MODUL AJAR Seni Teater — Kelas 3 (Fase B) Topik: Bab 4 — Pentas Mini INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | Seni Teater |
|---|
| Fase / Kelas | Fase B / Kelas 3 |
|---|
| Topik | Bab 4 — Pentas Mini |
|---|
| Alokasi Waktu | 29 JP (29 x 35 menit = 1015 menit) |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 10 |
|---|
| Tahun Ajaran | 2026/2027 |
|---|
| Semester | 2 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- TP 3.4.1 Menunjukkan teknik dasar akting melalui proses meniru gerak tubuh sesuai tokoh dalam cerita pentas mini
- TP 3.4.2 Menunjukkan teknik dasar akting melalui proses meniru suara atau vokal sesuai tokoh dalam cerita pentas mini
- TP 3.4.3 Menggunakan properti yang sesuai dengan tokoh yang diperankan dalam persiapan pentas mini
- TP 3.4.4 Memainkan sebuah lakon dalam cerita sederhana melalui pertunjukan pentas mini
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | ✓ | | Kewargaan | | | Penalaran Kritis | | | Kreativitas | ✓ | | Kolaborasi | ✓ | | Kemandirian | ✓ | | Kesehatan | | | Komunikasi | |
PERTANYAAN PEMANTIK- Bagaimana caramu menggerakkan tubuh agar orang lain langsung tahu kamu sedang menjadi kakek tua yang lelah?
- Apa bedanya langkah kaki seorang anak kecil yang riang dengan langkah kaki seorang petani yang memikul cangkul?
- Bagaimana bentuk tubuh dan langkah kaki saat menirukan hewan kura-kura yang berjalan lambat?
- Bagaimana gerakan tangan dan kepala saat menirukan naga yang sedang terbang meliuk-liuk?
- Bagaimana perbedaan bunyi suara anak kecil yang sedang merajuk dibandingkan suara kakek tua yang berbicara pelan?
- Bagaimana kita mengubah cara bersuara agar penonton tahu usia tokoh yang kita perankan tanpa melihat pakaian kita?
- Bagaimana perbedaan suara antara Kancil yang cerdik berbicara cepat dengan Kura-Kura yang tenang dan lambat?
- Bagaimana kita membunyikan efek suara kepakan sayap Burung Hantu atau auman Singa saat mengucapkan kalimat cerita?
- Mengapa seorang kakek tua dalam pertunjukan sering digambarkan memegang tongkat?
- Bagaimana sebuah benda sederhana seperti selendang atau keranjang bisa membuat penonton langsung tahu siapa tokoh yang sedang kita perankan?
- Bagaimana cara tokoh menggunakan tongkat sambil duduk di kursi panggung agar terlihat seperti kakek yang sedang beristirahat?
- Apa yang terjadi jika benda panggung dan properti pegangan tangan digunakan secara bersamaan oleh tokoh dalam cerita?
- Apa yang biasanya terjadi pada bagian paling awal sebuah pertunjukan cerita?
- Bagaimana caramu dan temanmu memainkan adegan pembuka agar penonton langsung tahu siapa tokoh yang muncul?
- Bagaimana kelanjutan peristiwa dalam cerita setelah tokoh menghadapi masalah?
- Bagaimana cara tokoh menyelesaikan masalah sehingga cerita sampai pada bagian akhir?
- Bagaimana cara kita menyatukan gerak tubuh, suara karakter, dan penggunaan properti secara bersamaan saat memainkan lakon dari awal hingga akhir?
- Mengapa dalam gladi bersih kita harus berlatih memainkan seluruh lakon cerita seolah-olah penonton sungguhan sudah hadir di depan panggung?
- Bagaimana kita menunjukkan gerak tubuh dan suara karakter tokoh secara meyakinkan saat tampil di pentas mini?
- Mengapa properti panggung harus disiapkan dan digunakan sesuai dengan kebutuhan peran tokoh dalam cerita?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1 — Meniru Gerak Tubuh Tokoh Manusia Berdasarkan Cerita Pentas Mini — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 3.4.1 Menunjukkan teknik dasar akting melalui proses meniru gerak tubuh sesuai tokoh dalam cerita pentas mini
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan memandu pemanasan peregangan otot tubuh (kepala, bahu, pinggang, kaki) selama 5 menit agar murid siap bergerak secara fisik (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini yaitu meniru gerak tubuh tokoh manusia berdasarkan cerita pentas mini (3 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui permainan tebak gerak: guru memperagakan langkah kaki lambat dengan punggung membungkuk, lalu bertanya peran apa yang sedang diperagakan (acuan jawaban benar: kakek/nenek/orang tua) untuk mengecek kepekaan gerak mimesis murid (2 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak penjelasan singkat guru mengenai 3 karakter tokoh manusia dalam cerita 'Pentas Mini di Desa Sukamaju': (1) Tokoh Kakek Harun: postur punggung membungkuk, langkah kaki lambat dan menyeret, tangan gemetar menopang pinggang; (2) Tokoh Anak Riang (Bobi): postur tegak melompat-lompat kecil, langkah kaki cepat dan lincah, ayunan tangan bersemangat; (3) Tokoh Petani (Pak Danu): postur agak condong ke depan, langkah kaki mantap dan berat, kedua tangan tampak menyangga beban di pundak (acuan eksplorasi gerak: 3 karakter tersebut) (10 menit).
- Murid mengamati peragaan guru untuk masing-masing postur dan gerak ketiga tokoh manusia tersebut, lalu mengidentifikasi bagian tubuh mana yang ditekuk, diluruskan, atau diayunkan pada setiap tokoh (5 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):- Murid secara serentak mengikuti tantangan menggembirakan 'Patung Tokoh Berjalan': guru memukul rebana/tepukan tangan beritme cepat untuk meniru langkah anak kecil riang, lalu ketukan lambat untuk langkah kakek, dan ketukan berbobot sedang untuk langkah petani; saat ketukan berhenti murid membeku membentuk pose tubuh tokoh tersebut (10 menit).
- Murid dibagi ke dalam kelompok latihan atau berpasangan untuk mempraktikkan meniru gerak tubuh 3 tokoh manusia tersebut secara bergantian di depan kelompoknya dengan mengacu pada 3 ciri gerak tubuh: postur tubuh (tegak/membungkuk/condong), tempo langkah kaki (cepat/lambat/berat), dan gerak tangan/lengan (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Setiap murid secara mandiri memperagakan satu gerak tubuh tokoh manusia pilihan dari cerita (Kakek Harun, Bobi si Anak Riang, atau Petani Pak Danu) di hadapan guru untuk dinilai ketepatan postur dan tempo langkahnya (acuan ciri gerak: Kakek Harun = bungkuk & lambat menyeret; Bobi = tegak meloncat & lincah cepat; Pak Danu = condong depan & langkah mantap berbobot) (10 menit).
- Murid duduk melingkar dan merefleksikan bagian tubuh mana yang paling menantang untuk dikendalikan saat meniru gerak tubuh tokoh kakek atau petani (2 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik langsung terhadap ketepatan gerak tubuh yang telah diperagakan seluruh murid serta mengapresiasi keberanian berekspresi (5 menit).
- Guru menginformasikan materi pertemuan berikutnya yaitu meniru gerak tubuh tokoh fabel dan makhluk fantasi, lalu menutup kelas dengan doa bersama (3 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan kartu panduan visual gambar ilustrasi postur 3 tokoh (kakek membungkuk, anak melompat, petani condong) bagi murid yang membutuhkan panduan visual.
- Proses: Bagi murid yang masih ragu, guru mendampingi secara langsung saat mengatur lekuk postur tubuh; bagi murid yang sudah terampil, diberikan tantangan mengubah transisi gerak dari anak riang langsung menjadi kakek tua secara bergantian.
- Produk: Murid bebas memilih 1 dari 3 tokoh manusia dalam cerita untuk demonstrasi gerak mandiri pada tahap refleksi akhir.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tebak Gerak Mimesis (Diagnostik): Guru memperagakan postur membungkuk dengan langkah lambat menyeret tangan di pinggang. Murid menebak peran manusia yang dimaksud. Acuan jawaban benar: kakek tua / nenek tua / orang lanjut usia.
Proses:- Observasi formatif saat permainan 'Patung Tokoh Berjalan': Guru mengamati keselarasan tempo langkah kaki murid dengan ritme ketukan untuk 3 peran (ketukan cepat lincah = anak riang; ketukan lambat menyeret = kakek tua; ketukan berbobot sedang = petani memikul).
Akhir Pertemuan:- Peragaan Mandiri 1 Tokoh Manusia Pilihan (Cek Pemahaman): Murid menunjukkan gerak tubuh 1 tokoh manusia pilihan dari cerita. Kriteria ketepatan: Tokoh Kakek Harun (postur bungkuk, langkah lambat menyeret), Tokoh Anak Riang Bobi (postur tegak, langkah lincah melompat kecil), atau Tokoh Petani Pak Danu (postur condong, langkah mantap berbobot).
Formatif:- Unjuk kerja meniru gerak tubuh tokoh manusia (Kakek Harun, Bobi si Anak Riang, Petani Pak Danu) melalui pengamatan rubrik proses saat latihan dan unjuk kerja mandiri.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Teknik dasar meniru gerak tubuh tokoh manusia | Belum mampu menunjukkan postur tubuh maupun tempo gerak langkah kaki yang sesuai dengan ciri tokoh manusia yang dipilih dari 3 acuan tokoh cerita. | Mampu menunjukkan postur tubuh yang sesuai (misal bungkuk/tegak/condong), tetapi tempo langkah kaki dan gerak tangan belum selaras dengan ciri tokoh yang dipilih. | Mampu menunjukkan postur tubuh, tempo langkah kaki, dan gerak tangan sesuai dengan ciri 1 tokoh manusia yang dipilih (Kakek Harun / Bobi / Pak Danu) secara tepat dengan sedikit bimbingan. | Mampu menunjukkan postur tubuh, tempo langkah kaki, dan gerak tangan secara konsisten, tepat, dan mandiri tanpa keraguan sesuai ciri tokoh manusia yang diperagakan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah seluruh murid aktif dan leluasa mengeksplorasi gerak tubuh tokoh manusia tanpa merasa malu atau kaku?
