Modul AjarBab 4Fase ASemester 2

Modul Ajar Seni Teater Kelas 2 Bab 4: Bercerita

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Seni Teater kelas 2 untuk Bab 4 "Bercerita", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Seni Teater Kelas 2 Bab 4: Bercerita

Seni Teater - Kelas 2

Bab 4

MODUL AJAR

Seni Teater — Kelas 2 (Fase A)

Topik: Bab 4 — Bercerita

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranSeni Teater
Fase / KelasFase A / Kelas 2
TopikBab 4 — Bercerita
Alokasi Waktu27 JP (27 x 35 menit = 945 menit)
Jumlah Pertemuan9
Tahun Ajaran2026/2027
Semester2

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 2.4.1 Merespons gerak tubuh dan suara sebagai media untuk mengomunikasikan emosi dalam cerita
  2. TP 2.4.2 Menceritakan sebuah karya dengan kosakata sehari-hari
  3. TP 2.4.3 Menunjukkan jenis-jenis properti atau alat bantu yang dapat mendukung cerita
  4. TP 2.4.4 Memainkan sebuah lakon pertunjukan bercerita berdasarkan tokoh di sekitar atau rekaan

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis✓
Kreativitas✓
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan
Komunikasi✓

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Bagaimana bentuk tubuhmu saat melompat gembira ketika mendapat hadiah kejutan?
  2. Bagaimana posisi bahu dan kepalamu ketika merasa sedih karena mainan kesayanganmu hilang?
  3. Bagaimana suara dan gerak tubuhmu saat tiba-tiba mendengar petir menggelegar dan merasa takut?
  4. Bagaimana suara dan gerak tubuhmu saat merasa sangat marah ketika mainanmu dirusak?
  5. Setelah mendengar sebuah cerita dongeng yang seru, kata-kata apa saja yang biasa kamu pakai untuk menceritakannya lagi kepada temanmu?
  6. Bagaimana caramu menceritakan kejadian yang dialami tokoh dalam cerita dengan bahasamu sendiri?
  7. Siapa saja tokoh yang ada di dalam pertunjukan yang baru kita lihat?
  8. Kejadian apa yang dialami oleh para tokoh dalam pertunjukan tersebut?
  9. Jika kita ingin bercerita tentang seekor burung di hutan, benda apa saja di sekitar kita yang bisa kita jadikan pohon atau sarang burung?
  10. Bagaimana sebuah benda alami seperti daun kering atau batu dapat membantu orang lain membayangkan cerita kita?
  11. Benda buatan apa saja di kelas atau rumah yang bisa kita pakai saat menceritakan adegan dokter memeriksa pasien?
  12. Mengapa kita membutuhkan benda atau alat bantu buatan saat bercerita di panggung?
  13. Siapa saja tokoh atau orang di sekitar sekolah dan rumah yang sering kamu jumpai setiap hari?
  14. Bagaimana caramu memainkan cerita bersama teman saat menjadi tokoh yang ada di sekitarmu?
  15. Siapakah tokoh khayalan atau rekaan favoritmu dari cerita dongeng atau fabel?
  16. Bagaimana caramu memainkan tokoh rekaan itu saat membawakan sebuah cerita di depan kelas?
  17. Bagaimana caramu menunjukkan perasaan senang, sedih, takut, atau marah saat memerankan tokoh cerita di depan teman-teman?
  18. Benda apa saja yang bisa kamu tunjukkan untuk membuat cerita lakonmu menjadi lebih jelas?
  19. Bagaimana caramu menceritakan kembali peristiwa dalam lakon yang baru saja kamu mainkan dengan kata-katamu sendiri?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Merespons Gerak Tubuh untuk Mengomunikasikan Emosi Senang dan Sedih dalam Cerita — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 2.4.1 Merespons gerak tubuh dan suara sebagai media untuk mengomunikasikan emosi dalam cerita

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, memeriksa kehadiran, dan mengajak berdoa bersama (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik respons gerak tubuh: guru menyebutkan 2 situasi emosi, yaitu (1) Situasi senang: 'Kucingmu yang hilang akhirnya pulang!', dan (2) Situasi sedih: 'Es krim yang baru dibeli jatuh ke tanah!'. Guru meminta seluruh murid serempak menunjukkan respons gerak tubuhnya (acuan kesiapan: respons senang = tubuh terbuka, melompat/tangan terangkat; respons sedih = tubuh menguncup, kepala tertunduk/bahu lunglai) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Guru membacakan penggalan cerita 1: 'Kiko Kelinci melompat riang di kebun wortel yang subur, ia bersorak karena menemukan wortel emas!' Murid mengamati demonstrasi guru tentang gestur tubuh terbuka, tegak, dan tangan terangkat ke atas untuk emosi senang (10 menit).
  • Guru membacakan penggalan cerita 2: 'Sore harinya, hujan deras turun dan wortel emas Kiko hanyut terbawa arus air selokan.' Murid mengamati demonstrasi guru tentang gestur tubuh membungkuk, kepala tertunduk, dan langkah gontai untuk emosi sedih (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Permainan Menggembirakan 'Patung Cerita Bahagia dan Duka': Guru membunyikan rebana perlahan sambil bercerita; saat rebana berhenti dan guru berseru 'Senang!', seluruh murid membeku menjadi patung dengan gerak tubuh senang (misal: kedua tangan terentang ke atas, dada tegak). Saat guru berseru 'Sedih!', murid membeku menjadi patung gerak sedih (misal: menunduk, lutut ditekuk lunglai) (15 menit).
  • Praktik Berpasangan Merespons Adegan: Murid berpasangan memainkan 2 kartu cerita bergambar yang dibagikan guru: Kartu A (Merayakan ulang tahun bersama teman-teman) dan Kartu B (Balon udara terlepas dan terbang hilang). Satu murid membaca/menyimak situasi, pasangannya merespons dengan gerak tubuh yang sesuai (acuan respons: Kartu A = gerak tubuh senang; Kartu B = gerak tubuh sedih), lalu bertukar peran (20 menit).
  • Tantangan Mandiri Gerak Tubuh Emosi: Setiap murid secara mandiri merespons 2 narasi cerita singkat berturut-turut dari guru: Narasi 1 'Mendapat bintang prestasi di kelas' (respons: gerak tubuh senang) dan Narasi 2 'Pensil warna kesayangan patah terinjak' (respons: gerak tubuh sedih). Guru mengamati ketepatan respons gerak tubuh (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru duduk melingkar dan melakukan refleksi terbimbing mengenai perbedaan sensasi fisik saat melakukan gerak tubuh terbuka (senang) dibandingkan gerak tubuh membungkuk/menguncup (sedih) dalam mengomunikasikan emosi cerita (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik dan mengonfirmasi ketepatan pemahaman murid bahwa gerak tubuh (postur, posisi tangan, dan kepala) dapat secara jelas menceritakan perasaan tokoh tanpa harus berbicara (5 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran hari ini dan menutup kegiatan dengan doa serta salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu cerita dengan gambar ilustrasi ekspresi yang sangat jelas bagi murid yang membutuhkan panduan visual konkret.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan contoh pemodelan gerak fisik langsung oleh guru (scaffolding), sedangkan murid yang sudah mahir diberi tantangan merespons cerita dengan variasi level gerak tubuh (level tinggi melompat untuk senang, level rendah bersimpuh di lantai untuk sedih).
  • Produk: Respons gerak tubuh dinilai berdasarkan ketepatan postur tubuh (terbuka/tegak untuk emosi senang, tertunduk/menguncup untuk emosi sedih).

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pemeriksaan diagnostik respons fisik murid terhadap 2 pemicu situasi cerita: (1) Situasi senang: 'Kucing yang hilang kembali pulang!' -> kriteria siap: tubuh merespons terbuka/tegak/melompat; (2) Situasi sedih: 'Es krim baru jatuh ke tanah!' -> kriteria siap: tubuh merespons membungkuk/lunglai/menunduk.

