MODUL AJAR Seni Teater — Kelas 7 (Fase D) Topik: Bab 4 — Menulis Naskah Teater INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | Seni Teater |
|---|
| Fase / Kelas | Fase D / Kelas 7 |
|---|
| Topik | Bab 4 — Menulis Naskah Teater |
|---|
| Alokasi Waktu | 18 JP (18 x 40 menit = 720 menit) |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 9 |
|---|
| Tahun Ajaran | 2026/2027 |
|---|
| Semester | 2 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- TP 7.4.1 Mengidentifikasi karakter melalui analisis sosiologis tokoh cerita pahlawan nasional untuk naskah teater
- TP 7.4.2 Mengidentifikasi karakter dalam sebuah cerita kepahlawanan untuk bahan penulisan naskah drama
- TP 7.4.3 Menyusun alur cerita sederhana yang jelas dan mudah dipahami dari peristiwa kepahlawanan ke dalam susunan adegan naskah
- TP 7.4.4 Memainkan lakon dengan satu gaya yang sederhana dan mudah dipelajari melalui pembacaan naskah dialog karya sendiri
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | | | Kewargaan | ✓ | | Penalaran Kritis | ✓ | | Kreativitas | ✓ | | Kolaborasi | ✓ | | Kemandirian | ✓ | | Kesehatan | | | Komunikasi | ✓ |
PERTANYAAN PEMANTIK- Mengapa latar belakang keluarga atau suku seorang pahlawan dapat memengaruhi cara ia bersikap?
- Bagaimana kedudukan sosial atau profesi seseorang di masa penjajahan menentukan peran kepahlawanannya dalam cerita?
- Bagaimana hubungan atau perlakuan seorang pahlawan terhadap rekan seperjuangan, rakyat biasa, atau pihak lawan memperlihatkan sifat aslinya?
- Mengapa dalam naskah teater kita perlu mengetahui relasi sosial seorang tokoh dengan tokoh-tokoh lain di sekitarnya?
- Bagaimana cara kita mengetahui siapa yang menjadi tokoh utama dalam sebuah kisah kepahlawanan?
- Apa yang membedakan peran tokoh utama dengan tokoh pendukung dalam menggerakkan peristiwa cerita?
- Mengapa dalam sebuah cerita drama kepahlawanan harus ada benturan keinginan atau perbedaan sikap antartokoh?
- Bagaimana kita bisa mengenali peran tokoh protagonis, antagonis, maupun tritagonis melalui konflik yang terjadi di antara mereka?
- Bagaimana urutan peristiwa kepahlawanan dibagi menjadi bagian pembuka, pertikaian atau masalah, dan jalan keluar dalam sebuah naskah teater?
- Mengapa kerangka alur awal, konflik, dan penyelesaian penting sebelum kita menuliskan naskah adegan secara utuh?
- Bagaimana cara kita mengubah urutan peristiwa sejarah perjuangan menjadi susunan adegan dan percakapan drama yang runut?
- Mengapa sebuah adegan dalam naskah drama memerlukan dialog yang langsung menggambarkan tindakan dan alur peristiwanya?
- Mengapa kejelasan pengucapan setiap kata (artikulasi) sangat penting ketika kita membacakan naskah dialog drama?
- Bagaimana cara kita melatih vokal agar suara dialog tokoh yang kita mainkan terdengar jelas dan bertenaga di ruang kelas?
- Bagaimana kita menghidupkan karakter tokoh pahlawan saat membaca naskah dialog bersama kelompok?
- Mengapa penerapan satu gaya akting sederhana penting agar pembacaan dialog naskah terdengar meyakinkan dan selaras antarpemeran?
- Bagaimana latar belakang dan hubungan sosial tokoh pahlawan tercermin secara nyata dalam dialog dan konflik naskah drama?
- Bagaimana pembacaan naskah (dramatic reading) dengan artikulasi yang jelas dan satu gaya sederhana dapat menghidupkan karakter kepahlawanan di hadapan penonton?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1 — Mengidentifikasi Karakter Tokoh Pahlawan Nasional Berdasarkan Latar Belakang dan Kedudukan Sosial — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.4.1 Mengidentifikasi karakter melalui analisis sosiologis tokoh cerita pahlawan nasional untuk naskah teater
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan mengondisikan kelas siap belajar (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini: mengidentifikasi karakter tokoh pahlawan nasional berdasarkan latar belakang sosiologis dan kedudukan sosialnya untuk bahan naskah teater (2 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat dengan menayangkan kutipan profil ringkas Pangeran Diponegoro: 'Putra bangsawan Keraton Yogyakarta yang bergaul akrab dengan kaum santri dan petani di Tegalrejo'. Guru menanyakan apa latar belakang keluarga dan kedudukan sosial tokoh tersebut (acuan: latar belakang keluarga = bangsawan/putra keraton Yogyakarta; kedudukan sosial = pangeran/pemimpin santri dan rakyat jelata) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna):- Murid menyimak penjelasan guru mengenai konsep dimensi sosiologis tokoh dalam seni teater, yaitu latar belakang asal-usul/keluarga, status/kedudukan sosial di masyarakat, dan profesi atau perannya dalam lingkungan sosial (10 menit).
- Guru menyajikan teks profil tokoh Cut Nyak Dien: 'Lahir dari keluarga bangsawan agamis di Nagan Raya, Aceh Besar; seorang bangsawan perempuan yang memimpin pasukan gerilya rakyat Aceh melawan tentara kolonial'. Guru memandu murid mengidentifikasi latar belakang keluarga dan kedudukan sosial tokoh tersebut (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid berpasangan memainkan kuis cepat 'Tebak Kartu Sosiologis Pahlawan'. Tiap pasangan membaca 2 kartu profil singkat pahlawan nasional: (Kartu 1) R.A. Kartini: 'Putri bangsawan bupati Jepara yang hidup di lingkungan tradisi feodal keraton dan mengajar anak-anak gadis rakyat jelata'; (Kartu 2) Pattimura: 'Mantan tentara berpangkat sersan militer Inggris yang diangkat menjadi panglima perang dan pemimpin rakyat Maluku di Saparua' (10 menit).
- Murid secara individu mengisi Lembar Identifikasi Sosiologis untuk kedua kartu tersebut, mencatat: (1) Latar belakang keluarga/asal-usul Kartini (acuan: keluarga bangsawan bupati Jawa/Jepara), (2) Kedudukan sosial Kartini (acuan: putri priyayi bangsawan/pendidik perempuan), (3) Latar belakang Pattimura (acuan: kalangan rakyat militer Maluku), (4) Kedudukan sosial Pattimura (acuan: sersan militer/panglima perang rakyat) (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid mencocokkan hasil identifikasi sosiologis mereka dengan daftar acuan kelas yang dibacakan guru secara terarah (6 menit).
- Murid menuliskan satu kalimat simpulan reflektif pada buku catatan mengenai bagaimana kedudukan sosial pahlawan memengaruhi sikap perjuangannya (4 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap hasil kerja murid mengenai identifikasi latar belakang dan kedudukan sosial tokoh pahlawan (5 menit).
- Guru menutup pertemuan dengan doa bersama dan salam penutup (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan pendampingan diberikan teks profil dengan bagian kata kunci sosiologis (keluarga, pangkat, jabatan) yang telah dicetak tebal; murid cepat diberikan teks profil dengan narasi sejarah yang lebih panjang.
- Proses: Murid yang masih kesulitan dipandu langsung dengan pertanyaan terstruktur per butir sosiologis; murid yang cepat bekerja mandiri menganalisis kartu tambahan (Kartu 3: Ki Hajar Dewantara: 'Bangsawan Pakualaman yang melepas gelar kebangsawanannya dan menjadi wartawan serta pendiri Taman Siswa bagi rakyat jelata' — acuan: latar keluarga = bangsawan keraton Pakualaman; kedudukan sosial = rakyat biasa/wartawan/tokoh pendidikan kerakyatan).
- Produk: Format isian lembar identifikasi dapat berupa bagan berlabel sederhana bagi murid pemula atau tabel terperinci bagi murid yang mahir.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik lisan: 'Berdasarkan teks singkat: Pangeran Diponegoro adalah putra bangsawan Keraton Yogyakarta yang bergaul dengan kaum santri dan petani di Tegalrejo. Sebutkan apa latar belakang keluarga dan apa kedudukan sosial tokoh tersebut?' (Acuan jawaban benar: Latar belakang keluarga = keluarga bangsawan/keraton Yogyakarta; Kedudukan sosial = pangeran/pemimpin santri dan rakyat jelata).
Proses:- Pemeriksaan ketepatan pengisian Lembar Identifikasi Sosiologis berisi 4 butir data pahlawan: (1) Latar belakang keluarga Kartini (acuan: keluarga bangsawan bupati Jepara), (2) Kedudukan sosial Kartini (acuan: putri priyayi bangsawan/pendidik perempuan), (3) Latar belakang asal Pattimura (acuan: kalangan rakyat militer Maluku), (4) Kedudukan sosial Pattimura (acuan: sersan militer/panglima perang rakyat).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman 2 butir penutup: Murid mengidentifikasi sosiologis singkat tokoh Cut Nyak Dien dari teks di tahap Memahami: (1) Latar belakang keluarga (acuan: keluarga bangsawan agamis Aceh Besar), (2) Kedudukan sosial (acuan: bangsawan perempuan/pemimpin gerilya rakyat Aceh).
