MODUL AJAR Seni Teater — Kelas 7 (Fase D) Topik: Bab 3 — Kreativitas Laku Pemeran INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | Seni Teater |
|---|
| Fase / Kelas | Fase D / Kelas 7 |
|---|
| Topik | Bab 3 — Kreativitas Laku Pemeran |
|---|
| Alokasi Waktu | 12 JP (12 x 40 menit = 480 menit) |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 6 |
|---|
| Tahun Ajaran | 2026/2027 |
|---|
| Semester | 1 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- TP 7.3.1 Mengidentifikasi karakter melalui analisis sosiologis tokoh dalam lakon
- TP 7.3.2 Mengeksplorasi olah tubuh sebagai dasar keaktoran murid dalam mewujudkan motif gerak
- TP 7.3.3 Memainkan karakter dengan imajinasi dan kreativitasnya melalui penerapan teknik muncul dan teknik pengembangan laku pemeran
- TP 7.3.4 Memainkan peran dalam sebuah pertunjukan sederhana di kelas dengan memperhatikan komposisi panggung
- TP 7.3.5 Menjelaskan pengalaman bermain peran dan dampaknya terhadap diri sendiri
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | | | Kewargaan | | | Penalaran Kritis | ✓ | | Kreativitas | ✓ | | Kolaborasi | ✓ | | Kemandirian | ✓ | | Kesehatan | ✓ | | Komunikasi | |
PERTANYAAN PEMANTIK- Mengapa latar belakang pekerjaan, lingkungan tempat tinggal, dan status sosial seseorang dapat memengaruhi cara ia berbicara atau bertindak?
- Bagaimana kita mengenali sifat dan peran seorang tokoh dalam naskah lakon hanya dengan melihat hubungan sosialnya dengan tokoh lain?
- Mengapa setiap gerakan yang dilakukan seorang aktor di atas panggung harus memiliki alasan atau motif di baliknya?
- Bagaimana bagian-bagian tubuh kita dapat digerakkan secara berbeda ketika kita memiliki dorongan atau tujuan tertentu?
- Bagaimana seorang pemeran dapat menarik perhatian penonton sejak detik pertama ia melangkahkan kaki memasuki panggung?
- Bagaimana caramu mengembangkan tindakan fisik karakter agar tidak terlihat kaku atau berulang-ulang di atas panggung?
- Bagaimana posisi berdiri dan perpindahan tempat seorang pemeran di panggung dapat membuat adegan terlihat seimbang bagi penonton?
- Apa yang terjadi pada pertunjukan jika semua pemeran menumpuk di satu sudut panggung?
- Apa perasaan dan tantangan yang paling berkesan saat kamu memerankan tokoh dalam latihan dan pementasan sebelumnya?
- Bagaimana penghayatan karakter tersebut memengaruhi caramu bersikap, memahami perasaan orang lain, atau mengendalikan diri dalam kehidupan sehari-hari?
- Bagaimana latar belakang status sosial seorang tokoh dapat memengaruhi motif gerak dan cara berjalannya di atas panggung?
- Mengapa teknik muncul dan kesadaran komposisi panggung sangat menentukan keberhasilan penampilan adegan teater kelompok?
- Pelajaran berharga apa yang kamu dapatkan tentang dirimu sendiri setelah memainkan karakter orang lain?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1 — Mengidentifikasi Karakter Tokoh Melalui Analisis Sosiologis dalam Lakon — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.3.1 Mengidentifikasi karakter melalui analisis sosiologis tokoh dalam lakon
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu mengidentifikasi karakter tokoh melalui analisis sosiologis dalam lakon (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat: murid menyimak kutipan cuplikan 'Pak Joko, mandor pasar yang tegas pada kuli angkut tetapi tunduk pada lurah' lalu diminta menyebutkan status sosial dan peran relasional Pak Joko (acuan: status sosial = mandor/pekerja tingkat menengah; peran relasional = atasan bagi kuli angkut, bawahan bagi lurah) (7 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Menggembirakan, Bermakna):- Murid menyimak penjelasan konsep dimensi sosiologis karakter lakon teater yang mencakup 3 indikator: (1) status/kelas sosial atau pekerjaan, (2) lingkungan pergaulan/tempat tinggal, dan (3) relasi/hubungan dengan tokoh lain dalam cerita (10 menit).
- Dalam format kuis cepat yang menggembirakan 'Tebak Status Sosial Tokoh', murid berpasangan mencocokkan 3 profil tokoh pendek dengan kategori sosiologisnya: (a) Tokoh Bu Siti (penjual jamu keliling di gang padat), (b) Raden Mas Arya (bangsawan terpelajar di kadipaten), (c) Deni (ketua OSIS SMP di perkotaan) (acuan ketepatan: a = masyarakat pekerja informal/lingkungan urban padat; b = kelas bangsawan/aristokrat feodal; c = pelajar/organisatoris sekolah urban) (10 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Murid membaca naskah lakon pendek 'Perselisihan di Pasar Desa' yang memuat 3 tokoh: Pak RT Surya (pemimpin warga yang bijak), Marta (pedagang muda perantau yang gigih), dan Bu Endang (tengkulak pasar yang dominan) (10 menit).
- Murid secara berpasangan mengisi Lembar Kerja Analisis Sosiologis untuk mengidentifikasi 3 indikator sosiologis dari ketiga tokoh tersebut: pekerjaan/status sosial, lingkungan sosial, dan relasi antartokoh berdasarkan bukti teks kutipan dialog lakon (acuan: Pak RT Surya = aparat desa/lingkungan balai warga/penengah perselisihan; Marta = pedagang kecil/lingkungan lapak pasar/pihak berutang; Bu Endang = pemilik modal/lingkungan perniagaan pasar/pemberi pinjaman dominan) (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Perwakilan pasangan membandingkan temuan hasil identifikasi karakter tokoh secara sosiologis dengan kelompok lain, memeriksa apakah ada bukti dialog yang terlewatkan mengenai latar belakang sosial tokoh (10 menit).
- Murid bersama guru menyimpulkan bagaimana analisis sosiologis membantu memahami motif, posisi kekuasaan, dan cara bersikap tokoh dalam lakon teater secara objektif (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap hasil identifikasi sosiologis murid dan menyampaikan umpan balik kelas (3 menit).
- Murid mengerjakan asesmen akhir berupa 2 pertanyaan cek pemahaman tertulis singkat terkait analisis sosiologis karakter dan menutup pertemuan dengan doa (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan naskah dengan penandaan visual (highlight) bukti sosiologis untuk murid yang memerlukan bimbingan, serta naskah lengkap tanpa penanda untuk murid yang sudah mahir.
