Modul AjarBab 1Fase BSemester 1

Modul Ajar Seni Teater Kelas 4 Bab 1: Bermain Peran Binatang dan Peristiwa Alam

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Seni Teater kelas 4 untuk Bab 1 "Bermain Peran Binatang dan Peristiwa Alam", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Seni Teater Kelas 4 Bab 1: Bermain Peran Binatang dan Peristiwa Alam

Seni Teater - Kelas 4

Bab 1

MODUL AJAR

Seni Teater — Kelas 4 (Fase B)

Topik: Bab 1 — Bermain Peran Binatang dan Peristiwa Alam

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranSeni Teater
Fase / KelasFase B / Kelas 4
TopikBab 1 — Bermain Peran Binatang dan Peristiwa Alam
Alokasi Waktu26 JP (26 x 35 menit = 910 menit)
Jumlah Pertemuan9
Tahun Ajaran2026/2027
Semester1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 4.1.1 Menunjukkan teknik dasar akting melalui proses meniru gerak tubuh sesuai peran binatang atau peristiwa alam
  2. TP 4.1.2 Menunjukkan teknik dasar akting melalui proses meniru suara atau vokal sesuai peran binatang atau peristiwa alam
  3. TP 4.1.3 Menceritakan pengalaman dalam bermain teater peran binatang dan peristiwa alam
  4. TP 4.1.4 Menggunakan properti yang sesuai dengan tokoh yang diperankan dalam lakon binatang dan peristiwa alam
  5. TP 4.1.5 Memainkan sebuah lakon dalam cerita binatang dan peristiwa alam

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis
Kreativitas✓
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan
Komunikasi✓

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Bagaimana bentuk tubuh dan langkah kaki seekor kucing saat sedang mengendap-endap mendekati mangsa?
  2. Bagaimana kamu menggerakkan tangan, kaki, dan tubuhmu agar orang lain langsung tahu kamu sedang menirukan katak atau burung tanpa bersuara?
  3. Bagaimana gerakan tubuh pohon ketika ditiup angin sepoi-sepoi dibandingkan dengan saat diterjang angin kencang?
  4. Bagaimana caramu menggunakan gerak tangan dan tubuh untuk meniru gelombang ombak di lautan?
  5. Bagaimana perbedaan bunyi vokal saat kucing sedang lapar mengeong dan saat harimau mengaum keras?
  6. Bagaimana kita menggunakan suara dan napas kita untuk menirukan berbagai jenis binatang di sekitar kita?
  7. Bagaimana bunyi tetesan air hujan gerimis jika dibandingkan dengan hujan deras?
  8. Suara apa yang dapat dihasilkan oleh mulut kita untuk menggambarkan hembusan angin puting beliung?
  9. Bagaimana sebuah topeng binatang dapat membantu penonton mengenali tokoh yang sedang kita perankan?
  10. Bagaimana cara memegang atau memasang properti topeng agar tepat menutupi wajah dan tidak menghalangi gerak tokoh?
  11. Bagaimana sebuah kain biru atau kertas rumbai dapat membantu penonton mengetahui bahwa sedang turun hujan badai?
  12. Mengapa pemain teater memerlukan benda pendukung (properti) saat memerankan peristiwa alam dalam sebuah cerita?
  13. Bagaimana cara kita bekerja sama memainkan sebuah cerita binatang dan peristiwa alam secara berurutan?
  14. Apa yang terjadi pada tokoh binatang ketika peristiwa alam seperti hujan deras atau angin ribut tiba-tiba datang dalam lakon cerita?
  15. Apa peran binatang atau peristiwa alam yang paling kamu ingat saat kamu mainkan pada pertemuan sebelumnya?
  16. Bagaimana perasaanmu ketika memerankan tokoh tersebut di depan teman-teman?
  17. Bagian mana dari pengalaman bermain peran itu yang paling berkesan atau menantang bagimu?
  18. Bagaimana kita menyatukan gerak tubuh, suara karakter, dan properti saat memainkan peran binatang atau peristiwa alam di panggung?
  19. Apa pengalaman paling berkesan dan hal baru yang kamu rasakan saat bermain teater bersama kelompokmu?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Menirukan Gerak Tubuh Karakter Binatang — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.1.1 Menunjukkan teknik dasar akting melalui proses meniru gerak tubuh sesuai peran binatang atau peristiwa alam

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memandu pemanasan olah tubuh sederhana untuk kelenturan anggota badan (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menunjukkan teknik dasar akting melalui peniruan gerak tubuh karakter binatang tanpa menggunakan suara (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik: murid diminta langsung memperagakan gerak salah satu dari 2 pilihan binatang yang disebut guru, yaitu kelinci melompat (posisi kedua tangan menekuk di dada dengan kaki melompat berulang) atau burung elang terbang (kedua lengan terbentang lurus berayun naik-turun) untuk memetakan kesiapan gerak mimesis tubuh (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid membentuk posisi berdiri melingkar dan mengamati guru memperagakan 3 teknik dasar eksplorasi gerak tubuh binatang: (1) kelinci (posisi badan merendah, kedua tangan ditekuk di depan dada seperti cakar kelinci, kaki melompat bertumpu dua kaki), (2) kucing mengendap (badan membungkuk rendah, melangkah perlahan dan hati-hati dengan tangan dan kaki menapak lembut), dan (3) burung elang (badan tegak sedikit condong ke depan, kedua lengan direntangkan lebar dan diayunkan naik-turun secara mantap) (10 menit).
  • Murid bersama-sama menirukan ketiga ragam gerak tubuh binatang tersebut secara serempak di tempat masing-masing untuk memahami koordinasi anggota tubuh, level tinggi-rendah tubuh, dan pola langkah gerak mimesis (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Murid memainkan permainan peran tebak gerak 'Dramatisasi Mimesis Binatang': setiap murid memilih 1 kartu tantangan binatang dari 3 pilihan yang disediakan guru, yaitu (A) Katak (jongkok penuh, kedua telapak tangan menumpu lantai di antara kedua lutut, lalu melompat ke depan), (B) Kera (lutut ditekuk setengah jongkok, badan membungkuk santai, lengan menjulur panjang menggaruk samping tubuh lalu melangkah bergoyang), atau (C) Bebek (posisi setengah jongkok pantat agak terangkat, kedua tangan ditekuk di samping pinggang menyerupai sayap kecil yang dikibas-kibaskan, berjalan berlenggak-lenggok) (15 menit).
  • Secara bergantian atau berpasangan, murid menunjukkan teknik dasar akting dengan memperagakan gerak tubuh binatang yang dipilihnya selama 1-2 menit secara mandiri dan cermat tanpa mengeluarkan suara vokal apa pun (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid duduk kembali melingkar dan mengamati peragaan ulang dari beberapa teman, lalu mencocokkan bagian tubuh mana (kaki, tangan, postur badan) yang paling jelas menunjukkan ciri khas gerak binatang tersebut (5 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan teknik dasar akting melalui gerak tubuh (mengamati ciri khas fisik binatang lalu menirukannya lewat postur, level, dan gerak langkah) (3 menit).
  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap ketercapaian gerak tubuh mimesis murid dan menyampaikan bahwa pertemuan berikutnya akan melanjutkan latihan gerak tubuh untuk peristiwa alam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan pilihan kartu binatang dengan kompleksitas gerak yang bervariasi: tingkat dasar dengan pola gerak berulang sederhana (katak, bebek) dan tingkat lanjutan dengan variasi perpindahan level gerak (kera, kucing mengendap).
  • Proses: Bagi murid yang masih ragu, guru memberikan bimbingan langsung dengan contoh peragaan di sampingnya; bagi murid yang sudah lincah, diberikan tantangan mengeksplorasi perubahan tempo gerak tubuh (misal: gerak kera saat diam lalu bergerak cepat).
  • Produk: Unjuk kerja peragaan gerak tubuh binatang dinilai berdasarkan ketepatan postur dan koordinasi gerak tubuh sesuai ciri binatang yang dipilih.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik peragaan langsung 1 dari 2 gerak acuan: (1) Kelinci (kedua tangan ditekuk di dada, melompat dua kaki berulang) atau (2) Burung elang (lengan terbentang lurus, diayunkan naik-turun). Guru mencatat murid yang sudah mampu mengoordinasikan gerak tubuh mimesis dan yang masih kaku.

Proses:

  • Observasi unjuk kerja gerak tubuh mimesis saat permainan Dramatisasi Mimesis Binatang dengan 3 pilihan acuan gerak: Katak (jongkok penuh, telapak di lantai, melompat), Kera (setengah jongkok, lengan menjulur/menggaruk, jalan bergoyang), Bebek (setengah jongkok, siku ditekuk di pinggang, jalan berlenggang). Kriteria: kesesuaian postur tubuh dan ketepatan koordinasi gerak anggota badan tanpa bantuan suara.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir peragaan: murid secara serempak memperagakan posisi diam (pose tubuh) salah satu binatang yang diinstruksikan guru (acuan: pose katak = jongkok tumpuan tangan di lantai; pose elang = berdiri rentang sayap; pose kera = bungkuk lengan menjulur) untuk memastikan penguasaan bentuk dasar tubuh peran.

