Modul AjarPertemuan 7Bab 1Fase ESemester 1

Modul Ajar Prakarya dan Kewirausahaan Rekayasa Kelas 10: Kegiatan Produksi Lampu Sensor Suara (Tahap 1: Perakitan Rangkaian)

Modul Ajar ini disusun untuk satu pertemuan tatap muka mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan Rekayasa kelas 10 dengan topik "Kegiatan Produksi Lampu Sensor Suara (Tahap 1: Perakitan Rangkaian)". Dokumen mengikuti Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) Kurikulum Merdeka, lengkap dengan tujuan, langkah kegiatan, dan asesmen ringkas.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar Prakarya dan Kewirausahaan Rekayasa Kelas 10: Kegiatan Produksi Lampu Sensor Suara (Tahap 1: Perakitan Rangkaian)

Prakarya dan Kewirausahaan Rekayasa - Kelas 10

Bab 1 - Pertemuan 7

MODUL AJAR

Prakarya dan Kewirausahaan Rekayasa — Kelas 10 (Fase E)

Topik: Kegiatan Produksi Lampu Sensor Suara (Tahap 1: Perakitan Rangkaian)

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPrakarya dan Kewirausahaan Rekayasa
Fase / KelasFase E / Kelas 10
TopikKegiatan Produksi Lampu Sensor Suara (Tahap 1: Perakitan Rangkaian)
Alokasi Waktu2x45 menit
Jumlah Pertemuan1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. Murid dapat merakit komponen elektronika lampu sensor suara sesuai desain rangkaian yang telah dibuat dengan mengutamakan keamanan dan keselamatan kerja.
  2. Murid dapat mengidentifikasi dan mengatasi permasalahan teknis sederhana yang muncul selama proses perakitan rangkaian lampu sensor suara.

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis
Kreativitas
Kolaborasi
Kemandirian
Kesehatan
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Mengapa keamanan dan keselamatan kerja (K3) sangat penting saat kita merakit komponen elektronika, meskipun hanya menggunakan arus DC?
  2. Jika lampu sensor suara yang kalian rakit tidak menyala saat diuji coba, langkah pertama apa yang akan kalian lakukan untuk mencari tahu penyebabnya?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1

Pendahuluan:

  • Pendidik membuka pembelajaran dengan salam dan doa bersama.
  • Pendidik mengecek kehadiran murid dan kesiapan ruang belajar.
  • Pendidik melakukan asesmen awal dengan meminta murid menunjukkan desain rangkaian yang telah dibuat pada pertemuan sebelumnya dan menanyakan fungsi satu komponen utama.
  • Pendidik menyampaikan Tujuan Pembelajaran yang fokus pada perakitan dan pemecahan masalah teknis.
  • Pendidik memberikan pengarahan tegas mengenai Keamanan dan Keselamatan Kerja (K3), terutama penggunaan alat tajam dan keharusan menggunakan arus DC.

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid memeriksa kelengkapan seluruh alat dan bahan yang diperlukan untuk membuat lampu sensor suara di meja masing-masing.
  • Murid menelaah kembali desain rancangan alat dan prosedur pembuatan produk yang telah mereka buat, memastikan mereka memahami alur rangkaian sebelum mulai merakit.

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mulai merakit komponen elektronika lampu sensor suara berdasarkan desain rangkaian, dengan sangat berhati-hati dan mengutamakan K3.
  • Murid melakukan uji coba sementara pada rangkaian yang dirakit. Jika lampu tidak merespons suara, murid secara kolaboratif mengidentifikasi masalah (troubleshooting) seperti mengecek sambungan kabel atau polaritas komponen.
  • Pendidik berkeliling sebagai fasilitator, menghampiri masing-masing murid/kelompok untuk memantau proses dan memberikan pertanyaan pemantik saat mereka menemui jalan buntu.

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid menghentikan sejenak aktivitas perakitan untuk mencatat kendala teknis yang ditemukan selama proses tadi dan langkah apa yang berhasil mengatasinya pada Lembar Kerja.
  • Murid saling berbagi pengalaman singkat dengan kelompok di sebelahnya mengenai tantangan perakitan hari ini.

Penutup:

  • Murid merapikan kembali alat dan sisa bahan praktik, serta memastikan area kerja bersih dan aman.
  • Pendidik memandu murid melakukan refleksi suasana pembelajaran dengan menggambar emoji pada lembar refleksi, serta menuliskan skor pemahaman tentang prosedur perakitan.
  • Pendidik memberikan apresiasi atas usaha murid dalam merakit dan memecahkan masalah teknis.
  • Pendidik menginformasikan bahwa pertemuan selanjutnya adalah tahap penyelesaian (finishing) dan persiapan pameran/presentasi produk.
  • Pembelajaran ditutup dengan doa.