- Apakah variasi ritme ketukan dalam permainan patung tokoh efektif membantu murid memahami perbedaan tempo langkah tokoh?
Murid:- Gerakan tokoh manusia mana yang paling seru dan mudah kamu tirukan hari ini?
- Bagian tubuh mana (kaki, punggung, atau tangan) yang paling terasa lelah saat kamu menirukan tokoh kakek atau petani?
Pertemuan 2 — Meniru Gerak Tubuh Tokoh Fabel dan Makhluk Fantasi untuk Pentas Mini — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 3.4.1 Menunjukkan teknik dasar akting melalui proses meniru gerak tubuh sesuai tokoh dalam cerita pentas mini
Pendahuluan:- Guru menyapa murid, mengondisikan ruang kelas agar leluasa bergerak, serta mengajak berdoa bersama (5 menit).
- Guru melakukan pemanasan olah tubuh ringan (peregangan leher, bahu, pinggang, pergelangan tangan, dan lutut) untuk mempersiapkan kelenturan fisik murid (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan memperagakan satu gestur dan meminta murid menunjukkan gerak tubuh dasar hewan kelinci yang melompat (acuan: posisi kedua tangan menekuk di depan dada menyerupai cakar, lutut sedikit ditekuk lalu melompat kecil bertumpu pada kedua kaki) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru memperkenalkan 4 kartu tokoh fabel dan makhluk fantasi beserta ciri gerak khasnya di papan tulis: (1) Tokoh Kelinci Lincah (gerak: telapak tangan ditekuk di dada, melompat-lompat pendek dengan kaki mengeper); (2) Tokoh Kura-kura Bijak (gerak: membungkukkan punggung, melangkah sangat lambat bertumpu mantap, leher menjulur ke depan pelan-pelan); (3) Tokoh Burung Hantu Penjaga (gerak: kedua lengan mengepak tenang perlahan, kepala menoleh patah-patah ke kanan dan kiri); (4) Tokoh Naga Perkasa (gerak: tangan merentang meliuk di udara seperti sayap besar, langkah kaki lebar dan tegap) (10 menit).
- Guru mendemonstrasikan setiap gerak tubuh dari keempat tokoh tersebut dan mengajak seluruh murid menirukan secara bersama-sama di tempat masing-masing untuk memahami koordinasi anggota tubuh yang digunakan (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan):- Guru mengadakan permainan gerak teater menggembirakan 'Patung Hutan Fantasi': ketika guru memukul rebana/tepukan tangan, murid berjalan bebas; saat guru menyebut salah satu nama tokoh dari 4 kartu tokoh target ('Kelinci Lincah', 'Kura-kura Bijak', 'Burung Hantu Penjaga', atau 'Naga Perkasa'), murid seketika menunjukkan pose membeku (freeze pose) dengan bentuk tubuh yang sesuai ciri gerak tokoh tersebut (3 menit).
- Secara berpasangan, murid bergantian mengambil satu kartu tokoh secara acak dari 4 kartu tokoh target dan menunjukkan gerak tubuh tokoh tersebut saat berjalan melintasi panggung kelas sepanjang 3 meter (12 menit).
- Setiap murid secara mandiri maju ke area panggung kelas untuk menunjukkan gerak tubuh dari 2 tokoh fabel/fantasi yang dipilih dari 4 kartu acuan (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Guru memfasilitasi murid untuk memeriksa kesadaran tubuhnya melalui tanya jawab reflektif: bagian tubuh mana yang paling mudah digerakkan saat menirukan tokoh fantasi dan tokoh mana yang paling menantang (15 menit).
- Murid membandingkan perbedaan tingkat kelambatan dan kelincahan gerak tubuh antara tokoh kura-kura dan tokoh kelinci berdasarkan latihan yang telah dilakukan (15 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik langsung terhadap peragaan gerak tubuh murid sesuai indikator ketepatan gerak anggota tubuh (5 menit).
- Guru bersama murid melakukan pendinginan fisik, merapikan ruang kelas, dan menutup pertemuan dengan doa (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan kartu tokoh bergambar siluet gerak tubuh (Kelinci Lincah, Kura-kura Bijak, Burung Hantu Penjaga, Naga Perkasa) sebagai alat bantu visual bagi murid yang membutuhkan panduan konkret.
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan berlatih menirukan gerak bersama guru dengan satu tokoh terlebih dahulu, sedangkan murid yang sudah mahir diberi tantangan menunjukkan peralihan gerak tubuh secara berurutan antara 3 hingga 4 tokoh secara mandiri tanpa jeda.
- Produk: Murid menunjukkan peragaan gerak tubuh tokoh minimal 1 tokoh secara terbimbing (kelompok perlu bimbingan) atau 2 tokoh secara mandiri dan luwes (kelompok mahir).
Asesmen Pertemuan:Awal:- Peragaan diagnostik singkat di awal pelajaran: murid diminta menunjukkan 1 gerak tubuh dasar hewan kelinci melompat (acuan: kedua tangan ditekuk di depan dada dan melompat bertumpu kedua kaki mengeper) untuk memetakan kesiapan motorik awal.
Proses:- Observasi ketercapaian saat permainan 'Patung Hutan Fantasi' dan unjuk kerja berpasangan/mandiri menirukan 4 gerak tubuh tokoh acuan: (1) Kelinci Lincah, (2) Kura-kura Bijak, (3) Burung Hantu Penjaga, (4) Naga Perkasa.
Akhir Pertemuan:- Cek unjuk kerja akhir di panggung kelas: murid menunjukkan gerak tubuh 2 tokoh dari 4 pilihan acuan (Kelinci Lincah, Kura-kura Bijak, Burung Hantu Penjaga, Naga Perkasa). Kriteria penerimaan: menunjukkan minimal 2 ciri gerak tubuh anggota badan (tangan/kaki/postur punggung) yang tepat sesuai acuan masing-masing tokoh.
Formatif:- Pengamatan unjuk kerja peragaan meniru gerak tubuh tokoh fabel dan makhluk fantasi menggunakan lembar observasi ketepatan gerak.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menunjukkan teknik dasar akting melalui proses meniru gerak tubuh tokoh fabel dan fantasi | Belum mampu menunjukkan gerak tubuh sesuai ciri tokoh dari 4 pilihan acuan (Kelinci Lincah, Kura-kura Bijak, Burung Hantu Penjaga, Naga Perkasa), gerak anggota tubuh masih kaku dan memerlukan bimbingan penuh guru. | Mampu menunjukkan gerak tubuh sesuai ciri pada 1 tokoh dari 4 pilihan acuan dengan gerakan anggota tubuh yang masih terbatas atau sesekali ragu. | Mampu menunjukkan gerak tubuh sesuai ciri pada minimal 2 tokoh dari 4 pilihan acuan secara konsisten, menggerakkan tangan, kaki, dan postur badan dengan tepat secara mandiri. | Mampu menunjukkan gerak tubuh sesuai ciri pada seluruh 4 tokoh pilihan acuan secara luwes, tepat pada seluruh anggota badan (kaki, tangan, leher/punggung), dan mandiri tanpa ragu. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu olah tubuh dan eksplorasi gerak fantasi cukup untuk memfasilitasi seluruh murid mencoba di panggung?
- Bagaimana variasi gerak tubuh yang ditunjukkan murid saat menirukan makhluk fabel dan fantasi?
Murid:- Tokoh fabel atau fantasi mana yang gerakannya paling kamu sukai saat diperagakan tadi?
- Bagian tubuh mana yang paling terasa bergerak saat menirukan tokoh naga atau kura-kura?
Pertemuan 3 — Meniru Suara dan Vokal Karakter Tokoh Berusia Beda dalam Cerita Pentas Mini — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 3.4.2 Menunjukkan teknik dasar akting melalui proses meniru suara atau vokal sesuai tokoh dalam cerita pentas mini
Pendahuluan:- Guru membuka kelas, menyapa murid, mengajak berdoa bersama, dan mengecek kehadiran murid (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat dengan memperdengarkan 3 contoh tiruan suara kalimat sederhana 'Ayo lekas pulang' dan meminta murid menunjuk kartu usia tokoh yang sesuai (acuan diagnostik: suara 1 melengking/cempreng tinggi = anak kecil; suara 2 mantap/sedang = orang dewasa; suara 3 serak/berat/bergetar lambat = kakek/nenek tua) (10 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menunjukkan teknik meniru suara atau vokal 3 tingkatan usia tokoh manusia (anak kecil, orang dewasa, dan kakek/nenek tua) dalam lakon pentas mini (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Murid menyimak penjelasan dan demonstrasi guru mengenai eksplorasi vokal dasar untuk 3 karakter usia: (1) Tokoh Anak Kecil: nada tinggi, tempo cepat, suara ringan/cempreng; (2) Tokoh Orang Dewasa: nada sedang/wajar, tempo teratur, suara tegas dan bulat; (3) Tokoh Lansia (Kakek/Nenek): nada rendah, tempo lambat, suara berat/serak dan bergetar (15 menit).
- Murid bersama-sama mencoba menirukan 1 kalimat latihan pendek 'Hari ini cuaca cerah sekali' secara berkesadaran dengan ketiga variasi vokal usia tersebut secara bergantian dipandu guru (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid memainkan permainan menggembirakan 'Kotak Suara Misteri': seorang murid mengambil kartu usia tokoh lalu mengucapkan kalimat tantangan 'Tolong ambilkan payung itu' dengan suara usia tersebut, dan teman sebangku menebak usianya (15 menit).
- Murid secara mandiri berlatih meniru suara vokal tokoh untuk 3 teks dialog cerita pentas mini berikut: Dialog 1 (Anak kecil): 'Ibu, lihat layang-layangku terbang tinggi!'; Dialog 2 (Orang dewasa): 'Hati-hati bermain di lapangan nak, jangan sampai jatuh'; Dialog 3 (Kakek/nenek): 'Duhai cucuku, dulu kakek juga pandai membuat layang-layang' (15 menit).
