Modul AjarPertemuan 7Bab 4Fase ASemester 2

Modul Ajar Seni Musik Kelas 2: Membedakan Bunyi Keras dan Pelan

Modul Ajar ini disusun untuk satu pertemuan tatap muka mata pelajaran Seni Musik kelas 2 dengan topik "Membedakan Bunyi Keras dan Pelan". Dokumen mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Kurikulum Merdeka, lengkap dengan tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen ringkas.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Seni Musik Kelas 2: Membedakan Bunyi Keras dan Pelan

Seni Musik - Kelas 2

Bab 4 - Pertemuan 7

MODUL AJAR

Seni Musik — Kelas 2 (Fase A)

Topik: Membedakan Bunyi Keras dan Pelan

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranSeni Musik
Fase / KelasFase A / Kelas 2
TopikMembedakan Bunyi Keras dan Pelan
Alokasi Waktu2x35 menit
Jumlah Pertemuan1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Murid dapat membedakan bunyi keras dan pelan dari sumber bunyi anggota tubuh dan benda
  2. Murid dapat memproduksi bunyi keras dan pelan sesuai instruksi

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Apa yang terjadi jika kita bertepuk tangan dengan kuat? Bagaimana bunyinya?
  2. Bagaimana bunyi yang kita hasilkan ketika berbisik dibandingkan berteriak?
  3. Bisakah kita membuat bunyi keras dan pelan menggunakan tubuh kita sendiri?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam dan mengajak murid bernyanyi lagu pendek yang ceria untuk membangun suasana gembira
  • Guru melakukan asesmen awal dengan meminta murid mendengarkan dua bunyi yang berbeda (tepuk tangan keras dan pelan) dan mengangkat tangan jika mendengar perbedaan
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran: hari ini kita akan belajar membedakan dan membuat bunyi keras dan pelan
  • Guru mengajukan pertanyaan pemantik untuk memicu rasa ingin tahu murid tentang bunyi di sekitar mereka

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru memperdengarkan contoh bunyi keras (tepuk tangan kuat, hentakan kaki) dan bunyi pelan (tepuk tangan lembut, ketukan jari) secara bergantian
  • Murid mengamati dan mendengarkan dengan seksama perbedaan kedua jenis bunyi tersebut
  • Guru mengajak murid menyebutkan ciri-ciri bunyi keras (kuat, terdengar jelas, membuat telinga bergetar) dan bunyi pelan (lembut, hampir tidak terdengar, halus)
  • Murid diminta menyebutkan contoh bunyi keras dan pelan yang pernah mereka dengar di rumah atau sekolah
  • Guru menjelaskan bahwa dalam musik, bunyi keras disebut 'forte' dan bunyi pelan disebut 'piano', namun cukup menggunakan istilah keras-pelan untuk kelas 2

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid dibagi menjadi kelompok kecil (4-5 orang) untuk eksplorasi bunyi menggunakan anggota tubuh (tepuk tangan, hentakan kaki, petik jari, tepuk paha)
  • Setiap kelompok berlatih membuat bunyi keras dan pelan sesuai instruksi guru (menggunakan gerakan tangan sebagai isyarat: tangan terangkat tinggi = keras, tangan rendah = pelan)
  • Guru memberikan instruksi bervariasi: 'Tepuk keras 3 kali, lalu pelan 3 kali', 'Hentak kaki keras 2 kali, ketuk meja pelan 2 kali'
  • Murid secara bergantian mempraktikkan bunyi keras dan pelan menggunakan benda-benda sederhana di sekitar (meja, pensil, buku)
  • Guru mengamati dan memberikan umpan balik langsung kepada setiap kelompok: 'Kelompok ini sudah bagus membedakan keras pelan, coba yang lebih kontras lagi'
  • Seluruh kelas bermain permainan 'Ikuti Komandan': guru memberikan pola bunyi keras-pelan, murid menirukan dengan tepat

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru mengajak murid duduk melingkar dan bertanya: 'Apa yang kalian rasakan saat membuat bunyi keras? Bagaimana dengan bunyi pelan?'
  • Murid diminta menceritakan pengalaman mereka: bagian mana yang mudah, mana yang sulit, dan apa yang mereka pelajari
  • Guru memfasilitasi diskusi singkat: 'Mengapa penting kita bisa membedakan bunyi keras dan pelan dalam musik?'
  • Murid menyampaikan rencana menggunakan kemampuan ini: 'Di mana lagi kalian bisa mempraktikkan bunyi keras-pelan? Saat bermain musik, menyanyi, atau kegiatan lain?'
  • Guru memberikan apresiasi atas usaha dan keberanian murid dalam bereksperimen dengan bunyi

Penutup:

  • Guru melakukan asesmen akhir dengan meminta setiap murid mempraktikkan satu pola bunyi keras-pelan secara individu
  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran: bunyi keras terdengar kuat dan jelas, bunyi pelan terdengar lembut dan halus, kita bisa membuat keduanya dengan anggota tubuh dan benda
  • Guru memberikan tugas sederhana: di rumah, coba buat 3 bunyi keras dan 3 bunyi pelan menggunakan benda yang ada, lalu ceritakan ke keluarga
  • Guru menutup pembelajaran dengan bernyanyi lagu pendek menggunakan bunyi keras-pelan secara bergantian
  • Guru meminta murid merapikan alat yang digunakan dan mengucapkan salam penutup

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang cepat menangkap dapat diminta membedakan tingkat keras-pelan yang lebih halus (agak keras, agak pelan). Murid yang membutuhkan bantuan lebih diberikan contoh berulang dengan kontras bunyi yang sangat jelas.
  • Proses: Murid yang cepat dapat berperan sebagai pemimpin kelompok dan membantu teman yang memerlukan bimbingan. Murid yang membutuhkan waktu lebih lama diberikan kesempatan berlatih dengan pendampingan guru secara personal.
  • Produk: Murid yang sudah mahir dapat menciptakan pola bunyi keras-pelan sendiri dengan variasi lebih kompleks (4-6 ketukan). Murid yang baru menguasai dasar cukup menirukan pola sederhana (2-3 ketukan) dengan tepat.

