MODUL AJAR Seni Teater — Kelas 3 (Fase B) Topik: Bab 3 — Improvisasi INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | Seni Teater |
|---|
| Fase / Kelas | Fase B / Kelas 3 |
|---|
| Topik | Bab 3 — Improvisasi |
|---|
| Alokasi Waktu | 25 JP (25 x 35 menit = 875 menit) |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 9 |
|---|
| Tahun Ajaran | 2026/2027 |
|---|
| Semester | 2 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- TP 3.3.1 Menirukan gerak tubuh sesuai peran atau perilaku objek sekitar secara spontan
- TP 3.3.2 Menirukan suara atau vokal sesuai tokoh atau peran secara spontan
- TP 3.3.3 Menggunakan properti yang sesuai dengan tokoh yang diperankan dalam adegan spontan
- TP 3.3.4 Memainkan sebuah lakon dalam cerita secara berkelompok melalui improvisasi
- TP 3.3.5 Menceritakan pengalaman dalam bermain teater secara spontan
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | | | Kewargaan | | | Penalaran Kritis | | | Kreativitas | ✓ | | Kolaborasi | ✓ | | Kemandirian | ✓ | | Kesehatan | | | Komunikasi | ✓ |
PERTANYAAN PEMANTIK- Pernahkah kamu melihat pohon yang tertiup angin kencang atau jam dinding yang berdetik?
- Bagaimana caramu menggerakkan seluruh tubuhmu secara langsung untuk meniru gerak benda-benda tersebut tanpa berbicara?
- Bagaimana gerakan tubuh seseorang ketika sedang menyapu halaman atau mengaduk masakan?
- Jika kamu diminta langsung menjadi seorang kakek yang berjalan atau polisi yang mengatur lalu lintas, gerak tubuh apa yang langsung kamu lakukan?
- Bagaimana suara kakek tua yang sedang mencari kacamatanya?
- Apakah suara seorang raja yang berwibawa terdengar sama dengan suara anak kucing yang kelaparan?
- Bagaimanakah perbedaan suara seorang kakek tua yang sedang mencari kacamatanya dengan suara seorang anak kecil yang ingin membantunya?
- Bagaimana kita bisa mengubah warna dan nada suara secara langsung saat saling membalas ucapan dengan teman?
- Bagaimana jika sebuah kemoceng di kelas ini kita gunakan bukan untuk membersihkan debu, melainkan menjadi tongkat sihir atau mikrofon?
- Bagaimana caramu memperlakukan botol minum agar penonton tahu kamu sedang memerankan seorang astronot?
- Jika kamu memegang payung dan temanmu memegang tas kresek, tokoh apa yang cocok kalian perankan bersama secara spontan?
- Bagaimana sebuah sapu atau tongkat bisa membantu kita memainkan peran dokter, petani, atau ksatria bersama pasangan main kita?
- Bagaimana cara kelompok kita melanjutkan cerita di panggung jika tidak ada teks naskah hafalan?
- Apa yang terjadi jika kita saling mendengarkan dan merespons aksi teman saat memainkan peran dalam cerita?
- Peristiwa seru atau tak terduga apa yang paling kamu ingat saat bermain peran spontan bersama kelompok kemarin?
- Bagaimana perasaanmu ketika harus tiba-tiba melanjutkan cerita tanpa naskah di depan teman-teman?
- Bagaimana caramu memainkan cerita bersama teman secara spontan tanpa menghafal naskah?
- Bagaimana perasaanmu setelah berhasil memainkan peran dan menggunakan benda sekitar menjadi properti panggung?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1 — Menirukan Gerak Tubuh Sesuai Perilaku Objek Sekitar secara Spontan — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 3.3.1 Menirukan gerak tubuh sesuai peran atau perilaku objek sekitar secara spontan
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, doa, dan memeriksa kehadiran murid di ruang gerak/kelas yang dikosongkan bagian tengahnya (5 menit).
- Guru memandu pemanasan olah tubuh sederhana (peregangan kepala, tangan, pinggang, kaki) untuk menyiapkan kelenturan gerak fisik (10 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui instruksi cepat: Guru menyebutkan satu objek 'Kipas angin yang berputar kencang', lalu meminta murid langsung menggerakkan tubuhnya secara spontan. Guru mengamati kesiapan awal murid dalam menggerakkan tubuh menirukan objek (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru menjelaskan konsep menirukan perilaku objek sekitar menggunakan gerak tubuh: mengenali bagaimana suatu objek bergerak (bergerak cepat, lambat, kaku, lentur, berulang, atau bergoyang) (10 menit).
- Guru mendemonstrasikan eksplorasi gerak tubuh untuk 2 objek pemodelan: (1) Lilin meleleh (tubuh tegak perlahan melorot dan menyusut ke lantai); (2) Daun jatuh melayang (tubuh bergoyang lembut meliuk turun). Murid mengamati ciri khas gerak fisik tiap objek (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan):- Guru memimpin permainan gerak spontan 'Taman Patung Ajaib': Ketika musik pengiring berhenti atau aba-aba berbunyi 'Jadilah Objek!', guru menyebutkan nama objek dari daftar acuan, dan seluruh murid secara spontan langsung membeku atau bergerak sesuai perilaku objek tersebut tanpa berbicara (15 menit).
- Murid secara individu mempraktikkan gerakan spontan untuk 4 objek target berikut saat aba-aba guru berbunyi: (1) Pohon tertiup angin kencang (tubuh bergoyang meliuk ke kanan-kiri/depan-belakang dengan ayunan tangan dinamis); (2) Balon ditiup hingga meletus (tubuh mengembang membesar perlahan lalu meregang dan roboh seketika); (3) Jam dinding/pendulum (lengan atau tubuh berayun kaku teratur ke kiri dan kanan); (4) Robot berjalan kaku (langkah patah-patah bersudut tegak). Guru mengamati respon spontan dan kesesuaian gerak tubuh murid (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid duduk melingkar dan melakukan pendinginan gerak pernapasan untuk menenangkan tubuh (5 menit).
- Guru mengajak murid mengenali gerak tubuh yang telah dilakukan dengan menanyakan gerak objek mana yang paling mudah dan paling menantang untuk diwujudkan secara spontan menggunakan tubuh mereka (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik langsung terhadap keberanian dan kecepatan gerak murid dalam menirukan gerak tubuh objek sekitar tanpa ragu (5 menit).
- Guru menyampaikan bahwa pada pertemuan berikutnya latihan menirukan gerak akan dilanjutkan untuk peran tokoh-tokoh di sekitar, lalu menutup sesi dengan doa bersama (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan kartu gambar objek (pohon, balon, jam dinding, robot) sebagai petunjuk visual bagi murid yang membutuhkan pengingat bentuk fisik objek.
- Proses: Bagi murid yang masih ragu, guru memberi hitungan aba-aba mundur (1, 2, 3 gerak!) untuk memicu spontanitas; bagi murid yang tangkas, guru memberi tempo transisi antar-objek yang lebih cepat secara acak.
- Produk: Tingkat keragaman bentuk gerak tubuh: murid yang berkembang mengeksplorasi gerak level rendah (di lantai) hingga level tinggi (melompat/meregang) sesuai objek target.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pemberian aba-aba spontanitas satu objek 'Kipas angin berputar' di awal pertemuan untuk melihat kesiapan fisik murid. Kriteria penerimaan: Murid langsung merespons dengan menggerakkan lengan atau memutar tubuhnya tanpa menunggu contoh dari teman.
Proses:- Pengamatan langsung saat murid menirukan 4 objek target gerak fisik secara spontan: (1) Pohon tertiup angin (ayunan meliuk dinamis); (2) Balon ditiup hingga meletus (mengembang perlahan lalu meregang seketika); (3) Jam dinding (gerak ayunan lengan/badan kaku berulang teratur); (4) Robot (gerak patah-patah kaku). Kriteria: kesesuaian gerak tubuh dengan karakteristik objek dan spontanitas respon (bergerak dalam waktu ≤ 3 detik setelah aba-aba tanpa meniru teman).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman gerak akhir: Guru menyebutkan satu objek tantangan penutup 'Lilin meleleh' dan mengamati apakah murid mampu melakukan perubahan bentuk gerak tubuh dari tegak menjadi menyusut ke lantai secara mandiri dan spontan.
