MODUL AJAR Seni Teater — Kelas 5 (Fase C) Topik: Bab 3 — Menjadi Karakter INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | Seni Teater |
|---|
| Fase / Kelas | Fase C / Kelas 5 |
|---|
| Topik | Bab 3 — Menjadi Karakter |
|---|
| Alokasi Waktu | 26 JP (26 x 35 menit = 910 menit) |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 9 |
|---|
| Tahun Ajaran | 2026/2027 |
|---|
| Semester | 2 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- TP 5.3.1 Melakukan pengenalan karakter melalui pengamatan kebiasaan tokoh yang diperankan
- TP 5.3.2 Melakukan improvisasi untuk melatih aksi dan reaksi dalam mengelaborasi tokoh
- TP 5.3.3 Menceritakan pendapatnya tentang penokohan dan perwatakan sebuah cerita sederhana
- TP 5.3.4 Memainkan ragam peran dari cerita sederhana berdasarkan hasil pengamatan
- TP 5.3.5 Memerankan lakon secara individu berdasarkan minat, pengamatan, dan pengalaman
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | | | Kewargaan | | | Penalaran Kritis | ✓ | | Kreativitas | ✓ | | Kolaborasi | ✓ | | Kemandirian | ✓ | | Kesehatan | | | Komunikasi | ✓ |
PERTANYAAN PEMANTIK- Bagaimana kita bisa mengenali kebiasaan khas seseorang hanya dengan mengamati cara dia bergerak atau beraktivitas?
- Mengapa seorang pemeran teater perlu memperhatikan detail kebiasaan tokoh di sekitarnya sebelum mencoba mengenal karakternya?
- Bagaimana cara tubuh dan suaramu berubah saat menirukan kebiasaan seseorang?
- Mengapa kebiasaan gerak dan vokal membuat karakter yang kita peragakan langsung dikenali?
- Apa yang tubuhmu lakukan secara spontan jika tiba-tiba ada benda melayang ke arahmu?
- Bagaimana gerakan tubuh seorang tokoh ketika menerima aksi spontan yang mengejutkan dari teman mainnya?
- Bagaimana caramu merespons secara spontan ketika teman bermain peran melakukan aksi yang tidak terduga?
- Mengapa reaksi seorang tokoh penakut akan sangat berbeda dengan tokoh pemberani saat menghadapi aksi yang sama?
- Bagaimana kita bisa mengetahui sifat atau watak seseorang hanya dari tindakan dan kata-katanya di dalam cerita?
- Apakah watak tokoh yang suka menolong selalu membawa akhir yang baik dalam sebuah lakon cerita?
- Bagaimana caramu memainkan peran tokoh yang berbeda dari sifat aslimu sehari-hari?
- Apa yang perlu kita perhatikan dari hasil pengamatan agar peran tokoh yang kita mainkan terlihat hidup dalam cerita?
- Bagaimana perasaanmu ketika harus berbicara dan berakting sendirian di depan teman-teman sebagai tokoh lain?
- Bagaimana cara kita membawakan sebuah lakon monolog agar karakter yang kita amati benar-benar hidup di atas panggung?
- Peristiwa apa dalam keseharianmu yang paling menarik untuk diceritakan kembali?
- Bagaimana perasaan dan tindakanmu saat kamu menghadapi kejadian nyata tersebut ketika diperankan sendirian?
- Bagaimana kita menghidupkan kebiasaan tokoh yang pernah kita amati agar tampak meyakinkan saat berakting?
- Mengapa aksi dan reaksi yang tanggap sangat penting dalam pementasan drama kelompok?
- Apa yang membuat pendapat kita tentang watak tokoh menjadi jelas dan tepat setelah menyaksikan sebuah lakon?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1 — Melakukan Pengamatan Kebiasaan Tokoh di Lingkungan Sekitar untuk Pengenalan Karakter — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 5.3.1 Melakukan pengenalan karakter melalui pengamatan kebiasaan tokoh yang diperankan
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyiapkan suasana belajar yang kondusif (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu mengenali karakter tokoh melalui pengamatan kebiasaan tokoh nyata di lingkungan sekitar sekolah (2 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui tanya jawab singkat tentang 3 ciri fisik/kebiasaan gerak khas dari 2 profesi di sekolah (acuan profesi: satpam dan petugas kebersihan) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Guru memberikan panduan pengamatan berkesadaran: murid diarahkan untuk fokus mencatat 3 aspek kebiasaan tokoh, yaitu cara melangkah/berjalan, posisi/sikap tubuh saat beraktivitas, dan gerakan tangan yang berulang (7 menit).
- Murid menyimak penjelasan guru tentang etika mengamati orang lain secara santun tanpa mengganggu aktivitas orang yang diamati (3 menit).
Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):- Murid melakukan penjelajahan di area lingkungan sekolah secara mandiri selama 10 menit untuk mengamati 1 tokoh nyata (misalnya: penjaga sekolah, petugas kebersihan, guru piket, atau pengelola kantin) dan mencatat kebiasaan geraknya pada lembar pengamatan (10 menit).
- Murid kembali ke ruang kelas dan menyusun catatan pengamatan karakter ke dalam lembar pengamatan yang mencakup 3 aspek kebiasaan: (1) cara melangkah/berjalan, (2) posisi tubuh, (3) gerakan tangan berulang (10 menit).
- Murid melakukan permainan tebak kebiasaan tokoh secara berpasangan dengan saling menunjukkan catatan deskripsi kebiasaan tanpa menyebutkan nama tokoh/profesinya, lalu pasangannya menebak tokoh yang dimaksud (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid meninjau kembali catatan pengamatan mereka dan memeriksa apakah kebiasaan yang dicatat sudah cukup spesifik untuk membedakan tokoh tersebut dari tokoh lainnya (5 menit).
- Guru memfasilitasi penarikan simpulan bahwa pengamatan detail terhadap kebiasaan tokoh adalah langkah awal yang nyata untuk mengenali karakter (5 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan pentingnya kepekaan mengamati detail kebiasaan tokoh di sekitar sebagai dasar pengenalan karakter (3 menit).
- Guru menyampaikan apresiasi atas ketelitian murid dalam mengamati serta memberikan gambaran singkat bahwa catatan ini akan menjadi bekal untuk pertemuan berikutnya, lalu menutup sesi dengan doa bersama (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Bagi murid yang membutuhkan bimbingan, guru menyediakan kartu panduan berisi contoh 3 pilihan fokus pengamatan (misal: kecepatan jalan, ketegakan punggung, ayunan tangan). Bagi murid yang cepat, mereka diarahkan mengamati detail tambahan seperti tempo gerakan dan pola perubahan posisi tubuh.
- Proses: Murid yang memerlukan pendampingan didampingi guru di area pengamatan terdekat (halaman depan kelas), sedangkan murid yang mandiri dapat mengamati secara leluasa di area sekolah yang disepakati (kantin, gerbang, ruang guru).
- Produk: Lembar pengamatan karakter dapat diisi dalam bentuk poin-poin deskripsi singkat atau bagan visual sederhana yang merinci 3 aspek kebiasaan tokoh.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik lisan di awal pembelajaran: Guru bertanya kepada murid, 'Sebutkan masing-masing minimal 1 kebiasaan gerak khas dari satpam sekolah dan petugas kebersihan saat bertugas!' (Acuan jawaban yang diterima: Satpam: berdiri tegak, langkah tegap, tangan memberi hormat/isyarat menyetop kendaraan; Petugas kebersihan: tubuh membungkuk, langkah menyapu/bergeser perlahan, tangan memegang dan mengayun gagang sapu/alat pel).
Proses:- Observasi keterlibatan dan kelengkapan catatan pengamatan murid selama mengamati tokoh di lingkungan sekolah dan saat mencatat 3 aspek kebiasaan (cara melangkah, posisi tubuh, gerakan tangan berulang).
Akhir Pertemuan:- Pengecekan hasil lembar pengamatan kebiasaan tokoh pada akhir kegiatan inti/penutup (kriteria ketercapaian: lembar terisi lengkap memuat 1 nama tokoh/profesi yang diamati serta mendeskripsikan secara tepat ketiga aspek kebiasaan gerak tokoh: cara melangkah, posisi tubuh, dan gerakan tangan berulang).
Formatif:- Penilaian unjuk kerja pengamatan menggunakan lembar pengamatan kebiasaan tokoh (memuat 3 aspek: cara melangkah/berjalan, posisi/sikap tubuh, gerakan tangan berulang).
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Pengenalan Karakter melalui Pengamatan Kebiasaan Tokoh | Mencatat kurang dari 2 aspek kebiasaan tokoh pada lembar pengamatan dengan deskripsi yang belum menggambarkan ciri khas tokoh. | Mencatat 2 aspek kebiasaan tokoh (dari 3 aspek: cara melangkah, posisi tubuh, gerakan tangan berulang) dengan deskripsi yang cukup jelas namun masih membutuhkan bimbingan guru. | Mencatat seluruh 3 aspek kebiasaan tokoh (cara melangkah, posisi tubuh, gerakan tangan berulang) secara tepat dan mandiri sesuai hasil pengamatan. | Mencatat seluruh 3 aspek kebiasaan tokoh secara sangat rinci, tepat, mandiri, serta mampu menunjukkan detail tempo dan kekhasan gerakan tokoh secara konsisten. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu penjelajahan lingkungan sekolah selama 10 menit cukup bagi seluruh murid untuk menemukan dan mengamati kebiasaan tokoh secara fokus?
