MODUL AJAR Seni Teater — Kelas 6 (Fase C) Topik: Bab 1 — Dasar-Dasar Pemeranan INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | Seni Teater |
|---|
| Fase / Kelas | Fase C / Kelas 6 |
|---|
| Topik | Bab 1 — Dasar-Dasar Pemeranan |
|---|
| Alokasi Waktu | 23 JP (23 x 35 menit = 805 menit) |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 8 |
|---|
| Tahun Ajaran | 2026/2027 |
|---|
| Semester | 1 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- TP 6.1.1 Melakukan pengenalan karakter melalui pengamatan kebiasaan tokoh yang diperankan
- TP 6.1.2 Menceritakan pendapatnya tentang sebuah cerita sederhana meliputi aspek penokohan dan perwatakan
- TP 6.1.3 Melakukan permainan peran berkelompok melalui improvisasi untuk melatih aksi dan reaksi dalam mengelaborasi tokoh
- TP 6.1.4 Memainkan ragam peran dari cerita sederhana berdasarkan hasil pengamatan
- TP 6.1.5 Memerankan lakon secara individu maupun berkelompok berdasarkan minat, pengamatan, dan pengalaman
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | | | Kewargaan | | | Penalaran Kritis | ✓ | | Kreativitas | ✓ | | Kolaborasi | ✓ | | Kemandirian | ✓ | | Kesehatan | | | Komunikasi | ✓ |
PERTANYAAN PEMANTIK- Bagaimana kita bisa mengenali pekerjaan atau karakter seseorang hanya dengan melihat cara berjalan dan gesturnya?
- Apa saja kebiasaan fisik yang khas dari orang-orang di sekitar kita, misalnya penjual keliling atau petugas keamanan?
- Bagaimana kita bisa mengetahui sifat atau watak seorang tokoh utama saat membaca atau mendengar cerita?
- Mengapa pendapat kita mengenai sifat tokoh utama perlu didasari oleh apa yang tokoh itu lakukan dalam cerita?
- Mengapa dalam sebuah pertunjukan atau cerita, kehadiran tokoh pendukung di sekitar tokoh utama sangat penting?
- Bagaimana cara kita mengetahui sifat seorang tokoh pendukung dan hubungannya dengan tokoh utama melalui cerita yang kita simak?
- Apa yang biasanya kamu lakukan secara spontan ketika seorang teman tiba-tiba menghampirimu dengan ekspresi kaget?
- Bagaimana sebuah peran tokoh dalam teater bisa tetap hidup dan seru meskipun kita bermain tanpa naskah hafalan?
- Bagaimana caramu merespons secara spontan ketika teman kelompokmu melakukan tindakan yang tidak terduga saat bermain peran?
- Bagaimana sebuah aksi dan reaksi antartokoh dapat membuat alur adegan berkembang semakin menarik tanpa teks naskah?
- Bagaimana kebiasaan unik seseorang dalam kehidupan sehari-hari dapat diwujudkan saat kita memainkan peran dalam cerita?
- Apa yang membedakan cara berjalan, berbicara, dan bertindak antara satu tokoh dengan tokoh lainnya dalam cerita sederhana?
- Bagaimana caramu membawakan peran dalam lakon kelompok agar penonton merasakan pengalaman nyata yang pernah kamu lihat atau alami?
- Mengapa memilih peran yang sesuai dengan minat dan pengalaman sehari-hari membuat penampilan lakon terasa lebih meyakinkan?
- Bagaimana caramu menyampaikan pengenalan karakter dan pendapat tentang watak tokoh yang kamu amati secara lisan?
- Bagaimana kelompokmu memainkan lakon improvisasi agar aksi dan reaksi antartokoh terlihat hidup dan saling menyatu?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1 — Melakukan Pengenalan Karakter melalui Pengamatan Kebiasaan Fisik dan Gestur Tokoh di Lingkungan Sekitar — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 6.1.1 Melakukan pengenalan karakter melalui pengamatan kebiasaan tokoh yang diperankan
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan belajar, dan menyampaikan tujuan pembelajaran pengenalan karakter melalui pengamatan kebiasaan fisik tokoh di sekitar (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat dengan memperagakan satu gestur khas (berjalan membungkuk sambil menyapu lantai) lalu meminta murid menebak profesi/tokoh yang diamati dan menyebutkan 2 ciri fisiknya: (1) punggung agak membungkuk, (2) kedua tangan mengayunkan sapu lidi (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak penjelasan guru dan mengamati 3 gambar profil tokoh sekitar: (1) Penjual jamu gendong (kebiasaan: berjalan cepat, punggung condong menahan beban bakul, tangan memegang selendang); (2) Petugas keamanan sekolah (kebiasaan: berdiri tegak dengan kaki sedikit terbuka, pandangan siaga ke depan, tangan sesekali memegang peluit di dada); (3) Tukang sol sepatu keliling (kebiasaan: berjalan lambat dengan bahu miring memikul kotak kayu, langkah pendek dan berhati-hati) (10 menit).
- Murid mendiskusikan bersama guru bagaimana kebiasaan fisik dan gestur (cara berjalan, postur tubuh, gerak tangan) mencerminkan karakter serta aktivitas keseharian tokoh tersebut (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid bermain 'Tebak Sosok Sekitar': perwakilan murid mengambil 1 dari 4 kartu tokoh yang disediakan guru: Kartu A (Guru menulis di papan dan membetulkan kacamata), Kartu B (Kakek berjalan dengan tongkat dan memegang pinggang), Kartu C (Polisi lalu lintas mengatur kendaraan dengan tangan mengayun dan peluit), Kartu D (Penjual bakso mendorong gerobak sambil memukul mangkuk dengan sendok). Murid memperagakan kebiasaan fisik dan gestur tokoh tersebut tanpa suara, lalu murid lain mengenali karakter tokohnya (15 menit).
- Secara mandiri, setiap murid memilih 1 tokoh di lingkungan sekitar yang pernah diamati, lalu mencatat dan memeragakan 3 kebiasaan fisik/gestur khas tokoh tersebut (cara berjalan, postur tubuh, dan gerak tangan khas) di hadapan guru secara bergantian (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru merefleksikan proses pengamatan karakter: menyimpulkan bahwa kebiasaan fisik dan gestur merupakan kunci utama dalam mengenal dan mewujudkan karakter tokoh secara meyakinkan dalam pemeranan (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik langsung terhadap kemampuan murid mengenali dan memeragakan kebiasaan fisik tokoh berdasarkan kriteria ketercapaian (3 kebiasaan fisik tepat) (3 menit).
- Guru menutup pertemuan dengan memberikan arahan untuk mengamati perwatakan tokoh cerita pada pertemuan berikutnya, lalu berdoa bersama (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan lembar panduan bergambar ciri gestur fisik bagi murid yang membutuhkan bantuan visual konkret.
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan langsung memilih 1 tokoh sederhana dari sekolah (misal: penjaga sekolah), sedangkan murid yang sudah mahir diminta mengamati tokoh dengan detail gestur yang lebih unik (misal: perajin ukir kayu).
- Produk: Murid boleh menunjukkan pengenalan karakter melalui peragaan gestur langsung atau melengkapi lembar daftar periksa kebiasaan fisik tokoh.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik cepat di awal pembelajaran dengan peragaan satu gestur oleh guru (berjalan membungkuk mengayun sapu). Pertanyaan: 'Siapakah tokoh ini dan sebutkan 2 kebiasaan fisiknya?' (Acuan jawaban: Tokoh petugas kebersihan/penyapu jalan; 2 kebiasaan fisik: punggung membungkuk dan tangan mengayunkan sapu).
Proses:- Pengamatan langsung saat murid memeragakan kebiasaan fisik tokoh pilihannya. Lembar ceklis memuat 3 indikator fisik teramati: (1) Cara/langkah berjalan tokoh, (2) Sikap/postur punggung dan bahu, (3) Gestur spesifik tangan saat melakukan aktivitas khas tokoh.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan di penutup: Murid menyebutkan kembali 1 kebiasaan fisik kunci dari tokoh yang ia perankan dan mengapa kebiasaan itu penting untuk mengenali karakternya. (Kriteria penerimaan: murid menyebutkan secara spesifik bagian tubuh dan gerakannya, misal: 'bahu miring dan langkah lambat menunjukkan beratnya beban yang dipikul penjual').