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang masih kesulitan membaca skema elektronika diberikan panduan visual perakitan yang lebih konkret (gambar riil komponen yang dihubungkan).
  • Proses: Murid yang merakit dengan cepat dan berhasil lebih awal diarahkan untuk menjadi tutor sebaya, membantu kelompok lain yang masih mengalami kendala teknis.
  • Produk: Catatan identifikasi masalah (troubleshooting) dapat disajikan dalam bentuk poin-poin ringkas, tabel, atau diagram alur sederhana sesuai kenyamanan murid.

ASESMEN

Awal:

  • Pendidik menanyakan secara lisan: 'Coba tunjukkan pada desain kalian, jalur mana yang menghubungkan sensor suara dengan sumber arus DC?' untuk memetakan kesiapan murid membaca skema.

Proses:

  • Pendidik memantau cara murid memegang alat kerja (K3) dan mengajukan pertanyaan saat murid menguji coba: 'Mengapa bagian ini belum menyala? Apa yang akan kalian periksa pertama kali?'

Akhir:

  • Pengecekan fisik rangkaian hasil perakitan hari ini: kesesuaian dengan desain, kerapian sambungan, dan fungsi awal sensor suara.

Formatif:

  • Observasi langsung terhadap penerapan K3 selama proses perakitan.
  • Penilaian Lembar Kerja terkait identifikasi dan solusi masalah teknis (troubleshooting).

Sumatif:

  • Penilaian unjuk kerja (produk setengah jadi) berupa rangkaian lampu sensor suara yang telah dirakit.

RUBRIK PENILAIAN

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Perakitan Rangkaian dan Penerapan K3Belum mampu merakit komponen sesuai desain dan mengabaikan instruksi keamanan dan keselamatan kerja (K3).Mampu merakit sebagian komponen dengan banyak bimbingan, mulai menunjukkan kehati-hatian dalam bekerja (K3).Mampu merakit komponen sesuai desain secara mandiri dan menerapkan prinsip K3 dengan baik selama bekerja.Mampu merakit komponen dengan sangat presisi, rapi, sesuai desain, dan sangat disiplin serta konsisten menerapkan K3.
Identifikasi dan Pemecahan Masalah TeknisPasif dan menyerah saat menghadapi kendala teknis pada rangkaian.Menyadari adanya masalah teknis namun masih sepenuhnya bergantung pada pendidik untuk menemukan solusinya.Mampu mengidentifikasi penyebab masalah teknis sederhana (misal: kabel putus, polaritas terbalik) dan mengatasinya secara mandiri.Mampu mengidentifikasi dan mengatasi masalah teknis dengan cepat, serta mampu menjelaskan solusinya atau membantu teman yang kesulitan.

REFLEKSI

Refleksi Guru:

  • Apakah seluruh murid telah menerapkan prinsip K3 dengan baik selama proses perakitan?
  • Sejauh mana murid mampu melakukan troubleshooting secara mandiri tanpa harus langsung diberi jawaban oleh saya?
  • Apakah alokasi waktu cukup untuk tahap perakitan awal ini?

Refleksi Murid:

  • Bagian mana dari proses perakitan hari ini yang paling menantang bagimu?
  • Bagaimana perasaanmu saat berhasil menemukan penyebab lampu tidak menyala dan memperbaikinya? (Gambarkan dengan emoji)
  • Apa satu hal baru yang kamu pelajari tentang komponen elektronika hari ini?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Prakarya dan Kewirausahaan: Rekayasa untuk SMA/MA Kelas X
  2. Komponen elektronika (modul sensor suara, lampu LED/bohlam kecil DC, kabel jumper, baterai/sumber arus DC, resistor)
  3. Alat kerja (tang potong, isolasi kabel, papan breadboard atau solder/timah jika menggunakan PCB)
  4. Dokumen desain rangkaian lampu sensor suara milik masing-masing murid

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar pertemuan ini secara penuh.

Apa isi pertemuan ini?

Dokumen mencakup tujuan pembelajaran terpilih, urutan kegiatan inti yang sudah disesuaikan dengan alokasi JP, serta pertanyaan pemantik dan asesmen formatif singkat. Cocok dipakai sebagai bahan persiapan tatap muka maupun lampiran supervisi.

Cara pakai pertemuan ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.