Modul AjarBab 2Fase DSemester 1

Modul Ajar Seni Teater Kelas 7 Bab 2: Ekspresi Dramatik

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Seni Teater kelas 7 untuk Bab 2 "Ekspresi Dramatik", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Seni Teater Kelas 7 Bab 2: Ekspresi Dramatik

Seni Teater - Kelas 7

Bab 2

MODUL AJAR

Seni Teater — Kelas 7 (Fase D)

Topik: Bab 2 — Ekspresi Dramatik

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranSeni Teater
Fase / KelasFase D / Kelas 7
TopikBab 2 — Ekspresi Dramatik
Alokasi Waktu12 JP (12 x 40 menit = 480 menit)
Jumlah Pertemuan6
Tahun Ajaran2026/2027
Semester1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 7.2.1 Mengeksplorasi vokal sebagai dasar keaktoran murid melalui artikulasi bunyi bahasa dan intonasi ekspresi dramatik
  2. TP 7.2.2 Memainkan lakon dengan satu gaya yang sederhana dan mudah dipelajari dalam bentuk senandika
  3. TP 7.2.3 Menyusun alur cerita sederhana yang jelas dan mudah dipahami ke dalam naskah dialog dua tokoh
  4. TP 7.2.4 Memainkan peran dalam sebuah pertunjukan sederhana di kelas berdasarkan naskah dialog yang telah disusun
  5. TP 7.2.5 Menjelaskan pengalaman bermain peran dan dampaknya terhadap diri sendiri
  6. TP 7.2.6 Memberikan apresiasi dan umpan balik sesuai dengan pengalaman pribadi terhadap penampilan bermain peran teman

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis✓
Kreativitas✓
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan
Komunikasi✓

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Bagaimana bentuk mulut dan posisi lidah memengaruhi kejelasan kata yang kita ucapkan di atas panggung?
  2. Mengapa satu kalimat yang sama bisa menyampaikan emosi yang sangat berbeda ketika nada dan tekanannya diubah?
  3. Pernahkah kalian berbicara seorang diri untuk mengungkapkan isi hati atau pikiran yang sedang kalut?
  4. Bagaimana cara seorang aktor memainkan adegan berbicara sendiri di panggung agar penonton mengerti apa yang sedang dirasakannya?
  5. Bagaimana sebuah percakapan sehari-hari antara dua orang dapat dirangkai menjadi alur cerita yang memiliki bagian awal, tengah, dan akhir?
  6. Apa yang membuat alur cerita dalam naskah dialog dua tokoh terasa jelas dan mudah dipahami oleh pembaca atau penonton?
  7. Bagaimana caramu menghidupkan karakter tokoh yang tertulis dalam naskah dialog saat tampil bersama pasangan peran?
  8. Apa yang perlu diperhatikan saat beradu peran di depan kelas agar interaksi antartokoh dalam naskah terlihat meyakinkan?
  9. Apa perubahan rasa atau pikiran yang kamu rasakan setelah mencoba menjadi tokoh lain pada pertunjukan kemarin?
  10. Bagaimana caramu menyampaikan tanggapan yang jujur sekaligus menyemangati teman atas penampilannya?
  11. Bagaimana pengolahan artikulasi dan intonasi dapat memperkuat penyampaian laku peran serta senandika dalam dialog berpasangan?
  12. Apa makna dan dampak yang kalian rasakan secara pribadi setelah menyelesaikan proses penyusunan naskah hingga pementasan peran?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Eksplorasi Vokal Melalui Artikulasi Bunyi Bahasa dan Intonasi Ekspresi Dramatik — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.2.1 Mengeksplorasi vokal sebagai dasar keaktoran murid melalui artikulasi bunyi bahasa dan intonasi ekspresi dramatik

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan memimpin latihan pemanasan organ wicara (senam rahang, bibir, dan lidah) secara bersama-sama (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat: murid secara bergiliran membaca satu kalimat uji 'Aku seorang kapitan' untuk memetakan artikulasi fonem dan variasi intonasi dasar (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak penjelasan dan demonstrasi guru mengenai artikulasi (pelafalan vokal A-I-U-E-O dan konsonan melalui kejelasan fonem dan gerak alat wicara) serta intonasi (tinggi rendah nada, jeda, dan penekanan kata untuk mewujudkan emosi dramatik) (10 menit).
  • Murid berlatih terbimbing membaca lambat kalimat target 'Aku seorang kapitan' dengan mengeja fonem secara tegas ('A-ku se-o-rang ka-pi-tan') sembari mengamati bukaan bibir dan posisi lidah (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):

  • Murid memainkan tantangan vokal berpasangan 'Tongue Twister & Nada Emosi': tiap pasangan melatih artikulasi cepat dan tepat pada 2 kalimat pembelit lidah: (1) 'Kuku kakiku kaku-kaku terkena paku', (2) 'Satu ribu, dua biru, tiga ribu, empat biru' (15 menit).
  • Murid mengeksplorasi intonasi ekspresi dramatik dengan mengucapkan kalimat 'Buka pintu itu sekarang juga!' menggunakan 3 variasi emosi berbeda: (1) panik/takut (nada tinggi, tempo cepat), (2) marah/tegas (tekanan kuat pada kata 'sekarang', nada menekan), dan (3) memohon/sedih (nada menurun, tempo lambat, berbisik bertekanan) (15 menit).

Merefleksi (Bermakna):

  • Murid bersama pasangannya saling mengecek kejelasan artikulasi bunyi fonem dan kesesuaian intonasi dramatik berdasarkan panduan pengamatan vokal yang disediakan guru (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan pentingnya artikulasi bunyi bahasa yang presisi dan modulasi intonasi dramatik sebagai instrumen dasar keaktoran (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap pencapaian latihan eksplorasi vokal hari ini serta menyampaikan pengantar topik pertemuan berikutnya yaitu senandika (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan teks kalimat latihan artikulasi dengan tingkat variasi fonem konsonan bertingkat (sederhana hingga pembelit lidah kompleks).
  • Proses: Murid yang memerlukan pendampingan melatih artikulasi dalam tempo lambat dengan cermin genggam, sedangkan murid yang sudah mahir mengeksplorasi kontras dinamika intonasi (dari bisikan dramatik hingga proyeksi suara lantang).
  • Produk: Unjuk kerja eksplorasi artikulasi dan intonasi secara lisan dinilai dari ketercapaian pelafalan fonem dan variasi emosi suara sesuai tingkat kesiapan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Uji petik pengucapan lisan kalimat: 'Aku seorang kapitan'. Acuan kriteria: (1) Artikulasi tepat jika seluruh fonem vokal dan konsonan terdengar utuh tanpa reduksi kata (tidak menjadi 'aku sorang kapitan'); (2) Intonasi terbaca wajar dan mampu diberi penekanan minimal pada satu kata kunci.

