MODUL AJAR Seni Teater — Kelas 5 (Fase C) Topik: Bab 2 — Eksplorasi Peran INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | Seni Teater |
|---|
| Fase / Kelas | Fase C / Kelas 5 |
|---|
| Topik | Bab 2 — Eksplorasi Peran |
|---|
| Alokasi Waktu | 28 JP (28 x 35 menit = 980 menit) |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 10 |
|---|
| Tahun Ajaran | 2026/2027 |
|---|
| Semester | 1 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- TP 5.2.1 Melakukan improvisasi peran berkelompok untuk melatih aksi dan reaksi dalam mengelaborasi tokoh cerita
- TP 5.2.2 Melakukan pengenalan karakter melalui pengamatan kebiasaan tokoh yang diperankan
- TP 5.2.3 Menceritakan pendapatnya tentang penokohan dan perwatakan dalam sebuah cerita sederhana
- TP 5.2.4 Mengidentifikasi properti sederhana berdasarkan cerita yang akan dimainkan
- TP 5.2.5 Memainkan ragam peran dari cerita sederhana berdasarkan hasil pengamatan
- TP 5.2.6 Memerankan lakon secara berkelompok berdasarkan minat, pengamatan, dan pengalaman
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | | | Kewargaan | | | Penalaran Kritis | ✓ | | Kreativitas | ✓ | | Kolaborasi | ✓ | | Kemandirian | ✓ | | Kesehatan | | | Komunikasi | ✓ |
PERTANYAAN PEMANTIK- Apa yang kalian lakukan secara spontan ketika seorang teman tiba-tiba melempar bola ke arah kalian?
- Bagaimana sebuah peran dalam kelompok bisa terus berjalan jika antarpemain saling memberikan aksi dan tanggapan (reaksi)?
- Apa yang kamu lakukan jika teman bermain peranmu tiba-tiba memberikan aksi tak terduga dalam cerita?
- Bagaimana cara kita membalas aksi lawan main agar cerita terus berkembang bersama kelompok?
- Pernahkah kalian mengamati kebiasaan unik seseorang di sekitar sekolah saat mereka sedang beraktivitas?
- Bagaimana kita bisa mengenali pekerjaan atau karakter seseorang hanya dengan melihat cara bergerak dan kebiasaan berjalannya?
- Bagaimana kita bisa mengenali kebiasaan khas dari seorang tokoh dalam cerita?
- Mengapa kebiasaan yang berulang (seperti cara berjalan atau gerak tangan) membuat karakter tokoh cerita terlihat hidup?
- Siapakah tokoh yang paling memegang peran penting dalam dongeng yang pernah kalian dengar?
- Bagaimana caramu membedakan tokoh utama dan tokoh pembantu dalam sebuah cerita teater sederhana?
- Bagaimana kita bisa mengetahui sifat atau watak seseorang hanya dengan melihat apa yang ia lakukan dalam cerita?
- Mengapa pendapat kita mengenai sifat seorang tokoh bisa berbeda dengan pendapat teman kita?
- Bagaimana sebuah benda sederhana di sekitar kita (seperti sapu atau kardus) bisa membantu penonton memahami cerita dalam teater?
- Apa perbedaan benda yang dipegang tokoh (hand-prop) dengan benda yang menata panggung/latar (stage prop) dalam sebuah adegan teater?
- Bagaimana caramu mengubah cara berdiri atau berjalan saat berganti peran dari tokoh anak kecil menjadi tokoh kakek penjual payung?
- Apa ciri khas dari orang atau tokoh yang pernah kamu amati di sekitarmu yang bisa kamu tirukan saat bermain peran?
- Bagaimana caramu bersama kelompok memerankan cerita yang diambil dari peristiwa nyata di sekitarmu?
- Mengapa pengalaman dan pengamatan sehari-hari membuat lakon yang kita perankan terasa lebih hidup?
- Bagaimana kelompokmu mewujudkan kebiasaan tokoh dan memanfaatkan benda sekitar sebagai properti dalam pementasan lakon hari ini?
- Bagaimana caramu merespons aksi teman secara spontan di atas panggung agar peranmu terasa hidup?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1 — Improvisasi Peran Berkelompok Aksi dan Reaksi Sederhana — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 5.2.1 Melakukan improvisasi peran berkelompok untuk melatih aksi dan reaksi dalam mengelaborasi tokoh cerita
Pendahuluan:- Guru membuka kelas, menyapa murid, memimpin doa bersama, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui permainan pemanasan respons spontan 'Oper Bola Imajinasi' untuk memetakan kesiapan murid dalam merespons aksi spontan teman (7 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna):- Murid mengamati peragaan singkat aksi-reaksi sederhana yang dicontohkan guru bersama satu perwakilan murid (contoh aksi: pura-pura menyodorkan payung saat hujan; contoh reaksi: menerima payung dan berteduh bersama) untuk memahami hubungan sebab-akibat antara tindakan awal dan tanggapan peran (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):- Murid dibagi ke dalam kelompok kecil beranggotakan 3-4 orang untuk melakukan latihan improvisasi peran aksi dan reaksi sederhana menggunakan stimulus 3 skenario situasi sehari-hari yang disediakan guru: Skenario 1 (Angin Kencang di Halte Bus: satu murid beraksi menahan topi terbang, anggota kelompok bereaksi membantu mengejar topi atau memegangi tiang halte), Skenario 2 (Menemukan Dompet Terjatuh di Lapangan: satu murid beraksi menemukan dompet dan memanggil teman, anggota kelompok bereaksi mendekat dan memeriksa pemilik dompet bersama), dan Skenario 3 (Hujan Deras Tiba-tiba saat Pulang Sekolah: satu murid beraksi menengadahkan tangan dan berlari menepi, anggota kelompok bereaksi membuka tas mencari jas hujan atau mengajak berteduh di teras toko) (25 menit).
- Setiap kelompok secara bergiliran melakukan peragaan improvisasi peran aksi-reaksi tersebut di ruang tengah kelas dengan durasi peragaan masing-masing 2-3 menit secara menggembirakan dan saling merespons secara spontan (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid duduk melingkar dan melakukan refleksi bersama mengenai pengalaman melakukan aksi spontan dan memberikan reaksi yang selaras terhadap tindakan rekan sekelompok saat improvisasi berlangsung (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan bahwa kunci improvisasi peran kelompok adalah kesiapan memberi aksi yang jelas dan menyambut aksi teman dengan reaksi yang sesuai (3 menit).
- Guru menyampaikan apresiasi atas keterlibatan seluruh kelompok serta menginformasikan topik pertemuan berikutnya yaitu improvisasi peran aksi dan reaksi dalam elaborasi tokoh cerita, lalu menutup sesi dengan doa bersama (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Kelompok yang membutuhkan bimbingan diberikan stimulus skenario dengan panduan urutan aksi pembuka yang sangat konkret (misal: guru memandu aksi pertama), sedangkan kelompok yang lebih mahir diberikan skenario dengan kebebasan menentukan aksi pembuka sendiri.
- Proses: Pada tahap latihan, guru mendampingi kelompok yang masih ragu memulai aksi dengan memberikan hitungan atau aba-aba mulainya respons peran.
- Produk: Kelompok yang berkembang menyajikan improvisasi aksi-reaksi sederhana minimal 2 putaran aksi-reaksi berantai, sedangkan kelompok mahir menyajikan rangkaian improvisasi aksi-reaksi berkesinambungan tanpa jeda ragu.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Permainan pemanasan 'Oper Bola Imajinasi': Murid berdiri melingkar, guru melempar bola imajiner (misal: bola berat dari batu, bola bulu yang sangat ringan, atau bola panas yang membara) kepada murid secara acak. Kriteria kesiapan: (1) Murid siap bila langsung menangkap dan bereaksi sesuai bobot/sifat bola imajiner tersebut tanpa jeda kebingungan; (2) Murid perlu bimbingan bila terdiam atau tidak merespons gerakan lemparan bola imajiner (acuan: menangkap dengan gestur tangan berat/terkulai untuk bola batu; mengelak/meniup untuk bola bulu; menjerit/melempar cepat untuk bola panas).
Proses:- Observasi formatif saat murid melakukan improvisasi peran kelompok berdasarkan 3 skenario situasi (Angin Kencang, Dompet Terjatuh, Hujan Deras). Kriteria penilaian: ketepatan memberikan aksi peran awal yang memicu situasi dan kesesuaian memberikan reaksi spontan terhadap tindakan teman dalam satu adegan terpadu tanpa memutus jalan cerita.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan/peragaan singkat pada penutup: Murid menunjukkan satu pasangan aksi-reaksi kilat berpasangan (misal: teman A berpura-pura memberikan barang berat, teman B langsung merespons dengan gestur menerima beban berat). Kriteria ketercapaian: reaksi murid B langsung muncul selaras dengan sifat aksi murid A tanpa instruksi verbal tambahan.
