Modul AjarBab 1Fase ASemester 1

Modul Ajar Seni Teater Kelas 1 Bab 1: Mengenal Dunia Teater

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Seni Teater kelas 1 untuk Bab 1 "Mengenal Dunia Teater", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Seni Teater Kelas 1 Bab 1: Mengenal Dunia Teater

Seni Teater - Kelas 1

Bab 1

MODUL AJAR

Seni Teater — Kelas 1 (Fase A)

Topik: Bab 1 — Mengenal Dunia Teater

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranSeni Teater
Fase / KelasFase A / Kelas 1
TopikBab 1 — Mengenal Dunia Teater
Alokasi Waktu29 JP (29 x 35 menit = 1015 menit)
Jumlah Pertemuan10
Tahun Ajaran2026/2027
Semester1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 1.1.1 Mengamati gerak tubuh dan suara teman sebagai media untuk mengomunikasikan emosi senang dan sedih
  2. TP 1.1.2 Meniru gerak tubuh dan suara sebagai media untuk mengomunikasikan emosi melalui permainan cermin ekspresi
  3. TP 1.1.3 Menceritakan sebuah karya pertunjukan yang ditonton dengan kosakata sehari-hari
  4. TP 1.1.4 Menunjukkan jenis-jenis properti atau alat bantu yang dapat mendukung permainan peran
  5. TP 1.1.5 Memainkan gerak dan lagu sesuai arahan dari pendidik dalam suasana pertunjukan sederhana

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis✓
Kreativitas✓
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan
Komunikasi✓

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Bagaimana gerakan tubuh temanmu saat ia merasa sangat senang?
  2. Bagaimanakah bunyi atau suara yang biasanya terdengar ketika seseorang sedang bergembira?
  3. Bagaimana bentuk tubuh teman kita saat sedang merasa sedih?
  4. Seperti apa suara yang terdengar saat seseorang mengomunikasikan rasa sedih?
  5. Bagaimana bentuk wajah dan suaramu saat merasa sangat senang?
  6. Apa yang terjadi jika kamu menjadi bayangan di cermin dan harus bergerak persis seperti orang di depanmu?
  7. Bagaimana bentuk wajah dan badanmu saat sedang merasa sedih?
  8. Bagaimana suara yang keluar saat seseorang merasa sedih?
  9. Siapa saja yang kalian lihat bermain dalam pertunjukan boneka tadi?
  10. Apa yang terjadi pada tokoh itu saat mereka saling bertemu?
  11. Apa yang paling kalian ingat saat melihat pertunjukan cerita tadi?
  12. Bagaimana perasaan kalian saat menonton pertunjukan teater bersama teman-teman?
  13. Benda apa di sekitar kelas kita yang bisa kita pakai saat berpura-pura menjadi dokter atau guru?
  14. Mengapa kita membutuhkan benda atau alat bantu saat bermain peran?
  15. Benda apa saja yang biasa dibawa oleh seorang dokter, petani, atau guru saat bekerja?
  16. Jika kita ingin bermain peran menjadi seorang koki di panggung, benda apa yang harus kita bawa?
  17. Bagaimana tubuh kita bergerak saat menyanyikan lagu riang gembira?
  18. Apa yang terjadi jika kita bergerak dan bernyanyi bersama mengikuti aba-aba guru di panggung pertunjukan?
  19. Bagaimana kita memperagakan perasaan senang dan sedih melalui tubuh dan suara kita?
  20. Alat bantu atau properti apa saja yang pernah kita lihat dalam pertunjukan cerita boneka?
  21. Bagaimana rasanya bergerak dan menyanyi bersama teman di atas panggung sederhana?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Mengamati Gerak Tubuh dan Suara Teman saat Mengomunikasikan Emosi Senang — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 1.1.1 Mengamati gerak tubuh dan suara teman sebagai media untuk mengomunikasikan emosi senang dan sedih

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan mengajak berdoa bersama (3 menit).
  • Guru mengondisikan kelas dan menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu mengamati gerak tubuh dan suara teman saat mengomunikasikan emosi senang (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menunjukkan 2 gambar ekspresi wajah: Gambar A (senyum lebar/tertawa gembira) dan Gambar B (bibir melengkung ke bawah/menangis), lalu meminta murid menunjuk mana gambar yang menunjukkan emosi senang (acuan jawaban: Gambar A adalah ekspresi senang) (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru memperagakan dua model gerak tubuh dan suara sederhana: (1) Gerak melompat kecil/bertepuk tangan sambil berseru riang 'Hore! Asyik!' (emosi senang) dan (2) Gerak menunduk lemas tanpa suara ceria (bukan senang) (5 menit).
  • Guru memandu murid mengamati ciri-ciri gerak tubuh dan suara yang menunjukkan rasa senang: gerak tubuh aktif/terbuka (seperti melompat kecil, bertepuk tangan, melambaikan tangan) dan suara riang (seperti tawa, seruan 'Hore!', 'Yeeey!') (acuan ciri: gerak tubuh ceria/terbuka dan suara riang gembira) (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Guru membagi kelas menjadi pasangan pengamat dan peraga secara bergantian untuk melakukan permainan 'Tebak Gerak & Suara Senang' yang menggembirakan (5 menit).
  • Salah satu murid memperagakan 1 dari 3 pilihan ragam gerak dan suara emosi senang yang ditentukan guru: Ragam 1 (bertepuk tangan sambil tertawa 'Hahaha!'), Ragam 2 (melompat kecil sambil berseru 'Hore!'), atau Ragam 3 (merentangkan tangan ke atas sambil berteriak riang 'Yeeey!') (15 menit).
  • Murid yang menjadi pengamat mengamati secara seksama dan mencentang lembar pengamatan sederhana berupa 2 aspek yang teramati pada temannya: (a) gerak tubuh senang (misal: bertepuk tangan, melompat, atau tangan terangkat) dan (b) suara senang (tertawa atau seruan riang) (acuan: tanda centang diberikan bila gerak tubuh dan suara riang senang teramati sesuai peragaan temannya) (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Guru mengajak murid duduk melingkar dan menanyakan apa saja gerak tubuh serta suara teman yang tadi berhasil diamati saat temannya berekspresi senang (5 menit).
  • Murid menyampaikan hasil pengamatannya dengan menyebutkan gerak tubuh dan bunyi suara senang yang tadi ditunjukkan pasangannya (acuan jawaban yang diterima: menyebutkan gerak melompat/bertepuk/tangan ke atas dan suara hore/tawa/yeey) (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan bahwa rasa senang dapat diketahui dari gerak tubuh yang ceria (seperti bertepuk tangan atau melompat) dan suara yang riang (seperti tawa atau seruan hore) (3 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap kejelian murid dalam mengamati teman, menginformasikan bahwa pertemuan berikutnya akan mengamati emosi sedih, lalu menutup pembelajaran dengan doa penutup dan salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan fokus pada satu ciri gerak tubuh utama (misal tepuk tangan), sedangkan murid yang lebih cepat mengamati kombinasi gerak tubuh dan variasi intonasi suara senang.
  • Proses: Pengamatan dilakukan secara berpasangan dengan bimbingan langsung guru bagi murid yang masih kesulitan mengenali tanda gerak dan suara senang.
  • Produk: Murid menuangkan hasil pengamatan melalui lembar ceklis bergambar sederhana atau menunjukkan langsung bagian gerak dan suara yang diamati.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tes diagnostik penunjukan gambar ekspresi emosi senang dari 2 pilihan: Gambar A (tersenyum lebar/tertawa riang) dan Gambar B (menangis/bibir melengkung ke bawah) (acuan: Gambar A menunjukkan emosi senang).

Proses:

  • Observasi keterlibatan dan ketepatan murid mengamati gerak tubuh dan suara senang temannya pada Lembar Ceklis Pengamatan yang memuat 2 butir: (1) Menandai gerak tubuh senang teman (pilihan: bertepuk tangan / melompat kecil / tangan ke atas); (2) Menandai suara senang teman (pilihan: suara tawa 'hahaha' / seruan 'hore' / seruan 'yeey') (acuan: centang terisi sesuai dengan peragaan nyata pasangan).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan pada penutup: menyebutkan minimal 1 gerak tubuh dan 1 suara yang menunjukkan emosi senang berdasarkan pengamatan (acuan jawaban: gerak bertepuk tangan/melompat/merentangkan tangan; suara tertawa/hore/yeey).

Formatif:

  • Lembar observasi pengamatan gerak tubuh dan suara emosi senang saat permainan berpasangan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Pengamatan Gerak Tubuh Emosi SenangBelum mampu mengidentifikasi gerak tubuh teman yang mengomunikasikan emosi senang meskipun telah diberikan arahan langsung.Mampu mengenali gerak tubuh teman yang mengomunikasikan emosi senang dengan bantuan dan bimbingan penuh guru.Mampu mengamati dan menunjukkan gerak tubuh teman (seperti bertepuk tangan, melompat, atau merentangkan tangan) yang mengomunikasikan emosi senang secara tepat.Mampu mengamati dan menunjukkan seluruh variasi gerak tubuh teman yang mengomunikasikan emosi senang secara tepat, rinci, dan mandiri tanpa bantuan.
Pengamatan Suara Emosi SenangBelum mampu mengenali suara teman yang mengomunikasikan emosi senang meskipun diberikan contoh berulang.Mampu mengenali suara teman yang mengomunikasikan emosi senang setelah diberikan contoh pembanding oleh guru.Mampu mengamati dan mengenali suara teman (seperti tawa, seruan hore, atau yeey) yang mengomunikasikan emosi senang secara tepat.Mampu mengamati dan membedakan variasi suara riang teman saat mengomunikasikan emosi senang secara konsisten, tepat, dan mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid dapat aktif dan fokus mengamati gerak tubuh serta suara pasangannya?
  • Bagian langkah manakah yang paling efektif membantu murid mengenali tanda-tanda emosi senang pada teman?

