Modul AjarBab 2Fase CSemester 1

Modul Ajar Seni Teater Kelas 6 Bab 2: Menulis Lakon

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Seni Teater kelas 6 untuk Bab 2 "Menulis Lakon", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Seni Teater Kelas 6 Bab 2: Menulis Lakon

Seni Teater - Kelas 6

Bab 2

MODUL AJAR

Seni Teater — Kelas 6 (Fase C)

Topik: Bab 2 — Menulis Lakon

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranSeni Teater
Fase / KelasFase C / Kelas 6
TopikBab 2 — Menulis Lakon
Alokasi Waktu25 JP (25 x 35 menit = 875 menit)
Jumlah Pertemuan9
Tahun Ajaran2026/2027
Semester1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 6.2.1 Menceritakan pendapatnya tentang sebuah cerita sederhana mengenai penokohan dan perwatakan untuk perancangan naskah lakon
  2. TP 6.2.2 Mengidentifikasi properti sederhana berdasarkan cerita yang akan dimainkan untuk melengkapi rancangan naskah lakon
  3. TP 6.2.3 Memainkan ragam peran dari cerita sederhana berdasarkan hasil pengamatan untuk menguji kelayakan dialog naskah lakon
  4. TP 6.2.4 Memerankan lakon secara individu maupun berkelompok berdasarkan minat, pengamatan, dan pengalaman melalui pembacaan naskah dramatik

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis✓
Kreativitas✓
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan
Komunikasi✓

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Bagaimana kita bisa mengetahui sifat atau watak seseorang hanya dari tindakan dan kata-kata yang diucapkannya dalam sebuah cerita?
  2. Mengapa penentuan watak tokoh utama sangat penting sebelum seseorang mulai menulis naskah lakon?
  3. Mengapa sikap seorang tokoh dalam cerita bisa berubah ketika berhadapan dengan tokoh lain yang berbeda watak?
  4. Bagaimana hubungan persahabatan atau perselisihan antartokoh dapat membantu kita menentukan watak tokoh saat merancang cerita lakon?
  5. Bagaimana sebuah benda sederhana di atas panggung dapat membantu penonton mengenali siapa tokoh dan di mana peristiwa cerita berlangsung?
  6. Jika tokoh cerita adalah seorang penjaga perpustakaan yang sedang memeriksa buku di ruangan berdebu, benda apa saja yang wajib ada di dekatnya?
  7. Mengapa sebuah benda atau properti dibutuhkan oleh tokoh saat memainkan adegan cerita?
  8. Bagaimana sebuah benda sederhana seperti tas atau buku bisa memperjelas apa yang sedang dialami atau dilakukan tokoh dalam naskah lakon?
  9. Bagaimana kita tahu sebuah kalimat dialog terasa wajar atau justru kaku saat diucapkan?
  10. Mengapa kita perlu mencoba memainkan peran orang lain saat menguji naskah lakon?
  11. Bagaimana kita tahu sebuah dialog lakon terdengar wajar atau kaku saat diucapkan antartokoh?
  12. Mengapa perilaku orang-orang di sekitar kita bisa menjadi panduan untuk memainkan peran dan menguji kalimat dialog?
  13. Bagaimana kita bisa menghidupkan karakter tokoh cerita hanya melalui pembacaan naskah dramatik?
  14. Bagaimana pengalaman atau hal yang kamu sukai dalam kehidupan sehari-hari membantumu menjiwai peran seorang tokoh secara individu?
  15. Bagaimana kita menghidupkan percakapan naskah lakon secara bersama-sama dalam kelompok agar terasa seperti kejadian nyata yang pernah kita amati?
  16. Apa yang perlu kita perhatikan saat membaca naskah lakon bersama teman agar dialog antartokoh tersambung dengan wajar sesuai pengalaman sehari-hari?
  17. Bagaimana pendapat kita tentang perwatakan tokoh dan pilihan properti dapat membuat pembacaan naskah lakon terasa hidup?
  18. Mengapa dialog lakon perlu diuji kewajarannya melalui peragaan peran sebelum naskah dibacakan secara berkelompok?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Menceritakan Pendapat tentang Penokohan dan Perwatakan Tokoh Utama dalam Cuplikan Cerita Sederhana — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.2.1 Menceritakan pendapatnya tentang sebuah cerita sederhana mengenai penokohan dan perwatakan untuk perancangan naskah lakon

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa singkat (2 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menceritakan pendapat mengenai penokohan dan perwatakan tokoh utama dari cuplikan cerita sederhana sebagai dasar perancangan lakon (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik lisan dengan membacakan satu kalimat tindakan: 'Rani melihat dompet jatuh di jalan, lalu ia langsung berlari mengejar pemiliknya untuk mengembalikannya.' Guru menanyakan: 'Siapakah tokohnya dan apa watak tokoh tersebut berdasarkan tindakannya?' (acuan diagnostik: tokoh bernama Rani; watak jujur, bertanggung jawab, atau peduli) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak cuplikan cerita sederhana 'Langkah Kecil Bima' yang dibacakan guru: 'Di sebuah desa di lereng bukit, Bima (11 tahun) bercita-cita membuat jembatan bambu kecil agar teman-temannya tidak terpeleset saat menyeberangi sungai kecil menuju sekolah. Meskipun Pak Karta meragukannya dan berkata bahwa anak kecil tidak mungkin bisa memotong dan mengangkut bambu sendiri, Bima tidak menyerah. Setiap sore sepulang sekolah, Bima dengan sabar mengumpulkan bilah bambu bekas dan mengikatnya satu per satu dengan tekun hingga jembatan mulai terbentuk.' (6 menit).
  • Guru memandu tanya jawab untuk mengonstruksi pemahaman tentang unsur penokohan (siapa tokoh utama) dan perwatakan (bagaimana sifat/karakternya terlihat dari perkataan atau perbuatannya dalam cerita) (4 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid mengikuti permainan tebak sifat ceria 'Detektif Karakter': guru membacakan 3 cuplikan kalimat aksi karakter secara bergiliran: (1) 'Doni selalu membagikan bekal makan siangnya kepada teman yang tidak membawa makanan', (2) 'Sita menolak diajak bermain karena ingin menyelesaikan tugas piket kelas terlebih dahulu', (3) 'Tomi membanting bukunya ke meja ketika gilirannya membaca terlewat'. Murid secara serempak menunjukkan kartu sifat yang sesuai (acuan tebak sifat: 1 = dermawan/peduli, 2 = disiplin/tanggung jawab, 3 = pemarah/tidak sabar) (10 menit).
  • Murid membaca teks cerita sederhana kedua berjudul 'Kendi Kejujuran': 'Galih diserahi tugas oleh Kakek Danu menjaga warung kendi tanah liat. Seorang pembeli membayar dengan uang lebih dan terburu-buru pergi tanpa meminta kembalian. Galih sempat menatap uang lebih itu, lalu segera berlari keluar mengejar pembeli tersebut untuk mengembalikan uang lebihannya sambil berkata bahwa ia hanya boleh menerima uang sesuai harga kendi.' (10 menit).
  • Secara mandiri, murid menuliskan catatan singkat berisi pendapatnya mengenai penokohan dan perwatakan tokoh utama dalam cerita tersebut pada lembar kerja: menyebutkan tokoh utama, 2 bukti watak dari perbuatan/perkataan, dan alasan pendapatnya untuk rancangan naskah lakon (acuan: tokoh utama Galih; watak jujur/amanah; bukti: menolak mengambil uang lebih dan berlari mengembalikannya kepada pembeli) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Beberapa murid secara sukarela menceritakan pendapatnya secara lisan di depan teman-temannya mengenai penokohan dan watak Galih dalam cerita 'Kendi Kejujuran', sementara teman lain menyimak bukti watak yang disampaikan (acuan kriteria lisan: menyampaikan identitas tokoh utama Galih, menyebutkan watak jujur/bertanggung jawab, dan menyertakan bukti tindakan dari cerita) (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan bahwa watak tokoh utama dalam cerita dapat dikenali melalui tindakan dan ucapannya, yang nantinya menjadi pedoman dalam merancang dialog dan lakon teater (3 menit).
  • Guru memberikan umpan balik penguatan terhadap ketepatan pendapat murid dalam mengaitkan watak dengan bukti cerita serta menutup pelajaran dengan salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks 'Kendi Kejujuran' dengan penandaan garis bawah pada kalimat tindakan kunci tokoh Galih; murid yang lebih cepat diberikan teks tanpa penanda dan diminta mencermati nuansa emosi tokoh saat mengambil keputusan.
  • Proses: Murid yang masih ragu dapat merumuskan pendapat menggunakan panduan kalimat pemantik: 'Menurut saya, tokoh utama adalah ... karena ia memiliki watak ... yang terlihat saat ia ...'.
  • Produk: Murid menceritakan pendapatnya secara lisan atau catatan ringkas dengan tingkat kedalaman bukti tindakan sesuai kemampuannya pada kompetensi yang sama.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan: 'Rani melihat dompet jatuh di jalan, lalu ia langsung berlari mengejar pemiliknya untuk mengembalikannya. Siapakah tokohnya dan apa watak tokoh tersebut berdasarkan tindakannya?' (kriteria acuan ketercapaian: menyebutkan tokoh Rani dengan tepat dan menyebutkan watak jujur/peduli/bertanggung jawab).

Proses:

  • Penilaian lembar kerja dan penyampaian lisan tentang cerita 'Kendi Kejujuran': murid menceritakan pendapatnya mengenai penokohan dan watak tokoh utama (acuan: menyebut tokoh utama Galih; watak jujur/amanah; didukung minimal 1 bukti tindakan yaitu mengembalikan uang kembalian pembeli).

