Modul AjarPertemuan 1Bab 2Fase BSemester 1

Modul Ajar Seni Rupa Kelas 3: Mengenal Warna Primer dan Sekunder

Modul Ajar ini disusun untuk satu pertemuan tatap muka mata pelajaran Seni Rupa kelas 3 dengan topik "Mengenal Warna Primer dan Sekunder". Dokumen mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Kurikulum Merdeka, lengkap dengan tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen ringkas.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Seni Rupa Kelas 3: Mengenal Warna Primer dan Sekunder

Seni Rupa - Kelas 3

Bab 2 - Pertemuan 1

MODUL AJAR

Seni Rupa — Kelas 3 (Fase B)

Topik: Mengenal Warna Primer dan Sekunder

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranSeni Rupa
Fase / KelasFase B / Kelas 3
TopikMengenal Warna Primer dan Sekunder
Alokasi Waktu2x35 menit
Jumlah Pertemuan1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Siswa mampu mengidentifikasi warna primer (merah, kuning, biru) dan warna sekunder (hijau, oranye, ungu) melalui pengamatan lingkungan sekitar.
  2. Siswa mampu mencampur warna primer untuk menghasilkan warna sekunder menggunakan cat air atau pewarna alam.

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Coba lihat sekeliling kelasmu — warna apa saja yang kamu temukan? Kira-kira dari mana semua warna itu berasal?
  2. Menurutmu, apakah warna hijau, oranye, dan ungu bisa dibuat sendiri? Bahan apa yang kamu butuhkan?
  3. Bayangkan jika dunia hanya punya warna hitam dan putih — bagaimana perasaanmu?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1

Pendahuluan:

  • Guru menyapa siswa dan memastikan semua sudah memakai celemek atau kaos bekas untuk melindungi seragam.
  • Guru memimpin siswa mengamati benda-benda di sekitar kelas selama 2 menit: 'Tunjuk satu benda berwarna merah, satu berwarna kuning, satu berwarna biru!'
  • Asesmen awal diagnostik: Guru bertanya secara lisan, 'Siapa yang sudah pernah mencampur cat? Warna apa yang kamu campur dan apa hasilnya?' — guru mencatat respons siswa sebagai data awal pemahaman.
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini: siswa akan mengenal warna primer dan sekunder, lalu mencoba mencampur warna sendiri.
  • Guru menginformasikan bahwa pertemuan ini akan menggunakan cat air atau pewarna alam, dan menjelaskan cara merawat alat agar tidak rusak.

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru menunjukkan tiga warna primer (merah, kuning, biru) menggunakan kartu warna besar atau cat yang sudah disiapkan di palet, sambil bertanya: 'Warna-warna ini disebut warna apa, ya? Kenapa kira-kira?'
  • Siswa diajak mengamati benda di dalam dan luar kelas yang berwarna primer — guru memancing dengan pertanyaan: 'Benda apa di sekitar kita yang berwarna merah murni? Kuning murni? Biru murni?'
  • Guru menjelaskan bahwa warna primer tidak bisa dibuat dari campuran warna lain — mereka adalah 'warna dasar' yang menjadi asal-usul semua warna.
  • Guru memperkenalkan tiga warna sekunder (hijau, oranye, ungu) dengan menunjukkan kartu warna, lalu mengajukan teka-teki: 'Warna ini namanya oranye — kira-kira warna apa saja yang kalau dicampur jadi oranye?'
  • Siswa berdiskusi singkat berpasangan (2 menit) untuk menebak pasangan warna primer yang menghasilkan setiap warna sekunder, kemudian beberapa pasangan menyampaikan tebakannya ke kelas.

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna, Berkesadaran):

  • Setiap siswa menyiapkan palet/wadah cat, kuas, wadah air, dan kertas gambar atau kertas koran untuk alas meja.
  • Guru mendemonstrasikan cara mencampur warna primer di depan kelas: meletakkan cat sebesar kuku, menambahkan sedikit air, lalu mencampur dua warna primer secara perlahan.
  • Siswa mencoba sendiri tiga eksperimen pencampuran warna secara berurutan: (1) merah + kuning = oranye, (2) kuning + biru = hijau, (3) merah + biru = ungu. Setiap hasil dicatat dengan mengoleskan warna hasil campuran ke kertas gambar dan menulis nama warna di sampingnya.
  • Bagi siswa yang menggunakan pewarna alam: guru mendampingi cara menggunakan kunyit (kuning), rebusan secang dengan tawas (merah), dan daun indigo/telang (biru) sebagai alternatif cat.
  • Guru berkeliling memantau proses, memberikan umpan balik langsung: 'Coba tambahkan sedikit lagi warna merahnya — warna oranye yang kamu buat sudah terlihat bagus!'
  • Setelah tiga eksperimen selesai, siswa membuat satu gambar bebas sederhana (misalnya buah, bunga, atau pelangi) menggunakan minimal tiga warna sekunder hasil campuran mereka sendiri.