- Setiap murid unjuk kerja di hadapan guru atau kelompok kecil dengan memperdengarkan tiruan vokal ketiga dialog usia tersebut sesuai kriteria peniruan vokal (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid menyadari bagian organ bicara mana yang terasa bekerja (tenggorokan, rongga hidung, dada) saat meniru suara tinggi anak kecil dibandingkan suara rendah kakek/nenek (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan kembali ciri khas tiruan suara anak kecil (tinggi/cepat), dewasa (sedang/tegas), dan kakek/nenek (berat/lambat) (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik langsung terhadap performa vokal murid, mengapresiasi keberanian mencoba, dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam penutup (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan teks dialog dengan cetak tebal dan panduan visual tinggi/rendahnya nada bagi murid yang membutuhkan panduan.
- Proses: Murid yang sudah mahir menirukan variasi vokal diberikan kalimat dialog yang lebih panjang dan berlatih transisi pergantian suara antar-tokoh secara beruntun; murid yang masih ragu diberi bimbingan langsung dengan pengulangan bersuara bersama guru.
- Produk: Murid menunjukkan peniruan vokal secara langsung di depan guru perorangan atau berpasangan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik identifikasi karakter suara: Guru memperdengarkan 3 rekaman/tiruan vokal kalimat 'Ayo lekas pulang' dengan 3 nada berbeda, lalu murid mengidentifikasi usianya. Acuan jawaban benar: (1) nada tinggi/melengking = suara anak kecil; (2) nada sedang/bulat = suara orang dewasa; (3) nada rendah/lambat/serak = suara lansia (kakek/nenek).
Proses:- Penilaian unjuk kerja meniru suara tokoh berusia beda pada 3 dialog uji: Dialog 1 (Anak kecil: 'Ibu, lihat layang-layangku terbang tinggi!'), Dialog 2 (Orang dewasa: 'Hati-hati bermain di lapangan nak, jangan sampai jatuh'), dan Dialog 3 (Kakek/nenek: 'Duhai cucuku, dulu kakek juga pandai membuat layang-layang'). Acuan ketepatan: Dialog 1 ditirukan dengan nada tinggi dan tempo lincah; Dialog 2 ditirukan dengan nada wajar/sedang dan tegas; Dialog 3 ditirukan dengan nada rendah, tempo lambat, atau bergetar/serak.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman vokal: Murid diminta memperdengarkan kembali 1 kalimat tiruan vokal secara spontan berdasarkan 1 kartu peran usia yang ditunjuk guru (anak kecil, dewasa, atau kakek/nenek) sesuai ciri vokal yang benar.
Formatif:- Pengamatan unjuk kerja teknik meniru suara/vokal tokoh berusia beda menggunakan lembar observasi performa vokal.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menunjukkan teknik dasar akting melalui proses meniru suara atau vokal sesuai tokoh berusia beda | Belum mampu meniru perbedaan vokal tokoh; ketiga dialog (anak kecil, dewasa, kakek/nenek) diucapkan dengan suara asli murid sehari-hari tanpa perubahan nada atau tempo. | Meniru suara vokal dengan tepat pada 1 dari 3 dialog usia tokoh sesuai acuan (anak kecil: tinggi; dewasa: sedang; kakek/nenek: rendah/lambat), masih membutuhkan bimbingan guru pada dialog lainnya. | Meniru suara vokal dengan tepat pada 2 dari 3 dialog usia tokoh sesuai acuan secara mandiri. | Meniru suara vokal dengan tepat pada seluruh (3 dari 3) dialog usia tokoh (anak kecil, dewasa, kakek/nenek) secara konsisten dan mandiri sesuai ciri khas vokal masing-masing karakter. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah murid dapat membedakan penggunaan resonansi vokal nada tinggi dan nada rendah saat meniru karakter tokoh berbeda usia?
- Bagian latihan suara mana yang paling disukai dan paling menantang bagi murid kelas 3?
Murid:- Suara tokoh usia mana yang paling mudah kamu tirukan: anak kecil, orang dewasa, atau kakek/nenek?
- Apa yang kamu rasakan pada tenggorokan atau perutmu saat mengeluarkan suara kakek/nenek?
Pertemuan 4 — Meniru Dialog dan Efek Suara Tokoh Fabel Sesuai Cerita Pentas Mini — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 3.4.2 Menunjukkan teknik dasar akting melalui proses meniru suara atau vokal sesuai tokoh dalam cerita pentas mini
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, serta mengondisikan ruang latihan teater (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal berupa tes diagnostik meniru suara vokal fabel secara klasikal: murid diminta menirukan 3 pola suara/vokal karakter fabel berikut: (1) Suara Kancil yang lincah dan berfrekuensi tinggi ceria, (2) Suara Beruang yang berat dan besar, (3) Suara Lebah mendengung 'bzzz' (acuan kesiapan: murid mampu membedakan register suara tinggi-cepat, rendah-berat, dan desis vokal tanpa ragu) (10 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menunjukkan teknik dasar akting melalui proses meniru dialog dan efek suara vokal tokoh fabel dalam persiapan lakon cerita pentas mini (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru memperdengarkan rekaman/contoh vokal 3 dialog tokoh fabel beserta efek bunyi organ vokal manusia: (1) Dialog Kancil Cerdik: 'Tenang kawan, aku punya akal cerdik!' (karakter vokal: tempo cepat, nada tinggi nyaring), (2) Dialog Kura-Kura Bijak: 'Pelan-pelan saja kawan, asal kita selamat' (karakter vokal: tempo lambat, nada rendah santai), (3) Efek suara vokal pendukung fabel: kepakan sayap burung pipit 'frup-frup-frup' dan desis ular 'ssss-ssss' (10 menit).
- Murid menyimak dan menganalisis warna suara (timbre), tempo bicara, dan tinggi-rendah nada yang membentuk karakter vokal tokoh fabel tersebut melalui tanya jawab terbimbing (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid memainkan permainan pemanasan vokal menggembirakan 'Tirukan Suaraku!', di mana guru membunyikan petunjuk kartu suara fabel dan murid secara serempak merespons dengan warna vokal serta efek bunyi yang tepat (3 menit).
- Murid dibagi ke dalam kelompok kerja latihan (masing-masing 3-4 murid), lalu setiap murid memilih satu kartu dialog fabel dari 4 naskah cuplikan fabel pentas mini: (1) Kartu A (Singa Mengaum): 'Siapa yang berani masuk ke sarangku! Graaar!', (2) Kartu B (Kelinci Ceria): 'Ayo lompat lebih cepat ke seberang sungai! Hop-hop!', (3) Kartu C (Katak Kolam): 'Hujan datang, mari kita bersiap! Krok-krok!', (4) Kartu D (Burung Hantu): 'Malam ini gelap gulita, tetap waspada! Hu-huuu!' (12 menit).
- Setiap murid berlatih menunjukkan teknik vokal meniru dialog dan efek suara tokoh fabel yang dipilihnya secara berulang, saling mendengarkan dan menguji kesesuaian vokal dengan karakter tokoh di dalam kelompoknya (15 menit).
- Setiap murid unjuk kerja di depan kelompok/kelas secara bergantian menunjukkan kemampuan meniru dialog beserta efek suara tokoh fabel sesuai kartu pilihan masing-masing (guru menilai menggunakan lembar observasi proses) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid duduk melingkar dan merefleksikan pengalaman meniru vokal tokoh fabel: apa yang dirasakan saat pita suara dan bibir membentuk suara tinggi beruang versus kancil (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan dan apresiasi atas eksplorasi vokal dan efek suara yang telah ditunjukkan seluruh murid (5 menit).
- Guru menyampaikan tindak lanjut untuk membawa benda-benda sederhana dari rumah pada pertemuan berikutnya guna eksplorasi properti tokoh, lalu menutup sesi dengan doa dan salam (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan kartu dialog fabel dengan kalimat pendek 1 frasa untuk murid yang membutuhkan bimbingan vokal dasar, dan kartu dialog 2 kalimat lengkap dengan variasi dinamika efek suara untuk murid yang telah mahir.
- Proses: Memberikan pendampingan pelafalan dan pemodelan penempatan register suara (dada vs kepala) bagi murid yang ragu mengeksplorasi vokal fabel.
- Produk: Murid bebas mengeksplorasi jenis efek vokal pelengkap (tiruan langkah kaki, desir angin, atau kepakan sayap) yang menyertai dialog karakter fabel yang dipilih.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab peragaan vokal singkat: Guru meminta murid menirukan 3 tipe vokal hewan/fabel: (1) Kancil (suara tinggi, tempo lincah), (2) Beruang (suara rendah, tempo lambat-berat), (3) Lebah (efek desis vokal mendengung 'bzzz'). Acuan kesiapan: Murid mampu membedakan karakter nada tinggi vs rendah dan menirukan minimal 2 dari 3 suara secara tepat.
Proses:- Pengamatan unjuk kerja pemeranan vokal: Menilai kemampuan murid saat membacakan salah satu dari 4 kartu dialog fabel: Kartu A Singa ('Siapa yang berani masuk ke sarangku! Graaar!'), Kartu B Kelinci ('Ayo lompat lebih cepat ke seberang sungai! Hop-hop!'), Kartu C Katak ('Hujan datang, mari kita bersiap! Krok-krok!'), Kartu D Burung Hantu ('Malam ini gelap gulita, tetap waspada! Hu-huuu!'). Acuan ketepatan: Peniruan warna vokal (timbre/tinggi-rendah/tempo) selaras dengan karakter hewan dan kejelasan efek suara vokal yang diucapkan.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan penutup: Guru menguji 2 murid secara acak memperagakan kembali perbedaan vokal antara tokoh pemangsa (Singa: vokal berat berwibawa) dan tokoh cerdik kecil (Kelinci/Kancil: vokal ringan bersemangat) berdasarkan kartu dialog yang dipelajari (acuan: perbedaan karakter vokal terdengar kontras dan artikulatif).