- Bagian mana dari panduan pengamatan yang paling dipahami murid dan bagian mana yang masih membutuhkan bantuan?
Murid:- Kebiasaan unik apa yang paling menarik perhatianmu saat mengamati tokoh di sekolah tadi?
- Kesulitan apa yang kamu temui saat mencoba mencatat kebiasaan gerak orang lain secara teliti?
Pertemuan 2 — Melakukan Pengenalan Karakter Melalui Peragaan Kebiasaan Gerak dan Vokal Tokoh yang Diperankan — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 5.3.1 Melakukan pengenalan karakter melalui pengamatan kebiasaan tokoh yang diperankan
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan memandu pemanasan olah tubuh serta vokal sederhana (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu mengenalkan karakter melalui peragaan kebiasaan gerak dan vokal tokoh yang diamati (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik dengan meminta murid menirukan 1 dari 2 contoh kebiasaan tokoh: Tokoh A (penjual keliling: berjalan cepat memikul barang sambil menyerukan 'Sayur, sayur!') atau Tokoh B (kakek membaca koran: duduk bungkuk membetulkan kacamata sambil berdeham 'Ehem, ehem'); guru mencatat kesiapan murid menghubungkan gerak dan vokal dengan kebiasaan tokoh (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Berkesadaran):- Murid menyimak peragaan perbandingan oleh guru yang menampilkan 3 profil kebiasaan tokoh: Tokoh 1 (Satpam sekolah: berdiri tegak berkacak pinggang, melangkah tegas, vokal lantang 'Selamat pagi, silakan masuk!'); Tokoh 2 (Petugas perpustakaan: berjalan perlahan tanpa suara, meletakkan jari di bibir, vokal berbisik 'Harap tenang ya'); Tokoh 3 (Pedagang bakso: berjalan mendorong gerobak agak condong ke depan, memukul mangkuk secara ritmis, vokal bernada 'Bakso hangat!' (15 menit).
- Murid secara berpasangan mengidentifikasi kesesuaian antara kebiasaan gerak dan vokal dari ketiga profil tokoh tersebut dengan mencocokkan ciri fisik dan suara khas yang menjadi penanda karakter tokoh (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan):- Murid memilih 1 dari 3 kartu kebiasaan tokoh lingkungan sekitar yang disediakan guru: Kartu A (Tukang Pos: berjalan tergesa-gesa memegang tas selempang tebal, menoleh kanan-kiri mencari alamat, berseru 'Paket, permisi paket!'), Kartu B (Dokter Cilik/PMR UKS: berjalan rapi memegang papan periksa, mengarahkan tangan memeriksa kening, bersuara tenang dan lembut 'Buka mulutnya dan tarik napas ya'), atau Kartu C (Petugas Kebersihan: membungkuk menyapu lantai dengan ayunan tangan berirama, mengelap keringat di dahi, bersuara ramah 'Permisi, sampahnya diangkat dulu ya') (15 menit).
- Dalam format permainan tebak peran bergilir, setiap murid memperagakan kebiasaan gerak dan vokal tokoh dari kartu pilihannya selama 1 menit secara mandiri di hadapan lingkaran teman kelompoknya yang bertugas mengenali karakter tokoh yang diperagakan berdasarkan ciri gerak dan vokalnya (30 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid mengevaluasi peragaan dirinya dengan menyebutkan bagian kebiasaan gerak dan vokal mana yang paling berhasil memperlihatkan karakter tokoh pilihannya (10 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan bagaimana kebiasaan gerak dan vokal menjadi kunci pengenalan karakter tokoh (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik atas peragaan murid, mengingatkan latihan kebiasaan karakter di rumah, dan menutup pertemuan dengan doa serta salam (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan dengan rincian gerakan dan kalimat vokal terstruktur (Kartu A/B/C); murid yang lebih cepat diberikan opsi menambahkan variasi tempo jalan atau volume vokal pada kartu yang sama.
- Proses: Murid yang masih ragu diberi kesempatan berlatih menirukan gerak dan vokal bersama teman sebangku sebelum tampil mandiri; murid mandiri langsung memperagakan di lingkaran tebak peran.
- Produk: Semua murid memperagakan kebiasaan gerak dan vokal tokoh; tingkat kelengkapan dinilai berdasarkan keselarasan gerak tubuh dan suara khas tokoh sesuai kartu acuan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik peragaan singkat kebiasaan tokoh: Murid diminta menirukan 1 dari 2 stimulus kebiasaan tokoh. Acuan penilaian: (1) Tokoh A: gerak melangkah cepat/memikul dan vokal berseru 'Sayur, sayur!'; (2) Tokoh B: gerak bungkuk/membetulkan kacamata dan vokal berdeham 'Ehem, ehem'. Murid yang mampu memadukan minimal 1 gerak dan 1 vokal dinyatakan siap; murid yang hanya menampilkan salah satu atau diam diberi bimbingan saat tahap memahami.
Proses:- Lembar observasi peragaan kebiasaan tokoh saat permainan tebak peran. Target acuan pengamatan: Keselarasan antara kebiasaan gerak tubuh (sikap melangkah/sikap tubuh) dan kebiasaan vokal (dialog/suara khas) sesuai kartu pilihan: Kartu A (jalan tergesa/tas selempang + vokal 'Paket, permisi paket!'), Kartu B (jalan rapi/memeriksa kening + vokal tenang 'Buka mulutnya dan tarik napas ya'), atau Kartu C (membungkuk menyapu/lap keringat + vokal ramah 'Permisi, sampahnya diangkat dulu ya').
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman dan konfirmasi peragaan: Murid menyebutkan kembali 1 ciri kebiasaan gerak dan 1 ciri vokal utama dari tokoh yang baru saja diperagakannya (acuan: sesuai kartu pilihan A, B, atau C yang dimainkan pada kegiatan inti).
Formatif:- Pengamatan unjuk kerja peragaan kebiasaan gerak dan vokal tokoh menggunakan lembar observasi
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Pengenalan Karakter Melalui Kebiasaan Gerak Tokoh | Belum menampilkan kebiasaan gerak tubuh yang mencerminkan karakter tokoh sesuai kartu pilihan meski telah dibimbing. | Menampilkan kebiasaan gerak tubuh tokoh (sikap tubuh atau cara melangkah) sesuai kartu pilihan secara terbatas dan masih membutuhkan bimbingan guru. | Menampilkan kebiasaan gerak tubuh tokoh (sikap tubuh dan cara melangkah) sesuai ciri pada kartu pilihan secara tepat dan mandiri. | Menampilkan seluruh kebiasaan gerak tubuh tokoh (sikap tubuh, cara melangkah, dan gestur tangan) secara lengkap, konsisten, dan mandiri sesuai kartu pilihan. | | Pengenalan Karakter Melalui Kebiasaan Vokal Tokoh | Belum memperagakan kebiasaan vokal atau ujaran khas tokoh sesuai kartu pilihan. | Memperagakan kebiasaan vokal tokoh sesuai kalimat pada kartu pilihan tetapi belum menunjukkan nada atau ciri suara khas tokoh. | Memperagakan kebiasaan vokal tokoh mencakup kalimat dan ciri nada suara tokoh secara tepat dan mandiri sesuai kartu pilihan. | Memperagakan seluruh kebiasaan vokal tokoh mencakup kalimat, nada, dan warna suara khas tokoh secara konsisten dan mandiri sepanjang peragaan sesuai kartu pilihan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah aktivitas permainan tebak peran efektif membantu murid mengeksplorasi kebiasaan gerak dan vokal tokoh secara percaya diri?
- Bagian mana dari bimbingan peragaan vokal yang memerlukan penekanan lebih lanjut pada sesi berikutnya?
Murid:- Apakah teman-temanmu dapat mengenali karakter tokoh yang kamu peragakan melalui kebiasaan gerak dan suaramu?
- Apa kesulitan yang kamu rasakan saat harus menyelaraskan gerakan tubuh dengan ucapan khas tokoh?
Pertemuan 3 — Melakukan Improvisasi Gerak Spontan untuk Melatih Aksi dan Reaksi Tokoh — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 5.3.2 Melakukan improvisasi untuk melatih aksi dan reaksi dalam mengelaborasi tokoh
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, doa bersama, dan presensi murid untuk mengondisikan kesiapan belajar (5 menit).