Proses:

  • Pengamatan unjuk kerja latihan berpasangan pada 2 kalimat artikulasi: (1) 'Kuku kakiku kaku-kaku terkena paku', (2) 'Satu ribu, dua biru, tiga ribu, empat biru' (acuan: pelafalan fonem k-p-r-b tepat tanpa selip lidah), serta 3 variasi intonasi kalimat 'Buka pintu itu sekarang juga!' (acuan: perbedaan nada, tempo, dan tekanan terasa jelas antara emosi panik, marah, dan memohon).

Akhir Pertemuan:

  • Cek unjuk kemampuan mandiri eksplorasi vokal: murid melafalkan satu kalimat 'Buka pintu itu sekarang juga!' dengan satu emosi dramatik pilihan guru secara tepat dan jelas (acuan: artikulasi fonem kata utuh dan intonasi selaras dengan emosi yang diinstruksikan).

Formatif:

  • Unjuk kerja eksplorasi vokal (artikulasi kalimat pembelit lidah dan intonasi ekspresi dramatik 3 emosi)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Artikulasi Bunyi BahasaMelafalkan kalimat latihan dengan artikulasi tidak jelas, fonem banyak tereduksi atau tertukar, dan bentuk bukaan mulut pasif.Melafalkan kalimat latihan dengan artikulasi cukup jelas pada tempo lambat, namun masih terjadi kekeliruan pelafalan fonem pada kalimat pembelit lidah.Melafalkan kedua kalimat latihan artikulasi ('Kuku kakiku kaku-kaku terkena paku' dan 'Satu ribu, dua biru, tiga ribu, empat biru') dengan bunyi fonem jelas dan tepat pada tempo sedang.Melafalkan seluruh kalimat latihan artikulasi secara konsisten, sangat presisi, jelas pada setiap fonem bahkan dalam tempo variatif (cepat-lambat) secara mandiri.
Intonasi Ekspresi DramatikMengucapkan kalimat dialog dengan nada datar/monoton tanpa perubahan tinggi-rendah nada maupun variasi penekanan emosi.Mampu mengubah tinggi-rendah nada suara namun belum konsisten mengekspresikan maksud emosi dramatik yang ditargetkan.Mampu mengeksplorasi dan membedakan 3 variasi intonasi ekspresi dramatik (panik, marah, dan memohon) melalui ketepatan nada, jeda, dan penekanan kata pada kalimat 'Buka pintu itu sekarang juga!'.Mampu mengeksplorasi variasi intonasi ekspresi dramatik secara luwes, kontras, dan ekspresif dengan modulasi dinamika vokal yang meyakinkan pada setiap karakter emosi.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah instruksi gerak organ wicara (senam rahang, lidah, bibir) berhasil membantu murid yang mengalami artikulasi cadel atau sengau?
  • Apakah pemilihan kalimat latihan dan permainan intonasi emosi dramatik mampu memicu keberanian murid mengeksplorasi vokal mereka secara optimal?

Murid:

  • Bagian mana dari latihan artikulasi atau pembelit lidah yang terasa paling menantang bagi organ wicaraku?
  • Bagaimana caraku mengatur nada dan tekanan suara agar pendengar langsung memahami emosi tokoh yang sedang kuperankan?

Pertemuan 2 — Memainkan Lakon Sederhana dalam Bentuk Senandika — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.2.2 Memainkan lakon dengan satu gaya yang sederhana dan mudah dipelajari dalam bentuk senandika

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, memeriksa kehadiran, dan mengondisikan kelas agar siap belajar (3 menit).
  • Guru mendemonstrasikan sebuah adegan pendek (senandika): guru berjalan mondar-mandir sambil berbicara sendiri mengungkapkan kegelisahan mencari kunci lemari yang hilang (4 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal dengan mengajukan pertanyaan diagnostik: 'Berdasarkan adegan yang baru saja dimainkan, sebutkan bentuk pemeranan apa itu dan apa ciri utamanya?' Acuan jawaban benar: bentuk senandika (monolog batin/berbicara sendiri), dengan ciri utama tokoh berbicara seorang diri mengungkapkan pikiran/perasaan batin tanpa lawan bicara (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu memainkan lakon sederhana dalam bentuk senandika bergaya realis sederhana (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru memberikan penjelasan ringkas dan membagikan lembar teks lakon senandika pendek yang disediakan: Teks A ('Sepatu Impian': monolog batin anak yang bingung memilih antara membeli sepatu baru atau membantu uang kas kelas) dan Teks B ('Ujian Kejujuran': monolog batin anak yang menemukan dompet terjatuh di lorong sekolah) (5 menit).
  • Guru memodelkan teknik memainkan salah satu teks lakon senandika dengan gaya realis sederhana (fokus ke dalam diri, mengalirkan pikiran secara wajar seolah berbicara pada diri sendiri) (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Game Pemanasan Senandika 'Cermin Suara Hati': secara bergiliran cepat murid berdiri dan mengucapkan satu kalimat isi batin spontan berdasarkan situasi kartu yang ditunjukkan guru secara menggembirakan (situasi 1: terlambat bangun, situasi 2: lupa membawa PR, situasi 3: menang lomba) (10 menit).
  • Murid memilih salah satu dari 2 teks senandika yang disediakan (Teks A atau Teks B), lalu berlatih memainkan lakon senandika tersebut secara mandiri di ruang kelas dengan gaya realis sederhana (10 menit).
  • Murid memainkan lakon senandika pilihannya di depan kelas/area pentas kelas secara bergiliran (durasi per murid sekitar 1-1,5 menit) dengan gaya sederhana dan mudah dipelajari (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid merenungkan proses pemeranan senandika yang baru saja dimainkan dan mengidentifikasi bagian pemeranan yang sudah berhasil diwujudkan serta bagian yang masih canggung (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap penampilan murid dalam memainkan lakon senandika dengan gaya realis sederhana (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan intisari pembelajaran tentang memainkan lakon bentuk senandika (5 menit).
  • Guru memberikan asesmen akhir berupa cek pemahaman cepat: 'Apa kunci utama saat memainkan lakon senandika agar penonton yakin bahwa tokoh sedang berbicara pada diri sendiri?' Kriteria jawaban: murid menyebutkan bahwa laku peran harus terpusat pada pergulatan batin/pikiran tokoh sendiri tanpa ditujukan mengajak bicara penonton atau tokoh lain (3 menit).
  • Guru menginformasikan materi pertemuan berikutnya mengenai menyusun naskah dialog dua tokoh, lalu menutup pembelajaran dengan doa dan salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan dua pilihan naskah senandika dengan tingkat panjang teks berbeda: Teks A (6 kalimat, konflik sederhana) untuk murid yang membutuhkan bantuan, dan Teks B (10 kalimat, variasi emosi lebih kompleks) untuk murid yang lebih cepat.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan jeda dan pemenggalan laku peran saat latihan, sedangkan murid yang mandiri langsung mengeksplorasi laku peran secara mandiri.
  • Produk: Semua murid memainkan lakon senandika; murid yang cepat dapat menambahkan variasi perpindahan posisi gerak panggung sederhana sesuai alur pikiran tokoh pada teks yang sama.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik di pendahuluan: Guru memainkan cuplikan adegan berbicara sendiri dan bertanya: 'Adegan apa yang baru saja saya mainkan dan apa ciri utamanya?' Acuan jawaban benar: Senandika (bicara sendiri/monolog batin), cirinya tokoh mengungkapkan isi batin/pikiran tanpa ada lawan bicara.