- Proses: Memberikan panduan pertanyaan pemandu identifikasi sosiologis bagi murid yang membutuhkan scaffolding, dan memberikan kesempatan mandiri bagi murid cepat.
- Produk: Format identifikasi berupa tabel isian terstruktur dengan pilihan bantuan untuk murid berkesulitan, atau uraian tabel komparasi mandiri untuk murid mahir.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik di pendahuluan: murid menyimak kutipan profil singkat 'Pak Joko, mandor pasar yang tegas pada kuli angkut tetapi tunduk pada lurah' lalu diminta menyebutkan status sosial dan relasi perannya (acuan: status sosial = mandor/pekerja tingkat menengah; relasi peran = atasan kuli angkut dan bawahan lurah).
Proses:- Pemeriksaan ketepatan pengisian Lembar Kerja Analisis Sosiologis pada tahap Mengaplikasi dengan acuan 3 tokoh: Pak RT Surya (status: pamong warga; lingkungan: balai desa; relasi: penengah netral), Marta (status: pedagang kecil/perantau; lingkungan: lapak pasar; relasi: pihak tertekan utang), dan Bu Endang (status: tengkulak bermodal; lingkungan: asosiasi dagang pasar; relasi: penagih dominan terhadap Marta).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman tertulis 2 butir pada penutup: (1) Sebutkan 2 aspek sosiologis yang dapat diidentifikasi dari tokoh Bu Endang dalam lakon tadi! (acuan: pekerjaan sebagai tengkulak pasar dan relasinya yang dominan/pemberi pinjaman terhadap Marta); (2) Mengapa latar belakang lingkungan tokoh Marta memengaruhi kedudukannya dalam konflik pasar? (acuan: karena statusnya sebagai pedagang kecil perantau membuatnya berada pada posisi tawar yang lemah secara ekonomi).
Formatif:- Penilaian unjuk kerja pengisian Lembar Kerja Analisis Sosiologis Karakter Tokoh pada naskah lakon 'Perselisihan di Pasar Desa'.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Ketepatan Mengidentifikasi Status/Pekerjaan Tokoh | Belum tepat mengidentifikasi status/pekerjaan ketiga tokoh dalam lakon sesuai acuan. | Tepat mengidentifikasi status/pekerjaan 1 dari 3 tokoh dalam lakon sesuai acuan. | Tepat mengidentifikasi status/pekerjaan 2 dari 3 tokoh dalam lakon sesuai acuan. | Tepat mengidentifikasi status/pekerjaan seluruh 3 tokoh (Pak RT Surya, Marta, Bu Endang) dalam lakon sesuai acuan secara mandiri. | | Ketepatan Mengidentifikasi Lingkungan Sosial Tokoh | Belum tepat mengidentifikasi lingkungan sosial ketiga tokoh dalam lakon sesuai acuan teks dialog. | Tepat mengidentifikasi lingkungan sosial 1 dari 3 tokoh dalam lakon sesuai acuan teks dialog. | Tepat mengidentifikasi lingkungan sosial 2 dari 3 tokoh dalam lakon sesuai acuan teks dialog. | Tepat mengidentifikasi lingkungan sosial seluruh 3 tokoh dalam lakon sesuai acuan teks dialog secara lengkap. | | Ketepatan Mengidentifikasi Relasi Antartokoh | Belum tepat mengidentifikasi hubungan sosial/relasi antartokoh dalam naskah lakon sesuai acuan. | Tepat mengidentifikasi relasi antartokoh untuk 1 tokoh terhadap tokoh lain dalam lakon sesuai acuan. | Tepat mengidentifikasi relasi antartokoh untuk 2 tokoh terhadap tokoh lain dalam lakon sesuai acuan. | Tepat mengidentifikasi relasi antartokoh untuk seluruh tokoh (hubungan Pak RT-Marta-Bu Endang) dalam lakon sesuai acuan secara terperinci. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah teks lakon pendek yang disediakan memuat petunjuk sosiologis yang cukup jelas bagi murid kelas 7?
- Bagaimana keterlibatan pasangan murid dalam mendiskusikan bukti sosiologis tokoh dari teks dialog?
Murid:- Aspek sosiologis apa (pekerjaan, lingkungan, atau relasi) yang paling mudah kamu kenali dari tokoh dalam naskah?
- Bagaimana pemahaman tentang status sosial tokoh membantumu membayangkan karakter tokoh tersebut?
Pertemuan 2 — Mengeksplorasi Olah Tubuh Keaktoran dalam Mewujudkan Motif Gerak — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.3.2 Mengeksplorasi olah tubuh sebagai dasar keaktoran murid dalam mewujudkan motif gerak
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memimpin doa bersama untuk kesiapan belajar (3 menit).
- Guru memandu pemanasan olah tubuh dasar (peregangan leher, bahu, pinggang, pergelangan tangan, dan peregangan kaki) agar tubuh murid lentur dan siap bergerak (7 menit).
- Guru memberikan asesmen awal diagnostik melalui instruksi gerak spontan: murid diminta melakukan satu gerakan tangan/kaki bebas, lalu menyebutkan alasan di balik gerakan tersebut (kriteria penerimaan: murid dapat menyebutkan alasan/tujuan fisik konkret dari gerakannya, misalnya 'menggaruk karena gatal' atau 'menangkis karena takut terpukul') (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru memaparkan konsep dasar olah tubuh dan motif gerak dalam keaktoran, menegaskan bahwa tubuh adalah media utama pemeran dan setiap gerak panggung digerakkan oleh motif (alasan/tujuan batiniah yang mewujud ke fisik) (5 menit).
- Guru memperagakan perbandingan gerak: (1) Gerak tanpa motif: berjalan mekanis tanpa tujuan; (2) Gerak berpatokan motif: berjalan tergesa-gesa karena menghindari hujan lebat, lalu meminta murid mengamati perbedaan ketegangan otot dan tempo langkah (5 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):- Permainan Menggembirakan 'Patung Bermotif': Guru membunyikan ketukan rebana/tangan; murid bergerak bebas di ruang kelas. Saat ketukan berhenti, guru menyerukan satu motif gerak secara acak dan murid membeku dalam pose tubuh yang mewujudkan motif tersebut (10 menit).
- Murid secara individu melakukan eksplorasi olah tubuh mandiri berdasarkan 4 kartu skenario motif gerak yang dibagikan guru: Kartu 1 (Motif: Mengendap-endap mengambil barang rahasia di atas meja tinggi tanpa menimbulkan bunyi sedikit pun); Kartu 2 (Motif: Menahan beban berat seolah memikul karung beras sambil menaiki tanjakan curam); Kartu 3 (Motif: Kelelahan hebat setelah berlari menghindari badai debu lalu mencari tempat duduk berteduh); Kartu 4 (Motif: Mencari benda kecil berharga yang terjatuh di lantai yang dipenuhi pecahan kaca) (15 menit).