- Guru melakukan pemanasan olah tubuh sederhana: menggerakkan sendi tangan, kepala, dan kaki secara santai agar tubuh siap bergerak bebas (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui permainan cepat 'Aksi-Reaksi Sederhana': guru memberikan 1 stimulus gerak (misal: melempar bola imajiner) dan meminta 3 orang perwakilan murid secara bergiliran menunjukkan 1 gerak reaksi spontan yang sesuai (acuan reaksi yang dinilai tepat: menangkap bola imajiner, menepis, atau menghindar dengan membungkuk) (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu melakukan improvisasi gerak spontan untuk melatih aksi dan reaksi dalam mengelaborasi karakter tokoh (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru mendemonstrasikan konsep aksi (pemberian stimulus gerak) dan reaksi (respons spontan terhadap stimulus) dalam peran teater tanpa persiapan naskah, dengan contoh konkret: Karakter Tokoh Petani mencangkul lalu mendadak melihat ular (aksi) dan melompat mundur kaget (reaksi) (10 menit).
- Murid dalam kelompok besar menyimak penjelasan dan bersama guru mengidentifikasi bahwa reaksi spontan sebuah tokoh harus lahir secara wajar dari aksi yang terjadi di hadapannya (5 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid memainkan permainan pemanasan improvisasi 'Tepuk Berantai Spontan': murid berdiri melingkar, satu murid mengirim tepukan tangan berarah (aksi) ke teman di sampingnya, dan teman tersebut langsung merespons spontan dengan tepukan serupa tanpa jeda ragu (10 menit).
- Guru membagi kelas menjadi beberapa pasangan. Setiap pasangan diberikan lembar skenario stimulus yang berisi 3 situasi aksi spontan berkarakter berikut:
Situasi 1: Tokoh Kakek berjalan membungkuk pelan menjatuhkan tongkat (Aksi) -> Pasangan menjadi Tokoh Anak Kecil yang spontan mengambilkan tongkat dan mengembalikannya (Reaksi).
Situasi 2: Tokoh Polisi Lalu Lintas mengangkat tangan tegak menghentikan jalan (Aksi) -> Pasangan menjadi Tokoh Pengendara Motor yang spontan mengerem mendadak tubuhnya tersentak ke depan (Reaksi).
Situasi 3: Tokoh Pelayan Toko menyodorkan piring panas dengan tangan gemetar (Aksi) -> Pasangan menjadi Tokoh Pembeli yang spontan menarik tangan menjauh karena kaget kepanasan (Reaksi) (10 menit).
- Setiap pasangan berlatih melakukan improvisasi gerak spontan aksi dan reaksi secara bergantian sesuai 3 situasi tersebut tanpa menggunakan naskah kata-kata, fokus penuh pada ketepatan dan keselarasan gerak fisik tokoh (15 menit).
- Setiap pasangan secara bergiliran tampil di depan kelas memperagakan improvisasi gerak aksi dan reaksi tokoh untuk 1 situasi yang dipilihkan guru secara acak dari 3 situasi di atas (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid dan guru mendiskusikan pengalaman latihan: bagaimana rasanya harus merespons gerak teman secara langsung tanpa direncanakan sebelumnya, serta mengapa fokus terhadap aksi lawan main sangat menentukan kelancaran reaksi tokoh (10 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan intisari pembelajaran: bahwa improvisasi teater membutuhkan kepekaan tubuh untuk memberi aksi yang jelas dan merespons dengan reaksi spontan yang sesuai karakter tokoh (3 menit).
- Guru melakukan asesmen akhir berupa cek pemahaman lisan dan umpan balik atas peragaan aksi-reaksi spontan yang telah dilakukan murid (2 menit).
- Guru menyampaikan agenda pertemuan berikutnya (improvisasi aksi-reaksi berpasangan dengan elaborasi cerita yang lebih mendalam) dan menutup kelas dengan doa bersama (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu stimulus dengan petunjuk gambar gerak visual konkret; murid yang siap diberikan tantangan improvisasi dengan tempo stimulus gerak yang lebih cepat.
- Proses: Murid yang masih ragu didampingi guru dengan hitungan ketukan tempo gerak; murid yang mandiri berlatih mandiri bersama pasangannya secara leluasa.
- Produk: Respons gerak reaksi dapat disesuaikan dengan rentang gerak fisik masing-masing murid asalkan menunjukkan kesesuaian logis terhadap aksi yang diterima.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab peragaan awal: Guru memberikan stimulus gerak 'melempar bola imajiner', murid merespons dengan 1 gerak spontan (acuan respon yang diterima benar: menangkap bola, menepis bola, atau menghindar dengan merunduk).
Proses:- Observasi keterlibatan dan kesiapan murid saat latihan peragaan gerak aksi dan reaksi berpasangan pada 3 situasi skenario improvisasi.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan: Murid menyebutkan hubungan antara aksi yang diberikan lawan main dengan reaksi yang harus dimunculkan oleh karakter yang diperankannya (kriteria penerimaan: murid menyatakan bahwa reaksi harus mengikuti atau menjawab aksi gerak yang diberikan lawan main secara spontan dan sesuai karakter).
Formatif:- Pengamatan unjuk kerja peragaan improvisasi gerak spontan aksi dan reaksi berpasangan menggunakan rubrik performa.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Improvisasi Gerak Spontan Aksi dan Reaksi Tokoh | Belum mampu memberikan aksi gerak yang jelas atau belum merespons aksi lawan main secara spontan (mematung atau jeda lama lebih dari 10 detik tanpa gerak). | Mampu memberikan aksi atau merespons reaksi gerak, namun masih memerlukan arahan/bimbingan guru berulang kali dan reaksi belum selaras dengan stimulus situasi peran. | Mampu melakukan improvisasi gerak spontan dengan memberikan aksi yang jelas dan merespons aksi pasangan dengan reaksi yang selaras sesuai skenario situasi tokoh tanpa bimbingan guru. | Mampu melakukan improvisasi gerak spontan aksi dan reaksi secara sangat luwes, tanggap seketika tanpa jeda ragu, serta gerak tubuh sangat konsisten memperlihatkan ciri karakter tokoh yang dimainkan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu untuk latihan berpasangan cukup memfasilitasi setiap murid mencoba peran aksi dan reaksi?
- Bagaimana tingkat spontanitas murid saat merespons stimulus gerak dari pasangannya?
Murid:- Bagian mana yang paling menantang: saat memberikan aksi gerak atau saat merespons dengan reaksi spontan?
- Apakah kamu merasa senang ketika berhasil merespons gerakan teman secara langsung?
Pertemuan 4 — Melakukan Improvisasi Aksi dan Reaksi Berpasangan dalam Mengelaborasi Karakter Tokoh — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 5.3.2 Melakukan improvisasi untuk melatih aksi dan reaksi dalam mengelaborasi tokoh
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, berdoa bersama, dan memeriksa kehadiran murid di ruang kelas yang lapang (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu melakukan improvisasi aksi dan reaksi secara berpasangan dalam mengelaborasi karakter tokoh (5 menit).
- Asesmen awal diagnostik: Guru memberikan satu aksi spontan berupa ketukan meja keras mengejutkan, lalu meminta 2 orang perwakilan murid memperagakan reaksi spontan sesuai karakter masing-masing (kriteria keterterimaan: murid mampu memberikan minimal 1 reaksi spontan berupa gerak/tuturan yang konsisten dengan sifat tokoh yang dipilih, misalnya tokoh penakut langsung berjongkok menutup telinga atau tokoh pemberani langsung pasang kuda-kuda siaga) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna):- Murid menyimak penjelasan dan demonstrasi guru bersama seorang murid mengenai konsep aksi dan reaksi dalam improvisasi berpasangan: satu pemain memberikan aksi (pemicu) dan pemain pasangan memberikan reaksi (tanggapan spontan) yang selaras dengan karakter masing-masing (10 menit).
- Murid mencermati 3 skenario situasi pemicu aksi-reaksi yang disediakan guru: Skenario 1 (Ketinggalan bekal saat istirahat sekolah), Skenario 2 (Melihat kucing terjebak di atas dahan pohon), dan Skenario 3 (Menemukan dompet jatuh di koridor) (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan):- Murid berpasangan dan melakukan pemanasan permainan improvisasi spontan 'Aksi-Reaksi Berantai': Murid A memberikan satu aksi spontan (misalnya menjatuhkan benda pura-pura) dan Murid B langsung memberikan reaksi spontan seketika sesuai karakter pilihannya secara bergantian (15 menit).
- Setiap pasangan memilih 1 dari 3 skenario situasi (Skenario 1, 2, atau 3) dan menentukan peran karakter tokoh masing-masing (misalnya Tokoh Pemberani berpasangan dengan Tokoh Penakut, atau Tokoh Sabar dengan Tokoh Pemarah) (10 menit).
- Setiap pasangan melakukan improvisasi aksi dan reaksi berpasangan tanpa naskah selama 2-3 menit secara bergantian di hadapan kelompok pasangannya untuk melatih elaborasi karakter (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama pasangannya saling bertukar pengamatan mengenai ketepatan aksi dan keselarasan reaksi spontan yang baru saja dilakukan dalam mencerminkan sifat karakter tokoh (10 menit).
- Guru memberikan penguatan terhadap keberhasilan murid dalam merespons aksi spontan pasangan tanpa memutus alur adegan improvisasi (5 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan pentingnya kepekaan aksi dan reaksi dalam memperkuat elaborasi karakter saat berimprovisasi teater (5 menit).
