Modul AjarBab 4Fase BSemester 2

Modul Ajar Seni Rupa Kelas 4 Bab 4: Membuat Konstruksi Sederhana

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian Seni Rupa kelas 4 untuk Bab 4 "Membuat Konstruksi Sederhana", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Seni Rupa Kelas 4 Bab 4: Membuat Konstruksi Sederhana

Seni Rupa - Kelas 4

Bab 4

MODUL AJAR

Seni Rupa — Kelas 4 (Fase B)

Topik: Bab 4 — Membuat Konstruksi Sederhana

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranSeni Rupa
Fase / KelasFase B / Kelas 4
TopikBab 4 — Membuat Konstruksi Sederhana
Alokasi Waktu19 JP (19 x 35 menit = 665 menit)
Jumlah Pertemuan7
Tahun Ajaran2026/2027
Semester2

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 4.4.1 Mengidentifikasi unsur rupa bentuk dan prinsip desain keseimbangan dalam benda-benda di sekitar
  2. TP 4.4.2 Mengenali alat dan bahan konstruksi dari benda di sekitar serta prosedur penggunaannya
  3. TP 4.4.3 Menguji coba alat dan bahan konstruksi serta prosedur penggunaannya untuk menyusun miniatur bangunan yang seimbang
  4. TP 4.4.4 Membuat karya seni rupa konstruksi miniatur berdasarkan pengalaman dan hasil pengamatan terhadap lingkungan sekitar

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis✓
Kreativitas✓
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Jika sebuah buku dilipat tepat di garis tengahnya, apakah kedua sisinya sama persis?
  2. Mengapa bentuk potongan batu di halaman terlihat berbeda antara sisi kiri dan kanannya?
  3. Mengapa susunan balok atau kardus bisa berdiri tegak tanpa roboh ke satu sisi?
  4. Bagaimana bentuk bangun ruang pada benda di sekitar kita disusun agar terlihat dan terasa seimbang?
  5. Benda bekas apa saja di sekitar kita yang bentuknya cukup kuat untuk dijadikan bahan bangunan miniatur?
  6. Alat apa yang biasa kita gunakan untuk memotong atau menempelkan benda, dan bagaimana cara memakainya agar tangan kita tetap aman?
  7. Mengapa kardus atau stik kayu yang kita lem kadang mudah lepas saat diberdirikan?
  8. Bagaimana cara kita mengetahui perekat mana yang paling kuat dan cepat menempel untuk bahan miniatur kita?
  9. Mengapa menara atau kerangka bangunan yang bagian bawahnya kecil lebih mudah roboh dibanding yang bawahnya lebar?
  10. Bagaimana cara kita menguji apakah kerangka miniatur yang kita susun sudah cukup kokoh dan seimbang?
  11. Bangunan atau tempat apa di sekitarmu yang paling ingin kamu wujudkan menjadi sebuah miniatur?
  12. Bagaimana caramu merangkai dan menempelkan kardus atau botol bekas agar menjadi bentuk bangunan yang kokoh dan menyerupai aslinya?
  13. Bagaimana caramu membuktikan bahwa miniatur bangunan yang kamu buat seimbang dan kokoh?
  14. Mengapa kita perlu memperhatikan prosedur penggunaan alat perekat yang aman saat menyusun miniatur?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Mengidentifikasi Unsur Rupa Bentuk Simetris dan Asimetris pada Benda-Benda di Sekitar — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.4.1 Mengidentifikasi unsur rupa bentuk dan prinsip desain keseimbangan dalam benda-benda di sekitar

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan mengajak berdoa bersama (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu mengidentifikasi unsur rupa bentuk simetris dan bentuk asimetris pada benda-benda di sekitar (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik dengan memperlihatkan 2 gambar benda di papan tulis: Gambar A (kupu-kupu dengan sayap terbuka) dan Gambar B (serpihan batu karang tak beraturan). Guru meminta murid mengamati garis tengah imajiner dan menyebutkan benda mana yang sisi kiri-kanannya sama persis (acuan: Gambar A = simetris, Gambar B = asimetris) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru memperagakan konsep unsur rupa bentuk simetris (kedua sisi sama persis jika dibagi garis tengah) menggunakan kertas lipat persegi, dan bentuk asimetris (kedua sisi berbeda bentuk atau ukurannya) menggunakan potongan daun sobek tak beraturan (10 menit).
  • Guru menunjukkan 4 contoh gambar benda nyata: (1) daun sirih utuh (simetris), (2) cangkir bergagang satu (asimetris), (3) bingkai foto persegi (simetris), dan (4) gumpalan plastisin acak (asimetris). Murid bersama guru mengamati letak kesamaan atau perbedaan kedua sisinya (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Melalui permainan tantangan berpasangan 'Tebak Kartu Bentuk', murid secara berpasangan bergantian mengambil 6 kartu gambar benda berikut dan mengelompokkannya ke dalam kolom 'Simetris' atau 'Asimetris': (1) penggaris segitiga sama sisi, (2) teko berbelalai satu, (3) botol air minum silinder tegak, (4) ranting pohon bercabang miring, (5) kupu-kupu hinggap tampak depan, (6) sepatu tampak samping. (Acuan: Simetris = 1, 3, 5; Asimetris = 2, 4, 6) (20 menit).
  • Secara mandiri, murid mengerjakan lembar identifikasi berisi 6 benda nyata yang ada di sekitar ruang kelas: (1) permukaan meja tulis segi empat, (2) tas ransel dengan saku samping sebelah, (3) jendela kaca berdaun ganda, (4) jam dinding bulat, (5) gumpalan kertas remas, (6) serutan pensil melengkung bebas. Murid menandai bentuk simetris atau asimetris untuk masing-masing benda. (Acuan: Simetris = 1, 3, 4; Asimetris = 2, 5, 6) (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Guru memfasilitasi murid mengecek hasil lembar identifikasi secara mandiri menggunakan panduan garis tengah sumbu simetri, mencermati benda mana yang sempat salah dikelompokkan dan memeriksa letak perbedaannya (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan ciri utama bentuk simetris (kedua belahan seimbang/sama) dan bentuk asimetris (kedua belahan tidak sama) pada benda sekitar (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap hasil identifikasi murid hari ini, menginformasikan bahwa pengamatan bentuk ini akan dilanjutkan ke bentuk bangun ruang pada pertemuan berikutnya, lalu menutup pembelajaran dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan alat bantu lipatan kertas bergaris tengah merah transparan bagi murid yang membutuhkan panduan visual membagi dua sisi benda.
  • Proses: Bagi murid yang masih kesulitan membedakan, guru mendampingi dengan menunjukkan garis lipatan langsung pada objek konkret; bagi murid yang cepat paham, diberikan tantangan mengidentifikasi 4 benda tambahan di luar kelas (misal: daun mangga, batu kerikil, daun kupu-kupu, potongan ubin terbelah).
  • Produk: Format pengelompokan dapat berupa penandaan centang pada tabel bergambar atau melingkari simbol bentuk.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Identifikasi visual awal melalui 2 gambar di papan tulis: Gambar A (kupu-kupu dengan sayap terbuka) dan Gambar B (serpihan batu karang tak beraturan). Murid diminta menentukan gambar mana yang memiliki kedua sisi sama persis (acuan kunci: Gambar A adalah bentuk simetris, Gambar B adalah bentuk asimetris).