Proses:

  • Observasi unjuk kerja saat murid memainkan lakon senandika pendek (Teks A atau Teks B) menggunakan rubrik penilaian pemeranan senandika bergaya sederhana.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan di akhir sesi: 'Apa kunci utama saat memainkan lakon senandika agar penonton yakin bahwa tokoh sedang berbicara pada diri sendiri?' Kriteria penerimaan operasional: murid menyebutkan bahwa laku peran harus terpusat pada pergulatan pikiran/batin tokoh sendiri secara wajar tanpa mencari respons lawan bicara.

Formatif:

  • Asesmen diagnostik lisan di awal pembelajaran untuk mengecek pemahaman konsep senandika
  • Observasi unjuk kerja pemeranan memainkan lakon senandika dengan lembar amatan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Memainkan lakon bentuk senandikaBelum mampu memainkan lakon senandika; teks dibaca datar tanpa ada penghayatan laku peran berbicara pada diri sendiri walau telah dibimbing guru.Memainkan lakon senandika dengan laku peran berbicara pada diri sendiri namun masih terputus-putus dan sesekali masih membutuhkan arahan guru.Memainkan lakon senandika secara mandiri dan utuh dari awal hingga akhir dengan satu gaya realis sederhana yang meyakinkan bahwa tokoh berbicara pada diri sendiri.Memainkan lakon senandika secara mandiri, utuh, lancar, dan sangat meyakinkan dengan konsistensi gaya realis sederhana yang kuat dari awal hingga akhir.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah teks senandika yang disiapkan mudah dipahami dan dimainkan oleh seluruh murid kelas 7?
  • Bagaimana keterlibatan dan rasa percaya diri murid saat diminta tampil memainkan lakon senandika seorang diri?

Murid:

  • Apa tantangan terbesarmu saat harus berbicara sendiri di depan kelas dalam bentuk senandika?
  • Langkah apa yang membantumu merasa lebih percaya diri saat memerankan pikiran batin tokoh tadi?

Pertemuan 3 — Menyusun Alur Cerita Sederhana ke dalam Naskah Dialog Dua Tokoh — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.2.3 Menyusun alur cerita sederhana yang jelas dan mudah dipahami ke dalam naskah dialog dua tokoh

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan menyampaikan fokus pembelajaran hari ini yaitu menyusun alur cerita sederhana ke dalam naskah dialog dua tokoh (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat: menyajikan secara lisan 1 contoh potongan alur acak dari tiga peristiwa berikut: (A) Rian meminta maaf dan mengembalikan buku, (B) Rian meminjam buku catatan Dito tetapi lupa membawa saat ujian, (C) Dito panik mencari buku catatannya di kelas. Murid diminta menuliskan urutan alur cerita yang runtut pada selembar kertas kecil (acuan urutan benar: B - C - A, yaitu pengenalan situasi pinjam buku, munculnya konflik lupa membawa saat ujian, dan penyelesaian berupa permintaan maaf serta pengembalian) (7 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mencermati bagan tiga struktur alur cerita sederhana (pembuka/pengenalan latar dan tokoh, tengah/pertentangan atau konflik sederhana, penutup/penyelesaian masalah) yang disajikan guru di papan tulis (5 menit).
  • Murid dalam kelompok berpasangan memainkan tantangan tebak struktur: diberikan 3 kutipan adegan berikut: (1) Tokoh A dan Tokoh B berdebat tentang tugas kelompok yang belum selesai; (2) Tokoh A menyapa Tokoh B yang sedang duduk melamun di teras kelas; (3) Tokoh A dan Tokoh B sepakat membagi jadwal kerja kelompok secara adil. Pasangan murid menentukan bagian alur dari tiap kutipan (acuan: kutipan 1 = tengah/konflik; kutipan 2 = pembuka/pengenalan; kutipan 3 = penutup/penyelesaian) (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid berpasangan memilih salah satu dari 3 pilihan ide cerita sederhana bertema kehidupan sekolah: (Pilihan 1: Perselisihan piket kebersihan kelas; Pilihan 2: Sepeda yang tertukar di tempat parkir; Pilihan 3: Latihan pentas seni yang hampir terlambat) (5 menit).
  • Setiap pasangan menyusun kerangka alur cerita sederhana yang memuat 3 tahapan runtut: pembuka (siapa dua tokoh dan situasinya), tengah (masalah/konflik apa yang terjadi antara kedua tokoh), dan penutup (bagaimana masalah diselesaikan) ke dalam lembar kerja (15 menit).
  • Murid mengembangkan kerangka alur tersebut menjadi naskah dialog dua tokoh yang utuh, yang terdiri dari minimal 6 baris dialog berbalasan (masing-masing tokoh berbicara minimal 3 kali) yang secara berurutan mengalir dari pembuka, tengah, hingga penutup (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Setiap pasangan saling bertukar draf naskah dialog dengan pasangan lain untuk memeriksa keterbacaan alur cerita menggunakan panduan cek alur: apakah bagian awal, masalah di bagian tengah, dan penyelesaian di bagian akhir sudah jelas serta mudah dipahami (8 menit).
  • Murid memberi tanda centang pada draf pasangan mitra dan menyampaikan satu catatan perbaikan mengenai kejelasan alur naskah yang diperiksa (2 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap hasil susunan alur naskah dialog dua tokoh yang telah dibuat murid, menegaskan pentingnya alur yang runtut agar cerita mudah dipahami (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen akhir berupa 2 pertanyaan cek pemahaman singkat: (1) Sebutkan 3 tahapan alur cerita yang harus ada dalam naskah! (acuan jawaban: pembuka/pengenalan, tengah/konflik, penutup/penyelesaian); (2) Mengapa konflik diletakkan pada bagian tengah alur cerita? (kriteria penerimaan: jawaban menyatakan bahwa konflik merupakan inti persoalan yang menghubungkan situasi awal dengan jalan keluar/penyelesaian di akhir cerita) (5 menit).
  • Guru menyampaikan kegiatan tindak lanjut untuk membawa naskah dialog ini pada pertemuan berikutnya dan menutup pembelajaran dengan salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan disediakan templat kerangka alur rumpang (pembuka sudah memuat latar dan nama tokoh, tengah memuat petunjuk konflik, penutup memuat petunjuk kesepakatan), sedangkan murid yang mandiri langsung merancang ketiga alur secara mandiri.
  • Proses: Pada tahap penyusunan naskah dialog, murid yang memerlukan bantuan mendapatkan panduan pemantik kalimat tanya-jawab bergantian dari guru, sedangkan pasangan yang mahir diarahkan menyusun naskah dengan variasi respons tokoh yang lebih berbobot pada tahap tengah/konflik.
  • Produk: Pasangan yang masih berkembang menyusun naskah dialog minimal 6 baris ujaran yang memenuhi 3 tahap alur, sedangkan pasangan yang mahir menyusun naskah dialog 8-10 baris ujaran dengan alur cerita yang lebih mendalam pada tahapan konflik dan penyelesaian.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik pengurutan alur cerita acak di kegiatan pendahuluan: murid mengurutkan 3 fragmen peristiwa: (A) Rian meminta maaf dan mengembalikan buku, (B) Rian meminjam buku catatan Dito tetapi lupa membawa saat ujian, (C) Dito panik mencari buku catatannya di kelas. (Acuan urutan tepat: B - C - A).

