MODUL AJAR Seni Teater — Kelas 4 (Fase B) Topik: Bab 2 — Bermain Peran dari Cerita Kehidupan Sehari-Hari INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | Seni Teater |
|---|
| Fase / Kelas | Fase B / Kelas 4 |
|---|
| Topik | Bab 2 — Bermain Peran dari Cerita Kehidupan Sehari-Hari |
|---|
| Alokasi Waktu | 28 JP (28 x 35 menit = 980 menit) |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 10 |
|---|
| Tahun Ajaran | 2026/2027 |
|---|
| Semester | 1 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- TP 4.2.1 Menirukan gerak tubuh sesuai tokoh dalam cerita kehidupan sehari-hari melalui proses mimesis
- TP 4.2.2 Menirukan suara atau vokal sesuai tokoh dalam cerita kehidupan sehari-hari melalui proses mimesis
- TP 4.2.3 Menceritakan pengalaman dalam bermain teater dari cerita kehidupan sehari-hari
- TP 4.2.4 Menggunakan properti yang sesuai dengan tokoh yang diperankan dalam cerita kehidupan sehari-hari
- TP 4.2.5 Memainkan sebuah lakon dalam cerita kehidupan sehari-hari
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | | | Kewargaan | | | Penalaran Kritis | ✓ | | Kreativitas | ✓ | | Kolaborasi | ✓ | | Kemandirian | ✓ | | Kesehatan | | | Komunikasi | ✓ |
PERTANYAAN PEMANTIK- Bagaimana gerakan tubuh bapak/ibu guru saat sedang menulis materi di papan tulis?
- Bagaimana perbedaan langkah kaki dan ayunan tangan seorang penjaga sekolah yang sedang menyapu halaman dibanding saat sedang berdiri menyapa di gerbang?
- Bagaimana ciri gerak tubuh kakek yang sedang berjalan membawa tongkat?
- Bagaimana gerakan tubuh seorang ibu saat sedang menggendong bayi atau menyapu halaman?
- Bagaimana perbedaan suara seorang kakek yang sudah tua dengan suara anak kecil saat berbicara?
- Bagaimana cara kita mengubah suara sendiri agar terdengar seperti pedagang keliling yang sedang memanggil pembeli?
- Bagaimana perbedaan suara seorang kakek saat berbicara santai dibandingkan dengan suara seorang anak kecil?
- Bagaimana kita mengubah suara atau vokal kita saat mengucapkan kalimat dialog tokoh yang sedang marah atau gembira?
- Apa yang kalian rasakan saat menirukan gerak dan suara tokoh di pertemuan sebelumnya?
- Bagian mana dari pengalaman meniru tokoh sehari-hari yang paling berkesan atau paling menantang bagi kalian?
- Mengapa seorang kakek dalam pertunjukan teater sering digambarkan memegang tongkat?
- Bagaimana sebuah benda sederhana seperti koran bekas atau sapu bisa membantu penonton mengenali tokoh yang kita mainkan?
- Mengapa sebuah peran seperti kakek atau dokter terasa kurang lengkap jika hanya memakai satu benda saja tanpa kelengkapan pendukung lainnya?
- Bagaimana caramu memadukan dua properti sekaligus saat melakukan tindakan tokoh di panggung agar tidak saling mengganggu?
- Bagaimana caramu bersama pasangan memainkan adegan pendek tentang peristiwa di rumah atau sekolah?
- Apa yang perlu dilakukan agar jalinan peran dalam sebuah adegan lakon terasa hidup dan saling menyambung?
- Bagaimana cara kita menyambungkan adegan pertama sampai akhir agar lakon cerita mengalir lancar bersama teman sekelompok?
- Apa yang harus dilakukan saat memainkan lakon bersama kelompok agar cerita utuh tersampaikan kepada penonton?
- Bagaimana kita menunjukkan karakter tokoh sehari-hari melalui gerak tubuh, suara, dan properti saat tampil di panggung?
- Apa hal paling berkesan yang kamu rasakan selama memerankan tokoh dalam cerita kehidupan sehari-hari?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1 — Menirukan Gerak Tubuh Tokoh di Lingkungan Sekolah Melalui Proses Mimesis — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 4.2.1 Menirukan gerak tubuh sesuai tokoh dalam cerita kehidupan sehari-hari melalui proses mimesis
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memandu pemanasan peregangan sendi tubuh sederhana dari kepala hingga kaki (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik dengan meminta seluruh murid serentak menirukan 1 gerak khas seorang guru yang sedang memegang spidol dan menulis di papan tulis berdasarkan ingatan pengamatan mereka di sekolah (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Murid menyimak demonstrasi guru tentang teknik mimesis (meniru gerak tubuh tiruan dari kenyataan) melalui 3 contoh tokoh lingkungan sekolah: Tokoh A (Guru menulis di papan tulis: badan tegak, satu tangan diangkat setinggi bahu bergerak ke kanan-kiri), Tokoh B (Penjaga sekolah menyapu halaman: badan sedikit membungkuk, kedua tangan memegang gagang sapu mengayun maju-mundur), dan Tokoh C (Petugas perpustakaan menata buku di rak: kedua tangan menjangkau ke atas, kepala menengadah, lalu tangan meletakkan buku ke rak) (10 menit).
- Murid mengeksplorasi secara sadar bagian-bagian tubuh (posisi punggung, tekukan lutut, dan gerak tangan) yang dipakai untuk menirukan gerak masing-masing tokoh sekolah tersebut dengan bimbingan guru (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan):- Murid bermain tantangan mimesis ceria 'Tebak Gerak Tokoh Sekolah': guru menyebutkan satu nama tokoh sekolah secara acak dan murid serempak mematungkan diri memperagakan gerak tubuh khas tokoh tersebut tanpa bersuara (10 menit).
- Secara mandiri, setiap murid memilih 2 dari 3 tokoh lingkungan sekolah yang disediakan (Guru, Penjaga Sekolah, Petugas Perpustakaan) dan melakukan peniruan gerak tubuh tokoh tersebut di depan kelas atau area latihan selama 30 detik per tokoh (15 menit).
Merefleksi (Bermakna):- Murid mengidentifikasi bagian gerak tubuh mana yang paling mudah dan paling menantang untuk ditirukan dari tokoh lingkungan sekolah yang telah mereka peragakan (5 menit).
Penutup:- Murid bersama guru menyimpulkan inti pembelajaran bahwa mimesis gerak tubuh memerlukan pengamatan cermat terhadap sikap badan dan anggota gerak tokoh sehari-hari (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik langsung terhadap peragaan gerak murid dan menyampaikan rencana pertemuan berikutnya untuk menirukan gerak tokoh di lingkungan rumah, lalu menutup dengan doa bersama (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan kartu panduan visual berisi foto sikap tubuh 3 tokoh sekolah (Guru, Penjaga Sekolah, Petugas Perpustakaan) bagi murid yang membutuhkan panduan visual konkret.
- Proses: Bagi murid yang masih ragu melakukan gerak mimesis, guru memberikan contoh gerakan langsung di samping murid; bagi murid yang sudah terampil, diberikan tantangan menirukan 3 tokoh sekolah secara berurutan tanpa jeda jeda panduan.
- Produk: Semua murid menirukan gerak tubuh tokoh sekolah melalui mimesis; variasi terletak pada pemilihan 2 tokoh yang paling dikuasai (untuk murid yang memerlukan bimbingan) atau menampilkan ketiga tokoh (untuk murid cepat).
Asesmen Pertemuan:Awal:- Peragaan diagnostik singkat: Murid diminta menirukan 1 gerak tubuh tokoh guru yang sedang menulis di papan tulis. (Acuan penilaian: murid menggerakkan satu tangan setinggi bahu ke kanan-kiri dengan posisi badan tegak; bila murid hanya berdiri diam atau menggerakkan kaki saja, dikategorikan belum siap dan perlu pemodelan ulang).
Proses:- Pengamatan unjuk kerja saat murid menirukan 2 gerak tubuh tokoh lingkungan sekolah yang dipilih dari daftar acuan: (1) Tokoh Guru: sikap badan tegak, tangan mengayun setinggi dada/bahu menirukan menulis di papan tulis; (2) Tokoh Penjaga Sekolah: sikap badan membungkuk, kedua tangan memegang dan mengayunkan sapu; (3) Tokoh Petugas Perpustakaan: sikap tangan menjangkau rak dan menata buku.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman di akhir sesi melalui peragaan kilat: Setiap murid memperagakan pose diam (tablo) satu gerak tubuh tokoh penjaga sekolah sedang menyapu halaman selama 5 detik. (Acuan peragaan tepat: postur badan membungkuk dengan kedua tangan dalam posisi memegang gagang sapu).
Formatif:- Unjuk kerja menirukan gerak tubuh tokoh lingkungan sekolah melalui mimesis dengan lembar observasi rubrik performa
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Ketepatan Menirukan Gerak Tubuh Tokoh Sekolah Melalui Mimesis | Belum mampu menirukan gerak tubuh tokoh sekolah; gestur tangan dan postur badan belum mencerminkan aktivitas tokoh meskipun telah diberikan contoh langsung. | Mampu menirukan gerak tubuh 1 tokoh sekolah dengan bantuan arahan dan contoh gerak dari guru (misalnya hanya menirukan ayunan tangan tanpa menyesuaikan postur tubuh). | Mampu menirukan gerak tubuh 2 tokoh sekolah secara mandiri sesuai acuan gerak (postur badan dan gerakan tangan/kaki selaras dengan aktivitas tokoh). | Mampu menirukan seluruh gerak tubuh dari 3 tokoh sekolah (Guru, Penjaga Sekolah, Petugas Perpustakaan) secara mandiri, luwes, dan presisi sesuai karakteristik gerak masing-masing tokoh. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah instruksi dan pemodelan teknik mimesis gerak tubuh tokoh sekolah dapat dipahami dengan jelas oleh seluruh murid?