- Murid menampilkan hasil eksplorasi rangkaian 4 motif gerak tubuh tersebut secara bergantian di area tengah kelas, sementara guru melakukan observasi keterwujudan motif gerak lewat perubahan postur, dinamika tenaga (berat/ringan), dan tempo (lambat/cepat) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid melakukan pendinginan tubuh dengan meditasi hening, memejamkan mata, mengatur irama napas relaksasi selama 2 menit, lalu membuka mata secara perlahan (5 menit).
- Murid mengidentifikasi bagian tubuh mana yang paling responsif dan bagian mana yang terasa kaku saat mencoba mewujudkan motif gerak tadi ke dalam jurnal gerak singkat (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan asesmen akhir berupa cek pemahaman lisan terarah: murid menyebutkan hubungan antara motif dengan penggunaan energi tubuh saat bergerak (kriteria penerimaan: menyatakan bahwa motif menentukan besar-kecilnya tenaga, ketegangan otot, atau arah gerak tubuh) (3 menit).
- Guru memberikan apresiasi atas eksplorasi fisik murid dan menutup pertemuan dengan yel-yel penyemangat serta doa bersama (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan 2 kartu motif gerak berlevel aksi langsung (Kartu 1 dan Kartu 2), sedangkan murid yang lebih cepat diberikan seluruh 4 kartu skenario yang memuat kombinasi tantangan ruang dan beban rintangan tubuh.
- Proses: Murid yang mengalami kendala kelenturan atau kontrol gerak didampingi guru dengan bimbingan tempo ketukan perlahan; murid yang mahir diarahkan mengeksplorasi variasi level ruang tubuh (tinggi, sedang, rendah) secara mandiri.
- Produk: Semua murid mewujudkan motif gerak tubuh; bagi murid pemula dinilai dari kejelasan perubahan satu bagian tubuh utama (kaki/tangan), sedangkan murid mahir dinilai dari koordinasi postur seluruh tubuh dari kepala hingga ujung kaki.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Peragaan diagnostik gerak spontan berdurasi 10 detik dan penjelasan alasan/motif gerak secara lisan (kriteria penerimaan: gerakan tubuh disertai alasan tindakan fisik yang logis, misalnya mengangkat lengan untuk menutupi kepala karena ada benda jatuh).
Proses:- Pengamatan langsung lembar observasi guru saat murid mengeksplorasi 4 kartu skenario gerak keaktoran: ketepatan koordinasi anggota tubuh, variasi tenaga (berat/ringan), dan tempo langkah sesuai motif yang dimainkan.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan penutup mengenai fungsi motif dalam olah tubuh keaktoran (kriteria penerimaan: murid menjelaskan bahwa motif berfungsi sebagai alasan/jiwa yang mengarahkan arah, tenaga, dan bentuk gerak fisik aktor).
Formatif:- Observasi unjuk kerja eksplorasi olah tubuh saat mewujudkan 4 motif gerak kartu skenario (fokus pada keselarasan gerak tubuh dengan motif tindakan).
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Eksplorasi Olah Tubuh dalam Mewujudkan Motif Gerak | Hanya mampu menggerakkan anggota tubuh tanpa menampakkan keterkaitan dengan motif pada 4 skenario latihan (gerakan mekanis tanpa dinamika tenaga/tempo). | Mampu mengeksplorasi olah tubuh yang sesuai dengan motif gerak secara tepat pada 1 hingga 2 kartu skenario dari total 4 skenario yang diberikan. | Mampu mengeksplorasi olah tubuh yang mewujudkan motif gerak secara tepat pada 3 kartu skenario dari total 4 skenario dengan perubahan tenaga dan tempo yang jelas. | Mampu mengeksplorasi olah tubuh yang mewujudkan motif gerak secara mandiri dan tepat pada seluruh 4 kartu skenario (mengendap-endap, menahan beban berat, kelelahan mencari tempat duduk, mencari benda di lantai licin/kaca) dengan koordinasi gerak tubuh yang utuh dan konsisten. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah instruksi dan stimulasi permainan 'Patung Bermotif' efektif memicu kesadaran gerak tubuh murid?
- Bagian latihan olah tubuh mana yang paling sulit dieksplorasi oleh murid dan membutuhkan modifikasi bimbingan fisik pada pertemuan berikutnya?
Murid:- Sensasi fisik apa yang kamu rasakan pada otot dan napasmu saat menggerakkan tubuh dengan motif membawa beban berat dibandingkan mengendap-endap?
- Bagian tubuh mana yang paling mudah dan paling sulit kamu kendalikan saat mengeksplorasi gerak tadi?
Pertemuan 3 — Memainkan Karakter dengan Imajinasi dan Kreativitas Melalui Penerapan Teknik Muncul dan Teknik Pengembangan Laku Pemeran — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.3.3 Memainkan karakter dengan imajinasi dan kreativitasnya melalui penerapan teknik muncul dan teknik pengembangan laku pemeran
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan memandu pemanasan peregangan kesadaran tubuh sederhana (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal singkat: guru meminta 3 relawan murid memperagakan masuk ke area depan kelas dengan satu kondisi emosi acak dari 3 pilihan berikut: (1) tergesa-gesa karena terlambat, (2) mengendap-endap takut ketahuan, atau (3) lunglai karena kelelahan berat, untuk memetakan kesiapan laku awal peran murid (acuan ketercapaian: murid langsung menunjukkan postur dan tempo langkah yang mencerminkan kondisi emosi tersebut sejak langkah pertama memasuki area) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Guru mendemonstrasikan dua konsep kunci: teknik muncul (entering—kesiapan emosi, fokus, dan bentuk fisik karakter sebelum dan saat pertama kali masuk panggung) serta teknik pengembangan laku (menaikkan intensitas laku, variasi tempo gerak lambat-cepat, dan variasi ruang/level tinggi-sedang-rendah agar laku karakter berkembang dinamis) (10 menit).
- Murid secara serentak di tempat masing-masing mempraktikkan eksplorasi imajinasi laku terbimbing: merespons aba-aba perubahan intensitas laku dari level tenang (intensitas 1), mulai gelisah (intensitas 2), hingga sangat panik/tertekan (intensitas 3) (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru membagikan tantangan berpasangan/individu berupa 3 skenario situasi laku konkret: Skenario A: Seorang detektif pemalu yang mencari buku catatan rahasia di bawah meja; Skenario B: Seorang penjaga toko tua yang sangat teliti dan mencurigai suara gemerisik di sudut ruangan; Skenario C: Seorang murid tergesa-gesa yang menyelinap masuk kelas untuk mengembalikan barang temuan tanpa terlihat (5 menit).