Proses:

  • Lembar observasi unjuk kerja gerak tubuh merespons 2 narasi cerita mandiri: Narasi 1 emosi senang (acuan: postur tegak/tangan terangkat/terbuka) dan Narasi 2 emosi sedih (acuan: postur membungkuk/kepala tertunduk/bahu lunglai). Indikator: ketepatan dan kesesuaian gestur tubuh dengan emosi cerita.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman respon cepat di akhir sesi: Murid menunjukkan pose tubuh mematung saat guru menyebutkan salah satu emosi: 'Tunjukkan pose patung tubuh saat mendengar kabar sedih dalam cerita!' (acuan ketepatan: tubuh membungkuk/menguncup, kepala menunduk).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja respons gerak tubuh emosi senang dan sedih saat permainan 'Patung Cerita' dan latihan mandiri

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Merespons gerak tubuh untuk mengomunikasikan emosi senang dan sedih dalam ceritaBelum mampu menampilkan respons gerak tubuh yang sesuai untuk emosi senang maupun sedih dalam cerita meski telah diberi contoh langsung.Mampu merespons gerak tubuh secara tepat hanya pada 1 emosi (senang saja atau sedih saja) dalam cerita dengan bimbingan penuh guru.Mampu merespons gerak tubuh secara tepat pada kedua emosi (senang: postur terbuka/tegak; sedih: postur menguncup/tertunduk) sesuai cerita secara mandiri.Mampu merespons gerak tubuh secara tepat, konsisten, dan ekspresif pada kedua emosi (senang dan sedih) dalam cerita dengan variasi gestur tubuh secara mandiri tanpa ragu.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid dapat membedakan respons fisik gerak tubuh antara emosi senang dan sedih saat menyimak narasi cerita?
  • Bagian kegiatan mana yang paling efektif membantu murid yang masih malu-malu untuk mengekspresikan gerak tubuhnya?

Murid:

  • Bagian tubuh mana yang paling mudah kamu gerakkan saat menunjukkan perasaan senang dalam cerita?
  • Bagaimana perasaanmu saat menjadi patung gerak sedih tadi?

Pertemuan 2 — Merespons Suara dan Gerak Tubuh untuk Mengomunikasikan Emosi Takut dan Marah dalam Cerita — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 2.4.1 Merespons gerak tubuh dan suara sebagai media untuk mengomunikasikan emosi dalam cerita

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, berdoa bersama, serta memeriksa kehadiran murid (5 menit).
  • Guru mengaitkan pembelajaran dengan pertemuan sebelumnya (emosi senang dan sedih), lalu menyampaikan fokus hari ini: merespons suara dan gerak tubuh untuk emosi takut dan marah dalam cerita (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui pemantik gerak dan suara: guru memperagakan cuplikan situasi 'Ada raksasa datang!' (takut) dan situasi 'Ada yang merebut bukumu!' (marah), kemudian meminta murid menirukan sekilas suara dan gerak tubuh untuk melihat kesiapan awal murid (acuan respons tepat: takut = tubuh menciut/gemetar dan suara memekik/berbisik gemetar; marah = tubuh tegap/menghentak dan suara menggeram/tegas) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak demonstrasi guru yang membacakan 2 penggalan cerita pendek: Cerita A (Kancil terjebak di goa gelap bergemuruh suara binatang buas) yang memuat emosi takut, dan Cerita B (Beruang mendapati sarang madunya dirusak serigala) yang memuat emosi marah (10 menit).
  • Guru memandu murid mengenali ciri suara dan gerak tubuh dari kedua emosi tersebut dalam cerita: emosi takut menggunakan gerak tubuh menyusut/mundur/bergetar dengan suara lirih bergetar atau pekikan pendek; emosi marah menggunakan gerak tubuh menghentak/mengepal/tegap dengan suara berat atau seruan keras menggelegar (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Guru mengajak murid memainkan permainan tebak gerak-suara 'Patung Emosi Cerita': guru membunyikan ketukan rebana atau menyebut kata kunci ('Gelap dan Menakutkan' atau 'Pencuri Tertangkap'), lalu semua murid serempak merespons dengan membentuk pose gerak tubuh dan mengeluarkan ekspresi suara takut atau marah secara serempak (15 menit).
  • Murid secara berpasangan bergantian merespons 4 kartu pemicu adegan cerita yang dibacakan guru: Kartu 1 'Melihat bayangan pohon bergerak seperti monster di malam hari' (target: emosi takut); Kartu 2 'Melihat makanan bekal diinjak hewan nakal' (target: emosi marah); Kartu 3 'Tersesat di lorong sempit yang dingin' (target: emosi takut); Kartu 4 'Melihat tanaman kesayangan sengaja dipatahkan' (target: emosi marah). Pasangan merespons serentak dengan kombinasi gerak tubuh dan suara yang sesuai (30 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid bersama guru merefleksikan pengalaman merespons emosi: murid mengamati bagaimana perubahan bentuk tubuh (mengecil vs membesar) dan volume suara (lirih bergetar vs menggelegar) membantu penonton memahami apakah tokoh sedang takut atau marah dalam cerita (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan bahwa gerak tubuh dan suara dapat bekerja sama untuk mengomunikasikan emosi takut dan marah dalam cerita (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap ketercapaian respons suara dan gerak murid, menyampaikan rencana pembelajaran berikutnya (pertemuan 3), lalu menutup kelas dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan contoh audio efek suara desah/gemuruh untuk memperjelas suasana takut dan hentakan kaki/ketukan keras untuk suasana marah bagi murid yang membutuhkan stimulasi audio.
  • Proses: Untuk murid yang belum percaya diri, respons suara dan gerak dipraktikkan bersama teman sebangku dengan bimbingan guru; untuk murid yang cepat tanggap, diberikan tantangan merespons transisi adegan dari takut mendadak menjadi marah secara mandiri.
  • Produk: Variasi respons gerak dan suara diterima selama memenuhi indikator kesesuaian emosi takut (menciut/gemetar/pekik lirih) dan marah (mengepal/tegap/menggeram tegas).

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tes diagnostik peragaan cepat: Guru memberikan 2 stimulus lisan singkat: (1) 'Tiba-tiba ada suara langkah raksasa mendekat!' dan (2) 'Mainan barumu sengaja dibuang ke lumpur!'. Kriteria dan acuan ketercapaian: Murid merespons stimulus (1) dengan gerak tubuh menciut/merunduk/gemetar dan suara gemetar/pekikan lirih (emosi takut); murid merespons stimulus (2) dengan gerak tubuh mengepal/menghentak dan suara menggeram/tegas (emosi marah).

Proses:

  • Pengamatan unjuk kerja berpasangan pada 4 kartu pemicu adegan cerita: (1) Kartu 1 'Melihat bayangan pohon seperti monster' -> gerak menciut/mundur + suara lirih/pekik takut; (2) Kartu 2 'Makanan bekal diinjak' -> gerak mengepal/tegap + suara menggeram/hentak marah; (3) Kartu 3 'Tersesat di lorong sempit dingin' -> gerak memeluk tubuh/gemetar + suara lirih bergetar takut; (4) Kartu 4 'Tanaman kesayangan dipatahkan' -> gerak bertolak pinggang/menghentak kaki + suara tegas keras marah. Dinilai menggunakan rubrik pengamatan keterpaduan respons gerak dan suara.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman dan peragaan kilat di penutup: Setiap murid diminta memperagakan satu kombinasi respons gerak tubuh dan suara pilihan guru secara bergantian (misal: 'Tunjukkan suara dan gerak tubuh saat marah!'). Acuan ketepatan: Murid menampilkan keselarasan antara gerak tubuh (mengepal/tegap) dan suara (menggeram/tegas) tanpa ragu.