Formatif:- Pemeriksaan Lembar Identifikasi Sosiologis Tokoh Pahlawan (Kartini dan Pattimura)
- Observasi diagnostik tanya-jawab di awal kegiatan
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Identifikasi Latar Belakang dan Kedudukan Sosial Tokoh | Mengidentifikasi dengan tepat 1 dari 4 butir aspek sosiologis tokoh (latar belakang keluarga atau kedudukan sosial) sesuai daftar acuan Kartini dan Pattimura. | Mengidentifikasi dengan tepat 2 dari 4 butir aspek sosiologis tokoh sesuai daftar acuan Kartini dan Pattimura. | Mengidentifikasi dengan tepat 3 dari 4 butir aspek sosiologis tokoh sesuai daftar acuan Kartini dan Pattimura secara mandiri. | Mengidentifikasi dengan tepat seluruh 4 butir aspek sosiologis tokoh (latar belakang keluarga dan kedudukan sosial) Kartini dan Pattimura sesuai daftar acuan secara mandiri dan lengkap. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah teks profil pahlawan yang dipilih memudahkan murid mengenali latar belakang keluarga dan kedudukan sosial tokoh?
- Apakah murid mengalami kesulitan membedakan antara asal-usul keluarga dan kedudukan sosial tokoh dalam masyarakat?
Murid:- Unsur sosiologis apa (keluarga atau kedudukan sosial) yang paling mudah kamu temukan dari bacaan tokoh pahlawan tadi?
- Bagaimana informasi status sosial tokoh ini membantumu membayangkan karakter tokoh pahlawan tersebut?
Pertemuan 2 — Mengidentifikasi Karakter Tokoh Pahlawan Nasional Berdasarkan Relasi Sosial Antartokoh Cerita — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.4.1 Mengidentifikasi karakter melalui analisis sosiologis tokoh cerita pahlawan nasional untuk naskah teater
Pendahuluan:- Guru membuka pelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengondisikan kelas agar siap belajar (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini: mengidentifikasi karakter tokoh pahlawan nasional melalui relasi sosial antartokoh dalam cerita untuk bahan naskah teater (2 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal singkat untuk memetakan kesiapan murid dengan meminta murid membaca kutipan interaksi sosial tokoh Cut Nyak Dien: 'Cut Nyak Dien dengan penuh kesabaran merawat prajurit yang terluka di perkemahan gerilya, namun berbicara tegas tanpa kompromi saat menolak tawaran menyerah dari utusan Belanda.' Murid diminta menentukan 2 sifat/karakter yang tampak dari dua relasi sosial tersebut (acuan: peduli/penyayang terhadap bawahan/rakyat dan tegas/pantang menyerah terhadap penjajah) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak penjelasan guru tentang dimensi sosiologis tokoh dalam seni teater, khususnya bagaimana relasi sosial (sikap terhadap atasan, bawahan, kawan seperjuangan, dan lawan) membentuk identitas karakter tokoh dalam naskah (10 menit).
- Murid membaca teks ringkas narasi kepahlawanan Pangeran Diponegoro yang memuat 3 interaksi sosial: (1) interaksi dengan Sentot Ali-Basya (hubungan panglima-bawahan: saling percaya dan menghargai strategi perang), (2) interaksi dengan petani desa (hubungan pelindung-rakyat jelata: ramah, mengayomi, dan bersahaja), (3) interaksi dengan Jenderal De Kock (hubungan perlawanan diplomatik: berani, waspada, dan memegang teguh martabat) (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan):- Murid bermain tantangan kelompok 'Detektif Relasi Tokoh': tiap kelompok menerima kartu profil relasi tokoh pahlawan nasional Sultan Hasanuddin yang memuat 4 cuplikan peristiwa interaksi antartokoh: (1) Sultan Hasanuddin bermusyawarah mendengarkan saran Karaeng Galesong sebelum pertempuran; (2) Sultan Hasanuddin menjamin keselamatan perahu nelayan Makassar dari perompak; (3) Sultan Hasanuddin menolak menandatangani perjanjian yang merugikan rakyat saat berhadapan dengan Cornelis Speelman; (4) Sultan Hasanuddin merawat dan menghibur anak-anak prajurit yang gugur (10 menit).
- Secara berkolaborasi, kelompok mengidentifikasi karakter Sultan Hasanuddin dari ke-4 cuplikan relasi sosial tersebut pada Lembar Kerja Relasi Tokoh (acuan karakter tepat: butir 1 = demokratis/menghargai rekan; butir 2 = pelindung rakyat; butir 3 = berprinsip kokoh/anti-penjajahan; butir 4 = penyayang/peduli kemanusiaan) (15 menit).
- Setiap kelompok saling mencocokkan hasil identifikasi relasi sosiologis karakter dengan kelompok sebelah dan guru memberikan konfirmasi ketepatan analisis sosiologis (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru merefleksikan bagaimana analisis relasi sosial membantu pemeran dan penulis naskah teater memahami karakter tokoh secara utuh dan manusiawi (5 menit).
Penutup:- Murid mengerjakan kuis asesmen akhir singkat secara tertulis untuk memeriksa penguasaan identifikasi karakter berdasarkan relasi antartokoh (7 menit).
- Guru menyampaikan apresiasi atas ketelitian analisis murid, memberi umpan balik singkat, mengingatkan topik pertemuan berikutnya tentang identifikasi tokoh utama dan tokoh pendukung, lalu menutup pembelajaran dengan salam (3 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks cuplikan relasi dengan kata kunci hubungan yang telah digarisbawahi; murid mahir diberikan teks interaksi sosiologis yang lebih kompleks tanpa penanda khusus.
- Proses: Murid yang memerlukan pendampingan dibimbing guru secara bertahap dalam mengurai relasi antartokoh; murid yang cepat bekerja mandiri dalam mengidentifikasi aspek sosiologis.
- Produk: Semua murid mengisi lembar kerja identifikasi karakter yang sama dengan target minimal ketepatan analisis relasi sosial yang disepakati.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik: Murid membaca kutipan singkat 'Cut Nyak Dien dengan penuh kesabaran merawat prajurit yang terluka di perkemahan gerilya, namun berbicara tegas tanpa kompromi saat menolak tawaran menyerah dari utusan Belanda.' Tentukan 2 karakter Cut Nyak Dien berdasarkan relasi tersebut! (Acuan jawaban: (1) peduli/penyayang terhadap prajurit/rakyat; (2) teguh pendirian/tegas/anti-kompromi terhadap musuh).
Proses:- Observasi keterlibatan kelompok dan pemeriksaan Lembar Kerja Relasi Tokoh Sultan Hasanuddin dengan 4 butir peristiwa: (1) Musyawarah dengan Karaeng Galesong -> acuan: demokratis/terbuka; (2) Menjamin nelayan Makassar -> acuan: pelindung/pengayom; (3) Menolak perjanjian Speelman -> acuan: tegas/berprinsip/pantang tunduk; (4) Menghibur anak prajurit -> acuan: welas asih/penyayang.
Akhir Pertemuan:- Kuis 2 butir pada penutup: Diberikan cuplikan teks relasi sosial tokoh Jenderal Soedirman: (1) 'Pak Dirman selalu mencium tangan ibunya dan memohon doa restu sebelum memimpin pasukan'; (2) 'Pak Dirman membagi ransum makanannya yang terbatas kepada prajurit pengawal yang tampak kelaparan'. Tuliskan karakter sosiologis yang tampak pada masing-masing interaksi! (Acuan jawaban: butir 1 = anak yang berbakti/santun/taat norma; butir 2 = pemimpin yang rela berkorban/penyayang bawahan).
Formatif:- Asesmen diagnostik awal: mengidentifikasi 2 karakter tokoh dari kutipan interaksi sosial Cut Nyak Dien
- Penilaian proses lembar kerja kelompok: ketepatan mengidentifikasi 4 karakter tokoh Sultan Hasanuddin berdasarkan relasi antartokoh cerita
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Ketepatan Mengidentifikasi Karakter melalui Analisis Sosiologis Relasi Antartokoh | Belum mampu mengidentifikasi karakter tokoh berdasarkan relasi sosial antartokoh dalam cerita (0-1 butir relasi teridentifikasi tepat dari 4 butir acuan). | Mampu mengidentifikasi sebagian karakter tokoh berdasarkan relasi sosial antartokoh dalam cerita (2 butir relasi teridentifikasi tepat dari 4 butir acuan). | Mampu mengidentifikasi sebagian besar karakter tokoh berdasarkan relasi sosial antartokoh dalam cerita dengan tepat (3 butir relasi teridentifikasi tepat dari 4 butir acuan). | Mampu mengidentifikasi seluruh karakter tokoh berdasarkan relasi sosial antartokoh dalam cerita dengan tepat dan lengkap (seluruh 4 butir relasi teridentifikasi tepat sesuai acuan). |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah seluruh murid aktif terlibat dalam permainan analisis relasi antartokoh?
- Apakah panduan analisis sosiologis yang diberikan cukup jelas membantu murid membedakan karakter tokoh berdasarkan lawan bicaranya?
Murid:- Bagian relasi antartokoh mana yang paling mudah atau paling menantang untuk kamu simpulkan karakternya?
- Apa hal baru yang kamu pelajari tentang pentingnya hubungan antartokoh dalam menggambarkan sosok pahlawan?
Pertemuan 3 — Mengidentifikasi Tokoh Utama dan Tokoh Pendukung dalam Peristiwa Cerita Kepahlawanan — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.4.2 Mengidentifikasi karakter dalam sebuah cerita kepahlawanan untuk bahan penulisan naskah drama
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa singkat (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu mengidentifikasi tokoh utama dan tokoh pendukung beserta ciri karakternya dalam peristiwa cerita kepahlawanan untuk bahan naskah drama (4 menit).