- Murid memainkan karakter pilihan dari salah satu skenario tersebut secara bergiliran di area panggung kelas dengan menerapkan teknik muncul (memasuki panggung dengan karakter utuh) dan teknik pengembangan laku (variasi tempo dan perubahan intensitas laku secara kreatif) selama 1-2 menit per anak (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid duduk melingkar dan melakukan refleksi terbimbing mengenai pengalaman memainkan karakter: mengidentifikasi apa yang dirasakan saat pertama kali muncul di panggung serta bagaimana imajinasi membantu menciptakan variasi laku tubuh (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik berbasis pengamatan formatif terhadap eksplorasi teknik muncul dan pengembangan laku yang telah dimainkan murid (5 menit).
- Guru mengajak murid melakukan pendinginan relaksasi pernapasan (hening/meditasi 1 menit) untuk mengembalikan energi tubuh, kemudian menutup sesi pembelajaran dengan yel-yel penyemangat (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan skenario dengan petunjuk motif fisik eksplisit (misal: 'berjalan lambat, berhenti sejenak, menoleh cepat'); murid yang mahir diberikan skenario terbuka dengan kebebasan mengeksplorasi motif laku dan pengembangan tempo yang lebih kompleks.
- Proses: Latihan dapat dilakukan secara mandiri atau berpasangan bergantian saling memberi aba-aba motif gerak sebelum unjuk laku di panggung.
- Produk: Keberagaman variasi laku tubuh dan ekspresi karakter yang dimainkan sesuai imajinasi dan interpretasi masing-masing murid.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Peragaan cepat 1 langkah muncul di depan kelas berdasarkan 3 kondisi emosi acak: (1) tergesa-gesa, (2) mengendap-endap, (3) lunglai karena kelelahan (kriteria acuan ketercapaian: murid mampu menunjukkan kesiapan fisik dan postur karakter yang selaras dengan kondisi emosi sejak langkah pertama melintasi garis panggung tanpa ragu/tertawa).
Proses:- Pengamatan langsung saat murid memainkan adegan skenario di panggung kelas, memantau 2 indikator: (1) ketepatan penerapan teknik muncul (kehadiran karakter utuh saat masuk), dan (2) kreativitas pengembangan laku (adanya variasi tempo gerak dan perubahan intensitas laku pemeran sesuai karakter yang dimainkan).
Akhir Pertemuan:- Umpan balik lisan langsung dan cek pemahaman diri di akhir sesi: murid menyebutkan satu variasi laku (perubahan tempo atau intensitas) yang berhasil mereka kembangkan sendiri saat memainkan karakter di panggung (kriteria penerimaan: murid dapat menyebutkan tindakan fisik konkret dan alasan perubahannya sesuai tuntutan peran, misal: 'awalnya melangkah pelan lalu tiba-tiba berjongkok cepat karena mendengar suara').
Formatif:- Observasi unjuk kerja permainan laku peran murid menggunakan lembar amatan teknik muncul dan teknik pengembangan laku pemeran.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Penerapan Teknik Muncul | Memasuki area panggung masih sebagai diri sendiri (ragu, tertawa, atau tanpa kesiapan fisik karakter). | Memasuki area panggung mulai menunjukkan fisik karakter, namun kesiapan emosi dan fokus karakter masih terputus-putus saat langkah awal. | Memasuki area panggung dengan fokus penuh dan wujud fisik karakter yang konsisten sejak langkah pertama. | Memasuki area panggung dengan daya pikat kehadiran yang kuat, fokus utuh, serta langsung membangun suasana dramatis karakter sejak detik pertama secara mandiri. | | Pengembangan Laku Pemeran | Memainkan karakter dengan laku fisik yang statis, monoton, dan tanpa perubahan tempo atau intensitas. | Memainkan karakter dengan sedikit variasi laku fisik, tetapi perubahan tempo gerak dan intensitas masih kaku dan terbatas. | Memainkan karakter dengan variasi laku yang dinamis melalui penerapan perubahan tempo (cepat-lambat) dan intensitas laku secara jelas sesuai imajinasi. | Memainkan karakter secara sangat kreatif dan organik dengan jangkauan variasi laku yang kaya (tempo, level ruang, dan intensitas emosi) yang terjalin mulus tanpa jeda artifisial. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah instruksi dan demonstrasi teknik muncul serta pengembangan laku cukup konkret dipahami oleh seluruh murid?
- Bagaimana respons murid terhadap tantangan skenario laku, dan apakah ada murid yang masih membutuhkan bimbingan rasa percaya diri untuk tampil?
Murid:- Bagian mana dari teknik muncul yang paling menantang untuk kamu lakukan saat melangkah pertama kali ke panggung?
- Variasi laku apa yang paling kamu sukai saat mengembangkan tindakan fisik tokomu tadi?
Pertemuan 4 — Memainkan Peran dalam Pertunjukan Sederhana di Kelas dengan Memperhatikan Komposisi Panggung — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.3.4 Memainkan peran dalam sebuah pertunjukan sederhana di kelas dengan memperhatikan komposisi panggung
Pendahuluan:- Guru membuka pelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memimpin doa singkat (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu memainkan peran dalam pertunjukan sederhana di kelas dengan menerapkan komposisi panggung yang seimbang (2 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal singkat melalui simulasi 3 posisi panggung: guru meminta 3 murid berdiri di area bermain kelas lalu mengajukan 2 pertanyaan diagnostik terkait komposisi panggung (acuan: (1) jika semua pemeran berdiri di sudut kanan depan, panggung menjadi timpang/berat sebelah ke kanan; (2) agar komposisi seimbang, pemeran harus menyebar dengan memanfaatkan area kiri, tengah, atau kanan serta menjaga jarak agar tidak saling menutupi) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Menggembirakan):- Murid menyimak demonstrasi singkat guru dan panduan visual pembagian 9 area panggung (Upstage-Center-Downstage, Left-Center-Right) serta 2 prinsip dasar komposisi panggung dalam pertunjukan teater: (1) keseimbangan visual (penyebaran pemeran di ruang pentas agar tidak berat sebelah) dan (2) keterlihatan pemeran (tidak saling menutupi/blocking) (10 menit).
