Modul AjarBab 1Fase DSemester 1

Modul Ajar Seni Teater Kelas 7 Bab 1: Dasar Kreasi Laku Peran Aktor Teater

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Seni Teater kelas 7 untuk Bab 1 "Dasar Kreasi Laku Peran Aktor Teater", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Seni Teater Kelas 7 Bab 1: Dasar Kreasi Laku Peran Aktor Teater

Seni Teater - Kelas 7

Bab 1

MODUL AJAR

Seni Teater — Kelas 7 (Fase D)

Topik: Bab 1 — Dasar Kreasi Laku Peran Aktor Teater

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranSeni Teater
Fase / KelasFase D / Kelas 7
TopikBab 1 — Dasar Kreasi Laku Peran Aktor Teater
Alokasi Waktu12 JP (12 x 40 menit = 480 menit)
Jumlah Pertemuan6
Tahun Ajaran2026/2027
Semester1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 7.1.1 Mengeksplorasi olah tubuh sebagai dasar keaktoran murid melalui latihan gerak dan konsentrasi fisik
  2. TP 7.1.2 Mengeksplorasi mimik wajah dan vokal sebagai dasar keaktoran murid melalui penghayatan ingatan emosi
  3. TP 7.1.3 Membuat rancangan beragam karakter dengan imajinasi dan kreativitasnya untuk laku peran pantomim
  4. TP 7.1.4 Memainkan beragam karakter dengan imajinasi dan kreativitasnya melalui laku gerak pantomim
  5. TP 7.1.5 Menjelaskan pengalaman bermain peran dan dampaknya terhadap diri sendiri dalam latihan dasar keaktoran
  6. TP 7.1.6 Memberikan apresiasi dan umpan balik sesuai dengan pengalaman pribadi atas peragaan laku peran teman

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis✓
Kreativitas✓
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan✓
Komunikasi✓

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Bagaimana olah tubuh membantu seorang pemeran menyampaikan cerita tanpa harus selalu bersuara?
  2. Mengapa konsentrasi dan kepekaan fisik sangat penting sebelum tubuh mulai digerakkan di atas panggung?
  3. Bagaimana raut wajah dan suara kita berubah saat mengingat peristiwa yang sangat menggembirakan dibanding peristiwa yang mengecewakan?
  4. Mengapa seorang aktor perlu mengingat pengalaman emosi masa lalunya saat menampilkan mimik dan vokal di panggung?
  5. Bagaimana kita bisa menggambarkan ciri fisik dan watak seseorang dalam bentuk rancangan gerak tanpa bersuara?
  6. Mengapa imajinasi dan kreativitas diperlukan saat merancang karakter pantomim?
  7. Bagaimana cara tubuh kita memperlihatkan perbedaan karakter seorang kakek tua dan seorang anak kecil yang lincah tanpa mengeluarkan suara?
  8. Bagaimana imajinasi gerak dapat membuat benda yang sebenarnya tidak ada terlihat nyata oleh penonton?
  9. Apa perubahan atau dampak yang kamu rasakan pada tubuh dan emosimu setelah berlatih memerankan karakter pada pertemuan sebelumnya?
  10. Bagaimana caramu mengapresiasi dan memberi masukan yang membangun terhadap laku peran yang ditampilkan oleh temanmu?
  11. Bagaimana penggabungan olah tubuh, ekspresi mimik, dan vokal membantu kita mewujudkan karakter yang hidup di atas panggung?
  12. Mengapa dalam pertunjukan pantomim, kejelasan gestur dan konsentrasi fisik menjadi kunci utama agar penonton memahami jalan cerita?
  13. Apa makna dan pembelajaran berharga yang kalian peroleh setelah menjalani seluruh rangkaian latihan dasar keaktoran bab ini?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Eksplorasi Olah Tubuh sebagai Dasar Keaktoran Murid melalui Latihan Gerak dan Konsentrasi Fisik — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.1.1 Mengeksplorasi olah tubuh sebagai dasar keaktoran murid melalui latihan gerak dan konsentrasi fisik

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan ruang gerak, dan memandu doa bersama (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik kesiapan fisik dengan meminta murid melakukan 2 instruksi gerak: (1) berdiri seimbang satu kaki selama 10 detik, dan (2) peregangan leher serta bahu secara terarah. Acuan pengamatan: murid mampu menjaga keseimbangan tubuh dan merespons instruksi koordinasi tanpa terjatuh (7 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid menyimak demonstrasi guru mengenai keterhubungan antara pemusatan perhatian fisik dengan kelenturan gerak tubuh dasar keaktoran (5 menit).
  • Murid melakukan latihan pemusatan konsentrasi fisik posisi duduk lotus dengan pola pernapasan teratur selama 5 menit guna membangun kesadaran pusat tubuh (center of gravity) (5 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mengeksplorasi olah tubuh melalui peregangan dinamis dari ujung kepala hingga ujung kaki (isolasi gerak kepala, bahu, dada, pinggul, dan tungkai) mengikuti ritme ketukan guru (15 menit).
  • Murid mempraktikkan permainan gerak konsentrasi fisik 'Patung Reflektif': murid bergerak bebas mengalir di ruang kelas mengikuti tempo, lalu saat ketukan berhenti murid wajib menghentikan gerak seketika (freeze) dalam postur tertentu selama 5 detik dengan fokus titik pandang dan keseimbangan tubuh yang terkontrol penuh tanpa goyah (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid secara mandiri merasakan dan mengevaluasi kendali fisiknya saat transisi gerak dinamis ke posisi diam (freeze), serta mengidentifikasi bagian tubuh yang paling menantang untuk dijaga keseimbangannya (15 menit).

