Modul AjarBab 2Fase ASemester 1

Modul Ajar Seni Teater Kelas 2 Bab 2: Bermain Peran

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Seni Teater kelas 2 untuk Bab 2 "Bermain Peran", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Seni Teater Kelas 2 Bab 2: Bermain Peran

Seni Teater - Kelas 2

Bab 2

MODUL AJAR

Seni Teater — Kelas 2 (Fase A)

Topik: Bab 2 — Bermain Peran

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranSeni Teater
Fase / KelasFase A / Kelas 2
TopikBab 2 — Bermain Peran
Alokasi Waktu26 JP (26 x 35 menit = 910 menit)
Jumlah Pertemuan9
Tahun Ajaran2026/2027
Semester1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 2.2.1 Meniru gerak tubuh sebagai media untuk mengomunikasikan emosi dalam bermain peran
  2. TP 2.2.2 Menunjukkan jenis-jenis properti atau alat bantu yang dapat mendukung permainan peran
  3. TP 2.2.3 Mengeksplorasi beragam peran mengenai tokoh di sekitar atau rekaan dalam permainan lakon
  4. TP 2.2.4 Memainkan gerak dan lagu sesuai arahan dari pendidik dalam pertunjukan peran musikal
  5. TP 2.2.5 Menceritakan sebuah karya teater dengan kosakata sehari-hari setelah menyaksikan pertunjukan peran

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis✓
Kreativitas✓
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan
Komunikasi✓

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Bagaimana gerakan tubuhmu saat kamu merasa sangat senang?
  2. Bagaimana posisi bahu dan kepalamu saat kamu merasa sedih?
  3. Bagaimana bentuk tubuhmu saat kamu merasa sangat marah?
  4. Bagaimana gerakan tangan dan kakimu saat kamu melihat sesuatu yang menakutkan?
  5. Benda apa yang biasanya dibawa atau dipakai oleh seorang dokter saat memeriksa pasien?
  6. Mengapa saat bermain peran kita membutuhkan benda atau alat bantu seperti tongkat, topi, atau tas?
  7. Jika kamu ingin memerankan seorang kakek tua yang sulit berjalan, benda apa di sekitarmu yang paling cocok kamu gunakan?
  8. Mengapa seorang koki di panggung membutuhkan topi koki atau centong, bukan membawa payung?
  9. Siapa saja orang yang sering kalian lihat bekerja atau beraktivitas di sekitar sekolah dan rumah?
  10. Bagaimana gerakan tubuh yang khas saat seorang petani mencangkul atau dokter memeriksa pasien?
  11. Pernahkah kamu membayangkan bagaimana cara robot atau naga bergerak saat berjalan?
  12. Bagaimana caramu memerankan tokoh khayalan atau tokoh rekaan yang tidak ada di dunia nyata?
  13. Bagaimana tubuh kita bergerak ketika mendengarkan lagu yang ceria?
  14. Mengapa kita perlu mengikuti arahan guru saat bernyanyi sambil menggerakkan tubuh bersama-sama?
  15. Apa yang kalian lihat dan dengar saat menyaksikan teman atau aktor bermain peran di panggung?
  16. Kata-kata sehari-hari apa yang bisa kita gunakan untuk menceritakan kembali cerita pertunjukan yang kita tonton kepada teman?
  17. Bagaimana caramu menunjukkan emosi tokoh lakon melalui gerak tubuh dan properti yang sesuai saat tampil bersama kelompok?
  18. Bagaimana caramu menceritakan kembali peristiwa dan tokoh dari penampilan teman menggunakan kata-katamu sendiri?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Meniru Gerak Tubuh untuk Mengomunikasikan Emosi Senang dan Sedih — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 2.2.1 Meniru gerak tubuh sebagai media untuk mengomunikasikan emosi dalam bermain peran

Pendahuluan:

  • Guru menyapa murid, mengajak berdoa bersama, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
  • Guru mengondisikan fisik murid melalui peregangan ringan dan menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menirukan gerak tubuh untuk menunjukkan emosi senang dan sedih (4 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik: meminta murid serentak menirukan 2 contoh gerak guru, yaitu gerak melompat riang bertangan ke atas dan gerak menunduk lemas dengan bahu jatuh, untuk memetakan kesiapan meniru gerak tubuh emosi (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Guru memperagakan model gerak tubuh emosi senang (tubuh tegak, melompat kecil, kedua tangan terangkat ke atas, dada terbuka) dan murid mengamati dengan saksama ciri gerak fisik tubuh tersebut (7 menit).
  • Guru memperagakan model gerak tubuh emosi sedih (tubuh membungkuk, kepala menunduk, kedua bahu turun lemas, langkah kaki gontai lambat) dan murid mengidentifikasi bagian tubuh yang berubah posisinya (8 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Murid bermain 'Cermin Gerak Emosi': guru memberikan aba-aba kartu emosi (senang atau sedih), lalu murid secara langsung menirukan rangkaian gerak tubuh yang sesuai secara serentak (12 menit).
  • Murid berpasangan memainkan tantangan tebak gerak peran: murid A menirukan salah satu gerak tubuh (senang atau sedih) yang dicontohkan guru, murid B menirukan kembali gerak tubuh pasangannya secara presisi, lalu bergantian peran (17 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru mengevaluasi ketepatan gerak tubuh: murid membedakan perbedaan rasa gerak di tubuh saat meniru posisi tubuh terbuka (senang) dibandingkan posisi tubuh menutup/menunduk (sedih) (8 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan atas ketepatan gerak tubuh seluruh murid dalam mengekspresikan senang dan sedih (5 menit).
  • Guru menutup pertemuan dengan doa bersama dan salam penutup (3 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu visual bergambar anak dengan gestur tubuh senang (melompat gembira) dan sedih (duduk memeluk lutut/menunduk) bagi murid yang membutuhkan panduan visual konkret.
  • Proses: Murid yang memerlukan bimbingan didampingi guru dengan menirukan gerak bagian per bagian (tangan dulu, lalu postur tubuh); murid yang sudah mahir diberi tantangan menirukan variasi level gerak tubuh (gerak senang level tinggi melompat tinggi, sedih level rendah duduk meringkuk).
  • Produk: Variasi bentuk peniruan gerak tubuh emosi senang dan sedih secara berdiri penuh atau pada level rendah di lantai.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik peragaan langsung: Guru memperagakan (1) gerak melompat riang bertangan ke atas dan (2) gerak menunduk lemas dengan bahu jatuh; murid menirukan secara langsung. Acuan respons benar: (1) Murid meniru gerak tubuh mengangkat tangan dan melompat/melonjak gembira; (2) Murid meniru posisi menundukkan kepala dan menjatuhkan bahu lemas.

Proses:

  • Formatif pengamatan menirukan 2 model gerak tubuh emosi selama permainan berpasangan. Acuan target gerak: (1) Gerak tubuh senang: postur tegak, tangan terbuka/terangkat ke atas, gerakan meloncat/melangkah ringan; (2) Gerak tubuh sedih: postur membungkuk/menutup, kepala menunduk, bahu turun lemas, langkah lambat.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman peragaan penutup: Guru menyebutkan emosi 'Senang' lalu 'Sedih' secara bergantian, murid mendemonstrasikan gerak tubuh yang sesuai secara mandiri. Acuan benar: Saat guru menyebut 'Senang', murid memeragakan tubuh tegak/tangan terangkat; saat guru menyebut 'Sedih', murid memeragakan kepala menunduk/bahu turun lemas.