Akhir Pertemuan:

  • Pengecekan pemahaman di akhir sesi melalui 1 pertanyaan reflektif lisan: 'Bagaimana perbuatan tokoh utama dalam cerita membantu kita menentukan wataknya saat merancang lakon?' (kriteria penerimaan: jawaban murid mengaitkan bahwa perbuatan/ucapan tokoh menunjukkan sifat asli tokoh yang akan diperankan dalam lakon).

Formatif:

  • Tanya jawab diagnostik di awal pembelajaran mengenai pengenalan tokoh dan watak dari tindakan sederhana.
  • Observasi unjuk kerja permainan 'Detektif Karakter' dan catatan analisis lembar kerja cerita 'Kendi Kejujuran'.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menceritakan Pendapat tentang Penokohan dan Perwatakan Tokoh UtamaBelum mampu menyebutkan tokoh utama dan belum mampu menyampaikan watak tokoh dari cuplikan cerita sederhana.Mampu menyebutkan nama tokoh utama, namun belum dapat menyampaikan watak tokoh dengan tepat atau belum disertai bukti tindakan dari teks.Mampu menceritakan pendapat tentang penokohan dan perwatakan tokoh utama dengan tepat serta menyertakan minimal 1 bukti tindakan dari teks cuplikan cerita.Mampu menceritakan pendapat tentang penokohan dan perwatakan tokoh utama secara mandiri, tepat, dan lengkap dengan menyertakan 2 bukti tindakan/ucapan pendukung dari teks secara terperinci.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah teks cerita sederhana yang disajikan berhasil memantik pemahaman murid mengenai hubungan tindakan tokoh dengan perwatakannya?
  • Apakah semua murid mendapatkan kesempatan yang cukup untuk menceritakan pendapatnya secara lisan maupun tertulis?

Murid:

  • Bagian mana dari cerita tadi yang paling jelas menunjukkan sifat asli tokoh utamanya?
  • Apa hal baru yang kamu pahami tentang cara mengenali watak seseorang dalam sebuah cerita lakon?

Pertemuan 2 — Menceritakan Pendapat tentang Hubungan Antartokoh dan Perwatakan untuk Perancangan Naskah Lakon — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.2.1 Menceritakan pendapatnya tentang sebuah cerita sederhana mengenai penokohan dan perwatakan untuk perancangan naskah lakon

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, menyapa murid, dan mengajak berdoa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menceritakan pendapat tentang hubungan antartokoh dan perwatakannya dalam cerita sederhana untuk kebutuhan perancangan naskah lakon (4 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik lisan dengan menyajikan cuplikan interaksi 2 kalimat: 'Rano selalu cemberut saat disapa Dino, namun ia langsung tersenyum ramah dan berbagi bekal saat melihat adik kelasnya yang lapar.' Guru menanyakan hubungan antartokoh dan watak Rano kepada beberapa murid (acuan jawaban: Rano berwatak peduli/penyayang terhadap yang lebih lemah walau tampak dingin/ketus terhadap teman sebayanya Dino; hubungan dengan Dino renggang/kaku, hubungan dengan adik kelas penuh kasih sayang) (8 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru membagikan lembar teks cerita sederhana berjudul 'Perselisihan di Jam Istirahat' yang memuat 3 tokoh: Ardi (tegas dan disiplin), Bima (santai dan pelupa), serta Bu Rina (bijaksana dan pengayom). Hubungan: Ardi sering menegur Bima karena piket, Bima merasa Ardi terlalu kaku, Bu Rina menjadi penengah yang dihormati keduanya (10 menit).
  • Murid membaca teks cerita secara saksama dalam hati sambil mencermati bagaimana dialog dan tindakan antartokoh memperlihatkan perwatakan masing-masing (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid dibagi berpasangan untuk memainkan permainan telaah 'Detektif Karakter': setiap pasangan menganalisis 3 butir hubungan antartokoh: (1) Hubungan Ardi dan Bima beserta dampaknya pada watak Ardi; (2) Hubungan Bima dan Bu Rina beserta dampaknya pada watak Bima; (3) Hubungan Ardi dan Bu Rina beserta dampaknya pada watak Ardi untuk persiapan naskah lakon (15 menit).
  • Setiap pasangan murid berdiskusi dan menuliskan pendapat mereka pada lembar telaah mengenai perwatakan tokoh berdasarkan interaksi ketiga hubungan tersebut (acuan telaah: (1) Ardi dan Bima berkonflik karena Ardi menuntut kedisiplinan dan Bima meremehkan tugas; watak Ardi tampak kaku namun bertanggung jawab; (2) Bima dan Bu Rina menunjukkan sikap segan; watak Bima berubah patuh saat diingatkan dengan lembut; (3) Ardi dan Bu Rina menunjukkan sikap hormat; watak Ardi menjadi penurut dan mendengarkan masukan) (20 menit).
  • Setiap murid menceritakan secara lisan pendapatnya tentang hubungan antartokoh dan perwatakan tersebut secara bergiliran di dalam kelompok kecil 4 orang (gabungan 2 pasangan) untuk merumuskan rancangan karakter lakon yang kuat (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru memfasilitasi perwakilan murid menceritakan pendapatnya di hadapan kelas tentang bagaimana hubungan antartokoh memperjelas watak tokoh dalam perancangan naskah lakon, sementara murid lain menyimak keselarasan penjelasannya (10 menit).
  • Murid bersama guru menyimpulkan bahwa watak tokoh dalam lakon tidak berdiri sendiri, melainkan terlihat nyata melalui dinamika hubungannya dengan tokoh lain (5 menit).

Penutup:

  • Murid melakukan cek pemahaman akhir melalui kartu refleksi tertulis singkat berisi satu pertanyaan: 'Bagaimana watak tokoh Bima berubah ketika berhadapan dengan Ardi dibandingkan ketika berhadapan dengan Bu Rina?' (acuan: saat berhadapan dengan Ardi, Bima defensif/meremehkan; saat berhadapan dengan Bu Rina, Bima menjadi segan dan patuh) (3 menit).
  • Guru memberikan umpan balik umum terhadap hasil telaah murid dan menginformasikan bahwa pemahaman watak dan hubungan antartokoh ini akan digunakan untuk merancang properti pada pertemuan berikutnya (1 menit).
  • Guru menutup sesi pembelajaran dengan doa penutup dan salam (1 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan berupa tabel hubungan antartokoh dengan pertanyaan pemandu (misalnya: 'Bagaimana sikap Ardi saat Bima menolak piket?'). Murid dengan penguasaan cepat diberikan cuplikan tambahan berisi tokoh figuran untuk dianalisis pengaruh hubungannya terhadap watak tokoh utama.
  • Proses: Pada kegiatan berpasangan, murid yang membutuhkan bimbingan dipasangkan dengan teman yang komunikatif atau mendapatkan scaffolding langsung dari guru saat menganalisis hubungan antartokoh.
  • Produk: Murid yang memerlukan bimbingan menceritakan pendapatnya dengan fokus pada 2 hubungan tokoh utama (Ardi dan Bima), sedangkan murid yang mahir menceritakan pendapat lengkap mengenai ketiga dinamika hubungan antartokoh (Ardi, Bima, dan Bu Rina).

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan di pendahuluan: 'Berdasarkan cuplikan: Rano selalu cemberut saat disapa Dino, namun ia langsung tersenyum ramah dan berbagi bekal saat melihat adik kelasnya yang lapar, bagaimana hubungan Rano dengan Dino serta watak asli Rano?' Kriteria penerimaan/acuan: Menjawab bahwa hubungan Rano dan Dino renggang/tidak akrab serta watak Rano sebenarnya peduli/penyayang namun defensif terhadap teman sebayanya.

Proses:

  • Observasi menceritakan pendapat dalam kelompok kecil terhadap 3 hubungan antartokoh cerita 'Perselisihan di Jam Istirahat' (acuan analisis: (1) Hubungan Ardi-Bima berkonflik memperlihatkan watak Ardi disiplin/kaku dan Bima pelupa/santai; (2) Hubungan Bima-Bu Rina menunjukkan sikap segan/patuh; (3) Hubungan Ardi-Bu Rina menunjukkan sikap hormat/terbuka menerima arahan). Kriteria: Murid mampu menceritakan pendapat tentang minimal 2 hubungan antartokoh dan perwatakannya secara tepat sesuai alur cerita.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman tertulis pada kartu refleksi: 'Jelaskan perbedaan perwatakan Bima ketika berinteraksi dengan Ardi dibandingkan dengan Bu Rina!' Acuan jawaban tepat: Bima menunjukkan watak santai/meremehkan/membantah saat berhadapan dengan Ardi, tetapi menunjukkan watak patuh/segan dan mengakui kesalahan saat berhadapan dengan Bu Rina.