Penutup:

  • Murid melakukan pendinginan fisik (cooling down) terpandu untuk mengendurkan otot-otot tubuh yang telah dilatih (5 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan pentingnya olah tubuh dan konsentrasi fisik sebagai dasar keaktoran, lalu menutup pertemuan dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan fisik melakukan eksplorasi dengan tempo ketukan lambat dan tumpuan dua kaki; murid yang siap dengan tantangan lebih mengeksplorasi variasi level gerak (rendah/jongkok dan tinggi/jinjit).
  • Proses: Pemberian jeda penyesuaian keseimbangan bagi murid yang memerlukan penyesuaian koordinasi motorik.
  • Produk: Variasi bentuk postur patung diam (freeze) disesuaikan dengan kapasitas kelenturan dan jangkauan gerak masing-masing murid tanpa mengurangi aspek keseimbangan dan konsentrasi fisik.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Uji kesiapan gerak dan fokus motorik awal: guru meminta murid melakukan 2 instruksi gerak: (1) Berdiri dengan satu kaki terangkat selama 10 detik penuh; (2) Memutar bahu ke depan dan ke belakang secara bergantian dengan pandangan lurus. Acuan ketercapaian: Murid berhasil mempertahankan posisi berdiri satu kaki minimal 7 detik tanpa melangkah/terjatuh dan mampu melakukan rotasi bahu secara sinkron.

Proses:

  • Pengamatan formatif saat latihan peregangan isolasi tubuh dan permainan 'Patung Reflektif'. Kriteria yang diamati: (1) Keterlibatan eksplorasi gerak (kelenturan dan variasi bagian tubuh yang digerakkan), dan (2) Konsentrasi fisik (kemampuan menahan tubuh diam/freeze selama 5 detik dengan keseimbangan stabil saat ketukan berhenti).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman gerak mandiri di akhir sesi: Guru memberi 1 komando acak penghentian gerak pada level rendah (mendekap/jongkok seimbang) selama 5 detik. Acuan keberhasilan: Murid langsung mengunci gerak fisik dalam pose rendah tanpa kehilangan keseimbangan atau bergoyang dalam rentang 5 detik hitungan guru.

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja eksplorasi olah tubuh dan konsentrasi fisik menggunakan lembar pengamatan selama kegiatan inti.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Eksplorasi Olah TubuhHanya menggerakkan satu anggota tubuh secara kaku dan ragu-ragu selama latihan.Mampu mengeksplorasi gerak pada beberapa bagian tubuh (kepala, tangan) namun gerakan masih terbatas dan kaku.Mampu mengeksplorasi olah gerak tubuh secara lentur mencakup isolasi kepala, bahu, torso, dan tungkai sesuai ritme ketukan.Mampu mengeksplorasi olah gerak tubuh secara lentur dan variatif pada seluruh bagian tubuh dengan eksplorasi ruang dan level gerak secara mandiri.
Konsentrasi FisikBelum mampu memusatkan perhatian fisik; kehilangan keseimbangan sebelum 3 detik saat instruksi diam (freeze).Mampu memusatkan perhatian fisik dan menahan posisi diam selama 3 detik namun masih sering bergoyang.Mampu memusatkan konsentrasi fisik dengan menahan posisi diam (freeze) secara stabil selama 5 detik penuh saat ritme berhenti.Mampu memusatkan konsentrasi fisik secara konsisten, menahan posisi diam (freeze) selama lebih dari 5 detik dengan fokus tatapan terarah dan keseimbangan tubuh yang kokoh.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu untuk latihan meditasi dan eksplorasi gerak fisik berjalan efektif?
  • Bagaimana respons murid terhadap variasi tingkat kesulitan latihan konsentrasi gerak 'Patung Reflektif'?

Murid:

  • Bagian tubuh mana yang paling mudah dan paling sulit saya kendalikan saat latihan?
  • Apa yang saya rasakan ketika harus menghentikan seluruh gerak tubuh secara tiba-tiba dan menahannya?

Pertemuan 2 — Eksplorasi Mimik Wajah dan Vokal sebagai Dasar Keaktoran Murid melalui Penghayatan Ingatan Emosi — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.1.2 Mengeksplorasi mimik wajah dan vokal sebagai dasar keaktoran murid melalui penghayatan ingatan emosi

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam dan memandu pemanasan relaksasi otot wajah serta pernapasan diafragma singkat untuk menyiapkan kesiapan fisik murid (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik kesiapan ekspresi dengan meminta seluruh murid serempak menunjukkan mimik wajah dan membunyikan vokal satu kata 'Hah' berdasarkan 3 pemicu ingatan emosi: (1) terkejut bahagia menerima hadiah, (2) kecewa kehilangan barang, (3) geram diganggu teman (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid menyimak penjelasan dan peragaan singkat guru mengenai cara membangkitkan ingatan emosi (emotional memory) dari pengalaman nyata serta bagaimana emosi tersebut disalurkan secara sadar ke perubahan bentuk mimik wajah (mata, alis, bibir) dan modulasi vokal (nada, desah, penekanan) (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Secara bergantian berpasangan, murid memainkan latihan eksplorasi 'Cermin Suara Emosi' dengan mengeksplorasi mimik wajah dan vokal pada 3 skenario ingatan emosi berikut: Skenario 1 (Senang: mengingat momen perayaan ulang tahun/kemenangan lomba dengan mimik mata berbinar, senyum lebar, dan vokal tawa renyah berenergi); Skenario 2 (Sedih: mengingat momen perpisahan atau kehilangan dengan mimik tatapan redup, sudut bibir turun, dan vokal tarikan napas berat bergetar); Skenario 3 (Marah/Kesal: mengingat saat diperlakukan tidak adil dengan mimik alis mengerut tajam, rahang mengeras, dan vokal desisan tertahan bervolume tegas) (35 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid duduk melingkar dalam keheningan terpandu, secara mandiri menyadari sensasi ketegangan otot wajah dan resonansi vokal yang dirasakan saat menghidupkan kembali ingatan emosi tersebut tanpa terbawa larut secara berlebihan (15 menit).

Penutup:

  • Guru dan murid menyimpulkan pentingnya kepekaan ingatan emosi sebagai sumber utama pembentukan mimik wajah dan warna vokal dalam keaktoran (5 menit).
  • Guru menutup pertemuan dengan latihan pelemasan vokal pendinginan dan salam penutup (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan alternatif pemicu ingatan emosi sederhana bagi murid yang kesulitan memanggil kembali memori personal yang kompleks.
  • Proses: Memberikan bimbingan langsung (scaffolding) dengan panduan hitungan ketukan napas bagi murid yang masih ragu mengekspresikan mimik dan vokal, serta memberikan variasi dinamika vokal (tinggi-rendah nada) bagi murid yang sudah percaya diri.
  • Produk: Tuntutan eksplorasi tetap sama pada pengolahan mimik wajah dan vokal melalui 3 skenario emosi yang ditentukan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Uji peragaan serempak mimik dan vokal kata 'Hah' dengan 3 acuan ekspresi: (1) Terkejut bahagia (acuan: mata membelalak ceria, senyum mengembang, vokal 'Hah!' bernada tinggi melengking), (2) Kecewa (acuan: pandangan layu ke bawah, sudut bibir turun, vokal 'Hah...' bernada rendah mendesah panjang), (3) Geram (acuan: alis menukik tajam, rahang rapat, vokal 'Hah!' sentakan pendek tertahan).