- Guru melakukan asesmen akhir berupa cek pemahaman lisan tentang keterkaitan aksi-reaksi dengan perwatakan tokoh, lalu menutup sesi dengan doa bersama (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan skenario situasi bertingkat: situasi keseharian sederhana (ketinggalan bekal) untuk kelompok reguler dan situasi darurat yang lebih kompleks (melihat peristiwa genting) untuk kelompok mahir.
- Proses: Pasangan yang masih ragu diberikan panduan aksi awal bertahap oleh guru, sedangkan pasangan yang sudah lincah diberi tantangan improvisasi dengan pergantian peran aksi-reaksi yang lebih cepat.
- Produk: Bentuk luaran berupa unjuk kerja improvisasi berpasangan dengan durasi minimal 2 menit yang memuat sedikitnya 2 putaran aksi-reaksi spontan yang konsisten dengan karakter tokoh.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik respons spontan: Guru memberikan stimulasi aksi mendadak (ketukan meja keras), kemudian meminta murid memperagakan 1 reaksi spontan fisik/vokal sesuai karakter yang dipilih (kriteria keterterimaan: murid langsung bereaksi spontan selaras dengan watak tokoh, misalnya tokoh penakut menutup telinga/menunduk, tokoh pemberani berdiri tegak menatap sumber suara; bukan reaksi diri sendiri tanpa karakter).
Proses:- Pengamatan formatif saat murid melakukan latihan improvisasi berpasangan dengan 3 skenario situasi (Skenario 1: Ketinggalan bekal; Skenario 2: Kucing terjebak; Skenario 3: Menemukan dompet) untuk menilai keselarasan aksi yang dilancarkan dan ketanggapan reaksi spontan yang konsisten dengan watak karakter tokoh.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan di akhir sesi: Guru menanyakan kepada 3 murid secara acak: 'Jika lawan mainmu memberikan aksi marah sambil menunjuk, bagaimana reaksimu jika tokomu adalah anak yang sangat pemalu?' (Kriteria penerimaan: murid menyebutkan reaksi yang konsisten dengan sifat pemalu, seperti menundukkan kepala, memundurkan langkah, atau berbicara terbata-bata dengan volume lirih, bukan membalas membentak).
Formatif:- Observasi unjuk kerja improvisasi berpasangan menggunakan rubrik aksi-reaksi karakter tokoh
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Improvisasi Aksi dan Reaksi Tokoh Berpasangan | Belum mampu melakukan aksi spontan maupun memberikan reaksi terhadap tindakan pasangan dalam adegan improvisasi. | Mampu melakukan aksi atau memberikan reaksi spontan berpasangan, namun reaksi yang ditunjukkan belum konsisten mencerminkan sifat karakter tokoh yang diperankan. | Mampu melakukan aksi dan memberikan reaksi spontan secara berpasangan dengan tepat dan selaras mencerminkan sifat karakter tokoh pada skenario yang dipilih. | Mampu melakukan aksi dan memberikan reaksi spontan secara berpasangan secara lancar, berkesinambungan, dan sangat konsisten mengelaborasi sifat karakter tokoh sepanjang adegan tanpa jeda ragu. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu latihan berpasangan cukup memfasilitasi setiap murid untuk mencoba peran pemberi aksi dan penerima reaksi?
- Bagaimana tingkat keberhasilan murid dalam merespons stimulus spontan teman tanpa kehilangan karakter tokohnya?
Murid:- Tantangan apa yang paling kamu rasakan saat harus merespons aksi spontan teman secara langsung tanpa naskah?
- Bagaimana perasaanmu ketika berhasil mempertahankan sifat tokomu saat menerima aksi mengejutkan dari teman pasanganmu?
Pertemuan 5 — Menceritakan Pendapat tentang Penokohan dan Perwatakan Tokoh dari Cerita Sederhana — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 5.3.3 Menceritakan pendapatnya tentang penokohan dan perwatakan sebuah cerita sederhana
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa bersama (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menceritakan pendapat mengenai penokohan dan perwatakan dari teks cerita sederhana (2 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui cuplikan kalimat cerita: 'Toni selalu menyisihkan uang sakunya untuk memberi makan kucing jalanan di depan gerbang sekolah, sedangkan Reno menertawakannya.' Guru mengajukan pertanyaan: 'Siapakah tokohnya dan bagaimana watak masing-masing tokoh tersebut?' (acuan jawaban: tokoh Toni berwatak peduli/penyayang binatang, sedangkan tokoh Reno berwatak usil/kurang berempati) (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak penjelasan guru tentang konsep penokohan (siapa pelaku dalam lakon/cerita beserta perannya, seperti protagonis, antagonis, atau pendukung) dan perwatakan (sifat/karakter batiniah tokoh, seperti sabar, sombong, jujur, atau penolong) yang dikenali melalui dialog atau tindakan tokoh dalam teks (10 menit).
- Murid secara bergantian membaca teks cerita sederhana berjudul 'Kendi Kejujuran Raden': Alkisah di sebuah desa, Pak Raden menemukan kendi berisi koin perak di bawah pohon beringin tua. Sahabatnya, Danu, menyuruh Pak Raden membawa pulang kendi itu diam-diam untuk kebutuhan sendiri. Namun, Pak Raden menolak tegas dan memilih menyerahkannya kepada Kepala Desa agar dikembalikan kepada pemilik aslinya yang kehilangan (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid dibagi berpasangan untuk memainkan permainan tantangan tebak peran ceria 'Kotak Karakter': secara bergantian murid mengambil 1 dari 2 kartu kutipan dialog dari teks, membacakannya dengan intonasi bebas, lalu pasangannya menebak nama tokoh dan sifat wataknya (Kartu 1: 'Jangan lapor siapa-siapa, ambil saja kendi perak ini untuk kita berdua!' -> acuan: tokoh Danu, watak serakah/tidak jujur; Kartu 2: 'Harta ini bukan milik kita, Kepala Desa yang berhak mencarikan pemiliknya.' -> acuan: tokoh Pak Raden, watak jujur/amanah) (15 menit).
- Secara mandiri pada Lembar Kerja Opini Tokoh, setiap murid menuliskan pendapatnya tentang penokohan (peran tokoh Pak Raden dan Danu) serta perwatakan (sifat/watak Pak Raden dan Danu) disertai alasan berupa kutipan kalimat atau tindakan tokoh dari cerita 'Kendi Kejujuran Raden' (10 menit).
- Murid duduk melingkar berpasangan, lalu secara bergantian menceritakan pendapat yang telah disusunnya kepada teman sebangkunya mengenai penokohan dan perwatakan Pak Raden dan Danu beserta alasan pemilihannya (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Dua orang perwakilan murid menceritakan pendapatnya secara lisan di depan kelas mengenai perwatakan Pak Raden dan Danu, kemudian guru memberikan umpan balik langsung terhadap kelengkapan alasan penokohan dan perwatakan yang disampaikan (10 menit).
Penutup:- Guru dan murid bersama-sama menyimpulkan bahwa watak tokoh dalam cerita teater dapat dinilai dari tindakan nyata dan keputusannya saat menghadapi masalah (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen akhir berupa cek pemahaman lisan: Murid menjawab cepat watak tokoh Lala pada kalimat 'Lala tetap memaafkan temannya yang tidak sengaja merusak bukunya dan membantunya merapikannya kembali' (acuan jawaban: tokoh Lala berwatak pemaaf/baik hati/penyabar) (5 menit).
- Guru menginformasikan materi pertemuan berikutnya tentang memainkan ragam peran dari cerita sederhana, lalu menutup kelas dengan doa bersama dan salam (7 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks 'Kendi Kejujuran Raden' dengan garis bawah penanda tindakan penting tokoh; murid mahir menganalisis teks cerita yang sama beserta latar suasana di sekitar tindakan tokoh.
- Proses: Murid yang masih kesulitan merumuskan opini dipandu guru menggunakan format kalimat pemandu: 'Menurut saya, tokoh ... memiliki watak ... karena tindakannya ...'; murid mahir merumuskan pendapat secara mandiri tanpa kalimat pemandu.
- Produk: Murid menceritakan pendapatnya dalam 2 kalimat per tokoh (peran dan watak beserta alasan tindakan); murid mahir menceritakan pendapat dengan elaborasi perbandingan watak antara kedua tokoh.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik tanya jawab singkat: Mengidentifikasi tokoh dan watak dari cuplikan 1 kalimat 'Toni selalu menyisihkan uang sakunya untuk memberi makan kucing jalanan di depan gerbang sekolah, sedangkan Reno menertawakannya.' (Kunci acuan jawaban: Tokoh 1 = Toni, berwatak peduli/penyayang binatang; Tokoh 2 = Reno, berwatak usil/kurang berempati).
