MODUL AJAR Seni Teater — Kelas 3 (Fase B) Topik: Bab 2 — Aku Penulis Cerita INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | Seni Teater |
|---|
| Fase / Kelas | Fase B / Kelas 3 |
|---|
| Topik | Bab 2 — Aku Penulis Cerita |
|---|
| Alokasi Waktu | 28 JP (28 x 35 menit = 980 menit) |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 10 |
|---|
| Tahun Ajaran | 2026/2027 |
|---|
| Semester | 1 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- TP 3.2.1 Mengenali lingkungan sekitarnya sebagai sumber ide cerita lakon
- TP 3.2.2 Mengamati berbagai peran dari tokoh di sekitar untuk menyusun cerita lakon
- TP 3.2.3 Mengidentifikasi bentuk lakon dalam alur cerita sederhana
- TP 3.2.4 Memainkan sebuah lakon dalam cerita sederhana yang telah disusun
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | | | Kewargaan | | | Penalaran Kritis | ✓ | | Kreativitas | ✓ | | Kolaborasi | ✓ | | Kemandirian | ✓ | | Kesehatan | | | Komunikasi | |
PERTANYAAN PEMANTIK- Apa saja tempat menarik yang ada di sekolah kita yang bisa dijadikan latar tempat sebuah cerita?
- Kejadian seru apa yang pernah kalian lihat di lingkungan sekolah yang bisa diubah menjadi ide cerita lakon?
- Peristiwa apa yang pernah kalian lihat atau alami pagi ini saat menuju ke sekolah?
- Bagaimana sebuah kejadian biasa di sekitar kita bisa diubah menjadi ide cerita lakon yang menarik?
- Siapa saja orang-orang yang sering kalian jumpai di sekolah kita setiap hari?
- Apa tugas atau peran khusus yang dilakukan oleh masing-masing orang tersebut?
- Bagaimana ciri khas tugas tokoh di sekolah itu jika kita jadikan cerita lakon?
- Bagaimana kita bisa mengetahui sifat atau karakter seseorang hanya dari melihat cara mereka beraktivitas di sekitar kita?
- Ciri fisik atau kebiasaan apa saja dari orang-orang di sekitar kita yang bisa membuat tokoh cerita lakon menjadi menarik?
- Bagaimana kita mengetahui siapa tokoh yang ada di dalam sebuah cerita saat cerita baru dimulai?
- Apa saja keterangan yang biasanya kita temukan pada bagian awal sebuah lakon cerita?
- Apa yang membuat sebuah cerita menjadi seru dan mendebarkan saat ditonton?
- Bagaimana kita tahu bahwa sebuah masalah dalam cerita sudah berhasil diatasi?
- Bagaimana cara kita mulai memainkan adegan awal agar penonton langsung tahu siapa tokoh yang kita perankan?
- Apa yang perlu dilakukan bersama teman saat membuka cerita lakon di atas panggung?
- Bagaimana caramu memeragakan tokoh saat sedang menghadapi masalah yang mengejutkan?
- Apa yang dilakukan tokohmu di atas panggung ketika masalah dalam cerita akhirnya berhasil diselesaikan?
- Bagaimana perasaanmu saat memainkan keseluruhan cerita dari bagian awal, muncul masalah, sampai selesai bersama teman sekelompok?
- Apa yang harus kita lakukan bersama agar lakon yang kita mainkan tersambung dengan lancar dari awal hingga akhir?
- Bagaimana sebuah peristiwa nyata di sekolah dapat kita ubah menjadi cerita lakon yang seru?
- Bagaimana cara kita bekerja sama memerankan tokoh dan alur cerita agar lakon dapat dimainkan secara utuh?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1 — Mengenali Lingkungan Sekitar Sekolah sebagai Sumber Ide Cerita Lakon — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 3.2.1 Mengenali lingkungan sekitarnya sebagai sumber ide cerita lakon
Pendahuluan:- Guru membuka pelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa singkat (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu belajar mengenali lingkungan sekitar sekolah yang bisa dijadikan sumber ide cerita lakon (2 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik lisan dengan menanyakan: 'Sebutkan 1 tempat di sekolah kita dan 1 hal menarik yang bisa terjadi di sana!' (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Berkesadaran):- Guru menjelaskan konsep bahwa lingkungan sekitar sekolah (halaman, perpustakaan, kantin) dapat menjadi sumber ide cerita lakon sederhana (5 menit).
- Guru menampilkan 3 gambar lingkungan sekolah (halaman upacara, kantin saat istirahat, perpustakaan) dan mengajak murid mengamati hal-hal nyata di gambar tersebut (misal: antrean jajan, mencari buku, lari pagi) yang bisa memicu ide cerita (7 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru memandu permainan interaktif 'Detektif Ide Cerita Sekolah': murid diajak berkeliling sejenak di area sekitar kelas/koridor atau mengamati jendela untuk mencatat 3 sudut lingkungan sekolah (kantin, taman/lapangan, ruang kelas) (13 menit).
- Murid bekerja secara mandiri melengkapi Lembar Pengamatan 'Detektif Ide' dengan mengenali dan mencocokkan 3 situasi lingkungan sekolah menjadi gagasan cerita lakon: (1) Kantin sekolah -> ide cerita: antre tertib atau kejujuran saat jajan; (2) Lapangan/taman sekolah -> ide cerita: kerja sama bermain kelereng atau menolong teman jatuh; (3) Perpustakaan sekolah -> ide cerita: mencari buku dongeng yang hilang atau petualangan membaca buku (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid memeriksa kembali 3 catatan ide ceritanya dan menandai lingkungan mana di sekolah yang paling mudah memunculkan ide cerita bagi dirinya (5 menit).
- Guru memfasilitasi 2-3 murid menyebutkan sudut lingkungan sekolah pilihannya dan alasan mengapa tempat itu menarik dijadikan sumber ide lakon (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan bahwa lingkungan sekitar sekolah menyimpan banyak hal nyata yang dapat menjadi sumber ide cerita lakon (6 menit).
- Guru memberikan penguatan terhadap proses belajar hari ini dan menutup pertemuan dengan doa serta salam (4 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan visual berisi 3 gambar sudut sekolah beserta pilihan kata kunci kejadian; murid yang lebih cepat diberikan kebebasan memilih sudut sekolah lain di luar kelas (misal: UKS atau gerbang sekolah).
- Proses: Guru memberikan scaffolding bertahap dengan memandu pertanyaan pemicu bagi murid yang kesulitan menghubungkan tempat dengan kemungkinan peristiwa cerita.
- Produk: Semua murid tetap menghasilkan 3 identifikasi lingkungan sekolah dan ide ceritanya, baik dituliskan dengan kata kunci sederhana maupun kalimat lengkap.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik di awal pembelajaran: 'Sebutkan 1 tempat di sekitar sekolah dan apa yang terjadi di sana yang bisa jadi ide cerita!' Kriteria penerimaan operasional: murid mampu menyebutkan minimal 1 lokasi nyata di sekolah (misal: kantin, lapangan, perpustakaan, kelas) beserta 1 aktivitas/kejadian wajar di lokasi tersebut (acuan: tempat di sekolah dan aktivitas yang relevan).
Proses:- Observasi formatif saat pengerjaan Lembar Pengamatan 'Detektif Ide': memeriksa ketepatan murid dalam mengenali 3 lingkungan sekolah sebagai sumber ide cerita. Kunci acuan 3 pasangan tepat: (1) Lingkungan kantin -> ide cerita seputar interaksi jajan/kejujuran/antre; (2) Lingkungan lapangan/taman -> ide cerita seputar permainan/olahraga/tolong-menolong; (3) Lingkungan perpustakaan/kelas -> ide cerita seputar membaca/buku/kegiatan belajar.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman di akhir sesi inti: Murid menunjukkan lembar kerja berisi identifikasi 3 lingkungan sekolah dan ide ceritanya. Kriteria ketuntasan: murid tepat mengenali minimal 2 dari 3 lingkungan sekitar sekolah beserta ide cerita lakon yang relevan sesuai kunci acuan.
Formatif:- Penilaian proses unjuk kerja pengamatan lingkungan pada Lembar Pengamatan 'Detektif Ide'
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Mengenali Lingkungan Sekitar Sekolah sebagai Sumber Ide Cerita Lakon | Belum mampu mengenali lingkungan sekitar sekolah sebagai sumber ide cerita (0 dari 3 lingkungan diisi dengan relevan sesuai acuan). | Mengenali 1 dari 3 lingkungan sekitar sekolah sebagai sumber ide cerita secara relevan dengan bimbingan penuh guru. | Mengenali 2 dari 3 lingkungan sekitar sekolah sebagai sumber ide cerita secara tepat dan relevan sesuai acuan secara mandiri. | Mengenali seluruh 3 lingkungan sekitar sekolah (kantin, lapangan/taman, dan perpustakaan/kelas) sebagai sumber ide cerita lakon secara tepat, runtut, dan mandiri tanpa kekeliruan. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah kegiatan mengamati lingkungan sekolah berhasil memancing daya imajinasi murid untuk menemukan ide cerita lakon?
- Bagian mana dari langkah pembelajaran yang paling membantu murid memahami bahwa cerita teater berakar dari lingkungan nyata di sekitarnya?