Formatif:- Pengamatan unjuk kerja gerak spontan individu saat merespons instruksi objek gerak menggunakan lembar ceklis
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Kesesuaian gerak tubuh dengan perilaku objek sekitar | Menirukan gerak tubuh yang sesuai untuk 1 dari 4 objek target (Pohon, Balon, Jam dinding, Robot). | Menirukan gerak tubuh yang sesuai untuk 2 dari 4 objek target (Pohon, Balon, Jam dinding, Robot). | Menirukan gerak tubuh yang sesuai untuk 3 dari 4 objek target (Pohon, Balon, Jam dinding, Robot). | Menirukan gerak tubuh yang sesuai untuk seluruh 4 objek target (Pohon, Balon, Jam dinding, Robot). | | Spontanitas respon gerak | Membutuhkan waktu lebih dari 5 detik atau menunggu mencontoh gerakan teman sebelum mulai bergerak. | Mulai bergerak dalam 4-5 detik setelah aba-aba meskipun masih sempat melihat gerak teman di sekitarnya. | Mulai bergerak secara langsung (dalam 1-3 detik) setelah aba-aba diberikan secara mandiri. | Mulai bergerak seketika (< 1 detik) setelah aba-aba diberikan secara mandiri dan mantap tanpa ragu. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah instruksi dan tempo aba-aba gerak spontan sudah memfasilitasi seluruh murid untuk bergerak aktif?
- Bagaimana variasi gerak tubuh yang dihasilkan murid, apakah murid berani mengeksplorasi seluruh anggota tubuhnya?
Murid:- Bagian tubuh mana yang paling banyak kamu gerakkan saat menirukan benda tadi?
- Gerakan benda apa yang paling seru dan paling mudah kamu tirukan secara langsung?
Pertemuan 2 — Menirukan Gerak Tubuh Sesuai Peran Tokoh Sekitar secara Spontan — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 3.3.1 Menirukan gerak tubuh sesuai peran atau perilaku objek sekitar secara spontan
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memimpin pemanasan olah tubuh ringan untuk meregangkan otot tangan, leher, dan kaki (7 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, yaitu menirukan gerak tubuh tokoh-tokoh di sekitar kita secara langsung dan spontan tanpa naskah tertulis (3 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik dengan menyebutkan satu profesi tokoh sekitar: 'Tukang kebun sedang mencabut rumput liar', lalu mengamati apakah seluruh murid langsung merespons dengan gerakan membungkuk dan menarik rumput secara spontan (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru mendemonstrasikan 3 contoh gerak tubuh khas tokoh sekitar: (1) Polisi lalu lintas (posisi badan tegak, tangan memberi isyarat setop dan melambai jalan), (2) Dokter memeriksa pasien (posisi tangan memegang stetoskop imajiner dan menempelkannya ke dada), (3) Petani mencangkul (kedua tangan memegang gagang cangkul lalu mengayunkannya ke bawah berulang-ulang) (10 menit).
- Murid menyimak dan menganalisis secara sadar bagian-bagian tubuh (postur, ayunan tangan, dan langkah kaki) yang membedakan satu tokoh sekitar dengan tokoh lainnya tanpa menggunakan suara (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan):- Murid mengikuti permainan gerak spontan 'Tebak Tokoh Cepat': guru membacakan secara acak nama tokoh dari daftar 4 peran tokoh sekitar: (1) Guru menulis di papan tulis, (2) Koki memotong sayur, (3) Nelayan mendayung perahu, dan (4) Kakek berjalan membungkuk memakai tongkat. Murid secara serentak langsung menirukan gerak tubuh tokoh tersebut dalam hitungan ketiga (15 menit).
- Murid melakukan tantangan mandiri 'Patung Gerak Tokoh': setiap murid mengambil giliran menirukan gerak tubuh 1 tokoh sekitar yang dipilih secara spontan dari 4 skenario profesi: (A) Satpam menghentikan kendaraan dan membuka gerbang, (B) Petugas kebersihan menyapu jalan dengan sapu lidi panjang, (C) Atlet bulu tangkis mengayunkan raket memukul kok, atau (D) Kasir swalayan memindai kode barang belanjaan (20 menit).
- Guru memverifikasi ketepatan gerak tubuh setiap murid berdasarkan ciri khas gerak anggota tubuh tokoh yang dipilih (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid berdiri melingkar dan secara berkesadaran merasakan bagian tubuh mana yang paling aktif bergerak saat menirukan tokoh tadi (misalnya punggung membungkuk, ayunan lengan, atau lutut menekuk) (10 menit).
- Murid mengidentifikasi kemudahan dan kesulitan dalam merespons perintah peran secara langsung tanpa berpikir lama (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan bahwa setiap tokoh di sekitar kita memiliki ciri khas gerak tubuh tertentu yang dapat kita tirukan secara spontan (3 menit).
- Guru memberikan umpan balik langsung kepada murid atas keberanian dan ketepatan melakukan gerak tubuh secara spontan (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan kartu bergambar visual tokoh sekitar (polisi, koki, petani, dokter) bagi murid yang membutuhkan bantuan visual sebelum memperagakan gerak.
- Proses: Bagi murid yang masih ragu, guru memberikan aba-aba hitungan lambat untuk memulai gerak tubuh. Bagi murid yang cepat dan mahir, diberikan tantangan perubahan tokoh secara bergantian cepat (setiap 5 detik berganti tokoh).
- Produk: Murid memperagakan gerak tubuh tokoh sekitar dengan durasi tahanan gerak minimal 5 detik secara mandiri.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Uji kesiapan spontanitas gerak tubuh: Guru menyebutkan satu tokoh 'Tukang kebun sedang mencabut rumput liar'. Kriteria ketepatan: Murid merespons langsung dengan posisi membungkuk/jongkok dan kedua tangan melakukan gerakan menarik rumput ke atas secara fisik (acuan gerak: badan membungkuk/jongkok, tangan memegang dan menarik ke atas).
Proses:- Observasi formatif saat tantangan 'Patung Gerak Tokoh' untuk 4 skenario profesi: (A) Satpam (acuan gerak: tangan kiri terangkat tegak tanda stop, tangan kanan mendorong gerbang), (B) Petugas kebersihan (acuan gerak: kedua tangan memegang gagang sapu dan mengayun ke samping kanan-kiri), (C) Atlet bulu tangkis (acuan gerak: tangan terangkat mengayun ke atas melompat/melonjak memukul kok), (D) Kasir (acuan gerak: tangan mengambil barang imajiner lalu mendekatkannya ke meja pemindai).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman gerak penutup: Murid memperagakan kembali 1 gerak tubuh dari pilihan tokoh: Polisi (acuan gerak: tangan menyetop dan memberi aba-aba jalan) atau Kakek (acuan gerak: punggung bungkuk, satu tangan memegang pinggang dan satu tangan bertumpu tongkat imajiner) dalam waktu 3 detik setelah instruksi dibacakan.
Formatif:- Pengamatan unjuk kerja (observasi langsung) saat murid menirukan gerak tubuh tokoh sekitar secara spontan pada permainan 'Tebak Tokoh Cepat' dan tantangan 'Patung Gerak Tokoh'.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Ketepatan Menirukan Gerak Tubuh Tokoh Sekitar secara Spontan | Belum mampu menirukan gerak tubuh sesuai peran tokoh sekitar secara spontan; diam atau membutuhkan contoh fisik penuh dari guru. | Mampu menirukan gerak tubuh tokoh sekitar setelah diberikan petunjuk verbal atau contoh gerak berulang dari guru. | Mampu menirukan gerak tubuh sesuai peran tokoh sekitar secara spontan dan mandiri sesuai ciri fisik tokoh yang ditentukan. | Mampu menirukan gerak tubuh sesuai peran tokoh sekitar secara sangat spontan, luwes, dan konsisten langsung berganti peran tokoh tanpa jeda ragu. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah murid dapat langsung merespons instruksi gerak peran tanpa ragu-ragu?
- Bagian gerak tubuh tokoh mana yang paling mudah dan paling sulit ditirukan oleh murid kelas 3?
Murid:- Gerakan tokoh mana yang paling mudah kamu tirukan tadi?
- Apakah kamu merasa kesulitan saat harus langsung bergerak menjadi tokoh lain secara cepat?
Pertemuan 3 — Menirukan Suara atau Vokal Sesuai Karakter Tokoh secara Spontan — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 3.3.2 Menirukan suara atau vokal sesuai tokoh atau peran secara spontan
Pendahuluan:- Guru membuka pelajaran dengan salam, berdoa, memeriksa kehadiran, dan menyampaikan fokus kegiatan yaitu menirukan vokal karakter tokoh secara spontan (5 menit).
- Guru melakukan asesmen diagnostik cepat: guru menirukan suara batuk serak kakek tua dan suara tangisan bayi, lalu meminta murid secara serempak menirukan suara seorang raksasa yang sedang marah (acuan respon: vokal berat/besar/menggelegar seperti 'Hahaha, siapa di sana!') untuk memetakan kesiapan murid dalam eksplorasi vokal (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Guru memberikan pemahaman mengenai variasi warna suara atau vokal karakter tokoh (suara berat/dalam untuk tokoh raksasa/singa, suara cempreng/tinggi untuk tokoh tikus/peri, suara parau/lambat untuk tokoh kakek/nenek tua) melalui contoh tiruan langsung (10 menit).
