Modul AjarBab 1Fase BSemester 1

Modul Ajar Seni Teater Kelas 3 Bab 1: Ayo Meniru!

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Seni Teater kelas 3 untuk Bab 1 "Ayo Meniru!", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Seni Teater Kelas 3 Bab 1: Ayo Meniru!

Seni Teater - Kelas 3

Bab 1

MODUL AJAR

Seni Teater — Kelas 3 (Fase B)

Topik: Bab 1 — Ayo Meniru!

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranSeni Teater
Fase / KelasFase B / Kelas 3
TopikBab 1 — Ayo Meniru!
Alokasi Waktu26 JP (26 x 35 menit = 910 menit)
Jumlah Pertemuan9
Tahun Ajaran2026/2027
Semester1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 3.1.1 Menirukan gerak tubuh sesuai tokoh atau perilaku objek sekitar melalui proses meniru (mimesis)
  2. TP 3.1.2 Menirukan suara/vokal sesuai tokoh atau perilaku objek sekitar melalui proses meniru (mimesis)
  3. TP 3.1.3 Menceritakan kembali pengalaman dan pengenalan lingkungan sekitar dalam bermain teater
  4. TP 3.1.4 Menggunakan properti yang sesuai dengan tokoh yang diperankan
  5. TP 3.1.5 Mengamati berbagai peran dan tokoh di sekitar untuk persiapan bermain teater
  6. TP 3.1.6 Memainkan sebuah lakon dalam cerita

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis✓
Kreativitas✓
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan
Komunikasi✓

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Bagaimana gerakan tubuhmu jika kamu berubah menjadi jarum jam dinding yang sedang berdetak?
  2. Bagaimana caramu menggerakkan tubuh agar terlihat seperti kucing yang sedang mengendap-endap?
  3. Bagaimana caramu menggerakkan tubuh agar orang lain tahu kamu sedang menjadi kakek yang berjalan membawa tongkat?
  4. Apa perbedaan gerak tubuh seorang tentara yang berbaris tegap dengan seorang juru masak yang sedang mengaduk adonan?
  5. Bagaimana bunyi tetesan air hujan saat jatuh di atas genteng?
  6. Apakah suara klakson mobil sama bunyinya dengan suara gesekan sapu lidi di halaman?
  7. Bagaimana perbedaan bunyi suara kakek tua yang sedang batuk dengan suara bayi yang sedang menangis?
  8. Bagaimana kita bisa mengubah warna suara vokal kita agar terdengar seperti seorang raksasa yang besar?
  9. Apa hal yang paling kamu ingat saat menirukan gerak atau suara objek lingkungan sekitar pada latihan sebelumnya?
  10. Bagaimana caramu menceritakan pengalaman bermain peran meniru lingkungan sekitar kepada teman?
  11. Siapa saja orang-orang di sekitar kita yang sering kalian jumpai setiap hari?
  12. Apa ciri khas atau kebiasaan yang membedakan peran satu orang dengan orang lainnya di lingkungan kita?
  13. Bagaimana benda di sekitar kita bisa membantu penonton mengenali siapa tokoh yang sedang kita perankan?
  14. Apa yang terjadi jika seorang kakek tua dalam teater memegang raket bulu tangkis alih-alih tongkat jalan?
  15. Bagaimana cara kita bekerja sama memerankan sebuah cerita dari awal sampai akhir?
  16. Apa yang terjadi pada lakon cerita jika ada tokoh yang lupa giliran aksinya di panggung?
  17. Bagaimana caramu menunjukkan ciri khas tokoh atau objek sekitar melalui gerak dan suara saat bermain peran di panggung?
  18. Pengalaman apa yang paling berkesan saat kamu menirukan lingkungan sekitar bersama kelompokmu?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Menirukan Gerak Tubuh Objek Sekitar dan Hewan melalui Mimesis — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.1.1 Menirukan gerak tubuh sesuai tokoh atau perilaku objek sekitar melalui proses meniru (mimesis)

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memandu pemanasan peregangan tubuh sederhana (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik unjuk kerja singkat: guru menyebutkan 2 instruksi gerak yaitu (1) 'Pohon tertiup angin sepoi-sepoi' dan (2) 'Kelinci melompat', lalu mengamati respons tubuh murid (acuan: gerakan 1 berupa ayunan tangan dan tubuh meliuk lembut ke kiri-kanan; gerakan 2 berupa kedua kaki menekuk melompat kecil bertumpu ganda dengan posisi tangan di depan dada) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru memperkenalkan konsep mimesis (menirukan gerak) melalui pengamatan gerak 3 objek dan hewan di sekitar kelas: jarum jam dinding yang bergerak konstan kaku, pohon tertiup angin kencang yang meliuk cepat, dan kucing melangkah pelan (10 menit).
  • Guru mendemonstrasikan gerak kaku seperti meja kayu dan gerak meliuk lemas seperti tali tambang, lalu meminta murid mengamati bagian tubuh mana yang ditegangkan atau dilemaskan saat meniru (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Guru mengadakan permainan gerak menggembirakan 'Tebak Gerak Patung': guru memperagakan 1 gerak hewan/objek dari kartu kreatif (misal: katak melompat jongkok), lalu seluruh murid serentak menirukan pose dan gerak tersebut secara antusias (10 menit).
  • Murid secara mandiri melakukan latihan mimesis 4 ragam gerak objek dan hewan berikut: (1) Jarum jam dinding (tangan berputar patah-patah secara teratur), (2) Pohon tertiup angin sepoi (tangan diangkat ke atas, tubuh bergoyang lembut kiri-kanan), (3) Kucing mengendap (tubuh merunduk, langkah kaki perlahan dan berhati-hati), dan (4) Kupu-kupu terbang (lengan mengayun ke atas-bawah ringan sambil berjinjit pelan) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Guru memandu murid merasakan kembali kondisi otot dan kesadaran tubuh setelah melakukan gerakan kaku maupun lentur melalui teknik 'Hening dan Diam' selama 2 menit (5 menit).
  • Murid secara bergantian menunjukkan salah satu pose gerak favoritnya (objek sekitar atau hewan) di tempat duduk masing-masing untuk menunjukkan kesadaran kontrol gerak tubuhnya (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan bahwa tubuh manusia dapat lentur dan kaku menirukan berbagai bentuk serta perilaku gerak benda maupun hewan di sekitarnya (3 menit).
  • Guru melaksanakan cek pemahaman akhir (asesmen akhir) dengan meminta murid merespons satu tantangan gerak tubuh spontan dan menutup pembelajaran dengan salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang memerlukan bimbingan diberikan contoh visual langsung dari gerakan guru dengan tempo lambat, sedangkan murid yang sudah mahir diberikan tantangan menirukan variasi tingkatan tempo gerak (sangat lambat ke sangat cepat).
  • Proses: Murid dengan kendala motorik menirukan gerak dengan bagian tubuh atas (tangan dan kepala), sementara murid lainnya mengeksplorasi gerak seluruh tubuh dari ujung kepala hingga kaki.
  • Produk: Tingkat keragaman dan keluwesan gerak mimesis dinilai sesuai kesiapan fisik masing-masing murid berdasarkan rubrik.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik unjuk kerja fisik singkat: Murid diminta menirukan 2 instruksi gerak langsung dari guru: (1) 'Pohon tertiup angin sepoi-sepoi' dan (2) 'Kelinci melompat'. Acuan penilaian: Gerakan 1 dianggap tepat bila murid mengayunkan kedua lengan dan badan meliuk halus ke samping; Gerakan 2 dianggap tepat bila murid melompat bertumpu dua kaki dengan tangan menekuk di dada.

Proses:

  • Pengamatan formatif saat murid mempraktikkan 4 gerak mimesis objek dan hewan: (1) Jarum jam dinding (gerak kaku patah-patah), (2) Pohon tertiup angin sepoi (meliuk lembut), (3) Kucing mengendap (merunduk pelan), dan (4) Kupu-kupu terbang (ayunan tangan ringan berirama). Guru mencatat kesesuaian gerak tubuh dengan karakteristik objek/hewan tersebut.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman gerak spontan: Murid diminta menirukan gerak 'Balon meletus lalu kempes' dengan tubuhnya. Acuan penerimaan: Murid merentangkan tangan dan tubuh membesar lalu tiba-tiba melompat/tersentak dan menjatuhkan tubuh lemas ke lantai secara bertahap.