Formatif:- Unjuk kerja demonstrasi meniru dialog dan efek suara tokoh fabel
- Lembar observasi teknik vokal fabel
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Meniru Dialog Tokoh Fabel | Belum mampu mengubah warna vokal sesuai karakter tokoh fabel; dialog diucapkan dengan suara bicara biasa sehari-hari. | Mampu meniru dialog tokoh fabel dengan perubahan warna vokal (tinggi/rendah atau cepat/lambat) namun masih belum konsisten dan membutuhkan contoh langsung dari guru. | Mampu meniru dialog tokoh fabel dengan warna vokal, intonasi karakter, dan tempo yang selaras dengan watak tokoh secara mandiri. | Mampu meniru dialog tokoh fabel dengan variasi warna vokal yang sangat jelas, ekspresif, mantap, dan sepenuhnya menjiwai karakter tokoh fabel tanpa bantuan. | | Meniru Efek Suara Tokoh Fabel | Belum mampu memproduksi efek suara tiruan fabel menggunakan organ vokal. | Mampu memproduksi efek suara tiruan fabel (seperti auman, bunyi lompatan, atau desis) dengan vokal tetapi bunyi masih sangat samar atau ragu-ragu. | Mampu memproduksi efek suara vokal pendukung tokoh fabel secara jelas, terdengar tepat mengiringi pengucapan dialog. | Mampu memproduksi variasi efek suara vokal tokoh fabel secara kaya, jernih, tegas, dan menyatu alami dengan ritme dialog akting. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah aktivitas permainan vokal 'Tirukan Suaraku!' berhasil memancing keberanian seluruh murid untuk mengeksplorasi ragam suara fabel tanpa rasa malu?
- Bagian dialog atau efek suara fabel manakah yang paling menantang bagi murid kelas 3 untuk ditirukan?
Murid:- Suara tokoh hewan fabel mana yang paling menyenangkan untuk kamu tirukan hari ini?
- Bagaimana perasaanmu ketika mencoba membuat suara berat seperti Singa atau suara melengking seperti Burung?
Pertemuan 5 — Menggunakan Properti Sederhana Sesuai Karakter Tokoh dalam Persiapan Pentas Mini — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 3.4.3 Menggunakan properti yang sesuai dengan tokoh yang diperankan dalam persiapan pentas mini
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, mengajak berdoa bersama, dan mengecek kehadiran murid (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu memilih dan menggunakan properti sederhana yang sesuai dengan karakter tokoh dalam persiapan pentas mini (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik: murid diberikan pertanyaan cepat untuk memilih pasangan 3 tokoh dengan properti yang tepat dari daftar yang disediakan guru: Tokoh Kakek Petani, Dokter Hewan, dan Putri Raja; pilihan properti: cangkul mini/topi caping, stetoskop mainan, mahkota kertas (acuan: Petani = cangkul mini/topi caping; Dokter = stetoskop mainan; Putri = mahkota kertas) (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Berkesadaran):- Guru memperkenalkan konsep properti pegangan (hand prop) dalam teater melalui peragaan 3 benda nyata: tongkat kayu untuk tokoh Kakek Bijak, keranjang buah untuk tokoh Gadis Desa, dan buku tebal untuk tokoh Guru Tua (10 menit).
- Murid menyimak dan menganalisis 4 kartu skenario peran dan properti yang dibacakan guru: (1) Tokoh Petani memegang cangkul mini, (2) Tokoh Tabib/Dokter memegang tas obat, (3) Tokoh Nelayan memegang jaring/dayung, (4) Tokoh Pelancong memegang tongkat jalan (acuan tepat: kesesuaian fungsi benda terhadap ciri fisik dan pekerjaan tokoh) (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru menggelar permainan menggembirakan 'Peti Properti Ajaib', di mana murid mengambil secara acak 1 kartu peran dari 4 pilihan peran pentas mini: (A) Kakek Pembawa Kayu, (B) Gadis Penjual Bunga, (C) Pemburu Hutan, (D) Tukang Pos Cilik, lalu memilih 1 properti sederhana yang tepat di atas meja properti kelas (pilihan di meja: ranting kayu/tali pengikat, keranjang bunga kertas, busur panah mainan dari kardus, tas selempang amplop; acuan kesesuaian: Peran A = ranting/tali, Peran B = keranjang bunga, Peran C = busur kardus, Peran D = tas selempang amplop) (15 menit).
- Murid mempraktikkan penggunaan properti yang dipilihnya sesuai peran tokoh masing-masing: memegang dan menggerakkan properti secara wajar dan aman (misalnya: Peran A mengikat/memanggul ranting; Peran B menjinjing keranjang bunga; Peran C menyandang busur kardus; Peran D mengalungkan dan membuka tas amplop) (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid meletakkan kembali properti pada tempatnya secara tertib dan memeriksa kecocokan cara memegang properti yang sudah dipraktikkan dengan membandingkan fungsi properti terhadap tokohnya (10 menit).
- Guru memberikan penguatan terhadap kesesuaian pemilihan dan cara penggunaan properti yang telah dilakukan murid (5 menit).
Penutup:- Guru dan murid menyimpulkan pentingnya memilih dan menggunakan properti yang tepat agar karakter tokoh terlihat jelas oleh penonton (5 menit).
- Guru menutup pertemuan dengan memberikan apresiasi atas latihan penggunaan properti hari ini dan mengajak murid berdoa bersama sebelum mengakhiri pelajaran (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan beragam benda properti sederhana dari bahan kardus, kain, dan kertas yang bertekstur serta bertanda visual jelas agar mudah dikenali murid.
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan langsung memilih 1 dari 2 properti yang sangat kontras, sedangkan murid yang sudah mahir diberi tantangan mencoba 2 properti berbeda secara bergantian untuk peran yang sama.
- Produk: Unjuk kerja penggunaan properti dinilai dari ketepatan memilih properti yang selaras dengan karakter tokoh dan ketepatan cara memegang/memanipulasi properti tersebut.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik menjodohkan peran tokoh dan properti: 3 tokoh disajikan (Tokoh Kakek Petani, Dokter Hewan, Putri Raja). Murid memilih properti yang sesuai dari 3 pilihan: cangkul mini/topi caping, stetoskop mainan, mahkota kertas. (Acuan: Petani = cangkul mini/topi caping; Dokter = stetoskop mainan; Putri = mahkota kertas).
Proses:- Pengamatan formatif saat murid mempraktikkan penggunaan properti pada permainan 'Peti Properti Ajaib' berdasarkan 4 peran: (A) Kakek Pembawa Kayu -> ranting/tali, (B) Gadis Penjual Bunga -> keranjang bunga, (C) Pemburu Hutan -> busur kardus, (D) Tukang Pos Cilik -> tas selempang amplop. Kriteria pengamatan: (1) ketepatan memilih properti sesuai tokoh, (2) ketepatan cara menggunakan/memegang properti secara aman dan wajar.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman akhir sesi: Murid menyebutkan 1 alasan logis mengapa properti yang dipilihnya (misalnya keranjang bunga untuk Gadis Penjual Bunga atau tas selempang untuk Tukang Pos Cilik) cocok untuk tokoh tersebut. Kriteria penerimaan operasional: jawaban menyebutkan keterkaitan fungsi benda dengan kegiatan/pekerjaan tokoh dalam cerita.
Formatif:- Observasi unjuk kerja praktik pemilihan dan penggunaan properti sederhana sesuai tokoh yang diperankan menggunakan lembar ceklis
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Penggunaan properti sesuai tokoh yang diperankan | Belum mampu memilih dan menggunakan properti sederhana yang sesuai dengan tokoh yang diperankan meski dibimbing guru. | Mampu memilih properti yang sesuai dengan tokoh yang diperankan tetapi masih keliru atau canggung dalam cara memegang/menggunakannya. | Mampu memilih dan menggunakan properti sederhana yang sesuai dengan tokoh yang diperankan dengan cara memegang yang wajar dan tepat secara mandiri. | Mampu memilih dan menggunakan seluruh properti sederhana yang sesuai dengan tokoh yang diperankan secara konsisten, aman, dan luwes dalam berbagai variasi gerak tokoh. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah properti sederhana yang disiapkan di kelas sudah memadai dan aman untuk digunakan oleh seluruh murid kelas 3?
- Apakah murid sudah memahami hubungan antara benda properti dengan ciri tokoh yang diperankan?
Murid:- Apakah aku merasa terbantu memerankan tokoh ketika memegang properti yang sesuai?
- Bagian mana yang paling menyenangkan saat mencoba memakai properti tadi?
Pertemuan 6 — Menggunakan Gabungan Properti Tokoh dan Benda Panggung dalam Persiapan Pentas Mini — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 3.4.3 Menggunakan properti yang sesuai dengan tokoh yang diperankan dalam persiapan pentas mini
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, doa bersama, dan memeriksa kehadiran murid (5 menit).
- Guru menjelaskan fokus latihan hari ini, yaitu memadukan properti pegangan tangan tokoh (hand prop) dengan benda panggung (stage prop) dalam adegan pentas mini (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat dengan menunjukkan 2 kartu situasi pementasan untuk menguji kesiapan murid memadukan properti tokoh dan benda panggung: (1) Situasi A: Tokoh Petani memegang cangkul dan ada balok kayu panggung (acuan respon tepat: cangkul disandarkan/diletakkan di dekat balok saat duduk atau cangkul diayunkan di samping balok); (2) Situasi B: Tokoh Dokter memegang stetoskop mainan dan ada meja panggung (acuan respon tepat: meletakkan stetoskop/memeriksa pasien di dekat meja panggung) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru mendemonstrasikan perbedaan properti tokoh (benda yang dibawa/dipegang tokoh: keranjang buah, payung kertas, tongkat jalan) dan benda panggung (properti latar/set panggung: kursi kayu kecil, meja kardus, balok tiruan batu) di area pentas kelas (10 menit).