Formatif:- Pengamatan unjuk kerja improvisasi peran aksi dan reaksi berkelompok menggunakan lembar observasi
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Melakukan Aksi Peran dalam Kelompok | Belum mampu memunculkan tindakan/aksi peran dalam kelompok secara mandiri maupun dengan bantuan instruksi guru. | Mampu memunculkan tindakan/aksi peran sederhana dalam kelompok namun masih memerlukan dorongan atau petunjuk dari guru/teman. | Mampu melakukan tindakan/aksi peran secara mandiri dan jelas sesuai skenario situasi yang dimainkan dalam kelompok. | Mampu melakukan variasi tindakan/aksi peran secara mandiri, jelas, dan luwes memicu dinamika permainan kelompok sesuai situasi. | | Melakukan Reaksi Peran terhadap Aksi Teman | Belum memberikan reaksi terhadap aksi yang dilakukan rekan sekelompok sehingga adegan terhenti. | Mampu memberikan reaksi peran terhadap aksi rekan sekelompok namun dengan jeda ragu yang lama atau reaksi belum sepenuhnya selaras dengan situasi. | Mampu memberikan reaksi peran secara spontan dan selaras terhadap aksi yang dilakukan rekan sekelompok sehingga situasi cerita terus bergulir. | Mampu memberikan reaksi peran secara spontan, tepat, dan berkesinambungan menyambung aksi rekan sekelompok secara runtut dan hidup. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah seluruh murid berani mengekspresikan aksi dan reaksi spontan saat berkelompok tanpa rasa takut salah?
- Bagaimana efektivitas stimulus skenario situasi sehari-hari dalam memicu respons spontan murid?
Murid:- Apa hal paling menyenangkan saat kamu merespons tindakan yang dilakukan teman kelompokmu tadi?
- Bagian mana dari permainan improvisasi peran yang masih terasa sulit untuk kamu lakukan bersama teman?
Pertemuan 2 — Improvisasi Peran Berkelompok Aksi dan Reaksi dalam Elaborasi Tokoh Cerita — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 5.2.1 Melakukan improvisasi peran berkelompok untuk melatih aksi dan reaksi dalam mengelaborasi tokoh cerita
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, doa bersama, dan mengecek kesiapan fisik murid untuk ruang gerak teater (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui permainan cepat 'Aksi Lempar Kata dan Gerak' berpasangan, di mana satu murid melempar aksi gerak sederhana dan pasangannya spontan memberikan reaksi gerak balasan yang sesuai konteks (10 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu memperdalam improvisasi peran berkelompok dengan melatih aksi dan reaksi dalam mengelaborasi tokoh cerita (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak demonstrasi singkat dua guru/relawan murid tentang prinsip 'Ya, Dan...' (menerima aksi teman dan menambahkan aksi baru) dalam mengelaborasi tokoh cerita (10 menit).
- Murid dalam kelompok kecil (3-4 orang) mencermati stimulus 3 kartu skenario situasi cerita yang disediakan guru: (1) Skenario A: Pedagang pasar yang dagangannya tumpah dan pembeli yang menolong, (2) Skenario B: Petualang yang menemukan peta rahasia di hutan dan rekannya yang ketakutan, (3) Skenario C: Petani yang mendapati padinya diserang hama dan tetangga yang membawa alat pengusir (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Setiap kelompok memilih 1 dari 3 skenario situasi cerita tersebut dan menentukan pembagian tokoh cerita tanpa menggunakan naskah tertulis (10 menit).
- Murid melakukan latihan improvisasi peran berkelompok putaran 1 dengan fokus merespons aksi spontan rekan satu kelompok menggunakan prinsip aksi-reaksi (15 menit).
- Setiap kelompok memainkan adegan improvisasi peran berkelompok di hadapan kelompok lain secara bergantian, menerapkan aksi dan reaksi langsung dalam mengelaborasi tokoh cerita (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama kelompoknya mengevaluasi kelancaran aksi dan reaksi yang telah dilakukan: apakah respons langsung menjawab aksi teman atau sempat terhenti (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik menyeluruh terhadap kemampuan kelompok dalam menerima dan membalas aksi peran tanpa jeda kebingungan (5 menit).
- Murid dan guru menyimpulkan pentingnya kepekaan aksi-reaksi dalam membangun adegan kelompok, dilanjutkan merapikan ruang kelas dan doa penutup (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan kartu stimulus skenario cerita dengan tingkat kerumitan konflik sederhana (pasar) hingga konflik dinamis (petualangan di hutan).
- Proses: Kelompok yang masih ragu diberikan panduan stimulus aksi beruntun oleh guru secara terbimbing, sedangkan kelompok yang sudah lancar diberikan tantangan variasi reaksi tak terduga secara mandiri.
- Produk: Kelompok mengekspresikan elaborasi aksi-reaksi tokoh cerita dengan jumlah pertukaran aksi minimal 3 kali pertukaran untuk pemula hingga lebih dari 5 kali pertukaran untuk yang mahir.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tes diagnostik performa berpasangan 'Aksi Lempar Kata dan Gerak' (10 menit pada Pendahuluan). Guru memberikan 3 aksi pemantik: (1) Aksi menjatuhkan barang berharga, (2) Aksi menyapa kawan lama dengan panik, (3) Aksi mencium bau asap terbakar. Kriteria kesiapan: Murid siap jika mampu langsung merespons dengan 1 reaksi gerak/dialog spontan yang relevan terhadap minimal 2 dari 3 aksi stimulus tersebut (acuan relevansi: Aksi 1 direspons dengan membungkuk menolong/kaget; Aksi 2 direspons dengan memegang pundak/bertanya cemas; Aksi 3 direspons dengan melihat sekitar/mencari sumber asap).
Proses:- Pengamatan keterlibatan dan ketepatan melakukan improvisasi peran aksi-reaksi selama latihan dan penampilan kelompok. Fokus amatan: (1) Murid merespons aksi teman main tanpa membatalkan cerita teman (menerima aksi), (2) Murid melontarkan aksi balasan yang memajukan elaborasi tokoh cerita (memberikan reaksi).
Akhir Pertemuan:- Cek penguasaan peran melalui umpan balik unjuk kerja: Setiap murid dalam kelompok dinilai berdasarkan keterlibatannya melakukan aksi dan reaksi improvisasi minimal 3 kali pertukaran aksi-reaksi dalam skenario yang dipilih (Pedagang-Pembeli, Petualang, atau Petani).
Formatif:- Observasi unjuk kerja improvisasi peran aksi-reaksi berkelompok menggunakan lembar ceklis ketercapaian
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Improvisasi Peran Berkelompok (Aksi dan Reaksi) | Belum mampu merespons aksi kawan peran secara spontan, pasif atau membeku saat diberi stimulus peran dalam kelompok. | Mampu merespons aksi kawan peran dengan 1-2 reaksi sederhana namun masih sering membutuhkan arahan atau jeda berpikir yang lama. | Mampu melakukan improvisasi aksi dan reaksi secara runtut dan saling terhubung minimal 3 kali pertukaran aksi bersama kawan kelompok. | Mampu melakukan improvisasi aksi dan reaksi secara luwes, spontan, dan konsisten mengembangkan situasi tokoh cerita tanpa jeda ragu secara mandiri. | | Elaborasi Tokoh Cerita dalam Kelompok | Belum menunjukkan tindakan peran yang sesuai dengan tokoh skenario yang dipilih. | Menunjukkan tindakan peran tokoh sesuai skenario tetapi belum mengembangkan relasi aksi-reaksi dengan tokoh lain. | Mengelaborasi tindakan tokoh secara konsisten sesuai peran skenario yang dipilih dan selaras dengan respons tokoh kelompoknya. | Mengelaborasi tindakan tokoh dengan kaya ragam respon peran, memperdalam situasi cerita kelompok secara kreatif dan konsisten. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah seluruh murid berani merespons aksi rekan kelompoknya tanpa rasa takut salah?
- Bagaimana variasi stimulasi skenario membantu murid mengeksplorasi reaksi spontan yang wajar?
Murid:- Apa bagian yang paling menyenangkan saat harus langsung merespons aksi tak terduga dari teman sekelompok?
- Kesulitan apa yang kamu rasakan saat harus menjaga agar cerita kelompok tetap tersambung?
Pertemuan 3 — Pengenalan Karakter melalui Pengamatan Kebiasaan Tokoh Sehari-hari — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 5.2.2 Melakukan pengenalan karakter melalui pengamatan kebiasaan tokoh yang diperankan
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa pembuka sesuai keyakinan (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan kegiatan belajar, yaitu mengenali karakter tokoh di lingkungan sekitar melalui pengamatan kebiasaan mereka (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui tanya jawab singkat tentang cara berjalan dan kebiasaan khas tokoh profesi di sekolah (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna):- Murid menyimak panduan pengamatan karakter mengenai aspek yang perlu diperhatikan: cara berjalan, posisi tubuh, dan kebiasaan khas saat bekerja (10 menit).
- Guru memberikan contoh pengamatan kebiasaan khas pada tokoh guru (membawa buku di dada, langkah teratur) dan penjaga perpustakaan (berjalan pelan, mata memindai rak) (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):- Murid diajak menjelajah area sekolah selama 8 menit untuk mengamati langsung kebiasaan gerak tokoh sehari-hari di sekitar sekolah, seperti petugas kebersihan yang menyapu, penjaga gerbang yang berdiri siaga, atau petugas kantin yang melayani pembeli (10 menit).