Proses:

  • Pengamatan ketercapaian eksplorasi mimik wajah dan vokal pada 3 skenario latihan berpasangan (Senang, Sedih, Marah/Kesal) menggunakan kriteria: keselarasan bentuk otot mimik wajah (mata, alis, bibir) dan kualitas keluaran vokal dengan penghayatan ingatan emosi.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman individu cepat di penutup: Murid memperagakan satu bentuk mimik wajah dan satu bunyi vokal tanpa kata yang mewakili emosi lega setelah melewati ujian (acuan kriteria: otot wajah relaks/tersenyum lepas dan vokal hembusan napas panjang 'Huuuh' beresonansi longgar).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja eksplorasi mimik wajah dan vokal murid menggunakan lembar amatan rubrik selama aktivitas latihan berpasangan.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Eksplorasi Mimik Wajah melalui Ingatan EmosiMimik wajah tampak datar dan belum menunjukkan perubahan otot mata, alis, atau bibir pada ketiga skenario emosi.Mampu mengeksplorasi perubahan mimik wajah yang sesuai hanya pada 1 dari 3 skenario emosi yang ditentukan dengan bantuan panduan guru.Mampu mengeksplorasi perubahan mimik wajah yang selaras secara tepat pada 2 sampai 3 skenario emosi (Senang, Sedih, Marah) secara mandiri.Mampu mengeksplorasi perubahan mimik wajah secara luwes, detail, dan penuh penghayatan pada seluruh 3 skenario emosi secara konsisten dan mandiri.
Eksplorasi Vokal melalui Ingatan EmosiKeluaran vokal monoton, belum menunjukkan dinamika warna nada atau desah emosi pada ketiga skenario.Mampu mengeksplorasi warna bunyi vokal yang sesuai hanya pada 1 dari 3 skenario emosi yang ditentukan.Mampu mengeksplorasi modulasi dan warna vokal yang selaras dengan penghayatan emosi pada 2 sampai 3 skenario emosi secara mandiri.Mampu mengeksplorasi variasi nada, tekanan, dan resonansi vokal secara meyakinkan dan selaras dengan penghayatan pada seluruh 3 skenario emosi secara konsisten.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah instruksi penghayatan ingatan emosi berhasil membantu murid mengekspresikan mimik dan vokal tanpa menimbulkan beban psikologis yang berlebihan?
  • Apakah pembagian waktu latihan eksplorasi berpasangan memberi kesempatan yang merata bagi setiap murid untuk berlatih vokal dan mimik wajah?

Murid:

  • Bagian wajah mana yang terasa paling mudah dan paling sulit digerakkan saat mengekspresikan emosi tertentu?
  • Bagaimana ingatan tentang pengalaman pribadi membantumu menghasilkan suara dan ekspresi wajah yang terasa nyata?

Pertemuan 3 — Membuat Rancangan Beragam Karakter dengan Imajinasi dan Kreativitasnya untuk Laku Peran Pantomim — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.1.3 Membuat rancangan beragam karakter dengan imajinasi dan kreativitasnya untuk laku peran pantomim

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengondisikan kelas agar kondusif untuk berimajinasi (4 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini: membuat rancangan beragam karakter menggunakan imajinasi dan kreativitas untuk laku peran pantomim (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat untuk memetakan kesiapan murid dalam merancang elemen fisik karakter pantomim dengan menunjukkan 2 gambar profesi/kondisi: Gambar A (Kakek penjual koran renta) dan Gambar B (Robot mekanik kaku), lalu meminta murid menuliskan 1 ciri fisik utama yang membedakan kedua rancangan karakter tersebut pada kertas kecil (acuan: Gambar A berciri tubuh bungkuk/langkah lambat/tangan gemetar; Gambar B berciri tubuh tegak kaku/sendi patah-patah) (8 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid menyimak penjelasan guru mengenai 3 komponen utama dalam lembar rancangan karakter pantomim: identitas karakter (usia/profesi), ciri fisik imajinatif (postur, gaya jalan, ritme gerak tubuh), dan gestur khas pantomimik yang diciptakan tanpa suara (10 menit).
  • Murid mengikuti permainan imajinasi kreatif 'Tebak Rancangan Sosok': guru membacakan 3 kartu deskripsi karakter singkat berikut: Kartu 1: 'Sosok atlet lari yang tergesa-gesa', Kartu 2: 'Sosok koki ceroboh yang panik', Kartu 3: 'Sosok detektif misterius yang mengendap-endap'; murid bersama-sama menebak dan menganalisis ide rancangan ciri fisik pembeda dari ketiga karakter tersebut (acuan: Kartu 1 postur condong ke depan dan langkah cepat; Kartu 2 kepala menoleh cepat kebingungan dan tangan sibuk memegang benda imajiner; Kartu 3 langkah jinjit hati-hati dan mata memindai lingkungan) (10 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menerima Lembar Rancangan Karakter Pantomim dan mulai menyusun secara mandiri rancangan untuk 2 karakter yang kontras (beragam) menggunakan imajinasi dan kreativitasnya, dengan mengisi: nama karakter, usia/pekerjaan, bentuk postur tubuh (tegak/bungkuk/condong), tempo langkah (lambat/sedang/cepat), serta 2 gestur khas pantomim (acuan pengisian: rancangan memuat minimal 2 karakter yang berbeda sifat/fisik, misalnya Karakter 1 = Kakek pelupa berpostur bungkuk bertempo lambat dengan gestur mencari kacamata imajiner dan menggaruk kepala; Karakter 2 = Anak kecil hiperaktif berpostur tegak melompat bertempo cepat dengan gestur meniup balon imajiner dan mengejar capung) (25 menit).
  • Guru berkeliling mengamati proses pembuatan rancangan karakter, memberikan scaffolding bagi murid yang kesulitan menemukan variasi karakter, serta memastikan kedua karakter memiliki perbedaan fisik dan imajinasi gerak yang jelas pada lembar kerja (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid secara berpasangan saling menukarkan lembar rancangannya untuk memeriksa apakah detail postur dan gestur khas dari 2 karakter yang dirancang temannya sudah berbeda secara kreatif dan tergambar jelas (5 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan pentingnya imajinasi dan kreativitas dalam merancang karakter pantomim yang jelas dan terbedakan sebelum dimainkan (3 menit).
  • Murid mengumpulkan Lembar Rancangan Karakter Pantomim dan guru memberikan umpan balik umum atas rancangan karakter yang telah dibuat untuk persiapan pertemuan berikutnya, lalu menutup kelas dengan doa (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu panduan berisi daftar kata sifat dan jenis profesi bagi murid yang membutuhkan inspirasi ragam karakter, sementara murid yang lebih cepat dapat mengeksplorasi karakter non-manusia atau makhluk fantasi.
  • Proses: Memberikan bimbingan terarah bagi murid yang masih kesulitan merancang ciri fisik dengan memandu pemilihan postur sederhana, sedangkan murid yang mandiri merancang variasi gestur detail secara leluasa.
  • Produk: Murid yang membutuhkan bimbingan cukup merancang 2 karakter kontras dengan 1 gestur khas per karakter; murid yang cepat merancang 2 karakter kontras dengan lebih dari 2 gestur khas imajinatif yang mendalam.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pengecekan diagnostik kemampuan mengidentifikasi ciri fisik rancangan karakter: Murid menuliskan 1 ciri fisik pembeda untuk 2 gambar karakter (Kakek renta vs Robot kaku). Acuan penerimaan: Menyebutkan postur/gerak pembeda yang tepat (Kakek = bungkuk/lambat/gemetar; Robot = tegak/kaku/patah-patah).