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja gerak mimesis objek sekitar dan hewan menggunakan lembar ceklis pengamatan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menirukan gerak tubuh objek sekitar dan hewan (4 target: jarum jam, pohon tertiup angin, kucing mengendap, kupu-kupu)Menirukan 1 dari 4 gerak target objek sekitar dan hewan secara tepat sesuai acuan gerak dengan bimbingan penuh guru.Menirukan 2 dari 4 gerak target objek sekitar dan hewan secara tepat sesuai acuan gerak dengan arahan guru.Menirukan 3 dari 4 gerak target objek sekitar dan hewan secara tepat sesuai acuan karakteristik gerak secara mandiri.Menirukan seluruh 4 gerak target objek sekitar dan hewan secara tepat sesuai acuan karakteristik kaku/lentur tubuh secara mandiri dan luwes.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah instruksi gerak mimesis yang diberikan cukup jelas dan mudah ditirukan oleh seluruh murid kelas 3?
  • Bagian gerak mana yang paling menantang bagi murid saat mengeksplorasi kekakuan atau kelenturan tubuh?

Murid:

  • Gerakan benda atau hewan mana yang paling seru saat kamu tirukan tadi?
  • Bagian tubuh mana yang terasa kaku atau lemas saat menirukan jam dinding dan pohon tertiup angin?

Pertemuan 2 — Menirukan Gerak Tubuh Tokoh melalui Mimesis — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.1.1 Menirukan gerak tubuh sesuai tokoh atau perilaku objek sekitar melalui proses meniru (mimesis)

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, mengecek kehadiran, dan mengondisikan ruang kelas agar lapang untuk aktivitas gerak tubuh (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat: guru menyebutkan 2 nama tokoh ('kakek tua berjalan' dan 'petani mencangkul'), lalu meminta seluruh murid secara serentak memperagakan gerak tubuh tokoh tersebut; guru mencatat kesiapan murid meniru ciri fisik gerak tokoh (acuan gerak: kakek tua membungkukkan punggung dan melangkah pelan; petani mengayunkan kedua lengan dari atas ke bawah seolah mencangkul tanah) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mengamati peragaan guru mengenai 3 karakter gerak tubuh tokoh: (1) 'Tentara berbaris' (tubuh tegak lurus, pandangan lurus ke depan, langkah kaki mantap dan mengayunkan tangan setinggi dada), (2) 'Juru masak sibuk' (posisi berdiri sedikit condong, kedua tangan memutar melingkar di depan dada seperti mengaduk wadah besar lalu sesekali memotong cepat), (3) 'Kakek tua berjalan' (punggung membungkuk, satu tangan seolah memegang tongkat di samping, langkah kaki lambat dan menyeret) (10 menit).
  • Guru memandu murid melakukan eksplorasi gerak tubuh terpimpin untuk mengidentifikasi ciri bentuk tubuh (tegak, membungkuk, condong) dan tempo gerak (cepat, mantap, lambat) pada ketiga tokoh tersebut secara berkesadaran (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru membagi kelas menjadi beberapa baris untuk memainkan permainan gerak 'Patung Tokoh Menirukan Gerak': guru mengangkat salah satu dari 4 kartu tokoh yang telah disiapkan secara acak, dan saat guru membunyikan ketukan rebana/tepukan tangan, murid langsung menirukan gerak tubuh tokoh tersebut secara menggembirakan di tempat masing-masing (5 menit).
  • Adapun 4 kartu tokoh beserta rincian gerak tubuh acuannya adalah: Kartu 1 'Tentara berbaris' (badan tegak, langkah tegap berirama, ayunan tangan tegas), Kartu 2 'Kakek tua berjalan' (badan bungkuk, langkah pelan bergetar, tangan memegang tongkat imajiner), Kartu 3 'Juru masak' (badan condong ke depan, gerakan tangan mengaduk cepat memutar dan mencincang), Kartu 4 'Petani menanam padi' (posisi jongkok atau badan membungkuk rendah, tangan bergerak maju-mundur ke arah lantai menancapkan benih dan melangkah mundur perlahan) (15 menit).
  • Murid berpasangan memainkan tantangan tebak peran tubuh tanpa bersuara: secara bergantian, salah satu murid memilih dan menirukan salah satu gerak tubuh dari 4 tokoh acuan, sementara pasangannya mengamati gerak tubuh tersebut untuk memastikan kesesuaian ciri postur dan gerak langkahnya (15 menit).
  • Setiap murid secara mandiri melakukan unjuk kerja menirukan gerak tubuh 1 tokoh pilihan dari 4 kartu tokoh di hadapan kelas/guru tanpa menggunakan suara sedikit pun, berfokus murni pada mimesis gerak tubuh (postur, ayunan gerak, langkah kaki) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid duduk melingkar dalam suasana tenang dan melakukan refleksi terbimbing: murid mengevaluasi bagian tubuh mana (punggung, langkah kaki, atau lengan) yang paling terasa sulit atau mudah saat menirukan postur tubuh tokoh yang berbeda (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran bahwa gerak tubuh dalam seni teater (mimesis) dapat menunjukkan profesi, usia, dan ciri khas tokoh melalui perubahan postur badan serta tempo langkah tanpa perlu berbicara (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik atas unjuk kerja gerak seluruh murid, menyampaikan informasi bahwa latihan mimesis gerak tubuh tokoh telah selesai dipelajari, dan menutup sesi pertemuan 2 dengan doa serta salam penutup (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan kartu visual dengan gambar postur tubuh tokoh (misal garis punggung bungkuk atau tegak); murid yang telah mahir diberikan tantangan menirukan perubahan peralihan gerak 2 tokoh secara berurutan (misal dari tentara tegap langsung beralih menjadi kakek tua membungkuk).
  • Proses: Murid yang masih ragu menirukan gerak didampingi langsung oleh guru dengan contoh gerakan berdampingan; murid mandiri langsung mengeksplorasi gerak tubuh di ruang gerak yang lebih luas.
  • Produk: Murid menirukan minimal 1 gerak tubuh tokoh sesuai acuan untuk kriteria dasar, sedangkan murid mahir dapat menirukan hingga 3 variasi gerak tubuh tokoh dengan konsistensi postur penuh.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik peragaan singkat pada pendahuluan: Murid diminta serentak menirukan gerak tubuh 'kakek tua berjalan' dan 'petani mencangkul' (acuan penerimaan: kakek tua = postur membungkuk dan langkah lambat; petani = ayunan kedua lengan dari atas ke bawah seolah mencangkul).

Proses:

  • Pengamatan formatif saat murid melakukan unjuk kerja menirukan gerak tubuh dari 4 kartu tokoh acuan: (1) Tentara berbaris, (2) Kakek tua berjalan, (3) Juru masak, (4) Petani menanam padi. Kriteria ketepatan dinilai dari kesesuaian postur tubuh (tegak/bungkuk/condong) dan pola langkah/ayunan tangan sesuai acuan gerak.

Akhir Pertemuan:

  • Cek penguasaan gerak di akhir sesi inti: Murid memperagakan secara mandiri minimal 1 gerak tubuh tokoh pilihan dari 4 kartu tokoh acuan tanpa bersuara, dengan kriteria penerimaan: postur tubuh dan gerak langkah sesuai dengan ciri khas tokoh acuan yang dipilih.