Formatif:

  • Asesmen Awal: Tanya jawab lisan diagnostik tentang hubungan antartokoh dan perwatakan pada cuplikan 2 kalimat pembuka.
  • Asesmen Proses: Observasi penyampaian lisan saat murid menceritakan pendapat tentang hubungan antartokoh dan perwatakan dalam diskusi kelompok kecil menggunakan lembar ceklis.
  • Asesmen Akhir: Cek pemahaman tertulis singkat pada kartu refleksi di akhir sesi.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menceritakan pendapat tentang hubungan antartokoh dan perwatakan cerita untuk perancangan naskah lakonBelum mampu menceritakan pendapat tentang hubungan antartokoh maupun perwatakan tokoh dalam cerita, atau pendapat yang disampaikan tidak sesuai dengan isi cerita.Mampu menceritakan pendapat tentang hubungan antartokoh dan perwatakan hanya untuk 1 hubungan tokoh (misal: hanya hubungan Ardi dan Bima) dengan bimbingan penuh guru.Mampu menceritakan pendapat tentang hubungan antartokoh dan perwatakan tokoh secara tepat untuk minimal 2 hubungan tokoh (Ardi-Bima dan Bima-Bu Rina) sesuai isi cerita secara mandiri.Mampu menceritakan pendapat tentang hubungan antartokoh dan perwatakan tokoh secara mendalam dan lengkap untuk seluruh 3 hubungan tokoh (Ardi-Bima, Bima-Bu Rina, dan Ardi-Bu Rina) serta mengaitkannya dengan kesiapan perancangan naskah lakon secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah teks cerita sederhana yang disediakan cukup jelas menggambarkan hubungan antartokoh dan kontras perwatakan mereka?
  • Bagaimana keterlibatan murid dalam menceritakan pendapatnya saat diskusi kelompok kecil, dan apakah ada murid yang mendominasi atau pasif?

Murid:

  • Bagian mana dari hubungan tokoh Ardi, Bima, dan Bu Rina yang paling mudah kamu kenali wataknya?
  • Mengapa penting bagi kita mengetahui hubungan antartokoh sebelum mulai menulis rancangan naskah lakon teater?

Pertemuan 3 — Mengidentifikasi Properti Sederhana Berdasarkan Tokoh dan Latar Cerita yang Akan Dimainkan — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.2.2 Mengidentifikasi properti sederhana berdasarkan cerita yang akan dimainkan untuk melengkapi rancangan naskah lakon

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan memfasilitasi pembiasaan hening sejenak untuk memusatkan perhatian belajar (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu mengidentifikasi properti sederhana berdasarkan tokoh dan latar cerita untuk melengkapi rancangan naskah lakon (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal berupa kuis cepat tebak benda: guru membacakan deskripsi singkat 'Kakek tua pemancing ikan di tepi sungai yang sepi' dan meminta murid menuliskan 2 benda yang cocok dibawa atau berada di dekat tokoh (acuan: joran/alat pancing, caping/topi bambu, ember kecil, bangku kecil; diterima bila relevan dengan tokoh pemancing dan latar sungai) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak cuplikan teks cerita sederhana berjudul 'Pustaka Rahasia Pak Danu' yang dibagikan guru: menceritakan Pak Danu (penjaga perpustakaan tua yang teliti) dan Rian (murid kelas 6 yang mencari peta tua) di latar ruang arsip sekolah berdebu pada sore hari (10 menit).
  • Murid berkesadaran mengamati perbedaan jenis properti: properti genggam yang dipakai langsung oleh tokoh (hand prop) dan properti panggung yang mendukung latar ruang (stage prop) melalui contoh konkret dalam teks (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Secara berpasangan, murid memainkan permainan tantangan ceria 'Kotak Harta Lakon': memilih 1 dari 2 kartu sinopsis cerita singkat yang disiapkan guru untuk diidentifikasi kebutuhan propertinya. Pilihan 1: Sinopsis 'Warung Kejujuran Bi Asih' (Tokoh: Bi Asih pedagang ramah dan Doni pembeli buru-buru; Latar: warung sederhana di teras sekolah); Pilihan 2: Sinopsis 'Laboratorium Cilik Nina' (Tokoh: Nina ilmuwan cilik yang teliti dan Dito asisten ceroboh; Latar: meja belajar penuh eksperimen di garasi rumah) (15 menit).
  • Murid bekerja sama dalam lembar kerja mengidentifikasi dan mencatat minimal 4 properti sederhana yang sesuai dengan rincian: 2 properti tokoh dan 2 properti latar berdasarkan sinopsis yang dipilih (acuan Pilihan 1: properti tokoh Bi Asih/Doni = celemek pedagang, toples kue, uang kertas mainan, dompet saku; properti latar warung = meja pajang, taplak plastik, keranjang jajan, papan daftar harga. Acuan Pilihan 2: properti tokoh Nina/Dito = kacamata pelindung, jas lab putih/kain putih, buku catatan kecil, pipet tetes/pena; properti latar laboratorium = botol air mineral bekas isi air warna, wadah plastik/stoples, rak kecil buku sains, corong plastik) (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Setiap pasangan saling bertukar lembar kerja dengan pasangan lain untuk memeriksa kesesuaian properti yang diidentifikasi terhadap tokoh dan latar cerita menggunakan panduan cek kesesuaian dari guru (15 menit).
  • Murid bersama guru menyimpulkan keterkaitan antara properti dengan penguatan karakter tokoh dan kejelasan latar cerita dalam rancangan naskah lakon (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap hasil kerja murid dan memfasilitasi refleksi mandiri terkait kemudahan serta kendala dalam menentukan properti cerita (5 menit).
  • Guru menyampaikan gambaran kegiatan berikutnya (Pertemuan 4: mengidentifikasi fungsi properti dalam adegan), meminta murid menyimpan lembar kerja properti, lalu menutup pertemuan dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu sinopsis dengan tingkat keterbacaan teks berbeda: sinopsis 'Warung Kejujuran Bi Asih' berstruktur latar visual nyata/sehari-hari untuk murid yang membutuhkan bantuan konkret, dan 'Laboratorium Cilik Nina' yang memerlukan penalaran variasi benda eksperimen sederhana untuk murid yang lebih cepat.
  • Proses: Bagi kelompok yang membutuhkan scaffolding, guru memberikan lembar bantu berupa daftar pilihan benda acak untuk dipilah kesesuaiannya dengan tokoh dan latar; bagi murid yang lebih cepat, diminta mengidentifikasi tambahan 2 properti alternatif yang dapat digantikan dengan benda di sekitar kelas.
  • Produk: Format pencatatan identifikasi properti dapat disajikan dalam bentuk tabel kolom teks terstruktur atau bagan peta pikiran sederhana bertema properti tokoh dan latar.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Kuis cepat diagnostik: Guru menyebutkan situasi lakon 'Kakek tua pemancing ikan di tepi sungai yang sepi'. Murid menuliskan minimal 2 benda sederhana yang relevan untuk tokoh dan latar tersebut. Acuan jawaban benar: (1) properti tokoh: joran/alat pancing bambu, caping/topi anyaman, atau ember tempat ikan; (2) properti latar: bangku dingklik/batu tiruan, wadah umpan, atau ranting pohon.

Proses:

  • Penilaian lembar kerja identifikasi properti pada kartu sinopsis pilihan. Acuan ketepatan untuk Pilihan 1 'Warung Kejujuran Bi Asih': minimal 2 properti tokoh (celemek, uang mainan, dompet, toples kue) dan minimal 2 properti latar (meja pajang, papan harga, keranjang, taplak). Acuan ketepatan untuk Pilihan 2 'Laboratorium Cilik Nina': minimal 2 properti tokoh (kacamata lab, jas/kain putih, buku catatan, pena/pipet) dan minimal 2 properti latar (botol cairan warna, corong, rak stoples, wadah eksperimen plastik).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir: Murid menjawab 1 pertanyaan reflektif penutup secara tertulis: 'Jika dalam cerita Pak Danu latar berganti menjadi taman sekolah pada waktu hujan, sebutkan 2 properti yang wajib disiapkan!' (Acuan jawaban benar: payung/jas hujan, tas plastik pelindung buku, bangku taman, atau dedaunan tiruan basah).

Formatif:

  • Pemeriksaan lembar kerja identifikasi properti sederhana berdasarkan tokoh dan latar cerita pada tahap Mengaplikasi
  • Observasi keaktifan diskusi berpasangan saat menentukan kesesuaian properti terhadap tuntutan cerita

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Identifikasi Properti Berdasarkan Tokoh CeritaBelum mampu menentukan benda yang sesuai dengan karakter/peran tokoh dalam cerita (0-1 benda tepat dengan bimbingan penuh).Mampu mengidentifikasi 1 benda sederhana yang sesuai dengan karakter/peran tokoh cerita secara tepat.Mampu mengidentifikasi 2 benda sederhana yang sesuai dengan karakter/peran tokoh cerita secara tepat dan mandiri.Mampu mengidentifikasi lebih dari 2 benda sederhana yang sangat sesuai dengan karakter/peran tokoh cerita serta mampu menyebutkan rincian benda pengganti dari barang bekas di kelas.
Identifikasi Properti Berdasarkan Latar CeritaBelum mampu menentukan benda pendukung suasana ruang/latar panggung cerita (0-1 benda tepat dengan bimbingan penuh).Mampu mengidentifikasi 1 benda sederhana yang sesuai untuk mendukung latar cerita secara tepat.Mampu mengidentifikasi 2 benda sederhana yang sesuai untuk mendukung latar cerita secara tepat dan mandiri.Mampu mengidentifikasi lebih dari 2 benda sederhana yang memperjelas latar ruang cerita serta logis dipadukan dengan tata letak panggung sederhana.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah pemilihan contoh cerita dan kartu sinopsis sudah cukup kontekstual sehingga memudahkan murid mengidentifikasi kebutuhan properti sederhana?
  • Bagaimana keterlibatan murid selama bekerja berpasangan dalam mengidentifikasi properti tokoh versus properti latar?

Murid:

  • Benda apa yang paling mudah kamu tentukan untuk mendukung penampilan tokoh ceritamu hari ini?
  • Bagian mana yang masih membuatmu bingung saat membedakan benda untuk tokoh dengan benda untuk latar cerita?