- Asesmen Awal: Guru memberikan kuis diagnostik lisan singkat berupa penggalan ringkas peristiwa 'Perjuangan Pangeran Diponegoro': 'Pangeran Diponegoro memimpin perlawanan terhadap penindasan kolonial, didampingi oleh Sentot Alibasya yang bertugas sebagai panglima muda pengatur strategi pasukan.' Guru menanyakan: Siapakah tokoh utama dan tokoh pendukungnya? (Acuan jawaban benar: Tokoh utama = Pangeran Diponegoro; Tokoh pendukung = Sentot Alibasya) (8 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Berkesadaran):- Murid menyimak teks ringkas peristiwa kepahlawanan 'Pertempuran Surabaya 1945' yang dibagikan guru, yang memuat 4 tokoh konkret: (1) Bung Tomo (pemimpin pengobar semangat rakyat di radio, pantang menyerah), (2) Residen Sudirman (pejabat perunding diplomatik yang berani menghadapi pihak Sekutu), (3) Cak Mail (pemuda laskar pembawa pesan rahasia yang setia dan gesit), dan (4) Markan (penjaga pos logistik yang waspada) (10 menit).
- Murid mengamati penjelasan guru mengenai perbedaan peran tokoh dalam lakon: tokoh utama sebagai penggerak pusat peristiwa dan tokoh pendukung sebagai pembantu/penyerta peristiwa (5 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Aktivitas Menggembirakan: Guru mengadakan permainan tebak peran cepat 'Detektif Tokoh' secara berpasangan; guru membacakan 4 kartu tindakan peristiwa, lalu murid secara cepat dan gembira mengangkat kartu label 'Tokoh Utama' atau 'Tokoh Pendukung'. Kartu 1: 'Berpidato membakar tekad arek-arek Surabaya di baris depan pertempuran' -> Tokoh Utama; Kartu 2: 'Mengantarkan surat mandat rahasia melintasi medan bahaya' -> Tokoh Pendukung; Kartu 3: 'Memutuskan sikap perlawanan bersama para pejuang' -> Tokoh Utama; Kartu 4: 'Menyiapkan perbekalan medis di tenda darurat' -> Tokoh Pendukung (acuan ketepatan: kartu 1 & 3 = Tokoh Utama, kartu 2 & 4 = Tokoh Pendukung) (15 menit).
- Secara mandiri, murid mengerjakan Lembar Identifikasi Karakter Tokoh untuk mengelompokkan 4 tokoh dari teks 'Pertempuran Surabaya 1945' ke dalam kategori peran (tokoh utama/tokoh pendukung) serta menuliskan ciri karakternya. Target 4 tokoh: (1) Bung Tomo -> Tokoh Utama, karakter pengobar semangat dan pantang menyerah; (2) Residen Sudirman -> Tokoh Utama, karakter pemberani dan berprinsip teguh; (3) Cak Mail -> Tokoh Pendukung, karakter gesit dan setia; (4) Markan -> Tokoh Pendukung, karakter waspada dan sigap (acuan: pengelompokan peran dan karakter sesuai target) (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid memeriksa kembali hasil identifikasinya secara mandiri dengan membandingkan kesesuaian antara peran tokoh dan tindakannya dalam cerita (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik langsung terhadap ketepatan identifikasi murid dan menegaskan pentingnya pemilahan peran ini agar penulisan naskah drama nantinya memiliki fokus cerita yang jelas (5 menit).
Penutup:- Murid bersama guru menyimpulkan inti pembelajaran mengenai penentuan tokoh utama dan pendukung serta karakternya dalam cerita kepahlawanan (3 menit).
- Guru menutup pertemuan dengan memberikan pengantar singkat untuk pertemuan berikutnya (mengidentifikasi konflik antartokoh) dan mengakhiri sesi dengan doa bersama (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan teks cerita dengan cetak tebal pada kata kunci tindakan bagi murid yang memerlukan bimbingan membaca intensif.
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan berupa pertanyaan penuntun ('Siapa yang paling menentukan jalannya pertempuran?'), sedangkan murid yang cepat langsung mengidentifikasi 4 tokoh secara mandiri penuh.
- Produk: Format isian lembar identifikasi dapat berupa bagan berlabel bagi murid yang butuh bantuan visual atau tabel uraian mandiri bagi murid cepat.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik di awal pembelajaran menggunakan penggalan kisah Diponegoro: menyebutkan tokoh utama dan tokoh pendukung dari cuplikan teks. (Acuan benar: Pangeran Diponegoro = Tokoh Utama, Sentot Alibasya = Tokoh Pendukung).
Proses:- Observasi ketepatan murid dalam mengidentifikasi peran tokoh (utama vs pendukung) pada permainan 'Detektif Tokoh' (Acuan: kartu 1 & 3 = Tokoh Utama; kartu 2 & 4 = Tokoh Pendukung).
- Pemeriksaan Lembar Identifikasi Karakter Tokoh dari teks Pertempuran Surabaya untuk 4 target tokoh: Bung Tomo (Utama; pantang menyerah/pengobar semangat), Residen Sudirman (Utama; berani/teguh), Cak Mail (Pendukung; gesit/setia), Markan (Pendukung; waspada/sigap).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman penutup: Murid menyebutkan 1 ciri utama yang membedakan tokoh utama dari tokoh pendukung dalam cerita drama kepahlawanan (Kriteria penerimaan: murid menyatakan bahwa tokoh utama menjadi penggerak/penentu arah cerita, sedangkan tokoh pendukung bertindak menyertai atau membantu tokoh utama).
Formatif:- Kuis lisan diagnostik awal mengenai tokoh utama dan pendukung
- Permainan tebak peran 'Detektif Tokoh'
- Lembar Identifikasi Karakter Tokoh dalam Cerita Kepahlawanan
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Identifikasi Peran Tokoh (Utama dan Pendukung) | Mengidentifikasi dengan tepat peran (tokoh utama/pendukung) paling banyak 1 dari 4 tokoh target teks Pertempuran Surabaya. | Mengidentifikasi dengan tepat peran (tokoh utama/pendukung) 2 dari 4 tokoh target teks Pertempuran Surabaya. | Mengidentifikasi dengan tepat peran (tokoh utama/pendukung) 3 dari 4 tokoh target teks Pertempuran Surabaya secara tepat sesuai acuan. | Mengidentifikasi dengan tepat peran (tokoh utama/pendukung) seluruh 4 tokoh target teks Pertempuran Surabaya secara mandiri dan tepat sesuai acuan (Bung Tomo & Residen Sudirman = Utama; Cak Mail & Markan = Pendukung). | | Identifikasi Karakter Tokoh dalam Cerita | Menentukan ciri karakter yang sesuai tindakan cerita untuk paling banyak 1 tokoh dari 4 tokoh target. | Menentukan ciri karakter yang sesuai tindakan cerita untuk 2 tokoh dari 4 tokoh target. | Menentukan ciri karakter yang sesuai tindakan cerita untuk 3 tokoh dari 4 tokoh target sesuai acuan. | Menentukan ciri karakter yang sesuai tindakan cerita untuk seluruh 4 tokoh target (Bung Tomo, Residen Sudirman, Cak Mail, Markan) secara lengkap dan tepat sesuai acuan tindakan cerita. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah teks cuplikan sejarah kepahlawanan yang digunakan cukup jelas membantu murid membedakan tokoh utama dan tokoh pendukung?
- Bagaimana keterlibatan murid selama aktivitas permainan tebak peran berlangsung?
Murid:- Bagian mana dari cerita yang paling membantumu mengenali karakter seorang tokoh pahlawan?
- Apakah kamu dapat membedakan dengan jelas antara tokoh utama dan tokoh pendukung?
Pertemuan 4 — Mengidentifikasi Peran dan Konflik Antarkarakter dalam Cerita Kepahlawanan untuk Bahan Naskah — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.4.2 Mengidentifikasi karakter dalam sebuah cerita kepahlawanan untuk bahan penulisan naskah drama
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam pembuka, menyapa murid, dan memandu doa singkat bersama (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu mengidentifikasi peran tokoh (protagonis, antagonis, tritagonis) dan konflik antarkarakter dalam penggalan cerita kepahlawanan sebagai bahan dasar penulisan naskah drama (4 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan cepat dengan membacakan narasi situasi pendek: 'Pangeran Diponegoro menentang pemasangan patok jalan oleh Belanda yang melintasi makam leluhurnya, sementara Patih Danureja berusaha menengahi agar tidak pecah perang terbuka.' Murid diminta menyebutkan peran Diponegoro, pihak Belanda, dan Patih Danureja beserta benturan kepentingannya (acuan diagnostik: Diponegoro = protagonis/pembela kehormatan rakyat; pihak Belanda = antagonis/penjajah perampas tanah; Patih Danureja = tritagonis/penengah; konflik = penolakan pemasangan patok vs pemaksaan kehendak penjajah) (8 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid menyimak penjelasan guru tentang konsep peran karakter dalam naskah drama (protagonis sebagai penggerak tujuan utama, antagonis sebagai penentang/penghambat, dan tritagonis sebagai penengah/pendukung netral) serta definisi konflik antarkarakter (perbedaan motif, benturan prinsip, atau perselisihan kepentingan) (10 menit).
- Murid secara berpasangan mengikuti kuis interaktif 'Cocok Kartu Karakter' yang menggembirakan: guru membagikan 3 kartu skenario peran dan konflik, murid mencocokkan kartu peran dengan deskripsi benturan yang tepat (Kartu 1: 'Sultan Hasanuddin menolak monopoli dagang VOC di Makassar' -> peran: Hasanuddin protagonis vs Cornelis Speelman antagonis, konflik benturan hak kedaulatan dagang; Kartu 2: 'Martha Christina Tiahahu terus mengangkat tombak memimpin perlawanan rakyat Maluku ketika Thomas Matulessy tertangkap, sementara petinggi kolonial menuntut penyerahan diri' -> peran: Martha protagonis vs komandan kolonial antagonis, konflik penolakan menyerah; Kartu 3: 'Seorang tetua desa membujuk dua kubu pejuang yang berselisih strategi agar tetap bersatu' -> peran: tetua desa sebagai tritagonis/penengah, konflik perbedaan taktik gerilya) (10 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid membentuk kelompok berpasangan untuk membaca lembar teks penggalan kisah kepahlawanan 'Peristiwa Rengasdengklok: Benturan Pemuda dan Golongan Tua' yang dibagikan guru (5 menit).
