Modul AjarBab 1Fase DSemester 1

Modul Ajar Seni Teater Kelas 9 Bab 1: Gaya Akting Stilistik

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Seni Teater kelas 9 untuk Bab 1 "Gaya Akting Stilistik", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Seni Teater Kelas 9 Bab 1: Gaya Akting Stilistik

Seni Teater - Kelas 9

Bab 1

MODUL AJAR

Seni Teater — Kelas 9 (Fase D)

Topik: Bab 1 — Gaya Akting Stilistik

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranSeni Teater
Fase / KelasFase D / Kelas 9
TopikBab 1 — Gaya Akting Stilistik
Alokasi Waktu16 JP (16 x 40 menit = 640 menit)
Jumlah Pertemuan8
Tahun Ajaran2026/2027
Semester1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 9.1.1 Mengeksplorasi olah tubuh sebagai dasar keaktoran murid dalam gaya akting stilistik
  2. TP 9.1.2 Mengeksplorasi mimik wajah dan vokal sebagai dasar keaktoran murid dalam gaya akting stilistik
  3. TP 9.1.3 Membuat beragam karakter dengan imajinasi dan kreativitasnya dalam lakon gaya akting stilistik
  4. TP 9.1.4 Memainkan beragam karakter dengan imajinasi dan kreativitasnya dalam lakon gaya akting stilistik
  5. TP 9.1.5 Memainkan lakon dengan satu gaya yang sederhana dan mudah dipelajari pada pertunjukan gaya akting stilistik
  6. TP 9.1.6 Menjelaskan pengalaman bermain peran dan dampaknya terhadap diri sendiri saat mempraktikkan gaya akting stilistik
  7. TP 9.1.7 Memberikan apresiasi dan umpan balik sesuai dengan pengalaman pribadi terhadap penampilan gaya akting stilistik teman

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis✓
Kreativitas✓
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan✓
Komunikasi✓

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Bagaimana gerakan tubuh kita sehari-hari berubah jika digayakan menjadi lebih berirama dan berlebihan di atas panggung teater?
  2. Mengapa aktor teater stilistik memerlukan kelenturan dan kesadaran gerak tubuh yang berbeda dari akting realistik?
  3. Bagaimana raut wajah seseorang ketika bentuk ekspresi terkejut atau marah dilebih-lebihkan seperti dalam pertunjukan teater stilistik?
  4. Bagaimana suara seruan atau kata seru (interjeksi) dapat diperpanjang, diberi irama, atau digayakan agar terdengar tidak biasa (non-realis)?
  5. Bagaimana kita menuangkan imajinasi tentang sifat atau watak tertentu menjadi sebuah rancangan karakter stilistik?
  6. Apa yang membedakan rancangan karakter teater realis biasa dengan karakter bergaya stilistik yang gerak dan suaranya digayakan?
  7. Bagaimana caramu mengubah cara berjalan dan gestur biasa menjadi berlebihan untuk memerankan tokoh seorang raja yang sombong atau prajurit penakut?
  8. Mengapa dalam lakon bergaya stilistik, karakter yang kita mainkan perlu ditampilkan secara imajinatif dan tidak seperti perilaku sehari-hari?
  9. Bagaimana cara kita memainkan naskah lakon pendek bersama kelompok menggunakan satu gaya gerak dan dialog yang digayakan?
  10. Apa yang membedakan cara memainkan peran dalam lakon bergaya stilistik dengan lakon percakapan sehari-hari?
  11. Apa yang kamu rasakan secara fisik dan emosional ketika harus melakukan gerak tubuh yang dilebih-lebihkan serta dialog berirama dalam gaya stilistik?
  12. Bagaimana pengalaman memerankan lakon stilistik tersebut memengaruhi rasa percaya diri dan kesadaran gerak tubuhmu sehari-hari?
  13. Saat menyaksikan temanmu menampilkan adegan stilistik, kelebihan apa yang paling berkesan berdasarkan pengalamanmu saat berlatih peran serupa?
  14. Bagaimana caramu menyampaikan umpan balik yang membangun kepada teman tanpa mencela atau membuatnya patah semangat?
  15. Bagaimana keselarasan antara olah gerak tubuh, ekspresi mimik, dan vokal stilistik mampu menghidupkan karakter tokoh di atas panggung?
  16. Pelajaran apa yang paling bermakna bagi kepekaan diri kalian setelah melewati seluruh proses bermain peran bergaya stilistik ini?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Eksplorasi Olah Tubuh Berirama dan Penggayaan Gerak Dasar Keaktoran Stilistik — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.1.1 Mengeksplorasi olah tubuh sebagai dasar keaktoran murid dalam gaya akting stilistik

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kesiapan ruang gerak kelas, dan memandu pemanasan peregangan otot tubuh statis serta dinamis (5 menit).
  • Guru mengajak murid melakukan permainan pemanasan berirama 'Hitung Loncat dan Angka 8' menggunakan gerakan tangan serta pinggul secara serempak mengikuti ketukan (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui instruksi gerak perbandingan: murid diminta memperagakan gerak wajar berjalan biasa lalu mengubahnya menjadi gerak berjalan lambat berirama yang diperpanjang jangkauan langkahnya (acuan diagnostik: gerak wajar = langkah biasa tanpa stilasi; gerak stilistik = langkah diperlebar, tempo diatur berirama, dan posisi tubuh tegak terkontrol) untuk memetakan kesiapan olah tubuh murid (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru memberikan demonstrasi dan penjelasan perbedaan antara gerak wajar (realistik) dengan gerak stilistik yang digayakan melalui 3 teknik stilisasi tubuh: (1) pembesaran/ekstensifikasi ruang gerak tubuh, (2) permainan ritme/tempo berirama (lambat mengalir atau patah-patah cepat), dan (3) penahanan bentuk (pose/freeze) (10 menit).
  • Murid secara mandiri mencoba menirukan 3 variasi olah tubuh stilistik terpandu: (a) gerak merentang seperti karet elastis, (b) gerak mengembang dan menyusut seperti balon udara, dan (c) gerak meliuk seperti gelombang air, dengan menjaga kesadaran pusat tubuh/balance (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):

  • Guru memandu permainan eksplorasi gerak stilistik berirama 'Tantangan Transformasi Gerak': murid mengeksplorasi 4 gerak dasar keaktoran stilistik berikut: (1) Gerak Melayang Berirama (langkah jinjit mengalun lambat dengan rentangan tangan selebar mungkin), (2) Gerak Kaku Patah-patah (gerakan langkah robotik dengan sudut siku dan lutut tegas mengikuti ketukan tempo cepat), (3) Gerak Memilin Dinamis (putaran batang tubuh spiral dari posisi rendah jongkok ke posisi berdiri tinggi), dan (4) Gerak Freeze Berkarakter (menghentikan seluruh gerakan seketika saat ketukan berhenti dalam pose tubuh stilistik yang seimbang) (10 menit).
  • Murid secara mandiri merangkai ke-4 gerak dasar stilistik tersebut menjadi sebuah sekuens olah tubuh berirama berdurasi 8 ketukan per ragam gerak di area ruang gerak masing-masing (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid secara berpasangan saling mengamati dan melakukan cek pemahaman ragam gerak: satu murid memperagakan sekuens gerak stilistik dan pasangannya menandai keterpenuhan 4 ragam gerak (Melayang, Patah-patah, Memilin, Freeze) pada lembar observasi gerak (5 menit).
  • Guru memfasilitasi murid merenungkan kesadaran ruang, fleksibilitas, dan kendali tenaga tubuh yang dirasakan saat mentransformasikan gerak biasa menjadi gerak stilistik (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid melakukan pendinginan tubuh (cooling down) untuk melemaskan otot-otot persendian yang telah dieksplorasi (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik menyeluruh terhadap kemampuan eksplorasi gerak tubuh berirama murid, menyampaikan topik latihan olah mimik dan vokal untuk pertemuan berikutnya, lalu menutup pembelajaran dengan doa (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Guru menyediakan panduan kartu visual tingkatan gerak (level rendah, sedang, tinggi) untuk murid yang membutuhkan bantuan acuan visual.
  • Proses: Bagi murid yang masih kaku, latihan eksplorasi dilakukan dengan tempo ketukan lambat bertahap; bagi murid yang sudah lentur dan terampil, diberi tantangan eksplorasi pergantian tempo ekstrem (sangat lambat ke sangat cepat) pada sekuens gerak stilistik.
  • Produk: Bentuk rangkaian gerak stilistik disesuaikan dengan jangkauan rentang fisik dan kelenturan tubuh masing-masing murid tanpa mengurangi esensi penggayaan gerak.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Uji diagnostik performa gerak: Meminta murid melakukan transisi gerak dari jalan wajar biasa ke gerak stilistik berirama (acuan respon benar: gerak wajar = langkah kaki berjarak normal 30-40 cm dengan ayunan tangan rileks; gerak stilistik = jangkauan langkah diperlebar lebih dari 60 cm secara berirama terkontrol dan posisi torso tegak terkunci).

