Modul AjarPertemuan 10Bab 2Fase BSemester 1

Modul Ajar Seni Musik Kelas 3: Membuat Bunyi dari Lingkungan Sekitar

Modul Ajar ini disusun untuk satu pertemuan tatap muka mata pelajaran Seni Musik kelas 3 dengan topik "Membuat Bunyi dari Lingkungan Sekitar". Dokumen mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Kurikulum Merdeka, lengkap dengan tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen ringkas.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Seni Musik Kelas 3: Membuat Bunyi dari Lingkungan Sekitar

Seni Musik - Kelas 3

Bab 2 - Pertemuan 10

MODUL AJAR

Seni Musik — Kelas 3 (Fase B)

Topik: Membuat Bunyi dari Lingkungan Sekitar

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranSeni Musik
Fase / KelasFase B / Kelas 3
TopikMembuat Bunyi dari Lingkungan Sekitar
Alokasi Waktu2x35 menit
Jumlah Pertemuan1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Murid mampu membuat bunyi menggunakan benda-benda di lingkungan sekitar (misal: botol, kaleng) sebagai alat musik ritmis.
  2. Murid mampu menirukan pola irama menggunakan alat musik buatan sendiri.

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Pernahkah kamu tidak sengaja mendengar bunyi dari benda-benda di rumah atau sekolah? Bunyi apa saja yang kamu dengar?
  2. Bisakah botol bekas atau kaleng kosong dijadikan alat musik? Bagaimana caranya?
  3. Kalau kamu ingin membuat lagu dengan bunyi dari benda sehari-hari, benda apa yang akan kamu pilih dan mengapa?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1

Pendahuluan:

  • Guru menyapa murid dan mengajak mereka duduk melingkar untuk menciptakan suasana hangat dan nyaman (± 3 menit).
  • Guru memimpin yel-yel atau tepuk irama pendek bersama-sama sebagai ice-breaker dan membangkitkan semangat belajar (± 2 menit).
  • ASESMEN AWAL — Guru menampilkan 3–4 gambar benda (botol plastik, kaleng, penggaris, buku) dan bertanya: 'Menurutmu, benda mana yang bisa menghasilkan bunyi? Bagaimana caranya?' Murid menjawab secara lisan; guru menandai di papan tulis mana yang sudah diketahui dan mana yang belum (± 5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dengan bahasa sederhana: 'Hari ini kita akan membuat alat musik sendiri dari benda-benda di sekitar kita, lalu mencoba menirukan pola irama bersama.' (± 2 menit).
  • Guru membagikan benda-benda yang sudah disiapkan (botol plastik, kaleng kecil, beras/kerikil/pasir, isolasi/selotip) ke setiap kelompok (± 3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru memperkenalkan konsep alat musik ritmis: alat musik yang menghasilkan bunyi berirama tanpa nada tetap (perkusi). Guru menunjukkan contoh nyata: kendang, drum, rebana, dan alat musik buatan dari kaleng (± 5 menit).
  • Guru mendemonstrasikan cara menghasilkan bunyi dari benda-benda: mengetuk botol plastik, mengocok kaleng berisi kerikil, menepuk buku. Murid diminta menutup mata, mendengarkan, lalu menebak benda mana yang berbunyi — fokus pada kesadaran auditif (Berkesadaran).
  • Guru menjelaskan bahwa pola irama adalah urutan bunyi panjang-pendek yang berulang. Guru mencontohkan pola sederhana: 'tek-tek-dug / tek-tek-dug' menggunakan tangan, lalu mengajak seluruh kelas menirukan bersama selama 2 putaran (± 5 menit).
  • Murid berdiskusi singkat dalam kelompok (2–3 orang): 'Benda apa lagi di sekitar kelas yang bisa menghasilkan bunyi menarik?' Setiap kelompok menyebutkan minimal 1 ide kepada kelas (Bermakna).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna, Menggembirakan):