ASESMEN

Awal:

  • Guru membunyikan dua bunyi berbeda (tepuk keras dan pelan) dan meminta murid mengangkat tangan jika mendengar perbedaan
  • Guru menanyakan: 'Siapa yang pernah mendengar bunyi sangat keras? Bagaimana rasanya?'

Proses:

  • Observasi saat murid berlatih di kelompok: apakah mereka dapat membedakan dan mengikuti instruksi keras-pelan dengan tepat
  • Mengamati partisipasi murid dalam permainan 'Ikuti Komandan': ketepatan menirukan pola bunyi
  • Memberikan umpan balik formatif secara lisan: 'Bagus, coba bunyinya lebih pelan lagi' atau 'Keren, keras sekali bunyinya!'

Akhir:

  • Setiap murid mempraktikkan pola bunyi keras-pelan secara individu (minimal 4 ketukan) menggunakan tepuk tangan atau benda
  • Murid diminta merespons bunyi yang dibunyikan guru dengan gerakan: lompat untuk bunyi keras, jongkok untuk bunyi pelan
  • Refleksi lisan: murid menjawab pertanyaan 'Apa perbedaan bunyi keras dan pelan?' dan 'Mana yang lebih mudah bagimu?'

Formatif:

  • Observasi selama eksplorasi bunyi di kelompok: kemampuan membedakan dan memproduksi bunyi keras-pelan
  • Umpan balik langsung saat murid mempraktikkan pola bunyi sesuai instruksi guru
  • Penilaian sejawat dalam kelompok: murid saling memberikan komentar tentang bunyi yang dihasilkan teman

Sumatif:

  • Praktik individu: setiap murid memproduksi pola bunyi keras-pelan (misalnya: keras-keras-pelan-pelan) menggunakan tepuk tangan atau alat sederhana
  • Penilaian kemampuan membedakan: murid menunjukkan respons tepat (mengangkat tangan kanan untuk bunyi keras, tangan kiri untuk bunyi pelan) saat guru membunyikan contoh

RUBRIK PENILAIAN

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Kemampuan membedakan bunyi keras dan pelanMurid belum dapat membedakan bunyi keras dan pelan meskipun sudah diberi contoh berulang kaliMurid dapat membedakan bunyi keras dan pelan dengan bantuan guru atau teman, namun masih sering keliruMurid dapat membedakan bunyi keras dan pelan dengan tepat tanpa bantuan pada sebagian besar contohMurid dapat membedakan bunyi keras dan pelan dengan sangat tepat pada semua contoh dan mampu menjelaskan perbedaannya
Kemampuan memproduksi bunyi keras dan pelan sesuai instruksiMurid belum dapat memproduksi bunyi keras atau pelan sesuai instruksi, bunyinya monotonMurid dapat memproduksi bunyi keras atau pelan, namun masih sering tidak sesuai dengan instruksi yang diberikanMurid dapat memproduksi bunyi keras dan pelan sesuai instruksi dengan tepat pada sebagian besar waktuMurid dapat memproduksi bunyi keras dan pelan sesuai instruksi dengan sangat tepat dan kontras yang jelas, serta mampu membuat variasi sendiri
Partisipasi dan kolaborasi dalam kegiatan kelompokMurid pasif, tidak berpartisipasi dalam kegiatan kelompokMurid berpartisipasi namun masih perlu terus dimotivasi, belum aktif bekerja sama dengan temanMurid aktif berpartisipasi dan bekerja sama dengan teman dalam kegiatan kelompokMurid sangat aktif, berinisiatif membantu teman, dan berkontribusi besar dalam keberhasilan kelompok

REFLEKSI

Refleksi Guru:

  • Apakah semua murid dapat membedakan dan memproduksi bunyi keras-pelan dengan baik? Siapa yang masih memerlukan bimbingan lebih?
  • Apakah strategi pembelajaran dengan eksplorasi dan permainan efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran?
  • Bagaimana saya dapat meningkatkan diferensiasi agar semua murid terlayani dengan optimal?
  • Apakah alokasi waktu sudah tepat untuk setiap tahapan pembelajaran?

Refleksi Murid:

  • Apa yang paling menyenangkan saat belajar bunyi keras dan pelan hari ini?
  • Bagian mana yang masih sulit untukmu: membedakan atau membuat bunyi keras-pelan?
  • Di mana lagi kamu bisa mempraktikkan bunyi keras dan pelan selain di kelas musik?
  • Apa yang ingin kamu pelajari lebih lanjut tentang bunyi?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Seni Musik SD/MI Kelas II Kurikulum Merdeka
  2. Anggota tubuh murid (tangan, kaki, jari) sebagai sumber bunyi
  3. Benda-benda di sekitar kelas (meja, pensil, buku, penggaris) sebagai alat eksplorasi bunyi
  4. Ruang kelas yang memadai untuk aktivitas bergerak dan bermusik
  5. Media audio sederhana (jika ada) untuk memberikan contoh bunyi keras-pelan dari alat musik

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.