Pertemuan 4 — Mengidentifikasi Fungsi Properti Sederhana dalam Adegan untuk Melengkapi Rancangan Naskah Lakon — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.2.2 Mengidentifikasi properti sederhana berdasarkan cerita yang akan dimainkan untuk melengkapi rancangan naskah lakon

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan mengajak berdoa bersama (3 menit).
  • Guru mengecek kehadiran murid dan mengondisikan kesiapan ruang belajar (2 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu mengidentifikasi fungsi properti sederhana dalam adegan untuk melengkapi rancangan naskah lakon (5 menit).
  • Asesmen Awal: Guru memberikan kuis diagnostik lisan singkat kepada seluruh murid dengan mengajukan cuplikan adegan singkat: 'Deni memegang payung robek di tengah hujan deras'. Murid diminta menyebutkan fungsi benda payung robek tersebut dalam adegan. Acuan jawaban benar: menunjukkan situasi hujan/tokoh berusaha melindungi diri atau memperlihatkan kondisi tokoh yang serba kekurangan/kesusahan (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak penjelasan guru melalui contoh 3 cuplikan adegan tertulis di papan tulis beserta fungsi propertinya: (1) Adegan: Dokter memeriksa pasien -> Properti: stetoskop mainan -> Fungsi: memperjelas profesi tokoh; (2) Adegan: Siswa berlari tergesa-gesa sambil memeluk jam weker -> Properti: jam weker -> Fungsi: memperjelas situasi tokoh terlambat; (3) Adegan: Kakek berjalan tertatih -> Properti: tongkat kayu -> Fungsi: mendukung gerak dan kondisi fisik tokoh (15 menit).
  • Murid mengamati tabel analisis fungsi properti teater yang disajikan guru, mencakup: fungsi penegas karakter tokoh, fungsi pendukung latar waktu/tempat, dan fungsi pendukung tindakan tokoh dalam adegan (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Tantangan Menggembirakan 'Tebak Fungsi Kotak Misteri': Guru membagikan lembar kerja berisi permainan menjodohkan cepat 4 gambar properti dengan fungsinya dalam adegan cerita 'Kisah di Lorong Sekolah'. Keempat butir yang dijodohkan adalah: (1) Tas ransel kusam dijodohkan dengan fungsi 'menunjukkan identitas murid yang sederhana/kurang mampu'; (2) Kertas coretan bertuliskan ejekan dijodohkan dengan fungsi 'menjadi pemicu konflik perundungan antartokoh'; (3) Buku catatan tebal dijodohkan dengan fungsi 'mendukung tindakan tokoh yang gemar belajar/membaca di lorong'; (4) Jam dinding menunjuk pukul 07.15 dijodohkan dengan fungsi 'menjelaskan latar waktu sekolah sudah bel masuk'. Murid mengerjakannya secara berpasangan dengan saling mencocokkan kartu (15 menit).
  • Murid secara mandiri membaca 3 cuplikan adegan dari naskah lakon 'Pentas Kelas Enam' yang disediakan guru: Adegan A (Riko membawa piala retak sambil menunduk di ruang tamu); Adegan B (Ibu memegang sapu lidi sambil berdiri di depan pintu); Adegan C (Bima memegang senter kecil yang menyala redup di gudang sekolah). Murid mengidentifikasi masing-masing properti sederhana dan menuliskan fungsi spesifiknya dalam melengkapi naskah adegan tersebut (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Guru memandu murid memeriksa ketepatan hasil identifikasi properti dan fungsinya dengan menampilkan kunci acuan jawaban: Adegan A properti piala retak fungsinya memperjelas peristiwa kegagalan/kesedihan yang dialami tokoh; Adegan B properti sapu lidi fungsinya mendukung tindakan tokoh membersihkan rumah/menunggu anak pulang; Adegan C properti senter redup fungsinya memperjelas situasi gelap di latar gudang serta tindakan tokoh mencari sesuatu (10 menit).
  • Murid menuliskan satu refleksi singkat pada catatan belajarnya tentang bagaimana ketepatan memilih properti membantu pembaca naskah memahami cerita tanpa perlu dijelaskan panjang lebar lewat kata-kata narasi (5 menit).

Penutup:

  • Asesmen Akhir: Guru memberikan cek pemahaman berupa 2 soal isian singkat: (1) Sebutkan properti yang tepat untuk adegan seorang anak yang baru pulang kehujanan, dan jelaskan fungsinya! (Acuan: handuk kecil/baju basah/payung basah, fungsinya memperjelas keadaan basah kuyup akibat kehujanan); (2) Jika adegan berlatar malam hari saat listrik padam, properti apa yang dibutuhkan dan apa fungsinya? (Acuan: lilin/korek api/senter, fungsinya memperjelas situasi gelap/penerangan darurat) (10 menit).
  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap jawaban murid serta mengapresiasi ketepatan identifikasi fungsi properti (3 menit).
  • Guru menutup sesi pembelajaran dengan doa bersama dan salam penutup (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks cuplikan adegan yang sudah mencantumkan kata kunci properti (diberi garis bawah), sedangkan murid yang lebih cepat diberikan cuplikan adegan yang deskripsi latarnya lebih padat.
  • Proses: Murid yang memerlukan pendampingan dibantu guru melalui pertanyaan penuntun ('Benda apa yang dibawa tokoh? Apa kegunaan benda itu saat dia marah/sedih?'), sedangkan murid mahir mengidentifikasi fungsi properti secara mandiri penuh.
  • Produk: Semua murid mengisi tabel identifikasi properti dan fungsinya; murid mahir dapat menambahkan lebih dari satu fungsi untuk satu properti yang sama.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan: Guru membacakan situasi 'Deni memegang payung robek di tengah hujan deras'. Murid diminta mengidentifikasi fungsi properti payung robek tersebut. Kunci acuan: fungsi payung robek adalah memperjelas situasi hujan dan menggambarkan kondisi ekonomi tokoh yang kurang mampu/kesulitan menahan air hujan.

Proses:

  • Pemeriksaan lembar kerja mandiri identifikasi properti dan fungsinya pada 3 adegan: Adegan A (properti: piala retak, acuan fungsi: penanda kegagalan atau kesedihan tokoh setelah lomba); Adegan B (properti: sapu lidi, acuan fungsi: penanda tindakan tokoh sedang bekerja/membersihkan atau menanti); Adegan C (properti: senter redup, acuan fungsi: penanda latar tempat gudang yang gelap dan tindakan mencari sesuatu).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman 2 butir soal isian: (1) Adegan anak baru pulang kehujanan -> acuan properti: handuk/payung basah/jas hujan robek, acuan fungsi: memperjelas keadaan tokoh basah kuyup setelah menerjang hujan; (2) Adegan malam hari listrik padam -> acuan properti: lilin/senter/korek api, acuan fungsi: memperjelas situasi mati lampu/membantu tokoh melihat di kegelapan. Kriteria tuntas: kedua butir memuat pasangan nama properti dan fungsinya secara logis dan tepat sesuai acuan.

Formatif:

  • Tes lisan diagnostik awal adegan hujan dan payung robek
  • Penugasan tertulis lembar kerja identifikasi properti dan fungsinya pada 3 cuplikan adegan lakon

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Identifikasi Properti dan Fungsinya dalam Adegan LakonBelum mampu menyebutkan properti yang sesuai atau keliru mengidentifikasi fungsinya pada seluruh cuplikan adegan yang diberikan.Mampu mengidentifikasi 1 properti sederhana beserta fungsinya secara tepat dari 3 cuplikan adegan sesuai acuan.Mampu mengidentifikasi 2 sampai 3 properti sederhana beserta fungsinya secara tepat dari 3 cuplikan adegan sesuai acuan.Mampu mengidentifikasi seluruh (3) properti sederhana beserta fungsinya secara tepat dan lengkap (mencakup fungsi karakter, latar, atau tindakan) secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah contoh cuplikan adegan yang disajikan cukup konkret sehingga memudahkan murid memahami kaitan antara benda dan fungsinya dalam lakon?
  • Bagian mana dari kegiatan identifikasi fungsi properti yang paling menantang bagi murid?

Murid:

  • Benda atau properti apa yang menurutmu paling menarik dan jelas fungsinya dalam adegan cerita tadi?
  • Apakah kamu dapat menentukan fungsi sebuah properti saat membaca cuplikan naskah lakon?