- Dalam kelompok kecil berisi 3-4 orang, murid melakukan latihan pemanasan komposisi 'Patung Hidup Berimbang': guru memberi aba-aba, dan setiap kelompok bergantian mengatur posisi tubuh beku anggotanya di panggung kelas dengan menerapkan prinsip keseimbangan visual dan tidak saling menutupi (10 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Setiap kelompok memilih salah satu dari 2 skenario adegan sederhana 2 menit yang disiapkan: Skenario A (3 tokoh: Pedagang, Pembeli 1, Pembeli 2 di pasar tradisional berebut barang dagangan) atau Skenario B (3 tokoh: Dua Murid sedang membaca mading sekolah lalu dihampiri Ketua OSIS yang menyampaikan pengumuman lomba), kemudian membagi peran dan merancang pergerakan laku peran serta blocking ruang panggung (15 menit).
- Masing-masing kelompok secara bergantian memainkan peran dalam pertunjukan sederhana berdurasi 2-3 menit di area pentas kelas dengan memperhatikan komposisi panggung (keseimbangan posisi pemeran di area pentas dan menjaga agar tidak saling menutupi pandangan penonton), sementara kelompok lain mengamati pergerakan komposisi panggungnya (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama kelompoknya memeriksa kembali penampilan mereka berdasarkan catatan observasi guru: apakah saat memainkan peran tadi posisi antar-pemeran sudah seimbang dan tidak ada pemeran yang tertutup dari sudut pandang penonton (10 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan intisari pembelajaran tentang pentingnya komposisi panggung (keseimbangan dan penataan posisi) saat memainkan peran dalam pertunjukan (3 menit).
- Guru memberikan asesmen akhir berupa cek pemahaman lisan singkat serta memberikan umpan balik penguatan terhadap kerja sama pemeranan kelompok (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Kelompok yang membutuhkan bimbingan diberikan tanda batas visual (selotip lakban) pembagian area panggung (kiri, tengah, kanan) di lantai kelas, sedangkan kelompok yang sudah mahir mengatur komposisi panggung secara mandiri tanpa penanda lantai.
- Proses: Pada saat latihan blocking, kelompok yang masih kesulitan didampingi langsung oleh guru untuk mengatur formasi segitiga atau diagonal, sedangkan kelompok yang mandiri langsung menyelaraskan pergerakan blocking secara mandiri.
- Produk: Kelompok yang masih berkembang memainkan adegan dengan 2 pergerakan perpindahan komposisi posisi panggung, sedangkan kelompok yang sudah mahir memainkan adegan dengan 4 atau lebih variasi perpindahan komposisi panggung yang dinamis.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik peragaan di awal pelajaran: Guru menempatkan 3 murid di satu sudut panggung lalu menanyakan: (1) 'Apa kesan komposisi visual panggung saat ini?' (acuan: panggung terlihat timpang/berat sebelah/tidak seimbang), dan (2) 'Bagaimana posisi ketiga pemeran seharusnya diatur agar panggung terlihat seimbang dan penonton nyaman melihat?' (acuan: menyebar di area kiri, tengah, kanan, atau membentuk formasi berjarak sehingga ruang panggung terisi merata dan tidak saling menutupi).
Proses:- Lembar observasi unjuk kerja saat kelompok memainkan peran dalam pertunjukan sederhana, mengamati: (1) pemanfaatan ruang panggung untuk menciptakan keseimbangan visual, dan (2) penempatan posisi tubuh pemeran sehingga tidak menutupi pemeran lain (blocking).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan di akhir sesi: Guru menanyakan kepada perwakilan murid: 'Sebutkan 2 prinsip komposisi panggung yang wajib dijaga pemeran saat beradegan di depan kelas!' (acuan jawaban: (1) menjaga keseimbangan ruang pentas/tidak menumpuk di satu sisi, dan (2) menjaga agar posisi tubuh tidak menutupi pemeran lain/blocking yang tepat).
Formatif:- Observasi unjuk kerja saat murid memainkan peran dalam kelompok dengan fokus pada penerapan komposisi panggung (keseimbangan ruang dan keterlihatan/blocking).
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Penerapan Komposisi Keseimbangan Panggung saat Memainkan Peran | Memainkan peran dengan posisi seluruh pemeran menumpuk di satu area panggung sehingga panggung timpang secara visual sepanjang adegan. | Memainkan peran dengan mulai menyebar di area panggung, tetapi sesekali masih menumpuk di satu sisi dan membutuhkan arahan guru untuk menyeimbangkan posisi. | Memainkan peran dengan konsisten menjaga keseimbangan komposisi panggung (pembagian ruang pentas terisi merata) secara mandiri sepanjang pertunjukan. | Memainkan peran dengan konsisten menjaga keseimbangan komposisi panggung secara mandiri serta melakukan perpindahan posisi (blocking) yang dinamis dan bervariasi sepanjang pertunjukan. | | Keterlihatan Posisi Pemeran (Tidak Saling Menutupi/Blocking) | Memainkan peran dengan posisi tubuh sering menutupi pemeran lain secara langsung dari sudut pandang penonton sepanjang adegan. | Memainkan peran dengan posisi tubuh sesekali menutupi pemeran lain, namun mampu memperbaiki posisi setelah diberi aba-aba oleh guru atau teman. | Memainkan peran dengan posisi tubuh yang konsisten terbuka dan tidak menutupi pemeran lain secara mandiri sepanjang adegan. | Memainkan peran dengan posisi tubuh yang konsisten terbuka dan tidak menutupi pemeran lain secara mandiri serta secara cermat membuka ruang bagi pemeran lain saat berpindah posisi. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah instruksi mengenai pembagian area panggung dan komposisi dapat dipahami murid dengan mudah?
- Bagaimana keterlibatan setiap anggota kelompok dalam menjaga keseimbangan ruang panggung saat memainkan peran?
Murid:- Apakah kamu merasa kesulitan saat harus membagi posisi panggung dengan teman satu kelompokmu?
- Bagian mana dari pengaturan komposisi panggung yang paling menantang saat kelompokmu memainkan adegan tadi?
Pertemuan 5 — Menjelaskan Pengalaman Bermain Peran dan Dampaknya terhadap Diri Sendiri — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.3.5 Menjelaskan pengalaman bermain peran dan dampaknya terhadap diri sendiri
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kesiapan murid, dan mengondisikan suasana kelas yang nyaman dan saling menghargai (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menjelaskan pengalaman bermain peran dan dampaknya terhadap diri sendiri (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui pertanyaan pemandu: 'Sebutkan 1 pengalaman paling berkesan saat berlatih peran kemarin dan 1 perubahan perasaan yang kamu sadari setelahnya' (acuan: jawaban memuat peristiwa konkret peran yang dilakoni dan satu efek emosional/sikap pribadi) (7 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak panduan guru mengenai dua aspek utama refleksi laku peran: (1) deskripsi pengalaman saat memerankan tokoh (tantangan gestur, penghayatan emosi, interaksi peran), dan (2) identifikasi dampak nyata terhadap diri sendiri (peningkatan empati, kontrol emosi, kepercayaan diri) (8 menit).
