Modul AjarBab 4Fase DSemester 2

Modul Ajar Seni Rupa Kelas 8 Bab 4: Berkarya Seni Rupa untuk Lingkungan

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Seni Rupa kelas 8 untuk Bab 4 "Berkarya Seni Rupa untuk Lingkungan", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Seni Rupa Kelas 8 Bab 4: Berkarya Seni Rupa untuk Lingkungan

Seni Rupa - Kelas 8

Bab 4

MODUL AJAR

Seni Rupa — Kelas 8 (Fase D)

Topik: Bab 4 — Berkarya Seni Rupa untuk Lingkungan

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranSeni Rupa
Fase / KelasFase D / Kelas 8
TopikBab 4 — Berkarya Seni Rupa untuk Lingkungan
Alokasi Waktu20 JP (20 x 40 menit = 800 menit)
Jumlah Pertemuan10
Tahun Ajaran2026/2027
Semester2

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 8.4.1 Menganalisis unsur rupa dan prinsip desain dalam benda-benda di sekitar yang terkait dengan permasalahan kebersihan lingkungan
  2. TP 8.4.2 Mengeksplorasi potensi bahan yang ada di lingkungan sekitar berupa limbah kering untuk persiapan berkarya
  3. TP 8.4.3 Mengaplikasikan variasi teknik penggunaan alat dan bahan yang dimiliki untuk berkarya seni rupa fungsional dari bahan limbah lingkungan
  4. TP 8.4.4 Membuat karya seni rupa berdasarkan hasil pengamatan terhadap lingkungan sekitar dengan mempertimbangkan fungsi
  5. TP 8.4.5 Menghasilkan karya seni rupa untuk merespon pengalaman sehari-hari tentang isu kepedulian lingkungan

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan✓
Penalaran Kritis✓
Kreativitas✓
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Bagaimana kita mengenali unsur rupa seperti garis, bentuk, dan tekstur pada benda-benda sisa atau tumpukan sampah di sekitar kita?
  2. Mengapa tumpukan sampah yang tidak teratur menghasilkan kesan visual yang berbeda dibandingkan susunan benda yang tertata rapi?
  3. Mengapa penataan tempat sampah atau susunan barang bekas di suatu sudut bisa terlihat rapi dan seimbang, sedangkan di sudut lain tampak kacau dan berantakan?
  4. Prinsip desain apa saja yang hilang ketika tumpukan sampah berserakan secara tidak teratur di lingkungan sekitar kita?
  5. Bagaimana kita membedakan limbah kering yang aman dan layak dieksplorasi untuk bahan karya seni rupa dari limbah yang berbahaya?
  6. Karakter fisik apa saja (kelenturan, kekerasan, tekstur permukaan) yang membuat suatu limbah kering berpotensi diolah menjadi karya seni rupa?
  7. Bagaimana kita membuktikan bahwa suatu limbah kering di sekitar kita cukup kuat dan layak digunakan sebagai bahan berkarya seni rupa?
  8. Uji fisik apa saja yang dapat kita lakukan untuk mengukur daya tahan dan kelayakan limbah kering sebelum diproses lebih lanjut?
  9. Bagaimana cara memotong botol plastik tebal dan kardus secara rapi tanpa merusak strukturnya?
  10. Teknik apa yang dapat kita gunakan untuk mengubah lembaran kardus atau plastik kaku menjadi bentuk melengkung atau silindris yang kokoh?
  11. Bagaimana cara menyatukan dua bahan limbah kering yang berbeda jenis agar kuat dan tidak mudah lepas?
  12. Alat bantu apa saja yang paling tepat digunakan untuk merakit bahan kardus tebal dan botol plastik?
  13. Bagaimana kita menuangkan hasil pengamatan masalah sampah di sekitar ke dalam bentuk rancangan karya yang memiliki fungsi pakai?
  14. Mengapa pembuatan sketsa desain penting dilakukan sebelum mengeksekusi karya seni rupa fungsional berbahan limbah?
  15. Bagaimana kita merealisasikan sketsa desain yang telah dibuat menjadi karya seni rupa fungsional yang kokoh?
  16. Bagaimana memastikan karya rupa dari bahan limbah lingkungan yang kita buat benar-benar dapat berfungsi sesuai tujuan penggunaannya?
  17. Peristiwa atau pemandangan lingkungan apa yang pernah kalian jumpai sehari-hari yang membuat kalian merasa prihatin?
  18. Bagaimana sebuah gambar komposisi rupa dapat menjadi sarana untuk menyuarakan kepedulian terhadap lingkungan sekitar?
  19. Bagaimana karya seni rupa fungsional dan visual yang kamu ciptakan dapat membuktikan kepedulianmu terhadap penataan lingkungan?
  20. Bagaimana teknik perakitan bahan limbah kering yang kamu pilih menjamin fungsi dan kekuatan karya senimu?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Menganalisis Unsur Rupa pada Benda dan Tumpukan Sampah di Lingkungan Sekitar — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.4.1 Menganalisis unsur rupa dan prinsip desain dalam benda-benda di sekitar yang terkait dengan permasalahan kebersihan lingkungan

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan belajar murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu menganalisis unsur rupa pada benda dan tumpukan sampah di lingkungan sekitar (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen diagnostik singkat: murid mengamati foto tumpukan botol plastik bekas dan botol kaca, kemudian menjawab secara lisan 2 pertanyaan identifikasi unsur rupa: (1) Sebutkan 2 unsur rupa yang paling dominan terlihat! [Acuan jawaban: bentuk geometris/organik botol, garis tepi silinder, atau tekstur licin/bergelombang], (2) Apa wujud tekstur nyata yang tampak pada tumpukan tersebut? [Acuan jawaban: tekstur kasar/tajam/licin/bergelombang] (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Menggembirakan, Berkesadaran):

  • Murid menyimak pemaparan visual guru mengenai 4 unsur rupa utama (garis, bidang, bentuk, dan tekstur) yang dapat dianalisis dari objek limbah dan tumpukan sampah di sekitar (10 menit).
  • Murid mengikuti kuis cepat interaktif 'Tebak Unsur Limbah' dengan mengangkat kartu bertuliskan Garis, Bidang, Bentuk, atau Tekstur saat guru menampilkan 4 contoh objek limbah: (1) Sedotan plastik lurus [Acuan: Garis], (2) Potongan kardus datar persegi [Acuan: Bidang], (3) Gumpalan kertas koran remuk [Acuan: Bentuk 3D/Tekstur kasar], (4) Pecahan keramik bergerigi [Acuan: Tekstur kasar/nyata] (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid menerima Lembar Analisis Unsur Rupa dan mengamati 3 sampel visual benda limbah di lingkungan sekitar: Sampel 1: Tumpukan botol plastik minuman kemasan; Sampel 2: Timbunan kantong plastik kresek kusut; Sampel 3: Runtuhan kardus kemasan bergelombang (10 menit).
  • Murid menganalisis dan mendokumentasikan hasil pengamatan unsur rupa pada ketiga sampel tersebut secara mandiri di lembar kerja dengan menguraikan karakteristik garis (lurus/lengkung/tak beraturan), bidang (geometris/organik), bentuk (silinder/tidak beraturan/kubistis), dan tekstur (halus/licin/kasar/bergelombang) (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid membandingkan dan mengevaluasi hasil analisis unsur rupa yang telah dicatat dengan acuan deskripsi analisis yang ditampilkan guru di layar, lalu menandai ketepatan uraian analisis masing-masing (10 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan bagaimana unsur rupa (garis, bidang, bentuk, tekstur) membangun tampilan visual tumpukan sampah dan benda limbah di lingkungan sekitar (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik atas lembar analisis murid dan menginformasikan fokus pembelajaran pertemuan berikutnya (analisis prinsip desain penataan lingkungan) tanpa memberikan tugas sumatif (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan glosarium visual 4 unsur rupa (garis, bidang, bentuk, tekstur); murid yang telah mahir menganalisis objek visual tumpukan sampah campuran yang lebih kompleks.
  • Proses: Murid yang memerlukan bimbingan mendapatkan arahan langsung guru per sampel, sedangkan murid mahir menganalisis ketiga sampel secara mandiri.
  • Produk: Uraian lembar analisis murid bimbingan mencakup minimal 2 unsur rupa per sampel secara terpandu, sedangkan murid mahir menguraikan secara komprehensif seluruh 4 unsur rupa beserta variasinya.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan berdasarkan foto tumpukan botol bekas: (1) Sebutkan 2 unsur rupa yang tampak dominan pada foto! (Kunci acuan: bentuk silinder/geometris/organik, garis kontur botol, tekstur licin/transparan); (2) Bagaimana tekstur tumpukan botol plastik tersebut bila diraba secara nyata? (Kunci acuan: tekstur licin, kaku, bergelombang, atau berlekuk).

Proses:

  • Pengamatan formatif saat murid mengisi Lembar Analisis Unsur Rupa terhadap 3 sampel limbah. Kunci acuan analisis: (1) Sampel 1 (Tumpukan botol plastik): garis kontur lengkung/lurus tepi botol, bidang silindris/lingkaran tutup botol, bentuk 3D tabung/silinder terpuntir, tekstur licin berlekuk; (2) Sampel 2 (Kantong plastik kusut): garis acak/berkerut tak beraturan, bidang tak beraturan/organik datar, bentuk amorf/tidak beraturan bervolume, tekstur kusut/kasar visual/lemas; (3) Sampel 3 (Runtuhan kardus bergelombang): garis lurus tegas tepi kardus dan garis bergelombang lapisan dalam, bidang datar persegi/persegi panjang, bentuk kubistis/lempengan pipih, tekstur kasar/bergaris timbul.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman penutup: Murid menyebutkan 1 unsur rupa dominan beserta alasannya dari salah satu benda sampah yang ada di tempat sampah kelas (Kriteria penerimaan: ketepatan menyebutkan salah satu unsur rupa—garis/bidang/bentuk/tekstur—dan mendeskripsikan wujud fisiknya secara objektif).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik lisan di awal pembelajaran untuk mengecek pemahaman dasar unsur rupa pada benda lingkungan
  • Penilaian kinerja pengisian Lembar Analisis Unsur Rupa pada 3 sampel visual limbah lingkungan sekitar

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menganalisis Unsur Rupa pada Objek Limbah/SampahMenganalisis kurang dari 2 unsur rupa (garis/bidang/bentuk/tekstur) pada sampel limbah dengan uraian yang belum tepat sesuai acuan.Menganalisis 2 dari 4 unsur rupa (garis/bidang/bentuk/tekstur) pada sampel limbah dengan tepat sesuai acuan pengamatan.Menganalisis 3 dari 4 unsur rupa (garis, bidang, bentuk, tekstur) pada ketiga sampel limbah dengan tepat sesuai acuan pengamatan.Menganalisis seluruh 4 unsur rupa (garis, bidang, bentuk, tekstur) pada ketiga sampel limbah secara tepat, rinci, dan mandiri sesuai acuan pengamatan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah pemilihan media visual tumpukan sampah konkret membantu murid memahami analisis unsur rupa secara mendalam?
  • Bagaimana keterlibatan murid dalam menganalisis unsur rupa secara mandiri selama kegiatan inti?