Formatif:

  • Unjuk kerja demonstrasi peniruan gerak tubuh karakter binatang menggunakan lembar observasi teknik dasar akting mimesis tubuh.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menunjukkan teknik dasar akting melalui peniruan gerak tubuh binatangBelum mampu menunjukkan gerak tubuh sesuai ciri karakter binatang; postur tubuh masih berdiri tegak biasa tanpa peniruan bentuk anggota tubuh.Menunjukkan sebagian gerak tubuh karakter binatang (misalnya hanya tangan atau hanya kaki) namun postur keseluruhan tubuh belum sesuai dan masih membutuhkan panduan/contoh langsung guru.Menunjukkan teknik dasar akting dengan menirukan gerak tubuh karakter binatang secara utuh dan tepat sesuai acuan (postur badan, koordinasi tangan, dan langkah kaki) secara mandiri.Menunjukkan teknik dasar akting menirukan gerak tubuh karakter binatang secara utuh, konsisten, dan ekspresif dengan variasi tempo serta level gerak (rendah-sedang-tinggi) yang sangat jelas secara mandiri tanpa ragu.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 70 menit mencukupi bagi seluruh murid untuk mencoba memperagakan teknik dasar akting gerak tubuh binatang?
  • Bagian gerak tubuh binatang mana yang paling mudah dan paling sulit ditirukan oleh murid kelas 4?
  • Apakah ada murid yang masih bergantung pada suara/vokal saat memperagakan karakter binatang?

Murid:

  • Gerak tubuh binatang apa yang paling menyenangkan dan mudah kamu tirukan hari ini?
  • Bagian tubuh mana (kaki, tangan, atau badan) yang paling terasa lelah atau pegal saat kamu menirukan gerak binatang tadi?
  • Apakah temanmu bisa langsung menebak binatang yang kamu peragakan hanya lewat gerak tubuhmu?

Pertemuan 2 — Menirukan Gerak Tubuh Peristiwa Alam — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.1.1 Menunjukkan teknik dasar akting melalui proses meniru gerak tubuh sesuai peran binatang atau peristiwa alam

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran, menyapa murid, mengecek kehadiran, serta mengajak murid melakukan pemanasan olah tubuh ringan untuk melenturkan otot leher, lengan, dan pinggang (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, yaitu menunjukkan teknik dasar akting dengan menirukan gerak tubuh peristiwa alam (ombak laut, angin kencang/pohon tertiup angin, dan rintik hujan menjadi deras) (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen diagnostik awal: guru menyebutkan 2 fenomena alam secara lisan, yaitu 'ombak laut menggulung' dan 'ranting pohon tertiup angin sepoi-sepoi', lalu meminta seluruh murid secara serempak menunjukkan 1 respons gerak tubuh spontan untuk masing-masing fenomena guna memetakan kelenturan dan pemahaman dasar gerak mimesis (acuan respons tepat: ombak = tangan mengayun melengkung naik-turun berirama; angin sepoi-sepoi = badan/lengan bergoyang perlahan ke kiri dan ke kanan) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru memberikan demonstrasi eksplorasi 3 gerak mimesis peristiwa alam: (1) Gerak Ombak Laut: kedua tangan direntangkan ke samping lalu diayun bergelombang naik-turun secara mengalir; (2) Gerak Pohon Tertiup Angin: berdiri tegak lalu meliukkan torso dan kedua lengan ke kiri-kanan secara perlahan lalu berputar cepat meniru pusaran badai; (3) Gerak Hujan: posisi berdiri perlahan merendah ke lantai dengan jari-jari tangan bergetar lincah ke arah bawah meniru tetesan air jatuh (15 menit).
  • Murid mengamati dan secara berkesadaran merasakan perubahan energi tubuh, tempo (lambat ke cepat), dan level gerak (tinggi, sedang, rendah) pada ketiga contoh gerak peristiwa alam tersebut (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid dibagi ke dalam kelompok beranggotakan 4-5 orang untuk memainkan permainan gerak terpandu 'Taman Cuaca' (permainan menggembirakan di mana guru menyebutkan 3 aba-aba cuaca secara bergantian: 'Angin Ribut', 'Gelombang Ombak Samudra', dan 'Hujan Badai', lalu tiap kelompok serentak merespons dengan membentuk susunan gerak tubuh yang selaras sesuai karakteristik peristiwa alam tersebut) (20 menit).
  • Setiap murid dalam kelompok secara bergiliran menunjukkan 3 ragam gerak tubuh peristiwa alam di hadapan kelompoknya/di area panggung kelas dengan acuan target: (1) Gerak Ombak Laut: ayunan bergelombang tangan dan tubuh; (2) Gerak Angin Meliuk: liukan batang tubuh dan putaran lengan mengikuti intensitas hembusan; (3) Gerak Hujan Menetes hingga Deras: jari bergerak ritmis turun dari level tinggi ke level lantai secara konsisten (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama teman sekelompok saling mengamati dan mencocokkan ketercapaian gerak peristiwa alam menggunakan lembar ceklis sederhana 'Ya/Tidak' terhadap 3 gerakan (ombak, angin, hujan) untuk mengidentifikasi gerakan mana yang paling lancar ditirukan dan mana yang masih kaku (10 menit).
  • Guru memberikan penguatan umpan balik langsung mengenai teknik kelenturan tubuh, pemanfaatan ruang gerak, dan kontrol tempo saat menirukan peristiwa alam (5 menit).

Penutup:

  • Guru memandu gerakan pendinginan (cooling down) untuk merilekskan otot-otot tubuh murid setelah beraktivitas gerak fisik (5 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran hari ini bahwa tubuh manusia dapat difungsikan sebagai media dasar akting untuk mewujudkan bentuk-bentuk dinamis peristiwa alam di atas panggung (3 menit).
  • Guru menginformasikan fokus pertemuan berikutnya (pertemuan 3) yaitu menirukan suara atau vokal karakter binatang, lalu menutup pertemuan dengan doa dan salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan gerak dengan visualisasi kartu gambar tingkatan gerak (ombak rendah, sedang, tinggi); murid yang telah mahir diberikan variasi level tempo yang lebih kontras (ombak tenang ke tsunami, angin sepoi-sepoi ke puting beliung).
  • Proses: Bimbingan langsung perorangan (scaffolding) pada koordinasi tangan dan kaki saat menirukan ombak bagi murid yang ragu bergerak, sementara murid yang lincah diarahkan mengeksplorasi ruang gerak lantai secara mandiri.
  • Produk: Semua murid menunjukkan target kompetensi gerak yang sama; murid dengan hambatan gerak motorik dapat menunjukkan mimesis peristiwa alam terfokus pada anggota tubuh bagian atas (lengan dan torso).

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik peragaan langsung spontan di awal pertemuan terhadap 2 instruksi verbal: 'ombak laut menggulung' dan 'ranting pohon tertiup angin sepoi-sepoi'. Acuan respons tepat: (1) Ombak = tangan mengayun melengkung naik-turun secara berirama; (2) Angin sepoi-sepoi = badan dan lengan bergoyang perlahan ke kiri dan ke kanan secara lentur.

Proses:

  • Pengamatan unjuk kerja teknik dasar akting gerak tubuh peristiwa alam saat aktivitas kelompok dan peragaan perorangan. Target peragaan: 3 gerak peristiwa alam (Ombak, Angin, Hujan). Acuan kesesuaian: (1) Ombak: kedua lengan mengayun membentuk gelombang melengkung kontinu; (2) Angin: liukan torso ke kiri-kanan disertai putaran lengan lentur; (3) Hujan: getaran ritmis jari tangan bergerak dari level atas turun hingga menyentuh lantai.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman ketercapaian gerak melalui lembar ceklis diri/sejawat terhadap 3 gerak peristiwa alam: (1) Gerak Ombak (Ya/Tidak), (2) Gerak Angin (Ya/Tidak), (3) Gerak Hujan (Ya/Tidak). Kriteria ketercapaian: murid dinyatakan mencapai tujuan bila mampu menunjukkan minimal 2 dari 3 gerak peristiwa alam tersebut sesuai acuan gerak tanpa ragu.

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja gerak tubuh mimesis peristiwa alam menggunakan lembar observasi dan rubrik penilaian proses

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Teknik gerak tubuh meniru peristiwa alam (ombak laut, angin, hujan)Belum mampu menunjukkan gerak tubuh sesuai peran peristiwa alam; gerakan masih kaku atau terhenti walau telah diberikan contoh dan bimbingan guru.Mampu menunjukkan 1 dari 3 gerak tubuh peristiwa alam (ombak, angin, atau hujan) sesuai karakteristik bentuk gerak dengan bimbingan guru.Mampu menunjukkan 2 sampai 3 gerak tubuh peristiwa alam (ombak, angin, hujan) sesuai karakteristik bentuk gerak dan tempo secara mandiri.Mampu menunjukkan seluruh (3) gerak tubuh peristiwa alam (ombak, angin, hujan) secara tepat, luwes, konsisten dalam pengaturan tempo gerak, serta mandiri sepenuhnya tanpa ragu.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu untuk eksplorasi olah tubuh dan menirukan gerak peristiwa alam sudah memadai bagi seluruh murid?
  • Bagian gerak peristiwa alam manakah yang dirasa paling menantang oleh murid untuk diekspresikan melalui tubuh?