- Murid dalam kelompok lakon mencermati dan mendiskusikan daftar 3 pasangan gabungan properti tokoh dan benda panggung yang telah disiapkan: (1) Tokoh Nenek: membawa tongkat jalan dan berinteraksi dengan kursi kayu panggung; (2) Tokoh Penjual Buah: membawa keranjang buah dan berinteraksi dengan meja kardus lapak dagangan; (3) Tokoh Kancil: membawa selendang dedaunan dan berinteraksi dengan balok tiruan pohon (acuan: ketepatan mengenali fungsi kedua benda agar saling melengkapi peran tokoh) (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Permainan Tantangan Tangkas Properti: Setiap kelompok diberi tantangan 3 menit bergantian untuk memadukan 1 properti tokoh dan 1 benda panggung sesuai instruksi cepat guru (misal: 'Pekebun menyiram tanaman di samping pot panggung!', 'Pangeran meletakkan pedang kardus di atas takhta balok!'). Aktivitas dilakukan secara dinamis dan menggembirakan (15 menit).
- Secara berkelompok (4-5 murid), murid berlatih memainkan adegan singkat berdurasi 2 menit dengan menggunakan gabungan properti tokoh masing-masing dan 1 benda panggung utama kelompok (kursi kayu, meja kardus, atau balok tiruan) sesuai karakter lakon yang dipersiapkan (15 menit).
- Setiap kelompok menampilkan latihan adegan dengan fokus utama pada ketepatan dan kelancaran cara memegang, menggerakkan, serta meletakkan/mengaitkan properti tokoh pada benda panggung selama adegan berlangsung (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama kelompoknya memeriksa kembali apakah properti tokoh yang digunakan terasa nyaman dan serasi saat dipadukan dengan posisi benda panggung (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik langsung mengenai kerapian penempatan properti tokoh sebelum, saat digunakan bersama benda panggung, dan setelah adegan selesai (5 menit).
Penutup:- Murid merapikan dan mengembalikan seluruh properti tokoh serta benda panggung ke sudut penyimpanan kelas secara tertib (5 menit).
- Guru memberikan penguatan terhadap pencapaian penggunaan gabungan properti hari ini dan mengumumkan bahwa pertemuan berikutnya akan mulai memasuki latihan adegan awal naskah lakon (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Kelompok yang membutuhkan bimbingan menggunakan 1 pasang benda yang sangat sederhana (misal: memegang buku cerita dan duduk di kursi panggung), sedangkan kelompok yang cepat memadukan 2 properti tokoh sekaligus dengan 1 benda panggung (misal: membawa tongkat dan keranjang sambil memanfaatkan meja panggung).
- Proses: Guru memberikan panduan fisik bertahap (scaffolding langkah demi langkah meletakkan benda) kepada murid yang kesulitan koordinasi memegang dan menaruh properti.
- Produk: Penggunaan gabungan properti ditunjukkan melalui demonstrasi peragaan langsung saat latihan adegan pentas mini di kelas.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik peragaan cepat: Murid merespons 2 kartu situasi penggunaan properti tokoh dan benda panggung: (1) Situasi A: Tokoh Petani memegang cangkul kardus dan menghadapi balok panggung tiruan batu (acuan tepat: memegang cangkul dengan dua tangan dan menjejakkan cangkul di samping balok); (2) Situasi B: Tokoh Tabib memegang botol ramuan dan menghadapi meja periksa panggung (acuan tepat: meletakkan botol di atas meja atau mengambil botol dari meja sesuai peran tokoh).
Proses:- Pengamatan unjuk kerja selama latihan kelompok: Memeriksa ketepatan murid menggunakan properti tokoh (hand prop) secara terkoordinasi bersama benda panggung (stage prop) sesuai 3 indikator: (1) Memegang/mengoperasikan properti tokoh sesuai perannya, (2) Berinteraksi dengan benda panggung secara aman dan wajar (misal: duduk di kursi, meletakkan benda di meja, menyandarkan alat di balok), (3) Tidak menjatuhkan atau canggung memindahkan properti saat berpindah posisi di panggung.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman praktis akhir pertemuan: Murid memperagakan secara mandiri 1 gerakan menggunakan properti tokoh miliknya bersama 1 benda panggung kelas (acuan tepat: murid menunjukkan interaksi terpadu antara properti pegangan dan benda panggung tanpa melepaskan karakter tokoh yang diperankan, misal: meletakkan tongkat saat duduk di kursi tanpa menjatuhkannya).
Formatif:- Observasi unjuk kerja penggunaan gabungan properti tokoh dan benda panggung dengan lembar ceklis kriteria.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Penggunaan Gabungan Properti Tokoh dan Benda Panggung | Belum mampu memadukan properti tokoh dan benda panggung; properti pegangan sering terjatuh atau tidak berinteraksi sama sekali dengan benda panggung yang tersedia. | Mampu memegang properti tokoh atau mendekati benda panggung, namun koordinasi penggunaannya masih kaku dan membutuhkan arahan langsung dari guru. | Mampu menggunakan properti tokoh secara selaras bersama benda panggung (memegang, memanfaatkan, atau meletakkannya dengan wajar) sesuai karakter lakon yang diperankan. | Mampu menggunakan gabungan properti tokoh dan benda panggung secara sangat luwes, runtut, aman, dan konsisten mendukung perannya sepanjang latihan adegan tanpa ragu-ragu. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 105 menit mencukupi bagi seluruh kelompok untuk mencoba memadukan properti tokoh dengan benda panggung?
- Bagian mana dari interaksi properti tokoh dan benda panggung yang paling sering membuat murid bingung saat bergerak di panggung?
Murid:- Apakah kamu merasa terbantu saat menggunakan benda panggung bersamaan dengan properti peganganmu?
- Kesulitan apa yang kamu alami saat harus memegang properti sambil duduk atau berdiri di dekat benda panggung?
Pertemuan 7 — Memainkan Adegan Awal Lakon Cerita Sederhana Melalui Latihan Pentas Mini — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 3.4.4 Memainkan sebuah lakon dalam cerita sederhana melalui pertunjukan pentas mini
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, mengajak murid berdoa bersama, dan mengecek kehadiran murid (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan hari ini, yaitu memainkan adegan awal lakon cerita sederhana dalam kelompok latihan pentas mini (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui pertanyaan lisan terbimbing untuk memetakan kesiapan memainkan lakon adegan awal: 'Dalam lakon Kancil dan Buaya di Tepi Sungai, peristiwa apa yang terjadi di adegan awal sebelum Kancil menyeberang sungai?' (acuan: Kancil berjalan ke tepi sungai sambil mencari makanan dan melihat pohon buah di seberang, lalu melihat buaya-buaya sedang berdiam di air) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak penjelasan guru tentang struktur adegan awal dalam lakon cerita pentas mini, yaitu bagian pengenalan tokoh, latar tempat, dan kemunculan peristiwa pertama dalam lakon (10 menit).
- Guru memberikan peragaan singkat lakon adegan awal cerita 'Kancil dan Buaya di Tepi Sungai' bersama 2 perwakilan murid: Kancil masuk panggung mengamati pohon seberang, disusul 2 buaya muncul dari tepi sungai (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan):- Murid dibagi ke dalam kelompok pentas (masing-masing 3-4 murid) untuk memainkan adegan awal lakon pilihan mereka berdasarkan 2 pilihan cerita lakon sederhana: Pilihan A 'Kancil dan Buaya di Tepi Sungai' (adegan awal: kemunculan Kancil dan Buaya di tepi sungai) atau Pilihan B 'Semut dan Belalang di Musim Panas' (adegan awal: kemunculan Semut mengumpulkan bulir padi dan Belalang bernyanyi santai) (10 menit).
- Setiap kelompok melakukan permainan peran 'Aksi Buka Tirai' di mana kelompok berlatih memainkan adegan awal lakon dari pintu masuk panggung hingga peristiwa pertama terjadi secara serempak dan bergiliran dengan menyenangkan (20 menit).
- Setiap kelompok memainkan adegan awal lakon cerita di area panggung latihan kelas secara bergiliran, dengan dinilai ketepatan alur adegan awal dan keutuhan peran tokoh dalam lakon tersebut (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama kelompoknya duduk melingkar untuk merefleksikan pengalaman memainkan adegan awal lakon cerita: apakah tokoh sudah masuk sesuai giliran dan peristiwa awal cerita sudah terlihat jelas oleh kelompok penonton (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap latihan adegan awal lakon yang telah dimainkan oleh seluruh kelompok (5 menit).
- Guru menyampaikan rencana latihan untuk pertemuan berikutnya (memainkan adegan tengah dan akhir lakon cerita) dan menutup sesi dengan doa bersama (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Kelompok yang membutuhkan bimbingan menggunakan naskah panduan adegan awal cerita Pilihan A yang runtut per baris adegan; kelompok yang sudah mandiri dapat mengembangkan variasi interaksi peran pada adegan awal cerita Pilihan B.
- Proses: Guru memberikan aba-aba penanda masuk panggung bagi kelompok yang masih ragu, sedangkan kelompok mandiri berlatih memainkan adegan awal secara mandiri tanpa aba-aba guru.
- Produk: Semua kelompok memainkan adegan awal lakon sederhana dengan kriteria yang sama: menampilkan pengenalan tokoh dan peristiwa awal cerita.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik di awal pembelajaran: 'Peristiwa apa yang terjadi pada adegan awal lakon Kancil dan Buaya sebelum menyeberang sungai?' (acuan: Kancil berjalan ke tepi sungai sambil mencari makanan dan melihat pohon buah di seberang, lalu melihat buaya-buaya sedang berdiam di air).
Proses:- Observasi unjuk kerja saat kelompok memainkan adegan awal lakon cerita di panggung latihan kelas berdasarkan 2 kriteria: (1) ketepatan alur peristiwa adegan awal cerita (masuknya tokoh dan interaksi awal), (2) konsistensi memainkan peran tokoh dalam lakon dari awal hingga akhir adegan (acuan pilihan A: Kancil mencari makan dan melihat buaya di sungai; acuan pilihan B: Semut mengangkut makanan dan menjumpai Belalang yang sedang santai).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan di akhir sesi: 'Sebutkan 2 hal penting yang harus muncul saat kita memainkan adegan awal lakon cerita!' (acuan: pengenalan tokoh yang masuk ke panggung dan peristiwa/kejadian pertama yang mengawali cerita).