  • Setiap murid membuat alat musik ritmis sederhana dari bahan yang tersedia: mengisi botol plastik atau kaleng kecil dengan beras/kerikil secukupnya, lalu menutupnya dengan selotip agar tidak tumpah. Guru mendampingi dan memfasilitasi (± 10 menit).
  • Murid menguji hasil buatannya: menggoyangkan, mengetuk, atau memukul perlahan, lalu menemukan cara bermain yang menghasilkan bunyi paling khas dan konsisten. Guru mendorong eksplorasi: 'Coba isi lebih banyak — apa yang berubah?' (Berkesadaran, Menggembirakan).
  • ASESMEN PROSES — Guru berkeliling mengamati dan memberi umpan balik lisan: apakah alat musik menghasilkan bunyi? Apakah murid bisa menjaga bunyi tetap stabil saat dimainkan? Catat observasi pada lembar ceklis (± 3 menit).
  • Guru memimpin latihan menirukan pola irama bersama: guru mencontohkan pola 4 ketuk (misal: 'guk-guk-crek-guk'), kemudian murid menirukan menggunakan alat buatan masing-masing. Ulangi 3 variasi pola dengan tingkat kesulitan bertahap: pola 2 ketuk → 4 ketuk → 8 ketuk (Menggembirakan).
  • Murid berlatih dalam kelompok kecil (3–4 orang): satu murid memimpin pola irama, yang lain menirukan. Giliran memimpin diputar sehingga semua mendapat kesempatan (Bermakna, Menggembirakan).
  • Setiap kelompok menampilkan pola irama selama ± 30 detik di depan kelas. Kelompok lain menyimak dan bertepuk tangan sebagai apresiasi (± 8 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mengisi lembar refleksi singkat (dapat berupa gambar + kalimat pendek untuk kelas 3): (1) Gambar alat musik yang kamu buat. (2) Bunyi apa yang dihasilkan? (3) Pola irama mana yang paling mudah kamu tirukan? (± 5 menit).
  • Guru mengajak diskusi kelas: 'Apa yang membuat bunyi alat musikmu berbeda dari teman lain? Apakah isi di dalam botol/kaleng mempengaruhi bunyinya?' — mendorong penalaran kritis dan kesadaran terhadap proses belajar sendiri (Berkesadaran, Bermakna).
  • Murid diminta menyebutkan satu hal yang berhasil dan satu hal yang ingin diperbaiki dari alat musik buatannya. Guru merangkum temuan kelas di papan tulis.

Penutup:

  • Guru bersama murid merangkum pembelajaran: benda sehari-hari bisa menjadi alat musik ritmis, dan pola irama bisa ditirukan dan diciptakan oleh siapa saja (± 3 menit).
  • ASESMEN AKHIR — Setiap murid secara bergantian (atau 4–5 perwakilan jika waktu terbatas) memainkan satu pola irama bebas menggunakan alat buatannya selama 4 ketuk. Guru menilai menggunakan rubrik (± 4 menit).
  • Guru memberikan apresiasi atas usaha dan kreativitas seluruh murid; mengingatkan bahwa alat musik bisa dibuat dari bahan sederhana di mana saja.
  • Guru menyampaikan tindak lanjut: murid boleh membawa alat musik buatannya untuk latihan di pertemuan berikutnya.
  • Pembelajaran ditutup dengan satu putaran tepuk irama bersama sebagai salam penutup yang menyenangkan (± 2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Bagi murid yang belum memahami pola irama, guru menyederhanakan menjadi pola 2 ketuk ('tek-dug') dan menggunakan kartu gambar simbol bunyi (panjang/pendek). Bagi murid yang sudah cepat memahami, guru menantang mereka dengan pola 8 ketuk atau menggabungkan dua jenis bunyi berbeda dalam satu pola.
  • Proses: Murid yang membutuhkan dukungan lebih dapat bekerja berdampingan dengan teman sebaya (peer buddy) yang lebih cepat memahami. Guru memberikan scaffolding berupa contoh langkah-langkah membuat alat musik dalam bentuk gambar urutan (visual instruction). Murid yang sudah mahir dapat membantu teman atau langsung bereksperimen membuat variasi bunyi baru.
  • Produk: Murid dengan kemampuan dasar cukup menunjukkan satu pola 4 ketuk secara konsisten. Murid yang lebih maju dapat menciptakan pola irama orisinal 8 ketuk dan mengajarkannya kepada kelompok.

ASESMEN

Awal:

  • Guru menampilkan gambar 3–4 benda sehari-hari dan bertanya secara lisan: 'Benda mana yang bisa menghasilkan bunyi? Bagaimana caranya?'
  • Guru mengajak murid menepuk pola 2 ketuk bersama untuk melihat sejauh mana pemahaman awal tentang irama.
  • Dari respons murid, guru mengidentifikasi: siapa yang sudah familiar dengan konsep bunyi/irama dan siapa yang masih belum, sebagai dasar penyesuaian strategi.

Proses:

  • Observasi saat murid membuat alat musik: apakah mengikuti langkah dengan benar, apakah alat menghasilkan bunyi yang konsisten.
  • Ceklis pengamatan per murid: (1) membuat alat musik dari benda sekitar ✓/✗, (2) alat menghasilkan bunyi ritmis ✓/✗, (3) mampu menirukan pola 4 ketuk ✓/✗.
  • Umpan balik lisan guru kepada kelompok selama latihan menirukan pola irama.
  • Penilaian sejawat saat penampilan kelompok: teman lain memberi acungan jempol atau bintang kertas sebagai umpan balik sederhana.