Murid:

  • Gerakan apa yang paling kamu sukai saat melihat temanmu merasa senang tadi?
  • Suara senang apa yang paling jelas kamu dengar dari temanmu?

Pertemuan 2 — Mengamati Gerak Tubuh dan Suara Teman saat Mengomunikasikan Emosi Sedih — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 1.1.1 Mengamati gerak tubuh dan suara teman sebagai media untuk mengomunikasikan emosi senang dan sedih

Pendahuluan:

  • Guru menyapa murid, mengajak berdoa bersama, dan mengecek kehadiran murid (5 menit).
  • Guru mengaitkan pembelajaran dengan pertemuan sebelumnya tentang emosi senang, lalu menyampaikan fokus hari ini yaitu mengamati gerak tubuh dan suara teman saat mengomunikasikan emosi sedih (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik dengan meminta murid mencentang atau menunjukkan emoji emosi sedih dari 3 pilihan gambar ekspresi: (1) Tersenyum lebar/tertawa, (2) Wajah menunduk dengan bibir melengkung ke bawah/menangis, (3) Melotot dengan mulut terbuka (acuan: gambar nomor 2 adalah emosi sedih) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak guru dan 1 model murid memeragakan gerak tubuh (menundukkan kepala, bahu turun/layu, tangan memegang pipi/mengusap mata) dan suara (suara pelan, lirih, terisak, 'hiks... hiks...') yang menunjukkan emosi sedih (3 menit).
  • Murid bersama guru mengidentifikasi tanda-tanda emosi sedih yang terlihat pada gerak tubuh (kepala menunduk, bahu turun) dan terdengar pada suara (pelan, lirih, isakan) (12 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid duduk berpasangan untuk melakukan pengamatan; salah satu teman memeragakan gerak tubuh dan suara sedih secara bergantian dalam permainan menyenangkan 'Tebak Detektif Sedih' (15 menit).
  • Murid mengamati 3 tanda fisik dan suara sedih pada pasangannya: (1) arah kepala/bahu menunduk, (2) gerakan tangan mengusap mata/wajah, (3) suara lirih/isakan (15 menit).
  • Murid mengisi Lembar Pengamatan Berpasangan berisi 3 butir centang pengamatan gerak tubuh dan suara sedih teman: (1) Gerak kepala menunduk/bahu turun [Ada/Tidak], (2) Gerak tangan mengusap mata [Ada/Tidak], (3) Suara pelan/rintihan/isakan [Ada/Tidak] (acuan: ketiga tanda dapat diamati saat teman memeragakan emosi sedih) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid saling menunjukkan hasil centang pengamatan kepada pasangannya dan menyebutkan gerak tubuh serta suara apa saja yang paling jelas teramati dari teman (10 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap hasil pengamatan murid mengenai keterkaitan antara perubahan gerak tubuh dan suara dengan emosi sedih (10 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan ciri gerak tubuh (menunduk, bahu layu, mengusap mata) dan suara (pelan, isakan) saat seseorang bersedih (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen akhir/cek pemahaman singkat dengan menanyakan 2 tanda utama gerak tubuh dan 1 tanda suara emosi sedih yang berhasil diamati hari ini, lalu menutup kelas dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan panduan visual gambar emoji sedih dengan gestur tubuh jelas bagi murid yang membutuhkan bantuan visual konkret dalam pengamatan.
  • Proses: Bagi murid yang masih ragu, guru mendampingi dan memandu fokus pengamatan langsung pada satu tanda gerak tubuh/suara teman terlebih dahulu; bagi murid yang cepat menangkap, diminta mengamati variasi intensitas suara (sangat lirih vs sesenggukan).
  • Produk: Murid menuangkan hasil pengamatan melalui centang gambar tanda gerak/suara pada lembar kerja bergambar sederhana.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik identifikasi visual emosi sedih di awal pembelajaran: Murid memilih 1 dari 3 gambar ekspresi: (1) Wajah senyum lebar tertawa, (2) Wajah menunduk bibir melengkung ke bawah berurai air mata, (3) Wajah melotot alis terangkat (acuan jawaban tepat: gambar nomor 2 menunjukkan emosi sedih).

Proses:

  • Ceklis pengamatan formatif pada Lembar Pengamatan Berpasangan yang memuat 3 tanda emosi sedih teman: Butir 1 (Gerak kepala menunduk atau bahu turun), Butir 2 (Gerak tangan mengusap mata atau menyentuh wajah), Butir 3 (Suara lirih, pelan, atau isakan sedih). Acuan ketercapaian: murid mencentang 'Ada' secara tepat sesuai peragaan teman.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan penutup: Guru meminta murid menyebutkan 2 gerak tubuh dan 1 karakter suara teman saat sedih (acuan jawaban: gerak tubuh menunduk/bahu turun/mengusap wajah/lesu; suara pelan/lirih/tersedu/menangis).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja pengamatan teman saat memeragakan gerak tubuh dan suara emosi sedih menggunakan lembar ceklis 3 indikator

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Pengamatan Gerak Tubuh Emosi SedihBelum mampu mengamati tanda gerak tubuh teman yang mengomunikasikan emosi sedih meskipun dibimbing guru.Mampu mengamati 1 tanda gerak tubuh teman saat sedih (kepala menunduk, bahu turun, atau gerak tangan) dengan bimbingan guru.Mampu mengamati 2 tanda gerak tubuh teman saat sedih (misalnya kepala menunduk dan bahu turun) secara tepat dan mandiri.Mampu mengamati seluruh (3) tanda gerak tubuh teman saat sedih (kepala menunduk, bahu turun, dan gerak tangan mengusap wajah/mata) secara lengkap, tepat, dan mandiri.
Pengamatan Suara Emosi SedihBelum mampu mengenali suara teman yang mengomunikasikan emosi sedih meskipun telah dicontohkan.Mampu mengamati suara emosi sedih teman (suara pelan/lirih/isakan) dengan bantuan pengarahan guru.Mampu mengamati dan mencatat tanda suara emosi sedih teman (volume pelan/lirih atau bunyi isakan) secara tepat dan mandiri.Mampu mengamati dan membedakan variasi suara emosi sedih teman (antara rintihan pelan dan suara sesenggukan) secara konsisten dan tepat.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid dapat fokus mengamati tanda-tanda gerak tubuh dan suara sedih saat teman memeragakannya?
  • Bagaimana keterlibatan murid selama permainan berpasangan mengamati emosi sedih berlangsung?

Murid:

  • Gerak tubuh apa yang paling mudah kamu lihat saat temanmu bersedih?
  • Bagaimana perasaanmu setelah berhasil mengamati dan mengenali suara sedih temanmu hari ini?

Pertemuan 3 — Meniru Gerak Tubuh dan Suara Emosi Senang melalui Permainan Cermin Ekspresi Terbimbing — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 1.1.2 Meniru gerak tubuh dan suara sebagai media untuk mengomunikasikan emosi melalui permainan cermin ekspresi