- Murid mengamati 2 kutipan contoh refleksi tertulis pemeran yang dipaparkan guru: Contoh A: 'Saat memerankan tokoh pemarah, saya kesulitan mengatur napas dan intonasi yang menahan kesal; dampaknya, saya menyadari menahan marah itu melelahkan sehingga di kelas saya belajar lebih sabar mendengarkan teman.' Contoh B: 'Saat menjadi tokoh pemalu, saya harus menundukkan pandangan; dampaknya, saya jadi memahami perasaan teman yang canggung saat berbicara di depan umum' (7 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Dalam aktivitas menyenangkan 'Lempar Bola Refleksi', guru melempar bola kain kepada murid secara acak; murid yang menangkap bola menjawab tantangan cepat menyebutkan satu kata emosi peran dan satu kata dampak pada diri (misal: 'gugup' -> 'lebih berani'; 'tegang' -> 'belajar tenang') sebelum mengoper bola kembali (10 menit).
- Murid secara mandiri menyusun lembar penjelasan reflektif 'Jurnal Diri Pemeran' yang memuat 3 panduan butir: (1) Pengalaman laku peran yang paling menantang, (2) Upaya pemeranan yang dilakukan, dan (3) Dampak pengalaman bermain peran tersebut terhadap cara pandang atau perilaku diri sendiri (13 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid duduk melingkar dan secara bergiliran membaca kembali penjelasan pengalaman dan dampaknya secara hening dan berkesadaran, lalu memberi tanda garis bawah pada kalimat yang paling menunjukkan perubahan perilaku diri yang positif (8 menit).
- Dua orang perwakilan murid secara sukarela membacakan penjelasan pengalaman dan dampak perannya di hadapan teman-temannya tanpa dinilai kualitas vokalnya melainkan kelengkapan isi penjelasannya (7 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan esensi pembelajaran bahwa bermain peran bukan hanya aksi di atas panggung, melainkan sarana mengenali diri dan mengembangkan empati pribadi (7 menit).
- Guru memberikan penguatan terhadap kejujuran refleksi murid dan menutup pertemuan dengan doa serta salam (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan lembar bantu pemandu rumpang bagi murid yang membutuhkan struktur kalimat panduan refleksi, serta lembar narasi terbuka bagi murid yang siap menyusun refleksi analitis mendalam.
- Proses: Memberikan bimbingan terfokus secara individu bagi murid yang kesulitan menghubungkan pengalaman tokoh dengan perubahan sikap diri sendiri.
- Produk: Murid bebas menyajikan penjelasan pengalaman dan dampak dalam bentuk paragraf reflektif terstruktur atau bagan alur hubungan pengalaman peran ke dampak diri.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik tanya jawab lisan di pendahuluan: Murid diminta menyebutkan 1 momen pengalaman memainkan karakter dan 1 dampak perasaan/sikap terhadap diri sendiri (Kriteria penerimaan: respon dapat mengaitkan tindakan saat memerankan tokoh dengan perasaan atau kesadaran diri sendiri; acuan contoh: 'waktu memerankan tokoh lansia pinggang saya pegal, dampaknya saya jadi sadar pentingnya menyayangi kakek-nenek').
Proses:- Pemeriksaan draf lembar kerja 'Jurnal Diri Pemeran' saat murid mengerjakan secara mandiri, memberikan umpan balik langsung jika murid hanya menceritakan jalan cerita naskah tanpa menjelaskan pengalaman keaktoran pribadinya atau belum menguraikan dampaknya terhadap diri sendiri.
Akhir Pertemuan:- Pengecekan kelengkapan produk akhir 'Jurnal Diri Pemeran' berdasarkan 2 kriteria utama: (1) Penjelasan pengalaman bermain peran memuat rincian tantangan/upaya fisik atau emosi tokoh, (2) Penjelasan dampak menguraikan perubahan sikap, pemahaman empati, atau kesadaran diri secara konkret.
Formatif:- Penilaian lembar kerja penjelasan 'Jurnal Diri Pemeran' menggunakan rubrik analitis (fokus pada kejelasan penjelasan pengalaman bermain peran dan penjelasan dampak nyata terhadap diri sendiri).
- Observasi diagnostik respon tanya jawab lisan pemantik awal.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Penjelasan Pengalaman Bermain Peran | Belum mampu menjelaskan pengalaman pribadi saat bermain peran; hanya menceritakan ulang sinopsis lakon. | Menjelaskan pengalaman bermain peran secara singkat dan umum tanpa menyebutkan tantangan fisik, vokal, atau emosi yang dialami. | Menjelaskan pengalaman bermain peran secara runtut dengan menyebutkan tantangan keaktoran (fisik/emosi) dan upaya yang dilakukan saat memerankan tokoh. | Menjelaskan pengalaman bermain peran secara mendalam, rinci, dan spesifik menguraikan proses penjiwaan tokoh serta kendala yang dihadapi secara mandiri. | | Penjelasan Dampak terhadap Diri Sendiri | Belum mampu mengidentifikasi dampak bermain peran terhadap diri sendiri. | Menyebutkan dampak bermain peran sebatas pada perasaan sesaat (misalnya senang atau lelah) tanpa mengaitkan dengan sikap atau kesadaran diri. | Menjelaskan dampak bermain peran terhadap perubahan pemahaman emosi, empati, atau perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari. | Menjelaskan dampak bermain peran terhadap diri sendiri secara mendalam, kritis, dan menyertakan komitmen perubahan sikap pribadi yang berkesadaran. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah murid merasa aman dan nyaman untuk mengemukakan pengalaman emosional serta perubahan diri secara jujur?
- Apakah alur kegiatan Memahami-Mengaplikasi-Merefleksi membantu murid membedakan antara menceritakan alur cerita lakon dengan merefleksikan laku pemeranannya sendiri?
Murid:- Apa hal paling berharga yang saya pelajari tentang diri saya sendiri setelah mendalami karakter tokoh dalam bermain peran?
- Bagian mana dari pengalaman bermain peran yang paling membantu saya memahami perasaan orang lain di sekitar saya?