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja menirukan gerak tubuh emosi senang dan sedih saat aktivitas 'Cermin Gerak Emosi' dan latihan berpasangan.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Meniru Gerak Tubuh Emosi Senang (postur tegak, tangan terbuka/terangkat, melonjak ringan)Belum mampu meniru gerak tubuh emosi senang meski telah dicontohkan guru secara langsung.Mampu meniru gerak tubuh emosi senang namun hanya pada satu bagian tubuh (misal: hanya mengangkat tangan tanpa perubahan postur tubuh).Mampu meniru seluruh elemen gerak tubuh emosi senang (postur tegak, tangan terangkat, dan lonjakan ringan) dengan tepat sesuai contoh guru.Mampu meniru seluruh elemen gerak tubuh emosi senang secara mandiri, tepat, dan konsisten tanpa perlu diingatkan contoh gerak.
Meniru Gerak Tubuh Emosi Sedih (postur membungkuk, kepala menunduk, bahu lemas)Belum mampu meniru gerak tubuh emosi sedih meski telah dicontohkan guru secara langsung.Mampu meniru gerak tubuh emosi sedih namun hanya pada satu bagian tubuh (misal: hanya menundukkan kepala tanpa perubahan bahu/postur).Mampu meniru seluruh elemen gerak tubuh emosi sedih (postur membungkuk, kepala menunduk, dan bahu lemas) dengan tepat sesuai contoh guru.Mampu meniru seluruh elemen gerak tubuh emosi sedih secara mandiri, tepat, dan konsisten tanpa perlu diingatkan contoh gerak.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid aktif dan leluasa menggerakkan anggota tubuhnya untuk meniru emosi senang dan sedih?
  • Bagian gerak tubuh mana yang paling sulit ditirukan oleh murid saat mengomunikasikan emosi sedih?

Murid:

  • Bagian tubuh mana yang paling kamu sukai saat menirukan gerak senang?
  • Apakah kamu merasa tubuhmu menjadi berat dan lemas saat menirukan gerak sedih?

Pertemuan 2 — Meniru Gerak Tubuh untuk Mengomunikasikan Emosi Marah dan Takut — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 2.2.1 Meniru gerak tubuh sebagai media untuk mengomunikasikan emosi dalam bermain peran

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memandu pemanasan peregangan tubuh sederhana (5 menit).
  • Guru mengaitkan pembelajaran sebelumnya (gerak senang dan sedih) dengan emosi baru yang akan dipelajari hari ini, yaitu marah dan takut (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik: guru memperagakan 2 gerak tubuh, yaitu (1) berkacak pinggang sambil menghentakkan kaki, dan (2) memeluk diri sambil berjongkok mundur; murid diminta menebak emosi dari masing-masing gerak (acuan jawaban: 1 = marah, 2 = takut) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru mendemonstrasikan gerak tubuh emosi marah: kedua tangan mengepal di samping pinggang, bahu dibusungkan tegap, dan langkah kaki menghentak tegas ke lantai (10 menit).
  • Guru mendemonstrasikan gerak tubuh emosi takut: kedua tangan diangkat melindungi dada/wajah, bahu terangkat menyempit, dan tubuh membungkuk mundur menjauhi titik ancaman (10 menit).
  • Murid secara bersama-sama di tempat masing-masing menirukan postur tubuh marah dan takut sesuai contoh guru (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru memandu permainan gerak menggembirakan 'Patung Cermin Emosi': guru menyebutkan kata 'Marah' atau 'Takut', lalu murid seketika membekukan tubuh menirukan gerak tubuh emosi tersebut dalam hitungan 1-2-3 (3 menit).
  • Guru membagi murid berpasangan. Murid A memperagakan gerak tubuh marah, lalu Murid B menirukannya secara persis; setelah itu bergantian peran menirukan gerak tubuh takut (12 menit).
  • Setiap pasangan maju bergantian menirukan gerak tubuh untuk 2 situasi: (1) Situasi marah: tangan mengepal di pinggang dan menghentakkan kaki; (2) Situasi takut: tubuh berjongkok menyusut sambil melindungi kepala dengan kedua lengan (acuan: ketepatan meniru gestur tubuh sesuai emosi marah dan takut) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid mengevaluasi gerak tubuh yang telah dipraktikkan: merasakan perbedaan otot tubuh yang menegang kuat saat menirukan marah dibandingkan tubuh yang menyusut kecil saat menirukan takut (10 menit).
  • Guru memberi penguatan dan umpan balik langsung terhadap ketepatan gerak tubuh murid dalam mengekspresikan marah dan takut (10 menit).

Penutup:

  • Guru dan murid melakukan pendinginan tubuh dengan melemaskan jari-jemari dan mengayunkan lengan santai (5 menit).
  • Guru memberikan cek pemahaman akhir secara klasikal: murid diminta memperagakan sekali lagi gerak tubuh takut saat guru bertepuk tangan sekali, dan gerak marah saat bertepuk tangan dua kali (acuan: tepuk 1 = gestur takut tubuh menyusut/tangan melindungi dada; tepuk 2 = gestur marah tangan mengepal/hentak kaki) (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan visualisasi kartu bergambar siluet gerak tubuh marah (mengepal, berkacak pinggang) dan gerak tubuh takut (meringkuk, menutupi wajah).
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan gerak per bagian tubuh (fokus tangan terlebih dahulu, baru posisi kaki). Murid yang mahir ditantang memperagakan variasi perpindahan level gerak (marah tingkat tinggi/berdiri tegap vs takut tingkat rendah/jongkok meringkuk).
  • Produk: Semua murid mendemonstrasikan tiruan gerak tubuh marah dan takut; murid dengan tantangan gerak diperbolehkan fokus pada gestur lengan dan tubuh bagian atas.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Penebakan emosi dari peragaan guru pada 2 gerak tubuh: (1) berkacak pinggang sambil menghentakkan kaki, (2) memeluk diri sambil mundur berjongkok. Acuan jawaban benar: (1) marah, (2) takut.

Proses:

  • Pengamatan ketercapaian meniru gerak tubuh marah (tangan mengepal/berkacak pinggang, tubuh tegap menghentak) dan takut (tubuh menyusut/membungkuk, tangan melindungi wajah/dada) menggunakan lembar observasi guru saat murid berpasangan.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman respon gerak terhadap kode tepukan guru: Tepuk 1 kali = gerak tubuh takut (acuan: postur menyusut/membungkuk, lengan melindungi dada/wajah); Tepuk 2 kali = gerak tubuh marah (acuan: tangan mengepal/berkacak pinggang, kaki menghentak/tegak).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja gerak tubuh saat menirukan emosi marah dan takut pada latihan berpasangan dan permainan patung cermin

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Meniru Gerak Tubuh Emosi MarahBelum mampu menirukan gerak tubuh emosi marah (tubuh diam atau tidak menunjukkan gestur kemarahan) meski diberi bimbingan langsung.Mampu menirukan gerak tubuh emosi marah (misalnya mengepalkan tangan atau menghentak kaki) hanya jika terus dibimbing guru.Mampu menirukan gerak tubuh emosi marah (tangan mengepal/berkacak pinggang dan postur tegap/menghentak) secara tepat dan mandiri.Mampu menirukan gerak tubuh emosi marah secara tepat, mandiri, dan konsisten dengan variasi gestur tubuh penuh (posisi lengan, bahu, dan hentakan kaki).
Meniru Gerak Tubuh Emosi TakutBelum mampu menirukan gerak tubuh emosi takut (tubuh tidak menunjukkan gestur perlindungan/penyusutan) meski diberi contoh.Mampu menirukan gerak tubuh emosi takut (misalnya hanya mengangkat tangan melindungi wajah) dengan arahan guru berulang kali.Mampu menirukan gerak tubuh emosi takut (tubuh membungkuk/menyusut dan tangan melindungi dada/wajah) secara tepat dan mandiri.Mampu menirukan gerak tubuh emosi takut secara tepat, mandiri, dan konsisten dari posisi berdiri hingga level rendah (jongkok meringkuk).

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 105 menit cukup efektif untuk memberikan giliran praktik menirukan gerak kepada seluruh murid?
  • Bagaimana respons gerak murid saat membedakan ketegangan tubuh pada emosi marah versus penyusutan tubuh pada emosi takut?

Murid:

  • Gerakan mana yang lebih mudah kamu tirukan, gerakan orang marah atau orang takut?
  • Bagian tubuh mana yang paling terasa bergerak saat kamu menirukan orang yang sedang ketakutan?