Pertemuan 5 — Memainkan Ragam Peran Hasil Pengamatan Perilaku Sehari-hari untuk Menguji Kelayakan Dialog Lakon — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.2.3 Memainkan ragam peran dari cerita sederhana berdasarkan hasil pengamatan untuk menguji kelayakan dialog naskah lakon

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan menyampaikan fokus pembelajaran yaitu memainkan peran hasil pengamatan untuk menguji kelayakan dialog lakon (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat: memperdengarkan dua pilihan dialog tokoh penjaga kantin SD saat melayani pembeli, yaitu Pilihan A: 'Wahai Ananda, sudilah kiranya engkau menyerahkan keping rupiah itu' dan Pilihan B: 'Mau beli bakwan berapa, Nak? Uangnya pas, ya'. Murid diminta memilih dialog mana yang layak dan wajar berdasarkan pengamatan keseharian (acuan: Pilihan B wajar dan layak; Pilihan A kaku/tidak wajar) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak penjelasan guru mengenai cara menguji kelayakan dialog lakon melalui pemeranan langsung berdasarkan ciri kebiasaan perilaku sehari-hari (kebiasaan sapaan, kosa kata umum, dan reaksi spontan tokoh) (10 menit).
  • Murid mencermati 2 draf kutipan naskah sederhana yang dibagikan guru: Teks 1 (Adegan Petugas Perpustakaan menegur murid berisik: 'Dilarang menghasilkan gelombang suara tinggi di ruangan ini!') dan Teks 2 (Adegan Ketua Kelas membagi regu piket: 'Ayo teman-teman kelompok satu, sapu lantainya dulu ya') (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Melalui aktivitas permainan peran 'Uji Kalimat Tokoh' yang menggembirakan, murid secara berkelompok kecil (3-4 orang) memilih satu peran berdasarkan pengamatan perilaku di sekolah (Petugas Perpustakaan, Penjual Kantin, atau Ketua Kelas) lalu mempraktikkan pengucapan dialog dari teks yang disediakan (25 menit).
  • Murid memainkan peran tersebut sambil menguji kelayakan dialog: menandai dialog yang terasa kaku dan menggantinya dengan ucapan yang lebih alami sesuai perilaku nyata tokoh hasil pengamatan (misal: 'Dilarang menghasilkan gelombang suara tinggi' diganti menjadi 'Tolong jangan berisik ya, teman-teman sedang membaca') (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid saling memberikan umpan balik dalam kelompok mengenai kesesuaian tindakan peran dan kewajaran dialog yang telah dimainkan apakah sudah mengalir seperti percakapan nyata (10 menit).

Penutup:

  • Guru dan murid menyimpulkan bahwa kelayakan dialog lakon terbukti ketika dimainkan sesuai dengan pengamatan perilaku nyata tokoh sehari-hari (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik terhadap jalannya latihan peran dan menyampaikan rencana kegiatan pertemuan berikutnya yaitu memainkan peran berpasangan (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan draf dialog lakon dengan tingkat kompleksitas kalimat sederhana (kalimat pendek langsung) bagi kelompok yang membutuhkan bimbingan, dan variasi dialog konflik ringan bagi kelompok yang siap tantangan lebih.
  • Proses: Memberikan panduan pengamatan perilaku secara terstruktur bagi kelompok yang masih ragu mengekspresikan peran, serta memberi keleluasaan improvisasi dialog bagi kelompok yang mandiri.
  • Produk: Penyesuaian kelayakan dialog dapat berupa revisi lisan saat memainkan peran maupun catatan perbaikan dialog pada teks naskah.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tes diagnostik lisan memilih kelayakan dialog: Guru membacakan dialog tokoh penjaga kantin SD (Pilihan A: 'Wahai Ananda, sudilah kiranya engkau menyerahkan keping rupiah itu'; Pilihan B: 'Mau beli bakwan berapa, Nak? Uangnya pas, ya'). Kriteria: Murid tepat memilih dialog B sebagai dialog yang wajar dan layak diucapkan sesuai pengamatan perilaku nyata di lingkungan sekolah.

Proses:

  • Lembar observasi unjuk kerja memainkan peran: Mengamati kemampuan murid melakonkan perilaku tokoh hasil pengamatan dan mengidentifikasi ketidakwajaran dialog teks untuk disesuaikan agar layak diucapkan.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan: Murid menyebutkan satu alasan mengapa suatu kalimat dialog dinyatakan layak atau tidak layak setelah dimainkan langsung (Kriteria penerimaan: murid mengaitkan kelayakan dengan kemudahan pengucapan secara wajar sesuai watak/kebiasaan tokoh nyata).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja saat murid memainkan ragam peran dan menguji kewajaran dialog lakon.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Memainkan ragam peran berdasarkan hasil pengamatanBelum mampu memainkan peran tokoh sesuai pengamatan perilaku sehari-hari meski telah diberikan bimbingan langsung.Memainkan peran tokoh tetapi perilaku dan ekspresi yang ditampilkan masih kaku dan belum sepenuhnya mencerminkan hasil pengamatan.Mampu memainkan peran tokoh dengan gestur dan perilaku yang sesuai dengan hasil pengamatan secara wajar.Memainkan peran tokoh dengan sangat luwes, konsisten mencerminkan kebiasaan perilaku nyata hasil pengamatan secara mandiri.
Menguji kelayakan dialog naskah lakonBelum mampu membedakan dialog yang kaku dan dialog yang wajar saat memainkan naskah lakon.Mampu mendeteksi kalimat dialog yang kaku tetapi belum dapat menyesuaikannya menjadi dialog yang layak diucapkan.Mampu menguji dan menyesuaikan dialog yang kaku menjadi dialog yang layak dan wajar diucapkan sesuai karakter tokoh.Secara kritis dan mandiri mampu menguji kelayakan seluruh dialog serta memberikan penyesuaian kalimat dialog yang sangat alami dan kontekstual.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas permainan peran membantu murid merasakan secara langsung mana dialog yang kaku dan mana yang wajar?
  • Bagaimana keterlibatan murid dalam mengeksplorasi perilaku tokoh hasil pengamatan mereka di lingkungan sekitar?

Murid:

  • Bagian dialog mana yang paling terasa sulit atau kaku saat aku coba mainkan tadi?
  • Perubahan kata apa yang membuat dialog tokoh yang kumainkan menjadi terasa lebih wajar dan enak didengar?

Pertemuan 6 — Memainkan Ragam Peran Berpasangan Berdasarkan Hasil Pengamatan untuk Menguji Kewajaran Dialog Lakon — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.2.3 Memainkan ragam peran dari cerita sederhana berdasarkan hasil pengamatan untuk menguji kelayakan dialog naskah lakon

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, serta mengondisikan ruang kelas agar nyaman untuk latihan berpasangan (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-6, yaitu memainkan ragam peran berpasangan berdasarkan hasil pengamatan perilaku sehari-hari untuk menguji kewajaran dan kelayakan dialog lakon (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat dengan membacakan 2 contoh dialog singkat di depan kelas (Dialog A: 'Wahai sahabatku, apakah gerangan yang membuat engkau tampak berduka cita pada hari yang cerah ini?' dan Dialog B: 'Lho, kok mukamu ditekuk gitu, Don? Ada apa sih?'). Murid secara serentak diminta memilih mana dialog yang lebih wajar untuk percakapan antarteman di sekolah beserta alasannya (kriteria: murid mengenali Dialog B wajar karena menggunakan bahasa percakapan sehari-hari yang luwes, sedangkan Dialog A terlalu kaku/buku) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak penjelasan guru mengenai indikator kewajaran dialog lakon: (1) enak dan luwes saat diucapkan antartokoh, (2) sesuai dengan karakter hasil pengamatan perilaku sehari-hari, dan (3) memiliki ketersambungan aksi-reaksi antara kalimat tokoh pertama dan tanggapan tokoh kedua (10 menit).
  • Guru membagikan Lembar Dialog Uji Berpasangan yang memuat 3 cuplikan dialog cerita sederhana hasil pengamatan lingkungan sekolah: Situasi 1 (Dua murid antre di kantin saat jam istirahat), Situasi 2 (Dua murid meminjam buku di perpustakaan), dan Situasi 3 (Dua murid berdiskusi membagi tugas piket kebersihan kelas) (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid membentuk pasangan kerja, lalu memilih 1 dari 3 cuplikan situasi dialog yang tersedia untuk dibaca dan diamati bersama (10 menit).
  • Murid memainkan peran berpasangan secara bergantian untuk mempraktikkan dialog lakon tersebut, menerapkan hasil pengamatan terhadap perilaku dan kebiasaan orang dalam situasi nyata (misalnya: tempo bicara, jeda saat menanggapi, atau pergantian giliran bicara) (15 menit).
  • Setiap pasangan melakukan uji kewajaran dialog: saat memainkan peran, mereka menandai kata atau kalimat yang terasa kaku, janggal, atau sulit dilafalkan, lalu menggantinya dengan pilihan kata hasil pengamatan nyata agar dialog terdengar wajar dan mengalir (15 menit).
  • Tantangan 'Uji Panggung Berpasangan': 4 pasangan maju bergiliran memperagakan peran dan membacakan dialog lakon yang sudah disesuaikan di depan kelas, sementara pasangan lain menyimak kelayakan serta kewajaran dialognya (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama pasangannya memeriksa kembali lembar uji dialog dan menuliskan catatan perubahan kalimat yang dilakukan agar dialog terbukti wajar dimainkan (5 menit).
  • Murid secara berpasangan merefleksikan proses memainkan peran: bagian kalimat mana yang paling mudah diucapkan secara wajar dan bagian mana yang membutuhkan penyesuaian setelah dipraktikkan langsung (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap hasil latihan peran berpasangan dan kelayakan dialog yang telah diuji (3 menit).
  • Guru menyampaikan rencana kegiatan pertemuan berikutnya (Pertemuan 7) mengenai pembacaan naskah dramatik secara mandiri/individu (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan teks dialog dengan panjang kalimat bertingkat (kalimat pendek sederhana untuk kelompok yang membutuhkan bimbingan; dialog dengan variasi emosi untuk kelompok mahir).
  • Proses: Pasangan yang memerlukan scaffolding mendapat bimbingan langsung dari guru dengan membaca dialog baris demi baris, sedangkan pasangan mandiri langsung mempraktikkan improvisasi penyesuaian kata.
  • Produk: Pasangan menampilkan hasil uji kewajaran dialog lakon melalui pembacaan peran langsung dengan catatan penyesuaian kata yang dipilih.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Identifikasi kewajaran dialog: Murid membandingkan 2 kutipan kalimat percakapan (Kutipan 1: 'Sungguh saya merasa gembira berjumpa denganmu kawan' vs Kutipan 2: 'Eh, ketemu lagi! Senang deh bisa barengan') dan memilih kutipan yang wajar dalam pergaulan sehari-hari beserta alasannya (kriteria jawaban tepat: memilih Kutipan 2 karena kata-kata tidak kaku dan mencerminkan interaksi nyata anak-anak).

