Modul AjarPertemuan 9Bab 3Fase BSemester 2

Modul Ajar Seni Teater Kelas 4: Latihan Akting: Ekspresi dan Penghayatan

Modul Ajar ini disusun untuk satu pertemuan tatap muka mata pelajaran Seni Teater kelas 4 dengan topik "Latihan Akting: Ekspresi dan Penghayatan". Dokumen mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Kurikulum Merdeka, lengkap dengan tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen ringkas.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Seni Teater Kelas 4: Latihan Akting: Ekspresi dan Penghayatan

Seni Teater - Kelas 4

Bab 3 - Pertemuan 9

MODUL AJAR

Seni Teater — Kelas 4 (Fase B)

Topik: Latihan Akting: Ekspresi dan Penghayatan

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranSeni Teater
Fase / KelasFase B / Kelas 4
TopikLatihan Akting: Ekspresi dan Penghayatan
Alokasi Waktu2x35 menit
Jumlah Pertemuan1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Murid mampu mengekspresikan emosi tokoh (senang, sedih, marah) melalui mimik wajah dan gerak tubuh dengan tepat.
  2. Murid mampu menghayati peran yang dimainkan dengan penuh percaya diri di hadapan teman-teman.

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Pernahkah kamu melihat seseorang yang sangat sedih atau sangat marah? Bagaimana wajah dan tubuhnya bergerak?
  2. Kalau kamu menjadi seekor singa yang marah dalam cerita fabel, bagaimana kamu akan menunjukkan kemarahannya kepada penonton?
  3. Menurut kamu, apa bedanya berpura-pura marah dengan benar-benar merasakan kemarahan tokoh yang kamu perankan?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1

Pendahuluan:

  • Guru mengucapkan salam dan mengajak murid berdoa bersama sebelum memulai kegiatan.
  • Guru memeriksa kehadiran murid dan memastikan ruang kelas atau lapangan sudah cukup luas untuk bergerak bebas.
  • Guru melakukan asesmen awal: menanyakan secara lisan kepada murid, 'Siapa yang pernah memerankan tokoh di cerita fabel atau legenda? Emosi apa yang paling mudah dan paling sulit kamu tunjukkan?' Guru mencatat respons untuk mengetahui titik awal pemahaman murid.
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran: 'Hari ini kita akan berlatih menunjukkan ekspresi emosi tokoh — senang, sedih, marah — lewat wajah dan gerak tubuh, lalu memerankannya dengan percaya diri.'
  • Guru memperkenalkan pertanyaan pemantik dan memberi kesempatan 2-3 murid untuk merespons secara singkat.
  • Guru mengajak murid melakukan pemanasan fisik singkat (2 menit): meregangkan leher, bahu, dan menggerakkan wajah — angkat alis, cemberut, senyum lebar — untuk melenturkan otot ekspresi.

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru menjelaskan bahwa ekspresi emosi dalam akting terdiri dari dua unsur utama: mimik wajah (raut wajah yang mencerminkan perasaan) dan gerak tubuh (postur, gestur, dan langkah yang mendukung emosi).
  • Guru mendemonstrasikan tiga emosi dasar secara berurutan — senang (senyum lebar, dada membusung, langkah ringan), sedih (kepala menunduk, bahu turun, langkah pelan), dan marah (alis berkerut, rahang mengencang, tangan mengepal, langkah berat dan tegas) — sambil menjelaskan setiap detail yang dilakukan.
  • Murid mengamati demonstrasi guru dengan cermat. Guru memancing kesadaran: 'Perhatikan bukan hanya wajahnya, tapi juga cara berdirinya, tangannya, dan langkah kakinya.'
  • Guru menampilkan kartu emosi bergambar (atau menggambar cepat di papan): tiga gambar sederhana ekspresi wajah untuk senang, sedih, dan marah sebagai referensi visual.
  • Guru bertanya untuk mengecek pemahaman: 'Bagian wajah mana yang paling berubah saat seseorang marah? Bagaimana tubuh bereaksi saat seseorang merasa sangat sedih?' Murid menjawab secara lisan.
  • Guru mengaitkan dengan tokoh fabel/legenda yang sudah dikenal murid: 'Bayangkan Kancil yang cerdik — bagaimana ekspresinya saat berhasil menipu buaya? Bagaimana ekspresinya saat ia ketakutan?'