- Murid kembali ke ruang kelas dan mencatat pada tabel observasi mengenai 3 detail kebiasaan tokoh yang diamati: (1) cara berjalan/langkah kaki, (2) bentuk/posisi tubuh saat diam, dan (3) gerak kebiasaan berulang saat bekerja (15 menit).
- Permainan Tebak Tokoh: Murid secara bergiliran berdiri dan melakukan gerakan tanpa suara (pantomimik) yang menirukan kebiasaan tokoh hasil pengamatannya selama 30-45 detik, sementara murid lain menebak tokoh yang diperagakan (30 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid mengevaluasi kemudahan mengenali karakter tokoh berdasarkan ketepatan detail kebiasaan gerak yang telah diamati dan diperagakan temannya (10 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan bahwa karakter seseorang dapat dikenali secara jelas melalui pengamatan cermat terhadap kebiasaan fisik dan gerak berulang (3 menit).
- Guru memberikan umpan balik penguatan terhadap hasil pengamatan murid dan menutup pertemuan dengan doa bersama (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan 3 aspek pengamatan terstruktur (langkah kaki, punggung/bahu, tangan); murid yang mahir mengamati tokoh dengan kebiasaan gerak yang lebih kompleks atau dinamis.
- Proses: Murid dengan hambatan pengamatan didampingi langsung oleh guru saat observasi keliling sekolah; murid yang mandiri melakukan pengamatan mandiri dengan batasan waktu.
- Produk: Murid boleh menunjukkan pengenalan karakter melalui pencatatan tabel sederhana 3 aspek gerak atau peragaan langsung kebiasaan gerak tokoh.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik tanya jawab awal mengenai kebiasaan fisik tokoh di sekolah. Pertanyaan guru: 'Sebutkan kebiasaan khas dari petugas kebersihan sekolah saat sedang bertugas!' (Acuan jawaban: membawa atau mengayunkan sapu, badan agak membungkuk saat menyapu, langkah kaki pelan menyusuri lantai).
Proses:- Formatif pencatatan dan peragaan gerak kebiasaan tokoh: guru memeriksa lembar observasi murid yang memuat 3 aspek kebiasaan gerak tokoh sehari-hari (langkah kaki, bentuk tubuh, gerak tangan berulang) serta ketepatan peniruan gerak saat permainan tebak tokoh berlangsung (Acuan: murid minimal mencatat dan meniru 3 aspek kebiasaan tokoh yang diamati secara tepat).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan di akhir kegiatan. Pertanyaan guru: 'Sebutkan 3 tanda kebiasaan tubuh yang membuat kita tahu temanmu tadi memperagakan petugas gerbang/satpam!' (Acuan jawaban: berdiri tegak dengan tangan di belakang/pinggang, kepala menoleh ke kiri-kanan mengawasi jalan, langkah tegap tegas).
Formatif:- Observasi unjuk kerja pengenalan karakter melalui pengamatan dan peniruan kebiasaan tokoh sehari-hari
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Pengenalan karakter melalui pengamatan kebiasaan tokoh | Belum mampu mengidentifikasi dan memperagakan kebiasaan tokoh (hanya 0-1 aspek kebiasaan gerak yang teramati/tertiru secara tepat). | Mampu mengidentifikasi dan memperagakan 2 dari 3 aspek kebiasaan tokoh (langkah kaki, bentuk tubuh, gerak tangan berulang) dengan bimbingan guru. | Mampu mengidentifikasi dan memperagakan 3 aspek kebiasaan tokoh (langkah kaki, bentuk tubuh, gerak tangan berulang) secara tepat dan mandiri. | Mampu mengidentifikasi dan memperagakan lebih dari 3 detail kebiasaan tokoh (langkah kaki, bentuk tubuh, gerak tangan berulang, serta ritme gerak khas) secara tepat, konsisten, dan mandiri tanpa keraguan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 8 menit untuk pengamatan di luar kelas cukup efektif bagi murid mengenali kebiasaan tokoh?
- Bagaimana keterlibatan murid saat permainan tebak kebiasaan tokoh berlangsung di kelas?
Murid:- Kebiasaan khas apa yang paling mudah kamu kenali dari orang-orang di sekolah?
- Bagian mana dari gerakan tokoh yang paling menantang untuk kamu tirukan?
Pertemuan 4 — Pengenalan Karakter melalui Pengamatan Kebiasaan Tokoh Cerita — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 5.2.2 Melakukan pengenalan karakter melalui pengamatan kebiasaan tokoh yang diperankan
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu mengenal karakter tokoh cerita melalui pengamatan kebiasaannya (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui tanya jawab singkat tentang kebiasaan tokoh dari kutipan cerita fabel pendek (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak pembacaan teks cuplikan cerita 'Kancil dan Kura-Kura di Tepi Sungai': (1) Tokoh Kancil memiliki kebiasaan selalu melirik cepat ke kanan-kiri, melompat kecil saat gembira, dan mengusap kumisnya dengan jari telunjuk; (2) Tokoh Kura-Kura memiliki kebiasaan menarik lehernya perlahan ke dalam cangkang saat terkejut, melangkah lambat dengan kaki melebar, dan menggelengkan kepala pelan saat berpikir (15 menit).
- Secara berpasangan, murid mengidentifikasi dan mencatat 3 kebiasaan fisik dari tokoh Kancil (melirik cepat ke kanan-kiri, melompat kecil, mengusap kumis) dan 3 kebiasaan fisik tokoh Kura-Kura (menarik leher perlahan, melangkah lambat melebar, menggeleng pelan) untuk memahami hubungan kebiasaan tersebut dengan sifat karakter tokoh (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan):- Guru memandu permainan gerak 'Tebak Kebiasaan Tokoh Cerita': Guru menyediakan 3 kartu kebiasaan tokoh cerita tambahan, yaitu: (Kartu 1) 'Singa Penjaga Rimba: berjalan tegap membusungkan dada dan sesekali menggaruk dagu dengan gerakan tegas'; (Kartu 2) 'Monyet Cerdik: menggaruk kepala berulang kali sambil melompat di tempat secara lincah'; (Kartu 3) 'Beruang Penyabar: berjalan santai dengan langkah berat lalu menguap pelan sambil menepuk perut'. Murid secara bergantian melakukan pengenalan karakter dengan menirukan kebiasaan pada kartu yang dipilih tanpa bersuara, lalu teman sekelas menebak tokohnya (25 menit).
- Setiap murid memilih salah satu dari 2 tokoh cerita utama (Kancil atau Kura-Kura) dan melakukan latihan peragaan kebiasaan khas tokoh tersebut secara mandiri: memperagakan minimal 2 dari 3 kebiasaan khas tokoh yang dipilih secara konsisten saat bergerak di ruang kelas (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid duduk melingkar dan melakukan perenungan terarah mengenai pengalaman memperagakan kebiasaan tokoh cerita: kebiasaan mana yang paling mudah atau menantang untuk dikenali dan diperagakan (10 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan bahwa kebiasaan berulang dari tubuh tokoh cerita adalah kunci untuk mengenali dan membentuk karakter tokoh saat berteater (3 menit).
- Guru memberikan penguatan dan umpan balik singkat terhadap pengenalan karakter yang dilakukan murid, lalu menutup pembelajaran dengan doa bersama (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan visual bergambar gerak tubuh tokoh (Kancil/Kura-Kura), sedangkan murid yang lebih cepat diberikan kartu tokoh tambahan (Singa/Beruang) dengan deskripsi kebiasaan yang lebih variatif.
- Proses: Murid yang masih ragu dapat berlatih mengenali kebiasaan dengan bimbingan langsung guru atau meniru peragaan rekan, sedangkan murid yang mandiri langsung melakukan eksplorasi gerak kebiasaan tokoh.
- Produk: Semua murid menunjukkan pengenalan karakter melalui peragaan kebiasaan tokoh cerita; murid yang cepat memperagakan 3 kebiasaan lengkap secara runtut, sedangkan murid yang membutuhkan bimbingan memperagakan minimal 2 kebiasaan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik: 'Perhatikan cuplikan cerita: Burung Hantu tua selalu mengerjapkan mata bulatnya tiga kali dan memiringkan kepala sebelum menyapa temannya. Sebutkan 2 kebiasaan khas tokoh Burung Hantu tersebut!' (Acuan jawaban benar: (1) mengerjapkan mata bulatnya tiga kali; (2) memiringkan kepala).
Proses:- Observasi peragaan mandiri murid saat melakukan pengenalan karakter melalui kebiasaan tokoh cerita yang dipilih (Kancil atau Kura-Kura). Acuan kebiasaan target: Kancil (kebiasaan 1: melirik cepat ke kanan-kiri, kebiasaan 2: melompat kecil, kebiasaan 3: mengusap kumis); Kura-Kura (kebiasaan 1: menarik leher perlahan ke dalam, kebiasaan 2: melangkah lambat melebar, kebiasaan 3: menggeleng pelan).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan di akhir sesi: 'Sebutkan minimal 2 kebiasaan fisik yang kamu peragakan hari ini untuk mengenali karakter tokoh ceritamu!' (Kriteria penerimaan: murid menyebutkan dan memperagakan ulang secara tepat minimal 2 dari 3 kebiasaan tokoh sesuai acuan karakter Kancil atau Kura-Kura yang dipilihnya).