Formatif:

  • Pengamatan unjuk kerja merespons gerak tubuh dan suara pada adegan cerita emosi takut dan marah menggunakan lembar ceklis indikator.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Merespons Gerak Tubuh untuk Emosi Takut dan MarahBelum mampu menampilkan gerak tubuh yang membedakan emosi takut dan marah dalam adegan cerita meskipun telah diberikan contoh oleh guru.Mampu menampilkan gerak tubuh yang sesuai untuk 1 dari 2 emosi (takut atau marah) dalam adegan cerita dengan bimbingan penuh guru.Mampu menampilkan gerak tubuh yang sesuai untuk kedua emosi (takut: menciut/mundur/gemetar; marah: mengepal/menghentak/tegap) dalam adegan cerita secara mandiri.Mampu menampilkan gerak tubuh yang sangat konsisten, variatif, dan tegas membedakan kedua emosi (takut dan marah) dalam berbagai variasi adegan cerita secara mandiri.
Merespons Suara untuk Emosi Takut dan MarahBelum mampu mengeluarkan respons suara yang membedakan emosi takut dan marah dalam adegan cerita meskipun telah diarahkan guru.Mampu mengeluarkan respons suara yang sesuai untuk 1 dari 2 emosi (takut atau marah) dalam adegan cerita dengan bantuan aba-aba guru.Mampu mengeluarkan respons suara yang sesuai untuk kedua emosi (takut: lirih/bergetar/memekik; marah: berat/menggeram/tegas) dalam adegan cerita secara mandiri.Mampu mengeluarkan respons suara yang sangat tepat dan konsisten selaras dengan gerak tubuh pada kedua emosi (takut dan marah) dalam berbagai adegan cerita secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid sudah mampu membedakan respons gerak dan suara antara emosi takut dan emosi marah?
  • Bagian kegiatan mana dari latihan merespons gerak dan suara yang paling membuat murid antusias dan percaya diri?

Murid:

  • Bagaimana perasaanmu saat mencoba bersuara dan bergerak seperti tokoh yang sedang marah atau takut?
  • Manakah yang lebih mudah kamu tirukan, gerak dan suara saat takut atau saat marah?

Pertemuan 3 — Menceritakan Karya Cerita yang Disimak Menggunakan Kosakata Sehari-hari — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 2.4.2 Menceritakan sebuah karya dengan kosakata sehari-hari

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa bersama (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu belajar menceritakan kembali sebuah karya dongeng yang disimak menggunakan kosakata sehari-hari (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal lisan: guru membacakan fabel sangat pendek 2 kalimat: 'Kancil melihat pohon apel di seberang sungai. Kancil lalu meminta bantuan buaya untuk menyeberang.' Guru menunjuk 2 murid untuk menyebutkan nama tokoh dan kejadian dengan bahasa sendiri (acuan jawaban: tokoh = Kancil dan buaya; kejadian = Kancil ingin menyeberang sungai dibantu buaya) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak guru membacakan sebuah karya cerita dongeng fabel berjudul 'Kura-Kura dan Kelinci yang Sombong'. Teks cerita memuat 3 alur utama: (1) Awal: Kelinci mengejek Kura-Kura yang berjalan lambat dan menantangnya lomba lari; (2) Tengah: Kelinci tertidur pulas di bawah pohon rindang karena merasa pasti menang, sedangkan Kura-Kura terus berjalan gigih; (3) Akhir: Kura-Kura berhasil mencapai garis akhir lebih dulu dan memenangkan lomba (15 menit).
  • Guru memandu tanya jawab pemahaman isi karya dongeng menggunakan daftar 3 pertanyaan pemandu: (1) Siapa saja tokoh dalam cerita? (acuan: Kelinci dan Kura-Kura); (2) Apa yang dilakukan Kelinci saat lomba? (acuan: tertidur di bawah pohon); (3) Siapa yang sampai lebih dulu di garis akhir? (acuan: Kura-Kura) (10 menit).
  • Guru memberikan contoh konkret cara menceritakan kembali karya dongeng tersebut dalam 3 kalimat berurutan menggunakan kosakata sehari-hari: 'Dulu Kelinci sombong menantang Kura-Kura lomba lari. Waktu lomba, Kelinci malah tidur pulas di bawah pohon. Akhirnya Kura-Kura yang menang lomba lari.' (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Guru mengajak murid melakukan permainan berpasangan 'Tongkat Bercerita': secara bergantian berpasangan, murid memegang tongkat kayu kecil dan menceritakan kembali isi dongeng 'Kura-Kura dan Kelinci yang Sombong' kepada pasangannya menggunakan kosakata sehari-hari mereka sendiri (15 menit).
  • Setiap murid berlatih menceritakan karya secara mandiri di hadapan guru atau kelompok kecilnya, mencakup minimal 3 kejadian: (1) Kelinci menantang Kura-Kura, (2) Kelinci tertidur di jalan, (3) Kura-Kura memenangkan lomba (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru merefleksikan kemudahan dan kendala saat memilih kosakata sehari-hari untuk menceritakan isi karya dongeng yang telah disimak (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan bahwa sebuah karya cerita yang disimak dapat diceritakan kembali dengan mudah menggunakan kata-kata sehari-hari yang sederhana dan jelas (5 menit).
  • Guru memberikan apresiasi atas keberanian murid bercerita, menyampaikan topik pertemuan berikutnya, dan menutup pembelajaran dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Untuk murid yang memerlukan bimbingan, guru menyediakan 3 kartu gambar berurutan (gambar 1: tantangan lomba; gambar 2: kelinci tidur; gambar 3: kura-kura menang) sebagai panduan alur bercerita.
  • Proses: Murid yang mahir menceritakan kembali karya secara langsung tanpa melihat kartu gambar bantuan, sedangkan murid yang membutuhkan dukungan bercerita sambil menunjuk kartu gambar alur.
  • Produk: Murid yang membutuhkan bimbingan cukup menceritakan 2 kejadian utama dengan kosakata sehari-hari sederhana, sedangkan murid yang berkembang menceritakan lengkap 3 kejadian.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tes diagnostik lisan singkat pada tahap pendahuluan: murid mendengarkan teks fabel mikro (2 kalimat): 'Kancil melihat pohon apel di seberang sungai. Kancil lalu meminta bantuan buaya untuk menyeberang.' Murid diminta menceritakan kembali nama tokoh dan peristiwanya dengan kata-kata sendiri. (Acuan jawaban: tokoh = Kancil dan buaya; peristiwa = Kancil ingin menyeberang sungai dibantu buaya).

Proses:

  • Pengamatan unjuk kerja saat aktivitas bercerita berpasangan dan mandiri: memeriksa apakah murid dapat menceritakan karya dongeng 'Kura-Kura dan Kelinci yang Sombong' dengan kosakata sehari-hari mencakup 3 peristiwa acuan: (1) Kelinci menantang Kura-Kura lomba, (2) Kelinci tertidur di bawah pohon, (3) Kura-Kura memenangkan lomba.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan di akhir sesi: 3 murid perwakilan diminta menyebutkan kembali secara singkat dengan 1 kalimat kosakata sehari-hari tentang apa yang terjadi pada tokoh utama di akhir karya cerita. (Acuan jawaban: Kura-Kura menang lomba / Kura-Kura berhasil sampai duluan di garis akhir).

Formatif:

  • Unjuk kerja lisan menceritakan karya cerita yang disimak menggunakan kosakata sehari-hari berdasarkan lembar cek observasi ketercapaian 3 peristiwa kunci.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menceritakan karya dengan kosakata sehari-hariBelum mampu menceritakan karya dongeng yang disimak atau hanya mampu menyebutkan 1 peristiwa kunci meski telah diberi bimbingan penuh dan kartu bantuan.Mampu menceritakan 1 sampai 2 peristiwa kunci dari karya dongeng (dari 3 peristiwa acuan: tantangan lomba, kelinci tertidur, kura-kura menang) dengan kosakata sehari-hari dengan bantuan kartu gambar atau bimbingan guru.Mampu menceritakan seluruh 3 peristiwa kunci dari karya dongeng (tantangan lomba, kelinci tertidur, kura-kura menang) secara runtut menggunakan kosakata sehari-hari secara mandiri.Mampu menceritakan seluruh 3 peristiwa kunci dari karya dongeng (tantangan lomba, kelinci tertidur, kura-kura menang) secara runtut dan lengkap serta menambahkan detail tindakan tokoh dengan variasi kosakata sehari-hari secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah teks karya dongeng yang dipilih menarik dan mudah dipahami murid?
  • Apakah penggunaan permainan 'Tongkat Bercerita' membantu murid lebih berani dan percaya diri menceritakan kembali isi cerita dengan kosakata sehari-hari?

Murid:

  • Bagian cerita mana yang paling mudah kamu ceritakan kembali ke temanmu?
  • Kata-kata apa saja yang kamu gunakan saat menceritakan Kura-Kura dan Kelinci tadi?