Formatif:- Pengamatan unjuk kerja peragaan dan lembar ceklis pengenalan 3 kebiasaan fisik/gestur tokoh
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Pengenalan Karakter melalui Kebiasaan Fisik dan Gestur | Mengenali dan memeragakan kurang dari 2 kebiasaan fisik/gestur tokoh, masih membutuhkan bimbingan penuh guru. | Mengenali dan memeragakan 2 kebiasaan fisik/gestur tokoh (cara berjalan dan postur tubuh) dengan arahan guru. | Mengenali dan memeragakan 3 kebiasaan fisik/gestur tokoh secara tepat (cara berjalan, postur tubuh, dan gerak tangan khas) secara mandiri. | Mengenali dan memeragakan lebih dari 3 kebiasaan fisik dan gestur tokoh secara tepat, konsisten, detail, dan mandiri tanpa keraguan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah aktivitas permainan tebak sosok efektif membantu murid mengenali kebiasaan fisik tokoh?
- Bagian mana dari pengamatan gestur tubuh yang paling menantang bagi murid kelas 6?
Murid:- Kebiasaan fisik tokoh mana yang paling mudah dan paling sulit kamu kenali serta tirukan hari ini?
- Apa yang kamu perhatikan pertama kali saat melihat seseorang untuk mengetahui karakternya?
Pertemuan 2 — Menceritakan Pendapat tentang Penokohan dan Perwatakan Tokoh Utama dalam Cerita Sederhana — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 6.1.2 Menceritakan pendapatnya tentang sebuah cerita sederhana meliputi aspek penokohan dan perwatakan
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan menyampaikan fokus pembelajaran hari ini yaitu menceritakan pendapat tentang penokohan dan perwatakan tokoh utama dalam cerita sederhana (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik lisan dengan menyajikan cuplikan pengantar: 'Di sebuah desa, Bima selalu bangun pagi untuk mengumpulkan kayu bakar dan membagikannya kepada tetangga yang membutuhkan tanpa pamrih.' Murid diminta menyebutkan siapa tokoh utamanya dan apa wataknya (acuan jawaban: tokoh utama = Bima; watak = rajin, penolong/dermawan, peduli sesama) (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Berkesadaran):- Guru membacakan teks cerita sederhana berjudul 'Lompatan Kejujuran': Di tepi hutan, seekor Tupai bernama Kiki menemukan sebuah kantung berisi kenari emas di bawah pohon pinus. Kiki sempat tergoda menyembunyikannya karena lapar, tetapi ia teringat bahwa Kakek Burung Hantu sedang mencari kenari tersebut untuk makanan warga desa yang sakit. Kiki akhirnya menempuh badai untuk mengembalikan kantung itu tepat waktu kepada Kakek Burung Hantu (10 menit).
- Murid menyimak penjelasan terpandu mengenai konsep penokohan (siapa tokoh utama dan kedudukannya sebagai penggerak alur) serta perwatakan (sifat batiniah tokoh yang terlihat melalui tindakan dan keputusan) (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid mengikuti permainan tebak sifat interaktif 'Kutipan Aksi': Guru membacakan 3 potongan aksi tokoh, murid secara cepat dan bergembira mengangkat kartu watak yang sesuai. Butir 1: 'Kiki menahan rasa laparnya demi menolong warga' -> acuan watak: rela berkorban/penuh empati; Butir 2: 'Kiki memilih mengembalikan kenari emas meski tidak ada yang melihat' -> acuan watak: jujur/bertanggung jawab; Butir 3: 'Kiki tetap melompati dahan di tengah badai kencang' -> acuan watak: pemberani/pantang menyerah (15 menit).
- Murid secara mandiri menyusun lembar analisis pendapat penokohan tokoh utama Kiki dengan menjawab 3 panduan: (1) Siapa tokoh utama cerita dan apa perannya, (2) Apa watak tokoh utama, (3) Sebutkan bukti tindakan dalam cerita yang mendukung pendapat tentang watak tersebut (acuan: (1) Kiki si Tupai, penggerak cerita yang menemukan dan mengembalikan kenari; (2) Jujur, berani, atau rela berkorban; (3) Mengembalikan kenari walau lapar atau menerobos badai untuk menolong warga) (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Beberapa murid menceritakan pendapatnya secara lisan di depan kelas mengenai penokohan dan perwatakan Kiki berdasarkan bukti cerita yang telah diidentifikasi (15 menit).
- Guru membimbing murid menarik kesimpulan bersama bahwa menceritakan perwatakan tokoh harus selalu berdasar pada tindakan nyata tokoh dalam alur cerita (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik menyeluruh terhadap ketepatan murid mengaitkan pendapat perwatakan dengan bukti tindakan tokoh (3 menit).
- Murid melakukan asesmen akhir berupa pengecekan pemahaman singkat dan menyampaikan refleksi pembelajaran sebelum kelas diakhiri dengan salam (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan disediakan kartu bantu daftar kata sifat watak (jujur, pemberani, egois, penolong), sedangkan murid mahir menganalisis dilema batin tokoh Kiki saat tergoda menyembunyikan kenari.
- Proses: Murid yang memerlukan pendampingan diberikan pertanyaan pemandu bertahap saat menyusun pendapat, sedangkan murid mahir langsung merangkai pendapat mandiri.
- Produk: Penyampaian pendapat dapat berupa catatan poin terstruktur bagi murid yang memerlukan dukungan menulis atau paragraf argumentatif utuh bagi murid yang sudah mahir.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik lisan: Guru membacakan cuplikan cerita 'Bima sang Pencari Kayu' lalu menanyakan: 'Siapakah tokoh utama kutipan tersebut dan bagaimana wataknya?' (Acuan jawaban benar: Tokoh utama = Bima; Watak = rajin, suka menolong/dermawan, peduli terhadap tetangga).
Proses:- Pemeriksaan lembar kerja telaah tokoh Kiki: Menilai ketepatan identifikasi tokoh utama (Kiki), perumusan watak (misal: jujur, pemberani), dan pencantuman bukti perbuatan dari teks cerita (misal: mengembalikan kenari emas meski lapar/menerobos badai).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan di akhir sesi: 'Sebutkan 1 watak Kiki dan 1 perbuatan dalam teks yang membuktikan watak tersebut!' (Kriteria penerimaan: Murid menyebutkan watak yang tepat seperti jujur/pemberani/peduli disertai perbuatan relevan dari cerita 'Lompatan Kejujuran').
Formatif:- Tanya jawab diagnostik lisan pada awal pembelajaran
- Pengamatan unjuk kerja lembar pendapat penokohan dan perwatakan
- Penceritaan pendapat lisan tentang tokoh utama di tahap refleksi
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menceritakan Pendapat tentang Penokohan Tokoh Utama | Belum mampu menyebutkan tokoh utama dalam cerita sederhana secara tepat. | Menyebutkan nama tokoh utama cerita sederhana dengan bimbingan penuh guru. | Menyebutkan dan menceritakan peran tokoh utama dalam menggerakkan cerita secara tepat dan mandiri. | Menceritakan kedudukan dan pengaruh keputusan tokoh utama terhadap jalannya alur cerita sederhana secara lengkap dan rinci. | | Menceritakan Pendapat tentang Perwatakan Tokoh Utama | Menyebutkan sifat tokoh yang tidak sesuai dengan peristiwa dalam cerita dan tanpa bukti. | Menyampaikan pendapat watak tokoh utama secara tepat tetapi belum disertai bukti tindakan dari cerita. | Menceritakan pendapat watak tokoh utama secara tepat disertai 1 bukti tindakan tokoh dari cerita sederhana. | Menceritakan pendapat watak tokoh utama secara tepat disertai lebih dari 1 bukti tindakan logis yang konsisten dari isi cerita sederhana. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah teks cerita sederhana yang disajikan berhasil memantik pemahaman murid mengenai pembuktian watak tokoh?
- Apakah seluruh murid sudah mampu membedakan antara tokoh utama dengan peristiwa yang dialaminya saat menceritakan pendapat?
Murid:- Apa hal paling mudah saat menentukan sifat dari tokoh utama dalam cerita tadi?
- Bagaimana caramu membuktikan kepada teman bahwa pendapatmu tentang sifat tokoh utama itu benar?