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Siswa berhenti berkarya dan meletakkan kuas. Guru meminta setiap siswa melihat hasil karyanya sendiri selama 1 menit dalam diam: 'Perhatikan warna-warna yang kamu buat — mana yang paling kamu sukai?'
  • Siswa menulis atau menggambar di pojok kertas gambar mereka: satu warna sekunder yang paling berhasil dan satu hal yang ingin mereka coba lain kali.
  • Dua atau tiga siswa secara sukarela memperlihatkan karyanya ke kelas dan menceritakan: warna apa yang mereka campur dan bagaimana hasilnya.
  • Guru memfasilitasi diskusi singkat: 'Apakah hasil campuran semua orang persis sama? Mengapa hasilnya bisa berbeda-beda?' — mendorong siswa menyadari bahwa takaran warna mempengaruhi hasil.
  • Guru mengaitkan pengalaman mencampur warna dengan kehidupan sehari-hari: 'Di mana saja kamu melihat warna-warna sekunder ini di lingkungan sekitarmu?'

Penutup:

  • Guru melakukan asesmen akhir lisan singkat: menunjuk beberapa siswa secara acak dan menunjukkan kartu warna, siswa menyebutkan nama warna dan apakah itu primer atau sekunder.
  • Guru bersama siswa menyimpulkan: warna primer adalah merah, kuning, biru; mencampur dua warna primer menghasilkan warna sekunder (oranye, hijau, ungu).
  • Siswa diminta menjawab pertanyaan refleksi diri secara tertulis singkat di buku gambar atau lembar refleksi: 'Apa yang paling seru hari ini? Apa yang masih membingungkan?'
  • Guru memberikan apresiasi atas usaha dan eksplorasi siswa selama kegiatan.
  • Guru menginformasikan topik pertemuan berikutnya dan meminta siswa membersihkan alat serta tempat kerja bersama-sama.

Diferensiasi:

  • Konten: Siswa yang sudah memahami warna primer dan sekunder dengan cepat dapat diperkenalkan konsep warna tersier secara singkat (contoh: merah + oranye = merah-oranye) sebagai tantangan tambahan. Siswa yang masih kesulitan membedakan warna primer dan sekunder dapat menggunakan kartu referensi warna yang disediakan guru.
  • Proses: Siswa yang membutuhkan bantuan lebih dapat bekerja berpasangan dalam eksperimen pencampuran warna. Siswa yang sudah cepat memahami dapat mencoba variasi takaran (lebih banyak merah vs lebih banyak kuning) untuk melihat perbedaan nuansa warna oranye yang dihasilkan.
  • Produk: Siswa yang membutuhkan dukungan tambahan cukup menghasilkan lembar eksperimen tiga warna campuran dengan label nama warna. Siswa yang sudah mahir diharapkan menghasilkan gambar bebas yang menggunakan semua enam warna (tiga primer dan tiga sekunder) dengan teknik yang lebih variatif.

ASESMEN

Awal:

  • Tanya jawab lisan di pendahuluan: 'Siapa yang sudah pernah mencampur cat? Warna apa yang kamu campur dan apa hasilnya?' — untuk mengetahui pengetahuan awal siswa tentang pencampuran warna.
  • Siswa menunjuk benda di kelas berdasarkan warna yang disebutkan guru — untuk mengecek kemampuan awal mengidentifikasi warna.

Proses:

  • Observasi langsung saat siswa melakukan eksperimen pencampuran: ketepatan prosedur (takaran, cara mencampur) dan hasil warna yang dihasilkan.
  • Cek lembar eksperimen siswa selama kegiatan Mengaplikasi: apakah tiga hasil campuran sudah diberi label nama warna yang benar.
  • Pantau diskusi saat tahap Merefleksi: kemampuan siswa menjelaskan mengapa hasil campuran bisa berbeda-beda.

Akhir:

  • Tanya jawab lisan acak di penutup menggunakan kartu warna: siswa menyebutkan nama warna dan kategorinya (primer/sekunder).
  • Lembar karya siswa dikumpulkan dan dinilai menggunakan rubrik: mencakup aspek identifikasi warna dan hasil pencampuran.