Proses:

  • Pengamatan langsung saat murid melakukan 4 ragam eksplorasi gerak stilistik: (1) Gerak Melayang Berirama, (2) Gerak Kaku Patah-patah, (3) Gerak Memilin Dinamis, dan (4) Gerak Freeze Berkarakter menggunakan daftar periksa ketercapaian stilisasi gerak (kriteria: pembesaran ruang gerak, ketepatan ritme/tempo, dan keseimbangan pose).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman gerak akhir: Murid mempraktikkan minimal 3 dari 4 ragam gerak stilistik yang telah dieksplorasi (Melayang Berirama, Kaku Patah-patah, Memilin Dinamis, Freeze Berkarakter) dengan kriteria penerimaan ketercapaian: tubuh menunjukkan distorsi/penggayaan gerak terencana dan mampu menjaga keseimbangan tumpuan tubuh selama minimal 4 ketukan berturut-turut.

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja eksplorasi olah tubuh berirama dan penggayaan gerak stilistik menggunakan lembar cek observasi gerak

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Eksplorasi Olah Tubuh StilistikBelum mampu mengeksplorasi gerak tubuh stilistik; gerak yang dilakukan masih berupa gerak wajar/realistik tanpa penggayaan atau kehilangan keseimbangan pada 4 ragam gerak target.Mampu mengeksplorasi 1-2 ragam dari 4 gerak dasar stilistik target (Melayang Berirama, Kaku Patah-patah, Memilin Dinamis, Freeze Berkarakter) dengan stilisasi gerak yang masih terbatas dan sesekali ragu.Mampu mengeksplorasi 3-4 ragam gerak dasar stilistik target (Melayang Berirama, Kaku Patah-patah, Memilin Dinamis, Freeze Berkarakter) dengan pembesaran ruang gerak tubuh dan ritme berirama yang stabil secara mandiri.Mampu mengeksplorasi seluruh (4 dari 4) ragam gerak dasar stilistik target secara luwes, konsisten menjaga keseimbangan tubuh, serta mampu memvariasikan level gerak (tinggi, sedang, rendah) secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid aktif berani bergerak dan mengeksplorasi potensi tubuhnya melampaui batas gerak keseharian?
  • Bagian latihan olah tubuh stilistik mana yang paling menantang bagi koordinasi gerak murid?

Murid:

  • Bagian tubuh mana yang terasa paling lentur atau paling sulit digayakan saat melakukan gerak stilistik tadi?
  • Bagaimana perasaanmu ketika tubuhmu bergerak dengan gaya berlebihan dan berirama dibandingkan gerak biasa?

Pertemuan 2 — Eksplorasi Mimik Wajah Ekspresif dan Interjeksi Vokal Dasar Keaktoran Stilistik — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.1.2 Mengeksplorasi mimik wajah dan vokal sebagai dasar keaktoran murid dalam gaya akting stilistik

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan murid, dan menyampaikan target eksplorasi mimik wajah serta vokal stilistik (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik: meminta seluruh murid serempak mempraktikkan ekspresi 'kaget biasa' vs 'kaget digayakan/stilistik' beserta seruannya guna memetakan kepekaan penggayaan mimik dan vokal (7 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid menyimak pemodelan guru mengenai perbedaan mimik wajah realistik (wajar/keseharian) dengan mimik wajah stilistik (stilisasi: mata membelalak penuh, alis terangkat kaku, senyum tertarik lebar yang ditahan/dilebihkan) (7 menit).
  • Murid mengamati dan mengidentifikasi 3 teknik penggayaan vokal interjeksi stilistik: (1) staccato/patah-patah tajam ('Ha! Ha! Ha!'), (2) melismatik/memanjang bergelombang ('Oooo-la-laaa'), dan (3) berbisik ritmis bertekanan ('Ssst... hahh!') (8 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):

  • Melalui permainan menggembirakan 'Topeng Cermin Berbunyi', murid berpasangan saling melempar dan menirukan perubahan mimik wajah stilistik secara bergantian mengikuti 4 emosi stilisasi: Murka (dahi berkerut ekstrem, rahang mengunci), Terpesona (mata berbinar melebar, bibir membulat terbuka), Gembira Raya (pipi ditarik tinggi, mata menyipit tajam), dan Takut Ngeri (mulut terbuka menyamping, mata terbelalak liar) (11 menit).
  • Murid secara mandiri mengeksplorasi perpaduan mimik wajah dan vokal stilistik menggunakan 3 kartu frasa interjeksi berikut: Kartu 1 'Aduh!' (digayakan dengan vokal meliuk melismatik dan mimik derita teatrikal), Kartu 2 'Hore!' (digayakan dengan vokal staccato berirama dan mimik suka cita ekspresif), Kartu 3 'Wahai!' (digayakan dengan vokal bergema panjang dan mimik agung/wibawa) (17 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid merasakan kesadaran sensorik pada otot-otot wajah serta artikulator suara saat menahan bentuk mimik dan memproduksi variasi vokal stilistik tanpa rasa tegang yang merusak (12 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap eksplorasi mimik wajah dan pengolahan vokal stilistik yang telah dilakukan murid (5 menit).
  • Guru menyampaikan asesmen akhir singkat melalui satu kali tantangan serentak mimik-vokal 'Wahai!' bergaya stilistik, kemudian menutup pembelajaran dengan doa dan salam (10 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan panduan visual ilustrasi mimik stilistik (ekspresi topeng) bagi murid yang membutuhkan inspirasi bentuk visual bentuk ekspresi wajah.
  • Proses: Bagi murid yang masih ragu mengeksplorasi vokal stilistik, guru memberikan contoh pengulangan ritme vokal bertahap dari tempo lambat ke cepat; bagi murid yang cepat berkembang, diberikan tantangan menggabungkan 2 modulasi vokal (melismatik ke staccato) secara langsung.
  • Produk: Bentuk luaran eksplorasi mimik wajah dan vokal disesuaikan dengan jangkauan kenyamanan vokal murid tanpa memaksakan register nada tinggi yang mencederai pita suara.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Uji kesiapan eksplorasi mimik dan vokal stilistik: Guru meminta murid memperagakan reaksi 'kaget' dalam dua cara: (1) cara realistik sehari-hari (acuan: kedipan spontan, nafas tertahan sejenak, suara 'eh' lirih), dan (2) cara stilistik digayakan (acuan: mata membelalak lebar ditahan selama 3 hitungan, mulut membuka kaku membentuk huruf O tegas, seruan 'Hah!' dengan vokal staccato bervolume mantap). Kriteria penerimaan: Murid mampu membedakan bentuk ekspresi wajar dengan bentuk ekspresi yang sengaja digayakan.

Proses:

  • Pengamatan langsung saat latihan mandiri dan permainan 'Topeng Cermin Berbunyi': Memeriksa keterlibatan eksplorasi pada 4 emosi stilisasi (Murka, Terpesona, Gembira Raya, Takut Ngeri) dan 3 variasi kartu interjeksi (Aduh! - melismatik; Hore! - staccato; Wahai! - bergema panjang). Indikator: Murid mampu mengubah bentuk mimik wajah melampaui ekspresi natural sehari-hari dan memvariasikan bunyi vokal (irama/ketukan/pemanjangan) secara sadar.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman praktis di penutup: Seluruh murid secara serempak melakukan peragaan interjeksi 'Wahai!' bergaya stilistik. Kriteria ketepatan: Mimik wajah menampilkan stilisasi wibawa/agung (alis terangkat tenang, tatapan fokus tidak berkedip cepat) dipadukan dengan vokal yang disuarakan bulat bervolume stabil dan diayun panjang (minimal 3 detik) tanpa kembali ke intonasi percakapan santai sehari-hari.