Proses:

  • Pemeriksaan Lembar Rancangan Karakter Pantomim: Guru memeriksa kelengkapan pengisian 2 karakter yang dirancang murid (mencakup identitas karakter, postur tubuh, tempo langkah, dan minimal 1 gestur pantomimik imajinatif untuk masing-masing karakter).

Akhir Pertemuan:

  • Cek kelengkapan dan diferensiasi rancangan: Murid mengumpulkan lembar kerja yang memuat minimal 2 rancangan karakter berbeda; guru memverifikasi keterbacaan rancangan postur dan gestur khas tanpa menuntut peragaan peran.

Formatif:

  • Penilaian proses lembar kerja rancangan karakter pantomim
  • Catatan observasi guru terhadap kreativitas dan variasi karakter yang dirancang murid

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Keragaman Karakter yang DirancangBelum mampu membuat rancangan karakter pantomim, atau hanya merancang 1 karakter tanpa detail identitas.Membuat rancangan 2 karakter pantomim, namun kedua karakter masih memiliki ciri fisik/identitas yang serupa (belum beragam).Membuat rancangan 2 karakter pantomim yang berbeda secara jelas (beragam) dari segi usia/profesi dan postur tubuh.Membuat rancangan 2 atau lebih karakter pantomim yang sangat kontras dan beragam secara mandiri dengan rincian identitas fisik yang spesifik.
Imajinasi dan Kreativitas Ciri Gerak PantomimRancangan belum memuat ciri fisik gerak, postur, atau gestur pantomim imajinatif.Rancangan memuat postur tubuh, tetapi belum memuat gestur khas imajinatif untuk laku peran pantomim.Rancangan memuat postur tubuh, tempo langkah, dan minimal 1 gestur khas pantomim imajinatif yang kreatif untuk setiap karakter.Rancangan memuat postur tubuh, tempo langkah, serta 2 atau lebih gestur pantomim imajinatif yang sangat kreatif, unik, dan orisinal untuk setiap karakter.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah instruksi perancangan karakter pantomim cukup jelas sehingga murid mampu menuangkan imajinasinya dalam bentuk tulisan/bagan?
  • Apakah ragam karakter yang dirancang murid sudah cukup variatif dan siap digunakan untuk latihan gerak pada pertemuan berikutnya?

Murid:

  • Bagian mana dari pembuatan rancangan karakter pantomim yang paling memicu daya imajinasi dan kreativitasmu?
  • Apakah kamu dapat membayangkan bagaimana tubuhmu nanti akan bergerak sesuai rancangan karakter yang kamu buat?

Pertemuan 4 — Memainkan Beragam Karakter dengan Imajinasi dan Kreativitasnya melalui Laku Gerak Pantomim — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.1.4 Memainkan beragam karakter dengan imajinasi dan kreativitasnya melalui laku gerak pantomim