Murid:

  • Gerakan peristiwa alam mana (ombak, angin, atau hujan) yang paling kamu sukai saat kamu peragakan tadi?
  • Bagian tubuh mana yang paling banyak kamu gerakkan saat menirukan gerakan ombak dan angin?

Pertemuan 3 — Menirukan Suara atau Vokal Karakter Binatang — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.1.2 Menunjukkan teknik dasar akting melalui proses meniru suara atau vokal sesuai peran binatang atau peristiwa alam

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, doa bersama, dan mengecek kehadiran murid (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu melatih teknik dasar akting dengan menirukan suara atau vokal 4 karakter binatang (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat dengan membunyikan 3 rekaman tiruan vokal binatang dan meminta murid menebak nama binatangnya: (1) bunyi 'meong... meong...' dengan nada meliuk lembut (acuan: kucing); (2) bunyi 'kukuruyuk...' melengking tinggi (acuan: ayam jantan); (3) bunyi 'guk... guk...' berat dan pendek (acuan: anjing) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru memberikan contoh eksplorasi teknik dasar akting olah vokal melalui pemanasan pernapasan perut dan latihan artikulasi vokal menirukan 4 karakter binatang target: (1) Kucing (bunyi: 'meooong', karakter vokal: lentur, lembut, nada bervariasi); (2) Harimau (bunyi: 'groooaaar', karakter vokal: berat, rendah, serak dari dada); (3) Katak (bunyi: 'kroook... kroook', karakter vokal: pendek, berulang, resonansi tenggorokan); (4) Burung Hantu (bunyi: 'huuu... huuu', karakter vokal: bergema, napas panjang, nada mendayu) (15 menit).
  • Murid secara bersama-sama mengamati dan menirukan panduan guru dalam mengatur tekanan suara serta variasi tinggi-rendah nada suara untuk keempat binatang target tersebut dengan penuh konsentrasi (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid berpartisipasi dalam permainan 'Tebak Suara Rimba' (permainan menyenangkan): guru membagi kelas menjadi dua barisan berhadapan, satu murid membunyikan vokal salah satu binatang target (kucing, harimau, katak, atau burung hantu) dengan variasi karakter vokal yang khas, dan pasangan murid di depannya menebak binatang yang disuarakan secara bergiliran (20 menit).
  • Secara mandiri, setiap murid unjuk kerja menunjukkan teknik vokal akting dengan menirukan suara 4 karakter binatang target (kucing, harimau, katak, burung hantu) secara berurutan di hadapan guru sesuai acuan vokal yang dilatih (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid mengevaluasi kemampuannya sendiri dalam membunyikan vokal binatang: murid mengidentifikasi vokal binatang mana yang paling mudah dan paling menantang dibunyikan dari 4 binatang yang dilatih (10 menit).
  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap ketepatan karakter vokal murid (apakah vokal kucing sudah lentur, harimau sudah berat/rendah, katak pendek berulang, burung hantu bergema) serta mengapresiasi keberanian berekspresi vokal seluruh murid (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan bahwa akting suara binatang memerlukan kontrol vokal yang sesuai dengan ciri khas masing-masing binatang (5 menit).
  • Guru menutup pertemuan dengan doa penutup dan salam penutup (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan contoh suara binatang secara berulang untuk 2 binatang bersuara kontras (kucing dan harimau), sedangkan murid yang lebih cepat diberikan tantangan mengeksplorasi variasi nada emosi pada 4 suara binatang target (misalnya suara kucing lapar vs kucing marah).
  • Proses: Pada latihan mandiri, murid yang belum percaya diri diperbolehkan menirukan suara bersama pasangan terlebih dahulu sebelum maju mandiri, sedangkan murid yang sudah mahir langsung unjuk suara mandiri dengan 4 variasi suara binatang.
  • Produk: Bagi murid reguler dan mahir unjuk suara mencakup 4 binatang target lengkap (kucing, harimau, katak, burung hantu), sedangkan bagi murid berpencapaian rendah unjuk suara minimal mencakup 2 binatang target secara tepat.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik identifikasi bunyi binatang: Guru membunyikan 3 tiruan suara binatang dan meminta murid menyebutkan nama binatangnya. (1) Suara meliuk lembut 'meong... meong...' (acuan jawaban: kucing); (2) Suara melengking tinggi 'kukuruyuk...' (acuan jawaban: ayam jantan); (3) Suara berat berulang 'guk... guk...' (acuan jawaban: anjing).

Proses:

  • Pengamatan unjuk kerja teknik meniru vokal binatang selama kegiatan 'Tebak Suara Rimba' dan unjuk mandiri dengan 4 target: (1) Kucing (acuan: suara lentur/lembut 'meoong'); (2) Harimau (acuan: suara berat/rendah dari dada 'groaaar'); (3) Katak (acuan: suara pendek berulang 'kroook... kroook'); (4) Burung Hantu (acuan: suara bergema mendayu 'huuu... huuu'). Kriteria keberhasilan: murid tepat membunyikan minimal 3 dari 4 karakter suara binatang.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman vokal akhir: Guru menyebutkan 1 situasi acak: 'Tirukan suara katak yang sedang memanggil di kolam malam hari!'. Kriteria ketercapaian: murid membunyikan suara vokal pendek terputus 'kroook... kroook' dengan resonansi tenggorokan secara tepat.

Formatif:

  • Unjuk kerja menirukan 4 suara/vokal karakter binatang (kucing, harimau, katak, burung hantu) dengan lembar observasi ketepatan karakter vokal

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Ketepatan Meniru Suara/Vokal Karakter BinatangMenirukan 1 dari 4 karakter suara binatang target (acuan target: Kucing [lentur lembut], Harimau [berat rendah], Katak [pendek berulang], Burung Hantu [bergema]) dengan bimbingan penuh guru.Menirukan 2 dari 4 karakter suara binatang target sesuai acuan secara mandiri.Menirukan 3 dari 4 karakter suara binatang target sesuai acuan secara mandiri.Menirukan seluruh 4 karakter suara binatang target (Kucing, Harimau, Katak, Burung Hantu) sesuai acuan secara konsisten dan mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 105 menit cukup efektif untuk memberikan kesempatan setiap murid unjuk kerja vokal binatang secara mandiri?
  • Bagian latihan teknik vokal binatang mana yang paling disukai dan paling membutuhkan bimbingan intensif bagi murid?

Murid:

  • Suara binatang mana yang paling mudah dan paling seru kamu tirukan hari ini?
  • Bagian tubuh mana (dada, tenggorokan, atau mulut) yang kamu rasakan paling bekerja saat membuat suara harimau atau katak?

Pertemuan 4 — Menirukan Suara atau Vokal Peristiwa Alam — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.1.2 Menunjukkan teknik dasar akting melalui proses meniru suara atau vokal sesuai peran binatang atau peristiwa alam

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengondisikan ruang kelas (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menunjukkan teknik dasar akting melalui peniruan suara atau vokal peristiwa alam (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat dengan memperdengarkan rekaman audio singkat/meminta murid menirukan satu bunyi peristiwa alam: 'Bagaimana bunyi guntur menggelegar?' Murid mencoba membunyikannya bersama-sama untuk memetakan kesiapan kontrol vokal (acuan: suara gemuruh rendah/bergetar 'blarrr' atau 'dhuarrr') (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru memberikan pemodelan vokal teknik dasar akting tentang 4 jenis suara peristiwa alam: (1) Angin sepoi-sepoi (vokal desis lembut panjang 'fshhhh/wusss'), (2) Hujan rintik/gerimis (vokal klik lidah/letupan bibir 'tik-tik-tik'), (3) Petir menyambar (vokal eksplosif menggelegar 'carrr-dhuarrr'), dan (4) Ombak laut bergulung (vokal desah naik-turun 'syuuu-harrr') (15 menit).
  • Murid secara berkesadaran menyimak karakteristik dinamika vokal (panjang-pendek, keras-lembut, tinggi-rendah) pada masing-masing suara peristiwa alam tersebut dan mengidentifikasi penggunaan rongga mulut/napas dalam menghasilkan efek bunyi (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Murid memainkan permainan tantangan vokal menggembirakan 'Orkestra Suara Alam': guru mengangkat 4 kartu simbol visual peristiwa alam (Kartu 1: Angin sepoi-sepoi, Kartu 2: Hujan rintik, Kartu 3: Petir menyambar, Kartu 4: Ombak bergulung), lalu murid secara bergiliran dalam kelompok baris membunyikan tiruan suara vokal sesuai kartu yang ditunjuk dengan variasi dinamika bunyi (20 menit).
  • Secara mandiri, setiap murid menunjukkan peniruan suara atau vokal untuk 4 peristiwa alam target secara berurutan: (1) Angin sepoi-sepoi ('fshhhh/wusss'), (2) Hujan rintik ('tik-tik-tik'), (3) Petir menyambar ('carrr-dhuarrr'), dan (4) Ombak bergulung ('syuuu-harrr') di hadapan guru dan teman (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid duduk tenang melakukan refleksi berkesadaran atas teknik vokal yang telah dilakukan: mengenali bunyi mana yang paling mudah dihasilkan dan bunyi mana yang membutuhkan pengaturan napas lebih kuat (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik formatif terhadap kemampuan kontrol vokal dan artikulasi tiruan suara peristiwa alam murid (5 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan pentingnya variasi vokal dalam menciptakan suasana latar peristiwa alam pada seni peran/akting teater (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan contoh audio visual riil peristiwa alam dan tiruan vokal dasar bagi murid yang membutuhkan penguatan pendengaran.
  • Proses: Bagi murid yang masih ragu, guru memberikan bimbingan ketukan tempo atau contoh tiruan vokal pendamping; bagi murid yang cepat menguasai, diberikan tantangan menggabungkan dua suara vokal peristiwa alam secara bertransisi (misal: gerimis bertransisi menjadi petir).
  • Produk: Semua murid mendemonstrasikan peniruan vokal untuk 4 jenis suara peristiwa alam target sesuai tingkat kemandiriannya.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik kesiapan vokal: Guru meminta murid memperagakan tiruan vokal bunyi petir/guntur menggelegar. Kriteria/acuan jawaban: murid mampu menghasilkan bunyi bertekanan tebal/menggelegar (misal bunyi 'dhuarrr' atau 'blarrr') untuk memetakan kesiapan dasar produksi suara tiruan.