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja eksplorasi mimik wajah stilistik (kejelasan distorsi/stilisasi bentuk wajah)
  • Observasi unjuk kerja eksplorasi vokal interjeksi stilistik (variasi ritme, pemanjangan, dan proyeksi gaya non-realis)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Eksplorasi Mimik Wajah StilistikMenampilkan ekspresi wajah yang sepenuhnya datar atau hanya menampilkan mimik natural/realistik sehari-hari tanpa stilisasi pada keempat emosi latihan.Mulai menggayakan mimik wajah pada 1-2 emosi latihan, namun bentuk stilisasi (pembelalakan mata, tarikan bibir, kerutan dahi) masih cepat kendur kembali ke mimik wajar.Mampu mengeksplorasi mimik wajah bergaya stilistik (dilebihkan/distilisasi secara jelas dan tertahan stabil) pada minimal 3 dari 4 emosi latihan (Murka, Terpesona, Gembira Raya, Takut Ngeri).Mampu mengeksplorasi dan mempertahankan mimik wajah stilistik yang tajam, variatif, dan presisi pada seluruh 4 emosi latihan secara konsisten dan mandiri.
Eksplorasi Vokal Interjeksi StilistikMengucapkan kata seru dengan nada bicara biasa/realistik tanpa menerapkan teknik stilisasi vokal (tanpa pemanjangan, staccato, maupun ritme teatrikal).Mulai memvariasikan bunyi vokal pada 1 kartu interjeksi, namun masih ragu-ragu dan cenderung kembali ke cara bertutur biasa.Mampu mengeksplorasi vokal stilistik (menerapkan teknik staccato, melismatik, atau ayunan panjang) pada minimal 2 dari 3 kartu interjeksi ('Aduh!', 'Hore!', 'Wahai!') sesuai karakteristik gayanya.Mampu mengeksplorasi seluruh 3 kartu interjeksi vokal stilistik secara mantap, ekspresif, dan berirama tegas tanpa keraguan vokal.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah instruksi dan pemodelan mimik serta vokal stilistik cukup jelas sehingga murid tidak merasa malu untuk berekspresi berlebihan?
  • Bagaimana keterlibatan murid dalam mengeksplorasi variasi bunyi vokal non-realis selama kegiatan permainan?

Murid:

  • Bagian wajah atau suara mana yang paling menantang saat harus dilebih-lebihkan dari kebiasaan sehari-hari?
  • Bagaimana perasaanmu ketika mengeluarkan suara dan mimik ekspresif yang digayakan di depan teman?

Pertemuan 3 — Pembuatan Rancangan Karakter Stilistik Menggunakan Imajinasi dan Kreativitas — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.1.3 Membuat beragam karakter dengan imajinasi dan kreativitasnya dalam lakon gaya akting stilistik

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan memfasilitasi suasana kelas yang berkesadaran penuh agar murid siap berimajinasi (4 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik kesiapan berimajinasi membuat karakter: menampilkan stimulus 2 gambar arketipe sederhana yaitu 'Pohon Tua Bijaksana' dan 'Api yang Bergejolak', lalu meminta murid menyebutkan ciri fisik/watak stilistik yang dibayangkan (acuan diagnostik: 'Pohon Tua Bijaksana' memiliki ciri fisik gerak lambat meliuk kaku dan watak tenang/penuh wibawa; 'Api yang Bergejolak' memiliki ciri fisik gerak tajam menyentak melompat dan watak agresif/penuh amarah) (6 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak pemaparan guru tentang elemen pembangun lembar rancangan karakter lakon gaya akting stilistik yang mencakup: nama karakter, dimensi fisik stilistik (stilisasi postur/tempo gerak), dimensi psikologis (sifat/watak dominan), dan dimensi vokal stilistik (gaya intonasi puitis/mantra/ritmis) (10 menit).
  • Murid bersama guru membedah 1 contoh lembar rancangan karakter 'Si Penjaga Hutan Bambu': fisik bertubuh jangkung condong ke depan meliuk seperti bambu tertiup angin; watak waspada dan misterius; vokal berbisik ritmis berirama desau dedaunan (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid mengikuti permainan imajinasi menggembirakan 'Roda Watak Ekstrem': guru menyebutkan kombinasi acak (misalnya: 'Ksatria Cemas', 'Raja Tamak Nan Rapuh', atau 'Penyihir Riang Gembira'), lalu murid secara serentak membekukan pose imajinatif selama 5 detik sebagai pemanasan daya cipta (10 menit).
  • Murid secara mandiri membuat rancangan 2 karakter stilistik yang kontras pada Lembar Rancangan Karakter Lakon Stilistik menggunakan kreativitas dan imajinasinya, melengkapi seluruh 4 komponen: (1) Nama karakter, (2) Dimensi fisik stilistik, (3) Dimensi psikologis, dan (4) Dimensi vokal stilistik (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa ulang hasil rancangan karakter yang telah dibuat, mengidentifikasi apakah detail ciri fisik, watak, dan vokal pada kedua karakternya sudah benar-benar mencerminkan gaya stilistik (digayakan/dilebihkan) dan bukan karakter realis sehari-hari (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik menyeluruh terhadap hasil lembar rancangan karakter murid dan memvalidasi kejelasan rancangan sebagai persiapan praktik pemeranan karakter di pertemuan selanjutnya (6 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran hari ini dan menutup pertemuan dengan doa serta salam (4 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan berupa kartu pilihan pemicu imajinasi (pilihan watak: sombong, penakut, pengayom; pilihan bentuk stilisasi tubuh: melengkung kaku, membal seperti pegas), sedangkan murid yang cepat dipersilakan merancang karakter fantasi atau personifikasi benda mati.
  • Proses: Guru memberikan bimbingan individual bagi murid yang kesulitan mendeskripsikan ciri fisik dan vokal stilistik.
  • Produk: Rancangan karakter dapat disajikan dalam bentuk narasi deskriptif pada lembar kerja atau dilengkapi dengan sketsa gambar visual postur tubuh karakter stilistik.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Murid mengidentifikasi ciri watak dan fisik stilistik dari 2 stimulus visual arketipe: 'Pohon Tua Bijaksana' dan 'Api yang Bergejolak'. (Acuan: 'Pohon Tua Bijaksana' memuat ciri fisik gerak lambat meliuk kaku dan watak tenang/penuh wibawa; 'Api yang Bergejolak' memuat ciri fisik gerak tajam menyentak melompat dan watak agresif/penuh amarah).

Proses:

  • Pemeriksaan kemajuan pengerjaan pembuatan rancangan karakter mandiri: guru memantau pengisian 4 komponen wajib pada lembar rancangan (nama karakter, stilisasi fisik, sifat/watak psikologis, dan stilisasi vokal) untuk memastikan karakter yang dirancang memenuhi prinsip akting stilistik (digayakan/tidak realistik biasa).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman dan kelengkapan produk: pengumpulan Lembar Rancangan Karakter Lakon Stilistik berisi 2 karakter kontras. Kriteria penerimaan operasional: lembar memuat lengkap 4 komponen untuk masing-masing karakter (nama karakter, dimensi fisik stilistik, dimensi psikologis, dan dimensi vokal stilistik) dengan deskripsi ciri yang jelas menunjukkan stilisasi imajinatif (digayakan/dilebihkan).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik awal melalui tanggapan terhadap 2 gambar arketipe
  • Penilaian produk Lembar Rancangan Karakter Lakon Stilistik yang memuat 4 komponen terstruktur (nama, dimensi fisik stilistik, dimensi psikologis, dimensi vokal stilistik)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kelengkapan dan Kreativitas Pembuatan Rancangan Karakter StilistikMembuat rancangan karakter tetapi hanya memuat kurang dari 2 komponen dari 4 komponen yang dipersyaratkan (nama, fisik stilistik, psikologis, vokal stilistik) untuk 1 karakter.Membuat rancangan karakter dengan memuat 2 sampai 3 komponen secara tertulis untuk 1 atau 2 karakter, namun deskripsinya masih berupa karakter realis biasa (belum menunjukkan stilisasi/imajinasi penggayaan).Membuat 2 rancangan karakter kontras dengan memuat lengkap 4 komponen (nama, fisik stilistik, psikologis, vokal stilistik) yang dideskripsikan secara stilistik (digayakan) sesuai imajinasi.Membuat 2 rancangan karakter kontras dengan memuat lengkap 4 komponen secara mandiri, disertai deskripsi stilisasi fisik, psikologis, dan vokal yang sangat detail, orisinal, serta konsisten menunjukkan kekhasan karakter stilistik.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah instruksi perancangan karakter dan contoh bedah lembar rancangan stilistik sudah cukup jelas membantu murid membedakannya dari karakter realis?
  • Bagian mana dari rancangan karakter murid yang paling banyak membutuhkan bimbingan (apakah deskripsi fisik stilistik atau vokal stilistik)?

Murid:

  • Apakah kamu berhasil membayangkan dan merancang 2 karakter dengan sifat dan ciri stilistik yang berbeda secara jelas?
  • Ciri stilistik apa (gerak tubuh atau suara) dari karakter yang kamu rancang yang menurutmu paling unik dan menarik untuk diperankan nanti?