Murid:- Tempat mana di sekolah yang paling kamu sukai untuk dijadikan tempat cerita lakon?
- Apakah kamu merasa mudah menemukan ide cerita dari apa yang kamu lihat di sekitar sekolah hari ini?
Pertemuan 2 — Mengenali Peristiwa Keseharian di Lingkungan Sekitar sebagai Sumber Ide Cerita Lakon — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 3.2.1 Mengenali lingkungan sekitarnya sebagai sumber ide cerita lakon
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa bersama (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik dengan membacakan sebuah peristiwa pendek: 'Budi terburu-buru memakai sepatu hingga salah pasang kiri dan kanan saat bel berbunyi', lalu meminta murid mengenali apakah kejadian nyata tersebut dapat dijadikan ide cerita lakon beserta alasannya (kriteria penerimaan: murid dapat mengenali kejadian sebagai bahan cerita lakon karena memuat kejadian nyata yang menarik/lucu) (10 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu mengenali peristiwa keseharian di lingkungan sekitar (rumah, perjalanan, atau sekolah) sebagai sumber ide cerita lakon (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna):- Guru menyajikan 3 kartu narasi peristiwa keseharian di papan tulis: Kartu 1: 'Kucing masuk ke ruang kelas saat pelajaran', Kartu 2: 'Antre membeli es teh di kantin yang tumpah', dan Kartu 3: 'Pensil warna kesayangan terjatuh di sela meja'. Guru membimbing murid mencermati bahwa peristiwa nyata di sekitar memiliki kejadian menarik yang bisa menjadi sumber cerita lakon (15 menit).
- Murid secara interaktif membedah unsur peristiwa pada Kartu 1 (kucing masuk kelas: apa yang terjadi dan reaksi orang di sekitar) untuk mengenali bagian mana dari peristiwa tersebut yang berpotensi menjadi cerita lakon yang hidup (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru mengadakan permainan tantangan berpasangan 'Detektif Peristiwa': setiap pasangan memilih 1 dari 3 kartu skenario peristiwa keseharian yang dibagikan guru (Skenario A: 'Hujan deras tiba-tiba turun saat jemuran belum diangkat'; Skenario B: 'Mencari kunci sepeda yang terselip di saku tas'; Skenario C: 'Berebut tempat duduk di bus sekolah') (10 menit).
- Setiap pasangan berdiskusi untuk mengenali dan mencatat pada Lembar Detektif Ide: (a) peristiwa keseharian yang dipilih, dan (b) 1 ide cerita lakon sederhana yang lahir dari peristiwa tersebut (kriteria: memuat peristiwa nyata dan ide cerita lakon yang relevan) (15 menit).
- Perwakilan pasangan secara bergantian menyebutkan hasil pengenalan peristiwa dan ide cerita lakon yang mereka temukan dari kartu skenario masing-masing (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid secara individu memeriksa kembali hasil catatannya dengan panduan pertanyaan guru: 'Apakah peristiwa keseharian yang saya pilih benar-benar terjadi di sekitar kita dan mudah dijadikan ide cerita?' (10 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan bahwa segala peristiwa sederhana dalam keseharian di lingkungan sekitar dapat menjadi sumber ide cerita lakon yang menarik (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik atas keberhasilan murid mengenali peristiwa keseharian, menyampaikan tindak lanjut untuk mengamati tokoh pada pertemuan berikutnya, dan menutup pembelajaran dengan doa bersama (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu skenario bergambar dengan teks peristiwa yang sangat konkret; murid yang sudah mahir diberikan kartu skenario peristiwa yang lebih terbuka untuk digali ide ceritanya.
- Proses: Murid yang memerlukan pendampingan dibimbing guru dengan pertanyaan penuntun terarah, sedangkan murid yang mandiri langsung bekerja sama menyelesaikan lembar detektif ide.
- Produk: Hasil pengenalan ide cerita dapat dituangkan dalam bentuk tulisan kalimat sederhana atau dilengkapi gambar sketsa peristiwa.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik di pendahuluan: Guru membacakan narasi peristiwa 'Budi salah memakai sepatu kiri dan kanan karena terburu-buru', lalu murid mengenali apakah peristiwa itu bisa jadi ide cerita lakon (Kriteria penerimaan: murid mengenali peristiwa tersebut sebagai sumber ide cerita lakon yang memuat kejadian nyata dan menarik).
Proses:- Pengamatan keterlibatan dan ketepatan murid mengenali peristiwa keseharian serta merumuskan ide cerita lakon pada Lembar Detektif Ide dengan 3 kartu skenario (Skenario A: Hujan deras tiba-tiba; Skenario B: Kunci sepeda terselip; Skenario C: Berebut tempat duduk).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman di akhir sesi inti melalui reviu Lembar Detektif Ide: murid memastikan telah mengenali 1 peristiwa nyata di sekitar dan mencetuskan 1 ide cerita lakon yang berkesesuaian (kriteria: peristiwa nyata di sekitar dan ide cerita logis saling terhubung).
Formatif:- Penilaian unjuk kerja pengisian Lembar Detektif Ide (mengenali peristiwa keseharian di lingkungan sekitar sebagai sumber ide cerita lakon).
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Mengenali peristiwa keseharian sebagai sumber ide cerita lakon | Belum mampu mengenali peristiwa keseharian di lingkungan sekitar sebagai sumber ide cerita lakon meskipun dengan bimbingan penuh guru. | Mampu mengenali peristiwa keseharian di lingkungan sekitar sebagai sumber ide cerita lakon dengan bantuan dan arahan guru. | Mampu mengenali peristiwa keseharian di lingkungan sekitar sebagai sumber ide cerita lakon secara tepat dan mandiri. | Mampu mengenali lebih dari satu peristiwa keseharian di lingkungan sekitar dan mengaitkannya secara mendalam menjadi beragam ide cerita lakon yang runtut dan mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah pemilihan contoh peristiwa keseharian cukup dekat dan kontekstual dengan kehidupan nyata murid kelas 3?
- Bagaimana keterlibatan murid dalam mengenali peristiwa sekitar saat permainan Detektif Peristiwa berlangsung?
Murid:- Peristiwa keseharian apa yang paling mudah kamu temukan untuk dijadikan ide cerita lakon?
- Bagian mana dari kegiatan hari ini yang paling menyenangkan bagimu?
Pertemuan 3 — Mengamati Berbagai Peran Tokoh di Lingkungan Sekolah untuk Cerita Lakon — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 3.2.2 Mengamati berbagai peran dari tokoh di sekitar untuk menyusun cerita lakon
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam pembuka, menyapa murid, dan memandu doa bersama (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu mengamati berbagai peran tokoh di lingkungan sekolah yang nantinya dapat dijadikan tokoh dalam cerita lakon (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal berupa kuis tebak peran cepat: guru menyebutkan 3 tugas nyata di sekolah ('membunyikan bel dan menjaga gerbang', 'meminjamkan buku bacaan di rak', 'mengajar matematika di kelas') dan murid menjawab nama tokoh perannya secara lisan (acuan jawaban: penjaga sekolah/satpam, petugas perpustakaan, guru) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Berkesadaran):- Murid menyimak penjelasan interaktif guru mengenai apa itu 'tokoh' dan 'peran' dalam cerita lakon teater, bahwa tokoh di sekitar kita memiliki peran, tugas, dan kegiatan yang khas (10 menit).
- Guru menyajikan 4 kartu profil tokoh lingkungan sekolah beserta deskripsi perannya: (1) Tokoh Guru Kelas (peran: mengajar dan mendampingi belajar), (2) Tokoh Petugas Kebersihan (peran: menyapu halaman dan merawat taman), (3) Tokoh Penjaga Kantin (peran: melayani pembelian makanan dan menyiapkan jajanan sehat), dan (4) Tokoh Petugas Keamanan/Satpam (peran: menjaga ketertiban gerbang dan menyeberangkan murid) (10 menit).
- Secara terbimbing, murid bersama guru membedah ciri tugas dan aktivitas khas dari masing-masing 4 tokoh tersebut untuk memahami bagaimana peran tokoh dapat menjadi penggerak cerita lakon (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid dibagi menjadi kelompok beranggotakan 3-4 orang untuk memainkan permainan pengamatan peran 'Detektif Tokoh Sekolah': setiap kelompok menerima Lembar Pengamatan Tokoh Sekolah yang memuat 4 tokoh target (Guru, Petugas Kebersihan, Penjaga Kantin, Satpam Sekolah) (10 menit).
- Setiap kelompok berdiskusi mengamati dan mencatat rincian peran dari 4 tokoh tersebut ke dalam tabel lembar pengamatan: nama tokoh, tugas/peran utama di sekolah, serta benda/alat yang biasa digunakan dalam menjalankan peran tersebut (acuan: Guru -> mengajar/buku/spidol; Petugas Kebersihan -> membersihkan lingkungan/sapu/tempat sampah; Penjaga Kantin -> menyiapkan dan menjual makanan/piring/nampan; Satpam -> mengamankan gerbang/peluit/buku tamu) (10 menit).
