Modul AjarPertemuan 5Bab 1Fase CSemester 1

Modul Ajar Seni Teater Kelas 6: Pengenalan Monolog

Modul Ajar ini disusun untuk satu pertemuan tatap muka mata pelajaran Seni Teater kelas 6 dengan topik "Pengenalan Monolog". Dokumen mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Kurikulum Merdeka, lengkap dengan tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen ringkas.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Seni Teater Kelas 6: Pengenalan Monolog

Seni Teater - Kelas 6

Bab 1 - Pertemuan 5

MODUL AJAR

Seni Teater — Kelas 6 (Fase C)

Topik: Pengenalan Monolog

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranSeni Teater
Fase / KelasFase C / Kelas 6
TopikPengenalan Monolog
Alokasi Waktu2x35 menit
Jumlah Pertemuan1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Murid mampu menjelaskan pengertian dan ciri-ciri utama monolog sebagai bentuk seni peran solo.
  2. Murid mampu mengidentifikasi bagian-bagian struktur monolog sederhana (pembuka, inti konflik, penutup) dari contoh naskah yang disediakan.
  3. Murid mampu memilih satu cerita pendek yang sesuai dengan minat dan kemampuan dirinya untuk dijadikan bahan monolog, disertai alasan pemilihan secara lisan.

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Pernahkah kalian melihat seseorang berbicara sendiri di atas panggung dan terasa sangat hidup — kira-kira apa yang membuat penonton tetap terpesona hanya dengan satu orang itu?
  2. Kalau kalian harus menceritakan sebuah kisah seorang diri di depan banyak orang, kira-kira cerita apa yang ingin kalian bawakan, dan mengapa cerita itu terasa penting untuk disampaikan?
  3. Apa bedanya seseorang yang bercerita biasa dengan seseorang yang benar-benar 'menjadi' tokoh saat berbicara di atas panggung?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1

Pendahuluan:

  • Guru menyambut murid, memastikan kondisi kelas kondusif, dan meminta murid mengenakan pakaian yang nyaman (disarankan pakaian olahraga) agar leluasa bergerak.
  • Guru mengajak murid berdiri membentuk lingkaran besar sebagai ritual pembuka; bersama-sama menarik napas dalam tiga kali untuk memfokuskan pikiran dan membangun suasana belajar yang tenang (berkesadaran).
  • Guru menyampaikan tujuan kegiatan hari ini: murid akan berkenalan dengan seni monolog, memahami strukturnya, dan memilih cerita yang ingin mereka perankan.
  • Asesmen Awal — Guru mengajukan dua pertanyaan diagnostik lisan secara singkat: (1) 'Siapa yang pernah menonton atau membaca cerita monolog?' dan (2) 'Menurut kalian, apa itu monolog?' Guru mencatat respons murid sebagai baseline pemahaman awal.
  • Guru melontarkan pertanyaan pemantik pertama untuk membangkitkan rasa ingin tahu murid dan membiarkan 2–3 murid menjawab secara spontan tanpa penilaian.

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru memberikan penjelasan singkat dan terstruktur tentang monolog: pengertian (satu pemeran berbicara sendiri menyampaikan pikiran/perasaan tokoh), perbedaan monolog dengan dialog dan drama kelompok, serta contoh tokoh atau pertunjukan monolog yang dikenal murid.
  • Guru membagikan lembar 'Peta Struktur Monolog' bergambar kepada setiap murid. Lembar ini memuat tiga kotak berlabel: (1) Pembuka — perkenalan tokoh dan situasi, (2) Inti/Konflik — perasaan dan permasalahan tokoh, (3) Penutup — resolusi atau keputusan tokoh.
  • Guru membacakan dengan ekspresif satu contoh naskah monolog pendek (±5–7 kalimat, tema keseharian seperti 'anak yang kehilangan mainan kesayangannya') sambil murid menyimak dan secara diam-diam menandai pada lembar peta: bagian mana yang mereka rasa masuk ke Pembuka, Inti, atau Penutup.
  • Murid mendiskusikan hasil penandaan mereka bersama teman di sebelahnya selama 2 menit (pair-share), lalu guru memandu konfirmasi jawaban bersama di depan kelas dengan menunjuk bagian-bagian naskah yang diproyeksikan atau ditempel di papan.
  • Guru mengajukan pertanyaan pemantik kedua dan ketiga untuk memperdalam pemahaman, memberi ruang bagi murid mengaitkan pengetahuan baru dengan pengalaman sehari-hari mereka.