Pertemuan 4 — Pemeranan Ragam Karakter Berdasarkan Imajinasi dan Kreativitas dalam Lakon Stilistik — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.1.4 Memainkan beragam karakter dengan imajinasi dan kreativitasnya dalam lakon gaya akting stilistik

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyiapkan ruang kelas menjadi area gerak yang lapang (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu memainkan beragam karakter menggunakan imajinasi dan kreativitas dalam lakon gaya akting stilistik (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat: meminta 3 murid secara bergantian maju merespons 1 instruksi langsung, yaitu 'Peragakan cara berjalan stilistik tokoh Panglima Perkasa yang dilebih-lebihkan' (acuan penerimaan: langkah tegap membusung dengan hentakan ritmis yang distilisasi/dilebihkan, bukan jalan santai biasa) untuk memetakan kesiapan pemeranan stilistik (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Murid menyimak demonstrasi guru tentang perbedaan memainkan karakter realistik (wajar, natural) versus karakter stilistik (gerak digayakan, diperpanjang, atau dipertegas) pada 2 karakter pembanding: 'Pelayan yang Tergesa-gesa' dan 'Penyihir Misterius' (5 menit).
  • Murid secara serentak di tempat masing-masing mencoba 3 variasi gerak karakter stilistik mengikuti ketukan tepuk tangan guru: (1) Tokoh Raksasa (langkah berat, tangan terbuka lebar membeku); (2) Tokoh Ksatria Anggun (langkah melayang jinjit, tangan meliuk); (3) Tokoh Kakek Bijak (langkah patah-patah dengan tubuh melengkung stilistik) untuk memahami cara mewujudkan karakter melalui stilisasi gerak (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):

  • Murid memainkan permainan pemanasan peran kreatif 'Beku dan Berubah Karakter': saat musik rebana dibunyikan murid bergerak bebas bergaya stilistik, dan saat rebana berhenti murid wajib membeku memainkan 1 karakter stilistik pilihan imajinasinya secara spontan dan ekspresif (10 menit).
  • Setiap murid memilih atau mengambil 1 dari 3 kartu peran lakon stilistik singkat yang telah disediakan guru beserta adegan 1 kalimatnya: (1) Kartu A: 'Prajurit Penjaga Benteng' (Adegan: 'Berdiri tegap, melompat waspada 3 langkah stilistik, lalu menghunus tombak imajiner'); (2) Kartu B: 'Tabib Istana' (Adegan: 'Berjalan mengendap-endap dengan langkah berjingkat ritmis, lalu meracik ramuan dengan liukan tangan stilistik'); (3) Kartu C: 'Pengembara Cerdik' (Adegan: 'Berjalan zig-zag dengan ayunan jubah stilistik, lalu mengamati langit dengan pose membeku melengkung') (10 menit).
  • Secara mandiri, murid berlatih memainkan karakter stilistik sesuai kartu yang dipilih dengan menerapkan kreativitas stilisasi (melebihkan/memperindah gestur) dan imajinasi lakon (15 menit).
  • Murid secara bergiliran dalam kelompok panggung kecil memainkan karakter stilistik dari adegan kartunya di hadapan teman-temannya di arena kelas (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid duduk melingkar dan mengidentifikasi bagaimana imajinasi membantu tubuh mereka menciptakan bentuk dan gerak karakter yang tidak biasa/stilistik selama latihan pemeranan (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap praktik memainkan karakter stilistik murid mengenai ketegasan stilisasi gerak dan perwujudan imajinasi karakter (3 menit).
  • Guru dan murid menyimpulkan fokus latihan memainkan karakter hari ini serta mengingatkan murid untuk menjaga kelenturan tubuh untuk pertemuan berikutnya, kemudian menutup pembelajaran dengan doa dan salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu karakter dengan tingkat kompleksitas gestur bervariasi (karakter berfokus pada ketukan ritmik sederhana untuk murid pemula, dan karakter bertingkat dengan variasi tempo liukan gerak tubuh untuk murid yang lebih mahir).
  • Proses: Bagi murid yang masih canggung memainkan karakter stilistik, guru memberikan contoh pengulangan stilisasi gerak; bagi murid yang cepat, diberi tantangan menambahkan 2 pose beku (freeze) kreatif di sela dialog adegannya.
  • Produk: Pemeranan ragam karakter stilistik dapat disesuaikan pada eksplorasi gerak tubuh bagian atas saja bagi murid dengan keterbatasan mobilitas fisik tanpa mengurangi aspek stilisasinya.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pemeriksaan kesiapan memainkan karakter stilistik: Guru meminta murid memperagakan jalan stilistik tokoh 'Panglima Perkasa'. Acuan penerimaan: Gerakan berjalan tidak natural melainkan distilisasi (langkah tegas dihentak berirama, dada dibusungkan berlebihan, dan pandangan mata terkunci berwibawa).

Proses:

  • Lembar observasi unjuk kerja pemeranan karakter lakon stilistik berdasarkan 3 kartu skenario (Kartu A: Prajurit Benteng, Kartu B: Tabib Istana, Kartu C: Pengembara Cerdik). Kriteria pengamatan: (1) Perwujudan stilisasi peran (gerak karakter digayakan, dilebihkan/diperindah, tidak bersikap naturalis biasa); (2) Penerapan imajinasi/kreativitas (menghidupkan aksi adegan peran sesuai deskripsi kartu peran).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman dan konsistensi peran di akhir sesi: Murid secara mandiri memperagakan kembali pose akhir membeku (freeze pose) dari karakter yang dimainkannya selama 5 detik. Kriteria penerimaan: Pose memperlihatkan bentuk tubuh stilistik yang khas sesuai kartu peran yang dipilih tanpa goyah dan tidak berupa pose berdiri tegak biasa.

Formatif:

  • Asesmen diagnostik unjuk kerja awal: peragaan 1 gerak berjalan stilistik tokoh panglima
  • Asesmen proses (lembar observasi performa): pengamatan langsung saat murid memainkan adegan karakter stilistik (Kartu A, B, atau C) dengan fokus pada kreativitas dan stilisasi peran

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Memainkan ragam karakter dengan stilisasi gerakMemainkan adegan karakter lakon masih menggunakan gerak natural sehari-hari tanpa stilisasi (belum digayakan/dilebihkan).Memainkan adegan karakter lakon dengan menampilkan 1 gestur stilistik tetapi masih didominasi gerak natural dan membutuhkan bimbingan guru.Memainkan adegan karakter lakon secara mandiri dengan stilisasi gerak (digayakan dan dilebihkan) secara konsisten dari awal hingga akhir adegan.Memainkan adegan karakter lakon secara mandiri dengan stilisasi gerak yang sangat kaya, tegas, dan terjaga konsistensinya di setiap perpindahan gerak adegan.
Penerapan imajinasi dan kreativitas dalam lakon karakterBelum mewujudkan aksi adegan karakter sesuai skenario kartu peran yang dipilih.Mewujudkan sebagian aksi adegan karakter sesuai kartu peran tetapi gerak imajinatifnya masih kaku dan terbatas.Mewujudkan seluruh aksi adegan karakter sesuai kartu peran dengan imajinasi dan kreativitas bentuk yang jelas dan hidup.Mewujudkan seluruh aksi adegan karakter sesuai kartu peran dengan imajinasi dan kreativitas yang sangat unik, orisinal, serta detail dalam aksi lakonnya.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah instruksi stilisasi gerak dalam memainkan karakter cukup jelas dipahami dan dipraktikkan oleh seluruh murid?
  • Bagian mana dari aktivitas pemeranan karakter yang paling berhasil memancing daya imajinasi dan kreativitas murid?

Murid:

  • Apa tantangan terbesarmu saat mengubah gerak wajar menjadi gerak bergaya stilistik ketika memainkan karakter pilihanmu?
  • Bagaimana imajinasi membantumu menentukan bentuk tubuh dan pose saat memerankan tokoh dalam lakon tersebut?

Pertemuan 5 — Pemeranan Lakon Bergaya Stilistik Sederhana dalam Kelompok — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.1.5 Memainkan lakon dengan satu gaya yang sederhana dan mudah dipelajari pada pertunjukan gaya akting stilistik