Pertemuan 3 — Menunjukkan Jenis-Jenis Properti Sederhana Pendukung Permainan Peran — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 2.2.2 Menunjukkan jenis-jenis properti atau alat bantu yang dapat mendukung permainan peran

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan mengajak berdoa bersama (3 menit).
  • Guru memeriksa kehadiran dan mengajak murid melakukan yel-yel penyemangat kelas (2 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik cepat dengan menunjukkan 2 benda nyata: topi caping dan kacamata besar, lalu meminta murid menunjukkan/memilih nama benda dan jenis perannya (acuan: topi caping = properti petani/pekebun; kacamata besar = properti guru/kakek-nenek) (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu mengenal dan menunjukkan jenis-jenis properti sederhana atau alat bantu pendukung peran di panggung (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Guru memperkenalkan konsep 'properti panggung' sebagai benda atau alat bantu yang digunakan untuk mendukung suatu peran agar penonton tahu siapa tokoh tersebut (5 menit).
  • Guru memperlihatkan 'Kotak Misteri Properti' yang berisi 5 benda konkret: (1) stetoskop mainan, (2) mahkota kertas, (3) topi koki dari kertas karton, (4) tas sekolah kecil, dan (5) tongkat kayu jalan (10 menit).
  • Guru mengangkat benda satu per satu dan meminta seluruh murid mengamati ciri fisik benda tersebut serta menirukan guru menyebutkan nama benda dan kegunaannya sebagai properti (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru membagi kelas menjadi beberapa pos/meja pajang properti dan mengumumkan permainan 'Tebak & Tunjuk Properti' (5 menit).
  • Guru membacakan 4 kartu deskripsi peran satu per satu: (1) Kartu Peran Raja/Ratu, (2) Kartu Peran Dokter Anak, (3) Kartu Peran Juru Masak/Koki, (4) Kartu Peran Kakek Tua (5 menit).
  • Secara bergantian murid maju ke meja properti untuk menunjukkan dan mengambil 1 properti yang tepat sesuai kartu peran yang dibacakan guru (acuan pasangan tepat: Raja/Ratu -> mahkota kertas; Dokter Anak -> stetoskop mainan; Juru Masak/Koki -> topi koki; Kakek Tua -> tongkat kayu jalan) (15 menit).
  • Murid secara mandiri mengerjakan lembar kerja bergambar 'Menjodohkan Properti' yang berisi 4 pasangan gambar peran dan gambar properti: peran Polisi, Murid Sekolah, Petani, dan Nelayan (acuan pasangan benar: Polisi -> peluit/topi polisi; Murid Sekolah -> tas ransel; Petani -> cangkul/caping; Nelayan -> jaring ikan/topi pancing) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Guru mengajak murid memeriksa hasil lembar kerja bersama-sama dengan menunjukkan kembali gambar properti yang benar satu per satu di papan tulis (10 menit).
  • Murid menyampaikan benda properti apa yang paling mereka sukai dan paling mudah dikenali dari kegiatan hari ini (5 menit).

Penutup:

  • Guru dan murid menyimpulkan bahwa properti atau alat bantu sangat membantu menunjukkan siapa tokoh yang sedang dimainkan dalam permainan peran (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik dan apresiasi atas ketelitian seluruh murid dalam menunjukkan properti yang tepat (3 menit).
  • Guru menginformasikan secara singkat topik pertemuan berikutnya tentang alat bantu berdasarkan karakter tokoh, lalu menutup pelajaran dengan doa dan salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu visual peran berdampingan langsung dengan benda fisik nyata, sedangkan murid yang lebih cepat diberikan benda properti alternatif dengan fungsi serupa.
  • Proses: Murid yang belum tepat mengidentifikasi dibimbing secara personal dengan memegang langsung benda properti dan diberi petunjuk ciri khas tokoh.
  • Produk: Murid yang memerlukan pendampingan cukup menunjukkan minimal 2 dari 4 properti peran dengan benar, sedangkan murid mahir menunjukkan ke-4 properti peran dengan mandiri dan tanpa ragu.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik cepat dengan menunjukkan 2 benda nyata: topi caping dan kacamata besar. Murid diminta menunjuk dan memilih tokoh yang cocok dengan benda tersebut (acuan kunci: topi caping -> petani/pekebun; kacamata besar -> kakek/nenek/guru).

Proses:

  • Pengamatan langsung saat murid memilih dan menunjukkan benda di meja pajang properti berdasarkan kartu peran: (1) Raja/Ratu -> mahkota kertas, (2) Dokter Anak -> stetoskop mainan, (3) Juru Masak/Koki -> topi koki karton, (4) Kakek Tua -> tongkat kayu. Penilaian didasarkan pada ketepatan benda yang ditunjuk.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman melalui lembar kerja menjodohkan 4 pasang gambar tokoh dan alat bantu/properti: (1) Polisi -> peluit/topi polisi; (2) Murid Sekolah -> tas ransel; (3) Petani -> caping/cangkul; (4) Nelayan -> jaring ikan (kriteria tuntas: minimal 3 dari 4 pasangan dijodohkan dengan benar).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja saat permainan 'Tebak & Tunjuk Properti' (ketepatan menunjukkan properti sesuai peran yang disebut guru)
  • Pemeriksaan lembar kerja menjodohkan 4 gambar peran dengan 4 gambar properti yang sesuai

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Ketepatan Menunjukkan Properti Pendukung PeranMurid belum mampu menunjukkan properti pendukung peran dengan tepat meski telah diberikan bimbingan langsung (0-1 pasangan tepat dari 4 target acuan).Murid dapat menunjukkan 2 dari 4 properti pendukung peran dengan tepat sesuai acuan peran dengan bantuan arahan berulang dari guru.Murid dapat menunjukkan minimal 3 dari 4 properti pendukung peran dengan tepat sesuai acuan peran secara mandiri.Murid dapat menunjukkan seluruh (4 dari 4) properti pendukung peran dengan tepat dan cepat sesuai acuan peran secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah benda konkret (properti sederhana) yang disiapkan di kelas cukup jelas dan mudah dikenali oleh murid kelas 2?
  • Bagian mana dari langkah permainan tebak dan tunjuk properti yang paling efektif membuat murid memahami fungsi properti peran?

Murid:

  • Benda properti apa yang paling mudah kamu tebak perannya hari ini?
  • Bagaimana perasaanmu saat memegang dan memilih properti di depan kelas?

Pertemuan 4 — Menunjukkan Alat Bantu Pertunjukan Peran Berdasarkan Karakter Tokoh — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 2.2.2 Menunjukkan jenis-jenis properti atau alat bantu yang dapat mendukung permainan peran

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan menyapa murid, mengajak berdoa bersama, dan mengecek kehadiran murid (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik dengan memperlihatkan 3 benda nyata: (1) stetoskop mainan, (2) kaca pembesar mainan, dan (3) caping/topi caping bambu, lalu menanyakan tokoh mana yang cocok dengan masing-masing benda: dokter, detektif, atau petani (acuan: stetoskop mainan -> dokter; kaca pembesar mainan -> detektif; caping bambu -> petani) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mengamati 4 kartu gambar tokoh di papan tulis: (1) Tokoh Kakek, (2) Tokoh Koki/Juru Masak, (3) Tokoh Polisi Lalu Lintas, dan (4) Tokoh Siswa Sekolah (10 menit).
  • Murid menyimak penjelasan guru dengan penuh kesadaran tentang hubungan antara ciri karakter tokoh dan properti/alat bantu yang memperkuat pengenalan peran tersebut di panggung (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid mengikuti permainan menggembirakan 'Tebak & Pasangkan Alat Tokoh', di mana 4 murid secara bergantian maju mengambil salah satu dari 4 benda/alat bantu yang tersedia di meja: (1) tongkat jalan kayu, (2) spatula/centong masak plastik, (3) peluit, (4) tas ransel sekolah, lalu menunjukkannya ke arah gambar tokoh yang sesuai di papan tulis (acuan: tongkat jalan -> Tokoh Kakek; spatula/centong plastik -> Tokoh Koki; peluit -> Tokoh Polisi Lalu Lintas; tas ransel -> Tokoh Siswa Sekolah) (20 menit).
  • Murid secara mandiri mengerjakan lembar kerja 'Pasang Properti Tokoh' yang berisi 4 pasangan tokoh dan alat bantu: Tokoh Dokter dipasangkan dengan stetoskop; Tokoh Nelayan dipasangkan dengan jaring ikan/dayung; Tokoh Pelukis dipasangkan dengan kuas cat; Tokoh Petani dipasangkan dengan caping (acuan kunci jawaban: 1. Dokter - stetoskop; 2. Nelayan - jaring ikan/dayung; 3. Pelukis - kuas cat; 4. Petani - caping) (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru memeriksa hasil pemasangan alat bantu dan menyadari bagaimana memilih alat bantu yang tepat membuat karakter tokoh langsung dikenali penonton (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik dan penguatan terhadap hasil kerja murid dalam menunjukkan alat bantu peran berdasarkan karakter tokoh (10 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran hari ini dan menutup kelas dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu gambar properti dengan warna penanda yang senada dengan tokoh, sedangkan murid yang lebih cepat diberikan kartu tanpa penanda.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bantuan didampingi langsung oleh guru saat mencocokkan alat bantu, sedangkan murid yang mandiri langsung mengerjakan tugas.
  • Produk: Murid dapat menunjukkan alat bantu peran dengan cara menarik garis pada gambar atau langsung menempelkan kartu properti di bawah gambar tokoh.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik cepat menggunakan 3 benda nyata: stetoskop mainan, kaca pembesar mainan, dan caping bambu. Murid diminta menunjuk tokoh yang sesuai: dokter, detektif, atau petani (acuan: stetoskop mainan -> dokter; kaca pembesar mainan -> detektif; caping bambu -> petani).