Pertemuan 3 — Menceritakan Pendapat tentang Perwatakan Tokoh Pendukung dan Hubungan Antartokoh dalam Cerita Sederhana — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 6.1.2 Menceritakan pendapatnya tentang sebuah cerita sederhana meliputi aspek penokohan dan perwatakan
Pendahuluan:- Guru membuka pelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengondisikan suasana belajar yang nyaman (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menceritakan pendapat mengenai perwatakan tokoh pendukung dan hubungan antartokoh dalam cerita sederhana (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal dengan membacakan cuplikan cerita 2 kalimat: 'Rani sedang bingung mencari bukunya yang hilang. Pak Joko, penjaga sekolah yang ramah, segera datang membantunya membongkar tumpukan kardus hingga buku itu ketemu.' Murid diminta menyebutkan siapa tokoh pendukungnya dan bagaimana wataknya (acuan jawaban benar: tokoh pendukung adalah Pak Joko; wataknya ramah, penolong, atau peduli) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna):- Guru membagikan teks cerita sederhana berjudul 'Panggung Boneka di Sudut Kelas'. Cerita mengisahkan Doni (tokoh utama yang pemalu) yang ingin menampilkan panggung boneka. Terdapat dua tokoh pendukung: (1) Bima (sahabat setia yang selalu memberi semangat dan membantu menyiapkan panggung) dan (2) Bu Maya (guru seni yang bijaksana dan selalu memberi arahan dengan sabar saat Doni merasa ragu) (10 menit).
- Murid menyimak penjelasan guru tentang cara menelaah penokohan pendukung dan bentuk hubungan antartokoh (misalnya hubungan persahabatan yang saling mendukung antara Bima dan Doni, serta hubungan murid-guru yang mengayomi antara Bu Maya dan Doni) berdasarkan dialog dan tindakan tokoh dalam teks (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan):- Guru mengadakan aktivitas permainan tebak peran cepat 'Detektif Karakter Pendukung': guru membacakan 3 kutipan tindakan tokoh pendukung dari cerita, lalu perwakilan murid berlomba menebak watak tokoh dan hubungannya dengan tokoh utama (Kutipan 1: 'Jangan menyerah Doni, aku bantu pegang layarnya!' -> acuan: watak Bima suportif/setia kawan, hubungan: sahabat mendukung tokoh utama; Kutipan 2: 'Tarik napas perlahan Doni, suaramu sudah cukup terdengar kok,' kata Bu Maya tersenyum -> acuan: watak Bu Maya penyabar/membimbing, hubungan: guru membimbing muridnya; Kutipan 3: 'Bima membawakan kotak perca kain dari rumah untuk kostum boneka Doni' -> acuan: watak Bima rela berkorban/ringan tangan, hubungan: sahabat yang setia) (15 menit).
- Murid secara berpasangan mengisi lembar panduan analisis untuk merumuskan pendapat mereka tentang watak Bima dan Bu Maya serta bagaimana hubungan antartokoh tersebut memengaruhi tindakan tokoh utama Doni (15 menit).
- Setiap murid secara mandiri menceritakan pendapatnya secara lisan bergiliran di hadapan pasangan atau kelompok kecil mengenai perwatakan tokoh pendukung (Bima dan Bu Maya) serta hubungan antartokoh dalam cerita sederhana tersebut menggunakan kalimat sendiri (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru merefleksikan bagaimana kehadiran tokoh pendukung memperjelas watak tokoh utama dan memperkuat alur cerita teater (10 menit).
- Murid mengevaluasi kemudahan dan tantangan dalam mengenali watak tokoh pendukung serta menceritakan hubungannya dengan tokoh utama (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap pendapat-pendapat yang telah disampaikan murid mengenai watak tokoh pendukung dan hubungan antartokoh (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik penutup dan menyampaikan agenda pertemuan berikutnya tentang permainan peran aksi-reaksi sebelum menutup kelas dengan doa (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Untuk murid yang membutuhkan bimbingan, teks cerita dilengkapi tanda tebal (bold) pada kalimat kunci tindakan tokoh pendukung. Untuk murid yang mahir, diberikan teks lengkap tanpa penanda.
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberi kartu pemandu frasa (misal: 'Watak tokoh Bima adalah ... karena tindakannya ...'). Murid mahir langsung merangkai pendapat mandiri dengan mengaitkan 2 peristiwa berbeda dalam cerita.
- Produk: Penyampaian pendapat lisan dapat berupa 2 kalimat terstruktur bagi murid berkembang, atau uraian komprehensif yang membandingkan peran kedua tokoh pendukung bagi murid mahir.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan lisan diagnostik: 'Dengarkan cuplikan ini: Rani sedang bingung mencari bukunya yang hilang. Pak Joko, penjaga sekolah yang ramah, segera datang membantunya membongkar tumpukan kardus hingga buku itu ketemu. Siapakah tokoh pendukungnya dan bagaimana wataknya?' (Acuan jawaban benar: Tokoh pendukung adalah Pak Joko; perwatakannya ramah, suka menolong, atau peduli).
Proses:- Pengamatan ketercapaian saat murid menceritakan pendapatnya tentang penokohan tokoh pendukung (Bima dan Bu Maya) dan hubungan keduanya dengan tokoh utama Doni pada cerita 'Panggung Boneka di Sudut Kelas'. (Kriteria penerimaan: murid menyebutkan nama tokoh pendukung, menyebutkan wataknya secara tepat [Bima: suportif/setia kawan; Bu Maya: sabar/bijaksana/penyayang], dan menjelaskan bentuk hubungan antartokohnya [Bima sebagai sahabat Doni, Bu Maya sebagai guru pembimbing Doni]).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan penutup: Guru menunjuk murid secara acak untuk menjawab: 'Sebutkan 1 watak tokoh pendukung Bima dan jelaskan hubungannya dengan tokoh utama Doni!' (Acuan jawaban benar: Bima berwatak setia kawan/penolong/suportif; hubungannya adalah sahabat karib yang selalu membantu dan mendukung Doni mengatasi rasa malunya).
Formatif:- Asesmen diagnostik lisan saat pendahuluan berupa identifikasi tokoh pendukung dan watak dari cuplikan 2 kalimat.
- Observasi unjuk kerja saat murid menceritakan pendapatnya tentang perwatakan tokoh pendukung dan hubungan antartokoh menggunakan lembar rubrik penilaian.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menceritakan Pendapat tentang Perwatakan Tokoh Pendukung | Belum mampu menceritakan pendapat tentang watak tokoh pendukung, atau menyebutkan watak yang keliru tanpa alasan dari cerita. | Mampu menceritakan pendapat tentang watak 1 tokoh pendukung dengan tepat sesuai acuan cerita namun masih memerlukan bimbingan penuh guru. | Mampu menceritakan pendapat tentang watak kedua tokoh pendukung (Bima: setia kawan/penolong; Bu Maya: bijaksana/sabar) secara tepat dan mandiri. | Mampu menceritakan pendapat tentang watak kedua tokoh pendukung secara tepat, mendalam dengan mengutip bukti tindakan/dialog dari cerita secara mandiri. | | Menceritakan Pendapat tentang Hubungan Antartokoh | Belum mampu menceritakan pendapat mengenai bentuk hubungan antara tokoh pendukung dengan tokoh utama. | Mampu menceritakan hubungan antara salah satu tokoh pendukung dengan tokoh utama secara sederhana dengan bantuan pertanyaan penuntun. | Mampu menceritakan pendapat mengenai hubungan antartokoh secara tepat (Bima sebagai sahabat pendukung Doni; Bu Maya sebagai guru pembimbing Doni) secara mandiri. | Mampu menceritakan pendapat mengenai hubungan antartokoh secara tepat dan menjelaskan bagaimana hubungan tersebut memengaruhi sikap atau keberhasilan tokoh utama. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah teks cerita 'Panggung Boneka di Sudut Kelas' cukup memudahkan murid mengidentifikasi tokoh pendukung dan relasinya dengan tokoh utama?
- Bagaimana keterlibatan murid selama aktivitas menceritakan pendapat secara mandiri dan berpasangan?
Murid:- Bagian mana dari cerita yang paling membantumu memahami sifat tokoh pendukung Bima dan Bu Maya?
- Apakah kamu merasa terbantu memahami hubungan antartokoh setelah mendengarkan pendapat temanmu?