- Bagian gerak tubuh manakah yang paling banyak mengalami kendala koordinasi pada murid saat menirukan tokoh?
Murid:- Gerakan tubuh tokoh sekolah mana yang paling mudah kamu tirukan hari ini?
- Apakah kamu merasa sudah dapat menggerakkan tangan dan badanmu sesuai dengan kebiasaan tokoh yang kamu tiru?
Pertemuan 2 — Menirukan Gerak Tubuh Tokoh di Lingkungan Rumah dan Sekitar Melalui Proses Mimesis — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 4.2.1 Menirukan gerak tubuh sesuai tokoh dalam cerita kehidupan sehari-hari melalui proses mimesis
Pendahuluan:- Guru membuka kelas, menyapa murid, mengecek kehadiran, dan memandu pemanasan peregangan otot tubuh (kepala, bahu, pinggang, kaki) untuk kesiapan olah gerak tubuh (10 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yakni menirukan gerak tubuh tokoh di lingkungan rumah dan sekitar melalui proses mimesis (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik: meminta murid melakukan gerak meniru tokoh kakek berjalan pincang atau membungkuk untuk memetakan kesiapan gerak mimesis tubuh (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru memberikan demonstrasi mimesis 3 tokoh di lingkungan rumah dan sekitar: (1) Tokoh Kakek (gerak tubuh: punggung membungkuk, lutut sedikit ditekuk, tangan kanan seolah memegang tongkat, langkah kaki lambat); (2) Tokoh Ibu Menggendong Bayi (gerak tubuh: kedua lengan ditekuk melingkar di depan dada, tubuh sedikit condong berayun ke kiri dan kanan secara lembut); (3) Tokoh Tukang Sayur Keliling (gerak tubuh: kedua tangan seolah mendorong gerobak ke depan, punggung condong mendorong beban, langkah kaki mantap dan berulang) (10 menit).
- Murid menyimak dan menganalisis secara sadar bagian-bagian tubuh (postur, gerak tangan, gerak langkah kaki) yang digunakan untuk mencerminkan ciri khas gerak tubuh ketiga tokoh tersebut (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan):- Murid memainkan permainan tantangan gerak 'Cermin Gerak Tokoh Sekitar': murid dibagi berpasangan, satu menjadi pelaku gerak tokoh rumah (kakek, ibu, atau tukang sayur) dan pasangannya menjadi bayangan cermin yang menirukan gerak tubuh pasangannya secara persis tanpa suara (15 menit).
- Secara bergantian dan mandiri, setiap murid menirukan gerak tubuh 3 skenario tokoh sekitar berikut: (1) Tokoh Kakek Berjalan Membawa Tongkat (postur membungkuk, langkah pelan, tangan menumpu tongkat); (2) Tokoh Ibu Menggendong Bayi (kedua lengan melingkar di dada menopang beban lembut berayun); (3) Tokoh Tukang Sayur Mendorong Gerobak (punggung condong ke depan, dorongan tangan berulang, langkah kaki menahan beban); guru mengamati ketercapaian gerak tubuh mimesis menggunakan lembar observasi (35 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid memeriksa gerak tubuh yang telah dilatih dengan menjawab cek refleksi: bagian tubuh mana yang terasa paling lentur atau kaku saat menirukan postur tubuh kakek, ibu, dan tukang sayur (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan dan umpan balik langsung terhadap ketepatan gerak tubuh (postur, ayunan tangan, dan langkah kaki) yang telah diperagakan murid (5 min).
- Guru bersama murid melakukan pendinginan otot tubuh dan mengakhiri sesi pembelajaran dengan doa serta salam (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan kartu panduan visual gambar gestur tokoh (kakek membungkuk, ibu menimang, tukang sayur mendorong) untuk murid yang membutuhkan bantuan visual.
- Proses: Bagi murid yang masih kaku/ragu, guru memberikan bimbingan langsung satu per satu pada pembentukan postur tubuh; bagi murid yang sudah mahir, diberikan tantangan variasi tempo gerak tubuh (misal: gerak kakek berjalan saat terburu-buru atau saat lelah).
- Produk: Tuntutan bukti unjuk kerja tetap sama yaitu peniruan gerak tubuh tokoh melalui mimesis, dengan fleksibilitas tingkat kelenturan motorik masing-masing murid.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pemeragaan singkat gerak tokoh kakek: Guru meminta murid berdiri dan menirukan cara berjalan kakek tua (acuan kriteria kesiapan: murid mampu membungkukkan punggung atau memperlambat ayunan langkah kaki sebagai indikasi kesiapan olah gerak tubuh mimesis).
Proses:- Pengamatan unjuk kerja gerak mimesis tubuh pada 3 skenario tokoh lingkungan rumah/sekitar: (1) Tokoh Kakek (postur membungkuk, langkah kaki lambat, tangan memegang tongkat); (2) Tokoh Ibu Menggendong Bayi (lengan melingkar di depan dada, ayunan tubuh lembut ke kiri-kanan); (3) Tokoh Tukang Sayur (tubuh condong ke depan, kedua tangan mendorong, langkah kaki mendorong beban).
Akhir Pertemuan:- Cek penguasaan gerak mimesis akhir sesi: Setiap murid memperagakan ulang 1 dari 3 gerakan tokoh pilihan guru secara acak tanpa bantuan peragaan teman (acuan: kesesuaian posisi postur tubuh dan gerak anggota badan sesuai tokoh yang ditunjuk).
Formatif:- Observasi unjuk kerja gerak tubuh mimesis tokoh lingkungan rumah dan sekitar menggunakan lembar pengamatan rubrik.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Ketepatan Gerak Tubuh Mimesis Tokoh Rumah dan Sekitar | Belum mampu menirukan gerak tubuh dari ketiga skenario tokoh (kakek, ibu, tukang sayur) sesuai karakteristik gerak fisiknya walaupun telah dicontohkan. | Mampu menirukan gerak tubuh 1 dari 3 skenario tokoh (kakek, ibu, atau tukang sayur) dengan postur tubuh dan gerak anggota badan yang sesuai acuan. | Mampu menirukan gerak tubuh 2 dari 3 skenario tokoh (kakek, ibu, tukang sayur) dengan postur tubuh dan gerak anggota badan yang tepat sesuai acuan secara mandiri. | Mampu menirukan seluruh gerak tubuh dari 3 skenario tokoh (kakek berjalan bertongkat, ibu menggendong bayi, tukang sayur mendorong gerobak) dengan postur tubuh, ayunan tangan, dan langkah kaki yang tepat, konsisten, dan mandiri sesuai acuan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu pemanasan dan latihan gerak tubuh tokoh sudah memadai bagi seluruh murid?
- Bagian gerak tubuh tokoh mana yang paling banyak mengalami kesulitan ditirukan oleh murid?
Murid:- Gerak tubuh tokoh mana (kakek, ibu, atau tukang sayur) yang paling mudah kamu tirukan?
- Apa kesulitan yang kamu rasakan saat menirukan gerak tubuh membungkuk atau mendorong gerobak?
Pertemuan 3 — Menirukan Suara atau Vokal Tokoh Sehari-Hari Melalui Proses Mimesis Terbimbing — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 4.2.2 Menirukan suara atau vokal sesuai tokoh dalam cerita kehidupan sehari-hari melalui proses mimesis
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, serta menyiapkan ruang kelas yang cukup leluasa untuk aktivitas olah vokal (5 menit).
- Guru dan murid melakukan pemanasan vokal terpandu: menarik napas dalam, menghembuskannya perlahan dengan desah 'ssss', lalu membunyikan vokal dasar 'A-I-U-E-O' dari nada rendah hingga tinggi (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menirukan suara atau vokal tokoh kehidupan sehari-hari melalui proses peniruan (mimesis) terbimbing (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik dengan meminta murid mendengarkan dan mengidentifikasi 3 contoh suara tokoh yang diperagakan guru: (1) suara bergetar dan pelan (kakek tua), (2) suara lantang berirama (penjual bakso), dan (3) suara melengking ceria (anak kecil) untuk memetakan kepekaan vokal murid (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru memperagakan teknik mimesis vokal dengan mendemonstrasikan 3 ciri vokal tokoh sehari-hari: (1) Tokoh Kakek/Nenek: vokal bernada rendah, tempo lambat, dan ada desah/getaran napas; (2) Tokoh Penjual Sayur Keliling: vokal bernada sedang-tinggi, volume keras, tempo berirama; (3) Tokoh Bayi/Anak Balita: vokal bernada tinggi/melengking, cadel, tempo cepat (10 menit).
- Murid secara bersama-sama mengamati dan mengidentifikasi ciri vokal ketiga tokoh tersebut dengan menyebutkan perbedaan nada vokal (tinggi, sedang, rendah) serta tempo bicara tokoh (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):- Guru mengadakan permainan vokal interaktif 'Tebak dan Tiru Vokal': guru membacakan satu kalimat netral 'Ayo lekas ke sini!' lalu meminta murid mencoba menirukannya dengan vokal tokoh kakek, penjual keliling, dan balita secara serentak dengan penuh semangat (15 menit).
- Guru membagikan panduan latihan vokal terbimbing yang memuat 3 tokoh target dan kalimat ucapannya: (1) Kakek: 'Jalan pelan-pelan saja ya, Cu...', (2) Pedagang sayur: 'Sayuuur, bayam, kangkung segar!', (3) Petugas upacara/guru: 'Siap grak, luruskan barisan!'. Guru memberikan contoh cara membunyikan vokal masing-masing tokoh (15 menit).
