering). Kriteria benar: kardus (elemen: bidang/tekstur datar; fungsi: dinding/batu), botol plastik (elemen: bentuk silinder/transparan; fungsi: lampu/wadah), ranting pohon (elemen: garis/tekstur kasar; fungsi: pohon/hutan/ranting latar).

Proses:

  • Pengamatan langsung saat kerja kelompok mengeksplorasi bahan lingkungan: mengamati kemampuan murid mengubah bahan mentah menjadi elemen tata artistik (memperhatikan elemen rupa garis, bentuk, tekstur, atau warna) dengan indikator ketepatan pemanfaatan minimal 2 jenis bahan lingkungan.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan di akhir sesi: Murid menyebutkan 1 kombinasi bahan lingkungan yang berhasil dieksplorasi beserta alasan kesesuaian elemen rupanya terhadap fungsi panggung teater (kriteria penerimaan: murid menyebutkan nama bahan lingkungan, elemen rupa yang diolah, dan fungsi visual panggung yang dihasilkan secara logis).

Formatif:

  • Lembar observasi unjuk kerja eksplorasi tata artistik panggung dari bahan lingkungan sekitar
  • Catatan asesmen awal diagnostik identifikasi elemen rupa bahan lingkungan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Eksplorasi Elemen Rupa Bahan LingkunganBelum mampu mengeksplorasi bahan lingkungan sekitar menjadi elemen tata artistik panggung, bahan dibiarkan mentah tanpa pengolahan elemen rupa.Mengeksplorasi 1 jenis bahan lingkungan sekitar menjadi elemen tata artistik panggung dengan mempertimbangkan 1 elemen rupa (misalnya hanya bentuk) dengan bantuan penuh.Mengeksplorasi minimal 2 jenis bahan lingkungan sekitar menjadi elemen tata artistik panggung dengan mempertimbangkan minimal 2 elemen rupa (misalnya bentuk dan tekstur) secara mandiri.Mengeksplorasi lebih dari 2 jenis bahan lingkungan sekitar menjadi elemen tata artistik panggung dengan memadukan beragam elemen rupa (garis, bidang, bentuk, tekstur) secara harmonis dan mandiri.
Penataan Komposisi Artistik PanggungBelum mampu menata letak hasil olahan bahan lingkungan pada area panggung mini.Menata letak hasil olahan bahan lingkungan pada panggung mini namun komposisi elemen rupa belum teratur.Menata letak hasil olahan bahan lingkungan pada panggung mini dengan komposisi elemen rupa yang tertata jelas mendukung kesan ruang panggung.Menata letak hasil olahan bahan lingkungan pada panggung mini dengan komposisi elemen rupa yang sangat teratur, seimbang, dan kuat membangun dimensi ruang panggung.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah penyediaan ragam bahan lingkungan di kelas cukup memfasilitasi imajinasi murid dalam mengeksplorasi elemen rupa?
  • Bagaimana keterlibatan setiap murid dalam kelompok saat mengeksplorasi tekstur dan bentuk bahan lingkungan?

Murid:

  • Bahan lingkungan apa yang menurutmu paling mudah dan paling menantang untuk diubah menjadi elemen artistik panggung?
  • Elemen rupa apa (bentuk, tekstur, atau garis) yang paling terlihat menonjol dari hasil karyamu hari ini?

Pertemuan 4 — Merancang Sketsa Tata Artistik Panggung dengan Pemanfaatan Teknologi Digital — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.4.3 Merancang tata artistik panggung dengan mempertimbangkan elemen-elemen rupa yang sederhana serta memanfaatkan teknologi digital

