MODUL AJAR Seni Teater — Kelas 1 (Fase A) Topik: Bab 2 — Serunya Bermain Tablo INFORMASI UMUM| Mata Pelajaran | Seni Teater |
|---|
| Fase / Kelas | Fase A / Kelas 1 |
|---|
| Topik | Bab 2 — Serunya Bermain Tablo |
|---|
| Alokasi Waktu | 25 JP (25 x 35 menit = 875 menit) |
|---|
| Jumlah Pertemuan | 9 |
|---|
| Tahun Ajaran | 2026/2027 |
|---|
| Semester | 1 |
|---|
TUJUAN PEMBELAJARAN- TP 1.2.1 Mengamati gerak tubuh sebagai media untuk mengomunikasikan emosi melalui pose tablo
- TP 1.2.2 Meniru gerak tubuh sebagai media untuk mengomunikasikan emosi dalam permainan pose tablo
- TP 1.2.3 Menceritakan sebuah karya dengan kosakata sehari-hari mengenai emosi selama bermain tablo
- TP 1.2.4 Menyebutkan jenis-jenis properti/alat bantu yang dapat mendukung permainan peran dalam tablo
- TP 1.2.5 Memainkan sebuah lakon pertunjukan tablo sederhana bersama kelompok
PROFIL LULUSAN| Dimensi | Disasar |
|---|
| Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa | | | Kewargaan | | | Penalaran Kritis | ✓ | | Kreativitas | ✓ | | Kolaborasi | ✓ | | Kemandirian | ✓ | | Kesehatan | | | Komunikasi | ✓ |
PERTANYAAN PEMANTIK- Saat temanmu tersenyum lebar dan kedua tangannya terangkat tinggi tanpa bersuara, perasaan apa yang sedang ia tunjukkan?
- Bagaimana kita bisa tahu seseorang sedang sedih hanya dengan melihat posisi kepala dan pundaknya yang diam seperti patung?
- Bagaimana bentuk tubuh dan tangan seseorang saat tiba-tiba merasa takut melihat hewan yang ditakutinya?
- Apa perbedaan bentuk pose tubuh saat seseorang merasa takut dibandingkan saat terkejut mendengar suara petir?
- Bagaimana bentuk tubuh dan tanganmu saat mematung seperti patung yang sedang gembira?
- Bisakah tubuhmu diam mematung tanpa bergerak sedikit pun untuk menunjukkan rasa sedih?
- Bagaimana bentuk tubuhmu jika menjadi seekor kucing yang sedang terkejut melihat timun?
- Jika kamu menjadi kakek tua yang sedang bahagia menemukan kacamata, seperti apa pose mematungmu?
- Bagaimana perasaanmu saat menjadi patung beku (tablo) pada pertemuan sebelumnya?
- Kata apa yang paling pas untuk menceritakan rasa hatimu saat berpose tablo: senang, sedih, takut, atau terkejut?
- Benda apa yang biasanya dibawa atau dipakai kakek saat berjalan?
- Jika kita ingin menjadi petani dalam patung tablo, benda apa yang bisa kita pegang agar orang tahu peran kita?
- Bagaimana caramu dan teman-teman membentuk patung beku bersama agar orang lain tahu peristiwa yang sedang terjadi?
- Apa yang terjadi jika ada anggota kelompok yang bergerak saat adegan tablo sedang dimainkan?
- Bagaimana cara kita bekerja sama agar pose beku kelompok kita kompak dari awal sampai akhir?
- Apa yang harus kita lakukan saat aba-aba 'beku' dibunyikan dalam gladi bersih lakon tablo?
- Bagaimana tubuh kita bisa bercerita dan menunjukkan perasaan tanpa bersuara?
- Properti apa saja yang dapat membantu penonton mengenali cerita tablo kita?
KEGIATAN PEMBELAJARANPertemuan 1 — Mengamati Gerak Tubuh dan Pose Tablo untuk Mengomunikasikan Emosi Senang dan Sedih — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 1.2.1 Mengamati gerak tubuh sebagai media untuk mengomunikasikan emosi melalui pose tablo
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan mengajak berdoa bersama dengan khidmat (3 menit).
- Guru mengecek kesiapan fisik dan kehadiran murid di dalam kelas (2 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui permainan tebak pose cepat: guru memperagakan 2 pose diam tanpa suara, yaitu Pose 1 (kedua tangan terangkat ke atas, melompat kecil lalu membeku dengan bibir tersenyum) dan Pose 2 (kepala tertunduk ke bawah, pundak membungkuk, kedua tangan memegang pipi membeku), lalu meminta murid mengidentifikasi emosi yang ditunjukkan (acuan diagnostik: Pose 1 = Senang/Gembira; Pose 2 = Sedih) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid menyimak pengantar guru tentang konsep tablo (pose beku/patung diam tanpa suara yang memperlihatkan sebuah cerita atau perasaan) secara berkesadaran (5 menit).
- Murid mengamati 2 gambar peraga pose tablo di papan tulis: Gambar A memperlihatkan anak berdiri tegak dengan tangan terbuka lebar ke atas dan wajah tersenyum; Gambar B memperlihatkan anak duduk merapatkan lutut dengan kepala menunduk lesu (5 menit).
- Murid bersama guru mendiskusikan bagian-bagian gerak tubuh yang tampak diam pada Gambar A (tangan terangkat, dada tegap = emosi senang) dan Gambar B (kepala menunduk, bahu merosot = emosi sedih) (5 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Murid dibagi berpasangan untuk melakukan aktivitas menyenangkan 'Detektif Tablo Patung': satu murid menjadi patung tablo emosi secara bergantian sesuai kartu petunjuk yang dibagikan guru, sedangkan pasangannya mengamati gerak tubuh dan pose beku tersebut (10 menit).
- Murid mengamati 4 peragaan pose tablo yang ditampilkan oleh perwakilan teman di depan kelas berdasarkan 4 kartu skenario: Skenario 1 (anak membeku melompat gembira mendapat hadiah), Skenario 2 (anak membeku menangis memegang lutut yang jatuh), Skenario 3 (anak membeku bertepuk tangan riang menyambut teman), dan Skenario 4 (anak membeku menundukkan badan menghapus air mata dengan lengan) (10 menit).
- Murid secara mandiri memberi tanda centang pada Lembar Pengamatan Tablo yang memuat 4 butir amatan pose tubuh untuk menentukan apakah pose tersebut mengomunikasikan emosi senang atau sedih (acuan: Skenario 1 = Senang, Skenario 2 = Sedih, Skenario 3 = Senang, Skenario 4 = Sedih) (10 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama guru mencocokkan hasil lembar amatan dengan mendiskusikan ciri gerak tubuh utama pada pose tablo emosi senang (gerak tubuh terbuka/ke atas) dan emosi sedih (gerak tubuh tertutup/menunduk ke bawah) secara berkesadaran (5 menit).
Penutup:- Murid bersama guru menyimpulkan bahwa gerak tubuh dan pose beku (tablo) dapat menyampaikan emosi senang dan sedih tanpa perlu mengeluarkan kata-kata atau suara (5 menit).
- Guru memberikan penguatan terhadap proses pengamatan murid, menyampaikan rencana materi pertemuan berikutnya (mengamati emosi takut dan terkejut), dan menutup pembelajaran dengan doa bersama (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan gambar peraga tablo dengan garis penunjuk bagian tubuh (tangan, kepala, pundak) untuk murid yang membutuhkan bantuan visual konkret.
- Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan langsung oleh guru dengan menunjuk bagian gerak tubuh (kepala/tangan) yang diamati; murid yang cepat mengamati diberikan tantangan menyebutkan ciri gerak tubuh spesifik pada pose senang dan sedih.
- Produk: Lembar pengamatan menggunakan simbol emotikon visual (senyum dan sedih) agar ramah pembaca pemula Fase A.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik visual-gerak: Guru memperagakan 2 pose beku tanpa suara di depan kelas. Pose 1: Berdiri riang, kedua lengan terentang ke atas membeku. Pose 2: Duduk tertunduk, kedua tangan memegangi wajah membeku. Murid diminta mengidentifikasi emosi yang ditunjukkan. Kunci acuan: Pose 1 = Senang/Gembira; Pose 2 = Sedih. Murid yang menjawab tepat keduanya dikelompokkan siap mengamati secara mandiri; murid yang keliru diberikan scaffolding visual pendukung.
Proses:- Formatif pada Lembar Pengamatan Tablo saat mengamati 4 peragaan skenario pose tablo teman di depan kelas. Butir amatan: (1) Pose anak membeku melompat gembira mendapat hadiah (acuan: Senang), (2) Pose anak membeku duduk memegang lutut tersandung dengan wajah menunduk (acuan: Sedih), (3) Pose anak membeku bertepuk tangan menyambut kawan (acuan: Senang), (4) Pose anak membeku menundukkan bahu menghapus mata (acuan: Sedih). Penskoran: Menilai jumlah ketepatan identifikasi dari ke-4 butir target.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman akhir: Guru menunjukkan 2 kartu foto pose tablo anak membeku, yaitu Foto 1 (anak tertawa membuka lengan lebar) dan Foto 2 (anak duduk meringkuk memeluk lutut), lalu meminta murid mengangkat kartu simbol emotikon senang atau sedih yang sesuai (acuan: Foto 1 = Senang; Foto 2 = Sedih).