Pertemuan 6 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 7.3.1 Mengidentifikasi karakter melalui analisis sosiologis tokoh dalam lakon
- TP 7.3.2 Mengeksplorasi olah tubuh sebagai dasar keaktoran murid dalam mewujudkan motif gerak
- TP 7.3.3 Memainkan karakter dengan imajinasi dan kreativitasnya melalui penerapan teknik muncul dan teknik pengembangan laku pemeran
- TP 7.3.4 Memainkan peran dalam sebuah pertunjukan sederhana di kelas dengan memperhatikan komposisi panggung
- TP 7.3.5 Menjelaskan pengalaman bermain peran dan dampaknya terhadap diri sendiri
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan menyampaikan bahwa pertemuan ke-6 merupakan sesi Asesmen Sumatif Bab 3 yang mengintegrasikan seluruh capaian pemeranan dari pertemuan sebelumnya (2 menit).
- Guru menguraikan alur pelaksanaan asesmen sumatif: 15 menit penugasan analisis sosiologis tertulis, 49 menit unjuk kerja pertunjukan kelompok, 12 menit refleksi pengalaman bermain peran tertulis, dan 2 menit penutupan rangkuman bab (1 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Guru membagikan Lembar Kerja Analisis Sosiologis Karakter dan menjelaskan petunjuk pengisian tiga komponen sosiologis tokoh: latar belakang lingkungan/keluarga peran, status/pekerjaan peran, dan relasi sosial peran terhadap tokoh lain dalam lakon (2 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Seluruh murid mengerjakan secara individual Lembar Kerja Analisis Sosiologis Karakter yang mencakup identifikasi 3 komponen tokoh: (1) Latar belakang peran (asal lingkungan/kehidupan keluarga), (2) Status sosial peran (profesi/posisi ekonomi/kedudukan di masyarakat), dan (3) Relasi sosial peran (hubungan hierarkis, kekerabatan, atau konflik dengan tokoh lain dalam naskah yang dimainkan) (13 menit).
- Guru mengundi dan mengatur giliran unjuk kerja 7 kelompok (masing-masing 4 murid) untuk menampilkan adegan pertunjukan sederhana berdurasi 7 menit per kelompok (total 49 menit) di area panggung kelas, dengan fokus unjuk kerja: (1) eksplorasi olah tubuh dengan motif gerak yang jelas sesuai sosiologis tokoh, (2) penerapan teknik muncul (timing, energi, dan fokus saat pertama kali masuk ke panggung), (3) teknik pengembangan laku karakter (peningkatan intensitas emosi/tindakan dramatis), serta (4) keteraturan komposisi panggung (keseimbangan penempatan pemeran, blocking tanpa saling menutupi/upstaging, dan pemanfaatan level/ruang gerak) (49 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Guru membagikan Lembar Catatan Refleksi Terstruktur, lalu seluruh murid secara mandiri dan hening menuliskan uraian refleksi pengalaman bermain peran serta dampaknya terhadap pembentukan rasa percaya diri, empati sosial, dan kesadaran kendali diri (11 menit).
Penutup:- Guru mengumpulkan seluruh lembar kerja analisis sosiologis dan lembar catatan refleksi murid ke dalam map portofolio kelas (1 menit).
- Guru memberikan apresiasi atas kedisiplinan serta seluruh proses berkarya murid sepanjang Bab 3 'Kreativitas Laku Pemeran' dan menutup sesi sumatif dengan doa bersama (1 menit).
Diferensiasi:- Konten: Naskah lakon adegan kelompok disediakan dalam teks cetak berukuran huruf standar dan huruf besar bagi murid yang membutuhkan akomodasi visual.
- Proses: Penyediaan format lembar kerja analisis sosiologis dan refleksi dengan ruang baris yang lebih luas atau bantuan format dikte bagi murid yang mengalami hambatan motorik menulis, tanpa mengubah indikator penilaian.
- Produk: Semua murid menghasilkan produk dan unjuk kerja yang setara sesuai kriteria sumatif: artefak analisis tertulis, rekaman unjuk kerja pemeranan kelompok, dan artefak refleksi tertulis.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pengecekan kesiapan portofolio dan kelengkapan naskah adegan kelompok sebelum asesmen sumatif dimulai melalui verifikasi daftar periksa naskah dan kesiapan properti panggung kelas.
Proses:- Observasi sistematis guru menggunakan rubrik unjuk kerja saat setiap kelompok menampilkan adegan di panggung kelas.
Sumatif Bab:- Portofolio analisis terpadu dan unjuk kerja pertunjukan adegan sederhana berkelompok: Lembar kerja analisis sosiologis karakter, rekaman performa laku pemeran dalam adegan kelompok (olah tubuh, teknik muncul, pengembangan laku, komposisi panggung), serta lembar catatan refleksi pengalaman bermain peran
- penugasan tertulis: Lembar kerja analisis sosiologis karakter yang menjelaskan latar belakang peran, status, dan relasi sosial tokoh dalam lakon yang dikerjakan serentak seluruh kelas (15 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian analisis karakter)
- unjuk kerja pertunjukan: Penampilan adegan sederhana berkelompok (7 kelompok beranggotakan 4 murid, durasi tampil 6-7 menit per kelompok) yang memperlihatkan eksplorasi olah tubuh dengan kejelasan motif gerak, penerapan teknik muncul dan pengembangan laku karakter, serta keteraturan komposisi panggung kelas (50 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja pemeranan dan komposisi panggung)
- refleksi tertulis: Lembar catatan refleksi yang menguraikan pengalaman bermain peran serta dampaknya terhadap pengembangan diri pemeran yang diisi serentak oleh seluruh murid (15 menit; individual; instrumen: lembar refleksi terstruktur)
Sumatif:- Portofolio analisis terpadu dan unjuk kerja pertunjukan adegan sederhana berkelompok: Lembar kerja analisis sosiologis karakter, rekaman performa laku pemeran dalam adegan kelompok (olah tubuh, teknik muncul, pengembangan laku, komposisi panggung), serta lembar catatan refleksi pengalaman bermain peran
- penugasan tertulis: Lembar kerja analisis sosiologis karakter yang menjelaskan latar belakang peran, status, dan relasi sosial tokoh dalam lakon yang dikerjakan serentak seluruh kelas (15 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian analisis karakter)