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, doa bersama, dan mengecek kehadiran murid (5 menit).
  • Guru melakukan pemanasan gerak tubuh dan suara ceria sederhana serta menyampaikan tujuan kegiatan permainan cermin ekspresi emosi senang (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik dengan memperagakan satu ekspresi senang (tersenyum lebar sambil mengucap 'Hore!') dan meminta seluruh murid secara serempak menirukan gerak senyum dan seruan tersebut untuk mengecek kesiapan meniru (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru memperkenalkan aturan permainan 'Cermin Ekspresi Terbimbing': guru bertindak sebagai 'Pemimpin di depan cermin' dan seluruh murid menjadi 'Bayangan cermin' yang wajib menirukan gerak tubuh dan suara emosi senang secara bersamaan (5 menit).
  • Guru memodelkan 3 ragam gerak tubuh dan suara emosi senang secara bertahap: Ragam 1 (kedua tangan terangkat ke atas, melompat kecil di tempat, berseru 'Hore!'), Ragam 2 (kedua telapak tangan bertepuk gembira di depan dada sambil tertawa renyah 'Ha-ha-ha!'), Ragam 3 (merentangkan kedua tangan lebar-lebar sambil bersorak ceria 'Yei!') (10 menit).
  • Murid mengamati secara saksama setiap gerak tubuh dan suara yang dicontohkan guru serta menyadari pentingnya ketepatan menirukan seperti pantulan cermin (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid berdiri dalam formasi setengah lingkaran menghadap guru, bersiap menjadi bayangan cermin dalam sesi terbimbing putaran pertama menirukan Ragam 1: mengangkat kedua tangan, melompat kecil, dan berseru 'Hore!' secara serempak mengikuti aba-aba guru (10 menit).
  • Murid mempraktikkan peniruan putaran kedua untuk Ragam 2: menepuk tangan gembira di dada sambil membunyikan tawa 'Ha-ha-ha!' secara serentak mengikuti gerak dan suara guru (10 menit).
  • Murid mempraktikkan peniruan putaran ketiga untuk Ragam 3: merentangkan kedua tangan lebar-lebar sambil bersorak 'Yei!' mengikuti tempo gerak dan suara guru (10 menit).
  • Permainan Tantangan Cermin Cepat: guru memperagakan kombinasi acak dari ketiga ragam gerak dan suara emosi senang tersebut, lalu murid secara sigap langsung menirukan gerak tubuh dan suara yang sesuai tanpa jeda (5 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru membagi murid berhadapan dengan teman sebangku, lalu murid bergantian memperagakan satu ragam gerak dan suara senang terpilih sementara pasangannya menirukannya layaknya bayangan cermin secara mandiri (15 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap kesesuaian peniruan gerak dan suara yang telah dilakukan murid, menanyakan bagian mana yang paling seru saat menirukan pantulan cermin (10 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru melakukan gerakan pendinginan tubuh sederhana dengan menarik napas perlahan sambil menurunkan tangan rileks (5 menit).
  • Guru melakukan cek pemahaman akhir secara klasikal meminta murid mengulang satu kali gerak rentang tangan dan seruan suara senang, lalu menutup pertemuan dengan salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan pilihan eksplorasi gerak tubuh dan variasi intensitas suara senang (lembut hingga bersorak) bagi murid.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan gerak bertahap satu per satu di barisan depan dekat guru; murid yang sudah mahir diberikan kesempatan memimpin peniruan di hadapan teman pasangannya secara mandiri.
  • Produk: Peniruan gerak tubuh dan suara senang dapat disesuaikan dengan rentang kenyamanan gerak motorik murid tanpa mengurangi esensi ekspresi senang.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik kesiapan meniru: Guru memperagakan satu ekspresi senang (senyum lebar dengan kedua tangan diangkat ke dada sambil mengucap 'Hore!') lalu meminta murid menirukannya. Kriteria kesiapan: murid mampu menirukan gerak tangan dan menyuarakan kata 'Hore!' (acuan: mengangkat kedua tangan ke arah dada dan mengucapkan 'Hore!').

Proses:

  • Observasi formatif saat permainan cermin terbimbing: Mengamati ketepatan murid menirukan 3 ragam gerak tubuh dan suara senang: (1) Mengangkat tangan dan berseru 'Hore!'; (2) Bertepuk tangan dan berseru 'Ha-ha-ha!'; (3) Merentangkan tangan dan berseru 'Yei!'. Kriteria ketercapaian: murid menirukan minimal 2 dari 3 ragam gerak tubuh dan suara tersebut secara tepat.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir: Murid mempraktikkan satu peniruan gerak merentangkan tangan disertai seruan suara 'Yei!' secara serempak. Kriteria ketercapaian: menggerakkan kedua tangan merentang lebar dan mengeluarkan suara seruan riang 'Yei!' secara serempak.

Formatif:

  • Pengamatan unjuk kerja peniruan gerak tubuh dan suara emosi senang melalui permainan cermin ekspresi terbimbing menggunakan lembar observasi

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Meniru gerak tubuh emosi senangBelum mampu menirukan gerak tubuh emosi senang meskipun telah dibimbing secara langsung.Mampu menirukan 1 dari 3 ragam gerak tubuh emosi senang (mengangkat tangan/bertepuk tangan/merentangkan tangan) dengan bimbingan penuh.Mampu menirukan minimal 2 dari 3 ragam gerak tubuh emosi senang (mengangkat tangan, bertepuk tangan, merentangkan tangan) secara mandiri.Mampu menirukan seluruh (3 dari 3) ragam gerak tubuh emosi senang (mengangkat tangan, bertepuk tangan, merentangkan tangan) secara konsisten dan mandiri.
Meniru suara emosi senangBelum mampu mengeluarkan suara emosi senang saat permainan cermin.Mampu menirukan 1 dari 3 ragam seruan suara emosi senang ('Hore!'/'Ha-ha-ha!'/'Yei!') dengan bimbingan guru.Mampu menirukan minimal 2 dari 3 ragam seruan suara emosi senang ('Hore!', 'Ha-ha-ha!', 'Yei!') secara mandiri.Mampu menirukan seluruh (3 dari 3) ragam seruan suara emosi senang ('Hore!', 'Ha-ha-ha!', 'Yei!') secara jelas dan konsisten.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid aktif terlibat dan gembira saat menirukan gerak tubuh dan suara melalui permainan cermin?
  • Bagian mana dari kegiatan peniruan gerak dan suara terbimbing yang paling efektif membantu murid memahami ekspresi senang?

Murid:

  • Bagaimana perasaanmu saat menjadi bayangan cermin yang menirukan suara tertawa dan gerak gembira?
  • Gerakan dan suara emosi senang mana yang paling kamu sukai saat bermain tadi?

Pertemuan 4 — Meniru Gerak Tubuh dan Suara Emosi Sedih melalui Permainan Cermin Ekspresi Berpasangan — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 1.1.2 Meniru gerak tubuh dan suara sebagai media untuk mengomunikasikan emosi melalui permainan cermin ekspresi

Pendahuluan:

  • Guru menyapa murid, mengajak berdoa bersama, dan mengecek kehadiran murid (5 menit).
  • Guru melakukan pemanasan gerak tubuh dan suara dengan mengajak murid membuat lingkaran dan menirukan suara desah napas perlahan 'huuu' bersama-sama (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik dengan meminta seluruh murid serempak menirukan 1 contoh gerak dan 1 contoh suara sedih: menundukkan kepala ke bawah dan bersuara 'hiks' pelan (acuan: kepala tertunduk ke bawah dan suara tangis pelan 'hiks') untuk memetakan kesiapan murid (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Guru memperagakan di depan kelas 3 ragam gerak tubuh dan 3 ragam suara emosi sedih: (1) Gerak kepala tertunduk lesu dengan suara helaan napas panjang 'hahhh', (2) Gerak bahu terkulai lunglai ke bawah dengan suara rengekan pelan 'hu-hu-hu', (3) Gerak kedua tangan mengusap pipi atau mata dengan suara sesenggukan 'hiks... hiks' (acuan ragam sedih yang dipelajari) (10 menit).
  • Murid secara klasikal mengamati dan mencoba menirukan ketiga ragam gerak tubuh dan suara sedih tersebut bersama panduan guru agar memahami detail fisik ekspresi sedih (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Berkesadaran):

  • Guru membagi murid menjadi pasangan berdua (Murid A dan Murid B) yang duduk saling berhadapan untuk bersiap bermain 'Cermin Ekspresi Sedih Berpasangan' (5 menit).
  • Putaran 1: Murid A berperan sebagai 'Orang di Depan Kaca' yang memperagakan 3 gerak tubuh dan suara sedih (kepala tertunduk 'hahhh', bahu lunglai 'hu-hu-hu', dan usap mata 'hiks-hiks'), sementara Murid B menjadi 'Bayangan Cermin' yang langsung meniru gerak tubuh dan suara Murid A secara tepat (acuan: Murid B meniru persis ketiga gerak dan suara sedih pasangannya) (15 menit).
  • Putaran 2: Murid bertukar peran secara bergantian; Murid B menjadi 'Orang di Depan Kaca' yang memperagakan 3 gerak tubuh dan suara sedih, sedangkan Murid A menjadi 'Bayangan Cermin' yang meniru gerak dan suara pasangannya (acuan: Murid A meniru persis ketiga gerak dan suara sedih pasangannya) (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Guru memfasilitasi murid duduk melingkar berpasangan untuk saling memberi acungan jempol dan memeriksa apakah seluruh gerak tubuh dan suara sedih pasangannya tadi sudah berhasil ditiru secara tepat (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan kegiatan hari ini bahwa emosi sedih dapat dikomunikasikan dan ditiru melalui gerak tubuh menunduk/lunglai serta suara helaan napas dan sesenggukan (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen akhir berupa cek pemahaman cepat: meminta murid secara serempak menirukan satu gerak mengusap mata disertai suara 'hu-hu' (acuan: tangan menyentuh area mata dan bersuara sesenggukan 'hu-hu') lalu menutup pembelajaran dengan doa bersama (10 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu panduan bergambar visual 3 gerak dan suara sedih bagi murid yang memerlukan dukungan pengingat visual.
  • Proses: Bagi murid yang masih ragu, guru berdiri di dekat pasangan untuk memberi aba-aba peraga tempo lambat; bagi pasangan yang sudah sangat lancar, murid dipersilakan saling meniru variasi urutan gerak dan suara sedih secara mandiri.
  • Produk: Semua murid meniru gerak tubuh dan suara emosi sedih berpasangan sesuai acuan ragam gerak-suara sedih yang ditetapkan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik peniruan gerak dan suara emosi sedih: Guru menginstruksikan murid menirukan 1 gerak kepala tertunduk ke bawah dan 1 suara tangis 'hiks' pelan (acuan: kepala tertunduk ke bawah dan terdengar suara 'hiks' pelan).