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan memfasilitasi doa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-5, yaitu memainkan lakon bergaya stilistik sederhana bersama kelompok (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat: menayangkan 1 peragaan gerak-vokal dan menanyakan apakah contoh tersebut termasuk lakon stilistik atau realistik keseharian (acuan: stilistik karena gerak dilebihkan/diperindah dan dialog berirama, bukan wicara datar biasa) (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru membagikan naskah lakon stilistik sederhana 1 babak 'Pertemuan Dua Punggawa' yang terdiri atas 4 peran (Punggawa A, Punggawa B, Dayang 1, Dayang 2) beserta deskripsi gaya permainannya: setiap dialog diucapkan dengan tempo berirama tegas dan setiap pergantian dialog disertai pose gerak stilistik tegak/membusur (7 menit).
  • Murid dalam kelompok membaca naskah lakon secara bergiliran untuk memahami alur adegan dan pembagian peran lakon gaya stilistik (8 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Tantangan Berirama: Tiap kelompok memainkan game 'Tepuk Berbalas Gaya' untuk menyelaraskan ketukan dialog stilistik antartokoh sebelum memainkan naskah penuh (10 menit).
  • Kelompok berlatih memainkan naskah lakon sederhana 'Pertemuan Dua Punggawa' dengan memadukan gaya akting stilistik (gerak digayakan dan dialog berirama) sesuai jatah peran masing-masing (15 menit).
  • Masing-masing kelompok memainkan lakon bergaya stilistik sederhana tersebut secara bergiliran di hadapan kelas sesuai alur naskah (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama kelompok mengecek keberhasilan permainannya dalam mempertahankan satu gaya akting stilistik sederhana sejak awal hingga akhir lakon (8 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap kesungguhan tiap kelompok dalam memainkan lakon dengan satu gaya stilistik sederhana (5 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan intisari latihan memainkan lakon stilistik hari ini dan menginformasikan bahwa kelompok akan melanjutkan proses pengolahan peran pada pertemuan berikutnya (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Naskah lakon stilistik sederhana disiapkan dengan 2 tingkat kerapatan dialog: naskah A dengan dialog 1 bait per tokoh untuk kelompok yang butuh penguatan, dan naskah B dengan dialog 2 bait berbalas untuk kelompok yang lebih siap.
  • Proses: Kelompok yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan ketukan tempo tepuk tangan oleh guru saat memainkan adegan, sedangkan kelompok mandiri menentukan tempo permainannya sendiri.
  • Produk: Semua kelompok memainkan lakon yang sama; kelompok cepat memainkan lakon dengan variasi level gerak (tinggi-rendah) tetap dalam kesatuan satu gaya stilistik sederhana.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik cepat: Guru menampilkan cuplikan peragaan pendek 'Datang dengan langkah melayang dan berseru puitis: Wahai mentari, dengarkan titah sang raja!' lalu murid mengidentifikasi gaya permainan tersebut. (Acuan: Murid tepat menjawab gaya stilistik/non-realis karena gerak dilebihkan/diperindah dan dialog puitis-berirama, bukan gaya realis sehari-hari).

Proses:

  • Pengamatan langsung saat kelompok memainkan naskah lakon stilistik sederhana 'Pertemuan Dua Punggawa': memastikan murid memainkan perannya dengan menerapkan satu gaya akting stilistik (gerak digayakan dan dialog berirama) sesuai alur lakon dari awal hingga akhir adegan.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman ketercapaian memainkan lakon stilistik: Setiap murid menyebutkan 1 bukti tindakan pemeranan bergaya stilistik yang baru saja dimainkannya dalam lakon kelompok. (Kriteria penerimaan: jawaban menyebutkan tindakan nyata pada adegan, misalnya pose membusur saat berbicara atau melafalkan dialog dengan ketukan berirama).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja saat memainkan lakon bergaya stilistik sederhana dalam kelompok menggunakan lembar amatan kriteria gaya dan kelancaran alur lakon.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Memainkan lakon bergaya stilistik sederhana dalam kelompokBelum mampu memainkan lakon dengan gaya stilistik; dialog dan gerak masih dimainkan sepenuhnya secara realistik/keseharian biasa walau telah dibimbing guru.Memainkan lakon dengan memunculkan gaya akting stilistik (gerak digayakan atau wicara berirama) hanya pada sebagian kecil adegan dan masih sering kembali ke gaya keseharian.Memainkan lakon dengan menerapkan satu gaya akting stilistik sederhana (gerak digayakan dan dialog berirama) secara konsisten dari awal hingga akhir adegan bersama kelompok.Memainkan lakon dengan satu gaya akting stilistik sederhana secara konsisten, selaras dengan irama pemain lain dalam kelompok, serta mandiri tanpa jeda kekeliruan alur peran.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alur naskah lakon sederhana yang dipilih cukup memudahkan semua kelompok memainkan satu gaya akting stilistik?
  • Bagaimana pembagian peran di tiap kelompok mendukung keterlibatan aktif seluruh murid dalam memainkan lakon?

Murid:

  • Bagian mana dari naskah lakon yang paling mudah dan paling menantang untuk kamu mainkan dengan gaya stilistik?
  • Bagaimana kekompakan kelompok membantumu tetap konsisten memainkan gaya akting stilistik selama adegan berlangsung?

Pertemuan 6 — Penjelasan Pengalaman Bermain Peran Stilistik dan Dampaknya terhadap Diri Sendiri — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.1.6 Menjelaskan pengalaman bermain peran dan dampaknya terhadap diri sendiri saat mempraktikkan gaya akting stilistik

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan mengondisikan suasana ruang kelas yang tenang dan nyaman untuk kegiatan refleksi (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menjelaskan pengalaman bermain peran stilistik pada pertemuan sebelumnya serta menjelaskan dampaknya terhadap diri sendiri (3 menit).
  • Asesmen Awal: Guru memberikan pertanyaan diagnostik lisan untuk memetakan kesiapan murid dalam merefleksikan pengalaman: 'Sebutkan 1 momen saat latihan gerak stilistik kemarin yang paling kamu ingat dan apa yang kamu rasakan pada tubuhmu saat itu?' Guru mencatat kesiapan murid (acuan: murid mampu menyebutkan satu peristiwa bermain peran stilistik konkret, misal saat pose membeku atau dialog bersenandung, serta respons fisik/emosi awalnya) (9 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak panduan guru mengenai dua aspek utama refleksi akting stilistik: (1) penjelasan pengalaman bermain peran (meliputi tantangan mengolah gerak berirama/stilisasi tubuh dan dialog puitis/melodius) serta (2) penjelasan dampak terhadap diri sendiri (seperti peningkatan kesadaran kinestetik tubuh, kontrol emosi, atau rasa percaya diri) (10 menit).
  • Guru memodelkan contoh penjelasan pengalaman dan dampaknya secara konkret di papan tulis: 'Ketika saya mempraktikkan pose ksatria stilistik yang kaku dan meliuk, saya merasa canggung dan otot paha tegang; dampaknya, saya menjadi lebih menyadari batas kelenturan fisik saya dan lebih berani berekspresi tanpa takut terlihat aneh' (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Aktivitas 'Estafet Suara Hati Aktor': Murid secara berpasangan bergantian menjelaskan satu pengalaman paling berkesan saat memainkan peran stilistik dan satu dampak nyata yang dialami diri sendiri, dengan panduan 2 kartu pemicu refleksi: Kartu A 'Tantangan Fisik & Suara Stilistik' dan Kartu B 'Perubahan Rasa Percaya Diri & Kesadaran Diri' (10 menit).
  • Murid secara mandiri menuliskan penjelasan lengkap pada Lembar Refleksi Pengalaman Diri yang mencakup 3 pertanyaan: (1) Penjelasan pengalaman saat mengeksplorasi gerak tubuh dan vokal stilistik, (2) Penjelasan kendala yang dihadapi saat bermain peran gaya stilistik, dan (3) Penjelasan dampak proses tersebut terhadap kesadaran tubuh dan emosi diri sendiri (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Beberapa perwakilan murid membacakan penjelasan pengalaman bermain peran dan dampaknya secara sukarela, sementara murid lain menyimak kesamaan maupun perbedaan proses reflektif teman sekelas (10 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap hasil uraian murid, menegaskan bahwa seni teater gaya stilistik tidak hanya mengasah teknik di panggung, tetapi juga melatih pengenalan kapasitas diri dan pengendalian emosi (5 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan pentingnya mengenali pengalaman bermain peran dan mengevaluasi dampak pribadi yang dirasakan selama berproses stilistik (3 menit).
  • Guru memberikan asesmen akhir berupa cek pemahaman lisan singkat kepada 2 murid acak untuk menjelaskan kembali 1 dampak bermain peran stilistik terhadap diri mereka (4 menit).
  • Guru menginformasikan bahwa pertemuan berikutnya (Pertemuan 7) akan mempelajari cara memberikan apresiasi dan umpan balik terhadap penampilan stilistik teman, lalu kelas ditutup dengan doa bersama (3 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan lembar refleksi dengan kalimat pemantik rumpang (scaffolding: 'Saat saya memperagakan gerak stilistik..., saya mengalami kendala... Dampak yang saya rasakan adalah...'), sedangkan murid mahir menggunakan lembar refleksi uraian terbuka tanpa panduan rumpang.
  • Proses: Murid yang masih ragu diberi pendampingan individual oleh guru untuk menggali ingatan motorik saat bermain peran, sementara murid yang lancar langsung menuangkan analisis dampaknya secara mendalam.
  • Produk: Uraian penjelasan pengalaman dan dampak diri dapat disajikan dalam bentuk lembar refleksi tertulis naratif minimal 1 paragraf utuh atau peta konsep reflektif berstruktur.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik lisan di pendahuluan: Murid diminta menyebutkan 1 momen konkret saat latihan peran stilistik dan reaksi fisik/emosi awalnya (kriteria penerimaan: jawaban menyebutkan secara jelas satu tindakan stilistik spesifik, seperti 'saat menahan pose gerak tari' atau 'saat melagukan dialog', beserta respons diri seperti 'otot tegang' atau 'merasa kaku').