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru menyiapkan dan mempresentasikan 'Menu Cerita': 4–5 pilihan sinopsis cerita pendek di papan atau kartu cetak (contoh: anak yang baru pindah sekolah, seseorang yang ingin minta maaf, seorang petani muda yang menghadapi kekeringan, dll.). Setiap sinopsis disertai tiga kata kunci emosi tokohnya.
  • Murid diberikan waktu 5 menit untuk membaca semua pilihan cerita secara mandiri, lalu mengisi lembar 'Kartu Pilihan Cerita' yang berisi: (a) judul/tema cerita yang dipilih, (b) alasan memilih cerita tersebut dalam 1–2 kalimat, (c) satu kata yang menggambarkan perasaan tokoh yang paling ingin mereka ekspresikan.
  • Setelah mengisi kartu, murid diminta berdiri di area kelas yang berbeda sesuai cerita yang dipilih (zona per cerita ditandai dengan kertas warna di lantai/meja). Ini membuat murid bergerak dan melihat siapa saja yang memilih cerita yang sama — sekaligus memberi guru gambaran distribusi pilihan.
  • Setiap murid menyampaikan alasan pilihannya dalam 1–2 kalimat kepada teman di zona yang sama, atau secara bergantian ke seluruh kelas jika waktu memungkinkan. Guru memberikan umpan balik afirmatif dan mendorong murid yang ragu untuk meyakini pilihan mereka.
  • Guru memvalidasi setiap pilihan dan mengingatkan murid bahwa tidak ada pilihan yang salah — yang penting adalah cerita yang dipilih terasa dekat dengan hati mereka, karena itu akan membantu mereka memerankan tokoh dengan jujur dan kuat.

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid kembali ke tempat duduknya masing-masing. Guru memandu murid masuk ke momen refleksi dengan instruksi: 'Tutup mata sejenak, bayangkan tokoh dalam cerita yang kalian pilih — bagaimana wajahnya, bagaimana suaranya, apa yang ia rasakan.' Berikan waktu 1 menit hening.
  • Murid membuka mata dan mengisi bagian refleksi di balik lembar Kartu Pilihan Cerita dengan menjawab dua pertanyaan: (1) 'Apa yang paling menarik dari monolog yang baru saya pelajari hari ini?' dan (2) 'Satu hal yang ingin saya coba saat nanti memerankan tokoh pilihan saya adalah...'
  • Guru mengajak 3–4 murid secara sukarela untuk berbagi jawaban refleksinya secara lisan. Guru merespons dengan pertanyaan lanjutan yang mendalam, bukan pujian generik, misalnya: 'Mengapa kamu merasa tertarik dengan bagian itu?' atau 'Bagaimana kamu akan menunjukkan perasaan tokohmu kepada penonton?'
  • Guru merangkum temuan refleksi kelas: persamaan dan keberagaman alasan murid dalam memilih cerita, serta mengaitkannya dengan konsep bahwa naskah yang sama bisa ditafsirkan sangat berbeda oleh tiap orang — inilah inti seni peran.

Penutup:

  • Guru mengumpulkan Kartu Pilihan Cerita dan Lembar Peta Struktur Monolog dari semua murid sebagai bukti belajar dan bahan asesmen proses.
  • Guru memberikan umpan balik singkat lisan kepada kelas secara keseluruhan tentang kualitas diskusi dan proses pemilihan cerita yang berlangsung hari ini.
  • Guru menginformasikan kegiatan berikutnya (Pertemuan 6): murid akan mulai menyusun konsep penokohan berdasarkan cerita yang sudah dipilih hari ini, sehingga murid dianjurkan untuk memikirkan atau membayangkan tokohnya di rumah.
  • Guru menutup kegiatan dengan kembali berdiri melingkar, mengucapkan apresiasi bersama kepada diri sendiri dan teman ('Kita hebat hari ini!'), dan melakukan peregangan ringan bersama sebagai penutup yang menyenangkan.