Pertemuan 4 — Menceritakan Tokoh dan Peristiwa dalam Karya Pertunjukan dengan Kosakata Sehari-hari — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 2.4.2 Menceritakan sebuah karya dengan kosakata sehari-hari

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memimpin doa bersama (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menceritakan tokoh dan peristiwa dalam karya pertunjukan menggunakan kosakata sehari-hari (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal lisan mengenai pengalaman menonton pertunjukan dongeng fabel singkat untuk mengecek kesiapan murid menceritakan tokoh dan peristiwanya (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid menyimak tayangan video rekaman karya pertunjukan teater boneka anak berjudul 'Kelinci Putih dan Kura-kura yang Suka Menolong' berdurasi 5 menit (10 menit).
  • Guru memandu tanya jawab terarah untuk membedah tokoh dan peristiwa dalam pertunjukan menggunakan kosakata sehari-hari (pertanyaan: (1) Siapa saja tokoh dalam pertunjukan? Acuan: Kelinci Putih dan Kura-kura; (2) Peristiwa apa yang terjadi pada Kelinci? Acuan: Kelinci jatuh ke lubang karena berlari terburu-buru; (3) Apa peristiwa yang dilakukan Kura-kura? Acuan: Kura-kura menarik Kelinci keluar dari lubang) (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru memperkenalkan permainan kartu bercerita gembira: 'Tebak Tokoh dan Peristiwaku', di mana murid mengambil kartu gambar adegan pertunjukan dan menceritakan tokoh serta peristiwa yang terlihat pada gambar menggunakan kosakata sehari-hari (15 menit).
  • Murid berpasangan saling menceritakan karya pertunjukan yang telah disimak secara bergantian menggunakan 3 panduan kartu adegan: Kartu 1: Adegan awal (Kelinci sombong mengajak lomba lari), Kartu 2: Adegan tengah (Kelinci jatuh terperosok ke lubang), Kartu 3: Adegan akhir (Kura-kura menolong Kelinci dan mereka bersahabat) (15 menit).
  • Guru berkeliling mengamati dan menilai kemampuan murid menceritakan nama tokoh serta urutan peristiwa pertunjukan dengan kosakata sehari-hari secara lisan (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Beberapa perwakilan murid menceritakan kembali secara lisan di depan kelas mengenai tokoh mana yang paling diingat dan peristiwa apa yang dialami tokoh tersebut (10 menit).
  • Murid bersama guru merefleksikan proses menceritakan karya pertunjukan: apakah mudah menceritakan kejadian yang baru saja ditonton menggunakan kata-kata sendiri (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan dan umpan balik lisan atas kemampuan murid dalam menceritakan tokoh dan peristiwa pertunjukan dengan kosakata sehari-hari (3 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan bahwa dalam menceritakan sebuah karya pertunjukan, kita perlu menyebutkan siapa tokohnya dan apa peristiwa yang dialaminya (5 menit).
  • Guru menutup pertemuan dengan doa bersama dan salam penutup (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan didukung dengan 3 kartu gambar adegan berurutan untuk memicu ingatan peristiwa; murid yang mahir diberikan tantangan menceritakan karya tanpa bantuan kartu gambar.
  • Proses: Pada murid yang belum lancar bercerita, guru memberikan pertanyaan pemandu kosakata sehari-hari ('Siapa itu?', 'Sedang apa dia?'); bagi murid yang sudah lancar, diberikan kesempatan menceritakan langsung secara utuh.
  • Produk: Semua murid menceritakan tokoh dan peristiwa karya pertunjukan secara lisan; murid berkembang menceritakan minimal 2 tokoh dan 3 peristiwa lengkap, murid intervensi menceritakan minimal 1 tokoh dan 1 peristiwa inti.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik singkat: Guru menampilkan 1 gambar cuplikan pertunjukan 'Kelinci dan Kura-kura', lalu bertanya: (1) 'Siapa tokoh yang kamu lihat pada gambar ini?' (acuan jawaban: Kelinci dan Kura-kura); (2) 'Sedang terjadi peristiwa apa pada gambar ini?' (acuan jawaban: Kelinci terjatuh / Kura-kura menolong Kelinci). Kriteria: Murid siap jika mampu menyebutkan minimal 1 tokoh dan 1 kejadian.

Proses:

  • Pengamatan unjuk kerja bercerita secara lisan dengan panduan daftar acuan 2 tokoh (Kelinci Putih, Kura-kura) dan 3 peristiwa (Kelinci mengajak lomba/berlari terburu-buru, Kelinci terperosok ke lubang, Kura-kura menolong Kelinci hingga selamat). Indikator ketercapaian: Murid mampu menyebutkan kedua tokoh dan menceritakan ketiga urutan peristiwa menggunakan kosakata sehari-hari.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan di akhir kegiatan: Murid diminta menyebutkan secara cepat: (1) Siapa tokoh yang ditolong dalam pertunjukan tadi? (acuan jawaban: Kelinci Putih); (2) Peristiwa apa yang membuat Kelinci berterima kasih pada Kura-kura? (acuan jawaban: Kura-kura menolong Kelinci keluar dari lubang).

Formatif:

  • Asesmen awal melalui tanya jawab diagnostik lisan kesiapan mengingat tokoh dan peristiwa.
  • Asesmen proses melalui lembar ceklis observasi unjuk kerja menceritakan karya pertunjukan secara lisan berpasangan.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menceritakan Tokoh dalam Karya PertunjukanBelum mampu menyebutkan tokoh dalam karya pertunjukan walau dibimbing guru.Menyebutkan 1 nama tokoh (Kelinci Putih atau Kura-kura) dalam karya pertunjukan dengan bantuan pertanyaan pemandu guru.Menyebutkan 2 tokoh (Kelinci Putih dan Kura-kura) dalam karya pertunjukan secara tepat dengan kosakata sehari-hari.Menyebutkan 2 tokoh (Kelinci Putih dan Kura-kura) serta peran mereka dalam pertunjukan secara mandiri dan rinci dengan kosakata sehari-hari.
Menceritakan Peristiwa dalam Karya PertunjukanBelum mampu menceritakan peristiwa dalam karya pertunjukan yang disimak.Menceritakan 1 dari 3 peristiwa dalam karya pertunjukan (acuan: Kelinci jatuh ke lubang ATAU Kura-kura menolong) dengan kosakata sehari-hari melalui bimbingan.Menceritakan 2 sampai 3 peristiwa dalam karya pertunjukan (Kelinci berlari/terperosok, Kura-kura menolong, mereka bersahabat) secara berurutan dengan kosakata sehari-hari.Menceritakan seluruh 3 urutan peristiwa dalam karya pertunjukan secara lengkap, runtut dari awal hingga akhir, dan mandiri dengan kosakata sehari-hari.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah video pertunjukan yang dipilih mudah dipahami tokoh dan alur peristiwanya oleh seluruh murid kelas 2?
  • Bagaimana respons murid saat menceritakan kembali karya pertunjukan menggunakan kosakata sehari-hari?
  • Apakah alokasi waktu dan kartu panduan adegan efektif membantu murid yang masih kesulitan bercerita?

Murid:

  • Bagian mana dari cerita pertunjukan tadi yang paling kamu sukai?
  • Apakah kamu merasa mudah saat menceritakan tokoh dan kejadian yang dialaminya kepada temanmu?

Pertemuan 5 — Menunjukkan Jenis-Jenis Properti Alami dan Benda Sekitar Pendukung Cerita — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 2.4.3 Menunjukkan jenis-jenis properti atau alat bantu yang dapat mendukung cerita

Pendahuluan:

  • Guru mengondisikan kelas dengan salam, doa bersama, dan presensi murid (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik dengan memperlihatkan 3 benda nyata (ranting pohon, buku tulis, dan botol minum) lalu meminta murid menunjuk mana yang berasal dari alam dan mana benda sekitar ruang kelas; acuan ketepatan: ranting pohon = benda alami, buku tulis & botol minum = benda sekitar buatan (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru memperkenalkan konsep properti atau alat bantu pendukung cerita, yaitu benda-benda yang membantu penonton mengenali tempat, suasana, atau benda dalam cerita (10 menit).
  • Guru menunjukkan 6 benda konkret di meja: (1) daun lebar, (2) ranting kering, (3) batu kali, (4) sapu ijuk, (5) topi sekolah, (6) payung lipat, kemudian bersama murid mengelompokkan 3 benda properti alami (daun, ranting, batu) dan 3 benda sekitar (sapu, topi, payung) (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Guru membagikan Lembar Pasang Properti yang memuat 4 cuplikan situasi cerita: (1) 'Kancil berteduh saat hujan di hutan', (2) 'Petani mencangkul di sawah', (3) 'Burung membuat sarang di dahan', (4) 'Ibu guru menulis catatan di kelas', beserta pilihan properti: (a) daun pisang lebar/daun kering, (b) tongkat gagang sapu, (c) kumpulan ranting kecil, (d) buku saku/buku tulis (15 menit).
  • Dalam permainan tantangan 'Tebak dan Tunjuk Properti', murid secara bergantian maju ke meja properti untuk mengambil dan menunjukkan benda alami atau benda sekitar yang paling tepat mendukung situasi cerita yang dibacakan guru sesuai acuan: situasi (1) -> daun, situasi (2) -> tongkat gagang sapu, situasi (3) -> ranting kecil, situasi (4) -> buku tulis (25 menit).