Proses:

  • Pengamatan dan pencatatan unjuk kerja murid saat mengelompokkan 6 kartu benda pada permainan 'Tebak Kartu Bentuk'. Daftar target kartu dan acuan kunci: (1) penggaris segitiga sama sisi -> Simetris, (2) teko berbelalai satu -> Asimetris, (3) botol air minum silinder tegak -> Simetris, (4) ranting pohon bercabang miring -> Asimetris, (5) kupu-kupu hinggap tampak depan -> Simetris, (6) sepatu tampak samping -> Asimetris.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman mandiri melalui lembar identifikasi 6 benda kelas. Daftar butir target dan acuan kunci: (1) meja tulis segi empat = Simetris, (2) tas ransel dengan saku samping sebelah = Asimetris, (3) jendela kaca berdaun ganda = Simetris, (4) jam dinding bulat = Simetris, (5) gumpalan kertas remas = Asimetris, (6) serutan pensil melengkung bebas = Asimetris. Kriteria ketuntasan: minimal 5 dari 6 benda teridentifikasi secara tepat.

Formatif:

  • Pemeriksaan ketepatan pengelompokan pada permainan 'Tebak Kartu Bentuk' (6 butir)
  • Pemeriksaan lembar kerja mandiri identifikasi 6 benda di sekitar ruang kelas (6 butir)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengidentifikasi Unsur Rupa Bentuk Simetris dan Asimetris pada Benda Sekitar (6 benda target: meja tulis segi empat, tas ransel saku samping, jendela kaca berdaun ganda, jam dinding bulat, gumpalan kertas remas, serutan pensil melengkung)Mengidentifikasi dengan tepat 1 sampai 2 dari 6 benda target sesuai acuan kunci.Mengidentifikasi dengan tepat 3 sampai 4 dari 6 benda target sesuai acuan kunci.Mengidentifikasi dengan tepat 5 dari 6 benda target sesuai acuan kunci secara mandiri.Mengidentifikasi dengan tepat seluruh 6 dari 6 benda target sesuai acuan kunci secara mandiri tanpa kekeliruan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah contoh benda konkret dan kartu gambar yang disajikan cukup jelas memperlihatkan perbedaan bentuk simetris dan asimetris bagi seluruh murid?
  • Bagian mana dari aktivitas identifikasi yang paling efektif membantu murid memahami konsep keseimbangan bentuk?

Murid:

  • Benda apa di sekitarmu yang paling mudah kamu kenali sebagai bentuk simetris?
  • Apa kesulitanmu saat menentukan apakah suatu benda termasuk bentuk simetris atau asimetris?

Pertemuan 2 — Mengidentifikasi Prinsip Desain Keseimbangan pada Bangun Ruang Benda di Sekitar — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.4.1 Mengidentifikasi unsur rupa bentuk dan prinsip desain keseimbangan dalam benda-benda di sekitar

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memandu doa bersama (5 menit).
  • Guru mengajak murid mengingat kembali pembelajaran bentuk simetris dan asimetris dari pertemuan sebelumnya, lalu mengaitkannya dengan kestabilan benda bangun ruang di sekitar (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat: menunjukkan 2 gambar tumpukan bangun ruang kardus, yaitu Gambar A (tumpukan kardus besar di bawah dan kecil di atas, berdiri tegak) dan Gambar B (kardus kecil menyangga kardus besar miring condong ke kanan), lalu meminta murid menunjukkan mana tumpukan yang seimbang beserta satu ciri fisiknya (acuan jawaban: Gambar A seimbang karena beban terdistribusi merata dan tegak; Gambar B tidak seimbang/condong miring) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru menyajikan benda bangun ruang konkret dari lingkungan sekitar: kardus pasta gigi (balok), kaleng biskuit/susu (tabung), dan kotak teh (kubus), lalu mendemonstrasikan 2 susunan: susunan seimbang simetris (kiri dan kanan sama berat/bentuk) dan susunan seimbang asimetris (berbeda bentuk namun tidak guling/beban seimbang) (10 menit).
  • Murid secara berpasangan mengamati 4 gambar susunan bangun ruang pada kartu pengamatan: Kartu 1 (dua balok berjejer sama tinggi menopang satu balok panjang di tengah - seimbang simetris), Kartu 2 (satu tabung besar di kiri diimbangi dua balok kecil di kanan pada papan datar - seimbang asimetris), Kartu 3 (balok tinggi diletakkan di tepi ujung balok lain hingga condong dan jatuh - tidak seimbang), dan Kartu 4 (piramida kubus tersusun rapi dari besar di bawah ke kecil di atas - seimbang simetris) (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru mengadakan aktivitas permainan tantangan berpasangan 'Detektif Keseimbangan': setiap pasangan dibagikan 4 set miniatur benda bangun ruang (2 kotak obat balok, 2 kaleng silinder kecil) untuk mencoba menyusunnya menjadi 2 model susunan (satu susunan seimbang simetris dan satu susunan seimbang asimetris) serta 1 model tidak seimbang, lalu menandai prinsip keseimbangan pada lembar kerja (25 menit).
  • Murid mengerjakan Lembar Kerja Pengamatan Keseimbangan secara mandiri dengan mengidentifikasi 4 foto benda konstruksi bangun ruang di sekitar: (1) Menara tumpukan kardus simetris, (2) Bangunan rak bertingkat beban merata asimetris, (3) Tiang kaleng bertumpuk condong hampir roboh, (4) Gerbang balok dua pilar seimbang. Murid menentukan status keseimbangan (seimbang simetris / seimbang asimetris / tidak seimbang) dan mencentang bagian yang menjaga keseimbangannya (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Guru dan murid membahas hasil pengerjaan lembar kerja pengamatan; murid saling memeriksa hasil identifikasinya bersama teman sebangku menggunakan panduan acuan jawaban guru (10 menit).

Penutup:

  • Murid bersama guru menyimpulkan ciri-ciri prinsip desain keseimbangan (simetris dan asimetris) pada tumpukan bangun ruang benda di sekitar (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik penguatan terhadap ketepatan identifikasi murid serta menyampaikan rencana pembelajaran pertemuan berikutnya tentang pengenalan alat dan bahan konstruksi (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan contoh benda bangun ruang nyata berukuran besar untuk murid yang memerlukan dukungan visual konkret, serta lembar foto struktur arsitektur nyata di sekitar untuk murid yang siap tantangan lebih tinggi.
  • Proses: Memberikan bimbingan langsung dan contoh tumpukan 2 objek bagi murid yang kesulitan, serta memberikan tantangan identifikasi 4 tumpukan objek majemuk bagi murid yang cepat memahami.
  • Produk: Murid dapat menunjukkan identifikasi keseimbangan dengan cara melingkari gambar/menjodohkan label pilihan pada lembar kerja atau menyebutkan langsung unsurnya kepada guru.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pengecekan kesiapan kompetensi awal di awal pendahuluan dengan menunjukkan 2 gambar tumpukan bangun ruang kardus: Gambar A (tumpukan balok besar di dasar menyangga balok kecil di atasnya secara tegak lurus) dan Gambar B (balok kecil di bawah menyangga balok besar yang diletakkan miring di sudut). Murid diminta mengidentifikasi gambar mana yang menerapkan keseimbangan kokoh dan menyebutkan alasannya. Acuan jawaban: Gambar A seimbang/kokoh karena posisi beban berada merata di atas tumpuan; Gambar B tidak seimbang karena beban condong dan mudah roboh.