- Secara bergiliran atau dalam kelompok kecil, setiap murid menirukan suara/vokal dari ketiga tokoh target tersebut sesuai panduan terbimbing dengan bimbingan langsung dari guru (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid membandingkan tingkat kesulitan saat menirukan suara bernada rendah bergetar (kakek) dibandingkan suara lantang berirama (pedagang) dan mengutarakan vokal tokoh mana yang paling mudah mereka tirukan (10 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan kembali bagaimana proses mimesis suara dilakukan dengan mengatur tinggi-rendah nada serta tempo suara tokoh (5 menit).
- Guru memberikan penguatan dan apresiasi atas keberanian murid bereksplorasi menirukan beragam vokal tokoh sehari-hari (3 menit).
- Guru menyampaikan sekilas kegiatan pertemuan berikutnya dan menutup pembelajaran dengan doa bersama serta salam (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan contoh audio/pemodelan langsung guru untuk murid yang memerlukan panduan pendengaran lebih jelas.
- Proses: Bagi murid yang masih ragu/kesulitan mengubah warna suara, guru memberikan bimbingan langsung menirukan satu per satu suku kata; bagi murid yang sudah mahir, murid langsung menirukan ketiga suara tokoh target secara mandiri.
- Produk: Semua murid menirukan vokal 3 tokoh target; murid yang berkembang lebih cepat dapat menirukan dengan variasi nada kalimat yang lebih panjang.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik pemetaan kepekaan mimesis vokal di kegiatan pendahuluan: Murid mendengarkan 3 peragaan suara guru dan menebak tokohnya: (1) vokal berat dan lambat bergetar (acuan: kakek tua), (2) vokal lantang berirama (acuan: penjual keliling), (3) vokal melengking tinggi (acuan: anak kecil). Kriteria kesiapan: mampu mengenali minimal 2 dari 3 karakter suara tokoh dengan tepat.
Proses:- Observasi unjuk kerja menirukan suara/vokal tokoh sehari-hari pada 3 tokoh target: (1) Tokoh Kakek (kalimat: 'Jalan pelan-pelan saja ya, Cu...', acuan vokal: nada rendah, tempo lambat, bergetar/serak), (2) Tokoh Pedagang sayur (kalimat: 'Sayuuur, bayam, kangkung segar!', acuan vokal: nada sedang-tinggi, volume lantang, tempo berirama), (3) Tokoh Petugas/Guru (kalimat: 'Siap grak, luruskan barisan!', acuan vokal: nada tegas, tempo mantap, artikulasi terbuka).
Akhir Pertemuan:- Cek penguasaan vokal akhir sesi: Murid secara acak diminta membunyikan satu seruan vokal tokoh pilihan guru (kakek / pedagang / petugas). Kriteria ketercapaian: murid langsung menyesuaikan warna suara (rendah lambat untuk kakek, berirama lantang untuk pedagang, atau tegas untuk petugas) sesuai acuan vokal tokoh tersebut.
Formatif:- Unjuk kerja menirukan suara atau vokal 3 tokoh sehari-hari (kakek, pedagang sayur, petugas upacara/guru) melalui proses mimesis terbimbing dengan lembar observasi ketepatan vokal.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menirukan suara/vokal tokoh kehidupan sehari-hari melalui proses mimesis (Acuan 3 target: Kakek [nada rendah/lambat/bergetar], Pedagang sayur [nada sedang-tinggi/lantang/berirama], Petugas/Guru [nada tegas/mantap]) | Belum mampu menirukan suara/vokal tokoh; suara yang dikeluarkan masih merupakan suara asli murid tanpa perubahan warna nada vokal pada ketiga tokoh target walaupun telah dibimbing. | Mampu menirukan suara/vokal 1 dari 3 tokoh target sesuai acuan karakter vokalnya melalui bimbingan intensif guru. | Mampu menirukan suara/vokal 2 dari 3 tokoh target sesuai acuan karakter vokalnya secara tepat dengan bimbingan minimal. | Mampu menirukan suara/vokal seluruh 3 tokoh target (Kakek, Pedagang sayur, Petugas/Guru) secara tepat sesuai acuan karakter vokal masing-masing secara konsisten dan mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah instruksi dan pemodelan vokal mimesis yang saya berikan cukup jelas dan mudah ditiru oleh murid?
- Bagian mana dari eksplorasi vokal yang paling disukai dan paling menantang bagi murid kelas 4?
Murid:- Suara tokoh mana yang paling mudah dan paling menantang untuk kamu tirukan hari ini?
- Bagian apa yang kamu lakukan agar suaramu bisa terdengar berbeda dari suaramu sehari-hari?
Pertemuan 4 — Menirukan Suara atau Vokal Dialog Tokoh Cerita Kehidupan Sehari-Hari Melalui Proses Mimesis — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 4.2.2 Menirukan suara atau vokal sesuai tokoh dalam cerita kehidupan sehari-hari melalui proses mimesis
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan memimpin doa bersama dengan tertib (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan hari ini, yaitu menirukan suara atau vokal dialog tokoh dalam cerita kehidupan sehari-hari melalui proses meniru (mimesis) (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik dengan memperdengarkan 3 contoh suara dialog tokoh singkat: (1) Suara kakek: 'Ayo jalan pelan-pelan ya, Cu' (nada rendah, bergetar lambat), (2) Suara anak kecil: 'Hore, main layangan!' (nada tinggi, melengking ceria), (3) Suara penjual sayur: 'Sayur, sayur bayam segar!' (volume lantang, nada memanggil berirama); lalu meminta murid menirukan salah satu suara dialog tersebut secara serempak untuk memetakan kesiapan menirukan warna vokal (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Guru memberikan pemahaman terarah mengenai cara menirukan suara dialog tokoh cerita sehari-hari melalui mimesis vokal, mencakup pengaturan nada (tinggi/rendah) dan tempo suara sesuai karakter tokoh (15 menit).
- Guru mencontohkan 3 kalimat dialog tokoh cerita kehidupan sehari-hari di depan kelas: (1) Dialog Tokoh Nenek: 'Hati-hati menyeberang jalan, Nak' (karakter vokal: nada rendah, tempo lambat, agak serak), (2) Dialog Tokoh Satpam: 'Silakan masuk satu per satu dan tunjukkan kartu identitas' (karakter vokal: nada tegas, volume mantap, tempo sedang), (3) Dialog Tokoh Bayi/Balita yang merajuk: 'Mau es krim itu sekarang, Ibu' (karakter vokal: nada tinggi melengking, tempo cepat dan manja); murid mengamati perbedaan vokal setiap tokoh secara berkesadaran (10 menit).
Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):- Guru membagi kelas menjadi pasangan latihan untuk melakukan aktivitas tantangan berpasangan yang menggembirakan bertajuk 'Gema Dialog Karakter' (10 menit).
- Setiap murid dalam pasangan bergiliran melatih dan menirukan suara atau vokal untuk 3 kartu dialog tokoh yang dibagikan guru: Kartu 1 - Dialog Tokoh Guru Kelas: 'Buka buku kalian halaman dua puluh lima sekarang' (acuan vokal: nada sedang-tegas, artikulasi vokal wibawa, tempo teratur); Kartu 2 - Dialog Tokoh Pedagang Bakso: 'Bakso panas, kuah sedap, mari beli!' (acuan vokal: nada memanggil bervolume lantang, irama ritmis bertangga nada ceria); Kartu 3 - Dialog Tokoh Pasien Mengeluh ke Dokter: 'Aduh dokter, perut saya sakit sekali sejak kemarin' (acuan vokal: nada lirih bergetar, tempo lambat menahan rasa sakit); pasangan saling mendengarkan dan mengulang tiruan vokal dialog tersebut (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid secara individu mengambil giliran singkat memperagakan tiruan vokal dari 1 pilihan dialog tokoh di depan kelas atau di kelompok meja masing-masing, sementara guru mencatat pencapaian formatif proses (10 menit).
- Murid dan guru merefleksikan proses latihan mimesis vokal dialog: menyadari perubahan bentuk rongga mulut dan napas yang mempengaruhi bunyi vokal tokoh (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap pencapaian vokal dialog tokoh yang telah ditirukan oleh murid sesuai ciri tokoh sehari-hari (5 menit).
- Guru menutup pertemuan dengan doa bersama dan salam perpisahan (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan vokal diberikan kartu dialog dengan kalimat lebih pendek (misal: 'Sayur segar!' atau 'Aduh sakit'), sedangkan murid yang sudah mahir menirukan vokal diberikan dialog dengan kalimat lengkap yang memuat variasi emosi tokoh.
- Proses: Murid yang belum percaya diri menirukan suara didampingi guru secara terbimbing melalui pengulangan frase per kata, sedangkan murid yang mandiri langsung berlatih menirukan dialog secara penuh bersama pasangannya.
- Produk: Semua murid menghasilkan tiruan suara atau vokal dialog tokoh cerita kehidupan sehari-hari; tingkat ketepatan vokal tokoh disesuaikan dengan perkembangan rentang vokal murid.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tiruan vokal cepat terhadap 3 contoh dialog tokoh yang dicontohkan guru: (1) Dialog kakek: 'Ayo jalan pelan-pelan ya, Cu' (acuan ketepatan: nada rendah bergetar lambat), (2) Dialog anak kecil: 'Hore, main layangan!' (acuan ketepatan: nada tinggi melengking ceria), (3) Dialog penjual sayur: 'Sayur, sayur bayam segar!' (acuan ketepatan: volume lantang memanggil berirama). Guru mengamati apakah murid mampu mengubah nada vokal dasar dari suara aslinya.