Proses:

  • Pengamatan formatif saat Permainan Cermin Ekspresi Berpasangan: Menilai ketepatan murid meniru 3 gerak tubuh sedih (kepala tertunduk lesu, bahu terkulai lunglai, kedua tangan mengusap mata) dan 3 suara sedih (napas panjang 'hahhh', rengekan 'hu-hu-hu', sesenggukan 'hiks... hiks') sesuai peragaan pasangannya.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir: Murid menirukan gerak tangan mengusap mata disertai suara sesenggukan 'hu-hu' saat aba-aba diberikan (acuan keberhasilan: kedua tangan mengusap mata dan mengeluarkan suara 'hu-hu').

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja peniruan gerak tubuh dan suara emosi sedih pada permainan cermin ekspresi berpasangan menggunakan lembar amatan rubrik

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Peniruan Gerak Tubuh Emosi SedihBelum mampu meniru 3 gerak tubuh sedih (kepala tertunduk lesu, bahu lunglai, tangan mengusap mata) meskipun dibimbing oleh guru atau pasangan.Mampu meniru 1 dari 3 gerak tubuh sedih (acuan: kepala tertunduk lesu, bahu lunglai, atau tangan mengusap mata) saat permainan cermin berpasangan.Mampu meniru 2 dari 3 gerak tubuh sedih (acuan: kepala tertunduk lesu, bahu lunglai, atau tangan mengusap mata) saat permainan cermin berpasangan.Mampu meniru seluruh 3 gerak tubuh sedih (acuan: kepala tertunduk lesu, bahu terkulai lunglai, dan kedua tangan mengusap mata) secara tepat dan mandiri bersama pasangan.
Peniruan Suara Emosi SedihBelum mampu meniru 3 suara sedih (helaan napas 'hahhh', rengekan 'hu-hu-hu', sesenggukan 'hiks... hiks') meskipun diberi contoh pasangan.Mampu meniru 1 dari 3 suara sedih (acuan: helaan napas 'hahhh', rengekan 'hu-hu-hu', atau sesenggukan 'hiks... hiks') saat permainan cermin berpasangan.Mampu meniru 2 dari 3 suara sedih (acuan: helaan napas 'hahhh', rengekan 'hu-hu-hu', atau sesenggukan 'hiks... hiks') saat permainan cermin berpasangan.Mampu meniru seluruh 3 suara sedih (acuan: helaan napas 'hahhh', rengekan 'hu-hu-hu', dan sesenggukan 'hiks... hiks') secara tepat dan mandiri bersama pasangan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid berpasangan dapat aktif meniru gerak tubuh dan suara sedih pasangannya secara bergantian?
  • Bagian peniruan mana yang paling menantang bagi murid kelas 1 antara gerak tubuh lunglai atau suara sesenggukan sedih?

Murid:

  • Apakah kamu senang menjadi bayangan cermin yang meniru suara dan gerak sedih temanmu?
  • Gerak atau suara sedih mana yang paling mudah kamu tiru tadi?

Pertemuan 5 — Menceritakan Tokoh dan Kejadian Karya Pertunjukan yang Ditonton dengan Kosakata Sehari-hari — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 1.1.3 Menceritakan sebuah karya pertunjukan yang ditonton dengan kosakata sehari-hari

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan mengajak berdoa bersama (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik lisan dengan memperlihatkan 2 boneka tangan (Kancil dan Kura-Kura) lalu menanyakan: (1) 'Siapa nama kedua hewan ini?' (acuan: Kancil dan Kura-Kura); (2) 'Jika Kancil berlari kencang lalu Kura-Kura tertinggal, apa yang sedang terjadi?' (kriteria penerimaan: murid menyebutkan kejadian lomba lari, Kancil mendahului, atau Kura-Kura berjalan pelan) untuk memetakan kesiapan murid menceritakan tokoh dan kejadian (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid menyimak pertunjukan boneka tangan sederhana berjudul 'Kancil dan Kura-Kura Sahabat Hutan' yang dimainkan guru selama 5 menit, dengan alur: Kancil mengajak Kura-Kura mencari buah apel, Kancil memanjat pohon apel, buah apel jatuh mengenai kepala Kancil, lalu Kura-Kura menolong Kancil (10 menit).
  • Guru memandu tanya jawab terbimbing tentang isi tontonan menggunakan 2 pertanyaan panduan: 'Siapa saja tokoh di panggung?' (acuan: Kancil dan Kura-Kura) dan 'Kejadian apa yang dialami Kancil saat mengambil apel?' (acuan: Kancil tertimpa buah apel / buah apel jatuh menimpa kepala Kancil) (15 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Guru membagikan media permainan 'Kartu Gambar Adegan' yang terdiri atas 3 kartu bergambar: Kartu 1 (Kancil mengajak Kura-Kura), Kartu 2 (Kancil tertimpa apel di bawah pohon), dan Kartu 3 (Kura-Kura menolong Kancil) kepada setiap murid (10 menit).
  • Dalam suasana menggembirakan 'Estafet Cerita Sahabat', murid berpasangan saling menceritakan tokoh dan kejadian dari tontonan tersebut secara bergiliran menggunakan kosakata sehari-hari dengan bantuan urutan 3 kartu gambar adegan (25 menit).
  • Beberapa perwakilan murid menceritakan kembali secara lisan di depan teman-temannya mengenai tokoh yang ditonton dan urutan kejadian pertunjukan dengan kata-kata sendiri (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru merefleksikan kegiatan menceritakan tontonan dengan menjawab pertanyaan panduan: 'Apakah menceritakan tokoh Kancil dan Kura-Kura tadi mudah dilakukan?' (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap cerita murid serta apresiasi atas keberanian menyebutkan tokoh dan peristiwa pertunjukan (5 menit).
  • Guru menutup pertemuan dengan doa bersama dan salam penutup (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu gambar adegan berurutan untuk murid yang membutuhkan panduan visual alur kejadian.
  • Proses: Memberikan bimbingan langsung dengan pertanyaan pancingan kata demi kata bagi murid yang belum lancar bercerita, sedangkan murid yang mahir dipersilakan menceritakan seluruh kejadian secara mandiri.
  • Produk: Murid dapat menceritakan dengan menyebutkan frasa sederhana per gambar atau menuturkan cerita utuh 3 kejadian beruntun.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik lisan di awal pembelajaran: memperlihatkan 2 boneka tangan (Kancil dan Kura-Kura) lalu menanyakan nama tokoh (acuan: Kancil dan Kura-Kura) dan menebak kejadian sederhana (kriteria penerimaan: menyebutkan aksi lari, lomba, atau jalan pelan).

Proses:

  • Observasi ketercapaian saat aktivitas 'Estafet Cerita Sahabat': memeriksa kemampuan murid menceritakan minimal 2 tokoh (Kancil, Kura-Kura) dan minimal 2 kejadian (misal: Kancil tertimpa buah apel, Kura-Kura menolong Kancil) menggunakan kosakata sehari-hari.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan penutup: meminta murid menyebutkan kembali satu kejadian yang paling diingat dari pertunjukan boneka yang ditonton (kriteria penerimaan: menyebutkan salah satu dari 3 adegan: Kancil mengajak Kura-Kura mencari apel, Kancil tertimpa apel, atau Kura-Kura menolong Kancil).

Formatif:

  • Unjuk kerja menceritakan tokoh dan kejadian karya pertunjukan menggunakan kosakata sehari-hari dengan lembar observasi

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menceritakan Tokoh Pertunjukan yang DitontonBelum mampu menyebutkan tokoh pertunjukan yang ditonton meski dipanduMampu menyebutkan 1 nama tokoh pertunjukan (Kancil atau Kura-Kura) dengan bantuan panduan guruMampu menceritakan 2 tokoh pertunjukan (Kancil dan Kura-Kura) dengan kosakata sehari-hari secara mandiriMampu menceritakan kedua tokoh pertunjukan beserta ciri perannya secara lengkap dan mandiri dengan kosakata sehari-hari
Menceritakan Kejadian dalam Karya PertunjukanBelum mampu menceritakan kejadian yang ditonton meski dibantu kartu gambarMampu menceritakan 1 kejadian pertunjukan (misalnya: Kancil kejatuhan buah apel) dengan bantuan panduan guruMampu menceritakan minimal 2 kejadian pertunjukan (Kancil memanjat/tertimpa apel dan Kura-Kura menolong) dengan kosakata sehari-hari secara runtutMampu menceritakan seluruh 3 kejadian pertunjukan (mengajak, tertimpa apel, dan menolong) secara lengkap dan runtut menggunakan kosakata sehari-hari secara mandiri

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah media pertunjukan boneka tangan efektif memicu murid untuk menceritakan kembali tokoh dan peristiwanya?
  • Bagian cerita mana yang paling mudah atau sulit diceritakan kembali oleh murid kelas 1?

Murid:

  • Siapa tokoh dalam tontonan boneka tadi yang paling kamu sukai?
  • Kejadian mana yang paling seru saat kamu ceritakan kepada teman?