- Murid bekerja berpasangan mengisi Lembar Analisis Karakter dan Konflik untuk mengidentifikasi 3 karakter peran dan 1 konflik utama berdasarkan teks (acuan pengerjaan: Karakter A: Sukarni/Chaeroel Saleh = pemuda/protagonis agresif penuntut kemerdekaan segera; Karakter B: Bung Karno/Bung Hatta = golongan tua/protagonis penimbang kehati-hatian kalkulasi militer; Karakter C: Mr. Achmad Soebardjo = penengah/tritagonis yang menjamin kemerdekaan; Benturan konflik antarkarakter = perbedaan desakan waktu proklamasi tanpa campur tangan PPKI/Jepang vs perhitungan risiko keamanan dan kesiapan sidang) (22 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Setiap pasangan murid bertukar lembar kerja dengan pasangan di sebelahnya untuk saling mencocokkan hasil identifikasi peran dan konflik menggunakan panduan acuan kunci yang ditampilkan guru di papan tulis (8 menit).
- Murid secara berkesadaran menyimpulkan bagaimana perbedaan watak dan kepentingan tokoh menjadi sumber percikan dialog tajam yang memikat dalam bahan penulisan naskah drama (5 menit).
Penutup:- Guru mengonfirmasi pemahaman bersama seluruh murid dan memberikan umpan balik menyeluruh terhadap ketepatan identifikasi peran tokoh dan konflik yang telah diselesaikan (3 menit).
- Guru menyampaikan keterkaitan materi pertemuan ini dengan pertemuan berikutnya (Pertemuan 5: menyusun kerangka alur adegan berdasarkan konflik yang sudah dipetakan), lalu menutup pembelajaran dengan doa dan salam (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan lembar teks penggalan peristiwa kepahlawanan dengan teks standar (peristiwa Rengasdengklok) dan teks berpenanda garis bawah pada kalimat percakapan kunci bagi murid yang membutuhkan panduan visual.
- Proses: Memberikan bimbingan langsung berjarak dekat bagi pasangan murid yang kesulitan membedakan peran tritagonis dan antagonis, serta memberikan tantangan tambahan bagi pasangan murid yang cepat untuk mengidentifikasi 2 lapis motif pemicu konflik antartokoh.
- Produk: Bagi murid lambat cukup mengidentifikasi 2 peran (protagonis dan pihak yang berselisih) beserta 1 konflik utama; bagi murid berkemampuan cepat mengidentifikasi lengkap 3 peran (protagonis, antagonis/oposisi, tritagonis) beserta akar konflik internal dan eksternal antarkarakter.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab lisan diagnostik: guru membacakan narasi situasi 'Pangeran Diponegoro menentang pemasangan patok jalan oleh Belanda yang melintasi makam leluhurnya, sementara Patih Danureja berusaha menengahi agar tidak pecah perang terbuka.' Murid diminta menyebutkan peran Diponegoro, pihak Belanda, dan Patih Danureja beserta konfliknya (acuan: Diponegoro = protagonis pembela martabat rakyat; Belanda = antagonis perampas wilayah; Patih Danureja = penengah/tritagonis; konflik = penolakan pemasangan patok tanah leluhur tanpa izin).
Proses:- Pemeriksaan lembar kerja pengisian peran dan konflik teks Rengasdengklok dengan 4 butir target acuan: (1) Identifikasi peran golongan pemuda/Sukarni sebagai pendesak proklamasi mandiri, (2) Identifikasi peran golongan tua/Soekarno-Hatta sebagai pengambil keputusan penuh kalkulasi risiko, (3) Identifikasi peran Achmad Soebardjo sebagai penengah/tritagonis, (4) Identifikasi benturan konflik: desakan waktu kemerdekaan segera tanpa persetujuan Jepang vs kehati-hatian prosedur tata negara dan jaminan keamanan.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman penutup: murid menuliskan 1 rumusan simpulan singkat di lembar catatan tentang 1 peran tokoh dan 1 konflik utama yang paling potensial menjadi bahan percakapan adegan drama berdasarkan teks yang dianalisis (kriteria penerimaan: rumusan menyebutkan secara eksplisit pihak yang berselisih beserta motif pertentangannya sesuai isi teks peristiwa sejarah Rengasdengklok).
Formatif:- Penilaian proses lembar kerja identifikasi peran tokoh (protagonis, antagonis, tritagonis) dan konflik antarkarakter pada teks kepahlawanan
- Kuis diagnostik lisan di awal pembelajaran untuk mengecek pemahaman konsep benturan peran tokoh
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Identifikasi Peran Karakter (Protagonis, Oposisi/Antagonis, Tritagonis) | Belum mampu mengidentifikasi peran karakter dalam teks cerita kepahlawanan, atau hanya menyebutkan nama tokoh tanpa klasifikasi perannya. | Mampu mengidentifikasi 1 peran karakter secara tepat sesuai isi teks cerita kepahlawanan. | Mampu mengidentifikasi 2 peran karakter secara tepat (misal: protagonis dan pihak oposisi) sesuai isi teks cerita kepahlawanan. | Mampu mengidentifikasi 3 peran karakter lengkap (protagonis, oposisi/antagonis, dan penengah/tritagonis) secara tepat dan mandiri sesuai isi teks cerita kepahlawanan. | | Identifikasi Konflik Antarkarakter | Belum mampu mengidentifikasi konflik antarkarakter, hanya menyebutkan peristiwa umum tanpa ada benturan kepentingan/sikap. | Mampu mengidentifikasi benturan masalah umum, namun belum mengaitkannya dengan perbedaan motif atau sikap spesifik antartokoh. | Mampu mengidentifikasi 1 benturan konflik antartokoh secara tepat berdasarkan pertentangan motif yang tercantum dalam teks cerita kepahlawanan. | Mampu mengidentifikasi benturan konflik antartokoh secara rinci dan tepat beserta penyebab perbedaan sikap kedua belah pihak dalam cerita kepahlawanan sebagai bahan naskah. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah teks cuplikan peristiwa sejarah yang dipilih mempermudah murid menemukan benturan konflik antartokoh secara jelas?
- Bagaimana respons keterlibatan murid saat memainkan permainan pencocokan kartu karakter dan peran?
Murid:- Bagian mana dari penentuan peran tokoh (protagonis, antagonis, atau tritagonis) yang paling mudah dan paling sulit saya kenali?
- Bagaimana pemahaman tentang konflik antartokoh membantu saya membayangkan peristiwa dramatis yang seru untuk naskah drama?
Pertemuan 5 — Menyusun Kerangka Alur Adegan Awal, Konflik, dan Penyelesaian Cerita Kepahlawanan — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.4.3 Menyusun alur cerita sederhana yang jelas dan mudah dipahami dari peristiwa kepahlawanan ke dalam susunan adegan naskah
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran, menyapa murid, memeriksa kehadiran, dan menyampaikan fokus kegiatan yaitu menyusun alur cerita kepahlawanan ke dalam kerangka tiga bagian: adegan awal, konflik, dan penyelesaian (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal singkat untuk memetakan pemahaman murid mengenai urutan alur naratif tiga bagian (adegan awal, konflik, penyelesaian) melalui pertanyaan lisan interaktif (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna):- Murid menyimak penjelasan dan contoh kerangka alur tiga adegan dari peristiwa kepahlawanan: Adegan 1/Awal (pengenalan situasi dan ketetapan hati tokoh), Adegan 2/Konflik (pertentangan tokoh utama menghadapi ancaman/musuh), dan Adegan 3/Penyelesaian (keputusan atau akhir perjuangan yang membawa perubahan situasi) (10 menit).
- Murid bersama guru mencermati contoh teks peristiwa perjuangan Pangeran Diponegoro untuk membedah peristiwa awal (pemasangan patok oleh pihak lawan di tanah leluhur), puncak konflik (perundingan tegang yang berakhir dengan penolakan tunduk), dan penyelesaian (tekad memimpin perlawanan gerilya) (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan):- Sebagai tantangan cepat 'Susun Babak Pahlawan', murid menerima kartu 3 potongan peristiwa acak dari kisah perjuangan Sultan Hasanuddin: Kartu A ('Sultan Hasanuddin menolak menandatangani perjanjian yang merugikan rakyat Gowa dan memimpin pertahanan benteng Somba Opu'), Kartu B ('Armada Belanda datang menuntut monopoli dagang dan mulai memblokade pelabuhan'), dan Kartu C ('Sultan Hasanuddin tetap mempertahankan kehormatan rakyat meski benteng terkepung'). Murid menempelkannya secara tepat sesuai urutan alur: Adegan Awal (Kartu B), Adegan Konflik (Kartu A), dan Adegan Penyelesaian (Kartu C) (15 menit).
- Secara mandiri pada Lembar Kerja Kerangka Alur, murid menyusun kerangka alur cerita sederhana peristiwa kepahlawanan pilihan mereka sendiri menjadi 3 bagian adegan yang jelas dan logis: Adegan Awal (latar situasi pembuka), Adegan Konflik (kejadian pertentangan utama), dan Adegan Penyelesaian (akhir penyelesaian peristiwa) (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid memeriksa kembali kelogisan hubungan sebab-akibat antaran adegan awal, konflik, dan penyelesaian dalam kerangka alur naskah yang telah mereka susun secara mandiri (5 menit).
