MODUL AJAR Seni Teater — Kelas 6 (Fase C) Topik: Bab 3 — Mewujudkan Tokoh INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | Seni Teater |
|---|
| Fase / Kelas | Fase C / Kelas 6 |
|---|
| Topik | Bab 3 — Mewujudkan Tokoh |
|---|
| Alokasi Waktu | 24 JP (24 x 35 menit = 840 menit) |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 8 |
|---|
| Tahun Ajaran | 2026/2027 |
|---|
| Semester | 2 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- TP 6.3.1 Melakukan pengenalan karakter melalui pengamatan kebiasaan tokoh yang diperankan
- TP 6.3.2 Menceritakan pendapatnya tentang penokohan dan perwatakan dari sebuah cerita sederhana
- TP 6.3.3 Melakukan permainan peran berkelompok melalui improvisasi untuk melatih aksi dan reaksi dalam mengelaborasi tokoh
- TP 6.3.4 Memainkan ragam peran dari cerita sederhana berdasarkan hasil pengamatan
- TP 6.3.5 Memerankan lakon secara individu maupun berkelompok berdasarkan minat, pengamatan, dan pengalaman
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | | | Kewargaan | | | Penalaran Kritis | ✓ | | Kreativitas | ✓ | | Kolaborasi | ✓ | | Kemandirian | ✓ | | Kesehatan | | | Komunikasi | ✓ |
PERTANYAAN PEMANTIK- Bagaimana kita bisa mengenali kebiasaan seseorang hanya dengan melihat cara berjalan atau postur tubuhnya?
- Mengapa seorang tokoh kakek tua, anak sekolah tergesa-gesa, atau prajurit memiliki kebiasaan gerak fisik yang berbeda?
- Bagaimana kita bisa mengetahui perasaan seseorang hanya dari nada bicaranya?
- Mengapa cara bicara seorang kakek yang sabar berbeda dengan seorang anak kecil yang sedang merajuk?
- Bagaimana kita bisa mengetahui sifat atau watak seseorang hanya dari tindakan atau kata-kata yang diucapkannya dalam cerita?
- Mengapa pendapat kita tentang watak seorang tokoh dalam cerita bisa berbeda atau sama dengan pendapat teman?
- Bagaimana perasaan dan tindakanmu saat tiba-tiba teman memberikan kabar yang sangat mengejutkan di panggung?
- Mengapa dalam teater seorang pemeran harus selalu memperhatikan dan merespons aksi yang dilakukan oleh lawan mainnya?
- Apa yang terjadi pada tokohmu jika lawan mainmu tiba-tiba memberikan aksi tak terduga dalam adegan?
- Bagaimana cara kita mengembangkan watak dan tingkah laku tokoh secara spontan bersama teman sekelompok?
- Bagaimana caramu memainkan dua peran berbeda dalam sebuah cerita sederhana?
- Ciri fisik atau kebiasaan apa dari hasil pengamatanmu yang paling cepat memperlihatkan perbedaan antarperan saat dimainkan?
- Bagaimana kita menghidupkan sebuah lakon bersama kelompok berdasarkan apa yang sering kita amati dan alami sehari-hari?
- Mengapa memilih peran yang sesuai dengan minat dan pengalaman membuat pemeranan lakon terasa lebih meyakinkan?
- Bagaimana caramu menampilkan kebiasaan unik tokoh dan merespons aksi teman secara spontan di panggung?
- Mengapa pendapat kita mengenai perwatakan tokoh perlu didukung oleh bukti laku yang terjadi di dalam cerita?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1 — Melakukan Pengenalan Karakter melalui Pengamatan Kebiasaan Fisik Tokoh — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 6.3.1 Melakukan pengenalan karakter melalui pengamatan kebiasaan tokoh yang diperankan
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, serta menyiapkan ruang kelas agar leluasa untuk aktivitas olah gerak tubuh (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis tebak kebiasaan fisik dari 3 kartu deskripsi gerak untuk memetakan kesiapan awal murid (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak penjelasan guru dan mencermati pemodelan 3 kebiasaan fisik tokoh: (1) Tokoh Kakek Petani (postur membungkuk, langkah lambat, tangan memegang pinggang), (2) Tokoh Siswa Terburu-buru (langkah cepat, pandangan awas ke depan, bahu condong ke depan), dan (3) Tokoh Petugas Upacara (postur tegak, dagu terangkat, langkah mantap berirama) (15 menit).
- Murid secara berkesadaran mengidentifikasi unsur-unsur kebiasaan fisik tokoh (postur tubuh, cara melangkah, dan gestur khas anggota badan) berdasarkan 3 contoh pemodelan tersebut (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Secara menggembirakan melalui permainan tebak gerak 'Patung Berjalan', murid mengambil 1 dari 4 kartu profil kebiasaan fisik tokoh: Kartu A (Kakek Pembawa Kayu), Kartu B (Anak Penjual Koran Berlari), Kartu C (Penjaga Toko Siaga), atau Kartu D (Pengembara Kelelahan) lalu memperagakan kebiasaan fisik tokoh tersebut di lintasan kelas saat aba-aba musik berbunyi (20 menit).
- Secara berpasangan, murid bergantian memperagakan dan mengamati kebiasaan fisik tokoh yang diperankan rekannya menggunakan Lembar Pengamatan Fisik Tokoh (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid secara mandiri memeriksa kembali kesesuaian antara pengamatan kebiasaan fisik (postur, langkah, gestur) dengan karakter tokoh yang diperagakan, serta mengenali bagian gerak fisik yang paling efektif mencirikan kebiasaan tokoh tersebut (15 menit).
Penutup:- Murid bersama guru menyimpulkan bagaimana pengamatan kebiasaan fisik (postur tubuh, langkah, gestur) membantu pengenalan karakter tokoh dalam seni teater (5 menit).
- Guru memberikan asesmen akhir berupa cek pemahaman lisan singkat mencocokkan kebiasaan fisik tokoh, memberikan umpan balik, dan menutup pembelajaran dengan salam (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan kartu profil kebiasaan fisik tokoh dengan petunjuk visual sederhana bagi murid yang membutuhkan panduan lebih, dan kartu situasi fisik yang lebih berlapis (misal: pengembara kelelahan membawa ransel berat menanjak) bagi murid yang siap dengan tantangan lebih tinggi.
- Proses: Memberikan bimbingan langsung pada murid yang masih ragu mengeksplorasi postur fisik, sementara murid yang sudah mahir diberi keleluasaan langsung memperagakan variasi tempo langkah dan gestur mikro tokoh.
- Produk: Hasil pengamatan karakter fisik dituangkan melalui ceklis gerak terstruktur bagi murid yang memerlukan dukungan, atau deskripsi narasi detail kebiasaan fisik tokoh bagi murid yang lebih cepat.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik Lisan/Tebak Gerak: Guru membacakan 3 deskripsi kebiasaan fisik lalu meminta murid menebak karakter tokohnya. Butir soal dan acuan jawaban: (1) 'Berjalan lambat, tubuh membungkuk, sesekali memegang pinggang' -> acuan jawaban benar: kakek/nenek tua; (2) 'Berjalan tegap, pandangan lurus ke depan, langkah berirama mantap' -> acuan jawaban benar: prajurit/petugas upacara; (3) 'Melangkah setengah berlari, sering menengok jam tangan, badan condong ke depan' -> acuan jawaban benar: orang/anak yang sedang terburu-buru/terlambat. Kriteria: Murid siap jika mampu menebak minimal 2 dari 3 acuan dengan tepat.