Merefleksi (Bermakna):

  • Murid mengecek hasil penunjukan properti mereka bersama bimbingan guru dan menyadari bahwa benda sederhana di lingkungan sekitar dapat menjadi alat bantu bercerita (10 menit).

Penutup:

  • Guru melakukan asesmen akhir berupa cek pemahaman cepat dengan membacakan situasi 'Kelinci melompati sungai berbatu', lalu meminta murid menunjuk benda alami yang cocok di meja (acuan: batu kali) (10 menit).
  • Guru menyampaikan apresiasi atas ketelitian murid dalam mengenali benda sekitar dan menutup pembelajaran dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan benda konkret nyata bagi murid yang memerlukan dukungan sensori visual-taktil, serta gambar ilustrasi benda bagi murid yang cepat memahami.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan langsung memilih dari 2 pilihan benda, sedangkan murid cepat diminta memilih langsung dari 6 pilihan benda di atas meja.
  • Produk: Semua murid menunjukkan minimal 3 dari 4 benda/properti yang tepat sesuai situasi cerita.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tes lisan dan tunjuk langsung: Menunjukkan kategori benda alami vs benda sekitar kelas dari 3 contoh konkret (ranting pohon, buku tulis, botol minum). Acuan jawaban: ranting = alami; buku tulis & botol minum = benda sekitar kelas.

Proses:

  • Pengamatan ketercapaian saat permainan 'Tebak dan Tunjuk Properti' memasangkan 4 situasi cerita dengan properti yang tepat (acuan: Kancil berteduh -> daun pisang/daun; Petani mencangkul -> tongkat sapu; Sarang burung -> ranting; Ibu guru menulis -> buku tulis).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan dan tunjuk properti di akhir sesi: situasi 'Kelinci melompati sungai berbatu', murid menunjuk properti alami pendukung yang tepat (acuan: batu kali).

Formatif:

  • Unjuk kerja memilih dan menunjukkan jenis properti alami serta benda sekitar pendukung situasi cerita pada kegiatan inti dan lembar kerja.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menunjukkan Properti Alami dan Benda Sekitar Pendukung CeritaBelum mampu menunjukkan properti alami maupun benda sekitar yang sesuai dengan situasi cerita (0-1 dari 4 acuan tepat).Mampu menunjukkan 2 dari 4 properti alami atau benda sekitar yang sesuai situasi cerita dengan bantuan bimbingan guru.Mampu menunjukkan 3-4 jenis properti alami atau benda sekitar pendukung cerita secara tepat dan mandiri sesuai acuan situasi.Mampu menunjukkan seluruh (4 dari 4) jenis properti alami dan benda sekitar pendukung cerita secara tepat, mandiri, dan konsisten tanpa keraguan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah murid dapat membedakan secara mandiri benda alami dan benda sekitar yang dapat dipakai sebagai properti cerita?
  • Apakah penyediaan benda konkret nyata berhasil membantu keterlibatan aktif semua murid?

Murid:

  • Benda apa di halaman sekolah yang paling kamu sukai untuk dijadikan alat bantu cerita?
  • Apakah kamu merasa mudah menemukan benda di sekitar kelas untuk membantu cerita hari ini?

Pertemuan 6 — Menunjukkan Jenis Properti atau Alat Bantu Buatan Pendukung Adegan Cerita — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 2.4.3 Menunjukkan jenis-jenis properti atau alat bantu yang dapat mendukung cerita

Pendahuluan:

  • Guru menyapa murid, mengajak berdoa bersama, dan mengecek kehadiran murid (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu mengenal dan menunjukkan jenis properti atau alat bantu buatan manusia yang mendukung adegan cerita (5 menit).
  • Asesmen awal: Guru menunjukkan 2 benda (batu kali alami dan mahkota kertas buatan) lalu meminta murid secara acak menunjuk mana yang merupakan alat/properti buatan manusia untuk adegan raja (acuan: mahkota kertas adalah properti buatan) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru memperlihatkan 4 contoh benda/alat bantu buatan: (1) pedang kardus, (2) stetoskop mainan plastik, (3) topi koki dari kertas, dan (4) tongkat sihir kayu olahan berpita. Guru menjelaskan bahwa properti buatan adalah benda yang sengaja dibuat atau dibentuk manusia untuk mendukung peran atau adegan cerita (10 menit).
  • Prinsip Berkesadaran: Murid mengamati ciri-ciri fisik keempat properti buatan tersebut (bahan olahan manusia seperti kertas karton, plastik, kain, busa) dan menyadari fungsinya yang memperjelas peran dalam adegan cerita (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Prinsip Menggembirakan: Permainan 'Detektif Properti Buatan'. Guru menyajikan 4 kartu gambar situasi adegan di papan tulis: (1) Adegan Memasak di Dapur, (2) Adegan Petugas Kebersihan Menyapu, (3) Adegan Siswa Belajar di Kelas, (4) Adegan Polisi Mengatur Lalu Lintas. Di atas meja tersedia 4 kartu properti buatan: (A) Wajan dan sudip mainan, (B) Sapu ijuk dan pengki plastik, (C) Buku tulis dan tas sekolah, (D) Rompi menyala dan peluit plastik (15 menit).
  • Murid secara bergiliran maju mengambil kartu properti buatan dan menunjukkannya lalu menempelkannya di samping adegan yang tepat (acuan pasangan: 1-A, 2-B, 3-C, 4-D) (15 menit).
  • Latihan terbimbing: Setiap murid menerima lembar kerja bergambar berisi 4 pasang benda (gabungan alami dan buatan). Murid melingkari atau memberi tanda centang hanya pada properti buatan yang sesuai untuk 4 adegan: (1) Adegan Koki -> memilih topi koki kertas [bukan daun pisang]; (2) Adegan Dokter -> memilih suntikan mainan plastik [bukan ranting]; (3) Adegan Nelayan -> memilih jaring tali buatan [bukan rumput liar]; (4) Adegan Petani -> memilih caping anyaman bambu [bukan batu kerikil] (acuan: topi koki kertas, suntikan mainan, jaring tali buatan, caping anyaman) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Prinsip Berkesadaran: Guru bersama murid memeriksa hasil penunjukan properti buatan pada lembar kerja, mendiskusikan mengapa benda-benda tersebut termasuk properti buatan dan bagaimana benda itu membuat adegan cerita lebih jelas bagi penonton (10 menit).

Penutup:

  • Asesmen akhir: Guru memegang 2 benda (ranting pohon kering dan sapu lidi bertangkai plastik), lalu bertanya cepat kepada murid untuk menunjukkan benda mana yang merupakan properti buatan pendukung adegan bersih-bersih kelas (acuan jawaban benar: sapu lidi bertangkai plastik) (10 menit).
  • Guru memberikan penguatan positif atas partisipasi murid dalam mengenali dan menunjukkan properti buatan, serta menutup pelajaran dengan salam tanpa merangkum atau menutup bab (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan contoh benda konkret langsung (konkret) bagi murid yang membutuhkan bantuan visual dan gambar bagi murid yang sudah cepat memahami.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan langsung saat membedakan benda alami versus buatan; murid yang cepat diminta menunjukkan 2 alternatif properti buatan lain yang cocok untuk adegan yang sama (misal: adegan koki selain topi koki juga celemek kain).
  • Produk: Tanda penunjukan pada lembar kerja dapat berupa melingkari gambar atau menunjuk langsung ke kartu benda.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan lisan diagnostik: Murid diminta menunjuk benda buatan di antara batu kali dan mahkota kertas untuk adegan raja (acuan: mahkota kertas adalah properti buatan).