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja gerak mimesis tubuh tokoh saat permainan dan peragaan mandiri
  • Lembar ceklis ketercapaian ciri gerak tubuh tokoh

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Ketepatan menirukan gerak tubuh tokoh melalui mimesisBelum mampu menirukan postur maupun langkah gerak tubuh tokoh sesuai acuan, gerakan masih kaku atau belum menunjukkan ciri khas tokoh acuan.Mampu menirukan postur tubuh tokoh sesuai acuan (misal posisi membungkuk atau tegak), namun gerak langkah dan ayunan anggota tubuh belum konsisten sesuai karakter tokoh.Mampu menirukan gerak tubuh tokoh secara tepat mencakup kesesuaian postur badan dan pola langkah/ayunan tangan sesuai 1 tokoh acuan secara konsisten.Mampu menirukan gerak tubuh tokoh secara mandiri, luwes, dan sangat tepat mencakup postur, pola langkah, serta detail gerak tubuh pada lebih dari 1 tokoh acuan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah instruksi peragaan gerak tubuh tokoh dapat dipahami dengan jelas oleh seluruh murid tanpa membingungkan dengan olah vokal?
  • Bagaimana variasi respon gerak tubuh murid saat merespons perubahan tokoh pada kartu tantangan gerak?
  • Apakah alokasi waktu 105 menit cukup efektif untuk memberikan kesempatan setiap murid memperagakan gerak tubuh tokoh?

Murid:

  • Gerak tubuh tokoh mana yang paling mudah kamu tirukan tadi?
  • Bagian tubuh mana (kaki, tangan, atau punggung) yang paling terasa berubah saat kamu meniru tokoh tersebut?

Pertemuan 3 — Menirukan Suara atau Vokal Objek Sekitar melalui Mimesis — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.1.2 Menirukan suara/vokal sesuai tokoh atau perilaku objek sekitar melalui proses meniru (mimesis)

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, doa bersama, dan mengecek kesiapan fisik murid dengan melakukan peregangan rahang dan latihan pernapasan santai (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu melatih kemampuan vokal untuk menirukan ragam suara objek sekitar dan peristiwa alam melalui proses mimesis (5 menit).
  • Asesmen Awal: Guru memperdengarkan rekaman atau memperagakan 2 tiruan suara objek sekitar: (1) detak jarum jam dinding dan (2) desau angin kencang. Murid secara bergantian diminta menirukan kembali salah satu bunyi tersebut untuk memetakan kesiapan awal produksi suara tiruan (acuan: (1) detak jam ditirukan dengan bunyi ritmis 'tik-tok-tik-tok', (2) desau angin ditirukan dengan bunyi hembusan 'wuuush-wuuush') (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak penjelasan guru tentang mimesis suara, yakni cara mengamati sumber bunyi di sekitar lalu menirukannya menggunakan alat ucap/vokal (10 menit).
  • Murid mendengarkan 4 rekaman audio objek sekitar yang diputar guru: (1) gemuruh guntur di langit, (2) deru mesin sepeda motor, (3) derit pintu kayu dibuka, dan (4) gemercik air keran mengalir (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Permainan Suara Misterius: Guru memperagakan contoh eksplorasi tiruan bunyi secara serentak bersama seluruh murid di kelas (10 menit).
  • Murid secara berpasangan mengambil undian 1 dari 4 kartu objek sekitar: Kartu 1 'Sirine ambulans', Kartu 2 'Bel sekolah berdering', Kartu 3 'Sapu lidi menyapu halaman', dan Kartu 4 'Kereta api berjalan' (10 menit).
  • Praktik mandiri: Setiap murid secara bergiliran menirukan suara vokal dari kartu yang diperoleh di hadapan teman dan guru (acuan tiruan: Kartu 1 'ngiung-ngiung', Kartu 2 'kriiing-kriiing', Kartu 3 'srek-srek-srek', Kartu 4 'tut-tut gujes-gujes') (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid menyadari perbedaan pembentukan suara vokal, seperti suara yang terdengar panjang, berulang cepat, atau tebal saat menirukan berbagai objek alam dan benda (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap keberanian dan kesesuaian vokal murid saat menirukan objek sekitar (10 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran menirukan suara objek sekitar dan menutup kegiatan dengan doa bersama (10 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan audio penguat yang lebih jelas bagi murid yang membutuhkan panduan pendengaran lebih intens.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan contoh bibir/artikulasi langsung dari guru; murid yang cepat diberikan tantangan menirukan 2 variasi suara objek sekaligus (misalnya suara air keran mengalir deras lalu mengecil).
  • Produk: Semua murid mendemonstrasikan tiruan vokal objek sekitar sesuai kartu acuan tugas masing-masing.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tugas diagnostik lisan: Murid menirukan kembali salah satu bunyi yang dicontohkan guru: (1) detak jarum jam dinding atau (2) desau angin kencang (acuan jawaban benar: detak jam ditirukan dengan bunyi ritmis terputus 'tik-tok-tik-tok', desau angin ditirukan dengan hembusan vokal memanjang 'wuuush-wuuush').

Proses:

  • Pengamatan unjuk kerja praktik mimesis suara objek sekitar berdasarkan 4 kartu target: (1) sirine ambulans ('ngiung-ngiung'), (2) bel sekolah ('kriiing-kriiing'), (3) sapu lidi ('srek-srek-srek'), dan (4) kereta api ('tut-tut gujes-gujes'). Kriteria dinilai dari ketepatan menirukan pola bunyi khas objek tersebut secara vokal.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman penutup: Murid menirukan secara serentak 1 bunyi objek penutup yang ditentukan guru, yaitu bunyi 'petir menyambar' (kriteria penerimaan: menghasilkan tiruan vokal ledakan bunyi tegas 'darrr' atau 'blaaar').

Formatif:

  • Unjuk kerja menirukan suara objek sekitar secara langsung menggunakan rubrik observasi proses mimesis vokal.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menirukan suara/vokal objek sekitar melalui mimesisBelum mampu menghasilkan tiruan suara vokal objek sekitar yang didapatkan dari kartu (suara tidak menyerupai atau tidak bersuara) meskipun telah diberi contoh ulang oleh guru.Mampu menirukan suara vokal objek sekitar dari kartu yang diperoleh (acuan: sirine 'ngiung-ngiung', bel 'kriiing', sapu 'srek-srek', kereta 'tut-tut gujes-gujes') namun masih ragu-ragu dan membutuhkan bantuan contoh langsung dari guru.Mampu menirukan suara vokal objek sekitar dari kartu yang didapatkan sesuai pola bunyi acuan secara mandiri tanpa bantuan contoh guru.Mampu menirukan seluruh variasi pola bunyi objek sekitar dari kartu secara mandiri, konsisten, dan jelas sesuai karakter bunyi objek tanpa ragu-ragu.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid berani mengeksplorasi suara vokalnya tanpa rasa malu?
  • Apakah contoh audio bunyi objek sekitar yang disiapkan cukup jelas membantu murid meniru suara?

Murid:

  • Suara objek apa yang paling mudah kamu tirukan tadi?
  • Bagian mana dari suara objek yang terasa paling menantang untuk kamu bunyikan?

Pertemuan 4 — Menirukan Suara atau Vokal Karakter Tokoh melalui Mimesis — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.1.2 Menirukan suara/vokal sesuai tokoh atau perilaku objek sekitar melalui proses meniru (mimesis)