Proses:

  • Pengamatan formatif saat murid melakukan unjuk kerja peniruan suara atau vokal peristiwa alam pada 4 target: (1) Angin sepoi-sepoi (desisan halus berkesinambungan 'fshhh/wusss'), (2) Hujan rintik (letupan pendek berulang 'tik-tik-tik'), (3) Petir menyambar (ledakan vokal keras 'carrr-dhuarrr'), (4) Ombak bergulung (aliran vokal ritmis 'syuuu-harrr'). Acuan ketercapaian: ketepatan karakter vokal dan kestabilan kontrol suara pada ke-4 target.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman/umpan balik akhir: Murid diminta memperagakan kembali satu vokal peristiwa alam yang ditentukan secara acak oleh guru dari 4 target untuk memastikan konsistensi teknik peniruan suara.

Formatif:

  • Unjuk kerja demonstrasi peniruan suara atau vokal 4 peristiwa alam (angin sepoi-sepoi, hujan rintik, petir menyambar, ombak bergulung) menggunakan lembar observasi rubrik ketercapaian.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Teknik peniruan suara atau vokal peristiwa alam (Target 4 suara: Angin sepoi-sepoi, Hujan rintik, Petir menyambar, Ombak laut)Mampu menirukan 1 dari 4 suara peristiwa alam target dengan tepat atau masih memerlukan bimbingan penuh guru dalam menghasilkan suara.Mampu menirukan 2 dari 4 suara peristiwa alam target dengan karakter vokal yang sesuai acuan.Mampu menirukan 3 dari 4 suara peristiwa alam target dengan karakter vokal yang sesuai acuan secara mandiri.Mampu menirukan seluruh (4 dari 4) suara peristiwa alam target dengan karakter vokal yang tepat, konsisten, dan mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah instruksi dan pemodelan teknik vokal peristiwa alam dapat dipahami dan diikuti dengan jelas oleh seluruh murid?
  • Bagian suara peristiwa alam mana yang paling menantang bagi murid dan bagaimana penanganannya pada latihan vokal mendatang?

Murid:

  • Suara peristiwa alam mana yang paling seru dan paling mudah kamu tirukan menggunakan suaramu?
  • Kesulitan apa yang kamu rasakan saat harus membuat suara keras seperti petir atau suara lembut seperti gerimis?

Pertemuan 5 — Menggunakan Properti Topeng Karakter Binatang dalam Bermain Peran — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.1.4 Menggunakan properti yang sesuai dengan tokoh yang diperankan dalam lakon binatang dan peristiwa alam

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memandu pemanasan relaksasi tubuh ringan mengikuti irama lagu anak-anak untuk meregangkan otot leher, bahu, dan tangan (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan kegiatan belajar, yaitu mempraktikkan cara menggunakan properti topeng karakter binatang yang sesuai dengan tokoh peran (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik kesiapan: guru menunjukkan 3 jenis topeng (topeng Harimau loreng bertaring, topeng Kelinci bertelinga panjang, dan topeng Burung Elang berparuh runcing), lalu meminta murid memilih topeng yang tepat untuk 3 karakter peran: (1) Tokoh Harimau Perkasa, (2) Tokoh Kelinci Lincah, dan (3) Tokoh Burung Elang Terbang (acuan kecocokan: Tokoh Harimau -> topeng Harimau loreng bertaring; Tokoh Kelinci -> topeng Kelinci bertelinga panjang; Tokoh Burung Elang -> topeng Burung Elang berparuh runcing) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru mendemonstrasikan cara memilih dan memasang properti topeng karakter binatang secara ergonomis dan tepat menghadap depan (tali elastis dipasang melingkari kepala di atas telinga atau gagang topeng dipegang stabil di depan wajah tanpa menutupi pandangan mata) (10 menit).
  • Murid mencermati 3 contoh peragaan penggunaan topeng: (1) posisi topeng tepat menutup wajah sesuai karakter tokoh, (2) posisi topeng miring/longgar yang menutupi mata, dan (3) topeng terbalik/tidak sesuai tokoh; kemudian murid mengidentifikasi posisi penggunaan properti yang tepat dan stabil (acuan: contoh 1 adalah posisi yang benar dan fungsional sebagai properti tokoh) (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):

  • Melalui permainan menggembirakan 'Tebak Topeng Cepat', murid secara bergiliran mengambil satu properti topeng karakter binatang yang disediakan (pilihan: Kucing berkumis, Kera berlengan panjang, atau Serigala bermoncong runcing), lalu segera memasang properti topeng tersebut di wajahnya dengan posisi simetris dan pas (15 menit).
  • Murid mempraktikkan penggunaan properti topeng karakter binatang yang telah dipilih dalam latihan peran mandiri: murid berjalan 5 langkah ke depan sambil mempertahankan posisi properti topeng tetap stabil pada wajah sesuai karakter tokoh binatang yang diperankan tanpa terlepas atau merosot (30 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid memeriksa kestabilan dan kesesuaian posisi properti topeng masing-masing di depan cermin kelas atau saling bercermin dengan pasangan, memastikan apakah lubang mata topeng sejajar dan topeng tidak bergeser saat tubuh berpindah tempat (acuan: pandangan jelas, ikatan aman, wajah karakter terlihat jelas oleh penonton) (15 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan teknik penggunaan properti topeng binatang yang tepat (pemilihan topeng sesuai karakter tokoh peran dan pemasangan yang pas/stabil di wajah) (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap keberhasilan murid menggunakan properti topeng secara tepat, meminta murid merapikan kembali topeng ke tempat penyimpanan, dan menutup sesi pertemuan kelima dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan dua tipe penahan properti topeng: topeng dengan tali elastis lingkar kepala dan topeng bertangkai pegangan tangan sesuai kenyamanan motorik murid.
  • Proses: Bagi murid yang masih canggung memasang tali elastis topeng, guru memberikan bimbingan langsung dalam mengatur kelonggaran tali; bagi murid yang sudah terampil, diberikan tantangan menggunakan properti topeng sambil melakukan gerakan membungkuk dan menoleh cepat tanpa topeng bergeser.
  • Produk: Unjuk kerja penggunaan properti topeng karakter binatang yang terpasang tepat, stabil, dan selaras dengan tokoh binatang yang diperankan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik identifikasi kecocokan properti: Murid memasangkan 3 jenis topeng fisik dengan 3 karakter tokoh peran: (1) Tokoh Harimau Perkasa, (2) Tokoh Kelinci Lincah, dan (3) Tokoh Burung Elang Terbang (acuan benar: Tokoh Harimau Perkasa berpasangan dengan topeng Harimau loreng bertaring; Tokoh Kelinci Lincah berpasangan dengan topeng Kelinci bertelinga panjang; Tokoh Burung Elang Terbang berpasangan dengan topeng Burung Elang berparuh runcing).

Proses:

  • Observasi formatif unjuk kerja saat latihan peran: Mengamati apakah murid (1) menggunakan properti topeng yang sesuai dengan karakter binatang yang dipilih (Kucing, Kera, atau Serigala), dan (2) memakai properti topeng dengan posisi stabil, tidak merosot, serta tidak menghalangi pandangan mata selama bergerak 5 langkah.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman dan verifikasi unjuk kerja: Setiap murid menunjukkan pemakaian properti topeng binatang pilihannya di hadapan guru dalam posisi berdiri tegak dan bergerak satu langkah (kriteria penerimaan: topeng menempel stabil di wajah, lubang mata tepat pada posisi mata murid, dan topeng merepresentasikan karakter binatang yang diperankan).