Proses:- Observasi Kinerja Praktik Pengenalan Karakter melalui Pengamatan Kebiasaan Fisik Tokoh: Guru mengamati murid memperagakan kebiasaan fisik dari 4 kartu profil tokoh yang dipilih (Kartu A: postur membungkuk, langkah pendek lambat, tangan di pinggang; Kartu B: postur condong ke depan, langkah lari kecil, tangan memegang koran di bawah ketiak; Kartu C: postur tegak siaga, langkah teratur di tempat/kiri-kanan, pandangan aktif; Kartu D: langkah gontai/tersaruk, bahu lunglai, napas tersengal). Penilaian dinilai berdasarkan ketepatan 3 indikator: postur tubuh, cara melangkah, dan gestur tangan sesuai profil kartu.
Akhir Pertemuan:- Cek Pemahaman Singkat Akhir Sesi: Guru meminta murid mencocokkan 2 situasi fisik tokoh. Butir 1: 'Tokoh nelayan mengangkat jala berat di pantai berpasir'. Acuan jawaban dapat diterima: Postur agak membungkuk/bertumpu rendah, langkah berat dan lebar, tangan mencengkeram kuat. Butir 2: 'Tokoh anak kecil mencari mainan yang hilang di rumput'. Acuan jawaban dapat diterima: Postur jongkok/menunduk rendah, langkah bergeser pelan, gestur tangan meraba/menyibak rumput. Kriteria penerimaan: Murid mampu menyebutkan minimal 2 unsur kebiasaan fisik (postur/langkah/gestur) yang logis dan sesuai dengan situasi fisik tokoh.
Formatif:- Asesmen diagnostik tebak kebiasaan fisik tokoh pada kegiatan pendahuluan
- Lembar Pengamatan Pengenalan Karakter melalui Kebiasaan Fisik Tokoh saat kegiatan inti peragaan
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Pengenalan Karakter melalui Kebiasaan Fisik Tokoh (Postur, Langkah, dan Gestur) | Belum mampu memperagakan maupun mengenali kebiasaan fisik tokoh; postur tubuh, cara melangkah, dan gestur masih berupa gerak netral diri sendiri tanpa ciri tokoh. | Mampu memperagakan dan mengenali 1 unsur kebiasaan fisik tokoh secara tepat (misalnya hanya postur membungkuk, namun langkah dan gestur belum mencerminkan kebiasaan tokoh). | Mampu memperagakan dan mengenali 2 hingga 3 unsur kebiasaan fisik tokoh (postur tubuh, cara melangkah, dan gestur tangan/kaki) sesuai kartu profil tokoh yang diperankan. | Mampu memperagakan dan mengenali seluruh unsur kebiasaan fisik tokoh (postur tubuh, cara melangkah, dan gestur khas) secara tepat, konsisten dari awal hingga akhir peragaan, serta mandiri tanpa perlu bimbingan peraga dari guru. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah seluruh murid berani mengeksplorasi bentuk postur dan gerak kebiasaan fisik tokoh tanpa rasa malu?
- Bagian instruksi mana yang paling efektif membantu murid memahami kaitan antara gerak fisik dengan watak/kebiasaan tokoh?
Murid:- Kebiasaan fisik tokoh mana yang paling mudah dan paling menantang untuk kamu peragakan hari ini?
- Apa tanda fisik (postur atau langkah) yang paling jelas membantumu mengenali karakter temanmu saat bermain peran tadi?
Pertemuan 2 — Melakukan Pengenalan Karakter melalui Pengamatan Kebiasaan Bicara dan Emosi Tokoh — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 6.3.1 Melakukan pengenalan karakter melalui pengamatan kebiasaan tokoh yang diperankan
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, mengajak murid berdoa sejenak, mengecek kehadiran, dan menyiapkan ruang belajar (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu mengenali karakter tokoh melalui pengamatan kebiasaan bicara dan emosinya (2 menit).
- Asesmen awal diagnostik: Guru memperdengarkan rekaman audio singkat berupa 2 ucapan kalimat yang sama: 'Buku ini milikku'. Pengucapan 1 dengan nada cepat, terburu-buru, dan nada tinggi; Pengucapan 2 dengan nada lambat, bergetar, dan nada rendah. Guru menanyakan: 'Bagaimana kebiasaan bicara dan emosi pada ucapan 1 dan ucapan 2?' (acuan: ucapan 1 mencirikan kebiasaan bicara cepat/panik atau marah; ucapan 2 mencirikan kebiasaan bicara lambat/sedih atau lelah) (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna):- Murid menyimak penjelasan interaktif guru bahwa pengenalan karakter teater dapat dikenali melalui kebiasaan bicara (kecepatan, tinggi-rendah nada, jeda kata) dan kondisi emosi (marah, gembira, sedih, cemas) yang terbiasa ditunjukkan oleh tokoh (10 menit).
- Murid secara berpasangan mencermati lembar contoh 3 cuplikan profil tokoh berikut: (1) Tokoh Pak RT yang tenang dan bijak (kebiasaan bicara: tempo sedang, nada berat mantap; emosi dominan: tenang dan ramah), (2) Tokoh Deni si anak pedagang koran yang lincah (kebiasaan bicara: tempo cepat, nada tinggi bersemangat; emosi dominan: riang gembira), (3) Tokoh Nenek Minah yang cemas (kebiasaan bicara: tersendat/banyak jeda ragu, nada pelan bergetar; emosi dominan: khawatir/cemas) (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):- Prinsip Menggembirakan: Permainan Tantangan Suara Karakter. Murid dibagi ke dalam kelompok 4 orang, mengambil gulungan kartu tantangan berisi 1 kalimat netral: 'Permisi, apakah kereta menuju stasiun kota sudah lewat?'. Masing-macam kelompok mendapat satu profil kebiasaan bicara & emosi untuk diamati dan ditirukan bersama anggota: Kelompok A = Tokoh Petugas yang tergesa-gesa dan panik; Kelompok B = Tokoh Pengelana tua yang bijak dan tenang; Kelompok C = Tokoh Anak hilang yang kebingungan dan sedih; Kelompok D = Tokoh Pemandu wisata yang sangat bersemangat dan gembira (15 menit).
- Setiap murid dalam kelompok melakukan pengamatan terhadap teman sebangkunya saat menirukan kebiasaan bicara dan emosi tokoh tersebut, kemudian saling mencatat 2 unsur: tempo/nada bicara dan jenis emosi yang teramati (10 menit).
- Murid secara mandiri mengisi lembar kerja pengenalan karakter berisi tugas mengidentifikasi kebiasaan bicara dan emosi dari 4 skenario tokoh: Skenario 1 (Dokter menenangkan pasien anak: bicara perlahan, nada lembut, emosi tenang/penyayang); Skenario 2 (Kapten regu menyemangati tim tertinggal: bicara tegas keras, tempo cepat, emosi optimis/semangat); Skenario 3 (Pedagang yang kehilangan dompet dagangan: bicara terbata-bata, tempo lambat, emosi panik/sedih); Skenario 4 (Pelayan restoran menerima komplain dengan sabar: bicara ramah terkontrol, tempo sedang, emosi sabar/santun) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid memeriksa kembali hasil identifikasinya bersama guru, mencocokkan hasil pengamatan kebiasaan bicara dan emosi dengan acuan karakter (10 menit).
- Murid menyimpulkan secara sadar bagaimana kebiasaan bicara seseorang dapat mencerminkan emosi dan karakter tokoh yang diperankan (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik menyeluruh terhadap hasil lembar pengamatan karakter kebiasaan bicara dan emosi tokoh yang telah dikerjakan murid (5 menit).
- Guru menyampaikan agenda pengenalan karakter berikutnya pada pertemuan mendatang dan menutup pembelajaran dengan salam (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan pilihan kata emosi (marah/sedih/gembira/tenang) dan kebiasaan bicara (cepat/lambat/tinggi/rendah), sedangkan murid yang lebih mahir mengamati kombinasi emosi campuran (misal: cemas bercampur panik).
- Proses: Pada saat pengamatan berpasangan, murid yang cepat diberi kesempatan menganalisis skenario tambahan dengan tingkat kerumitan emosi yang lebih beragam.