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, berdoa bersama, dan mengecek kehadiran (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menirukan variasi suara atau vokal karakter tokoh melalui proses meniru (mimesis) (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat dengan memperdengarkan 3 contoh tiruan suara karakter dan meminta murid secara bergantian menirukan kembali bunyi suara tersebut: (1) Suara kakek tua: 'Uhuk-uhuk, cucuku...'; (2) Suara bayi: 'Owekk... owekk!'; (3) Suara raksasa: 'Hahaha, bum-bum!' (acuan: murid mampu membunyikan vokal sesuai ciri tebal/tipis/serak karakter tersebut) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak penjelasan dan demonstrasi vokal mimesis dari guru mengenai 4 karakter tokoh rekaan: (1) Tokoh Kakek Tua dengan vokal serak, tempo lambat, bergetar; (2) Tokoh Anak Kecil/Bayi dengan vokal melengking, nada tinggi, tipis; (3) Tokoh Raksasa Besar dengan vokal berat, nada rendah, bergema dalam; (4) Tokoh Robot Logam dengan vokal datar, patah-patah tanpa cengkok (10 menit).
  • Murid secara bersama-sama mengeksplorasi organ vokal (bibir, lidah, pita suara, rongga dada) untuk menirukan 4 pola vokal tokoh tersebut melalui bimbingan guru (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Murid memainkan permainan tantangan tebak vokal 'Kotak Suara Misterius': secara bergantian murid mengambil 1 dari 4 kartu tokoh yang tersedia (Kartu 1: Kakek Tua, Kartu 2: Anak Kecil, Kartu 3: Raksasa Besar, Kartu 4: Robot Logam) lalu membunyikan suara vokal tokoh tersebut di balik sekat kelas tanpa menyebutkan nama tokohnya agar teman sekelas menebak (20 menit).
  • Murid secara mandiri menirukan suara vokal 4 karakter tokoh dengan membacakan kalimat seruan pendek yang sama: 'Halo kawan, lihat aku!' menggunakan warna vokal masing-masing karakter: (1) Kakek tua (serak bergetar lambat); (2) Anak kecil (tinggi melengking ceria); (3) Raksasa (berat menggelegar dalam); (4) Robot (datar kaku mekanik) (acuan ketepatan: kesesuaian ciri vokal dengan 4 karakter tersebut) (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid mengidentifikasi secara mandiri karakter tokoh mana yang paling mudah dan paling sulit ditirukan vokalnya berdasarkan pengalaman praktik yang telah dilakukan (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap keberhasilan murid dalam membedakan dan menirukan warna vokal keempat karakter tokoh (5 menit).
  • Guru dan murid menyimpulkan bahwa perubahan rongga suara dan pita vokal dapat menghasilkan ragam karakter suara tokoh teater, kemudian menutup pertemuan dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan contoh vokal berulang untuk 2 karakter kontras (Raksasa vs Anak Kecil), sedangkan murid yang mahir mencoba menirukan 4 karakter lengkap.
  • Proses: Murid yang belum percaya diri menirukan suara secara bersamaan dalam pasangan, sedangkan murid yang sudah mahir menirukan suara vokal secara mandiri langsung.
  • Produk: Murid yang memerlukan pendampingan menirukan minimal 2 karakter vokal dengan tepat; murid yang mahir menirukan seluruh 4 karakter vokal secara konsisten dan tepat.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Uji petik lisan diagnostik: Guru memperdengarkan 3 contoh vokal karakter tokoh, lalu meminta murid menirukan kembali: (1) Kakek tua ('Uhuk-uhuk, cucuku...'); (2) Bayi ('Owekk... owekk!'); (3) Raksasa ('Hahaha, bum-bum!') (acuan: kemampuan murid mengubah vokal dari suara normal menjadi tebal, tipis, atau serak).

Proses:

  • Pengamatan unjuk kerja permainan 'Kotak Suara Misterius' dan praktik mandiri menirukan kalimat 'Halo kawan, lihat aku!' pada 4 karakter: (1) Kakek tua (serak bergetar); (2) Anak kecil (melengking tipis); (3) Raksasa (berat dalam); (4) Robot (datar kaku).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman vokal di akhir sesi: Murid secara acak membunyikan 1 vokal karakter pilihan guru dari 4 target tokoh (Kakek Tua, Anak Kecil, Raksasa Besar, Robot Logam) untuk memastikan penguasaan pembedaan suara karakter sesuai ciri khasnya.

Formatif:

  • Unjuk kerja menirukan variasi warna vokal dari 4 karakter tokoh (Kakek Tua, Anak Kecil, Raksasa Besar, Robot Logam) dengan panduan kriteria pengamatan.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Ketepatan Menirukan Vokal Karakter Tokoh (Target: 1. Kakek Tua [serak/bergetar], 2. Anak Kecil [tinggi/melengking], 3. Raksasa [berat/rendah], 4. Robot [datar/kaku])Menirukan vokal karakter tokoh masih menggunakan suara asli sehari-hari tanpa perubahan warna suara untuk seluruh 4 target karakter.Mampu menirukan vokal sesuai ciri khas karakter pada 1 sampai 2 target karakter tokoh secara tepat.Mampu menirukan vokal sesuai ciri khas karakter pada 3 dari 4 target karakter tokoh secara tepat.Mampu menirukan vokal sesuai ciri khas karakter pada seluruh 4 target karakter tokoh secara tepat dan mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah murid dapat membedakan teknik penyuaraan vokal berat (raksasa) dan melengking (anak kecil) tanpa memaksakan pita suara secara berlebihan?
  • Bagian latihan vokal mimesis mana yang paling efektif memicu rasa percaya diri murid untuk bersuara lantang?

Murid:

  • Suara tokoh mana yang paling mudah kamu tirukan hari ini?
  • Suara tokoh mana yang paling membuat tenggorokanmu terasa berbeda saat menirukannya?

Pertemuan 5 — Menceritakan Kembali Pengalaman Meniru dan Mengenal Lingkungan Sekitar dalam Bermain Teater — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.1.3 Menceritakan kembali pengalaman dan pengenalan lingkungan sekitar dalam bermain teater

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran murid, serta mengondisikan kelas agar siap belajar (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menceritakan kembali pengalaman meniru dan pengenalan lingkungan sekitar yang telah dilakukan pada pertemuan-pertemuan sebelumnya (5 menit).
  • Asesmen Awal: Guru memberikan pertanyaan diagnostik lisan mengenai 2 unsur refleksi kepada murid: 'Sebutkan 1 objek dari lingkungan sekitar yang pernah kamu tirukan (misalnya kucing, angin, atau pohon) dan ceritakan apa yang kamu rasakan saat menirukannya!' (Kriteria kesiapan: murid mampu menyebutkan minimal 1 objek lingkungan sekitar yang pernah ditiru dan 1 hal tentang pengalamannya) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru memandu murid mengingat kembali 4 objek lingkungan sekitar dari latihan sebelumnya, yaitu: (1) kucing melangkah pelan, (2) pohon tertiup angin lembut, (3) gemuruh hujan deras, dan (4) kicauan burung di ranting pohon (10 menit).
  • Guru memodelkan cara menceritakan kembali pengalaman meniru lingkungan sekitar secara berkesadaran menggunakan 3 butir panduan bercerita: (1) nama objek lingkungan yang dipilih, (2) bagian yang ditiru (gerak tubuh atau suara), dan (3) pengalaman/kesan yang dirasakan saat meniru (misalnya: merasa tenang, tertantang, atau gembira) (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Prinsip Menggembirakan: Guru mengadakan permainan giliran bercerita 'Estafet Tongkat Cerita', di mana musik diputar singkat dan murid yang memegang tongkat saat musik berhenti akan maju ke 'Lingkaran Refleksi' untuk menceritakan pengalamannya (15 menit).
  • Setiap murid menceritakan kembali pengalamannya bermain teater meniru lingkungan sekitar berdasarkan 3 butir panduan: (1) objek lingkungan yang ditiru, (2) bentuk gerak/suara yang ditiru, dan (3) pengalaman atau hal yang dirasakan (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid merefleksikan proses bercerita dengan menyimpulkan kembali secara berkesadaran bagaimana pengamatan terhadap lingkungan sekitar (hewan, tanaman, peristiwa alam) membantu mereka dalam bermain peran teater (15 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap isi cerita murid mengenai hubungan pengenalan lingkungan sekitar dengan pengalaman bermain teater (10 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran hari ini dan menutup kegiatan belajar dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu pengingat bergambar 4 objek lingkungan (kucing, pohon, hujan, burung) bagi murid yang membutuhkan bantuan mengingat bahan cerita.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan dipandu guru menggunakan pertanyaan berstruktur 3 butir panduan, sedangkan murid yang sudah lancar dipersilakan menceritakan 2 pengalaman objek lingkungan berbeda secara mandiri.
  • Produk: Penyampaian cerita kembali dilakukan secara lisan, dengan kebebasan memilih objek lingkungan sekitar yang paling berkesan dari pertemuan 1-4.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan lisan diagnostik: 'Sebutkan 1 objek lingkungan sekitar yang pernah kamu tirukan pada latihan sebelumnya dan ceritakan pengalamanmu saat menirukannya!' (Kriteria penerimaan: murid dapat menyebutkan minimal 1 objek lingkungan nyata dari latihan sebelumnya dan 1 deskripsi pengalaman/perasaan yang dirasakan).