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna, Berkesadaran):

  • Guru meminta murid berdiri di tempat masing-masing dengan jarak yang cukup. Kegiatan dimulai dengan latihan 'Mirror Game': guru menunjukkan satu emosi secara diam, dan seluruh murid menirukan ekspresi wajah dan gerak tubuh secara bersamaan selama 30 detik per emosi.
  • Latihan dilanjutkan dengan 'Emosi Berantai': guru menyebut nama satu emosi (misal 'senang!'), murid langsung memperagakannya selama 15 detik, lalu guru menyebut emosi berikutnya. Latihan ini dilakukan 2 putaran untuk ketiga emosi.
  • Guru membagi murid menjadi kelompok kecil (4-5 orang). Setiap kelompok mendapatkan satu kartu skenario singkat berisi situasi tokoh fabel/legenda, contoh: 'Kelinci berhasil memenangkan perlombaan lari (senang)', 'Rusa kehilangan tanduknya di lumpur (sedih)', 'Singa merasa wilayahnya diganggu (marah)'.
  • Masing-masing anggota kelompok secara bergantian memeragakan emosi tokoh sesuai skenario di kartu selama 30 detik tanpa dialog — hanya menggunakan mimik wajah dan gerak tubuh. Anggota kelompok lain mengamati dan memberi tanda jempol jika emosi yang ditampilkan sudah terbaca jelas.
  • Setelah berlatih dalam kelompok, setiap murid mendapat giliran tampil singkat (30 detik) di depan kelas secara individual. Guru mendorong: 'Ingat, penonton harus bisa menebak emosi apa yang kamu tunjukkan hanya dari wajah dan gerakmu — tanpa kata-kata!'
  • Selama penampilan berlangsung, guru melakukan observasi formatif: mengamati kesesuaian ekspresi dengan emosi yang dimaksud, kepercayaan diri saat tampil, dan konsistensi gerak tubuh. Guru memberikan umpan balik langsung yang spesifik dan membesarkan hati: 'Senyummu sudah sangat terasa kebahagiaannya! Coba tambahkan gerakan tangan supaya lebih hidup.'

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid duduk melingkar. Guru memfasilitasi diskusi refleksi singkat dengan pertanyaan: 'Emosi mana yang paling mudah kamu peragakan tadi? Emosi mana yang paling sulit? Apa yang membuatnya sulit?'
  • Murid diberi Lembar Refleksi Diri sederhana (bisa berupa 3 kotak bergambar wajah emosi) untuk diisi: centang emosi yang menurutnya sudah berhasil diperagakan dengan baik, dan tulis satu kalimat tentang apa yang ingin ditingkatkan.
  • Guru mengajak murid untuk menghubungkan latihan hari ini dengan kehidupan nyata: 'Mengapa penting bagi seorang aktor untuk benar-benar merasakan emosi tokohnya, bukan sekadar berpura-pura? Apa manfaatnya juga dalam kehidupan sehari-hari?'
  • Dua atau tiga murid diminta berbagi hasil refleksi mereka secara lisan. Guru merangkum dan menegaskan: penghayatan peran yang baik berasal dari kemampuan memahami perasaan orang (atau tokoh) lain, dan itu adalah keterampilan yang sangat berharga.