- Produk: Lembar identifikasi murid pemula cukup mengisi pilihan ganda atau menjodohkan label emosi dan tempo bicara, sedangkan murid mahir menuliskan rincian deskripsi pengamatan tempo dan emosinya.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik lisan menanggapi 2 rekaman audio kalimat 'Buku ini milikku'. Kriteria penilaian: Murid menyebutkan ciri kebiasaan bicara dan emosi yang sesuai (acuan: audio 1 = tempo cepat/nada tinggi/emosi panik atau marah; audio 2 = tempo lambat/nada rendah/emosi sedih atau lelah).
Proses:- Observasi formatif saat murid melakukan pengamatan berpasangan pada permainan tantangan suara karakter (menilai ketepatan mencatat tempo/nada bicara dan emosi tokoh).
- Pemeriksaan lembar kerja mandiri pengenalan karakter 4 skenario tokoh (acuan jawaban: Skenario 1 = tempo perlahan/nada lembut/emosi tenang-penyayang; Skenario 2 = bicara tegas/tempo cepat/emosi optimis-semangat; Skenario 3 = terbata-bata/tempo lambat/emosi panik-sedih; Skenario 4 = ramah terkontrol/tempo sedang/emosi sabar-santun; kriteria tuntas: minimal 3 dari 4 skenario diidentifikasi dengan tepat).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman penutup: Menjawab secara singkat 1 pertanyaan reflektif: 'Sebutkan 2 tanda kebiasaan bicara dari tokoh yang sedang mengalami emosi takut!' (acuan jawaban: tempo bicara tersendat/banyak jeda ragu/nada suara bergetar atau mengecil; murid dianggap paham jika menyebutkan minimal 1 tanda bicara yang relevan).
Formatif:- Penilaian kinerja pengamatan teman sebaya (observasi kebiasaan bicara dan emosi)
- Lembar identifikasi tertulis 4 skenario kebiasaan bicara dan emosi tokoh
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Pengenalan Karakter melalui Pengamatan Kebiasaan Bicara Tokoh | Belum mampu mengidentifikasi kebiasaan tempo atau nada bicara tokoh dari skenario pengamatan. | Mampu mengidentifikasi kebiasaan tempo atau nada bicara tokoh pada 1-2 skenario pengamatan secara tepat. | Mampu mengidentifikasi kebiasaan tempo dan nada bicara tokoh pada minimal 3 skenario pengamatan secara tepat. | Mampu mengidentifikasi seluruh (4) kebiasaan tempo dan nada bicara tokoh pada seluruh skenario pengamatan secara tepat dan mandiri. | | Pengenalan Karakter melalui Pengamatan Emosi Tokoh | Belum mampu mengidentifikasi emosi tokoh dari dialog atau lakon yang diamati. | Mampu mengidentifikasi jenis emosi tokoh pada 1-2 skenario pengamatan secara tepat. | Mampu mengidentifikasi jenis emosi tokoh pada minimal 3 skenario pengamatan secara tepat. | Mampu mengidentifikasi jenis emosi tokoh pada seluruh (4) skenario pengamatan secara tepat dan mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah aktivitas permainan suara karakter efektif membantu murid mengamati kebiasaan bicara tokoh?
- Bagian mana dari pengenalan emosi tokoh yang masih membingungkan murid saat melakukan identifikasi skenario?
Murid:- Apa yang paling mudah dan paling sulit saat menebak emosi tokoh dari cara bicaranya?
- Bagaimana kamu dapat menggunakan variasi suara dan emosi untuk mengenali karakter tokoh yang berbeda?
Pertemuan 3 — Menceritakan Pendapat tentang Penokohan dan Perwatakan Cerita Sederhana — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 6.3.2 Menceritakan pendapatnya tentang penokohan dan perwatakan dari sebuah cerita sederhana
Pendahuluan:- Guru membuka pelajaran dengan salam, berdoa bersama, dan mengecek kehadiran murid (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik lisan dengan membacakan narasi singkat: 'Budi selalu meminjamkan pensil cadangannya kepada temannya yang lupa membawa alat tulis, sementara Doni suka mengejek temannya yang tidak punya pensil.' Murid diminta menentukan watak Budi dan Doni (acuan jawaban: Budi berwatak baik/penolong/dermawan; Doni berwatak jahat/suka mengejek/kurang peduli) (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menceritakan pendapat murid mengenai penokohan dan perwatakan dari cerita sederhana (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Murid menyimak pembacaan teks cerita sederhana 'Kisah Sahabat di Kebun Sekolah': 'Pak Raden adalah penjaga kebun sekolah yang tekun merawat tanaman setiap hari. Andi adalah murid kelas 6 yang ceria dan selalu berinisiatif membantu menyiram tanaman tanpa diminta. Sementara Tono adalah murid yang sering mengeluh dan enggan kotor ketika diminta guru bekerja bakti di kebun.' (10 menit).
- Guru memfasilitasi pemahaman murid mengenai perbedaan istilah penokohan (posisi/peran tokoh dalam cerita: tokoh utama/pendukung/protagonis/antagonis) dan perwatakan (sifat batiniah atau karakter tokoh: rajin, penolong, pemalas, pengeluh) berdasarkan cerita yang didengar (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Secara bergembira melalui permainan 'Detektif Watak', murid dibagi ke dalam kelompok kecil untuk menelaah 3 tokoh cerita ('Pak Raden', 'Andi', dan 'Tono') menggunakan kartu panduan telaah tokoh (5 menit).
- Setiap murid menuliskan poin pendapatnya tentang penokohan dan perwatakan ketiga tokoh beserta alasan bukti kutipan tindakan/dialog dari cerita (15 menit).
- Murid secara berpasangan saling menceritakan pendapatnya mengenai penokohan dan perwatakan tokoh Pak Raden, Andi, dan Tono berdasarkan bukti tindakan tokoh pada cerita (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Beberapa perwakilan murid menceritakan pendapatnya tentang penokohan dan perwatakan tokoh cerita sederhana di depan kelas, dan guru mencatat ketepatan serta kelengkapan alasan pendapatnya (15 menit).
- Murid bersama guru merefleksikan bagaimana tindakan nyata seorang tokoh menjadi dasar terbentuknya watak dalam cerita teater sederhana (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik dan penguatan terhadap cerita pendapat yang telah disampaikan murid mengenai penokohan dan perwatakan (5 menit).
- Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran hari ini dan menyampaikan gambaran materi latihan peran untuk pertemuan berikutnya, lalu menutup dengan doa (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan disediakan lembar panduan kutipan langsung tindakan tokoh cerita, sedangkan murid yang mahir menganalisis motivasi tokoh yang melatarbelakangi watak tersebut.
- Proses: Murid yang memerlukan bimbingan menceritakan pendapatnya secara terbimbing dengan kalimat pemantik terstruktur, sedangkan murid yang siap menceritakan pendapatnya secara mandiri.
- Produk: Pendapat tentang penokohan dan perwatakan diceritakan secara lisan berpasangan atau di depan kelas dengan dukungan catatan poin-poin alasan tindakan tokoh.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab lisan diagnostik: Guru membacakan cuplikan perilaku Budi dan Doni. Murid diminta menyebutkan watak kedua tokoh (acuan: Budi = penolong/baik hati; Doni = suka mengejek/jahil).
Proses:- Observasi keterlibatan murid saat menganalisis dan menceritakan pendapatnya tentang penokohan dan perwatakan tokoh Pak Raden, Andi, dan Tono dalam teks cerita sederhana 'Kisah Sahabat di Kebun Sekolah'.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan: Murid menceritakan pendapatnya tentang watak salah satu tokoh (Pak Raden/Andi/Tono) disertai minimal 1 alasan bukti tindakan dari teks (kriteria penerimaan: pendapat menyebutkan sifat/peran tokoh secara logis dan mengaitkannya dengan tindakan/perkataan tokoh dalam teks cerita).