Pertemuan 4 — Melakukan Permainan Peran Berkelompok melalui Improvisasi Spontan Aksi dan Reaksi Tokoh — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 6.1.3 Melakukan permainan peran berkelompok melalui improvisasi untuk melatih aksi dan reaksi dalam mengelaborasi tokoh
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memimpin doa bersama sebelum memulai aktivitas teater (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu melatih permainan peran berkelompok melalui improvisasi spontan aksi dan reaksi tokoh tanpa naskah tertulis (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui permainan pemanasan respons cepat berpasangan: satu murid memberikan satu aksi spontan (misalnya pura-pura menyodorkan hadiah tak terduga) dan pasangannya langsung memberikan satu reaksi spontan yang selaras dengan situasi tersebut (9 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Murid menyimak demonstrasi singkat konsep aksi dan reaksi dalam seni teater yang diperagakan guru bersama seorang relawan murid, di mana setiap aksi fisik atau ucapan dari tokoh pertama harus langsung ditanggapi secara logis dan spontan oleh tokoh kedua untuk menghidupkan karakter (10 menit).
- Murid berpartisipasi dalam permainan 'Apa yang Kamu Lakukan?' secara melingkar: seorang murid memeragakan aksi spontan (misalnya menyapu lantai), lalu murid berikutnya bertanya 'Apa yang kamu lakukan?' dan murid pertama menjawab aktivitas berbeda secara spontan (misalnya 'Aku sedang menerbangkan layang-layang!'), kemudian murid kedua langsung beralih memeragakan aksi baru tersebut sebagai latihan kelenturan berpikir dan respons spontan (15 menit).
Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):- Guru membagi murid ke dalam 4 kelompok yang masing-masing beranggotakan 6-7 orang, lalu ketua kelompok mengambil 1 dari 4 kartu rangsang improvisasi yang telah disiapkan guru berisi situasi dan peran tokoh berikut: Kartu 1 (Peristiwa: tas tertukar di ruang tunggu stasiun; Tokoh: penumpang terburu-buru, petugas stasiun, dan pemilik tas asli); Kartu 2 (Peristiwa: pesanan makanan salah antar di kantin sekolah; Tokoh: penjual kantin, murid yang memesan, dan murid penerima salah); Kartu 3 (Peristiwa: menemukan kucing terjebak di atas dahan pohon taman; Tokoh: anak penyayang hewan, petugas kebersihan taman, dan orang lewat); Kartu 4 (Peristiwa: antrean loket wahana permainan yang tiba-tiba tutup; Tokoh: penjaga loket, pengunjung yang sudah lama mengantre, dan anak kecil yang merengek) (10 menit).
- Setiap kelompok berdiskusi singkat menentukan pembagian tokoh dan alur adegan kasar, lalu berlatih melakukan permainan peran improvisasi spontan aksi-reaksi selama 15 menit menggunakan properti sederhana yang ada di dalam kelas (seperti spidol, penggaris, kursi, atau tas) untuk mendukung aksi tokoh (15 menit).
- Setiap kelompok secara bergiliran menampilkan permainan peran improvisasi spontan aksi dan reaksi tokoh di depan kelas selama 6 menit per kelompok (total 4 kelompok = 24 menit), di mana setiap pemeran wajib melakukan minimal 1 aksi pembuka tokoh dan merespons minimal 1 reaksi balik dari lawan main tanpa naskah teks (24 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama kelompoknya duduk melingkar untuk merefleksikan proses permainan peran improvisasi: bagaimana rasanya harus merespons secara langsung tindakan teman di atas panggung dan tantangan apa yang dihadapi ketika menjaga kelangsungan aksi-reaksi tokoh (8 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap pencapaian seluruh murid dalam membangun aksi dan reaksi spontan selama permainan peran improvisasi berkelompok (5 menit).
- Guru menyampaikan agenda lanjutan untuk pertemuan berikutnya (Pertemuan 5) mengenai elaborasi alur adegan dalam improvisasi, lalu menutup pembelajaran dengan doa bersama dan salam (3 menit).
Diferensiasi:- Konten: Kelompok yang membutuhkan pendampingan diberikan kartu situasi dengan alur pemicu yang sangat konkret dan sederhana (situasi sehari-hari di kantin), sedangkan kelompok yang lebih mahir diberikan kartu situasi dengan konflik yang memicu respons spontan lebih dinamis (situasi antrean atau kehilangan di tempat umum).
- Proses: Pada murid yang masih ragu, guru memberikan panduan berupa aba-aba pemicu aksi-reaksi langsung dari samping panggung; bagi murid yang sudah percaya diri, kelompok dibebaskan sepenuhnya mengatur tempo aksi-reaksi secara mandiri.
- Produk: Kelompok yang masih berkembang cukup menunjukkan minimal 1 putaran aksi dan reaksi berpasangan yang relevan; kelompok yang sangat berkembang menampilkan rantai aksi-reaksi berkelanjutan yang melibatkan seluruh anggota kelompok secara bergantian.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab dan simulasi singkat berpasangan 'Aksi-Reaksi Spontan': Murid diminta memberikan 1 respons spontan terhadap aksi pancingan guru/teman berupa pura-pura memberikan bingkisan kado tak terduga (kriteria ketercapaian: murid langsung merespons secara verbal atau gestur yang logis dan selaras dengan situasi menerima kado, misalnya ekspresi terkejut senang, menerima dengan kedua tangan, atau mengucapkan terima kasih; tidak diam mematung atau mengabaikan aksi).
Proses:- Pengamatan unjuk kerja saat improvisasi kelompok berlangsung: Menilai kemampuan murid dalam melakukan aksi yang relevan dengan peran tokohnya dan memberikan reaksi spontan terhadap tindakan lawan main berdasarkan 4 kartu situasi (Kartu 1: stasiun, Kartu 2: kantin, Kartu 3: taman, Kartu 4: loket wahana).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan di akhir sesi: Setiap murid menyebutkan 1 contoh aksi yang dilakukan tokohnya dan 1 reaksi lawan main yang diresponsnya selama pentas improvisasi tadi (kriteria ketercapaian: murid mampu menunjukkan secara tepat pasangan aksi-reaksi yang telah dimainkan dalam adegan kelompoknya).
Formatif:- Observasi unjuk kerja permainan peran kelompok menggunakan lembar amatan aksi dan reaksi spontan
- Catatan anekdotal ketanggapan murid dalam merespons stimulus lawan main selama sesi latihan dan penampilan improvisasi
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Aksi Spontan Tokoh dalam Kelompok | Murid pasif di panggung, belum mampu memunculkan aksi spontan yang sesuai dengan peran tokoh yang dimainkan. | Murid memunculkan aksi tokoh tetapi masih ragu-ragu dan membutuhkan instruksi langsung atau pancingan dari guru/teman. | Murid mampu melakukan aksi spontan yang relevan dengan peran tokoh secara mandiri dalam kelompok tanpa naskah tertulis. | Murid secara konsisten dan meyakinkan melakukan ragam aksi spontan yang sangat hidup dan memperjelas karakter peran yang dimainkan. | | Reaksi Spontan terhadap Lawan Main | Murid mengabaikan tindakan/ucapan lawan main dan tidak memberikan reaksi balik dalam adegan improvisasi. | Murid memberikan reaksi terhadap lawan main namun mengalami jeda ragu yang lama atau reaksinya keluar dari konteks adegan. | Murid merespons tindakan dan ucapan lawan main secara spontan, logis, dan selaras dengan alur adegan kelompok. | Murid merespons aksi lawan main dengan sangat tanggap, luwes, dan mampu menjaga kelangsungan pertukaran aksi-reaksi antartokoh secara berkelanjutan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah instruksi dan stimulasi permainan 'Apa yang Kamu Lakukan?' berhasil mencairkan kekakuan murid untuk berimprovisasi tanpa naskah?
- Bagaimana keterlibatan setiap murid dalam kelompok, apakah pembagian aksi dan reaksi sudah merata di antara anggota?
Murid:- Bagian mana dari permainan peran spontan tadi yang paling membuatmu merasa tertantang atau senang?
- Apa yang kamu rasakan saat harus langsung bereaksi terhadap tindakan teman yang tidak kamu duga sebelumnya?