Proses:

  • Pengamatan formatif saat murid menunjukkan dan memasangkan benda pada permainan 'Tebak & Pasangkan Alat Tokoh' serta lembar kerja mandiri (acuan: tongkat jalan -> Tokoh Kakek; spatula/centong -> Tokoh Koki; peluit -> Tokoh Polisi; tas ransel -> Tokoh Siswa Sekolah; stetoskop -> Dokter; jaring ikan/dayung -> Nelayan; kuas cat -> Pelukis; caping -> Petani).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman singkat di akhir kegiatan dengan meminta murid menunjuk secara serentak gambar alat bantu yang tepat untuk peran 'Tukang Pos' di antara 3 pilihan: (A) cangkul, (B) tas pos selempang surat, (C) termometer (acuan jawaban benar: B. tas pos selempang surat).

Formatif:

  • Unjuk kerja dan lembar kerja menjodohkan alat bantu pertunjukan peran dengan karakter tokoh yang sesuai.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Ketepatan Menunjukkan Alat Bantu Berdasarkan Karakter TokohBelum mampu menunjukkan alat bantu yang sesuai untuk 4 karakter tokoh pada lembar kerja (0-1 tepat dari 4 acuan: Dokter - stetoskop; Nelayan - jaring ikan/dayung; Pelukis - kuas cat; Petani - caping) meski telah dibimbing.Mampu menunjukkan alat bantu yang sesuai untuk 2 dari 4 karakter tokoh pada lembar kerja dengan bimbingan guru.Mampu menunjukkan alat bantu yang sesuai untuk minimal 3 dari 4 karakter tokoh pada lembar kerja secara tepat dan mandiri.Mampu menunjukkan seluruh alat bantu yang sesuai untuk 4 karakter tokoh pada lembar kerja secara tepat, mandiri, dan konsisten.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah murid dapat memahami hubungan antara ciri khas tokoh dan alat bantu yang digunakan dalam bermain peran?
  • Media visual atau benda konkret manakah yang paling efektif membantu murid memahami konsep alat bantu peran?

Murid:

  • Benda mana yang paling mudah kamu tebak pasangannya dengan tokoh?
  • Bagaimana perasaanmu saat mencoba menebak alat bantu peran tadi?

Pertemuan 5 — Eksplorasi Peran Tokoh di Sekitar dalam Permainan Lakon — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 2.2.3 Mengeksplorasi beragam peran mengenai tokoh di sekitar atau rekaan dalam permainan lakon

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan mengajak berdoa bersama (5 menit).
  • Guru mengondisikan fisik murid melalui pemanasan gerak sederhana 'Cermin Diri', menirukan 1 gerakan peregangan guru secara serempak (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu mengeksplorasi peran tokoh di sekitar kita melalui permainan lakon (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui tebak gerak cepat: Guru memperagakan gerakan menyapu lantai, lalu murid diminta memilih dan menyebutkan peran yang cocok dari pilihan 'guru', 'petugas kebersihan', atau 'polisi' (acuan jawaban benar: petugas kebersihan) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Guru memperlihatkan 3 gambar profesi tokoh di sekitar: (1) Gambar Petani di sawah, (2) Gambar Dokter anak, dan (3) Gambar Polisi lalu lintas (5 menit).
  • Guru dan murid mendiskusikan ciri gerak khas ketiga tokoh tersebut: petani dengan gerak mengayun cangkul, dokter dengan gerak menempelkan stetoskop di dada pasien, dan polisi dengan gerak meniup peluit serta merentangkan telapak tangan untuk menyetop kendaraan (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):

  • Guru membagi kelas menjadi 3 kelompok besar dan mengajak memainkan permainan interaktif 'Taman Tokoh Sekitar': ketika musik berhenti dan guru meneriakkan nama tokoh, murid serentak membeku membentuk pose gerak tokoh tersebut (15 menit).
  • Setiap kelompok memilih satu tokoh di sekitar untuk dieksplorasi dalam permainan lakon mini: Kelompok 1 memilih Petani, Kelompok 2 memilih Dokter, Kelompok 3 memilih Polisi Lalu Lintas (10 menit).
  • Secara bergiliran tiap kelompok memainkan lakon pendek berdurasi 5 menit di tengah lingkaran kelas: murid mengeksplorasi ragam aksi fisik peran tokoh pilihannya (petani mencangkul dan menyeka keringat; dokter memeriksa detak jantung dan menulis resep; polisi meniup peluit dan mengatur jalan) dalam situasi kerja sehari-hari (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid duduk melingkar dan menceritakan secara lisan bagaimana perasaan tubuh mereka saat berubah menjadi peran tokoh di sekitar tadi (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan kembali ciri-ciri gerak khas peran tokoh di sekitar yang telah dieksplorasi (5 menit).
  • Guru memberikan apresiasi atas keberanian dan kreativitas eksplorasi seluruh kelompok serta menginformasikan bahwa pertemuan berikutnya akan mengeksplorasi peran tokoh rekaan/imajinasi (3 menit).
  • Guru menutup pertemuan dengan doa bersama dan salam penutup (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu panduan bergambar gerakan tokoh bagi murid yang membutuhkan inspirasi visual aksi peran.
  • Proses: Murid yang masih ragu dapat menirukan aksi tokoh secara berpasangan dengan bimbingan langsung guru, sedangkan murid yang sudah mandiri dapat menambahkan variasi 2 aksi fisik berbeda untuk tokoh yang sama.
  • Produk: Eksplorasi peran dapat ditampilkan berupa pose beku berurutan (bagi yang bertahap) atau rangkaian lakon gerak berkelanjutan (bagi yang mahir).

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tebak Gerak Awal: Murid mengamati satu gerakan kerja (menyapu) yang diperagakan guru dan menyebutkan nama tokoh di sekitar yang sesuai (acuan jawaban: petugas kebersihan).

Proses:

  • Pengamatan formatif saat permainan lakon mini: Guru mencatat kemampuan murid mengeksplorasi aksi gerak khas dari 3 pilihan tokoh sekitar: (1) Petani (aksi mencangkul/menanam), (2) Dokter (aksi memeriksa pasien/memegang stetoskop), (3) Polisi Lalu Lintas (aksi meniup peluit/mengatur kendaraan).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman gerak peran di penutup: Murid memperagakan secara serentak 1 gerak khas tokoh sekitar yang dipilih guru (misal: 'Semuanya tunjukkan gerak dokter memeriksa!') (acuan kriteria: menggerakkan tangan seolah menempelkan stetoskop atau memeriksa suhu tubuh).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja eksplorasi peran tokoh di sekitar menggunakan lembar ceklis dan rubrik performa lakon.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Eksplorasi Gerak Tokoh di SekitarBelum mampu mengeksplorasi gerak tokoh di sekitar dan pasif saat permainan lakon berlangsung meskipun diberi contoh langsung.Mengeksplorasi gerak tokoh di sekitar dengan meniru 1 aksi fisik sederhana namun masih membutuhkan bimbingan guru secara intensif.Mengeksplorasi peran tokoh di sekitar secara mandiri dengan menampilkan minimal 2 aksi gerak fisik yang sesuai dengan karakter tokoh dalam lakon.Mengeksplorasi peran tokoh di sekitar secara mandiri dan variatif dengan menampilkan lebih dari 2 aksi gerak fisik yang khas dan konsisten sepanjang lakon.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu untuk eksplorasi lakon kelompok sudah mencukupi bagi setiap anak untuk bergerak aktif?
  • Bagaimana keterlibatan murid yang pemalu dalam menirukan gerak peran tokoh di sekitar?