Proses:

  • Lembar Kerja Pengamatan Keseimbangan pada Bangun Ruang Benda di Sekitar. Murid mengidentifikasi 4 gambar konstruksi benda bangun ruang: Butir 1 (Menara tumpukan kardus kubus dan balok tersusun sama sisi kiri-kanan -> Acuan: Seimbang Simetris); Butir 2 (Bangunan rak buku balok dengan sekat berbeda ukuran namun beban tertopang rata -> Acuan: Seimbang Asimetris); Butir 3 (Tumpukan kaleng tabung tersusun miring ke satu sisi -> Acuan: Tidak Seimbang); Butir 4 (Dua pilar tabung menopang satu balok panjang di atasnya -> Acuan: Seimbang Simetris). Aturan penskoran: Setiap butir tepat bernilai 25 (total skor maksimal = 100). Dikatakan tuntas/berkembang jika mengidentifikasi minimal 3 dari 4 butir secara tepat sesuai acuan.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir (exit ticket lisan/tulis singkat): Murid menjawab 1 pertanyaan penutup: 'Jika kita meletakkan kardus balok yang besar di atas kaleng tabung yang sangat kecil dan condong ke kiri, apakah susunan itu seimbang? Mengapa?' Acuan kriteria penerimaan jawaban: Murid menyatakan tidak seimbang karena tumpuan bawah lebih kecil/beban condong ke kiri sehingga tidak ada keseimbangan distribusi bangun ruang.

Formatif:

  • Asesmen diagnostik awal: mengidentifikasi gambar tumpukan bangun ruang seimbang vs tidak seimbang
  • Asesmen formatif proses: lembar kerja identifikasi prinsip desain keseimbangan pada 4 gambar susunan bangun ruang benda di sekitar
  • Observasi unjuk kerja saat aktivitas eksplorasi 'Detektif Keseimbangan' berpasangan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Identifikasi Prinsip Desain Keseimbangan pada Bangun RuangMengidentifikasi 1 atau tidak ada dari 4 susunan bangun ruang (Kartu 1, 2, 3, 4) dengan tepat sesuai acuan prinsip keseimbangan (simetris/asimetris/tidak seimbang).Mengidentifikasi tepat 2 dari 4 susunan bangun ruang (Kartu 1, 2, 3, 4) sesuai acuan prinsip keseimbangan (simetris/asimetris/tidak seimbang) dengan bantuan arahan guru.Mengidentifikasi tepat 3 dari 4 susunan bangun ruang (Kartu 1, 2, 3, 4) sesuai acuan prinsip keseimbangan (simetris/asimetris/tidak seimbang) secara mandiri.Mengidentifikasi seluruh 4 dari 4 susunan bangun ruang (Kartu 1: Seimbang Simetris, Kartu 2: Seimbang Asimetris, Kartu 3: Tidak Seimbang, Kartu 4: Seimbang Simetris) secara tepat dan mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah media benda bangun ruang nyata (kotak bekas, kaleng) efektif membantu murid mengidentifikasi prinsip keseimbangan simetris dan asimetris?
  • Bagian mana dari langkah identifikasi yang paling menantang bagi murid saat membedakan keseimbangan simetris dan asimetris?

Murid:

  • Apa perbedaan susunan bangun ruang yang seimbang simetris dengan yang seimbang asimetris?
  • Mengapa benda bangun ruang yang tidak seimbang bisa mudah roboh?

Pertemuan 3 — Mengenali Alat dan Bahan Konstruksi serta Prosedur Penggunaannya secara Aman — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.4.2 Mengenali alat dan bahan konstruksi dari benda di sekitar serta prosedur penggunaannya

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan memeriksa kehadiran bersama-sama (5 menit).
  • Guru mengaitkan pembelajaran dengan materi bangun ruang sebelumnya dan menyampaikan tujuan belajar hari ini, yaitu mengenali alat dan bahan konstruksi di sekitar serta prosedur penggunaannya secara aman (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menunjukkan 4 benda fisik di depan kelas: (1) kardus bekas kotak obat, (2) botol plastik air mineral, (3) gunting kertas ujung tumpul, dan (4) lem kertas stik, lalu meminta murid menyebutkan fungsi dasar masing-masing (acuan: benda 1 & 2 sebagai bahan bangunan/dinding/tiang; benda 3 sebagai alat potong; benda 4 sebagai alat perekat) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mengamati ragam contoh konkret bahan konstruksi di sekitar (kardus tebal, stik es krim, sedotan plastik, kaleng bekas minuman) dan alat bantu konstruksi (gunting ujung tumpul, selotip kertas, lem putih PVA) yang disiapkan guru (10 menit).
  • Guru mendemonstrasikan prosedur pemakaian alat secara aman: memegang gagang gunting dengan benar, memotong menjauhi tubuh, mengoleskan lem secukupnya menggunakan aplikator stik, serta meletakkan benda tajam di tempat datar tertutup (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid memainkan permainan tantangan berpasangan 'Tebak Aman dan Pilah Cepat': murid mengelompokkan 6 kartu bergambar ke dalam wadah bertuliskan 'Bahan Konstruksi', 'Alat Konstruksi', atau 'Prosedur Aman' [Daftar 6 kartu: Kartu 1: Gambar kotak karton/kardus; Kartu 2: Gambar kaleng biskuit bekas; Kartu 3: Gambar gunting kertas tumpul; Kartu 4: Gambar selotip kertas; Kartu 5: Gambar tangan memegang gagang gunting menjauhi jari; Kartu 6: Gambar membersihkan sisa lem dengan lap kain] (acuan: Kartu 1 & 2 = Bahan Konstruksi; Kartu 3 & 4 = Alat Konstruksi; Kartu 5 & 6 = Prosedur Aman) (25 menit).
  • Murid secara individu mengerjakan Lembar Pengenalan Konstruksi berisi tugas menjodohkan 4 pasangan alat/bahan dengan fungsinya dan menentukan prosedur keselamatan kerja [Butir soal: 1. Kardus bekas; 2. Gunting anak; 3. Selotip kertas; 4. Lem PVA. Pasangan fungsi: A. Alat potong kertas/karton; B. Bahan utama dinding kerangka; C. Perekat cepat sementara; D. Perekat kuat pori-pori kertas. Prosedur: memilih tanda centang pada pernyataan aman saat memotong: 'Mengarahkan mata gunting menjauhi anggota tubuh' vs 'Menggunting sambil bercanda'] (acuan kunci: 1-B, 2-A, 3-C, 4-D; prosedur aman yang dicentang adalah 'Mengarahkan mata gunting menjauhi anggota tubuh') (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali hasil pemilahan dan lembar kerjanya, lalu mengidentifikasi alat atau bahan mana yang paling mereka pahami cara kerja serta aturan keselamatannya (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap pengerjaan lembar kerja dan mengonfirmasi ketepatan pengenalan alat, bahan, serta prosedur aman (acuan: fungsi kardus, gunting, selotip, lem, dan aturan menggunting menjauhi tubuh) (3 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan bahwa setiap alat dan bahan konstruksi memiliki fungsi tertentu dan harus digunakan sesuai prosedur keselamatan agar aman (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang memerlukan pendampingan diberikan contoh fisik benda nyata secara langsung untuk diraba teksturnya; murid yang cepat diberikan kartu tambahan berisi 2 bahan lain (karton duplex dan tusuk sate tumpul) beserta fungsi dan aturan amannya.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan didampingi guru saat mencocokkan alat dengan prosedur aman; murid mandiri menyelesaikan klasifikasi secara independen.
  • Produk: Semua murid menyelesaikan lembar kerja pengenalan alat, bahan, dan prosedur keselamatan dengan target acuan yang sama.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik di awal pembelajaran menggunakan 4 benda nyata: kotak obat bekas, botol plastik, gunting tumpul, dan lem stik. Kriteria ketercapaian awal: murid dapat mengenali minimal 3 dari 4 benda tersebut sesuai perannya sebagai alat atau bahan (acuan: kotak obat & botol plastik = bahan; gunting tumpul = alat potong; lem stik = alat/bahan perekat).