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan ruang lingkup pembelajaran hari ini, yaitu merancang sketsa tata artistik panggung secara digital (3 menit).
  • Guru memberikan asesmen diagnostik singkat: murid diminta mencocokkan 3 fungsi tata artistik berikut pada lembar catatan ringkas: (1) Backdrop/latar belakang -> menentukan setting ruang dan waktu; (2) Properti panggung -> benda penunjang gerak laku lakon; (3) Tata cahaya (lighting) -> menciptakan dimensi dan suasana emosi adegan. (Acuan ketepatan: pasangan 1-setting, 2-benda laku, 3-dimensi/suasana) (7 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Guru memproyeksikan contoh sketsa tata panggung digital sederhana dan mendemonstrasikan penyusunan elemen rupa: garis dan bentuk dasar untuk panggung/level, pemilihan palet warna untuk suasana, serta layer pencahayaan menggunakan aplikasi grafis/desain digital (misalnya Canva atau aplikasi gambar gawai) (15 menit).
  • Murid secara berpasangan mengamati antarmuka aplikasi digital serta mencatat 4 fitur utama yang akan digunakan untuk merancang panggung: penambahan bentuk/bidang (shapes), palet warna (colors), penempatan gambar properti digital (assets), dan layer pencahayaan (transparency/lighting effects) (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Tantangan Digital Cepat (Joyful): Murid melakukan pemanasan fitur digital selama 5 menit dengan menyusun 3 bentuk dasar geometri menjadi komposisi level panggung mini secepat dan sekreatif mungkin (5 menit).
  • Murid secara mandiri merancang sebuah sketsa tata artistik panggung digital untuk satu babak naskah drama kelas, dengan mengintegrasikan minimal 3 elemen rupa (garis/bidang panggung, kontras warna latar, dan proporsi bentuk properti panggung) melalui aplikasi digital pilihan pada gawai/komputer (30 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali hasil rancangan sketsa digitalnya menggunakan daftar periksa mandiri (apakah elemen rupa garis, bidang, warna, dan pencahayaan digital sudah terwakili dengan jelas) dan menuliskan 1 kendala teknis serta solusi yang ditemukan selama merancang (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan konfirmasi dan umpan balik terhadap hasil eksplorasi rancangan sketsa digital murid, menegaskan bahwa sketsa digital adalah pedoman visual penataan artistik (5 menit).
  • Guru menyampaikan instruksi tindak lanjut untuk menyimpan file rancangan digital guna persiapan latihan peran dan properti pada pertemuan berikutnya, lalu menutup sesi dengan doa dan salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid disediakan opsi template tata panggung 2D dasar siap pakai untuk tingkat pemula, sedangkan murid mahir memulai dari kanvas kosong dengan grid perspektif ruang panggung teater.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan teknis diberikan panduan langkah demi langkah penggunaan fitur shape dan warna; murid yang lebih terampil diberikan tantangan mengatur pencahayaan multilayer.
  • Produk: Rancangan sketsa panggung digital dapat berformat gambar skematik denah panggung (overhead view) atau sketsa visual frontal panggung teater (front view).

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pencocokan 3 fungsi tata artistik panggung teater: (1) Backdrop -> penentu setting tempat dan waktu; (2) Properti panggung -> benda penunjang interaksi lakon; (3) Tata cahaya -> pencipta dimensi dan suasana emosi adegan. (Kriteria ketepatan: tepat memasangkan minimal 2 dari 3 fungsi artistik secara tepat).

Proses:

  • Pengamatan langsung saat pengerjaan sketsa digital: keterlibatan murid dalam memanfaatkan fitur digital (bidang, warna, properti) untuk menyusun tata panggung teater.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman mandiri melalui daftar periksa rancangan sketsa digital: verifikasi ketercakupan 3 elemen rupa utama (garis batas lantai panggung, bidang properti panggung, dan palet warna suasana latar).

Formatif:

  • Pemeriksaan ketepatan diagnostik awal fungsi tata artistik
  • Observasi unjuk kerja proses perancangan sketsa digital di kelas
  • Penilaian produk hasil sketsa tata artistik panggung digital murid menggunakan rubrik

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Keterpaduan Elemen Rupa dalam Rancangan PanggungHanya memuat 1 elemen rupa sederhana (misal garis lantai saja) tanpa penataan bidang dan warna latar.Memuat 2 elemen rupa (misal garis panggung dan bidang properti) namun penataan warna dan tata letak belum menggambarkan tata panggung yang jelas.Memuat 3 elemen rupa (garis panggung, bidang properti, dan warna suasana) yang tersusun menjadi sketsa tata panggung yang proporsional dan jelas.Memuat seluruh elemen rupa (garis, bidang, bentuk, warna suasana, dan simulasi pencahayaan) secara sangat proporsional, rinci, dan harmonis dalam sketsa tata panggung.
Pemanfaatan Fitur Teknologi DigitalBelum mampu mengoperasikan fitur aplikasi digital untuk membuat objek rancangan panggung secara mandiri.Menggunakan 1-2 fitur digital dasar (seperti garis atau teks) namun belum mengolah aset bentuk/warna secara terpadu.Menggunakan minimal 3 fitur aplikasi digital (pengaturan bentuk/bidang, manipulasi warna/latar, dan peletakan aset visual properti) secara tepat dan mandiri.Menguasai dan memadukan beragam fitur digital tingkat lanjut (pengaturan layer, opacity/pencahayaan digital, komposisi warna, dan penataan ruang) menghasilkan sketsa panggung yang rapi dan terperinci.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah penggunaan aplikasi digital memudahkan murid memvisualisasikan ide artistik panggung teater?
  • Apakah alokasi waktu 30 menit pengerjaan mandiri mencukupi seluruh murid untuk menyelesaikan sketsa digital?

Murid:

  • Fitur aplikasi digital apa yang paling membantumu mewujudkan ide tata panggung?
  • Elemen rupa apa yang paling menonjol dalam sketsa panggung yang telah kamu buat hari ini?