Proses:

  • Penilaian performa saat murid mencocokkan kartu properti buatan dengan adegan (acuan pasangan: 1-A Wajan/sudip mainan untuk dapur, 2-B Sapu/pengki untuk kebersihan, 3-C Buku/tas untuk kelas, 4-D Rompi/peluit untuk polisi).
  • Pemeriksaan lembar kerja 4 butir penunjukan properti buatan pendukung adegan cerita: (1) Topi koki kertas, (2) Suntikan mainan plastik, (3) Jaring tali buatan, (4) Caping anyaman (acuan: 4 pilihan tersebut bernilai benar).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman penutup: Menunjuk benda buatan pendukung adegan bersih-bersih kelas antara ranting pohon kering dan sapu lidi bertangkai plastik (acuan jawaban: sapu lidi bertangkai plastik).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja saat permainan Detektif Properti Buatan (menunjukkan dan memasangkan kartu properti buatan dengan adegan cerita)
  • Pemeriksaan lembar kerja penunjukan 4 properti buatan pendukung adegan cerita

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menunjukkan jenis properti atau alat bantu buatan pendukung adegan ceritaBelum mampu menunjukkan properti buatan yang sesuai dengan adegan cerita (0-1 dari 4 properti tepat sesuai acuan)Mampu menunjukkan sebagian kecil properti buatan pendukung adegan cerita dengan bantuan guru (2 dari 4 properti tepat sesuai acuan)Mampu menunjukkan sebagian besar properti buatan pendukung adegan cerita secara tepat dan mandiri (3 dari 4 properti tepat sesuai acuan: topi koki kertas, suntikan mainan plastik, jaring tali buatan, caping anyaman)Mampu menunjukkan seluruh properti buatan pendukung adegan cerita secara tepat dan mandiri (4 dari 4 properti tepat sesuai acuan: topi koki kertas, suntikan mainan plastik, jaring tali buatan, caping anyaman)

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah contoh benda buatan konkret yang disajikan memudahkan murid membedakan properti buatan dari properti alami?
  • Bagaimana keterlibatan murid dalam aktivitas memasangkan properti buatan dengan adegan cerita?

Murid:

  • Benda buatan apa yang paling kamu sukai saat dipakai untuk adegan cerita tadi?
  • Apakah kamu bisa membedakan benda buatan manusia dengan benda yang langsung diambil dari alam?

Pertemuan 7 — Memainkan Lakon Pertunjukan Bercerita Sederhana Berdasarkan Tokoh di Sekitar — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 2.4.4 Memainkan sebuah lakon pertunjukan bercerita berdasarkan tokoh di sekitar atau rekaan

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa bersama (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik dengan meminta murid menyebutkan peran tokoh di sekitar sekolah berdasarkan 3 contoh: penjaga kantin, satpam sekolah, dan petugas kebersihan (acuan jawaban: penjaga kantin melayani pembeli makanan; satpam menjaga gerbang dan keamanan; petugas kebersihan menyapu dan merapikan halaman) (10 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu memainkan lakon pertunjukan bercerita sederhana bersama teman kelompok berdasarkan tokoh di sekitar lingkungan (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Murid menyimak penjelasan guru mengenai 3 naskah lakon bercerita sederhana bertema 'Aktivitas di Lingkungan Sekolah' yang memuat alur awal, tengah, dan akhir: Lakon 1 'Kantin Sehat' (tokoh: penjaga kantin dan 2 murid pembeli; alur: murid mengantre jajan, penjaga menyajikan makanan, mereka berterima kasih); Lakon 2 'Gerbang Aman' (tokoh: satpam dan 2 murid penyeberang; alur: murid menunggu di pinggir jalan, satpam membantu menyeberangkan jalan, murid sampai di sekolah dengan selamat); Lakon 3 'Taman Bersih' (tokoh: petugas kebersihan dan 2 murid; alur: murid membuang bungkus kue di tempat sampah, petugas kebersihan mengangkut sampah ke gerobak, taman kembali bersih) (15 menit).
  • Murid bersama guru mengidentifikasi pembagian peran dan urutan tindakan lakon sesuai alur peristiwa cerita dari salah satu contoh lakon yang dipilih (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Murid dibagi ke dalam kelompok kecil beranggotakan 3 orang, memilih 1 dari 3 naskah lakon (Kantin Sehat, Gerbang Aman, atau Taman Bersih), lalu membagi peran tokoh di sekitar sesuai naskah lakon pilihan mereka (10 menit).
  • Setiap kelompok berlatih memainkan lakon pertunjukan bercerita sederhana dengan menjalankan peran masing-masing dari adegan awal sampai adegan akhir secara runtut (10 menit).
  • Setiap kelompok memainkan lakon pertunjukan bercerita sederhana di area panggung mini kelas secara bergantian sesuai giliran kelompoknya (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama teman sekelas mendiskusikan pengalaman memainkan peran tokoh di sekitar dalam lakon pertunjukan yang baru saja dimainkan (10 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan bersama pengalaman memainkan lakon pertunjukan bercerita berdasarkan tokoh di sekitar (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik penguatan terhadap penampilan lakon pertunjukan setiap kelompok serta menutup pertemuan dengan doa dan salam (10 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan pilihan 3 naskah lakon bercerita bergambar dengan jumlah dialog dan aksi yang disesuaikan tingkat kesiapan kelompok.
  • Proses: Kelompok yang membutuhkan bimbingan mendapat pendampingan guru dalam urutan dialog dan aksi, sedangkan kelompok yang mandiri langsung menyelaraskan peran antartokoh secara mandiri.
  • Produk: Kelompok dapat memainkan lakon bercerita dengan dialog sederhana atau memperkaya interaksi antartokoh sesuai alur cerita yang sama.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik kesiapan peran: Murid diminta menyebutkan peran dari 3 tokoh di sekitar sekolah: (1) Penjaga kantin, (2) Satpam, (3) Petugas kebersihan. (Kriteria ketepatan: menyebutkan minimal 2 dari 3 peran secara tepat sesuai acuan: penjaga kantin melayani pembeli/makanan, satpam menjaga keamanan/gerbang, petugas kebersihan membersihkan lingkungan).

Proses:

  • Observasi unjuk kerja saat kelompok memainkan lakon pertunjukan bercerita sederhana dengan instrumen rubrik 4 level (fokus: memainkan peran tokoh sesuai alur lakon cerita awal, tengah, akhir).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan penutup: Guru menanyakan kepada murid peran tokoh di sekitar apa yang dimainkan dalam kelompok dan apa aksi tokoh tersebut di bagian akhir cerita. (Kriteria penerimaan: murid dapat menyebutkan peran tokohnya dan menyebutkan aksi akhir yang dilakukan sesuai alur lakon kelompoknya).

Formatif:

  • Unjuk kerja memainkan lakon pertunjukan bercerita sederhana dalam kelompok
  • Lembar observasi keterlibatan peran murid saat memainkan lakon pertunjukan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Memainkan lakon pertunjukan bercerita berdasarkan tokoh di sekitarBelum mampu memainkan peran tokoh di sekitar dalam lakon pertunjukan bercerita meskipun telah diarahkan oleh guru.Memainkan sebagian peran tokoh di sekitar dalam lakon pertunjukan bercerita dengan bimbingan penuh dari guru untuk menyelesaikan alur cerita.Memainkan peran tokoh di sekitar dalam lakon pertunjukan bercerita secara runtut dari awal hingga akhir cerita sesuai naskah lakon kelompok.Memainkan peran tokoh di sekitar dalam lakon pertunjukan bercerita secara runtut dari awal hingga akhir cerita dengan mandiri, konsisten, dan penuh penjiwaan peran.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid terlibat aktif dan percaya diri saat memainkan lakon pertunjukan bercerita dalam kelompok?
  • Bagian alur lakon mana yang paling memerlukan bimbingan tambahan bagi murid saat memainkan perannya?

Murid:

  • Bagaimana perasaanmu saat memainkan peran tokoh di sekitar sekolah bersama teman kelompokmu?
  • Bagian cerita mana yang paling kamu sukai saat kelompokmu tampil di depan kelas?