Formatif:- Pengamatan unjuk kerja latihan memainkan adegan awal lakon cerita sederhana menggunakan lembar observasi proses.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Memainkan Adegan Awal Lakon Cerita Sederhana | Belum mampu memainkan adegan awal lakon cerita; tokoh belum masuk sesuai giliran dan peristiwa awal cerita belum tampak meski dengan bimbingan penuh guru. | Memainkan adegan awal lakon cerita tetapi alur peristiwa belum runtut atau masih membutuhkan arahan/aba-aba langsung dari guru saat pergantian aksi tokoh. | Memainkan adegan awal lakon cerita secara runtut sesuai peristiwa pembuka (kemunculan tokoh dan peristiwa awal cerita) bersama kelompoknya secara mandiri. | Memainkan adegan awal lakon cerita secara sangat runtut, lancar tanpa jeda keraguan, serta konsisten menjaga interaksi antar-tokoh sepanjang adegan awal secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu latihan kelompok mencukupi bagi setiap murid untuk mencoba memainkan adegan awal lakon?
- Bagaimana respons dan keaktifan murid saat menjalankan permainan peran pembuka adegan?
Murid:- Bagian mana dari adegan awal lakon yang paling mudah dan paling menantang untuk kamu mainkan?
- Apakah kamu dan kelompokmu sudah kompak saat masuk dan memulai adegan cerita di panggung?
Pertemuan 8 — Memainkan Adegan Tengah dan Akhir Lakon Cerita Melalui Latihan Pentas Mini — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 3.4.4 Memainkan sebuah lakon dalam cerita sederhana melalui pertunjukan pentas mini
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, mengajak murid berdoa singkat bersama, dan memeriksa kehadiran murid di ruang kelas (5 menit).
- Guru mengaitkan pembelajaran dengan latihan Pertemuan 7 mengenai adegan awal, lalu menyampaikan tujuan pertemuan hari ini yaitu memainkan adegan tengah (peristiwa masalah) dan adegan akhir (penyelesaian) lakon cerita sederhana dalam kelompok (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui tanya jawab terpimpin tentang alur bagian tengah dan akhir cerita fabel 'Kancil dan Buaya': (1) 'Apa peristiwa di bagian tengah?' (acuan: Kancil terjebak di tepi sungai dan mencari cara menyeberangi buaya yang menghalangi), (2) 'Bagaimana peristiwa di bagian akhir?' (acuan: Kancil berhasil menyeberangi sungai dengan melompati punggung buaya lalu berterima kasih/selamat di seberang) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Berkesadaran):- Murid menyimak penjelasan guru mengenai dua bagian alur yang akan dimainkan hari ini: adegan tengah berisi kemunculan masalah/ketegangan antartokoh, dan adegan akhir berisi penyelesaian masalah serta penutupan peristiwa dalam naskah sederhana kelompok masing-masing (10 menit).
- Murid bersama kelompoknya membaca dan menelaah urutan tindakan lakon bagian tengah dan akhir pada lembar alur cerita kelompok (acuan unsur alur: peristiwa puncak/masalah tokoh dan cara masalah tersebut diselesaikan hingga adegan selesai) (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid melakukan permainan pemanasan peran yang menggembirakan bertajuk 'Tahan dan Lepas Masalah': saat guru berseru 'Tengah!', murid dalam kelompok serentak berpose memerankan situasi bermasalah/kaget, dan saat berseru 'Akhir!', murid serentak berpose memerankan situasi masalah terselesaikan/lega (10 menit).
- Murid dalam kelompok memainkan latihan adegan bagian tengah lakon cerita secara bertahap sesuai peran tokoh masing-masing dengan bimbingan dan arahan langsung dari guru (20 menit).
- Murid dalam kelompok melanjutkan memainkan latihan adegan bagian akhir lakon cerita hingga penutupan adegan selesai secara runtut (20 menit).
- Setiap kelompok memainkan gabungan adegan tengah dan adegan akhir lakon cerita secara utuh dari awal masalah hingga penyelesaian tanpa terputus di area latihan kelas (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama anggota kelompoknya mengevaluasi latihan yang baru dilakukan: memeriksa apakah urutan tindakan pada adegan tengah (masalah) dan adegan akhir (penyelesaian) sudah dimainkan lengkap sesuai peran masing-masing (5 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan alur lakon bagian tengah dan akhir yang berhasil dimainkan pada latihan hari ini (3 menit).
- Guru memberikan penguatan dan menginformasikan bahwa seluruh rangkaian lakon (awal, tengah, akhir) akan digabungkan pada gladi bersih pertemuan berikutnya, kemudian menutup pembelajaran dengan doa penutup dan salam (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Kelompok yang memerlukan bantuan diberikan lembar panduan tindakan lakon bernomor urut sederhana (langkah 1-3 untuk adegan tengah dan langkah 4-5 untuk adegan akhir); kelompok yang mahir memainkan lakon berdasarkan alur narasi mandiri.
- Proses: Guru memberikan arahan langsung dan percontohan posisi pementasan pada kelompok yang belum runtut memainkan perpindahan peristiwa lakon; kelompok yang sudah lancar berlatih secara mandiri.
- Produk: Kelompok yang berkembang memainkan adegan tengah dan akhir dengan dialog inti dan aksi sederhana; kelompok yang mahir memainkan adegan tengah dan akhir dengan transisi peristiwa yang mengalir runtut tanpa jeda kebingungan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab lisan diagnostik alur lakon: (1) 'Sebutkan peristiwa pada bagian tengah cerita!' (acuan: kemunculan masalah/konflik antartokoh), (2) 'Sebutkan peristiwa pada bagian akhir cerita!' (acuan: penyelesaian masalah atau penutup peristiwa cerita). Kriteria kesiapan: murid mampu menyebutkan konsep masalah pada bagian tengah dan penyelesaian pada bagian akhir.
Proses:- Formatif unjuk kerja memainkan lakon: Lembar observasi keterlaksanaan tindakan peran lakon bagian tengah dan akhir. Acuan yang diobservasi: (1) Murid memainkan aksi/peristiwa adegan tengah (memerankan situasi konflik/masalah tokoh sesuai cerita), (2) Murid memainkan aksi/peristiwa adegan akhir (memerankan adegan penyelesaian masalah hingga penutup lakon), (3) Murid memainkan rangkaian lakon tersebut secara runtut bersama kelompok.
Akhir Pertemuan:- Cek ketercapaian akhir sesi melalui konfirmasi lisan: Murid menyebutkan peran dan tindakan lakon yang dimainkannya pada adegan tengah dan akhir. Acuan: murid mampu menyebutkan secara tepat 1 aksi tokohnya saat adegan masalah (tengah) dan 1 aksi tokohnya saat penyelesaian (akhir).
Formatif:- Observasi unjuk kerja saat kelompok memainkan adegan tengah dan adegan akhir lakon cerita menggunakan lembar observasi ketercapaian urutan adegan
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Memainkan adegan tengah lakon (peristiwa masalah tokoh) | Belum mampu memainkan tindakan tokoh pada adegan tengah lakon cerita meskipun telah diberikan arahan langsung oleh guru. | Mampu memainkan sebagian tindakan tokoh pada adegan tengah lakon cerita dengan bimbingan dan pengingatan berulang dari guru. | Mampu memainkan tindakan tokoh pada adegan tengah lakon cerita (peristiwa masalah/konflik) secara mandiri dan runtut sesuai cerita kelompok. | Mampu memainkan seluruh tindakan tokoh pada adegan tengah lakon cerita (peristiwa masalah/konflik) secara konsisten, runtut, dan mandiri tanpa keraguan. | | Memainkan adegan akhir lakon (penyelesaian cerita) | Belum mampu memainkan tindakan tokoh pada adegan akhir lakon cerita meskipun telah dibimbing oleh guru. | Mampu memainkan tindakan tokoh pada adegan akhir lakon cerita dengan bantuan arahan urutan dari guru. | Mampu memainkan tindakan tokoh pada adegan akhir lakon cerita (peristiwa penyelesaian hingga adegan usai) secara mandiri dan runtut sesuai cerita kelompok. | Mampu memainkan seluruh rangkaian tindakan tokoh pada adegan akhir lakon cerita hingga selesai secara runtut, tepat waktu, dan mandiri tanpa bantuan guru. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu latihan adegan tengah dan akhir mencukupi untuk seluruh kelompok berlatih secara runtut?
- Bagian adegan manakah (tengah atau akhir) yang paling sering membuat murid bingung saat transisi tindakan?
Murid:- Bagian mana yang paling seru saat kamu memainkan adegan masalah (tengah) atau penyelesaian (akhir) tadi?
- Apakah kamu dan kelompokmu sudah hafal urutan tindakan lakon dari adegan tengah hingga akhir?
Pertemuan 9 — Memainkan Keseluruhan Lakon Cerita Sederhana dalam Gladi Bersih Pentas Mini — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 3.4.1 Menunjukkan teknik dasar akting melalui proses meniru gerak tubuh sesuai tokoh dalam cerita pentas mini
- TP 3.4.2 Menunjukkan teknik dasar akting melalui proses meniru suara atau vokal sesuai tokoh dalam cerita pentas mini
- TP 3.4.3 Menggunakan properti yang sesuai dengan tokoh yang diperankan dalam persiapan pentas mini
- TP 3.4.4 Memainkan sebuah lakon dalam cerita sederhana melalui pertunjukan pentas mini
Pendahuluan:- Guru menyapa murid, memimpin doa bersama, dan memeriksa kehadiran murid (3 menit).