Pertemuan 5 — Latihan Memainkan Peran Sederhana Berdasarkan Bloking dan Naskah di Kelas — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.4.4 Memainkan peran dalam sebuah pertunjukan sederhana di kelas atau satuan pendidikan

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan ruang lingkup kegiatan hari ini yaitu latihan memainkan peran sederhana berdasarkan naskah dan pola bloking ruang kelas (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat: meminta 3 perwakilan murid menunjukkan arah 3 area dasar panggung (kiri panggung/stage left, tengah panggung/center stage, dan kanan panggung/stage right) dari perspektif pemeran saat menghadap penonton (acuan tepat: kiri panggung = sisi kiri pemain menghadap penonton; tengah panggung = area tengah; kanan panggung = sisi kanan pemain menghadap penonton) (7 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Menggembirakan):

  • Murid dalam kelompok peran (4-5 murid per kelompok) mengamati pembagian area lantai kelas yang telah diberi tanda selotip kertas (area 1: stage left, area 2: center stage, area 3: stage right) dan mencocokkannya dengan naskah adegan pendek bertema 'Kerja Bakti Sekolah' yang memuat petunjuk gerak (stage direction) perpindahan peran (acuan teks naskah: Adegan Tokoh A masuk ke center stage, Tokoh B merespons dari stage right, Tokoh C menengahi di stage left) (10 menit).
  • Permainan pemanasan 'Patung Bloking Bergerak': Guru menyebutkan nomor area panggung secara acak (Area 1, 2, atau 3), murid berpasangan bergerak cepat menempati area tersebut dan langsung membekukan tubuh membentuk pose karakter peran masing-masing selama 5 hitungan dengan penuh kegembiraan (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Setiap kelompok berlatih memainkan peran secara utuh dalam adegan pendek 'Kerja Bakti Sekolah' berdasarkan panduan naskah dan bloking yang ditentukan, di mana masing-masing murid memerankan tokohnya (Tokoh A, B, atau C) secara bergantian dan mempraktikkan perpindahan posisi antar-area panggung tanpa membelakangi penonton (25 menit).
  • Setiap kelompok secara bergiliran menampilkan latihan memainkan peran berdurasi 3 menit di depan kelas, sementara kelompok pengamat mencatat kesesuaian eksekusi peran teman berdasarkan naskah dan pola bloking (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru merefleksikan jalannya latihan memainkan peran: mengidentifikasi momen saat perpindahan posisi (bloking) sudah lancar dan bagian adegan naskah yang masih terasa canggung saat diperankan (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik formatif terhadap latihan peran dan ketepatan alur bloking kelompok serta mengarahkan murid untuk merapikan kembali tata ruang kelas (3 menit).
  • Guru menyampaikan agenda lanjutan untuk pertemuan berikutnya (gladi bersih peran bersama tim panggung) dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Kelompok yang membutuhkan bimbingan diberikan teks naskah dengan penanda warna visual untuk setiap instruksi bloking, sedangkan kelompok mahir menggunakan teks naskah standar.
  • Proses: Kelompok yang membutuhkan bimbingan berlatih dengan pendampingan langsung oleh guru pada transisi bloking, sedangkan kelompok mandiri langsung berlatih secara mandiri.
  • Produk: Kelompok mahir memainkan peran adegan secara penuh tanpa melihat naskah teks, sedangkan kelompok yang membutuhkan scaffolding diperkenankan sesekali memeriksa lembar naskah saat transisi adegan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik cepat mengenali orientasi area panggung: 3 murid diminta berdiri menghadap ke arah bangku penonton lalu melangkah ke kiri panggung (stage left), tengah panggung (center stage), dan kanan panggung (stage right) (acuan tepat: kiri panggung = sisi kiri pemain; tengah panggung = area poros tengah; kanan panggung = sisi kanan pemain dari sudut pandang aktor di panggung).

Proses:

  • Pengamatan formatif saat murid memainkan adegan naskah 'Kerja Bakti Sekolah' dalam kelompok berdurasi 3 menit: menilai ketepatan memainkan peran sesuai teks naskah dan kesesuaian posisi/perpindahan karakter pada 3 area bloking panggung (stage left, center stage, stage right).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan penutup: Guru menanyakan kepada murid kriteria keberhasilan memainkan peran dalam adegan kelompok (kriteria penerimaan: murid menyebutkan peran dimainkan sesuai alur naskah cerita dan posisi tokoh berpindah tepat sesuai pola bloking panggung yang ditentukan).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja latihan memainkan peran berdasarkan naskah dan ketepatan bloking menggunakan lembar amatan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kesesuaian Memainkan Peran Berdasarkan NaskahBelum mampu membawakan dialog dan aksi tokoh sesuai naskah; banyak dialog terhenti atau keluar dari alur naskah secara penuh.Memainkan peran dengan sesekali mengingat naskah, terdapat lebih dari 2 kesalahan dialog atau aksi tokoh yang tidak sesuai naskah.Memainkan peran sesuai naskah secara runtut dengan maksimal 1-2 ketidaksesuaian minor pada dialog atau aksi tokoh.Memainkan peran secara utuh, lancar, dan tepat sesuai urutan dialog serta aksi karakter yang tertulis dalam naskah adegan secara mandiri.
Ketepatan Eksekusi Pola Bloking di KelasBelum mampu menempati area panggung yang ditentukan; berdiri terpaku di satu tempat atau salah area di sepanjang penampilan.Berpindah ke area panggung tetapi hanya memenuhi 1 dari 3 ketentuan perpindahan bloking yang disepakati dalam adegan.Memenuhi 2 dari 3 ketentuan perpindahan bloking panggung (stage left, center stage, stage right) secara tepat selama memainkan peran.Memenuhi seluruh 3 ketentuan perpindahan bloking panggung secara tepat dan konsisten tanpa membelakangi penonton sepanjang adegan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu latihan kelompok cukup memberi kesempatan bagi setiap murid untuk mencoba memainkan peran di panggung kelas?
  • Bagaimana efektivitas pembagian area bloking lantai kelas dalam membantu murid menghafal alur perannya?