Pertemuan 8 — Memainkan Lakon Pertunjukan Bercerita Berdasarkan Karakter Tokoh Rekaan — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 2.4.4 Memainkan sebuah lakon pertunjukan bercerita berdasarkan tokoh di sekitar atau rekaan

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam dan doa bersama (5 menit).
  • Guru melakukan presensi kehadiran dan mengajak murid melakukan pemanasan imajinasi teater ringan (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini yaitu memainkan lakon pertunjukan bercerita berdasarkan karakter tokoh rekaan (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik kesiapan bermain peran tokoh rekaan melalui tanya jawab singkat (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru memperkenalkan 3 contoh karakter tokoh rekaan dongeng yang dapat dipilih: (1) Burung Merpati Ajaib yang lincah dan penolong, (2) Robot Penjaga Hutan yang bergerak kaku dan bersuara mantap, (3) Kancil Cerdik yang gesit dan periang (10 menit).
  • Murid mengamati peragaan guru mengenai ciri khas lakon bercerita tokoh rekaan, yaitu murid bercerita sambil langsung memerankan tingkah laku tokoh rekaan pilihannya tersebut (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid memilih salah satu dari 3 pilihan alur lakon cerita tokoh rekaan: Pilihan A 'Kancil Membantu Kura-kura Menyeberang Sungai', Pilihan B 'Robot Menyelamatkan Bunga Langka di Hutan', atau Pilihan C 'Burung Merpati Membawa Biji Jagung Emas' (10 menit).
  • Murid secara mandiri berlatih memainkan adegan bercerita dengan menghidupkan karakter tokoh rekaan pilihannya (bercerita sambil memerankan gerak jalan kancil/robot/burung) (15 menit).
  • Murid memainkan lakon pertunjukan bercerita berdasarkan karakter tokoh rekaan pilihannya secara bergiliran di area panggung kelas (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid menyebutkan bagian mana dari lakon bercerita tokoh rekaannya yang paling seru saat dimainkan (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik langsung mengenai keberhasilan murid dalam menghidupkan tokoh rekaan selama pertunjukan bercerita berlangsung (5 menit).

Penutup:

  • Guru dan murid bersama-sama menyimpulkan pengalaman seru memainkan lakon pertunjukan bercerita dengan tokoh rekaan (5 menit).
  • Guru menutup pertemuan pembelajaran dengan mengajak murid merapikan ruang kelas, bersyukur, dan berdoa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid bebas memilih salah satu dari 3 alur lakon tokoh rekaan yang disediakan (Kancil Cerdik, Robot Penjaga, atau Burung Ajaib).
  • Proses: Murid yang masih ragu diberikan bimbingan langsung oleh guru dalam memperagakan gerak dasar tokoh rekaan sebelum tampil; murid yang sudah mahir dapat langsung berlatih mandiri.
  • Produk: Penampilan lakon bercerita disesuaikan dengan eksplorasi karakter rekaan pilihan masing-masing murid.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik lisan di pendahuluan: Guru menanyakan ciri gerak dari 2 tokoh rekaan, yaitu robot dan burung (acuan penerimaan: robot = gerak patah-patah/kaku; burung = gerak mengepakkan sayap/tangan).

Proses:

  • Pengamatan formatif menggunakan lembar observasi unjuk kerja memainkan lakon pertunjukan bercerita tokoh rekaan (kriteria pengamatan: kesesuaian pembawaan cerita dengan ciri karakter tokoh rekaan yang dipilih).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman di penutup: Murid menyebutkan nama tokoh rekaan yang baru saja dimainkannya dalam lakon bercerita (acuan: salah satu dari Kancil Cerdik, Robot Penjaga, atau Burung Ajaib).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja saat murid memainkan lakon pertunjukan bercerita berdasarkan karakter tokoh rekaan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Memainkan lakon pertunjukan bercerita tokoh rekaanBelum mampu memainkan lakon pertunjukan bercerita berdasarkan tokoh rekaan meski telah diberikan contoh dan bimbingan penuh.Mampu memainkan lakon pertunjukan bercerita berdasarkan tokoh rekaan dengan bantuan dan arahan guru secara berkala.Mampu memainkan lakon pertunjukan bercerita berdasarkan tokoh rekaan secara mandiri dari awal hingga akhir cerita.Mampu memainkan lakon pertunjukan bercerita berdasarkan tokoh rekaan secara mandiri dan sangat konsisten menghidupkan karakter sepanjang pertunjukan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah murid dapat dengan leluasa mengeksplorasi peran tokoh rekaan saat membawakan lakon bercerita?
  • Bagian mana dari pengelolaan waktu penampilan murid yang perlu ditingkatkan untuk pertemuan unjuk kerja berikutnya?

Murid:

  • Tokoh rekaan apa yang kamu mainkan hari ini saat bercerita?
  • Bagaimana perasaanmu ketika tampil bercerita sambil menjadi tokoh rekaan tersebut?

Pertemuan 9 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 2.4.1 Merespons gerak tubuh dan suara sebagai media untuk mengomunikasikan emosi dalam cerita
  • TP 2.4.2 Menceritakan sebuah karya dengan kosakata sehari-hari
  • TP 2.4.3 Menunjukkan jenis-jenis properti atau alat bantu yang dapat mendukung cerita
  • TP 2.4.4 Memainkan sebuah lakon pertunjukan bercerita berdasarkan tokoh di sekitar atau rekaan

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan ruang kelas yang diatur menjadi panggung pertunjukan dan area penonton, serta menyapa murid secara hangat (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif bab, yaitu menampilkan unjuk kerja pementasan lakon bercerita bersama kelompok dan menceritakan kembali isi cerita secara bergiliran (2 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru menjelaskan tata tertib dan alur asesmen sumatif: pembagian urutan tampil 7 kelompok (@ 4 murid), durasi tampil unjuk kerja pementasan 8-9 menit per kelompok (total 60 menit), dilanjutkan tes lisan menceritakan kembali isi cerita bergiliran sekitar 1,4 menit per murid (total 35 menit) (3 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Pelaksanaan Tugas 1: Penampilan unjuk kerja kelompok secara bergiliran (7 kelompok @ 4 murid, durasi 8-9 menit per kelompok) memainkan lakon pertunjukan bercerita dengan menunjukkan properti pendukung adegan serta merespons gerak tubuh dan suara untuk mengomunikasikan emosi tokoh di hadapan guru penilai (57 menit).
  • Pelaksanaan Tugas 2: Penilaian tes lisan individual bergiliran untuk seluruh murid (28 murid @ sekitar 1,2-1,4 menit) menceritakan kembali isi lakon cerita yang telah dimainkan menggunakan kosakata sehari-hari di meja guru penilai segera setelah kelompoknya selesai pentas (35 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Guru bersama murid melakukan refleksi singkat berkesadaran mengenai pengalaman seluruh rangkaian pementasan lakon bercerita dan penuturan lisan yang telah dilaksanakan secara mandiri dan tuntas (2 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan apresiasi menyeluruh atas usaha seluruh murid dalam menyelesaikan pementasan dan tes lisan tanpa mengajarkan materi baru, serta merangkum perjalanan belajar Bab 4 'Bercerita' (2 menit).
  • Guru mengumumkan tindak lanjut penilaian dan menutup pertemuan dengan doa bersama serta salam penutup (1 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Tidak ada diferensiasi materi pada asesmen sumatif; seluruh murid dinilai dengan indikator dan acuan yang sama sesuai rubrik.
  • Proses: Akomodasi akses berupa pendampingan giliran duduk di baris depan bagi murid yang memerlukan penyesuaian fokus visual/pendengaran saat menunggu giliran unjuk kerja, tanpa mengubah durasi maupun kriteria penilaian.
  • Produk: Format unjuk kerja pementasan dan tes lisan terstandar seragam untuk seluruh murid sesuai acuan sumatif ATP.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Cek kesiapan fisik dan kelengkapan properti masing-masing kelompok sebelum pementasan dimulai (acuan: tiap kelompok membawa minimal 1 properti alami/benda sekitar atau buatan yang siap ditunjukkan dalam adegan cerita).

Proses:

  • Pengamatan langsung oleh guru selama pementasan dan tes lisan menggunakan lembar penilaian observasi sumatif untuk mencatat bukti capaian TP 2.4.1, TP 2.4.2, TP 2.4.3, dan TP 2.4.4.