Murid:

  • Gerakan peran tokoh mana yang paling seru kamu lakukan hari ini?
  • Apakah kamu merasa kesulitan saat menirukan gerakan tokoh tadi?

Pertemuan 6 — Eksplorasi Peran Tokoh Rekaan dalam Permainan Lakon — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 2.2.3 Mengeksplorasi beragam peran mengenai tokoh di sekitar atau rekaan dalam permainan lakon

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyiapkan ruang gerak bebas di kelas (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik dengan menyebutkan 3 nama tokoh: (1) Dokter, (2) Robot Luar Angkasa, (3) Burung Hantu Ajaib, lalu meminta murid mengangkat tangan untuk memilih mana yang merupakan tokoh rekaan/khayalan (acuan: Robot Luar Angkasa dan Burung Hantu Ajaib adalah tokoh rekaan) (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu mengeksplorasi gerak dan aksi tokoh rekaan melalui permainan lakon imajinatif (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Guru memperkenalkan 3 kartu karakter tokoh rekaan: (1) 'Robot Kaku' (bergerak patah-patah dan melangkah teratur), (2) 'Pohon Berjalan Ajaib' (bergerak meliuk lambat dan melangkah berat), dan (3) 'Kucing Bersayap' (bergerak lincah melompat kecil dan mengepakkan kedua lengan) (10 menit).
  • Guru memodelkan contoh eksplorasi gerak untuk masing-masing dari 3 karakter tokoh rekaan tersebut di depan kelas (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid bermain 'Tantangan Patung Imajinasi': guru menyebutkan salah satu dari 3 tokoh rekaan (Robot Kaku, Pohon Berjalan Ajaib, Kucing Bersayap) secara acak, dan murid serentak mengeksplorasi gerak tubuh tokoh tersebut keliling lingkaran lalu membeku saat aba-aba berhenti berbunyi (15 menit).
  • Murid dibagi ke dalam kelompok kecil untuk memilih salah satu dari 2 skenario lakon tokoh rekaan: Skenario A ('Dua Robot Kaku sedang mencari baterai cadangan yang hilang di planet baru') atau Skenario B ('Dua Kucing Bersayap sedang melompat menghindari genangan air ajaib') (10 menit).
  • Setiap pasangan/kelompok murid secara bergantian mempraktikkan eksplorasi peran tokoh rekaan sesuai skenario lakon yang dipilih di area panggung kelas (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Guru bersama murid duduk melingkar untuk merefleksikan gerak tubuh tokoh rekaan mana yang dirasakan paling menantang atau paling seru untuk dieksplorasi (15 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan dan apresiasi atas keberanian serta keunikan eksplorasi peran tokoh rekaan yang ditampilkan oleh seluruh murid (5 menit).
  • Guru menginformasikan secara singkat kegiatan teater berikutnya dan menutup pembelajaran dengan salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan variasi tokoh rekaan dari yang bertempo gerak lambat dan terstruktur (Robot Kaku) hingga yang dinamis (Kucing Bersayap).
  • Proses: Bagi murid yang masih ragu, guru memberikan contoh pengulangan gerakan secara langsung berdampingan; bagi murid yang cepat mengeksplorasi, diberikan tantangan mengeksplorasi variasi tingkat gerak (rendah/jongkok dan tinggi/berjinjit).
  • Produk: Eksplorasi peran dinilai dari keunikan ciri gerak tubuh tokoh rekaan yang dipilih, baik melalui gerakan sederhana bertempo lambat maupun variasi gerakan aktif.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan klasikal: Dari 3 nama tokoh berikut: (1) Dokter, (2) Robot Luar Angkasa, (3) Burung Hantu Ajaib, sebutkan mana yang merupakan tokoh rekaan/khayalan! (Acuan: Robot Luar Angkasa dan Burung Hantu Ajaib).

Proses:

  • Lembar observasi eksplorasi peran lakon: Mengamati kemampuan murid mengadaptasi gerak tubuh sesuai ciri tokoh rekaan (Robot Kaku = gerak patah-patah kaku; Pohon Berjalan Ajaib = liukan lambat langkah berat; Kucing Bersayap = lompatan kecil dengan kepakan lengan).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman penutup: Menanyakan kepada murid apakah tokoh yang diperankan tadi nyata atau rekaan, serta menyebutkan 1 ciri gerak tubuh yang membedakannya dengan manusia biasa (Kriteria penerimaan: murid dapat menyebutkan bahwa tokoh tersebut adalah rekaan/khayalan dan menyebutkan ciri gerak khasnya, misalnya 'bergerak kaku seperti besi' atau 'mengepakkan tangan seperti sayap').

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja eksplorasi gerak tokoh rekaan saat permainan 'Tantangan Patung Imajinasi' dan penampilan lakon singkat.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Eksplorasi peran tokoh rekaan dalam permainan lakonBelum mampu menampilkan ciri gerak tubuh khas tokoh rekaan dalam permainan lakon meskipun telah diberi contoh dan bimbingan penuh.Mengeksplorasi peran tokoh rekaan dengan menampilkan ciri gerak tubuh yang sesuai secara terbatas dan masih memerlukan panduan bertahap dari guru.Mengeksplorasi peran tokoh rekaan secara mandiri dengan konsisten menampilkan ciri gerak tubuh khas tokoh rekaan sesuai skenario lakon yang dimainkan.Mengeksplorasi peran tokoh rekaan secara mandiri dan kaya variasi gerak tubuh (level tinggi-rendah dan variasi tempo) yang sangat konsisten sepanjang permainan lakon.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah instruksi dan stimulasi imajinasi membantu murid memahami konsep gerak tokoh rekaan?
  • Bagaimana keterlibatan murid dalam mengeksplorasi variasi gerak tubuh selama lakon berlangsung?

Murid:

  • Bagian mana dari gerak tokoh rekaan yang paling kamu sukai saat bermain tadi?
  • Tokoh rekaan apa lagi yang ingin kamu coba perankan nanti?

Pertemuan 7 — Memainkan Gerak dan Lagu Sederhana Sesuai Arahan Pendidik — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 2.2.4 Memainkan gerak dan lagu sesuai arahan dari pendidik dalam pertunjukan peran musikal

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa bersama (3 menit).
  • Guru memeriksa kehadiran murid dan melakukan pengondisian fisik dengan peregangan otot ringan tangan dan kaki (4 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu belajar memainkan gerak dan lagu sederhana sesuai arahan guru (3 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik kesiapan gerak dan lagu melalui instruksi responsif: 'Rentangkan tangan seperti burung terbang saat guru bernyanyi pelan' dan 'Lompat kecil di tempat saat lagu berirama cepat' (acuan kesiapan: murid merespons instruksi lisan dengan menggerakkan tubuh sesuai tempo lagu yang dicontohkan) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Guru memperkenalkan lagu anak sederhana 'Kalau Kau Suka Hati' bait 1 sampai 4 beserta 4 pola gerak dasar yang diarahkan guru: (1) lirik 'tepuk tangan' -> bertepuk tangan 2 kali; (2) lirik 'injak bumi' -> menghentakkan kaki kanan dan kiri bergantian; (3) lirik 'putar badan' -> memutar badan perlahan 1 putaran; (4) lirik 'sorak hore' -> melompat kecil sambil mengangkat kedua tangan ke atas (acuan: keselarasan gerak dengan lirik dan ketukan) (10 menit).
  • Murid menyimak dan mengamati peragaan guru tentang cara memadukan nyanyian vokal dengan gerakan tubuh sesuai ketukan aba-aba yang diberikan (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid secara bersama-sama dalam lingkaran kelas berlatih menyanyikan lagu 'Kalau Kau Suka Hati' sambil mempraktikkan 4 pola gerak yang diarahkan langsung oleh guru secara bertahap bait per bait (15 menit).
  • Guru membagi kelas menjadi kelompok kecil beranggotakan 4-5 murid, lalu memainkan permainan tantangan gerak dan lagu bergembira 'Patung Berirama', di mana murid memainkan lagu dan gerak sesuai arahan tepukan guru dan berhenti mematung tepat saat aba-aba 'beku' diserukan guru (15 menit).
  • Setiap kelompok bergiliran memainkan rangkaian 4 pola gerak dan lagu tersebut di area panggung kelas dengan mengikuti aba-aba isyarat tangan dan ketukan ritme dari guru (acuan: murid menyanyikan lirik dan melakukan seluruh 4 pola gerak sesuai ketukan arahan guru) (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid duduk melingkar dan mengevaluasi pengalaman memainkan gerak dan lagu secara bersama-sama sesuai arahan tempo yang diberikan (5 menit).
  • Murid mengidentifikasi bagian gerakan mana yang paling mudah diikuti bersama dan gerakan mana yang memerlukan konsentrasi lebih saat mengikuti aba-aba guru (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik apresiatif terhadap kebersamaan gerak dan kepatuhan terhadap arahan irama yang telah dimainkan murid (5 menit).
  • Guru bersama murid melakukan pendinginan tubuh dengan mengatur napas perlahan dan merapikan ruang kelas (3 menit).
  • Guru menginformasikan kegiatan pertemuan berikutnya serta menutup sesi dengan doa dan salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan contoh peragaan visual tempo lambat dan tempo normal untuk variasi tingkat kesiapan murid.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan berlatih di samping guru dengan aba-aba ketukan yang lebih tegas, sedangkan murid yang mandiri berlatih memimpin barisan kelompoknya mengikuti ketukan arahan guru.
  • Produk: Semua murid menampilkan keselarasan memainkan 4 pola gerak dan lagu sederhana sesuai arahan guru.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab peragaan langsung di awal sesi: Guru memberikan instruksi 'Rentangkan tangan saat nada rendah, lompat kecil saat nada cepat' untuk memetakan kesiapan murid merespons stimulus ritme dan arahan gerak (acuan: murid mampu menyesuaikan gerak anggota tubuh terhadap 2 variasi instruksi gerak dari guru).