Formatif:

  • Unjuk kerja penggunaan properti: observasi ketepatan pemilihan dan kestabilan pemasangan properti topeng karakter binatang saat dipakai dalam gerak peran.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kesesuaian dan Ketepatan Penggunaan Properti Topeng BinatangBelum mampu memasang properti topeng dengan benar pada wajah dan properti yang dipilih belum sesuai dengan tokoh binatang yang diperankan.Mampu memilih properti topeng yang sesuai tokoh binatang, namun pemasangan properti pada wajah masih longgar, miring, atau mudah lepas saat bergerak sehingga membutuhkan bantuan guru.Mampu memilih dan memasang properti topeng yang sesuai dengan tokoh binatang secara tepat dan stabil di wajah selama bergerak 5 langkah secara mandiri.Mampu memilih dan menggunakan properti topeng yang sesuai dengan tokoh binatang secara mandiri, sangat stabil, rapi, dan konsisten mempertahankan posisi properti tanpa bergeser sedikit pun saat bergerak.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid dapat memasang dan menggunakan properti topeng binatang dengan nyaman dan stabil?
  • Bagian mana dari kegiatan penggunaan properti yang paling menantang bagi murid dan bagaimana perbaikan pendampingannya pada pertemuan berikutnya?

Murid:

  • Apakah topeng binatang yang kamu pakai terasa nyaman dan tidak menutupi pandangan matamu saat bergerak?
  • Bagaimana perasaanmu saat wajahmu berubah menjadi karakter binatang setelah memakai topeng tersebut?

Pertemuan 6 — Menggunakan Properti Peristiwa Alam dalam Adegan Cerita — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.1.4 Menggunakan properti yang sesuai dengan tokoh yang diperankan dalam lakon binatang dan peristiwa alam

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, doa bersama, dan mengecek kehadiran murid (5 menit).
  • Guru memajang 3 benda properti sederhana (selembar kain biru, kipas kardus, dan lampu senter berfilter kuning) lalu melakukan asesmen awal diagnostik singkat: meminta 3 perwakilan murid memilih benda yang tepat untuk 3 peristiwa alam: (1) Hujan deras -> kain biru digetarkan, (2) Angin ribut -> kipas kardus dikibaskan cepat, (3) Petir menyambar -> lampu senter dinyalakan sekejap (acuan: pilihan benda dan fungsinya sesuai dengan daftar tersebut) (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu belajar memilih dan menggunakan properti yang sesuai untuk menghadirkan peristiwa alam dalam adegan cerita lakon (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Guru mendemonstrasikan bagaimana properti panggung dapat mempertegas peristiwa alam dalam cerita: memperagakan sehelai kain selendang biru yang digetarkan dari atas ke bawah untuk menghadirkan peristiwa hujan, serta selendang abu-abu yang diayun memutar untuk menghadirkan pusaran angin (10 menit).
  • Murid dalam kelompok mengamati 4 macam properti yang disediakan di meja alat: (1) Rumbai plastik biru (untuk hujan/air bah), (2) Lembaran kardus/kipas anyaman (untuk badai/angin kencang), (3) Kertas karton kuning bentuk gerigi (untuk kilat/petir), dan (4) Kain cokelat gulung (untuk tanah longsor/gempa) (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid dibagi ke dalam kelompok kecil (4-5 orang) dan memainkan permainan tantangan 'Tebak Badai': satu anak mengoperasikan properti peristiwa alam secara ekspresif (misalnya mengibaskan kipas karton lebar atau menggetarkan rumbai biru) dan anggota kelompok harus menebak peristiwa alam yang dihadirkan serta cara penggunaannya yang tepat (15 menit).
  • Setiap kelompok menerima kartu naskah adegan singkat berisi 2 cuplikan peristiwa alam: Adegan A (Hutan Diterpa Hujan Badai) dan Adegan B (Siang Terik Disambar Kilat Petir). Kelompok memilih properti yang sesuai dari meja bahan, merencanakan cara memegang dan menggerakkan properti tersebut dalam adegan (15 menit).
  • Setiap kelompok secara bergiliran menggunakan properti peristiwa alam yang telah dipilih saat memainkan adegan cerita singkat selama 3 menit di area panggung kelas (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru mengevaluasi ketepatan penggunaan properti: apakah properti yang digunakan mendukung kejelasan peran peristiwa alam dalam adegan atau justru menyulitkan gerak pemain (10 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan bersama pentingnya memilih dan menggerakkan properti yang pas agar peristiwa alam dalam cerita teater tampak meyakinkan bagi penonton (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap unjuk kerja kelompok dalam memegang dan memanfaatkan properti, merapikan kembali alat/properti ke tempat semula, dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan beragam bentuk properti peristiwa alam mulai dari yang siap pakai (selendang, rumbai, senter) hingga bahan daur ulang (kardus bekas, plastik kresek) dengan variasi tingkat kemudahan manipulasi gerak.
  • Proses: Bagi kelompok yang memerlukan bimbingan, guru mendampingi langsung cara memegang dan mengayunkan properti rumbai/kain secara ritmis; bagi kelompok yang mandiri, guru memberi tantangan memadukan 2 properti peristiwa alam secara simultan (misalnya rumbai hujan dan kipas angin kencang).
  • Produk: Unjuk kerja penggunaan properti peristiwa alam dalam adegan dinilai berdasarkan kesesuaian jenis properti dengan peristiwa alam yang dituju dan cara mengoperasikannya saat adegan berlangsung.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik memilih dan mencocokkan benda dengan peristiwa alam: (1) Kain biru panjang -> peristiwa hujan/banjir; (2) Kipas kardus besar -> peristiwa angin ribut/badai; (3) Karton gerigi kuning -> peristiwa petir/kilat (acuan: ketepatan murid menunjuk benda yang cocok untuk minimal 2 dari 3 peristiwa alam tersebut)

Proses:

  • Lembar observasi keterlibatan dan teknik penggunaan properti peristiwa alam dalam adegan kelompok (acuan amatan: (1) Ketepatan memilih properti sesuai peristiwa alam; (2) Keterampilan menggerakkan/memanipulasi properti secara selaras dengan situasi adegan lakon)

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman singkat lisan/tunjuk benda di akhir sesi: Murid menyebutkan 1 alasan mengapa properti yang digunakannya tadi cocok untuk mewakili peristiwa alam dalam adegan (kriteria penerimaan: murid mengaitkan karakteristik visual atau gerak properti dengan sifat peristiwa alam, misalnya kain biru berombak melambangkan aliran air deras)

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja penggunaan properti peristiwa alam saat latihan dan peragaan adegan cerita menggunakan lembar amatan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penggunaan Properti Peristiwa Alam dalam AdeganBelum mampu memilih properti yang sesuai dengan peran peristiwa alam dan belum menggunakannya dalam adegan cerita.Mampu memilih properti yang sesuai dengan peran peristiwa alam, namun canggung atau belum konsisten menggerakkannya dalam adegan cerita.Mampu memilih dan menggunakan properti yang sesuai dengan peran peristiwa alam secara tepat dan teratur dalam adegan cerita.Mampu memilih dan menggunakan properti yang sesuai dengan peran peristiwa alam secara tepat, luwes, dan konsisten menghidupkan suasana sepanjang adegan cerita secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah pemilihan dan ketersediaan bahan properti peristiwa alam sudah cukup bervariasi dan aman digunakan oleh semua murid?
  • Bagaimana respons murid saat bereksplorasi menggerakkan properti peristiwa alam dalam adegan cerita?

Murid:

  • Bagian mana yang paling menyenangkan saat menggerakkan properti peristiwa alam bersama kelompokmu?
  • Kesulitan apa yang kamu temui saat memegang dan menggerakkan properti peristiwa alam tadi?

Pertemuan 7 — Memainkan Adegan Singkat Lakon Binatang dan Peristiwa Alam — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.1.5 Memainkan sebuah lakon dalam cerita binatang dan peristiwa alam