- Guru menjelaskan tujuan pembelajaran pertemuan 9, yaitu memainkan keseluruhan lakon cerita sederhana secara utuh dalam kegiatan gladi bersih pentas mini dengan memadukan gerak tubuh tokoh, vokal/suara tokoh, serta penggunaan properti (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal singkat untuk mengecek kesiapan elemen pemeranan murid melalui pemanggilan peran: murid diminta merespons seruan guru dengan menunjukkan gerak tubuh dan suara tokoh masing-masing selama 5 detik (7 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru memberikan penguatan alur gladi bersih pentas mini lakon cerita fabel 'Kancil dan Sahabat Hutan' (terdiri atas 3 babak: Babak 1 Awal - perkenalan tokoh di tepi sungai; Babak 2 Tengah - Kancil membantu Kura-Kura menyeberangi jembatan ranting yang rapuh; Babak 3 Akhir - Kancil, Kura-Kura, dan Burung Gagak bergembira merayakan keberhasilan bersama) (8 menit).
- Murid dalam kelompok peran masing-masing memeriksa kelengkapan properti yang akan digunakan di atas panggung (topeng karakter, tongkat ranting, tiruan batu kali, selendang sayap) dan menandai area keluar-masuk panggung (blocking) secara sadar dan tertib (12 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru memandu permainan pemanasan ansambel yang menggembirakan 'Gema Suara dan Beku Gerak': guru menyebut nama tokoh (Kancil yang lincah bersuara cempreng ceria, Kura-kura yang lamban membungkuk bersuara berat serak, atau Burung Gagak yang mengepakkan tangan bersuara melengking parau), lalu murid serentak menirukan gerak dan suara tokoh tersebut, kemudian membeku menjadi patung saat aba-aba 'Stop!' berbunyi (15 menit).
- Kelompok peran secara bergiliran memainkan lakon cerita sederhana 'Kancil dan Sahabat Hutan' secara utuh tanpa terputus (Babak 1, 2, dan 3) di panggung kelas dengan menerapkan teknik gerak tubuh tokoh, menirukan suara/vokal karakter, dan menggunakan properti sesuai adegan secara langsung (30 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru melakukan evaluasi jalannya gladi bersih: mencatat bagian perpindahan babak, ketepatan memegang/meletakkan properti tokoh, serta konsistensi gerak dan suara karakter dari awal hingga akhir lakon (12 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik formatif apresiatif atas kesungguhan murid memainkan keseluruhan lakon dan menggunakan properti tokoh dalam gladi bersih (8 menit).
- Guru bersama murid merapikan kembali properti ke tempat penyimpanan kelas, menyampaikan agenda pertemuan berikutnya (Asesmen Sumatif Pementasan Pentas Mini), dan menutup pertemuan dengan doa (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan bagan urutan adegan lakon bergambar (kartu alur babak 1-2-3), sedangkan murid yang sudah mahir membaca teks skrip dialog lakon secara mandiri.
- Proses: Pada saat gladi bersih, murid yang masih ragu didampingi guru dengan isyarat ketukan tangan sebagai penanda giliran masuk adegan, sedangkan murid yang mandiri mengelola transisi adegan secara mandiri.
- Produk: Tuntutan kompetensi tetap sama: murid memainkan lakon cerita dengan menampilkan gerak tubuh, suara karakter, dan menggunakan properti tokoh.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pengecekan kesiapan gerak dan suara peran sebelum gladi bersih. Guru menyebut 3 nama karakter lakon secara berurutan dan murid mendemonstrasikan gerak serta suara karakter tersebut. Acuan verifikasi guru: (1) Tokoh Kancil: gerak melompat lincah/merendah, vokal cempreng riang bersemangat; (2) Tokoh Kura-Kura: gerak membungkuk melangkah lambat, vokal lambat tempo rendah berat; (3) Tokoh Burung Gagak: gerak merentangkan/mengepakkan lengan, vokal parau melengking 'Gak-gak'.
Proses:- Pengamatan keterpaduan pemeranan saat gladi bersih lakon utuh (Babak 1, 2, dan 3) menggunakan lembar observasi. Indikator yang diamati: (1) Menunjukkan gerak tubuh sesuai fisik tokoh lakon; (2) Menunjukkan vokal/suara sesuai karakter tokoh yang dibawakan; (3) Menggunakan properti tokoh (topeng/tongkat/sayap/batu tiruan) tepat saat beradegan; (4) Memainkan lakon cerita sederhana secara mengalir dari awal hingga akhir.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman dan refleksi unjuk kerja setelah gladi bersih. Setiap kelompok menyampaikan 1 hal keberhasilan pemaduan peran dan 1 hal penyesuaian teknis properti/gerak yang perlu diperhatikan saat pentas. Kriteria penerimaan operasional: murid menyebutkan secara konkret adegan yang diperankan (misalnya: 'Pada Babak 2 saat menyeberang jembatan ranting, tongkat ranting harus dipegang erat dengan dua tangan sambil membungkuk agar terlihat seperti Kura-kura yang berhati-hati').
Formatif:- Observasi unjuk kerja gladi bersih pemeranan lakon menggunakan lembar amatan kesesuaian gerak tubuh tokoh, vokal tokoh, penggunaan properti, dan keutuhan adegan cerita lakon.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menunjukkan gerak tubuh sesuai tokoh dalam lakon cerita | Belum menunjukkan gerak tubuh khas tokoh; masih bergerak tegak seperti diri sendiri sepanjang adegan lakon. | Menunjukkan gerak tubuh tokoh hanya pada 1 babak awal, lalu kembali ke gerak tubuh wajar sehari-hari pada babak berikutnya. | Menunjukkan gerak tubuh khas tokoh (kancil lincah/kura-kura lamban/gagak mengepak) secara konsisten di sebagian besar adegan lakon (minimal 2 dari 3 babak). | Menunjukkan gerak tubuh khas tokoh secara konsisten, utuh, dan mantap di seluruh 3 babak lakon cerita secara mandiri. | | Menunjukkan suara atau vokal sesuai tokoh dalam lakon cerita | Belum menunjukkan penyesuaian vokal; berdialog menggunakan suara datar sehari-hari tanpa ciri karakter tokoh. | Menunjukkan vokal/suara karakter tokoh hanya saat mengucapkan kalimat pembuka adegan, lalu beralih ke suara biasa. | Menunjukkan vokal karakter tokoh (tempo, warna suara cempreng/berat/parau) pada minimal 2 babak adegan lakon cerita. | Menunjukkan vokal karakter tokoh secara stabil, terdengar jelas, dan konsisten di sepanjang seluruh adegan lakon (3 babak). | | Menggunakan properti tokoh dalam persiapan pentas mini | Belum menggunakan properti tokoh yang disiapkan atau salah memperlakukan properti di atas panggung. | Menggunakan properti tokoh hanya sebagai pajangan tangan tanpa memfungsikannya sesuai kebutuhan adegan cerita. | Menggunakan properti tokoh (misal tongkat, topeng, sayap) sesuai fungsinya dalam adegan cerita pada sebagian besar babak. | Menggunakan properti tokoh secara tepat guna, luwes, dan rapi pada saat masuk, beradegan, hingga keluar panggung di seluruh babak. | | Memainkan lakon dalam cerita sederhana melalui pertunjukan pentas mini | Belum mampu memainkan alur lakon cerita; sering berhenti total dan membutuhkan instruksi langsung di panggung. | Memainkan lakon cerita pada babak awal saja, namun terhenti atau bingung urutan cerita pada babak tengah dan akhir. | Memainkan keseluruhan lakon cerita dari babak awal, tengah, hingga akhir secara berurutan dengan sesekali memerlukan panduan guru. | Memainkan keseluruhan lakon cerita (awal, tengah, akhir) secara utuh, runtut, lancar, dan mandiri bersama teman sekelompok. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 35 menit untuk gladi bersih kelompok cukup memberikan kesempatan bagi semua kelompok tampil memainkan lakon secara utuh?
- Bagaimana kesiapan murid dalam memadukan penggunaan properti dengan gerak tubuh dan suara karakter tokoh secara serentak?
Murid:- Bagian mana dari lakon cerita yang paling kamu senangi saat kamu perankan bersama teman kelompokmu?
- Apakah kamu sudah merasa lancar menggunakan properti tokohmu saat bergerak dan bersuara di atas panggung?
Pertemuan 10 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 3.4.1 Menunjukkan teknik dasar akting melalui proses meniru gerak tubuh sesuai tokoh dalam cerita pentas mini
- TP 3.4.2 Menunjukkan teknik dasar akting melalui proses meniru suara atau vokal sesuai tokoh dalam cerita pentas mini
- TP 3.4.3 Menggunakan properti yang sesuai dengan tokoh yang diperankan dalam persiapan pentas mini
- TP 3.4.4 Memainkan sebuah lakon dalam cerita sederhana melalui pertunjukan pentas mini
Pendahuluan:- Guru membuka sesi asesmen sumatif dengan salam, doa bersama, menyapa murid, mengecek kehadiran seluruh 28 murid kelas 3, dan mengondisikan ruang panggung kelas agar siap digunakan untuk pertunjukan (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif akhir Bab 4 mengenai pementasan pentas mini lakon cerita sederhana, membacakan urutan tampil 6 kelompok, serta menjelaskan kriteria unjuk kerja yang dinilai (4 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Murid menyimak penjelasan guru mengenai 2 tugas sumatif yang harus diselesaikan: Tugas 1 (pemeriksaan kesiapan 4 properti tokoh/panggung per kelompok) dan Tugas 2 (unjuk kerja pementasan lakon cerita sederhana oleh 6 kelompok) (3 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Pelaksanaan Tugas 1: Setiap kelompok secara bergantian (6 kelompok) mendemonstrasikan kesiapan dan ketepatan pemilihan serta penggunaan perlengkapan/properti panggung sesuai tokoh cerita di area pentas; guru mengamati dan mencatat keterpenuhan menggunakan lembar cek kesesuaian properti tokoh (acuan cek: 4 properti wajib per lakon, misal lakon fabel: topeng/bando telinga hewan, ekor tiruan, keranjang buah/benda tokoh, dan latar pohon buatan) (22 menit).
