Modul AjarBab 7Fase DSemester 2

Modul Ajar PJOK Kelas 9 Bab 7: Pengembangan Budaya Hidup Sehat

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian PJOK kelas 9 untuk Bab 7 "Pengembangan Budaya Hidup Sehat", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar PJOK Kelas 9 Bab 7: Pengembangan Budaya Hidup Sehat

PJOK - Kelas 9

Bab 7

MODUL AJAR

PJOK — Kelas 9 (Fase D)

Topik: Bab 7 — Pengembangan Budaya Hidup Sehat

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPJOK
Fase / KelasFase D / Kelas 9
TopikBab 7 — Pengembangan Budaya Hidup Sehat
Alokasi Waktu10 JP (10 x 40 menit = 400 menit)
Jumlah Pertemuan5
Tahun Ajaran2026/2027
Semester2

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 9.7.1 Menjelaskan strategi peningkatan aktivitas jasmani dan pencegahan perilaku sedenter untuk mendukung pencegahan penyakit
  2. TP 9.7.2 Menganalisis risiko kesehatan akibat gaya hidup berdasarkan rekomendasi otoritas kesehatan
  3. TP 9.7.3 Merancang tindakan pencegahan melalui aktivitas jasmani berdasarkan rekomendasi otoritas kesehatan
  4. TP 9.7.4 Mempraktikkan prosedur untuk menangani cedera yang berisiko terhadap kesehatan dan keselamatan berdasarkan prinsip pertolongan pertama

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis✓
Kreativitas✓
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan✓
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Berapa lama waktu yang kamu habiskan untuk duduk diam atau menatap layar ponsel dalam sehari?
  2. Mengapa tubuh kita tetap rentan terhadap penyakit tidak menular jika kita jarang bergerak aktif meskipun tidak sedang sakit?
  3. Langkah praktis apa yang dapat kamu lakukan setiap hari untuk mengubah kebiasaan duduk terlalu lama menjadi lebih aktif bergerak?
  4. Mengapa duduk berjam-jam tanpa bergerak dapat memicu penyakit berbahaya seperti diabetes atau penyakit jantung menurut badan kesehatan dunia (WHO)?
  5. Bagaimana pola makan tinggi gula dan kurang tidur saling berkaitan meningkatkan risiko penyakit tidak menular (PTM)?
  6. Berapa lama durasi aktivitas jasmani yang dianjurkan oleh WHO atau Kemenkes setiap hari bagi remaja seusiamu agar terhindar dari penyakit tidak menular?
  7. Bagaimana cara merancang jadwal aktivitas fisik mingguan yang realistis dengan prinsip FITT (Frequency, Intensity, Time, Type) agar efektif mencegah penyakit?
  8. Apa tindakan awal yang harus segera dilakukan saat melihat teman terkilir saat berolahraga?
  9. Mengapa es lebih tepat digunakan daripada kompres hangat pada cedera otot akut?
  10. Bagaimana keterkaitan antara perilaku sedenter dengan timbulnya penyakit tidak menular berdasarkan rekomendasi otoritas kesehatan?
  11. Mengapa penerapan prinsip RICE harus dilakukan secara tepat dan berurutan saat menangani cedera akut?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Menjelaskan Strategi Peningkatan Aktivitas Jasmani dan Pencegahan Perilaku Sedenter — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.7.1 Menjelaskan strategi peningkatan aktivitas jasmani dan pencegahan perilaku sedenter untuk mendukung pencegahan penyakit