Formatif:- Observasi pengamatan gerak tubuh dan pose tablo
- Lembar Pengamatan Tablo (identifikasi emosi senang dan sedih dari 4 skenario pose beku)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Ketepatan mengamati gerak tubuh dan pose tablo untuk mengomunikasikan emosi senang dan sedih | Belum mampu mengidentifikasi emosi senang dan sedih dari gerak tubuh pose tablo yang diamati (tepat 0-1 dari 4 butir acuan). | Mampu mengidentifikasi sebagian emosi senang dan sedih dari gerak tubuh pose tablo yang diamati dengan bantuan guru (tepat 2 dari 4 butir acuan). | Mampu mengidentifikasi emosi senang dan sedih dari gerak tubuh pose tablo yang diamati secara tepat dan mandiri (tepat 3 dari 4 butir acuan). | Mampu mengidentifikasi seluruh emosi senang dan sedih dari gerak tubuh pose tablo yang diamati secara tepat, konsisten, dan mandiri (tepat 4 dari 4 butir acuan: Skenario 1 = Senang, Skenario 2 = Sedih, Skenario 3 = Senang, Skenario 4 = Sedih). |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah instruksi mengenai konsep tablo (patung diam tanpa suara) dapat dipahami dengan jelas oleh murid kelas 1?
- Bagaimana keterlibatan murid saat melakukan pengamatan terhadap gerak tubuh dan pose teman di depan kelas?
- Apakah murid yang kesulitan membaca terbantu dengan penggunaan simbol visual senang dan sedih?
Murid:- Bagian tubuh mana yang paling mudah dilihat saat teman memperagakan pose tablo orang senang?
- Apakah kamu bisa membedakan pose orang sedih dan orang senang saat mereka mematung tanpa bersuara?
Pertemuan 2 — Mengamati Gerak Tubuh dan Pose Tablo untuk Mengomunikasikan Emosi Takut dan Terkejut — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 1.2.1 Mengamati gerak tubuh sebagai media untuk mengomunikasikan emosi melalui pose tablo
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan mengajak berdoa bersama sesuai keyakinan masing-masing (3 menit).
- Guru memeriksa kesiapan murid dan menyepakati aturan kelas saat sesi pengamatan teater tablo (2 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik dengan memperagakan satu pose beku berjongkok dengan kedua tangan menutupi kepala dan mata membelalak, lalu menanyakan: 'Pose tubuh mematung ini mengomunikasikan rasa apa?' (acuan: rasa takut atau terkejut; diterima jika murid menyebut salah satu atau kata yang semakna seperti kaget/ngeri) (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu mengamati gerak tubuh dan pose tablo beku untuk mengenali emosi takut dan terkejut (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru memperkenalkan kembali konsep pose tablo (adegan gerak tubuh yang mematung/membeku tanpa suara) khusus untuk emosi takut dan terkejut melalui 2 kartu foto peraga: Foto A (tokoh berdiri membeku, mata membelalak lebar, mulut terbuka membentuk huruf O, kedua tangan terangkat di samping pipi) dan Foto B (tokoh berlutut mundur, badan membungkuk menjauh, kedua lengan menyilang di depan dada melindungi diri) (10 menit).
- Guru memandu murid mencermati bagian tubuh pada pose tablo tersebut: posisi tangan, arah condong tubuh, dan bentuk kepala/mata saat emosi takut dan terkejut dikomunikasikan tanpa kata-kata (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):- Guru memainkan permainan interaktif 'Tebak Patung Emosi' (Joyful Learning): guru memperagakan secara bergantian 4 pose tablo beku di depan kelas: Pose 1 (tubuh mundur bergetar lalu membeku dengan tangan menutupi wajah), Pose 2 (tubuh melonjak tegak lalu membeku dengan kedua tangan terbuka ke depan dan mata membelalak), Pose 3 (jongkok meringkuk memeluk lutut sambil memalingkan muka), Pose 4 (berdiri kaku dengan kedua telapak tangan memegang pipi dan mulut terbuka membulat) (3 menit).
- Murid secara individu mengamati setiap pose tablo yang diperagakan, kemudian mengangkat kartu simbol visual emosi: Kartu Gambar Kucing Merinding (simbol 'Takut') atau Kartu Gambar Petir Menyambar (simbol 'Terkejut') untuk tiap pose (acuan ketepatan: Pose 1 = Takut; Pose 2 = Terkejut; Pose 3 = Takut; Pose 4 = Terkejut) (12 menit).
- Murid menerima Lembar Pengamatan Visual berisi 4 gambar siluet pose tablo dan memasangkan siluet dengan kata/simbol emosi yang tepat: Siluet 1 (membungkuk mundur menyilangkan tangan = Takut), Siluet 2 (badan tegap condong ke belakang dengan tangan terangkat di samping telinga dan mulut O = Terkejut), Siluet 3 (jongkok menutup wajah dengan dua telapak tangan = Takut), Siluet 4 (berdiri kaku melangkah mundur mendadak dengan telapak tangan terbuka ke depan = Terkejut) (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Guru mengonfirmasi hasil pengamatan murid pada lembar kerja dan membahas ciri gerak tubuh utama yang menandai perbedaan kedua emosi tablo tersebut: gerak tubuh takut cenderung mengecil/menutup/meringkuk menjauh, sedangkan gerak tubuh terkejut cenderung mendadak tegang/membuka/membelalak (15 menit).
- Murid menunjukkan satu ciri gerak tubuh yang paling mudah dikenali dari pose tablo takut dan terkejut berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan (10 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan bahwa gerak tubuh dan pose mematung (tablo) dapat dengan jelas mengomunikasikan emosi takut dan terkejut tanpa perlu bersuara (acuan simpulan: pose takut ditandai gerak menutup/menjauh/meringkuk, pose terkejut ditandai gerak membeku mendadak/mata membelalak/tangan terbuka) (10 menit).
- Guru memberikan apresiasi atas ketelitian pengamatan murid dan menyampaikan bahwa pada pertemuan berikutnya murid akan mulai berlatih meniru gerak tubuh pose beku tersebut, kemudian kelas ditutup dengan doa bersama (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan kartu simbol visual konkret (kucing merinding untuk takut dan petir untuk terkejut) bagi murid yang masih dalam tahap awal literasi membaca kata.
- Proses: Bagi murid yang membutuhkan bimbingan, guru mengulang pose tablo dengan durasi mematung lebih lama (8-10 detik) dan memfokuskan pandangan pada satu bagian tubuh (misal: hanya posisi tangan). Bagi murid yang cepat mengamati, diberikan tantangan mengenali pose beku dalam tempo transisi yang lebih singkat.
- Produk: Murid dapat membuktikan hasil pengamatan dengan cara mengangkat kartu simbol bergambar atau mencentang/menghubungkan garis pada lembar kerja bergambar.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik visual-gerak: Guru memperagakan pose beku tablo (jongkok memeluk lutut, kepala menunduk tertutup lengan). Pertanyaan: 'Apakah pose tubuh mematung ini menunjukkan rasa senang, takut, atau terkejut?' (acuan: takut; murid dinyatakan siap jika mampu memilih 'takut').
Proses:- Pengamatan lembar kerja 4 siluet pose tablo: Guru memeriksa ketepatan murid menandai emosi pada 4 butir gambar siluet pose tablo. Acuan kunci jawaban: (1) Siluet membungkuk mundur menyilangkan tangan = Takut; (2) Siluet berdiri tegap dengan kedua tangan di samping telinga dan mulut membulat = Terkejut; (3) Siluet jongkok menutup wajah = Takut; (4) Siluet melangkah mundur mendadak dengan kedua telapak tangan terbuka ke depan = Terkejut. Kriteria: Murid tepat mengidentifikasi minimal 3 dari 4 siluet pose tablo.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman akhir: Guru memperagakan satu pose tablo penutup (berdiri kaku, mata membelalak, kedua tangan menempel di pipi). Murid secara serentak merespons dengan menyebutkan emosi yang dikomunikasikan oleh pose tersebut (acuan jawaban tepat: terkejut/kaget).
Formatif:- Asesmen awal diagnostik: tanya jawab identifikasi emosi melalui peragaan pose beku guru di awal kegiatan.