Pertemuan 5 — Melakukan Permainan Peran Berkelompok melalui Improvisasi Aksi dan Reaksi dalam Mengelaborasi Tokoh dan Alur Adegan — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 6.1.3 Melakukan permainan peran berkelompok melalui improvisasi untuk melatih aksi dan reaksi dalam mengelaborasi tokoh
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, serta mengondisikan ruang kelas agar lapang untuk bergerak (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu melakukan permainan peran berkelompok melalui improvisasi aksi dan reaksi dalam mengelaborasi tokoh dan alur adegan (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui pemanasan singkat 'Aksi Cepat Reaksi Tepat': Guru memberikan 2 stimulus aksi (Stimulus 1: Guru menjatuhkan buku secara tiba-tiba; Stimulus 2: Guru menyapa dengan suara tergesa-gesa mencari barang hilang), lalu meminta 2 murid merespons spontan sesuai karakter tokoh yang dipilihnya (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna):- Guru memberikan penjelasan bahwa elaborasi tokoh dan alur adegan dalam improvisasi dibangun melalui rantai aksi dan reaksi yang saling menyambung, di mana setiap reaksi dari seorang tokoh menjadi aksi baru bagi tokoh lainnya (10 menit).
- Guru memodelkan bersama 2 perwakilan murid simulasi rantai aksi-reaksi: Aksi Tokoh A (penjual buah menjajakan dagangan) -> Reaksi Tokoh B (pembeli menawar karena buah tampak layu) -> Aksi Lanjutan Tokoh A (menjelaskan keunggulan buah manis) -> Reaksi Tokoh C (pembeli lain ikut memeriksa buah), sehingga alur adegan berkembang (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan):- Guru membagi murid ke dalam kelompok yang terdiri dari 4-5 orang, lalu setiap ketua kelompok mengambil 1 dari 4 kartu rangsang adegan yang telah disiapkan: Kartu 1 (Peristiwa: Kucing peliharaan tersangkut di atas dahan pohon; Latar tempat: Taman sekolah; Waktu: Siang hari saat jam istirahat); Kartu 2 (Peristiwa: Kunci gerbang utama hilang saat hujan mulai turun; Latar tempat: Halaman depan sekolah; Waktu: Sore hari setelah bel pulang); Kartu 3 (Peristiwa: Tempat pensil berisi kupon kantin tertinggal di perpustakaan; Latar tempat: Lorong kelas; Waktu: Pagi hari sebelum bel berbunyi); Kartu 4 (Peristiwa: Roda gerobak jajanan terperosok ke selokan kecil; Latar tempat: Pintu samping sekolah; Waktu: Siang hari pulang sekolah) (10 menit).
- Kelompok melakukan latihan permainan peran improvisasi di mana setiap murid menentukan satu karakter tokoh yang diperankan, lalu mengeksplorasi aksi spontan dan reaksi berantai antartokoh untuk mengembangkan alur adegan tanpa teks tertulis (25 menit).
- Secara bergantian, setiap kelompok memainkan peran melalui improvisasi aksi dan reaksi di depan kelas selama 5 menit per kelompok, memanfaatkan benda di kelas sebagai properti imajinatif (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid dalam kelompok saling menyampaikan pengalamannya mengenai momen aksi-reaksi mana yang paling berhasil menggerakkan alur adegan dan bagaimana mereka mempertahankan karakter tokohnya secara konsisten selama improvisasi berlangsung (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik langsung terhadap keberhasilan setiap kelompok dalam membangun keterkaitan aksi-reaksi dan elaborasi karakter tokoh sepanjang improvisasi berlangsung (3 menit).
- Guru bersama murid menyimpulkan pentingnya kepekaan aksi-reaksi dalam permainan peran improvisasi, lalu menutup pembelajaran dengan doa dan salam (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Kartu rangsang adegan disiapkan dengan variasi kompleksitas situasi (situasi sehari-hari sederhana untuk kelompok yang butuh panduan, hingga situasi mendesak/penuh hambatan untuk kelompok yang siap tantangan).
- Proses: Kelompok yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan urutan giliran aksi pertama, sedangkan kelompok yang sudah mahir dibebaskan mengalirkan aksi-reaksi secara spontan penuh.
- Produk: Kelompok dapat menampilkan alur adegan dengan jumlah pergantian aksi-reaksi minimal 3 putaran berantai (kelompok dasar) atau lebih dari 5 putaran berantai yang mengembangkan alur secara utuh (kelompok mahir).
Asesmen Pertemuan:Awal:- Simulasi diagnostik respons spontan 'Aksi Cepat Reaksi Tepat'. Guru memberikan 2 stimulus: (1) Stimulus guru menjatuhkan buku secara tiba-tiba (Kriteria respons tepat: murid segera bereaksi secara verbal/tindakan fisik sesuai karakter, misal kaget menolong atau terkejut mundur); (2) Stimulus guru bertanya tergesa-gesa mencari barang hilang (Kriteria respons tepat: murid merespons dengan jawaban/tindakan spontan yang menyambung situasi). Hasil digunakan untuk memetakan kesiapan spontanitas aksi-reaksi murid.
Proses:- Lembar observasi unjuk kerja permainan peran berkelompok saat menampilkan adegan improvisasi berdasarkan 4 kartu rangsang adegan (Kartu 1: Kucing tersangkut di pohon; Kartu 2: Kunci gerbang hilang saat hujan; Kartu 3: Kotak pensil tertinggal di perpustakaan; Kartu 4: Roda gerobak terperosok). Kriteria penilaian: (1) Ketepatan keterhubungan aksi dan reaksi antartokoh dalam alur adegan (minimal 3 putaran reaksi berantai tersambung logis tanpa terputus); (2) Elaborasi konsistensi tokoh yang diperankan (mempertahankan ciri peran dan gestur tokoh saat merespons aksi lawan main).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman dan umpan balik unjuk kerja akhir sesi: Setiap anggota kelompok diminta menunjukkan 1 aksi kunci dan 1 reaksi lawan main yang paling efektif menggerakkan alur adegan dalam pementasan kelompoknya (Kriteria ketercapaian: murid mampu menyebutkan secara spesifik tindakan aksi dan reaksi yang tersambung logis dalam adegan yang baru saja dimainkan).
Formatif:- Observasi unjuk kerja permainan peran berkelompok melalui improvisasi aksi dan reaksi dalam mengelaborasi tokoh dan alur adegan
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Improvisasi Aksi dan Reaksi Antartokoh | Belum mampu melakukan reaksi spontan terhadap aksi lawan main, adegan terhenti atau tidak tersambung dengan aksi tokoh sebelumnya. | Mampu melakukan reaksi terhadap aksi lawan main tetapi masih ragu-ragu dan membutuhkan arahan/bantuan guru agar alur adegan tetap berlanjut. | Mampu melakukan aksi dan reaksi spontan yang saling terhubung secara berkesinambungan bersama kelompok sehingga alur adegan berkembang tanpa bantuan guru. | Mampu melakukan aksi dan reaksi spontan yang sangat mengalir, konsisten menyambung aksi teman secara variatif, serta aktif mengelaborasi alur adegan kelompok menjadi semakin hidup secara mandiri. | | Elaborasi Tokoh dalam Permainan Peran Berkelompok | Belum menampilkan ciri karakter tokoh yang jelas saat melakukan permainan peran improvisasi. | Menampilkan ciri karakter tokoh pada awal adegan, namun kehilangan konsistensi karakter saat merespons aksi spontan teman. | Konsisten mempertahankan karakter tokoh yang diperankan baik saat melakukan aksi maupun memberikan reaksi sepanjang permainan peran. | Sangat konsisten dan mendalam dalam mengelaborasi kebiasaan, emosi, dan sikap karakter tokoh secara utuh di setiap aksi dan reaksi spontan sepanjang adegan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah seluruh kelompok berhasil mengalirkan improvisasi aksi-reaksi tanpa terputus atau canggung?
- Bagaimana variasi strategi pendampingan yang perlu disesuaikan untuk kelompok yang masih pasif dalam merespons aksi spontan teman?
Murid:- Bagian mana dari adegan improvisasi tadi yang reaksimu terasa paling spontan dan pas dengan aksi temanmu?
- Tantangan apa yang kamu rasakan saat harus tetap mempertahankan karakter tokohmu sambil merespons tindakan teman yang tidak terduga?
Pertemuan 6 — Memainkan Ragam Peran dari Cerita Sederhana Berdasarkan Pengamatan Kebiasaan Tokoh Sehari-hari — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 6.1.4 Memainkan ragam peran dari cerita sederhana berdasarkan hasil pengamatan
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa bersama (3 menit).