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, mengajak murid berdoa sesuai keyakinan masing-masing, memeriksa kehadiran, serta memastikan kesiapan fisik dan psikis murid (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, yaitu menjelaskan strategi peningkatan aktivitas jasmani dan cara mencegah perilaku sedenter guna mendukung pencegahan penyakit (2 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan singkat berupa pengelompokan 4 kartu pernyataan aktivitas harian: (1) Bersepeda santai ke warung; (2) Menonton video di tempat tidur selama 3 jam berturut-turut; (3) Naik tangga sekolah alih-alih lift; (4) Duduk bermain game selama 4 jam tanpa jeda. Murid diminta mengidentifikasi mana yang termasuk 'Aktivitas Jasmani' dan mana yang 'Perilaku Sedenter' (acuan jawaban: 1 dan 3 = Aktivitas Jasmani; 2 dan 4 = Perilaku Sedenter) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid membaca lembar informasi ringkas mengenai batasan aktivitas jasmani (gerak tubuh oleh otot rangka yang membakar kalori), perilaku sedenter (aktivitas duduk/berbaring dengan pengeluaran energi sangat rendah <= 1,5 METs), serta hubungannya dengan risiko penyakit hipokinetik/tidak menular seperti obesitas dan penyakit kardiovaskular (10 menit).
  • Dalam format permainan cepat 'Benar atau Tepis', murid secara berpasangan menebak 3 pernyataan yang dibacakan guru: (1) 'Membaca buku sambil duduk diam selama 2 jam berturut-turut merupakan perilaku sedenter' (Benar); (2) 'Mencuci piring dan membersihkan kamar termasuk aktivitas jasmani penunjang kesehatan' (Benar); (3) 'Perilaku sedenter sama sekali tidak meningkatkan risiko penyakit jantung jika seseorang rajin minum suplemen' (Tepis/Salah). Pasangan yang menjawab tepat berdiri dan bertepuk tangan satu kali untuk menciptakan suasana antusias (10 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid secara mandiri mencermati lembar studi kasus yang menyajikan profil kebiasaan harian seorang remaja 'Riko': Riko duduk di kelas selama 6 jam, bermain gawai sambil rebahan selama 3 jam, jarang berjalan kaki, dan sering mengeluh mudah lelah (10 menit).
  • Murid menuliskan penjelasan analisis pada lembar kerja berisi 3 pertanyaan terstruktur: (1) Jelaskan minimal 2 dampak perilaku sedenter Riko terhadap potensi penyakit; (2) Jelaskan 2 strategi peningkatan aktivitas jasmani praktis yang dapat diterapkan Riko di lingkungan sekolah; (3) Jelaskan 2 strategi pencegahan perilaku sedenter yang dapat diterapkan Riko di rumah (acuan: butir 1 mencakup risiko obesitas, diabetes, atau hipertensi karena minim pembakaran kalori; butir 2 mencakup jalan cepat saat istirahat/naik-turun tangga sekolah; butir 3 mencakup jeda berdiri/peregangan tiap 30 menit menatap layar atau membatasi durasi layar) (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid menelaah kembali hasil pekerjaannya dengan membandingkan jawabannya terhadap daftar kriteria penjelasan yang diproyeksikan guru di papan tulis, memeriksa apakah strategi yang dijelaskan realistis dan terukur untuk mencegah penyakit (6 menit).
  • Murid menyimpulkan pemahaman esensial bahwa pencegahan perilaku sedenter tidak harus melalui olahraga berat, melainkan melalui komitmen menyisipkan gerakan aktif dalam rutinitas sehari-hari (4 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan konfirmasi dan umpan balik langsung terhadap penjelasan murid terkait strategi peningkatan aktivitas jasmani dan pembatasan perilaku sedenter (5 menit).
  • Murid menjawab 2 butir pertanyaan cek pemahaman singkat pada kertas selembar: (1) Apa perbedaan mendasar antara aktivitas jasmani dan perilaku sedenter?; (2) Mengapa mengurangi perilaku sedenter dapat membantu pencegahan penyakit? (acuan jawaban: 1 = aktivitas jasmani melibatkan pengeluaran energi melalui kerja otot rangka, sedangkan perilaku sedenter adalah aktivitas duduk/berbaring dengan energi sangat rendah <= 1,5 METs; 2 = karena mengurangi penumpukan lemak, menjaga sensitivitas insulin, dan melancarkan sirkulasi darah sehingga mencegah penyakit tidak menular) (4 menit).
  • Guru menutup pertemuan dengan arahan untuk mengamati kebiasaan bergerak di lingkungan masing-masing, serta mengakhiri pembelajaran dengan doa bersama (1 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan kata kunci pembeda antara aktivitas fisik ringan-sedang dan perilaku sedenter. Murid dengan pemahaman lebih cepat diberikan variasi studi kasus dengan faktor risiko sedenter yang lebih kompleks.
  • Proses: Murid dengan pemahaman lambat dapat menggunakan kalimat penuntun (sentence starter) saat menyusun penjelasan strategi. Murid yang mahir menuliskan penjelasan strategi secara mandiri disertai target frekuensi dan durasi aktivitas.
  • Produk: Seluruh murid menyusun penjelasan tertulis pada lembar kerja terstruktur yang sama sesuai acuan indikator.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik lisan klasifikasi 4 kartu pernyataan aktivitas harian: (1) 'Bersepeda santai ke warung' (acuan: Aktivitas Jasmani); (2) 'Menonton video di kasur selama 3 jam terus-menerus' (acuan: Perilaku Sedenter); (3) 'Naik-turun tangga sekolah' (acuan: Aktivitas Jasmani); (4) 'Duduk bermain game 4 jam nonstop' (acuan: Perilaku Sedenter). Kriteria penerimaan: murid mampu mengklasifikasikan minimal 3 dari 4 kartu dengan tepat.