Diferensiasi:

  • Konten: Untuk murid yang sudah familiar dengan teater atau monolog, guru menyediakan satu contoh naskah monolog tambahan yang lebih panjang dan kompleks (dari karya Putu Wijaya atau Agus Noor versi adaptasi anak) sebagai bahan eksplorasi mandiri. Untuk murid yang belum pernah mengenal monolog sama sekali, guru menyediakan lembar bergambar berisi ilustrasi perbedaan monolog dan dialog yang lebih visual dan mudah dipahami.
  • Proses: Murid yang membutuhkan dukungan lebih dalam memilih cerita dapat dibimbing guru secara individual dengan menggunakan panduan pertanyaan sederhana: 'Cerita apa yang pernah membuatmu menangis atau tertawa?' Murid yang sudah cepat memahami dapat diminta membuat sketsa singkat 3 bagian struktur monolog dari cerita pilihan mereka sendiri (bukan dari menu cerita yang disiapkan guru).
  • Produk: Murid menyampaikan hasil pemilihan cerita dalam format yang paling nyaman bagi mereka: boleh lisan (berbicara langsung ke guru atau teman), tulisan di Kartu Pilihan Cerita, atau gambar tokoh pilihan mereka di balik kartu jika kesulitan mengekspresikan lewat kata-kata.

ASESMEN

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan di awal pendahuluan: 'Siapa yang pernah menonton atau membaca monolog?' dan 'Menurut kalian, apa itu monolog?' — untuk mengidentifikasi pengetahuan awal murid dan menyesuaikan kedalaman penjelasan.
  • Guru mencatat secara cepat siapa yang sudah memiliki gambaran tentang monolog dan siapa yang belum sebagai acuan diferensiasi selama kegiatan inti.

Proses:

  • Observasi aktif selama tahap Memahami: guru memperhatikan ketepatan murid saat menandai bagian-bagian naskah pada Lembar Peta Struktur Monolog dan kualitas diskusi pair-share.
  • Pada tahap Mengaplikasi: guru menilai kemandirian dan ketepatan murid dalam mengisi Kartu Pilihan Cerita — apakah alasan pemilihan cerita menunjukkan pemahaman tentang tokoh dan emosi.
  • Umpan balik lisan langsung diberikan guru kepada murid yang tampak kebingungan atau ragu selama tahap Mengaplikasi, agar tidak ada murid yang tertinggal.

Akhir:

  • Pengumpulan Kartu Pilihan Cerita yang telah diisi lengkap (pilihan cerita, alasan, kata emosi tokoh, dan refleksi) sebagai bukti pencapaian tujuan pembelajaran.
  • Exit ticket lisan opsional: sebelum murid pulang, guru memanggil 3–5 murid secara acak untuk menyebutkan satu ciri monolog yang mereka ingat — sebagai cek pemahaman akhir yang cepat.

Formatif:

  • Observasi lisan saat murid menjawab pertanyaan pemantik dan diskusi pair-share tentang struktur monolog.
  • Pengecekan Lembar Peta Struktur Monolog: ketepatan murid mengidentifikasi bagian pembuka, inti konflik, dan penutup dari contoh naskah.
  • Kartu Pilihan Cerita: kualitas alasan pemilihan cerita dan kemampuan murid mengidentifikasi emosi tokoh.

Sumatif:

  • Lembar Kartu Pilihan Cerita yang dikumpulkan di akhir pertemuan sebagai bukti pencapaian TP 6.1.5.1.
  • Penilaian lisan singkat: murid menyampaikan pilihan ceritanya dan alasannya dalam 1–2 kalimat sebelum meninggalkan kelas (exit ticket lisan).