- Murid berlatih mengolah pita suara dengan menirukan rentang vokal tinggi, sedang, dan rendah mengikuti komando tangan guru yang naik-turun secara berkesadaran (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Permainan Menyenangkan 'Tebak Siapa yang Bicara': Murid duduk melingkar, seorang murid berdiri di tengah membelakangi teman-temannya. Guru menunjuk 1 murid secara acak untuk mengucapkan satu kalimat pendek 'Buka pintunya!' dengan menirukan vokal salah satu dari 4 karakter target: (1) Raksasa (berat/besar), (2) Nenek tua (gemetar/parau), (3) Bayi (cempreng/manja), atau (4) Robot (kaku/monoton). Murid di tengah menebak karakter vokal yang disuarakan (20 menit).
- Tantangan Spontan 'Kartu Suara Karakter': Setiap murid secara bergiliran mengambil 1 kartu nama tokoh secara acak dari 4 kartu yang disediakan guru, yaitu: Kartu A (Singa Si Raja Hutan), Kartu B (Kakek Tua Pelupa), Kartu C (Penyihir Jahat Tertawa), dan Kartu D (Tikus Cilik Ketakutan). Murid langsung menirukan suara/vokal tokoh tersebut secara spontan dalam durasi 5-10 detik di hadapan kelas tanpa persiapan naskah (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid duduk melingkar dengan tenang dan mengamati kembali bagaimana pita suara mereka bekerja saat mengubah suara menjadi karakter yang berbeda secara berkesadaran (10 menit).
- Guru memfasilitasi murid untuk memaknai perbedaan vokal tokoh dan mengenali karakter mana yang paling mudah serta paling menantang untuk disuarakan secara spontan (5 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan bahwa setiap karakter tokoh memiliki ciri suara atau vokal unik yang bisa dibentuk secara spontan (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik apresiatif atas keberanian dan spontanitas vokal seluruh murid, menyampaikan bahwa pertemuan berikutnya akan menggabungkan suara tokoh ke dalam dialog berpasangan, lalu menutup dengan doa bersama (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan kartu tokoh yang akrab bagi murid pemula (hewan/kakek) dan kartu tokoh yang lebih ekspresif bagi murid mahir (penyihir tertawa/robot kaku).
- Proses: Bagi murid yang masih ragu, guru memberi stimulus tiruan vokal pembuka terlebih dahulu; bagi murid yang percaya diri, langsung merespons spontan tanpa aba-aba pengantar.
- Produk: Murid yang membutuhkan bimbingan cukup menirukan suara dasar/bunyi khas tokoh; murid mahir menirukan suara tokoh dengan mengucapkan seruan atau kalimat pendek spontan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab dan demonstrasi tiruan vokal singkat: Guru meminta murid menirukan suara raksasa yang sedang marah (acuan: vokal tebal, rendah, dan bervolume mantap seperti 'Hahaha, aku datang!') untuk memetakan kesiapan murid dalam mengeksplorasi ragam vokal karakter tokoh teater.
Proses:- Pengamatan performa vokal pada kegiatan 'Kartu Suara Karakter' terhadap 4 tokoh target: (1) Singa (vokal berat/menggeram), (2) Kakek Tua (vokal serak/lambat/gemetar), (3) Penyihir (vokal melengking/tertawa sinis meliuk), (4) Tikus Cilik (vokal cempreng/tinggi/cepat). Penilaian difokuskan pada ketepatan peniruan ciri vokal tokoh dan spontanitas respon (tanpa jeda ragu lebih dari 5 detik).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman vokal tokoh di akhir kegiatan: Guru membunyikan 1 contoh suara (vokal serak dan bergetar), murid secara bersama-sama mengidentifikasi ciri vokal tersebut (acuan: ciri suara tokoh kakek/nenek tua yang lemah atau gemetar).
Formatif:- Observasi unjuk kerja spontanitas vokal saat permainan Tebak Siapa yang Bicara dan tantangan Kartu Suara Karakter menggunakan lembar observasi
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Ketepatan Peniruan Suara/Vokal Sesuai Karakter Tokoh | Belum mampu mengubah warna suara/vokal; masih menggunakan suara asli sehari-hari saat diminta menirukan 4 karakter target (Singa, Kakek, Penyihir, Tikus). | Mampu menirukan ciri suara/vokal dari 1-2 karakter target secara tepat sesuai acuan (misal: hanya suara Singa atau Tikus). | Mampu menirukan ciri suara/vokal dari 3 karakter target secara tepat sesuai acuan karakter (Singa, Kakek, Penyihir, atau Tikus). | Mampu menirukan ciri suara/vokal dari seluruh 4 karakter target (Singa, Kakek, Penyihir, Tikus) secara tepat dan konsisten membedakan warna vokalnya. | | Spontanitas Respon Tiruan Suara/Vokal | Membutuhkan jeda ragu lebih dari 10 detik atau memerlukan bimbingan penuh/dorongan berulang dari guru untuk mulai mengeluarkan suara karakter. | Merespons tiruan suara karakter dengan jeda ragu antara 6-10 detik sebelum bersuara secara mandiri. | Merespons tiruan suara karakter secara spontan dalam jeda waktu 1-5 detik setelah instruksi/kartu dibuka. | Merespons tiruan suara karakter secara seketika/langsung tanpa jeda ragu (kurang dari 1 detik) begitu instruksi/kartu tokoh diberikan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah aktivitas eksplorasi vokal mampu menumbuhkan keberanian murid dalam mengeluarkan suara yang berbeda dari kebiasaan sehari-hari?
- Bagaimana efektivitas stimulus kartu karakter dalam memancing spontanitas vokal murid kelas 3?
Murid:- Suara karakter tokoh mana yang paling mudah dan paling seru kamu tirukan?
- Apa yang kamu rasakan di tenggorokan atau perutmu saat mencoba suara raksasa yang besar atau suara tikus yang kecil?
Pertemuan 4 — Menirukan Suara atau Vokal Tokoh dalam Dialog Berpasangan secara Spontan — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 3.3.2 Menirukan suara atau vokal sesuai tokoh atau peran secara spontan
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan mengajak murid melakukan pemanasan vokal sederhana melalui peniruan bunyi vokal 'a-i-u-e-o' dengan ragam warna suara rendah dan tinggi (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menirukan suara atau vokal tokoh dalam bentuk percakapan berpasangan secara spontan (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat: guru membunyikan satu contoh suara tokoh 'Nenek Tua' (suara parau dan serak lambat), lalu menunjuk 3 orang murid untuk langsung menirukan suara tersebut secara spontan; acuan: murid mampu menirukan vokal parau/serak khas orang tua tanpa jeda ragu lebih dari 5 detik (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru memberikan demonstrasi bersama seorang perwakilan murid mengenai cara saling membalas suara/vokal tokoh secara spontan menggunakan pasangan tokoh 'Kucing Manja' (vokal mengeong lembut, nada tinggi, manja) dan 'Anjing Penjaga' (vokal menggonggong berat, tegas, nada rendah) (10 menit).
- Murid menyimak dan mencermati bagaimana vokal disesuaikan dengan ciri khas tokoh saat percakapan bersahut-sahutan berlangsung (5 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan):- Guru mengelompokkan murid secara berpasangan dan membagikan 1 amplop undian situasi percakapan vokal yang berisi salah satu dari 3 pilihan pasangan tokoh berikut: (1) Tokoh Singa Pemimpin (vokal berwibawa, berat, bergumam dalam) dan Tikus Kecil (vokal cicit melengking, cepat, lirih); (2) Tokoh Robot Mesin (vokal patah-patah, datar, mekanis) dan Anak Sekolah (vokal ceria, luwes, nada sedang); (3) Tokoh Penjual Pasar (vokal lantang melenggang, cepat, serak basah) dan Pembeli Ragu (vokal pelan, berbisik halus, lambat) (10 menit).
- Permainan Menyenangkan 'Oper Suara Spontan': Setiap pasangan murid berlatih bergantian saling menyahut 3 putaran dialog singkat langsung menggunakan vokal tokoh yang didapat tanpa persiapan naskah teks tertulis, berfokus murni pada perubahan warna dan peniruan suara tokoh masing-masing (20 menit).
- Setiap pasangan murid maju secara bergantian ke depan kelas untuk menampilkan peniruan suara/vokal tokoh dalam dialog berpasangan selama 1-2 menit di hadapan guru dan teman (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Guru mengajak murid duduk melingkar untuk merefleksikan pengalaman menirukan suara tokoh secara spontan saat berhadapan langsung dengan lawan mainnya (10 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan bersama pentingnya kelenturan suara dan kesigapan vokal dalam merespons suara lawan main saat berimprovisasi (5 menit).