Formatif:- Pengamatan kinerja peragaan kebiasaan tokoh cerita (observasi unjuk kerja individu)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Pengenalan Karakter melalui Pengamatan Kebiasaan Tokoh Cerita | Memperagakan kurang dari 2 kebiasaan khas tokoh cerita sesuai acuan, serta masih memerlukan bimbingan penuh dari guru dalam mengenali karakter tokoh. | Memperagakan 2 kebiasaan khas tokoh cerita sesuai acuan, namun gerakan masih terputus-putus dan perlu sesekali diarahkan oleh guru. | Memperagakan minimal 2 kebiasaan khas tokoh cerita sesuai acuan (dari 3 daftar kebiasaan Kancil atau Kura-Kura) secara mandiri dan berulang. | Memperagakan seluruh 3 kebiasaan khas tokoh cerita sesuai acuan (daftar kebiasaan Kancil atau Kura-Kura) secara mandiri, runtut, dan konsisten. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah aktivitas permainan gerak tebak kebiasaan berhasil membantu murid mengenali karakter tokoh cerita secara antusias?
- Bagian langkah pembelajaran mana yang memerlukan modifikasi alokasi waktu atau bantuan peragaan tambahan bagi murid yang kesulitan?
Murid:- Kebiasaan tokoh cerita mana yang paling kamu sukai saat kamu peragakan tadi?
- Apakah kamu merasa terbantu mengenali watak tokoh setelah menirukan kebiasaan geraknya?
Pertemuan 5 — Menceritakan Pendapat tentang Penokohan dalam Cerita Sederhana — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 5.2.3 Menceritakan pendapatnya tentang penokohan dan perwatakan dalam sebuah cerita sederhana
Pendahuluan:- Guru membuka pelajaran, menyapa murid, dan memimpin doa bersama (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menceritakan pendapat tentang penokohan dalam cerita sederhana (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat dengan membacakan cuplikan cerita fabel pendek: 'Kancil mencari jalan menyeberangi sungai, Buaya menghadang di tepi sungai, sementara Burung Pipit hinggap di dahan mengamati dari kejauhan' lalu menanyakan: 'Siapa yang menjadi tokoh utama dalam penggalan tadi?' (acuan jawaban: Kancil sebagai tokoh utama penggerak peristiwa) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Guru membacakan teks cerita teater pendek berjudul 'Persahabatan Kancil, Beruang, dan Burung Gagak': Kancil merencanakan cara membagi makanan secara adil di hutan, Beruang membantu mengangkat keranjang buah besar, sementara Burung Gagak bertengger di pohon memberi tanda datangnya hujan (15 menit).
- Guru memberikan penjelasan konsep penokohan dalam drama/teater: Tokoh Utama (protagonis/penggerak cerita) dan Tokoh Pendukung/Pembantu (membantu atau mendampingi peristiwa cerita) (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid memainkan permainan tebak peran gembira 'Siapa Aku di Panggung?': Guru membacakan kartu narasi peran dan murid secara cepat menunjuk tanda 'Tokoh Utama' atau 'Tokoh Pembantu'. Kartu 1: 'Aku yang memiliki ide utama menjelajahi gua' (acuan: Tokoh Utama); Kartu 2: 'Aku membawakan obor di belakang' (acuan: Tokoh Pembantu); Kartu 3: 'Aku yang bertanding melawan monster' (acuan: Tokoh Utama); Kartu 4: 'Aku penjual peta di pasar' (acuan: Tokoh Pembantu) (15 menit).
- Guru membagikan teks cerita pendek kedua: 'Batu Persahabatan di Desa Suka Damai' yang memuat 3 tokoh: Arga (anak yang bertekad membersihkan mata air desa), Bimo (sahabat Arga yang ikut membawakan cangkul), dan Pak Roni (tetua desa yang memberikan izin serta doa) (15 menit).
- Secara berpasangan, murid menceritakan pendapatnya kepada teman sebangku mengenai penokohan dalam cerita 'Batu Persahabatan di Desa Suka Damai': menyebutkan tokoh utama dan tokoh pembantu beserta alasan peristiwa yang dialami tokoh tersebut (acuan: Arga adalah tokoh utama karena ia yang punya tujuan dan menggerakkan cerita; Bimo dan Pak Roni adalah tokoh pembantu karena membantu terlaksananya tujuan Arga) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Tiga perwakilan murid secara bergiliran menceritakan pendapatnya di hadapan kelas mengenai penokohan tokoh Arga dan Bimo berdasarkan cerita yang dibahas (10 menit).
- Guru bersama murid merefleksikan pentingnya memahami penokohan sebelum seorang pemeran memainkan drama teater (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan dan apresiasi atas keberanian murid menyampaikan pendapat penokohan secara terbuka (3 menit).
- Guru menyampaikan topik pertemuan berikutnya (Pertemuan 6), yaitu menceritakan pendapat tentang perwatakan tokoh cerita sederhana, lalu menutup kelas dengan doa bersama (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan teks cerita 'Batu Persahabatan' dalam format paragraf berilustrasi karakter untuk murid yang membutuhkan visual, dan teks naratif murni bagi murid yang telah lancar membaca cepat.
- Proses: Memberikan panduan kalimat pemantik penceritaan ('Menurut pendapat saya, tokoh utama cerita ini adalah ... karena ...') bagi murid yang membutuhkan scaffolding, serta memfasilitasi murid yang cepat untuk menceritakan perbandingan peran antara tokoh utama dan kedua tokoh pembantu secara mandiri.
- Produk: Penyampaian cerita pendapat penokohan dilakukan secara lisan berpasangan atau lisan di depan kelas sesuai tingkat kesiapan murid.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik di pendahuluan menggunakan cuplikan cerita Kancil, Buaya, dan Burung Pipit: 'Sebutkan siapa tokoh utama dari cuplikan tersebut!' (acuan jawaban benar: Kancil, karena berperan sebagai penggerak peristiwa utama cerita).
Proses:- Cek pemahaman permainan 'Siapa Aku di Panggung?' (Kartu 1 = Tokoh Utama, Kartu 2 = Tokoh Pembantu, Kartu 3 = Tokoh Utama, Kartu 4 = Tokoh Pembantu).
- Pengamatan saat murid menceritakan pendapatnya tentang penokohan teks 'Batu Persahabatan di Desa Suka Damai' (kriteria: ketepatan menentukan Arga sebagai tokoh utama serta Bimo dan Pak Roni sebagai tokoh pembantu, disertai alasan peran dalam cerita).
Akhir Pertemuan:- Umpan balik lisan langsung dari guru terhadap penceritaan pendapat murid mengenai penokohan dalam cerita (kriteria: murid mampu menceritakan pendapatnya dengan menyebutkan kedudukan tokoh utama dan pembantu secara runtut).
Formatif:- Observasi unjuk kerja saat murid menceritakan pendapat tentang penokohan cerita sederhana kepada rekan berpasangan maupun di depan kelas.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menceritakan pendapat tentang penokohan cerita | Belum mampu menceritakan pendapatnya tentang penokohan tokoh utama maupun tokoh pembantu dalam cerita sederhana. | Menceritakan pendapat tentang penokohan hanya pada 1 tokoh (utama saja atau pembantu saja) dengan bimbingan penuh guru. | Menceritakan pendapat tentang penokohan secara tepat meliputi tokoh utama (Arga) dan tokoh pembantu (Bimo atau Pak Roni) disertai alasan peran cerita secara mandiri. | Menceritakan pendapat tentang penokohan secara lengkap dan mendalam mencakup seluruh tokoh (Arga sebagai tokoh utama, Bimo dan Pak Roni sebagai tokoh pembantu) beserta alasan keterlibatan peran masing-masing tokoh dalam alur cerita secara mandiri dan runtut. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah pemilihan teks cerita sederhana 'Batu Persahabatan di Desa Suka Damai' memudahkan murid mengidentifikasi dan menceritakan penokohan?
- Bagaimana keterlibatan aktif murid saat menceritakan pendapat penokohan secara berpasangan?
Murid:- Apa yang paling mudah dan paling menantang saat kamu menceritakan pendapat tentang tokoh utama dan tokoh pembantu?
- Bagaimana kamu membedakan tokoh utama dan tokoh pendukung dalam sebuah cerita?
Pertemuan 6 — Menceritakan Pendapat tentang Perwatakan Tokoh dalam Cerita Sederhana — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 5.2.3 Menceritakan pendapatnya tentang penokohan dan perwatakan dalam sebuah cerita sederhana
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan memfasilitasi murid duduk melingkar dengan tenang untuk membangun kesadaran belajar (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menceritakan pendapat tentang perwatakan tokoh dalam cerita sederhana (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik lisan mengenai konsep watak tokoh dengan menanyakan contoh sifat tokoh dongeng umum (acuan: Kancil berwatak cerdik/licik; Buaya berwatak mudah percaya/serakah) (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak pembacaan cuplikan cerita 'Sahabat Hutan' yang dibacakan guru, berfokus pada tindakan dua tokoh: Tupai (berbagi buah kenari saat kemarau) dan Berang-berang (menimbun semua ikan sendirian di sarangnya) (10 menit).