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, serta memimpin peregangan dan pemanasan fisik ringan untuk menyiapkan kelenturan tubuh (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik laku gerak: guru menyebutkan 2 situasi karakter, yaitu (1) 'orang tua renta berjalan tertatih membawa tongkat' dan (2) 'robot kaku yang kehabisan baterai', lalu meminta seluruh murid memperagakan gerakan tubuh tersebut secara spontan di tempat masing-masing untuk memetakan kesiapan artikulasi gerak pantomim (5 menit).
  • Guru mengaitkan hasil asesmen awal dengan rancangan karakter yang telah dibuat pada pertemuan sebelumnya, lalu menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini yaitu memainkan beragam karakter secara nyata melalui laku gerak pantomim tanpa dialog vokal (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid menyimak peragaan guru tentang prinsip ilusi gerak pantomim (tahanan ruang, ilusi memegang benda imajiner, dan ritme tempo langkah) serta mengamati bagaimana perubahan postur tubuh menentukan tipe karakter yang dimainkan (10 menit).
  • Murid secara mandiri mencermati kembali lembar rancangan karakter milik masing-masing dari Pertemuan 3, mengidentifikasi ciri laku gerak fisik yang akan dimainkan (postur, tempo langkah, cara menyentuh benda, dan reaksi tubuh) dengan penuh kesadaran motorik (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid mengikuti permainan eksplorasi 'Tebak Karakter Berantai': murid secara bergantian maju memperagakan laku gerak pantomim dari 1 dari 4 pilihan aksi spesifik tanpa kata ((1) 'koki panik saat adonan kue meledak', (2) 'pencuri mengendap-endap memanjat pagar berduri', (3) 'atlet angkat besi kelelahan mengangkat barbel berat', (4) 'peternak mengejar ayam lincah yang kabur') sementara teman sekelas menebak profesi dan situasi aksinya (15 menit).
  • Murid secara mandiri melatih dan memainkan laku gerak pantomim untuk karakter rancangannya sendiri dalam durasi 1–2 menit di area ruang kelas, mengintegrasikan ketepatan isolasi tubuh, konsistensi ilusi benda imajiner, dan detail gestur karakter secara kreatif (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid duduk melingkar dan melakukan pendinginan tubuh sambil mengevaluasi kendala fisik yang dihadapi saat mempertahankan konsistensi ruang imajiner serta kontrol postur tubuh saat memainkan karakter (10 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan poin pembelajaran utama mengenai pentingnya konsistensi gerak dan kekuatan daya imajinasi dalam memainkan laku pantomim (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap pencapaian gerak murid dan menginformasikan fokus pertemuan berikutnya (Pertemuan 5) yaitu menjelaskan pengalaman bermain peran serta apresiasi karya peran teman, diakhiri dengan doa penutup (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan panduan kartu stimulus laku peran fisik (kartu aksi lambat vs cepat) bagi murid yang membutuhkan inspirasi gerakan konkret.
  • Proses: Murid yang masih ragu diberi bimbingan langsung pada kontrol ruang imajiner dasar (memegang dinding/tali), sedangkan murid yang mahir ditantang memainkan pergantian 2 karakter kontras secara beruntun dalam satu laku gerak.
  • Produk: Eksplorasi laku gerak pantomim disesuaikan dengan kompleksitas karakter yang dirancang murid, baik aksi tunggal sederhana maupun rangkaian aksi dengan properti imajiner.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Uji kesiapan gerak pantomim: guru menginstruksikan 2 peragaan spontan: (1) 'orang tua renta berjalan tertatih membawa tongkat' (acuan: postur tubuh membungkuk, langkah lambat dan berat, tangan menggenggam tongkat imajiner stabil) dan (2) 'robot kaku kehabisan baterai' (acuan: isolasi sendi patah-patah, perlambatan tempo gerak hingga berhenti kaku total). Guru mencatat kesiapan respon motorik murid.

Proses:

  • Observasi formatif saat murid memainkan karakter rancangan pantomim mandiri dengan 2 kriteria terukur: (1) Konsistensi ilusi ruang/benda imajiner (tidak menembus batas ruang atau merubah ukuran benda yang dipegang) dan (2) Kejelasan ciri fisik karakter lewat laku gerak (postur, tempo, dan gestur khas karakter terlihat jelas tanpa vokal).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman gerak penutup: murid memperagakan pose henti (freeze pose) selama 5 detik yang mencerminkan status emosi terakhir karakter pantomim mereka (acuan ketepatan: postur tubuh diam total mengunci bentuk tanpa goyah dan gestur tubuh mencerminkan karakter secara jelas).

Formatif:

  • Pengamatan unjuk kerja laku gerak pantomim saat aktivitas eksplorasi dan peragaan karakter mandiri menggunakan lembar observasi.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Memainkan Karakter melalui Laku Gerak PantomimBelum mampu memainkan karakter melalui gerak pantomim; postur tubuh tidak berubah dan ukuran benda/ruang imajiner tidak konsisten.Memainkan karakter melalui laku gerak pantomim secara sederhana, namun postur khas karakter belum konsisten dan ilusi benda imajiner masih sering berubah ukuran.Mampu memainkan karakter dengan imajinasi dan kreativitas melalui laku gerak pantomim yang jelas, postur konsisten, dan batas benda/ruang imajiner terjaga.Mampu memainkan karakter dengan imajinasi dan kreativitas tinggi melalui laku gerak pantomim yang sangat detail, artikulasi gerak dinamis, serta konsistensi ilusi ruang dan benda imajiner sempurna secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu latihan mandiri gerak pantomim cukup memberikan kebebasan eksplorasi bagi seluruh murid?
  • Apakah instruksi peragaan ilusi ruang dan benda imajiner dapat dipahami dan dipraktikkan murid dengan jelas?

Murid:

  • Gerakan tubuh bagian mana yang paling menantang saat kamu harus meyakinkan penonton tentang adanya benda imajiner?
  • Bagaimana kamu mengatasi kesulitan saat menjaga tubuh tetap stabil dalam memainkan postur karakter?

Pertemuan 5 — Menjelaskan Pengalaman Bermain Peran dan Memberikan Apresiasi serta Umpan Balik Laku Peran Teman — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.1.5 Menjelaskan pengalaman bermain peran dan dampaknya terhadap diri sendiri dalam latihan dasar keaktoran
  • TP 7.1.6 Memberikan apresiasi dan umpan balik sesuai dengan pengalaman pribadi atas peragaan laku peran teman

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-5: menjelaskan pengalaman bermain peran dan dampaknya terhadap diri sendiri, serta memberikan apresiasi dan umpan balik atas peragaan laku peran teman (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat dengan meminta murid merespons pertanyaan panduan: 'Sebutkan 1 hal yang paling kamu rasakan pada tubuhmu saat latihan gerak peran minggu lalu' (kriteria penerimaan: murid menyebutkan dampak fisik konkret seperti otot tegang/rileks, napas terengah-engah, atau tubuh lebih lentur) (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Menggembirakan):