Penutup:- Guru mengonfirmasi kelengkapan kerangka alur naskah murid, memberikan umpan balik umum mengenai kejelasan transisi antaran adegan awal menuju konflik dan penyelesaian, serta menginformasikan bahwa kerangka ini akan dikembangkan menjadi dialog pada pertemuan berikutnya (10 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan struktur alur berisi kalimat rumpang untuk menentukan adegan awal, konflik, dan penyelesaian; murid mahir menyusun kerangka alur dengan menambahkan detail latar tempat dan pemicu perubahan situasi di setiap adegan.
- Proses: Guru memberikan scaffolding terarah dalam merumuskan titik konflik bagi murid yang kesulitan, sementara murid yang telah lancar menyusun alur secara mandiri.
- Produk: Produk berupa Lembar Kerja Kerangka Alur Adegan Cerita Kepahlawanan yang memuat deskripsi peristiwa adegan awal, konflik, dan penyelesaian secara runtut.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Guru menanyakan secara lisan pemahaman urutan alur: 'Jika ada tiga bagian cerita: (1) Tokoh menghadapi musuh secara langsung, (2) Pengenalan tokoh di desanya yang damai sebelum diserang, (3) Tokoh berhasil menyelamatkan desanya. Manakah yang menjadi bagian awal, konflik, dan penyelesaian?' (Acuan jawaban: Bagian awal = 2, Konflik = 1, Penyelesaian = 3).
Proses:- Pemeriksaan ketepatan penyusunan tantangan 'Susun Babak Pahlawan' (Acuan jawaban: Awal = Kartu B [Armada Belanda datang menuntut monopoli dagang], Konflik = Kartu A [Sultan Hasanuddin menolak menandatangani perjanjian], Penyelesaian = Kartu C [Sultan Hasanuddin mempertahankan kehormatan rakyat]).
- Observasi dan bimbingan saat murid menyusun kerangka 3 adegan pada Lembar Kerja Kerangka Alur untuk memastikan peristiwa yang ditulis memenuhi unsur adegan awal, konflik, dan penyelesaian secara berurutan dan masuk akal.
Akhir Pertemuan:- Pemeriksaan hasil Lembar Kerja Kerangka Alur Naskah Drama Kepahlawanan murid dengan kriteria penerimaan operasional: lembar kerja memuat secara tertulis 3 adegan terpisah (Adegan Awal, Adegan Konflik, Adegan Penyelesaian) yang saling bertautan logis menggambarkan peristiwa kepahlawanan.
Formatif:- Asesmen diagnostik lisan penempatan struktur alur cerita di pendahuluan
- Penilaian unjuk kerja penyusunan kerangka alur 3 adegan pada Lembar Kerja Kerangka Alur menggunakan rubrik
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Kelengkapan Bagian Alur Adegan (Awal, Konflik, Penyelesaian) | Hanya menyusun 1 bagian adegan dari cerita kepahlawanan pada kerangka naskah. | Menyusun 2 bagian adegan cerita kepahlawanan pada kerangka naskah. | Menyusun lengkap 3 bagian adegan (awal, konflik, penyelesaian) dari cerita kepahlawanan pada kerangka naskah. | Menyusun lengkap 3 bagian adegan (awal, konflik, penyelesaian) dari cerita kepahlawanan pada kerangka naskah dengan rincian pemicu transisi antardegan secara utuh. | | Kejelasan dan Keterkaitan Alur Antar-Adegan | Susunan peristiwa antar-adegan tidak saling berhubungan atau acak. | Susunan peristiwa menunjukkan hubungan antaran adegan awal dan konflik, namun penyelesaiannya tidak terkait langsung dengan konflik yang dimunculkan. | Susunan peristiwa antaran adegan awal, konflik, hingga penyelesaian saling berhubungan runtut dan mudah dipahami alur sebab-akibatnya. | Susunan peristiwa antaran adegan awal, konflik, hingga penyelesaian saling berhubungan sangat runtut, logis, dan memperlihatkan dinamika eskalasi cerita kepahlawanan yang jelas. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu cukup bagi murid untuk menuangkan ide peristiwa ke dalam tiga segmen kerangka adegan?
- Apakah contoh peristiwa kepahlawanan yang diberikan efektif membantu murid memahami perbedaan adegan pembuka dan adegan konflik?
Murid:- Bagian mana dari menyusun kerangka alur (awal, konflik, atau penyelesaian) yang paling menantang bagiku?
- Bagaimana kerangka tiga adegan ini membantuku membayangkan naskah drama yang akan ditulis nanti?
Pertemuan 6 — Menyusun Rangkaian Adegan dan Dialog Sederhana dari Peristiwa Kepahlawanan ke dalam Naskah Drama — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.4.3 Menyusun alur cerita sederhana yang jelas dan mudah dipahami dari peristiwa kepahlawanan ke dalam susunan adegan naskah
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran menyusun rangkaian adegan dan dialog naskah drama dari peristiwa kepahlawanan (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal singkat untuk memetakan pemahaman murid mengenai struktur penulisan adegan naskah dengan menayangkan 1 penggalan format teks naskah rumpang: 'Adegan 1: [Latar Tempat & Waktu]. Tokoh A: (Tindakan) ....'. Murid diminta menyebutkan 2 unsur penulisan naskah drama yang tercermin pada format tersebut (acuan jawaban: nama tokoh/pelaku dialog dan petunjuk pemanggungan/laku samping/keterangan suasana) (7 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid menyimak penjelasan guru tentang cara mengubah kerangka peristiwa sejarah (peristiwa Pangeran Diponegoro menyusun perlawanan) menjadi rangkaian naskah drama yang memuat judul adegan, petunjuk lakuan/latar, dan dialog antartokoh yang terhubung secara runtut (10 menit).
- Secara berpasangan, murid mengikuti 'Tantangan Susun Dialog' yang menggembirakan: guru membagikan 3 strip dialog acak dari peristiwa heroik Sultan Hasanuddin mempertahankan benteng. Strip tersebut berisi: Strip A ('Sultan Hasanuddin: Kita tidak akan menyerahkan kedaulatan laut kita kepada VOC! Pertahankan benteng sampai titik darah penghabisan!'), Strip B ('Prajurit: Daeng, kapal-kapal musuh sudah merapat dan mulai menembakkan meriam ke arah gerbang benteng!'), dan Strip C ('Sultan Hasanuddin: (Menghunus badik) Seluruh pasukan, segera ambil posisi di dinding pertahanan! Tetap bersatu!'). Pasangan murid berlomba menyusun ketiganya menjadi urutan dialog adegan naskah yang runtut dan logis (acuan urutan tepat: Strip B -> Strip A -> Strip C) (10 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Secara mandiri atau berpasangan, murid menyusun naskah drama pendek sederhana sebanyak 2 adegan berkesinambungan (Adegan 1: Persiapan/Pemicu Peristiwa; Adegan 2: Terjadinya Peristiwa Perjuangan) yang diadaptasi dari kerangka peristiwa kepahlawanan yang telah dibuat pada pertemuan sebelumnya (30 menit).
- Murid memastikan setiap adegan dalam naskah yang disusun memiliki komponen: (1) identitas adegan & petunjuk lakuan/latar sederhana, (2) rangkaian alur yang jelas antara adegan 1 dan adegan 2, serta (3) minimal 3 pertukaran dialog antartokoh per adegan yang relevan dengan alur peristiwa kepahlawanan (acuan kriteria: naskah memuat kelengkapan Adegan 1 dan Adegan 2 secara runtut, logis, dan memuat dialog tokoh yang menggerakkan alur peristiwa) (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid menukar draf susunan naskah drama dengan rekan sebangku untuk saling memeriksa kelengkapan urutan adegan dan kesesuaian dialog dengan peristiwa kepahlawanan menggunakan panduan daftar periksa dari guru (5 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan teknik penting dalam menyusun rangkaian adegan dan dialog sederhana ke dalam format naskah drama agar alurnya jelas dan mudah dipahami (3 menit).
- Guru memberikan penguatan serta asesmen akhir singkat dengan meminta murid mengecek kembali kelengkapan naskah 2 adegan masing-masing sebelum dikumpulkan sebagai portofolio draf adegan naskah (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan lembar format struktur adegan naskah berscaffolding (kolom tokoh, petunjuk lakuan, dan kolom dialog) bagi murid yang membutuhkan panduan struktural, serta format lembar naskah standar bagi murid yang siap menyusun secara mandiri.
- Proses: Memberikan pendampingan intensif bagi kelompok yang mengalami kesulitan merangkai dialog sebab-akibat antar-adegan, dan memberikan tantangan pengembangan variasi interaksi 3 tokoh dalam naskah bagi kelompok yang bekerja lebih cepat.
- Produk: Produk akhir berupa draf naskah drama kepahlawanan 2 adegan; murid pemula menyusun naskah 2 tokoh fokus alur linear, sementara murid mahir dapat menambahkan variasi tokoh pendukung dalam dialog tanpa keluar dari alur utama peristiwa kepahlawanan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik format penulisan naskah: Murid diminta mengidentifikasi 2 unsur format penulisan naskah drama dari contoh rumpang yang ditayangkan guru: 'Adegan 1: [Latar Tempat & Waktu]. Tokoh A: (Tindakan) ....' (acuan kunci: nama tokoh/pelaku dialog dan petunjuk pemanggungan/laku samping/keterangan suasana).
Proses:- Observasi pengerjaan 'Tantangan Susun Dialog': Memeriksa ketepatan murid menyusun 3 strip dialog acak Sultan Hasanuddin (Strip A, B, C) ke dalam urutan yang tepat (acuan kunci: B -> A -> C).
- Pemeriksaan draf naskah drama 2 adegan: Memeriksa apakah susunan adegan 1 ke adegan 2 terhubung secara runtut dan dialog yang dituliskan memuat minimal 3 pertukaran tuturan per adegan yang menggerakkan alur peristiwa kepahlawanan.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman akhir draf naskah: Guru memeriksa keterpenuhan 3 kriteria naskah pada lembar kerja murid, yaitu: (1) Adanya pembagian Adegan 1 dan Adegan 2, (2) Kesinambungan alur dari persiapan ke peristiwa, dan (3) Keberadaan dialog antartokoh yang jelas (kriteria penerimaan: ketiga unsur tertulis lengkap dan saling terhubung secara runtut).