- Guru mengecek kehadiran dan kesiapan fisik ruang kelas untuk aktivitas pemeranan (2 menit).
- Guru memandu asesmen awal berupa 'Permainan Cermin Kebiasaan': guru menyebutkan 3 sosok profesi/tokoh sehari-hari, yaitu (1) Guru piket yang sedang mencatat keterlambatan, (2) Penjual bakso keliling yang mendorong gerobak, dan (3) Petugas kebersihan yang menyapu halaman; seluruh murid secara serentak memperagakan satu kebiasaan fisik khas masing-masing tokoh selama 30 detik untuk memetakan kesiapan mewujudkan ragam peran berdasarkan pengamatan (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu memainkan ragam peran dari cerita sederhana berdasarkan hasil pengamatan kebiasaan tokoh sehari-hari (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak satu teks cerita sederhana berjudul 'Pagi di Gerbang Sekolah' yang dibacakan guru. Cerita memuat 3 tokoh dengan kebiasaan khas hasil pengamatan: Tokoh 1 (Pak Danu, satpam sekolah yang tegas, selalu berdiri tegak dengan tangan di belakang pinggang dan sering mengecek jam tangan), Tokoh 2 (Nenek Minah, penjual jajanan tradisional yang ramah, berjalan agak membungkuk sambil mengipas dagangannya), dan Tokoh 3 (Dodi, murid kelas 6 yang terburu-buru, melangkah cepat setengah berlari sambil merapikan tali tas ransel) (10 menit).
- Murid secara mandiri mencocokkan daftar 3 tokoh dengan ciri kebiasaan fisik hasil pengamatan pada lembar panduan peran untuk mengonstruksi pemahaman ragam peran sebelum dimainkan: Tokoh 1 -> berdiri tegak dan cek jam tangan; Tokoh 2 -> membungkuk dan mengipas; Tokoh 3 -> melangkah cepat dan membetulkan tali ransel (acuan: pasangan sesuai deskripsi cerita di atas) (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid mengikuti tantangan menggembirakan 'Roda Tokoh Berganti': guru membagi kelas menjadi 3 sudut peran (Sudut Satpam Pak Danu, Sudut Nenek Minah, Sudut Dodi). Murid berlatih memainkan kebiasaan gerak dan dialog pendek masing-masing tokoh sesuai ciri khas hasil pengamatan selama 5 menit per sudut secara bergantian, sehingga setiap murid berkesempatan memainkan ketiga ragam peran tersebut secara menyenangkan (20 menit).
- Murid memilih 2 dari 3 ragam peran dari cerita 'Pagi di Gerbang Sekolah' untuk dimainkan secara mandiri di area panggung kelas. Murid memainkan peran pertama selama 1 menit, melakukan jeda transisi 30 detik, lalu memainkan peran kedua selama 1 menit dengan mewujudkan kebiasaan fisik tokoh yang berbeda secara konsisten berdasarkan hasil pengamatan (30 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid duduk melingkar dan mengidentifikasi keberhasilan dirinya dalam mengubah kebiasaan fisik antara peran pertama dan peran kedua saat memainkan peran tadi (acuan: apakah perubahan cara berjalan dan gestur tangan berhasil dimunculkan secara berbeda untuk kedua tokoh) (10 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan bagaimana hasil pengamatan kebiasaan sehari-hari membantu seorang pemeran menghidupkan ragam tokoh dalam cerita sederhana (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik langsung terhadap ketercapaian memainkan ragam peran dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan kartu panduan visual berisi gambar siluet gestur kebiasaan tokoh (Pak Danu berdiri tegak mengecek jam, Nenek Minah membungkuk mengipas, Dodi berjalan cepat merapikan tas) bagi murid yang membutuhkan bantuan visual concretisation.
- Proses: Bagi murid yang masih ragu, guru memberikan demonstrasi pengulangan satu gestur kunci sebelum murid memainkan peran; bagi murid yang cepat menguasai, ditantang memainkan ketiga ragam tokoh secara berurutan tanpa jeda waktu lama.
- Produk: Murid dapat memilih memainkan minimal 2 ragam peran dari cerita yang disediakan, baik peran dengan kebiasaan fisik dinamis (Dodi) maupun peran dengan kebiasaan fisik tenang/lambat (Pak Danu atau Nenek Minah).
Asesmen Pertemuan:Awal:- Unjuk kerja peragaan spontan 'Permainan Cermin Kebiasaan' untuk mengecek kesiapan murid memainkan kebiasaan tokoh sehari-hari: (1) Guru piket mencatat keterlambatan -> gestur memegang buku dan pulpen dengan tatapan mengamati; (2) Penjual bakso -> gestur kedua tangan mendorong gerobak; (3) Petugas kebersihan -> gestur kedua tangan mengayunkan sapu lidi (kriteria siap: murid dapat langsung memperagakan minimal 2 dari 3 gestur kebiasaan tokoh tersebut secara tepat tanpa ragu).
Proses:- Observasi unjuk kerja saat murid memainkan 2 ragam peran dari cerita 'Pagi di Gerbang Sekolah' dengan fokus penilaian pada: (1) Ketepatan mewujudkan kebiasaan fisik tokoh berdasarkan pengamatan (Pak Danu: tegak & cek jam; Nenek Minah: bungkuk & mengipas; Dodi: langkah cepat & rapikan tas); (2) Kejelasan transisi dan pembedaan kebiasaan fisik antara kedua peran yang dimainkan.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman/refleksi akhir mandiri: murid memperagakan kembali satu gestur kebiasaan fisik khas dari tokoh yang paling berhasil dimainkannya di hadapan guru saat penutupan (kriteria ketercapaian: gestur memuat minimal 1 ciri khas kebiasaan tokoh yang dimainkan sesuai naskah: Pak Danu = mengecek jam/tegak; Nenek Minah = membungkuk/mengipas; Dodi = melangkah cepat/merapikan ransel).
Formatif:- Unjuk kerja pemeranan ragam peran dari cerita sederhana berdasarkan rubrik observasi kebiasaan tokoh hasil pengamatan
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Mewujudkan Ragam Peran Berdasarkan Pengamatan Kebiasaan Tokoh (Pak Danu: tegak & cek jam tangan; Nenek Minah: bungkuk & mengipas; Dodi: jalan cepat & rapikan ransel) | Belum mampu mewujudkan kebiasaan fisik khas tokoh dari cerita saat memainkan peran, gestur masih kaku dan sama untuk semua peran meski telah dibimbing guru. | Mampu mewujudkan kebiasaan fisik khas dari 1 peran saja sesuai pengamatan dengan bimbingan guru, sedangkan peran lainnya belum menunjukkan kebiasaan tokoh. | Mampu memainkan 2 ragam peran secara mandiri dengan mewujudkan kebiasaan fisik khas masing-masing tokoh (misal: Pak Danu dan Dodi) secara tepat dan berbeda. | Mampu memainkan 3 ragam peran secara mandiri, konsisten, dan lancar dengan mewujudkan seluruh ciri kebiasaan fisik khas masing-masing tokoh secara kontras dan hidup. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alur bermain peran bergantian di 3 sudut efektif memberi kesempatan yang adil bagi seluruh murid untuk mencoba ragam peran?
- Apakah teks cerita sederhana yang digunakan cukup jelas memuat detail kebiasaan tokoh yang mudah diamati dan diperagakan murid?
Murid:- Kebiasaan fisik tokoh mana yang paling mudah dan paling menantang untuk saya mainkan tadi?
- Bagaimana cara saya membedakan cara bergerak tubuh saya saat berpindah dari satu tokoh ke tokoh lainnya?