- Tantangan Menggembirakan: Perwakilan tiap kelompok secara bergiliran mengambil 1 'Kartu Benda Tokoh' misterius (pilihan kartu: Peluit, Sapu Lidi, Buku Absensi, Penjepit Makanan) lalu menyebutkan dengan tepat peran tokoh sekolah mana yang memiliki tugas berkaitan dengan benda tersebut (acuan: Peluit -> Satpam; Sapu Lidi -> Petugas Kebersihan; Buku Absensi -> Guru; Penjepit Makanan -> Penjaga Kantin) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid secara berpasangan saling memeriksa hasil isian Lembar Pengamatan Tokoh Sekolah milik teman sebelahnya untuk mengecek kelengkapan peran 4 tokoh yang diamati (10 menit).
- Murid membagikan satu hal menarik tentang peran tokoh sekolah yang baru disadarinya setelah melakukan pengamatan terarah hari ini (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan hasil pengamatan mengenai 4 peran tokoh di lingkungan sekolah yang dapat digunakan untuk bahan lakon cerita sederhana (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik atas ketepatan hasil pengamatan peran tokoh murid dan menginformasikan bahwa pengamatan karakter tokoh akan dilanjutkan pada pertemuan berikutnya, lalu menutup pembelajaran dengan doa bersama (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Bagi murid yang membutuhkan bimbingan disediakan kartu bantuan bergambar tokoh beserta peralatannya; bagi murid yang lebih cepat disediakan kolom pengamatan tambahan untuk 2 tokoh pelengkap (Petugas UKS dan Kepala Sekolah).
- Proses: Murid yang masih kesulitan didampingi secara langsung oleh guru saat menguraikan peran tokoh pada lembar pengamatan; murid yang mandiri bekerja sama menyelesaikan analisis peran dalam kelompok kecil.
- Produk: Murid dapat mencatat hasil pengamatan peran tokoh dalam bentuk tabel tertulis singkat berpasangan kata atau melengkapinya dengan simbol gambar peralatan tokoh.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab lisan diagnostik di awal pembelajaran tentang 3 peran tokoh sekolah (acuan: soal 1 tugas membunyikan bel/jaga gerbang -> satpam/penjaga sekolah; soal 2 tugas meminjamkan buku rak -> petugas perpustakaan; soal 3 tugas mengajar kelas -> guru).
Proses:- Pemeriksaan Lembar Pengamatan Tokoh Sekolah saat tahap Mengaplikasi dengan acuan 4 tokoh target: (1) Tokoh Guru (tugas: mengajar/alat: spidol atau buku), (2) Tokoh Petugas Kebersihan (tugas: menyapu atau merawat tanaman/alat: sapu atau tempat sampah), (3) Tokoh Penjaga Kantin (tugas: menjual jajanan atau melayani makanan/alat: piring atau nampan atau penjepit makanan), (4) Tokoh Satpam (tugas: menjaga keamanan gerbang/alat: peluit atau buku tamu).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman di akhir sesi: murid menyebutkan peran utama dari 2 tokoh sekolah yang dipilih secara acak (kriteria: peran yang disebutkan sesuai dengan tugas nyata dan fungsi tokoh di lingkungan sekolah berdasarkan hasil pengamatan).
Formatif:- Penilaian Kinerja Lembar Pengamatan Tokoh Sekolah (mengamati peran, tugas, dan alat dari 4 tokoh sekolah)
- Observasi partisipasi dan keaktifan murid selama permainan 'Detektif Tokoh Sekolah'
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Pengamatan Peran Tokoh Sekolah | Hanya mampu mengidentifikasi tugas/peran dari 1 tokoh sekolah dengan tepat sesuai acuan 4 tokoh target (Guru, Petugas Kebersihan, Penjaga Kantin, Satpam). | Mampu mengidentifikasi tugas/peran dari 2 tokoh sekolah dengan tepat sesuai acuan 4 tokoh target. | Mampu mengidentifikasi tugas/peran dari 3 tokoh sekolah dengan tepat sesuai acuan 4 tokoh target. | Mampu mengidentifikasi tugas/peran dari seluruh 4 tokoh sekolah dengan tepat dan lengkap beserta alat pendukungnya sesuai acuan 4 tokoh target secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah aktivitas pengamatan peran tokoh sekolah membantu murid mengenali variasi tokoh untuk lakon cerita?
- Bagian mana dari kegiatan permainan kelompok yang paling efektif memunculkan keaktifan murid?
Murid:- Tokoh sekolah mana yang menurutmu paling menarik untuk dimasukkan ke dalam cerita lakon?
- Apa tugas dari tokoh sekolah tersebut yang paling mudah kamu kenali hari ini?
Pertemuan 4 — Mengamati Karakter Tokoh di Lingkungan Sekitar untuk Menyusun Cerita Lakon — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 3.2.2 Mengamati berbagai peran dari tokoh di sekitar untuk menyusun cerita lakon
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa bersama (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu mengamati karakter dan ciri-ciri tokoh di lingkungan sekitar yang dapat dimasukkan ke dalam cerita lakon (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menampilkan 1 gambar ilustrasi seorang penjaga perpustakaan (kacamata di ujung hidung, membawa tumpukan buku rapi, tersenyum ramah) lalu meminta murid menyebutkan 2 ciri karakter tokoh tersebut berdasarkan gambar (acuan: ciri fisik memakai kacamata/membawa buku rapi, ciri watak/sifat ramah/tertib) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru memandu murid mencermati 3 kartu profil tokoh lingkungan sekitar yang disiapkan guru: Kartu 1 'Pak Satpam Sekolah' (ciri fisik: seragam rapi, peluit di leher; watak: tegas, selalu waspada, sigap membantu menyeberang); Kartu 2 'Ibu Penjual Kantin' (ciri fisik: celemek bunga-bunga, selalu membawa sendok sayur; watak: ceria, ramah, suka tersenyum lebar); Kartu 3 'Petugas Kebersihan Taman' (ciri fisik: topi caping, membawa sapu lidi; watak: tekun, sabar, teliti) (15 menit).
- Guru menjelaskan bahwa karakter tokoh dalam cerita lakon terdiri dari dua hal utama yang bisa diamati: ciri tampak/fisik (benda bawaan, pakaian, ekspresi khas) dan sifat/watak (cara bersikap saat menjalankan perannya) (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru membagikan LKPD 'Kartu Karakter Tokoh Lakon' kepada setiap murid untuk diisi berdasarkan pengamatan terhadap tokoh di sekitar (misalnya pedagang keliling, guru piket, dokter puskesmas, atau sopir angkutan) (5 menit).
- Melalui tantangan seru 'Detektif Karakter', murid berpasangan saling menebak tokoh rahasia dengan memberikan 2 petunjuk ciri fisik dan 1 petunjuk watak hasil pengamatan lingkungan, lalu pasangan menebak peran tokoh yang dimaksud secara bergantian (15 menit).
- Setiap murid secara mandiri melengkapi LKPD 'Kartu Karakter Tokoh Lakon' dengan menuliskan nama peran tokoh pilihan, 2 ciri fisik/kebiasaan khas yang teramati, serta 1 sifat/watak tokoh yang akan dipakai dalam rancangan cerita lakon (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama bimbingan guru meninjau kembali kartu karakter yang telah diisi, memeriksa apakah karakter tokoh yang diamati sudah cukup jelas untuk dihidupkan dalam cerita lakon (10 menit).
Penutup:- Murid bersama guru menyimpulkan bahwa setiap tokoh di lingkungan sekitar memiliki keunikan fisik dan watak tersendiri yang membuat cerita lakon terasa hidup (5 menit).
- Guru memberikan asesmen akhir berupa 2 pertanyaan cek pemahaman secara lisan mengenai komponen karakter tokoh (ciri fisik dan watak), memberikan apresiasi atas ketelitian murid dalam mengamati, serta menutup pembelajaran dengan doa bersama (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan bergambar dengan pilihan kata sifat dan ciri fisik terstruktur; murid berkemampuan cepat dapat mengamati tokoh dengan variasi peran yang lebih beragam.
- Proses: Murid yang memerlukan pendampingan dibantu guru melalui pertanyaan penuntun dalam mengidentifikasi ciri fisik dan watak tokoh; murid yang mandiri langsung mengisi lembar kartu karakter.
- Produk: Murid dapat menuangkan hasil pengamatan karakter tokoh dalam bentuk tulisan deskripsi sederhana atau disertai gambar ilustrasi ciri khas tokoh.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik singkat di pendahuluan: murid mengamati gambar ilustrasi penjaga perpustakaan dan menyebutkan 2 ciri karakter yang teramati (acuan jawaban: ciri fisik berkacamata/membawa tumpukan buku; ciri sifat ramah/tertib/suka membaca).
Proses:- Pemeriksaan lembar kerja 'Kartu Karakter Tokoh Lakon' pada tahap Mengaplikasi dengan kriteria: (1) ketepatan menentukan 1 peran tokoh nyata di sekitar, (2) ketepatan menuliskan minimal 2 ciri fisik/kebiasaan tampak, (3) ketepatan mengidentifikasi minimal 1 sifat/watak tokoh untuk cerita lakon.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan penutup: (1) 'Sebutkan 2 unsur yang kita amati saat mengenali karakter tokoh di sekitar!' (acuan jawaban benar: ciri fisik/kebiasaan tampak dan watak/sifat); (2) 'Mengapa mengamati karakter orang di sekitar penting saat merancang cerita lakon?' (kriteria penerimaan: jawaban mengaitkan bahwa pengamatan membuat tokoh cerita lebih jelas, nyata, atau hidup).