Murid:

  • Bagian mana dari adegan yang paling mudah dan paling menantang untuk saya perankan bersama teman kelompok?
  • Apakah saya sudah berhasil berpindah tempat sesuai pola bloking naskah tanpa bertabrakan atau menutupi teman peran?

Pertemuan 6 — Gladi Bersih Memainkan Peran dalam Pertunjukan Sederhana Bersama Tim Panggung — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.4.4 Memainkan peran dalam sebuah pertunjukan sederhana di kelas atau satuan pendidikan

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, mengecek kehadiran, dan mengondisikan kesiapan panggung gladi bersih di kelas (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu melakukan gladi bersih memainkan peran dalam pertunjukan lakon sederhana secara terpadu bersama tim panggung (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat: murid diminta berdiri berurutan di panggung dan secara bergantian memperagakan satu tindakan masuk panggung (entrance) dan satu tindakan keluar panggung (exit) sesuai posisi peran masing-masing dalam naskah (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru menyimak urutan alur gladi bersih naskah lakon sederhana 'Sahabat di Persimpangan' yang terdiri atas 3 adegan: Adegan 1 (Pertemuan di teras sekolah), Adegan 2 (Perdebatan mengenai tugas kelompok), dan Adegan 3 (Penyelesaian dan kesepakatan) untuk memastikan kesiapan urutan masuk-keluar pemeran dan penempatan properti panggung (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru mengadakan permainan pemanasan respons panggung 'Siap Aksi': guru menyebutkan nomor adegan secara acak dan murid secara serempak langsung mengambil posisi peran di panggung dalam waktu 5 detik bersama properti adegannya secara antusias dan menggembirakan (10 menit).
  • Murid memainkan perannya secara utuh tanpa henti (run-through gladi bersih) dari Adegan 1 hingga Adegan 3 dalam pertunjukan lakon sederhana di area panggung kelas, mempraktikkan dialog, gestur tokoh, perpindahan posisi (bloking), serta interaksi langsung dengan tata artistik panggung dan aba-aba tim panggung (30 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid duduk melingkar bersama tim panggung untuk mengevaluasi kelancaran memainkan peran selama gladi bersih, menandai bagian adegan yang alur perpindahannya masih kaku atau terlewat, serta mengonfirmasi kesiapan penyesuaian peran saat pertunjukan (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan catatan penting dari hasil gladi bersih memainkan peran bersama tim panggung (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik penguatan terhadap kedisiplinan memainkan peran dan menutup pertemuan dengan doa serta arahan persiapan tampil pada pertemuan berikutnya (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Naskah lakon adegan disediakan dengan tanda visual penanda urutan dialog dan perpindahan peran bagi murid yang membutuhkan panduan alur peran.
  • Proses: Murid yang sudah luwes memainkan peran diberikan kesempatan mengalirkan improvisasi reaksi karakter saat transisi adegan, sedangkan murid yang masih ragu didampingi pemantauan urutan gerak peran secara terarah.
  • Produk: Tingkat kemandirian memainkan peran disesuaikan, mulai dari yang memerlukan petunjuk aba-aba transisi hingga yang sepenuhnya mandiri menguasai peran dari awal hingga akhir adegan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Uji kesiapan peran melalui peragaan aksi masuk (entrance) dan keluar (exit) panggung. Kriteria penerimaan operasional: murid mampu melakukan 1 tindakan masuk ke area panggung dan 1 tindakan keluar area panggung sesuai penempatan peran masing-masing dalam lakon tanpa tertukar arah sisi kiri/kanan panggung (acuan: tokoh utama masuk dari sisi panggung kiri menuju meja tengah, tokoh pendukung masuk dari sisi kanan panggung; exit tokoh pendukung menuju sisi kanan panggung, exit tokoh utama menuju sisi kiri panggung).

Proses:

  • Lembar observasi gladi bersih memainkan peran: pengamatan keterlibatan murid dalam memainkan karakter tokoh sesuai naskah (konsistensi karakter), ketepatan perpindahan posisi panggung (bloking peran), dan kelancaran interaksi peran dengan aba-aba panggung selama alur 3 adegan.