Formatif:- Penilaian Kinerja Penulisan Naskah: Penilaian lembar draf naskah drama murid berdasarkan ketepatan susunan adegan dan dialog sederhana sesuai alur peristiwa kepahlawanan.
- Umpan Balik Teman Sejawat: Pemeriksaan draf naskah menggunakan panduan daftar periksa keruntutan adegan dan dialog.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Penyusunan Rangkaian Adegan Naskah | Belum mampu menyusun rangkaian adegan naskah; susunan peristiwa antara Adegan 1 dan Adegan 2 terputus atau tidak menunjukkan alur peristiwa kepahlawanan. | Menyusun rangkaian adegan naskah namun peralihan alur antara Adegan 1 dan Adegan 2 masih melompat dan membutuhkan bimbingan guru agar runtut. | Mampu menyusun rangkaian 2 adegan naskah (persiapan dan peristiwa perjuangan) dengan alur yang runtut, jelas, dan berkesinambungan secara mandiri. | Mampu menyusun rangkaian adegan naskah dengan alur yang sangat runtut, jelas, dan memiliki transisi peristiwa kepahlawanan yang dinamis dan padu antaradegan secara mandiri. | | Penyusunan Dialog Sederhana dalam Adegan | Belum mampu menyusun dialog drama; teks yang dibuat masih berupa narasi cerita dan belum berbentuk tuturan langsung antartokoh. | Mampu menyusun dialog antartokoh dalam naskah drama, namun pertukaran dialog belum mendukung perkembangan alur peristiwa kepahlawanan. | Mampu menyusun dialog sederhana antartokoh (minimal 3 pertukaran tuturan per adegan) yang secara jelas menggerakkan dan menggambarkan peristiwa kepahlawanan. | Mampu menyusun dialog sederhana antartokoh yang hidup, jelas, efektif menggerakkan alur peristiwa, dan dilengkapi petunjuk lakuan adegan yang tepat secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah instruksi pengalihan kerangka peristiwa ke dalam bentuk dialog adegan naskah sudah dipahami murid dengan mudah?
- Bagian mana dari proses penulisan dialog yang paling banyak membutuhkan scaffolding bagi murid?
Murid:- Apa tantangan terbesarmu saat mengubah cerita peristiwa pahlawan menjadi kalimat dialog yang diucapkan tokoh?
- Apakah susunan adegan 1 dan adegan 2 yang kamu tulis sudah terbaca runtut dan mudah dipahami temanmu?
Pertemuan 7 — Memainkan Lakon dengan Pembacaan Naskah Dialog Karya Sendiri Berfokus pada Kejelasan Artikulasi dan Vokal — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.4.4 Memainkan lakon dengan satu gaya yang sederhana dan mudah dipelajari melalui pembacaan naskah dialog karya sendiri
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, serta mengondisikan suasana ruang kelas untuk praktik vokal teater (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-7, yaitu memainkan lakon gaya membaca naskah dialog karya sendiri dengan berfokus pada kejelasan artikulasi dan vokal (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal singkat: meminta 3 murid secara bergiliran melafalkan kalimat uji artikulasi: 'Satu ribu, dua biru, tiga ribu, empat biru' dengan membuka mulut lebar (acuan: pengucapan bunyi konsonan 'r', 'b', dan vokal 'u', 'i' terdengar terpisah dan jelas tanpa bergumam) (4 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Menggembirakan):- Guru memandu pemanasan vokal dan senam artikulasi bersama seluruh murid melalui pelafalan vokal murni (A-I-U-E-O) serta permainan bunyi cepat konsonan letup 'pa-ta-ka-ba-da-ga' dengan tempo lambat ke cepat (10 menit).
- Guru memberikan contoh peragaan memainkan lakon gaya pembacaan naskah (dramatic reading sederhana) dengan membandingkan dua cara baca: (1) membaca tanpa artikulasi/bergumam, dan (2) membaca dengan artikulasi tajam serta vokal bulat terbuka pada kutipan naskah kepahlawanan: 'Kita tidak boleh menyerah sebelum fajar menyingsing!' (acuan: perbedaan terletak pada keterbukaan rongga mulut dan ketegasan pengucapan tiap suku kata) (10 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Murid mengambil draf naskah dialog karya sendiri yang telah disusun pada pertemuan sebelumnya (teks dialog tokoh pahlawan) lalu menandai kata-kata kunci yang memerlukan ketegasan vokal dan jeda napas (10 menit).
- Murid secara mandiri dan berpasangan saling berlatih memainkan lakon dengan membacakan naskah dialog karya sendiri di tempat masing-masing, berfokus melafalkan seluruh kata dengan artikulasi jelas dan volume vokal terdengar stabil hingga jarak 3 meter (15 menit).
- Secara bergantian, perwakilan murid tampil di depan kelas memainkan peran melalui pembacaan naskah dialog karya sendiri dengan satu gaya membaca tegak sederhana berfokus penuh pada kejelasan artikulasi bunyi kata serta ketegasan vokal (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru merefleksikan pengalaman membacakan naskah dialog, mencermati kata-kata yang masih sering tertelan atau kurang jelas pelafalannya saat berbicara peran (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap pencapaian vokal dan artikulasi murid dalam memainkan lakon pembacaan naskah dialog hari ini (3 menit).
- Guru menginformasikan bahwa naskah dialog ini akan digunakan kembali pada pertemuan ke-8 untuk pembacaan kelompok dengan penjiwaan ekspresi emosi tokoh, kemudian menutup pelajaran dengan doa dan salam (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan vokal menggunakan kutipan dialog naskah yang lebih pendek (2-3 baris kalimat), sedangkan murid yang mahir menggunakan dialog naskah yang utuh (5-8 baris kalimat dengan tempo kata yang lebih variatif).
- Proses: Murid yang artikulasinya masih tersendat diberikan panduan pemenggalan suku kata dengan tanda garis miring (/), sedangkan murid yang sudah lancar berlatih variasi dinamika vokal (keras-lemah) secara mandiri.
- Produk: Semua murid memainkan lakon pembacaan naskah dialog karya sendiri; perbedaannya terletak pada panjang teks dialog yang dibacakan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pelafalan kalimat diagnostik artikulasi vokal di awal pembelajaran: 'Satu ribu, dua biru, tiga ribu, empat biru'. Kriteria/acuan: pengucapan tiap kata utuh, bunyi vokal A-I-U-E-O terdengar terbuka, konsonan R dan B terdengar jelas tanpa bergumam.
Proses:- Observasi unjuk kerja pembacaan naskah dialog karya sendiri pada tahap Mengaplikasi. Aspek yang diamati: kejelasan pelafalan tiap suku kata (artikulasi) dan keterdengaran suara (vokal) dalam pembacaan lakon dialog gaya sederhana.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman dan umpan balik lisan di akhir sesi: murid menyebutkan satu kata dari naskah dialognya yang dirasa paling menantang pelafalannya dan memperagakan kembali cara pengucapan kata tersebut dengan artikulasi yang tepat.
Formatif:- Pengamatan kinerja pembacaan naskah dialog karya sendiri berfokus pada artikulasi bunyi kata dan kejelasan vokal menggunakan rubrik analitik.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Kejelasan Artikulasi dalam Pembacaan Naskah Dialog | Membacakan naskah dialog karya sendiri dengan artikulasi sebagian besar kata tidak jelas, gumam, atau suku kata sering tertelan. | Membacakan naskah dialog karya sendiri dengan artikulasi kata cukup jelas namun masih terdapat pengucapan kata yang terselip/kurang jelas pada kata-kata panjang. | Membacakan naskah dialog karya sendiri dengan artikulasi kata yang jelas dan tepat pada seluruh dialog secara konsisten. | Membacakan naskah dialog karya sendiri dengan artikulasi yang sangat jernih, tegas, dan sempurna pada setiap suku kata dari awal hingga akhir penampilan secara mandiri. | | Kekuatan dan Kejelasan Vokal dalam Pembacaan Lakon | Vokal sangat lemah, tidak terdengar jelas oleh pendengar dalam jarak dekat saat membacakan dialog lakon. | Vokal terdengar namun belum stabil intensitasnya, volume suara kadang menurun di akhir kalimat dialog. | Vokal stabil, bulat, dan terdengar jelas menjangkau seluruh ruang kelas saat membacakan dialog lakon. | Vokal sangat bulat, resonansi mantap, stabil, dan terdengar bertenaga menjangkau seluruh ruangan tanpa berteriak saat memainkan lakon. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah bentuk latihan pemanasan vokal dan artikulasi di awal cukup efektif membantu murid memperjelas pembacaan naskah dialog mereka?
- Bagian mana dari teknik pembacaan naskah dialog murid yang masih memerlukan pendampingan lebih intensif?
Murid:- Apakah kalimat dialog yang saya tulis sendiri sudah berhasil saya ucapkan dengan jelas dan mudah didengar oleh teman?
- Latihan apa yang paling membantu saya memperjelas ucapan kata saat berakting membaca naskah tadi?