Formatif:- Pengamatan keterlibatan murid dalam kegiatan tantangan tebak karakter berpasangan
- Pemeriksaan hasil isian LKPD 'Kartu Karakter Tokoh Lakon' (kelengkapan identifikasi peran, ciri fisik, dan watak tokoh)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Pengamatan Karakter Tokoh di Sekitar untuk Cerita Lakon | Belum mampu mengidentifikasi peran tokoh di sekitar, atau hanya menyebutkan nama tokoh tanpa ciri fisik maupun sifat tokoh. | Mampu mengidentifikasi 1 peran tokoh di sekitar, namun hanya memuat 1 ciri fisik tampak dan belum memuat sifat/watak tokoh dengan tepat. | Mampu mengidentifikasi 1 peran tokoh di sekitar secara tepat dengan memuat minimal 2 ciri fisik tampak dan 1 sifat/watak tokoh sesuai hasil pengamatan. | Mampu mengidentifikasi lebih dari 1 peran tokoh di sekitar secara mandiri dan rinci, memuat lebih dari 2 ciri fisik spesifik serta sifat/watak tokoh yang relevan untuk kebutuhan cerita lakon. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah contoh kartu profil tokoh yang disajikan cukup konkret dan dekat dengan pengalaman sehari-hari murid?
- Bagaimana keterlibatan murid saat mengamati dan membedakan antara ciri fisik tampak dan sifat/watak tokoh?
Murid:- Apa ciri karakter tokoh di sekitarmu yang paling mudah kamu amati hari ini?
- Bagian mana dari kegiatan membuat kartu karakter tokoh yang paling kamu sukai?
Pertemuan 5 — Mengidentifikasi Bentuk Lakon Bagian Awal dan Pengenalan Tokoh dalam Cerita Sederhana — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 3.2.3 Mengidentifikasi bentuk lakon dalam alur cerita sederhana
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengondisikan suasana belajar yang tertib (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu mengidentifikasi bagian awal dan pengenalan tokoh dalam alur cerita lakon sederhana (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat dengan membacakan kutipan: 'Pagi hari di halaman sekolah, Doni yang periang sedang menyapu dedaunan kering.' Guru menanyakan: 'Apakah ini bagian awal atau akhir cerita? Siapa tokoh yang dikenalkan?' (acuan: bagian awal; tokoh Doni berwatak periang) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Berkesadaran):- Guru menyajikan contoh teks pembuka lakon: 'Di sebuah kebun bunga yang asri, hiduplah Kiko si kelinci yang ramah dan suka menolong teman-temannya.' (10 menit).
- Guru membimbing murid menelaah ciri bagian awal lakon yang berisi pengenalan tokoh (nama dan sifat) serta latar cerita sebelum peristiwa masalah terjadi (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):- Murid melakukan permainan interaktif 'Tebak Kartu Awal': murid secara berpasangan mencermati 4 kartu kutipan alur dan mengidentifikasi mana yang merupakan bagian awal cerita beserta pengenalan tokohnya (15 menit).
- Teks pada 4 kartu tersebut: Kartu 1: 'Di tepi sungai yang jernih, Kiki seekor kura-kura yang sabar sedang berjemur.' Kartu 2: 'Tiba-tiba jembatan bambu itu patah terbelah dua.' Kartu 3: 'Akhirnya mereka berdua selamat dan kembali bersahabat.' Kartu 4: 'Di ruang kelas 3 yang cerah, Rina anak yang rajin sedang merapikan buku.' (Kunci: Kartu 1 dan Kartu 4 adalah bagian awal; tokoh Kartu 1: Kiki si kura-kura sabar; tokoh Kartu 4: Rina anak rajin; Kartu 2 bagian masalah; Kartu 3 bagian penyelesaian) (15 menit).
- Secara mandiri, murid mengerjakan Lembar Latihan Mengidentifikasi Bagian Awal Lakon yang memuat 3 cuplikan cerita pendek (Cerita A: 'Di sebuah desa yang damai, hiduplah Pak Danu seorang petani tua yang penyabar.'; Cerita B: 'Seketika hujan badai datang merusak tanaman jagung.'; Cerita C: 'Di sebuah perpustakaan kota yang tenang, Maya siswi yang gemar membaca sedang duduk di dekat jendela.') untuk menandai bagian awal dan menuliskan nama serta sifat tokoh yang dikenalkan (Kunci: Cerita A = bagian awal, tokoh Pak Danu sifat penyabar; Cerita B = bukan bagian awal melainkan masalah; Cerita C = bagian awal, tokoh Maya sifat gemar membaca) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Guru bersama murid mencocokkan hasil identifikasi dan membahas tanda pengenal bagian awal alur cerita (10 menit).
Penutup:- Murid dan guru menyimpulkan bahwa bagian awal lakon berfungsi memperkenalkan tokoh, sifat tokoh, dan latar tempat sebelum masalah muncul (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik dan menyampaikan bahwa pertemuan berikutnya akan mempelajari bagian masalah dan penyelesaian lakon (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Bagi murid yang memerlukan bimbingan, teks cuplikan diberi cetak tebal pada kata kunci nama tokoh dan sifat tokoh.
- Proses: Murid yang mahir mengidentifikasi pengenalan tokoh pada cuplikan cerita dengan kalimat yang lebih panjang secara mandiri, sementara murid yang masih berkembang didampingi dengan pembacaan terpandu.
- Produk: Murid dapat menunjukkan bagian awal dan pengenalan tokoh dengan melingkari langsung pada lembar kerja atau menuliskannya di tabel yang tersedia.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pertanyaan diagnostik lisan: 'Pagi hari di halaman sekolah, Doni yang periang sedang menyapu dedaunan kering. Manakah nama tokoh dan sifatnya, serta apakah ini awal cerita?' (acuan: awal cerita; tokoh Doni; sifat periang).
Proses:- Pemeriksaan ketepatan pengerjaan Lembar Latihan: murid menandai bagian awal cerita dan mencatat pengenalan tokoh pada 3 kutipan teks (acuan: Cerita A = awal cerita, tokoh Pak Danu yang penyabar; Cerita B = bukan awal cerita melainkan masalah; Cerita C = awal cerita, tokoh Maya yang gemar membaca).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan di akhir sesi: 'Sebutkan 2 hal penting yang harus ada pada bagian awal lakon cerita!' (acuan: pengenalan tokoh beserta karakternya, serta latar tempat/waktu sebelum terjadi masalah).
Formatif:- Penilaian proses melalui Lembar Latihan Mengidentifikasi Bagian Awal Lakon dan Pengenalan Tokoh
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Mengidentifikasi bagian awal lakon dan pengenalan tokoh dalam alur cerita sederhana | Belum mampu mengidentifikasi bagian awal lakon dan belum mampu mengenali tokoh pada cuplikan alur cerita sederhana (0 dari 3 cuplikan tepat sesuai acuan Cerita A, B, C). | Mampu mengidentifikasi 1 dari 3 cuplikan alur cerita bagian awal beserta pengenalan tokohnya secara tepat sesuai acuan Cerita A, B, C. | Mampu mengidentifikasi 2 dari 3 cuplikan alur cerita bagian awal beserta pengenalan tokohnya secara tepat sesuai acuan Cerita A, B, C. | Mampu mengidentifikasi seluruh 3 cuplikan alur cerita bagian awal beserta pengenalan tokohnya secara lengkap dan tepat tanpa kekeliruan sesuai acuan Cerita A, B, C. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah murid dapat membedakan dengan jelas antara bagian awal lakon dan bagian masalah?
- Apakah media teks cuplikan alur cerita cukup mudah dipahami oleh murid kelas 3?
Murid:- Apa tanda yang paling mudah membantumu mengenali bahwa sebuah bacaan adalah bagian awal cerita?
- Bagian mana dari kegiatan hari ini yang paling kamu sukai?
Pertemuan 6 — Mengidentifikasi Bentuk Lakon Bagian Masalah dan Penyelesaian dalam Alur Cerita Sederhana — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 3.2.3 Mengidentifikasi bentuk lakon dalam alur cerita sederhana
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa singkat bersama (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik dengan membacakan penggalan cerita: 'Kiki melihat kucingnya tersangkut di atas pohon, lalu Kiki memanggil Kakak untuk mengambil tangga dan menurunkan kucing dengan aman.' Guru meminta murid mengidentifikasi bagian mana yang merupakan masalah dan mana yang merupakan penyelesaian (acuan diagnostik: masalah = kucing tersangkut di pohon; penyelesaian = Kiki memanggil Kakak untuk mengambil tangga dan menurunkan kucing) (10 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu mengidentifikasi bagian masalah (tengah/puncak) dan penyelesaian (akhir) dalam alur cerita sederhana menggunakan bagan Gunung Cerita (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna, Berkesadaran):- Guru menggambar bagan 'Gunung Cerita' di papan tulis dan menjelaskan bahwa bagian puncak gunung adalah 'Masalah/Tantangan' (titik seru/konflik), sedangkan lereng turun menuju akhir adalah 'Penyelesaian' (cara mengatasi masalah) (10 menit).