Proses:

  • Penilaian unjuk kerja pada permainan pemilahan 6 kartu: murid tepat memasukkan kartu ke wadah Bahan Konstruksi (kardus, kaleng bekas), wadah Alat Konstruksi (gunting, selotip), dan wadah Prosedur Aman (memegang gunting menjauhi jari, mengelap sisa lem) dengan target minimal 5 kartu tepat.
  • Pemeriksaan Lembar Pengenalan Konstruksi: ketepatan menjodohkan 4 pasang alat/bahan (kardus ke B, gunting ke A, selotip ke C, lem ke D) serta ketepatan memilih 1 pernyataan prosedur aman (memilih 'Mengarahkan mata gunting menjauhi anggota tubuh').

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman singkat di akhir sesi: murid menyebutkan secara lisan atau memberi isyarat tanda setuju/tidak setuju terhadap 2 pernyataan prosedur aman berikut: (1) 'Gunting dibawa dengan posisi ujung runcing menghadap ke bawah saat berjalan' (acuan: Benar); (2) 'Mengoleskan lem langsung ke mata pisau gunting' (acuan: Salah).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja saat permainan memilah kartu bahan, alat, dan prosedur aman
  • Pemeriksaan lembar kerja pengenalan alat, bahan, dan prosedur keselamatan konstruksi

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengenali Alat dan Bahan Konstruksi Benda di SekitarMengenali kurang dari 2 dari 4 pasangan alat dan bahan konstruksi dengan fungsinya (acuan kunci: kardus bekas - bahan utama kerangka; gunting anak - alat potong; selotip kertas - perekat cepat; lem PVA - perekat kuat) dengan bimbingan penuh.Mengenali 2 dari 4 pasangan alat dan bahan konstruksi dengan fungsinya sesuai acuan secara tepat.Mengenali 3 dari 4 pasangan alat dan bahan konstruksi dengan fungsinya sesuai acuan secara tepat.Mengenali seluruh 4 pasangan alat dan bahan konstruksi dengan fungsinya sesuai acuan secara tepat dan mandiri.
Mengenali Prosedur Penggunaan Alat dan Bahan secara AmanBelum tepat mengenali prosedur keselamatan kerja penggunaan alat/bahan konstruksi meskipun diarahkan guru.Mengenali 1 contoh prosedur keselamatan kerja pemakaian alat/bahan (misalnya: memegang gagang gunting menjauhi tubuh) dengan bantuan guru.Mengenali 2 contoh prosedur keselamatan kerja pemakaian alat dan bahan (memotong menjauhi tubuh dan membersihkan/merapikan sisa lem setelah dipakai) sesuai acuan secara tepat.Mengenali seluruh contoh prosedur keselamatan kerja pemakaian alat dan bahan secara konsisten, tepat, dan mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah demonstrasi prosedur keselamatan penggunaan alat potong dan perekat sudah cukup jelas dipahami oleh seluruh murid?
  • Apakah murid mengalami kesulitan dalam membedakan kategori antara bahan konstruksi dengan alat bantu konstruksi?

Murid:

  • Benda apa saja yang sekarang kamu tahu bisa dipakai sebagai bahan membuat bangunan miniatur?
  • Apa hal paling penting yang harus kamu ingat saat memegang gunting agar tanganmu tetap aman?

Pertemuan 4 — Menguji Coba Alat, Bahan, dan Prosedur Perekatan Miniatur Bangunan — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.4.3 Menguji coba alat dan bahan konstruksi serta prosedur penggunaannya untuk menyusun miniatur bangunan yang seimbang

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, menyapa murid, dan mengajak berdoa bersama (3 menit).
  • Guru melakukan apersepsi dan asesmen diagnostik singkat dengan menunjukkan 2 contoh sambungan bahan miniatur: sambungan A (karton ditempel lem kertas cair tetapi lepas karena basah) dan sambungan B (karton ditempel selotip kertas menempel kuat tegak) lalu menanyakan mana teknik perekatan yang tepat (4 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu menguji coba berbagai alat dan bahan perekat serta prosedur penggunaannya agar sambungan miniatur bangunan merekat kuat dan seimbang (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mengamati demonstrasi guru tentang 3 kombinasi alat/bahan perekat pada dua jenis material konstruksi: (1) stik es krim dengan lem kayu, (2) karton tebal/kardus dengan selotip kertas (masking tape), dan (3) potongan karton dengan lem stik (gluestick) (5 menit).
  • Murid berdiskusi terpimpin dalam kelompok kecil (3-4 orang) mengenai prosedur pengeleman yang aman dan efektif, meliputi: takaran perekat secukupnya, penekanan bidang sambungan selama 10-15 detik, dan waktu tunggu pengeringan (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Tantangan 'Uji Kekuatan Sambungan 3 Menit': Secara berpasangan/berkelompok, murid melakukan eksperimen langsung menguji coba 3 prosedur perekatan pada 3 pasang material uji yang disediakan: Uji 1 (Kardus + Lem Kayu), Uji 2 (Kardus + Selotip Kertas), dan Uji 3 (Kardus + Lem Stik) (10 menit).
  • Murid menerapkan prosedur pengujian beban dan kestabilan: setelah direkatkan dan ditunggu 3 menit, sambungan digoyangkan perlahan dan diberi beban ringan (1 buah penghapus pensil) untuk mengamati apakah sambungan tetap kokoh dan tidak bergeser (15 menit).
  • Murid mencatat hasil uji coba perekatan pada lembar uji konstruksi (mencatat apakah sambungan: 'Kuat/Kokoh', 'Goyang/Kurang Kuat', atau 'Lepas') (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama kelompok membandingkan hasil uji coba mereka: mengidentifikasi perekat mana yang paling efektif dan kokoh untuk menyambung rangka miniatur kardus (5 menit).
  • Murid menyimpulkan prosedur perekatan terbaik (misalnya: meratakan lem tipis-tipis lalu menekan sambungan dengan stabil) untuk persiapan membuat kerangka miniatur di pertemuan berikutnya (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik atas jalannya uji coba teknik perekatan yang dilakukan oleh seluruh kelompok (3 menit).
  • Guru dan murid merapikan kembali sisa bahan, alat perekat, serta meja kerja agar bersih dan aman (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan pilihan jenis perekat tambahan (seperti double tape busa atau selotip bening) untuk kelompok yang telah menyelesaikan 3 pengujian awal dengan cepat.
  • Proses: Memberikan pendampingan langsung dan panduan langkah demi langkah dalam menakar lem bagi murid yang masih kesulitan merekatkan sambungan secara rapi.
  • Produk: Murid menuangkan hasil uji coba dalam bentuk tabel ceklis berkode warna sederhana atau catatan deskriptif singkat kekuatan sambungan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik di awal pembelajaran: Guru menunjukkan 2 sambungan bahan: Sambungan 1 (kardus dengan lem cair berlebih hingga basah dan lepas) dan Sambungan 2 (kardus dengan selotip kertas yang terpasang rapi dan tegak). Pertanyaan: 'Sambungan manakah yang tepat dan kokoh untuk membuat dinding miniatur bangunan?' (Kunci jawaban acuan: Sambungan 2, karena selotip menempel rapat tanpa merusak tekstur kardus dan posisi sambungan tegak seimbang).