- Guru memberikan asesmen akhir berupa cek pemahaman lisan kilat: guru menyebutkan peran 'Raksasa Lapar', lalu satu pasang murid secara acak langsung menirukan suara raksasa (berat, menggelegar) dan pasangannya menirukan suara kancil (lincah, cempreng) secara spontan; acuan: vokal langsung disesuaikan dengan ciri berat vs lincah tanpa terputus (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Pasangan tokoh yang disediakan memiliki kontras warna suara yang sangat jelas (misal: berat vs melengking) untuk memudahkan peniruan vokal.
- Proses: Bagi murid yang masih ragu, guru memberikan pemantik bunyi vokal awal sebagai pemandu sebelum murid menyahut pasangannya; bagi murid yang sudah fasih, diberikan tantangan pergantian tempo vokal cepat.
- Produk: Variasi peniruan suara tokoh dapat berupa kata-kata percakapan sederhana maupun bunyi-bunyi vokal onomatope khas tokoh.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tes diagnostik peniruan vokal cepat: murid diminta menirukan 1 warna suara tokoh 'Nenek Tua' secara spontan. Acuan: suara parau/serak berirama lambat dihasilkan tanpa jeda ragu lebih dari 5 detik.
Proses:- Pengamatan unjuk kerja dialog vokal berpasangan pada 3 pilihan skenario: (1) Singa Pemimpin (vokal berat/dalam) & Tikus Kecil (vokal melengking/cepat); (2) Robot Mesin (vokal patah-patah/datar) & Anak Sekolah (vokal ceria/luwes); (3) Penjual Pasar (vokal lantang/serak) & Pembeli Ragu (vokal lirih/lambat). Acuan penilaian: ketepatan peniruan ciri vokal sesuai tokoh dan spontanitas respons vokal terhadap lawan main.
Akhir Pertemuan:- Cek vokal spontan penutup: 1 pasang murid menirukan sahutan vokal spontan untuk peran 'Raksasa Lapar' (suara berat/menggelegar) dan 'Kancil' (suara cempreng/lincah). Acuan: kedua murid mengeluarkan karakter suara yang kontras seketika saat aba-aba diberikan.
Formatif:- Observasi unjuk kerja peniruan vokal tokoh dalam dialog berpasangan secara spontan menggunakan lembar amatan rubrik.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Peniruan Suara atau Vokal Sesuai Tokoh | Belum mampu menirukan ciri suara/vokal tokoh yang dimainkan (masih menggunakan suara asli murid sehari-hari). | Mampu menirukan sebagian ciri suara/vokal tokoh yang dimainkan, namun masih sering kembali ke suara asli. | Mampu menirukan suara/vokal sesuai ciri karakter tokoh yang dimainkan secara konsisten sepanjang dialog. | Mampu menirukan suara/vokal sesuai karakter tokoh secara konsisten, jelas variasinya, dan sepenuhnya terbedakan dari suara asli. | | Spontanitas Sahutan Vokal dalam Dialog Berpasangan | Membutuhkan jeda henti yang lama atau panduan penuh guru untuk mengeluarkan suara dalam menyahut vokal pasangan. | Mampu menyahut vokal pasangan namun dengan jeda ragu beberapa saat sebelum menyesuaikan vokal peran. | Mampu menirukan dan merespons suara pasangan dialog secara langsung dan spontan tanpa jeda ragu. | Mampu merespons suara pasangan dialog secara sangat spontan, luwes, dan tanggap mempertahankan karakter vokal tokoh. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah seluruh pasangan murid aktif mengeksplorasi ragam vokal karakter tokoh?
- Apakah kegiatan permainan 'Oper Suara Spontan' efektif melatih kesigapan spontanitas murid tanpa naskah?
Murid:- Suara tokoh manakah yang paling mudah atau paling menantang untuk kamu tirukan tadi?
- Bagaimana perasaanmu saat harus langsung membalas suara temanmu dengan suara tokoh yang lucu?
Pertemuan 5 — Menggunakan Benda Sekitar sebagai Properti Tokoh dalam Adegan Spontan Mandiri — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 3.3.3 Menggunakan properti yang sesuai dengan tokoh yang diperankan dalam adegan spontan
Pendahuluan:- Guru membuka pembelajaran dengan salam, mengajak murid berdoa bersama, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu melatih kemampuan menggunakan benda di sekitar sebagai properti yang sesuai dengan tokoh yang diperankan dalam adegan spontan secara mandiri (2 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik dengan mengangkat sebuah penggaris panjang dan meminta murid menyebutkan fungsi imajinatifnya sebagai properti tokoh; acuan respons yang diterima: pedang (kesatria/pendekar), tongkat jalan (kakek/nenek), termometer raksasa (dokter), tongkat pemandu (petugas upacara) (5 menit).
- Pemanasan 'Sentuh dan Ubah': Murid bergerak bebas di ruang kelas; ketika guru membunyikan lonceng dan menyebut nama benda sekitar (misal: 'Buku'), murid spontan memegang buku dan memperlakukannya sebagai properti tertentu (misal: piring makan, topi, tameng) selama 10 detik (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru memperagakan pemanfaatan 1 benda sekitar (sapu) menjadi 3 properti tokoh yang berbeda: (1) gitar bagi musisi rock, (2) dayung perahu bagi nelayan, dan (3) kuda tunggangan bagi pangeran, untuk menunjukkan cara memegang dan memperlakukan properti agar fungsinya terbaca penonton (10 menit).
- Guru menjelaskan konsep properti dalam teater: benda apa saja di sekitar kita dapat bertransformasi menjadi perlengkapan tokoh asal diperlakukan secara konsisten sesuai bentuk dan cara pakainya dalam adegan spontan (5 menit).
Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):- Tantangan 'Tebak Fungsi Benda' (Menggembirakan): Secara bergiliran dalam lingkaran, setiap murid mengambil 1 benda yang disediakan di 'Kotak Ajaib' (spidol, botol minum, kemoceng, kotak pensil) dan langsung mendemonstrasikan penggunaannya sebagai properti tokoh selama 15 detik tanpa bersuara, sementara teman lain menebak peran atau fungsi propertinya (20 menit).
- Praktik Mandiri 'Adegan Spontan Berproperti': Guru membagikan 1 kartu tantangan peran kepada setiap murid dari 4 opsi kartu berikut: (Kartu 1) Dokter memeriksa pasien menggunakan spidol/botol; (Kartu 2) Petugas kebersihan menyapu taman menggunakan kemoceng/sapu; (Kartu 3) Jurnalis mewawancarai narasumber menggunakan botol/kotak pensil; (Kartu 4) Nelayan menangkap ikan menggunakan penggaris/tongkat (10 menit).
- Setiap murid secara mandiri tampil ke depan kelas selama 1-2 menit untuk memainkan adegan spontan dengan menggunakan minimal 1 benda sekitar yang dipilihnya sebagai properti yang sesuai dengan peran kartu tersebut; guru melakukan observasi formatif terhadap ketepatan penggunaan properti (30 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid duduk melingkar dan melakukan refleksi terbimbing: menceritakan benda apa yang dipilih tadi dan bagaimana cara mereka memegangnya agar penonton mengenali fungsinya sebagai properti tokoh (10 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan pentingnya imajinasi dan konsistensi perlakuan tangan/tubuh terhadap benda sekitar agar dapat menjadi properti pentas yang meyakinkan (3 menit).
- Guru memberikan umpan balik umum terhadap penampilan mandiri murid, mengapresiasi keberanian mencoba properti unik, dan mengingatkan bahwa pada pertemuan berikutnya adegan spontan berproperti akan dilatih secara berpasangan (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan pilihan benda sekitar yang bentuk fisiknya paling mendekati properti aslinya (misal penggaris panjang sebagai tongkat), sedangkan murid yang lebih mahir ditantang menggunakan benda dengan bentuk yang kontras atau multi-fungsi (misal kotak pensil sebagai telepon genggam/kamera).
- Proses: Guru memberikan contoh awalan gestur memegang properti bagi murid yang ragu sebelum memulai adegan mandirinya; bagi murid yang mandiri, guru langsung memberikan giliran improvisasi penuh tanpa aba-aba panduan.
- Produk: Murid yang membutuhkan bimbingan menggunakan 1 benda sebagai 1 fungsi properti tokoh, sedangkan murid yang lebih mahir ditantang menggunakan 1 benda tersebut untuk 2 fungsi properti berbeda dalam 1 rangkaian adegan spontan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik di awal pembelajaran: Guru mengangkat sebuah penggaris panjang dan meminta murid menyebutkan fungsi properti imajinatif yang dapat diperankan (acuan respons tepat: pedang bagi kesatria, tongkat bantu jalan bagi lansia, tongkat komando pemimpin upacara, termometer raksasa bagi dokter; minimal murid mampu menyebutkan 1 fungsi properti yang selaras dengan tokoh).