- Murid secara berpasangan mengidentifikasi watak kedua tokoh tersebut berdasarkan tindakannya dan merumuskan pendapat awal (acuan: Tupai berwatak dermawan/peduli karena rela membagi simpanan makanannya; Berang-berang berwatak kikir/egois karena menyembunyikan makanan untuk diri sendiri) (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru memperkenalkan permainan menyenangkan 'Lingkaran Detektif Watak', di mana setiap kelompok menerima potongan cerita baru 'Kisah Bangau dan Ikan Gabus' yang memuat dialog dan tindakan 2 tokoh (Bangau dan Gabus) (10 menit).
- Dalam kelompok kecil, setiap murid bergantian menceritakan pendapatnya tentang perwatakan tokoh Bangau dan Gabus disertai bukti kalimat tindakan dari teks (acuan: Bangau berwatak licik/penipu karena berpura-pura hendak memindahkan ikan ke danau lain padahal untuk dimakan; Gabus berwatak waspada/cerdas karena menolak ajakan Bangau setelah melihat duri-duri ikan berserakan) (25 menit).
- Murid secara bergantian menceritakan pendapatnya di hadapan seluruh kelas mengenai perwatakan tokoh yang dianalisis secara lugas dan terstruktur (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid merefleksikan proses pembentukan pendapat mereka dengan menjawab pertanyaan penuntun: 'Bagian cerita mana yang paling meyakinkanmu tentang watak tokoh tersebut?' (5 menit).
- Murid menyimpulkan bersama bahwa menentukan watak tokoh teater didasarkan pada perkataan, keputusan, dan tindakan tokoh di dalam cerita (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik menyeluruh mengenai ketepatan murid dalam mengemukakan pendapat berbasis bukti teks cerita (3 menit).
- Guru menutup pertemuan dengan mengajak murid bersiap untuk kegiatan pertemuan berikutnya (mengidentifikasi properti sederhana) dan mengakhiri pembelajaran dengan salam penutup (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Teks cerita 'Kisah Bangau dan Ikan Gabus' dilengkapi garis bawah pada kalimat tindakan kunci bagi kelompok yang membutuhkan dukungan pemahaman.
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan kalimat ('Menurut saya, tokoh ... berwatak ... karena ia melakukan ...'), sedangkan murid yang mahir diminta menceritakan perbandingan perwatakan kedua tokoh secara mandiri tanpa kartu panduan.
- Produk: Penyampaian cerita pendapat dapat dilakukan secara lisan berpasangan atau lisan di depan kelompok besar.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik: Guru menanyakan sifat tokoh fabel terkenal: (1) 'Apa watak Kancil saat menyeberangi sungai?' (acuan: cerdik/licik); (2) 'Apa watak Buaya yang dibohongi?' (acuan: serakah/mudah percaya).
Proses:- Pengamatan ketercapaian saat murid menceritakan pendapatnya tentang perwatakan Bangau dan Gabus pada cerita 'Kisah Bangau dan Ikan Gabus' (acuan watak: Bangau = licik/culas karena berpura-pura menolong padahal memangsa ikan; Gabus = waspada/bijaksana karena mencurigai gerak-gerik Bangau dan menolak terbang bersamanya).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan penutup: Menentukan watak satu tokoh tambahan 'Semut Pekerja' dalam satu kalimat cuplikan: 'Semut tetap mengangkut bulir padi meski gerimis mulai turun.' (acuan jawaban benar: watak ulet/rajin/pantang menyerah, kriteria penerimaan: murid menyebutkan salah satu sifat sinonim yang merujuk pada ketekunan kerja).
Formatif:- Observasi unjuk kerja menceritakan pendapat tentang perwatakan tokoh cerita
- Pertanyaan diagnostik lisan perwatakan tokoh pada pendahuluan
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menceritakan Pendapat tentang Perwatakan Tokoh | Belum mampu menceritakan pendapat mengenai watak tokoh atau menyebutkan sifat yang keliru dan tidak sesuai tindakan tokoh dalam cerita. | Mampu menyebutkan watak 1 tokoh cerita dengan tepat tetapi belum mampu menceritakan alasan atau bukti tindakan tokoh yang mendasarinya. | Mampu menceritakan pendapat mengenai watak kedua tokoh cerita (Bangau licik, Gabus waspada) disertai 1 bukti tindakan tokoh yang sesuai secara terbimbing. | Mampu menceritakan pendapat mengenai watak kedua tokoh cerita (Bangau licik, Gabus waspada) secara lengkap disertai bukti tindakan konkret dari teks secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah murid dapat membedakan antara tindakan fisik tokoh dengan perwatakan (sifat batin) tokoh dalam cerita?
- Bagaimana keterlibatan murid yang pemalu saat menceritakan pendapatnya di dalam kelompok kecil?
Murid:- Bagian tindakan tokoh mana yang paling mudah membantumu menebak sifatnya?
- Apakah pendapatmu tentang sifat tokoh selalu sama dengan pendapat temanmu? Mengapa?
Pertemuan 7 — Mengidentifikasi Properti Sederhana Benda Sekitar Berdasarkan Cerita — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 5.2.4 Mengidentifikasi properti sederhana berdasarkan cerita yang akan dimainkan
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan mengajak berdoa bersama (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini: mengidentifikasi jenis properti sederhana (hand-prop/properti pegangan dan stage-prop/properti panggung) berdasarkan cerita yang akan dimainkan dengan memanfaatkan benda-benda di sekitar (4 menit).
- Asesmen awal diagnostik: Guru menunjukkan dua benda nyata di kelas (sebuah payung dan sebuah bangku kecil), lalu mengajukan pertanyaan cepat: 'Manakah yang termasuk hand-prop (benda yang dipegang tokoh) dan manakah yang termasuk stage-prop (penata latar panggung)?' Murid menjawab secara lisan. Acuan jawaban benar diagnostik: payung = hand-prop (properti pegang); bangku = stage-prop (properti panggung/latar) (8 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Menggembirakan):- Guru membacakan ringkasan naskah cerita pendek berjudul 'Bencana Banjir di Desa Suka Asih' di papan tulis:
Adegan 1 (Teras Rumah Pak RT): Pak RT sedang menyapu halaman ketika tiba-tiba pengantar surat datang membawa koran basah dan tas selempang. Mereka duduk di dua kursi kayu depan meja bambu.
Adegan 2 (Pos Ronda Saat Hujan): Warga berkumpul membawa senter dan kentongan bambu. Di sudut pos ronda terdapat papan pengumuman kayu dan ember penampung bocoran air hujan (10 menit).
- Permainan Tebak Peran Properti 'Benda Ajaib': Guru mengeluarkan 4 benda sekitar: (1) gulungan koran, (2) sapu lidi, (3) kotak kardus, (4) botol minum. Murid secara bergantian dan ceria menebak fungsi benda tersebut bila diubah menjadi properti teater berdasarkan cerita (misal gulungan koran menjadi surat kabar/teropong, kotak kardus menjadi meja pos) (10 menit).
Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid berkelompok (4-5 murid per kelompok) menerima Lembar Kerja Identifikasi Properti Cerita yang memuat cuplikan adegan cerita 'Bencana Banjir di Desa Suka Asih' (5 menit).
- Secara kolaboratif, murid mengidentifikasi dan mengelompokkan 8 properti dari teks cerita ke dalam tabel kategori jenis properti (Hand-prop atau Stage-prop) serta menentukan benda pengganti sederhana dari sekitar kelas yang dapat difungsikan:
1. Sapu halaman (hand-prop / sapu lidi kelas)
2. Koran basah (hand-prop / gulungan kertas bekas)
3. Tas selempang (hand-prop / tas sekolah bertali)
4. Dua kursi kayu (stage-prop / kursi kelas)
5. Meja bambu (stage-prop / meja guru atau kardus besar)
6. Senter (hand-prop / tempat pensil silinder atau spidol)
7. Kentongan bambu (hand-prop / botol plastik atau botol minum)
8. Papan pengumuman kayu (stage-prop / papan tulis kecil atau karton) (30 menit).
- Setiap kelompok mencocokkan hasil identifikasi properti dan pemanfaatan benda sekitar bersama bimbingan guru dan saling membandingkan kelengkapan tabelnya (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid secara berpasangan merefleksikan proses mengidentifikasi properti: apakah benda di sekitar ruang kelas mudah atau sulit diimajinasikan menjadi properti cerita yang tepat (10 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan kembali perbedaan hand-prop (benda yang dipegang dan digerakkan pemeran) dan stage-prop (benda penata ruang panggung) dari cerita (5 menit).
- Guru menyampaikan rencana pembelajaran berikutnya (pertemuan 8: memainkan peran sederhana menggunakan properti yang sudah diidentifikasi) dan menutup pembelajaran dengan doa bersama (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Kelompok yang membutuhkan bimbingan diberikan teks cuplikan adegan dengan kata-kata benda yang sudah ditebalkan (bold), sedangkan kelompok mahir menerima teks narasi utuh tanpa penandaan kata.