Proses:

  • Pengamatan saat murid menceritakan kembali pengalaman meniru objek lingkungan sekitar berdasarkan 3 butir acuan: (1) menyebutkan objek lingkungan sekitar yang ditiru (pilihan: kucing, pohon ditiup angin, hujan, burung, atau objek sekitar lainnya yang telah dipelajari), (2) memuat unsur yang ditiru (gerak tubuh atau suara), (3) memuat kesan/pengalaman yang dirasakan saat meniru.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman di penutup: Murid menyebutkan 1 manfaat mengenal lingkungan sekitar saat bermain teater (Acuan jawaban yang diterima: memudahkan menirukan gerak/suara objek, membuat peran terasa lebih nyata, atau membantu imajinasi karakter).

Formatif:

  • Tanya jawab diagnostik di awal pembelajaran tentang objek lingkungan yang pernah ditiru
  • Observasi unjuk kerja saat murid menceritakan kembali pengalaman meniru lingkungan sekitar menggunakan rubrik penilaian

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menceritakan Pengalaman Meniru dan Pengenalan Lingkungan Sekitar (Acuan 3 butir: objek lingkungan, bentuk gerak/suara yang ditiru, pengalaman/kesan yang dirasakan)Belum mampu menceritakan pengalaman meniru dan hanya menyebutkan nama objek lingkungan tanpa memuat bentuk gerak/suara yang ditiru maupun pengalaman yang dirasakan meski telah dibimbing.Mampu menceritakan kembali dengan memuat 1 dari 3 butir acuan (misalnya menyebutkan objek lingkungan dan bentuk gerak/suaranya saja, tanpa menceritakan pengalaman/kesan yang dirasakan) dengan bimbingan guru.Mampu menceritakan kembali pengalaman meniru dan pengenalan lingkungan sekitar secara runtut dengan memuat lengkap 3 butir acuan (objek lingkungan, bentuk gerak/suara yang ditiru, serta pengalaman yang dirasakan).Mampu menceritakan kembali pengalaman meniru dan pengenalan lingkungan sekitar dengan memuat lengkap 3 butir acuan secara mendalam pada 2 objek lingkungan sekitar yang berbeda secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid mendapatkan kesempatan yang aman dan menyenangkan untuk menceritakan pengalaman bermain teaternya?
  • Bagaimana respons murid saat mengingat kembali pengenalan lingkungan sekitar yang dihubungkan dengan pengalaman bermain peran?

Murid:

  • Apa hal yang paling menyenangkan saat kamu menceritakan kembali pengalaman bermain teater hari ini?
  • Bagian mana dari lingkungan sekitar yang paling kamu ingat saat menirukannya?

Pertemuan 6 — Mengamati Berbagai Peran dan Tokoh di Lingkungan Sekitar untuk Persiapan Teater — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.1.5 Mengamati berbagai peran dan tokoh di sekitar untuk persiapan bermain teater

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa pembuka bersama (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik dengan menanyakan dan meminta murid mengidentifikasi peran tokoh berdasarkan 2 deskripsi tugas: (1) 'Siapakah orang di sekolah yang merapikan dan meminjamkan buku?' (acuan: pustakawan/penjaga perpustakaan); (2) 'Siapakah orang yang mengatur kelancaran lalu lintas di jalan dekat sekolah?' (acuan: polisi lalu lintas/satpam sekolah) (10 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu mengamati berbagai peran dan ciri khas tokoh di sekitar kita sebagai persiapan bermain teater (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru menyajikan media gambar/kartu visual 4 tokoh di sekitar: Kartu 1 Guru Kelas, Kartu 2 Dokter Anak, Kartu 3 Pedagang Buah, dan Kartu 4 Petugas Kebersihan (10 menit).
  • Murid dengan bimbingan guru secara berkesadaran mencermati ciri-ciri tiap tokoh pada gambar: seragam/pakaian, peralatan kerja utama yang dibawa, serta aktivitas khas yang sedang dilakukan (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Secara menggembirakan melalui kuis tebak tokoh 'Detektif Karakter', murid mengamati 4 kartu petunjuk ciri peran yang dibacakan guru lalu menuliskan nama tokoh yang tepat: Petunjuk 1 'Memakai stetoskop dan memeriksa anak yang demam' (kunci: Dokter); Petunjuk 2 'Membawa sapu lidi panjang dan tempat sampah dorong' (kunci: Petugas Kebersihan); Petunjuk 3 'Menulis materi pelajaran di papan tulis dan memegang buku pegangan' (kunci: Guru); Petunjuk 4 'Menimbang jeruk dan melayani pembeli' (kunci: Pedagang Buah) (15 menit).
  • Murid menerima Lembar Observasi Tokoh 'Persiapan Teater' yang memuat 3 pilihan peran tokoh lingkungan sekolah (Satpam Sekolah, Ibu Kantin, Petugas Tata Usaha) untuk diamati secara saksama (15 menit).
  • Murid memilih 1 peran tokoh lingkungan sekolah lalu mencatat hasil pengamatan ciri tokoh tersebut pada lembar kerja: (a) nama peran tokoh, (b) 2 ciri pakaian/tampilan, (c) 1 peralatan khas yang biasa dibawa/digunakan, dan (d) 1 aktivitas atau kebiasaan utama tokoh (kriteria penerimaan: rincian ciri logis dan sesuai dengan peran tokoh lingkungan sekolah yang dipilih) (5 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid saling memeriksa lembar observasi tokoh bersama teman sebangku untuk memastikan seluruh ciri peran teridentifikasi lengkap sesuai tokoh yang diamati (10 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan pentingnya mengamati detail ciri peran dan tokoh di sekitar agar kita mengenal karakter tersebut dengan baik saat mempersiapkan pementasan teater (10 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap hasil pengamatan murid, menyampaikan rencana pertemuan berikutnya mengenai properti sederhana tokoh, dan menutup pembelajaran dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu gambar tokoh berpenanda visual jelas bagi murid yang membutuhkan panduan visual konkret, serta daftar rincian tugas untuk murid cepat.
  • Proses: Memberikan bimbingan langsung dalam mengidentifikasi ciri tokoh bagi murid yang membutuhkan scaffolding, sementara murid yang mahir mengamati tokoh mandiri dengan mendata ciri yang lebih rinci.
  • Produk: Murid dapat menuangkan hasil pengamatan dalam bentuk tulisan kata kunci singkat atau centang atribut pada tabel panduan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik mengenali peran tokoh dari deskripsi tugas: (1) Penjaga/pengelola perpustakaan (acuan: pustakawan/penjaga perpustakaan); (2) Pengatur jalan (acuan: polisi lalu lintas/satpam).

Proses:

  • Observasi formatif saat pengerjaan kuis 'Detektif Karakter' dan pengisian Lembar Observasi Tokoh Sekitar (pengecekan ketepatan mengenali nama peran, ciri pakaian, alat kerja, dan kebiasaan/aktivitas peran).

Akhir Pertemuan:

  • Cek kelengkapan pengisian Lembar Observasi Tokoh: keterpenuhan 4 komponen ciri peran (nama tokoh, 2 ciri tampilan/seragam, 1 peralatan khas, 1 aktivitas utama) sesuai tokoh lingkungan sekolah yang dipilih.

Formatif:

  • Kuis tebak ciri tokoh 'Detektif Karakter' (4 butir petunjuk)
  • Lembar Observasi Pengamatan Peran Tokoh Sekitar

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Pengamatan Ciri dan Peran Tokoh di Lingkungan SekitarMengamati peran tokoh di sekitar tetapi hanya mengidentifikasi nama tokoh tanpa mampu mencatat ciri tampilan, peralatan, maupun aktivitas khasnya.Mengamati peran tokoh di sekitar dengan mengidentifikasi nama tokoh serta 1 sampai 2 ciri (tampilan/peralatan/aktivitas) dengan bimbingan guru.Mengamati peran tokoh di sekitar secara tepat dengan mengidentifikasi nama peran, 2 ciri tampilan, 1 peralatan khas, dan 1 aktivitas utama tokoh secara mandiri sesuai acuan kriteria.Mengamati peran tokoh di sekitar secara tepat, lengkap, dan rinci melebihi acuan kriteria dasar (nama peran, 2 ciri tampilan, 1 peralatan khas, 1 aktivitas utama, serta menambahkan kebiasaan khas lainnya) secara konsisten dan mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah murid antusias dan mampu mengamati detail ciri peran tokoh di lingkungan sekitarnya?
  • Bagian mana dari kegiatan pengamatan peran tokoh yang membutuhkan penjelasan atau panduan tambahan?