Murid:

  • Unsur rupa apa yang paling mudah dan paling sulit saya kenali ketika mengamati tumpukan sampah di sekitar?
  • Bagaimana pengamatan unsur rupa ini mengubah cara saya memandang benda-benda sisa di lingkungan sekitar?

Pertemuan 2 — Menganalisis Prinsip Desain Terkait Penataan dan Kebersihan Lingkungan Sekitar — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.4.1 Menganalisis unsur rupa dan prinsip desain dalam benda-benda di sekitar yang terkait dengan permasalahan kebersihan lingkungan

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menganalisis prinsip desain (keseimbangan, proporsi, penekanan/pusat perhatian, dan kesatuan) pada benda dan penataan terkait kebersihan lingkungan (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen diagnostik singkat dengan menampilkan 2 gambar penataan wadah kebersihan: Gambar A menampilkan 3 tempat pemilah sampah berjajar rapi dengan warna serasi berjarak sama, sedangkan Gambar B menampilkan tempat sampah terguling dengan tumpukan kardus miring di satu sisi; murid diminta memilih gambar mana yang memiliki keseimbangan rupa yang baik (acuan: Gambar A memiliki keseimbangan simetris/teratur, Gambar B tidak seimbang/asimetris kacau) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid menyimak pemodelan guru tentang 4 prinsip desain pada penataan benda lingkungan: (1) Keseimbangan/Balance (distribusi bobot visual simetris atau asimetris), (2) Proporsi/Proportion (perbandingan ukuran benda penampung dengan area sekitar), (3) Penekanan/Emphasis (pusat perhatian visual melalui kontras warna atau posisi), dan (4) Kesatuan/Unity (keterpaduan susunan benda) (10 menit).
  • Murid mengikuti kuis kilat berpasangan 'Tebak Prinsip Rupa' menggunakan kartu visual: pasangan murid mencocokkan gambar contoh kasus lingkungan dengan prinsip desain terkait (contoh 1: tempat sampah warna merah mencolok di dinding putih menunjukkan Penekanan; contoh 2: rak botol daur ulang berukuran proporsional dengan sudut ruangan menunjukkan Proporsi) (10 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Secara berpasangan, murid menerima Lembar Kerja Analisis Prinsip Desain yang memuat 3 foto dokumentasi lingkungan nyata: Foto 1 (tumpukan ban bekas tak beraturan di samping selokan), Foto 2 (titik tempat pembuangan sampah terpilah dengan rambu penunjuk yang tertata simetris), dan Foto 3 (deretan pot tanaman dari jeriken bekas berukuran seragam di sepanjang pagar sekolah) (15 menit).
  • Murid menganalisis keterpenuhan atau ketiadaan 4 prinsip desain pada masing-masing foto dan mencatat bukti visualnya pada lembar kerja (acuan: Foto 1 tidak memiliki keseimbangan dan kesatuan karena bentuk tak beraturan; Foto 2 memenuhi keseimbangan simetris, penekanan pada papan informasi, dan kesatuan letak; Foto 3 memenuhi ritme/kesatuan melalui bentuk pot seragam dan proporsi pas terhadap pagar) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama pasangannya saling memeriksa hasil analisis dengan kunci rubrik pembanding dan merefleksikan bagaimana prinsip desain visual secara nyata memengaruhi persepsi manusia terhadap kebersihan suatu lingkungan (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap hasil analisis prinsip desain murid dan menegaskan bahwa ketidakteraturan visual tumpukan sampah terjadi akibat rusaknya prinsip kesatuan dan keseimbangan (3 menit).
  • Murid menyelesaikan asesmen akhir cek pemahaman berupa 2 pertanyaan analisis tertulis singkat mengenai identifikasi prinsip penekanan dan keseimbangan pada situasi kebersihan sekolah (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan lembar kerja berpemandu dengan daftar periksa ciri visual (misal: 'Apakah sisi kiri dan kanan tampak sama berat?'), sedangkan murid mahir menganalisis foto lingkungan dengan kompleksitas visual lebih padat (misal: area TPS komunal pasar).
  • Proses: Pengerjaan berpasangan heterogen dengan pendampingan langsung oleh guru untuk murid yang memerlukan dukungan identifikasi prinsip.
  • Produk: Murid menuangkan hasil analisis dalam tabel matriks analisis prinsip desain atau bagan peta konsep analisis visual.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan berpasangan: Mengamati 2 gambar penataan wadah kebersihan (Gambar A: tempat sampah berjajar rapi simetris berjarak sama; Gambar B: tempat sampah miring bertumpuk acak). Pertanyaan: Manakah penataan yang menunjukkan prinsip keseimbangan visual dan apa alasannya? (Kunci/Acuan: Gambar A menunjukkan keseimbangan simetris karena distribusi bobot visual sama di sisi kiri dan kanan; Gambar B tidak seimbang karena berat sebelah dan acak).

Proses:

  • Observasi keterlibatan murid dalam menganalisis 4 prinsip desain (keseimbangan, proporsi, penekanan, kesatuan) pada 3 foto lingkungan dalam Lembar Kerja: Foto 1 tumpukan ban bekas, Foto 2 tempat pembuangan sampah terpilah simetris, Foto 3 deretan pot jeriken seragam di pagar sekolah (Kunci/Acuan analisis Foto 1: Keseimbangan tidak tercapai/berat sebelah, Proporsi kacau melebihi kapasitas tempat, Penekanan hilang karena tumpang tindih, Kesatuan tidak ada karena bentuk saling silang; Foto 2: Keseimbangan simetris terpenuhi, Proporsi sesuai area, Penekanan jelas pada tanda pemilahan organik/anorganik, Kesatuan padu; Foto 3: Keseimbangan berulang/ritmis, Proporsi selaras dengan pagar, Penekanan netral, Kesatuan tinggi lewat keseragaman material).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman 2 butir soal tertulis singkat: (1) Sebutkan prinsip desain yang tampak dominan ketika sebuah tempat sampah berwarna kuning cerah diletakkan di antara latar dinding abu-abu polos! (Acuan: Prinsip Penekanan/Emphasis atau Pusat Perhatian). (2) Mengapa tumpukan sampah plastik yang menggunung tinggi di pojok taman sempit dikatakan melanggar prinsip proporsi? (Acuan: Karena skala ukuran/volume gunungan sampah tidak sebanding dan melebihi daya tampung serta ukuran area taman tersebut).

Formatif:

  • Penilaian kinerja analisis lembar kerja pengamatan visual prinsip desain lingkungan (keseimbangan, proporsi, penekanan, kesatuan) dengan rubrik analitik

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menganalisis prinsip desain (keseimbangan, proporsi, penekanan, kesatuan) pada penataan lingkunganMenganalisis kurang dari 2 prinsip desain pada foto benda lingkungan atau seluruh identifikasi bukti visual belum sesuai acuan analisis.Menganalisis 2 dari 4 prinsip desain pada foto benda lingkungan dengan bukti visual yang sesuai acuan analisis.Menganalisis 3 dari 4 prinsip desain pada foto benda lingkungan dengan bukti visual yang sesuai acuan analisis secara tepat.Menganalisis seluruh 4 prinsip desain (keseimbangan, proporsi, penekanan, kesatuan) pada ketiga foto benda lingkungan dengan bukti visual yang rinci dan tepat sesuai acuan analisis.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah contoh visual penataan lingkungan yang disajikan cukup konkret membantu murid mengidentifikasi prinsip-prinsip desain?
  • Bagian mana dari penjelasan prinsip desain (keseimbangan, proporsi, penekanan, kesatuan) yang masih membingungkan murid saat melakukan analisis foto?

Murid:

  • Prinsip desain mana yang paling mudah dan paling sulit kamu kenali saat mengamati tumpukan sampah atau penataan tempat sampah di sekitarmu?
  • Bagaimana pemahaman tentang keseimbangan dan penekanan rupa membantumu melihat masalah kebersihan lingkungan secara lebih kritis?

Pertemuan 3 — Mengeksplorasi Karakteristik dan Jenis Potensi Bahan Limbah Kering di Lingkungan Sekitar — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.4.2 Mengeksplorasi potensi bahan yang ada di lingkungan sekitar berupa limbah kering untuk persiapan berkarya

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyiapkan suasana belajar yang kondusif (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu mengeksplorasi karakteristik fisik dan mengidentifikasi potensi jenis bahan limbah kering yang ada di sekitar untuk persiapan berkarya (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menunjukkan 4 benda nyata/kartu benda: (1) Botol plastik PET bekas, (2) Kardus gelombang cokelat, (3) Sisa potongan kain perca katun, (4) Sisa kulit buah basah membusuk. Murid diminta mengangkat tangan untuk memilih mana yang tergolong limbah kering yang layak dieksplorasi untuk karya seni (acuan benar: 1, 2, 3 adalah limbah kering layak eksplorasi; 4 adalah limbah basah organik tidak layak) (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru memajang 4 spesimen contoh limbah kering bersih di meja demonstrasi: (A) Botol plastik transparan, (B) Potongan kardus tebal, (C) Kaleng minuman aluminium bekas, (D) Kertas koran bekas (5 menit).
  • Guru memandu pengamatan terfokus secara berkesadaran (mindful) terhadap 4 atribut karakteristik bahan: sifat fisik (kaku/lentur/liat), tekstur permukaan (halus/kasar/bergelombang), kemudahan dibentuk (mudah ditekuk/perlu digunting/kaku), serta potensi visualnya untuk persiapan berkarya (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru membagi murid ke dalam kelompok kecil (3-4 orang) dan membagikan baki 'Sentuh & Temukan' berisi 4 sampel limbah kering bersih: (1) Tutup botol plastik HDPE tebal, (2) Sedotan plastik fleksibel, (3) Kardus bekas kemasan makanan, (4) Kertas majalah mengilap (5 menit).
  • Murid melakukan tantangan permainan taktil menggembirakan 'Raba & Uji Cepat': secara bergantian dan berpasangan, murid menutup mata selama 1 menit, meraba tekstur dan kelenturan salah satu sampel, lalu menebak karakteristik fisiknya sebelum mencatatnya pada Lembar Eksplorasi Bahan (10 menit).
  • Setiap kelompok mendokumentasikan hasil eksplorasi 4 sampel limbah kering pada Lembar Eksplorasi Bahan: mengisi jenis limbah, karakteristik fisik (tingkat kelenturan, tekstur), dan potensi pemanfaatannya dalam berkarya seni rupa (15 menit).