Proses:- Formatif kinerja saat murid menceritakan pendapat tentang penokohan dan perwatakan teks 'Kendi Kejujuran Raden'. Acuan jawaban: (1) Penokohan Pak Raden sebagai tokoh utama/protagonis dengan perwatakan jujur/amanah/bertanggung jawab karena menolak mengambil kendi perak yang bukan haknya dan membawanya ke Kepala Desa; (2) Penokohan Danu sebagai tokoh pendukung/penentang dengan perwatakan serakah/tidak jujur karena membujuk Pak Raden mengambil kendi secara diam-diam.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan penutup: Menentukan watak tokoh dari kalimat 'Lala tetap memaafkan temannya yang tidak sengaja merusak bukunya dan membantunya merapikannya kembali.' (Kunci acuan jawaban: Tokoh Lala berwatak pemaaf, berlapang dada, sabar, atau baik hati).
Formatif:- Penilaian lisan asesmen diagnostik di pendahuluan
- Penilaian lembar kerja tertulis dan observasi lisan saat murid menceritakan pendapat tentang penokohan dan perwatakan tokoh cerita sederhana
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menceritakan pendapat tentang penokohan cerita sederhana | Belum mampu menceritakan pendapat mengenai penokohan (peran tokoh Pak Raden dan Danu) meskipun telah dipandu guru. | Mampu menceritakan pendapat mengenai penokohan pada salah 1 tokoh (Pak Raden atau Danu) secara tepat sesuai teks cerita dengan bantuan guru. | Mampu menceritakan pendapat mengenai penokohan kedua tokoh (Pak Raden dan Danu) secara tepat sesuai peran dalam cerita secara mandiri. | Mampu menceritakan pendapat mengenai penokohan kedua tokoh (Pak Raden dan Danu) secara lengkap disertai penjelasan hubungan peran antartokoh dalam cerita secara mandiri. | | Menceritakan pendapat tentang perwatakan tokoh cerita sederhana | Belum mampu menceritakan pendapat tentang watak tokoh maupun alasan tindakannya dalam cerita. | Mampu menceritakan pendapat tentang watak 1 tokoh secara tepat, namun belum disertai alasan tindakan tokoh yang sesuai teks cerita. | Mampu menceritakan pendapat tentang perwatakan kedua tokoh (Pak Raden berwatak jujur dan Danu berwatak serakah) secara tepat disertai alasan tindakan tokoh dari teks cerita. | Mampu menceritakan pendapat tentang perwatakan kedua tokoh secara tepat dan mendalam disertai bukti kutipan tindakan atau dialog cerita secara konsisten dan mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah murid dapat membedakan dengan jelas antara siapa tokohnya (penokohan) dan sifat batiniahnya (perwatakan)?
- Bagian mana dari kegiatan menceritakan pendapat yang masih membuat murid ragu dalam menyampaikan alasan tindakannya?
Murid:- Tokoh mana dalam cerita tadi yang wataknya paling kamu sukai, dan apa alasannya?
- Apakah kamu merasa mudah menemukan watak tokoh hanya dengan membaca apa yang dilakukannya dalam cerita?
Pertemuan 6 — Memainkan Ragam Peran dari Cerita Sederhana Berdasarkan Pengamatan Karakter Tokoh — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 5.3.4 Memainkan ragam peran dari cerita sederhana berdasarkan hasil pengamatan
Pendahuluan:- Guru mengondisikan kelas, menyapa murid, memimpin doa singkat, dan memeriksa kehadiran murid (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan hari ini, yaitu memainkan ragam peran dari cerita sederhana berdasarkan hasil pengamatan karakter tokoh (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui tanya jawab pemetaan kesiapan memainkan peran berdasarkan ciri hasil pengamatan terhadap 3 figur profesi sekitar: (1) Penjual pasar yang ramah dan sibuk menimbang dagangan; (2) Petugas keamanan yang tegap dan waspada mengamati gerbang; (3) Petani yang membungkuk tekun mencangkul sawah (acuan kesiapan: murid mampu menyebutkan dan memperagakan minimal 1 ciri fisik/gerak khas dari salah satu figur tersebut secara tepat) (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak teks cerita sederhana berjudul 'Pasar Pagi yang Sibuk' yang memuat 4 ragam peran tokoh: (1) Pak Joko (pedagang sayur yang gesit, ramah, dan sering mengelap keringat); (2) Bu Rini (pembeli cermat yang selalu memeriksa kesegaran barang dan menawar teliti); (3) Dimas (anak pengantar barang yang tergesa-gesa membawa keranjang); (4) Kakek Sastro (pembeli tua yang berjalan lambat bertumpu pada tongkat) (10 menit).
- Murid bersama guru membedah ciri-ciri pengamatan karakter dari 4 tokoh tersebut (acuan pemahaman: Pak Joko = langkah cepat dan tangan lincah; Bu Rini = mata teliti dan memegang sayur; Dimas = berlari kecil dan tubuh condong ke depan; Kakek Sastro = langkah pendek lambat dan badan agak bungkuk) (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid dibagi ke dalam kelompok kecil beranggotakan 4 orang, lalu bermain tantangan gembira 'Estafet Topeng Karakter', di mana setiap anggota secara bergantian menarik kartu peran (Pak Joko, Bu Rini, Dimas, atau Kakek Sastro) dan langsung memainkan aksi peran tersebut selama 30 detik di depan kelompoknya secara menyenangkan (15 menit).
- Setiap kelompok berlatih memainkan peran secara terpadu dalam adegan utuh cerita 'Pasar Pagi yang Sibuk', dengan menghidupkan ragam peran tokoh berdasarkan ciri pengamatan fisik dan gerak yang sudah dipelajari (15 menit).
- Masing-masing kelompok secara bergiliran memainkan ragam peran cerita 'Pasar Pagi yang Sibuk' di area panggung kelas (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid saling memberikan apresiasi atas keberhasilan teman dalam memainkan ragam peran tokoh sesuai ciri pengamatan karakternya (5 menit).
- Murid mengidentifikasi peran tokoh mana yang paling menantang untuk dimainkan dan apa yang membantu mereka berhasil menghidupkan peran tersebut (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap pencapaian belajar seluruh murid dalam memainkan ragam peran dari cerita sederhana berdasarkan pengamatan (3 menit).
- Guru dan murid menyimpulkan pembelajaran hari ini dan guru memberikan gambaran umum untuk kegiatan pertemuan berikutnya (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan kartu panduan visual berisi gambar dan daftar ciri fisik 4 tokoh cerita bagi murid yang membutuhkan bantuan ingatan visual.
- Proses: Bagi murid yang masih ragu, guru memberikan bimbingan langsung (scaffolding) dengan mencontohkan gerak awal karakter; bagi murid yang sudah mahir, mereka ditantang memainkan 2 ragam peran bergantian dalam cerita yang sama.
- Produk: Kriteria ketercapaian dinilai dari ketepatan membawakan ciri peran tokoh yang dipilih berdasarkan pengamatan (minimal 1 peran utuh dengan ciri fisik/kebiasaan yang konsisten).
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik dan peragaan singkat ciri tokoh: Murid diminta memperagakan salah satu dari 3 pilihan figur sekitar: (1) Penjual pasar; (2) Petugas keamanan; (3) Petani (acuan jawaban benar: penjual pasar = gestur menawarkan/menimbang barang; petugas keamanan = gestur berdiri tegap/waspada memantau; petani = gestur mencangkul/membungkuk teliti).
Proses:- Lembar observasi unjuk kerja pemeranan: Guru mengamati ketepatan dan konsistensi murid dalam memainkan ragam peran (Pak Joko, Bu Rini, Dimas, atau Kakek Sastro) dalam cerita 'Pasar Pagi yang Sibuk' sesuai ciri hasil pengamatan tokoh (acuan: Pak Joko = gerak gesit melayani dan mengelap keringat; Bu Rini = gestur memeriksa barang cermat; Dimas = gerak tergesa membawa beban; Kakek Sastro = langkah lambat dan bertumpu tongkat).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan akhir sesi: Murid menyebutkan 1 ciri khas hasil pengamatan dari tokoh yang baru saja mereka mainkan dan menjelaskan bagaimana ciri tersebut membantu menghidupkan tokoh dalam cerita (kriteria penerimaan: murid menyebutkan ciri fisik/gerak tokoh yang sesuai dengan cerita 'Pasar Pagi yang Sibuk', misalnya langkah lambat untuk Kakek Sastro atau gerak gesit menimbang untuk Pak Joko).
Formatif:- Observasi unjuk kerja saat murid memainkan ragam peran dalam adegan cerita sederhana berdasarkan lembar pengamatan karakter tokoh.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Memainkan ragam peran tokoh berdasarkan hasil pengamatan | Belum mampu memainkan peran tokoh sesuai ciri hasil pengamatan, gerak masih kaku dan keluar dari karakter cerita meskipun telah dibimbing guru. | Memainkan peran tokoh dengan menampilkan sebagian ciri hasil pengamatan (1 ciri fisik/kebiasaan tampak sesaat), namun belum konsisten sepanjang adegan cerita. | Memainkan peran tokoh secara utuh dan konsisten menampilkan ciri hasil pengamatan (gerak khas dan kebiasaan tubuh tokoh) sepanjang adegan cerita sederhana. | Memainkan peran tokoh dengan sangat luwes, seluruh ciri hasil pengamatan ditampilkan secara konsisten dan meyakinkan serta mampu menyesuaikan transisi peran secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu latihan dan penampilan kelompok sudah mencukupi bagi seluruh murid untuk memainkan perannya?