Pertemuan 6 — Menceritakan Pengalaman Menonton Pertunjukan Teater Sederhana dengan Kosakata Sehari-hari — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 1.1.3 Menceritakan sebuah karya pertunjukan yang ditonton dengan kosakata sehari-hari

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa bersama (5 menit).
  • Guru mengajak murid mengingat kembali rekaman/cuplikan pertunjukan teater boneka/fabel sederhana yang ditonton bersama pada pertemuan sebelumnya atau memutar ulang cuplikan singkat berdurasi 2 menit tentang fabel 'Kancil dan Kura-kura yang Berbagi Apel' (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik dengan meminta murid secara acak menyebutkan 1 hal yang mereka ingat saat menonton pertunjukan tersebut (acuan jawaban: menyebutkan tokoh Kancil atau Kura-kura, peristiwa berbagi buah apel, atau rasa senang/kaget saat menonton) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru memberikan contoh menceritakan pengalaman menonton pertunjukan teater menggunakan kalimat sederhana dan kosakata sehari-hari (contoh kalimat guru: 'Kemarin kita menonton cerita Kancil dan Kura-kura. Kura-kura membawa buah apel. Kancil meminta apel itu. Saya merasa senang melihat mereka berbaikan.') (10 menit).
  • Guru memandu murid mengenali 3 unsur pengalaman menonton yang akan diceritakan menggunakan kosakata sehari-hari: (1) siapa yang ditonton/tokohnya, (2) kejadian apa yang dilihat di panggung, dan (3) apa yang dirasakan saat menonton (senang, sedih, atau kaget) (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru membagi murid berpasangan untuk memainkan permainan 'Bisik Cerita Pertunjukan' secara bergantian menceritakan pengalaman menonton pertunjukan teater sederhana kepada teman sebangkunya menggunakan kata-kata sendiri (15 menit).
  • Setiap murid berlatih menceritakan pengalamannya di depan pasangan dengan panduan 3 pertanyaan pemandu: 'Siapa tokoh yang kamu lihat?', 'Peristiwa apa yang terjadi?', dan 'Bagaimana perasaanmu saat menonton?' (15 menit).
  • Guru meminta beberapa perwakilan murid maju secara bergiliran untuk menceritakan pengalaman menonton pertunjukan teater boneka fabel di depan kelas dengan kosakata sehari-hari sesuai acuan: menceritakan tokoh (Kancil/Kura-kura), kejadian (berbagi buah apel/berteman), dan perasaan saat menonton (senang/terhibur) (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Guru memfasilitasi murid merefleksikan proses menceritakan pengalaman dengan menanyakan kata-kata sehari-hari apa saja yang paling mudah digunakan saat bercerita (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap tutur cerita murid, mengapresiasi keberanian mereka menggunakan kosakata sehari-hari untuk menceritakan pengalaman menonton (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan bahwa menonton pertunjukan teater memberikan pengalaman seru yang bisa diceritakan kembali kepada keluarga atau teman menggunakan kata-kata sehari-hari (5 menit).
  • Guru menyampaikan agenda pertemuan berikutnya tentang mengenal alat bantu atau properti yang dipakai dalam bermain peran, kemudian menutup pembelajaran dengan doa dan salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu bergambar tokoh Kancil, Kura-kura, dan buah apel sebagai stimulus visual saat bercerita; murid yang cepat dapat menceritakan tanpa bantuan gambar.
  • Proses: Murid yang masih ragu bercerita dipandu dengan pertanyaan pemantik satu per satu oleh guru; murid yang sudah lancar dipersilakan menceritakan langsung secara mandiri kepada pasangannya.
  • Produk: Tuntutan penceritaan disesuaikan dengan kemandirian: murid berkembang menceritakan minimal 2 unsur (tokoh dan perasaan) dengan bantuan pemantik, sedangkan murid mahir menceritakan ketiga unsur (tokoh, kejadian, perasaan) secara mandiri.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik di awal pembelajaran: 'Sebutkan 1 hal yang kalian ingat saat menonton pertunjukan Kancil dan Kura-kura kemarin?' (Kriteria penerimaan: murid menyebutkan salah satu unsur: nama tokoh Kancil/Kura-kura, kejadian berbagi apel, atau ekspresi perasaan senang/lucu saat menonton).

Proses:

  • Pengamatan formatif saat murid menceritakan pengalaman menonton teater kepada pasangan dan di depan kelas dengan mengamati kelengkapan unsur cerita: (1) Tokoh pertunjukan (Kancil/Kura-kura), (2) Kejadian yang ditonton (berebut/berbagi apel), (3) Perasaan saat menonton (senang/kaget/tertawa), menggunakan kosakata sehari-hari.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan penutup: Guru menanyakan kepada murid secara acak: 'Kata apa yang kamu pakai untuk menceritakan perasaanmu saat menonton teater tadi?' (Acuan jawaban: kata sifat sehari-hari seperti 'senang', 'gembira', 'kaget', 'lucu', atau 'ramai').

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja saat murid menceritakan pengalaman menonton pertunjukan teater menggunakan lembar amatan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menceritakan Pengalaman Menonton Pertunjukan Teater dengan Kosakata Sehari-hariBelum mampu menceritakan pengalaman menonton pertunjukan teater meskipun telah dibimbing dengan pertanyaan pemantik.Mampu menceritakan pengalaman menonton pertunjukan teater dengan menyebutkan 1 unsur (tokoh atau perasaan saja) menggunakan kosakata sehari-hari dengan bantuan bimbingan guru.Mampu menceritakan pengalaman menonton pertunjukan teater dengan memuat 2 unsur (tokoh dan kejadian/perasaan) menggunakan kosakata sehari-hari secara runtut.Mampu menceritakan pengalaman menonton pertunjukan teater secara lengkap memuat 3 unsur (tokoh, kejadian, dan perasaan saat menonton) menggunakan kosakata sehari-hari secara mandiri dan lancar.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid sudah berani menceritakan pengalaman menonton teater menggunakan kata-kata sehari-hari?
  • Bagian mana dari kegiatan bercerita berpasangan yang paling efektif membangun rasa percaya diri murid kelas 1?

Murid:

  • Bagian cerita mana yang paling kamu sukai saat menonton pertunjukan tadi?
  • Apakah kamu merasa senang menceritakan pengalaman menonton teater kepada temanmu?

Pertemuan 7 — Menunjukkan Jenis-Jenis Properti atau Alat Bantu yang Mendukung Permainan Peran di Sekitar Kita — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 1.1.4 Menunjukkan jenis-jenis properti atau alat bantu yang dapat mendukung permainan peran

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan mengajak berdoa bersama (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu mengenal dan menunjukkan berbagai benda di sekitar kita yang bisa dijadikan alat bantu atau properti permainan peran (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal dengan memperlihatkan 3 benda nyata di atas meja (sapu lidi, topi, buku tulis) lalu menanyakan: 'Benda mana yang cocok ditunjukkan untuk peran tukang kebun, polisi/petani, dan guru?' (acuan: sapu lidi -> tukang kebun; topi -> polisi/petani; buku tulis -> guru) untuk memetakan pemahaman awal murid (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Guru memperkenalkan konsep properti sebagai benda/alat bantu di sekitar kita yang dipakai untuk mendukung peran agar penonton tahu siapa tokoh yang dimainkan (10 menit).
  • Guru memperlihatkan 4 gambar/benda di sekitar: (1) kemoceng, (2) tas sekolah, (3) kacamata bulat mainan, (4) selendang kain, lalu memandu murid mengamati bentuk dan kegunaan masing-masing benda tersebut (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru mengadakan permainan menggembirakan 'Tebak Properti Sekitar': guru meletakkan 4 kotak berisi benda nyata di meja: Kotak A (payung lipat), Kotak B (spatula/sendok kayu), Kotak C (spidol papan tulis), Kotak D (stetoskop mainan) (10 menit).
  • Murid secara bergantian maju untuk mengambil kartu peran (Koki, Dokter, Guru, Orang saat Hujan) lalu menunjukkan benda mana dari 4 kotak tersebut yang tepat mendukung peran tersebut (acuan: Koki -> spatula/sendok kayu; Dokter -> stetoskop mainan; Guru -> spidol papan tulis; Orang saat Hujan -> payung lipat) (15 menit).
  • Setiap murid mengerjakan Lembar Kerja Menjodohkan Gambar Properti: murid menarik garis untuk menunjukkan jenis properti yang tepat untuk 4 peran berikut: (1) Petani -> caping/topi jerami, (2) Siswa -> tas sekolah, (3) Polisi lalu lintas -> peluit, (4) Dokter gigi -> cermin kecil bergagang (acuan: seluruh 4 pasangan tepat sesuai kunci tersebut) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Guru memfasilitasi murid memeriksa hasil penunjukan properti pada lembar kerjanya dan mengonfirmasi kembali apakah benda yang ditunjuk memang biasa dipakai oleh peran tersebut di kehidupan sehari-hari (10 menit).
  • Murid menyadari bahwa benda-benda sederhana di lingkungan sekitar dapat dimanfaatkan menjadi alat bantu panggung peran (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan bahwa properti adalah benda pembantu peran di sekitar kita (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap keaktifan murid dalam menunjukkan properti, mengingatkan materi berikutnya mengenai properti tokoh cerita, dan menutup pembelajaran dengan doa (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan visual disediakan benda konkret langsung di meja, sedangkan murid yang lebih cepat diberikan kartu gambar situasi peran.
  • Proses: Murid yang masih ragu didampingi dengan pertanyaan pancingan fungsi benda di kehidupan nyata, murid yang mahir langsung memilih mandiri tanpa scaffolding.
  • Produk: Murid menunjukkan properti dengan memilih benda langsung di meja atau menarik garis pada lembar bergambar.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Menunjukkan benda yang cocok dari 3 benda nyata di meja (sapu lidi, topi, buku tulis) untuk 3 peran (tukang kebun, polisi/petani, guru) (acuan: sapu lidi -> tukang kebun; topi -> polisi/petani; buku tulis -> guru).