Merefleksi (Bermakna):

  • Murid mengevaluasi hasil eksplorasi bahan kelompoknya dengan membandingkan catatan karakteristik antara tutup botol, sedotan, kardus, dan kertas majalah secara reflektif, menemukan bahan mana yang paling lentur dan mana yang paling kokoh untuk persiapan berkarya (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan ragam karakteristik fisik limbah kering (plastik, kertas, karton) dan potensinya sebagai material dasar seni rupa (8 menit).
  • Guru memberikan umpan balik atas ketepatan hasil pengisian lembar eksplorasi bahan dan menginformasikan fokus pertemuan berikutnya mengenai uji kekuatan dan kelayakan bahan limbah kering, lalu menutup pembelajaran dengan doa dan salam (7 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan contoh bahan limbah kering dengan tingkat kekakuan yang sangat kontras (kertas koran vs kaleng/tutup botol) bagi kelompok yang membutuhkan scaffolding pembedaan tekstur.
  • Proses: Memberikan panduan kata bantu deskriptif (misal: 'kasar bergelombang', 'kaku tahan air', 'lentur mudah ditekuk') pada lembar kerja bagi murid yang membutuhkan bimbingan.
  • Produk: Murid berkemampuan cepat dapat mengeksplorasi 2 bahan tambahan di sekitar kelas (misal: klip kertas bekas, stik kayu es krim) dan menganalisis potensi bentuk 3D yang dapat dihasilkan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik memilih jenis bahan: Guru menampilkan 4 bahan: (1) Botol plastik PET, (2) Kardus cokelat, (3) Kain perca katun, (4) Kulit buah basah membusuk. Murid mengidentifikasi bahan mana yang merupakan limbah kering untuk karya seni (kunci acuan: nomor 1, 2, dan 3 benar; nomor 4 salah/pengalih).

Proses:

  • Penilaian formatif Lembar Eksplorasi Bahan selama tahap Mengaplikasi terhadap 4 sampel (Tutup botol HDPE, Sedotan plastik, Kardus kemasan, Kertas majalah). Kunci acuan analisis: (1) Tutup botol HDPE: karakteristik kaku/keras, tekstur halus/padat, potensi sebagai modul bentuk bulat/kancing/relief; (2) Sedotan plastik: karakteristik sangat lentur/berongga/mudah digunting, tekstur licin, potensi sebagai anyaman/rangka ringan/garis; (3) Kardus kemasan: karakteristik semi-kaku/mudah dilipat/berlapis, tekstur bergelombang/berserat, potensi sebagai struktur bangun ruang/bidang datar; (4) Kertas majalah: karakteristik tipis/sangat lentur/mudah sobek, tekstur mengilap/halus, potensi sebagai kolase/pilinan/dekorasi permukaan.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman singkat (exit ticket lisan/tertulis): Murid menyebutkan 1 jenis limbah kering di sekitarnya dan menjelaskan 2 karakteristik fisiknya yang berpotensi untuk berkarya seni rupa (kriteria penerimaan: menyebutkan limbah padat anorganik kering dan mengidentifikasi minimal 2 sifat fisik nyata seperti lentur/kaku/kasar/halus sesuai kondisi material).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja eksplorasi taktil dan pengisian Lembar Eksplorasi Karakteristik Bahan Limbah Kering

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Eksplorasi Karakteristik dan Jenis Potensi Bahan Limbah KeringMampu mengeksplorasi karakteristik fisik (kelenturan dan tekstur) dan potensi berkarya hanya pada 1 dari 4 sampel bahan limbah kering sesuai kunci acuan, membutuhkan bimbingan penuh.Mampu mengeksplorasi karakteristik fisik (kelenturan dan tekstur) dan potensi berkarya pada 2 dari 4 sampel bahan limbah kering sesuai kunci acuan.Mampu mengeksplorasi karakteristik fisik (kelenturan dan tekstur) dan potensi berkarya pada 3 dari 4 sampel bahan limbah kering sesuai kunci acuan secara mandiri.Mampu mengeksplorasi karakteristik fisik (kelenturan dan tekstur) serta potensi berkarya secara tepat dan lengkap pada seluruh 4 sampel bahan limbah kering (tutup botol, sedotan, kardus, kertas majalah) sesuai kunci acuan secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah penyediaan baki sampel limbah kering sudah cukup higienis, aman, dan memicu rasa ingin tahu murid dalam mengeksplorasi karakteristik bahan?
  • Bagaimana keterlibatan murid dalam aktivitas eksplorasi taktil, apakah seluruh murid mampu mengidentifikasi perbedaan kelenturan dan tekstur bahan?

Murid:

  • Karakteristik bahan limbah kering mana yang menurutmu paling menarik dan unik untuk diolah menjadi karya seni rupa?
  • Kesulitan apa yang kamu hadapi saat membedakan potensi dan kekuatan fisik dari berbagai jenis limbah kering tadi?

Pertemuan 4 — Mengeksplorasi Kelayakan dan Kekuatan Potensi Bahan Limbah Kering untuk Persiapan Berkarya — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.4.2 Mengeksplorasi potensi bahan yang ada di lingkungan sekitar berupa limbah kering untuk persiapan berkarya

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan menyampaikan fokus kegiatan pertemuan 4, yaitu mengeksplorasi kelayakan dan kekuatan potensi bahan limbah kering untuk persiapan berkarya (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menyajikan 3 sampel limbah kering nyata (kardus gelombang kering tebal, botol plastik PET bersih tidak retak, dan daun jati kering yang sudah rapuh/hancur) dan meminta murid menuliskan status kelayakannya pada secarik kertas (acuan diagnostik: kardus = layak/kuat; botol PET = layak/kuat; daun lapuk = tidak layak/rapuh) (7 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid menyimak demonstrasi pengujian kelayakan dan kekuatan bahan limbah kering melalui 3 parameter fisik: (1) uji kekuatan tekan/tarik (menahan beban tanpa patah/robek), (2) uji fleksibilitas/kelenturan (ditekuk tanpa retak struktural), dan (3) uji kebersihan/kelayakan higienis (kering sempurna, bebas jamur, dan tidak berbau) (10 menit).
  • Murid menerima Lembar Eksplorasi Kelayakan Bahan yang memuat panduan pengujian terhadap 4 jenis bahan limbah kering target yang disediakan: (1) Kardus gelombang cokelat, (2) Botol plastik PET bekas, (3) Ranting kayu kering padat, dan (4) Kertas koran bekas (5 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Secara mandiri dalam tantangan eksperimen bertajuk 'Uji Kekuatan Material', murid melakukan uji fisik langsung (uji kelenturan, uji tekan beban 500 gram, dan uji robek/patah) pada 4 bahan limbah target secara antusias dan cermat (20 menit).
  • Murid mencatat hasil eksplorasi pada lembar kerja: menentukan tingkat kekuatan (kuat/sedang/mudah rusak) dan kelayakannya (sangat layak/cukup layak/tidak layak) untuk persiapan berkarya seni rupa berdasarkan data hasil uji nyata (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid mengevaluasi lembar hasil pengujian masing-masing, membandingkan temuan kelayakan material dengan acuan standar pengujian guru, serta menyimpulkan potensi bahan mana yang paling kokoh untuk dijadikan struktur utama dalam persiapan berkarya (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap hasil eksplorasi kelayakan dan kekuatan bahan yang telah dilakukan murid (5 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan pentingnya memilih bahan limbah yang kuat dan layak sebelum proses berkarya, serta mengarahkan murid untuk merapikan bahan uji kembali ke tempatnya sebelum kelas diakhiri (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan variasi ketebalan limbah kering (misal: variasi kardus single-wall vs double-wall; botol plastik tebal vs cup tipis) untuk dieksplorasi.
  • Proses: Bagi murid yang memerlukan bimbingan, guru memberikan panduan langkah demi langkah saat melakukan uji fisik; bagi murid yang cepat, diberikan tambahan 2 material alternatif (tutup botol HDPE dan kaleng minuman aluminium bekas) untuk diuji kekuatannya.
  • Produk: Catatan data eksplorasi kelayakan dapat berupa tabel centang ringkas berpanduan atau laporan deskriptif hasil uji fisik material secara mendalam.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik cepat: Murid mengidentifikasi kelayakan 3 sampel limbah kering nyata yang ditunjukkan guru: (1) Kardus gelombang tebal kering, (2) Botol plastik PET bersih tidak retak, (3) Daun jati kering lapuk/hancur. Kriteria kelayakan: Sampel 1 = Layak/Kuat (kondisi kering dan tebal); Sampel 2 = Layak/Kuat (elastis, utuh, higienis); Sampel 3 = Tidak Layak (rapuh, mudah hancur, tidak memiliki kekuatan struktur).

Proses:

  • Formatif proses: Observasi saat murid melakukan pengujian fisik kelayakan dan kekuatan terhadap 4 bahan target: (1) Kardus gelombang (acuan: kuat menahan beban tekan, cukup kaku, layak untuk struktur/bidang), (2) Botol PET (acuan: kuat, lentur saat ditekuk, tahan air, sangat layak), (3) Ranting kayu padat (acuan: kaku, tahan patah pada ketebalan sedang, sangat layak untuk kerangka), (4) Kertas koran bekas (acuan: mudah robek, kekuatan tekan rendah, layak untuk pelapis/bubur kertas bukan rangka utama). Dinilai berdasarkan ketelitian pengujian dan ketepatan pencatatan data kelayakan.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir: Murid menjawab 2 butir pertanyaan penentu kelayakan pada lembar refleksi: (1) Sebutkan 2 ciri utama limbah kering yang dinilai KUAT dan LAYAK untuk persiapan berkarya (Acuan: memiliki ketahanan terhadap beban/tekanan fisik dan tidak mudah hancur/lapuk); (2) Dari 4 bahan yang diuji hari ini, sebutkan 1 bahan yang paling kuat untuk struktur dan 1 bahan yang kekuatannya paling rendah (Acuan: paling kuat = ranting kayu padat/botol PET/kardus tebal; paling rendah = kertas koran bekas).