Proses:

  • Pengamatan dan pemeriksaan pengerjaan Lembar Refleksi Pengalaman Diri selama tahap Mengaplikasi, dinilai berdasarkan kelengkapan dan kedalaman penjelasan pengalaman bermain peran stilistik serta penjelasan dampaknya terhadap diri sendiri.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan akhir: 2 murid menjelaskan satu dampak bermain peran stilistik terhadap diri (kriteria penerimaan: penjelasan memuat kaitan logis antara proses bermain peran stilistik, misalnya stilisasi gerak/vokal, dengan perubahan pemahaman diri, kepercayaan diri, atau kesadaran tubuh).

Formatif:

  • Penilaian proses lembar refleksi mandiri mengenai penjelasan pengalaman bermain peran stilistik dan penjelaskan dampaknya terhadap diri sendiri menggunakan rubrik 4 level.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penjelasan Pengalaman Bermain Peran StilistikBelum mampu menjelaskan pengalaman bermain peran stilistik atau hanya menuliskan pernyataan umum tanpa rincian proses akting stilistik.Menjelaskan pengalaman bermain peran stilistik secara sederhana dan terbatas pada satu peristiwa latihan fisik atau vokal dengan bantuan pemantik guru.Menjelaskan pengalaman bermain peran gaya stilistik secara runut mencakup eksplorasi gerak tubuh stilisasi dan pengolahan vokal berirama secara mandiri.Menjelaskan pengalaman bermain peran gaya stilistik secara rinci, mendalam, dan runut, menguraikan proses adaptasi tubuh dan vokal dari bentuk realistik menjadi stilistik secara mandiri.
Penjelasan Dampak terhadap Diri SendiriBelum mampu mengidentifikasi maupun menjelaskan dampak bermain peran stilistik terhadap diri sendiri.Menjelaskan dampak bermain peran stilistik terhadap diri sendiri secara singkat dan terbatas (misalnya hanya menyebutkan 'menjadi senang' atau 'capek') dengan bimbingan.Menjelaskan dampak bermain peran stilistik terhadap diri sendiri secara tepat, mencakup aspek kesadaran kinestetik tubuh atau peningkatan rasa percaya diri secara mandiri.Menjelaskan dampak bermain peran stilistik terhadap diri sendiri secara mendalam dan komprehensif, menguraikan hubungan antara tuntutan peran stilistik dengan perkembangan kesadaran fisik, kontrol emosi, dan kepercayaan diri secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu kegiatan refleksi mandiri cukup bagi seluruh murid untuk mengurai pengalaman dan dampak personalnya?
  • Apakah pertanyaan panduan pada lembar refleksi sudah efektif memancing murid menyadari dampak bermain peran terhadap kesadaran diri dan emosinya?

Murid:

  • Bagian mana dari penjelasan pengalaman bermain peran stilistik yang paling mudah dan paling sulit kamu ungkapkan?
  • Perubahan apa yang paling nyata kamu rasakan pada tubuh dan kepercayaan dirimu setelah mempraktikkan akting bergaya stilistik?

Pertemuan 7 — Pemberian Apresiasi dan Umpan Balik Sesuai Pengalaman Pribadi atas Penampilan Stilistik Teman — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.1.7 Memberikan apresiasi dan umpan balik sesuai dengan pengalaman pribadi terhadap penampilan gaya akting stilistik teman

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, doa bersama, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini: memberikan apresiasi (kelebihan) dan umpan balik (saran membangun) berdasarkan pengalaman pribadi terhadap penampilan lakon stilistik teman (3 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui 2 pertanyaan lisan terstruktur tentang konsep apresiasi dan umpan balik: (1) 'Apa perbedaan antara apresiasi kelebihan dengan umpan balik saran membangun?' (acuan: apresiasi mengidentifikasi hal positif/kelebihan yang berhasil ditampilkan, sedangkan umpan balik memberikan saran perbaikan yang konstruktif untuk mengembangkan karya); (2) 'Mengapa dalam memberi catatan teater kita perlu menghubungkannya dengan pengalaman pribadi saat berlatih peran stilistik?' (acuan: agar umpan balik relevan, berempati, realistis, dan didasarkan pada kesulitan atau keberhasilan nyata yang pernah dialami saat berlatih teknik stilistik) (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak penjelasan guru tentang etika penonton teater dan struktur pemberian catatan apresiatif sesuai Buku Panduan Guru: mengutamakan apresiasi kelebihan/pencapaian positif, serta merumuskan umpan balik perbaikan yang dihubungkan dengan pengalaman pribadi pemeran tanpa mencela atau menyalahkan (7 menit).
  • Guru memodelkan cara menyusun catatan apresiasi dan umpan balik dengan menayangkan rekaman pendek (durasi 1 menit) cuplikan adegan stilistik murid pertemuan sebelumnya, lalu mendemonstrasikan perumusan apresiasi (kelebihan) dan umpan balik konstruktif berdasarkan pengalaman pribadi guru saat memerankan lakon stilistik (8 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid berpartisipasi dalam aktivitas menggembirakan 'Estafet Pujian Kilat': secara berpasangan, tiap murid bergantian memberikan satu kalimat apresiasi jujur dan menyenangkan atas satu gestur stilistik unik yang pernah ditampilkan pasangannya pada latihan sebelumnya dalam batas waktu 30 detik (10 menit).
  • Dua kelompok penampil relawan (Kelompok A dan Kelompok B) bergantian memperagakan cuplikan adegan stilistik berdurasi 3 menit; sementara kelompok lain duduk melingkar sebagai penonton yang tertib, mencatat kelebihan serta saran perbaikan pada Lembar Apresiasi Pertunjukan Kelas (11 menit).
  • Setiap murid menuliskan secara mandiri minimal 1 catatan apresiasi kelebihan dan minimal 1 catatan umpan balik perbaikan untuk salah satu penampilan teman, dengan menghubungkannya pada pengalaman pribadi saat berlatih lakon stilistik (contoh kriteria: menyebutkan kelebihan akting stilistik teman, membandingkan tantangan yang dialami diri sendiri saat latihan, dan menuliskan saran tindakan konkret yang membangun) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid duduk membentuk lingkaran apresiasi dan secara sukarela menyampaikan catatan apresiasi serta umpan baliknya kepada teman penampil, menggunakan bahasa yang saling memuliakan dan menghargai proses (8 menit).
  • Murid penampil memberikan tanggapan singkat mengenai bagaimana umpan balik berbasis pengalaman pribadi teman tersebut membantunya memahami kualitas penampilannya (4 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan pentingnya apresiasi positif dan umpan balik yang membangun berbasis pengalaman nyata dalam mengasah keaktoran stilistik (3 menit).
  • Guru memberikan penguatan atas kedewasaan murid dalam memberikan umpan balik tanpa mencela, menginformasikan bahwa pertemuan berikutnya adalah Pertemuan 8 (Asesmen Sumatif Pertunjukan Lakon), dan menutup sesi dengan doa bersama (4 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan disediakan panduan kalimat rumpang pada lembar apresiasi (misal: 'Kelebihan yang saya lihat pada peranmu adalah... Berdasarkan pengalaman saya saat mencoba peran tersebut, saranku adalah...'), sedangkan murid mahir menuliskan analisis catatan apresiasi secara leluasa tanpa bantuan frasa pemandu.
  • Proses: Guru mendampingi langsung murid yang ragu mengaitkan catatan dengan pengalaman pribadinya, sementara murid yang sudah mahir diarahkan menyusun umpan balik mendalam yang mencakup aspek keaktoran stilistik secara spesifik.
  • Produk: Catatan apresiasi dan umpan balik dapat diserahkan dalam bentuk tulisan pada lembar kerja cetak atau disampaikan secara langsung pada sesi lingkaran apresiasi.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik singkat di pendahuluan mengenai 2 konsep inti: (1) pembedaan apresiasi kelebihan dengan umpan balik perbaikan (acuan: apresiasi memuat kelebihan/pencapaian positif, umpan balik memuat saran perbaikan konstruktif), dan (2) alasan mengaitkan catatan dengan pengalaman pribadi pemeran (acuan: agar umpan balik realistis, berempati, dan berdasarkan tantangan/keberhasilan nyata saat berlatih stilistik).

Proses:

  • Penilaian formatif saat tahap Mengaplikasi menggunakan Lembar Apresiasi Pertunjukan Kelas: (1) Penulisan apresiasi kelebihan penampilan stilistik teman (kriteria: menunjukkan minimal 1 kekuatan konkret lakon stilistik teman), (2) Penulisan umpan balik saran perbaikan (kriteria: memuat minimal 1 saran konkret yang membangun), dan (3) Keterkaitan dengan pengalaman pribadi (kriteria: secara eksplisit menghubungkan catatan dengan kesulitan/keberhasilan yang dialami diri sendiri saat latihan peran stilistik).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman penutup melalui penilaian lembar refleksi apresiasi: murid mengumpulkan Lembar Apresiasi Pertunjukan Kelas yang memuat minimal 1 apresiasi kelebihan dan 1 umpan balik saran konstruktif yang terbukti merujuk pada pengalaman pribadi saat memainkan gaya akting stilistik (kriteria penerimaan: kelebihan spesifik pada gaya stilistik, umpan balik tidak mencela/bersifat membangun, dan mencantumkan rujukan pengalaman pribadi penulis).