Proses:- Pengamatan unjuk kerja adegan spontan mandiri menggunakan benda sekitar sebagai properti tokoh (acuan keberhasilan: murid mengambil minimal 1 benda sekitar, memposisikan dan memperlakukannya sesuai wujud properti peran yang didapat dari kartu skenario tanpa menjatuhkan atau memperlakukannya melenceng dari fungsi adegan).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan penutup: Guru meminta 3 perwakilan murid menyebutkan 1 aturan utama saat memperlakukan benda sekitar sebagai properti panggung (acuan: benda harus dipegang/digunakan secara konsisten sesuai bentuk dan fungsi imajinatif tokoh yang diperankan).
Formatif:- Observasi unjuk kerja mandiri adegan spontan menggunakan lembar ceklis ketepatan penggunaan benda sekitar sebagai properti tokoh.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Penggunaan Benda Sekitar sebagai Properti Tokoh dalam Adegan Spontan | Belum mampu menggunakan benda sekitar sebagai properti tokoh; benda hanya dipegang atau diletakkan tanpa perlakuan gerak yang mencerminkan fungsi peran. | Mampu menggunakan benda sekitar sebagai properti tokoh, namun perlakuan terhadap benda masih berubah-ubah atau belum konsisten mencerminkan fungsi properti peran yang dimainkan. | Mampu menggunakan benda sekitar sebagai properti yang sesuai dengan peran tokoh secara tepat dan konsisten sepanjang adegan spontan mandiri. | Mampu menggunakan benda sekitar sebagai properti yang sesuai dengan peran tokoh secara sangat terampil, luwes, dan konsisten memperlakukannya seolah-olah benda nyata tanpa keraguan secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah seluruh murid berani mengeksplorasi benda-benda biasa di kelas menjadi properti imajinatif dalam adegan mandiri?
- Bagian mana dari instruksi atau pemodelan yang paling membantu murid memahami cara memperlakukan benda sesuai fungsinya?
Murid:- Benda apa yang paling kamu sukai saat dijadikan properti pentas hari ini?
- Apakah kamu merasa mudah atau sulit memperlakukan benda biasa seolah-olah menjadi benda lain?
Pertemuan 6 — Menggunakan Properti Pentas Sesuai Tokoh dalam Adegan Spontan Berpasangan — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 3.3.3 Menggunakan properti yang sesuai dengan tokoh yang diperankan dalam adegan spontan
Pendahuluan:- Guru mengondisikan kelas, menyapa murid, memimpin doa, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik dengan memperagakan memegang helm dan meminta murid menyebutkan peran tokoh yang sesuai dari benda tersebut (acuan jawaban: pengendara motor, pembalap, pengemudi ojek daring, astronot, atau pekerja konstruksi) (4 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran bahwa hari ini murid akan berlatih menggunakan properti pentas yang sesuai dengan tokoh yang diperankan dalam adegan spontan berpasangan (3 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna):- Guru mendemonstrasikan bagaimana 2 properti pentas sederhana (misalnya selembar kain selendang dan tongkat kecil) digunakan secara spontan untuk mendukung 2 tokoh yang saling berinteraksi (misalnya: kakek tua yang berjalan memakai tongkat dibantu seorang cucu bertudung kain) (7 menit).
- Guru memandu tanya jawab terarah tentang kesesuaian fungsi properti pentas dengan karakter tokoh, mengamati bahwa posisi dan cara memegang benda memperjelas siapa tokoh yang diperankan (5 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan):- Guru membagi murid ke dalam pasangan-pasangan kecil dan mengajak mereka memainkan permainan tantangan berpasangan 'Kotak Kejutan Properti' yang seru dan dinamis: setiap pasangan mengambil 1 kartu skenario peran dan memilih 2 benda properti yang telah disediakan di meja tengah (10 menit).
- Guru menyediakan 4 set pilihan peran berpasangan: Pasangan 1 (Dokter dan Pasien; properti: selang kecil/stetoskop tiruan dan bantal kecil), Pasangan 2 (Penjual Buah dan Pembeli; properti: keranjang belanja dan dompet/kantong kain), Pasangan 3 (Polisi Lalu Lintas dan Pengendara; properti: pluit/tongkat rambu dan piring plastik/setir tiruan), Pasangan 4 (Petani dan Pembantu Petani; properti: topi caping dan cangkul tiruan/tongkat bambu) (10 menit).
- Setiap pasangan murid melakukan adegan spontan berdurasi 1-2 menit di area pentas kelas, menggunakan properti yang telah dipilih secara tepat sesuai peran tokoh masing-masing saat beradegan bersama pasangan (18 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama pasangannya memeriksa kesesuaian cara mereka memegang dan memperlakukan properti pentas sesuai tokoh masing-masing selama adegan spontan berlangsung (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap keberhasilan murid dalam menggunakan properti pentas secara tepat sesuai peran tokoh dalam adegan spontan (3 menit).
- Guru memandu murid merapikan kembali properti pentas ke tempat penyimpanan secara bersama-sama dan menutup pertemuan dengan doa serta salam (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan beragam benda properti pentas siap pakai (topi, keranjang, tongkat, kain, kacamata mainan, setir tiruan) dengan tingkat kerumitan penggunaan yang bervariasi.
- Proses: Pasangan yang masih ragu diberikan panduan pilihan peran berpasangan langsung beserta benda yang tepat; sedangkan pasangan yang sudah terampil diberi kebebasan memilih benda acak lalu menentukan peran yang selaras secara mandiri.
- Produk: Penggunaan properti dinilai dari ketepatan fungsi perlakuan benda terhadap tokoh dalam adegan spontan berpasangan.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik cepat di awal: Guru mengangkat 1 benda properti (helm) dan meminta murid menyebutkan tokoh yang sesuai (acuan jawaban: pengendara motor, ojek daring, pembalap, astronot, atau pekerja bangunan). Kriteria pemetaan: Murid yang menjawab 1 peran yang sesuai dianggap siap untuk adegan berpasangan; murid yang belum mampu dibantu dengan contoh fungsi benda.
Proses:- Pengamatan langsung selama adegan spontan berpasangan menggunakan 4 set kartu skenario. Kriteria pengamatan: Ketepatan murid memegang dan menggunakan benda sesuai fungsi tokoh dalam kartu (Pasangan 1: stetoskop tiruan untuk memeriksa, bantal sebagai sandaran pasien; Pasangan 2: keranjang menampung barang, dompet untuk membayar; Pasangan 3: pluit/rambu memberi aba-aba, piring/lingkaran diputar sebagai setir; Pasangan 4: topi dipakai di kepala petani, tongkat digerakkan mencangkul).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan singkat di akhir kegiatan inti: Pasangan murid menyebutkan fungsi benda yang mereka gunakan selama adegan spontan (kriteria penerimaan operasional: murid dapat menyebutkan nama peran dan alasan penggunaan benda tersebut relevan dengan tugas/karakter tokohnya).
Formatif:- Observasi unjuk kerja berpasangan menggunakan lembar pengamatan kesesuaian properti pentas dengan tokoh dalam adegan spontan.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Kesesuaian Penggunaan Properti Pentas dengan Tokoh dalam Adegan Spontan | Murid belum memegang atau belum memperlakukan properti pentas sesuai peran tokoh yang dimainkan selama adegan spontan berpasangan. | Murid menggunakan properti pentas tetapi fungsinya belum konsisten mendukung tokoh (masih sering dipegang tanpa fungsi peran atau tertukar fungsinya) selama adegan spontan berpasangan. | Murid menggunakan properti pentas sesuai dengan tokoh yang diperankan secara tepat dan terarah dalam adegan spontan berpasangan dengan sedikit arahan guru. | Murid menggunakan properti pentas secara tepat, konsisten, dan mandiri sesuai dengan karakter tokoh sepanjang adegan spontan berpasangan tanpa perlu diingatkan guru. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah variasi properti pentas yang disediakan memadai untuk mendukung eksplorasi adegan spontan berpasangan murid?
- Bagaimana keterlibatan setiap murid dalam memanfaatkan properti sesuai dengan tokoh pasangannya?
Murid:- Apakah benda yang kamu gunakan tadi sudah cocok dengan tokoh yang kamu perankan bersama temanmu?
- Bagian mana yang paling menyenangkan saat beradegan menggunakan benda bersama pasanganmu?
Pertemuan 7 — Memainkan Lakon Sederhana dalam Cerita secara Berkelompok Melalui Improvisasi — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 3.3.4 Memainkan sebuah lakon dalam cerita secara berkelompok melalui improvisasi
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, mengecek kehadiran, dan mengondisikan ruang kelas agar lapang untuk aktivitas gerak panggung (5 menit).
- Guru melakukan pemanasan imajinasi aksi-reaksi spontan 'Menyambut Hujan': guru menyerukan situasi perubahan cuaca mendadak dan seluruh murid secara spontan merespons dengan tindakan peran tanpa teks naskah hafalan (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu memainkan lakon sederhana dalam cerita secara berkelompok melalui improvisasi spontan bersama teman (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna):- Murid menyimak penjelasan guru mengenai 3 bagian alur lakon sederhana dalam cerita tanpa naskah: bagian awal (mengenalkan situasi tokoh), bagian tengah (munculnya masalah/kejadian tak terduga), dan bagian akhir (tindakan kelompok menyelesaikan masalah) (10 menit).