- Proses: Kelompok yang membutuhkan bimbingan didampingi guru memilah 4 benda utama, sedangkan kelompok mahir secara mandiri mengidentifikasi seluruh 8 properti dan merancang benda alternatif dari lingkungan sekolah.
- Produk: Kelompok dapat menyajikan daftar identifikasi properti dalam bentuk tabel centang bergambar atau daftar tabel matriks tertulis.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik cepat membedakan fungsi benda sekitar sebagai hand-prop atau stage-prop (menggunakan benda nyata: payung dan bangku kelas). Acuan jawaban benar: payung = hand-prop; bangku = stage-prop.
Proses:- Observasi formatif saat diskusi kelompok mengelompokkan 8 properti teks naskah cerita 'Bencana Banjir di Desa Suka Asih' ke dalam tabel klasifikasi hand-prop vs stage-prop beserta benda pengganti sekitar kelas. Acuan lengkap 8 benda:
1. Sapu halaman -> Hand-prop
2. Koran basah -> Hand-prop
3. Tas selempang -> Hand-prop
4. Dua kursi kayu -> Stage-prop
5. Meja bambu -> Stage-prop
6. Senter -> Hand-prop
7. Kentongan bambu -> Hand-prop
8. Papan pengumuman kayu -> Stage-prop.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman di akhir sesi melalui lembar refleksi singkat/tiket keluar: Murid menuliskan 2 properti (1 hand-prop dan 1 stage-prop) yang dibutuhkan jika cerita mengambil latar 'Dapur Sekolah'. Kriteria penerimaan: hand-prop adalah benda yang dipegang (misal sendok, lap, panci kecil) dan stage-prop adalah benda tata latar (misal meja kompor, rak piring, kursi makan).
Formatif:- Penilaian unjuk kerja pengisian Lembar Kerja Identifikasi Properti Sederhana (mengidentifikasi minimal 6 dari 8 properti dengan klasifikasi hand-prop dan stage-prop secara tepat berdasarkan cerita).
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Ketepatan Mengidentifikasi Properti Berdasarkan Cerita | Mengidentifikasi 1-2 dari 8 properti cerita dengan klasifikasi jenis properti yang tepat. | Mengidentifikasi 3-5 dari 8 properti cerita dengan klasifikasi jenis properti yang tepat. | Mengidentifikasi 6-7 dari 8 properti cerita dengan klasifikasi jenis properti (hand-prop dan stage-prop) secara tepat sesuai acuan naskah. | Mengidentifikasi seluruh 8 properti cerita dengan klasifikasi jenis properti (hand-prop dan stage-prop) serta menentukan padanan benda pengganti di sekitar kelas secara tepat dan mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah murid dapat membedakan dengan jelas antara hand-prop dan stage-prop melalui teks cerita yang diberikan?
- Apakah aktivitas permainan tebak benda sekitar efektif membantu daya imajinasi murid dalam memilih properti teater sederhana?
Murid:- Benda apa di sekitar kelasku yang paling mudah dan menarik diubah fungsinya menjadi properti cerita?
- Bagian mana yang paling menantang saat menentukan apakah suatu benda termasuk hand-prop atau stage-prop?
Pertemuan 8 — Memainkan Ragam Peran dari Cerita Sederhana Berdasarkan Hasil Pengamatan — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 5.2.5 Memainkan ragam peran dari cerita sederhana berdasarkan hasil pengamatan
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memimpin doa bersama (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu memainkan ragam peran dari teks cerita sederhana berdasarkan hasil pengamatan ciri kebiasaan tokoh (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui permainan tebak tiruan gerak: guru menirukan 2 gerak kebiasaan tokoh (1: mengayuh becak dengan napas terengah-engah; 2: pedagang jamu menggendong bakul dan berjalan pelan), lalu meminta murid menirukan kembali dan menyebutkan ciri fisiknya untuk memetakan kesiapan murid dalam memeragakan ciri tokoh berdasarkan pengamatan (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna):- Murid menyimak satu teks cerita sederhana berjudul 'Hari Hujan di Halte' yang disajikan guru, memuat 3 tokoh dengan ciri hasil pengamatan: (1) Tokoh Kakek Saleh (gerak jalan lambat, membungkuk, batuk kecil), (2) Tokoh Sasa si Murid SD (melompat-lompat kecil, menyandang tas ransel, memegang payung), dan (3) Tokoh Pak Ridwan Petugas Halte (berdiri tegak, sering melihat jam tangan, meniup peluit tanda bus tiba) (10 menit).
- Murid mengidentifikasi 3 ciri ragam peran dari teks tersebut melalui curah pendapat terbimbing: mencocokkan tindakan masing-masing tokoh dengan ciri perilaku hasil pengamatan kehidupan nyata yang ada di dalam teks (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):- Murid mengikuti permainan pemanasan peran 'Tukar Topeng Tubuh': guru membunyikan ketukan meja satu kali sebagai tanda murid berjalan seperti Tokoh Kakek Saleh (membungkuk lambat), dua kali ketukan berubah seketika menjadi Tokoh Sasa (melompat riang), dan tiga ketukan menjadi Tokoh Pak Ridwan (tegak bersiaga), untuk melatih keluwesan memainkan ragam peran secara menggembirakan (15 menit).
- Murid secara mandiri memilih 2 dari 3 peran yang ada dalam cerita 'Hari Hujan di Halte' untuk dimainkan secara bergantian di area latihan kelas (20 menit).
- Setiap murid memainkan kedua peran pilihannya di depan kelas/kelompok kecil sesuai alur cerita cuplikan: memeragakan Tokoh 1 selama 1 menit sesuai ciri pengamatan, lalu berganti memeragakan Tokoh 2 selama 1 menit dengan perbedaan ciri peran yang jelas (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid saling mengamati penampilan temannya dan mencocokkan apakah pemeranan sudah memunculkan ciri ragam peran yang diambil dari teks (10 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan bagaimana hasil pengamatan membantu kita membedakan cara memainkan peran yang berbeda dari sebuah cerita sederhana (3 menit).
- Guru memberikan umpan balik formatif langsung atas keberhasilan murid beralih dari satu peran ke peran lain secara tepat (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan visual berisi daftar ciri gerak Tokoh Kakek Saleh, Sasa, dan Pak Ridwan; murid yang mahir diberikan cerita yang sama tetapi ditantang memainkan ketiga tokoh secara berurutan.
- Proses: Murid yang memerlukan pendampingan berlatih transisi pergantian peran bersama guru; murid yang mandiri langsung bereksplorasi secara bebas di sudut kelas.
- Produk: Semua murid memainkan minimal 2 ragam peran dari cerita sederhana berdasarkan ciri hasil pengamatan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tebak gerak kebiasaan tokoh: Murid menirukan 2 gerak sederhana yang dicontohkan guru. Butir 1: menirukan pengayuh becak (acuan: posisi kaki mengayuh, tangan memegang kemudi); Butir 2: pedagang jamu (acuan: postur jalan pelan menopang beban selendang di punggung). Guru mencatat kesiapan gerak peran murid.
Proses:- Observasi unjuk kerja saat murid memainkan 2 peran dari cerita 'Hari Hujan di Halte'. Kriteria penilaian: (1) Perwujudan peran pertama sesuai ciri pengamatan pada teks (Kakek Saleh: membungkuk/lambat, Sasa: melompat/aktif, Pak Ridwan: tegak/bersiaga); (2) Perwujudan peran kedua yang berbeda secara nyata dari peran pertama; (3) Ketepatan memainkan tindakan tokoh sesuai alur cerita sederhana.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman akhir: Murid menyebutkan 1 perbedaan utama ciri tubuh antara dua peran yang telah ia mainkan (acuan: peran Kakek Saleh berpostur bungkuk dan melangkah pelan, sedangkan peran Sasa melangkah cepat/melompat atau peran Pak Ridwan berdiri tegak dan sigap).
Formatif:- Unjuk kerja memainkan ragam peran dari cerita sederhana berdasarkan pengamatan menggunakan lembar observasi peran.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Memainkan Ragam Peran Sesuai Hasil Pengamatan | Hanya mampu memainkan 1 peran dengan ciri gerak yang belum membedakan karakter tokoh dari teks cerita. | Mampu memainkan 2 peran dari cerita, namun perbedaan ciri pengamatan kedua tokoh masih belum konsisten terlihat saat peralihan peran. | Mampu memainkan 2 ragam peran dari cerita secara bergantian dengan memperlihatkan ciri khas gerak masing-masing tokoh sesuai hasil pengamatan pada teks. | Mampu memainkan 3 ragam peran dari cerita secara mandiri dan fasih dengan transisi perubahan ciri fisik/gerak tubuh yang sangat kontras dan meyakinkan sesuai hasil pengamatan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu latihan mandiri (20 menit) dan unjuk kerja peran (20 menit) cukup bagi seluruh murid untuk mencoba ragam peran?
- Bagaimana respons murid terhadap variasi peran yang dimainkan saat pergantian tokoh?
Murid:- Tokoh mana dari cerita 'Hari Hujan di Halte' yang paling menantang untuk kamu tirukan kebiasaannya?