Proses:

  • Penilaian unjuk kerja saat murid melakukan 3 uji coba perekatan: (1) Uji Kardus + Lem Kayu, (2) Uji Kardus + Selotip Kertas, (3) Uji Kardus + Lem Stik. Guru mengamati ketepatan penerapan prosedur perekatan (penakaran perekat, penekanan bidang sambung) dan stabilitas sambungan saat diuji beban penghapus pensil. (Acuan hasil uji yang tepat: Uji 1 kokoh setelah kering, Uji 2 langsung kokoh dan mampu menahan beban penghapus pensil, Uji 3 lepas/kurang kokoh karena lem stik tidak mengikat serat tebal kardus).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman di akhir sesi melalui verifikasi lembar hasil uji coba: Murid menunjukkan lembar catatan uji coba yang memuat evaluasi kekuatan 3 sambungan perekat (Kardus+Lem Kayu, Kardus+Selotip Kertas, Kardus+Lem Stik) beserta 1 prosedur perekatan yang paling efektif (Acuan kriteria: mencantumkan minimal 1 pasangan alat/bahan perekat yang paling kokoh [misal: selotip kertas atau lem kayu yang ditekan] dan menyebutkan prosedur penekanan/pengeringan secara benar).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja uji coba perekatan bahan konstruksi
  • Lembar hasil uji coba daya rekat sambungan miniatur

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Pengujian Alat dan Bahan Perekat KonstruksiHanya menguji coba 1 kombinasi perekat dan sambungan masih terlepas tanpa pengamatan stabilitas.Menguji coba 2 kombinasi alat/bahan perekat dengan prosedur penempelan dasar tetapi belum stabil menahan beban.Menguji coba 3 kombinasi alat dan bahan perekat (kardus dengan lem kayu, selotip kertas, lem stik) sesuai prosedur serta mencatat kekuatan sambungannya secara tepat.Menguji coba seluruh 3 kombinasi alat dan bahan perekat secara mandiri, cermat, serta mampu menguji variasi posisi sambungan (sudut dan datar) hingga berdiri kokoh dan seimbang.
Penerapan Prosedur Perekatan yang Aman dan KokohBelum menerapkan prosedur penakaran perekat dan penekanan sambungan sehingga bahan rusak atau lepas.Menerapkan prosedur perekatan dengan takaran perekat yang cukup namun belum konsisten menekan hingga sambungan mengering stabil.Menerapkan prosedur perekatan secara runtut (penakaran lem secukupnya, penekanan 10-15 detik, pengeringan) sehingga sambungan terpasang rapi dan kokoh.Menerapkan prosedur perekatan secara sangat rapi, bersih, efisien tanpa lem tercecer, serta menghasilkan sambungan yang presisi dan seimbang.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu uji coba 3 jenis perekat cukup memfasilitasi setiap kelompok untuk mengamati proses pengeringan?
  • Bagaimana tingkat partisipasi dan kerja sama murid saat melakukan eksperimen kekuatan sambungan konstruksi?

Murid:

  • Perekat apa yang menurutmu paling mudah dan paling kuat digunakan untuk menyambung kardus?
  • Kesulitan apa yang kamu temukan saat menunggu lem merekat dan mengering pada sambungan miniaturmu?

Pertemuan 5 — Menguji Coba Penyusunan Kerangka Miniatur Bangunan yang Seimbang dan Kokoh — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.4.3 Menguji coba alat dan bahan konstruksi serta prosedur penggunaannya untuk menyusun miniatur bangunan yang seimbang

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan mengajak murid berdoa bersama (2 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-5, yaitu menguji coba susunan kerangka miniatur bangunan agar berdiri seimbang dan kokoh (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen diagnostik singkat dengan menampilkan dua gambar susunan kerangka balok: Gambar A (balok besar di bawah, balok sedang di tengah, balok kecil di atas) dan Gambar B (balok kecil di bawah, balok besar di atas), lalu meminta murid memilih kerangka yang paling stabil dan tidak mudah runtuh (acuan: Gambar A karena bidang tumpuan bawah lebih luas dan seimbang) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mengamati demonstrasi guru tentang prosedur penyusunan kerangka miniatur bertingkat menggunakan stik kayu/kardus bekas dengan memperhatikan peletakan beban dasar yang lebih lebar agar tidak mudah miring (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Dalam kelompok kerja berpasangan, murid melaksanakan tantangan menggembirakan 'Uji Tiup dan Sentuh Kerangka': murid merakit susunan kerangka miniatur 3 tingkat dari bahan stik kayu/potongan kardus bekas dengan perekat yang telah diuji pada pertemuan sebelumnya (20 menit).
  • Murid menguji coba kekokohan dan keseimbangan kerangka rakitannya dengan melakukan dua prosedur uji: (1) uji ketegakan tanpa dipegang selama 10 detik, dan (2) uji ketahanan hembusan angin/tiupan ringan; jika kerangka miring atau rubuh, murid memperbaiki susunan dasar kerangka menjadi lebih simetris atau melebar (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Setiap pasangan mencatat hasil uji coba pada lembar ceklist stabilitas (apakah tegak stabil, agak miring, atau roboh) dan menyimpulkan posisi peletakan bahan yang paling kokoh untuk kerangka mereka (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan prinsip utama kerangka kokoh: tumpuan bawah harus seimbang, rata, dan proporsional menahan beban atas (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap proses uji coba kerangka hari ini, mengingatkan murid untuk menyimpan kerangka yang sudah berhasil diuji untuk persiapan karya pertemuan berikutnya, serta menutup sesi pembelajaran dengan doa dan salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan visual pola susunan kerangka bertumpu segitiga/segi empat yang stabil; murid mahir diberikan variasi bentuk bahan kerangka berukuran berbeda.
  • Proses: Bimbingan langsung diberikan kepada kelompok yang kerangkanya roboh saat uji tiup untuk memperbaiki pondasi bawah; kelompok mandiri langsung menguji variasi ketinggian kerangka.
  • Produk: Semua murid menghasilkan bukti uji coba kerangka bangunan sederhana yang mampu berdiri tegak dan seimbang tanpa dipegang minimal 10 detik.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik visual pemahaman stabilitas kerangka: Murid mengamati Gambar A (kerangka melebar di dasar) dan Gambar B (kerangka meruncing di dasar terbalik), lalu menentukan susunan mana yang stabil. Kunci acuan: Gambar A stabil karena dasar penyangga lebih lebar dan menopang beban di atasnya secara seimbang.