Sumatif Bab:

  • unjuk kerja pementasan lakon bercerita dan tes lisan: penampilan kelompok memainkan lakon cerita sederhana menggunakan properti dan ekspresi gerak-suara emosi tokoh, dilanjutkan menceritakan kembali isi cerita secara lisan
  • unjuk kerja kelompok: penampilan kelompok (7 kelompok @ 4 murid, tampil 8-9 menit per kelompok) memainkan lakon pertunjukan bercerita dengan menunjukkan properti pendukung adegan serta merespons gerak tubuh dan suara untuk mengomunikasikan emosi tokoh (65 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja pementasan lakon)
  • penilaian lisan bergiliran: tuturan lisan tiap murid menceritakan kembali isi cerita yang telah ditampilkan menggunakan kosakata sehari-hari (dinilai bergiliran sekitar 1,4 menit per murid saat giliran kelompoknya selesai pentas; 40 menit / 1,4 menit ≈ 28 murid) (40 menit; individual; instrumen: lembar observasi penilaian lisan)

Sumatif:

  • unjuk kerja pementasan lakon bercerita dan tes lisan: penampilan kelompok memainkan lakon cerita sederhana menggunakan properti dan ekspresi gerak-suara emosi tokoh, dilanjutkan menceritakan kembali isi cerita secara lisan
  • unjuk kerja kelompok: penampilan kelompok (7 kelompok @ 4 murid, tampil 8-9 menit per kelompok) memainkan lakon pertunjukan bercerita dengan menunjukkan properti pendukung adegan serta merespons gerak tubuh dan suara untuk mengomunikasikan emosi tokoh (65 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja pementasan lakon)
  • penilaian lisan bergiliran: tuturan lisan tiap murid menceritakan kembali isi cerita yang telah ditampilkan menggunakan kosakata sehari-hari (dinilai bergiliran sekitar 1,4 menit per murid saat giliran kelompoknya selesai pentas; 40 menit / 1,4 menit ≈ 28 murid) (40 menit; individual; instrumen: lembar observasi penilaian lisan)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Merespons gerak tubuh dan suara untuk mengomunikasikan emosi tokoh (TP 2.4.1)Belum merespons gerak tubuh maupun suara untuk mengomunikasikan emosi tokoh dalam adegan lakon cerita.Merespons gerak tubuh atau suara saja untuk mengomunikasikan salah satu emosi tokoh (senang, sedih, takut, atau marah) dengan bimbingan guru.Merespons gerak tubuh dan suara secara terpadu untuk mengomunikasikan minimal 2 emosi tokoh (pilihan acuan: senang [senyum lebar, melompat kecil, tawa riang], sedih [kepala tertunduk, bahu layu, suara lirih], takut [tubuh gemetar, mata membelalak, suara bergetar], marah [tangan mengepal, kaki menghentak, nada menekan]) secara tepat.
Menceritakan sebuah karya dengan kosakata sehari-hari (TP 2.4.2)Belum mampu menceritakan isi lakon cerita secara lisan meskipun dipantik oleh guru.Menceritakan sebagian kecil peristiwa cerita lakon dengan kosakata sehari-hari namun membutuhkan pancingan pertanyaan berulang dari guru.Menceritakan kembali isi lakon cerita secara mandiri menggunakan kosakata sehari-hari dengan memuat minimal 2 unsur cerita (pilihan acuan: nama tokoh lakon yang dimainkan, peristiwa awal/konflik adegan, atau penyelesaian cerita).Menceritakan kembali seluruh peristiwa cerita lakon secara runtut dan lengkap (tokoh, kejadian/konflik, dan penyelesaian) menggunakan kosakata sehari-hari secara lancar dan mandiri.
Menunjukkan jenis-jenis properti atau alat bantu pendukung cerita (TP 2.4.3)Belum menunjukkan properti atau alat bantu pendukung adegan selama lakon dimainkan.Menunjukkan properti dalam adegan lakon hanya setelah diarahkan atau diingatkan oleh guru/teman.Menunjukkan minimal 1 jenis properti (pilihan acuan: properti alami/benda sekitar seperti ranting kayu, batu, botol minum, tas sekolah; ATAU properti buatan seperti mahkota kertas, pedang kardus, topeng gambar) secara tepat mendukung adegan cerita.Menunjukkan lebih dari 1 jenis properti (kombinasi benda alami/sekitar dan buatan) secara tepat dan mandiri mendukung jalannya adegan cerita.
Memainkan lakon pertunjukan bercerita berdasarkan tokoh di sekitar atau rekaan (TP 2.4.4)Belum ikut memainkan lakon cerita atau pasif di panggung tanpa memerankan tokoh.Memainkan peran tokoh dalam lakon cerita tetapi berhenti di tengah adegan atau membutuhkan dorongan terus-menerus.Memainkan sebuah lakon pertunjukan bercerita dari awal hingga akhir adegan berdasarkan karakter tokoh yang dipilih (acuan: tokoh sekitar seperti petani, guru, pedagang; atau tokoh rekaan seperti kancil, raksasa ramah, burung sakti) secara aktif.Memainkan lakon pertunjukan bercerita secara utuh, percaya diri, dan konsisten menghidupkan karakter tokoh dari awal sampai akhir pertunjukan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 60 menit pementasan lakon kelompok dan 35 menit tes lisan mencukupi untuk menilai seluruh 28 murid secara objektif?
  • Bagaimana ketercapaian murid secara keseluruhan pada penguasaan respons emosi gerak-suara, penggunaan properti, permainan lakon, dan kemampuan menceritakan karya secara lisan?

Murid:

  • Bagian mana dari peran lakon ceritamu yang paling kamu sukai saat tampil di depan kelas tadi?
  • Apakah kamu merasa senang dan bangga saat berhasil menceritakan isi lakonmu kepada guru?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas II (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
  2. Instrumen bunyi/rebana sederhana untuk tanda gerak
  3. Kartu cerita bergambar situasi emosi senang dan sedih
  4. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas II (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
  5. Teks penggalan cerita anak bertema petualangan hewan di hutan.
  6. Alat perkusi sederhana (rebana/kendang kecil atau botol plastik) sebagai pemberi ketukan tempo emosi.
  7. Naskah fabel dongeng anak 'Kura-Kura dan Kelinci yang Sombong'.
  8. Kartu gambar alur cerita (3 seri gambar: Kelinci menantang Kura-Kura, Kelinci tidur di bawah pohon, Kura-Kura melintasi garis finis).
  9. Tongkat kayu kecil untuk media permainan bercerita bergantian.
  10. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas II (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2021.
  11. Rekaman video karya pertunjukan teater boneka anak 'Kelinci Putih dan Kura-kura yang Suka Menolong'.
  12. Kartu gambar berseri 3 adegan karya pertunjukan (awal, tengah, akhir).
  13. Laptop/proyektor atau televisi penampil video pertunjukan.
  14. Buku Panduan Guru Seni Teater Kelas II SD/MI (Kemendikbudristek 2021/Revisi)
  15. Benda alami di lingkungan sekolah: daun kering, daun pisang, ranting pohon, batu kali
  16. Benda sekitar kelas: sapu ijuk, topi, botol minum, buku tulis, payung lipat
  17. Lembar Pasang Properti Bergambar 4 Situasi Cerita
  18. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas II (Kemendikbudristek)
  19. Benda-benda buatan di sekitar kelas (topi kertas, tas, buku, sapu plastik, kotak kardus)
  20. Set kartu gambar adegan cerita dan kartu properti buatan
  21. Lembar kerja murid 'Mengenal Properti Buatan'
  22. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas II (Edisi Revisi)
  23. Naskah lakon sederhana bertema 'Aktivitas di Lingkungan Sekolah' (Kantin Sehat, Gerbang Aman, Taman Bersih)
  24. Area ruang kelas sebagai panggung pertunjukan mini
  25. Ruang kelas / area panggung bercerita teater sederhana
  26. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas II (Kemendikbudristek, Edisi Revisi)
  27. Panggung mini / area pementasan ruang kelas 2
  28. Properti pendukung buatan dan alami (kardus, kertas gambar, botol, tas, dedaunan/ranting)
  29. Lembar rubrik penilaian unjuk kerja pementasan lakon bercerita dan lembar observasi tes lisan

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.