Proses:

  • Lembar observasi memainkan peran berpasangan: Mengamati kemampuan murid melafalkan peran sesuai karakter pengamatan dan keterhubungan aksi-reaksi dialog.
  • Pemeriksaan uji kelayakan dialog: Mengamati ketepatan murid menandai dan menyesuaikan kalimat yang kaku menjadi wajar saat dimainkan berpasangan.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman kelayakan dialog: Murid menjawab 1 pertanyaan reflektif tertulis pada lembar kerja: 'Tuliskan satu kalimat dialog sebelum diperbaiki yang terdengar kaku dan tuliskan kalimat perbaikannya yang sudah kamu uji bersama pasanganmu!' (Kriteria penerimaan: kalimat perbaikan menggunakan kosakata lisan yang luwes, tidak kaku, dan mudah diucapkan saat berdialog).

Formatif:

  • Pengamatan unjuk kerja memainkan peran berpasangan untuk menguji kelayakan dialog lakon
  • Pemeriksaan lembar catatan penyesuaian dialog wajar

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Memainkan peran berpasangan sesuai hasil pengamatanBelum mampu memainkan peran berpasangan; pelafalan dialog masih terputus-putus dan tidak memperhatikan pasangan bicara.Mampu memainkan peran berpasangan namun masih ragu-ragu dan belum konsisten menyesuaikan perilaku karakter hasil pengamatan.Mampu memainkan peran berpasangan secara lancar dengan menunjukkan aksi-reaksi dan perilaku karakter yang sesuai hasil pengamatan.Mampu memainkan peran berpasangan secara sangat luwes, tanggap terhadap reaksi pasangan, dan secara konsisten menghidupkan karakter hasil pengamatan.
Menguji kewajaran dan kelayakan dialog lakonBelum mampu mengidentifikasi bagian dialog yang kaku atau janggal saat dimainkan.Mampu mengenali kalimat yang kaku saat memainkan peran tetapi belum dapat menyesuaikannya menjadi kalimat yang wajar.Mampu mengenali dan menyesuaikan kalimat dialog yang kaku menjadi dialog yang wajar dan mengalir saat dimainkan bersama pasangan.Mampu secara mandiri dan cermat menguji seluruh dialog, serta menyesuaikan kalimat menjadi sangat wajar, runtut, dan tepat sasaran cerita.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 105 menit mencukupi seluruh pasangan untuk mempraktikkan dialog peran dan melakukan uji kewajaran?
  • Bagaimana keterlibatan murid yang pemalu saat memainkan peran berpasangan di depan kelas?

Murid:

  • Apakah dialog yang kamu mainkan bersama pasangan sudah terdengar seperti obrolan nyata sehari-hari?
  • Kalimat mana yang menurutmu paling berhasil diubah menjadi lebih wajar setelah dipraktikkan langsung?

Pertemuan 7 — Memerankan Lakon secara Individu Berdasarkan Minat dan Pengalaman melalui Pembacaan Naskah Dramatik — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.2.4 Memerankan lakon secara individu maupun berkelompok berdasarkan minat, pengamatan, dan pengalaman melalui pembacaan naskah dramatik

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, memeriksa kehadiran, dan memandu doa pembuka (5 menit).
  • Guru menjelaskan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu memerankan lakon secara individu melalui pembacaan naskah dramatik dengan memanfaatkan minat dan pengalaman pribadi (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik dengan meminta murid memilih 1 dari 3 pilihan kutipan dialog lakon monolog singkat dan membacakan 1 baris dialog sesuai peran pilihannya untuk memetakan kesiapan penghayatan karakter (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Murid mencermati 3 lembar teks naskah monolog dramatik pendek (masing-masing 3-4 kalimat) yang disiapkan guru: (1) Skenario A - Minat Olahraga/Petenis Cilik: 'Tinggal satu pukulan penentu, tanganku gemetar tapi aku harus yakin. Latihan berbulan-bulan tidak boleh berakhir sia-sia di lapangan ini!'; (2) Skenario B - Pengalaman Berbuat Jujur/Penemu Dompet: 'Dompet ini tergeletak di bawah bangku taman. Isinya banyak uang, tapi pemiliknya pasti sedang kebingungan mencarinya. Aku harus segera melapor ke pos satpam!'; (3) Skenario C - Minat Kesenian/Pelukis Muda: 'Warna jingga ini belum pas dengan matahari terbenam yang kemarin kulihat di bukit. Kuas ini harus kugoreskan lebih mantap agar lukisanku benar-benar bernyawa!' (10 menit).
  • Guru memberikan peragaan contoh pembacaan dramatik individu: bagaimana murid mengaitkan pengalaman atau minat yang relevan (misalnya sensasi tegang saat lomba atau kegelisahan saat menemukan barang hilang) ke dalam penghayatan karakter tokoh (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):

  • Murid memilih secara mandiri salah satu skenario monolog (Skenario A, B, atau C) yang paling sesuai dengan minat atau pengalaman pribadinya, lalu menandai kata-kata kunci emosi karakter pada naskah (15 menit).
  • Permainan Olah Peran Monolog Ceria: Murid melakukan latihan mandiri pembacaan naskah dramatik di ruang kelas dengan mencoba 2 variasi penjiwaan peran yang kontras (misal: versi ragu-ragu vs versi penuh tekad) untuk menemukan ekspresi penghayatan yang paling pas (20 menit).
  • Setiap murid unjuk kerja memerankan lakon secara individu melalui pembacaan naskah dramatik pilihan masing-masing di hadapan kelas secara bergantian (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid mengevaluasi pengalaman pembacaan dramatik individunya dengan menuliskan pada kartu refleksi: bagian dialog mana yang paling berhasil dijiwai berdasarkan minat atau pengalaman nyatanya (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik menyeluruh terhadap unjuk kerja pembacaan naskah dramatik individu berdasarkan kesesuaian penjiwaan peran dengan minat dan pengalaman murid (3 menit).
  • Guru menyampaikan pengantar singkat bahwa pada pertemuan berikutnya latihan pembacaan naskah dramatik akan dilakukan secara berkelompok, serta menutup kelas dengan doa bersama (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan 3 ragam tema monolog (olahraga, kejujuran sosial, seni) agar murid bebas memilih naskah yang paling dekat dengan minat dan pengalaman pribadinya.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan ketukan tanda jeda emosi pada teks dialog; murid yang mandiri langsung mengeksplorasi penjiwaan peran secara penuh.
  • Produk: Bentuk luaran unjuk kerja tetap sama berupa pembacaan naskah dramatik lakon monolog secara individu.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik kesiapan peran individu: Murid membaca 1 baris cuplikan peran pilihan dari 3 opsi skenario (A: Petenis tegang; B: Penemu dompet jujur; C: Pelukis fokus). Acuan penilaian kesiapan: (1) Murid siap penuh jika mampu membaca dengan penghayatan emosi karakter yang jelas sesuai situasi skenario; (2) Murid butuh bimbingan jika membaca datar tanpa ekspresi situasi peran.

Proses:

  • Pengamatan formatif saat latihan mandiri dan unjuk kerja individu pembacaan naskah dramatik menggunakan lembar observasi ketercapaian TP 6.2.4 (fokus pada kesesuaian karakter lakon monolog dengan pilihan minat/pengalaman).

Akhir Pertemuan:

  • Cek ketercapaian akhir pertemuan melalui kartu unjuk kerja pembacaan naskah dramatik individu. Kriteria penerimaan operasional: Murid membacakan naskah monolog pilihan (Skenario A, B, atau C) secara utuh 3-4 kalimat dengan penjiwaan peran yang konsisten dari awal hingga akhir kalimat tanpa terputus di tengah teks.

Formatif:

  • Unjuk kerja pembacaan naskah dramatik individu dengan rubrik pemeranan lakon berdasarkan minat dan pengalaman
  • Catatan anekdotal observasi penjiwaan peran murid selama latihan mandiri

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Pemeranan lakon individu melalui pembacaan naskah dramatikMembacakan naskah monolog sebatas melafalkan kata-kata tanpa penjiwaan peran karakter.Membacakan naskah monolog dengan mulai menunjukkan penjiwaan peran karakter pada sebagian baris dialog (1-2 kalimat).Membacakan naskah monolog dengan penjiwaan peran karakter yang sesuai minat/pengalaman pada seluruh baris dialog secara konsisten.Membacakan naskah monolog dengan penjiwaan peran karakter yang sangat mendalam dan mantap pada seluruh baris dialog secara mandiri tanpa ragu.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah pemilihan naskah monolog berbasis ragam minat dan pengalaman efektif membantu murid menjiwai pembacaan naskah dramatik?
  • Bagaimana kesiapan mandiri murid ketika tampil membawakan lakon secara individu di depan kelas?

Murid:

  • Pengalaman atau minat pribadi apa yang paling membantumu menghayati peran tokoh saat membacakan naskah monolog tadi?
  • Bagian mana dari pembacaan naskah dramatik individu yang terasa paling memuaskan bagimu?