Formatif:

  • Penilaian unjuk kerja eksplorasi kekuatan fisik bahan menggunakan lembar observasi dan lembar pencatatan hasil uji kelayakan material.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Eksplorasi Kekuatan dan Kelayakan Potensi Bahan Limbah KeringMengeksplorasi kekuatan dan kelayakan kurang dari 2 bahan limbah kering target secara tepat, atau pengujian fisik dilakukan tanpa mengikuti kriteria.Mengeksplorasi kekuatan dan kelayakan pada 2 dari 4 bahan limbah kering target secara tepat sesuai kriteria uji fisik (kardus, botol PET, ranting kayu, koran).Mengeksplorasi kekuatan dan kelayakan pada 3 dari 4 bahan limbah kering target secara tepat sesuai data uji kekuatan, kelenturan, dan kelayakan bahan.Mengeksplorasi kekuatan dan kelayakan pada seluruh (4 dari 4) bahan limbah kering target secara tepat, mandiri, dan mencatat data hasil uji fisik secara lengkap dan akurat.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah instruksi uji fisik (tekan, lentur, kelayakan) dapat dipahami dan dijalankan dengan aman oleh seluruh murid?
  • Apakah murid mampu membedakan bahan limbah yang kuat dan layak dengan bahan yang rapuh secara objektif berdasarkan hasil eksplorasi?

Murid:

  • Bagian mana dari kegiatan pengujian kekuatan bahan limbah tadi yang paling menarik dan memberikan wawasan baru bagimu?
  • Bagaimana hasil pengujian hari ini membantumu menentukan bahan limbah kering yang paling tepat untuk persiapan berkarya nanti?

Pertemuan 5 — Mengaplikasikan Variasi Teknik Pemotongan dan Pembentukan Alat-Bahan Limbah Lingkungan — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.4.3 Mengaplikasikan variasi teknik penggunaan alat dan bahan yang dimiliki untuk berkarya seni rupa fungsional dari bahan limbah lingkungan

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menata area meja kerja agar aman untuk aktivitas pemotongan bahan (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu melatih dan mengaplikasikan variasi teknik pemotongan (lurus, lengkung, takik) serta teknik pembentukan (melipat/mengerutkan, menggulung/melengkungkan) pada bahan limbah kering kardus dan botol plastik (4 menit).
  • Murid mengikuti asesmen diagnostik singkat: murid diminta memilih alat potong yang tepat untuk 2 jenis bahan limbah: (1) Kardus gelombang tebal (cutter/pisau pemotong kertas), dan (2) Botol plastik tipis/kertas karton (gunting serbaguna) (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru mendemonstrasikan secara cermat prosedur keselamatan dan teknik pemotongan: membuat garis pandu dengan penggaris, memotong lurus dengan cutter berbantalan alas potong, serta memotong kontur melengkung menggunakan gunting (7 menit).
  • Guru mendemonstrasikan teknik pembentukan bahan: teknik 'scoring' (menoreh sebagian ketebalan karton/kardus dengan cutter tanpa putus agar mudah ditekuk rapi bersudut tajam) dan teknik mengerutkan/melengkungkan badan botol plastik atau karton silindris (8 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Tantangan Keterampilan 'Presisi Cepat': Murid secara berpasangan saling mengamati dan berlatih dalam format permainan tantangan keterampilan untuk mengeksekusi 1 potongan garis lurus 15 cm pada kardus menggunakan cutter dan 1 potongan bentuk lingkaran diameter 8 cm pada plastik menggunakan gunting sesuai garis batas yang telah disediakan guru (10 menit).
  • Murid secara mandiri mengerjakan lembar kerja praktik pembentukan material limbah: mengaplikasikan 3 teknik pemotongan (potongan lurus, lengkung/lingkaran, dan torehan takik) serta 2 teknik pembentukan (tekukan bersudut tajam hasil scoring dan gulungan silindris melengkung yang rapi) pada bahan limbah kardus dan botol/gelas plastik yang telah dibersihkan (30 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa hasil uji coba pemotongan dan pembentukannya menggunakan daftar periksa mandiri: mengecek kerapian tepi potongan (apakah bergerigi/halus) dan ketepatan sudut tekukan/kelengkungan bentukan bahan (8 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan faktor kunci keberhasilan teknik pemotongan dan pembentukan limbah kering (kontrol tekanan alat potong, penggunaan garis bantu, dan torehan penekuk) (4 menit).
  • Murid merapikan kembali alat dan sisa serpihan bahan limbah ke tempat pembuangan/penyimpanan, lalu guru menginformasikan topik pertemuan berikutnya yaitu teknik penyambungan dan perakitan (3 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan variasi ketebalan kardus (kardus tipis satu lapis untuk latihan dasar, kardus gelombang tebal/botol plastik tebal untuk tantangan lebih tinggi).
  • Proses: Memberikan bimbingan langsung dan panduan jarak garis potong yang lebih lebar bagi murid yang masih canggung memegang cutter/gunting; murid yang mahir mencoba teknik pembentukan lipatan geometris bertingkat.
  • Produk: Murid menghasilkan modul sampel potongan (lurus, lengkung, takik) dan bentukan (tekukan rapi, silinder tergulung) dengan tingkat presisi garis toleransi deviasi tepi maksimal 2 mm.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tes diagnostik singkat pemilihan alat kerja: Murid menentukan alat potong yang tepat untuk 2 material limbah: Butir 1: Kardus gelombang tebal 3 mm -> Kunci/Acuan: Cutter dengan bilah terkunci di atas alas potong; Butir 2: Botol plastik kemasan tipis -> Kunci/Acuan: Gunting seng/gunting serbaguna runcing.

Proses:

  • Lembar observasi performa teknik: Guru mengamati eksekusi murid pada 3 variasi pemotongan (lurus, lengkung, takik) dan 2 variasi pembentukan (tekukan bersudut rapi via scoring, gulungan silindris) pada bahan limbah kardus dan plastik.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman mandiri akhir sesi: Murid menunjukkan 2 modul hasil latihan praktik pemotongan dan pembentukan terbaiknya kepada guru berdasarkan kriteria tepi potongan tidak tercabik/halus dan sudut bentukan stabil tanpa patahan retak.

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja praktik pemotongan dan pembentukan bahan limbah menggunakan rubrik performa proses

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Pengaplikasian Teknik Pemotongan Bahan Limbah (Cutter dan Gunting)Mengaplikasikan kurang dari 2 variasi teknik pemotongan bahan limbah, tepi potongan tampak bergerigi kasar, sobek, atau melenceng jauh di atas 5 mm dari garis pandu.Mengaplikasikan 2 dari 3 variasi teknik pemotongan (lurus, lengkung, takik) dengan deviasi garis pandu 3-5 mm dan beberapa tepi potongan masih tercabik.Mengaplikasikan seluruh 3 variasi teknik pemotongan (lurus, lengkung, takik) pada bahan limbah kardus dan plastik secara tepat, tepi potongan rapi dengan deviasi garis pandu maksimal 2 mm.Mengaplikasikan seluruh 3 variasi teknik pemotongan secara mandiri, tepi potongan sangat presisi (deviasi di bawah 1 mm), rata, mulus, dan konsisten di seluruh jenis material limbah tanpa cacat serabut.
Pengaplikasian Variasi Teknik Pembentukan Bahan Limbah (Scoring/Lipat dan Gulung/Lengkung)Belum mampu mengaplikasikan teknik scoring dan penggulungan; material limbah patah, retak tak beraturan, atau robek saat dibentuk.Mengaplikasikan 1 dari 2 teknik pembentukan (scoring tekukan atau gulungan lengkung) dengan bentukan yang masih kurang stabil atau permukaan bahan sedikit robek tertembus mata pisau.Mengaplikasikan kedua teknik pembentukan (tekukan bersudut tajam melalui torehan scoring dan lengkungan silindris tanpa retak) pada limbah kardus dan botol plastik secara rapi dan stabil.Mengaplikasikan kedua teknik pembentukan dengan kontrol kedalaman torehan yang sangat presisi, sudut tekukan tegak lurus konsisten, serta kelengkungan silindris mulus sempurna tanpa lipatan kusut secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 30 menit praktik mandiri mencukupi bagi seluruh murid untuk menguasai teknik scoring dan pemotongan lengkung secara aman?
  • Bagaimana tingkat kepatuhan murid terhadap prosedur keselamatan kerja saat menggunakan pisau pemotong/cutter?

Murid:

  • Teknik manakah yang paling menantang: memotong lengkung pada plastik atau membuat torehan scoring pada kardus? Apa penyebabnya?
  • Bagaimana cara saya menjaga agar hasil potongan limbah tetap rapi dan tidak sobek saat digunting?

Pertemuan 6 — Mengaplikasikan Variasi Teknik Penyambungan dan Perakitan Alat-Bahan Limbah Seni Rupa Fungsional — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.4.3 Mengaplikasikan variasi teknik penggunaan alat dan bahan yang dimiliki untuk berkarya seni rupa fungsional dari bahan limbah lingkungan

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan belajar murid, dan memastikan area kerja bebas dari benda berbahaya (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu mempraktikkan variasi teknik penyambungan dan perakitan pada bahan limbah kering untuk pembuatan karya fungsional (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menunjukkan 2 pasang material limbah (kardus dengan kardus; botol plastik dengan stik kayu) lalu meminta murid menjawab secara lisan teknik penyambungan dan alat yang paling tepat untuk masing-masing pasangan (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mengamati demonstrasi guru tentang 3 variasi teknik penyambungan alat-bahan limbah: teknik rekat/lem (menggunakan lem tembak/lem fox), teknik ikat/lilit (menggunakan kawat tipis/tali rami melalui lubang perforasi), dan teknik pasak/selip (membuat celah kait/interlocking pada kardus tebal) (10 menit).
  • Murid secara mandiri mencocokkan lembar panduan kerja teknis mengenai kecocokan antara bahan limbah kering (karton tebal, botol plastik bekas, kaleng minuman, ranting/stik) dengan teknik penyambungan yang tepat beserta pertimbangan kekuatan rekatnya (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru mengadakan tantangan perakitan cepat 'Konstruksi Sambung 10 Menit': murid dalam kelompok meja saling berlomba secara menggembirakan mencoba minimal 2 teknik sambungan berbeda pada bahan uji coba potongan kardus dan botol plastik untuk melihat siapa yang menghasilkan sambungan paling stabil saat diuji goyang (10 menit).
  • Murid secara mandiri mengaplikasikan minimal 2 variasi teknik penyambungan dan perakitan menggunakan alat-bahan yang telah disiapkan (misal: teknik rekat lem tembak untuk sambungan bidang datar dan teknik ikat kawat/tali untuk sambungan rangka sudut) pada modul sampel karya fungsional limbah kering (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid melakukan uji kekuatan sambungan fisik pada sampel karyanya sendiri dengan memberikan tekanan ringan atau tarikan wajar, lalu mencatat kendala kestabilan atau kerapian sambungan yang ditemukan (10 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan prinsip utama teknik penyambungan dan perakitan bahan limbah: kekuatan mekanis sambungan, kerapian sisa perekat/tali, serta keamanan penggunaan alat perakit (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik umum terhadap hasil eksplorasi perakitan murid, mengingatkan murid untuk merapikan dan menyimpan alat-bahan ke tempat semula secara aman, serta menutup kelas dengan salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan alternatif alat perekat/penyambung dari yang mudah digunakan (selotip kertas, perekat serbaguna) hingga alat bersuhu panas/alat mekanik (glue gun, kawat pengikat berpembolong).
  • Proses: Memberikan bimbingan langsung (scaffolding) teknik pelubangan dan perekatan bagi murid yang masih ragu menggunakan alat, serta memberikan tantangan variasi sambungan sudut 3D bagi murid yang lebih mahir.
  • Produk: Variasi kombinasi teknik sambung pada sampel perakitan: murid pemula mengaplikasikan 2 teknik dasar (rekat dan lilit), sedangkan murid mahir mengaplikasikan 3 teknik (rekat, lilit/ikat, dan sistem selip/interlock).