Proses:

  • Observasi formatif saat pengerjaan berpasangan: memeriksa lembar kerja penyusunan alur cerita untuk memastikan keterpenuhan 3 komponen alur (pembuka, tengah, penutup) dan kelayakan minimal 6 baris dialog berbalasan dua tokoh yang mencerminkan alur tersebut.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman tertulis singkat di akhir sesi dengan 2 butir: (1) Sebutkan 3 tahapan alur cerita sederhana dalam naskah dialog! (acuan: pembuka, tengah, penutup); (2) Mengapa konflik diletakkan pada bagian tengah alur cerita? (kriteria penerimaan: menyebutkan bahwa konflik menjadi penggerak persoalan/puncak peristiwa sebelum diselesaikan di akhir cerita).

Formatif:

  • Penilaian proses penyusunan kerangka alur dan naskah dialog dua tokoh menggunakan rubrik ketercapaian alur cerita sederhana (kejelasan 3 tahap alur dan integrasinya ke dalam dialog dua tokoh)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penyusunan Alur Cerita Sederhana (Pembuka, Tengah, Penutup)Alur cerita naskah dialog belum terbentuk secara runtut; hanya memuat 1 dari 3 komponen alur (misal hanya pembuka tanpa ada konflik dan penyelesaian).Alur cerita naskah dialog memuat 2 dari 3 komponen alur sederhana (misal pembuka dan tengah konflik, namun belum memiliki penutup penyelesaian).Alur cerita naskah dialog tersusun runtut dan jelas memuat 3 komponen alur lengkap (pembuka, tengah/konflik, dan penutup/penyelesaian).Alur cerita naskah dialog tersusun sangat runtut, jelas, dan mudah dipahami dengan keterikatan sebab-akibat yang sangat padu antara pembuka, konflik di bagian tengah, dan penyelesaian di bagian penutup secara mandiri.
Penyusunan Alur ke dalam Bentuk Naskah Dialog Dua TokohDraf naskah belum berbentuk dialog dua tokoh yang berbalasan atau dialog kurang dari 4 baris sehingga alur tidak terbaca.Draf naskah tersusun dalam bentuk dialog dua tokoh minimal 4-5 baris berbalasan, namun peralihan alur dari pembuka ke konflik masih terputus.Draf naskah tersusun dalam bentuk dialog dua tokoh berbalasan secara seimbang (minimal 6 baris ujaran; masing-masing tokoh berbicara minimal 3 kali) yang mencerminkan alur cerita sederhana secara jelas.Draf naskah tersusun dalam bentuk dialog dua tokoh berbalasan secara runtut, seimbang, dan mengalir mulus (lebih dari 6 baris ujaran) dengan pembagian peran dialog yang sepenuhnya mencerminkan perkembangan alur dari awal sampai akhir secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah instruksi mengenai tiga tahapan alur cerita (pembuka, tengah, penutup) dapat dipahami dengan mudah oleh murid kelas 7?
  • Bagian mana dari proses perancangan naskah dialog dua tokoh yang paling banyak membutuhkan scaffolding guru?
  • Apakah waktu 80 menit mencukupi bagi murid untuk menuntaskan penyusunan naskah hingga tahap saling memeriksa draf?

Murid:

  • Apakah alur cerita yang kamu dan pasanganmu buat sudah memiliki bagian awal, masalah, dan akhir yang jelas?
  • Bagian alur mana yang paling menantang untuk dituangkan ke dalam percakapan dua tokoh: pembuka, tengah, atau penutup?