Proses:- Pengamatan performa saat latihan menirukan 3 kartu dialog tokoh: Kartu 1 Guru Kelas ('Buka buku kalian halaman dua puluh lima sekarang' - acuan: nada sedang-tegas wibawa), Kartu 2 Pedagang Bakso ('Bakso panas, kuah sedap, mari beli!' - acuan: nada lantang memanggil berirama ceria), Kartu 3 Pasien ('Aduh dokter, perut saya sakit sekali sejak kemarin' - acuan: nada lirih menahan sakit). Kriteria keberhasilan: murid mampu menghasilkan karakter nada vokal yang berbeda dari suara kesehariannya dan sesuai ciri tokoh.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman performa individu di tahap penutup: murid menirukan 1 kalimat dialog tokoh pilihan dari ketiga kartu yang dilatih (acuan: vokal Guru berwibawa tegas, Pedagang lantang berirama, atau Pasien lirih sakit). Guru mencatat ketercapaian menirukan warna vokal tokoh secara tepat.
Formatif:- Unjuk kerja menirukan suara atau vokal dialog tokoh cerita kehidupan sehari-hari dengan lembar observasi proses mimesis suara tokoh.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Ketepatan Menirukan Suara/Vokal Dialog Tokoh | Belum mampu menirukan karakter suara tokoh pada kalimat dialog, suara yang dihasilkan masih berupa suara bicara sendiri tanpa penyesuaian nada vokal tokoh. | Mampu menirukan suara atau vokal tokoh pada 1 kartu dialog dengan penyesuaian nada vokal yang tepat, tetapi masih membutuhkan bimbingan guru secara penuh. | Mampu menirukan suara atau vokal tokoh pada 2 sampai 3 kartu dialog secara tepat (Guru bernada tegas, Pedagang bernada lantang berirama, Pasien bernada lirih) dengan arahan minimal. | Mampu menirukan seluruh variasi suara atau vokal dialog tokoh pada ketiga kartu dialog secara tepat, konsisten, dan mandiri tanpa bantuan guru. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah seluruh murid sudah berani mengeksplorasi perubahan nada dan warna suara tokoh tanpa rasa malu?
- Bagian dialog tokoh mana yang paling menantang bagi murid saat menirukan vokal tokoh melalui proses mimesis?
Murid:- Suara dialog tokoh mana yang paling mudah dan paling menantang untuk kamu tirukan hari ini?
- Bagaimana perasaanmu ketika berhasil mengubah suaramu menjadi suara tokoh lain?
Pertemuan 5 — Menceritakan Pengalaman dalam Bermain Teater Gerak dan Suara Cerita Kehidupan Sehari-Hari — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 4.2.3 Menceritakan pengalaman dalam bermain teater dari cerita kehidupan sehari-hari
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan mengajak berdoa bersama (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menceritakan pengalaman pribadi saat berlatih menirukan gerak dan suara tokoh teater kehidupan sehari-hari pada pertemuan sebelumnya (2 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik lisan dengan menanyakan 2 hal terkait ingatan pengalaman teater sebelumnya: (1) 'Tokoh siapa yang pernah kamu tirukan suaranya atau geraknya?' dan (2) 'Bagaimana perasaanmu saat menirukan tokoh tersebut?' kepada beberapa perwakilan murid (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru memandu murid mengingat kembali rangkaian pengalaman latihan teater gerak dan vokal yang telah dilakukan pada Pertemuan 1 sampai 4 melalui pertanyaan penuntun (10 menit).
- Guru menyajikan bagan alur 'Cerita Pengalamanku' di papan tulis yang memuat 3 unsur pokok pengalaman bermain teater: (1) Tokoh yang pernah ditirukan gerak dan suaranya, (2) Perasaan atau tantangan saat menirukannya, dan (3) Bagian yang paling disukai dari proses tersebut (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Dalam permainan interaktif 'Estafet Cerita Panggung' yang menggembirakan, murid duduk melingkar dan bergantian secara acak menggunakan bola kecil untuk menceritakan secara lisan salah satu unsur pengalamannya saat bermain teater (15 menit).
- Secara berpasangan, murid saling menceritakan pengalaman bermain teater gerak dan suara masing-masing dengan mencakup lengkap ketiga unsur: tokoh yang ditirukan, perasaan/tantangan saat menirukan gerak/suara, serta hal yang paling berkesan (20 menit).
- Setiap murid mengisi lembar kerja refleksi naratif 'Jejak Peranku' dengan menceritakan pengalaman bermain teater yang mencakup ketiga unsur tersebut secara mandiri (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Guru memfasilitasi 3-4 perwakilan murid untuk menceritakan isi lembar pengalaman bermain teater mereka di depan kelas (10 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan bahwa menceritakan pengalaman bermain teater membantu mengenali perkembangan diri dan proses belajar akting (3 menit).
- Guru memberikan apresiasi atas kejujuran dan keterbukaan murid dalam menceritakan pengalaman bermain teater gerak dan suara, serta menutup pembelajaran dengan doa bersama (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang memerlukan bimbingan diberikan kartu panduan 3 pertanyaan pemandu isi cerita (tokoh apa, apa rasanya, apa yang disukai), sedangkan murid yang mandiri menceritakan pengalamannya secara utuh tanpa kartu bantuan.
- Proses: Pada aktivitas berpasangan, murid yang ragu didampingi teman sebangku yang percaya diri untuk saling memantik cerita pengalamannya secara bergantian.
- Produk: Murid dapat menyampaikan cerita pengalaman bermain teater secara lisan berpasangan, tulisan pada lembar 'Jejak Peranku', atau kombinasi keduanya dengan mencakup ketiga unsur pengalaman.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik singkat kesiapan menceritakan pengalaman teater dengan 2 pertanyaan: (1) Tokoh apa yang pernah ditirukan di pertemuan lalu? (kriteria: menyebut minimal 1 tokoh konkret dari latihan gerak/suara lingkungan sekolah/rumah), (2) Apa perasaan saat menirukan? (kriteria: menyebutkan minimal 1 perasaan nyata seperti senang, malu, tertantang, atau canggung).
Proses:- Observasi keterlibatan murid saat menceritakan pengalaman bermain teater dalam permainan estafet dan diskusi berpasangan berdasarkan kelengkapan 3 unsur (tokoh yang ditirukan, perasaan/tantangan, bagian yang disukai).
- Pemeriksaan lembar kerja 'Jejak Peranku' untuk memastikan murid menceritakan pengalaman bermain teater sesuai 3 unsur acuan.
Akhir Pertemuan:- Cek kelengkapan cerita pengalaman bermain teater pada lembar 'Jejak Peranku' (Kriteria penerimaan operasional: cerita memuat secara runtut 3 hal, yaitu: (1) nama tokoh yang diperagakan pada pertemuan 1-4, (2) perasaan/kesulitan saat menirukan gerak atau suara tokoh tersebut, dan (3) hal yang paling disukai selama latihan gerak dan suara).
Formatif:- Penilaian lisan dan tertulis pada lembar 'Jejak Peranku' mengenai kelengkapan unsur pengalaman bermain teater gerak dan suara yang diceritakan.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menceritakan Pengalaman Bermain Teater (Unsur Cerita: Tokoh yang ditirukan, Perasaan/Tantangan, Hal yang disukai) | Hanya memuat 1 unsur pengalaman bermain teater dan membutuhkan bimbingan penuh guru. | Memuat 2 unsur pengalaman bermain teater secara terbimbing. | Menceritakan pengalaman bermain teater secara mandiri dengan memuat lengkap ketiga unsur (tokoh yang ditirukan, perasaan/tantangan gerak/suara, hal yang disukai). | Menceritakan pengalaman bermain teater secara mandiri dan rinci pada seluruh ketiga unsur dengan memberikan contoh kejadian konkret saat latihan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah murid dapat mengingat dan mengungkapkan pengalaman latihan gerak dan vokal dari pertemuan sebelumnya secara terbuka?
- Apakah alur pertanyaan pemandu sudah membantu murid menstrukturkan cerita pengalamannya secara runtut?
Murid:- Bagian mana dari pengalaman bermain peran gerak dan suara yang paling kamu ingat sampai hari ini?
- Apa hal baru yang kamu sadari tentang dirimu setelah menceritakan pengalaman tersebut?
Pertemuan 6 — Menggunakan Properti Sederhana yang Sesuai dengan Tokoh dalam Cerita Kehidupan Sehari-Hari — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 4.2.4 Menggunakan properti yang sesuai dengan tokoh yang diperankan dalam cerita kehidupan sehari-hari
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengondisikan ruang kelas agar aman untuk beraktivitas fisik (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu memilih dan menggunakan properti sederhana yang sesuai dengan tokoh yang diperankan dalam cerita kehidupan sehari-hari (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui tanya jawab singkat mengenai fungsi benda sebagai properti tokoh: guru menunjukkan 3 benda (sapu lidi, buku tebal, koran bekas digulung) dan meminta murid menentukan tokoh yang sesuai (acuan: sapu lidi untuk petugas kebersihan/ibu menyapu, buku tebal untuk guru/pelajar, koran tergulung untuk ayah membaca/kakek) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru menjelaskan konsep properti sederhana dalam seni teater sebagai benda pendukung pemeranan yang menguatkan karakter tokoh cerita sehari-hari (5 menit).
- Guru mendemonstrasikan cara memegang dan menggunakan 2 contoh properti sederhana: (1) tas ransel/buku untuk tokoh murid sekolah, (2) kemoceng untuk tokoh anak yang sedang membersihkan rumah (5 menit).