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik di awal pelajaran mengenai pemilihan teknik penyambungan pada 2 kasus material: (1) Kardus tebal dengan kardus tebal -> Acuan jawaban benar: teknik lem kayu/lem tembak, selip (interlock), atau lakban kertas; (2) Botol plastik dengan stik kayu -> Acuan jawaban benar: teknik pelubangan lalu ikat/kawat, atau lem tembak/epoksi.

Proses:

  • Pengamatan langsung saat murid mempraktikkan teknik penyambungan: ketepatan pemilihan dan pengoperasian alat (misal: lem tembak, pembolong/jarum penusuk, gunting, kawat), penerapan prosedur keselamatan kerja, serta ketepatan langkah teknis penyambungan (rekat, ikat, pasak).

Akhir Pertemuan:

  • Cek hasil aplikasi sambungan modul limbah fungsional di akhir sesi dengan kriteria: sampel memuat minimal 2 variasi teknik penyambungan yang terpasang kokoh (tidak lepas saat ditarik/digerakkan secara wajar) dan rapi (tanpa lelehan perekat atau ujung kawat berlebih yang membahayakan).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja praktik aplikasi variasi teknik penyambungan dan perakitan bahan limbah
  • Lembar ceklis uji kekuatan mekanis sambungan dan ketepatan penggunaan alat bantu

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Aplikasi Variasi Teknik Penyambungan dan PerakitanMengaplikasikan 1 teknik penyambungan pada bahan limbah namun sambungan mudah terlepas saat diuji dan alat belum digunakan secara aman.Mengaplikasikan 1 teknik penyambungan dengan kokoh, atau mencoba 2 teknik namun salah satu sambungan masih belum stabil/terlepas saat diuji beban ringan.Mengaplikasikan minimal 2 variasi teknik penyambungan (misalnya kombinasi rekat dan ikat) secara tepat, kokoh (tidak terlepas saat diuji), dan menggunakan alat secara aman.Mengaplikasikan 3 variasi teknik penyambungan (rekat, ikat/lilit, dan selip/interlock) secara mandiri, sangat kokoh, rapi, serta menggunakan alat kerja secara presisi dan aman.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 25 menit cukup bagi seluruh murid untuk mengaplikasikan minimal dua teknik penyambungan yang berbeda?
  • Bagian teknik penyambungan mana yang paling banyak mengalami kendala kekuatan mekanis pada bahan limbah murid?

Murid:

  • Teknik penyambungan mana yang menurutmu paling mudah dan paling kuat untuk menyatukan bahan limbahmu?
  • Apa kesulitan yang kamu hadapi saat menggunakan alat perakit (seperti lem tembak atau kawat/tali) pada permukaan limbah yang licin atau tebal?

Pertemuan 7 — Membuat Sketsa Desain Karya Seni Rupa Fungsional Berdasarkan Pengamatan Lingkungan — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.4.4 Membuat karya seni rupa berdasarkan hasil pengamatan terhadap lingkungan sekitar dengan mempertimbangkan fungsi

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, dan mengajak berdoa bersama secara hening untuk menyiapkan kesadaran belajar (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-7, yaitu membuat sketsa desain karya seni rupa fungsional berdasarkan hasil pengamatan terhadap limbah di lingkungan sekitar dengan mempertimbangkan fungsi pakai (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menampilkan 2 gambar contoh karya: Gambar A (hiasan dinding botol bekas tanpa fungsi pakai selain pajangan) dan Gambar B (tempat pensil/wadah serbaguna dari botol plastik dan stik es krim bekas), lalu meminta murid menuliskan mana yang termasuk karya fungsional dan alasannya (acuan: Gambar B adalah karya fungsional karena dirancang untuk menyimpan/mengorganisasi alat tulis/benda pakai) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mencermati panduan penyusunan sketsa desain karya fungsional yang mencakup 3 komponen wajib: (1) gambar bentuk rancangan dari sudut pandang jelas, (2) keterangan bagian fungsi pakai (misal: wadah, pengait, sekat, penopang), dan (3) catatan material limbah lingkungan yang akan dipakai berdasarkan hasil pengamatan sebelumnya (10 menit).
  • Guru mengadakan aktivitas interaktif menggembirakan 'Tebak Fungsi Sketsa': guru menunjukkan 3 sketsa rancangan garis sederhana pada papan tulis/layar (Sketsa 1: kotak bertingkat dengan sekat; Sketsa 2: silinder gantung berlubang; Sketsa 3: bidang datar berkait), murid secara cepat berlomba mengidentifikasi potensi fungsi pakai dan komponen fungsinya (acuan: Sketsa 1 = wadah alat tulis/organizer meja; Sketsa 2 = pot gantung/tempat benih; Sketsa 3 = gantungan kunci/tali serbaguna) (10 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid secara mandiri memilih 1 fokus kebutuhan fungsional berdasarkan pengamatan lingkungan sekolah/rumah (pilihan fungsi: tempat alat tulis meja, pot tanaman mini mandiri, wadah pemilah benda kecil, atau rak gantung perkakas) (5 menit).
  • Murid membuat minimal 2 alternatif sketsa kasar (thumbnail sketch) karya seni rupa fungsional pada kertas gambar A4 dengan mempertimbangkan proporsi bentuk dan kegunaan praktisnya (15 menit).
  • Murid memilih 1 sketsa terbaik untuk disempurnakan menjadi sketsa desain final berukuran proporsional, dilengkapi arsiran/detail bentuk, penunjukan bagian-bagian fungsi, serta rincian jenis bahan limbah lingkungan yang akan dirakit pada pertemuan berikutnya (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali sketsa desain buatannya menggunakan lembar cek mandiri: memastikan telah memuat bentuk utuh, komponen fungsional yang jelas, dan daftar material limbah yang realistis untuk dirakit (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan bahwa sketsa desain karya fungsional berfungsi sebagai peta rancangan visual yang menjembatani hasil pengamatan limbah dengan fungsi pakai nyata karya rupa (3 menit).
  • Guru memberikan umpan balik menyeluruh terhadap kemandirian proses berkarya sketsa murid dan mengingatkan murid untuk menyimpan sketsa desain final serta menyiapkan bahan limbah sesuai rancangan untuk pertemuan 8 (pembuatan karya) (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan template proporsi geometris dasar, sedangkan murid yang mahir diarahkan mengeksplorasi sketsa karya fungsional dengan sistem mekanik sederhana (seperti penutup geser atau sekat bongkar-pasang).
  • Proses: Guru memberikan scaffolding perorangan pada teknik penggambaran detail fungsi bagi murid yang kesulitan mengonstruksi bentuk 3 dimensi ke bidang 2 dimensi, sementara murid yang sudah terampil bekerja mandiri menyelesaikan variasi alternatif.
  • Produk: Murid dengan kecepatan belajar reguler menghasilkan 1 sketsa desain final beranotasi fungsi standar; murid cepat menghasilkan sketsa desain dilengkapi tampilan dari 2 sudut pandang (tampak depan dan tampak atas) beserta keterangan ukuran estimasi.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tes diagnostik singkat tertulis di lembar kertas kecil: mengidentifikasi karya seni rupa fungsional dari 2 gambar yang ditampilkan guru. Butir soal: 'Tentukan manakah di antara Gambar A (hiasan dinding botol bekas murni estetik) dan Gambar B (tempat pensil botol plastik dengan sekat fungsional) yang tergolong karya seni rupa fungsional, dan tuliskan 1 alasan fungsinya!' (Acuan jawaban benar: Gambar B; alasan: memiliki kegunaan praktis langsung untuk menampung/menyimpan alat tulis).

Proses:

  • Observasi unjuk kerja saat murid menggambar sketsa desain karya seni rupa fungsional: mengamati kelengkapan 3 elemen desain (wujud rancangan bentuk, kejelasan fungsi pakai yang dipertimbangkan, dan anotasi material limbah pengamatan) serta kemandirian berkarya.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman/pemeriksaan hasil akhir sketsa: guru memverifikasi produk lembar sketsa desain murid berdasarkan kriteria ketercapaian: (1) visualisasi bentuk utuh karya rupa, (2) adanya fungsi pakai yang jelas dan terarah, serta (3) pencantuman material limbah lingkungan yang sesuai (acuan penerimaan: sketsa memuat gambar visual terstruktur, minimal 1 penanda fungsi pakai, dan daftar bahan limbah yang dapat direalisasikan).

Formatif:

  • Penilaian proses pembuatan sketsa desain karya rupa fungsional melalui lembar observasi kerja mandiri dan verifikasi kelengkapan komponen desain (bentuk, fungsi, dan material limbah).