- Guru membacakan teks cerita sederhana berjudul 'Pensil Warna Dodi': 'Dodi sedang asyik menggambar pemandangan di kelas (awal). Tiba-tiba, pensil warna hijau miliknya patah dan hilang menggelinding ke bawah lemari yang terkunci (masalah). Dodi kemudian meminjam penggaris panjang milik Rian untuk mengait pensil warna itu hingga berhasil keluar dan ia bisa melanjutkan menggambar (penyelesaian).' (10 menit).
- Guru memandu tanya jawab kelas untuk mengidentifikasi bagian masalah dan penyelesaian dari teks tersebut, lalu menempelkan label teks pada bagan Gunung Cerita di papan tulis (acuan: masalah = pensil warna hijau patah dan menggelinding ke bawah lemari terkunci; penyelesaian = meminjam penggaris panjang milik Rian untuk mengait pensil keluar) (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru membagi murid menjadi kelompok kecil beranggotakan 3-4 anak dan memberikan permainan tantangan kelompok 'Detektif Gunung Cerita', di mana setiap kelompok menerima Lembar Kerja berisi 2 cuplikan cerita lakon sederhana untuk diidentifikasi bagian masalah dan penyelesaiannya (5 menit).
- Kelompok bekerja sama menganalisis cuplikan teks. Teks 1: 'Sari ingin menyiram tanaman di kebun sekolah, tetapi embernya bocor sehingga airnya habis terbuang (masalah). Sari menemukan selotip tebal di ruang kelas dan menempelkannya rapat-rapat pada ember yang bocor hingga air tidak menetes lagi (penyelesaian).' Teks 2: 'Budi lupa membawa topi upacara dan takut ditegur guru (masalah). Teman sebangkunya, Doni, meminjamkan topi cadangan yang ada di dalam tasnya sehingga Budi bisa mengikuti upacara dengan tenang (penyelesaian).' Murid mengidentifikasi dengan menuliskan atau melingkari bagian masalah dan penyelesaian sesuai acuan tersebut (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Guru memfasilitasi perwakilan kelompok mencocokkan hasil identifikasinya dengan kunci jawaban di papan tulis dan bersama-sama mengecek ketepatan penentuan bagian masalah serta penyelesaian pada kedua teks cerita (15 menit).
- Murid merefleksikan proses belajarnya dengan menjawab panduan guru: 'Apakah bagian masalah selalu membuat cerita menegangkan? Bagaimana cara kita membedakan bagian masalah dengan bagian cara mengatasinya?' (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan bahwa dalam alur cerita sederhana terdapat bagian masalah (kejadian yang menguji tokoh) dan bagian penyelesaian (tindakan untuk menuntaskan masalah) (5 menit).
- Guru memberikan lembar cek pemahaman akhir berupa kuis 1 butir pengelompokan singkat, menyampaikan apresiasi atas kerja sama seluruh kelompok, dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan teks dengan kalimat yang lebih pendek dan kata kunci masalah/solusi yang ditebalkan; murid berkemampuan lebih cepat diberikan teks narasi dengan 2 pilihan penyelesaian untuk diidentifikasi mana penyelesaian yang paling tuntas.
- Proses: Kelompok yang memerlukan pendampingan dibimbing guru dengan membacakan teks kalimat demi kalimat; kelompok mandiri langsung berdiskusi dan menuliskan hasil identifikasi secara mandiri.
- Produk: Murid dapat menunjukkan identifikasi bagian masalah dan penyelesaian melalui penulisan langsung di lembar kerja atau memberi garis bawah berwarna berbeda (merah untuk masalah, hijau untuk penyelesaian).
Asesmen Pertemuan:Awal:- Guru menanyakan secara lisan cuplikan singkat: 'Kiki melihat kucingnya tersangkut di atas pohon, lalu Kiki memanggil Kakak untuk mengambil tangga dan menurunkan kucing dengan aman.' Murid diminta menunjuk/menyebutkan: (1) Masalahnya apa? (2) Penyelesaiannya apa? Acuan jawaban benar: masalah = kucing tersangkut di pohon; penyelesaian = memanggil Kakak mengambil tangga dan menurunkan kucing.
Proses:- Observasi pengerjaan tugas kelompok 'Detektif Gunung Cerita'. Guru menilai ketepatan kelompok dalam mengidentifikasi masalah dan penyelesaian pada Teks 1 dan Teks 2. Acuan ketepatan: Teks 1 (masalah: ember bocor air habis; penyelesaian: menempel selotip tebal rapat-rapat pada ember); Teks 2 (masalah: Budi lupa bawa topi upacara takut ditegur; penyelesaian: Doni meminjamkan topi cadangan).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman tertulis singkat individu (1 teks): 'Beni kehilangan bekal kuenya di teras kelas (A). Teman-temannya membantu mencari hingga menemukan kotak bekal Beni tertinggal di bawah bangku taman (B).' Murid diminta memasangkan huruf A dan B ke dalam label: Masalah dan Penyelesaian. Kunci jawaban: Huruf A = Masalah; Huruf B = Penyelesaian.
Formatif:- Penilaian proses melalui lembar observasi identifikasi bagian masalah dan penyelesaian lakon pada Lembar Kerja 'Detektif Gunung Cerita'
- Cek pemahaman mandiri di akhir sesi pembelajaran
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Mengidentifikasi bagian masalah dalam alur cerita sederhana | Belum mampu mengidentifikasi bagian masalah dari 2 teks cuplikan yang diberikan meski telah dibimbing guru. | Mampu mengidentifikasi bagian masalah secara tepat pada 1 dari 2 teks cuplikan yang disediakan. | Mampu mengidentifikasi bagian masalah secara tepat pada kedua teks cuplikan (Teks 1: ember bocor; Teks 2: lupa bawa topi upacara) dengan sedikit arahan. | Mampu mengidentifikasi bagian masalah secara tepat pada kedua teks cuplikan (Teks 1: ember bocor; Teks 2: lupa bawa topi upacara) secara mandiri dan konsisten. | | Mengidentifikasi bagian penyelesaian dalam alur cerita sederhana | Belum mampu mengidentifikasi bagian penyelesaian dari 2 teks cuplikan yang diberikan meski telah dibimbing guru. | Mampu mengidentifikasi bagian penyelesaian secara tepat pada 1 dari 2 teks cuplikan yang disediakan. | Mampu mengidentifikasi bagian penyelesaian secara tepat pada kedua teks cuplikan (Teks 1: menempel selotip tebal; Teks 2: meminjamkan topi cadangan) dengan sedikit arahan. | Mampu mengidentifikasi bagian penyelesaian secara tepat pada kedua teks cuplikan (Teks 1: menempel selotip tebal; Teks 2: meminjamkan topi cadangan) secara mandiri dan konsisten. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah penggunaan media analogi Gunung Cerita mempermudah murid membedakan puncak masalah dan penyelesaian dalam cerita lakon?
- Bagian mana dari kegiatan kelompok yang membutuhkan bimbingan lebih intensif bagi murid yang kesulitan membaca teks?
Murid:- Bagian apa yang paling seru saat kamu mencari masalah dan cara menyelesaikannya dalam cerita tadi?
- Apakah kamu sekarang sudah bisa membedakan mana kejadian yang merupakan masalah dan mana yang merupakan jalan keluarnya?
Pertemuan 7 — Memainkan Adegan Awal Lakon Cerita Sederhana Berdasarkan Alur yang Disusun — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 3.2.4 Memainkan sebuah lakon dalam cerita sederhana yang telah disusun
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu memainkan bagian awal dari lakon cerita sederhana yang telah dirancang kelompok pada pertemuan sebelumnya (2 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan memanggil 2 perwakilan murid untuk memperagakan gestur pembuka sesuai peran yang dipilih (misalnya peran murid menyapu halaman atau guru membawa buku) untuk mengecek kesiapan memainkan adegan awal lakon (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru memberikan contoh peragaan memainkan adegan awal lakon sederhana dengan masuk ke area panggung kecil, memperkenalkan aktivitas tokoh (misal: tokoh penjaga perpustakaan yang sedang menata buku di meja sebelum pengunjung datang) agar murid memahami fungsi adegan pembuka lakon (10 menit).
- Murid dalam kelompok membuka kembali catatan alur bagian awal lakon yang telah disusun pada pertemuan sebelumnya dan mencermati pembagian peran masing-masing tokoh di adegan awal (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru memimpin pemanasan peran gembira 'Patung Tokoh Masuk': ketika guru memukul rebana/tepuk tangan sekali, murid bergerak masuk memerankan tokohnya; ketika tepukan berhenti, murid membeku menjadi patung adegan awal sesuai karakternya (15 menit).
- Setiap kelompok berlatih memainkan adegan awal lakon berdurasi 1-2 menit secara bersama-sama, yang memuat 3 elemen adegan awal: (1) masuk panggung sesuai tokoh, (2) melakukan aktivitas awal tokoh, dan (3) dialog/interaksi pembuka antar-tokoh sesuai alur yang disusun (25 menit).