Pertemuan 4 — Memainkan Peran Berpasangan Berdasarkan Naskah Dialog Dua Tokoh — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.2.4 Memainkan peran dalam sebuah pertunjukan sederhana di kelas berdasarkan naskah dialog yang telah disusun

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, mengajak murid berdoa, serta memeriksa kesiapan fisik dan ruang kelas untuk latihan seni peran (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu memainkan peran dalam pertunjukan sederhana di kelas berpasangan menggunakan naskah dialog dua tokoh yang telah disusun pada pertemuan sebelumnya (3 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik kesiapan peran dengan meminta 2 pasang murid secara acak memperagakan cuplikan 1 baris dialog dari naskahnya untuk memetakan kesiapan respon peran antartokoh (acuan: murid langsung menyahut dialog pasangannya sesuai situasi naskah tanpa berhenti ragu) (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid bersama pasangan perannya membaca kembali naskah dialog dua tokoh yang telah dibuat, mencermati petunjuk laku peran dan giliran berdialog masing-masing tokoh secara berkesadaran (5 menit).
  • Guru memberikan pemodelan singkat tentang cara membagi area panggung sederhana di kelas dan menjaga fokus tatapan serta reaksi tubuh saat lawan main sedang berbicara agar adegan tetap hidup (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Tantangan Menghidupkan Peran: Setiap pasangan melakukan pemanasan adu peran selama 10 menit dengan mencoba memainkan adegan naskah sambil bereksperimen mengubah variasi blocking sederhana (maju, mundur, berhadapan) secara seru dan menyenangkan (10 menit).
  • Pasangan murid secara bergiliran tampil di area panggung kelas memainkan peran tokoh masing-masing sesuai naskah dialog dua tokoh dengan durasi tampil 3-4 menit per pasangan (40 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama pasangan duduk hening sejenak mengidentifikasi bagian adegan pemeranan yang sudah berhasil dimainkan secara lancar dan bagian yang masih terbata-bata selama pertunjukan di kelas (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan umum terhadap keberanian dan kesungguhan seluruh pasangan dalam memainkan peran berdasarkan naskah (3 menit).
  • Guru dan murid menyimpulkan proses praktik pemeranan hari ini, lalu menutup pertemuan dengan doa bersama dan salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Naskah dialog yang dimainkan disesuaikan dengan naskah yang dirancang murid (naskah pendek dengan 4 pertukaran dialog untuk kelompok bertahap, dan 6-8 pertukaran dialog untuk kelompok mahir).
  • Proses: Pasangan yang masih cemas diperkenankan memegang lembar naskah sebagai panduan laku peran (scaffolding), sedangkan pasangan yang siap ditantang memainkan peran lepas naskah secara penuh.
  • Produk: Kriteria unjuk kerja sama, yaitu memainkan seluruh urutan adegan peran sesuai alur naskah dialog dua tokoh masing-masing.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik dan peragaan cuplikan peran: Guru meminta perwakilan pasangan mengucapkan satu baris dialog tokohnya dan langsung direspons oleh pasangannya sesuai isi naskah. (Acuan ketercapaian: murid merespons giliran bicara tanpa jeda hening lebih dari 5 detik dan memperlihatkan kontak mata/reaksi tubuh sesuai emosi teks naskah).

Proses:

  • Observasi unjuk kerja pemeranan berpasangan selama tampil di depan kelas. Guru mencatat ketercapaian pada aspek: (1) kelancaran memainkan laku peran dari awal hingga akhir naskah, (2) keselarasan interaksi bermain peran dengan pasangan (merespons dialog dan tindakan lawan main sesuai naskah).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman ketercapaian peran: Guru meminta setiap murid menandai checklist mandiri: (1) Berhasil membawakan peran dari awal hingga akhir adegan naskah (Ya/Tidak), (2) Menjalin interaksi aksi-reaksi bersama pasangan main di panggung (Ya/Tidak). (Kriteria penerimaan: murid menjawab 'Ya' pada kedua butir dan mampu menyebutkan satu adegan aksinya yang paling sesuai naskah).

Formatif:

  • Asesmen Awal: Observasi respon pemeranan cepat satu baris dialog naskah berpasangan.
  • Asesmen Proses: Lembar observasi unjuk kerja memainkan peran berpasangan berdasarkan naskah dialog dua tokoh di kelas.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kelancaran Memainkan Peran Sesuai NaskahMemerlukan panduan guru secara intensif pada sebagian besar adegan untuk melanjutkan peran dan urutan dialog naskah.Memainkan peran sesuai urutan naskah namun masih sering berhenti ragu atau melompati baris dialog peran.Memainkan peran secara runtut dari awal hingga akhir adegan sesuai teks dialog naskah dengan lancar secara mandiri.Memainkan peran secara runtut, lancar, dan sepenuhnya mandiri tanpa jeda ragu serta konsisten menjaga laku peran sepanjang pertunjukan.
Interaksi Respon Peran dengan PasanganBelum menunjukkan respon terhadap tindakan atau dialog pasangan main; hanya berfokus pada baris dialog sendiri.Mulai merespons dialog atau tindakan pasangan main tetapi sesekali kehilangan fokus atau terlambat menyahut giliran peran.Konsisten merespons giliran dialog dan tindakan laku peran pasangan main sesuai situasi cerita naskah.Sangat tanggap dan luwes dalam merespons aksi-reaksi laku peran pasangan main secara konsisten dan meyakinkan di sepanjang adegan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu giliran tampil berpasangan (40 menit) mencukupi untuk seluruh pasangan di kelas?
  • Bagaimana tingkat kepercayaan diri murid saat memainkan peran berpasangan di depan teman-temannya?

Murid:

  • Bagian mana dari naskah dialog yang paling mudah dan paling menantang untuk kamu mainkan bersama pasanganmu?
  • Bagaimana perasaanmu setelah berhasil menyelesaikan pertunjukan peran berpasangan di depan kelas?

Pertemuan 5 — Menjelaskan Pengalaman Bermain Peran serta Memberikan Apresiasi dan Umpan Balik Antarteman — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.2.5 Menjelaskan pengalaman bermain peran dan dampaknya terhadap diri sendiri
  • TP 7.2.6 Memberikan apresiasi dan umpan balik sesuai dengan pengalaman pribadi terhadap penampilan bermain peran teman