Formatif:- Observasi unjuk kerja menceritakan pendapat tentang penokohan dan perwatakan tokoh menggunakan lembar ceklis kriteria
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menceritakan Pendapat tentang Penokohan | Belum mampu menceritakan pendapat tentang peran atau kedudukan tokoh dalam cerita meski telah dibimbing guru. | Mampu menceritakan pendapat tentang kedudukan/peran 1 tokoh dalam cerita sederhana dengan bantuan pertanyaan pemandu guru. | Mampu menceritakan pendapat tentang kedudukan/peran 2 hingga 3 tokoh dalam cerita sederhana secara tepat dan mandiri. | Mampu menceritakan pendapat tentang kedudukan/peran seluruh tokoh dalam cerita sederhana secara runtut, mendalam, dan mandiri. | | Menceritakan Pendapat tentang Perwatakan | Belum mampu menceritakan pendapat tentang watak tokoh atau menyebutkan watak tanpa didasari tindakan tokoh dalam cerita. | Menceritakan pendapat tentang watak tokoh namun belum konsisten menyertakan bukti tindakan atau perkataan tokoh. | Menceritakan pendapat tentang watak tokoh dalam cerita sederhana disertai bukti tindakan/perkataan tokoh secara tepat. | Menceritakan pendapat tentang watak seluruh tokoh secara komprehensif disertai analisis bukti tindakan dan perkataan tokoh secara logis. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah murid dapat membedakan antara konsep kedudukan tokoh (penokohan) dan sifat batiniah (perwatakan)?
- Apakah alur menceritakan pendapat secara berpasangan efektif meningkatkan keberanian dan daya nalar kritis murid?
Murid:- Apa hal paling menarik saat mencari tahu sifat seorang tokoh dari cerita yang kubaca?
- Apakah aku sudah mampu menyampaikan alasan ketika berpendapat tentang watak tokoh kepada temanku?
Pertemuan 4 — Melakukan Permainan Peran Berkelompok melalui Latihan Aksi dan Reaksi Tokoh — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 6.3.3 Melakukan permainan peran berkelompok melalui improvisasi untuk melatih aksi dan reaksi dalam mengelaborasi tokoh
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran latihan aksi dan reaksi tokoh dalam permainan peran berkelompok (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat: guru memberikan 1 stimulus aksi spontan (guru menjatuhkan buku secara tiba-tiba) dan meminta 3 orang murid menunjukkan reaksi spontan tokoh yang sesuai (acuan penerimaan: reaksi harus merupakan tanggapan langsung atas aksi jatuh, misalnya kaget melompat, sigap menolong memungut, atau terkejut menutup mulut) (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Menggembirakan):- Murid menyimak penjelasan dan demonstrasi guru mengenai konsep dasar aksi (tindakan pemantik yang dilakukan seorang tokoh) dan reaksi (tanggapan spontan tokoh lain terhadap tindakan tersebut) dalam seni peran secara sadar dan fokus (10 menit).
- Murid secara berpasangan mempraktikkan pemanasan gerak teater 'Cermin Ajaib' di mana satu murid melakukan aksi gerakan tokoh secara bertahap dan pasangannya memberikan reaksi gerakan pantulan yang selaras secara menyenangkan (15 menit).
Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):- Guru membagi murid ke dalam kelompok beranggotakan 4-5 orang dan membagikan 4 skenario improvisasi aksi-reaksi berikut: (1) Skenario A: Tokoh A tiba-tiba mengumumkan melihat kilat dan petir besar, tokoh lain merespons dengan aksi mencari perlindungan; (2) Skenario B: Tokoh B menemukan benda berkilau misterius di lantai ruang tamu, tokoh lain mendekat dengan rasa penasaran dan kehati-hatian; (3) Skenario C: Tokoh C tersandung dan menjatuhkan barang bawaan berharga, tokoh lain bergegas menolong dan menenangkan; (4) Skenario D: Tokoh D memberikan kabar gembira bahwa desa mereka memenangkan festival, tokoh lain meluapkan sorak gembira dan saling merangkul (10 menit).
- Setiap kelompok melakukan latihan permainan peran improvisasi di ruang latihan masing-masing, mencoba bergiliran mengambil peran aksi (pemantik peristiwa) dan peran reaksi (pemberi respons karakter) sesuai skenario yang diterima (25 menit).
- Setiap kelompok menampilkan permainan peran improvisasi aksi-reaksi di depan kelompok lain selama 3 menit secara bergantian tanpa memutus alur interaksi tokoh (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama bimbingan guru merefleksikan jalannya latihan peran: mengenali apakah reaksi yang diberikan antartokoh sudah mengalir langsung menyambung aksi teman, serta mendiskusikan pentingnya kepekaan dan saling mendengarkan di panggung (10 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan inti pembelajaran bahwa keberhasilan improvisasi kelompok bergantung pada kesiapan merespons aksi lawan main (3 menit).
- Guru memberikan penguatan terhadap pencapaian seluruh kelompok dan menyampaikan rencana latihan elaborasi tokoh untuk pertemuan berikutnya tanpa menyebut bab selesai (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan skenario dengan kompleksitas stimulus berbeda: skenario dengan aksi tunggal (misal: Skenario A kilat/petir) untuk kelompok yang membutuhkan bimbingan bertahap, dan skenario aksi berantai (misal: Skenario B benda misterius) untuk kelompok yang lebih siap.
- Proses: Kelompok yang masih ragu diberi pendampingan berupa aba-aba pemicu aksi oleh guru; murid yang cepat diberikan tantangan improvisasi aksi tak terduga tambahan di tengah adegan tanpa mengubah skenario dasar.
- Produk: Kelompok pemula cukup menampilkan 1 putaran aksi-reaksi yang runtut; kelompok mahir menampilkan improvisasi dengan variasi aksi-reaksi bolak-balik antartokoh secara mandiri.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Uji kesiapan respons spontan tokoh: Murid diberikan 1 stimulus aksi spontan (buku dijatuhkan mendadak oleh guru). Kriteria/acuan penerimaan: Murid mampu merespons seketika dengan laku peran yang selaras (pilihan respons diterima: terkejut memegang dada, melompat mundur, atau bergegas memungut buku).
Proses:- Pengamatan langsung saat murid melakukan permainan peran improvisasi kelompok berdasarkan 4 skenario aksi-reaksi (Skenario A: kilat petir -> berlindung; Skenario B: benda berkilau -> menyelidiki; Skenario C: tersandung -> menolong; Skenario D: kabar menang -> bersorak merangkul). Indikator amatan: ketepatan menyambung aksi lawan main menjadi reaksi tokoh yang selaras tanpa jeda macet.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman interaksi peran: Murid menyebutkan secara lisan tindakan aksi yang dilakukan teman kelompoknya dan bentuk reaksi yang ia berikan saat tampil. Acuan ketercapaian: murid tepat menyebutkan 1 tindakan aksi teman dan 1 reaksi tokohnya sendiri yang saling bertautan sesuai adegan yang baru dimainkan.
Formatif:- Observasi unjuk kerja permainan peran improvisasi aksi dan reaksi tokoh dalam kelompok menggunakan lembar amatan rubrik
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Ketepatan Aksi dan Reaksi Tokoh dalam Improvisasi Berkelompok | Belum mampu memberikan reaksi yang berkaitan dengan aksi tokoh lawan main; bertindak sendiri tanpa menghiraukan aksi kelompok. | Mampu memberikan reaksi terhadap aksi tokoh lawan main namun masih membutuhkan instruksi atau aba-aba langsung dari guru saat improvisasi berlangsung. | Mampu memberikan reaksi yang selaras dan berkesinambungan terhadap aksi tokoh lawan main secara mandiri dalam kelompok sesuai skenario latihan. | Mampu melakukan variasi aksi dan reaksi secara konsisten, luwes, dan berkesinambungan sepanjang permainan peran improvisasi kelompok tanpa henti. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah instruksi skenario aksi dan reaksi cukup jelas sehingga memicu keterlibatan aktif semua anggota kelompok?