Pertemuan 7 — Memerankan Lakon Berkelompok Sederhana Berdasarkan Minat, Pengamatan, dan Pengalaman Pribadi — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 6.1.5 Memerankan lakon secara individu maupun berkelompok berdasarkan minat, pengamatan, dan pengalaman
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa bersama (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu memerankan lakon sederhana secara berkelompok berdasarkan minat, pengamatan, dan pengalaman pribadi sehari-hari (2 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui permainan pemanasan peran singkat 'Tebak Lakon Pengalaman': guru menyebutkan 2 situasi pengalaman nyata di sekolah (Situasi A: 'Murid panik mencari buku PR yang terselip di tas'; Situasi B: 'Petugas piket saling mengingatkan membersihkan papan tulis'), lalu meminta perwakilan murid memperagakan peran tersebut secara spontan untuk memetakan kesiapan murid dalam memerankan situasi nyata (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna):- Murid dalam kelompok (terdiri dari 4-5 murid) menyimak penjelasan guru tentang cara menyusun pembagian peran lakon kelompok berdurasi 3-4 menit berdasarkan 3 tema pilihan lakon pengalaman nyata: Tema 1 'Suasana Antre Membeli Makanan Sehat di Kantin', Tema 2 'Kerja Sama Menghias Pojok Baca Kelas', atau Tema 3 'Menolong Teman yang Terjatuh saat Jam Istirahat' (5 menit).
- Setiap kelompok memilih 1 tema lakon sesuai minat bersama, lalu menentukan peran masing-masing anggota kelompok berdasarkan pengalaman atau pengamatan pribadi terhadap tokoh-tokoh dalam tema tersebut (misal: pemeran penjual kantin, pembeli terburu-buru, murid penyabar, atau ketua regu piket) (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):- Kelompok melakukan latihan peran (gladi kotor lakon kelompok) dengan memainkan interaksi antartokoh sesuai peran yang dipilih dari hasil pengamatan dan pengalaman nyata mereka (20 menit).
- Setiap kelompok secara bergiliran menampilkan pementasan peran lakon kelompok sederhana di area panggung kelas dengan durasi 3-4 menit per kelompok, menampilkan peran yang terhubung dengan minat dan pengalaman nyata (35 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid bersama guru melakukan refleksi sejenak mengenai bagaimana peran yang dimainkan mencerminkan situasi nyata hasil pengamatan dan pengalaman yang telah dipilih (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan apresiasi dan umpan balik langsung terhadap keberhasilan setiap kelompok dalam membawakan peran lakon berdasarkan pengalaman nyata (5 menit).
- Guru mengingatkan persiapan untuk asesmen unjuk kerja pada pertemuan berikutnya dan menutup pembelajaran dengan doa bersama (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan 3 pilihan tema lakon berbasis pengalaman konkret di lingkungan sekolah (kantin, pojok baca, jam istirahat) yang dapat dipilih sesuai minat kelompok.
- Proses: Kelompok yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan urutan adegan sederhana oleh guru, sedangkan kelompok yang mandiri langsung merangkai pembagian peran berdasarkan pengalaman pribadi mereka secara otonom.
- Produk: Pementasan peran lakon kelompok sederhana dengan variasi jumlah dialog dan interaksi peran yang disesuaikan dengan kesiapan masing-masing anggota kelompok.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pemanasan peran berpasangan/spontan: Guru mengamati kemampuan murid memeragakan peran dalam 2 skenario nyata berikut: (1) Situasi A: mencari buku PR yang terselip; (2) Situasi B: petugas piket membersihkan papan tulis. Acuan ketercapaian awal: Murid mampu membawakan aksi peran yang sesuai dengan konteks situasi nyata tanpa ragu (kategori: siap mandiri) atau masih membutuhkan contoh/arahan guru (kategori: butuh bimbingan).
Proses:- Observasi unjuk kerja saat kelompok memerankan lakon sederhana: Guru menilai konsistensi murid dalam membawakan karakternya dari awal hingga akhir lakon, kesesuaian laku peran dengan peran yang dipilih berdasarkan minat/pengamatan/pengalaman pribadi, serta interaksi peran dalam kelompok.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman dan refleksi singkat di akhir sesi: Setiap murid menyatakan 1 laku peran yang ia bawakan tadi yang bersumber langsung dari pengamatan atau pengalaman pribadinya di sekolah (Kriteria penerimaan: murid menyebutkan tindakan perannya secara konkret dan menghubungkannya dengan pengalaman nyata, misal: 'Saya tadi memerankan pedagang yang sibuk mengambilkan piring seperti ibu kantin sekolah').
Formatif:- Asesmen Awal: Pengamatan unjuk kerja peragaan spontan situasi nyata (Situasi A: mencari buku PR; Situasi B: piket papan tulis).
- Asesmen Proses: Lembar observasi unjuk kerja pemeranan lakon berkelompok berdasarkan minat, pengamatan, dan pengalaman pribadi.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Pemeranan lakon berkelompok berdasarkan minat, pengamatan, dan pengalaman | Belum mampu memerankan tokoh dalam lakon kelompok; peran tidak konsisten dan pasif selama lakon berlangsung meskipun telah dibimbing. | Mampu memerankan tokoh dalam lakon kelompok, namun laku peran belum sepenuhnya mencerminkan hasil pengamatan atau pengalaman pribadi, serta masih membutuhkan arahan guru saat beraksi bersama kelompok. | Mampu memerankan tokoh dalam lakon kelompok secara konsisten dari awal hingga akhir pertunjukan dengan laku peran yang jelas mencerminkan minat, pengamatan, atau pengalaman pribadi. | Mampu memerankan tokoh dalam lakon kelompok secara konsisten, luwes, dan mandiri penuh dengan menghidupkan detail laku peran nyata hasil pengamatan dan pengalaman pribadi serta berinteraksi aktif mendukung peran anggota kelompok lainnya. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu untuk latihan dan pementasan lakon kelompok cukup memfasilitasi seluruh kelompok?
- Bagaimana keterlibatan setiap murid dalam memilih peran yang sesuai dengan minat dan pengalaman pribadinya?
Murid:- Bagian mana dari peran yang saya mainkan tadi yang paling sesuai dengan pengalaman sehari-hari saya?
- Apa yang saya rasakan ketika berhasil memerankan lakon bersama teman sekelompok di depan kelas?
Pertemuan 8 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 6.1.1 Melakukan pengenalan karakter melalui pengamatan kebiasaan tokoh yang diperankan
- TP 6.1.2 Menceritakan pendapatnya tentang sebuah cerita sederhana meliputi aspek penokohan dan perwatakan
- TP 6.1.3 Melakukan permainan peran berkelompok melalui improvisasi untuk melatih aksi dan reaksi dalam mengelaborasi tokoh
- TP 6.1.4 Memainkan ragam peran dari cerita sederhana berdasarkan hasil pengamatan
- TP 6.1.5 Memerankan lakon secara individu maupun berkelompok berdasarkan minat, pengamatan, dan pengalaman
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, serta memfasilitasi doa bersama sebelum memulai asesmen sumatif unjuk kerja Bab 1 (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif, yaitu unjuk kerja terpadu penyampaian lisan ulasan penokohan cerita serta pementasan peran improvisasi lakon sederhana secara berkelompok (2 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Guru menjelaskan tata tertib panggung, urutan tampil untuk 7 kelompok (masing-masing 4 murid), serta membacakan rubrik penilaian yang mencakup aspek pengenalan karakter, penyampaian pendapat penokohan/perwatakan, improvisasi aksi-reaksi, ragam peran hasil pengamatan, dan penghayatan lakon (5 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Tugas 1: Setiap kelompok secara bergiliran (7 kelompok x 5 menit) menyampaikan ulasan lisan di depan kelas mengenai hasil pengamatan kebiasaan fisik tokoh serta pendapat tentang penokohan dan perwatakan tokoh utama maupun tokoh pendukung dalam cerita sederhana yang mereka pilih (35 menit).
- Tugas 2: Setiap kelompok secara bergiliran (7 kelompok x 8 menit ditambah total transisi panggung 4 menit) menampilkan pertunjukan pementasan lakon sederhana yang memperagakan improvisasi spontan aksi-reaksi antartokoh, membawakan ragam peran dari hasil pengamatan lingkungan, dan menghayati peran sesuai minat kelompok (55 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Seluruh murid secara bersama-sama dalam kelompok merefleksikan proses unjuk kerja yang baru saja ditampilkan, mengidentifikasi keberhasilan kelompok dalam menjaga kesinambungan aksi-reaksi panggung dan menyampaikan ulasan penokohan (3 menit).
Penutup:- Guru mengapresiasi kerja sama seluruh kelompok yang telah menyelesaikan asesmen sumatif unjuk kerja dan mengumumkan bahwa materi Bab 1 tentang Dasar-Dasar Pemeranan telah tuntas (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Akomodasi akses: teks cerita sederhana dan catatan pengamatan karakter disiapkan dalam cetakan berhuruf besar bagi murid yang membutuhkan bantuan visual.