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, menyapa murid, dan mengajak berdoa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu memainkan adegan singkat lakon cerita binatang dan peristiwa alam bersama kelompok (3 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik dengan menanyakan urutan jalannya peristiwa pada naskah adegan singkat 'Kancil, Semut, dan Badai Hutan' (awal: Kancil dan Semut mencari makan di tepi sungai; tengah: badai angin kencang dan hujan datang mengguncang pepohonan; akhir: Kancil dan Semut berlindung bersama di balik batang kayu besar hingga badai reda) untuk memetakan kesiapan murid dalam memahami alur adegan lakon (9 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Murid menyimak penjelasan guru mengenai 3 bagian rangkaian lakon cerita: babak awal (pengenalan tokoh dan suasana), babak tengah (masalah/datangnya peristiwa alam), dan babak akhir (penyelesaian dan situasi mereda) (10 menit).
  • Guru membacakan alur naskah adegan singkat 'Kancil, Semut, dan Badai Hutan' sambil memperagakan posisi blocking panggung (area datang, area peristiwa alam, dan area perlindungan) agar murid memahami keterkaitan antarperan dalam lakon (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Murid dibagi ke dalam kelompok beranggotakan 4 orang dan memilih peran dalam lakon 'Kancil, Semut, dan Badai Hutan' (Peran 1: Kancil yang lincah; Peran 2: Barisan Semut yang tekun; Peran 3: Angin Badai yang berputar kencang; Peran 4: Hujan Deras yang bergemuruh) (10 menit).
  • Secara bergembira melalui tantangan kelompok 'Aksi Reaksi Panggung', setiap kelompok berlatih memainkan transisi adegan: saat pemeran Angin dan Hujan memasuki panggung, pemeran Kancil dan Semut merespons dengan aksi panik lalu mencari tempat berlindung sesuai urutan cerita (20 menit).
  • Setiap kelompok secara bergiliran memainkan adegan singkat lakon tersebut di panggung kelas imajiner dari babak awal hingga akhir selama 4-5 menit per kelompok (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama kelompok duduk melingkar sejenak untuk memeriksa apakah ketiga babak lakon (awal, tengah, dan akhir) telah berhasil dimainkan secara berurutan dan utuh dalam penampilan kelompok mereka (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik menyeluruh terhadap keberhasilan semua kelompok dalam memainkan alur cerita dari babak awal sampai akhir (3 menit).
  • Guru menyampaikan kegiatan pada pertemuan berikutnya yaitu menceritakan pengalaman bermain teater, kemudian menutup pembelajaran dengan doa dan salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu panduan urutan cerita bergambar alur babak (awal, tengah, akhir) bagi kelompok yang memerlukan bantuan visual urutan kejadian.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan aba-aba tanda pergantian babak oleh guru saat bermain peran di panggung, sedangkan kelompok yang sudah mahir memainkan lakon secara mandiri tanpa aba-aba guru.
  • Produk: Kelompok yang telah mahir dapat menambahkan variasi interaksi peran binatang menghadapi peristiwa alam pada babak tengah lakon asalkan alur cerita tetap utuh.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik urutan alur lakon 'Kancil, Semut, dan Badai Hutan' untuk memetakan kesiapan murid memainkan lakon. Pertanyaan: 'Apa yang terjadi pada awal cerita, saat badai datang, dan bagaimana akhir cerita saat Kancil dan Semut selamat?' (Acuan jawaban benar: Awal: Kancil dan Semut mencari makan di tepi sungai; Tengah: badai angin dan hujan datang mengguncang pepohonan; Akhir: Kancil dan Semut berlindung bersama di balik kayu besar hingga badai reda).

Proses:

  • Pengamatan formatif saat kelompok memainkan adegan singkat di panggung imajiner: menilai keterpaduan peran dalam memainkan 3 babak lakon cerita binatang dan peristiwa alam (babak awal, babak tengah/peristiwa alam, dan babak akhir/penyelesaian).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman di akhir sesi melalui lembar refleksi kelompok: kelompok menandai ketercapaian 3 bagian lakon yang dimainkan (acuan ketercapaian: 1. Babak awal pengenalan Kancil dan Semut terlaksana; 2. Babak tengah kemunculan Angin Badai dan Hujan terlaksana; 3. Babak akhir tempat perlindungan dan badai reda terlaksana).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja memainkan lakon cerita menggunakan lembar observasi keterlaksanaan alur adegan lakon.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Memainkan lakon cerita binatang dan peristiwa alamMemainkan peran tanpa mengikuti alur cerita, belum menghubungkan peran binatang dengan kejadian peristiwa alam (hanya memainkan 1 bagian alur adegan dengan bantuan penuh).Memainkan lakon cerita binatang dan peristiwa alam yang mencakup 2 bagian babak alur cerita (misalnya awal dan tengah saja) dengan arahan guru.Memainkan lakon cerita binatang dan peristiwa alam secara runtut mencakup ketiga babak adegan (awal: interaksi binatang, tengah: datangnya peristiwa alam, akhir: berlindung hingga reda) sesuai naskah lakon secara berkelompok.Memainkan lakon cerita binatang dan peristiwa alam secara runtut mencakup ketiga babak adegan secara mandiri, mengalir lancar dalam transisi antarperan tanpa memerlukan arahan atau aba-aba dari guru.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alur naskah adegan singkat 'Kancil, Semut, dan Badai Hutan' memudahkan seluruh murid memainkan peran binatang dan peristiwa alam secara runtut?
  • Bagaimana pembagian peran dalam kelompok mendukung setiap murid untuk aktif memainkan lakon di panggung?

Murid:

  • Bagian mana dari lakon cerita tadi yang paling seru saat kamu dan kelompokmu mainkan di depan kelas?
  • Apakah kamu dan teman sekelompokmu berhasil memainkan cerita dari awal kedatangan badai sampai badai reda secara berurutan?

Pertemuan 8 — Menceritakan Pengalaman Bermain Teater Peran Binatang dan Peristiwa Alam secara Terbimbing — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.1.3 Menceritakan pengalaman dalam bermain teater peran binatang dan peristiwa alam

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran, dan mengajak murid berdoa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menceritakan pengalaman bermain teater peran binatang dan peristiwa alam yang telah dilakukan (4 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik lisan dengan meminta 3 murid secara bergantian menjawab 3 pertanyaan panduan awal: (1) 'Peran apa yang kamu mainkan pada latihan kemarin?' (kriteria: menyebutkan tokoh binatang/peristiwa alam konkret yang diperankan), (2) 'Bagaimana perasaanmu saat memainkannya?' (kriteria: menyebutkan rasa senang/berani/gugup), dan (3) 'Apa satu hal yang paling kamu ingat saat bermain peran?' (kriteria: menyebutkan 1 momen tindakan/peristiwa saat bermain peran) (8 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru memodelkan cara menceritakan pengalaman bermain teater menggunakan 4 pertanyaan pemandu terbimbing: (1) Tokoh apa yang diperankan (binatang/peristiwa alam), (2) Bagaimana perasaan saat bermain peran, (3) Bagian apa yang paling disukai atau menantang, dan (4) Apa yang dipelajari dari pengalaman tersebut (10 menit).
  • Murid secara berkesadaran menyimak pemodelan guru dan mengidentifikasi 4 unsur pengalaman teater yang dimodelkan (peran, perasaan, momen berkesan/menantang, pelajaran yang didapat) (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid menerima Lembar Cerita Refleksi Terbimbing berisi 4 butir panduan: Butir 1: 'Peran apa yang kamu mainkan pada lakon binatang atau peristiwa alam?', Butir 2: 'Bagaimana perasaanmu saat menjadi tokoh tersebut?', Butir 3: 'Momen apa yang paling berkesan atau paling menantang saat kamu berakting?', Butir 4: 'Apa hal berharga yang kamu rasakan setelah selesai bermain teater?' (10 menit).
  • Murid mengisi Lembar Cerita Refleksi Terbimbing secara mandiri berdasarkan pengalaman nyata latihan dan pementasan adegan yang telah dijalani (15 menit).
  • Dalam suasana menggembirakan melalui permainan estafet 'Mikrofon Cerita', murid secara bergiliran memegang mikrofon mainan dan menceritakan pengalaman bermain teaternya di hadapan pasangan atau kelompok kecilnya berdasarkan 4 butir panduan (22 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mengevaluasi ketercapaian ceritanya sendiri dengan mencentang daftar cek 4 butir panduan (memeriksa apakah peran, perasaan, momen berkesan/menantang, dan pelajaran berharga sudah diceritakan seutuhnya) (10 menit).
  • Perwakilan murid menceritakan pengalamannya secara sukarela di depan kelas dan guru memberikan umpan balik penguatan terhadap kelengkapan isi cerita pengalaman teater (5 menit).

Penutup:

  • Guru dan murid bersama-sama merangkum poin-poin penting dalam menceritakan pengalaman bermain teater peran binatang dan peristiwa alam (3 menit).
  • Guru memberikan apresiasi atas keterbukaan murid dalam menceritakan pengalamannya serta menyampaikan kesiapan untuk kegiatan pertemuan berikutnya (3 menit).
  • Guru menutup pertemuan dengan doa bersama dan salam penutup (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan Lembar Cerita Refleksi Terbimbing dengan simbol visual pembantu bagi murid yang memerlukan panduan konkret, serta lembar terbuka dengan pertanyaan pengarah bagi murid yang lebih siap.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan didampingi guru dengan pertanyaan pengarah langsung per butir panduan, sedangkan murid mahir menceritakan pengalamannya secara mandiri tanpa jeda pertanyaan per butir.
  • Produk: Murid dapat menceritakan pengalaman melalui tulisan panduan singkat terlebih dahulu kemudian menceritakannya secara lisan, atau langsung menceritakan secara lisan berbantu poin-poin kata kunci.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik di awal pembelajaran menggunakan 3 pertanyaan panduan: (1) 'Peran apa yang kamu mainkan pada latihan kemarin?', (2) 'Bagaimana perasaanmu saat memainkannya?', dan (3) 'Apa satu hal yang paling kamu ingat saat bermain peran?'. Kriteria jawaban diterima: murid dapat menyebutkan nama tokoh binatang/peristiwa alam yang nyata ia perankan, menyebutkan kata sifat perasaan yang dialami (misal: senang, gugup, bangga), dan menyebutkan minimal 1 peristiwa konkret yang terjadi saat latihan.