- Bagaimana tingkat kepekaan murid dalam merespons tindakan spontan teman mainnya di panggung?
Murid:- Apa yang kamu rasakan ketika harus langsung merespons tindakan tak terduga dari teman kelompokmu?
- Bagian mana dari permainan peran aksi-reaksi tadi yang paling menantang bagimu?
Pertemuan 5 — Melakukan Permainan Peran Berkelompok melalui Improvisasi Mengelaborasi Tokoh — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 6.3.3 Melakukan permainan peran berkelompok melalui improvisasi untuk melatih aksi dan reaksi dalam mengelaborasi tokoh
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, serta memfasilitasi pemanasan fokus tubuh dan ruang gerak sederhana (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu melakukan permainan peran berkelompok melalui improvisasi untuk melatih aksi dan reaksi dalam mengelaborasi tokoh (5 menit).
- Asesmen awal: Guru memberikan tantangan aksi spontan singkat di depan kelas (guru melempar stimulus aksi: 'Tiba-tiba ada dompet jatuh di depanmu!') dan meminta 2-3 murid merespons dengan reaksi peran spontan sesuai karakter tokoh yang dipilih (kriteria kesiapan: mampu merespons spontan dengan tindakan fisik atau dialog peran yang sesuai situasi aksi) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak penjelasan guru mengenai konsep elaborasi tokoh dalam improvisasi kelompok, yaitu cara memperdalam respon fisik, emosi, dan tindakan tokoh terhadap aksi spontan lawan main tanpa naskah tertulis (10 menit).
- Guru bersama 2 orang perwakilan murid mendemonstrasikan contoh siklus 'Aksi-Reaksi Mengelaborasi Tokoh' dengan skenario stimulus: Tokoh Penjual Pasar (aksi: menawarkan buah langka dengan nada memaksa) ditanggapi Tokoh Pembeli Hemat (reaksi: menawar harga sambil memeriksa kondisi buah secara teliti) (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan):- Murid dibagi ke dalam kelompok yang terdiri dari 3-4 orang untuk memainkan permainan improvisasi berkelompok bertajuk 'Rantai Aksi-Reaksi Spontan' (10 menit).
- Setiap kelompok mengambil satu dari 3 kartu skenario improvisasi yang disediakan guru: Skenario 1: 'Ruang tunggu dokter gigi yang pintunya mendadak macet' (pembagian peran: Tokoh Penakut, Tokoh Petugas Medis, Tokoh Pasien Terburu-buru); Skenario 2: 'Warung makan yang kehabisan menu pesanan terakhir' (pembagian peran: Tokoh Koki Pelupa, Tokoh Pelanggan Lapar, Tokoh Pelayan Bingung); Skenario 3: 'Peron kereta saat pengumuman kereta ditunda 2 jam' (pembagian peran: Tokoh Pelancong Cemas, Tokoh Porter Santai, Tokoh Pedagang Asongan) (10 menit).
- Secara bergantian antaranggota kelompok, murid melakukan permainan peran improvisasi di mana setiap aksi dari satu tokoh wajib direspons dengan reaksi spontan yang memperdalam sifat/karakter tokoh lain, diamati langsung oleh guru menggunakan lembar observasi aksi-reaksi (30 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama kelompoknya mengevaluasi jalannya improvisasi: apakah reaksi yang diberikan berhasil menanggapi aksi lawan main serta memperjelas watak tokoh yang dimainkan (10 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan pentingnya kepekaan aksi dan reaksi dalam mengelaborasi tokoh saat berimprovisasi teater secara kelompok (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik formatif terhadap kelancaran respons aksi-reaksi tiap kelompok serta menginformasikan materi pengamatan cerita sederhana untuk pertemuan berikutnya (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Kelompok yang membutuhkan pendampingan diberikan skenario berstruktur sederhana dengan 2 aksi pemicu yang dipandu langsung oleh guru, sedangkan kelompok mahir diberikan stimulus komplikasi mendadak di tengah adegan (misal: listrik padam tiba-tiba).
- Proses: Pada kelompok berkembang, pergantian giliran aksi-reaksi diberi aba-aba waktu jeda per adegan, sedangkan kelompok mandiri mengalirkan improvisasi secara bebas berkelanjutan.
- Produk: Elaborasi tokoh ditunjukkan melalui ketepatan respons aksi-reaksi, baik berupa tindakan gestur tubuh peran maupun respons verbal karakter.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik kesiapan aksi-reaksi spontan: Guru memberikan aksi tunggal 'Tiba-tiba terdengar suara gemuruh keras!' dan meminta murid merespons dengan satu reaksi tubuh/dialog spontan sesuai karakter (acuan: reaksi relevan terhadap suara gemuruh, seperti refleks melindungi diri bagi karakter penakut, atau sikap waspada bagi karakter penjaga).
Proses:- Asesmen formatif observasi saat permainan peran: Mengamati ketepatan murid dalam merespons aksi kawan main secara spontan dan mempertahankan elaborasi watak tokoh yang diperankan selama adegan improvisasi.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman/umpan balik penutup: Murid menyebutkan secara lisan satu bentuk reaksi tokohnya yang paling berhasil merespons aksi rekan sekelompok dalam adegan improvisasi (kriteria penerimaan: respon menyebutkan aksi pemicu lawan main dan reaksi tindakan/ucapan tokoh yang bersesuaian).
Formatif:- Observasi unjuk kerja permainan peran berkelompok melalui improvisasi aksi dan reaksi dalam mengelaborasi tokoh.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Improvisasi Aksi dan Reaksi dalam Mengelaborasi Tokoh | Murid belum merespons aksi rekan peran secara spontan dan karakter tokoh belum terlihat selama permainan peran berkelompok. | Murid merespons aksi rekan peran namun masih pasif/sering terhenti (memerlukan instruksi berulang), elaborasi watak tokoh mulai tampak sebagian. | Murid melakukan improvisasi dengan merespons aksi rekan main secara spontan serta konsisten mempertahankan watak tokoh dalam kelompok secara mandiri. | Murid melakukan improvisasi secara konsisten, selalu tanggap memberi dan merespons aksi-reaksi rekan main secara lancar dan luwes mengelaborasi dimensi tokoh tanpa ragu sepanjang adegan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alur permainan improvisasi memberikan ruang yang cukup bagi setiap murid untuk melatih aksi dan reaksi peran?
- Bagaimana kesiapan murid dalam mempertahankan watak tokoh saat menghadapi aksi spontan tak terduga dari temannya?
Murid:- Apa tantangan terbesarmu saat harus spontan memberikan reaksi terhadap aksi tak terduga teman sekelompok?
- Bagaimana reaksimu tadi membantu memperjelas karakter tokoh yang kamu perankan?
Pertemuan 6 — Memainkan Ragam Peran dari Cerita Sederhana Berdasarkan Hasil Pengamatan — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 6.3.4 Memainkan ragam peran dari cerita sederhana berdasarkan hasil pengamatan
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memimpin doa bersama (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu memainkan ragam peran dari cerita sederhana berdasarkan hasil pengamatan orang-orang di sekitar (4 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui permainan tebak tiruan peran cepat: guru memperagakan 2 gaya tubuh (penjual jamu gendong yang agak membungkuk sambil memegang bakul imajiner dan polisi lalu lintas yang berdiri tegap memberi aba-aba setop), lalu murid secara individu menirukan salah satu peran yang diamatinya tersebut (8 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna):- Guru menyajikan satu cerita sederhana berjudul 'Pagi di Pasar Desa' yang memuat 3 ragam peran berdasarkan pengamatan kehidupan sehari-hari: (1) Pedagang sayur yang gesit melayani pembeli sambil menata barang dagangan; (2) Kakek pembeli yang berjalan pelan dan berhati-hati melangkah; (3) Anak sekolah yang terburu-buru berjalan cepat mengejar angkutan (10 menit).