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Visualisasi Bentuk Karya Seni Rupa pada SketsaSketsa bentuk karya belum menggambarkan wujud fisik objek secara jelas (hanya coretan tanpa struktur bentuk rupa).Sketsa menampilkan wujud bentuk objek secara sederhana namun proporsi dan detail garis bentuk rupa masih belum jelas.Sketsa menampilkan wujud bentuk karya seni rupa secara terstruktur, proporsional, dan memiliki garis bentuk yang jelas.Sketsa menampilkan wujud bentuk karya seni rupa secara sangat terstruktur, proporsional, rapi, dan dilengkapi detail arsiran/arsitektur rupa yang runtut.
Pertimbangan Fungsi Pakai KaryaSketsa sama sekali tidak memperlihatkan atau mencantumkan fungsi pakai (rancangan tidak memiliki kegunaan teridentifikasi).Sketsa mencantumkan fungsi pakai tetapi bagian rancangan belum mendukung fungsi tersebut secara logis.Sketsa mempertimbangkan fungsi pakai secara jelas dengan rancangan bagian karya yang mendukung kegunaan praktisnya.Sketsa mempertimbangkan fungsi pakai secara optimal, bagian-bagian fungsional dirancang sangat matang, ergonomis, dan fungsional.
Kesesuaian Material Berdasarkan Pengamatan LingkunganSketsa tidak mencantumkan atau mengaitkan bahan limbah lingkungan yang akan digunakan.Sketsa menyebutkan jenis bahan limbah lingkungan tetapi penempatannya pada bagian karya belum realistis.Sketsa mencantumkan jenis bahan limbah lingkungan hasil pengamatan secara realistis sesuai bagian-bagian karya yang dirancang.Sketsa merinci seluruh jenis bahan limbah lingkungan hasil pengamatan secara tepat, realistis, dan memperhitungkan kekuatan bahan pada setiap bagian karya.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah instruksi perancangan sketsa desain fungsional dapat dipahami murid sehingga mereka mampu menerjemahkan hasil pengamatan lingkungan menjadi rancangan karya?
  • Bagian mana dari aktivitas perancangan sketsa yang paling banyak membutuhkan bimbingan guru?

Murid:

  • Apakah sketsa yang saya buat sudah dapat menjelaskan fungsi pakai benda yang ingin saya ciptakan dari bahan limbah?
  • Tantangan apa yang saya hadapi saat mengubah ide fungsi benda menjadi gambar sketsa rancangan?

Pertemuan 8 — Membuat Karya Seni Rupa Fungsional Berdasarkan Pengamatan Lingkungan Sekitar — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.4.4 Membuat karya seni rupa berdasarkan hasil pengamatan terhadap lingkungan sekitar dengan mempertimbangkan fungsi

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, memeriksa kesiapan belajar fisik dan bahan berkarya, serta menyampaikan tujuan pertemuan untuk membuat karya seni rupa fungsional berdasarkan sketsa pengamatan lingkungan yang telah dirancang (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat: murid diminta memeriksa sketsa desain masing-masing dan mencocokkannya dengan 3 kriteria fungsi: (1) wadah/tempat penyimpanan barang, (2) kestabilan struktur saat diletakkan/digantung, dan (3) keamanan permukaan saat disentuh (acuan: sketsa memuat wujud benda pakai tiga dimensi dengan ruang tampung dan struktur tegak) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid menyimak panduan alur kerja pembuatan karya dan aturan keselamatan kerja saat menggunakan alat pemotong dan perekat (5 menit).
  • Murid secara mandiri memeriksa kelengkapan bahan limbah kering (seperti botol plastik, kardus bekas, stik kayu, atau kaleng) dan mencocokkan ukuran bahan dengan gambar sketsa rancangan fungsionalnya (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Tantangan Berkreasi Menyenangkan: Melalui aktivitas 'Tantangan 30 Menit Rancang Bangun', murid berlomba mengonstruksi bentuk dasar karya fungsionalnya secara tepat dan presisi sesuai sketsa dengan iringan musik instrumental yang membangkitkan semangat (35 menit).
  • Murid melanjutkan proses pembuatan karya seni rupa fungsional dengan merakit, merekatkan sambungan antarbagian, dan menyempurnakan bentuk agar mampu menampung benda atau difungsikan secara nyata (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid melakukan uji coba fungsi langsung pada karya yang telah dibuat: meletakkan benda target (misalnya alat tulis pada tempat pensil, atau pot tanaman kecil) untuk menguji kestabilan dan daya tampung karya secara mandiri (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap pencapaian pembuatan karya seni rupa fungsional yang telah diselesaikan murid dan memberikan umpan balik konstruktif terhadap ketahanan struktur karya (3 menit).
  • Murid merapikan sisa-sisa bahan berkarya, membersihkan meja kerja masing-masing, dan menyimak arahan singkat guru mengenai persiapan materi gambar komposisi kepedulian lingkungan untuk pertemuan berikutnya (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid dapat memilih jenis limbah kering yang digunakan (kardus, botol plastik, stik es krim, kaleng) sesuai sketsa desain yang telah dibuat.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan perakitan bertahap untuk bagian sambungan yang rawan lepas, sedangkan murid yang mandiri langsung menyelesaikan konstruksi detail fungsional secara penuh.
  • Produk: Variasi bentuk karya seni rupa fungsional yang dihasilkan (misalnya tempat pensil meja, pot gantung hias, atau organizer laci mini) disesuaikan dengan fungsi yang dipilih murid.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pemeriksaan kesiapan sketsa desain fungsional: Murid mengidentifikasi fungsi dan struktur karya pada lembar sketsanya berdasarkan 3 kriteria acuan: (1) fungsi pakai yang dituju jelas, (2) rancangan memiliki rongga/ruang simpan, dan (3) terdapat penopang atau bidang dasar yang stabil (acuan: sketsa memenuhi ketiga kriteria tersebut).

Proses:

  • Pengamatan langsung selama proses pembuatan karya menggunakan 3 indikator: (1) kesesuaian wujud karya dengan sketsa desain rancangan, (2) kerapian dan kekuatan sambungan antar-bahan limbah, dan (3) keberfungsian karya saat diuji coba menampung beban benda (acuan: karya berdiri stabil, sambungan tidak lepas, dan benda uji coba tertampung dengan aman).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman dan uji fungsi mandiri di akhir kegiatan: Murid menguji dan mencatat status keberfungsian karya rupa buatannya berdasarkan 2 indikator acuan: (1) karya mampu menahan beban benda uji coba (misal: 3 buah pulpen/pensil) tanpa roboh, dan (2) bagian sambungan tidak mengalami retak/lepas saat digerakkan (acuan: memenuhi kedua indikator uji).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja pembuatan karya seni rupa fungsional menggunakan lembar ceklis keterlaksanaan konstruksi dan uji fungsi

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kesesuaian Realisasi Karya dengan Sketsa Desain FungsionalKarya yang dibuat belum menunjukkan kesesuaian bentuk dengan sketsa desain dan belum memperlihatkan bentuk fungsional.Karya yang dibuat mulai menunjukkan kemiripan bentuk dengan sketsa desain, namun struktur fungsionalnya belum lengkap.Karya yang dibuat sesuai dengan sketsa desain dan memiliki struktur fungsional yang lengkap secara mandiri.Karya yang dibuat sangat sesuai dan presisi dengan sketsa desain, memiliki struktur fungsional lengkap, serta proporsi bentuk yang sangat rapi.
Pertimbangan Fungsi dan Kekuatan Struktur KaryaKarya belum dapat menopang benda atau tidak dapat difungsikan sesuai tujuan penggunaannya.Karya dapat difungsikan tetapi struktur sambungannya rapuh dan mudah goyah saat menahan beban benda uji coba.Karya dapat difungsikan secara nyata, sambungan terpasang kuat, dan stabil saat menahan beban benda uji coba.Karya berfungsi optimal dengan struktur yang sangat kokoh, stabil, rapi pada seluruh sambungan, dan aman digunakan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 45 menit untuk tahap mengonstruksi dan merakit karya cukup bagi seluruh murid?
  • Bagaimana tingkat keberhasilan murid dalam merealisasikan sketsa desain menjadi karya tiga dimensi fungsional yang kokoh?

Murid:

  • Apakah karya seni rupa yang saya buat hari ini sudah benar-benar dapat digunakan sesuai fungsinya?
  • Bagian mana dari proses perakitan karya yang paling menantang dan bagaimana saya berhasil mengatasinya?

Pertemuan 9 — Menghasilkan Karya Seni Rupa Berupa Gambar Komposisi Isu Kepedulian Lingkungan — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.4.5 Menghasilkan karya seni rupa untuk merespon pengalaman sehari-hari tentang isu kepedulian lingkungan

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini yaitu menghasilkan gambar komposisi yang merespon pengalaman sehari-hari tentang isu kepedulian lingkungan (3 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik dengan meminta murid memilih 1 dari 3 contoh peristiwa lingkungan sehari-hari: (A) Sampah plastik berserakan di selokan sekolah, (B) Asap pembakaran sampah di pemukiman warga, atau (C) Pohon peneduh jalan yang ditebang sembarangan, lalu menyebutkan 1 objek utama yang cocok digambar untuk mewakili peristiwa tersebut (acuan: A -> tumpukan botol/kemasan plastik menyumbat air selokan; B -> kepulan asap tebal dan kobaran sampah rumah tangga; C -> batang pohon tumbang/tunggul tersisa di pinggir jalan) (7 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mengamati 2 contoh gambar komposisi visual isu lingkungan yang ditampilkan guru, lalu mengidentifikasi bagaimana elemen visual (objek utama, latar depan, latar belakang) disusun untuk menyampaikan respon kepedulian terhadap situasi lingkungan nyata (10 menit).
  • Murid berpartisipasi dalam permainan 'Tebak Isu Cepat' (prinsip Menggembirakan): guru memperlihatkan 3 siluet simbol rupa isu lingkungan, yaitu: (1) siluet penyu terjerat jaring, (2) siluet cerobong asap hitam, dan (3) siluet keran air menetes di atas tanah retak; murid yang paling cepat menebak isu lingkungan yang dimaksud dan menyebutkan respon tindakan perbaikannya mendapat poin apresiasi stiker rupa (kunci jawaban: 1 = pencemaran laut/sampah plastik di air; 2 = polusi udara; 3 = krisis air bersih/kekeringan) (10 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menentukan satu pengalaman sehari-hari terkait isu lingkungan yang pernah dialaminya (misalnya tumpukan sampah plastik di kantin, selokan tersumbat, atau limbah rumah tangga), lalu merancang sketsa garis komposisi gambar pada kertas gambar ukuran A4 secara berkesadaran (15 menit).
  • Murid menyelesaikan gambar komposisi rupa tersebut secara penuh dengan pewarnaan (menggunakan krayon, pensil warna, atau spidol) yang menonjolkan objek fokus respon isu kepedulian lingkungan serta keterpaduan latar belakang (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid menempelkan hasil gambar komposisinya di atas meja masing-masing, saling berkeliling mengamati karya teman, dan secara mandiri menilai ketercapaian karyanya sendiri: apakah objek respon isu lingkungan sudah tampak jelas dan utuh dalam komposisi (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik formatif terhadap keterpaduan komposisi dan kejelasan respon isu lingkungan pada karya yang telah dihasilkan murid (3 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran hari ini dan mengumumkan bahwa seluruh karya seni (dari pertemuan sebelumnya hingga karya gambar hari ini) dirapikan untuk persiapan Pelaksanaan Asesmen Sumatif Terpadu Portofolio pada pertemuan berikutnya (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan disediakan kartu foto rujukan situasi lingkungan lokal konkret (sungai tercemar, sampah kantin) sebagai referensi bentuk visual; murid yang cepat difasilitasi mengeksplorasi sudut pandang dramatis (bird-eye view atau close-up ekstrim) dari isu lingkungan yang lebih kompleks.
  • Proses: Murid yang memerlukan scaffolding dipandu guru dalam pembagian proporsi kertas (garis horizon, peletakan fokus utama); murid mandiri langsung mengerjakan eksplorasi komposisi secara penuh.
  • Produk: Karya gambar komposisi diselesaikan dengan teknik pewarnaan kering (pensil warna/krayon) atau teknik spidol sesuai minat dan kenyamanan murid dalam mengekspresikan respon isu lingkungan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik kesiapan merespon isu lingkungan secara visual: Menentukan objek rupa utama berdasarkan 1 dari 3 pilihan situasi nyata: (A) Sampah plastik selokan, (B) Asap pembakaran sampah, (C) Penebangan pohon jalanan. (Kriteria penerimaan: murid dapat menyebutkan objek visual konkret yang bersesuaian langsung dengan situasi yang dipilih, misal tumpukan botol plastik untuk opsi A, kepulan asap tebal untuk opsi B, atau batang pohon terpotong untuk opsi C).