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran: ekspresi emosi tokoh yang baik membutuhkan kerja sama antara mimik wajah dan gerak tubuh yang saling mendukung, dan penghayatan peran tumbuh dari kepercayaan diri.
  • Guru melakukan asesmen akhir singkat: meminta setiap murid menunjukkan satu ekspresi emosi pilihan mereka (berbeda dari yang tadi) selama 10 detik sebagai 'tiket keluar' (exit ticket). Guru menilai kesesuaian dan kepercayaan diri.
  • Guru menyampaikan tindak lanjut: 'Di rumah, cobalah latihan di depan cermin — peragakan emosi tokoh fabel favoritmu. Perhatikan apakah wajah dan tubuhmu sudah selaras.'
  • Guru menyampaikan gambaran pertemuan berikutnya secara singkat untuk membangun antusiasme murid.
  • Kegiatan ditutup dengan tepuk semangat bersama dan doa penutup.

Diferensiasi:

  • Konten: Untuk murid yang belum familiar dengan tokoh fabel/legenda, guru menyediakan kartu bergambar tokoh beserta deskripsi singkat karakternya sebagai referensi sebelum berlatih. Untuk murid yang sudah sangat familiar, guru memberikan kartu skenario dengan emosi yang lebih kompleks seperti 'kecewa' atau 'terkejut'.
  • Proses: Murid yang membutuhkan lebih banyak dukungan dapat berlatih berpasangan dengan teman sebaya yang lebih percaya diri sebagai 'cermin' sebelum tampil mandiri. Murid yang cepat menguasai dapat langsung berlatih menggabungkan ekspresi emosi dengan satu kalimat dialog pendek.
  • Produk: Murid yang memerlukan dukungan cukup menampilkan satu emosi yang paling dikuasai dengan gerak dan mimik yang terbaca. Murid yang sudah berkembang dapat menampilkan perpindahan dari satu emosi ke emosi lain (misal dari sedih berubah menjadi marah) dalam satu peragaan singkat yang berkesinambungan.

ASESMEN

Awal:

  • Tanya jawab lisan di pendahuluan: 'Siapa yang pernah memerankan tokoh? Emosi apa yang paling mudah dan paling sulit kamu tunjukkan?' — untuk memetakan pengalaman awal dan kepercayaan diri murid sebelum pembelajaran dimulai.

Proses:

  • Observasi guru selama latihan Mirror Game dan Emosi Berantai: apakah ekspresi wajah dan gerak tubuh sudah selaras dengan emosi yang diminta.
  • Penilaian sejawat dalam kelompok kecil saat sesi kartu skenario: teman menilai apakah emosi tokoh terbaca jelas.
  • Umpan balik lisan guru saat penampilan individual: mencatat murid yang memerlukan bimbingan tambahan.

Akhir:

  • Exit ticket performatif: murid menampilkan satu ekspresi emosi tokoh pilihan selama 10 detik di depan kelas tanpa dialog, dinilai dengan rubrik 4 level berdasarkan aspek kesesuaian ekspresi dan kepercayaan diri.
  • Lembar Refleksi Diri: murid mencentang emosi yang sudah dikuasai dan menuliskan satu hal yang ingin ditingkatkan — digunakan guru sebagai data tindak lanjut pembelajaran.

Formatif:

  • Observasi langsung saat latihan 'Mirror Game' dan 'Emosi Berantai' — guru mengamati kesesuaian ekspresi dengan emosi yang diminta.
  • Penilaian sejawat dalam kelompok kecil: anggota kelompok memberi tanda jempol apabila emosi tokoh yang diperagakan teman sudah terbaca jelas.
  • Umpan balik lisan dari guru selama sesi penampilan individual — bersifat spesifik, afirmatif, dan mendorong perbaikan.

Sumatif:

  • Exit ticket: setiap murid menampilkan satu ekspresi emosi pilihan selama 10 detik di akhir pelajaran, dinilai menggunakan rubrik 4 level.
  • Lembar Refleksi Diri yang diisi murid sebagai bukti kesadaran terhadap proses belajarnya sendiri.