- Guru memberikan pemodelan cara memainkan ragam peran tersebut secara bergantian dengan menunjukkan perubahan laku tubuh yang jelas antarperan sesuai hasil pengamatan pada teks cerita (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):- Murid memainkan permainan 'Tantangan Ganti Topeng Peran': secara bergantian dan mandiri, saat guru menyebutkan nama peran dari cerita 'Pagi di Pasar Desa', murid langsung memainkan peran tersebut dengan perwujudan gerak tubuh dan laku peran yang sesuai hasil pengamatan (15 menit).
- Setiap murid berlatih memainkan minimal 2 ragam peran berbeda secara berurutan dari cerita 'Pagi di Pasar Desa' (misalnya pertama memainkan Pedagang Sayur yang gesit menimbang barang, lalu beralih memainkan Kakek Pembeli yang melangkah perlahan bertumpu pada tongkat imajiner) (15 menit).
- Setiap murid unjuk kerja secara bergiliran memainkan 2 ragam peran pilihan dari 3 peran cerita 'Pagi di Pasar Desa' di area panggung kelas (22 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid melakukan refleksi diri tentang peralihan laku peran yang dimainkan, mengenali apakah perubahan fisik dari peran pertama ke peran kedua sudah berhasil diwujudkan sesuai pengamatan (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik langsung terhadap unjuk kerja memainkan ragam peran yang telah ditampilkan seluruh murid (5 menit).
- Guru memandu murid menyimpulkan pembelajaran hari ini bahwa memainkan ragam peran memerlukan perwujudan kebiasaan dan laku tubuh yang berbeda sesuai hasil pengamatan (2 menit).
- Guru menutup pertemuan dengan doa dan salam penutup (1 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan 2 peran kontras yang sangat jelas perbedaannya (Pedagang Sayur yang gesit dan Kakek Pembeli yang lambat), sedangkan murid yang lebih mahir dapat memilih memainkan ketiga ragam peran dari cerita tersebut secara bersambung.
- Proses: Murid yang masih ragu diberi kesempatan berlatih di depan cermin atau dengan bimbingan isyarat gerak dari guru sebelum tampil mandiri.
- Produk: Unjuk kerja memainkan peran: murid yang berkembang memainkan 2 ragam peran, sedangkan murid yang mahir memainkan 3 ragam peran dengan peralihan gerak yang mulus.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik peragaan peran singkat: Murid diminta menirukan 1 dari 2 contoh peran hasil pengamatan yang diperagakan guru. Kriteria ketercapaian awal: Murid mampu mewujudkan laku fisik peran yang dipilih (acuan peran 1: Pedagang jamu gendong dengan punggung condong membungkuk dan tangan menahan beban bakul imajiner; acuan peran 2: Polisi lalu lintas dengan postur tegap dan tangan mengarahkan tanda setop tegas).
Proses:- Observasi unjuk kerja saat murid memainkan 2 ragam peran dari cerita 'Pagi di Pasar Desa'. Kriteria ketercapaian: Murid memainkan minimal 2 peran berbeda dengan laku fisik yang dapat dibedakan secara jelas sesuai pengamatan (acuan peran: (1) Pedagang sayur = gerakan tangan gesit menyusun/menimbang dan langkah lincah; (2) Kakek pembeli = langkah lambat, tubuh membungkuk, bertumpu hati-hati; (3) Anak sekolah = langkah cepat bergegas, pandangan mencari-cari).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman peragaan mandiri di akhir unjuk kerja: Murid memperagakan satu pose beku (freeze pose) dari 2 peran yang dimainkan secara berturut-turut untuk membuktikan pembedaan ragam peran secara visual (acuan: pose peran pertama dan pose peran kedua tampak kontras dalam bentuk postur tubuh).
Formatif:- Unjuk kerja memainkan ragam peran dari cerita sederhana 'Pagi di Pasar Desa' dengan lembar observasi ketercapaian perwujudan peran hasil pengamatan.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Memainkan ragam peran dari cerita sederhana | Belum mampu memainkan ragam peran dari cerita sederhana; gerak peran yang dimainkan masih seragam dan belum mencerminkan hasil pengamatan. | Memainkan 1 peran dari cerita sederhana sesuai hasil pengamatan dengan bantuan arahan gerak dari guru, namun belum mampu membedakan saat beralih ke peran kedua. | Memainkan 2 ragam peran dari cerita sederhana secara mandiri dengan perbedaan laku fisik yang jelas sesuai hasil pengamatan pada teks cerita 'Pagi di Pasar Desa'. | Memainkan 3 ragam peran dari cerita sederhana secara mandiri dan konsisten dengan transisi peralihan laku fisik yang sangat jelas dan meyakinkan berdasarkan hasil pengamatan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu unjuk kerja individu mencukupi bagi seluruh murid untuk memainkan ragam peran di depan kelas?
- Bagian cerita sederhana mana yang paling efektif membantu murid membedakan laku fisik antarperan?
Murid:- Peran mana dari cerita 'Pagi di Pasar Desa' yang paling mudah dan paling menantang untuk kamu mainkan?
- Bagaimana caramu membedakan gerak tubuh antara peran yang satu dengan peran yang lain saat tampil tadi?
Pertemuan 7 — Memerankan Lakon Berkelompok Berdasarkan Minat, Pengamatan, dan Pengalaman — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 6.3.5 Memerankan lakon secara individu maupun berkelompok berdasarkan minat, pengamatan, dan pengalaman
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memandu pemanasan fisik serta vokal singkat (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik kesiapan pemeranan dengan memanggil 3 murid perwakilan untuk memperagakan laku fisik satu tokoh sehari-hari yang pernah diamati (acuan: peragaan menunjukkan laku spesifik tokoh seperti gaya berjalan pedagang memikul barang, petugas menyeberangkan anak sekolah, atau dokter memeriksa denyut nadi) (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu berlatih dan memerankan lakon cerita berkelompok yang dibangun dari minat, hasil pengamatan, dan pengalaman nyata para murid (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Berkesadaran):- Murid menyimak penjelasan guru tentang cara menghubungkan peran dalam lakon dengan hasil pengamatan lingkungan sekitar (misalnya mengamati cara penjual kantin bergerak, atau pengalaman membantu teman piket) agar penjiwaan tokoh menjadi hidup (10 menit).
- Dalam kelompok beranggotakan 4 orang, murid memilih dan menyepakati 1 dari 3 premis lakon kehidupan nyata yang disediakan guru: Premis A (Kerja Bakti Membersihkan Taman Kelas), Premis B (Antrean Mengembalikan Buku di Perpustakaan), atau Premis C (Suasana Pasar Kaget Depan Sekolah) (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Setiap murid dalam kelompok memilih peran sesuai minat dan pengalamannya, lalu kelompok merancang pembagian peran dalam lakon (misal pada Premis B: penjaga perpustakaan yang teliti, murid yang terburu-buru, murid yang tenang, dan murid yang mencari buku hilang) (15 menit).
- Melalui aktivitas permainan seru 'Tantangan Beku-Cair Lakon', kelompok berlatih adegan lakon; saat guru bertepuk tangan sekali, murid bergerak dan melakonkan perannya dengan melibatkan dialog aksi-reaksi, dan saat tepuk tangan dua kali murid membeku dalam posisi karakternya (20 menit).
- Setiap kelompok secara bergiliran memerankan lakon berdurasi 3-4 menit di area panggung kelas berdasarkan minat peran, pengamatan gerak tokoh nyata, dan pengalaman sehari-hari yang telah disepakati (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Setelah kelompok tampil, sesama anggota kelompok saling memeriksa keterlibatan peran masing-masing: apakah laku peran yang dimainkan sudah mencerminkan pengamatan dan pengalaman nyata yang dirasakan tokoh (5 menit).