Proses:

  • Lembar observasi unjuk kerja gerak dan lagu: Guru mengamati keterlibatan murid dalam memainkan 4 gerakan pada lagu 'Kalau Kau Suka Hati' sesuai arahan guru, yaitu: (1) tepuk tangan 2 kali pada lirik tepuk tangan; (2) injak bumi bergantian pada lirik injak bumi; (3) putar badan 1 putaran pada lirik putar badan; (4) lompat tangan ke atas pada lirik sorak hore (acuan: murid melakukan minimal 3 dari 4 pola gerak secara serentak mengikuti ketukan arahan pendidik).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir peragaan: Guru memberikan satu kali aba-aba acak dari 4 pola lagu tersebut, lalu murid secara serentak memeragakan gerak yang sesuai dengan lirik yang dinyanyikan guru (acuan: murid melakukan gerakan yang cocok persis dengan lirik arahan tanpa tertukar).

Formatif:

  • Pengamatan unjuk kerja memainkan 4 pola gerak dan lagu sesuai arahan pendidik
  • Catatan anekdotal keselarasan tempo gerak dan vokal selama latihan kelompok

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Memainkan gerak dan lagu sesuai arahan pendidikBelum mampu mengikuti gerakan dan lirik lagu meskipun telah diberikan arahan langsung dan bimbingan berulang oleh pendidik (0-1 gerakan tepat).Mampu memainkan 2 dari 4 pola gerak dan lagu dengan bantuan atau tiruan dari teman di sampingnya sesuai arahan pendidik.Mampu memainkan 3 sampai 4 pola gerak dan lagu secara selaras dan konsisten mengikuti arahan serta ketukan tempo dari pendidik.Mampu memainkan seluruh (4) pola gerak dan lagu secara tepat, luwes, dan selaras dengan arahan tempo pendidik secara mandiri dan konsisten dari awal hingga akhir.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah instruksi gerak dan ketukan lagu yang saya berikan cukup jelas untuk dipahami seluruh murid kelas 2?
  • Bagaimana keterlibatan murid yang masih ragu bergerak dalam aktivitas kelompok memainkan gerak dan lagu?

Murid:

  • Gerakan mana yang paling menyenangkan saat bernyanyi bersama tadi?
  • Apakah kamu merasa mudah mengikuti ketukan tangan dan aba-aba dari guru saat bernyanyi?

Pertemuan 8 — Menceritakan Karya Teater dengan Kosakata Sehari-hari — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 2.2.5 Menceritakan sebuah karya teater dengan kosakata sehari-hari setelah menyaksikan pertunjukan peran

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa bersama (3 menit).
  • Guru mengondisikan kelas agar nyaman dan menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu belajar menceritakan kembali karya teater/pertunjukan peran yang ditonton menggunakan kosakata sehari-hari (4 menit).
  • Asesmen Awal: Guru menampilkan satu potongan cuplikan gambar pertunjukan teater anak 'Kancil dan Buaya' di papan tulis lalu mengajukan 2 pertanyaan diagnostik lisan: (1) 'Siapa tokoh yang terlihat di gambar ini?' (acuan jawaban: Kancil dan Buaya); (2) 'Sedang apa tokoh itu?' (acuan kriteria: murid menyebutkan tindakan tokoh dengan kata sehari-hari, misalnya kancil melompat/bicara atau buaya membuka mulut/berenang) untuk memetakan kesiapan awal murid dalam menyebutkan isi tontonan (8 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru memutarkan rekaman video pertunjukan teater anak berdurasi singkat (sekitar 4 menit) berjudul 'Tupai yang Suka Berbagi' yang dimainkan oleh anak-anak (4 menit).
  • Murid menyimak bersama jalannya pertunjukan dengan saksama dan berkesadaran penuh terhadap tokoh (Tupai dan Kelinci), peristiwa (Tupai membagikan buah kenari kepada Kelinci yang kelaparan), dan suasana pertunjukan (senang dan bersahabat) (6 menit).
  • Guru memandu tanya jawab terarah untuk membimbing murid memahami cara menceritakan karya teater menggunakan kosakata sehari-hari dengan bantuan 3 panduan sederhana di papan tulis: (1) Siapa yang bermain? (Tupai dan Kelinci); (2) Apa yang terjadi? (Tupai memberi makanan kenari kepada Kelinci); (3) Bagaimana suasana ceritanya? (ramai, gembira, tolong-menolong) (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Permainan 'Tongkat Estafet Cerita': Secara bergiliran dalam lingkaran ceria berpasangan, murid memegang tongkat boneka lalu menceritakan 1 kalimat tentang karya teater 'Tupai yang Suka Berbagi' yang tadi ditonton kepada teman sebelahnya menggunakan kosakata sehari-hari (kriteria penerimaan: kalimat memuat tokoh atau kejadian cerita, misalnya 'Tupai melompat membawa kenari' atau 'Kelinci tersenyum senang dapat makanan') (15 menit).
  • Murid secara mandiri bersiap menceritakan isi karya teater yang telah disaksikan secara lisan di depan guru/kelompok kecil mencakup 3 unsur cerita: (1) menyebutkan tokoh lakon (Tupai dan Kelinci), (2) menyebutkan peristiwa/kejadian lakon (Tupai berbagi kenari dengan Kelinci), dan (3) menyebutkan suasana/kesan lakon (senang/gembira) dengan kosakata sehari-hari (15 menit).
  • Guru melakukan Asesmen Proses dengan menyimak dan mencatat penceritaan lisan setiap murid menggunakan lembar observasi berdasarkan 3 unsur acuan cerita di atas (18 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru mereview kembali cerita karya teater yang telah dibahas dan menyadari bahwa menceritakan karya teater cukup menggunakan kata-kata sederhana yang biasa dipakai sehari-hari tanpa perlu kata yang sulit (5 menit).
  • Murid menyampaikan bagian adegan pertunjukan mana yang paling mudah dan paling mereka sukai saat diceritakan kembali (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik formatif secara menyeluruh terhadap keberanian dan ketepatan murid dalam menceritakan karya teater dengan kosakata sehari-hari (5 menit).
  • Asesmen Akhir: Guru melakukan cek pemahaman akhir secara cepat dengan menunjuk 2 murid acak untuk menjawab: 'Sebutkan 1 kejadian utama dalam teater Tupai tadi!' (acuan jawaban: Tupai membagikan makanan kenari kepada Kelinci yang lapar) (4 menit).
  • Guru menutup pertemuan dengan mengajak murid merapikan tempat duduk, menyampaikan rencana kegiatan untuk pertemuan berikutnya, dan berdoa bersama (3 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu bergambar adegan 'Tupai yang Suka Berbagi' sebagai stimulus visual saat menceritakan, sedangkan murid yang sudah mahir menceritakan langsung berdasarkan ingatan terhadap video pertunjukan.
  • Proses: Murid yang memerlukan bimbingan dipandu dengan 3 pertanyaan pemantik kata demi kata (Siapa tokohnya? Apa yang dia lakukan? Bagaimana rasanya?), sedangkan murid mahir menceritakan secara runtut dari awal hingga akhir secara mandiri.
  • Produk: Penceritaan lisan bagi murid yang memerlukan bimbingan dapat berupa kalimat tunggal terpandu (minimal menyebutkan tokoh dan 1 kejadian), sedangkan murid mahir menceritakan 3 unsur utuh (tokoh, kejadian, suasana) dengan variasi kalimat kosakata sehari-hari yang lebih kaya.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik lisan berdasar 1 gambar adegan teater 'Kancil dan Buaya': (1) 'Siapa tokoh yang terlihat di gambar ini?' (acuan jawaban: Kancil dan Buaya); (2) 'Sedang apa tokoh itu?' (acuan kriteria: murid menyebutkan aksi tokoh dengan kata sehari-hari, misalnya kancil melompat/berbicara atau buaya membuka mulut/berenang).