- Bagaimana keterlibatan murid yang pemalu saat memainkan ragam peran tokoh di depan teman-temannya?
- Apakah ragam tokoh dalam teks cerita sederhana sudah cukup dekat dan kontekstual dengan hasil pengamatan murid sehari-hari?
Murid:- Tokoh mana yang kamu mainkan hari ini, dan ciri apa yang paling kamu sukai saat memerankannya?
- Bagian mana yang paling mudah dan paling menantang ketika kamu harus menjadi orang lain di dalam cerita?
Pertemuan 7 — Memerankan Lakon Monolog Individu Sederhana Berdasarkan Minat dan Pengamatan Karakter — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 5.3.5 Memerankan lakon secara individu berdasarkan minat, pengamatan, dan pengalaman
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan belajar, dan memimpin doa bersama (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu mempraktikkan pemeranan lakon monolog secara individu berdasarkan minat dan hasil pengamatan karakter (4 menit).
- Asesmen awal: Guru meminta murid berdiri dan melakukan pemanasan kesiapan peran singkat; setiap murid diminta memilih 1 dari 2 peran minat pengamatan ('Pedagang Pasar yang ramah' atau 'Petugas Kebersihan yang tekun') lalu memperagakan 1 pose beku (freeze pose) karakter tersebut selama 5 detik untuk mengecek kesiapan fisik dan konsentrasi peran (acuan ketercapaian: murid langsung mengambil posisi tubuh yang mencerminkan profesi yang dipilih tanpa ragu) (8 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak pemodelan guru tentang pembawaan lakon monolog mandiri secara utuh: mulai dari sikap masuk panggung (fokus peran), menghidupkan dialog tokoh, hingga penutup lakon (10 menit).
- Murid membaca kembali teks monolog pendek yang telah dipilih sesuai minatnya dari 2 naskah pilihan pengamatan: Naskah A (Tokoh Pedagang Sayur: 'Sayur, sayur segar! Dari subuh saya sudah memilih bayam terbaik untuk warga di sini...') atau Naskah B (Tokoh Petugas Taman: 'Bunga mawar ini akhirnya mekar juga. Setiap pagi saya siram dengan sabar...'), lalu mengidentifikasi titik emosi dan aksi tokoh dalam teks tersebut (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Permainan Menggembirakan 'Cermin Aksi Spontan': Murid menyebar di ruangan, guru membunyikan ketukan rebana; saat ketukan berbunyi cepat murid melangkah riang di tempat, dan saat ketukan berhenti murid wajib langsung mengucapkan satu kalimat pembuka monolog pilihannya dengan ekspresi karakter penuh rasa percaya diri (15 menit).
- Latihan Mandiri Terbimbing: Murid berlatih mandiri di sudut ruang kelas masing-masing, melatih pemeranan lakon monolog pilihannya dari awal hingga akhir secara individu berdasarkan hasil pengamatan karakter (15 menit).
- Unjuk Kerja Individu: Secara bergantian di panggung kecil kelas, setiap murid tampil memerankan lakon monolog individu sederhana pilihannya di hadapan guru dan teman (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid duduk melingkar dengan tenang (mindful sitting) sambil menarik napas dalam untuk melepaskan karakter peran dan kembali menjadi diri sendiri (4 menit).
- Murid mengungkapkan refleksi lisan terpandu: apa pengalaman yang dirasakan saat harus fokus memerankan karakter secara mandiri tanpa pasangan main di panggung (6 menit).
Penutup:- Guru memberikan apresiasi dan umpan balik umum atas kemandirian dan keberanian seluruh murid dalam memerankan monolog individu (5 menit).
- Guru menyampaikan agenda pertemuan berikutnya (Pertemuan 8: pendalaman monolog berdasarkan pengalaman keseharian) lalu menutup kelas dengan doa bersama (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan 2 pilihan teks monolog sederhana berbasis pengamatan tokoh sekitar (Pedagang Sayur dan Petugas Taman) dengan tingkat kompleksitas kalimat yang bervariasi sesuai minat murid.
- Proses: Bagi murid yang masih ragu, guru memberikan pendampingan penandaan naskah (scaffolding jeda); bagi murid yang cepat dan mahir, diberikan tantangan untuk mengeksplorasi variasi blocking panggung secara mandiri.
- Produk: Pemeranan monolog mandiri dinilai berdasarkan keberhasilan membawakan lakon dari awal hingga akhir secara individu sesuai pilihan karakter yang diminati.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Peragaan pose beku (freeze pose) 1 karakter profesi pilihan (Pedagang Pasar atau Petugas Kebersihan) selama 5 detik (acuan ketercapaian: murid langsung mengambil posisi tubuh yang mencerminkan profesi yang dipilih tanpa ragu).
Proses:- Pengamatan keterlibatan dalam permainan ketukan 'Cermin Aksi Spontan' dan latihan mandiri pemeranan monolog di sudut kelas.
- Penilaian performa unjuk kerja pemeranan monolog individu berdurasi 1-2 menit berdasarkan konsistensi karakter yang diperankan dari awal hingga akhir lakon.
Akhir Pertemuan:- Umpan balik langsung terhadap penampilan monolog individu berdasarkan kriteria keberhasilan membawakan lakon tokoh secara utuh (acuan: pembukaan peran, isi lakon monolog, dan penutup peran tersampaikan secara mandiri tanpa terputus).
Formatif:- Observasi unjuk kerja pemeranan monolog individu menggunakan lembar ceklis ketercapaian peran
- Catatan anekdot kesiapan mandiri saat latihan dan penampilan monolog
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Pemeranan Lakon Monolog Individu | Belum mampu memerankan lakon monolog secara mandiri, masih sering berhenti di tengah lakon dan membutuhkan bimbingan guru secara penuh. | Mampu memerankan lakon monolog secara mandiri namun karakter tokoh belum konsisten sepanjang lakon atau sesekali keluar dari peran. | Mampu memerankan lakon monolog sederhana secara mandiri dan konsisten dari awal hingga akhir lakon sesuai karakter tokoh yang dipilih. | Mampu memerankan lakon monolog sederhana secara mandiri dengan penghayatan karakter tokoh yang sangat utuh, konsisten, serta percaya diri tanpa ragu sepanjang lakon. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu unjuk kerja monolog individu mencukupi bagi seluruh murid untuk tampil?
- Bagaimana tingkat kemandirian dan rasa percaya diri murid saat membawakan lakon seorang diri di depan kelas?
Murid:- Bagian mana dari naskah monologmu yang paling kamu sukai saat diperankan?
- Tantangan apa yang kamu rasakan saat harus berakting sendirian di atas panggung?
Pertemuan 8 — Memerankan Lakon Monolog Individu Berdasarkan Pengalaman Keseharian Tokoh — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 5.3.5 Memerankan lakon secara individu berdasarkan minat, pengamatan, dan pengalaman
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa bersama (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini yaitu memerankan lakon monolog secara individu berdasarkan pengalaman keseharian tokoh (4 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal singkat: meminta 3 murid secara bergantian maju selama 30 detik untuk memeragakan 1 aksi spontan dari pengalaman keseharian pagi tadi (pilihan acuan: [1] terburu-buru merapikan tempat tidur, [2] mencuci piring sarapan, [3] mencari kaos kaki yang hilang) guna memetakan kesiapan awal pemeranan lakon individu tanpa dialog lawan main (8 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna):- Guru memberikan pemahaman mengenai konsep lakon monolog individu berbasis pengalaman keseharian, yaitu menampilkan satu penggalan peristiwa nyata yang pernah dialami sendiri atau disaksikan langsung dalam rutinitas harian tokoh (10 menit).
- Guru mendemonstrasikan satu contoh monolog pengalaman keseharian tokoh berdurasi 1 menit bertema 'Ketinggalan Bekal Sekolah' (isi adegan: memeriksa tas, menyadari kotak bekal tertinggal di meja makan rumah, lalu mengekspresikan keputusan meminjam sendok atau membeli roti di kantin), kemudian murid mengidentifikasi runtutan peristiwa lakon tersebut (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):- Murid memainkan permainan pemanasan peran menggembirakan 'Patung Keseharian': guru menyebutkan satu situasi rutinitas harian (misal: antre kamar mandi, kehujanan di jalan, mencari pensil jatuh), lalu murid bergerak bebas dan seketika membeku menjadi karakter yang mengalami situasi tersebut selama 5 hitungan (10 menit).
- Secara mandiri, setiap murid memilih 1 topik pengalaman keseharian tokoh dari 3 pilihan yang disediakan atau pengalaman pribadinya: (A) Pengalaman terlambat bangun tidur saat hari upacara, (B) Pengalaman merawat hewan peliharaan yang sakit/nakal, atau (C) Pengalaman membantu orang tua membereskan dagangan/pekerjaan rumah (10 menit).