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan murid, dan mengondisikan suasana kelas yang aman serta saling menghargai (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menjelaskan pengalaman bermain peran, dampaknya pada diri, serta menyampaikan apresiasi dan umpan balik kepada teman (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat dengan meminta murid merespons secara lisan satu pertanyaan diagnostik: 'Sebutkan 1 pengalaman paling berkesan saat bermain peran kemarin dan 1 hal positif dari penampilan pasangan temanmu!' (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru memberikan pemodelan cara merumuskan refleksi diri (pengalaman dan dampak) serta cara menyusun apresiasi dan umpan balik konstruktif berbasis pengalaman pribadi menggunakan format 'Apresiasi-Saran-Harapan' (10 menit).
  • Murid secara mandiri mengidentifikasi pengalaman bermain peran yang telah dijalani pada pertemuan sebelumnya menggunakan lembar refleksi berpanduan 3 pertanyaan: (1) Apa tantangan terbesar saat bermain peran? (2) Bagaimana perasaanmu setelah berhasil menyelesaikannya? (3) Apa dampak pengalaman tersebut terhadap kepercayaan dirimu? (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid melakukan aktivitas menggembirakan 'Estafet Apresiasi Positif': setiap murid menuliskan 1 apresiasi spesifik dan 1 umpan balik membangun pada lembar apresiasi meja teman pasangannya dari adegan dialog pertemuan lalu (15 menit).
  • Murid menuliskan penjelasan lengkap pengalaman bermain peran dan dampaknya terhadap diri sendiri pada lembar kerja refleksi pribadi (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Beberapa perwakilan murid membacakan penjelasan pengalaman pribadinya serta apresiasi yang diterima dari teman, lalu mendiskusikan bagaimana umpan balik tersebut membantu pemahaman diri mereka (10 menit).

Penutup:

  • Guru dan murid menyimpulkan pentingnya refleksi diri yang jujur serta penyampaian umpan balik yang membangun dalam proses belajar seni teater (5 menit).
  • Guru menyampaikan rencana kegiatan pertemuan berikutnya (Asesmen Sumatif Bab 2) dan menutup sesi pembelajaran dengan doa serta salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan kalimat rumpang untuk menyusun penjelasan dan umpan balik (misal: 'Saat bermain peran saya merasa... dampaknya bagi saya... Saya mengapresiasi penampilan teman pada bagian... saran saya...'). Murid yang sudah mahir menyusun refleksi analitis tanpa kalimat pemantik.
  • Proses: Bimbingan langsung diberikan oleh guru kepada murid yang kesulitan mengekspresikan pengalaman diri, sedangkan murid yang mandiri langsung menulis dan memberikan apresiasi ke lebih dari satu pasangan teman.
  • Produk: Umpan balik dapat disajikan dalam bentuk catatan tertulis terstruktur pada kartu apresiasi atau lembar refleksi naratif.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik kesiapan refleksi dan apresiasi: Murid diminta menyebutkan 1 pengalaman personal saat bermain peran dan 1 komentar positif untuk teman (Kriteria penerimaan operasional: jawaban menyebutkan secara spesifik peristiwa konkret saat bermain peran dan menyebutkan 1 aspek positif penampilan teman, bukan sekadar 'seru' atau 'bagus').

Proses:

  • Pemeriksaan lembar kerja refleksi murid: Menilai kemampuan menjelaskan pengalaman bermain peran dan uraian dampak nyata terhadap diri sendiri (Kriteria penerimaan operasional: memuat minimal 1 deskripsi pengalaman bermain peran dan minimal 1 dampak terhadap diri sendiri seperti peningkatan rasa percaya diri, ketenangan, atau keberanian).
  • Pemeriksaan kartu apresiasi antarteman: Menilai pemberian apresiasi dan umpan balik yang relevan dengan penampilan teman (Kriteria penerimaan operasional: memuat minimal 1 kalimat apresiasi positif dan 1 kalimat saran perbaikan yang membangun berdasarkan pengamatan langsung).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman penutup: Murid menuliskan satu kalimat simpulan refleksi diri di lembar keluar (exit ticket) yang memuat dampak belajar teater hari ini bagi perkembangan pribadinya (Kriteria penerimaan: kalimat secara eksplisit menyebutkan dampak pengalaman belajar terhadap pemahaman diri atau sikap terhadap orang lain).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik lisan di awal pembelajaran
  • Penilaian proses lembar kerja penjelasan pengalaman bermain peran dan dampaknya bagi diri sendiri
  • Penilaian unjuk kerja tertulis pemberian apresiasi dan umpan balik antarteman

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menjelaskan pengalaman bermain peran dan dampaknya terhadap diri sendiri (TP 7.2.5)Belum mampu menjelaskan pengalaman bermain peran maupun dampaknya terhadap diri sendiri meski telah dipandu.Menjelaskan pengalaman bermain peran secara singkat, namun belum menguraikan dampaknya terhadap diri sendiri.Menjelaskan pengalaman bermain peran dan menguraikan minimal 1 dampak nyata terhadap diri sendiri secara mandiri.Menjelaskan pengalaman bermain peran secara rinci serta menguraikan lebih dari 1 dampak nyata terhadap diri sendiri secara mendalam dan mandiri.
Memberikan apresiasi dan umpan balik terhadap penampilan bermain peran teman (TP 7.2.6)Belum mampu memberikan apresiasi maupun umpan balik yang relevan terhadap penampilan teman.Memberikan apresiasi umum tanpa disertai umpan balik saran perbaikan yang jelas.Memberikan apresiasi spesifik dan minimal 1 umpan balik yang membangun sesuai pengalaman pengamatan penampilan teman.Memberikan apresiasi spesifik yang mendalam dan umpan balik solutif yang membangun secara runtut serta santun.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah suasana kelas sudah cukup kondusif dan aman bagi murid untuk mengekspresikan refleksi diri serta menerima umpan balik?
  • Apakah instruksi pemberian umpan balik antarteman sudah dipahami sehingga tidak menyinggung perasaan sesama murid?

Murid:

  • Bagian mana dari pengalaman bermain peran yang paling memberikan pelajaran berharga untuk diriku?
  • Bagaimana tanggapan dan umpan balik dari teman dapat membantuku memahami kelebihan dan kekuranganku?