Akhir Pertemuan:

  • Cek kesiapan akhir gladi bersih: murid menyebutkan secara lisan urutan aksi perannya pada transisi Adegan 1 ke Adegan 2 dan Adegan 2 ke Adegan 3 (acuan: pada transisi Adegan 1 ke Adegan 2, pemeran berganti posisi duduk ke berdiri mendekati properti meja; pada transisi Adegan 2 ke Adegan 3, pemeran bergerak ke posisi tengah panggung untuk dialog kesepakatan).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja gladi bersih memainkan peran dalam lakon sederhana menggunakan lembar observasi proses peran panggung

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Memainkan peran dalam alur adegan pertunjukan lakonMemainkan peran pada adegan dengan sering berhenti, membutuhkan arahan guru di setiap pergantian posisi, dan belum konsisten membawakan watak tokoh.Memainkan peran dalam adegan dengan arahan sesekali dari tim/guru, mampu berpindah posisi peran meski transisi antar-adegan masih terlihat ragu.Memainkan peran dalam 3 adegan secara runtut, konsisten membawakan karakter tokoh, serta melakukan perpindahan posisi dan interaksi panggung secara lancar.Memainkan peran dalam seluruh adegan secara konsisten, luwes, mandiri sepenuhnya tanpa ragu, serta responsif terhadap perubahan situasi panggung secara meyakinkan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alur gladi bersih memberikan waktu yang cukup bagi setiap murid untuk merasakan pengalaman utuh memainkan peran di panggung?
  • Bagian adegan mana yang masih memerlukan penyesuaian koordinasi antara pemeran dengan tim tata panggung?

Murid:

  • Bagian mana dari adegan gladi bersih tadi yang membuat saya merasa paling yakin dalam membawakan peran tokoh saya?
  • Tantangan apa yang saya rasakan ketika menyelaraskan dialog dan gerakan peran saya dengan properti panggung?

Pertemuan 7 — Membuat dan Menampilkan Pertunjukan Teater yang Relevan dengan Kehidupan Murid — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.4.5 Membuat pertunjukan teater yang relevan dengan kehidupan murid

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, memimpin doa bersama, dan memeriksa kesiapan ruang pertunjukan di kelas (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-7, yaitu membuat dan menampilkan pertunjukan teater yang mengangkat isu relevan dengan kehidupan murid (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat: meminta perwakilan kelompok menyebutkan 1 isu kehidupan remaja yang diangkat dalam pertunjukan kelompoknya beserta kaitan ceritanya dengan kenyataan di sekolah (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid bersama kelompoknya meninjau kembali naskah dan susunan babak lakon untuk memastikan setiap adegan secara utuh memuat permasalahan nyata kehidupan murid (misalnya: tekanan belajar, pertemanan/isu perundungan daring, atau kejujuran akademik) (10 menit).
  • Guru memberikan penguatan bahwa membuat pertunjukan yang relevan berarti menyajikan konflik dan penyelesaian yang masuk akal serta memberikan dampak reflektif bagi penonton sebaya (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Secara bergiliran dengan antusias dan suasana festival mini kelas, tiap kelompok menampilkan pertunjukan teater sederhana berdurasi 7-8 menit di panggung kelas yang memadukan keaktoran dan tata panggung yang telah dirancang (30 menit).
  • Kelompok yang menjadi penonton mengamati relevansi isu cerita dan bagaimana pesan tentang kehidupan murid tersampaikan melalui keseluruhan pertunjukan tersebut (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid dalam kelompok mengungkapkan refleksi lisan tentang bagaimana pertunjukan teater yang mereka buat berhasil memotret kenyataan kehidupan murid dan apa pembelajaran moral yang didapat bagi pergaulan sehari-hari (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan keberhasilan proses pembuatan dan penampilan teater kelas yang sarat dengan pesan kehidupan nyata murid (5 menit).
  • Guru menginformasikan agenda pertemuan ke-8 untuk asesmen sumatif produk dan kinerja utuh, serta menutup pembelajaran dengan doa penutup (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Kelompok dapat memilih fokus isu kehidupan murid yang disajikan: dilema persahabatan, pengelolaan stres ujian, atau etika bermedia sosial.
  • Proses: Kelompok yang membutuhkan bimbingan difasilitasi dalam mengalirkan perpindahan babak pertunjukan, sedangkan kelompok yang sudah mahir diberi keleluasaan mengatur variasi penataan fokus panggung secara mandiri.
  • Produk: Pertunjukan teater sederhana kelompok yang berdurasi 7-8 menit dengan alur utuh yang merefleksikan persoalan nyata murid.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Guru menanyakan kepada tiap kelompok: 'Sebutkan 1 isu kehidupan remaja yang menjadi fokus naskah pertunjukan kelompokmu dan jelaskan di bagian adegan mana situasi nyata murid paling tampak!' (Kriteria penerimaan: kelompok menyebutkan isu konkret kehidupan murid seperti pertemanan/bullying/kejujuran/tekanan nilai, dan menunjukkan adegan yang memuat konflik tersebut).