RUBRIK PENILAIAN

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Ekspresi Mimik WajahMimik wajah tidak menunjukkan perubahan yang dapat dibedakan antar emosi; ekspresi datar atau tidak konsisten.Mimik wajah menunjukkan sedikit perubahan saat berganti emosi, namun kurang jelas atau hanya pada satu bagian wajah (misal hanya mulut).Mimik wajah menunjukkan ekspresi yang cukup jelas dan dapat dibaca penonton untuk sebagian besar emosi yang diperagakan.Mimik wajah menunjukkan ekspresi yang jelas, terbaca, dan hidup untuk seluruh emosi (senang, sedih, marah), melibatkan mata, alis, mulut, dan pipi secara bersamaan.
Gerak Tubuh sesuai EmosiGerak tubuh tidak berubah sesuai emosi; postur dan gestur sama untuk semua emosi atau tidak ada perubahan.Gerak tubuh menunjukkan sedikit penyesuaian (misal kepala menunduk saat sedih) namun belum disertai gestur atau langkah yang mendukung.Gerak tubuh cukup selaras dengan emosi yang diperagakan, termasuk postur dan gestur dasar, meski belum seluruhnya konsisten.Gerak tubuh selaras penuh dengan emosi — postur, gestur tangan, dan langkah kaki semua mendukung ekspresi emosi yang ditampilkan secara konsisten.
Penghayatan dan Kepercayaan DiriMurid terlihat sangat ragu, menghindari kontak mata dengan penonton, dan peragaan sangat singkat atau terhenti di tengah.Murid mencoba tampil namun terlihat kurang yakin; beberapa kali berhenti atau tertawa karena malu tanpa melanjutkan peran.Murid tampil dengan cukup percaya diri, menyelesaikan peragaan hingga selesai meski sesekali terlihat ragu.Murid tampil dengan percaya diri penuh, mempertahankan peran dari awal hingga akhir, dan mampu 'masuk' ke dalam emosi tokoh sehingga penampilan terasa meyakinkan.

REFLEKSI

Refleksi Guru:

  • Apakah seluruh murid mendapat kesempatan yang cukup untuk berlatih dan tampil hari ini? Adakah murid yang belum mendapat giliran atau kurang terfasilitasi?
  • Apakah penjelasan tentang mimik wajah dan gerak tubuh sudah cukup jelas sehingga murid dapat mempraktikkannya secara mandiri?
  • Bagaimana saya dapat memodifikasi kegiatan latihan agar lebih menggembirakan dan mengurangi rasa malu murid saat tampil di depan kelas?
  • Murid mana yang memerlukan perhatian dan pendampingan lebih lanjut pada pertemuan berikutnya berdasarkan hasil observasi hari ini?

Refleksi Murid:

  • Emosi tokoh mana yang paling berhasil kamu peragakan hari ini? Apa yang membuat kamu berhasil?
  • Bagian mana dari latihan akting hari ini yang masih terasa sulit bagimu? Apa yang ingin kamu coba perbaiki?
  • Bagaimana perasaanmu saat tampil di depan teman-teman? Apa yang membantu kamu merasa lebih percaya diri?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas IV (Edisi Revisi) — Bab III: Bermain Peran dari Cerita Fabel dan Legenda
  2. Kartu emosi bergambar (senang, sedih, marah) — dapat dibuat guru dari kertas karton atau dicetak
  3. Kartu skenario tokoh fabel/legenda (Kancil, Singa, Kelinci, Rusa, dsb.) — disiapkan guru sesuai cerita yang sudah dikenal murid
  4. Lembar Refleksi Diri murid — disiapkan guru berupa lembar sederhana dengan 3 kotak gambar ekspresi emosi
  5. Ruang kelas atau lapangan sekolah yang cukup luas untuk kegiatan gerak bebas
  6. Papan tulis atau media visual untuk menampilkan referensi gambar ekspresi wajah

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.