- Guru memberikan penguatan formatif terhadap perwujudan tokoh dalam pemeranan lakon setiap kelompok, menggarisbawahi bagaimana pengalaman nyata membantu penghayatan peran secara utuh (5 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan bagaimana minat dan pengamatan terhadap pengalaman nyata mempermudah penghayatan saat memerankan lakon berkelompok (5 menit).
- Guru menutup pertemuan dengan latihan pendinginan napas bersama dan salam penutup (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan aksi tokoh yang memuat daftar tindakan konkret (misal: penjaga perpus: mencatat, menyusun buku; murid: mengantre, membalik halaman buku). Murid yang mahir memilih peran dengan lapisan konflik yang lebih dinamis.
- Proses: Kelompok yang membutuhkan bimbingan dibantu guru dalam menentukan urutan masuk tokoh ke arena lakon, sedangkan kelompok mandiri langsung mengeksplorasi blocking dan alur pemeranan secara penuh.
- Produk: Kelompok dapat menyajikan lakon dengan durasi minimal 3 menit (peran inti berjalan konsisten) hingga 4 menit (elaborasi detail interaksi antar-tokoh secara luwes).
Asesmen Pertemuan:Awal:- Peragaan gerak cepat satu tokoh nyata (3 murid) untuk mengukur kesiapan fisik mewujudkan peran. Kriteria penerimaan operasional: murid mampu menunjukkan minimal 1 laku fisik spesifik yang dapat dikenali dari tokoh yang diamatinya tanpa ragu (acuan peragaan: penjual memikul barang, polisi menghentikan kendaraan, atau petugas menyapu jalanan).
Proses:- Pengamatan langsung saat latihan 'Tantangan Beku-Cair Lakon' dan saat kelompok tampil memerankan lakon. Kriteria pengamatan: (1) murid memainkan peran sesuai alur lakon kelompok; (2) ekspresi dan gestur memerankan tokoh mencerminkan hasil pengamatan/pengalaman nyata yang dipilih.
Akhir Pertemuan:- Pemeriksaan akhir berbasis refleksi kelompok terhadap keterwujudan peran dalam lakon. Kriteria penerimaan operasional: setiap murid mampu menyebutkan 1 tindakan dalam pemeranan lakon tadi yang secara sadar bersumber dari pengamatan atau pengalaman pribadinya di kehidupan nyata.
Formatif:- Observasi unjuk kerja pemeranan lakon berkelompok menggunakan lembar ceklis indikator pemeranan berdasarkan minat, pengamatan, dan pengalaman
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Pemeranan Tokoh Berdasarkan Pengamatan dan Pengalaman | Belum mampu memerankan tokoh dalam lakon kelompok; laku fisik dan ucapan belum mencerminkan hasil pengamatan atau pengalaman. | Memerankan tokoh dalam lakon kelompok, namun laku pemeranan masih canggung dan hanya sesekali mencerminkan pengamatan atau pengalaman nyata jika diarahkan guru. | Memerankan tokoh dalam lakon kelompok secara konsisten dari awal hingga akhir adegan dengan menunjukkan laku peran yang bersumber dari pengamatan dan pengalaman nyata. | Memerankan tokoh dalam lakon kelompok secara konsisten, luwes, dan mandiri dengan perwujudan laku peran yang sangat kaya akan detail hasil pengamatan serta pengalaman nyata. | | Keterlibatan Pemeranan Lakon Berkelompok Sesuai Minat | Belum berpartisipasi aktif dalam jalinan adegan lakon kelompok. | Terlibat dalam lakon kelompok tetapi masih ragu merespons laku peran tokoh lain dalam adegan kelompok. | Terlibat aktif memerankan tokoh pilihannya secara terkoordinasi bersama seluruh anggota kelompok dalam lakon cerita. | Terlibat secara penuh dan berinisiatif menjaga keutuhan jalinan adegan lakon kelompok sesuai minat perannya dari awal hingga akhir pementasan kelas. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu latihan dan penampilan lakon kelompok berjalan efektif dan memberi ruang setara bagi setiap murid?
- Bagaimana keterlibatan murid dalam menghubungkan peran teater dengan pengamatan dan pengalaman mereka di kehidupan nyata?
Murid:- Bagian mana dari lakon kelompok tadi yang paling membuatku merasa benar-benar hidup menjadi tokoh tersebut?
- Pengalaman nyata apa yang paling membantuku saat menghidupkan peran dalam lakon hari ini?
Pertemuan 8 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 6.3.1 Melakukan pengenalan karakter melalui pengamatan kebiasaan tokoh yang diperankan
- TP 6.3.2 Menceritakan pendapatnya tentang penokohan dan perwatakan dari sebuah cerita sederhana
- TP 6.3.3 Melakukan permainan peran berkelompok melalui improvisasi untuk melatih aksi dan reaksi dalam mengelaborasi tokoh
- TP 6.3.4 Memainkan ragam peran dari cerita sederhana berdasarkan hasil pengamatan
- TP 6.3.5 Memerankan lakon secara individu maupun berkelompok berdasarkan minat, pengamatan, dan pengalaman
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan ruang pementasan, dan memimpin doa bersama (2 menit).
- Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif bab, yaitu unjuk kerja pementasan lakon kelompok dan presentasi lisan apresiasi tokoh dengan alokasi waktu 105 menit (3 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Guru membacakan tata tertib asesmen, urutan tampil 5 kelompok lakon cerita sederhana, serta menjelaskan 4 kriteria rubrik pementasan (peragaan kebiasaan tokoh, keluwesan aksi-reaksi improvisasi, ketepatan ragam peran, penghayatan lakon) dan 3 kriteria presentasi lisan (kejelasan penyampaian pendapat, ketepatan identifikasi perwatakan, kedalaman telaah penokohan) (3 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Tugas 1: Lima kelompok (5-6 murid per kelompok) secara bergiliran menampilkan pementasan adegan lakon cerita sederhana berdurasi masing-masing 9-10 menit, yang memperagakan kebiasaan fisik/vokal tokoh hasil pengamatan, keluwesan improvisasi aksi-reaksi, kesesuaian ragam peran, dan penghayatan lakon secara utuh (total 5 kelompok x 10 menit, ditambah transisi panggung) (50 menit).
- Tugas 2: Setiap kelompok setelah seluruh pementasan selesai, secara bergiliran selama 7 menit menyampaikan presentasi lisan terstruktur yang menceritakan pendapat, analisis penokohan, dan perwatakan tokoh berdasarkan cerita sederhana yang telah dipentaskan (total 5 kelompok x 7 menit) (35 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid secara individu mengisi lembar refleksi singkat mengenai pengalaman memerankan tokoh, tantangan merespons aksi rekan main, dan cara mengemukakan pendapat tentang perwatakan lakon (7 menit).
Penutup:- Guru memberikan apresiasi umum atas kesungguhan seluruh kelompok dalam mewujudkan tokoh dan menyampaikan simpulan penutupan Bab 3 (3 menit).
- Guru menyampaikan rencana tindak lanjut pembelajaran berikutnya serta menutup kegiatan dengan doa dan salam penutup (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Akomodasi akses: naskah garis besar lakon disediakan dalam ukuran teks besar bagi murid dengan hambatan penglihatan.
- Proses: Akomodasi akses: murid yang memerlukan dukungan kepercayaan diri diperkenankan menggunakan kartu pengingat alur peran saat persiapan panggung tanpa mengubah kriteria penilaian.
- Produk: Standar bukti unjuk kerja pementasan lakon dan presentasi lisan kelompok tetap sama untuk seluruh murid sesuai acuan rubrik sumatif.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Cek kesiapan akhir kelompok: guru mengonfirmasi kesiapan peran masing-masing anggota kelompok dan ketersediaan sinopsis alur lakon cerita sederhana yang akan dimainkan (kriteria kesiapan: setiap anggota memahami nama tokoh, watak dasar protagonis/antagonis/tritagonis, dan kebiasaan gerak tubuh tokoh).