- Guru memberikan demonstrasi singkat bersama 2 perwakilan murid memainkan cuplikan lakon spontan bertema 'Mencari Kucing Hilang' untuk menunjukkan cara merespons tawaran peran teman tanpa menolak ide lakon (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid dibagi ke dalam kelompok yang terdiri dari 4-5 anak, lalu tiap kelompok memilih 1 dari 4 kartu rangsangan cerita berikut: (1) 'Kereta Mainan Rusak di Taman Kanak-Kanak', (2) 'Tiba-tiba Mati Lampu Saat Belajar Bersama', (3) 'Kucing Masuk ke Ruang Dapur', (4) 'Hujan Deras Saat Berkemah di Halaman' (10 menit).
- Dalam kelompoknya, murid menyepakati pembagian peran tokoh dan mencoba memainkan lakon cerita tersebut secara spontan mengalirkan alur awal, tengah, dan akhir tanpa menghafal teks tertulis (20 menit).
- Setiap kelompok secara bergiliran memainkan lakon sederhana hasil improvisasi kelompoknya di area panggung kelas selama 3-4 menit per kelompok di hadapan kelompok lain yang bertindak sebagai penonton (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama bimbingan guru merefleksikan jalannya permainan lakon kelompok: menyadari bagaimana kesepakatan dan saling merespons antartokoh membuat jalan cerita lakon dapat terselesaikan hingga akhir (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan lisan dan apresiasi terhadap keberanian seluruh kelompok yang berhasil memainkan lakon cerita secara utuh melalui improvisasi (5 menit).
- Guru menutup kegiatan pembelajaran dengan doa bersama dan salam penutup (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Guru menyediakan 4 kartu rangsangan cerita dengan kompleksitas situasi berbeda, mulai dari situasi sehari-hari yang sangat dekat (mati lampu) hingga situasi petualangan sederhana (berkemah di halaman).
- Proses: Kelompok yang masih ragu memulai lakon diberikan rangsangan petunjuk situasi awal oleh guru di samping panggung, sedangkan kelompok yang sudah lancar dibebaskan mengembangkan konflik cerita secara mandiri.
- Produk: Kelompok dapat menyajikan lakon improvisasi dengan dialog spontan sederhana yang fokus pada kejelasan alur lakon 3 bagian (awal-tengah-akhir) sesuai kesepakatan peran masing-masing.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik kesiapan bermain peran spontan pada kegiatan pendahuluan (permainan 'Menyambut Hujan'): Guru mengamati kesiapan murid merespons situasi peran secara spontan tanpa ragu (kriteria siap: murid langsung melakukan aksi peran sesuai situasi tanpa terdiam menunggu naskah atau komando berulang; kriteria belum siap: murid diam terpaku dan meniru gerakan teman di sebelahnya saja).
Proses:- Lembar observasi keterlibatan dan kesinambungan alur lakon saat latihan dan pementasan improvisasi kelompok (memastikan setiap anggota memainkan perannya dan merespons aksi rekan satu kelompok sesuai kartu rangsangan cerita yang dipilih).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman keterlaksanaan lakon di akhir sesi: guru memeriksa keterpenuhan 3 struktur alur cerita (awal: kemunculan tokoh, tengah: kemunculan masalah, akhir: penyelesaian lakon) pada penampilan masing-masing kelompok berdasarkan acuan situasi kartu cerita yang dipilih.
Formatif:- Observasi unjuk kerja saat murid memainkan lakon sederhana dalam cerita secara berkelompok melalui improvisasi di panggung kelas.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Memainkan lakon cerita secara improvisasi kelompok | Belum mampu memainkan lakon cerita secara spontan; alur cerita terhenti di awal dan memerlukan arahan penuh guru untuk melakukan aksi peran kelompok. | Memainkan lakon cerita secara berkelompok melalui improvisasi namun alur cerita belum lengkap (hanya memunculkan bagian awal atau tengah tanpa penyelesaian cerita). | Memainkan lakon cerita secara berkelompok melalui improvisasi dengan alur lengkap (awal, tengah, akhir) dan saling merespons peran tokoh secara terarah. | Memainkan lakon cerita secara berkelompok melalui improvisasi secara sangat lancar, alur utuh mengalir runtut dari awal hingga akhir, serta secara konsisten dan tanggap merespons setiap aksi spontan rekan satu lakon. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu bermain peran kelompok cukup memberi ruang bagi seluruh kelompok untuk tampil memainkan lakon?
- Bagaimana respons dan kerjasama antaranggota kelompok saat menghadapi kebuntuan cerita di atas panggung tanpa naskah?
Murid:- Bagian cerita mana dalam lakon kelompok tadi yang paling seru kalian mainkan secara spontan bersama teman?
- Apa yang kamu lakukan saat teman satu kelompokmu melakukan aksi peran yang tidak kamu duga sebelumnya?
Pertemuan 8 — Menceritakan Pengalaman Bermain Teater dan Improvisasi Kelompok secara Spontan — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 3.3.5 Menceritakan pengalaman dalam bermain teater secara spontan
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, mengajak murid berdoa bersama, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
- Guru mengaitkan pembelajaran dengan aktivitas improvisasi lakon kelompok pada pertemuan sebelumnya serta menyampaikan bahwa hari ini murid akan berlatih menceritakan pengalaman bermain teater tersebut secara langsung dan spontan (4 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui permainan lempar 'Bola Ingatan' dengan mengajukan 1 pertanyaan pemantik cepat: 'Sebutkan 1 kata yang menggambarkan perasaanmu saat berimprovisasi kemarin!' untuk memetakan kesiapan murid dalam merespons pengalaman teater secara spontan (3 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna):- Guru memberikan pengantar dan contoh cara menceritakan pengalaman bermain teater secara spontan dengan alur sederhana: (1) peran yang dimainkan, (2) kejadian menarik/tak terduga saat pentas kelompok, dan (3) perasaan setelah bermain peran (5 menit).
- Guru memperkenalkan 3 kartu panduan bercerita yang berisi pemicu ingatan teater: Kartu 1 (Tentang Peran: 'Peran apa yang kamu mainkan dan bagaimana caramu berimprovisasi?'), Kartu 2 (Tentang Peristiwa Kelompok: 'Apa kejadian lucu atau menantang yang terjadi bersama teman kelompokmu saat adegan berlangsung?'), Kartu 3 (Tentang Perasaan: 'Bagaimana perasaanmu saat cerita berjalan tanpa teks dan apa yang paling kamu sukai?') (5 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru membagi kelas ke dalam lingkaran 'Estafet Cerita Panggung' di mana setiap murid mengambil 1 dari 3 kartu panduan bercerita secara acak, kemudian langsung menceritakan pengalaman bermain teaternya secara spontan dalam waktu 1 menit tanpa membaca catatan (20 menit).
- Selama murid menceritakan pengalamannya, guru mengamati ketercapaian penceritaan pengalaman bermain teater (mencakup peran, kejadian improvisasi kelompok, atau perasaan diri) menggunakan lembar observasi formatif (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Guru memfasilitasi murid duduk melingkar dalam sesi refleksi tenang untuk menyadari kemudahan atau tantangan dalam mengingat dan menceritakan kembali peristiwa panggung teater secara langsung (5 menit).
- Beberapa perwakilan murid mengemukakan secara berkesadaran hal apa yang membuat mereka merasa percaya diri ketika menceritakan pengalaman berteater di depan kelas (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan bahwa setiap pengalaman berteater dan bermain peran spontan memiliki cerita serta pembelajaran yang berharga untuk diingat dan diceritakan kembali (3 menit).
- Guru memberikan umpan balik penguatan terhadap keberanian murid menceritakan pengalaman teater secara langsung tanpa rasa takut (5 menit).
- Guru menutup sesi pembelajaran dengan doa bersama dan salam penutup (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan kartu panduan bercerita dengan simbol visual bagi murid yang memerlukan dukungan pemicu ingatan teater.
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan 1 pertanyaan pemantik terarah oleh guru saat giliran bercerita, sedangkan murid yang sudah mahir langsung menceritakan 3 aspek pengalaman (peran, peristiwa improvisasi kelompok, dan perasaan) secara mandiri dan utuh.
- Produk: Penceritaan pengalaman disampaikan secara lisan langsung, dapat berupa respons 1 aspek utama (untuk murid berproses) maupun 3 aspek lengkap pengalaman panggung (untuk murid mandiri).