Murid:

  • Ciri tokoh mana yang paling mudah kalian amati hari ini?
  • Mengapa kita perlu mengamati peran dan kebiasaan orang lain sebelum bermain peran dalam teater?

Pertemuan 7 — Menggunakan Properti Sederhana yang Sesuai dengan Tokoh yang Diperankan — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.1.4 Menggunakan properti yang sesuai dengan tokoh yang diperankan

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, berdoa bersama, dan mengecek kehadiran murid (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui permainan tebak fungsi benda: guru menunjukkan 3 benda (sapu lidi, selendang kain, dan kacamata karton) dan meminta murid memilih benda yang tepat untuk 3 tokoh target: tokoh 1 Nenek Berjalan Lambat (kunci: kacamata karton atau selendang sebagai selendang bahu/kerudung), tokoh 2 Petani/Petugas Kebersihan (kunci: sapu lidi), dan tokoh 3 Putri Menari (kunci: selendang kain) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru memberikan demonstrasi konsep properti pentas: membedakan benda sehari-hari biasa dengan benda yang dialihfungsikan sebagai pendukung peran tokoh di atas panggung (15 menit).
  • Murid secara bergantian mengamati kotak perlengkapan kelas yang berisi 4 set benda sederhana (tongkat kayu/penggaris kayu, topi caping/kertas lipat, celemek kain, kain kerudung/selendang) dan mengidentifikasi kecocokannya dengan peran yang disediakan (kunci kecocokan: caping -> Petani; celemek -> Koki; tongkat kayu -> Kakek Tua; kain selendang -> Burung Merak/Putri) (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid mengikuti tantangan 'Bermain Properti Cepat' yang menggembirakan: setiap murid memilih satu kartu peran dari 3 opsi kartu peran (Kartu A: Dokter Anak dengan stetoskop tali; Kartu B: Petani Desa dengan cangkul kardus/caping koran; Kartu C: Pelaut dengan teropong gulungan kertas) (15 menit).
  • Setiap murid secara mandiri mengambil dan menggunakan benda/properti sederhana yang telah disediakan di meja sudut kelas sesuai kartu peran yang dipilih, lalu memperagakan cara memegang atau mengenakan properti tersebut di ruang gerak kelas secara tepat (misal: memegang teropong kertas di depan mata untuk Pelaut; memegang cangkul kardus dengan kedua tangan menyentuh lantai untuk Petani; mengalungkan stetoskop tali di leher untuk Dokter) (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru duduk melingkar dan memeriksa kembali kecocokan properti yang telah dipakai dengan karakter tokoh masing-masing berdasarkan fungsi fisik benda (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran mengenai pentingnya kesesuaian properti dengan ciri fisik dan pekerjaan tokoh yang diperankan (5 menit).
  • Guru memberikan cek pemahaman singkat lisan dan apresiasi terhadap eksplorasi murid sebelum menutup pertemuan dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan variasi jenis properti yang lebih nyata (kacamata bingkai plastik, topi caping) untuk murid yang membutuhkan bantuan konkret visual, serta benda terbuka (potongan kain, gulungan karton serbaguna) untuk murid yang siap bereksplorasi.
  • Proses: Murid yang masih bingung diberikan panduan langsung memilih 1 dari 2 properti yang paling kontras, sedangkan murid yang mandiri memilih sendiri dari kotak properti terbuka.
  • Produk: Semua murid mendemonstrasikan penggunaan properti sesuai peran; murid cepat mendemonstrasikan penggunaan 2 properti sekaligus yang saling melengkapi peran tokohnya.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik menjodohkan 3 properti dengan tokoh: Guru memperlihatkan sapu lidi, selendang kain, dan kacamata karton. Murid diminta menunjuk benda yang sesuai untuk: (1) Petugas kebersihan, (2) Putri penari, (3) Nenek. Acuan ketepatan: Petugas kebersihan -> sapu lidi; Putri penari -> selendang kain; Nenek -> kacamata karton.

Proses:

  • Pengamatan formatif saat tahap Mengaplikasi: Guru memeriksa apakah murid menggunakan properti sederhana yang dipilih sesuai dengan kartu peran (opsi peran & acuan: Pelaut -> teropong gulungan kertas diarahkan ke mata; Petani -> cangkul kardus/caping diletakkan di kepala/diayun ke bawah; Dokter -> stetoskop tali dikalungkan/ditempelkan di dada).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan penutup: Guru menyebutkan peran 'Guru Sekolah' dan 'Penebang Pohon', murid memilih secara lisan benda apa yang paling sesuai dari opsi: buku catatan vs kapak kardus (acuan jawaban: Guru Sekolah -> buku catatan; Penebang Pohon -> kapak kardus).

Formatif:

  • Unjuk kerja penggunaan properti sederhana sesuai tokoh yang diperankan melalui lembar observasi guru

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penggunaan Properti Sesuai TokohBelum mampu memilih dan memegang/mengenakan properti yang sesuai dengan tokoh yang diperankan meski telah diberikan arahan langsung.Mampu memilih properti yang sesuai dengan tokoh namun masih membutuhkan bimbingan guru dalam cara memegang atau mengenakannya pada tubuh.Mampu memilih serta menggunakan properti sederhana secara mandiri dan tepat sesuai dengan fungsi peran tokoh yang dimainkan.Mampu memilih serta menggunakan lebih dari satu properti sederhana secara mandiri, luwes, dan konsisten mendukung identitas peran tokoh.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah ragam properti sederhana yang disediakan sudah cukup mudah dimanipulasi oleh murid kelas 3?
  • Bagaimana keterlibatan murid saat menghubungkan benda konkret dengan peran tokoh yang mereka mainkan?

Murid:

  • Benda apa yang kamu pakai hari ini dan peran apa yang sedang kamu tunjukkan?
  • Apakah benda tersebut membuatmu merasa benar-benar menjadi tokoh itu?

Pertemuan 8 — Memainkan Lakon Sederhana dalam Cerita Bersama Kelompok — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.1.6 Memainkan sebuah lakon dalam cerita

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memandu pemanasan imajinasi gerak singkat bersama (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu bersama kelompok memainkan lakon sederhana dalam sebuah cerita (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik: murid dibagi ke dalam kelompok kecil (4-5 orang) dan diminta memperagakan respons spontan secara berkelompok saat narator guru membacakan 1 penggalan situasi cerita pendek 'Hujan Badai Datang' untuk memetakan kesiapan murid memainkan peran bersama dalam cerita (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid dalam kelompok menyimak naskah lakon sederhana 'Petualangan di Hutan Sahabat' yang dibagikan guru, memuat 3 babak alur: (1) Awal: Tiga hewan (Kancil, Burung Pipit, Kura-kura) dan Pohon Tua sedang menikmati pagi; (2) Tengah: Angin kencang datang meniup sarang Burung Pipit sehingga semua panik dan bergotong royong menahan sarang; (3) Akhir: Badai reda dan semua bersyukur sarang selamat (10 menit).
  • Setiap anggota kelompok memilih dan menyepakati pembagian peran lakon: Narator, Kancil, Burung Pipit, Kura-kura, dan Pohon Tua (atau latar artistik hidup), lalu memahami urutan kemunculan tokoh dalam lakon tersebut sesuai teks (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Setiap kelompok melakukan latihan memainkan lakon 'Petualangan di Hutan Sahabat' secara bergantian di sudut ruang kelas, memastikan setiap tokoh beraksi sesuai urutan babak (Awal, Tengah, Akhir) didampingi narator kelompok (20 menit).
  • Kelompok memainkan lakon secara utuh dalam permainan mini panggung 'Panggung Cerita Kita' di depan kelompok lain secara bergiliran, memainkan alur lakon dari awal hingga akhir cerita (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama anggota kelompoknya mendiskusikan kelancaran mereka saat memainkan lakon: apakah seluruh babak cerita (awal, tengah, akhir) berhasil dimainkan bersama tanpa terputus (10 menit).
  • Guru memberikan penguatan formatif terhadap keberhasilan seluruh kelompok dalam menyelesaikan dan memainkan lakon cerita secara utuh (5 menit).