- Bagian tubuh mana yang paling banyak kamu ubah saat berganti dari satu peran ke peran lainnya?
Pertemuan 9 — Memerankan Lakon secara Berkelompok Berdasarkan Minat, Pengamatan, dan Pengalaman — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 5.2.6 Memerankan lakon secara berkelompok berdasarkan minat, pengamatan, dan pengalaman
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam dan mengecek kehadiran murid (2 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu memerankan lakon secara berkelompok berdasarkan minat, hasil pengamatan, dan pengalaman nyata di sekitar murid (3 menit).
- Guru melakukan asesmen awal berupa tes lisan singkat untuk memetakan kesiapan murid dalam menghubungkan peran lakon dengan pengalaman/pengamatan nyata (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna):- Murid menyimak penjelasan guru mengenai 3 pilihan tema lakon sederhana yang diangkat dari pengalaman sehari-hari: Tema A 'Suasana Antre di Kantin Sekolah', Tema B 'Kerja Bakti Membersihkan Kelas', dan Tema C 'Membantu Kawan yang Terjatuh di Lapangan' (5 menit).
- Murid dalam kelompok beranggotakan 4-5 orang memilih 1 tema lakon sesuai minat bersama, lalu membagi peran berdasarkan hasil pengamatan mereka terhadap orang-orang di peristiwa tersebut (misal: penjual kantin, pembeli sabar, murid terburu-buru, atau ketua regu piket) (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):- Tiap kelompok melakukan latihan memerankan lakon singkat (durasi 2-3 menit per adegan) yang memuat rangkaian peristiwa sederhana (awal-konflik kecil-penyelesaian) berdasarkan minat dan pengamatan kelompok secara kolaboratif (10 menit).
- Tiap kelompok secara bergantian tampil memerankan lakon kelompoknya di depan kelas dengan penuh penghayatan peran sesuai pengalaman nyata yang dipilih, sementara kelompok lain menyaksikan jalannya cerita (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru merefleksikan pengalaman saat memerankan lakon kelompok, mengidentifikasi bagaimana pengamatan terhadap lingkungan nyata membantu mereka membawakan peran dengan wajar dan kompak (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik menyeluruh terhadap jalannya pemeranan lakon dari seluruh kelompok berdasarkan keselarasan peran dengan peristiwa nyata yang dipilih (5 menit).
- Guru menginformasikan agenda pertemuan berikutnya (Pertemuan 10: Pelaksanaan Asesmen Sumatif Eksplorasi Peran dan Pemeranan Lakon Sederhana Berkelompok) dan menutup kelas dengan doa bersama (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan 3 pilihan tema situasi lakon nyata (kantin, kerja bakti, lapangan) sehingga kelompok dapat memilih topik lakon sesuai minat dan pengalaman terdekat mereka.
- Proses: Kelompok yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan alur 3 babak sederhana (kejadian awal, masalah kecil, solusi), sedangkan kelompok yang sudah mandiri langsung merangkai improvisasi alur adegan secara leluasa.
- Produk: Pemeranan lakon disajikan dengan variasi durasi dan kompleksitas interaksi tokoh sesuai kesepakatan dan dinamika masing-masing kelompok.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab lisan diagnostik: Guru mengajukan pertanyaan pemantik kesiapan: 'Sebutkan 1 contoh kebiasaan tokoh nyata yang pernah kalian amati saat jam istirahat sekolah yang bisa dimasukkan ke dalam lakon!' (Kriteria penerimaan: Murid mampu menyebutkan minimal 1 perilaku konkret hasil pengamatan nyata, contoh: pedagang kantin yang sibuk melayani uang kembalian, atau murid yang sabar mengantre giliran).
Proses:- Observasi keterlibatan dan keselarasan peran saat murid memerankan lakon bersama kelompoknya (Indikator amatan: konsistensi memainkan peran tokoh yang dipilih dari awal hingga akhir adegan berdasarkan situasi nyata).
Akhir Pertemuan:- Umpan balik lisan langsung di akhir penampilan lakon kelompok: Guru memeriksa apakah seluruh anggota kelompok menjalankan perannya masing-masing dalam alur lakon tanpa keluar dari fokus adegan (Kriteria: Setiap anggota kelompok mengambil bagian peran dalam alur cerita secara utuh dari awal sampai penyelesaian).
Formatif:- Observasi unjuk kerja saat kelompok memerankan lakon di depan kelas dengan lembar amatan kesesuaian peran berbasis pengamatan/pengalaman nyata.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Pemeranan Lakon secara Berkelompok | Belum mampu memerankan tokoh dalam lakon kelompok, pasif atau berhenti sebelum alur lakon selesai. | Memerankan tokoh dalam lakon kelompok tetapi masih ragu-ragu dan membutuhkan banyak arahan guru untuk menyelesaikan alur cerita. | Mampu memerankan tokoh dalam lakon secara berkelompok secara runtut dari awal hingga akhir adegan sesuai tema pengalaman/pengamatan yang dipilih. | Mampu memerankan tokoh dalam lakon secara berkelompok secara konsisten, utuh, dan mandiri dengan perwatakan yang sangat selaras dengan hasil pengamatan/pengalaman nyata tanpa arahan guru. | | Kesesuaian Lakon Berdasarkan Minat, Pengamatan, dan Pengalaman | Lakon yang diperankan belum menunjukkan hubungan dengan tema pengamatan atau pengalaman nyata yang disepakati. | Lakon memuat sebagian kecil unsur peristiwa nyata, namun penokohan masih sering keluar dari situasi yang dipilih. | Lakon dan penokohan yang dimainkan kelompok secara utuh mencerminkan situasi nyata sesuai topik minat/pengamatan yang dipilih. | Lakon dan penokohan yang dimainkan kelompok secara utuh, kaya detail situasi nyata, serta terjalin kompak mencerminkan pengalaman bersama kelompok secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 15 menit untuk penampilan lakon mencukupi bagi seluruh kelompok untuk unjuk peran?
- Bagaimana keterlibatan murid yang pemalu dalam mengambil peran di dalam kelompok lakonnya?
Murid:- Bagian mana dari lakon kelompokmu yang paling mirip dengan kejadian nyata yang pernah kamu alami?
- Bagaimana perasaanmu saat bekerja sama memerankan cerita bersama teman sekelompok di depan kelas?
Pertemuan 10 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 5.2.1 Melakukan improvisasi peran berkelompok untuk melatih aksi dan reaksi dalam mengelaborasi tokoh cerita
- TP 5.2.2 Melakukan pengenalan karakter melalui pengamatan kebiasaan tokoh yang diperankan
- TP 5.2.3 Menceritakan pendapatnya tentang penokohan dan perwatakan dalam sebuah cerita sederhana
- TP 5.2.4 Mengidentifikasi properti sederhana berdasarkan cerita yang akan dimainkan
- TP 5.2.5 Memainkan ragam peran dari cerita sederhana berdasarkan hasil pengamatan
- TP 5.2.6 Memerankan lakon secara berkelompok berdasarkan minat, pengamatan, dan pengalaman
Pendahuluan:- Guru membuka sesi asesmen sumatif dengan salam, doa bersama, dan mengecek kesiapan fisik serta properti sederhana yang telah disiapkan tiap kelompok (5 menit).
- Guru menyampaikan alur pelaksanaan Asesmen Sumatif Bab 2 yang terdiri dari 3 bagian: pengisian lembar kerja portofolio karakter & properti, pertunjukan lakon sederhana berkelompok, dan presentasi lisan ulasan penokohan (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Murid dalam kelompok masing-masing (5-6 kelompok, 4-5 murid per kelompok) menyimak penjelasan rubrik dan instruksi pengerjaan lembar kerja karakter serta properti sederhana (5 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Tugas 1: Seluruh kelompok secara serentak mengisi lembar identifikasi kebiasaan tokoh (minimal 2 kebiasaan per tokoh, seperti cara berjalan membungkuk atau suara bergetar pada tokoh Kakek) dan mendaftar minimal 2 benda sekitar sebagai properti pengganti yang relevan (misal: botol bekas menjadi teropong/tongkat, kardus menjadi meja) sesuai acuan cerita masing-masing (20 menit).
- Tugas 2: Setiap kelompok secara bergantian (6 kelompok x 7-8 menit) mementaskan lakon sederhana di area panggung kelas dengan menerapkan improvisasi aksi-reaksi peran, ragam peran hasil pengamatan, serta penghayatan karakter lakon yang dipilih (45 menit).
- Tugas 3: Perwakilan tiap kelompok secara bergiliran (6 kelompok x 3-4 menit) menyampaikan ulasan lisan mengenai pendapat mereka tentang penokohan (protagonis/antagonis/tritagonis) dan perwatakan (sifat tokoh seperti bijaksana, serakah, penolong) dalam lakon yang baru dimainkan (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid secara hening menuliskan satu kalimat refleksi singkat pada lembar asesmen tentang pengalaman berimprovisasi dan berkolaborasi dalam kelompok selama asesmen berlangsung (3 menit).