Proses:

  • Pengamatan langsung saat murid melakukan uji coba perakitan dan pengujian stabilitas kerangka. Kriteria ketercapaian: (1) kerangka dapat berdiri tegak tanpa ditopang tangan minimal 10 detik; (2) kerangka tidak roboh saat diberi hembusan tiupan angin ringan; (3) mampu melakukan penyesuaian susunan bahan jika kerangka miring.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman singkat di akhir kegiatan: Murid menjawab pertanyaan singkat tentang cara memperbaiki kerangka yang miring (kriteria penerimaan: murid menyebutkan tindakan operasional seperti melebarkan dasar kerangka, menyamakan tinggi tiang penopang, atau mengurangi beban di bagian atas).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja saat murid menguji coba susunan kerangka (uji berdiri 10 detik dan uji tiup ringan) menggunakan lembar ceklist ketercapaian.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Pengujian Prosedur Penyusunan Kerangka Seimbang dan KokohKerangka tidak dapat berdiri tegak sendiri, roboh saat dilepas, dan belum mampu mengidentifikasi bagian susunan yang tidak seimbang.Kerangka dapat berdiri tegak kurang dari 10 detik lalu miring/roboh, dan memerlukan bantuan guru untuk memperbaiki susunan tumpuan dasar.Kerangka mampu berdiri tegak mandiri minimal 10 detik dan tetap kokoh saat diberi tiupan ringan dengan menerapkan susunan tumpuan seimbang secara tepat.Kerangka mampu berdiri tegak kokoh dan seimbang sempurna saat diuji tiupan ringan, serta secara mandiri mampu menyesuaikan distribusi beban kerangka agar lebih stabil tanpa arahan guru.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah langkah uji coba kerangka memberikan ruang yang cukup bagi murid untuk bereksplorasi dan belajar dari kesalahan susunan yang roboh?
  • Apakah alokasi waktu 70 menit mencukupi bagi setiap kelompok untuk merakit dan menguji kerangka secara berulang?

Murid:

  • Bagian mana dari kerangka buatan kelompokmu yang paling sulit dibuat seimbang?
  • Apa yang kamu ubah pada susunan kerangka agar tidak mudah roboh saat ditiup?

Pertemuan 6 — Membuat Karya Seni Rupa Konstruksi Miniatur Sederhana Berdasarkan Lingkungan Sekitar — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.4.4 Membuat karya seni rupa konstruksi miniatur berdasarkan pengalaman dan hasil pengamatan terhadap lingkungan sekitar

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan belajar murid, dan meminta salah seorang murid memimpin doa bersama (5 menit).
  • Guru melakukan diagnostik awal singkat: murid diminta mengangkat salah satu bahan utama yang dibawanya dan menyebutkan objek bangunan sekitar yang menjadi inspirasi rancangannya (misalnya: rumah, sekolah, pos ronda, atau toko warung) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mengamati model contoh diorama bangunan sekolah dari kotak sepatu dan botol plastik serta menyimak penjelasan tahapan pembuatan konstruksi: pembuatan struktur dasar/dinding, pemasangan atap, dan penambahan elemen detail lingkungan (15 menit).
  • Murid bermain tantangan seru 'Tebak Fungsi Bahan': guru menunjukkan 3 bahan bekas (kotak pasta gigi, tutup botol galon, dan stik es krim), lalu murid secara bergiliran cepat menebak bagian konstruksi bangunan apa yang paling cocok dibuat dari bahan tersebut (kunci acuan: kotak pasta gigi = menara/tiang, tutup botol galon = tangki air/kubah, stik es krim = pagar/kusen jendela) (10 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyiapkan seluruh alat dan bahan konstruksi dari benda di sekitar (kardus, botol plastik bekas, stik es krim, lem kertas/kayu/selotip) secara mandiri di meja kerja masing-masing (10 menit).
  • Murid secara mandiri merekatkan dan menyusun bagian kerangka utama dan dinding miniatur bangunan sesuai rancangan pengalaman/lingkungan yang dipilih hingga mampu berdiri kokoh (20 menit).
  • Murid memasang bagian atap serta melengkapi detail miniatur (pintu, jendela, atau elemen pagar/halaman sekitar) dengan teknik perekatan yang rapi dan kuat (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid menguji kekokohan konstruksi buatannya dengan meletakkannya di permukaan datar tanpa dipegang, lalu memeriksa apakah bentuk miniatur telah mewakili bangunan lingkungan sekitar yang diamatinya (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan proses pembuatan karya seni rupa konstruksi miniatur sederhana dari bahan sekitar (5 menit).
  • Guru memberikan penguatan terhadap hasil karya murid, menginstruksikan murid merapikan sisa bahan/meja kerja, dan menyampaikan rencana asesmen pada pertemuan berikutnya (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid dapat memilih objek konstruksi bangunan di sekitarnya (rumah sederhana, warung, pos ronda, musala, atau gedung sekolah) sesuai pengalaman masing-masing.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan didampingi dalam teknik pengeleman struktur dasar agar kokoh, sedangkan murid yang sudah mahir diberi tantangan membuat variasi detail bertingkat atau tambahan elemen pelengkap.
  • Produk: Konstruksi miniatur bangunan sederhana yang proporsional, seimbang, dan kokoh dengan tingkat kompleksitas bentuk sesuai kemampuan murid.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik lisan penentuan inspirasi objek: Murid menyebutkan 1 objek bangunan di sekitar yang akan dibuat beserta bahan utama yang disiapkan. Kriteria penerimaan: Objek nyata dari lingkungan sekitar (contoh acuan: rumah tinggal, pos satpam/ronda, warung kelontong, ruang kelas sekolah) dengan bahan berbobot volume (kardus kotak/botol plastik).

Proses:

  • Pengamatan kinerja perakitan konstruksi miniatur: Guru mengamati keterlaksanaan 3 tahapan teknis perakitan (1. Penyusunan badan/dinding struktur; 2. Pemasangan bagian penutup/atap; 3. Perekatan yang kuat hingga berdiri mandiri tanpa roboh).

Akhir Pertemuan:

  • Pemeriksaan produk akhir konstruksi miniatur: Konstruksi diperiksa berdasarkan kriteria penerimaan karya: (1) Menampilkan bentuk fisik miniatur bangunan yang dapat dikenali menyerupai objek lingkungan sekitar; (2) Mampu berdiri seimbang dan kokoh di atas meja tanpa ditopang tangan; (3) Sambungan antarbagian merekat erat.