- Asesmen proses (unjuk kerja pengamatan): observasi ketepatan murid mengidentifikasi emosi takut dan terkejut pada permainan 'Tebak Patung Emosi' dan Lembar Pengamatan Visual 4 siluet pose tablo.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Ketepatan Mengamati Gerak Tubuh dan Pose Tablo Emosi Takut dan Terkejut | Belum tepat mengidentifikasi emosi takut maupun terkejut dari gerak tubuh pose tablo yang diamati (0-1 dari 4 siluet tepat sesuai acuan). | Mulai dapat mengidentifikasi emosi takut atau terkejut dari gerak tubuh pose tablo dengan bimbingan langsung guru (2 dari 4 siluet tepat sesuai acuan: Siluet 1 = Takut, Siluet 2 = Terkejut, Siluet 3 = Takut, Siluet 4 = Terkejut). | Tepat mengidentifikasi emosi takut dan terkejut dari gerak tubuh pose tablo secara mandiri (3 dari 4 siluet tepat sesuai acuan: Siluet 1 = Takut, Siluet 2 = Terkejut, Siluet 3 = Takut, Siluet 4 = Terkejut). | Sangat tepat dan konsisten mengidentifikasi seluruh emosi takut dan terkejut dari gerak tubuh pose tablo secara mandiri tanpa keraguan (4 dari 4 siluet tepat sesuai acuan: Siluet 1 = Takut, Siluet 2 = Terkejut, Siluet 3 = Takut, Siluet 4 = Terkejut). |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah media peragaan gerak tubuh dan kartu foto pose tablo sudah cukup jelas membantu murid membedakan emosi takut dan terkejut?
- Bagian gerak tubuh mana yang paling sering membuat murid keliru antara emosi takut dan terkejut selama kegiatan pengamatan?
Murid:- Ciri gerak tubuh apa yang paling mudah kamu lihat saat seseorang sedang berpose tablo ketakutan?
- Apakah kamu merasa senang saat bermain tebak patung emosi tadi?
Pertemuan 3 — Meniru Gerak Tubuh dan Pose Beku Mengomunikasikan Emosi Sederhana — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 1.2.2 Meniru gerak tubuh sebagai media untuk mengomunikasikan emosi dalam permainan pose tablo
Pendahuluan:- Guru menyapa murid dengan hangat, mengajak berdoa bersama, dan mengecek kehadiran murid (5 menit).
- Guru memandu pemanasan olah tubuh sederhana dengan meregangkan tangan, kaki, dan menggelengkan kepala secara perlahan untuk menyiapkan kesadaran gerak tubuh (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal berupa tes diagnostik peragaan cepat: guru memperagakan 2 gerak tubuh emosi dasar, yaitu (1) merentangkan tangan ke atas sambil tersenyum lebar untuk emosi senang, dan (2) menundukkan kepala sambil kedua tangan lemas di samping untuk emosi sedih, lalu meminta murid langsung meniru gerak tersebut untuk memetakan kesiapan gerak tiruan (acuan: murid mampu meniru kedua bentuk gestur dan pose beku tersebut) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru mendemonstrasikan 3 contoh gerak tubuh dan pose beku (tablo) berturut-turut di depan kelas: (1) Pose Senang: kedua tangan diangkat tinggi mengepal ke atas, dada tegak; (2) Pose Sedih: kepala tertunduk, bahu merosot, tangan memegang dada; (3) Pose Terkejut: kedua telapak tangan menempel di pipi, badan sedikit mundur, mata membelalak (10 menit).
- Murid mengamati dan bersama guru mengeksplorasi ciri-ciri fisik gerak tubuh dari setiap pose beku yang diperagakan tanpa bersuara, mengenali posisi tangan, badan, dan kepala untuk mengomunikasikan emosi tersebut (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan):- Murid bermain permainan gerak tiruan 'Patung Berhenti': guru membunyikan ketukan tambur/tepukan tangan saat murid berjalan bebas; ketika ketukan berhenti dan guru menyebutkan kata emosi target, murid langsung menirukan pose beku emosi tersebut selama 5 detik: putaran 1 emosi senang, putaran 2 emosi sedih, dan putaran 3 emosi terkejut (25 menit).
- Murid secara mandiri melakukan latihan meniru gerak tubuh dan pose beku berdasarkan 3 kartu instruksi bergambar yang ditunjukkan guru: Kartu 1 (anak meloncat girang lalu beku mematung untuk emosi senang), Kartu 2 (anak duduk meringkuk memeluk lutut untuk emosi sedih), dan Kartu 3 (anak membuka kedua tangan ke samping dengan tubuh tersentak untuk emosi terkejut) (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid berhenti sejenak dalam posisi duduk tenang, merasakan bagian tubuh mana (tangan, bahu, atau kepala) yang paling kencang menahan gerak saat menjadi pose beku tablo (10 menit).
- Guru memberikan penguatan terhadap keberhasilan murid menahan gerak tubuh saat mematung dan meniru bentuk gestur emosi yang dicontohkan (5 menit).
Penutup:- Guru dan murid melakukan pendinginan tubuh dengan menarik napas perlahan sambil menurunkan kedua tangan dari atas ke bawah (5 menit).
- Guru melakukan cek pemahaman akhir melalui aba-aba cepat: murid diminta menirukan pose beku emosi senang selama 3 hitungan (acuan: tubuh tegak, kedua tangan terangkat ke atas, mematung tanpa bergerak) (3 menit).
- Guru menyampaikan apresiasi atas kelenturan dan fokus gerak beku murid hari ini, lalu menutup pembelajaran dengan doa bersama (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan contoh gerak tubuh tiruan langsung oleh guru dan kartu visual pose beku berwarna.
- Proses: Bagi murid yang masih ragu bergerak, guru memberikan bimbingan dengan mencontohkan gerak dari jarak dekat secara bertahap; bagi murid yang sudah mahir, diberikan tantangan menahan pose beku lebih lama (hingga 8 detik) dengan keteguhan gerak tanpa goyah.
- Produk: Variasi bentuk pose beku emosi yang dihasilkan murid sesuai kelenturan tubuh masing-masing dengan tetap mencerminkan ciri gestur emosi yang ditiru.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tes diagnostik peragaan gerak singkat: menirukan 2 gerak tubuh emosi dasar yang dicontohkan guru, yaitu (1) merentangkan tangan ke atas sambil tersenyum untuk emosi senang, dan (2) menundukkan kepala serta bahu lunglai untuk emosi sedih (acuan: murid dapat meniru kedua bentuk gestur dan mematung sejenak).
Proses:- Observasi unjuk kerja menirukan gerak tubuh dan pose beku tablo pada 3 emosi (senang, sedih, terkejut) selama aktivitas permainan dan peniruan kartu (acuan ketepatan: pose senang dengan kedua tangan diangkat tinggi; pose sedih dengan kepala tertunduk dan bahu merosot; pose terkejut dengan kedua telapak tangan di pipi atau tubuh tersentak beku).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman gerak akhir: murid meniru pose beku emosi senang selama 3 hitungan berturut-turut tanpa bergerak (acuan: kedua tangan terangkat ke atas, dada tegak mematung tanpa goyah).
Formatif:- Observasi unjuk kerja gerak tiruan dan pose beku tablo saat permainan 'Patung Berhenti' dan peragaan 3 kartu instruksi menggunakan lembar ceklis
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Meniru Gerak Tubuh Emosi Sederhana | Belum mampu meniru gerak tubuh untuk mengomunikasikan emosi, gerak masih pasif atau tidak sesuai dengan contoh. | Mampu meniru 1 dari 3 gerak tubuh emosi (senang, sedih, terkejut) sesuai contoh dengan bimbingan fisik langsung dari guru. | Mampu meniru 2 sampai 3 gerak tubuh emosi (senang, sedih, terkejut) sesuai contoh acuan gestur secara tepat. | Mampu meniru seluruh 3 gerak tubuh emosi (senang, sedih, terkejut) sesuai contoh acuan gestur secara tepat dan konsisten secara mandiri. | | Menahan Pose Beku Tablo | Belum mampu menahan pose beku, tubuh terus bergerak atau berpindah tempat saat aba-aba berhenti. | Mampu menahan pose beku emosi selama 1-2 detik tetapi masih sering goyah atau kehilangan bentuk pose. | Mampu menahan pose beku emosi selama 3-5 detik secara stabil sesuai bentuk gerak yang ditiru. | Mampu menahan pose beku emosi lebih dari 5 detik secara stabil, teguh, dan tanpa goyah sama sekali secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah instruksi gerak tiruan dan aba-aba pose beku tablo dapat dipahami dengan jelas oleh seluruh murid kelas 1?
- Bagaimana keterlibatan dan respon fisik murid saat menirukan berbagai gerak tubuh emosi dalam permainan?
- Apakah alokasi waktu 105 menit efektif dalam memfasilitasi setiap tahapan eksplorasi gerak murid?
Murid:- Bagian tubuh mana yang paling kamu sukai saat menirukan patung beku tadi?
- Apakah kamu merasa senang saat bermain menirukan pose patung senang, sedih, dan terkejut?
Pertemuan 4 — Meniru Gerak Tubuh dan Ekspresi Emosi Tokoh dalam Permainan Pose Tablo — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 1.2.2 Meniru gerak tubuh sebagai media untuk mengomunikasikan emosi dalam permainan pose tablo
Pendahuluan:- Guru mengondisikan kelas, menyapa murid, mengajak berdoa bersama, serta memeriksa kehadiran murid (5 menit).