Proses:- Observasi guru selama transisi panggung pementasan untuk memastikan kelancaran giliran tampil antar-kelompok tanpa mengganggu konsentrasi pemeranan.
Sumatif Bab:- unjuk kerja pementasan lakon kelompok dan presentasi lisan apresiasi tokoh: penampilan pementasan adegan lakon berkelompok yang memadukan kebiasaan tokoh, improvisasi aksi-reaksi, dan ragam peran, dilanjutkan penyampaian pendapat lisan mengenai penokohan dan perwatakan tokoh
- unjuk kerja performa lakon kelompok: penampilan adegan lakon cerita sederhana berdurasi 9-10 menit oleh kelompok (terdiri atas 5-6 murid per kelompok, total 5 kelompok tampil bergantian) yang memperagakan kebiasaan tokoh hasil pengamatan, dinamika improvisasi aksi-reaksi, ragam peran, serta penghayatan karakter lakon secara utuh (65 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja pemeranan lakon (kriteria: peragaan kebiasaan tokoh, keluwesan aksi-reaksi improvisasi, ketepatan ragam peran, dan penghayatan lakon))
- presentasi lisan kelompok terstruktur: penyampaian lisan perwakilan kelompok secara terstruktur (masing-masing kelompok 6-7 menit untuk 5 kelompok setelah pementasan) yang menceritakan pendapat, analisis penokohan, dan perwatakan tokoh dari cerita sederhana yang telah dimainkan (40 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian presentasi lisan (kriteria: kejelasan penyampaian pendapat, ketepatan identifikasi perwatakan, dan kedalaman telaah penokohan))
Sumatif:- unjuk kerja pementasan lakon kelompok dan presentasi lisan apresiasi tokoh: penampilan pementasan adegan lakon berkelompok yang memadukan kebiasaan tokoh, improvisasi aksi-reaksi, dan ragam peran, dilanjutkan penyampaian pendapat lisan mengenai penokohan dan perwatakan tokoh
- unjuk kerja performa lakon kelompok: penampilan adegan lakon cerita sederhana berdurasi 9-10 menit oleh kelompok (terdiri atas 5-6 murid per kelompok, total 5 kelompok tampil bergantian) yang memperagakan kebiasaan tokoh hasil pengamatan, dinamika improvisasi aksi-reaksi, ragam peran, serta penghayatan karakter lakon secara utuh (65 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja pemeranan lakon (kriteria: peragaan kebiasaan tokoh, keluwesan aksi-reaksi improvisasi, ketepatan ragam peran, dan penghayatan lakon))
- presentasi lisan kelompok terstruktur: penyampaian lisan perwakilan kelompok secara terstruktur (masing-masing kelompok 6-7 menit untuk 5 kelompok setelah pementasan) yang menceritakan pendapat, analisis penokohan, dan perwatakan tokoh dari cerita sederhana yang telah dimainkan (40 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian presentasi lisan (kriteria: kejelasan penyampaian pendapat, ketepatan identifikasi perwatakan, dan kedalaman telaah penokohan))
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Peragaan Kebiasaan Tokoh (TP 6.3.1) | Belum memperagakan kebiasaan fisik atau vokal tokoh yang khas; gerak dan laku masih canggung serta tidak konsisten dengan pengamatan tokoh. | Memperagakan kebiasaan tokoh sesekali namun kerap kembali ke kebiasaan diri sendiri saat berdialog di panggung. | Konsisten memperagakan kebiasaan fisik dan vokal tokoh yang khas sepanjang pementasan sesuai hasil pengamatan. | Sangat konsisten, luwes, dan mendalam dalam memperagakan kebiasaan khas tokoh secara detail tanpa terlepas dari karakter sepanjang lakon. | | Keluwesan Improvisasi Aksi dan Reaksi (TP 6.3.3) | Terpaku kaku pada teks, tidak mampu memberikan reaksi spontan terhadap tindakan atau dialog lawan main. | Merespons aksi lawan main secara lambat atau ragu-ragu sehingga tempo adegan terputus. | Luwes melakukan improvisasi aksi dan reaksi secara wajar untuk menjaga kelancaran interaksi tokoh dalam kelompok. | Sangat tanggap, luwes, dan dinamis dalam melancarkan aksi-reaksi improvisasi yang memperkaya interaksi antar-tokoh secara memukau. | | Ketepatan Ragam Peran dan Penghayatan Lakon (TP 6.3.4 & TP 6.3.5) | Belum memainkan peran sesuai konteks cerita sederhana dan penghayatan terhadap alur lakon masih minim. | Memainkan peran sesuai jalan cerita namun penghayatan emosi tokoh tampak datar dan kaku. | Tepat memainkan ragam peran dari cerita sederhana dengan penghayatan lakon yang utuh berdasarkan minat dan pengalaman latihan. | Memainkan peran secara tepat, hidup, berkarakter kuat, dan menunjukkan penghayatan lakon yang memikat penonton. | | Presentasi Lisan Penokohan dan Perwatakan (TP 6.3.2) | Belum mampu menceritakan pendapat, identifikasi perwatakan tidak sesuai bukti adegan, dan telaah penokohan terputus-putus. | Menceritakan pendapat singkat, namun identifikasi perwatakan hanya mencakup satu tokoh tanpa telaah latar belakang motifnya. | Menceritakan pendapat dengan jelas, tepat mengidentifikasi perwatakan minimal 2 tokoh, dan menelaah hubungan penokohan dengan jalan cerita. | Menceritakan pendapat secara runtut dan mendalam, tepat menganalisis perwatakan seluruh tokoh lakon, serta menelaah keterkaitan kebiasaan tokoh terhadap konflik cerita. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu pementasan dan presentasi lisan bagi 5 kelompok terlaksana dengan tertib dan tepat waktu?
- Bagaimana capaian pemahaman murid dalam memadukan kebiasaan tokoh, improvisasi aksi-reaksi, dan telaah perwatakan lakon?
Murid:- Bagian mana dari peran yang kamu bawakan hari ini yang paling menunjukkan kebiasaan unik tokohmu?
- Bagaimana perasaanmu saat merespons aksi spontan teman kelompok di atas panggung?
- Apa hal terpenting yang kamu pelajari tentang cara menilai watak seorang tokoh dalam cerita teater?
SUMBER BELAJAR- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas VI (Edisi Revisi)
- Kartu Profil Kebiasaan Fisik Tokoh (Kartu A, B, C, D)
- Lembar Pengamatan Fisik Tokoh
- Peluit / instrumen musik pengiring gerak tubuh
- Buku Panduan Guru Seni Teater SD Kelas VI (Kemendikbudristek 2021/2025 Revisi)
- Rekaman audio singkat variasi dialog netral 'Buku ini milikku'
- Kartu tantangan peran kalimat netral dan kartu profil karakter
- Lembar kerja pengamatan karakter tokoh 4 skenario
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas VI
- Teks cerita sederhana 'Kisah Sahabat di Kebun Sekolah'
- Kartu panduan telaah tokoh 'Detektif Watak'
- Ruang kelas/aula yang leluasa untuk bergerak
- Kartu teks 4 skenario improvisasi aksi-reaksi
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas VI (Kemendikbudristek).
- Kartu stimulus skenario improvisasi situasi panggung.
- Ruang kelas/area pentas sederhana yang bebas hambatan gerak.
- Teks cerita sederhana 'Pagi di Pasar Desa' karya guru.
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas VI.
- Ruang kelas/area terbuka untuk panggung bermain peran.
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas VI (Kemendikbudristek 2023)
- Ruang kelas/area terbuka sebagai panggung lakon
- Tiga kartu teks premis lakon kehidupan sehari-hari
- Area panggung sederhana ruang kelas dengan tanda batas adegan
- Naskah garis besar lakon cerita sederhana hasil latihan kelompok
- Lembar rubrik asesmen unjuk kerja pementasan lakon dan presentasi lisan
|