Pertemuan 8 — Memainkan Lakon dengan Satu Gaya Sederhana Melalui Pembacaan Naskah Dialog Kelompok yang Ekspresif — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.4.4 Memainkan lakon dengan satu gaya yang sederhana dan mudah dipelajari melalui pembacaan naskah dialog karya sendiri
Pendahuluan:- Guru membuka pelajaran dengan salam, menyapa murid, memimpin doa bersama, dan mengecek kehadiran (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu memainkan lakon dengan satu gaya sederhana (gaya realis/wajar) melalui pembacaan naskah dialog kelompok karya sendiri yang ekspresif (3 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat untuk memetakan kesiapan murid dalam menerapkan gaya pembacaan lakon dengan meminta 3 perwakilan murid membaca satu kalimat dialog contoh: 'Kita tidak boleh mundur, pertahankan tanah ini!' menggunakan gaya realis/wajar (acuan kriteria: ekspresi penekanan emosi wajar, tidak datar/monoton, dan sesuai situasi heroik) (4 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak penjelasan guru mengenai konsep 'satu gaya sederhana' dalam memainkan lakon melalui pembacaan naskah (dramatic reading), yaitu gaya realis sederhana di mana ekspresi dialog disesuaikan dengan situasi kejiwaan karakter secara wajar tanpa gerak panggung yang berlebihan (7 menit).
- Guru memodelkan 2 perbandingan cara membaca naskah dialog: Gaya A (membaca datar seperti membaca koran tanpa penghayatan karakter) vs Gaya B (memainkan lakon gaya realis dengan ekspresi emosi karakter pahlawan yang tegas dan berjiwa perjuangan), lalu murid mencermati perbedaannya (8 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid melakukan pemanasan ekspresi menyenangkan 'Tebak Nada Karakter': perwakilan kelompok membaca penggalan kalimat naskah dengan satu pilihan emosi (tegas, cemas, atau bersemangat) dan kelompok lain menebak emosi yang dimainkan secara riang (10 menit).
- Murid bergabung dalam kelompok penulisan naskah masing-masing dan membagi peran tokoh sesuai draf naskah dialog karya sendiri yang telah disusun pada pertemuan sebelumnya (5 menit).
- Setiap kelompok berlatih memainkan lakon dengan pembacaan naskah dialog secara kolaboratif, menerapkan satu gaya realis sederhana dengan penekanan ekspresi karakter tokoh masing-masing (10 menit).
- Masing-masing kelompok secara bergiliran memainkan lakon di depan kelas melalui pembacaan naskah dialog kelompok karya sendiri dengan satu gaya sederhana yang ekspresif, sementara guru melakukan observasi penilaian formatif (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama kelompok mengevaluasi penghayatan ekspresi dan keselarasan gaya lakon yang baru saja dimainkan dalam pembacaan dialog naskah kelompok (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan apresiasi dan umpan balik atas penerapan gaya sederhana dalam pembacaan naskah dialog kelompok yang telah ditampilkan (5 menit).
- Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran mengenai pentingnya konsistensi gaya ekspresif saat memainkan lakon lewat naskah dialog, serta mengingatkan kelompok untuk membawa naskah final pada pertemuan berikutnya untuk asesmen sumatif (4 menit).
- Guru memimpin doa penutup dan mengakhiri sesi pembelajaran (1 menit).
Diferensiasi:- Konten: Kelompok yang memerlukan bimbingan membaca naskah dialog dengan tanda jeda emosi yang diberi tanda garis miring (/), sedangkan kelompok yang mahir membaca naskah dialog tanpa panduan tanda tambahan.
- Proses: Murid yang masih ragu mengekspresikan lakon didampingi guru melalui pemodelan intonasi dialog satu per satu kalimat, sedangkan kelompok yang sudah lancar berlatih mandiri mengeksplorasi variasi ekspresi dialog antartokoh.
- Produk: Kelompok membaca adegan dialog kepahlawanan karya sendiri dengan rentang durasi pembacaan naskah 2 hingga 4 menit sesuai kesiapan dan panjang naskah kelompok.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Uji petik membaca satu kalimat dialog kepahlawanan ('Kita tidak boleh mundur, pertahankan tanah ini!') dengan gaya realis wajar untuk mengukur kesiapan memainkan ekspresi lakon (acuan: terbaca dengan penekanan emosi wajar sesuai karakter pahlawan, bukan datar/monoton).
Proses:- Penilaian formatif saat pembacaan naskah dialog kelompok dengan memeriksa penerapan satu gaya lakon sederhana (realis wajar) dan kesesuaian ekspresi dialog dengan karakter peran tokoh yang dibawakan.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman dan refleksi singkat di akhir sesi: murid menyebutkan satu tantangan utama dalam menjaga keselarasan gaya lakon sederhana saat membaca naskah dialog bersama anggota kelompok.
Formatif:- Observasi unjuk kerja pembacaan naskah dialog kelompok menggunakan lembar observasi permainan lakon satu gaya sederhana yang ekspresif
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Penerapan Satu Gaya Lakon Sederhana dalam Pembacaan Naskah Dialog | Belum mampu menerapkan gaya sederhana; pembacaan naskah dialog masih datar tanpa ekspresi lakon karakter. | Mulai menerapkan gaya sederhana dalam pembacaan naskah dialog, namun ekspresi karakter sesekali masih tidak konsisten atau berubah-ubah. | Mampu memainkan lakon dengan satu gaya sederhana secara konsisten dan ekspresif sesuai watak karakter tokoh sepanjang pembacaan naskah dialog. | Mampu memainkan lakon dengan satu gaya sederhana secara sangat konsisten, ekspresif, dan berpadu selaras dengan pemain lain dalam kelompok sepanjang pembacaan naskah dialog. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah murid telah mampu menunjukkan ekspresi emosi karakter yang wajar dalam memainkan lakon dengan satu gaya sederhana?
- Bagaimana keterlibatan dan kekompakan tiap anggota kelompok dalam membagi giliran pembacaan naskah dialog?
Murid:- Apakah saya sudah berhasil mengekspresikan emosi karakter pahlawan dalam naskah dialog yang saya baca?
- Apa bagian yang paling menantang saat memainkan lakon bersama anggota kelompok menggunakan gaya sederhana?
Pertemuan 9 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.4.1 Mengidentifikasi karakter melalui analisis sosiologis tokoh cerita pahlawan nasional untuk naskah teater
- TP 7.4.2 Mengidentifikasi karakter dalam sebuah cerita kepahlawanan untuk bahan penulisan naskah drama
- TP 7.4.3 Menyusun alur cerita sederhana yang jelas dan mudah dipahami dari peristiwa kepahlawanan ke dalam susunan adegan naskah
- TP 7.4.4 Memainkan lakon dengan satu gaya yang sederhana dan mudah dipelajari melalui pembacaan naskah dialog karya sendiri
Pendahuluan:- Guru membuka sesi asesmen sumatif dengan salam, doa bersama, dan mengecek kehadiran murid (2 menit).
- Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif Bab 4, yaitu pengumpulan portofolio draf naskah drama kepahlawanan kelompok dan unjuk kerja dramatic reading naskah dialog beregu dengan satu gaya sederhana (3 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Murid dalam kelompok (4-5 orang) menyimak penjelasan guru mengenai teknis asesmen sumatif: finalisasi portofolio draf naskah (Tugas 1) dan urutan penampilan unjuk kerja dramatic reading berdurasi 5 menit per kelompok untuk 6 kelompok (Tugas 2) sesuai rubrik penilaian (5 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- TUGAS 1 — PENUGASAN PORTOFOLIO NASKAH: Kelompok secara mandiri melakukan finalisasi lembar kerja draf naskah drama kepahlawanan kelompok (durasi 35 menit). Naskah wajib memuat 3 komponen terpadu sesuai acuan: (1) Analisis sosiologis tokoh pahlawan: kedudukan sosial (misal: bangsawan, prajurit, rakyat jelata) dan relasi sosial antartokoh (misal: pemimpin-pengikut, sekutu, pihak lawan); (2) Daftar identifikasi karakter kepahlawanan: penetapan tokoh utama dan tokoh pendukung beserta peran dramatiknya (protagonis/antagonis/tritagonis); (3) Bagan struktur alur adegan: alur awal (eksposisi/pengenalan latar & tokoh), konflik (peristiwa pertentangan/benturan tujuan), dan penyelesaian (resolusi akhir peristiwa kepahlawanan). Seluruh naskah kelompok dikumpulkan tepat waktu ke meja guru (35 menit).
- TUGAS 2 — UNJUK KERJA DRAMATIC READING: Setiap kelompok (total 6 kelompok) secara bergantian tampil di depan kelas menampilkan pembacaan naskah dialog beregu karya sendiri berdurasi 5 menit per kelompok (6 kelompok x 5 menit = 30 menit). Penampilan dinilai guru menggunakan lembar observasi unjuk kerja dengan 3 kriteria ketercapaian: (1) kejelasan artikulasi dan vokal (pengucapan kata naskah terdengar jelas dan tepat bunyi), (2) penghayatan peran sesuai karakter tokoh kepahlawanan yang dibawakan, dan (3) konsistensi penerapan satu gaya pembacaan lakon sederhana (gaya teatrikal realis sederhana atau deklamatoris kepahlawanan) secara utuh dari awal hingga akhir adegan (30 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid secara individu merefleksikan proses penulisan naskah drama kepahlawanan dan pengalaman memainkan lakon melalui dramatic reading dalam satu lembar catatan refleksi singkat (2 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik umum terhadap keseluruhan pelaksanaan asesmen sumatif portofolio naskah dan dramatic reading kelas VII (2 menit).
- Guru merangkum pencapaian pembelajaran Bab 4 tentang Menulis Naskah Teater, mengapresiasi kerja sama seluruh kelompok, dan menutup pertemuan dengan doa serta salam (1 menit).
Diferensiasi:- Konten: Akomodasi akses: naskah cetak disediakan dengan ukuran font lebih besar bagi murid dengan hambatan penglihatan.
- Proses: Akomodasi akses: posisi berdiri/duduk saat dramatic reading disesuaikan dengan kenyamanan gerak murid tanpa mengubah kriteria penilaian vokal, penghayatan, dan gaya pembacaan lakon.