Pertemuan 8 — Memerankan Lakon secara Berkelompok Berdasarkan Pengamatan dan Pengalaman melalui Pembacaan Naskah Dramatik — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.2.4 Memerankan lakon secara individu maupun berkelompok berdasarkan minat, pengamatan, dan pengalaman melalui pembacaan naskah dramatik

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa bersama (2 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu memerankan lakon secara berkelompok berdasarkan pengamatan dan pengalaman melalui pembacaan naskah dramatik (3 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat dengan membagikan cuplikan naskah 2 baris: 'Budi: Wah, tugas kelompok kita belum selesai! / Rani: Tenang, kita kerjakan bersama sekarang.' Murid diminta menunjukkan kesiapan pembacaan lakon dengan memilih satu peran dan merespons giliran dialog secara bersahutan (acuan: murid langsung membaca giliran tokohnya tanpa jeda bingung dan menyambung giliran rekan kelompok) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid dibagi ke dalam kelompok kecil beranggotakan 3 orang dan menerima lembar naskah dramatik pendek berjudul 'Kerja Bakti di Sudut Kelas' dengan 3 tokoh: Dodi (murid yang bersemangat), Siti (murid yang teliti), dan Bayu (murid yang tergesa-gesa). Teks naskah: (1) Dodi: 'Ayo kawan-kawan, sudut baca ini harus rapi sebelum bel istirahat berbunyi!' (2) Siti: 'Tunggu dulu Dodi, buku-buku ensiklopedia ini harus dikelompokkan sesuai nomor rak agar tidak berantakan lagi.' (3) Bayu: 'Aduh, aku kembalikan sapu ke pojok dulu ya, hampir saja aku tersandung!' (4) Dodi: 'Bagus Bayu, keselamatan tetap utama! Siti, aku bantu menata rak bagian atas.' (5) Siti: 'Terima kasih Dodi, dengan kerja sama kelas kita jadi rapi.' (8 menit).
  • Murid mencermati pembagian giliran dialog naskah dan menghubungkan dialog tokoh dengan pengalaman nyata saat piket kelas serta pengamatan terhadap perilaku teman sehari-hari (7 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Dalam kelompok beranggotakan 3 orang, murid berlatih memerankan lakon melalui pembacaan naskah dramatik secara bergantian peran, saling menyimak sambutan dialog, dan menyesuaikan ekspresi lisan tokoh berdasarkan pengalaman piket bersama secara menggembirakan (15 menit).
  • Setiap kelompok secara bergiliran menampilkan unjuk kerja memerankan lakon melalui pembacaan naskah dramatik di depan kelompok lain, membaca seluruh 5 dialog naskah secara runtut, kompak, dan berkesinambungan antartokoh (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama teman sekelompok mengevaluasi kelancaran dan kekompakan pembacaan naskah lakon yang baru saja ditampilkan, mengidentifikasi dialog mana yang tersambung paling alami berdasarkan pengamatan perilaku nyata di sekolah (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran mengenai pentingnya kepekaan pengamatan dan kerja sama kelompok dalam pembacaan naskah dramatik (3 menit).
  • Guru memberikan penguatan dan umpan balik singkat terhadap unjuk kerja pembacaan naskah dramatik kelompok untuk persiapan pertemuan berikutnya, lalu menutup sesi dengan doa dan salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan tanda visual pembagian tokoh pada teks naskah bagi kelompok yang memerlukan bantuan alur giliran baca.
  • Proses: Kelompok yang berkembang lebih cepat diberikan kesempatan bertukar peran tokoh dalam naskah yang sama secara mandiri; kelompok yang membutuhkan bimbingan didampingi guru pada tempo peralihan giliran dialog.
  • Produk: Kelompok membacakan naskah lakon secara utuh dengan tingkat kekompakan dan kelancaran sambung dialog sesuai tahapan kesiapan masing-masing.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik pembacaan cepat 2 baris dialog naskah berpasangan: Murid A membacakan dialog Budi ('Wah, tugas kelompok kita belum selesai!') dan Murid B menyambut dialog Rani ('Tenang, kita kerjakan bersama sekarang.') (acuan: murid membacakan giliran tokohnya tepat waktu dan langsung menyambung respon lawan bicara tanpa jeda terputus).

Proses:

  • Observasi keterlibatan kelompok selama latihan pembacaan naskah beranggotakan 3 orang (fokus: kelancaran giliran membaca 5 baris dialog naskah lakon 'Kerja Bakti di Sudut Kelas' dan kesesuaian pembacaan dengan karakter tokoh berdasarkan pengalaman/pengamatan).

Akhir Pertemuan:

  • Cek unjuk kerja pembacaan naskah dramatik berkelompok: Tiap kelompok membaca utuh kelima baris dialog (Dodi dialog 1 dan 4; Siti dialog 2 dan 5; Bayu dialog 3). (acuan ketercapaian: seluruh anggota kelompok membaca dialog peran masing-masing secara berkesinambungan tanpa melompati baris dialog rekan sekelompok).

Formatif:

  • Unjuk kerja pembacaan naskah dramatik secara berkelompok berdasarkan teks 'Kerja Bakti di Sudut Kelas'
  • Lembar ceklis observasi keterlibatan dan kesinambungan peran antartokoh dalam kelompok

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Pemeranan lakon berkelompok melalui pembacaan naskah dramatikMembaca dialog peran secara terputus-putus, sering terlewat giliran dialog rekan kelompok, dan memerlukan bimbingan penuh guru untuk menyelesaikan 5 baris naskah.Membaca dialog peran sendiri namun masih terdapat jeda ragu saat merespons dialog tokoh lain dalam kelompok; menyelesaikan pembacaan dengan sesekali diingatkan giliran membaca.Membaca seluruh dialog peran kelompok secara berkesinambungan, runtut sesuai 5 baris naskah, dan menghidupkan karakter berdasarkan pengamatan serta pengalaman piket secara mandiri.Membaca seluruh dialog peran kelompok dengan sangat lancar, respons dialog antartokoh mengalir alami dan konsisten terpadu dari baris awal hingga akhir secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu pembacaan naskah secara berkelompok mencukupi bagi semua murid untuk melatih respons antartokoh?
  • Bagaimana keterlibatan setiap anggota kelompok dalam menghidupkan dialog berdasarkan pengamatan perilaku sehari-hari?

Murid:

  • Bagian mana dari dialog tokoh yang paling mirip dengan pengalaman nyata yang pernah kamu lihat saat kerja kelompok atau piket kelas?
  • Apa yang membantumu membaca naskah dengan tepat saat giliran temanmu selesai berbicara?

Pertemuan 9 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.2.1 Menceritakan pendapatnya tentang sebuah cerita sederhana mengenai penokohan dan perwatakan untuk perancangan naskah lakon
  • TP 6.2.2 Mengidentifikasi properti sederhana berdasarkan cerita yang akan dimainkan untuk melengkapi rancangan naskah lakon
  • TP 6.2.3 Memainkan ragam peran dari cerita sederhana berdasarkan hasil pengamatan untuk menguji kelayakan dialog naskah lakon
  • TP 6.2.4 Memerankan lakon secara individu maupun berkelompok berdasarkan minat, pengamatan, dan pengalaman melalui pembacaan naskah dramatik

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan ruang untuk asesmen sumatif, serta menyampaikan alur pelaksanaan yang terdiri atas 2 bagian: tes tertulis telaah mandiri (40 menit) dan unjuk kerja dramatik kelompok (60 menit) (3 menit).
  • Guru membagikan lembar tes tertulis telaah karakter dan properti kepada seluruh murid serta membacakan petunjuk pengerjaan dengan jelas dan tenang (2 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid menyimak penjelasan guru mengenai teks cerita 'Kejujuran di Balik Kios Buku' yang memuat tokoh Doni, Pak Raden, dan Sinta, serta memahami instruksi pengerjaan 2 tugas tertulis: menelaah penokohan-perwatakan dan mengidentifikasi 3 properti sederhana beserta fungsinya (2 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Seluruh murid secara serentak dan mandiri mengerjakan tes tertulis telaah karakter dan properti berdasarkan teks 'Kejujuran di Balik Kios Buku' selama 38 menit: Bagian 1 menuliskan pendapat telaah tentang penokohan dan perwatakan Doni (tokoh utama yang jujur dan bertanggung jawab), Pak Raden (tokoh pendukung yang bijaksana dan teliti), dan Sinta (tokoh pendukung yang tergesa-gesa namun peduli); Bagian 2 mengidentifikasi 3 properti sederhana beserta fungsinya: (1) Buku catatan usang (fungsi: media pencatatan daftar harga dan saksi selisih uang belanja), (2) Kacamata Pak Raden (fungsi: properti tokoh yang menunjukkan kebiasaan membaca teliti saat memeriksa uang), dan (3) Koin kembalian/uang kertas mainan (fungsi: fokus tindakan pemicu konflik dialog kejujuran) (38 menit).
  • Kelompok 1 sampai Kelompok 6 (masing-masing 4-5 murid, total 6 kelompok) secara bergantian maju ke area panggung kelas menampilkan unjuk kerja peragaan dialog ragam peran hasil pengamatan dan pembacaan naskah dramatik lakon 'Kejujuran di Balik Kios Buku' dengan alokasi 10 menit per kelompok (8-9 menit penampilan peragaan peran dan pembacaan naskah dramatik + 1-2 menit pergantian kelompok; total 6 kelompok x 10 menit = 60 menit) (56 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Guru dan seluruh murid melakukan hening sejenak untuk merefleksikan pengalaman menelaah karakter, menentukan properti, dan bekerja sama membacakan lakon dramatik yang telah dipelajari sepanjang Bab 2 (2 menit).