RUBRIK PENILAIAN

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Pemahaman Struktur MonologMurid tidak dapat mengidentifikasi bagian-bagian struktur monolog (pembuka, inti konflik, penutup) meski dengan bantuan.Murid dapat mengidentifikasi 1 dari 3 bagian struktur monolog pada contoh naskah dengan bantuan guru.Murid dapat mengidentifikasi 2–3 bagian struktur monolog pada contoh naskah secara mandiri, meskipun penjelasannya masih sederhana.Murid dapat mengidentifikasi ketiga bagian struktur monolog secara tepat dan mampu menjelaskan fungsi tiap bagian menggunakan kata-katanya sendiri.
Kemampuan Memilih CeritaMurid tidak dapat memilih cerita atau tidak mampu menyebutkan alasan pemilihan sama sekali.Murid memilih cerita tetapi alasan yang diberikan sangat umum atau tidak berkaitan dengan tokoh/emosi dalam cerita.Murid memilih cerita dengan alasan yang relevan dan mampu menyebutkan satu emosi tokoh yang ingin diekspresikan.Murid memilih cerita dengan alasan yang kuat, spesifik, dan menunjukkan pemahaman tentang tokoh — serta mampu menghubungkan pilihan cerita dengan pengalaman atau perasaan pribadinya.
Refleksi DiriMurid tidak mengisi bagian refleksi atau jawabannya tidak relevan dengan kegiatan pembelajaran.Murid mengisi refleksi tetapi hanya menjawab satu dari dua pertanyaan refleksi, atau jawabannya sangat singkat tanpa kedalaman.Murid menjawab kedua pertanyaan refleksi dengan kalimat yang jelas dan menunjukkan kesadaran tentang apa yang dipelajari.Murid menjawab kedua pertanyaan refleksi dengan kalimat yang mendalam, mengaitkan pembelajaran hari ini dengan rencana konkret yang ingin dilakukan pada pertemuan berikutnya.

REFLEKSI

Refleksi Guru:

  • Apakah penjelasan tentang struktur monolog sudah cukup jelas dan sesuai dengan tingkat pemahaman murid kelas 6? Bagian mana yang perlu disederhanakan atau diperkaya?
  • Apakah semua murid berhasil memilih cerita secara mandiri? Murid mana yang tampak kesulitan, dan apa yang bisa saya lakukan untuk mendukung mereka di pertemuan berikutnya?
  • Apakah pertanyaan pemantik berhasil membangun rasa ingin tahu murid? Pertanyaan mana yang paling memicu diskusi hidup, dan mengapa?
  • Apakah alokasi waktu 2x35 menit terbagi secara efektif untuk tiga tahap (Memahami, Mengaplikasi, Merefleksi)? Tahap mana yang membutuhkan waktu lebih atau lebih sedikit?

Refleksi Murid:

  • Apa satu hal baru tentang monolog yang paling membuatku tertarik hari ini?
  • Mengapa aku memilih cerita itu — apa yang membuat cerita tersebut terasa penting atau dekat bagiku?
  • Apa yang ingin aku coba atau persiapkan sebelum pertemuan berikutnya agar aku bisa memerankan tokohku dengan lebih baik?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas VI (Kemendikbudristek) — Unit 1 Kegiatan 5 & 6
  2. Contoh naskah monolog pendek yang disiapkan guru (tema keseharian anak, disarankan karya penulis seperti Putu Wijaya, Agus Noor, atau adaptasi mandiri guru)
  3. Lembar Peta Struktur Monolog (dibuat guru, format tiga kotak: Pembuka / Inti Konflik / Penutup)
  4. Kartu Pilihan Cerita (dibuat guru, memuat kolom: judul cerita, alasan memilih, kata emosi tokoh, dan refleksi)
  5. Menu Cerita berupa kartu atau poster sinopsis 4–5 cerita pendek yang disiapkan guru
  6. Artikel referensi: 'Cara Membuat Monolog' — https://id.wikihow.com/Membuat-Monolog (untuk persiapan guru)
  7. Ruang kelas atau aula yang luas untuk mendukung aktivitas gerak dan pembentukan zona cerita

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.