Proses:

  • Pengamatan performa penceritaan lisan karya teater 'Tupai yang Suka Berbagi' oleh murid berdasarkan 3 unsur acuan: (1) Tokoh: menyebutkan Tupai dan Kelinci; (2) Peristiwa: menyebutkan tindakan Tupai memberi makanan/kenari kepada Kelinci yang lapar; (3) Suasana: menyebutkan suasana pertunjukan (senang/gembira/ramai) menggunakan kosakata sehari-hari.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan singkat di penutup: Murid menjawab pertanyaan 'Sebutkan 1 kejadian utama dalam pertunjukan teater Tupai tadi!' (acuan jawaban: Tupai membagikan makanan kenari kepada Kelinci yang lapar).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja penceritaan lisan karya teater menggunakan lembar amatan 3 unsur cerita (tokoh, peristiwa, suasana) dengan kosakata sehari-hari.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menceritakan Karya Teater dengan Kosakata Sehari-hariBelum mampu menceritakan karya teater; belum dapat menyebutkan tokoh maupun peristiwa dari pertunjukan meski telah diberikan pertanyaan pemantik.Mampu menceritakan karya teater dengan menyebutkan 1 unsur cerita (tokoh saja atau peristiwa saja) menggunakan kosakata sehari-hari dengan bantuan bimbingan penuh dari guru.Mampu menceritakan karya teater secara mandiri mencakup 2 unsur cerita (tokoh dan peristiwa) menggunakan kosakata sehari-hari sesuai isi pertunjukan 'Tupai yang Suka Berbagi' (acuan: tokoh Tupai dan Kelinci; peristiwa Tupai membagikan makanan kenari).Mampu menceritakan karya teater secara mandiri dan lengkap mencakup seluruh 3 unsur cerita (tokoh, peristiwa, dan suasana pertunjukan) menggunakan kosakata sehari-hari secara runtut dan jelas (acuan: tokoh Tupai dan Kelinci; peristiwa berbagi kenari; suasana gembira/ramai).

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah media video rekaman pertunjukan teater anak cukup jelas dan memotivasi murid untuk menceritakan kembali?
  • Bagaimana variasi kosakata sehari-hari yang digunakan murid dalam mengungkapkan tokoh, peristiwa, dan suasana pertunjukan?

Murid:

  • Bagian mana dari cerita pertunjukan teater tadi yang paling seru untuk diceritakan?
  • Apakah kamu merasa mudah menceritakan apa yang kamu tonton kepada teman dengan kata-katamu sendiri?

Pertemuan 9 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 2.2.1 Meniru gerak tubuh sebagai media untuk mengomunikasikan emosi dalam bermain peran
  • TP 2.2.2 Menunjukkan jenis-jenis properti atau alat bantu yang dapat mendukung permainan peran
  • TP 2.2.3 Mengeksplorasi beragam peran mengenai tokoh di sekitar atau rekaan dalam permainan lakon
  • TP 2.2.4 Memainkan gerak dan lagu sesuai arahan dari pendidik dalam pertunjukan peran musikal
  • TP 2.2.5 Menceritakan sebuah karya teater dengan kosakata sehari-hari setelah menyaksikan pertunjukan peran

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan ruang kelas/panggung sederhana, dan menata meja properti (topi petani, caping, tongkat kakek, tas selempang, sayap kupu-kupu, mahkota raja kelinci) (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif bab: pementasan bermain peran musikal berkelompok (Tugas 1) dan tes lisan apresiasi karya teater secara individual (Tugas 2) (2 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru membacakan petunjuk teknis unjuk kerja Tugas 1 (durasi pementasan 10 menit per kelompok termasuk persiapan panggung) dan pembagian urutan tampil 6 kelompok (terdiri dari 4-5 murid per kelompok), serta menjelaskan tata tertib bagi penonton untuk menyimak penampilan teman tanpa berteriak (3 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Pelaksanaan Tugas 1 (Unjuk Kerja Kelompok): Sebanyak 6 kelompok bergantian tampil di area panggung (masing-masing 10 menit termasuk persiapan properti dan peragaan peran musikal; total 6 kelompok x 10 menit = 60 menit ditambah 2 menit peralihan antarkelompok). Setiap kelompok memeragakan lakon berdurasi singkat yang mengintegrasikan: (1) pemilihan dan penggunaan properti yang sesuai peran lakon (contoh: caping/cangkul mainan untuk peran petani, tongkat untuk kakek, sayap untuk kupu-kupu), (2) peniruan gerak tubuh yang mengomunikasikan emosi (senang, sedih, marah, takut), (3) eksplorasi peran tokoh sekitar atau rekaan, serta (4) memainkan gerak dan lagu anak secara serempak mengikuti arahan birama/hitungan pendidik (59 menit).
  • Pelaksanaan Tugas 2 (Tes Lisan Apresiasi Teater Individual): Murid dipanggil secara bergiliran ke depan guru satu per satu (28 murid x 1,3 menit = 36,4 menit dibulatkan menjadi 35 menit) untuk menyampaikan cerita lisan singkat mengenai tokoh yang diperankan teman dan peristiwa utama dalam lakon yang baru mereka saksikan menggunakan kosakata sehari-hari (acuan pertanyaan panduan guru: 'Siapa tokoh yang tadi tampil dalam kelompok temanmu dan apa yang terjadi pada tokoh tersebut?') (35 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Guru memberikan umpan balik menyeluruh terhadap jalannya pementasan peran musikal dan kemampuan apresiasi bercerita murid selama pelaksanaan tugas sumatif (2 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan apresiasi kepada seluruh murid atas usaha dan keberanian menampilkan peran musikal serta menceritakan karya secara tertib (1 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Akomodasi akses: teks panduan lagu pementasan disediakan dalam bentuk kartu visual bagi kelompok yang membutuhkan pengingat lirik dan urutan gerak tanpa mengubah kriteria penilaian.
  • Proses: Akomodasi akses: pendidik memberikan arahan ketukan ritme/aba-aba fisik yang lebih jelas saat sesi gerak dan lagu bagi kelompok yang memerlukan panduan tempo tambahan.
  • Produk: Akomodasi akses: pada tes lisan apresiasi, murid yang pemalu diperbolehkan merespons dengan bantuan pertanyaan pemantik bertahap ('Siapa tokohnya?' lalu 'Apa yang dia lakukan?') tanpa mengubah rubrik penilaian kelengkapan unsur cerita.