Proses:

  • Observasi saat murid memilih dan menunjukkan benda di meja yang sesuai dengan kartu peran pada permainan Tebak Properti: Koki -> spatula/sendok kayu; Dokter -> stetoskop mainan; Guru -> spidol papan tulis; Orang saat Hujan -> payung lipat.

Akhir Pertemuan:

  • Pemeriksaan lembar kerja menjodohkan 4 properti peran: (1) Petani -> caping/topi jerami; (2) Siswa -> tas sekolah; (3) Polisi lalu lintas -> peluit; (4) Dokter gigi -> cermin kecil bergagang (acuan: tepat menjodohkan minimal 3 dari 4 butir).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja saat murid menunjukkan benda pada permainan 'Tebak Properti Sekitar'
  • Pemeriksaan lembar kerja menjodohkan 4 gambar properti dengan tokoh peran

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menunjukkan jenis-jenis properti atau alat bantu pendukung peran di sekitarBelum mampu menunjukkan properti yang sesuai untuk peran pendukung (0-1 pasangan benar dari 4 target acuan: Petani-caping, Siswa-tas, Polisi-peluit, Dokter-cermin kecil).Mampu menunjukkan 2 jenis properti yang tepat sesuai peran pendukung dari 4 target acuan dengan bantuan/arahan pendidik.Mampu menunjukkan 3 jenis properti yang tepat sesuai peran pendukung dari 4 target acuan secara mandiri.Mampu menunjukkan seluruh 4 jenis properti yang tepat sesuai peran pendukung dari 4 target acuan secara mandiri dan konsisten.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah murid dapat membedakan fungsi benda sehari-hari sebagai properti peran?
  • Apakah pemilihan benda konkret di kelas mempermudah murid Fase A memahami makna properti?

Murid:

  • Benda apa yang paling kamu suka tunjukkan untuk main peran hari ini?
  • Apakah kamu bisa menemukan benda lain di rumah untuk pura-pura bermain peran?

Pertemuan 8 — Menunjukkan Properti atau Alat Bantu Pendukung Permainan Peran Berdasarkan Tokoh Cerita — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 1.1.4 Menunjukkan jenis-jenis properti atau alat bantu yang dapat mendukung permainan peran

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, berdoa bersama, dan menyapa kehadiran murid (5 menit).
  • Guru mengaitkan materi pertemuan sebelumnya tentang jenis properti di sekitar dengan tokoh-tokoh cerita dalam kehidupan sehari-hari (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik: menunjukkan 2 gambar tokoh cerita (Dokter dan Petani) serta meminta perwakilan murid menunjukkan benda/properti yang sesuai dari meja peraga (acuan: Dokter berpasangan dengan stetoskop/suntikan mainan; Petani berpasangan dengan cangkul/caping mainan) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru membacakan penggalan kisah cerita bergambar pendek tentang 'Kisah di Desa Bahagia' yang memuat 4 tokoh cerita: (1) Koki Ceroboh, (2) Nelayan Gigih, (3) Polisi Baik, dan (4) Guru Ramah (10 menit).
  • Guru memperkenalkan 4 kotak benda/properti nyata di depan kelas dan mendiskusikan fungsinya bagi tokoh cerita: wajan dan spatula mainan (untuk Koki), jaring ikan mainan/tali jala (untuk Nelayan), peluit dan topi polisi (untuk Polisi), serta buku besar dan kapur/spidol (untuk Guru) (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru membagi murid ke dalam kelompok kecil beranggotakan 4 anak untuk memainkan permainan 'Kotak Harta Tokoh' di mana kelompok mendapat kartu gambar 4 tokoh (Koki, Nelayan, Polisi, Guru) dan diminta menunjukkan benda mainan yang tepat dari kotak properti kelas (15 menit).
  • Setiap murid dalam kelompok secara bergiliran mengambil 1 kartu tokoh dan menunjukkan 1 properti pendukung yang sesuai dari meja tengah dengan acuan: Tokoh Koki -> menunjukkan spatula/wajan mainan; Tokoh Nelayan -> menunjukkan jaring mainan; Tokoh Polisi -> menunjukkan peluit/topi; Tokoh Guru -> menunjukkan buku/spidol (15 menit).
  • Murid mempraktikkan tantangan menggembirakan 'Tebak Properti Tokoh': seorang murid mengangkat satu properti peran (misal: stetoskop, caping, spatula, atau jaring) dan teman sekelompok menunjukkan kartu gambar tokoh cerita yang cocok secara serentak (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama bimbingan guru meninjau kembali ketepatan pemilihan benda: mengapa seorang koki memerlukan spatula dan bukan jaring ikan saat bermain peran (10 menit).
  • Murid mengungkapkan apa yang mereka rasakan ketika berhasil menemukan dan menunjukkan alat bantu yang tepat untuk peran tokoh cerita (5 menit).

Penutup:

  • Guru dan murid menyimpulkan bahwa properti atau alat bantu berfungsi untuk membuat peran tokoh dalam cerita terlihat jelas dan meyakinkan penonton (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik dan asesmen akhir berupa tanya jawab cepat penunjukan properti untuk 2 tokoh tambahan (Penata Rambut -> sisir; Pelukis -> kuas) (3 menit).
  • Guru menginformasikan materi pertemuan berikutnya tentang memainkan gerak dan lagu dalam suasana pertunjukan sederhana, lalu menutup pelajaran dengan doa dan salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan benda properti riil berukuran nyata/mainan konkret untuk murid yang membutuhkan visual fisik langsung, serta kartu bergambar properti untuk murid yang sudah abstrak.
  • Proses: Memberi bimbingan langsung kepada murid yang ragu menentukan properti tokoh, serta memberikan variasi tokoh yang lebih beragam bagi kelompok yang cepat menyelesaikan penunjukan properti.
  • Produk: Murid dapat menunjukkan properti secara langsung dengan mengambil bendanya atau menunjuk gambar properti yang sesuai dengan tokoh cerita.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan dan peragaan singkat menggunakan 2 kartu tokoh: Murid diminta menunjuk properti pendukung untuk tokoh Dokter dan Petani dari pilihan benda di meja. Acuan jawaban benar: Dokter -> stetoskop mainan/suntikan mainan; Petani -> caping/cangkul mainan.

Proses:

  • Penilaian performa saat kegiatan 'Kotak Harta Tokoh': Menilai ketepatan murid dalam mengambil dan menunjukkan jenis properti yang mendukung 4 tokoh cerita (Acuan target 4 tokoh: Koki -> spatula/wajan mainan; Nelayan -> jaring mainan; Polisi -> peluit/topi polisi; Guru -> buku besar/spidol).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman cepat di akhir sesi: Murid secara lisan/menunjuk gambar properti yang tepat untuk 2 tokoh: (1) Penata Rambut -> sisir/gunting mainan; (2) Pelukis -> kuas/palet cat mainan (acuan: tepat menunjukkan minimal 1 properti untuk masing-masing tokoh).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja saat murid menunjukkan properti atau alat bantu yang sesuai dengan 4 tokoh cerita pada kegiatan kelompok

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Ketepatan Menunjukkan Properti Pendukung Berdasarkan Tokoh CeritaBelum mampu menunjukkan properti pendukung yang sesuai untuk tokoh cerita meskipun telah diberi bantuan dan bimbingan guru.Mampu menunjukkan 1-2 properti pendukung yang sesuai dari 4 tokoh cerita acuan (Koki, Nelayan, Polisi, Guru) dengan bimbingan guru.Mampu menunjukkan 3 properti pendukung yang sesuai dari 4 tokoh cerita acuan (Koki, Nelayan, Polisi, Guru) secara mandiri.Mampu menunjukkan seluruh 4 properti pendukung yang tepat untuk tokoh cerita acuan (Koki, Nelayan, Polisi, Guru) secara mandiri dan konsisten.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah pemilihan benda properti mainan cukup menarik dan mudah dikenali oleh murid kelas 1?
  • Bagaimana keterlibatan murid yang masih pemalu dalam memilih dan menunjukkan properti tokoh cerita?

Murid:

  • Benda mana yang paling kamu sukai saat kamu tunjukkan untuk tokoh cerita hari ini?
  • Apakah kamu bisa menebak peran tokoh jika melihat benda yang dibawanya?