Formatif:

  • Pemeriksaan Lembar Apresiasi Pertunjukan Kelas: menilai kelengkapan dan ketepatan catatan apresiasi kelebihan serta umpan balik saran membangun yang dihubungkan dengan pengalaman pribadi murid
  • Observasi partisipasi aktif dan etika santun saat menyampaikan apresiasi dalam lingkaran diskusi kelas

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Pemberian Apresiasi atas Penampilan Stilistik TemanBelum mampu menuliskan apresiasi kelebihan penampilan gaya akting stilistik teman, atau catatan hanya berisi celaan.Menuliskan 1 catatan kelebihan penampilan teman secara umum tanpa menunjukkan kekhasan gaya akting stilistik dengan bantuan guru.Menuliskan minimal 1 catatan apresiasi kelebihan yang spesifik terhadap penampilan gaya akting stilistik teman secara mandiri.Menuliskan 2 atau lebih catatan apresiasi kelebihan yang mendalam dan spesifik terhadap penampilan gaya akting stilistik teman secara mandiri dan apresiatif.
Pemberian Umpan Balik Sesuai Pengalaman PribadiBelum mampu memberikan umpan balik saran perbaikan, atau saran tidak relevan dan tanpa merujuk pada pengalaman pribadi.Memberikan 1 saran perbaikan yang membangun untuk teman namun belum menghubungkannya dengan pengalaman pribadi saat berlatih peran stilistik.Memberikan minimal 1 umpan balik saran perbaikan yang membangun dengan menghubungkannya pada pengalaman pribadi saat berlatih lakon stilistik secara mandiri.Memberikan lebih dari 1 umpan balik saran perbaikan yang sangat membangun, runtut, dan secara mendalam merefleksikan perbandingan dengan pengalaman pribadi saat berlatih lakon stilistik.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah murid telah mampu membedakan cara memuji kelebihan dan memberikan kritik saran yang membangun tanpa mencela?
  • Bagaimana keterlibatan murid dalam mengaitkan catatan apresiasinya dengan pengalaman pribadi saat memerankan lakon stilistik?
  • Langkah apa yang perlu disiapkan untuk memastikan seluruh murid siap menghadapi Asesmen Sumatif pada Pertemuan 8?

Murid:

  • Bagian mana dari pengalaman pribadimu saat berlatih lakon stilistik yang paling membantumu memahami kesulitan teman saat tampil?
  • Bagaimana perasaanmu ketika menerima apresiasi dan umpan balik yang membangun dari teman sekelas?
  • Hal positif apa yang kamu pelajari tentang cara menghargai karya seni teman hari ini?

Pertemuan 8 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.1.1 Mengeksplorasi olah tubuh sebagai dasar keaktoran murid dalam gaya akting stilistik
  • TP 9.1.2 Mengeksplorasi mimik wajah dan vokal sebagai dasar keaktoran murid dalam gaya akting stilistik
  • TP 9.1.3 Membuat beragam karakter dengan imajinasi dan kreativitasnya dalam lakon gaya akting stilistik
  • TP 9.1.4 Memainkan beragam karakter dengan imajinasi dan kreativitasnya dalam lakon gaya akting stilistik
  • TP 9.1.5 Memainkan lakon dengan satu gaya yang sederhana dan mudah dipelajari pada pertunjukan gaya akting stilistik
  • TP 9.1.6 Menjelaskan pengalaman bermain peran dan dampaknya terhadap diri sendiri saat mempraktikkan gaya akting stilistik
  • TP 9.1.7 Memberikan apresiasi dan umpan balik sesuai dengan pengalaman pribadi terhadap penampilan gaya akting stilistik teman

Pendahuluan:

  • Guru membuka sesi asesmen sumatif dengan salam, doa bersama, dan mengecek kehadiran murid secara tertib (3 menit).
  • Guru menyampaikan tata tertib, jadwal giliran tampil tiap kelompok, serta kriteria penilaian asesmen sumatif Bab 1 yang mencakup pengumpulan portofolio rancangan karakter, unjuk kerja lakon beregu, tes lisan refleksi diri, dan penilaian apresiasi antarteman (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid secara individual mengumpulkan lembar portofolio rancangan karakter stilistik yang memuat 4 deskripsi unsur penokohan: (1) stilisasi gerak tubuh berirama, (2) bentuk mimik wajah ekspresif, (3) pose tubuh stilistik, dan (4) ciri interjeksi vokal tokoh, sementara guru melakukan verifikasi kelengkapan berkas fisik yang dikumpulkan (8 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Sebanyak 6 kelompok (masing-masing 4-5 murid) tampil bergiliran di panggung kelas menampilkan lakon stilistik sederhana berdurasi masing-masing 5 menit (total 30 menit), memperagakan olah gerak tubuh diperindah/berirama, mimik wajah ekspresif, vokal/interjeksi melodius, dan keutuhan karakter stilistik sesuai naskah lakon (30 menit).
  • Tepat setelah masing-masing kelompok selesai pentas, kelompok tersebut langsung menjalani tes lisan refleksi diri di depan guru selama 2 menit per kelompok (total 12 menit untuk 6 kelompok), menjelaskan pengalaman bermain peran dan dampaknya terhadap kepekaan ekspresi diri (12 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Seluruh murid secara individual mengisi lembar apresiasi dan umpan balik tertulis terstruktur untuk mengulas kelebihan dan saran perbaikan penampilan gaya akting stilistik kelompok teman yang telah diamati selama pertunjukan (15 menit).

Penutup:

  • Guru mengumpulkan seluruh lembar apresiasi dan umpan balik antarteman, mengapresiasi kerja keras serta keberanian seluruh kelompok yang telah menyelesaikan rangkaian ujian sumatif Bab 1, dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam penutup (8 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Akomodasi akses tata letak panggung dan urutan giliran tampil yang jelas bagi kelompok tanpa mengubah naskah atau tuntutan gaya akting.
  • Proses: Pemberian panduan format terstruktur pada lembar apresiasi dan pertanyaan pemandu pada tes lisan tanpa mengubah indikator penilaian.
  • Produk: Format penyajian karakter dan lakon tetap standar sesuai rubrik sumatif, dengan penerimaan variasi karakter stilistik yang dipilih kelompok.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pemeriksaan kesiapan berkas portofolio lembar rancangan karakter stilistik individual dan konfirmasi urutan giliran tampil 6 kelompok sebelum pementasan dimulai (acuan kesiapan: setiap murid membawa lembar rancangan berisi nama tokoh dan 4 deskripsi unsur karakter; kelompok telah siap dengan properti panggung).

Proses:

  • Pengamatan guru menggunakan rubrik unjuk kerja saat kelompok mementaskan lakon stilistik dan pencatatan poin wawancara tes lisan refleksi segera setelah pementasan.

Sumatif Bab:

  • Unjuk kerja pertunjukan lakon stilistik beregu, penugasan portofolio karakter, tes lisan refleksi diri, dan penilaian antarteman: Dokumen rancangan karakter stilistik, rekaman penampilan lakon beregu berdurasi singkat yang memadukan olah tubuh, mimik, vokal, dan penokohan stilistik, rekaman penjelasan lisan refleksi diri per kelompok, serta lembar apresiasi dan umpan balik antarteman
  • penugasan: lembar rancangan karakter stilistik yang memuat deskripsi stilisasi gerak berirama, bentuk mimik wajah, pose tubuh, dan ciri interjeksi vokal tokoh yang dikumpulkan sebelum pertunjukan dimulai (10 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian produk rancangan karakter)
  • unjuk kerja: penampilan lakon sederhana bergaya akting stilistik secara berkelompok (6 kelompok @ 4-5 murid, tampil bergiliran masing-masing 5 menit) yang memperagakan olah tubuh diperindah/berirama, mimik wajah ekspresif, dialog berirama/interjeksi vokal, dan keutuhan karakter tokoh stilistik (40 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja pemeranan stilistik beregu)
  • tes lisan: penjelasan lisan langsung tepat setelah kelompok selesai tampil (2 menit per kelompok untuk 6 kelompok = 12 menit) mengenai pengalaman bermain peran stilistik dan dampaknya terhadap kepekaan ekspresi diri (15 menit; kelompok; instrumen: panduan wawancara lisan dan skala penilaian refleksi)
  • penilaian antarteman: lembar apresiasi dan umpan balik tertulis yang diisi serentak oleh seluruh murid untuk mengulas kelebihan dan saran perbaikan penampilan gaya akting stilistik kelompok teman yang diamati (15 menit; individual; instrumen: lembar penilaian antarteman terstruktur)