Penutup:- Guru memberikan apresiasi atas seluruh penampilan lakon, kedisiplinan penggunaan properti sekitar, dan kejujuran refleksi kelompok sepanjang proses penilaian sumatif bab (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Akomodasi format lembar kerja: disediakan format tabel bergaris panduan bagi kelompok yang memerlukan bantuan keterbacaan tulisan catatan tokoh.
- Proses: Akomodasi akses pementasan: giliran tampil disesuaikan kesiapan properti kelompok tanpa mengubah durasi pementasan 7-8 menit maupun kriteria penilaian.
- Produk: Akomodasi penyampaian refleksi penokohan: perwakilan kelompok boleh berbicara dibantu catatan poin kata kunci yang disusun kelompok tanpa mengubah kriteria ketepatan analisis perwatakan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pengecekan kesiapan portofolio lakon: guru mengonfirmasi kesiapan daftar naskah/adegan lakon, pembagian peran murid dalam kelompok, serta ketersediaan benda sekitar yang dibawa untuk properti pementasan.
Sumatif Bab:- Portofolio lembar kerja karakter, pementasan lakon sederhana berkelompok, dan presentasi lisan refleksi peran: Lembar identifikasi kebiasaan tokoh dan properti sederhana, rekaman observasi pementasan lakon kelompok dengan aksi-reaksi improvisasi berdasarkan pengamatan, serta penyampaian lisan ulasan penokohan dan perwatakan cerita
- penugasan lembar kerja kelompok: catatan tertulis hasil pengamatan kebiasaan tokoh dan daftar identifikasi benda sekitar sebagai properti sederhana lakon yang dikerjakan serentak oleh 5-6 kelompok (masing-masing 4-5 murid) (25 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian lembar pengamatan karakter dan properti)
- pertunjukan lakon singkat berkelompok: penampilan lakon sederhana berdurasi 7-8 menit per kelompok (6 kelompok bergantian: 6 x 8 menit = 48 menit) yang menampilkan variasi peran hasil pengamatan, aksi-reaksi improvisasi, dan penghayatan tokoh cerita (50 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja pemeranan lakon dan improvisasi aksi-reaksi)
- presentasi lisan kelompok: penyampaian lisan perwakilan kelompok secara bergiliran (5 menit per kelompok untuk 6 kelompok = 30 menit) mengenai pendapat, analisis penokohan, dan perwatakan tokoh dalam cerita lakon yang dimainkan (30 menit; kelompok; instrumen: lembar observasi presentasi lisan penokohan dan perwatakan)
Sumatif:- Portofolio lembar kerja karakter, pementasan lakon sederhana berkelompok, dan presentasi lisan refleksi peran: Lembar identifikasi kebiasaan tokoh dan properti sederhana, rekaman observasi pementasan lakon kelompok dengan aksi-reaksi improvisasi berdasarkan pengamatan, serta penyampaian lisan ulasan penokohan dan perwatakan cerita
- penugasan lembar kerja kelompok: catatan tertulis hasil pengamatan kebiasaan tokoh dan daftar identifikasi benda sekitar sebagai properti sederhana lakon yang dikerjakan serentak oleh 5-6 kelompok (masing-masing 4-5 murid) (25 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian lembar pengamatan karakter dan properti)
- pertunjukan lakon singkat berkelompok: penampilan lakon sederhana berdurasi 7-8 menit per kelompok (6 kelompok bergantian: 6 x 8 menit = 48 menit) yang menampilkan variasi peran hasil pengamatan, aksi-reaksi improvisasi, dan penghayatan tokoh cerita (50 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja pemeranan lakon dan improvisasi aksi-reaksi)
- presentasi lisan kelompok: penyampaian lisan perwakilan kelompok secara bergiliran (5 menit per kelompok untuk 6 kelompok = 30 menit) mengenai pendapat, analisis penokohan, dan perwatakan tokoh dalam cerita lakon yang dimainkan (30 menit; kelompok; instrumen: lembar observasi presentasi lisan penokohan dan perwatakan)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Identifikasi Kebiasaan Tokoh dan Properti Sederhana (TP 5.2.2 & TP 5.2.4) | Mencatat kurang dari 2 kebiasaan tokoh dan benda sekitar yang didaftarkan tidak relevan dengan kebutuhan adegan cerita lakon. | Mencatat 2 kebiasaan tokoh tetapi deskripsinya samar, serta mendaftar 1 benda sekitar yang relevan sebagai properti sederhana. | Mencatat tepat 2 kebiasaan tokoh berdasarkan hasil pengamatan dan mendaftar minimal 2 benda sekitar yang relevan sebagai properti pengganti. | Mencatat lebih dari 2 kebiasaan spesifik tokoh secara mendalam dan mendaftar seluruh kebutuhan properti sederhana menggunakan benda sekitar secara kreatif dan tepat guna. | | Improvisasi Aksi-Reaksi dan Pemeranan Lakon Berkelompok (TP 5.2.1, TP 5.2.5, & TP 5.2.6) | Pemeranan peran pasif, tidak terjadi aksi-reaksi improvisasi saat teman memberi umpan peran, dan lakon tidak berjalan runtut. | Memerankan tokoh dengan aksi sederhana tetapi sering ragu mereaksi improvisasi pasangan main, lakon tersendat. | Memerankan tokoh dengan penghayatan hasil pengamatan, konsisten melakukan aksi dan reaksi improvisasi secara wajar, serta menuntaskan pementasan lakon secara berkelompok. | Sangat luwes memerankan tokoh, spontan dan tepat dalam aksi-reaksi improvisasi menghadapi dinamika panggung, serta pementasan lakon kelompok berjalan sangat hidup dan padu. | | Penyampaian Pendapat tentang Penokohan dan Perwatakan (TP 5.2.3) | Belum mampu menceritakan pendapat penokohan dan keliru mengidentifikasi sifat/perwatakan tokoh utama. | Menceritakan pendapat penokohan secara terbatas hanya menyebut nama tokoh tanpa menguraikan sifat perwatakannya secara jelas. | Menceritakan pendapat penokohan secara jelas disertai identifikasi perwatakan (sifat tokoh antagonis/protagonis) sesuai isi cerita lakon yang dimainkan. | Menceritakan ulasan kritis tentang penokohan dan perwatakan tokoh secara rinci disertai bukti tindakan tokoh dalam adegan lakon dengan bahasa yang runtut dan meyakinkan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 105 menit cukup untuk mengakomodasi seluruh rangkaian asesmen sumatif portofolio, pementasan 6 kelompok, dan presentasi lisan?
- Bagaimana ketercapaian murid secara umum dalam mengintegrasikan improvisasi peran dan pemanfaatan properti sederhana di panggung?
Murid:- Bagian mana dari peran yang kamu mainkan hari ini yang paling berhasil menggambarkan kebiasaan tokoh?
- Bagaimana perasaanmu saat merespons aksi spontan teman main di panggung pementasan tadi?
SUMBER BELAJAR- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas V (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
- Kartu stimulus 3 skenario situasi sehari-hari buatan guru.
- Ruang kelas/ruang terbuka yang leluasa untuk bergerak.
- Buku Panduan Guru Seni Teater SD Kelas V (Kemendikbudristek 2021/2023)
- Kartu Skenario Situasi Improvisasi Cerita Sederhana
- Ruang kelas/aula yang dikosongkan bagian tengahnya sebagai arena gerak peran
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas V (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
- Lingkungan sekolah (petugas kebersihan, satpam, petugas kantin, staf perpustakaan)
- Lembar catatan pengamatan kebiasaan tokoh
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas V (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2024
- Teks cuplikan fabel 'Kancil dan Kura-Kura di Tepi Sungai'
- Kartu bertuliskan kebiasaan tokoh cerita (Kancil, Kura-Kura, Singa, Monyet, Beruang)
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas V (Edisi Revisi).
- Naskah cerita pendek anak 'Batu Persahabatan di Desa Suka Damai'.
- Kartu narasi peran untuk permainan 'Siapa Aku di Panggung?'.
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas V (Edisi Revisi)
- Teks fabel sederhana 'Sahabat Hutan' dan 'Kisah Bangau dan Ikan Gabus'
- Kartu panduan frasa pemantik pendapat perwatakan
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas V (Kemendikbudristek 2023, Bab 2: Eksplorasi Peran)
- Benda-benda di sekitar ruang kelas (sapu, kardus, botol minum, kursi, meja)
- Lembar Kerja Murid: Identifikasi Properti Cerita Pendek 'Bencana Banjir di Desa Suka Asih'
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas V (Kemendikbudristek 2021).
- Teks bacaan narasi pendek 'Hari Hujan di Halte'.
- Peluit sederhana atau properti ruang kelas sebagai penanda latihan.
- Kartu Pilihan Tema Peristiwa Nyata (Kantin, Kerja Bakti, Lapangan).
- Ruang kelas/panggung sederhana sebagai arena pemeranan lakon.
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas V (Edisi Revisi), Bab II Eksplorasi Peran.
- Benda-benda di sekitar kelas (kursi, botol, kardus, penggaris, kain) yang difungsikan sebagai properti lakon.
- Lembar Asesmen Sumatif Kelompok: Format Identifikasi Karakter & Properti serta Lembar Observasi Pemeranan.
|