Pertemuan 9 — Memainkan Gerak dan Lagu Sesuai Arahan dari Pendidik dalam Suasana Pertunjukan Sederhana — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 1.1.5 Memainkan gerak dan lagu sesuai arahan dari pendidik dalam suasana pertunjukan sederhana

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, doa bersama, dan mengecek kehadiran murid (5 menit).
  • Guru mengondisikan ruang kelas menjadi area panggung pertunjukan mini di bagian depan dan area penonton di bagian tengah (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik dengan memberikan 2 instruksi gerak berirama sederhana: (1) bertepuk tangan 3 kali mengikuti ketukan ritmis lambat, dan (2) melompat kecil 2 kali di tempat; guru mencatat kesiapan murid dalam merespons aba-aba gerak tubuh (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Guru memperkenalkan lagu anak bertema keceriaan 'Kalau Kau Suka Hati' beserta 4 rangkaian arahan gerak: bait 1 tepuk tangan, bait 2 petik jari/ketuk paha, bait 3 hentak bumi/kaki, bait 4 teriak hore dan lakukan ketiga gerak tersebut secara berurutan (15 menit).
  • Guru mendemonstrasikan peragaan gerak tubuh yang selaras dengan tempo lirik lagu bait per bait di depan kelas secara bertahap (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Murid secara klasikal menirukan dan melatih peragaan gerak dan lagu sesuai aba-aba hitungan ketukan serta petunjuk langsung dari guru (15 menit).
  • Murid dibagi menjadi kelompok kecil beranggotakan 4-5 anak, kemudian setiap kelompok bergiliran naik ke area pertunjukan sederhana di depan kelas untuk memainkan gerak dan lagu sesuai arahan tempo dan aba-aba pendidik, sementara kelompok lain duduk tertib di area penonton (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru duduk melingkar untuk menyadari keselarasan antara gerak tubuh dengan lirik lagu yang telah dimainkan sesuai arahan (10 menit).
  • Murid mengidentifikasi bagian gerak lagu mana yang paling mudah diikuti dan mana yang membutuhkan perhatian lebih saat mengikuti aba-aba pendidik (10 menit).

Penutup:

  • Guru dan murid menyimpulkan kembali keselarasan gerak dan lagu yang berhasil dibawakan dalam suasana panggung pertunjukan (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik apresiatif atas kesungguhan murid mengikuti aba-aba arahan, lalu menutup pembelajaran dengan doa penutup (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan panduan visual simbol gerak (simbol telapak tangan untuk tepuk tangan, simbol telapak kaki untuk hentak kaki) bagi murid yang membutuhkan penguatan arahan visual.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan aba-aba ketukan tempo lebih lambat secara langsung di samping guru, sedangkan murid yang sudah mahir mempraktikkan gerak dan lagu dengan tempo normal dan variasi ketinggian gerak tubuh.
  • Produk: Semua murid memainkan gerak dan lagu yang sama; ketercapaian dinilai dari kesesuaian eksekusi gerak tubuh dan nyanyian dengan 4 arahan tahapan gerak lagu.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pengecekan kesiapan gerak berirama: Murid diminta merespons 2 aba-aba guru, yaitu (1) menepuk tangan 3 kali mengikuti ketukan, dan (2) melompat kecil 2 kali di tempat. (Kriteria ketercapaian awal: murid merespons tepat sesuai hitungan guru tanpa tertukar).

Proses:

  • Pengamatan langsung saat pentas kelompok mini: Menilai ketepatan murid dalam memainkan 4 rangkaian gerak lagu 'Kalau Kau Suka Hati' sesuai arahan pendidik: (1) bertepuk tangan pada bait 1, (2) mengetuk paha pada bait 2, (3) menghentak kaki pada bait 3, dan (4) berseru 'hore' sambil melompat kecil pada bait 4.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman dan refleksi gerak: Setiap murid mempraktikkan secara serentak 1 rangkaian aba-aba gabungan (tepuk tangan 2x lalu hentak kaki 2x) saat guru menyanyikan bait penutup lagu untuk memastikan pemahaman atas keterkaitan arahan pendidik dengan gerak tubuh (acuan: urutan tepat tepuk tangan lalu hentak kaki).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja memainkan gerak dan lagu sesuai arahan pendidik dalam kelompok giliran pentas mini menggunakan lembar ceklis amatan.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kesesuaian Memainkan Gerak dan Lagu Sesuai Arahan PendidikBelum mampu memainkan gerak tubuh yang selaras dengan lagu meskipun telah diberikan arahan langsung dan bimbingan penuh oleh pendidik.Mampu memainkan 1 sampai 2 ragam gerak dan lagu sesuai arahan dari pendidik, tetapi masih sering terlambat merespons perubahan bait dan tempo.Mampu memainkan 3 sampai 4 ragam gerak dan lagu (tepuk tangan, petik jari/ketuk paha, hentak kaki, seruan hore) sesuai arahan pendidik secara runtut dalam suasana pertunjukan sederhana.Mampu memainkan seluruh 4 ragam gerak dan lagu secara runtut, tepat tempo, dan konsisten merespons setiap arahan pendidik secara mandiri dalam suasana pertunjukan sederhana.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah pengelolaan tata ruang pertunjukan sederhana memudahkan murid fokus merespons arahan gerak dan lagu?
  • Bagaimana respons murid terhadap variasi tempo saat memainkan gerak tubuh bersama alunan lagu?

Murid:

  • Gerakan mana pada lagu tadi yang paling kamu sukai saat tampil di depan kelas?
  • Apakah kamu merasa senang saat bernyanyi sambil menggerakkan tubuh bersama arahan guru?

Pertemuan 10 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 1.1.1 Mengamati gerak tubuh dan suara teman sebagai media untuk mengomunikasikan emosi senang dan sedih
  • TP 1.1.2 Meniru gerak tubuh dan suara sebagai media untuk mengomunikasikan emosi melalui permainan cermin ekspresi
  • TP 1.1.3 Menceritakan sebuah karya pertunjukan yang ditonton dengan kosakata sehari-hari
  • TP 1.1.4 Menunjukkan jenis-jenis properti atau alat bantu yang dapat mendukung permainan peran
  • TP 1.1.5 Memainkan gerak dan lagu sesuai arahan dari pendidik dalam suasana pertunjukan sederhana

Pendahuluan:

  • Guru menyapa murid, mengajak berdoa bersama, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif bab: memperagakan cermin ekspresi emosi senang dan sedih, menceritakan kembali cuplikan cerita boneka serta menunjuk properti peran di meja pajang, dan menampilkan gerak-lagu di panggung kelas sederhana (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru memberikan penjelasan teknis alur asesmen 3 stasiun/tugas unjuk kerja secara berkesadaran: Tugas 1 cermin ekspresi berpasangan, Tugas 2 tutur cerita dan tunjuk properti, serta Tugas 3 peragaan gerak dan lagu kelompok (3 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Tugas 1 (TP 1 & TP 2): Sebanyak 14 pasang murid melakukan peragaan berpasangan serentak dalam permainan cermin ekspresi sambil diamati guru berkeliling; satu anak memperagakan gerak tubuh dan suara emosi senang (tertawa kecil sambil tepuk tangan atau melompat gembira) dan sedih (suara terisak pelan sambil menunduk dan mengusap mata), lalu pasangannya mengamati dan menirukan gerak serta suara emosi tersebut secara bergantian (35 menit).
  • Tugas 2 (TP 3 & TP 4): Secara bergiliran dalam 7 kelompok (masing-masing 4 murid, durasi 5 menit per kelompok), murid menonton tayangan cuplikan lakon boneka 'Kancil dan Buaya' selama 1 menit, lalu menuturkan secara lisan dengan kosakata sehari-hari tentang tokoh yang muncul dan kejadiannya (acuan cerita: tokoh Kancil cerdik menyeberang sungai dan Buaya yang berbaris di air), kemudian murid menunjuk dan menyebutkan nama properti peran yang tepat di meja sudut pajang (acuan properti yang disediakan di meja: mahkota raja, tongkat kayu, topi petani, dan topeng buaya; murid memilih dan menunjuk topi petani/topeng buaya yang sesuai tokoh) (35 menit).
  • Tugas 3 (TP 5): Murid secara berkelompok kecil (4 kelompok masing-masing 7 murid) tampil bergantian di area panggung kelas sederhana selama 5 menit per kelompok untuk memainkan gerak berirama dan melafalkan lagu 'Kalau Kau Suka Hati' sesuai arahan dan aba-aba gerakan dari guru (acuan gerak: tepuk tangan, hentak kaki, dan berseru 'hore') (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Guru memfasilitasi murid untuk mengenali pengalaman emosi dan kesan yang mereka rasakan selama menjalani unjuk kerja teater bersama teman-teman (3 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan apresiasi menyeluruh atas usaha seluruh murid dalam menyelesaikan seluruh rangkaian tantangan teater Bab 1 (1 menit).
  • Guru merangkum perjalanan belajar Bab 1 'Mengenal Dunia Teater' dan menutup pertemuan dengan doa serta salam penutup (1 menit).

Diferensiasi:

  • Proses: Akomodasi akses: Bagi murid yang pemalu atau memerlukan bimbingan auditori, guru memberikan isyarat visual/ketukan ritme tambahan saat bernyanyi dan memperkenankan murid menunjuk properti secara langsung tanpa tekanan jeda waktu bicara, tanpa mengurangi standar kriteria pengamatan unjuk kerja.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pengecekan kesiapan asesmen sumatif: Guru menanyakan kesiapan murid memperagakan cermin ekspresi dan bertanya singkat tentang properti teater (acuan: murid mengenali properti sebagai alat bantu bermain peran seperti topi atau topeng).

Proses:

  • Pengamatan langsung selama unjuk kerja tugas 1, 2, dan 3 menggunakan lembar observasi keterlibatan, daftar centang pengenalan properti, dan rubrik performa sumatif.