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab lisan diagnostik cepat 'Bola Ingatan' di awal sesi: Guru melempar bola kain kecil dan meminta murid menyebutkan 1 kata emosi serta peran yang dimainkan pada latihan teater sebelumnya. Kriteria penerimaan operasional: murid mampu menyebutkan nama peran yang dimainkan (misal: 'kucing', 'petani', 'pohon') dan kata emosi yang dirasakan (misal: 'senang', 'kaget', 'gugup') secara spontan tanpa bantuan.
Proses:- Pengamatan formatif saat kegiatan 'Estafet Cerita Panggung'. Kriteria penerimaan operasional: murid menceritakan pengalaman bermain teater secara spontan berdasarkan kartu pemicu yang diambil (Kartu 1 memuat peran yang dimainkan; Kartu 2 memuat peristiwa/adegan improvisasi kelompok; Kartu 3 memuat perasaan saat berteater) secara langsung tanpa membaca catatan teks.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan penutup: Guru meminta murid mengonfirmasi pemahaman atas pengalamannya dengan menjawab cepat: 'Apa 1 hal paling berharga yang kamu pelajari dari bermain teater kemarin?'. Kriteria penerimaan operasional: murid menyebutkan minimal 1 pengalaman belajar nyata dari latihan teater kelompok (misal: 'belajar kompak dengan teman', 'belajar berani bicara langsung', 'belajar merespons gerak teman').
Formatif:- Observasi unjuk kerja penceritaan lisan pengalaman bermain teater secara spontan berdasarkan 3 kartu panduan bercerita.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menceritakan Pengalaman Bermain Teater secara Spontan | Belum mampu menceritakan pengalaman bermain teater secara lisan meskipun telah diberikan pemicu kartu dan bimbingan guru. | Mampu menceritakan minimal 1 aspek pengalaman bermain teater (hanya menyebutkan peran atau perasaan saja) secara spontan dengan dorongan/pertanyaan panduan guru. | Mampu menceritakan minimal 2 aspek pengalaman bermain teater (mencakup peran dan kejadian saat improvisasi kelompok, atau peran dan perasaannya) secara spontan dan mandiri. | Mampu menceritakan 3 aspek pengalaman bermain teater secara lengkap (mencakup peran, kejadian tak terduga dalam improvisasi kelompok, dan perasaan diri) secara spontan, lancar, dan mandiri tanpa jeda bantuan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alur lingkaran 'Estafet Cerita Panggung' memberi ruang yang cukup bagi setiap murid untuk berani bercerita secara spontan?
- Bagaimana respons dan kesiapan murid dalam mengingat kembali peristiwa panggung yang dialaminya pada pertemuan sebelumnya?
Murid:- Bagian mana dari pengalaman bermain teater kemarin yang paling mudah atau paling kamu suka untuk kamu ceritakan?
- Apakah kamu merasa berani dan percaya diri saat menceritakan pengalamanmu secara langsung tadi?
Pertemuan 9 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 3.3.1 Menirukan gerak tubuh sesuai peran atau perilaku objek sekitar secara spontan
- TP 3.3.2 Menirukan suara atau vokal sesuai tokoh atau peran secara spontan
- TP 3.3.3 Menggunakan properti yang sesuai dengan tokoh yang diperankan dalam adegan spontan
- TP 3.3.4 Memainkan sebuah lakon dalam cerita secara berkelompok melalui improvisasi
- TP 3.3.5 Menceritakan pengalaman dalam bermain teater secara spontan
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan memimpin doa bersama secara khidmat (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif bab, yaitu menampilkan unjuk kerja lakon improvisasi kelompok beranggotakan 4 murid serta menyampaikan refleksi lisan pengalaman bermain teater secara mandiri di forum lingkaran kelas (4 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru menjelaskan tata tertib asesmen sumatif: 7 kelompok beranggotakan 4 murid akan tampil bergantian dengan durasi 7-8 menit per kelompok termasuk transisi panggung; kelompok memilih 1 dari 3 tema skenario stimulus yang disiapkan guru: (1) 'Pasar Tradisional yang Ramai' (tokoh: pedagang sayur, pembeli, kuli panggul, penjual payung; objek pendukung: keranjang/tas, sapu/tongkat kayu, kain lap, topi), (2) 'Petualangan di Hutan Bambu' (tokoh: penjelajah, pemandu hutan, monyet lincah, pohon tua yang bergoyang; objek pendukung: ranting pohon, botol air, tas selempang, tali rafia), atau (3) 'Keluarga Memasak di Dapur Unik' (tokoh: koki cilik, asisten koki, pengantar bahan kue, jam dinding yang berdetak; objek pendukung: sendok kayu/panci mainan, celemek kain, kardus bekas, mangkuk plastik) (5 menit).
- Guru membacakan rubrik asesmen unjuk kerja dan lembar observasi refleksi lisan agar murid memahami dengan berkesadaran aspek penilaian yang diamati: gerak tubuh peran/objek, vokal tokoh, penggunaan benda sekitar sebagai properti, permainan lakon kelompok, dan kelancaran menceritakan pengalaman bermain teater (3 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Tugas Sumatif 1 (Unjuk Kerja Lakon Improvisasi Kelompok): Kelompok 1 sampai dengan Kelompok 7 tampil secara bergiliran di panggung kelas menampilkan lakon cerita spontan berdurasi 7-8 menit per kelompok (total 7 kelompok = 52 menit); setiap murid dalam kelompok memperagakan gerak tubuh spontan sesuai peran atau objek, menirukan vokal karakter, menggunakan benda sekitar kelas sebagai properti lakon yang selaras, serta memainkan jalinan peristiwa lakon cerita bersama kelompoknya tanpa bantuan dialog teks dari guru (52 menit).
- Tugas Sumatif 2 (Refleksi Lisan Pengalaman Berteater): Seluruh murid duduk membentuk lingkaran kelas, kemudian secara bergantian setiap murid menyampaikan respon refleksi lisan mandiri selama 1 menit per anak (28 murid x 1 menit = 28 menit) dengan menjawab 2 pertanyaan terpandu: (1) 'Peran atau objek apa yang kamu mainkan dan bagaimana pengalamanmu memerankannya secara spontan tadi?' dan (2) 'Apa hal yang paling kamu rasakan saat bermain teater bersama teman kelompokmu?' (28 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Guru memberikan rekapitulasi umum dan apresiasi berkesadaran terhadap keseluruhan penampilan unjuk kerja kelompok serta keterbukaan seluruh murid dalam menyampaikan refleksi lisan pengalaman bermain teater (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan menyeluruh atas pencapaian seluruh kompetensi Bab 3 (Improvisasi) dan mengumumkan penyelesaian asesmen sumatif bab (3 menit).
- Guru bersama murid menutup pertemuan dengan doa bersama dan salam penutup (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Akomodasi akses: stimulus tema lakon disediakan dalam bentuk kartu teks bertuliskan pilihan peran dan gambar benda pendukung untuk memudahkan kelompok mengenali opsi tema tanpa mengubah kriteria penilaian.
- Proses: Akomodasi akses: giliran bicara pada lingkaran refleksi lisan dapat menggunakan operan benda estafet (tongkat refleksi) untuk membantu murid yang membutuhkan penanda giliran berbicara tanpa mengubah rubrik penilaian.
- Produk: Standar produk asesmen sumatif seragam untuk seluruh murid: unjuk kerja lakon improvisasi kelompok 4 orang dan penyampaian lisan pengalaman berteater mandiri berdurasi 1 menit per anak.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pengecekan kesiapan teknis pementasan kelompok melalui tanya jawab singkat mengenai kesiapan peran dan properti yang akan digunakan kelompok sebelum asesmen sumatif dimulai (acuan kesiapan: setiap kelompok telah menentukan tema lakon dari 3 opsi tema dan pembagian 4 peran/objek anggota).
Proses:- Pengamatan langsung oleh guru selama pelaksanaan tugas unjuk kerja menggunakan Rubrik Unjuk Kerja Pemeranan Improvisasi Kelompok dan pencatatan respon lisan menggunakan Lembar Observasi Ketercapaian Refleksi Lisan.