Proses:

  • Pengamatan keterpaduan pertunjukan saat kelompok tampil, menilai keberhasilan kelompok mewujudkan alur lakon yang mengangkat isu kehidupan murid secara utuh dan masuk akal sesuai kriteria rubrik.

Akhir Pertemuan:

  • Lembar cek refleksi singkat penutup: 'Apakah pertunjukan teater yang kelompokmu buat berhasil menyampaikan pesan yang relevan bagi kehidupan teman-temanmu? Tuliskan 1 bukti adegan pendukungnya!' (Kriteria penerimaan: jawaban memuat evaluasi ketercapaian pesan dan merujuk 1 adegan nyata dari pertunjukan yang telah dimainkan).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja pembuatan pertunjukan teater kelompok dengan fokus pada relevansi lakon terhadap realitas kehidupan murid.
  • Cek lisan relevansi isu lakon pada tahap asesmen awal dan refleksi.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Relevansi Pertunjukan dengan Kehidupan MuridMembuat pertunjukan teater yang ceritanya belum memuat isu atau peristiwa yang relevan dengan realitas kehidupan murid.Membuat pertunjukan teater yang mengangkat isu kehidupan murid, namun alur dan penyelesaian konfliknya belum tampak nyata/kurang berkaitan dengan kehidupan murid.Membuat pertunjukan teater yang relevan dengan kehidupan murid, menampilkan konflik dan dialog yang nyata terjadi dalam keseharian remaja di sekolah.Membuat pertunjukan teater yang sangat relevan dan kontekstual dengan kehidupan murid secara mandiri dan utuh, menyajikan resolusi konflik yang mendalam dan berdampak nyata bagi kesadaran penonton sebaya.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu pementasan tiap kelompok berjalan tertib dalam 80 menit?
  • Sejauh mana lakon teater yang dibuat murid berhasil merefleksikan persoalan nyata dunia remaja mereka?

Murid:

  • Bagian mana dari pertunjukan teater kelompokmu yang paling kuat menggambarkan kehidupan nyata murid?
  • Pelajaran hidup apa yang kamu rasakan setelah berhasil membuat dan memainkan pertunjukan teater tersebut?

Pertemuan 8 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.4.1 Mengeksplorasi olah tubuh, mimik wajah, dan vokal sebagai dasar keaktoran murid dalam latihan dialog pertunjukan teater
  • TP 9.4.2 Mengeksplorasi tata artistik panggung dengan mempertimbangkan elemen-elemen rupa yang sederhana dari bahan yang ada di lingkungan sekitar
  • TP 9.4.3 Merancang tata artistik panggung dengan mempertimbangkan elemen-elemen rupa yang sederhana serta memanfaatkan teknologi digital
  • TP 9.4.4 Memainkan peran dalam sebuah pertunjukan sederhana di kelas atau satuan pendidikan
  • TP 9.4.5 Membuat pertunjukan teater yang relevan dengan kehidupan murid

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan fisik ruang panggung kelas, dan mendata kehadiran 28 murid (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif bab, aturan alur unjuk kerja pementasan (4 kelompok masing-masing 15 menit), serta kriteria penilaian pada rubrik portofolio artistik dan unjuk kerja peran (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Tugas 1: Seluruh kelompok mengumpulkan berkas portofolio rancangan tata artistik panggung yang memuat sketsa pemanfaatan bahan lingkungan sekitar serta skema tata cahaya/suara digital sederhana, lalu guru memverifikasi kelengkapan komponen portofolio kelompok (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Tugas 2: Kelompok 1 menampilkan pementasan teater bertema kehidupan murid selama 12 menit dengan menerapkan olah tubuh, mimik wajah, vokal dialog, serta bloking, dilanjutkan pergantian panggung selama 3 menit (10 menit).
  • Tugas 2: Kelompok 2 menampilkan pementasan teater bertema kehidupan murid selama 12 menit dengan menerapkan olah tubuh, mimik wajah, vokal dialog, serta bloking, dilanjutkan pergantian panggung selama 3 menit (15 menit).
  • Tugas 2: Kelompok 3 menampilkan pementasan teater bertema kehidupan murid selama 12 menit dengan menerapkan olah tubuh, mimik wajah, vokal dialog, serta bloking, dilanjutkan pergantian panggung selama 3 menit (15 menit).
  • Tugas 2: Kelompok 4 menampilkan pementasan teater bertema kehidupan murid selama 12 menit dengan menerapkan olah tubuh, mimik wajah, vokal dialog, serta bloking, dilanjutkan pergantian panggung selama 3 menit (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Setiap murid menuliskan refleksi mandiri singkat pada lembar ketercapaian peran dan kerja sama produksi teater yang telah ditampilkan (3 menit).