Proses:

  • Ceklis observasi pengerjaan gambar komposisi: (1) Penataan komposisi menempatkan objek respon isu lingkungan sebagai fokus visual; (2) Keterpaduan pewarnaan mendukung suasana isu kepedulian lingkungan yang diangkat.

Akhir Pertemuan:

  • Pemeriksaan hasil karya gambar komposisi rupa isu kepedulian lingkungan berdasarkan 2 kriteria: (1) Kejelasan visual objek yang merespon pengalaman isu lingkungan; (2) Keterpaduan unsur rupa dan penyelesaian warna secara tuntas pada bidang gambar A4.

Formatif:

  • Penilaian proses berkarya menggunakan lembar ceklis observasi visual (proporsi penempatan objek utama respon lingkungan, keterpaduan latar, dan kelengkapan pewarnaan).

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Respon Visual Isu Lingkungan Sehari-hariGambar belum memuat objek konkret yang dapat diidentifikasi sebagai respon terhadap pengalaman isu kepedulian lingkungan.Gambar memuat objek isu lingkungan tetapi belum jelas keterkaitannya dengan pengalaman sehari-hari yang diangkat.Gambar memuat objek rupa yang secara jelas dan tepat merespon pengalaman sehari-hari tentang isu kepedulian lingkungan.Gambar memuat objek rupa yang sangat jelas, rinci, dan mendalam dalam merespon pengalaman sehari-hari tentang isu kepedulian lingkungan secara mandiri.
Penyusunan Komposisi GambarObjek-objek digambar secara acak tanpa penataan komposisi dan tanpa latar pendukung.Objek utama sudah ditempatkan pada bidang gambar, tetapi penataan latar dan keseimbangan bidang rupa belum terpadu.Objek utama dan latar tersusun secara padu dalam komposisi yang seimbang serta diselesaikan dengan pewarnaan yang merata.Objek utama, latar depan, dan latar belakang tersusun harmonis dengan komposisi dinamis serta penyelesaian warna yang matang dan tuntas.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah pemilihan materi stimulasi isu lingkungan sehari-hari berhasil memantik empati dan ide visual murid secara kontekstual?
  • Bagaimana efektivitas pembagian alokasi waktu pada tahap pembuatan sketsa hingga penyelesaian pewarnaan karya gambar?

Murid:

  • Bagian mana dari gambar komposisi yang kalian buat yang paling kuat menyampaikan pesan kepedulian terhadap lingkungan?
  • Pengalaman nyata apa yang paling menginspirasi pilihan warna dan objek dalam karyamu hari ini?

Pertemuan 10 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.4.1 Menganalisis unsur rupa dan prinsip desain dalam benda-benda di sekitar yang terkait dengan permasalahan kebersihan lingkungan
  • TP 8.4.2 Mengeksplorasi potensi bahan yang ada di lingkungan sekitar berupa limbah kering untuk persiapan berkarya
  • TP 8.4.3 Mengaplikasikan variasi teknik penggunaan alat dan bahan yang dimiliki untuk berkarya seni rupa fungsional dari bahan limbah lingkungan
  • TP 8.4.4 Membuat karya seni rupa berdasarkan hasil pengamatan terhadap lingkungan sekitar dengan mempertimbangkan fungsi
  • TP 8.4.5 Menghasilkan karya seni rupa untuk merespon pengalaman sehari-hari tentang isu kepedulian lingkungan

Pendahuluan:

  • Guru membuka sesi asesmen sumatif terpadu dengan salam, memeriksa kesiapan meja kerja masing-masing murid, serta mengondisikan suasana ruang kelas yang tenang dan tertib untuk asesmen mandiri (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif bab 4 dan membacakan jadwal pembagian waktu kerja mandiri: 15 menit tugas 1 (analisis & inventarisasi limbah), 35 menit tugas 2 (penyelesaian produk rupa fungsional), dan 22 menit tugas 3 (penyelesaian poster visual isu lingkungan) (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid mencermati lembar kerja tertulis terpadu yang dibagikan guru, menyimak petunjuk pengerjaan 4 butir soal analisis masalah kebersihan lingkungan dan tabel inventarisasi 3 bahan limbah kering, serta memastikan seluruh alat dan bahan berkarya telah siap di meja kerja masing-masing (3 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Tugas 1: Murid secara individual mengerjakan lembar kerja tertulis terpadu serentak di kelas, menjawab 4 butir analisis unsur rupa dan prinsip desain masalah lingkungan (soal 1: identifikasi 2 unsur rupa dominan [garis acak/tidak teratur, bidang tidak beraturan, warna kusam/kontras semrawut, tekstur kasar]; soal 2: analisis ketidakseimbangan visual dan kesatuan akibat tumpukan sampah; soal 3: prinsip ritme/aksentuasi penataan lingkungan bersih; soal 4: solusi penataan berprinsip keseimbangan/proporsi) serta mengisi tabel inventarisasi 3 jenis bahan limbah kering (kardus/kertas tebal, botol plastik/tutup botol, stik kayu/kaleng bekas) yang memuat karakter fisik, tingkat kekeringan, kekuatan struktur, dan kelayakan berkarya (15 menit).
  • Tugas 2: Murid secara mandiri menyelesaikan produk seni rupa fungsional berbahan limbah kering dengan menerapkan variasi teknik (minimal 2 variasi teknik: memotong dengan gunting/cutter, membentuk, melubangi, menyambung/merakit dengan lem tembak/tali pengikat/kawat) sehingga menghasilkan benda berdaya guna (wadah alat tulis/penyimpan barang/pot tanaman gantung) yang kokoh, seimbang, dan berfungsi sesuai hasil rancangan (30 menit).
  • Tugas 3: Murid secara mandiri menuntaskan karya seni rupa poster visual kepedulian lingkungan pada kertas gambar ukuran A4/A3, menerapkan komposisi seimbang antara elemen gambar figur/lingkungan dan teks respon kepedulian lingkungan yang tegas, kontras warna yang jelas, serta menyampaikan pesan ajakan menjaga kebersihan lingkungan secara visual (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid merapikan seluruh artefak portofolio (lembar kerja tertulis, produk fungsional limbah kering, dan poster visual) di atas meja masing-masing, memeriksa kelengkapan nama dan nomor presensi, serta memeriksa kembali kekuatan fisik produk dan kejelasan poster sebelum diserahkan (2 menit).

Penutup:

  • Guru mengumpulkan seluruh berkas portofolio terpadu (lembar kerja analisis, produk karya fungsional, dan poster visual) secara teratur per deret bangku (2 menit).
  • Guru bersama murid melakukan refleksi singkat mengenai ketuntasan seluruh rangkaian berkarya seni rupa untuk lingkungan di Bab 4, memberikan apresiasi atas kemandirian dan integritas murid selama asesmen, kemudian menutup pertemuan dengan doa dan salam (1 menit).

Diferensiasi:

  • Proses: Akomodasi akses: penyesuaian posisi tata letak meja kerja murid untuk keamanan penggunaan alat pemotong/lem tembak dan pemberian instruksi tertulis dengan ukuran teks yang terbaca jelas tanpa mengubah butir tugas, durasi, maupun kriteria penilaian.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pemeriksaan kesiapan artefak dan kelengkapan material limbah kering serta alat berkarya (gunting, cutter, lem perekat, pewarna) di meja masing-masing murid sebelum asesmen dimulai (acuan kesiapan: bahan limbah kering telah bersih, alat pemotong dan penyambung lengkap dan aman digunakan).

Proses:

  • Observasi kepatuhan prosedur keselamatan kerja dan kemandirian eksekusi variasi teknik penyambungan/pemotongan selama unjuk kerja perakitan produk fungsional (acuan: murid bekerja mandiri tanpa bantuan intervensi guru/teman, menerapkan teknik pemotongan dan penyambungan yang terarah).