Akhir:

  • Unjuk kerja individual: setiap murid memainkan satu pola irama 4 ketuk pilihan sendiri menggunakan alat buatannya di depan guru.
  • Guru menilai menggunakan rubrik 4 level pada dua aspek: (1) kemampuan membuat bunyi dari benda sekitar, (2) ketepatan menirukan pola irama.
  • Lembar refleksi murid dikumpulkan sebagai bukti belajar tertulis/gambar.

Formatif:

  • Observasi lisan saat tanya jawab di pendahuluan (asesmen awal diagnostik).
  • Pengamatan proses saat murid membuat dan menguji alat musik ritmis — guru menggunakan lembar ceklis observasi.
  • Umpan balik langsung saat latihan menirukan pola irama dalam kelompok.
  • Penilaian diri melalui lembar refleksi singkat (gambar + kalimat) di tahap Merefleksi.

Sumatif:

  • Unjuk kerja individual: murid memainkan satu pola irama menggunakan alat musik buatan sendiri selama 4 ketuk — dinilai menggunakan rubrik 4 level.
  • Hasil produk: alat musik ritmis buatan murid dinilai berdasarkan fungsi (menghasilkan bunyi) dan kreativitas pembuatan.

RUBRIK PENILAIAN

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Membuat Bunyi dari Benda Sekitar (TP 3.2.10.1)Murid belum berhasil membuat alat musik yang menghasilkan bunyi, atau benda tidak berfungsi sebagai alat ritmis sama sekali.Murid membuat alat musik dari benda sekitar, namun bunyi yang dihasilkan tidak konsisten atau sangat lemah sehingga sulit digunakan untuk bermain irama.Murid berhasil membuat alat musik dari benda sekitar yang menghasilkan bunyi ritmis dengan cukup jelas dan konsisten saat dimainkan.Murid membuat alat musik dari benda sekitar yang menghasilkan bunyi ritmis jelas, konsisten, dan menunjukkan eksplorasi kreatif (misalnya mencoba variasi isian atau cara memainkan untuk mendapatkan bunyi terbaik).
Menirukan Pola Irama (TP 3.2.10.2)Murid belum mampu menirukan pola irama yang dicontohkan guru, ketukan tidak sesuai atau tidak berpola.Murid dapat menirukan pola irama 2 ketuk sederhana namun belum stabil; sering terlewat atau tidak tepat waktu.Murid dapat menirukan pola irama 4 ketuk dengan tepat dan stabil menggunakan alat musik buatan sendiri.Murid dapat menirukan pola irama 4–8 ketuk dengan tepat dan stabil, bahkan mampu memimpin pola irama untuk ditirukan teman sekelompok.

REFLEKSI

Refleksi Guru:

  • Apakah semua murid berhasil membuat alat musik yang berfungsi? Apa hambatan yang paling sering muncul?
  • Apakah tahapan Memahami → Mengaplikasi → Merefleksi berjalan dengan alokasi waktu yang proporsional?
  • Murid mana yang membutuhkan dukungan lebih pada pertemuan berikutnya, dan strategi diferensiasi apa yang perlu dikuatkan?
  • Apakah pertanyaan pemantik berhasil memancing rasa ingin tahu dan keterlibatan aktif murid?

Refleksi Murid:

  • Bunyi apa yang paling kamu sukai dari alat musik yang kamu buat hari ini? Mengapa?
  • Pola irama mana yang terasa paling sulit untuk ditirukan? Apa yang membuatnya sulit?
  • Kalau kamu bisa membuat alat musik lagi di rumah, benda apa yang akan kamu coba gunakan?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Seni Musik untuk SD/MI Kelas III (Kemendikbudristek)
  2. Botol plastik bekas (ukuran 330 ml atau 600 ml), bersih dan kering
  3. Kaleng kecil bekas (kaleng susu formula atau sejenisnya)
  4. Bahan pengisi: beras, kerikil kecil, atau pasir
  5. Selotip/isolasi untuk menutup wadah
  6. Lembar refleksi murid (disiapkan guru, berisi kolom gambar + 3 pertanyaan singkat)
  7. Lembar ceklis observasi guru
  8. Papan tulis dan spidol/kapur untuk mencatat temuan diskusi kelas
  9. Contoh alat musik perkusi sederhana untuk demonstrasi (kendang mini, rebana, atau video singkat alat musik perkusi Nusantara)

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.