Penutup:

  • Guru mengapresiasi kerja keras seluruh murid atas tuntasnya rangkaian produksi pertunjukan teater Bab 4 dan memberikan umpan balik umum terhadap kedisiplinan panggung kelas (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Akomodasi format penyajian portofolio rancangan artistik dapat berupa cetak fisik atau dokumen digital interaktif tanpa mengubah kriteria elemen rupa dan skema teknologi yang dinilai.
  • Proses: Pemberian penanda visual batas area panggung (lakban lantai) untuk membantu orientasi spasial bloking bagi kelompok yang membutuhkan dukungan spasial.
  • Produk: Variasi karakter peran dalam naskah disesuaikan dengan kekuatan eksplorasi keaktoran murid (dialog dominan vokal, karakter gestural/olah tubuh, atau karakter ekspresif mimik) dengan beban penilaian rubrik yang setara.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pengecekan kesiapan berkas portofolio artistik dan kesiapan properti panggung tiap kelompok sebelum penampilan dimulai (kriteria siap: portofolio memuat sketsa tata panggung dan naskah bertema kehidupan murid lengkap dengan daftar pemeran).

Proses:

  • Observasi keteraturan pergantian kelompok di panggung (stage management) dan kedisiplinan waktu tampil masing-masing kelompok 12 menit.

Sumatif Bab:

  • penilaian produk rancangan artistik dan unjuk kerja pementasan teater sederhana: dokumen rancangan tata artistik panggung berbasis teknologi digital dan bahan lingkungan sekitar serta penampilan pementasan teater kelompok bertema kehidupan murid dengan keaktoran yang utuh
  • penilaian portofolio produk artistik: berkas portofolio rancangan tata artistik panggung yang memuat sketsa pemanfaatan bahan lingkungan sekitar serta skema tata cahaya/suara menggunakan teknologi digital sederhana yang dikumpulkan serentak per kelompok (20 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian portofolio artistik)
  • unjuk kerja pementasan teater: penampilan pementasan drama kelompok berdurasi 12 menit per kelompok yang mengangkat tema kehidupan murid, dinilai dari penguasaan peran (olah tubuh, mimik, vokal dialog), bloking, serta keutuhan produksi pertunjukan (4 kelompok x 15 menit pergantian = 60 menit, seluruh kelas 28 murid tampil) (60 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja pementasan teater)

Sumatif:

  • penilaian produk rancangan artistik dan unjuk kerja pementasan teater sederhana: dokumen rancangan tata artistik panggung berbasis teknologi digital dan bahan lingkungan sekitar serta penampilan pementasan teater kelompok bertema kehidupan murid dengan keaktoran yang utuh
  • penilaian portofolio produk artistik: berkas portofolio rancangan tata artistik panggung yang memuat sketsa pemanfaatan bahan lingkungan sekitar serta skema tata cahaya/suara menggunakan teknologi digital sederhana yang dikumpulkan serentak per kelompok (20 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian portofolio artistik)
  • unjuk kerja pementasan teater: penampilan pementasan drama kelompok berdurasi 12 menit per kelompok yang mengangkat tema kehidupan murid, dinilai dari penguasaan peran (olah tubuh, mimik, vokal dialog), bloking, serta keutuhan produksi pertunjukan (4 kelompok x 15 menit pergantian = 60 menit, seluruh kelas 28 murid tampil) (60 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja pementasan teater)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Portofolio Rancangan Tata Artistik Panggung (TP 9.4.2 & TP 9.4.3)
Acuan komponen wajib portofolio:
1. Sketsa tata panggung memuat elemen rupa sederhana (titik, garis, bidang, warna, tekstur).
2. Pemanfaatan minimal 2 bahan lingkungan sekitar (misal: kardus bekas, ranting/daun kering, kain perca, botol plastik bekas).
3. Skema pemanfaatan teknologi digital sederhana (misal: pengaturan sorot lampu/senter gawai, pemutaran efek suara/musik latar via aplikasi ponsel/laptop).
Portofolio hanya memuat 1 dari 3 komponen acuan wajib tata artistik panggung.Portofolio memuat 2 dari 3 komponen acuan wajib tata artistik panggung secara jelas.Portofolio memuat seluruh 3 komponen acuan wajib tata artistik panggung (sketsa elemen rupa, pemanfaatan bahan lingkungan, dan skema digital) secara lengkap dan tepat.Portofolio memuat seluruh 3 komponen acuan wajib tata artistik panggung secara lengkap, detail, disertai catatan teknis eksekusi tata panggung dan tata suara yang sangat operasional.
Penguasaan Keaktoran: Olah Tubuh, Mimik Wajah, dan Vokal Dialog (TP 9.4.1)
Acuan indikator keaktoran:
1. Olah tubuh: gestur dan gerak tubuh konsisten memperkuat karakter tokoh.
2. Mimik wajah: ekspresi wajah selaras dengan emosi adegan dialog.
3. Vokal dialog: artikulasi jelas, proyeksi suara terdengar, dan intonasi dialog sesuai situasi adegan.
Menampilkan 1 dari 3 indikator keaktoran, dialog kurang terdengar jelas dan ekspresi tubuh/wajah masih kaku.Menampilkan 2 dari 3 indikator keaktoran secara tepat selama pementasan.Menampilkan seluruh 3 indikator keaktoran (olah tubuh, mimik wajah, dan vokal dialog) secara konsisten dan tepat sesuai karakter tokoh.Menampilkan seluruh 3 indikator keaktoran secara konsisten, luwes, ekspresif, dan sangat meyakinkan dalam menghidupkan karakter tokoh di setiap adegan.
Unjuk Kerja Memainkan Peran dan Keutuhan Pertunjukan Teater (TP 9.4.4 & TP 9.4.5)
Acuan indikator pertunjukan:
1. Bloking panggung: posisi tubuh dan perpindahan panggung teratur tanpa membelakangi penonton secara keliru.
2. Alur peran: memainkan peran secara runtut mengikuti alur naskah pertunjukan sederhana.
3. Relevansi tema: isi cerita jelas mengangkat persoalan/realitas kehidupan murid (misal: persahabatan, kejujuran di sekolah, penggunaan media sosial, atau empati sesama teman).
Menampilkan 1 dari 3 indikator pertunjukan, bloking sering kacau dan cerita belum memperlihatkan relevansi tema kehidupan murid.Menampilkan 2 dari 3 indikator pertunjukan secara tepat selama 12 menit durasi tampil.Menampilkan seluruh 3 indikator pertunjukan (bloking teratur, alur peran runtut, dan relevansi tema kehidupan murid nyata) secara utuh dan padu.Menampilkan seluruh 3 indikator pertunjukan secara utuh, harmonis antaranggota kelompok, serta pesan moral kehidupan murid tersampaikan dengan daya gugah yang kuat.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 15 menit per kelompok (12 menit pentas + 3 menit pergantian) berjalan efektif untuk menilai 4 kelompok pementasan?
  • Bagaimana capaian pemahaman murid dalam memadukan tata artistik dan keaktoran pada produksi teater bab ini?