Proses:

  • Observasi formatif saat murid menceritakan pengalaman bermain teater peran binatang dan peristiwa alam menggunakan 4 butir panduan: (1) identitas peran binatang/peristiwa alam yang dimainkan, (2) perasaan yang dialami saat memainkan peran, (3) bagian atau momen yang paling disukai/menantang, dan (4) pelajaran atau makna yang didapatkan dari pengalaman tersebut. Acuan ketercapaian: murid menceritakan pengalaman nyata diri sendiri dan memuat minimal 3 dari 4 butir panduan.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman dan refleksi akhir melalui pemeriksaan lembar penilaian diri: murid memeriksa apakah ceritanya telah memuat 4 unsur pengalaman (peran yang dimainkan, perasaan yang dialami, momen berkesan/menantang, dan pelajaran berharga). Kriteria ketercapaian: lembar terisi lengkap dan memuat pengalaman nyata bermain peran binatang atau peristiwa alam.

Formatif:

  • Penilaian unjuk kerja lisan menceritakan pengalaman bermain teater dengan instrumen lembar observasi 4 unsur refleksi terbimbing.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kelengkapan Menceritakan Pengalaman Bermain TeaterMenceritakan pengalaman bermain peran binatang atau peristiwa alam hanya memuat 1 butir panduan secara terbimbing penuh.Menceritakan pengalaman bermain peran binatang atau peristiwa alam dengan memuat 2 butir panduan (misalnya menyebutkan peran dan perasaan) dengan bantuan pertanyaan pancingan guru.Menceritakan pengalaman bermain peran binatang atau peristiwa alam secara runtut mencakup 3 butir panduan secara mandiri.Menceritakan pengalaman bermain peran binatang atau peristiwa alam secara lengkap mencakup seluruh 4 butir panduan (tokoh yang diperankan, perasaan, momen menantang/disukai, dan pelajaran berharga) secara mandiri dan lancar.
Kesesuaian Objek Cerita PengalamanCerita belum memuat objek pengalaman bermain teater peran binatang atau peristiwa alam yang telah dialami.Cerita memuat objek peran binatang atau peristiwa alam, namun sebagian besar masih bercampur dengan hal di luar aktivitas bermain peran.Cerita secara konsisten berfokus pada peristiwa nyata saat memainkan peran binatang atau peristiwa alam.Cerita secara sangat mendalam dan terfokus menguraikan peristiwa nyata saat memainkan peran binatang atau peristiwa alam beserta detail interaksi akting yang dialami.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah panduan 4 butir pertanyaan refleksi membantu murid mengingat dan menceritakan kembali pengalamannya bermain teater secara runtut?
  • Bagaimana tingkat keterlibatan dan keberanian murid saat menceritakan pengalaman perannya di depan teman-teman?

Murid:

  • Apakah kamu merasa terbantu dengan 4 pertanyaan panduan saat menceritakan pengalaman bermain teater tadi?
  • Bagian cerita pengalaman mana yang paling menyenangkan untuk kamu bagikan kepada temanmu?

Pertemuan 9 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.1.1 Menunjukkan teknik dasar akting melalui proses meniru gerak tubuh sesuai peran binatang atau peristiwa alam
  • TP 4.1.2 Menunjukkan teknik dasar akting melalui proses meniru suara atau vokal sesuai peran binatang atau peristiwa alam
  • TP 4.1.3 Menceritakan pengalaman dalam bermain teater peran binatang dan peristiwa alam
  • TP 4.1.4 Menggunakan properti yang sesuai dengan tokoh yang diperankan dalam lakon binatang dan peristiwa alam
  • TP 4.1.5 Memainkan sebuah lakon dalam cerita binatang dan peristiwa alam

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengondisikan ruang panggung kelas agar tertata rapi serta aman untuk pementasan (2 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif bab, yaitu menampilkan lakon kelompok bertema binatang dan peristiwa alam secara utuh serta menyampaikan refleksi pengalaman bermain peran secara lisan (2 menit).
  • Guru bersama murid melakukan pemanasan vokal dan peregangan tubuh singkat terpadu untuk menyiapkan kesiapan fisik dan konsentrasi pementasan (2 menit).
  • Guru menjelaskan urutan tampil 5 kelompok (masing-masing 5-6 murid) dan tata tertib apresiasi bagi penonton saat kelompok lain sedang tampil di area panggung (2 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid menyimak penjelasan guru mengenai kriteria rubrik pementasan (gerak tubuh mimesis peran, olah vokal karakter, penggunaan properti pendukung peran, dan keutuhan jalinan lakon) serta tata cara refleksi lisan terpandu yang dinilai langsung seusai pentas (2 menit).
  • Setiap kelompok mengambil nomor undian urutan pementasan (Kelompok 1 sampai 5) dan memastikan properti (topeng binatang atau perlengkapan peristiwa alam) yang telah disiapkan berada di area panggung sesuai posisi adegan (2 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Tugas 1: Pementasan Lakon Kelompok 1 — Murid mementaskan lakon fabel/peristiwa alam dengan menampilkan peniruan gerak tubuh peran, olah vokal/suara karakter, dan penggunaan properti yang selaras dalam keutuhan adegan cerita, dinilai langsung oleh guru menggunakan rubrik unjuk kerja (3 menit).
  • Tugas 2: Refleksi Lisan Terpandu Kelompok 1 — Setiap murid di Kelompok 1 secara bergiliran (sekitar 1-1,5 menit per murid) menceritakan pengalaman bermain teater dipandu pertanyaan pemantik guru: (1) Tokoh apa yang kamu perankan?; (2) Bagaimana perasaanmu saat menirukan gerak dan suara tokoh tersebut di panggung?; (3) Tantangan apa yang kamu alami dan bagaimana caramu mengatasinya? (acuan respons: menyebutkan nama tokoh lakon, menceritakan perasaan nyata seperti senang/gugup, dan menyebutkan pengalaman memerankan tokoh/properti) (7 menit).
  • Tugas 1: Pementasan Lakon Kelompok 2 — Murid mementaskan lakon fabel/peristiwa alam secara terintegrasi (gerak tubuh, olah vokal, dan properti pendukung lakon) berdurasi 11 menit (10 menit).
  • Tugas 2: Refleksi Lisan Terpandu Kelompok 2 — Setiap murid di Kelompok 2 secara bergiliran menceritakan pengalaman bermain teater, perasaan saat berakting, dan keterkaitannya dengan peran yang dibawakan di hadapan guru (7 menit).
  • Tugas 1: Pementasan Lakon Kelompok 3 — Murid mementaskan lakon fabel/peristiwa alam secara terintegrasi (gerak tubuh, olah vokal, dan properti pendukung lakon) berdurasi 11 menit (11 menit).
  • Tugas 2: Refleksi Lisan Terpandu Kelompok 3 — Setiap murid di Kelompok 3 secara bergiliran menceritakan pengalaman bermain teater, perasaan saat berakting, dan keterkaitannya dengan peran yang dibawakan di hadapan guru (7 menit).
  • Tugas 1: Pementasan Lakon Kelompok 4 — Murid mementaskan lakon fabel/peristiwa alam secara terintegrasi (gerak tubuh, olah vokal, dan properti pendukung lakon) berdurasi 11 menit (11 menit).
  • Tugas 2: Refleksi Lisan Terpandu Kelompok 4 — Setiap murid di Kelompok 4 secara bergiliran menceritakan pengalaman bermain teater, perasaan saat berakting, dan keterkaitannya dengan peran yang dibawakan di hadapan guru (7 menit).
  • Tugas 1: Pementasan Lakon Kelompok 5 — Murid mementaskan lakon fabel/peristiwa alam secara terintegrasi (gerak tubuh, olah vokal, dan properti pendukung lakon) berdurasi 11 menit (11 menit).
  • Tugas 2: Refleksi Lisan Terpandu Kelompok 5 — Setiap murid di Kelompok 5 secara bergiliran menceritakan pengalaman bermain teater, perasaan saat berakting, dan keterkaitannya dengan peran yang dibawakan di hadapan guru (7 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Guru memberikan apresiasi menyeluruh terhadap seluruh kelompok atas keberanian, konsentrasi, dan kerja artistik bersama yang telah ditunjukkan selama pementasan dan refleksi lisan (3 menit).
  • Murid bersama guru menyimpulkan pencapaian pembelajaran selama Bab 1 mengenai pentingnya keselarasan olah tubuh, vokal, dan artistik dalam seni teater (3 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap proses belajar Bab 1 dan menyampaikan tindak lanjut untuk pembelajaran di bab selanjutnya (2 menit).
  • Murid merapikan kembali properti pementasan dan area panggung kelas ke posisi semula secara tertib (2 menit).
  • Guru menutup sesi asesmen sumatif dengan doa bersama dan salam penutup (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Akomodasi akses: teks panduan alur adegan kelompok dan daftar pertanyaan pemantik refleksi lisan disediakan dalam bentuk cetak berhuruf besar di area persiapan panggung tanpa mengubah tuntutan kompetensi.
  • Proses: Akomodasi akses: giliran bicara saat refleksi lisan dapat disesuaikan urutannya di dalam kelompok agar murid yang membutuhkan waktu berpikir ekstra dapat menyiapkan diri tanpa mengubah kriteria penilaian.
  • Produk: Standar bukti kinerja pementasan lakon dan cerita refleksi lisan tetap sama untuk seluruh murid sesuai acuan rubrik sumatif.