- Guru melakukan pemanasan olah tubuh ringan melalui gerak peregangan otot lengan dan kaki secara ceria (5 menit).
- Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat: guru memperagakan 1 pose tubuh tokoh 'Petani yang lelah' (tubuh membungkuk lemas, kedua tangan memegang lutut), lalu meminta seluruh murid menirukan pose beku tersebut selama 5 detik untuk memetakan kesiapan menirukan pose tubuh berkarakter tokoh (acuan: tubuh membungkuk dan tangan bertumpu di lutut tanpa bergerak) (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Murid mengamati guru yang memperagakan 3 pose tablo karakter tokoh beserta emosinya: (1) Tokoh Kelinci Gembira: melompat kecil lalu membeku dengan kedua tangan menekuk di atas kepala seperti telinga dan wajah tersenyum lebar; (2) Tokoh Singa Terkejut: membeku dengan kedua mata membelalak, mulut terbuka membulat, dan kedua tangan terangkat di samping dada mencengkeram kaku; (3) Tokoh Kura-Kura Takut: membeku dengan kepala ditarik masuk memendek ke pundak dan kedua tangan memeluk lutut merapat ke dada (15 menit).
- Murid bersama bimbingan guru mengidentifikasi ciri bentuk gerak tubuh pada tiap pose tokoh tersebut dengan berfokus pada posisi tangan, pundak, kaki, dan ekspresi wajah saat membeku (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):- Murid memainkan permainan 'Patung Tokoh Menirukan Emosi' (Joyful learning): guru menyebutkan 1 skenario tokoh, murid bergerak bebas menirukan gerak binatang/tokoh di tempat, dan saat guru berseru 'Membeku!', murid langsung mengunci tubuhnya meniru pose tablo tokoh dan emosi yang diminta selama 5 detik (15 menit).
- Skenario permainan pose tablo yang wajib ditirukan murid meliputi 3 skenario terarah: Skenario 1 'Anak Kucing Senang Mendapat Ikan' (acuan: pose tubuh berjongkok dengan kedua tangan menekuk ceria di depan dada seperti cakar halus dan senyum lebar); Skenario 2 'Burung Hantu Terkejut Mendengar Petir' (acuan: pose tubuh berdiri mematung dengan kedua mata membelalak lebar, mulut membentuk huruf O, dan kedua tangan terentang kaku seperti sayap tegang); Skenario 3 'Kera Kecil Takut Ketinggalan Rombongan' (acuan: pose tubuh membungkuk merapat, kedua tangan meremas dada/bahu, dan bibir bergetar cemas) (15 menit).
- Guru berkeliling mengamati dan mencatat keterampilan murid dalam menirukan gerak tubuh serta ekspresi emosi tokoh sesuai 3 skenario tersebut pada lembar observasi formatif (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid diajak duduk melingkar dan melakukan pendinginan pernapasan secara tenang (5 menit).
- Murid bersama guru merefleksikan gerakan tubuh yang paling mudah dan paling menantang saat menirukan pose beku tokoh beremosi (acuan refleksi: menahan tubuh tidak goyang saat pose terkejut atau takut) (5 menit).
Penutup:- Guru memberikan umpan balik langsung dan apresiasi atas keberanian serta kelenturan tubuh seluruh murid dalam meniru pose beku tokoh (5 menit).
- Guru menyampaikan gambaran kegiatan berikutnya mengenai menceritakan perasaan saat bermain tablo, lalu menutup sesi dengan doa bersama (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan contoh peragaan pose langsung oleh guru secara bertahap (ekspresi wajah dahulu, lalu sikap tangan dan kaki) bagi murid yang membutuhkan panduan visual konkret.
- Proses: Bagi murid yang masih ragu, guru memberikan hitungan ketukan lambat 1-2-3 untuk ancang-ancang membeku; bagi murid yang tangkas, diberikan tantangan mempertahankan pose beku tokoh selama 7 detik tanpa goyang sedikit pun.
- Produk: Semua murid menampilkan bukti belajar yang sama yaitu menirukan 3 pose tablo tokoh dan emosinya, disesuaikan dengan kelenturan fisik masing-masing murid.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tugas diagnostik unjuk kerja: Murid menirukan pose beku guru sebagai tokoh 'Petani yang lelah' selama 5 detik (acuan: tubuh membungkuk lemas, kedua tangan memegang lutut tanpa bergerak).
Proses:- Pengamatan formatif menirukan 3 pose tablo tokoh dan emosi dalam permainan: (1) Skenario Kucing Senang (acuan: pose jongkok, tangan menekuk cakar ceria, wajah tersenyum); (2) Skenario Burung Hantu Terkejut (acuan: pose berdiri tegang, mata membelalak, mulut O, tangan terentang kaku); (3) Skenario Kera Kecil Takut (acuan: pose membungkuk merapat, tangan memeluk dada/bahu, ekspresi cemas).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman/refleksi gerak di akhir sesi: Murid secara serempak menunjukkan satu pose beku tokoh favorit mereka dari 3 skenario yang telah dipelajari selama hitungan 3 detik sebagai konfirmasi penguasaan menirukan pose tablo tokoh.
Formatif:- Observasi unjuk kerja saat murid menirukan pose tablo gerak tubuh dan ekspresi emosi tokoh pada permainan Patung Tokoh
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Meniru gerak tubuh dan ekspresi emosi tokoh dalam pose tablo | Belum mampu menirukan gerak tubuh maupun ekspresi emosi tokoh pada ketiga skenario pose tablo, tubuh masih terus bergerak aktif dan belum membentuk pose beku. | Mampu menirukan gerak tubuh dan ekspresi emosi tokoh pada 1 dari 3 skenario skenario pose tablo terarah secara tepat, namun masih membutuhkan bantuan peragaan ulang oleh guru. | Mampu menirukan gerak tubuh dan ekspresi emosi tokoh pada minimal 2 dari 3 skenario pose tablo terarah secara tepat dan membeku selama 5 detik secara mandiri. | Mampu menirukan gerak tubuh dan ekspresi emosi tokoh pada seluruh (3 dari 3) skenario pose tablo terarah secara lengkap, tepat, dan mampu mempertahankan pose beku selama minimal 5 detik secara konsisten dan mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah instruksi dan aba-aba 'Membeku' dapat dipahami dengan jelas oleh semua murid kelas 1?
- Bagaimana keterlibatan murid yang pemalu saat menirukan ekspresi emosi dan pose tubuh tokoh binatang?
Murid:- Pose tokoh mana yang paling kamu sukai saat mematung tadi?
- Bagian tubuh mana yang terasa paling pegal saat kamu menahan pose tidak bergerak?
Pertemuan 5 — Menceritakan Pengalaman Emosi Selama Bermain Pose Tablo dengan Kosakata Sehari-hari — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 1.2.3 Menceritakan sebuah karya dengan kosakata sehari-hari mengenai emosi selama bermain tablo
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan mengajak berdoa bersama dengan tertib (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik lisan dengan menanyakan: 'Apa yang kamu rasakan saat kemarin menjadi patung beku?' Guru mencatat kesiapan awal murid dalam menyebutkan kata emosi sehari-hari (kriteria kesiapan: menyebutkan minimal 1 kata emosi dasar sehari-hari seperti senang, sedih, takut, kaget/terkejut, capek, atau seru) (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru menunjukkan 4 gambar ekspresi pose tablo karya pertemuan lalu yang ditempel di papan tulis: (1) Pose Tablo Anak Melompat Tersenyum Lebar; (2) Pose Tablo Anak Menunduk Mengusap Air Mata; (3) Pose Tablo Anak Memeluk Diri Sambil Berjongkok; (4) Pose Tablo Anak Membuka Mata Lebar dan Menutup Mulut dengan Kedua Tangan (10 menit).
- Guru memandu murid mencocokkan kosakata emosi sehari-hari untuk masing-masing gambar tersebut: Gambar 1 cocok dengan kata 'senang'/'gembira', Gambar 2 cocok dengan kata 'sedih', Gambar 3 cocok dengan kata 'takut', dan Gambar 4 cocok dengan kata 'kaget'/'terkejut', serta mengajak murid menyadari bagaimana emosi tersebut dirasakan di tubuh saat bermain tablo (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan):- Guru memimpin permainan 'Bola Kata Emosi Tablo': Guru memutar musik riang sambil murid mengoper bola busa, dan saat musik berhenti, murid yang memegang bola mengambil 1 dari 4 Kartu Karya Pose Tablo: Kartu A (Pose Berbagi Kue), Kartu B (Pose Balon Meletus), Kartu C (Pose Terjebak Hujan Lebat), Kartu D (Pose Main Bersama Teman) (15 menit).