Sumatif:

  • Unjuk kerja pertunjukan lakon stilistik beregu, penugasan portofolio karakter, tes lisan refleksi diri, dan penilaian antarteman: Dokumen rancangan karakter stilistik, rekaman penampilan lakon beregu berdurasi singkat yang memadukan olah tubuh, mimik, vokal, dan penokohan stilistik, rekaman penjelasan lisan refleksi diri per kelompok, serta lembar apresiasi dan umpan balik antarteman
  • penugasan: lembar rancangan karakter stilistik yang memuat deskripsi stilisasi gerak berirama, bentuk mimik wajah, pose tubuh, dan ciri interjeksi vokal tokoh yang dikumpulkan sebelum pertunjukan dimulai (10 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian produk rancangan karakter)
  • unjuk kerja: penampilan lakon sederhana bergaya akting stilistik secara berkelompok (6 kelompok @ 4-5 murid, tampil bergiliran masing-masing 5 menit) yang memperagakan olah tubuh diperindah/berirama, mimik wajah ekspresif, dialog berirama/interjeksi vokal, dan keutuhan karakter tokoh stilistik (40 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja pemeranan stilistik beregu)
  • tes lisan: penjelasan lisan langsung tepat setelah kelompok selesai tampil (2 menit per kelompok untuk 6 kelompok = 12 menit) mengenai pengalaman bermain peran stilistik dan dampaknya terhadap kepekaan ekspresi diri (15 menit; kelompok; instrumen: panduan wawancara lisan dan skala penilaian refleksi)
  • penilaian antarteman: lembar apresiasi dan umpan balik tertulis yang diisi serentak oleh seluruh murid untuk mengulas kelebihan dan saran perbaikan penampilan gaya akting stilistik kelompok teman yang diamati (15 menit; individual; instrumen: lembar penilaian antarteman terstruktur)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Portofolio Rancangan Karakter Stilistik (TP 9.1.3)Memuat hanya 1 dari 4 unsur karakter (Daftar acuan 4 unsur: [1] stilisasi gerak tubuh berirama, [2] bentuk mimik wajah ekspresif, [3] pose tubuh stilistik, [4] ciri interjeksi vokal tokoh) dengan deskripsi yang belum jelas.Memuat 2 dari 4 unsur karakter sesuai daftar acuan dengan deskripsi operasional.Memuat 3 dari 4 unsur karakter sesuai daftar acuan dengan deskripsi rinci dan kreatif.Memuat lengkap seluruh 4 unsur karakter sesuai daftar acuan dengan deskripsi sangat rinci, kreatif, dan aplikatif.
Pemeranan Lakon dan Karakter Stilistik Beregu (TP 9.1.1, TP 9.1.2, TP 9.1.4, TP 9.1.5)Menampilkan lakon dengan hanya memperagakan 1 dari 4 kriteria pemeranan stilistik (Daftar acuan 4 kriteria: [1] olah tubuh diperindah/berirama, [2] mimik wajah ekspresif yang konsisten, [3] pelafalan vokal/interjeksi berirama/melodius, [4] keutuhan karakter penokohan stilistik).Menampilkan lakon dengan memperagakan 2 dari 4 kriteria pemeranan stilistik sesuai daftar acuan.Menampilkan lakon dengan memperagakan 3 dari 4 kriteria pemeranan stilistik sesuai daftar acuan secara konsisten sepanjang adegan.Menampilkan lakon dengan memenuhi seluruh 4 kriteria pemeranan stilistik sesuai daftar acuan secara harmonis, kompak, dan konsisten dari awal hingga akhir pertunjukan.
Penjelasan Pengalaman Bermain Peran dan Refleksi Diri (TP 9.1.6)Menjelaskan refleksi secara sangat terbatas, tidak menyebutkan pengalaman bermain peran stilistik maupun dampaknya terhadap kepekaan diri saat wawancara lisan.Menjelaskan pengalaman bermain peran stilistik, namun belum mampu mengaitkan dampaknya terhadap kepekaan ekspresi atau kesadaran diri.Menjelaskan pengalaman bermain peran stilistik serta menyebutkan minimal 1 dampak nyata terhadap perkembangan kepekaan ekspresi atau emosi diri secara lugas.Menjelaskan secara mendalam pengalaman bermain peran stilistik serta menguraikan 2 atau lebih dampak positif terhadap kepekaan ekspresi tubuh, vokal, dan kepercayaan diri secara runtut dan bermakna.
Pemberian Apresiasi dan Umpan Balik Antarteman (TP 9.1.7)Lembar apresiasi hanya diisi sebagian tanpa menyebutkan aspek kelebihan penampilan gaya akting stilistik teman maupun saran perbaikan.Menuliskan apresiasi kelebihan penampilan gaya akting stilistik teman, namun belum memberikan saran perbaikan yang jelas.Menuliskan apresiasi kelebihan gaya akting teman dan memberikan 1 saran perbaikan yang relevan pada aspek olah tubuh/vokal/mimik.Menuliskan apresiasi objektif berdasarkan pengalaman pribadi yang mengulas keunggulan olah tubuh, mimik, atau vokal teman secara spesifik serta memberikan saran perbaikan konstruktif dan membangun.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah pengelolaan waktu untuk 6 kelompok tampil, tes lisan, dan pengisian apresiasi antarteman terlaksana sesuai alokasi 80 menit?
  • Bagaimana capaian murid secara umum dalam mentransformasikan gerak dan vokal realistik menjadi bentuk stilistik di atas panggung?
  • Apakah instrumen penilaian sumatif dapat mengukur ketercapaian seluruh TP Bab 1 secara objektif dan autentik?

Murid:

  • Perubahan apa yang paling saya rasakan dalam mengendalikan gerak tubuh dan suara setelah mempelajari gaya akting stilistik?
  • Bagaimana perasaan saya saat berhasil bekerja sama dengan kelompok mementaskan lakon gaya stilistik hari ini?
  • Apa hal terpenting yang saya pelajari dari umpan balik teman untuk pengembangan kemampuan teater saya di masa mendatang?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SMP/MTs Kelas IX (Pusat Perbukuan Balitbang Kemendikbudristek, 2022)
  2. Ruang kelas/aula yang leluasa untuk aktivitas fisik
  3. Alat pengatur tempo/irama (metronom, rebana, tamborin, atau rekaman musik instrumental berirama)
  4. Buku Panduan Guru Seni Teater SMP/MTs Kelas IX, Kemendikbudristek 2022 (Unit 1: Akting Stilistik)
  5. Kartu Emosi dan Interjeksi Wajah Teatrikal buatan guru
  6. Cermin kelas / ruang teater terbuka
  7. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SMP/MTs Kelas IX, Unit 1: Akting Stilistik
  8. Lembar Kerja/Format Rancangan Karakter Lakon Stilistik
  9. Gambar referensi arketipe visual karakter teater
  10. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SMP/MTs Kelas IX (Unit 1: Akting Stilistik)
  11. Kartu skenario karakter stilistik (Prajurit Penjaga Benteng, Tabib Istana, Pengembara Cerdik)
  12. Alat musik ritmis sederhana (rebana/kendang) untuk panduan ketukan tempo permainan
  13. Buku Panduan Guru Seni Teater SMP/MTs Kelas IX (Unit 1: Akting Stilistik).
  14. Naskah lakon stilistik sederhana 1 babak 'Pertemuan Dua Punggawa'.
  15. Ruang kelas/panggung kelas yang leluasa untuk blocking lakon kelompok.
  16. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SMP/MTs Kelas IX (Kemendikbudristek 2022)
  17. Lembar Kegiatan Refleksi Diri 'Pengalaman & Dampak Akting Stilistik'
  18. Kartu Pemicu Refleksi Diri (Kartu A: Tantangan Fisik & Suara, Kartu B: Perubahan Kesadaran Diri)
  19. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SMP/MTs Kelas IX (Kemendikbudristek 2022, Halaman 132–138)
  20. Lembar Kerja Murid (LKPD): Mengapresiasi Pertunjukan Kelas
  21. Rekaman video pendek adegan akting stilistik murid dari pertemuan sebelumnya sebagai bahan pemodelan guru
  22. Ruang kelas/panggung kelas yang ditata melingkar untuk orientasi penonton dan penampil
  23. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SMP/MTs Kelas IX, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2022
  24. Ruang kelas/panggung sederhana yang diatur untuk pertunjukan teater
  25. Lembar Portofolio Rancangan Karakter Stilistik
  26. Lembar Instrumen Apresiasi dan Penilaian Antarteman
  27. Naskah lakon pendek gaya stilistik kelompok

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.