Sumatif Bab:

  • Unjuk kerja performa kelompok dan tes lisan/tunjuk benda berpasangan: Peragaan gerak dan lagu secara klasikal/kelompok, peragaan berpasangan cermin ekspresi beserta pengamatan emosi, serta penunjukan properti dan tutur lisan cerita pertunjukan
  • unjuk kerja berpasangan serentak: Peragaan berpasangan (14 pasang diamati berkeliling) dalam permainan cermin ekspresi: satu anak mengekspresikan gerak dan suara emosi senang/sedih lalu diamati pasangannya, kemudian bergantian menirukan gerak dan suara emosi tersebut (35 menit; kelompok; instrumen: lembar observasi keterlibatan mengamati dan meniru emosi gerak-suara)
  • tes lisan dan unjuk benda terpadu per meja kelompok: Tutur lisan murid menceritakan kembali tokoh/kejadian dari cuplikan lakon boneka yang ditonton bersama dengan kosakata sehari-hari, serta tindakan menunjuk dan menyebutkan nama properti (misalnya mahkota, tongkat, atau topi) yang sesuai untuk peran tersebut di meja sudut pajang secara bergiliran cepat dalam kelompok (7 kelompok beranggotakan 4 murid, masing-masing 5 menit) (35 menit; kelompok; instrumen: daftar centang (checklist) pengenalan properti dan rubrik penilaian tutur lisan)
  • demonstrasi gerak dan lagu kelompok: Tampilan murid bergerak berirama dan melafalkan lagu sederhana mengikuti arahan guru dalam kelompok kecil (4 kelompok masing-masing 7 murid tampil bergantian selama 8-9 menit dalam panggung kelas sederhana) (35 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja keselarasan gerak dan lagu sesuai arahan pendidik)

Sumatif:

  • Unjuk kerja performa kelompok dan tes lisan/tunjuk benda berpasangan: Peragaan gerak dan lagu secara klasikal/kelompok, peragaan berpasangan cermin ekspresi beserta pengamatan emosi, serta penunjukan properti dan tutur lisan cerita pertunjukan
  • unjuk kerja berpasangan serentak: Peragaan berpasangan (14 pasang diamati berkeliling) dalam permainan cermin ekspresi: satu anak mengekspresikan gerak dan suara emosi senang/sedih lalu diamati pasangannya, kemudian bergantian menirukan gerak dan suara emosi tersebut (35 menit; kelompok; instrumen: lembar observasi keterlibatan mengamati dan meniru emosi gerak-suara)
  • tes lisan dan unjuk benda terpadu per meja kelompok: Tutur lisan murid menceritakan kembali tokoh/kejadian dari cuplikan lakon boneka yang ditonton bersama dengan kosakata sehari-hari, serta tindakan menunjuk dan menyebutkan nama properti (misalnya mahkota, tongkat, atau topi) yang sesuai untuk peran tersebut di meja sudut pajang secara bergiliran cepat dalam kelompok (7 kelompok beranggotakan 4 murid, masing-masing 5 menit) (35 menit; kelompok; instrumen: daftar centang (checklist) pengenalan properti dan rubrik penilaian tutur lisan)
  • demonstrasi gerak dan lagu kelompok: Tampilan murid bergerak berirama dan melafalkan lagu sederhana mengikuti arahan guru dalam kelompok kecil (4 kelompok masing-masing 7 murid tampil bergantian selama 8-9 menit dalam panggung kelas sederhana) (35 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja keselarasan gerak dan lagu sesuai arahan pendidik)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengamati dan Meniru Emosi Gerak-Suara (TP 1 & TP 2)Belum mampu mengamati dan meniru gerak tubuh maupun suara emosi senang atau sedih dari pasangan cermin ekspresi.Mampu mengamati dan meniru gerak tubuh emosi senang atau sedih, namun belum memunculkan suara emosi pendukungnya.Mampu mengamati dan meniru gerak tubuh serta suara emosi senang (tertawa/tepuk tangan) dan sedih (isak/menunduk) secara berpasangan dengan arahan guru.Mampu mengamati dan meniru gerak tubuh serta suara emosi senang dan sedih secara berpasangan dengan luwes, tanggap, dan mandiri.
Menceritakan Karya Pertunjukan (TP 3)Belum mampu menceritakan tokoh maupun kejadian dari karya pertunjukan boneka yang ditonton.Mampu menyebutkan nama salah satu tokoh (Kancil atau Buaya) namun belum menceritakan kejadian lakon dengan kosakata sehari-hari.Mampu menceritakan tokoh (Kancil dan Buaya) dan kejadian utama (Kancil menyeberang sungai melewati Buaya) menggunakan kosakata sehari-hari.Mampu menceritakan tokoh dan seluruh alur kejadian lakon boneka secara lengkap dan lancar dengan kosakata sehari-hari.
Menunjukkan Jenis Properti Pendukung Peran (TP 4)Belum mampu menunjukkan dan menyebutkan properti atau alat bantu yang ada di meja pajang.Mampu menunjukkan 1 properti di meja pajang namun belum tepat memasangkannya dengan tokoh cerita.Mampu menunjukkan dan menyebutkan jenis properti yang tepat sesuai tokoh cerita boneka di meja pajang (acuan: menunjuk topeng buaya untuk tokoh Buaya atau tongkat/topi sesuai peran).Mampu menunjukkan dan menyebutkan seluruh pilihan properti pendukung peran di meja pajang (topeng buaya, topi, mahkota, tongkat) secara tepat dan mandiri.
Memainkan Gerak dan Lagu Sesuai Arahan (TP 5)Belum mampu bergerak dan melafalkan lagu sesuai arahan pendidik dalam kelompok.Mampu melafalkan lagu atau melakukan gerak secara terpisah saat diarahkan pendidik.Mampu memainkan gerak tubuh (tepuk tangan, hentak kaki, seru hore) selaras dengan lantunan lagu sesuai arahan pendidik dalam suasana pertunjukan sederhana.Mampu memainkan gerak dan lagu dengan sangat serasi, percaya diri, dan konsisten mengikuti seluruh aba-aba pendidik dalam pertunjukan sederhana.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh alur asesmen sumatif 3 stasiun dapat berjalan lancar dan adil bagi setiap murid?
  • Bagaimana ketercapaian murid kelas 1 dalam mengekspresikan emosi, menceritakan tontonan, dan bermain peran sederhana secara keseluruhan?

Murid:

  • Bagian mana dari kegiatan bermain teater hari ini yang paling menyenangkan buatmu?
  • Perasaan apa yang kamu rasakan saat tampil bergerak dan bernyanyi bersama teman-teman?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas I (Kemendikbudristek, 2023)
  2. Gambar kartu ekspresi emosi (senang dan sedih)
  3. Lembar pengamatan sederhana berformat visual/ceklis gambar
  4. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas I (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.
  5. Kartu gambar/emoji ekspresi wajah dan tubuh (senang, sedih, marah).
  6. Lembar pengamatan bergambar untuk murid Fase A.
  7. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas I (Kemendikbudristek, Edisi Revisi)
  8. Ruang kelas yang leluasa untuk bergerak bebas
  9. Peluit/kecrekan sederhana sebagai penanda tempo ketukan gerak cermin
  10. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas I (Kemendikbudristek RI)
  11. Kartu gambar panduan visual ekspresi sedih (gerak tubuh dan balon suara kata 'hahhh', 'hu-hu', 'hiks')
  12. Ruang kelas yang lapang untuk aktivitas berpasangan
  13. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas I (Edisi Revisi)
  14. Dua boneka tangan hewan (Kancil dan Kura-Kura)
  15. Panggung boneka mini dari kardus
  16. Set Kartu Gambar Adegan (3 kartu: Kancil mengajak, Kancil tertimpa apel, Kura-Kura menolong)
  17. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas I (Edisi Revisi), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
  18. Video rekaman cuplikan pertunjukan teater boneka fabel 'Kancil dan Kura-kura yang Berbagi Apel' (durasi 2 menit)
  19. Kartu visual bergambar tokoh cerita (Kancil, Kura-kura, buah apel) sebagai alat bantu bercerita
  20. Buku Panduan Guru Seni Teater Kelas I SD
  21. Benda-benda nyata di kelas: sapu, topi, buku, kemoceng, payung, tas, spidol, kacamata mainan, sendok kayu
  22. Kartu gambar peran dan properti
  23. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD Kelas I (Pusat Perbukuan, Kemendikbudristek)
  24. Benda/alat peraga nyata dan mainan anak: stetoskop mainan, caping/cangkul plastik, spatula mainan, jaring ikan tali, peluit, topi polisi, buku besar, kuas, sisir mainan
  25. Kartu gambar tokoh cerita (Koki, Nelayan, Polisi, Guru, Dokter, Petani)
  26. Buku Panduan Guru Seni Teater untuk SD/MI Kelas I (Kemendikbudristek).
  27. Teks lirik lagu anak 'Kalau Kau Suka Hati'.
  28. Ruang kelas yang ditata menjadi area panggung mini dan bangku penonton.
  29. Video cuplikan pertunjukan lakon boneka 'Kancil dan Buaya'.
  30. Meja sudut pajang properti berisi properti sederhana: topeng karakter buaya, mahkota kertas, topi caping/petani, dan tongkat kayu.
  31. Lagu 'Kalau Kau Suka Hati' dan area panggung kelas sederhana.

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.