- Murid menyusun alur lakon monolog individu singkatnya (kejadian awal, kejadian utama, penyelesaian) pada lembar kerja dan berlatih memerankannya secara mandiri di sudut ruang kelas (15 menit).
- Secara bergiliran atau dalam panggung kecil kelas, setiap murid tampil memerankan lakon monolog individu berdasarkan pengalaman keseharian tersebut selama 1–2 menit per anak (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid duduk melingkar dalam suasana hening dan berkesadaran untuk merenungkan pengalaman selama memerankan lakon monolog individu: bagian pengalaman mana yang paling hidup dan terasa nyata saat diperankan sendiri (5 menit).
- Dua orang perwakilan murid menceritakan secara lisan pengalaman belajarnya saat menghidupkan kembali peristiwa nyata keseharian ke dalam bentuk peran lakon individu (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran mengenai cara memerankan lakon monolog individu yang bersumber dari pengalaman nyata keseharian (3 menit).
- Guru memberikan asesmen akhir berupa umpan balik langsung terhadap penampilan monolog individu murid dan mengaitkan kesiapan mereka menghadapi asesmen sumatif pada pertemuan berikutnya (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang memerlukan bimbingan dapat memilih skenario pengalaman harian yang telah terstruktur alurnya (topik A, B, atau C), sedangkan murid yang mandiri bebas mengangkat peristiwa pengalaman unik kesehariannya sendiri.
- Proses: Murid yang membutuhkan scaffolding diberikan panduan alur 3 ketukan (awal-tengah-akhir peristiwa) oleh guru saat latihan, sedangkan murid mahir langsung bereksplorasi secara mandiri.
- Produk: Durasi monolog individu disesuaikan: minimal 1 menit untuk murid tahap berkembang dan hingga 2 menit untuk murid yang sangat berkembang dengan detail peristiwa yang lengkap.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Peragaan spontan individu selama 30 detik mengenai 1 peristiwa rutinitas pagi. Kriteria penerimaan operasional: murid mampu memeragakan minimal 1 aksi tindakan fisik yang jelas tanpa pasangan/lawan main sesuai pilihan skenario (acuan skenario: [1] terburu-buru merapikan tempat tidur -> gerakan menarik sprei dan menepuk bantal; [2] mencuci piring sarapan -> gerakan menggosok piring dan membilas; [3] mencari kaos kaki -> gerakan membongkar laci dan melihat ke bawah meja).
Proses:- Pengamatan langsung saat latihan dan penampilan lakon monolog individu. Indikator yang diamati: kemandirian tampil memerankan lakon seorang diri dan kesesuaian tindakan peran dengan alur peristiwa pengalaman keseharian yang diangkat (memuat aksi awal, kejadian inti, dan penyelesaian).
Akhir Pertemuan:- Umpan balik lisan dan cek pemahaman singkat di akhir penampilan: guru mengecek apakah lakon monolog yang dibawakan murid memenuhi kriteria alur peristiwa pengalaman keseharian. Kriteria penerimaan: monolog tersusun atas 3 bagian peristiwa (kejadian pembuka, peristiwa utama/keseharian tokoh, dan resolusi penutup) yang diperankan secara individu.
Formatif:- Pengamatan unjuk kerja pemeranan lakon monolog individu berdasarkan lembar pengamatan rubrik proses
- Cek diagnostik awal kesiapan peragaan spontan aksi keseharian tokoh
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Pemeranan Lakon Monolog Individu Berdasarkan Pengalaman Keseharian Tokoh | Belum mampu memerankan lakon monolog secara mandiri; memerlukan dorongan penuh guru dan belum menampilkan alur peristiwa pengalaman keseharian (hanya diam atau terputus di awal). | Memerankan lakon monolog individu secara terbimbing, menampilkan sebagian kecil peristiwa pengalaman keseharian namun alur belum lengkap (hanya kejadian awal tanpa konflik atau penyelesaian). | Memerankan lakon monolog individu secara mandiri dengan alur peristiwa pengalaman keseharian yang runtut (memuat kejadian pembuka, peristiwa utama keseharian tokoh, dan penyelesaian). | Memerankan lakon monolog individu secara mandiri, runtut, konsisten dari awal hingga akhir, serta mampu menghidupkan detail peristiwa pengalaman keseharian tokoh secara mendalam dan meyakinkan tanpa ragu-ragu. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu latihan mandiri dan penampilan monolog individu sudah mencukupi bagi seluruh murid?
- Bagaimana tingkat kemandirian dan kenyamanan murid dalam memerankan lakon sendirian di depan kelas tanpa bergantung pada lawan main?
Murid:- Bagian mana dari pengalaman keseharianmu yang paling mudah dan paling menantang untuk diperankan sendiri?
- Apa yang kamu rasakan saat harus berdiri dan memerankan sebuah cerita lakon seorang diri di hadapan teman-teman?
Pertemuan 9 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 5.3.1 Melakukan pengenalan karakter melalui pengamatan kebiasaan tokoh yang diperankan
- TP 5.3.2 Melakukan improvisasi untuk melatih aksi dan reaksi dalam mengelaborasi tokoh
- TP 5.3.3 Menceritakan pendapatnya tentang penokohan dan perwatakan sebuah cerita sederhana
- TP 5.3.4 Memainkan ragam peran dari cerita sederhana berdasarkan hasil pengamatan
- TP 5.3.5 Memerankan lakon secara individu berdasarkan minat, pengamatan, dan pengalaman
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran 28 murid, dan menyampaikan tujuan pelaksanaan Asesmen Sumatif Bab 3 'Menjadi Karakter' (3 menit).
- Guru membacakan alur pelaksanaan asesmen sumatif yang terdiri dari tiga stasiun tugas: (1) Unjuk kerja pemeranan kelompok, (2) Unjuk kerja lakon monolog bergiliran, dan (3) Penilaian lisan terstruktur dalam kelompok (2 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Guru membagikan lembar panduan tugas sumatif dan menjelaskan kriteria penilaian untuk unjuk kerja kelompok, monolog mandiri, serta refleksi lisan watak tokoh tanpa membuka sesi latihan baru (3 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Tugas 1: Murid tampil dalam 6 kelompok kecil (masing-masing 4-5 murid) secara bergiliran dengan durasi 6 menit per kelompok, menampilkan improvisasi aksi-reaksi spontan dan memainkan ragam peran cerita sederhana berdasarkan pengamatan kebiasaan tokoh (misalnya: situasi pasar tradisional dengan tokoh penjual sayur yang tergesa-gesa, pembeli yang teliti menawar, tukang becak yang ramah, dan juru parkir yang tegas) yang dinilai langsung oleh guru menggunakan rubrik unjuk kerja peran kelompok (40 menit).
- Tugas 2: Murid secara mandiri bergiliran tampil di area panggung kelas selama 1,5 menit per murid (total 28 murid) membawakan lakon monolog karakter sederhana yang dirancang berdasarkan minat dan hasil pengamatan kebiasaan tokoh keseharian (seperti penjaga perpustakaan yang rapi, petani yang tekun, atau kakek penjual mainan), dinilai menggunakan lembar observasi monolog individu (42 menit).
- Tugas 3: Murid duduk bersama kelompoknya menyampaikan ulasan pendapat secara lisan mengenai penokohan dan perwatakan tokoh dari lakon sederhana yang telah ditampilkan (misalnya: mengidentifikasi watak sabar penjual sayur yang tetap tersenyum saat ditawar rendah atau watak tegas juru parkir saat mengatur kendaraan), sementara guru berkeliling mencatat ketepatan ulasan pada lembar cek penilaian lisan terstruktur (12 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Guru memberikan umpan balik umum secara klasikal terkait kelancaran pelaksanaan ketiga tugas asesmen sumatif pemeranan dan pencapaian karakter oleh murid (1 menit).
Penutup:- Guru bersama murid merangkum perjalanan belajar Bab 3 mengenai teknik pengamatan karakter, improvisasi aksi-reaksi, pemahaman watak tokoh, hingga penampilan monolog mandiri (1 menit).
- Guru menutup sesi asesmen sumatif dengan apresiasi atas kerja keras seluruh murid dan doa penutup (1 menit).
Diferensiasi:- Konten: Memberikan lembar panduan alur tugas dengan cetakan huruf lebih besar atau kartu visual urutan tampil bagi murid yang membutuhkan dukungan visual tanpa mengubah kriteria penilaian.
- Proses: Menyediakan waktu persiapan berdiri sejenak sebelum hitungan 1,5 menit monolog dimulai bagi murid yang memerlukan penyesuaian fokus panggung.
- Produk: Format penyampaian bukti belajar tetap seragam sesuai ACUAN SUMATIF ATP: unjuk kerja peran kelompok, unjuk kerja monolog individu, dan penilaian lisan terstruktur.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pengecekan kesiapan teknis penampilan monolog dan kelompok melalui verifikasi urutan tampil dan pilihan karakter tokoh yang telah disiapkan murid pada pertemuan sebelumnya (acuan kesiapan: setiap murid telah menentukan 1 karakter monolog dan 1 peran kelompok).