- unjuk kerja pertunjukan: Penampilan adegan sederhana berkelompok (7 kelompok beranggotakan 4 murid, durasi tampil 6-7 menit per kelompok) yang memperlihatkan eksplorasi olah tubuh dengan kejelasan motif gerak, penerapan teknik muncul dan pengembangan laku karakter, serta keteraturan komposisi panggung kelas (50 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja pemeranan dan komposisi panggung)
- refleksi tertulis: Lembar catatan refleksi yang menguraikan pengalaman bermain peran serta dampaknya terhadap pengembangan diri pemeran yang diisi serentak oleh seluruh murid (15 menit; individual; instrumen: lembar refleksi terstruktur)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Identifikasi Karakter Melalui Analisis Sosiologis (TP 7.3.1) | Hanya mengidentifikasi 1 dari 3 komponen sosiologis tokoh (acuan komponen: 1. latar belakang lingkungan/keluarga, 2. status/pekerjaan/kedudukan sosial, 3. relasi sosial dengan tokoh lain). | Mengidentifikasi 2 dari 3 komponen sosiologis tokoh secara tepat sesuai konteks lakon yang dimainkan. | Mengidentifikasi seluruh 3 komponen sosiologis tokoh secara tepat dan lengkap sesuai konteks lakon yang dimainkan. | Mengidentifikasi seluruh 3 komponen sosiologis tokoh secara mendalam, tepat, serta mengaitkan pengaruh ketiga komponen sosiologis tersebut terhadap motif tindakan tokoh dalam lakon. | | Eksplorasi Olah Tubuh dan Motif Gerak (TP 7.3.2) | Melakukan gerak tubuh di panggung tanpa kejelasan motif atau alasan gerak yang sesuai dengan peran. | Mengeksplorasi olah tubuh dengan motif gerak yang mulai terlihat, namun sesekali masih tampak kaku atau tanpa alasan dramatis. | Mengeksplorasi olah tubuh secara luwes dengan kejelasan motif gerak fisik yang konsisten mewujudkan watak tokoh sepanjang adegan. | Mengeksplorasi olah tubuh secara ekspresif, detail, dan dinamis di mana setiap motif gerak fisik mencerminkan kondisi kejiwaan dan sosiologis tokoh secara meyakinkan. | | Penerapan Teknik Muncul dan Pengembangan Laku (TP 7.3.3) | Penerapan teknik muncul ragu-ragu (kehilangan fokus/energi saat masuk panggung) dan laku pemeran monoton tanpa perubahan intensitas. | Menerapkan teknik muncul dengan kesiapan energi yang cukup, namun pengembangan laku karakter belum menunjukkan perkembangan tangga dramatis yang berkesinambungan. | Menerapkan teknik muncul secara tepat (fokus, energi, dan penyesuaian suasana panggung) serta mengembangkan laku pemeran dengan peningkatan intensitas emosi/tindakan yang runut. | Menerapkan teknik muncul yang memikat dan penuh daya hidup serta memperagakan pengembangan laku karakter yang sangat kaya imajinasi, luwes, dan berbobot dramatik tinggi. | | Komposisi Panggung dalam Pertunjukan Adegan (TP 7.3.4) | Pengaturan posisi panggung acak, sering terjadi penumpukan pemeran pada satu titik atau membelakangi/menutupi pandangan pemeran lain (upstaging). | Mulai memperhatikan blocking dan komposisi panggung, namun keseimbangan ruang panggung dan level gerak masih belum konsisten. | Memperhatikan komposisi panggung dengan baik: penataan blocking seimbang, tidak saling menutupi antarpemeran, dan memanfaatkan variasi ruang/level panggung secara tertib. | Mengatur dan menjaga komposisi panggung secara harmonis, dinamis, memiliki keteraturan visual yang estetik, serta mendukung pengadeganan secara utuh. | | Penjelasan Pengalaman Bermain Peran dan Dampaknya (TP 7.3.5) | Penjelasan hanya menyebutkan rasa suka/tidak suka saat bermain peran tanpa menguraikan dampaknya bagi diri sendiri. | Menjelaskan pengalaman bermain peran namun uraian dampaknya terhadap pengembangan pribadi masih bersifat umum/dangkal. | Menjelaskan secara terstruktur pengalaman bermain peran dan menguraikan minimal 2 dampak nyata terhadap perkembangan diri (misal: meningkatnya rasa percaya diri dan empati sosial). | Menjelaskan pengalaman bermain peran secara mendalam, kritis, dan reflektif serta merumuskan dampak bermakna terhadap perubahan cara pandang dan perilaku diri sendiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu unjuk kerja 7 menit per kelompok berjalan tertib dan mencukupi untuk menilai keempat aspek pemeranan secara objektif?
- Bagaimana ketercapaian murid secara keseluruhan pada penguasaan olah tubuh bermotif gerak dan kesadaran komposisi panggung?
- Tindak lanjut apa yang diperlukan untuk mendukung murid yang masih belum percaya diri saat berakting di depan kelas?
Murid:- Bagian mana dari karakter tokoh yang paling menantang untuk kamu hidupkan melalui olah tubuh dan laku pemeran?
- Bagaimana perasaan dan rasa percaya dirimu setelah berhasil menyelesaikan pertunjukan adegan bersama teman sekelompok?
- Nilai positif atau pemahaman baru apa tentang kehidupan manusia yang kamu peroleh setelah memerankan karakter tersebut?
SUMBER BELAJAR- Buku Panduan Guru Seni Teater SMP Kelas VII, Kemendikbudristek 2021
- Naskah lakon pendek 'Perselisihan di Pasar Desa'
- Lembar Kerja Analisis Sosiologis Karakter Tokoh Teater
- Buku Panduan Guru Seni Teater SMP/MTs Kelas VII (Kemendikbudristek 2021/2023 Revisi, Bab III: Kreativitas Laku Pemeran)
- Ruang kelas/aula yang leluasa untuk olah tubuh
- Alat pengatur tempo gerak (rebana/alat ketuk)
- Set kartu skenario motif gerak (Kartu 1 s.d. 4)
- Buku Panduan Guru Seni Teater SMP/MTs Kelas VII, Pusat Perbukuan Kemendikbudristek
- Ruang kelas / area panggung sederhana dengan properti kursi dan meja kelas
- Kartu skenario situasi dramatis sederhana
- Buku Panduan Guru Seni Teater SMP Kelas VII (Kemendikbudristek)
- Ruang kelas yang ditata sebagai area panggung terbuka
- Teks naskah adegan sederhana (Skenario Pasar Tradisional dan Skenario Mading Sekolah)
- Lakban penanda lantai area pentas
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SMP/MTs Kelas VII (Edisi Revisi), Pusat Perbukuan Kemendikbudristek
- Lembar Refleksi Diri 'Jurnal Diri Pemeran'
- Catatan/dokumentasi portofolio latihan peran murid pada pertemuan-pertemuan sebelumnya
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SMP/MTs Kelas VII
- Naskah penggalan adegan lakon teater anak/remaja berdurasi 5-7 menit
- Area ruang kelas yang ditata sebagai panggung arena/proscenium sederhana
- Lembar Kerja Analisis Sosiologis Tokoh dan Lembar Catatan Refleksi Sumatif
|