- Murid secara berkesadaran mengamati dan mengidentifikasi fungsi benda-benda sederhana di sekitarnya (seperti kertas kalender bekas, botol plastik, penggaris kayu) untuk disesuaikan dengan profesi atau peran tokoh dalam kehidupan sehari-hari (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid dibagi ke dalam kelompok kecil dan mengeluarkan bahan sederhana yang dibawa (kertas bekas, koran, kalender bekas, atau benda kelas seperti penggaris dan sapu) (10 menit).
- Dalam permainan tebak properti 'Siapakah Aku?', setiap murid memilih satu peran tokoh cerita sehari-hari (misal: ayah, ibu, guru, pedagang, kakek, atau petugas kebersihan) lalu menyiapkan 1 properti sederhana yang relevan (15 menit).
- Setiap murid mempraktikkan langsung penggunaan properti sederhana tersebut sesuai tokoh pilihannya di hadapan teman kelompoknya, seperti: menggulung koran menjadi teropong/tongkat kakek, memakai topi kertas untuk peran ayah berkebun, atau memegang sapu lidi untuk petugas kebersihan (10 menit).
- Guru mengamati dan memberikan bimbingan langsung kepada murid dalam memegang serta menggunakan properti tersebut secara wajar dan tepat sesuai karakter tokoh (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid saling memeriksa ketepatan penggunaan properti sederhana pasangannya berdasarkan kesesuaian dengan tokoh yang dipilih (5 menit).
- Murid mengungkapkan kendala atau kemudahan saat menggunakan properti sederhana tersebut untuk menggambarkan tokoh cerita sehari-hari (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan pentingnya memilih dan menggunakan properti yang tepat agar karakter tokoh dalam cerita kehidupan sehari-hari tampak meyakinkan (5 menit).
- Guru memberikan penguatan berupa umpan balik terhadap ketepatan penggunaan properti hari ini dan mengingatkan murid untuk menyimpan properti sederhana tersebut guna latihan penggabungan lakon di pertemuan berikutnya (4 menit).
- Guru menutup sesi pembelajaran dengan doa dan salam penutup (1 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan pilihan benda jadi yang siap pakai di kelas (seperti sapu, buku, atau topi), sedangkan murid yang lebih cepat diarahkan memanfaatkan kertas koran/kalender bekas untuk dibentuk menjadi properti sederhana (seperti tongkat lipat atau topi koran).
- Proses: Murid yang masih ragu didampingi guru secara bertahap saat memperagakan penggunaan properti, sedangkan murid yang sudah mandiri langsung mempraktikkan penggunaan properti dengan variasi gerakan tokoh secara mandiri.
- Produk: Semua murid mendemonstrasikan penggunaan minimal 1 properti sederhana yang tepat dan sesuai dengan karakter tokoh cerita sehari-hari yang dipilih.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik kesiapan properti: Guru menunjukkan 3 benda nyata: (1) Sapu lidi, (2) Buku tebal, (3) Gulungan koran. Murid diminta menjodohkan masing-masing benda dengan tokoh yang sesuai. Kriteria benar: Sapu lidi -> Petugas kebersihan/ibu rumah tangga; Buku tebal -> Guru/pelajar; Gulungan koran -> Ayah sedang santai/kakek.
Proses:- Lembar observasi performa penggunaan properti sederhana: Guru mengamati saat murid memeragakan penggunaan benda. Kriteria ketercapaian: (1) Kesesuaian properti dengan jenis tokoh yang dipilih (relevan secara fungsi), (2) Ketepatan cara memegang/memperlakukan benda sesuai karakteristik peran tokoh (misal: tongkat kakek ditopangkan ke lantai sebagai penyangga badan, bukan diayunkan seperti pedang mainan).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman praktis (exit ticket peragaan): Sebelum kelas selesai, setiap murid memperagakan 1 aksi penggunaan properti sederhana pilihan mereka selama 10 detik di hadapan guru sesuai tokohnya. Acuan penerimaan: properti digunakan sesuai fungsi tokoh (contoh: peran kakek bertumpu pada tongkat koran; peran pedagang memegang bakul/keranjang; peran murid menyandang tas ransel).
Formatif:- Observasi unjuk kerja penggunaan properti sederhana saat latihan (memeriksa ketepatan pemilihan dan cara menggunakan properti sesuai tokoh)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Kesesuaian Pemilihan Properti | Memilih properti sederhana yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan fungsi atau profesi tokoh yang diperankan. | Memilih properti sederhana yang mendekati fungsi tokoh namun masih membutuhkan arahan penuh dari guru. | Memilih properti sederhana yang tepat dan relevan dengan profesi atau karakteristik tokoh yang diperankan secara mandiri. | Memilih lebih dari satu properti sederhana yang sangat spesifik dan sangat memperjelas identitas tokoh yang diperankan secara mandiri. | | Ketepatan Penggunaan Properti Sederhana | Belum mampu memperagakan cara memegang atau menggunakan benda sesuai fungsi karakter tokoh (benda hanya dipegang diam tanpa aksi relevan). | Mampu menggunakan properti sederhana sesuai peran tokoh namun gerakannya masih kaku dan sering keluar dari karakter peran. | Mampu menggunakan properti sederhana secara wajar, konsisten, dan tepat sesuai perilaku tokoh yang diperankan. | Mampu menggunakan properti sederhana secara sangat luwes, tepat, konsisten, dan terpadu menyatu dengan seluruh aksi tokoh. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah benda-benda sederhana dan bahan bekas yang disediakan cukup membantu murid mengenali fungsi properti teater?
- Bagian mana dari kegiatan penggunaan properti sederhana yang paling efektif membantu murid memahami karakter peran tokohnya?
Murid:- Benda apa yang kamu gunakan sebagai properti hari ini dan tokoh apa yang kamu perankan?
- Apakah kamu merasa terbantu menjadi tokoh tersebut setelah menggunakan properti sederhana tadi?
Pertemuan 7 — Menggunakan Properti Terpadu Sesuai Tokoh yang Diperankan dalam Cerita Kehidupan Sehari-Hari — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 4.2.4 Menggunakan properti yang sesuai dengan tokoh yang diperankan dalam cerita kehidupan sehari-hari
Pendahuluan:- Guru membuka pelajaran, memandu doa bersama, mengecek kehadiran, dan menyampaikan fokus kegiatan yaitu memadukan penggunaan minimal 2 properti yang sesuai dengan peran tokoh kehidupan sehari-hari (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik dengan meminta murid mencocokkan pasangan benda terpadu untuk 3 tokoh: (1) Tokoh Kakek, (2) Tokoh Dokter, (3) Tokoh Guru, di mana murid menunjukkan pilihan pasangan properti yang tepat (acuan pasangan benar: Kakek = tongkat jalan & kacamata; Dokter = stetoskop mainan & buku resep/papan catatan; Guru = buku pelajaran & spidol/penggaris) (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak penjelasan dan peragaan guru tentang konsep properti terpadu, yaitu penggunaan lebih dari satu benda pendukung karakter secara terkoordinasi saat memerankan tokoh kehidupan sehari-hari (misal: memegang buku catatan sambil mengalungkan stetoskop mainan) (10 menit).
- Murid mengamati 3 skenario situasi tokoh yang dibacakan guru: (1) Kakek berjalan memeriksa kebun membawa tongkat dan memakai caping/topi kertas; (2) Dokter memeriksa pasien sambil membawa papan resep dan mengenakan stetoskop; (3) Pedagang pasar memegang timbangan kertas dan mengenakan celemek kain bekas, lalu murid mengidentifikasi fungsi masing-masing benda pendukung tokoh tersebut (acuan: benda 1 berfungsi sebagai alat bantu gerak/tugas utama tokoh, benda 2 berfungsi sebagai penguat identitas profesi/karakter) (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid memainkan tantangan menggembirakan 'Estafet Properti Tokoh', di mana setiap kelompok bergantian mengambil kombinasi 2 properti di kotak perlengkapan sesuai kartu tokoh yang diperoleh (misal: kartu Ibu Rumah Tangga = keranjang belanja + dompet kain; kartu Satpam = peluit mainan + tongkat karton) lalu langsung memakainya secara terpadu di badan (20 menit).
- Dalam kelompok kerja lakon cerita kehidupan sehari-hari yang sudah dibentuk, murid memakai setidaknya 2 properti yang sesuai dengan tokoh pilihannya masing-masing (seperti kakek, nenek, ayah, ibu, anak, pedagang, atau dokter) dan melatih penggunaan terpadu benda-benda tersebut dalam tindakan tokoh (misal: nenek membaca koran bekas sambil mengenakan kacamata kertas karton tanpa menjatuhkan salah satunya) (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Setiap murid mendemonstrasikan penggunaan 2 properti terpadu sesuai perannya di depan kelompoknya secara bergantian selama 1 menit, saling mengecek apakah kedua properti tersebut dipegang/dipakai dengan mantap dan sesuai dengan profesi/karakter tokohnya (10 menit).
Penutup:- Guru bersama murid melakukan asesmen akhir berupa cek pemahaman cepat: murid menyebutkan 2 properti terpadu yang ia gunakan beserta kesesuaiannya dengan tokoh perannya masing-masing (kriteria penerimaan: murid mampu menyebutkan dan menunjukkan 2 properti yang logis serta selaras dengan profesi/karakter tokoh lakon yang dimainkan) (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik formatif penguatan artistik, mengingatkan murid untuk merapikan dan menyimpan properti terpadu kelompok ke dalam kotak properti kelas guna persiapan adegan lakon di pertemuan berikutnya, lalu menutup pembelajaran dengan doa (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan disediakan pilihan benda terpadu yang sudah siap pakai berpasangan (misal: topi kertas & tongkat karton); murid berkemampuan cepat dapat merancang perpaduan 3 properti sekaligus yang saling melengkapi peran tokohnya.