  • Murid menyimak penjelasan guru mengenai kerangka refleksi diri (pengalaman bermain peran dan dampaknya terhadap diri) serta tata cara pemberian apresiasi dan umpan balik berbasis format 3-P: Pujian spesifik, Perbandingan pengalaman pribadi, dan Petunjuk perbaikan (10 menit).
  • Murid melakukan permainan interaktif 'Kartu Apresiasi Positif' secara berpasangan: murid membaca 2 kartu contoh umpan balik lalu mengidentifikasi mana yang memenuhi kriteria umpan balik membangun (Kartu A: 'Gerakanmu jelek'; Kartu B: 'Menurut pengalamanku, langkah kakimu sudah mantap meniru kakek tua, namun tempo jalan bisa diperlambat agar lebih meyakinkan') (acuan: Kartu B benar karena memuat pujian spesifik dan saran perbaikan berdasarkan pengamatan) (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid secara mandiri menuliskan penjelasan pengalaman bermain peran pada Lembar Refleksi Pribadi, mencakup proses latihan yang dialami dan minimal 2 dampak terhadap diri sendiri (misalnya: meningkatnya kesadaran postur tubuh, pengendalian fokus emosi, atau rasa percaya diri) (15 menit).
  • Murid secara berpasangan saling menukarkan catatan atau menceritakan kembali peragaan laku peran yang dilakukan pada sesi sebelumnya, lalu masing-masing memberikan apresiasi dan minimal 1 umpan balik yang relevan berdasarkan pengalaman pribadi murid terhadap peragaan temannya (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid meninjau kembali umpan balik yang diterima dari teman dan menyimpulkan apa saja poin masukan yang dapat membantu menyempurnakan kesiapan pemeranan mereka (10 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan pentingnya refleksi diri dan pemberian apresiasi yang konstruktif dalam mengasah kepekaan keaktoran (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen akhir singkat dengan meminta murid mengumpulkan lembar refleksi dan umpan balik teman, serta menutup pembelajaran dengan doa dan salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan pemantik kalimat rumpang bagi murid yang membutuhkan panduan struktur kalimat dalam menyusun refleksi dan umpan balik.
  • Proses: Bagi murid yang cepat menyelesaikan lembar refleksi, diarahkan memberikan analisis komparasi dampak latihan keaktoran antara latihan olah tubuh dan olah mimik emosi secara lebih mendalam.
  • Produk: Umpan balik dapat disampaikan secara tertulis terperinci pada lembar kerja atau diungkapkan secara lisan langsung kepada pasangan belajarnya.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik kesiapan refleksi diri: Murid diminta menjawab pertanyaan diagnostik: 'Sebutkan 1 hal yang paling kamu rasakan pada tubuhmu saat latihan gerak peran minggu lalu'. Kriteria penerimaan operasional: Jawaban diterima bila menyebutkan dampak fisik konkret yang dialami (misalnya: otot kaki lelah saat meniru gaya berjalan kera, nafas teratur saat melangkah pelan, atau pundak rileks).

Proses:

  • Pemeriksaan Lembar Refleksi Diri (TP 7.1.5): Menilai kelengkapan penjelasan pengalaman bermain peran dan keterkaitan minimal 2 dampak terhadap diri sendiri (kriteria: dampak mencakup aspek fisik/konsentrasi/emosi yang dirasakan murid).
  • Pemeriksaan Lembar Apresiasi & Umpan Balik Teman (TP 7.1.6): Menilai kejelasan apresiasi dan ketepatan saran/umpan balik berdasarkan pengalaman pribadi murid terhadap laku peran teman (kriteria: memuat elemen yang diapresiasi dan saran perbaikan yang realistis).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir: Pengumpulan dan reviu Lembar Refleksi Diri dan Lembar Umpan Balik Teman. Kriteria penerimaan: Lembar terisi lengkap dengan penjelasan pengalaman diri dan minimal satu masukan apresiatif yang membangun untuk teman.

Formatif:

  • Penilaian proses lembar refleksi pengalaman bermain peran dan dampaknya terhadap diri sendiri (TP 7.1.5)
  • Observasi lembar kerja pemberian apresiasi dan umpan balik terhadap peragaan laku peran teman (TP 7.1.6)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menjelaskan pengalaman bermain peran dan dampaknya terhadap diri sendiri (TP 7.1.5)Belum mampu menjelaskan pengalaman bermain peran dan belum dapat menyebutkan dampaknya terhadap diri sendiri.Menjelaskan pengalaman bermain peran secara singkat namun belum menyebutkan dampak latihan terhadap diri sendiri secara jelas.Menjelaskan pengalaman bermain peran secara runtut dan menyebutkan minimal 2 dampak latihan terhadap fisik atau emosi diri sendiri dengan jelas.Menjelaskan pengalaman bermain peran secara terperinci serta menguraikan dampak mendalam terhadap kesadaran fisik, konsentrasi, dan emosi diri sendiri secara mandiri.
Memberikan apresiasi dan umpan balik atas peragaan teman (TP 7.1.6)Belum mampu memberikan apresiasi maupun umpan balik yang relevan terhadap peragaan teman.Memberikan apresiasi umum (misal: 'sudah bagus') tanpa disertai umpan balik atau alasan berdasarkan pengalaman pribadi.Memberikan apresiasi spesifik dan minimal 1 umpan balik yang membangun sesuai dengan pengalaman pribadi atas peragaan teman.Memberikan apresiasi spesifik yang mendalam dan umpan balik solutif yang sangat relevan berdasarkan perbandingan pengalaman pribadi atas peragaan teman.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alur pembelajaran refleksi diri dan saling memberi umpan balik membantu murid menyadari perkembangan keaktorannya?
  • Bagaimana keterlibatan murid dalam memberikan kritik dan apresiasi secara empatik kepada teman sebayanya?

Murid:

  • Hal berharga apa yang kamu pelajari tentang dirimu sendiri setelah mengevaluasi pengalaman berlatih peran?
  • Bagaimana tanggapan dan umpan balik dari teman membantumu memahami kekuatan laku peranmu?