Sumatif Bab:

  • Portofolio berkarya seni rupa lingkungan terpadu (karya visual poster kepedulian lingkungan, produk karya fungsional limbah kering, dan lembar analisis-eksplorasi): Hasil karya poster visual isu lingkungan, produk seni fungsional dari limbah kering yang dirakit menggunakan variasi teknik, serta lembar kerja terisi yang memuat analisis unsur-prinsip desain dan catatan inventarisasi eksplorasi bahan limbah
  • penilaian lembar kerja tertulis terpadu secara serentak: lembar kerja tertulis yang dikerjakan serentak oleh seluruh murid berisi analisis unsur rupa dan prinsip desain pada masalah kebersihan lingkungan sekitar serta tabel inventarisasi eksplorasi kelayakan bahan limbah kering (20 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian lembar analisis dan inventarisasi bahan)
  • unjuk kerja dan penyelesaian produk seni rupa fungsional secara serentak: proses perakitan menggunakan variasi teknik alat/bahan dan hasil akhir produk seni rupa fungsional berbahan limbah kering berdasarkan pengamatan lingkungan yang diselesaikan serentak di kelas (35 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian produk fungsional dan observasi teknik)
  • penilaian produk karya visual poster secara serentak: karya poster visual yang memuat komposisi gambar dan pesan respon terhadap pengalaman permasalahan kebersihan lingkungan sehari-hari yang dibuat serentak di kelas (25 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian produk visual poster)

Sumatif:

  • Portofolio berkarya seni rupa lingkungan terpadu (karya visual poster kepedulian lingkungan, produk karya fungsional limbah kering, dan lembar analisis-eksplorasi): Hasil karya poster visual isu lingkungan, produk seni fungsional dari limbah kering yang dirakit menggunakan variasi teknik, serta lembar kerja terisi yang memuat analisis unsur-prinsip desain dan catatan inventarisasi eksplorasi bahan limbah
  • penilaian lembar kerja tertulis terpadu secara serentak: lembar kerja tertulis yang dikerjakan serentak oleh seluruh murid berisi analisis unsur rupa dan prinsip desain pada masalah kebersihan lingkungan sekitar serta tabel inventarisasi eksplorasi kelayakan bahan limbah kering (20 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian lembar analisis dan inventarisasi bahan)
  • unjuk kerja dan penyelesaian produk seni rupa fungsional secara serentak: proses perakitan menggunakan variasi teknik alat/bahan dan hasil akhir produk seni rupa fungsional berbahan limbah kering berdasarkan pengamatan lingkungan yang diselesaikan serentak di kelas (35 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian produk fungsional dan observasi teknik)
  • penilaian produk karya visual poster secara serentak: karya poster visual yang memuat komposisi gambar dan pesan respon terhadap pengalaman permasalahan kebersihan lingkungan sehari-hari yang dibuat serentak di kelas (25 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian produk visual poster)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Analisis Unsur Rupa dan Prinsip Desain Masalah Lingkungan (TP 8.4.1)Menganalisis kurang dari 2 butir soal dengan tepat pada lembar kerja analisis visual tumpukan sampah dan kebersihan lingkungan (acuan tepat: butir 1 menyebutkan minimal 2 unsur rupa [garis/bidang/warna/tekstur]; butir 2 menjelaskan ketidakteraturan/ketiadaan kesatuan visual sampah; butir 3 mengidentifikasi ritme/keteraturan penataan lingkungan; butir 4 merumuskan solusi berprinsip keseimbangan/kesatuan).Menganalisis 2 dari 4 butir soal analisis masalah kebersihan lingkungan secara tepat sesuai acuan kunci lembar kerja.Menganalisis 3 dari 4 butir soal analisis masalah kebersihan lingkungan secara tepat sesuai acuan kunci lembar kerja.Menganalisis seluruh 4 butir soal analisis unsur rupa dan prinsip desain kebersihan lingkungan secara tepat dan mendalam sesuai acuan kunci lembar kerja.
Eksplorasi Potensi dan Kelayakan Limbah Kering (TP 8.4.2)Mengisi data inventarisasi kelayakan bahan limbah kering untuk 1 jenis bahan saja atau catatan karakter fisik dan kelayakan tidak sesuai kenyataan bahan (acuan bahan: kardus/kertas tebal, botol/plastik kemasan, stik kayu/kaleng; acuan aspek data: karakter fisik, tingkat kekeringan, kekuatan struktur, kelayakan pakai).Mengisi data inventarisasi kelayakan bahan limbah kering secara lengkap dan tepat untuk 1 dari 3 jenis bahan limbah sesuai acuan.Mengisi data inventarisasi kelayakan bahan limbah kering secara lengkap dan tepat untuk 2 dari 3 jenis bahan limbah sesuai acuan.Mengisi data inventarisasi kelayakan bahan limbah kering secara lengkap, akurat, dan tepat untuk seluruh 3 jenis bahan limbah sesuai acuan.
Pengaplikasian Variasi Teknik Alat-Bahan Limbah (TP 8.4.3)Mengaplikasikan hanya 1 jenis teknik pembentukan/penyambungan secara kurang rapi atau sambungan bahan limbah mudah lepas/tidak kokoh.Mengaplikasikan 1 variasi teknik pemotongan dan 1 teknik penyambungan sederhana dengan kerapian dan kekuatan sambungan yang masih terbatas.Mengaplikasikan 2 variasi teknik penggunaan alat dan bahan (pemotongan teratur dan penyambungan kuat memakai lem/ikatan) secara rapi dan stabil.Mengaplikasikan lebih dari 2 variasi teknik (pemotongan presisi, pelipatan/pembentukan, dan penyambungan terpadu lem/kawat/tali) secara sangat rapi, kokoh, dan presisi.
Pembuatan Karya Seni Rupa Fungsional Berdasarkan Lingkungan (TP 8.4.4)Karya seni rupa dari limbah kering belum mampu menopang fungsi pakai (benda tidak stabil/tidak dapat diisi/tidak dapat digunakan) dan tidak mencerminkan respon lingkungan.Karya seni rupa limbah memiliki bentuk fungsional namun konstruksinya kurang stabil ketika difungsikan.Karya seni rupa limbah berhasil dibuat dengan bentuk terencana, konstruksi stabil, dan berfungsi pakai dengan baik (misal: wadah alat tulis/pot/tempat penyimpanan).Karya seni rupa limbah berhasil dibuat dengan konstruksi sangat kokoh, memiliki nilai fungsi pakai optimal, aman digunakan, serta proporsi bentuknya tertata harmonis.
Penghasilan Poster Respon Isu Lingkungan (TP 8.4.5)Poster memuat komposisi gambar atau pesan teks yang tidak saling berkaitan dengan permasalahan kebersihan lingkungan sekitar.Poster memuat gambar dan pesan teks isu kebersihan lingkungan, namun keterbacaan pesan atau kontras warnanya masih lemah.Poster berhasil menghasilkan komposisi gambar berimbang dengan pesan visual ajakan peduli lingkungan yang jelas dan kontras warna yang menarik.Poster menghasilkan kesatuan komposisi gambar dan teks yang sangat kuat, komunikatif, memiliki daya gugah respon kepedulian lingkungan yang tinggi, serta teknik pewarnaan rapi.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Bagaimana capaian murid pada asesmen sumatif terpadu portofolio ini mencerminkan penguasaan utuh dari analisis lingkungan hingga pembuatan produk seni fungsional dan visual?
  • Aspek manakah di antara penguasaan teknik limbah kering atau kepekaan visual poster yang memerlukan penguatan lebih lanjut pada materi pembelajaran berikutnya?

Murid:

  • Bagaimana pengalamanmu menyelesaikan karya seni fungsional dari sampah kering dan poster lingkungan dalam sesi asesmen mandiri hari ini?
  • Bagian karya mana (produk fungsional limbah atau poster visual) yang paling berhasil kamu selesaikan secara mandiri dan membanggakan dirimu?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Seni Rupa SMP Kelas VIII Kemendikbudristek
  2. Foto dan media dokumentasi tumpukan sampah dan limbah di lingkungan sekitar
  3. Sampel fisik benda limbah kering bersih (botol plastik bekas, potongan kardus, kantong kresek)
  4. Lembar Kerja Analisis Unsur Rupa
  5. Buku Panduan Guru Seni Rupa untuk SMP Kelas VIII (Kemendikbudristek 2021), Bab 4
  6. Foto/dokumentasi situasi kebersihan dan penataan tempat sampah di area sekolah
  7. Kartu visual prinsip desain dan Lembar Kerja Analisis Rupa Lingkungan
  8. Buku Panduan Guru Seni Rupa SMP Kelas VIII (Kemendikbudristek 2021, Unit Lingkungan Sekitar)
  9. Baki spesimen bahan limbah kering bersih (botol plastik PET, tutup botol HDPE, sedotan plastik, kardus kemasan, kertas majalah bekas)
  10. Lembar Kerja Eksplorasi Karakteristik Bahan Limbah Kering
  11. Buku Panduan Guru Seni Rupa untuk SMP Kelas VIII (Kemendikbudristek 2021).
  12. Sampel material limbah kering: kardus gelombang, botol plastik PET, ranting kayu kering padat, kertas koran bekas.
  13. Beban uji tekan standar (misal: botol air 500 ml / beban 500 gram) dan Lembar Eksplorasi Kelayakan Bahan.
  14. Buku Panduan Guru Seni Rupa untuk SMP Kelas VIII (Kemendikbudristek 2021, Bab 4)
  15. Sampel limbah kering bersih: kardus kemasan bergelombang, karton bekas, dan botol air mineral plastik
  16. Alat kerja: cutter, gunting serbaguna, penggaris besi, dan talenan/alas potong (cutting mat)
  17. Buku Panduan Guru Seni Rupa SMP/MTs Kelas VIII
  18. Bahan limbah kering: kardus bekas, botol plastik, stik es krim/bambu, kaleng minuman
  19. Alat perakit: gunting, cutter pemotong, lem tembak (glue gun), lem serbaguna/kertas, kawat ikat halus, benang rami/wol, pembolong kertas/paku pelubang
  20. Lembar Panduan Keselamatan dan Teknik Sambungan Seni Rupa
  21. Buku Panduan Guru Seni Rupa untuk SMP/MTs Kelas VIII (Kemendikbudristek, 2021).
  22. Buku Siswa Seni Rupa Kelas VIII.
  23. Kertas gambar A4, pensil gambar (2B/4B), penghapus, dan penggaris.
  24. Contoh lembar gambar/kartu visual contoh sketsa desain karya fungsional limbah kering.
  25. Buku Panduan Guru Seni Rupa SMP Kelas VIII, Kemendikbudristek RI, 2021
  26. Bahan limbah kering di sekitar (botol plastik bekas, kardus, karton tebal, stik kayu)
  27. Alat berkarya: gunting, cutter, lem tembak/lem fox, selotip/lakban, dan penggaris
  28. Buku Panduan Guru Seni Rupa SMP Kelas VIII (Kemendikbudristek 2021) Bab 4
  29. Kertas gambar A4, pensil gambar 2B, penghapus, dan pewarna kering (pensil warna/krayon/spidol)
  30. Dokumentasi foto/visual isu permasalahan kebersihan dan lingkungan di sekitar sekolah
  31. Buku Panduan Guru Seni Rupa SMP/MTs Kelas VIII (Kemendikbudristek 2021), Unit/Bab 4: Berkarya Seni untuk Lingkungan.
  32. Lembar Kerja Asesmen Sumatif Terpadu Bab 4 (Analisis Unsur-Prinsip Rupa Sampah & Tabel Inventarisasi Limbah Kering).
  33. Material limbah kering yang telah dibersihkan (kardus, botol plastik, stik kayu, kertas bekas, kaleng), perekat (lem tembak/lem fox/kawat), alat potong (gunting/cutter), kertas gambar, spidol/pewarna.

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.