Penutup:

  • Guru mengumpulkan seluruh lembar kerja tertulis murid dan merangkum pencapaian belajar murid sepanjang Bab 2 'Menulis Lakon' yang mencakup kemampuan telaah karakter, identifikasi properti, pengujian dialog, hingga pembacaan naskah (1 menit).
  • Guru memberikan apresiasi atas kedisiplinan dan kerja sama seluruh murid selama pelaksanaan asesmen sumatif serta menutup pertemuan dengan doa bersama dan salam penutup (1 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Akomodasi akses tata letak dan ukuran font teks cerita pada lembar kerja disediakan lebih besar bagi murid yang membutuhkan bantuan visual, tanpa mengubah isi cerita atau butir soal.
  • Proses: Pemberian waktu jeda pernapasan singkat bagi murid yang mengalami ketegangan panggung sebelum gilirannya membaca naskah, tanpa mengurangi durasi maupun aspek unjuk kerja yang dinilai.
  • Produk: Format penulisan telaah karakter dan identifikasi properti dapat ditulis tangan biasa atau huruf cetak renggang sesuai kebutuhan kenyamanan motorik murid, dengan bobot dan kriteria penskoran yang tetap sama.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pengecekan kesiapan alat tulis dan lembar naskah lakon kelompok murid sebelum asesmen sumatif dimulai (acuan kesiapan: naskah lakon 'Kejujuran di Balik Kios Buku' siap di tangan tiap anggota kelompok dan alat tulis terisi lengkap).

Proses:

  • Observasi keterlibatan murid dalam pembagian giliran bicara saat kelompok bersiap di belakang panggung.

Sumatif Bab:

  • tes tertulis serentak dan unjuk kerja dramatik berkelompok: lembar telaah tertulis memuat catatan penokohan, perwatakan, dan daftar identifikasi properti, serta rekaman observasi peragaan dialog dan pembacaan naskah dramatik secara berkelompok
  • tes tertulis serentak: lembar kerja tertulis yang memuat telaah penokohan-perwatakan cerita serta daftar identifikasi properti sederhana beserta fungsinya sesuai adegan yang dikerjakan mandiri oleh seluruh murid secara serentak (40 menit; kelompok; instrumen: pedoman penskoran dan kunci telaah karakter-properti)
  • unjuk kerja peragaan dan pembacaan naskah dramatik berkelompok: penampilan kelompok (masing-masing 4-5 murid, total 6 kelompok) menampilkan peragaan dialog ragam peran dan pembacaan naskah dramatik berdurasi 8-9 menit per kelompok (6 kelompok x 10 menit pergantian = 60 menit) (65 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja peragaan dialog dan pembacaan naskah dramatik)

Sumatif:

  • tes tertulis serentak dan unjuk kerja dramatik berkelompok: lembar telaah tertulis memuat catatan penokohan, perwatakan, dan daftar identifikasi properti, serta rekaman observasi peragaan dialog dan pembacaan naskah dramatik secara berkelompok
  • tes tertulis serentak: lembar kerja tertulis yang memuat telaah penokohan-perwatakan cerita serta daftar identifikasi properti sederhana beserta fungsinya sesuai adegan yang dikerjakan mandiri oleh seluruh murid secara serentak (40 menit; kelompok; instrumen: pedoman penskoran dan kunci telaah karakter-properti)
  • unjuk kerja peragaan dan pembacaan naskah dramatik berkelompok: penampilan kelompok (masing-masing 4-5 murid, total 6 kelompok) menampilkan peragaan dialog ragam peran dan pembacaan naskah dramatik berdurasi 8-9 menit per kelompok (6 kelompok x 10 menit pergantian = 60 menit) (65 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja peragaan dialog dan pembacaan naskah dramatik)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menceritakan Pendapat tentang Penokohan dan Perwatakan (TP 6.2.1) [Acuan telaah: Doni = jujur/tanggung jawab; Pak Raden = bijaksana/teliti; Sinta = tergesa-gesa/peduli]Menceritakan pendapat yang tepat hanya pada 1 tokoh dari 3 tokoh acuan.Menceritakan pendapat yang tepat pada 2 tokoh dari 3 tokoh acuan.Menceritakan pendapat yang tepat pada 3 tokoh dari 3 tokoh acuan secara tertulis.Menceritakan pendapat yang tepat pada 3 tokoh dari 3 tokoh acuan disertai alasan keterkaitan watak dengan tindakan tokoh secara mendalam.
Mengidentifikasi Properti Sederhana dan Fungsinya (TP 6.2.2) [Acuan 3 properti: (1) buku catatan usang - media pencatatan transaksi; (2) kacamata Pak Raden - kebiasaan membaca teliti; (3) koin/uang mainan - pemicu dialog kejujuran]Mengidentifikasi 1 properti sederhana beserta fungsinya secara tepat sesuai acuan.Mengidentifikasi 2 properti sederhana beserta fungsinya secara tepat sesuai acuan.Mengidentifikasi 3 properti sederhana beserta fungsinya secara tepat sesuai acuan.Mengidentifikasi 3 properti sederhana beserta fungsinya secara tepat dan melengkapi rincian penempatan properti pada adegan cerita lakon.
Memainkan Ragam Peran untuk Menguji Kelayakan Dialog Lakon (TP 6.2.3)Memainkan peran dengan dialog yang kaku dan belum mencerminkan kelayakan/kewajaran dialog hasil pengamatan sehari-hari.Memainkan peran dengan dialog yang cukup wajar namun sesekali terhenti atau tidak selaras dengan reaksi lawan main.Memainkan peran secara wajar dan selaras dengan hasil pengamatan perilaku sehari-hari sehingga dialog lakon teruji layak.Memainkan peran secara sangat wajar, luwes, dan responsif terhadap aksi-reaksi dialog lawan main berdasarkan pengamatan yang mendalam.
Memerankan Lakon secara Berkelompok melalui Pembacaan Naskah Dramatik (TP 6.2.4)Memerankan lakon dengan pembacaan naskah yang terputus-putus dan belum terkoordinasi antaranggota kelompok.Memerankan lakon dengan pembacaan naskah yang lancar namun koordinasi pergantian antarperan masih canggung.Memerankan lakon secara berkelompok dengan pembacaan naskah dramatik yang padu, runtut, dan konsisten sesuai alur naskah.Memerankan lakon secara berkelompok dengan pembacaan naskah dramatik yang sangat padu, dinamis, serta menghidupkan suasana adegan lakon secara utuh.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 40 menit untuk tes tertulis telaah dan 60 menit untuk unjuk kerja 6 kelompok berjalan tepat waktu?
  • Bagaimana ketepatan instrumen rubrik dalam mengukur pemahaman perwatakan, properti, dan pembacaan naskah murid?

Murid:

  • Bagian mana dari penokohan dan properti cerita 'Kejujuran di Balik Kios Buku' yang paling mudah kamu telaah?
  • Bagaimana perasaanmu setelah berhasil menampilkan peragaan dialog dan membacakan naskah lakon bersama teman sekelompokmu?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas VI (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2023, Bab 2: Menulis Lakon.
  2. Lembar teks cuplikan cerita 'Langkah Kecil Bima' dan 'Kendi Kejujuran'.
  3. Kartu pilihan sifat (kartu kata watak: dermawan, disiplin, pemarah, jujur).
  4. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas VI (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
  5. Teks cerita sederhana 'Perselisihan di Jam Istirahat' karya guru.
  6. Lembar kerja telaah hubungan antartokoh dan kartu refleksi.
  7. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas VI (Edisi Revisi), Pusat Perbukuan, Kemendikbudristek
  8. Teks cuplikan cerita 'Pustaka Rahasia Pak Danu'
  9. Kartu Sinopsis Cerita 'Warung Kejujuran Bi Asih' dan 'Laboratorium Cilik Nina'
  10. Lembar Kerja Identifikasi Properti Tokoh dan Latar Lakon
  11. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas VI (Kemendikbudristek 2023, Bab 2: Menulis Lakon)
  12. Contoh lembar cuplikan adegan lakon sederhana 'Pentas Kelas Enam' dan 'Kisah di Lorong Sekolah'
  13. Kartu gambar properti sederhana (tas ransel, coretan kertas, jam dinding, tongkat, senter, piala retak)
  14. Buku Panduan Guru Seni Teater SD Kelas VI
  15. Lembar kutipan draf dialog lakon sederhana situasi lingkungan sekolah
  16. Catatan pengamatan perilaku tokoh sehari-hari di sekitar lingkungan sekolah
  17. Buku Panduan Guru Seni Teater Kelas VI SD
  18. Lembar Dialog Uji Berpasangan (3 situasi sederhana lingkungan sekolah)
  19. Catatan hasil pengamatan perilaku sehari-hari murid
  20. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas VI
  21. Lembar Teks Naskah Dramatik Monolog Pendek (Skenario A, B, dan C)
  22. Papan tulis dan kartu refleksi murid
  23. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas VI (Edisi Revisi)
  24. Teks naskah dramatik pendek 3 tokoh: 'Kerja Bakti di Sudut Kelas'
  25. Lembar pengamatan unjuk kerja pemeranan lakon kelompok
  26. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas VI (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2023
  27. Lembar Tes Tertulis Sumatif Telaah Karakter dan Properti Teks 'Kejujuran di Balik Kios Buku'
  28. Salinan Naskah Lakon Pendek Berkelompok 'Kejujuran di Balik Kios Buku'
  29. Format Lembar Observasi Unjuk Kerja Pembacaan Naskah Dramatik

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.