Murid:

  • Bagian mana dari peran yang saya mainkan yang paling berhasil mencerminkan emosi dan pesan cerita?
  • Apa pengalaman paling berharga yang saya dapatkan selama bekerja sama memproduksi pertunjukan teater ini?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Seni Teater SMP/MTs Kelas IX, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia
  2. Ruang kelas/aula yang dikosongkan bagian tengahnya sebagai arena gerak
  3. Cermin dinding (jika tersedia) atau pasangan latihan
  4. Kartu siluet pose karakter teater
  5. Buku Panduan Guru Seni Teater SMP/MTs Kelas IX, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
  6. Teks kutipan dialog drama pendek karya guru/penulis teater
  7. Ruang kelas/aula yang cukup lapang untuk olah vokal dan gerak
  8. Buku Panduan Guru Seni Teater SMP Kelas IX (Kemendikbudristek 2022, Bab 4: Memproduksi Pertunjukan Teater)
  9. Bahan lingkungan sekitar: kardus bekas, koran/kertas bekas, botol plastik, ranting kayu, daun kering, tali rafia
  10. Alat bantu: gunting, lem perekat/selotip, cutter guru, meja/area simulasi panggung mini kelas
  11. Buku Panduan Guru Seni Teater SMP Kelas IX (Kemendikbudristek)
  12. Aplikasi desain grafis digital (Canva / Google Drawing / IbisPaint / sketchbook pada smartphone/laptop)
  13. Contoh gambar sketsa panggung teater realis dan stilistik
  14. Buku Panduan Guru Seni Teater Kelas 9 SMP/MTs Kemendikbudristek RI 2022 (Unit 4: Memproduksi Pertunjukan Teater, Kegiatan 3: Mengatur Blocking)
  15. Naskah naskah drama adegan pendek 'Kerja Bakti Sekolah'
  16. Selotip kertas penanda lantai panggung kelas dan ruang kelas yang ditata sebagai panggung sederhana
  17. Buku Panduan Guru Seni Teater SMP Kelas IX
  18. Naskah lakon sederhana 'Sahabat di Persimpangan'
  19. Set panggung dan properti sederhana kelas (meja, kursi, penanda tata panggung)
  20. Buku Panduan Guru Seni Teater SMP Kelas IX, Kemendikbudristek 2022.
  21. Naskah lakon teater remaja karya murid.
  22. Properti panggung sederhana dan ruang kelas yang diatur sebagai area pementasan.
  23. Buku Panduan Guru Seni Teater SMP Kelas IX, Kemendikbudristek
  24. Naskah drama pendek karya murid bertema kehidupan remaja/sekolah
  25. Set properti panggung sederhana dari bahan lingkungan sekitar (kardus, botol, kain, tanaman hias)
  26. Perangkat pemutar audio dan pencahayaan digital sederhana (gawai/ponsel, speaker portabel, lampu senter)

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.