Pertemuan 6 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 7.1.1 Mengeksplorasi olah tubuh sebagai dasar keaktoran murid melalui latihan gerak dan konsentrasi fisik
  • TP 7.1.2 Mengeksplorasi mimik wajah dan vokal sebagai dasar keaktoran murid melalui penghayatan ingatan emosi
  • TP 7.1.3 Membuat rancangan beragam karakter dengan imajinasi dan kreativitasnya untuk laku peran pantomim
  • TP 7.1.4 Memainkan beragam karakter dengan imajinasi dan kreativitasnya melalui laku gerak pantomim
  • TP 7.1.5 Menjelaskan pengalaman bermain peran dan dampaknya terhadap diri sendiri dalam latihan dasar keaktoran
  • TP 7.1.6 Memberikan apresiasi dan umpan balik sesuai dengan pengalaman pribadi atas peragaan laku peran teman

Pendahuluan:

  • Guru membuka sesi asesmen sumatif dengan salam, doa bersama, dan mengecek kehadiran murid (2 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif bab 1 dan menjelaskan secara transparan 3 tahapan penilaian: perancangan karakter tertulis mandiri, unjuk kerja kelompok, serta refleksi dan apresiasi individual (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru membagikan Lembar Kerja Rancangan Karakter Pantomim dan menjelaskan petunjuk pengisian mandiri yang memuat 3 komponen wajib: (1) Identitas & peran karakter imajinatif; (2) Deskripsi detail ciri fisik & gestur tubuh; (3) Ciri khas mimik wajah saat mengekspresikan emosi tertentu (2 menit).
  • Murid mendengarkan dan mengonfirmasi pemahaman mengenai rubrik penilaian tugas unjuk kerja serta alur giliran tampil tiap kelompok (3 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Tugas 1 (Mandiri): Seluruh murid secara serentak dan mandiri mengisi Lembar Kerja Rancangan Karakter Pantomim sesuai imajinasi dan kreativitas masing-masing (durasi terpakai 13 menit dari alokasi tugas 15 menit, lembar langsung dikumpulkan ke meja guru) (13 menit).
  • Tugas 2 (Kelompok): Pelaksanaan unjuk kerja pemeranan pantomim kelompok secara bergiliran untuk 7 kelompok (masing-masing 4 murid tampil tepat 5 menit: memperagakan olah tubuh/kelenturan fisik, mimik wajah, dan vokal/artikulasi emosi sebelum beralih ke laku gerak pantomim karakter tanpa kata) sementara kelompok lain mengamati dengan saksama (35 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Tugas 3 (Mandiri): Guru membagikan Lembar Refleksi Diri dan Apresiasi Antarteman, lalu murid secara hening dan serentak menuliskan penjelasan pengalaman bermain peran dan dampaknya terhadap kesiapan diri, serta memberikan catatan apresiasi dan umpan balik atas peragaan kelompok teman yang diamati (17 menit).

Penutup:

  • Guru mengumpulkan seluruh lembar refleksi dan apresiasi murid, memberikan apresiasi menyeluruh atas kedisiplinan dan kerja keras murid selama bab 1 (3 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan perjalanan belajar keaktoran bab 1, menyampaikan gambaran umum materi bab berikutnya, dan menutup pembelajaran dengan doa bersama (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Akomodasi akses: teks instruksi tugas pada lembar kerja disediakan dengan font yang jelas dan kontras bagi murid dengan kendala penglihatan ringan tanpa mengubah cakupan materi yang diukur.
  • Proses: Akomodasi akses: murid yang memerlukan bantuan visual/ruang gerak diberikan penanda batas panggung yang kontras di lantai kelas untuk membantu orientasi blocking saat unjuk kerja.
  • Produk: Standar bukti dan kriteria penilaian tetap sama untuk semua murid sesuai acuan rubrik sumatif ATP.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pengecekan kesiapan mental dan fisik pra-asesmen: Guru menanyakan kesiapan naskah rancangan dan pemanasan fisik kelompok sebelum asesmen dimulai (kriteria: murid siap dengan kelompoknya dan fokus mengikuti instruksi asesmen).

Proses:

  • Observasi guru menggunakan lembar pengamatan unjuk kerja keaktoran dan laku gerak pantomim kelompok selama 7 kelompok tampil bergiliran.

Sumatif Bab:

  • penugasan lembar rancangan karakter, unjuk kerja eksplorasi dan pemeranan pantomim kelompok, serta lembar refleksi dan apresiasi: lembar kerja rancangan karakter pantomim, penampilan eksplorasi olah tubuh, mimik, vokal, dan laku gerak pantomim kelompok, serta catatan refleksi diri dan apresiasi umpan balik
  • penugasan lembar kerja serentak: lembar rancangan deskripsi ciri fisik dan gestur karakter pantomim imajinatif yang dikerjakan seluruh murid secara mandiri di awal sesi (15 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian lembar kerja rancangan karakter)
  • unjuk kerja pemeranan kelompok: penampilan kelompok (7 kelompok beranggotakan 4 murid, masing-masing tampil 5 menit: 35 menit total) yang memperagakan eksplorasi olah tubuh dan kelenturan fisik, mimik wajah dan vokal/artikulasi ingatan emosi sebelum masuk ke laku gerak pantomim karakter tanpa kata (35 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja keaktoran dan laku gerak pantomim)
  • penugasan refleksi dan apresiasi tertulis serentak: lembar refleksi tertulis berisi catatan penjelasan pengalaman bermain peran dan dampaknya terhadap kesiapan diri, sekaligus catatan tertulis apresiasi dan umpan balik atas peragaan laku peran kelompok rekan sejawat yang diamati saat unjuk kerja (30 menit; individual; instrumen: rubrik refleksi diri dan lembar penilaian apresiasi antarteman)

Sumatif:

  • penugasan lembar rancangan karakter, unjuk kerja eksplorasi dan pemeranan pantomim kelompok, serta lembar refleksi dan apresiasi: lembar kerja rancangan karakter pantomim, penampilan eksplorasi olah tubuh, mimik, vokal, dan laku gerak pantomim kelompok, serta catatan refleksi diri dan apresiasi umpan balik
  • penugasan lembar kerja serentak: lembar rancangan deskripsi ciri fisik dan gestur karakter pantomim imajinatif yang dikerjakan seluruh murid secara mandiri di awal sesi (15 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian lembar kerja rancangan karakter)
  • unjuk kerja pemeranan kelompok: penampilan kelompok (7 kelompok beranggotakan 4 murid, masing-masing tampil 5 menit: 35 menit total) yang memperagakan eksplorasi olah tubuh dan kelenturan fisik, mimik wajah dan vokal/artikulasi ingatan emosi sebelum masuk ke laku gerak pantomim karakter tanpa kata (35 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja keaktoran dan laku gerak pantomim)
  • penugasan refleksi dan apresiasi tertulis serentak: lembar refleksi tertulis berisi catatan penjelasan pengalaman bermain peran dan dampaknya terhadap kesiapan diri, sekaligus catatan tertulis apresiasi dan umpan balik atas peragaan laku peran kelompok rekan sejawat yang diamati saat unjuk kerja (30 menit; individual; instrumen: rubrik refleksi diri dan lembar penilaian apresiasi antarteman)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Rancangan Karakter Pantomim (TP 3)Menuliskan rancangan karakter yang belum lengkap, hanya memuat nama karakter tanpa deskripsi ciri fisik dan gestur tubuh.Menuliskan rancangan karakter dengan mendeskripsikan ciri fisik, namun gestur laku peran pantomim belum tergambar secara jelas.Menuliskan rancangan karakter pantomim secara lengkap dan kreatif, mencakup identitas karakter, deskripsi ciri fisik, serta gestur laku gerak pantomim imajinatif.Menuliskan rancangan beragam karakter pantomim secara sangat detail, orisinal, dan kreatif, memadukan rincian gestur fisik, ekspresi mimik khas, dan detail imajinatif yang mudah divisualisasikan.
Eksplorasi Olah Tubuh, Mimik, dan Vokal (TP 1, TP 2)Memperagakan olah tubuh yang kaku, mimik datar, dan artikulasi vokal/emosi yang belum selaras dengan penghayatan karakter.Memperagakan olah tubuh dengan kelenturan fisik cukup, mimik mulai menunjukkan emosi, namun eksplorasi vokal dan konsentrasi gerak masih sering ragu.Memperagakan olah tubuh yang lentur dan terkontrol, mimik wajah ekspresif sesuai ingatan emosi, serta kejelasan artikulasi/vokal sebelum berpantomim secara konsisten.Memperagakan olah tubuh dengan kelenturan fisik dan konsentrasi prima, mimik wajah sangat hidup mencerminkan emosi mendalam, serta pengolahan vokal yang matang dan ekspresif.
Laku Gerak Pantomim Karakter (TP 4)Memainkan laku gerak pantomim dengan gestur yang belum jelas sehingga bentuk objek imajiner atau karakter sulit dikenali penonton.Memainkan karakter pantomim dengan gestur dasar yang dapat dikenali, tetapi ilusi ruang atau benda imajiner sesekali hilang konsistensinya.Memainkan karakter dengan imajinasi dan kreativitas gerak pantomim yang jelas, menjaga konsistensi ilusi benda/ruang tanpa dialog secara runtut.Memainkan beragam karakter melalui laku gerak pantomim secara sangat meyakinkan, dinamis, memiliki ketepatan ilusi bentuk/ruang yang presisi, dan daya pikat imajinatif tinggi.
Refleksi Diri dan Apresiasi Umpan Balik (TP 5, TP 6)Menjelaskan pengalaman bermain peran secara dangkal dan memberikan apresiasi teman hanya berupa pujian singkat tanpa alasan atau saran yang jelas.Menjelaskan pengalaman peran secara umum, serta memberikan apresiasi yang menyebutkan satu kelebihan penampilan teman namun belum disertai umpan balik perbaikan.Menjelaskan pengalaman bermain peran beserta dampaknya terhadap kesiapan diri, serta memberikan apresiasi dan umpan balik yang konstruktif dan sesuai fakta penampilan teman.Menjelaskan refleksi mendalam mengenai proses laku peran dan dampaknya terhadap kesadaran keaktoran diri, serta memberikan apresiasi objektif dan umpan balik analitis yang sangat membangun bagi peragaan teman.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh instrumen dan rubrik sumatif dapat mengukur ketercapaian keenam Tujuan Pembelajaran bab 1 secara akurat dan objektif?
  • Bagaimana keterlibatan murid dalam manajemen waktu selama sesi unjuk kerja 7 kelompok berlangsung?
  • Aspek dasar keaktoran mana (olah tubuh, mimik-vokal, pantomim, atau refleksi) yang masih memerlukan penguatan lanjutan di bab berikutnya?

Murid:

  • Bagian mana dari unjuk kerja peran tadi yang paling memuaskan bagi dirimu, dan apa tantangan terbesar yang kamu hadapi?
  • Bagaimana latihan olah tubuh, mimik, dan konsentrasi membantumu saat tampil di hadapan teman-teman sekelas?
  • Pelajaran berharga apa yang kamu dapatkan saat mengamati penampilan teman dan memberikan apresiasi kepada mereka?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SMP/MTs Kelas VII (Kemendikbudristek)
  2. Ruang kelas/aula yang bersih dan leluasa untuk gerak
  3. Alat pengatur tempo/ritme (rebana, tamborin, atau tepukan kayu/tangan)
  4. Buku Panduan Guru Seni Teater SMP Kelas VII (Pusat Perbukuan, Kemendikbudristek RI)
  5. Ruang kelas/aula yang leluasa untuk aktivitas olah vokal
  6. Daftar kartu instruksi skenario emosi aktor
  7. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SMP/MTs Kelas VII (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
  8. Lembar Rancangan Karakter Pantomim (format identitas, postur, tempo, gestur imajiner)
  9. Kartu deskripsi karakter untuk pemantik tebak imajinasi
  10. Buku Panduan Guru Seni Teater SMP/MTs Kelas VII (Edisi Revisi), Bab 1 Kegiatan 4 Pantomim
  11. Ruang kelas yang lapang/bebas hambatan gerak
  12. Lembar rancangan karakter murid (hasil Pertemuan 3)
  13. Buku Panduan Guru Seni Teater SMP Kelas VII, Kemendikbudristek 2021
  14. Lembar Refleksi Pengalaman Keaktoran Diri
  15. Kartu Panduan Apresiasi dan Umpan Balik Teman (Format 3-P)
  16. Buku Panduan Guru Seni Teater SMP Kelas VII (Kemendikbudristek 2021)
  17. Buku Siswa Seni Budaya/Seni Teater Kelas VII
  18. Lembar Kerja Rancangan Karakter Pantomim (format cetak guru)
  19. Lembar Penilaian Diri dan Apresiasi Antarteman (format cetak guru)
  20. Ruang kelas/panggung kelas yang ditata lapang untuk unjuk kerja

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.