- Proses: Murid yang masih kesulitan memadukan dua benda didampingi guru mempraktikkan pegangan satu per satu sebelum digabungkan; murid yang sudah mahir langsung melatih interaksi tokoh menggunakan kedua properti secara mandiri.
- Produk: Unjuk penggunaan properti terpadu dinilai dari kemampuan memadukan minimal 2 properti yang sesuai dengan tokoh, baik berupa properti pakai (kostum/aksesori) maupun properti pegang (hand prop).
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tes diagnostik pencocokan pasangan properti tokoh: Murid menjodohkan 3 tokoh kehidupan sehari-hari dengan pasangan 2 properti yang tepat pada papan peraga (Daftar butir: 1. Tokoh Kakek, 2. Tokoh Dokter, 3. Tokoh Guru. Acuan kunci jawaban: 1 = tongkat jalan & kacamata; 2 = stetoskop mainan & papan catatan/resep; 3 = buku pelajaran & spidol/penggaris).
Proses:- Lembar observasi formatif penggunaan properti terpadu: Guru mengamati keterpaduan pemakaian minimal 2 properti tokoh (apakah properti sesuai dengan karakter tokoh lakon dan apakah murid mampu mengenakan/memegang keduanya secara serasi tanpa kesulitan fisik yang mengganggu peran).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman individu di akhir sesi: Murid memperagakan secara langsung cara menggunakan 2 properti terpadunya sesuai tokoh yang dipilih (Kriteria penerimaan: properti yang digunakan berjumlah minimal 2, relevan dengan karakter tokoh dalam cerita kehidupan sehari-hari, dan digunakan secara aktif/terpasang pada tubuh tokoh saat beraksi).
Formatif:- Pengamatan unjuk kerja penggunaan minimal 2 properti terpadu yang sesuai dengan karakter/profesi tokoh lakon sehari-hari.
- Cek kesesuaian dan kelancaran membawa/mengenakan properti secara simultan saat melakukan tindakan tokoh.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Kesesuaian Pemilihan Properti Terpadu dengan Tokoh | Memilih 2 properti tetapi keduanya tidak sesuai dengan karakter tokoh kehidupan sehari-hari yang diperankan. | Memilih 2 properti terpadu, namun hanya 1 properti yang sesuai dengan karakter tokoh yang diperankan. | Memilih minimal 2 properti terpadu yang seluruhnya sesuai dengan karakter tokoh kehidupan sehari-hari yang diperankan. | Memilih lebih dari 2 properti terpadu yang seluruhnya sangat sesuai, saling melengkapi, dan mempertegas karakter tokoh yang diperankan. | | Keterampilan Menggunakan Properti Terpadu saat Berperan | Belum mampu menggunakan kedua properti secara bersamaan (salah satu properti terjatuh atau tidak difungsikan sama sekali). | Mampu menggunakan kedua properti secara bersamaan tetapi masih canggung dan membutuhkan bantuan guru untuk memegangnya. | Mampu menggunakan minimal 2 properti terpadu secara mandiri dan fungsional sesuai kebutuhan tindakan tokoh yang diperankan. | Mampu menggunakan minimal 2 properti terpadu secara mandiri, luwes, dan terkoordinasi penuh dalam mendukung setiap tindakan tokoh yang diperankan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah murid dapat memadukan pemakaian dua properti atau lebih tanpa kesulitan menggerakkan tubuh?
- Bagian mana dari pengelolaan properti terpadu oleh murid yang masih membutuhkan bimbingan pada pertemuan berikutnya?
Murid:- Apakah properti terpadu yang kamu pakai membuat peran tokohmu tampak lebih nyata?
- Apa kesulitan yang kamu rasakan saat harus memegang atau memakai dua properti sekaligus?
Pertemuan 8 — Memainkan Adegan Pendek Lakon dalam Cerita Kehidupan Sehari-Hari — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 4.2.5 Memainkan sebuah lakon dalam cerita kehidupan sehari-hari
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, mengecek kehadiran, serta memandu doa bersama (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu memainkan adegan pendek lakon dalam cerita kehidupan sehari-hari secara berpasangan (4 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal berupa tes diagnostik kesiapan bermain peran berpasangan. Guru membacakan naskah situasi pendek (Situasi: 'Kakak mengingatkan adik agar tidak menumpahkan segelas air di meja belajar'). Dua murid diminta maju mempraktikkan langsung respons peran (Adik memegang cangkir, Kakak berujar: 'Awas tumpah!', Adik merespons: 'Iya Kak, aku hati-hati'). Guru mengamati kesiapan murid dalam menyambung aksi dan reaksi lakon (acuan ketercapaian: murid langsung merespons aksi lawan main tanpa berhenti atau keluar dari karakter lakon) (8 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak penjelasan guru mengenai 3 pilihan teks adegan pendek lakon kehidupan sehari-hari yang akan dimainkan secara berpasangan: Adegan A (May dan Kak Riko: May membuka bungkus oleh-oleh gantungan kunci dengan rasa kecewa, Kak Riko melihatnya dengan kagum lalu menghibur May); Adegan B (Murid dan Guru: Murid bertanya tentang arti peran aktor di panggung, Guru menjelaskan peran aktor dengan hangat); Adegan C (May dan Mama: May meminta maaf karena sempat merajuk soal hadiah, Mama tersenyum memaafkan dan memeluk May) (10 menit).
- Guru bersama seorang murid memberikan peragaan singkat teknik memainkan adegan lakon: cara menyambung dialog antartokoh, mempertahankan posisi tubuh menghadap penonton/lawan main, dan merespons aksi panggung lawan main secara langsung (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Permainan Pemanasan Lakon 'Aksi Sambung Adegan': Murid berpasangan memainkan tantangan cepat bertukar 2 kalimat dialog aksi-reaksi sehari-hari (misal: 'Buku PR-ku tertinggal!' disambung pasangan 'Ayo lapor ke Bu Guru sekarang!') dengan gembira untuk melatih keluwesan bermain lakon bersama (10 menit).
- Setiap pasangan memilih 1 dari 3 teks adegan lakon yang disediakan (Adegan A, B, atau C) lalu berlatih memainkan adegan pendek tersebut dengan memadukan dialog tokoh dan tindakan lakon dari awal hingga akhir adegan secara mandiri (20 menit).
- Setiap pasangan murid secara bergantian tampil di area panggung kelas memainkan adegan pendek lakon cerita kehidupan sehari-hari yang telah dipilih selama 2-3 menit di hadapan guru dan teman-teman (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama pasangannya saling memeriksa keterlaksanaan adegan lakon yang baru dimainkan: apakah seluruh alur adegan lakon berhasil dimainkan dari awal hingga akhir tanpa terputus (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik menyeluruh mengenai penampilan memainkan adegan pendek lakon yang telah dilakukan oleh seluruh pasangan murid (3 menit).
- Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran hari ini bahwa memainkan adegan lakon membutuhkan keselarasan aksi dan reaksi antarpemain (1 menit).
- Guru menyampaikan agenda pertemuan berikutnya (Pertemuan 9: memainkan keseluruhan lakon berkelompok), menutup sesi dengan doa bersama dan salam penutup (1 menit).
Diferensiasi:- Konten: Guru menyediakan naskah adegan lakon dengan pilihan teks berdialog sangat singkat (Adegan B: 2 baris dialog) untuk pasangan yang memerlukan scaffolding, serta teks berdialog lebih dinamis (Adegan A dan C: 4 baris dialog).
- Proses: Pasangan murid yang memerlukan bimbingan mendapatkan pendampingan guru dalam pembagian giliran dialog lakon, sedangkan pasangan yang mahir diberikan kesempatan melakukan improvisasi aksi lakon saat memainkan adegan.
- Produk: Seluruh pasangan memainkan adegan pendek lakon; tingkat kemandirian dinilai berdasarkan kelancaran memainkan lakon tanpa bergantung pada arahan guru.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Peragaan diagnostik respons bermain peran lakon: Murid merespons aksi pasangan dalam simulasi adegan pendek 'mengingatkan air minum tumpah' (acuan ketercapaian: murid menyambung aksi tokoh lawan main secara langsung tanpa jeda bingung atau keluar dari peran lakon).
Proses:- Pengamatan unjuk kerja berpasangan saat memainkan salah satu adegan pendek lakon (Adegan A, B, atau C) mencakup keutuhan adegan dari awal sampai akhir dan keterhubungan aksi-reaksi bermain lakon.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman keterlaksanaan bermain lakon di akhir sesi: Pasangan murid mengonfirmasi keberhasilan menyelesaikan rangkaian adegan pendek lakon pilihan (acuan: lakon dimainkan lengkap dari dialog pembuka, konflik kecil adegan, hingga dialog penutup adegan tanpa berhenti di tengah jalan).
Formatif:- Observasi unjuk kerja memainkan adegan pendek lakon cerita kehidupan sehari-hari menggunakan lembar amatan rubrik ketercapaian.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Memainkan adegan pendek lakon cerita kehidupan sehari-hari | Belum mampu memainkan adegan pendek lakon kehidupan sehari-hari; berhenti di tengah adegan dan membutuhkan bimbingan guru secara penuh. | Mampu memainkan sebagian adegan pendek lakon kehidupan sehari-hari, namun alur adegan masih terputus-putus atau peran sempat terhenti sebelum adegan selesai. | Mampu memainkan keseluruhan adegan pendek lakon kehidupan sehari-hari dari awal hingga akhir secara runtut dan lancar bersama pasangan. | Mampu memainkan keseluruhan adegan pendek lakon kehidupan sehari-hari secara runtut, lancar, mandiri, serta aksi dan reaksi antartokoh terjalin sangat padu tanpa jeda ragu. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah seluruh pasangan murid dapat memainkan adegan pendek lakon pilihan dengan lancar dari awal hingga akhir?