Penutup:

  • Guru memfasilitasi murid menyimpulkan bahwa memainkan lakon memerlukan kerja sama antar-pemeran agar alur cerita tersampaikan utuh dari awal sampai akhir (3 menit).
  • Guru menyampaikan kegiatan tindak lanjut untuk pertemuan berikutnya, yaitu asesmen sumatif bermain lakon kelompok, serta menutup pembelajaran dengan doa dan salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Naskah cerita disediakan dengan penanda visual warna untuk urutan kemunculan babak (Awal = hijau, Tengah = kuning, Akhir = merah) bagi kelompok yang membutuhkan bantuan mengingat urutan alur.
  • Proses: Kelompok yang membutuhkan bimbingan didampingi guru pada latihan transisi antarbabak cerita, sedangkan kelompok yang sudah lancar diberi kesempatan mengeksplorasi variasi blocking panggung saat memainkan lakon.
  • Produk: Kelompok memainkan lakon cerita dengan pembagian peran yang disesuaikan: peran tokoh bergerak aktif, peran narator pengarah cerita, atau peran latar artistik aktif (seperti pohon tertiup angin).

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik kesiapan bermain peran bersama: Guru membacakan 1 penggalan situasi lakon: 'Tiba-tiba angin puting beliung datang, semua hewan berlari dan pohon bergoyang kencang!'. Kriteria penilaian diagnostik: Kelompok dianggap siap jika minimal 3 dari 4 anggota serempak merespons dengan aksi peran yang selaras dengan peristiwa cerita tersebut (acuan: tokoh hewan bergerak panik/berlindung dan tokoh pohon meliuk-liuk tertiup angin).

Proses:

  • Observasi formatif saat kelompok memainkan lakon 'Petualangan di Hutan Sahabat' menggunakan lembar cek keterlaksanaan 3 babak lakon: Babak Awal (kemunculan tokoh di pagi hari), Babak Tengah (konflik badai menerpa sarang), dan Babak Akhir (penyelesaian gotong royong dan badai reda). Kriteria: Kelompok mampu memainkan ketiga babak cerita secara berurutan tanpa meninggalkan satupun babak cerita.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan akhir sesi: Guru menanyakan kepada setiap kelompok: 'Sebutkan 3 tahapan alur cerita yang baru saja kelompokmu mainkan dalam lakon tadi!'. Acuan jawaban benar: (1) Babak Awal: Tiga hewan dan pohon berkumpul di pagi hari; (2) Babak Tengah: Angin kencang/badai menerpa sarang burung pipit; (3) Babak Akhir: Badai reda dan sarang berhasil diselamatkan bersama.

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja saat kelompok berlatih dan memainkan lakon sederhana dalam cerita

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Memainkan lakon dalam ceritaHanya mampu memainkan 1 bagian babak cerita dan peran terhenti sebelum cerita selesai walau didampingi guru.Mampu memainkan 2 bagian babak cerita secara berurutan, namun memerlukan arahan guru untuk menyelesaikan babak terakhir.Mampu memainkan lakon cerita secara utuh mencakup 3 babak (awal, tengah, akhir) secara runtut bersama kelompok dengan sedikit arahan.Mampu memainkan lakon cerita secara utuh mencakup 3 babak (awal, tengah, akhir) secara runtut, lancar, dan mandiri bersama kelompok dari awal hingga akhir.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh kelompok berhasil memainkan lakon cerita dari babak awal hingga akhir?
  • Bagian babak lakon mana yang paling sering membuat murid terhenti atau bingung saat bermain bersama kelompok?

Murid:

  • Apakah kelompokmu berhasil memainkan cerita tadi dari awal, tengah, sampai akhir?
  • Peran apa yang kamu mainkan di dalam lakon cerita tadi bersama teman-temanmu?

Pertemuan 9 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 3.1.1 Menirukan gerak tubuh sesuai tokoh atau perilaku objek sekitar melalui proses meniru (mimesis)
  • TP 3.1.2 Menirukan suara/vokal sesuai tokoh atau perilaku objek sekitar melalui proses meniru (mimesis)
  • TP 3.1.3 Menceritakan kembali pengalaman dan pengenalan lingkungan sekitar dalam bermain teater
  • TP 3.1.4 Menggunakan properti yang sesuai dengan tokoh yang diperankan
  • TP 3.1.5 Mengamati berbagai peran dan tokoh di sekitar untuk persiapan bermain teater
  • TP 3.1.6 Memainkan sebuah lakon dalam cerita

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan bahwa pertemuan hari ini adalah asesmen sumatif unjuk kerja bermain lakon kelompok serta refleksi lisan (3 menit).
  • Guru mengundi dan mengumumkan urutan tampil 6 kelompok serta mengingatkan aturan ruang apresiasi: murid yang belum tampil duduk tenang menyaksikan penampilan kelompok lain (2 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru menjelaskan alur asesmen sumatif: setiap kelompok memiliki waktu 10 menit untuk persiapan panggung dan menampilkan lakon sederhana, kemudian dilanjutkan dengan sesi refleksi lisan bergiliran di hadapan guru (3 menit).
  • Guru membacakan aspek unjuk kerja yang diamati: peragaan gerak mimesis objek/tokoh, tiruan suara/vokal tokoh/objek, penggunaan properti sederhana yang sesuai, penampilan peran hasil pengamatan lingkungan, keutuhan lakon kelompok, serta cerita lisan pengalaman bermain peran (2 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Tugas 1: Pelaksanaan unjuk kerja penampilan lakon sederhana secara bergantian untuk Kelompok 1 sampai Kelompok 6 (durasi 10 menit per kelompok termasuk pergantian/persiapan panggung, total 60 menit) di mana murid menampilkan hasil pengamatan peran tokoh/objek sekitar, gerak mimesis, suara/vokal karakter, dan penggunaan properti yang sesuai (57 menit).
  • Guru melakukan observasi terstruktur terhadap penampilan masing-masing kelompok dan mencatat capaian setiap anggota kelompok pada lembar rubrik unjuk kerja pemeranan kelompok (5 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Tugas 2: Pelaksanaan refleksi lisan bergiliran di depan guru per kelompok (6 kelompok bergantian, rata-rata 5-6 menit per kelompok atau 1-1,5 menit per murid) dengan menjawab pertanyaan panduan refleksi: (1) Siapa tokoh/objek lingkungan sekitar yang kamu tirukan?, (2) Bagaimana pengalamanmu saat menirukan gerak dan suaranya dalam bermain teater? (30 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan apresiasi menyeluruh atas usaha seluruh murid dalam menyelesaikan rangkaian penampilan lakon dan refleksi peran Bab 1 (2 menit).
  • Guru merangkum perjalanan belajar Bab 1 'Ayo Meniru!' bahwa teater berawal dari kepekaan mengamati, meniru gerak-suara, dan berkolaborasi di lingkungan sekitar, lalu menutup sesi dengan doa bersama (1 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Tidak ada modifikasi kompetensi; naskah/adegan lakon disesuaikan dengan topik pengamatan yang telah dipilih masing-masing kelompok pada pertemuan sebelumnya.
  • Proses: Akomodasi akses berupa pendampingan isyarat visual penanda sisa waktu tampil tanpa mengubah kriteria penilaian unjuk kerja.
  • Produk: Format bukti sumatif seragam: penampilan lakon kelompok berdurasi 10 menit dan refleksi lisan terstruktur sesuai acuan rubrik.