Formatif:

  • Observasi guru selama kegiatan pencampuran warna: apakah siswa mampu mencampur dua warna primer dengan benar dan menamai hasilnya.
  • Tanya jawab lisan selama kegiatan Memahami: kemampuan siswa mengidentifikasi warna primer dan sekunder dari benda di lingkungan sekitar.
  • Diskusi berpasangan saat menebak pasangan warna primer: guru memantau ketepatan jawaban dan kemampuan siswa berargumentasi.

Sumatif:

  • Karya lembar eksperimen pencampuran warna: dinilai berdasarkan ketepatan hasil campuran dan kelengkapan label tiga warna sekunder.
  • Tanya jawab lisan di penutup: siswa menyebutkan nama warna pada kartu yang ditunjuk guru dan mengklasifikasikan sebagai primer atau sekunder.

RUBRIK PENILAIAN

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengidentifikasi Warna Primer dan SekunderSiswa belum mampu membedakan warna primer dan warna sekunder, atau menyebutkan nama warna dengan banyak kesalahan.Siswa dapat menyebutkan sebagian warna primer (1-2 dari 3) dan mengenali 1-2 warna sekunder dengan bantuan guru.Siswa dapat menyebutkan semua warna primer (merah, kuning, biru) dan sebagian besar warna sekunder (minimal 2 dari 3) secara mandiri.Siswa dapat menyebutkan semua warna primer dan sekunder dengan tepat, serta menunjukkan contoh warna tersebut dari benda-benda di lingkungan sekitar secara mandiri.
Mencampur Warna Primer Menjadi Warna SekunderSiswa belum berhasil menghasilkan warna sekunder yang tepat dari campuran warna primer, atau belum dapat melakukan prosedur pencampuran secara mandiri.Siswa berhasil mencampur satu warna sekunder dengan benar, namun dua lainnya masih memerlukan bantuan guru.Siswa berhasil mencampur dua atau tiga warna sekunder dengan hasil yang mendekati warna yang dituju, dengan sedikit bantuan atau secara mandiri.Siswa berhasil mencampur ketiga warna sekunder (oranye, hijau, ungu) dengan hasil yang tepat, mampu menjelaskan warna primer apa yang digunakan, dan menerapkannya dalam gambar bebas.
Proses Kerja dan KemandirianSiswa pasif, tidak mencoba bereksperimen sendiri, dan selalu membutuhkan arahan guru untuk setiap langkah.Siswa mencoba bereksperimen dengan bantuan teman atau guru di sebagian besar langkah.Siswa aktif bereksperimen secara mandiri, menjaga kebersihan alat dan tempat kerja, serta menyelesaikan tugas tepat waktu.Siswa sangat aktif bereksperimen, berinisiatif mencoba variasi campuran warna, menjaga kebersihan alat dengan baik, dan membantu teman yang mengalami kesulitan.

REFLEKSI

Refleksi Guru:

  • Apakah semua siswa berhasil mengidentifikasi enam warna (tiga primer dan tiga sekunder) di akhir pembelajaran?
  • Apakah alokasi waktu untuk eksperimen pencampuran warna sudah cukup? Bagian mana yang perlu diperpanjang atau diperpendek?
  • Apakah strategi diferensiasi yang diterapkan hari ini sudah menjangkau kebutuhan siswa yang membutuhkan dukungan tambahan maupun siswa yang cepat memahami?
  • Pertanyaan pemantik mana yang paling berhasil memicu rasa ingin tahu siswa?

Refleksi Murid:

  • Warna sekunder mana yang paling berhasil kamu buat hari ini? Bagaimana cara kamu membuatnya?
  • Apa hal baru yang kamu pelajari tentang warna hari ini yang belum kamu ketahui sebelumnya?
  • Jika kamu bisa mencoba lagi, apa yang ingin kamu lakukan berbeda dalam mencampur warna?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Guru Seni Rupa SD Kelas 3 Kurikulum Merdeka
  2. Kartu warna primer dan sekunder (media visual buatan guru atau cetak)
  3. Cat air atau cat tempera (merah, kuning, biru)
  4. Pewarna alam alternatif: kunyit (kuning), rebusan kayu secang + tawas (merah), daun indigo/telang (biru)
  5. Kuas berbagai ukuran
  6. Palet atau wadah kecil untuk mencampur warna
  7. Wadah air untuk mencuci kuas
  8. Kertas gambar A4 atau A3
  9. Koran bekas sebagai alas meja
  10. Celemek atau kaos bekas untuk melindungi seragam

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.