- Bagaimana efektivitas permainan pemanasan aksi sambung adegan dalam membantu murid menyelaraskan peran lakon?
Murid:- Bagian mana dari adegan lakon tadi yang paling seru saat kamu mainkan bersama pasanganmu?
- Apa hal yang paling menantang ketika harus menyambung dialog dan tindakan teman mainmu di panggung?
Pertemuan 9 — Memainkan Keseluruhan Lakon dalam Cerita Kehidupan Sehari-Hari secara Berkelompok — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 4.2.5 Memainkan sebuah lakon dalam cerita kehidupan sehari-hari
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan fisik serta kehadiran murid, dan mengondisikan ruang kelas menjadi area panggung latihan (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu memainkan keseluruhan lakon cerita kehidupan sehari-hari secara berkelompok dari awal hingga akhir (2 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik kesiapan urutan lakon: guru menyebutkan 3 peristiwa acak dari naskah latihan 'Kado Ulang Tahun May' (Peristiwa A: May minta maaf kepada Mama; Peristiwa B: Kak Riko mengajak May bersyukur; Peristiwa C: May membuka bungkus kado dan merasa kesal), lalu murid mengurutkan nomor kejadian cerita secara benar (acuan urutan: C - B - A) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid dalam kelompok masing-masing menyimak penjelasan guru tentang keutuhan lakon (transisi antar-adegan dari pembuka, inti konflik, hingga penyelesaian tanpa jeda terputus) (5 menit).
- Murid bersama kelompoknya membaca dan menelaah kembali lembar alur lakon 3 adegan utuh yang disiapkan guru: Adegan 1 (May kecewa menerima gantungan kunci dari Mama), Adegan 2 (Kak Riko menasihati May agar bersyukur), dan Adegan 3 (May menyadari kekeliruannya dan meminta maaf kepada Mama) (5 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Permainan pemanasan kelompok 'Lakon Estafet Ceria': setiap kelompok secara bergantian memperagakan perpindahan masuk dan keluar panggung antar-adegan secara cepat dan kompak sesuai aba-aba guru (7 menit).
- Setiap kelompok melakukan latihan gabungan memainkan keseluruhan 3 adegan lakon cerita kehidupan sehari-hari secara utuh dari awal sampai akhir secara mandiri di area latihan kelas (15 menit).
- Setiap kelompok secara bergiliran memainkan keseluruhan lakon utuh (Adegan 1, Adegan 2, dan Adegan 3) di hadapan guru dan teman sekelas tanpa terhenti, diamati dengan lembar observasi proses (13 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama kelompoknya memeriksa kelancaran permainan keseluruhan lakon yang baru dimainkan menggunakan lembar cek mandiri (apakah adegan 1, 2, dan 3 tersambung dengan utuh) (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik langsung terhadap kelengkapan dan kelancaran memainkan keseluruhan lakon yang telah ditampilkan kelompok (5 menit).
- Guru bersama murid menyimpulkan pentingnya kerja sama kelompok dalam menjaga keutuhan jalan cerita lakon, lalu menutup pembelajaran dengan doa dan salam (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Kelompok yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan alur lakon dengan teks pengingat dialog transisi antar-adegan; kelompok yang mahir memainkan naskah lakon utuh dengan improvisasi kalimat sehari-hari.
- Proses: Guru mendampingi secara intensif kelompok yang masih mengalami jeda macet saat pergantian adegan; kelompok yang sudah lancar berlatih mandiri.
- Produk: Semua kelompok memainkan lakon utuh 3 adegan; tingkat kemandirian dinilai dari sedikit atau banyaknya bantuan aba-aba guru saat memainkan lakon.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik pemahaman urutan alur lakon: Guru membacakan 3 potongan peristiwa lakon secara acak: (1) May meminta maaf kepada Mama, (2) May kesal menerima gantungan kunci, (3) Kak Riko menasihati May untuk bersyukur. Murid menyusun urutan kronologis lakon yang tepat (kriteria/kunci: urutan benar adalah 2 -> 3 -> 1; murid yang menjawab benar siap langsung memainkan keseluruhan lakon, murid yang belum tepat dipandu kembali bagan urutan adegannya).
Proses:- Observasi unjuk kerja kelompok saat memainkan keseluruhan lakon 3 adegan: Guru memeriksa 3 indikator ketercapaian: (1) Memainkan adegan awal/pembuka (May membuka kado dan tampak kecewa), (2) Memainkan adegan tengah/konflik (Kak Riko mengajak May bersyukur), (3) Memainkan adegan akhir/penyelesaian (May meminta maaf kepada Mama). Kelompok dinyatakan tuntas apabila memainkan ketiga adegan tersebut secara berurutan dan utuh.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman akhir pelaksanaan lakon: Murid menjawab lembar cek keterlaksanaan lakon berkelompok yang memuat 3 butir verifikasi: (1) Kelompok memainkan Adegan 1, (2) Kelompok memainkan Adegan 2, (3) Kelompok memainkan Adegan 3 (kriteria: ketiga butir terlaksana secara berurutan tanpa meninggalkan satu adegan pun).
Formatif:- Observasi unjuk kerja memainkan keseluruhan lakon cerita kehidupan sehari-hari secara berkelompok
- Lembar cek pemahaman alur adegan lakon utuh
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Memainkan Keseluruhan Lakon Cerita Kehidupan Sehari-Hari secara Berkelompok | Hanya mampu memainkan 1 dari 3 adegan lakon, alur cerita terputus dan membutuhkan bimbingan guru secara penuh. | Mampu memainkan 2 dari 3 adegan lakon secara berurutan, namun adegan penyelesaian belum terselesaikan dan masih sering diarahkan guru. | Mampu memainkan keseluruhan 3 adegan lakon (adegan pembuka, adegan konflik, dan adegan penyelesaian) secara runtut dan utuh bersama kelompok dengan arahan minimal. | Mampu memainkan keseluruhan 3 adegan lakon secara runtut, lancar, dan utuh dari awal hingga akhir secara mandiri tanpa jeda terputus bersama kelompok. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah seluruh kelompok dapat memainkan keseluruhan 3 adegan lakon secara utuh dari awal sampai akhir?
- Bagian transisi adegan mana yang masih memerlukan bimbingan tambahan agar kelompok bermain lebih lancar?
Murid:- Apakah kelompokmu berhasil memainkan seluruh adegan cerita dari awal sampai selesai?
- Adegan mana dalam lakon hari ini yang paling lancar kamu mainkan bersama kelompok?
Pertemuan 10 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 4.2.1 Menirukan gerak tubuh sesuai tokoh dalam cerita kehidupan sehari-hari melalui proses mimesis
- TP 4.2.2 Menirukan suara atau vokal sesuai tokoh dalam cerita kehidupan sehari-hari melalui proses mimesis
- TP 4.2.3 Menceritakan pengalaman dalam bermain teater dari cerita kehidupan sehari-hari
- TP 4.2.4 Menggunakan properti yang sesuai dengan tokoh yang diperankan dalam cerita kehidupan sehari-hari
- TP 4.2.5 Memainkan sebuah lakon dalam cerita kehidupan sehari-hari
Pendahuluan:- Guru membuka sesi dengan salam, doa bersama, dan memeriksa kesiapan ruang kelas yang telah diatur menjadi area pentas lakon (2 menit).
- Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif bab, yaitu unjuk kerja pementasan lakon kehidupan sehari-hari secara berkelompok dan penyampaian refleksi lisan pengalaman bermain teater (2 menit).
- Guru menjelaskan alur penilaian, pembagian urutan tampil 6 kelompok (masing-masing 4-5 murid), serta kriteria rubrik pementasan dan refleksi lisan (2 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Setiap kelompok (6 kelompok) memeriksa kesiapan naskah lakon kehidupan sehari-hari yang telah disiapkan, mengecek pembagian peran, serta menata properti sederhana masing-masing di area tunggu (4 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Kelompok 1 sampai Kelompok 6 secara bergiliran menampilkan pementasan lakon cerita kehidupan sehari-hari di depan kelas selama 10-11 menit per kelompok termasuk transisi masuk dan keluar panggung, menampilkan mimesis gerak tokoh, vokal/suara tokoh, keselarasan penggunaan properti, dan keutuhan lakon (total 65 menit).
- Guru melakukan observasi langsung dan menilai unjuk kerja pementasan setiap murid menggunakan rubrik unjuk kerja pemeranan (5 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid duduk melingkar dalam kelompoknya masing-masing, kemudian secara bergiliran menceritakan secara lisan pengalaman dan kesan diri selama memainkan peran lakon dipandu stimulus guru (durasi 1 menit per murid, guru berkeliling menyimak dan mengonfirmasi refleksi 28 murid) (20 menit).
Penutup:- Guru memberikan apresiasi menyeluruh atas pementasan lakon dan keterbukaan murid dalam menceritakan pengalaman bermain teater sepanjang Bab 2 (3 menit).
- Guru bersama murid menutup rangkaian pembelajaran Bab 2 dengan doa dan salam penutup (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Akomodasi akses naskah: murid yang membutuhkan pengingat alur diperbolehkan meletakkan catatan urutan adegan di dekat meja properti panggung tanpa mengubah naskah lakon yang dimainkan.