- Proses: Akomodasi akses: giliran tampil dan transisi kelompok diatur secara jelas di papan tulis agar murid dapat mempersiapkan diri secara teratur.
- Produk: Standar capaian unjuk kerja tetap sama bagi seluruh murid sesuai kriteria rubrik sumatif.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pemeriksaan kesiapan kelompok sebelum unjuk kerja dimulai (kriteria siap: masing-masing dari 7 kelompok telah menetapkan judul cerita sederhana, membagi peran untuk 4 anggota, dan siap menyampaikan ulasan lisan penokohan serta memainkan lakon pementasan).
Sumatif Bab:- Unjuk kerja terpadu (analisis lisan penokohan dan pementasan peran improvisasi lakon sederhana secara berkelompok): Rekaman performa kelompok berupa penyampaian lisan ulasan karakter serta pementasan lakon sederhana yang menampilkan pengenalan karakter, aksi-reaksi improvisasi, dan ragam perwatakan tokoh
- Presentasi lisan pengenalan karakter dan analisis cerita: Penyampaian lisan per kelompok secara bergiliran (7 kelompok @ 4 murid, masing-masing 5 menit) mengenai hasil pengamatan kebiasaan tokoh serta opini penokohan dan perwatakan dalam cerita sederhana yang dipilih (35 menit; kelompok; instrumen: Rubrik penilaian presentasi lisan penokohan dan karakter)
- Kinerja bermain peran dan pementasan lakon sederhana: Penampilan pementasan lakon sederhana berkelompok (7 kelompok @ 4 murid, masing-masing 10 menit termasuk transisi) yang memperagakan improvisasi aksi-reaksi, ragam peran hasil pengamatan, serta penghayatan lakon sesuai minat kelompok (70 menit; kelompok; instrumen: Rubrik unjuk kerja pemeranan dan improvisasi aksi-reaksi)
Sumatif:- Unjuk kerja terpadu (analisis lisan penokohan dan pementasan peran improvisasi lakon sederhana secara berkelompok): Rekaman performa kelompok berupa penyampaian lisan ulasan karakter serta pementasan lakon sederhana yang menampilkan pengenalan karakter, aksi-reaksi improvisasi, dan ragam perwatakan tokoh
- Presentasi lisan pengenalan karakter dan analisis cerita: Penyampaian lisan per kelompok secara bergiliran (7 kelompok @ 4 murid, masing-masing 5 menit) mengenai hasil pengamatan kebiasaan tokoh serta opini penokohan dan perwatakan dalam cerita sederhana yang dipilih (35 menit; kelompok; instrumen: Rubrik penilaian presentasi lisan penokohan dan karakter)
- Kinerja bermain peran dan pementasan lakon sederhana: Penampilan pementasan lakon sederhana berkelompok (7 kelompok @ 4 murid, masing-masing 10 menit termasuk transisi) yang memperagakan improvisasi aksi-reaksi, ragam peran hasil pengamatan, serta penghayatan lakon sesuai minat kelompok (70 menit; kelompok; instrumen: Rubrik unjuk kerja pemeranan dan improvisasi aksi-reaksi)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Pengenalan Karakter dan Ulasan Penokohan (TP 6.1.1 & TP 6.1.2) [Acuan: menyebutkan kebiasaan fisik tokoh hasil pengamatan dan pendapat perwatakan tokoh cerita] | Murid belum mampu menyampaikan kebiasaan fisik tokoh hasil pengamatan dan belum memberikan pendapat tentang penokohan/perwatakan tokoh cerita. | Murid menyebutkan kebiasaan fisik tokoh tetapi belum menyampaikan pendapat tentang perwatakan tokoh cerita sederhana. | Murid mampu menceritakan kebiasaan fisik tokoh hasil pengamatan serta menyampaikan pendapat tentang penokohan dan perwatakan tokoh utama maupun pendukung dengan tepat sesuai cerita yang dipilih. | Murid secara runtut dan mandiri menceritakan kebiasaan fisik tokoh hasil pengamatan serta menguraikan pendapat perwatakan dan hubungan antartokoh secara utuh dan jelas. | | Improvisasi Aksi dan Reaksi Tokoh (TP 6.1.3) [Acuan: spontanitas gerak/kata aksi dan tanggapan reaksi terhadap lawan main dalam adegan] | Murid terdiam atau pasif di panggung, belum mampu memberikan aksi maupun reaksi improvisasi terhadap lawan main. | Murid melakukan aksi namun belum mampu merespons atau memberikan reaksi yang selaras terhadap aksi yang diberikan lawan main. | Murid secara konsisten melakukan aksi dan memberikan reaksi spontan yang saling mendukung antaranggota kelompok untuk mengelaborasi adegan. | Murid sangat luwes dan berinisiatif tinggi dalam melancarkan aksi serta merespons reaksi lawan main secara berkesinambungan tanpa kehilangan fokus lakon. | | Pemeranan Lakon dan Ragam Peran (TP 6.1.4 & TP 6.1.5) [Acuan: perwujudan gestur/suara peran hasil pengamatan dan keutuhan alur lakon berdasarkan minat] | Murid belum menampilkan gestur atau kebiasaan tokoh yang diperankan dan alur lakon terputus. | Murid mulai memainkan peran dengan sedikit gestur tokoh namun belum menghayati peran sesuai alur lakon kelompok. | Murid memainkan ragam peran sesuai kebiasaan tokoh hasil pengamatan dan memerankan alur lakon kelompok secara utuh dari awal hingga akhir. | Murid menampilkan penghayatan peran yang sangat meyakinkan sesuai hasil pengamatan dan memimpin keutuhan alur lakon kelompok secara hidup. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 35 menit untuk tugas lisan dan 60 menit untuk pementasan lakon berjalan efektif untuk seluruh 7 kelompok?
- Bagaimana ketercapaian seluruh TP Bab 1 murid berdasarkan rubrik unjuk kerja sumatif yang telah dilaksanakan?
Murid:- Bagian mana dari penampilan peran kelompokmu yang paling berhasil menghidupkan suasana lakon?
- Pelajaran berharga apa tentang kerja sama teater yang kamu peroleh selama menyelesaikan proyek Bab 1 ini?
SUMBER BELAJAR- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas VI (Edisi Revisi)
- Gambar/foto figur beragam profesi di lingkungan sekitar (penjual jamu, satpam, perajin, dll.)
- Kartu permainan tebak peran sosok sekitar (Kartu A, B, C, D)
- Buku Panduan Guru Seni Teater SD Kelas VI
- Teks fabel sederhana 'Lompatan Kejujuran'
- Kartu watak (jujur, pemberani, penolong, egois)
- Lembar analisis penokohan dan perwatakan
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas VI (Edisi Revisi).
- Teks cerita sederhana 'Panggung Boneka di Sudut Kelas'.
- Lembar analisis penokohan dan hubungan antartokoh.
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas VI (Kemendikbudristek, 2023), Bab 1 Kegiatan 3 (Improvisasi Kelompok)
- 4 Set Kartu Rangsang Improvisasi (Kartu 1: Tas tertukar di stasiun; Kartu 2: Pesanan salah di kantin; Kartu 3: Kucing terjebak di pohon taman; Kartu 4: Antrean loket wahana tutup)
- Benda-benda kelas sebagai properti improvisasi sederhana (kursi, spidol, tas, buku catatan)
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas VI (Kemendikbudristek, 2023) Bab 1 Aktivitas 3.3
- Kartu rangsang adegan improvisasi (4 set skenario peristiwa, latar, waktu)
- Benda-benda kelas sebagai properti imajinatif (spidol, buku, kursi, penggaris)
- Naskah cerita sederhana 'Pagi di Gerbang Sekolah'
- Kartu panduan peran dan ciri kebiasaan tokoh sehari-hari
- Ruang kelas yang ditata sebagai area panggung terbuka
- Kartu tema situasi lakon sekolah (Kantin, Pojok Baca, Jam Istirahat)
- Properti sederhana yang ada di ruang kelas (buku, tas, meja piket, sapu)
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas VI (Kemendikbudristek, 2023) Bab 1
- Ruang kelas/panggung kelas sederhana beserta properti pendukung lakon buatan murid
- Lembar rubrik penilaian unjuk kerja sumatif Bab 1
|