Asesmen Pertemuan:

Sumatif Bab:

  • unjuk kerja pementasan lakon kelompok dan refleksi lisan: penampilan pementasan lakon fabel/peristiwa alam yang memadukan peniruan gerak tubuh, olah vokal karakter, dan penggunaan properti secara terintegrasi dalam kelompok, serta cerita refleksi lisan mengenai pengalaman bermain teater
  • unjuk kerja pementasan lakon kelompok: penampilan kelompok (5-6 murid per kelompok, total 5 kelompok) mementaskan lakon singkat bertema binatang dan peristiwa alam berdurasi 10 menit per kelompok, menampilkan peniruan gerak tubuh peran, olah vokal/suara karakter, dan penggunaan properti yang sesuai secara harmonis (65 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja pementasan (kriteria: gerak tubuh mimesis, vokal/suara karakter, kesesuaian properti, keutuhan lakon))
  • penilaian lisan terpandu kelompok: cerita refleksi lisan tiap murid di dalam kelompoknya secara bergantian (masing-masing sekitar 1-1,5 menit terpandu pertanyaan pemantik guru mengenai pengalaman dan perasaan saat bermain peran) yang disimak dan dinilai langsung oleh guru seusai kelompok tampil (5 kelompok x 7-8 menit) (40 menit; kelompok; instrumen: lembar observasi refleksi lisan (kriteria: kelancaran menceritakan pengalaman bermain peran, kejujuran mengungkapkan perasaan, dan keterkaitan dengan tokoh yang dimainkan))

Sumatif:

  • unjuk kerja pementasan lakon kelompok dan refleksi lisan: penampilan pementasan lakon fabel/peristiwa alam yang memadukan peniruan gerak tubuh, olah vokal karakter, dan penggunaan properti secara terintegrasi dalam kelompok, serta cerita refleksi lisan mengenai pengalaman bermain teater
  • unjuk kerja pementasan lakon kelompok: penampilan kelompok (5-6 murid per kelompok, total 5 kelompok) mementaskan lakon singkat bertema binatang dan peristiwa alam berdurasi 10 menit per kelompok, menampilkan peniruan gerak tubuh peran, olah vokal/suara karakter, dan penggunaan properti yang sesuai secara harmonis (65 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja pementasan (kriteria: gerak tubuh mimesis, vokal/suara karakter, kesesuaian properti, keutuhan lakon))
  • penilaian lisan terpandu kelompok: cerita refleksi lisan tiap murid di dalam kelompoknya secara bergantian (masing-masing sekitar 1-1,5 menit terpandu pertanyaan pemantik guru mengenai pengalaman dan perasaan saat bermain peran) yang disimak dan dinilai langsung oleh guru seusai kelompok tampil (5 kelompok x 7-8 menit) (40 menit; kelompok; instrumen: lembar observasi refleksi lisan (kriteria: kelancaran menceritakan pengalaman bermain peran, kejujuran mengungkapkan perasaan, dan keterkaitan dengan tokoh yang dimainkan))

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Gerak Tubuh Mimesis Peran (TP 4.1.1)Belum menunjukkan gerak tubuh yang menyerupai karakter binatang atau peristiwa alam, postur tubuh pasif di panggung.Menunjukkan sebagian gerak tubuh tiruan karakter binatang atau peristiwa alam namun postur dan langkah kaki masih sering kaku atau ragu-ragu.Menunjukkan gerak tubuh tiruan karakter binatang atau peristiwa alam dengan postur tubuh, pergerakan tangan, dan langkah kaki yang konsisten sesuai peran.Menunjukkan gerak tubuh tiruan karakter binatang atau peristiwa alam secara lincah, mantap, ekspresif, dan konsisten dari awal hingga akhir lakon.
Olah Vokal Karakter (TP 4.1.2)Belum bersuara atau menirukan suara karakter binatang atau peristiwa alam saat beradegan di panggung.Menirukan suara/vokal karakter binatang atau peristiwa alam dengan suara lirih atau hanya sesekali saat diarahkan.Menunjukkan teknik dasar olah vokal dengan menirukan suara karakter binatang atau peristiwa alam secara jelas dan terdengar di area pentas sesuai peran.Menunjukkan teknik dasar olah vokal dengan menirukan suara karakter binatang atau peristiwa alam secara lantang, jernih, percaya diri, dan sangat selaras dengan emosi lakon.
Kesesuaian Penggunaan Properti (TP 4.1.4)Belum memakai atau memegang properti yang sesuai dengan peran tokoh binatang/peristiwa alam saat pementasan.Memakai properti (topeng atau perlengkapan peristiwa alam) namun sering terlepas atau canggung menggunakannya saat bergerak dalam adegan.Menggunakan properti (topeng karakter binatang atau perlengkapan peristiwa alam) dengan rapi, tepat, dan berfungsi mendukung perannya dalam adegan lakon.Menggunakan properti tokoh secara luwes, tepat posisi, dan menyatu sempurna dengan setiap gerak akting sepanjang pertunjukan.
Keutuhan Lakon Cerita (TP 4.1.5)Belum mampu memainkan peran dalam alur cerita, sering terdiam atau keluar dari area lakon sebelum adegan selesai.Memainkan peran dalam adegan lakon namun alur cerita kelompok masih sering terputus atau membutuhkan bantuan arahan jalan cerita.Memainkan lakon cerita binatang dan peristiwa alam secara utuh bersama kelompok dengan alur peristiwa yang tersambung jelas dari awal hingga akhir.Memainkan lakon cerita binatang dan peristiwa alam secara sangat padu, interaksi antartokoh hidup, dan adegan mengalir runtut hingga penyelesaian cerita.
Cerita Pengalaman Teater secara Lisan (TP 4.1.3)Belum dapat menceritakan pengalaman bermain teater, diam saat diberi pertanyaan pemantik guru.Menceritakan pengalaman bermain peran hanya dengan satu kata atau jawaban sangat singkat tanpa memuat perasaan atau keterkaitan dengan tokoh yang dimainkan.Menceritakan pengalaman bermain teater dengan lancar terpandu pertanyaan pemantik guru, memuat nama tokoh, perasaan saat bermain peran, dan pengalaman gerak/suara/properti yang dijalani.Menceritakan pengalaman bermain teater secara runtut, terbuka, jujur mengungkapkan perasaannya, serta mampu mengaitkan penghayatan tokoh dengan pengalaman pribadinya secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu pementasan lakon dan refleksi lisan untuk kelima kelompok berjalan efektif dan tepat waktu?
  • Bagaimana tingkat keterpaduan murid dalam menggabungkan teknik gerak tubuh, olah vokal, dan properti pada pementasan sumatif ini?
  • Apakah instrumen rubrik unjuk kerja dan lembar observasi refleksi lisan telah mengukur seluruh TP Bab 1 secara objektif?

Murid:

  • Bagian mana dari lakon kelompokmu yang paling kamu sukai saat tampil di panggung tadi?
  • Apa yang kamu rasakan setelah berhasil memainkan peran binatang atau peristiwa alam di depan guru dan teman-teman?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas IV (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2023.
  2. Kartu gambar atau kartu nama karakter binatang (Kelinci, Kucing, Burung Elang, Katak, Kera, Bebek).
  3. Ruang kelas/aula yang lapang dan aman untuk bergerak bebas.
  4. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas IV (Edisi Revisi)
  5. Ruang kelas/aula yang leluasa untuk aktivitas olah tubuh
  6. Peluit atau tambur/rebana sederhana untuk penanda ketukan tempo gerak peristiwa alam
  7. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas IV (Kemendikbudristek, 2021)
  8. Peluit atau bel pengatur tempo permainan tebak suara
  9. Ruang kelas yang leluasa untuk eksplorasi vokal
  10. Rekaman audio efek suara alam (hujan, angin, guntur, ombak)
  11. Kartu bergambar 4 simbol peristiwa alam (angin, hujan rintik, petir, ombak)
  12. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas IV (Kemendikbudristek).
  13. Koleksi properti topeng karakter binatang (Harimau, Kelinci, Elang, Kucing, Kera, Serigala) dari bahan karton/busa hati.
  14. Cermin kelas dan pemutar audio untuk lagu pengiring gerak pemanasan.
  15. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas IV (Kemendikbudristek, Edisi Revisi)
  16. Kain selendang (biru, abu-abu, cokelat), kertas rumbai, karton kardus bekas, lampu senter kecil
  17. Ruang kelas/panggung kelas terbuka
  18. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas IV (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
  19. Naskah lakon adegan singkat cerita 'Kancil, Semut, dan Badai Hutan'.
  20. Area ruang kelas yang ditata sebagai panggung pertunjukan sederhana.
  21. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas IV (Edisi Revisi), Bab 1
  22. Lembar Cerita Refleksi Terbimbing (berisi 4 butir pertanyaan panduan)
  23. Mikrofon mainan/tiruan untuk media bercerita
  24. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas IV (Edisi Revisi), Kemendikbudristek, 2023
  25. Topeng karakter binatang dan properti peristiwa alam buatan murid
  26. Ruang panggung kelas dan lembar rubrik asesmen sumatif seni teater

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.