- Proses: Akomodasi waktu transisi: kelompok yang membutuhkan penyesuaian penataan properti diberikan penanda batas panggung yang jelas di lantai.
- Produk: Akomodasi ekspresi lisan: murid yang memerlukan bantuan stimulus saat refleksi lisan diberikan panduan kartu pertanyaan pemantik refleksi langsung dari guru.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pemeriksaan kesiapan peran dan properti sebelum tampil melalui ceklis kesiapan kelompok: (1) kelengkapan anggota peran tokoh lakon; (2) ketersediaan properti tokoh yang relevan (kriteria: seluruh anggota siap di posisinya dengan properti masing-masing).
Proses:- Observasi keteraturan transisi dan kesiapan giliran tampil antar-kelompok sesuai alur pelaksanaan asesmen sumatif.
Sumatif Bab:- unjuk kerja pementasan lakon berkelompok dan refleksi lisan terpadu: penampilan bermain peran adegan kehidupan sehari-hari dengan gerak, vokal, dan properti yang sesuai serta penyampaian cerita pengalaman bermain teater secara lisan
- unjuk kerja pementasan lakon berkelompok: penampilan bermain peran lakon kehidupan sehari-hari secara berkelompok (dibagi menjadi 6 kelompok beranggotakan 4-5 murid, tampil bergiliran 10-11 menit per kelompok termasuk persiapan dan transisi) yang memperagakan gerak mimesis tokoh, pelafalan dialog/suara tokoh yang tepat, dan pemanfaatan properti yang selaras dengan karakter (70 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja pemeranan (kriteria: mimesis gerak tokoh, vokal/suara tokoh, kesesuaian properti, keutuhan lakon))
- refleksi lisan melingkar: penyampaian cerita lisan singkat tentang pengalaman dan kesan diri selama memainkan peran lakon secara bergiliran dalam kelompok masing-masing (durasi sekitar 1 menit per murid serentak dipandu stimulus guru, kemudian guru mengonfirmasi perwakilan/keliling menyimak 28 murid) (35 menit; kelompok; instrumen: lembar ceklis observasi refleksi lisan (kriteria: kelancaran menceritakan pengalaman diri dan kesadaran peran teater))
Sumatif:- unjuk kerja pementasan lakon berkelompok dan refleksi lisan terpadu: penampilan bermain peran adegan kehidupan sehari-hari dengan gerak, vokal, dan properti yang sesuai serta penyampaian cerita pengalaman bermain teater secara lisan
- unjuk kerja pementasan lakon berkelompok: penampilan bermain peran lakon kehidupan sehari-hari secara berkelompok (dibagi menjadi 6 kelompok beranggotakan 4-5 murid, tampil bergiliran 10-11 menit per kelompok termasuk persiapan dan transisi) yang memperagakan gerak mimesis tokoh, pelafalan dialog/suara tokoh yang tepat, dan pemanfaatan properti yang selaras dengan karakter (70 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja pemeranan (kriteria: mimesis gerak tokoh, vokal/suara tokoh, kesesuaian properti, keutuhan lakon))
- refleksi lisan melingkar: penyampaian cerita lisan singkat tentang pengalaman dan kesan diri selama memainkan peran lakon secara bergiliran dalam kelompok masing-masing (durasi sekitar 1 menit per murid serentak dipandu stimulus guru, kemudian guru mengonfirmasi perwakilan/keliling menyimak 28 murid) (35 menit; kelompok; instrumen: lembar ceklis observasi refleksi lisan (kriteria: kelancaran menceritakan pengalaman diri dan kesadaran peran teater))
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Mimesis Gerak Tubuh Tokoh (TP 4.2.1) | Belum menampilkan gerak tubuh mimesis yang mencerminkan tokoh; gerak masih sepenuhnya gestur alami diri sendiri. | Menampilkan gerak tubuh mimesis tokoh namun belum konsisten, sesekali kembali ke gestur alami diri sendiri selama adegan. | Menampilkan gerak tubuh mimesis yang sesuai dengan karakter tokoh secara konsisten sepanjang memainkan adegan lakon. | Menampilkan gerak tubuh mimesis tokoh secara konsisten, luwes, dan presisi menggambarkan detail fisik/perilaku tokoh sepanjang lakon. | | Mimesis Suara/Vokal Tokoh (TP 4.2.2) | Belum mengubah vokal sesuai tokoh; berbicara dengan nada dan warna suara percakapan sehari-hari murid sendiri. | Mulai menirukan vokal tokoh pada dialog tertentu, namun belum konsisten di sepanjang lakon. | Menirukan vokal/suara sesuai karakter tokoh secara konsisten sepanjang dialog lakon dimainkan. | Menirukan vokal/suara tokoh dengan warna suara, intonasi dialog, dan modulasi yang sangat konsisten mencerminkan karakter tokoh. | | Penggunaan Properti Tokoh (TP 4.2.4) | Belum menggunakan properti sesuai tokoh, atau properti hanya dipegang tanpa difungsikan dalam adegan. | Menggunakan properti yang sesuai dengan tokoh, namun penggunaannya masih kaku atau hanya pada satu momen adegan. | Menggunakan properti yang sesuai dengan tokoh secara tepat dan fungsional mendukung tindakan tokoh dalam adegan. | Menggunakan properti yang sesuai dengan tokoh secara sangat terpadu, lincah, dan mendukung penguatan peran tokoh sepanjang lakon. | | Memainkan Lakon Kehidupan Sehari-Hari (TP 4.2.5) | Belum mampu memainkan adegan lakon; berhenti di tengah jalan atau pasif saat adegan berlangsung. | Memainkan adegan lakon bersama kelompok namun alur adegan terputus-putus atau membutuhkan arahan langsung guru. | Memainkan keseluruhan alur lakon bersama kelompok dari awal hingga akhir secara runtut dan utuh. | Memainkan keseluruhan lakon secara utuh, runtut, padu antartokoh, dan menjaga ritme pementasan bersama kelompok secara mandiri. | | Menceritakan Pengalaman Bermain Teater (TP 4.2.3) | Belum dapat menceritakan pengalaman bermain teater; membutuhkan dorongan penuh guru untuk menyebutkan peran yang dimainkan. | Menceritakan pengalaman bermain peran hanya menyebutkan nama peran tanpa menceritakan kesan atau proses yang dialami. | Menceritakan pengalaman bermain teater dengan lancar, memuat peran yang dimainkan serta kesan/perasaan diri selama pementasan. | Menceritakan pengalaman bermain teater secara runtut, lancar, dan mendalam memuat peran, tantangan yang dihadapi, serta makna belajar yang dirasakan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu pementasan dan refleksi lisan berjalan sesuai dengan rancangan jadwal?
- Bagaimana ketercapaian seluruh murid dalam memadukan gerak, vokal, dan properti pada pementasan lakon akhir bab ini?
Murid:- Bagaimana perasaanmu setelah berhasil menampilkan lakon bersama teman-teman sekelompok?
- Apa pengalaman paling berharga yang kamu peroleh selama belajar bermain peran pada bab ini?
SUMBER BELAJAR- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas IV (Kemendikbudristek, 2023) Bab 2
- Ruang kelas dan halaman sekolah sebagai referensi observasi lingkungan langsung
- Kartu gambar peraga sikap tubuh tokoh lingkungan sekolah (Guru, Penjaga Sekolah, Petugas Perpustakaan)
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas IV (Kemendikbudristek, 2023), Bab 2: Bermain Peran dari Cerita Kehidupan Sehari-Hari
- Ruang kelas yang lapang untuk olah gerak tubuh
- Kartu visual ilustrasi postur tokoh sehari-hari (kakek, ibu, pedagang)
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas IV (Kemendikbudristek, 2021).
- Ruang kelas/aula yang kondusif untuk latihan vokal.
- Kartu panduan ucapan dialog tokoh sehari-hari.
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas IV (Kemendikbudristek, 2023).
- Teks cetak 3 kartu dialog tokoh kehidupan sehari-hari (Guru Kelas, Pedagang Bakso, Pasien).
- Rekaman audio/contoh lisan suara percakapan tokoh di lingkungan sehari-hari.
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas IV (Edisi Revisi)
- Bagan panduan alur cerita di papan tulis
- Lembar kerja refleksi 'Jejak Peranku'
- Bola kecil untuk permainan estafet cerita
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas IV (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2023 (Bab II, Kegiatan 4)
- Benda-benda sederhana di lingkungan kelas: sapu, kemoceng, tas sekolah, buku, penggaris panjang
- Bahan daur ulang: koran bekas, kalender bekas, kardus kecil, botol plastik bekas
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas IV (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
- Benda-benda properti buatan dan daur ulang (kacamata karton, topi koran, caping, tongkat kayu/karton gulung, celemek kain, tas belanja, stetoskop mainan, buku catatan).
- Lembar pengamatan guru dan kotak properti kelas.
- Teks adegan lakon pendek kehidupan sehari-hari (Adegan A: May & Kak Riko, Adegan B: Guru & Murid, Adegan C: May & Mama).
- Ruang kelas/area panggung bermain peran.
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas IV (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
- Naskah lakon sederhana 3 adegan 'Kado Ulang Tahun May'
- Ruang kelas yang ditata sebagai area panggung terbuka
- Naskah lakon cerita kehidupan sehari-hari karya kelompok murid
- Properti pementasan sederhana (tas, topi, celemek, keranjang, buku catatan, tongkat)
- Rubrik asesmen sumatif unjuk kerja dan lembar ceklis observasi refleksi lisan
|