- Secara bergantian, setiap kelompok maju ke depan kelas untuk memainkan adegan awal lakon cerita sederhana kelompok mereka di depan teman-temannya (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama kelompoknya duduk melingkar dan merefleksikan pengalaman memainkan adegan awal lakon, menyebutkan apakah seluruh tokoh berhasil muncul dan berinteraksi sesuai alur awal yang dirancang (10 menit).
Penutup:- Guru memberikan penguatan terhadap penampilan adegan awal setiap kelompok dan menegaskan bahwa bagian masalah akan dimainkan pada pertemuan berikutnya (3 menit).
- Guru bersama murid menutup pertemuan dengan apresiasi tepuk tangan bersama dan doa penutup (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Kelompok yang memerlukan bimbingan memainkan alur awal dengan 2 tokoh dan 1 dialog pembuka sederhana, sedangkan kelompok yang lebih mahir memainkan alur awal dengan 3-4 tokoh yang berinteraksi langsung.
- Proses: Guru memberikan arahan langsung berupa panduan aba-aba masuk panggung untuk kelompok yang masih ragu, sementara kelompok mandiri langsung berlatih secara mandiri.
- Produk: Peragaan adegan awal lakon dengan durasi minimal 1 menit yang memperlihatkan pengenalan tokoh dan situasi pembuka cerita.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Uji kesiapan memainkan peran awal melalui peragaan satu tindakan tokoh pembuka cerita. Acuan verifikasi: murid dapat memperagakan minimal 1 aksi fisik konkret yang mencerminkan peran tokohnya (misal: peran penjual kantin menata mangkuk, peran murid menentang tas sekolah, atau peran guru membuka buku).
Proses:- Observasi unjuk kerja saat kelompok berlatih dan memainkan adegan awal lakon. Guru mencatat ketercapaian 3 elemen adegan awal: (1) pemunculan tokoh di panggung, (2) peragaan aktivitas pembuka tokoh, dan (3) interaksi pembuka antar-tokoh sesuai alur cerita yang telah disusun.
Akhir Pertemuan:- Cek ketercapaian akhir sesi melalui daftar cek peragaan adegan awal kelompok (Acuan ketercapaian: kelompok berhasil memainkan adegan pembuka dengan memunculkan seluruh tokoh kelompok dan melakukan minimal 1 interaksi antar-tokoh sesuai alur cerita yang disusun).
Formatif:- Pengamatan unjuk kerja peragaan memainkan adegan awal lakon sederhana dengan lembar observasi proses.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Memainkan adegan awal lakon cerita sederhana | Belum mampu memainkan adegan awal lakon; tokoh belum muncul dan belum melakukan tindakan pembuka sesuai alur cerita yang disusun. | Mampu memainkan sebagian adegan awal lakon (hanya memunculkan 1 dari 3 elemen adegan awal: kemunculan tokoh, aktivitas pembuka, atau interaksi awal) dengan arahan penuh dari guru. | Mampu memainkan adegan awal lakon dengan menampilkan 2 sampai 3 elemen adegan awal (kemunculan tokoh, aktivitas pembuka, dan interaksi awal) sesuai alur cerita yang disusun secara berkelompok. | Mampu memainkan adegan awal lakon dengan menampilkan seluruh 3 elemen adegan awal (kemunculan tokoh, aktivitas pembuka, dan interaksi awal) secara runtut, lancar, dan mandiri tanpa bergantung pada arahan guru. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu latihan peragaan adegan awal mencukupi untuk seluruh kelompok?
- Bagaimana keterlibatan setiap anggota kelompok saat memainkan peran pembuka di panggung?
Murid:- Apa bagian yang paling menyenangkan saat kamu memerankan tokohmu di awal cerita bersama teman?
- Apakah kamu merasa sudah memainkan peranmu sesuai alur awal yang disepakati kelompok?
Pertemuan 8 — Memainkan Adegan Masalah dan Penyelesaian Lakon Cerita Sederhana — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 3.2.4 Memainkan sebuah lakon dalam cerita sederhana yang telah disusun
Pendahuluan:- Guru mengondisikan kelas, menyapa murid, dan memimpin doa pembuka (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui tanya jawab singkat mengenai kelanjutan adegan lakon: 'Setelah adegan awal kemarin dimulai, bagian seru apa yang muncul di tengah cerita dan bagaimana cerita tersebut ditutup?' (Acuan jawaban murid: memuat unsur kemunculan masalah/konflik dan cara penyelesaiannya) (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru memberikan penguatan konsep bermain peran khusus untuk bagian masalah (konflik) dan bagian penyelesaian dalam alur lakon sederhana (10 menit).
- Guru memodelkan cara memainkan lakon bagian masalah dan penyelesaian dengan contoh sederhana: masalah pensil warna yang tertinggal/hilang dan penyelesaian meminjam atau mencari bersama (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid melakukan pemanasan bermain peran 'Tantangan Patung Masalah & Lega': saat guru berseru 'Masalah!', murid membentuk pose/ekspresi menghadapi persoalan; saat guru berseru 'Selesai!', murid berganti pose/ekspresi lega secara gembira (15 menit).
- Murid berkumpul dalam kelompok lakonnya masing-masing untuk berlatih memainkan adegan bagian masalah berdasarkan cerita sederhana yang telah mereka susun (20 menit).
- Murid melanjutkan latihan kelompok untuk memainkan adegan bagian penyelesaian hingga cerita mencapai akhir yang tuntas (15 menit).
- Setiap kelompok secara bergiliran memainkan adegan masalah dan penyelesaian di area panggung kelas (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru merefleksikan pengalaman memainkan adegan masalah dan penyelesaian: apa yang dirasakan saat memeragakan masalah dan bagaimana perasaan tokoh saat masalah terselesaikan (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik formatif terhadap keterlibatan murid dalam memainkan adegan masalah dan penyelesaian lakon (3 menit).
- Guru menyampaikan agenda pertemuan berikutnya (memainkan lakon secara utuh berkelompok) dan menutup kelas dengan salam (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid dapat menggunakan pengingat alur visual berupa gambar/catatan alur adegan masalah dan penyelesaian.
- Proses: Kelompok yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan dialog/aksi terarah dari guru saat adegan masalah muncul, sedangkan kelompok yang mandiri langsung mengeksplorasi aksi penyelesaian secara mandiri.
- Produk: Variasi adegan lakon disesuaikan dengan cerita kelompok masing-masing, berfokus pada kejelasan tindakan mengatasi masalah hingga tuntas.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik di awal pembelajaran: 'Sebutkan apa yang terjadi pada adegan tengah (masalah) dan akhir (penyelesaian) dalam alur cerita kelompokmu!' (Kriteria penerimaan: murid dapat menyebutkan minimal 1 kejadian masalah konkret dan 1 tindakan penyelesaian konkret yang sesuai dengan cerita yang telah disusun kelompoknya).
Proses:- Lembar observasi unjuk kerja memainkan lakon: mengamati apakah murid aktif memerankan tokohnya pada adegan kemunculan masalah dan pada adegan tindakan penyelesaian masalah sesuai alur lakon cerita kelompok.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman formatif di akhir pertemuan: murid menyebutkan satu tindakan tokohnya yang menunjukkan bahwa masalah cerita sudah selesai (Acuan: tindakan tokoh sesuai dengan akhir alur cerita kelompoknya, misal: berterima kasih, saling memaafkan, merapikan barang bersama, atau tersenyum lega).
Formatif:- Pengamatan unjuk kerja memainkan adegan masalah dan penyelesaian lakon sederhana.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Memainkan adegan masalah dan penyelesaian lakon | Belum mampu memainkan adegan masalah maupun adegan penyelesaian meskipun telah diberikan dorongan dan bimbingan langsung oleh guru. | Memainkan adegan masalah atau adegan penyelesaian lakon dengan arahan terus-menerus dari guru. | Mampu memainkan adegan masalah dan adegan penyelesaian lakon sederhana sesuai alur yang telah disusun dengan sedikit arahan. | Mampu memainkan adegan masalah dan adegan penyelesaian lakon sederhana secara mandiri, konsisten, dan runtut sesuai alur cerita yang telah disusun. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah murid dapat memainkan perpindahan adegan dari situasi bermasalah menuju situasi penyelesaian dengan jelas?
- Bagian mana dari bimbingan bermain adegan masalah dan penyelesaian yang paling efektif membantu murid?
Murid:- Apakah kamu merasa senang saat memeragakan tokohmu ketika menyelesaikan masalah dalam cerita?
- Bagian adegan mana yang paling kamu sukai: saat masalah terjadi atau saat masalah selesai?
Pertemuan 9 — Memainkan Sebuah Lakon Cerita Sederhana secara Utuh Berkelompok — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 3.2.4 Memainkan sebuah lakon dalam cerita sederhana yang telah disusun
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memandu pemanasan tubuh serta olah vokal sederhana menirukan suara angin dan gerakan pohon tertiup angin untuk mempersiapkan fisik bermain peran (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menggabungkan latihan adegan awal, masalah, dan penyelesaian menjadi satu kesatuan lakon cerita yang dimainkan secara utuh berkelompok (3 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik kesiapan urutan lakon: guru menyebutkan 3 potongan alur acak dari cerita kelas ('Masalah: bekal makanan terjatuh', 'Awal: dua sahabat berangkat ke sekolah bersama', 'Penyelesaian: saling berbagi bekal dan tersenyum'), lalu meminta murid mengurutkan nomor kejadian secara cepat (acuan: urutan tepat adalah Awal -> Masalah -> Penyelesaian) (2 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid dalam kelompoknya (3-4 orang) membuka kembali bagan alur lakon cerita sederhana yang telah disusun pada pertemuan sebelumnya, mencermati urutan 3 bagian utuh: bagian awal (pengenalan), bagian tengah (masalah), dan bagian akhir (penyelesaian) (5 menit).