Sumatif Bab:- penilaian kinerja pemeranan karakter dan refleksi lisan: performa pemeranan monolog karakter hasil pengamatan secara individual, improvisasi aksi-reaksi dan memainkan peran dalam kelompok, serta penyampaian lisan pendapat mengenai karakterisasi tokoh
- unjuk kerja peran kelompok: penampilan bermain peran dalam kelompok kecil (4-5 murid per kelompok, 6 kelompok) dengan durasi 6 menit per kelompok yang menampilkan improvisasi aksi-reaksi spontan dan ragam peran berdasarkan pengamatan kebiasaan tokoh (40 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja pemeranan kelompok (kriteria: aksi-reaksi improvisasi, ketepatan ragam peran pengamatan))
- unjuk kerja lakon monolog bergiliran: kinerja pemeranan lakon monolog karakter sederhana secara mandiri dinilai 1,5 menit per murid secara bergiliran di depan kelas berdasarkan minat dan hasil pengamatan kebiasaan tokoh (42 menit / 1,5 menit = 28 murid, muat satu kelas) (42 menit; individual; instrumen: lembar observasi performa monolog individu (indikator: penghayatan kebiasaan tokoh, kemandirian lakon))
- penilaian lisan terstruktur: penyampaian lisan ulasan singkat pendapat mengenai penokohan dan perwatakan cerita sederhana yang dipentaskan, disampaikan bergantian dalam kelompok dan dipantau guru berkeliling selama 20 menit ditambah 3 menit penutupan/umpan balik kelas (23 menit; kelompok; instrumen: lembar cek penilaian lisan (kriteria: kejelasan pendapat penokohan, ketepatan identifikasi perwatakan))
Sumatif:- penilaian kinerja pemeranan karakter dan refleksi lisan: performa pemeranan monolog karakter hasil pengamatan secara individual, improvisasi aksi-reaksi dan memainkan peran dalam kelompok, serta penyampaian lisan pendapat mengenai karakterisasi tokoh
- unjuk kerja peran kelompok: penampilan bermain peran dalam kelompok kecil (4-5 murid per kelompok, 6 kelompok) dengan durasi 6 menit per kelompok yang menampilkan improvisasi aksi-reaksi spontan dan ragam peran berdasarkan pengamatan kebiasaan tokoh (40 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja pemeranan kelompok (kriteria: aksi-reaksi improvisasi, ketepatan ragam peran pengamatan))
- unjuk kerja lakon monolog bergiliran: kinerja pemeranan lakon monolog karakter sederhana secara mandiri dinilai 1,5 menit per murid secara bergiliran di depan kelas berdasarkan minat dan hasil pengamatan kebiasaan tokoh (42 menit / 1,5 menit = 28 murid, muat satu kelas) (42 menit; individual; instrumen: lembar observasi performa monolog individu (indikator: penghayatan kebiasaan tokoh, kemandirian lakon))
- penilaian lisan terstruktur: penyampaian lisan ulasan singkat pendapat mengenai penokohan dan perwatakan cerita sederhana yang dipentaskan, disampaikan bergantian dalam kelompok dan dipantau guru berkeliling selama 20 menit ditambah 3 menit penutupan/umpan balik kelas (23 menit; kelompok; instrumen: lembar cek penilaian lisan (kriteria: kejelasan pendapat penokohan, ketepatan identifikasi perwatakan))
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Improvisasi Aksi-Reaksi dan Ragam Peran Kelompok (TP 5.3.2 & TP 5.3.4) | Belum menunjukkan reaksi spontan terhadap aksi teman dalam kelompok dan ragam peran tidak mencerminkan kebiasaan tokoh yang diamati. | Menunjukkan reaksi atas aksi teman hanya jika dipandu secara verbal oleh anggota kelompok lain; ragam peran menampilkan 1 ciri fisik tokoh namun belum konsisten. | Menunjukkan improvisasi aksi dan reaksi timbal balik secara spontan dengan mitra peran serta memainkan ragam peran sesuai kebiasaan tokoh hasil pengamatan (daftar peran acuan: pedagang, pembeli, pengemudi, atau petugas lingkungan). | Secara konsisten, mandiri, dan tanggap melakukan variasi improvisasi aksi-reaksi spontan yang memperkuat elaborasi alur cerita serta memainkan ragam peran tokoh secara utuh dan meyakinkan sesuai pengamatan. | | Pemeranan Lakon Monolog Berdasarkan Kebiasaan Tokoh (TP 5.3.1 & TP 5.3.5) | Belum mampu memerankan lakon monolog secara mandiri (terdiam atau memerlukan instruksi dialog penuh dari guru) dan belum menampakkan kebiasaan tokoh. | Memerankan lakon monolog mandiri selama kurang dari 1 menit atau hanya menampilkan 1 kebiasaan gerak tokoh tanpa penghayatan karakter. | Memerankan lakon monolog secara mandiri sesuai alokasi durasi (1,5 menit) dengan menampilkan minimal 2 kebiasaan khas tokoh (acuan: pola gerak langkah, gestur tangan, atau postur tubuh) berdasarkan minat dan pengamatan. | Memerankan lakon monolog secara mandiri penuh dengan konsistensi gestur, tempo gerak, dan kebiasaan khas tokoh yang dihayati secara mendalam sepanjang durasi 1,5 menit. | | Menceritakan Pendapat tentang Penokohan dan Perwatakan (TP 5.3.3) | Belum mampu menceritakan pendapat mengenai penokohan dan perwatakan tokoh lakon sederhana yang disaksikan. | Menceritakan pendapat hanya sebatas menyebutkan nama/profesi tokoh tanpa mengidentifikasi watak atau alasan karakternya. | Menceritakan pendapat secara lisan dengan jelas memuat 2 unsur acuan: (1) identifikasi penokohan/peran dan (2) ketepatan perwatakan (sifat batin tokoh seperti sabar, ramah, tegas, atau cemas) berdasarkan adegan cerita. | Menceritakan pendapat lisan secara terstruktur, menghubungkan watak batin tokoh dengan bukti tindakan konkret tokoh dalam lakon cerita sederhana secara runtut dan tepat. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 1,5 menit per murid untuk monolog dan 6 menit per kelompok telah mencukupi untuk mengamati ketercapaian seluruh TP sumatif Bab 3?
- Bagaimana efektivitas rubrik observasi dalam membedakan capaian improvisasi aksi-reaksi dan kebiasaan karakter murid?
- Langkah tindak lanjut apa yang diperlukan untuk pembelajaran unit pertunjukan teater di bab selanjutnya berdasarkan data sumatif ini?
Murid:- Bagian mana dari peran tokoh yang paling menantang untuk kamu hidupkan saat tampil di depan kelas tadi?
- Bagaimana perasaanmu ketika harus segera bereaksi spontan terhadap tindakan temanmu dalam adegan kelompok?
- Pelajaran berharga apa yang kamu dapatkan tentang memahami sifat orang lain melalui latihan menjadi karakter ini?
SUMBER BELAJAR- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas V (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
- Lembar Pengamatan Kebiasaan Tokoh (format cetak berisi kolom nama tokoh, cara melangkah, posisi tubuh, dan gerakan tangan berulang).
- Lingkungan sekitar sekolah (interaksi warga sekolah: satpam, penjaga, petugas kebersihan, kantin, staf administrasi).
- Kartu stimulus kebiasaan tokoh (Kartu A: Tukang Pos, Kartu B: Dokter Cilik, Kartu C: Petugas Kebersihan).
- Ruang kelas yang dilapangkan untuk area gerak dan peragaan.
- Ruang kelas/aula yang lapang dan aman untuk bergerak.
- Kartu/lembar skenario 3 situasi stimulus gerak aksi-reaksi.
- Kartu teks 3 Skenario Situasi Improvisasi (Ketinggalan bekal, Kucing terjebak, Menemukan dompet).
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas V (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
- Teks naskah cerita sederhana 'Kendi Kejujuran Raden'
- Kartu kutipan dialog karakter untuk tantangan berpasangan
- Lembar Kerja Opini Tokoh
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas V (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2023
- Teks naskah cerita sederhana 'Pasar Pagi yang Sibuk'
- Kartu karakter peran (Pak Joko, Bu Rini, Dimas, Kakek Sastro)
- Buku Panduan Guru Seni Teater SD Kelas V (Edisi Revisi), Pusat Perbukuan Kemendikbudristek
- Naskah lakon monolog pendek pilihan (Karakter Pedagang Sayur dan Petugas Taman)
- Alat musik ritmis sederhana (rebana/tamborin) untuk penanda latihan gerak spontan
- Lembar Alur Lakon Monolog Keseharian Tokoh
- Properti sederhana kelas (meja, kursi, tas sekolah) sebagai pendukung lakon monolog
- Ruang kelas/aula dengan batas panggung imajiner yang diberi tanda selotip lantai
- Properti panggung sederhana yang dibawa murid dari lingkungan rumah/sekolah (misal: tas belanja, buku, sapu, topi)
- Lembar Instrumen Observasi Asesmen Sumatif Bab 3 (Rubrik Penilaian Unjuk Kerja & Lembar Cek Penilaian Lisan)
|