Pertemuan 6 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.2.1 Mengeksplorasi vokal sebagai dasar keaktoran murid melalui artikulasi bunyi bahasa dan intonasi ekspresi dramatik
  • TP 7.2.2 Memainkan lakon dengan satu gaya yang sederhana dan mudah dipelajari dalam bentuk senandika
  • TP 7.2.3 Menyusun alur cerita sederhana yang jelas dan mudah dipahami ke dalam naskah dialog dua tokoh
  • TP 7.2.4 Memainkan peran dalam sebuah pertunjukan sederhana di kelas berdasarkan naskah dialog yang telah disusun
  • TP 7.2.5 Menjelaskan pengalaman bermain peran dan dampaknya terhadap diri sendiri
  • TP 7.2.6 Memberikan apresiasi dan umpan balik sesuai dengan pengalaman pribadi terhadap penampilan bermain peran teman

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan bahwa pertemuan ke-6 ini adalah pelaksanaan asesmen sumatif Bab 2 untuk mengukur penguasaan penulisan naskah, pemeranan dramatik berpasangan, dan refleksi-apresiasi (3 menit).
  • Guru menjelaskan alur dan tata tertib asesmen sumatif: Tugas 1 penulisan naskah berpasangan serentak (17 menit), Tugas 2 unjuk kerja bermain peran berpasangan secara bergiliran (45 menit), dan Tugas 3 pengisian lembar refleksi-apresiasi individual serentak (12 menit) (2 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru membagikan lembar kerja naskah dialog dua tokoh, mengonfirmasi pembagian 14 pasangan murid, dan menjelaskan kriteria penilaian naskah: alur cerita sederhana yang runtut (awal, konflik, penyelesaian) tanpa narasi tuturan di luar dialog (3 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid secara berpasangan mengerjakan Tugas 1: menyusun draf final naskah dialog dua tokoh dengan alur sederhana yang runtut dan jelas berdurasi 3 menit adegan (kriteria naskah mencakup: 2 tokoh bernama jelas, ada konflik persoalan, ada dialog senandika untuk minimal satu tokoh, dan alur tertutup/selesai) lalu mengumpulkannya ke meja guru (17 menit).
  • Murid secara bergantian per pasangan menampilkan Tugas 2: unjuk kerja bermain peran berdurasi 3 menit per pasangan di area panggung kelas (14 pasangan x 3 menit = 42 menit, dengan 3 menit transisi antar-penampil) membawakan dialog berpasangan yang diselingi lakon senandika tokoh, menerapkan artikulasi bunyi bahasa dan intonasi ekspresi dramatik yang jelas, sementara guru melakukan observasi penilaian langsung (42 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Seluruh murid secara individual dan serentak mengerjakan Tugas 3 pada lembar refleksi dan apresiasi tertulis: menjelaskan pengalaman bermain peran dan dampaknya terhadap kepercayaan diri/pengenalan emosi diri, serta menuliskan catatan apresiasi dan umpan balik objektif terhadap kejelasan artikulasi, intonasi vokal, dan penjiwaan peran dari pasangan teman yang diamati (10 menit).

Penutup:

  • Guru mengumpulkan seluruh lembar tugas naskah, lembar penilaian unjuk kerja, dan lembar refleksi-apresiasi murid secara tertib (2 menit).
  • Guru memberikan penguatan umum atas ketercapaian seluruh rangkaian Bab 2 'Ekspresi Dramatik', mengapresiasi kerja keras murid, dan menutup pertemuan dengan doa serta salam (1 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Memberikan salinan cetak format panduan penulisan naskah dan lembar refleksi dengan ukuran huruf lebih besar bagi murid dengan hambatan penglihatan.
  • Proses: Memberikan penyesuaian posisi berdiri atau duduk saat pementasan bagi murid dengan hambatan mobilitas fisik tanpa mengubah durasi, artikulasi vokal, maupun naskah dialog yang dibawakan.
  • Produk: Format bukti produk naskah, unjuk kerja peran, dan lembar refleksi diseragamkan sesuai rubrik sumatif demi menjaga kesetaraan standar pembuktian.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pengecekan kesiapan teknis sebelum asesmen: Guru memeriksa kesiapan draf konsep dialog dan pembagian peran pada masing-masing 14 pasangan murid dengan kriteria kesiapan: masing-masing pasangan telah menentukan 2 tokoh cerita dan garis besar konflik (acuan: ada penetapan peran tokoh A dan B serta konflik yang akan dimainkan).

Proses:

  • Pemantauan pengerjaan asesmen sumatif: Pengamatan ketepatan waktu kerja pasangan pada Tugas 1 (20 menit penyusunan draf naskah) dan kepatuhan durasi tampil 3 menit per pasangan pada Tugas 2.

Sumatif Bab:

  • penilaian produk naskah, unjuk kerja pemeranan dramatik berpasangan, dan refleksi-apresiasi tertulis: naskah dialog dua tokoh dengan alur cerita sederhana, penampilan bermain peran berpasangan yang menampilkan eksplorasi vokal, senandika, dan laku peran tokoh, serta lembar refleksi diri dan apresiasi umpan balik antarteman
  • penilaian produk naskah: draf naskah dialog dua tokoh yang disusun berpasangan secara serentak, memuat alur cerita sederhana yang runtut dan jelas tanpa tambahan tuturan di luar dialog cerita (20 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian naskah dialog dua tokoh)
  • unjuk kerja bermain peran: penampilan bermain peran berpasangan berdurasi 3 menit per pasangan (14 pasangan x 3 menit = 42 menit) membawakan dialog berpasangan yang diselingi lakon senandika tokoh serta artikulasi fonem dan intonasi ekspresi dramatik yang jelas (45 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja keaktoran (artikulasi-intonasi vokal, penjiwaan senandika, dan kesesuaian laku peran))
  • refleksi dan catatan apresiasi tertulis: lembar kerja tertulis yang diisi seluruh murid secara serentak, memuat refleksi pengalaman bermain peran dan dampaknya pada diri sendiri serta catatan apresiasi dan umpan balik terhadap kejelasan vokal dan penjiwaan peran teman (15 menit; individual; instrumen: lembar refleksi diri dan format apresiasi antarteman)

Sumatif:

  • penilaian produk naskah, unjuk kerja pemeranan dramatik berpasangan, dan refleksi-apresiasi tertulis: naskah dialog dua tokoh dengan alur cerita sederhana, penampilan bermain peran berpasangan yang menampilkan eksplorasi vokal, senandika, dan laku peran tokoh, serta lembar refleksi diri dan apresiasi umpan balik antarteman
  • penilaian produk naskah: draf naskah dialog dua tokoh yang disusun berpasangan secara serentak, memuat alur cerita sederhana yang runtut dan jelas tanpa tambahan tuturan di luar dialog cerita (20 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian naskah dialog dua tokoh)
  • unjuk kerja bermain peran: penampilan bermain peran berpasangan berdurasi 3 menit per pasangan (14 pasangan x 3 menit = 42 menit) membawakan dialog berpasangan yang diselingi lakon senandika tokoh serta artikulasi fonem dan intonasi ekspresi dramatik yang jelas (45 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja keaktoran (artikulasi-intonasi vokal, penjiwaan senandika, dan kesesuaian laku peran))
  • refleksi dan catatan apresiasi tertulis: lembar kerja tertulis yang diisi seluruh murid secara serentak, memuat refleksi pengalaman bermain peran dan dampaknya pada diri sendiri serta catatan apresiasi dan umpan balik terhadap kejelasan vokal dan penjiwaan peran teman (15 menit; individual; instrumen: lembar refleksi diri dan format apresiasi antarteman)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penyusunan Alur Naskah Dialog Dua Tokoh (TP 7.2.3)Naskah dialog belum membentuk alur cerita sederhana yang runtut (hanya 1 bagian alur yang tampak) atau masih didominasi teks tuturan naratif di luar dialog.Naskah dialog memuat 2 bagian alur (misalnya hanya pengenalan dan konflik tanpa penyelesaian) dengan tuturan dialog dua tokoh yang mulai teratur.Naskah dialog menyusun alur cerita sederhana secara lengkap dan runtut (memuat pengenalan/awal, konflik persoalan, dan penyelesaian) sepenuhnya dalam bentuk tuturan dialog dua tokoh tanpa narasi luar.Naskah dialog menyusun alur cerita sederhana (awal, konflik, penyelesaian) secara runtut, sangat jelas, padu, serta menempatkan porsi dialog dan petunjuk senandika tokoh secara proporsional dan efektif.
Eksplorasi Vokal: Artikulasi dan Intonasi Dramatik (TP 7.2.1)Artikulasi bunyi bahasa tidak jelas (fonem bergumam/tertelan) dan intonasi datar tanpa variasi ekspresi dramatik sepanjang dialog.Artikulasi bunyi bahasa jelas pada sebagian kata/kalimat, namun intonasi ekspresi dramatik masih canggung atau belum konsisten mengikuti dinamika emosi tokoh.Mengeksplorasi vokal secara tepat dengan artikulasi bunyi bahasa yang jelas pada setiap kata/kalimat dialog serta intonasi ekspresi dramatik yang selaras dengan emosi tokoh.Mengeksplorasi vokal dengan artikulasi fonem bunyi bahasa yang sangat presisi, volume resonan, dan intonasi ekspresi dramatik yang sangat variatif serta meyakinkan menghidupkan karakter peran.
Pemeranan Lakon Senandika dan Dialog Berpasangan (TP 7.2.2 & TP 7.2.4)Memainkan peran berpasangan dengan sering lupa naskah/blocking terhenti dan belum mampu memainkan lakon senandika tokoh secara terpisah dari dialog lawan main.Mampu memainkan peran dalam pertunjukan dialog berpasangan dengan alur yang selesai, namun penghayatan lakon senandika masih ragu-ragu atau belum menunjukkan gaya yang terfokus.Mampu memainkan peran dalam pertunjukan dialog berpasangan secara lancar sesuai naskah dan memainkan lakon senandika tokoh dengan satu gaya sederhana yang mudah dipahami penonton.Memainkan peran pertunjukan dialog berpasangan secara matang dan dinamis, serta membawakan lakon senandika dengan penjiwaan mendalam, ekspresif, dan penguasaan panggung yang sangat percaya diri.
Refleksi Diri dan Apresiasi Antarteman (TP 7.2.5 & TP 7.2.6)Lembar refleksi hanya memuat keterangan singkat tanpa menjelaskan pengalaman pribadi/dampaknya, serta umpan balik kepada teman tidak memberikan komentar terhadap vokal/peran.Menjelaskan pengalaman bermain peran secara umum namun dampak pada diri sendiri belum diuraikan, serta umpan balik kepada teman hanya bersifat penilaian suka/tidak suka tanpa catatan teknis.Menjelaskan pengalaman bermain peran dan dampaknya terhadap diri sendiri (kepercayaan diri/pengenalan emosi) secara jelas, serta memberikan apresiasi dan umpan balik objektif mengenai kejelasan vokal dan penjiwaan teman.Menjelaskan pengalaman bermain peran secara mendalam dan memaknai dampaknya bagi perkembangan diri secara berkesadaran, serta memberikan apresiasi dan umpan balik yang sangat konstruktif, rinci, dan santun.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 45 menit untuk unjuk kerja bermain peran 14 pasangan (3 menit per pasangan) terlaksana secara tertib dan adil?
  • Bagaimana ketercapaian murid secara menyeluruh pada integrasi kompetensi vokal, senandika, naskah dialog, dan refleksi dramatik dalam asesmen sumatif bab ini?

Murid:

  • Bagian mana dari pemeranan naskah dialog berpasangan dan senandika tadi yang paling berhasil kamu tampilkan dengan baik?
  • Apa dampak terpenting dari seluruh proses latihan hingga pertunjukan hari ini terhadap keberanianmu berbicara dan berekspresi di depan orang lain?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SMP/MTs Kelas VII (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
  2. Kartu teks kalimat latihan artikulasi dan panduan ekspresi emosi dramatik
  3. Cermin genggam (alat bantu observasi bentuk bukaan mulut/artikulasi)
  4. Buku Panduan Guru Seni Teater SMP Kelas VII, Kemendikbudristek
  5. Lembar teks kutipan senandika 'Sepatu Impian' dan 'Ujian Kejujuran'
  6. Kartu situasi emosi untuk pemanasan laku peran
  7. Buku Panduan Guru Seni Teater SMP/MTs Kelas VII (Kemendikbudristek 2021/Edisi Revisi)
  8. Contoh lembar draf naskah dialog dua tokoh berstruktur pembuka-tengah-penutup
  9. Buku catatan dan lembar kerja penyusunan alur cerita teater
  10. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2021). Buku Panduan Guru Seni Teater SMP/MTs Kelas VII.
  11. Naskah dialog dua tokoh karya murid (hasil karya pertemuan 3).
  12. Ruang kelas yang ditata sebagai panggung pertunjukan sederhana.
  13. Buku Panduan Guru Seni Teater Kelas VII SMP (Kemendikbudristek 2021/2023 revisi)
  14. Lembar Refleksi Diri 'Pengalamanku Bermain Peran'
  15. Kartu Format Apresiasi dan Umpan Balik Antarteman
  16. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SMP/MTs Kelas VII (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
  17. Lembar Asesmen Sumatif: Format Naskah Dialog Dua Tokoh, Lembar Observasi Unjuk Kerja Pemeranan, dan Lembar Refleksi Diri & Apresiasi Antarteman.
  18. Panggung/area pentas sederhana di dalam ruang kelas beserta properti kelas sederhana (meja dan dua kursi).

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.