- Guru memberikan contoh simulasi transisi adegan: bagaimana pemain berpindah posisi saat bagian masalah muncul dan bagaimana bersikap saat adegan penyelesaian tiba agar lakon mengalir tanpa terputus (5 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Prinsip Menggembirakan diwujudkan melalui permainan tantangan latihan berantai 'Lakon Sambung Utuh': setiap kelompok berlatih memainkan lakon mereka sendiri tanpa henti dari awal sampai akhir; bila guru bertepuk tangan sekali, mereka membekukan pose sebentar (freeze) lalu lanjut bergerak memainkan adegan berikutnya dengan ceria (15 menit).
- Secara bergantian, setiap kelompok memainkan lakon cerita sederhana mereka secara utuh di area panggung kelas dari adegan awal, kemunculan masalah, hingga penyelesaian cerita (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Setiap kelompok menyampaikan refleksi singkat mengenai jalannya permainan peran mereka: apakah ketiga bagian lakon (awal, masalah, penyelesaian) berhasil dimainkan secara bersambung dan lengkap (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan bahwa memainkan lakon secara utuh membutuhkan kerja sama kelompok dalam menyambungkan bagian awal, masalah, dan penyelesaian (3 menit).
- Guru memberikan apresiasi kepada seluruh kelompok atas kelancaran memainkan lakon utuh dan mengumumkan agenda pertemuan berikutnya yaitu asesmen sumatif perancangan tertulis dan pementasan lakon cerita sederhana (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Naskah/alur cerita kelompok disesuaikan dengan kerumitan yang telah mereka susun: kelompok yang membutuhkan bimbingan memakai cerita 3 aksi pokok sederhana, sedangkan kelompok mahir memainkan cerita dengan dialog aksi yang lebih dinamis.
- Proses: Guru memberikan scaffolding pendampingan hitungan pergantian babak bagi kelompok yang masih ragu berganti adegan, sedangkan kelompok yang sudah lancar berlatih mandiri secara penuh.
- Produk: Semua kelompok memainkan lakon cerita sederhana secara utuh dengan kriteria pemenuhan ketiga bagian alur lakon (awal, masalah, penyelesaian).
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik urutan alur lakon: Guru membacakan 3 potongan peristiwa acak: (1) Masalah: pensil warna patah, (2) Awal: murid menggambar bersama di meja, (3) Penyelesaian: meminjamkan rautan dan kembali menggambar. Murid diminta menentukan urutan babak yang tepat (acuan urutan benar: 2 - 1 - 3).
Proses:- Lembar observasi memainkan lakon utuh berkelompok: guru mengamati keterpenuhan 3 bagian alur yang dimainkan secara bersambung (Awal, Masalah, Penyelesaian) oleh setiap kelompok menggunakan kriteria rubrik.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman keterpaduan peran di akhir sesi: murid secara lisan dalam kelompok menyebutkan apakah ketiga babak lakon (bagian awal, masalah, dan penyelesaian) berhasil dimainkan secara lengkap tanpa ada bagian alur yang terlewat (acuan: konfirmasi keterlaksanaan 3 bagian alur secara utuh).
Formatif:- Observasi unjuk kerja memainkan lakon cerita sederhana secara utuh berkelompok (bagian awal, masalah, dan penyelesaian).
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Kelengkapan Bagian Lakon yang Dimainkan (Awal, Masalah, Penyelesaian) | Hanya memainkan 1 bagian alur dari 3 bagian lakon yang telah disusun (misalnya hanya memainkan bagian awal). | Memainkan 2 bagian alur lakon dari 3 bagian yang disusun (misalnya bagian awal dan masalah, bagian penyelesaian terlewat). | Memainkan seluruh 3 bagian alur lakon (awal, masalah, dan penyelesaian) secara lengkap berurutan dengan sedikit arahan guru saat transisi babak. | Memainkan seluruh 3 bagian alur lakon (awal, masalah, dan penyelesaian) secara lengkap, mengalir bersambung dari awal hingga akhir secara mandiri tanpa jeda terputus. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 2 JP cukup memberikan kesempatan bagi semua kelompok untuk menampilkan lakon mereka secara utuh?
- Bagian alur mana (awal, masalah, atau penyelesaian) yang paling sering membutuhkan bimbingan transisi bagi murid?
Murid:- Bagian mana dari lakon cerita kelompokmu yang paling kamu sukai saat dimainkan bersama teman?
- Apakah kamu dan teman-teman sekelompok berhasil memainkan cerita dari awal sampai akhir tanpa ada yang terlupa?
Pertemuan 10 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 3.2.1 Mengenali lingkungan sekitarnya sebagai sumber ide cerita lakon
- TP 3.2.2 Mengamati berbagai peran dari tokoh di sekitar untuk menyusun cerita lakon
- TP 3.2.3 Mengidentifikasi bentuk lakon dalam alur cerita sederhana
- TP 3.2.4 Memainkan sebuah lakon dalam cerita sederhana yang telah disusun
Pendahuluan:- Guru membuka sesi dengan salam, doa bersama, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
- Guru menyampaikan tujuan sesi asesmen sumatif bab: menyelesaikan Lembar Kerja Perancangan Cerita Lakon secara mandiri dan menampilkan lakon cerita sederhana secara berkelompok (4 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Guru membagikan Lembar Kerja Perancangan Cerita Lakon dan menjelaskan petunjuk pengisian: 1) menuliskan 1 peristiwa nyata di lingkungan sekitar sebagai ide cerita lakon, 2) mengidentifikasi minimal 2 peran dan karakter tokoh sekitar yang diadaptasi, serta 3) mengisi bagan alur bentuk lakon sederhana (bagian awal/pengenalan, masalah, dan penyelesaian) (5 menit).
- Guru membacakan tata tertib unjuk kerja pementasan kelompok berdurasi 7-8 menit per kelompok serta urutan tampil 6 kelompok tanpa membuka sesi tanya jawab materi baru (3 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Tugas 1 (Tertulis Serentak/Mandiri): Seluruh murid secara serentak dan mandiri mengisi Lembar Kerja Perancangan Cerita Lakon yang memuat 3 bagian: bagian 1 menentukan ide lakon dari peristiwa sekitar; bagian 2 mendata minimal 2 peran tokoh beserta karakternya; bagian 3 menyusun bagan alur bentuk lakon (awal, masalah, penyelesaian), lalu lembar dikumpulkan tepat waktu (35 menit).
- Tugas 2 (Unjuk Kerja Kelompok): Secara bergantian, 6 kelompok (masing-masing 4-5 murid, total 28 murid) memainkan lakon cerita sederhana di area pementasan kelas sesuai alur cerita yang telah disusun (alokasi 8 menit per kelompok = 48 menit tampil + 2 menit transisi antar-kelompok x 6 jeda = 12 menit; total 60 menit pementasan) sementara guru menilai menggunakan rubrik observasi (50 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru merefleksikan pengalaman merancang dan memainkan lakon cerita sederhana yang bersumber dari lingkungan sekitar (3 menit).
Penutup:- Guru mengumpulkan seluruh lembar kerja perancangan lakon dan memberikan apresiasi atas kedisiplinan serta kerja sama seluruh kelompok dalam menyelesaikan asesmen sumatif bab (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Akomodasi format: Murid dengan hambatan menulis dapat menyampaikan rancangan alurnya secara lisan dengan panduan format yang persis sama tanpa mengubah kriteria.
- Proses: Akomodasi akses: Tempat duduk dan ruang pentas disesuaikan agar murid dengan keterbatasan mobilitas dapat bergerak dan berdialog dengan nyaman.
- Produk: Standar capaian sama untuk seluruh murid sesuai rubrik perancangan lakon dan pementasan lakon sederhana.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Pengecekan kesiapan asesmen sumatif: Guru memastikan setiap murid membawa alat tulis untuk penugasan perancangan tertulis dan setiap kelompok telah siap dengan naskah/rancangan alur lakon yang akan dipentaskan.
Proses:- Observasi kepatuhan pengerjaan mandiri pada tugas perancangan tertulis serta pencatatan ketepatan alur, gerak/vokal, dan kekompakan saat pementasan kelompok berlangsung.