Sumatif Bab:- unjuk kerja pementasan lakon improvisasi kelompok dan refleksi lisan terpandu: penampilan lakon cerita spontan kelompok yang memadukan gerak tubuh, olah vokal, dan pemanfaatan properti sekitar, dilanjutkan penyampaian lisan pengalaman bermain teater
- unjuk kerja bermain peran kelompok: penampilan lakon cerita improvisasi kelompok (kelas dibagi menjadi 7 kelompok beranggotakan 4 murid, tampil bergantian selama 7-8 menit per kelompok termasuk transisi) yang memperagakan gerak tubuh spontan sesuai peran/objek, vokal tokoh yang selaras, serta penggunaan benda sekitar sebagai properti lakon (65 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja pemeranan improvisasi kelompok)
- refleksi lisan melingkar: penyampaian lisan pengalaman dan perasaan selama bermain peran spontan dalam forum lingkaran kelas, di mana setiap murid berbagi respon terpandu sekitar 1 menit per anak secara bergiliran (28 murid x 1 menit = 28 menit ditambah 12 menit arahan dan penutupan guru) (40 menit; individual; instrumen: lembar observasi ketercapaian refleksi lisan)
Sumatif:- unjuk kerja pementasan lakon improvisasi kelompok dan refleksi lisan terpandu: penampilan lakon cerita spontan kelompok yang memadukan gerak tubuh, olah vokal, dan pemanfaatan properti sekitar, dilanjutkan penyampaian lisan pengalaman bermain teater
- unjuk kerja bermain peran kelompok: penampilan lakon cerita improvisasi kelompok (kelas dibagi menjadi 7 kelompok beranggotakan 4 murid, tampil bergantian selama 7-8 menit per kelompok termasuk transisi) yang memperagakan gerak tubuh spontan sesuai peran/objek, vokal tokoh yang selaras, serta penggunaan benda sekitar sebagai properti lakon (65 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja pemeranan improvisasi kelompok)
- refleksi lisan melingkar: penyampaian lisan pengalaman dan perasaan selama bermain peran spontan dalam forum lingkaran kelas, di mana setiap murid berbagi respon terpandu sekitar 1 menit per anak secara bergiliran (28 murid x 1 menit = 28 menit ditambah 12 menit arahan dan penutupan guru) (40 menit; individual; instrumen: lembar observasi ketercapaian refleksi lisan)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menirukan Gerak Tubuh Sesuai Peran/Objek (TP 3.3.1) [Acuan: gerak sesuai peran manusia seperti berjalan/memanggul/memasak ATAU perilaku objek/hewan seperti melompat lincah/bergoyang tertiup angin/berdetak kaku] | Belum memperagakan gerak tubuh peran atau perilaku objek sekitar selama adegan berlangsung (gerak diam kaku/pasif). | Memperagakan gerak tubuh peran/objek secara terbatas hanya pada 1 momen adegan dan masih memerlukan instruksi pengingat dari guru. | Menirukan gerak tubuh sesuai peran atau perilaku objek secara spontan dan konsisten sepanjang adegan lakon secara mandiri. | Menirukan gerak tubuh sesuai peran atau perilaku objek secara spontan, luwes, ekspresif, dan konsisten sepanjang adegan lakon secara mandiri. | | Menirukan Suara atau Vokal Sesuai Tokoh/Peran (TP 3.3.2) [Acuan: vokal peran manusia seperti intonasi menawarkan barang/percakapan dapur ATAU tiruan bunyi peran objek/hewan seperti suara monyet 'u-u-a-a'/tiruan detak jam 'tik-tok'] | Belum mengeluarkan suara atau tiruan vokal yang sesuai dengan karakter tokoh/objek yang diperankan sepanjang adegan. | Mengeluarkan vokal tokoh/objek hanya 1 kali secara ragu-ragu dan masih memerlukan dorongan guru. | Menirukan suara atau vokal tokoh/objek secara spontan dan selaras dengan karakter yang dimainkan sepanjang adegan lakon secara mandiri. | Menirukan suara atau vokal tokoh/objek secara spontan, artikulatif, konsisten berkarakter, dan bervariasi sesuai dinamika adegan secara mandiri. | | Menggunakan Properti Pentas Sesuai Tokoh (TP 3.3.3) [Acuan benda: keranjang, tas, sapu, ranting pohon, botol, tali rafia, sendok kayu, kardus, kain celemek, mangkuk plastik] | Tidak menggunakan benda sekitar sama sekali atau menggunakan benda yang sama sekali tidak difungsikan sebagai properti tokoh dalam adegan. | Menggunakan 1 benda sekitar sebagai properti namun penggunaannya terputus dan belum selaras dengan tindakan tokoh dalam adegan. | Menggunakan benda sekitar sebagai properti lakon secara spontan dan fungsinya selaras dengan peran tokoh dalam adegan secara mandiri. | Menggunakan benda sekitar sebagai properti lakon secara spontan, kreatif, tepat fungsi, dan mendukung aksi peran secara konsisten dan mandiri. | | Memainkan Lakon Kelompok Melalui Improvisasi (TP 3.3.4) [Acuan tema: Pasar Tradisional yang Ramai, Petualangan di Hutan Bambu, atau Keluarga Memasak di Dapur Unik] | Belum mampu menjalin aksi peran bersama teman kelompok sehingga jalinan cerita terhenti total. | Memainkan adegan bersama kelompok tetapi hanya merespon aksi teman sebanyak 1 kali dan adegan sering terputus. | Memainkan lakon cerita secara berkelompok melalui improvisasi spontan dengan merespon aksi teman secara terpadu hingga cerita tuntas. | Memainkan lakon cerita secara berkelompok melalui improvisasi spontan dengan saling merespon aksi teman secara luwes, runtut, dan hidup hingga cerita tuntas. | | Menceritakan Pengalaman Bermain Teater (TP 3.3.5) [Acuan respon: menyebutkan peran/objek yang dimainkan, menjelaskan pengalaman peran secara spontan, dan mengungkapkan perasaan/kesan bermain teater] | Belum mampu menceritakan pengalaman bermain peran teater secara lisan saat giliran forum lingkaran. | Menceritakan pengalaman bermain teater secara lisan hanya sebagian (1 dari 2 pertanyaan panduan) dengan jeda lama dan bimbingan guru. | Menceritakan pengalaman dan perasaannya dalam bermain teater secara spontan dan lugas menjawab kedua pertanyaan panduan secara mandiri. | Menceritakan pengalaman dan perasaannya dalam bermain teater secara spontan, runtut, jelas, dan percaya diri menjawab kedua pertanyaan panduan secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 52 menit untuk pementasan 7 kelompok dan 28 menit untuk refleksi lisan lingkaran kelas terlaksana secara efektif dan tepat waktu?
- Bagaimana capaian murid dalam memadukan gerak spontan, olah vokal, dan properti pentas dalam lakon kelompok tanpa naskah tertulis?
Murid:- Bagian cerita apa yang paling seru saat kamu dan teman-temanmu berimprovisasi tadi?
- Benda apa yang paling kamu sukai saat kamu jadikan properti peran dalam bermain teater hari ini?
SUMBER BELAJAR- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
- Ruang kelas/aula yang leluasa untuk gerak tubuh
- Alat pembuat ketukan (peluit/rebana/tepukan tangan) atau musik pengiring untuk tanda mulai dan henti gerak
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi)
- Gambar/foto tokoh berbagai profesi di lingkungan sekitar (polisi lalu lintas, koki, petani, dokter, satpam, petugas kebersihan)
- Ruang kelas yang lapang dan aman untuk bergerak bebas
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi 2023), Bab 3: Improvisasi
- 4 Kartu Karakter Bergambar: Singa, Kakek Tua, Penyihir, dan Tikus Cilik
- Ruang kelas yang cukup lapang untuk lingkaran vokal
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
- Kartu undian pilihan karakter berpasangan (Singa & Tikus, Robot & Anak Sekolah, Penjual & Pembeli).
- Ruang kelas yang leluasa untuk aktivitas olah vokal.
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2023.
- Benda-benda konkret di ruang kelas: sapu, kemoceng, penggaris, kotak pensil, botol minum, buku, spidol.
- Kartu tantangan peran (Dokter, Petugas Kebersihan, Jurnalis, Nelayan).
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas III (Kemendikbudristek, 2023) Bab 3 'Improvisasi'.
- Benda-benda properti pentas kelas: selendang/kain, tongkat kayu pendek, keranjang belanja kecil, topi/caping, piring plastik/lingkaran kardus, bantal kecil, kacamata mainan, dan botol minum plastik.
- Kartu skenario peran berpasangan.
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi, Bab 3 Improvisasi).
- 4 Kartu Rangsangan Cerita Kelompok: (1) Kereta Mainan Rusak di Taman Kanak-Kanak, (2) Tiba-tiba Mati Lampu Saat Belajar Bersama, (3) Kucing Masuk ke Ruang Dapur, (4) Hujan Deras Saat Berkemah di Halaman.
- Ruang kelas yang ditata lapang sebagai area bermain peran/panggung mini.
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi), Bab 3 'Improvisasi'
- Bola kain kecil untuk asesmen diagnostik pemicu 'Bola Ingatan'
- Set kartu panduan bercerita (Kartu 1: Tentang Peran, Kartu 2: Tentang Peristiwa Kelompok, Kartu 3: Tentang Perasaan)
- Benda-benda kelas dan lingkungan sekitar: tas, sapu, kain lap, topi, botol air, ranting kering, tali rafia, sendok kayu, kardus bekas, mangkuk plastik
- Kartu stimulus tema lakon improvisasi kelompok (3 pilihan tema)
- Lembar rubrik penilaian unjuk kerja dan lembar observasi refleksi lisan guru
|