- Murid yang memegang kartu menceritakan pengalaman emosi saat melihat atau memperagakan pose tersebut secara lisan kepada teman di sebelahnya menggunakan kalimat dan kosakata sehari-hari (misalnya: 'Waktu berpose Balon Meletus, aku merasa kaget dan takut suaranya keras') (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Setiap murid secara mandiri menceritakan pengalaman emosinya sendiri selama bermain pose tablo di sesi pertemuan sebelumnya kepada guru secara bergiliran atau dalam kelompok kecil menggunakan minimal 2 kosakata emosi sehari-hari (kriteria penerimaan: menceritakan rasa hati yang dialami, misalnya 'senang karena lucu', 'lelah/capek karena diam lama', atau 'kaget saat aba-aba bunyi') (15 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan bahwa setiap karya pose tablo membawa rasa emosi yang dapat diceritakan dengan kata-kata sederhana sehari-hari (10 menit).
- Guru menyampaikan apresiasi atas keberanian murid bercerita, menginformasikan bahwa pertemuan berikutnya akan mengenal jenis properti pendukung lakon tablo, lalu menutup kelas dengan doa bersama (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Guru menyediakan gambar ekspresi visual berlabel kosakata emosi sederhana (senang, sedih, takut, kaget) untuk membantu murid yang membutuhkan scaffolding visual.
- Proses: Bagi murid yang masih ragu bercerita, guru mendampingi dengan pertanyaan pancingan terarah ('Apakah hatimu senang atau takut saat jadi patung?'); bagi murid yang sudah lancar, murid diminta menceritakan alasan di balik munculnya emosi tersebut.
- Produk: Cerita disampaikan secara lisan; murid dapat memilih menceritakan pengalamannya sendiri saat berpose tablo atau menceritakan karya pose tablo temannya.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik lisan di awal pelajaran: Murid ditanya pengalaman perasaannya saat bermain patung tablo pada sesi lalu (Kriteria kesiapan: murid mampu menyebutkan minimal 1 kosakata emosi sehari-hari seperti senang, sedih, takut, kaget, atau seru; acuan jawaban yang diterima: nama-nama emosi dasar sehari-hari).
Proses:- Pencatatan observasi formatif pada tahap Merefleksi saat murid menceritakan karya/pengalaman bermain pose tablo (Kriteria observasi: ketepatan penggunaan kosakata emosi sehari-hari dan kejelasan cerita pengalaman emosi saat berpose tablo).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan penutup: Guru meminta murid memilih satu kata emosi yang paling menggambarkan perasaannya hari ini setelah belajar bercerita tablo (acuan: kata emosi relevan seperti senang, bangga, lega, atau gembira).
Formatif:- Pengamatan kinerja lisan saat murid menceritakan pengalaman emosi selama bermain pose tablo menggunakan lembar observasi indikator kosakata sehari-hari
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menceritakan Pengalaman Emosi Selama Bermain Pose Tablo | Belum mampu menceritakan pengalaman emosi selama bermain tablo meskipun telah dibimbing dengan pertanyaan pancingan. | Mampu menceritakan pengalaman emosi selama bermain tablo dengan menyebutkan 1 kosakata emosi sehari-hari dengan bantuan bimbingan guru. | Mampu menceritakan pengalaman emosi selama bermain tablo secara runtut menggunakan minimal 2 kosakata emosi sehari-hari secara mandiri. | Mampu menceritakan pengalaman emosi selama bermain tablo secara lancar dan lengkap menggunakan lebih dari 2 kosakata emosi sehari-hari beserta penyebab munculnya emosi tersebut secara mandiri. | | Penggunaan Kosakata Emosi Sehari-hari | Belum menggunakan kosakata emosi sehari-hari yang sesuai dengan konteks karya pose tablo. | Menggunakan 1 kosakata emosi sehari-hari yang sesuai dengan konteks karya pose tablo. | Menggunakan minimal 2 kosakata emosi sehari-hari yang tepat sesuai dengan konteks karya pose tablo secara mandiri. | Menggunakan ragam kosakata emosi sehari-hari secara tepat, variatif, dan sesuai konteks karya pose tablo tanpa ragu-ragu. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah seluruh murid sudah percaya diri menceritakan pengalaman emosi mereka secara lisan menggunakan kosakata sehari-hari?
- Bagian mana dari kegiatan permainan kata emosi yang paling efektif membantu murid memahami hubungan rasa tubuh dengan kosakata emosi?
Murid:- Apakah kamu merasa senang menceritakan perasaanmu saat bermain pose patung tablo tadi?
- Kata emosi apa yang paling kamu sukai saat bercerita pada temanmu?
Pertemuan 6 — Menyebutkan Jenis-Jenis Properti dan Alat Bantu Sederhana Pendukung Lakon Tablo — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 1.2.4 Menyebutkan jenis-jenis properti/alat bantu yang dapat mendukung permainan peran dalam tablo
Pendahuluan:- Guru membuka pelajaran dengan salam, menyapa murid, dan mengajak berdoa bersama (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui tanya jawab singkat dengan memperlihatkan 3 benda nyata: topi caping, sendok, dan tongkat kayu kecil, lalu menanyakan nama benda dan peran yang cocok dengan benda tersebut (acuan: topi caping untuk petani, sendok untuk koki/ibu makan, tongkat untuk kakek/petualang) (10 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran, Bermakna):- Guru memperkenalkan konsep properti/alat bantu tablo menggunakan benda nyata dan gambar sederhana dari kardus/kain, yaitu benda yang dipegang atau dipakai tokoh untuk memperjelas peran (10 menit).
- Guru memperlihatkan 4 kartu gambar properti: (1) tas sekolah, (2) stetoskop mainan, (3) topi koki dari kertas, dan (4) pacul mainan kardus, lalu mengajak murid bersama-sama menyebutkan nama masing-masing jenis properti tersebut (acuan nama: tas sekolah, stetoskop, topi koki, pacul kardus) (15 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan):- Melalui permainan 'Tebak Properti Tokoh', murid secara berpasangan mengambil 1 dari 4 kartu peran (A: Dokter, B: Petani, C: Guru, D: Polisi) dan memilih serta menyebutkan benda pendukung lakon yang sesuai dari meja peraga (acuan pasangan: A-Dokter -> stetoskop/suntikan mainan; B-Petani -> cangkul kardus/topi caping; C-Guru -> buku/penggaris; D-Polisi -> topi polisi/peluit) (25 menit).
- Setiap murid menyebutkan secara lisan di depan meja peraga minimal 3 jenis properti sederhana pendukung peran tablo yang telah disediakan (daftar acuan 5 properti yang tersedia di kelas: topi caping, tongkat jalan, kacamata mainan, tas selempang kardus, buku tulis) (20 menit).
Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):- Murid bersama guru merefleksikan pentingnya properti dalam tablo dengan menanggapi pertanyaan: 'Mengapa memegang atau memakai benda seperti caping atau tongkat membuat peran kita dalam pose tablo langsung dikenali?' (10 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan jenis-jenis properti/alat bantu sederhana yang bisa digunakan dalam peran tablo (5 menit).
- Guru menyampaikan apresiasi atas keberanian murid menyebutkan properti dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam (5 menit).
Diferensiasi:- Konten: Menyediakan benda konkret langsung (asli/tiruan kardus) bagi murid yang membutuhkan bantuan visual-taktil, serta kartu gambar properti bagi yang sudah mandiri.
- Proses: Bagi murid yang masih ragu, guru memberikan bimbingan dengan memperagakan fungsi benda terlebih dahulu sebelum murid menyebutkan namanya; bagi murid yang cepat, diberikan tantangan menyebutkan 5 properti sekaligus beserta perannya.
- Produk: Penyebutan jenis properti dilakukan secara lisan langsung atau dengan menunjuk dan menyebutkan nama bendanya.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Tanya jawab diagnostik di awal pembelajaran menggunakan 3 benda konkret: (1) topi caping, (2) sendok, (3) tongkat kayu kecil. Guru meminta murid menyebutkan nama benda dan peran yang cocok (acuan: topi caping -> peran petani; sendok -> peran koki/ibu memasak; tongkat kayu -> peran kakek/petualang).
Proses:- Observasi ketercapaian saat permainan 'Tebak Properti Tokoh' dan penyebutan lisan properti di meja peraga. Kriteria: Murid mampu menyebutkan nama jenis properti/alat bantu dari daftar 5 benda yang disediakan (topi caping, tongkat jalan, kacamata mainan, tas selempang kardus, buku tulis) dengan benar.
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman lisan di akhir sesi: Murid secara acak ditunjukkan 2 gambar properti (peluit dan payung) lalu menyebutkan nama jenis alat bantu tersebut dan peran yang memakainya (acuan: peluit -> polisi/wasit; payung -> orang kehujanan/pejalan kaki).