- Produk: Standar bukti produk portofolio dan unjuk kerja dramatic reading tetap sama untuk seluruh murid sesuai acuan rubrik sumatif.
Asesmen Pertemuan:Sumatif Bab:- Portofolio draf naskah drama kepahlawanan dan unjuk kerja pembacaan naskah (dramatic reading): Dokumen naskah drama pendek kepahlawanan memuat analisis karakter sosiologis, daftar tokoh, dan bagan alur adegan, serta rekaman/penampilan pembacaan naskah dialog beregu dengan satu gaya sederhana
- Penugasan tertulis penyusunan draf naskah: Lembar kerja naskah drama kelompok (4-5 murid) yang memuat analisis sosiologis tokoh pahlawan (kedudukan dan relasi sosial), daftar identifikasi karakter beserta perannya, dan bagan alur adegan cerita yang runtut dan jelas (45 menit; kelompok; instrumen: Rubrik penilaian penulisan naskah (analisis sosiologis, penokohan, dan struktur alur adegan))
- Unjuk kerja pembacaan naskah (dramatic reading): Penampilan pembacaan naskah dialog karya sendiri secara berkelompok di depan kelas dengan durasi 5 menit per kelompok (6 kelompok x 5 menit = 30 menit) menerapkan satu gaya pembacaan lakon sederhana yang ekspresif dan artikulatif (35 menit; kelompok; instrumen: Rubrik unjuk kerja pembacaan naskah (kejelasan vokal/artikulasi, penghayatan peran, dan konsistensi gaya sederhana))
Sumatif:- Portofolio draf naskah drama kepahlawanan dan unjuk kerja pembacaan naskah (dramatic reading): Dokumen naskah drama pendek kepahlawanan memuat analisis karakter sosiologis, daftar tokoh, dan bagan alur adegan, serta rekaman/penampilan pembacaan naskah dialog beregu dengan satu gaya sederhana
- Penugasan tertulis penyusunan draf naskah: Lembar kerja naskah drama kelompok (4-5 murid) yang memuat analisis sosiologis tokoh pahlawan (kedudukan dan relasi sosial), daftar identifikasi karakter beserta perannya, dan bagan alur adegan cerita yang runtut dan jelas (45 menit; kelompok; instrumen: Rubrik penilaian penulisan naskah (analisis sosiologis, penokohan, dan struktur alur adegan))
- Unjuk kerja pembacaan naskah (dramatic reading): Penampilan pembacaan naskah dialog karya sendiri secara berkelompok di depan kelas dengan durasi 5 menit per kelompok (6 kelompok x 5 menit = 30 menit) menerapkan satu gaya pembacaan lakon sederhana yang ekspresif dan artikulatif (35 menit; kelompok; instrumen: Rubrik unjuk kerja pembacaan naskah (kejelasan vokal/artikulasi, penghayatan peran, dan konsistensi gaya sederhana))
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Analisis Sosiologis Tokoh Pahlawan (TP 7.4.1 - Draf Naskah) | Belum mencantumkan kedudukan sosial maupun relasi sosial tokoh pahlawan dalam draf naskah (acuan: kedudukan sosial dan relasi antartokoh tidak teridentifikasi). | Mencantumkan salah satu antara kedudukan sosial atau relasi sosial tokoh pahlawan dalam cerita secara terbatas (acuan: hanya memuat kedudukan sosial atau hanya relasi antartokoh). | Mengidentifikasi kedudukan sosial tokoh pahlawan dan relasi sosialnya dengan tokoh lain dalam naskah secara tepat (acuan: memuat status kedudukan sosial tokoh dan relasi hubungan kerja sama/konflik antartokoh). | Mengidentifikasi kedudukan sosial tokoh pahlawan dan relasi sosial antartokoh secara mendalam, lengkap dengan pengaruhnya terhadap pilihan sikap dan dialog tokoh dalam naskah (acuan: status, jejaring relasi sosial, dan dampaknya pada tindakan tokoh terurai runtut). | | Identifikasi Karakter Tokoh Kepahlawanan (TP 7.4.2 - Draf Naskah) | Belum membedakan peran tokoh dalam naskah cerita kepahlawanan (acuan: daftar tokoh tidak terpilah antara tokoh utama dan pendukung). | Mengidentifikasi nama tokoh utama namun belum memilah tokoh pendukung dan peranan dramatiknya dalam cerita kepahlawanan. | Mengidentifikasi tokoh utama dan tokoh pendukung beserta peran perwatakan kepahlawanannya secara tepat dalam naskah (acuan: peran protagonis pahlawan dan tokoh pendukung teridentifikasi jelas). | Mengidentifikasi seluruh karakter tokoh utama dan pendukung beserta fungsi dramatik dan perannya dalam membangun dinamika cerita kepahlawanan secara utuh dan detail. | | Penyusunan Alur Adegan Cerita Kepahlawanan (TP 7.4.3 - Draf Naskah) | Bagan adegan belum membentuk struktur alur cerita (acuan: tidak tampak bagian awal, konflik, maupun penyelesaian). | Menyusun adegan namun bagian konflik atau penyelesaian cerita kepahlawanan belum tersusun secara runtut. | Menyusun alur adegan cerita kepahlawanan secara runtut dan jelas meliputi bagian awal (pengenalan), pemunculan konflik, dan penyelesaian (acuan: ketiga bagian alur hadir terhubung secara logis). | Menyusun alur adegan peristiwa kepahlawanan yang sangat padu, jelas, dan mudah dipahami dengan peralihan konflik menuju penyelesaian yang terbangun runtut dalam tiap adegan. | | Memainkan Lakon Lewat Pembacaan Naskah Dialog (TP 7.4.4 - Dramatic Reading) | Membaca naskah tanpa artikulasi vokal yang jelas dan belum menerapkan gaya pembacaan lakon (acuan: kata-kata tidak terdengar jelas, ekspresi vokal datar tanpa gaya). | Membaca naskah dengan artikulasi yang cukup terdengar, namun penerapan gaya lakon sederhana dan penghayatan karakter belum konsisten sepanjang adegan. | Memainkan lakon melalui pembacaan naskah dialog dengan artikulasi vokal yang jelas, penghayatan peran yang sesuai, dan konsisten menerapkan satu gaya lakon sederhana dari awal hingga akhir (acuan: vokal terdengar jelas, karakter hidup, satu gaya terjaga). | Memainkan lakon melalui pembacaan naskah dialog dengan artikulasi vokal yang sangat jernih dan bervolume mantap, penghayatan karakter kepahlawanan yang mendalam, serta penguasaan satu gaya lakon sederhana secara sangat konsisten dan memikat. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 35 menit penugasan portofolio naskah dan 30 menit dramatic reading terlaksana secara tertib dan adil bagi keenam kelompok?
- Bagaimana pencapaian murid kelas 7 secara keseluruhan pada keempat TP Bab 4 setelah melihat bukti draf naskah dan unjuk kerja dramatic reading?
Murid:- Bagian mana dari naskah drama kelompok kami (karakter sosiologis, penokohan, atau alur adegan) yang paling berhasil kami kembangkan?
- Apa tantangan terbesar yang saya dan kelompok rasakan saat menampilkan dramatic reading dengan artikulasi jelas dan satu gaya sederhana di depan kelas?
SUMBER BELAJAR- Buku Panduan Guru Seni Teater SMP/MTs Kelas VII (Edisi Revisi), Pusat Perbukuan Balai Pustaka/Kemendikbudristek 2024
- Kartu teks profil ringkas pahlawan nasional (R.A. Kartini, Kapitan Pattimura, Cut Nyak Dien)
- Lembar Identifikasi Sosiologis Tokoh Pahlawan
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SMP/MTs Kelas VII (Kemendikbudristek, 2024)
- Lembar Kerja Detektif Relasi Tokoh Pahlawan Nasional
- Kartu Narasi Relasi Sosial Pahlawan Nasional (Cut Nyak Dien, Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanuddin, Jenderal Soedirman)
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SMP/MTs Kelas VII (Kemendikbudristek, 2023)
- Lembar teks narasi ringkas peristiwa 'Pertempuran Surabaya 1945'
- Kartu tindakan 'Detektif Tokoh'
- Lembar Identifikasi Karakter Tokoh
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SMP/MTs Kelas VII (Edisi Revisi), Penulis: Ries Muhammad Effendy & Ibe Karyanto, Kemendikbudristek 2023
- Lembar penggalan teks narasi peristiwa sejarah kepahlawanan: 'Peristiwa Rengasdengklok: Benturan Pemuda dan Golongan Tua'
- Set kartu pasangan karakter dan skenario konflik drama kepahlawanan
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SMP/MTs Kelas VII (Edisi Revisi, Puskurbuk 2021/2024)
- Ringkasan teks kisah sejarah perjuangan Pangeran Diponegoro dan Sultan Hasanuddin
- Kartu tantangan urutan babak 'Susun Babak Pahlawan'
- Lembar Kerja Kerangka Alur Naskah Tiga Adegan
- Buku Panduan Guru Seni Teater SMP/MTs Kelas VII (Edisi Revisi)
- Buku Panduan Siswa Seni Teater Kelas VII
- Lembar Kerja Siswa: Format Penulisan Naskah Drama Adegan dan Dialog
- Strip teks latihan urutan dialog kepahlawanan Sultan Hasanuddin
- Buku Panduan Guru Seni Teater SMP Kelas VII
- Teks draf naskah dialog karya murid
- Ruang kelas berakustik wajar untuk latihan vokal
- Draf Naskah Drama Kepahlawanan karya kelompok murid
- Teks contoh kutipan adegan dialog drama kepahlawanan
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SMP/MTs Kelas VII (Kemendikbudristek RI, 2024)
- Draf naskah drama kepahlawanan kelompok hasil kerja mandiri murid
- Lembar rubrik penilaian asesmen sumatif Bab 4
|