Asesmen Pertemuan:

Sumatif Bab:

  • Unjuk kerja bermain lakon kelompok sederhana dan refleksi lisan bergiliran: Penampilan lakon kelompok yang memperagakan gerak, suara, dan properti sederhana hasil pengamatan lingkungan, disertai penyampaian lisan pengalaman bermain peran
  • unjuk kerja bermain peran kelompok: Penampilan bermain lakon sederhana dalam kelompok (6 kelompok @ 4-5 murid, tampil bergantian masing-masing 10 menit termasuk persiapan/pergantian) yang menampilkan hasil pengamatan tokoh/objek sekitar, peragaan gerak mimesis, tiruan suara/vokal, serta pemanfaatan properti pendukung yang sesuai (65 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja pemeranan kelompok)
  • refleksi lisan bergiliran dalam kelompok: Cerita lisan singkat murid mengenai pengalaman menirukan tokoh/lingkungan sekitar saat bermain peran, disampaikan bergiliran di depan guru per kelompok setelah kelompoknya selesai tampil (rata-rata 1-1,5 menit per murid terintegrasi dalam alur kelompok) (40 menit; kelompok; instrumen: lembar observasi refleksi lisan)

Sumatif:

  • Unjuk kerja bermain lakon kelompok sederhana dan refleksi lisan bergiliran: Penampilan lakon kelompok yang memperagakan gerak, suara, dan properti sederhana hasil pengamatan lingkungan, disertai penyampaian lisan pengalaman bermain peran
  • unjuk kerja bermain peran kelompok: Penampilan bermain lakon sederhana dalam kelompok (6 kelompok @ 4-5 murid, tampil bergantian masing-masing 10 menit termasuk persiapan/pergantian) yang menampilkan hasil pengamatan tokoh/objek sekitar, peragaan gerak mimesis, tiruan suara/vokal, serta pemanfaatan properti pendukung yang sesuai (65 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja pemeranan kelompok)
  • refleksi lisan bergiliran dalam kelompok: Cerita lisan singkat murid mengenai pengalaman menirukan tokoh/lingkungan sekitar saat bermain peran, disampaikan bergiliran di depan guru per kelompok setelah kelompoknya selesai tampil (rata-rata 1-1,5 menit per murid terintegrasi dalam alur kelompok) (40 menit; kelompok; instrumen: lembar observasi refleksi lisan)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menirukan gerak tubuh sesuai tokoh atau objek sekitar (TP 3.1.1)Belum memperagakan gerak tubuh yang mencerminkan ciri tokoh atau objek sekitar selama lakon berlangsung.Memperagakan gerak tubuh tokoh/objek sekitar tetapi masih ragu-ragu dan belum konsisten sepanjang adegan.Konsisten memperagakan gerak tubuh mimesis yang sesuai dengan ciri fisik tokoh atau perilaku objek sekitar dalam lakon.Memperagakan gerak tubuh mimesis secara luwes, konsisten, dan sangat jelas mencerminkan ciri khas tokoh atau perilaku objek sekitar tanpa ragu.
Menirukan suara atau vokal sesuai tokoh atau objek sekitar (TP 3.1.2)Belum membunyikan tiruan suara atau vokal yang sesuai dengan karakter tokoh atau objek sekitar.Menirukan suara/vokal karakter tokoh atau objek sekitar namun hanya sekali dan belum terjaga saat dialog/adegan.Konsisten menirukan suara atau vokal karakter tokoh/objek sekitar sesuai adegan lakon yang dimainkan.Konsisten menirukan suara atau vokal karakter tokoh/objek sekitar dengan variasi bunyi yang jelas dan selaras dengan gerak perannya.
Menggunakan properti yang sesuai dengan tokoh (TP 3.1.4)Tidak membawa atau tidak menggunakan properti yang relevan dengan tokoh yang diperankan.Membawa properti tetapi jarang digunakan atau penggunaannya tidak mendukung pemeranan tokoh dalam lakon.Menggunakan properti sederhana secara tepat dan selaras untuk memperjelas tokoh yang diperankan.Menggunakan properti sederhana secara terampil, tepat guna, dan konsisten mendukung setiap aksi tokoh yang diperankan.
Mengamati peran dan memainkan lakon dalam cerita (TP 3.1.5 & TP 3.1.6)Belum menunjukkan peran yang terencana dari hasil pengamatan dan alur lakon tidak selesai.Menampilkan peran hasil pengamatan namun interaksi peran dalam alur cerita lakon kelompok masih terputus-putus.Menampilkan peran hasil pengamatan lingkungan sekitar secara runtut dan memainkan lakon sederhana bersama kelompok hingga selesai.Menampilkan peran hasil pengamatan secara utuh, memainkan lakon bersama kelompok dengan transisi cerita yang lancar dari awal hingga akhir.
Menceritakan kembali pengalaman dan pengenalan lingkungan dalam berteater (TP 3.1.3)Tidak dapat menceritakan peran lingkungan yang dimainkan maupun pengalaman bermain teaternya saat refleksi lisan.Menyebutkan nama tokoh/objek lingkungan yang ditiru namun belum menceritakan pengalaman saat memainkannya.Menceritakan dengan runtut tokoh/objek lingkungan yang diamati serta menyampaikan minimal satu pengalaman nyata saat meniru peran dalam teater.Menceritakan secara runtut dan detail tokoh/objek lingkungan yang diamati serta mengartikulasikan pengalaman dan hal menarik saat meniru peran dalam teater secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 10 menit per kelompok mencukupi untuk mengamati ketercapaian seluruh TP pada setiap murid?
  • Bagaimana variasi penguasaan gerak, suara, dan properti murid saat unjuk kerja lakon dibandingkan latihan pada pertemuan sebelumnya?
  • Apakah instrumen lembar observasi refleksi lisan efektif menggali pengalaman murid mengenali peran di lingkungannya?

Murid:

  • Bagian mana dari peran tokoh atau benda sekitar yang paling kamu senangi saat tampil bersama kelompok tadi?
  • Apa hal paling baru yang kamu pelajari tentang menirukan gerak dan suara di sekitarmu sepanjang Bab 1 ini?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi 2025), Bab 1: Ayo Meniru!
  2. Kartu gambar hewan dan objek sekitar (kucing, jarum jam, pohon, kupu-kupu)
  3. Ruang kelas yang dilapangkan untuk area gerak
  4. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi 2025), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI
  5. Kartu peraga gerak tokoh (tentara berbaris, kakek tua berjalan, juru masak, petani menanam padi)
  6. Rebana/alat tepuk pengatur ritme gerak
  7. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas III (Kemendikdasmen 2025)
  8. Rekaman audio efek suara alam dan benda sekitar (guntur, motor, pintu, air, sirine, bel, sapu, kereta)
  9. Kartu gambar dan teks objek sekitar (sirine ambulans, bel sekolah, sapu lidi, kereta api)
  10. Pengeras suara/gawai untuk pemutaran audio
  11. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas III (Pusat Perbukuan Kemendikbudristek 2025)
  12. Kartu Karakter Tokoh (Kakek Tua, Anak Kecil, Raksasa, Robot)
  13. Peralatan sekat kelas untuk permainan tebak vokal Kotak Suara Misterius
  14. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi 2025)
  15. Tongkat estafet cerita
  16. Kartu bergambar objek lingkungan sekitar (kucing, pohon, hujan, burung)
  17. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi, 2025)
  18. Kartu bergambar aneka profesi/tokoh di sekitar
  19. Lembar Observasi Tokoh 'Persiapan Teater'
  20. Buku Panduan Guru Seni Teater SD Kelas III (Kemendikbudristek 2025)
  21. Benda-benda kelas dan properti sederhana: topi caping/koran, selendang kain, kacamata tanpa lensa/karton, tongkat penggaris kayu, tali stetoskop buatan, teropong dari karton gulung
  22. Kartu gambar/peran profesi dan tokoh sederhana
  23. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas III (Kemendikdasmen 2025) Bab 1 Aktivitas 3.3
  24. Teks naskah lakon sederhana 'Petualangan di Hutan Sahabat' (alur 3 babak: Awal, Tengah, Akhir)
  25. Panggung kelas/ruang terbuka kelas untuk area bermain lakon
  26. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas III (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
  27. Properti sederhana buatan murid/kelompok (topeng kertas, tongkat ranting, celemek, kain, kartu karakter).
  28. Ruang kelas/area panggung pertunjukan kelas.
  29. Lembar rubrik unjuk kerja pemeranan lakon kelompok dan lembar catatan observasi refleksi lisan.

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.