Asesmen Pertemuan:

Sumatif Bab:

  • unjuk kerja pementasan bermain peran musikal berkelompok dan tes lisan apresiasi: peragaan gerak tubuh beremosi, pemilihan properti yang tepat, penghayatan peran lakon, kekompakan gerak dan lagu arahan pendidik, serta penyampaian cerita lisan tentang pertunjukan peran menggunakan kosakata sehari-hari
  • unjuk kerja bermain peran dan gerak lagu: penampilan kelompok (terdiri dari 4-5 murid, total 6 kelompok bergantian tampil masing-masing 10 menit termasuk persiapan panggung) yang menunjukkan: (1) pemilihan dan penggunaan properti yang sesuai peran lakon, (2) peniruan gerak tubuh yang mengomunikasikan emosi peran, (3) eksplorasi peran tokoh sekitar atau rekaan, serta (4) peragaan gerak dan lagu secara serempak mengikuti arahan instruksi pendidik (65 menit; kelompok; instrumen: lembar observasi dan rubrik unjuk kerja bermain peran)
  • penilaian lisan bercerita: cerita lisan murid secara individual mengenai tokoh dan peristiwa dari pertunjukan peran yang baru disaksikan dengan kosakata sehari-hari (dinilai bergiliran secara cepat 1,4 menit per murid saat giliran dipanggil guru ke depan, 40 menit / 1,4 menit = 28 murid penuh) (40 menit; individual; instrumen: daftar centang dan rubrik penilaian lisan apresiasi karya)

Sumatif:

  • unjuk kerja pementasan bermain peran musikal berkelompok dan tes lisan apresiasi: peragaan gerak tubuh beremosi, pemilihan properti yang tepat, penghayatan peran lakon, kekompakan gerak dan lagu arahan pendidik, serta penyampaian cerita lisan tentang pertunjukan peran menggunakan kosakata sehari-hari
  • unjuk kerja bermain peran dan gerak lagu: penampilan kelompok (terdiri dari 4-5 murid, total 6 kelompok bergantian tampil masing-masing 10 menit termasuk persiapan panggung) yang menunjukkan: (1) pemilihan dan penggunaan properti yang sesuai peran lakon, (2) peniruan gerak tubuh yang mengomunikasikan emosi peran, (3) eksplorasi peran tokoh sekitar atau rekaan, serta (4) peragaan gerak dan lagu secara serempak mengikuti arahan instruksi pendidik (65 menit; kelompok; instrumen: lembar observasi dan rubrik unjuk kerja bermain peran)
  • penilaian lisan bercerita: cerita lisan murid secara individual mengenai tokoh dan peristiwa dari pertunjukan peran yang baru disaksikan dengan kosakata sehari-hari (dinilai bergiliran secara cepat 1,4 menit per murid saat giliran dipanggil guru ke depan, 40 menit / 1,4 menit = 28 murid penuh) (40 menit; individual; instrumen: daftar centang dan rubrik penilaian lisan apresiasi karya)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Meniru Gerak Tubuh Beremosi (TP 2.2.1)Belum menirukan gerak tubuh yang mengomunikasikan emosi peran atau gerak tubuh tidak menunjukkan ekspresi emosi peran lakon.Menirukan gerak tubuh yang mengomunikasikan 1 emosi peran dengan masih membutuhkan contoh langsung dari pendidik.Menirukan gerak tubuh yang mengomunikasikan 2 emosi peran (senang/sedih/marah/takut) secara mandiri saat berlakon.Menirukan gerak tubuh yang mengomunikasikan lebih dari 2 emosi peran secara konsisten dan lancar sepanjang pementasan lakon.
Menunjukkan dan Menggunakan Properti (TP 2.2.2)Belum menunjukkan maupun menggunakan properti yang disediakan pendidik untuk mendukung peran lakonnya.Menunjukkan dan membawa properti namun belum menggunakannya secara fungsional dalam mendukung peran lakon.Menunjukkan dan menggunakan minimal 1 properti sederhana yang sesuai dengan karakter tokoh lakon (misal: caping untuk petani atau tongkat untuk kakek).Menunjukkan dan menggunakan properti pendukung secara mandiri dan luwes sesuai kebutuhan aksi peran tokoh sepanjang lakon.
Eksplorasi Peran Tokoh Sekitar/Rekaan (TP 2.2.3)Belum mengeksplorasi peran tokoh (berdiri pasif atau tidak melakukan tindakan yang menggambarkan tokoh lakon).Mengeksplorasi peran tokoh sekitar atau rekaan dengan tindakan peran yang masih terputus-putus atau bergantung arahan langsung teman/guru.Mengeksplorasi peran tokoh di sekitar atau rekaan secara berkesinambungan sesuai alur lakon pertunjukan kelompok.Mengeksplorasi peran tokoh di sekitar atau rekaan dengan variasi tindakan tokoh yang hidup dan konsisten dari awal hingga akhir lakon.
Memainkan Gerak dan Lagu Sesuai Arahan Pendidik (TP 2.2.4)Belum ikut memainkan gerak dan lagu atau gerak tidak mengikuti arahan birama/lagu dari pendidik.Memainkan sebagian gerak dan lagu sesuai arahan pendidik namun sering terlambat mengikuti tempo instruksi.Memainkan gerak dan lagu secara serempak dan tepat mengikuti arahan/instruksi birama dari pendidik sepanjang lagu pementasan.Memainkan seluruh rangkaian gerak dan lagu secara serempak, tepat tempo, dan mandiri tanpa tertinggal arahan pendidik.
Menceritakan Karya Teater dengan Kosakata Sehari-hari (TP 2.2.5)Belum menceritakan karya pertunjukan peran yang disaksikan atau cerita tidak memuat tokoh dan peristiwa lakon.Menceritakan 1 nama tokoh saja tanpa menyampaikan peristiwa yang dialami tokoh dalam lakon.Menceritakan minimal 1 tokoh dan 1 peristiwa yang dialami tokoh dalam karya teater teman secara runtut menggunakan kosakata sehari-hari.Menceritakan tokoh beserta rangkaian peristiwa lakon secara lengkap dan runtut menggunakan kosakata sehari-hari dengan jelas dan lancar.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 10 menit per kelompok pada Tugas 1 dan 1,3-1,4 menit per murid pada Tugas 2 cukup efektif untuk mengambil seluruh bukti capaian sumatif?
  • Bagaimana ketercapaian murid kelas 2 dalam memadukan gerak beremosi, properti, dan respon gerak lagu selama pementasan?

Murid:

  • Bagian mana dari peran lakon yang paling kamu sukai saat tampil di depan kelas tadi?
  • Cerita dari kelompok teman mana yang paling kamu ingat tokoh dan peristiwanya?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD Kelas II
  2. Kartu visual ilustrasi ekspresi gerak tubuh senang dan sedih
  3. Ruang kelas yang lapang untuk bergerak
  4. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas II (Pusat Perbukuan, Kemendikbudristek)
  5. Gambar siluet/kartu ilustrasi gestur tubuh marah dan takut
  6. Ruang kelas yang lapang untuk bergerak bebas
  7. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas II (Kemendikbudristek 2021/Edisi Revisi)
  8. Benda-benda properti sederhana di kelas/lingkungan sekitar: topi caping, stetoskop mainan, mahkota kertas, topi koki karton, tas ransel, tongkat kayu
  9. Kartu peran bergambar dan lembar kerja menjodohkan gambar peran dan properti
  10. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas II.
  11. Benda konkret/properti mainan: tongkat jalan, spatula mainan, peluit, tas ransel, stetoskop mainan, caping bambu.
  12. Kartu gambar karakter tokoh dan lembar kerja bergambar.
  13. Buku Panduan Guru Seni Teater Kelas II SD/MI (Kemendikbudristek).
  14. Kartu gambar profesi tokoh sekitar (Petani, Dokter, Polisi Lalu Lintas).
  15. Peluit mainan atau perlengkapan ruang kelas sehari-hari.
  16. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas II (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
  17. Kartu bergambar 3 karakter tokoh rekaan (Robot Kaku, Pohon Berjalan Ajaib, Kucing Bersayap).
  18. Ruang kelas berlantai lapang dan aman untuk bergerak.
  19. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas II
  20. Teks dan ritme lagu anak 'Kalau Kau Suka Hati'
  21. Alat musik perkusi sederhana/rebana/tepukan tangan untuk panduan tempo ketukan
  22. Rekaman video pertunjukan teater/drama musikal anak berdurasi pendek berjudul 'Tupai yang Suka Berbagi'.
  23. Proyektor/layar laptop dan pengeras suara untuk pemutaran video.
  24. Gambar stimulus adegan pertunjukan dan tongkat boneka untuk permainan estafet cerita.
  25. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas II (Edisi Revisi, Bab II Bermain Peran)
  26. Peralatan properti panggung sederhana: caping bambu, cangkul kardus, tongkat kakek, tas selempang, sayap kupu-kupu kain, bando telinga kelinci
  27. Instrumen musik pengiring/pemutar audio lagu anak untuk pertunjukan peran musikal
  28. Lembar observasi unjuk kerja dan lembar daftar centang apresiasi lisan pendidik

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.