Formatif:- Observasi unjuk kerja penyebutan jenis properti/alat bantu sederhana pendukung peran tablo
- Tanya jawab lisan pengenalan benda dan pasangan peran
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Menyebutkan jenis-jenis properti/alat bantu pendukung tablo | Belum mampu menyebutkan jenis properti/alat bantu pendukung lakon tablo meskipun sudah dibantu dengan menunjukkan bendanya secara langsung (0 dari 5 properti acuan tepat). | Mampu menyebutkan 1 sampai 2 jenis properti/alat bantu pendukung lakon tablo dengan bimbingan dan arahan guru dari 5 properti acuan yang disediakan. | Mampu menyebutkan 3 sampai 4 jenis properti/alat bantu pendukung lakon tablo secara mandiri dan tepat dari 5 properti acuan yang disediakan. | Mampu menyebutkan seluruh (5 dari 5) jenis properti/alat bantu pendukung lakon tablo (topi caping, tongkat jalan, kacamata mainan, tas selempang kardus, buku tulis) secara mandiri dan tepat tanpa ragu. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah pemilihan media benda konkret dan tiruan kardus memudahkan murid kelas 1 dalam mengenali dan menyebutkan jenis properti?
- Bagaimana keterlibatan murid selama permainan tebak properti berlangsung?
Murid:- Benda properti apa yang paling kamu sukai saat bermain tebak peran tadi?
- Apakah kamu sekarang bisa menyebutkan benda apa yang dipakai seorang petani atau dokter saat bermain tablo?
Pertemuan 7 — Memainkan Adegan Lakon Pertunjukan Tablo Peristiwa Kehidupan Sehari-hari — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 1.2.5 Memainkan sebuah lakon pertunjukan tablo sederhana bersama kelompok
Pendahuluan:- Guru membuka pelajaran dengan menyapa murid, mengajak berdoa bersama, dan mengecek kehadiran murid (5 menit).
- Guru mengajak murid melakukan pemanasan tubuh sederhana melalui permainan 'Patung Es': murid bergerak bebas di tempat mengikuti tepukan guru, dan langsung mematung diam saat guru berseru 'Membeku!' (5 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik dengan meminta 3 perwakilan murid menunjukkan satu pose beku peristiwa makan bersama secara serentak (acuan: pose memegang sendok, duduk siap menyuap makanan, atau memegang piring dalam keadaan beku tanpa bersuara) untuk melihat kesiapan awal membentuk pose peristiwa (5 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu memainkan sebuah lakon pertunjukan tablo peristiwa kehidupan sehari-hari secara berkelompok (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Bermakna):- Guru memberikan contoh adegan lakon tablo peristiwa kehidupan sehari-hari bersama 3 orang murid dengan tema 'Makan Malam Bersama Keluarga' (pose 1: ibu membawa piring lauk, pose 2: ayah duduk siap makan, pose 3: anak memegang sendok garpu) untuk menjelaskan bahwa lakon tablo dimainkan dengan pose beku bersama kelompok tanpa dialog (10 menit).
- Guru membagi murid ke dalam kelompok (4-5 murid per kelompok) dan membagikan kartu skenario peristiwa kehidupan sehari-hari yang harus dimainkan: Kelompok 1 'Kerja Bakti Membersihkan Kelas', Kelompok 2 'Bermain Sepak Bola di Lapangan', Kelompok 3 'Antre Berbaris Masuk Kelas', dan Kelompok 4 'Makan Bersama di Kantin' (10 menit).
Mengaplikasi (Menggembirakan):- Setiap kelompok berdiskusi menentukan peran masing-masing dan berlatih menyusun posisi pose beku yang sesuai dengan skenario peristiwanya (contoh: kelompok kerja bakti menentukan siapa yang berpose menyapu, mengelap meja, dan mengangkat tempat sampah) (15 menit).
- Setiap kelompok secara bergiliran memainkan adegan lakon pertunjukan tablo peristiwa kehidupan sehari-hari di depan kelas selama 15 detik membeku serempak setelah aba-aba 'Tablo, Mulai!' hingga aba-aba 'Tablo, Selesai!' (25 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama kelompoknya mengevaluasi pengalaman saat memainkan pose beku bersama: kelompok mana yang paling kokoh membeku dan bagaimana kekompakan anggota kelompok dalam membentuk peristiwa (10 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan kegiatan hari ini bahwa dalam memainkan lakon pertunjukan tablo kelompok, seluruh anggota harus kompak mematung sesuai peran peristiwa yang dimainkan (5 menit).
- Guru memberikan apresiasi kepada seluruh kelompok, memberi arahan untuk menyiapkan latihan gladi bersih pada pertemuan berikutnya, dan menutup kelas dengan doa bersama (10 menit).
Diferensiasi:- Konten: Kelompok yang membutuhkan pendampingan diberikan kartu skenario dengan contoh visual figur stickman yang menunjukkan susunan pose, sedangkan kelompok yang mahir merancang pose beku sendiri berdasarkan judul skenario.
- Proses: Guru memberikan bimbingan intensif dan aba-aba bertahap bagi kelompok yang masih kesulitan menjaga pose beku, sementara kelompok yang mandiri langsung berlatih sinkronisasi ketahanan pose.
- Produk: Kelompok pemula fokus mempertahankan pose beku satu adegan inti selama minimal 10 detik, sedangkan kelompok mahir memainkan pose beku dengan level ketinggian tubuh yang bervariasi (berdiri, jongkok, duduk) selama 15 detik.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Guru meminta 3 perwakilan murid memperagakan pose beku adegan makan bersama secara serentak. Acuan penilaian: murid menunjukkan sikap tubuh diam membeku yang merepresentasikan aktivitas makan (misalnya tangan di dekat mulut memegang sendok, duduk tegak di meja makan) tanpa bersuara selama 5 detik.
Proses:- Pengamatan langsung saat setiap kelompok memainkan adegan lakon tablo. Acuan penilaian: (1) Ketepatan pose dengan tema skenario (Kelompok 1: gaya menyapu/mengelap; Kelompok 2: menendang/menangkap bola; Kelompok 3: berdiri berbaris rapi; Kelompok 4: pose duduk/makan); (2) Ketahanan membeku (mematung tanpa banyak bergerak minimal 10-15 detik bersama kelompok).
Akhir Pertemuan:- Cek pemahaman di akhir sesi melalui pertanyaan lisan: 'Sebutkan apa kunci utama saat kelompok memainkan adegan tablo?' (Acuan jawaban benar: semua anggota harus mematung/diam membeku bersama dan posenya sesuai dengan peran peristiwa).
Formatif:- Observasi unjuk kerja memainkan lakon pertunjukan tablo peristiwa kehidupan sehari-hari bersama kelompok menggunakan lembar pengamatan.
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Memainkan adegan lakon pertunjukan tablo bersama kelompok | Belum mampu memainkan adegan lakon tablo bersama kelompok; masih terus bergerak atau keluar dari formasi pose saat pertunjukan berlangsung. | Mampu memainkan adegan lakon tablo bersama kelompok dengan membentuk pose peristiwa, namun hanya mampu bertahan beku kurang dari 5 detik atau masih membutuhkan dorongan fisik guru. | Mampu memainkan adegan lakon pertunjukan tablo peristiwa kehidupan sehari-hari bersama kelompok secara kompak dan membeku selama 10–15 detik sesuai skenario. | Mampu memainkan adegan lakon pertunjukan tablo peristiwa kehidupan sehari-hari bersama kelompok dengan sangat kokoh membeku selama 15 detik, pose sangat ekspresif, dan posisi ruang panggung tertata rapi secara mandiri. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 30 menit cukup bagi seluruh kelompok untuk tampil memainkan adegan lakon tablo?
- Bagaimana tingkat kerja sama murid kelas 1 dalam mempertahankan pose beku secara bersama-sama dalam satu kelompok?
Murid:- Bagian mana yang paling seru saat memainkan peran patung beku bersama teman kelompokmu?
- Apakah kamu merasa sulit menahan tubuh agar tidak bergerak saat pertunjukan tablo berlangsung?
Pertemuan 8 — Memainkan Gladi Bersih Lakon Pertunjukan Tablo Sederhana Bersama Kelompok — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 1.2.5 Memainkan sebuah lakon pertunjukan tablo sederhana bersama kelompok
Pendahuluan:- Guru menyapa murid, memimpin doa singkat, dan memeriksa kesiapan ruang kelas untuk area panggung gladi bersih (3 menit).
- Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui permainan pemanasan 'Patung Hitungan Tiga': guru membunyikan lonceng dan berhitung 1-2-3 lalu berseru 'Beku!', murid langsung menahan pose beku tanpa bergerak selama 5 detik untuk mengecek kesiapan fisik memainkan pose tablo (acuan ketercapaian: murid langsung berhenti bergerak dan mempertahankan pose beku selama 5 detik) (4 menit).
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu memainkan gladi bersih lakon pertunjukan tablo sederhana bersama kelompok dari adegan awal, inti, hingga akhir secara berurutan dan kompak (3 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Murid bersama kelompoknya duduk di area panggung untuk menyimak arahan urutan gladi bersih lakon tablo yang terdiri dari 3 babak pose: Adegan 1 (Awal), Adegan 2 (Inti/Puncak), dan Adegan 3 (Akhir) (5 menit).
- Guru memodelkan cara melakukan transisi gerak antar-adegan dengan tenang saat narasi dibacakan, lalu membeku serempak saat aba-aba 'Tablo Mulai' dibunyikan (5 menit).
Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):- Setiap kelompok mengambil posisi di panggung dan memainkan gladi bersih babak pertama: mempraktikkan Adegan 1 (pose awal cerita lakon tablo) bersama kelompoknya dan menahan pose beku selama 10 detik sesuai peran masing-masing (10 menit).
- Setiap kelompok melanjutkan memainkan gladi bersih babak kedua dan ketiga: bergerak melakukan transisi peran, lalu membeku serempak memainkan Adegan 2 (inti lakon) dan Adegan 3 (akhir lakon) dengan memegang properti sederhana kelompok masing-masing (10 menit).
- Permainan gladi utuh 'Panggung Cilik Bersiap': setiap kelompok secara bergiliran memainkan seluruh adegan lakon tablo dari Adegan 1, 2, hingga 3 secara berurutan di panggung kelas dengan simulasi aba-aba pementasan lengkap, disaksikan kelompok lain yang bertindak sebagai penonton tertib (15 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Murid bersama kelompoknya memeriksa kembali kekompakan pose lakon tablo yang baru saja dimainkan: mengidentifikasi apakah seluruh anggota kelompok sudah membeku tepat waktu pada ketiga adegan lakon (5 menit).
- Guru memberikan umpan balik langsung kepada setiap kelompok mengenai ketepatan pergantian pose antar-adegan dan ketahanan pose beku selama gladi bersih berlangsung (5 menit).
Penutup:- Guru bersama murid menyimpulkan pentingnya kekompakan dan ketertiban pergantian adegan saat memainkan lakon tablo bersama kelompok (3 menit).
- Guru melakukan cek pemahaman akhir dan menginstruksikan setiap kelompok merapikan area panggung serta properti yang telah dipakai gladi bersih, lalu menutup pembelajaran dengan doa bersama (2 menit).
Diferensiasi:- Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan ketukan hitungan (1-2-3 beku) yang lebih lambat saat gladi bersih; murid yang lebih mahir memainkan transisi lakon dengan aba-aba verbal mandiri.
- Proses: Guru memberikan isyarat visual (angkat tangan) sebagai penanda waktu membeku bagi kelompok yang masih ragu berganti adegan lakon.
- Produk: Kelompok yang memerlukan pendampingan memainkan minimal 2 adegan tablo sederhana secara berurutan; kelompok yang sudah mahir memainkan rangkaian utuh 3 adegan lakon tablo (awal, inti, akhir) secara lancar.
Asesmen Pertemuan:Awal:- Diagnostik kesiapan gerak beku tablo melalui permainan 'Patung Hitungan Tiga': murid diminta langsung menahan pose beku tubuh selama 5 detik setelah aba-aba 'Beku!' dibunyikan guru (acuan ketercapaian: tubuh berhenti bergerak seketika dan stabil mempertahankan satu pose selama minimal 5 detik).
Proses:- Pengamatan keterlibatan dan kekompakan murid dalam kelompok saat memainkan 3 babak adegan gladi bersih lakon tablo (Adegan 1: awal, Adegan 2: inti, Adegan 3: akhir), dinilai menggunakan lembar observasi ketepatan membeku dan keteraturan transisi peran bersama kelompok.
Akhir Pertemuan:- Cek kesiapan gladi bersih: setiap kelompok menunjukkan kembali 1 pose beku lakon tablo andalan mereka secara serempak selama 5 detik saat dipanggil guru di akhir sesi (kriteria penerimaan: seluruh anggota kelompok membeku bersamaan dalam satu formasi adegan lakon tanpa bergerak selama 5 detik hitungan).
Formatif:- Observasi unjuk kerja gladi bersih memainkan lakon pertunjukan tablo bersama kelompok (menilai transisi gerak dan ketahanan pose beku pada tiap adegan).
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Memainkan lakon pertunjukan tablo bersama kelompok | Belum mampu memainkan adegan lakon tablo bersama kelompok, masih banyak bergerak saat aba-aba beku, dan belum mengikuti urutan adegan. | Mampu memainkan 1 adegan pose lakon tablo bersama kelompok, namun masih membutuhkan bantuan dan aba-aba berulang dari guru untuk membeku dan berganti peran. | Mampu memainkan rangkaian adegan lakon pertunjukan tablo sederhana (awal, inti, akhir) bersama kelompok secara runtut dan membeku sesuai aba-aba. | Mampu memainkan seluruh rangkaian adegan lakon pertunjukan tablo bersama kelompok secara konsisten, serempak membeku tepat waktu, dan tertib melakukan transisi antar-adegan tanpa diarahkan guru. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah seluruh kelompok dapat memainkan urutan adegan lakon tablo dengan kompak selama gladi bersih?
- Bagian adegan lakon mana yang paling membutuhkan bimbingan transisi bagi murid kelas 1?
Murid:- Apakah aku dan teman kelompokku sudah bisa membeku bersama-sama saat memainkan lakon tablo tadi?
- Bagian mana dari lakon tablo kelompok kita yang paling seru saat kita mainkan bersama?
Pertemuan 9 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)Tujuan Pertemuan:- TP 1.2.1 Mengamati gerak tubuh sebagai media untuk mengomunikasikan emosi melalui pose tablo
- TP 1.2.2 Meniru gerak tubuh sebagai media untuk mengomunikasikan emosi dalam permainan pose tablo
- TP 1.2.3 Menceritakan sebuah karya dengan kosakata sehari-hari mengenai emosi selama bermain tablo
- TP 1.2.4 Menyebutkan jenis-jenis properti/alat bantu yang dapat mendukung permainan peran dalam tablo
- TP 1.2.5 Memainkan sebuah lakon pertunjukan tablo sederhana bersama kelompok
Pendahuluan:- Guru membuka kelas dengan salam, mengecek kehadiran 28 murid, dan menyampaikan bahwa hari ini adalah asesmen sumatif bab melalui lembar respons visual serentak serta pementasan tablo kelompok (5 menit).
- Guru menyampaikan tata tertib asesmen sumatif dengan tenang: murid mengerjakan lembar mandiri secara serentak, lalu setiap kelompok bergantian tampil memainkan lakon tablo serta menyampaikan refleksi lisan perasaannya (5 menit).
Kegiatan Inti:Memahami (Berkesadaran):- Guru membagikan lembar kerja bergambar respons visual kepada seluruh 28 murid dan menjelaskan petunjuk pengerjaan 4 butir soal: 2 butir menandai ekspresi emosi pose tablo (Soal 1: gambar anak tersenyum lebar melompat kegirangan [pilihan: Senang / Sedih; kunci: Senang]; Soal 2: gambar anak berlutut menutup mata dengan bahu gemetar [pilihan: Takut / Senang; kunci: Takut]) dan 2 butir melingkari gambar properti pendukung (Soal 3: adegan menyapu halaman [pilihan: sapu lidi / payung; kunci: sapu lidi]; Soal 4: adegan belajar membaca [pilihan: buku cerita / ember; kunci: buku cerita]) (5 menit).
Mengaplikasi (Bermakna):- Seluruh murid (28 anak) mengerjakan tugas respons visual serentak pada lembar kerja bergambar selama 25 menit secara mandiri dan mengumpulkannya kepada guru tepat waktu (25 menit).
- Pelaksanaan unjuk kerja pementasan lakon pertunjukan tablo untuk 7 kelompok (masing-masing 4 anak, alokasi 10 menit per kelompok: 7 x 10 menit = 70 menit total, berjalan berurutan). Setiap kelompok memasuki area pentas, memainkan adegan tablo dengan pose beku meniru emosi tokoh (senang/sedih/takut/terkejut), memanfaatkan properti pendukung sederhana (seperti sapu lidi, buku cerita, atau keranjang), dan langsung dilanjutkan setiap anggota kelompok menuturkan secara lisan perasaan mereka selama bermain peran tablo dengan kosakata sehari-hari (65 menit).
Merefleksi (Berkesadaran):- Guru mengonfirmasi kelengkapan penampilan 7 kelompok dan menghimpun hasil lembar respons visual yang telah dikumpulkan murid sebagai artefak bukti belajar (0 menit).
Penutup:- Guru memberikan apresiasi menyeluruh atas kedisiplinan dan kerja sama seluruh murid dalam menuntaskan asesmen sumatif bab 2 tentang bermain tablo (0 menit).
Diferensiasi:- Konten: Akomodasi format visual: lembar kerja dilengkapi simbol gambar ekspresi dan ilustrasi properti yang jelas dan kontras.
- Proses: Akomodasi akses: pembacaan teks petunjuk butir lembar kerja dengan suara jelas bagi murid yang belum lancar membaca lambang tulisan, tanpa mengubah kunci pilihan jawaban.
- Produk: Akomodasi penyampaian: murid dapat menyampaikan refleksi lisan perasaan bermain tablo dengan kalimat pendek sehari-hari sesuai kemampuan artikulasinya.