- Pelaksanaan Tugas 2: Pelaksanaan unjuk kerja bermain peran pementasan lakon cerita sederhana pentas mini oleh 6 kelompok secara bergiliran (masing-masing 4-5 murid, total 28 murid kelas); setiap kelompok mendapat durasi tampil 10 menit dan transisi 3 menit (total 6 kelompok x 13 menit = 78 menit) dengan dinilai keselarasan gerak tubuh tiruan tokoh, intonasi vokal berkarakter, pemanfaatan properti, serta keutuhan alur lakon (65 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid secara hening duduk bersama dalam kelompok masing-masing setelah seluruh penampilan selesai, menyadari pencapaian proses latihan hingga pementasan pentas mini yang telah dilaksanakan (3 menit).
Penutup:- Semua kelompok merapikan kembali properti dan perlengkapan pentas ke tempat semula secara tertib (2 menit).
- Guru memberikan apresiasi menyeluruh atas terselesaikannya pementasan Bab 4, menutup pembelajaran dengan doa penutup dan salam (3 menit).
Diferensiasi:- Konten: Akomodasi petunjuk: Guru memberikan lembar urutan tampil dan kartu pengingat alur peran bagi kelompok yang membutuhkan bantuan visual tanpa mengurangi tuntutan peran.
- Proses: Akomodasi akses: Guru memberikan jeda transisi yang tertib dan isyarat ketukan panggung lembut bagi murid yang memerlukan penanda pergantian adegan tanpa mengubah standar pemeranan.
- Produk: Standar bukti kinerja pementasan tetap sama untuk seluruh murid sesuai acuan rubrik sumatif.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pengecekan kesiapan teknis kelompok dan kelengkapan 4 perlengkapan/properti panggung per kelompok sebelum sesi pementasan dimulai (acuan cek: 1. Penutup kepala/kostum tokoh; 2. Properti genggam tokoh; 3. Properti panggung/setting sederhana; 4. Penataan tata letak pentas).
Proses:- Observasi guru selama proses transisi panggung kelompok untuk memastikan kelancaran pergantian giliran tampil antar-kelompok tanpa mengubah fokus pementasan lakon.
Sumatif Bab:- unjuk kerja pementasan kelompok: penampilan pementasan pentas mini kelompok berdurasi 7-8 menit per kelompok yang menunjukkan gerak tubuh tiruan tokoh, peniruan vokal/dialog berkarakter, pemanfaatan properti yang tepat, serta penyajian alur lakon cerita sederhana secara utuh
- penilaian kinerja persiapan pentas: demonstrasi kesiapan dan ketepatan pemilihan serta penggunaan perlengkapan/properti panggung sesuai tokoh cerita oleh tiap kelompok (25 menit; kelompok; instrumen: lembar cek kesesuaian properti tokoh)
- unjuk kerja pementasan lakon: penampilan bermain peran dalam pentas mini oleh 6 kelompok (masing-masing 4-5 murid) berdurasi tampil 10 menit dan transisi 3 menit per kelompok (6 kelompok x 13 menit = 78 menit, mencakup seluruh 28 murid kelas) yang dinilai dari keselarasan gerak tubuh tiruan tokoh, intonasi vokal berkarakter, dan keutuhan alur lakon (80 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja pemeranan dan lakon teater)
Sumatif:- unjuk kerja pementasan kelompok: penampilan pementasan pentas mini kelompok berdurasi 7-8 menit per kelompok yang menunjukkan gerak tubuh tiruan tokoh, peniruan vokal/dialog berkarakter, pemanfaatan properti yang tepat, serta penyajian alur lakon cerita sederhana secara utuh
- penilaian kinerja persiapan pentas: demonstrasi kesiapan dan ketepatan pemilihan serta penggunaan perlengkapan/properti panggung sesuai tokoh cerita oleh tiap kelompok (25 menit; kelompok; instrumen: lembar cek kesesuaian properti tokoh)
- unjuk kerja pementasan lakon: penampilan bermain peran dalam pentas mini oleh 6 kelompok (masing-masing 4-5 murid) berdurasi tampil 10 menit dan transisi 3 menit per kelompok (6 kelompok x 13 menit = 78 menit, mencakup seluruh 28 murid kelas) yang dinilai dari keselarasan gerak tubuh tiruan tokoh, intonasi vokal berkarakter, dan keutuhan alur lakon (80 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja pemeranan dan lakon teater)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Meniru Gerak Tubuh Tokoh (TP 3.4.1) | Gerak tubuh kaku, belum meniru ciri fisik/gerak tokoh lakon sama sekali selama pementasan. | Meniru gerak tubuh tokoh lakon namun belum konsisten, hanya tampak pada 1 adegan saja. | Meniru gerak tubuh tokoh (cara berjalan, gestur tubuh, dan postur) sesuai karakter tokoh secara konsisten pada 2 adegan (awal dan tengah). | Meniru gerak tubuh tokoh (cara berjalan, gestur tubuh, dan postur) sesuai karakter tokoh secara konsisten dan selaras sepanjang seluruh adegan (awal, tengah, akhir). | | Meniru Suara atau Vokal Tokoh (TP 3.4.2) | Mengucapkan dialog dengan suara asli sehari-hari tanpa upaya peniruan warna vokal atau intonasi tokoh. | Meniru suara tokoh tetapi intonasi dan warna vokal karakter hanya muncul pada sebagian kecil dialog (1-2 kalimat). | Meniru suara tokoh dengan intonasi dan warna vokal karakter yang tepat pada sebagian besar dialog sepanjang lakon. | Meniru suara tokoh dengan intonasi, volume, dan warna vokal karakter yang tepat, jelas, serta konsisten di setiap dialog sepanjang pementasan lakon. | | Penggunaan Properti Tokoh (TP 3.4.3) | Hanya membawa 0-1 dari 4 properti wajib (topeng/kostum, properti genggam, perlengkapan latar, latar panggung) dan tidak menggunakannya saat berakting. | Membawa dan menggunakan 2 dari 4 properti wajib sesuai tokoh, namun penggunaannya masih canggung atau sering terlepas. | Membawa dan menggunakan 3 dari 4 properti wajib sesuai karakter tokoh cerita secara tepat saat beradegan di panggung. | Membawa dan menggunakan seluruh 4 properti wajib (topeng/kostum, properti genggam, perlengkapan latar, latar panggung) secara tepat, luwes, dan terpadu mendukung karakter tokoh. | | Memainkan Lakon Cerita Sederhana (TP 3.4.4) | Belum mampu memainkan adegan lakon, alur cerita terhenti dan peran tidak berjalan. | Memainkan lakon cerita sederhana namun alur terputus, hanya menampilkan adegan awal cerita. | Memainkan lakon cerita sederhana dengan alur runtut pada adegan awal dan tengah cerita secara padu bersama kelompok. | Memainkan lakon cerita sederhana secara utuh mencakup adegan awal, tengah (konflik), dan akhir (penyelesaian) secara mengalir dan padu bersama kelompok. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 13 menit per kelompok (10 menit tampil dan 3 menit transisi) mencukupi untuk mengamati keempat aspek capaian murid?
- Bagaimana ketercapaian murid kelas 3 dalam memadukan gerak tubuh, vokal, dan properti saat menyajikan lakon cerita pentas mini?
Murid:- Bagian mana dari lakon cerita pentas mini tadi yang paling berhasil aku mainkan bersama teman sekelompok?
- Apa pengalaman paling berharga yang aku rasakan saat menyiapkan properti dan memainkan peran tokoh di panggung kelas?
SUMBER BELAJAR- Buku Panduan Guru Seni Teater SD Kelas III Kemendikbudristek
- Naskah/Ringkasan Alur Cerita Sederhana 'Pentas Mini di Desa Sukamaju'
- Alat musik ritmis sederhana (rebana/tamburin/tongkat kayu perkusi) untuk pemandu tempo gerak
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi, Kemendikbudristek 2023)
- Kartu bergambar 4 tokoh (Kelinci Lincah, Kura-kura Bijak, Burung Hantu Penjaga, Naga Perkasa)
- Alat pengiring ritme (rebana / tamborin / tepukan tangan guru)
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas III (Kemendikbudristek, 2023)
- Kartu karakter usia tokoh (anak kecil, dewasa, kakek/nenek)
- Naskah kutipan dialog singkat lakon cerita pentas mini
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi)
- Rekaman audio contoh efek suara dan karakter vokal fabel
- Kartu naskah dialog fabel (Singa, Kelinci, Katak, Burung Hantu)
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi), Pusat Perbukuan, Kemendikbudristek
- Benda-benda properti sederhana di kelas: topi caping/cangkul mainan, tongkat kayu tumpul, keranjang, selendang kain, tas selempang, busur panah kardus, kartu peran bergambar
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi), Bab 4 Pentas Mini.
- Properti tokoh buatan (tongkat karton, keranjang anyaman, cangkul kardus, selendang kain).
- Benda panggung kelas (kursi kayu, meja kecil kardus, balok tiruan).
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD Kelas III, Kemendikbudristek 2021
- Teks sinopsis adegan awal lakon cerita sederhana ('Kancil dan Buaya di Tepi Sungai' dan 'Semut dan Belalang di Musim Panas')
- Area ruang kelas sebagai panggung pentas mini
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas III (Kemendikbudristek 2021/Revisi)
- Naskah/draf alur cerita lakon sederhana kelompok (fabel/cerita rakyat)
- Panggung mini sederhana di ruang kelas beserta batas area latihan lakon
- Buku Panduan Guru Seni Teater Kelas III SD, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
- Naskah cerita sederhana 'Kancil dan Sahabat Hutan'
- Properti pentas mini buatan kelas: topeng karton karakter, tiruan tongkat ranting kayu, kain selendang sayap, dan bantal tiruan batu kali
- Area ruang kelas yang ditata menjadi arena pentas mini sederhana
- Buku Panduan Guru Seni Teater Kelas 3 SD Kurikulum Merdeka (Bab 4 Pentas Mini)
- Panggung mini ruang kelas beserta tata letak meja-kursi sederhana
- Perlengkapan properti tokoh buatan murid (topeng/penutup kepala kertas, ekor tiruan kain, keranjang/tongkat kertas, latar gambar pohon karton)
- Lembar cek kesesuaian properti tokoh dan rubrik unjuk kerja pementasan lakon teater
|