Sumatif Bab:- Portofolio rancangan lakon tertulis dan unjuk kerja pementasan lakon sederhana: Lembar kerja perancangan lakon (daftar ide lingkungan, tabel tokoh, dan bagan alur cerita awal-masalah-akhir) serta penampilan kelompok dalam memainkan lakon cerita sederhana sesuai alur yang telah disusun
- Penugasan tertulis serentak: Lembar kerja perancangan cerita lakon yang memuat: 1) satu peristiwa nyata di lingkungan sekitar sebagai ide lakon, 2) identifikasi minimal 2 peran dan karakter tokoh sekitar yang diadaptasi, serta 3) bagan alur bentuk lakon sederhana (awal/pengenalan, masalah, penyelesaian) yang diisi bersamaan oleh seluruh murid (45 menit; individual; instrumen: Rubrik penilaian lembar kerja rancangan lakon (kriteria: kesesuaian ide lingkungan, kejelasan karakter tokoh, dan keruntutan alur lakon))
- Unjuk kerja penampilan teater berkelompok: Penampilan kelompok memainkan lakon cerita sederhana berdurasi 7-8 menit per kelompok secara bergantian (6 kelompok @ 4-5 murid dengan alokasi total 60 menit: 6 x 8 menit = 48 menit tampil + 12 menit transisi antar-kelompok, seluruh 28 murid tampil dan dinilai) (60 menit; kelompok; instrumen: Rubrik unjuk kerja pemeranan lakon (kriteria: kesesuaian alur cerita yang dimainkan, peniruan gerak/vokal tokoh, dan kekompakan kerja sama lakon))
Sumatif:- Portofolio rancangan lakon tertulis dan unjuk kerja pementasan lakon sederhana: Lembar kerja perancangan lakon (daftar ide lingkungan, tabel tokoh, dan bagan alur cerita awal-masalah-akhir) serta penampilan kelompok dalam memainkan lakon cerita sederhana sesuai alur yang telah disusun
- Penugasan tertulis serentak: Lembar kerja perancangan cerita lakon yang memuat: 1) satu peristiwa nyata di lingkungan sekitar sebagai ide lakon, 2) identifikasi minimal 2 peran dan karakter tokoh sekitar yang diadaptasi, serta 3) bagan alur bentuk lakon sederhana (awal/pengenalan, masalah, penyelesaian) yang diisi bersamaan oleh seluruh murid (45 menit; individual; instrumen: Rubrik penilaian lembar kerja rancangan lakon (kriteria: kesesuaian ide lingkungan, kejelasan karakter tokoh, dan keruntutan alur lakon))
- Unjuk kerja penampilan teater berkelompok: Penampilan kelompok memainkan lakon cerita sederhana berdurasi 7-8 menit per kelompok secara bergantian (6 kelompok @ 4-5 murid dengan alokasi total 60 menit: 6 x 8 menit = 48 menit tampil + 12 menit transisi antar-kelompok, seluruh 28 murid tampil dan dinilai) (60 menit; kelompok; instrumen: Rubrik unjuk kerja pemeranan lakon (kriteria: kesesuaian alur cerita yang dimainkan, peniruan gerak/vokal tokoh, dan kekompakan kerja sama lakon))
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Kesesuaian Ide Lingkungan Sekitar (TP 3.2.1) | Belum menuliskan peristiwa dari lingkungan sekitar sebagai ide cerita lakon (peristiwa fiktif murni di luar lingkungan sekitar murid). | Menuliskan 1 peristiwa dari lingkungan sekitar tetapi belum relevan atau belum jelas sebagai dasar ide cerita lakon. | Menuliskan 1 peristiwa nyata dari lingkungan sekolah atau sekitar (misal: piket kelas, antre kantin, kerja bakti, atau teman kehilangan pensil) yang jelas dan sesuai sebagai sumber ide cerita lakon. | Menuliskan 1 peristiwa nyata dari lingkungan sekolah atau sekitar secara sangat rinci dan kontekstual sehingga menjadi sumber ide cerita lakon yang kuat. | | Identifikasi Peran dan Karakter Tokoh Sekitar (TP 3.2.2) | Hanya menuliskan 1 tokoh tanpa keterangan peran atau karakter. | Menuliskan 2 tokoh dari lingkungan sekitar, namun keterangan peran atau karakternya belum lengkap (hanya nama tokoh saja). | Menuliskan minimal 2 tokoh dari lingkungan sekitar lengkap dengan perannya (misal: ketua kelas, penjaga kantin, murid piket) dan karakternya (misal: tegas, ramah, pemalu) secara jelas. | Menuliskan lebih dari 2 tokoh dari lingkungan sekitar lengkap dengan peran dan karakterisasi yang sangat spesifik dan konsisten untuk lakon. | | Keruntutan Bentuk Alur Lakon (TP 3.2.3) | Bagan alur lakon hanya terisi 1 bagian atau alur tidak teratur tanpa pembagian cerita. | Bagan alur lakon terisi 2 bagian (hanya bagian awal dan masalah, atau masalah dan akhir) sehingga bentuk lakon belum utuh. | Bagan alur lakon terisi lengkap dan runtut mencakup seluruh 3 bagian bentuk lakon sederhana: bagian awal (pengenalan tokoh/latar), bagian masalah (konflik/kejadian utama), dan bagian penyelesaian (akhir cerita). | Bagan alur lakon terisi lengkap, runtut, dan logis menghubungkan keterkaitan sebab-akibat yang kuat antara bagian awal, masalah, dan penyelesaian. | | Memainkan Lakon Sederhana Berkelompok (TP 3.2.4) | Pementasan lakon terputus-putus, alur cerita yang dimainkan tidak mencerminkan bentuk awal-masalah-penyelesaian, gerak dan dialog vokal tidak sesuai tokoh, serta minim kerja sama kelompok. | Memainkan lakon dengan menampilkan sebagian alur (hanya awal dan masalah), gerak dan vokal tokoh masih ragu-ragu, serta kerja sama antarpemeran masih sering canggung atau berhenti. | Memainkan lakon cerita sederhana secara utuh berurutan (alur awal, masalah, dan penyelesaian tampil jelas), peniruan gerak tubuh dan volume dialog vokal sesuai karakter tokoh yang dibawakan, serta menunjukkan kekompakan kerja sama kelompok dari awal hingga akhir pertunjukan. | Memainkan lakon cerita sederhana secara sangat lancar dan memikat sesuai alur utuh (awal, masalah, penyelesaian), peniruan gerak tubuh dan vokal tokoh sangat ekspresif dan hidup, serta kerja sama pementasan kelompok sangat padu dan kompak. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 45 menit untuk perancangan tertulis dan 60 menit untuk pementasan 6 kelompok berjalan secara tertib dan proporsional?
- Apakah instrumen rubrik dapat mengukur ketercapaian TP 1 sampai TP 4 secara objektif dan akurat pada seluruh murid?
Murid:- Bagian mana dari cerita lakon yang paling mudah dan paling menantang untuk saya tuliskan?
- Bagaimana perasaan saya saat bekerja sama dengan teman memainkan lakon di depan kelas?
SUMBER BELAJAR- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi 2025), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI
- Lingkungan fisik sekitar sekolah (halaman, koridor, kantin, perpustakaan)
- Gambar/foto situasi lingkungan sekolah (kantin, lapangan, ruang baca/perpustakaan)
- Lembar Pengamatan 'Detektif Ide'
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi 2025), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
- Kartu Narasi Peristiwa Keseharian (Kucing masuk kelas, Antre es teh kantin, Pensil warna terjatuh).
- Kartu Skenario Tantangan Detektif Peristiwa (Skenario A: Hujan deras tiba-tiba; Skenario B: Kunci sepeda terselip; Skenario C: Berebut tempat duduk).
- Lembar Detektif Ide Cerita Lakon.
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi 2025)
- Lembar Pengamatan Tokoh Sekolah
- Kartu Profil Tokoh Sekolah (Guru, Petugas Kebersihan, Penjaga Kantin, Satpam)
- Kartu Benda Tokoh (Peluit, Sapu Lidi, Buku Absensi, Penjepit Makanan)
- Lingkungan sekitar sekolah sebagai media observasi
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi 2025), Bab 2: Aku Penulis Cerita
- Kartu profil tokoh lingkungan sekitar buatan guru (Pak Satpam, Ibu Kantin, Petugas Kebersihan)
- Gambar ilustrasi penjaga perpustakaan untuk asesmen awal
- Lembar Kerja Murid (LKPD): Kartu Karakter Tokoh Lakon
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas III (Kemendikdasmen 2025)
- Kartu Kutipan Alur Cerita Lakon
- Lembar Latihan Kerja Murid
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi 2025), Bab 2 'Aku Penulis Cerita'
- Bagan Gunung Cerita di papan tulis
- Lembar Kerja Kelompok 'Detektif Gunung Cerita' berisi teks narasi sederhana
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas III (Kemendikbudristek, 2025)
- Naskah/catatan alur cerita sederhana buatan murid pada pertemuan sebelumnya
- Ruang kelas/area panggung sederhana dan perlengkapan kelas sebagai pendukung adegan lakon
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi, 2025)
- Naskah/bagan alur cerita lakon sederhana yang telah disusun kelompok
- Ruang kelas/area panggung sederhana
- Bagan naskah/alur cerita sederhana yang telah disusun tiap kelompok pada pertemuan sebelumnya
- Ruang kelas/area panggung sederhana untuk pementasan kelompok
- Lembar Kerja Perancangan Cerita Lakon (format isian ide peristiwa sekitar, tabel peran dan karakter tokoh, serta bagan alur awal-masalah-penyelesaian)
- Panggung/area pertunjukan ruang kelas dan perlengkapan sederhana pendukung pementasan
|