Asesmen Pertemuan:Sumatif Bab:- unjuk kerja pementasan tablo kelompok dan lembar respons visual serentak: penampilan kelompok memperagakan lakon tablo menggunakan properti serta menceritakan perasaan secara lisan, disertai lembar kerja bergambar menandai emosi pose dan jenis properti yang dikerjakan serentak
- tugas respons visual serentak: lembar kerja bergambar yang dikerjakan serentak oleh seluruh kelas (28 murid) dengan menandai/memilih gambar ekspresi emosi pose tablo yang tepat serta melingkari gambar properti/alat bantu yang sesuai untuk adegan (35 menit; kelompok; instrumen: lembar kerja bergambar dan kunci penskoran visual)
- unjuk kerja pementasan lakon tablo kelompok dan refleksi lisan: penampilan 7 kelompok (masing-masing 4 murid, durasi tampil dan refleksi 10 menit per kelompok: 7 x 10 = 70 menit) dalam memperagakan lakon tablo dengan pose beku meniru emosi tokoh, memanfaatkan properti sederhana, dan diakhiri penuturan lisan singkat setiap anggota kelompok tentang perasaan mereka selama bermain peran tablo menggunakan kosakata sehari-hari (70 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja pementasan tablo dan lembar catatan observasi refleksi lisan)
Sumatif:- unjuk kerja pementasan tablo kelompok dan lembar respons visual serentak: penampilan kelompok memperagakan lakon tablo menggunakan properti serta menceritakan perasaan secara lisan, disertai lembar kerja bergambar menandai emosi pose dan jenis properti yang dikerjakan serentak
- tugas respons visual serentak: lembar kerja bergambar yang dikerjakan serentak oleh seluruh kelas (28 murid) dengan menandai/memilih gambar ekspresi emosi pose tablo yang tepat serta melingkari gambar properti/alat bantu yang sesuai untuk adegan (35 menit; kelompok; instrumen: lembar kerja bergambar dan kunci penskoran visual)
- unjuk kerja pementasan lakon tablo kelompok dan refleksi lisan: penampilan 7 kelompok (masing-masing 4 murid, durasi tampil dan refleksi 10 menit per kelompok: 7 x 10 = 70 menit) dalam memperagakan lakon tablo dengan pose beku meniru emosi tokoh, memanfaatkan properti sederhana, dan diakhiri penuturan lisan singkat setiap anggota kelompok tentang perasaan mereka selama bermain peran tablo menggunakan kosakata sehari-hari (70 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja pementasan tablo dan lembar catatan observasi refleksi lisan)
Rubrik Pertemuan:| Aspek | Belum Berkembang | Mulai | Berkembang | Sangat Berkembang |
|---|
| Respons Visual Emosi Pose Tablo (TP 1.2.1, Soal 1-2) | Belum tepat menandai gambar ekspresi emosi pose tablo (0 dari 2 butir benar; acuan: Soal 1 = Senang, Soal 2 = Takut). | Tepat menandai 1 dari 2 gambar ekspresi emosi pose tablo (acuan: Soal 1 = Senang, Soal 2 = Takut). | Tepat menandai 2 dari 2 gambar ekspresi emosi pose tablo (acuan: Soal 1 = Senang, Soal 2 = Takut). | Tepat menandai 2 dari 2 gambar ekspresi emosi pose tablo secara mandiri dan cepat tanpa ragu (acuan: Soal 1 = Senang, Soal 2 = Takut). | | Respons Visual Jenis Properti Pendukung (TP 1.2.4, Soal 3-4) | Belum tepat melingkari jenis gambar properti pendukung adegan (0 dari 2 butir benar; acuan: Soal 3 adegan menyapu = sapu lidi, Soal 4 adegan belajar = buku cerita). | Tepat melingkari 1 dari 2 jenis gambar properti pendukung adegan (acuan: Soal 3 adegan menyapu = sapu lidi, Soal 4 adegan belajar = buku cerita). | Tepat melingkari 2 dari 2 jenis gambar properti pendukung adegan (acuan: Soal 3 adegan menyapu = sapu lidi, Soal 4 adegan belajar = buku cerita). | Tepat melingkari 2 dari 2 jenis gambar properti pendukung adegan secara mandiri dan konsisten (acuan: Soal 3 adegan menyapu = sapu lidi, Soal 4 adegan belajar = buku cerita). | | Meniru Gerak Tubuh Emosi Pose Tablo (TP 1.2.2) | Belum mampu meniru pose tubuh beku yang menunjukkan emosi tokoh dalam adegan kelompok. | Mampu meniru pose tubuh emosi tokoh namun masih banyak bergerak dan belum konsisten membentuk pose beku. | Mampu meniru gerak tubuh dan pose beku yang menunjukkan emosi tokoh secara jelas selama adegan berlangsung. | Mampu meniru gerak tubuh dan mempertahankan pose beku emosi tokoh secara mantap, konsisten, dan ekspresif sepanjang adegan. | | Memainkan Lakon Tablo Bersama Kelompok (TP 1.2.5) | Belum dapat bergabung memainkan adegan lakon tablo bersama anggota kelompoknya. | Memainkan adegan lakon tablo bersama kelompok dengan posisi panggung yang masih sering keluar atau canggung. | Memainkan lakon tablo sederhana bersama kelompok secara selaras dan tertib dari awal hingga akhir adegan. | Memainkan lakon tablo bersama kelompok dengan keselarasan posisi gerak dan pemanfaatan properti yang sangat rapi. | | Menceritakan Emosi Bermain Tablo secara Lisan (TP 1.2.3) | Belum menyampaikan cerita perasaan emosinya saat bermain peran tablo. | Menceritakan perasaan emosi selama bermain tablo hanya satu patah kata dengan bimbingan guru (kriteria: memuat kosakata perasaan sehari-hari seperti senang/takut/malu). | Menceritakan pengalaman emosi selama bermain tablo secara lisan menggunakan kosakata sehari-hari secara mandiri (kriteria: memuat kosakata perasaan sehari-hari seperti senang/takut/seru). | Menceritakan pengalaman emosi selama bermain peran tablo secara jelas, runtut, dan percaya diri menggunakan kosakata sehari-hari. |
Refleksi Pertemuan:Guru:- Apakah alokasi waktu 70 menit untuk 7 kelompok menampilkan lakon tablo dan refleksi lisan berjalan efektif?
- Bagaimana ketercapaian murid kelas 1 dalam menghubungkan properti dan ekspresi emosi pada tugas visual serentak?
Murid:- Bagian mana dari bermain tablo kelompok yang paling kamu senangi hari ini?
- Perasaan apa yang kamu rasakan saat tubuhmu menjadi patung beku di panggung?
SUMBER BELAJAR- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas I (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
- Gambar/foto peraga ekspresi dan pose tablo emosi senang dan sedih.
- Kartu skenario peran pose tablo emosi.
- Lembar Pengamatan Tablo berikon visual.
- Kartu Foto Pose Tablo (Foto A: Pose Terkejut; Foto B: Pose Takut).
- Kartu Simbol Visual Emosi (Simbol Kucing Merinding = Takut; Simbol Petir = Terkejut).
- Lembar Pengamatan Visual 4 Siluet Pose Tablo.
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas I (Edisi Revisi)
- 3 Kartu visual gambar gerak pose beku emosi (senang, sedih, terkejut)
- Alat musik ritmis sederhana (tambur/rebana/tepukan tangan guru) untuk aba-aba permainan
- Ruang kelas/aula yang leluasa untuk bergerak
- Peluit atau rebana kecil sebagai tanda aba-aba membeku
- Buku Panduan Guru Seni Teater SD/MI Kelas I (Kemendikbudristek, 2021)
- Gambar peragaan 4 pose tablo beremosi (senang, sedih, takut, terkejut)
- Bola busa untuk permainan 'Bola Kata Emosi Tablo'
- 4 Kartu Karya Pose Tablo (Berbagi Kue, Balon Meletus, Terjebak Hujan, Main Bersama Teman)
- Benda riil dan alat bantu sederhana: topi caping, tongkat kayu, kacamata mainan, buku, peluit, sendok
- Properti buatan dari kardus/karton bekas (pacul kardus, tas kardus, stetoskop tiruan)
- Kartu gambar peran dan kartu properti
- Kartu 4 Skenario Peristiwa Kehidupan Sehari-hari (Kerja Bakti, Bermain Sepak Bola, Antre Masuk Kelas, Makan di Kantin).
- Peluit atau lonceng kecil sebagai penanda aba-aba mulai dan selesainya pose tablo.
- Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas I (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2023.
- Properti panggung sederhana buatan murid/kelompok (topi kertas, tas kain, keranjang, atau mainan pendukung lakon).
- Lonceng/peluit kecil untuk tanda aba-aba membeku (freeze) dan transisi adegan lakon tablo.
- Lembar Kerja Bergambar Asesmen Sumatif Bab 2
- Properti sederhana kelas (sapu lidi, buku cerita, keranjang, selendang kain)
- Rubrik dan Lembar Observasi Asesmen Sumatif Kelompok
|