Formatif:

  • Asesmen diagnostik kesiapan gagasan bentuk bangunan lingkungan sekitar di awal pembelajaran
  • Asesmen unjuk kerja/kinerja proses perakitan konstruksi miniatur sederhana selama kegiatan inti menggunakan lembar observasi ketercapaian

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kesesuaian Bentuk Konstruksi dengan Objek Lingkungan SekitarKarya miniatur belum menampakkan karakteristik bentuk bangunan dari lingkungan sekitar.Karya miniatur mulai menampakkan ciri bentuk bangunan lingkungan sekitar namun bentuk dasarnya belum terdefinisi secara jelas.Karya miniatur berhasil menampakkan bentuk dasar bangunan dari lingkungan sekitar (memiliki bagian badan/dinding dan atap yang jelas).Karya miniatur secara detail dan jelas menampilkan bentuk bangunan dari lingkungan sekitar lengkap dengan unsur tambahan (seperti pintu, jendela, atau tiang) secara proporsional.
Kekokohan dan Keseimbangan Konstruksi MiniaturKonstruksi miniatur tidak dapat berdiri sendiri dan sambungan bahan mudah terlepas.Konstruksi miniatur dapat berdiri namun masih goyah dan beberapa sambungan bahan kurang rekat.Konstruksi miniatur dapat berdiri seimbang di bidang datar secara mandiri dengan sambungan bahan yang merekat kokoh.Konstruksi miniatur berdiri sangat seimbang, tegak kokoh di bidang datar, serta seluruh sambungan perekatan bahan sangat kuat dan rapi.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah pengelolaan waktu dalam membimbing proses perekatan dan perakitan konstruksi miniatur berjalan efisien?
  • Bagaimana variasi bahan bekas yang dibawa murid memengaruhi kemudahan dalam menyusun bentuk bangunan yang seimbang?

Murid:

  • Bagian mana dari pembuatan miniatur bangunan ini yang paling menantang untuk direkatkan?
  • Apakah miniatur bangunan yang kamu buat sudah bisa berdiri tegak dan mirip dengan bangunan aslinya di sekitar?

Pertemuan 7 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 4.4.1 Mengidentifikasi unsur rupa bentuk dan prinsip desain keseimbangan dalam benda-benda di sekitar
  • TP 4.4.2 Mengenali alat dan bahan konstruksi dari benda di sekitar serta prosedur penggunaannya
  • TP 4.4.3 Menguji coba alat dan bahan konstruksi serta prosedur penggunaannya untuk menyusun miniatur bangunan yang seimbang
  • TP 4.4.4 Membuat karya seni rupa konstruksi miniatur berdasarkan pengalaman dan hasil pengamatan terhadap lingkungan sekitar

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan memimpin doa bersama secara khidmat (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif Bab 4 serta membacakan alur penilaian: unjuk kerja lisan singkat di meja guru serentak dengan penyiapan bahan, dilanjutkan perakitan mandiri miniatur bangunan (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid menyimak penjelasan guru mengenai kriteria rubrik sumatif: ketepatan identifikasi bentuk simetris/asimetris, prosedur keselamatan alat perekat, uji coba kestabilan sambungan, serta keseimbangan dan kekokohan produk akhir (5 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid secara bergiliran maju ke meja guru (alokasi 1,25 menit per murid, total 28 murid) untuk tes lisan dan unjuk kerja singkat, sementara murid lain di mejanya masing-masing menata bahan konstruksi daur ulang (kardus, botol, stik, lem) yang dibawa. Pada tes ini, guru menunjukkan 2 benda (kotak susu simetris dan botol detergen dengan pegangan asimetris) serta 1 lem kertas dan gunting; murid menyebutkan: (1) bentuk kotak susu simetris, (2) bentuk botol detergen asimetris, (3) fungsi bahan sebagai dinding/tiang/atap, dan (4) prosedur aman penggunaan gunting (mengarahkan bilah menjauhi badan dan menutup penutup lem setelah pakai) (35 menit).
  • Seluruh murid secara serentak dan mandiri melakukan perakitan konstruksi miniatur bangunan, menguji coba kekuatan perekat pada sambungan bawah/kerangka, serta menyusun bagian-bagian bangunan hingga berdiri tegak, seimbang, dan kokoh (50 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid meletakkan karya di atas meja masing-masing untuk diobservasi kekokohannya oleh guru (dengan tes sentuh ringan untuk melihat keseimbangan struktur), lalu murid memeriksa apakah miniatur bangunannya dapat berdiri tanpa ditopang tangan (5 menit).

Penutup:

  • Guru melakukan rekapitulasi singkat pelaksanaan asesmen sumatif dan memberikan apresiasi atas kemandirian seluruh murid dalam menyelesaikan konstruksi miniatur (2 menit).
  • Guru menutup pertemuan dengan doa penutup dan instruksi merapikan meja kerja masing-masing (1 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Tidak ada modifikasi materi sumatif; materi benda uji lisan terstandar sama untuk semua murid.
  • Proses: Pemberian penataan ruang kerja yang ergonomis bagi murid dengan hambatan motorik halus tanpa mengubah batas waktu pengerjaan.
  • Produk: Format miniatur bangunan bebas sesuai ide bangunan murid di lingkungan sekitar asalkan memenuhi indikator kekokohan dan keseimbangan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tidak dilaksanakan pada sesi sumatif ini (fokus penuh pada pelaksanaan asesmen sumatif bab).

Proses:

  • Observasi keterlaksanaan uji coba perekatan dan kerangka mandiri selama 50 menit pengerjaan serentak menggunakan lembar ceklis observasi.

Sumatif Bab:

  • penilaian kinerja dan produk konstruksi miniatur bangunan sederhana secara serentak: hasil identifikasi bentuk dan keseimbangan secara lisan singkat, lembar cek prosedur penggunaan alat/bahan, proses uji coba perakitan, serta karya produk miniatur bangunan dari bahan sekitar yang berdiri seimbang dan kokoh
  • unjuk kerja dan tes lisan singkat bergiliran di meja guru: kinerja tiap murid menunjukkan bentuk simetris/asimetris serta menyebutkan fungsi bahan bekas dan prosedur perekat secara aman dinilai 1,25 menit per murid di meja guru secara bergiliran saat kelas menyiapkan bahan (35 menit / 1,25 menit = 28 murid, tuntas satu kelas) (35 menit; individual; instrumen: lembar ceklis observasi identifikasi bentuk dan pengenalan prosedur alat-bahan)
  • penilaian kinerja proses dan produk konstruksi: proses pengujian perekatan struktur serta produk akhir miniatur bangunan dari bahan sekitar yang dikerjakan serentak oleh seluruh murid dan dinilai berdasarkan kekokohan serta keseimbangan karya (70 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian kinerja perakitan dan produk konstruksi miniatur)

Sumatif:

  • penilaian kinerja dan produk konstruksi miniatur bangunan sederhana secara serentak: hasil identifikasi bentuk dan keseimbangan secara lisan singkat, lembar cek prosedur penggunaan alat/bahan, proses uji coba perakitan, serta karya produk miniatur bangunan dari bahan sekitar yang berdiri seimbang dan kokoh
  • unjuk kerja dan tes lisan singkat bergiliran di meja guru: kinerja tiap murid menunjukkan bentuk simetris/asimetris serta menyebutkan fungsi bahan bekas dan prosedur perekat secara aman dinilai 1,25 menit per murid di meja guru secara bergiliran saat kelas menyiapkan bahan (35 menit / 1,25 menit = 28 murid, tuntas satu kelas) (35 menit; individual; instrumen: lembar ceklis observasi identifikasi bentuk dan pengenalan prosedur alat-bahan)
  • penilaian kinerja proses dan produk konstruksi: proses pengujian perekatan struktur serta produk akhir miniatur bangunan dari bahan sekitar yang dikerjakan serentak oleh seluruh murid dan dinilai berdasarkan kekokohan serta keseimbangan karya (70 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian kinerja perakitan dan produk konstruksi miniatur)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Identifikasi Bentuk dan Keseimbangan (TP 4.4.1)Keliru mengidentifikasi kedua objek rupa (tidak mampu menentukan bentuk simetris maupun asimetris pada kedua benda acuan: kotak susu dan botol bertangkai).Tepat mengidentifikasi 1 dari 2 bentuk objek acuan (hanya tepat menyebut simetris pada kotak susu ATAU asimetris pada botol bertangkai).Tepat mengidentifikasi 2 dari 2 bentuk objek acuan (menyebut kotak susu simetris dan botol bertangkai asimetris) namun memerlukan dorongan pertanyaan panduan dari guru.Tepat mengidentifikasi 2 dari 2 bentuk objek acuan secara mandiri dan lugas (menyebut kotak susu simetris dan botol bertangkai asimetris).
Pengenalan Bahan dan Prosedur Aman Alat Konstruksi (TP 4.4.2)Tidak dapat menyebutkan fungsi bahan dan tidak dapat menyebutkan prosedur aman penggunaan alat perekat/pemotong.Menyebutkan 1 dari 2 acuan prosedur/alat: hanya menyebutkan fungsi bahan atau hanya menyebutkan cara penggunaan perekat/gunting secara aman.Menyebutkan 2 dari 2 acuan: fungsi bahan konstruksi (misal kardus untuk lantai/dinding) dan prosedur aman penggunaan alat (memotong menjauh dari badan / menutup lem) dengan sedikit jeda ragu.Menyebutkan 2 dari 2 acuan: fungsi bahan konstruksi dan prosedur aman alat secara tepat, runtut, dan mandiri.
Uji Coba Perekatan dan Kerangka Bangunan (TP 4.4.3)Sambungan tidak menempel/mudah lepas sehingga kerangka miniatur langsung roboh saat dicoba diberdirikan.Mencoba merekatkan kerangka, namun sebagian sambungan masih longgar dan goyah saat diuji coba berdiri.Menguji coba perekatan hingga kerangka miniatur dapat berdiri, terdapat sambungan yang sedikit miring namun tetap menyatu.Menguji coba dan memastikan seluruh titik sambungan kerangka terekat dengan kuat, presisi, dan tidak lepas saat diuji berdiri.
Produk Karya Seni Rupa Konstruksi Miniatur (TP 4.4.4)Karya miniatur belum tersusun membentuk wujud bangunan dan tidak mampu berdiri tegak mandiri.Karya membentuk miniatur bangunan tetapi tidak seimbang (harus disangga/ditahan benda lain agar tidak tumbang).Karya membentuk miniatur bangunan utuh dari bahan sekitar yang mampu berdiri tegak dan seimbang tanpa ditopang.Karya membentuk miniatur bangunan utuh dari bahan sekitar yang berdiri tegak mandiri, memiliki struktur konstruksi yang sangat seimbang, kokoh, dan rapi.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 1,25 menit per murid untuk tes lisan di meja guru berjalan efektif tanpa mengganggu konsentrasi murid lain yang sedang menata bahan?
  • Bagaimana ketercapaian seluruh murid dalam menerapkan prinsip keseimbangan pada karya konstruksi miniatur?

Murid:

  • Bagian mana dari miniatur bangunanku yang paling kokoh dan seimbang?
  • Apakah aku sudah menggunakan alat pemotong dan lem sesuai dengan petunjuk keselamatan?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Seni Rupa untuk SD/MI Kelas IV (Edisi Revisi), Bab IV
  2. Benda-benda konkret di ruang kelas (buku tulis, meja, botol minum, daun, penggaris)
  3. Set kartu gambar benda simetris dan asimetris (6 kartu per pasang murid)
  4. Lembar Kerja Murid (LKPD) Identifikasi Bentuk Simetris dan Asimetris
  5. Buku Panduan Guru Seni Rupa untuk SD/MI Kelas IV (Edisi Revisi 2022/2023), Bab IV: Membuat Konstruksi Sederhana
  6. Benda bangun ruang di lingkungan sekitar: kotak pasta gigi/obat bekas (balok), kaleng bekas bersih (tabung), kardus biskuit kecil (kubus)
  7. Set kartu gambar susunan bangun ruang seimbang dan tidak seimbang
  8. Lembar Kerja Murid: Detektif Keseimbangan Bangun Ruang
  9. Buku Panduan Guru Seni Rupa untuk SD/MI Kelas IV (Kemendikbudristek, 2023)
  10. Contoh fisik bahan konstruksi: kardus bekas kemasan, kaleng bekas, stik es krim, sedotan kertas/plastik
  11. Alat konstruksi ramah anak: gunting tumpul anak, selotip kertas, lem putih PVA
  12. Kartu bergambar alat, bahan, dan panduan keselamatan kerja
  13. Buku Panduan Guru Seni Rupa untuk SD/MI Kelas IV (Kemendikbudristek)
  14. Bahan konstruksi daur ulang: potongan kardus bekas, karton tebal, stik kayu
  15. Alat dan bahan perekat: lem kayu (PVAc), selotip kertas (masking tape), lem stik (gluestick)
  16. Lembar uji coba konstruksi dan beban uji (penghapus pensil)
  17. Buku Panduan Guru Seni Rupa SD Kelas IV Kemendikbudristek
  18. Bahan stik es krim/potongan bambu halus/potongan kardus bekas
  19. Perekat (lem kertas/lem putih/selotip kertas)
  20. Lembar pengamatan uji stabilitas kerangka
  21. Buku Panduan Guru Seni Rupa untuk SD/MI Kelas IV (Edisi Revisi, 2022), Kemendikbudristek
  22. Bahan bekas kemasan di sekitar (kardus makanan/pasta gigi, botol plastik bekas, stik es krim, tusuk sate/ranting)
  23. Peralatan konstruksi (gunting tumpul, selotip kertas, lem kertas/lem kayu kuat, penggaris)
  24. Contoh fisik model diorama konstruksi sederhana dari barang bekas
  25. Buku Panduan Guru Seni Rupa SD/MI Kelas IV Revisi (Bab IV: Membuat Konstruksi Sederhana).
  26. Benda peraga uji lisan: kotak susu kemasan (simetris) dan botol detergen bertangkai (asimetris).
  27. Alat dan bahan konstruksi daur ulang: kardus bekas, kotak bekas pasta gigi/makanan, botol plastik, stik es krim, lem kertas/lem tembak dingin/selotip, dan gunting.

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.