Proses:

  • Pemeriksaan lembar kerja mandiri penjelasan strategi pada studi kasus Riko. Indikator: Murid mampu menjelaskan minimal 2 dampak perilaku sedenter terhadap pencegahan penyakit (acuan: penurunan kebugaran, peningkatan risiko obesitas/diabetes melitus tipe 2), 2 strategi peningkatan aktivitas jasmani (acuan: jalan cepat, naik tangga, membantu pekerjaan rumah), dan 2 strategi pencegahan perilaku sedenter (acuan: menerapkan jeda gerak tiap 30-40 menit duduk, mengurangi screen time harian).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir pembelajaran secara tertulis: (1) Sebutkan perbedaan aktivitas jasmani dan perilaku sedenter! (acuan: aktivitas jasmani menggerakkan otot rangka dan membakar energi >1,5 METs; perilaku sedenter adalah kondisi diam/duduk/rebahan dengan energi <=1,5 METs); (2) Jelaskan mengapa strategi membatasi waktu duduk dapat mencegah penyakit! (acuan: mencegah gangguan metabolik, menjaga aliran darah, serta menjaga sensitivitas insulin dan kesehatan jantung).

Formatif:

  • Penilaian lisan pengelompokan aktivitas pada diagnostik awal (kartu aktivitas harian)
  • Observasi partisipasi dan keaktifan pada kegiatan 'Benar atau Tepis'
  • Penilaian lembar kerja penjelasan strategi peningkatan aktivitas jasmani dan pencegahan perilaku sedenter

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penjelasan Strategi Peningkatan Aktivitas JasmaniBelum mampu menjelaskan strategi peningkatan aktivitas jasmani untuk mendukung pencegahan penyakit secara tepat.Mampu menjelaskan 1 strategi peningkatan aktivitas jasmani sehari-hari namun belum mengaitkannya dengan dukungan terhadap pencegahan penyakit.Mampu menjelaskan minimal 2 strategi peningkatan aktivitas jasmani terstruktur/praktis sehari-hari serta mengaitkannya dengan pencegahan penyakit secara tepat.Mampu menjelaskan lebih dari 2 strategi peningkatan aktivitas jasmani sehari-hari secara lengkap, terstruktur, disertai rincian frekuensi/durasi dan kaitannya dengan pencegahan penyakit secara tepat.
Penjelasan Pencegahan Perilaku SedenterBelum mampu menjelaskan strategi pencegahan perilaku sedenter dalam kehidupan sehari-hari.Mampu menjelaskan 1 strategi pencegahan perilaku sedenter tetapi belum menunjukkan tindakan konkret untuk memutus waktu duduk/rebahan.Mampu menjelaskan minimal 2 strategi konkret pencegahan perilaku sedenter (misalnya jeda gerak dan pembatasan screen time) untuk mendukung pencegahan penyakit secara tepat.Mampu menjelaskan lebih dari 2 strategi konkret pencegahan perilaku sedenter disertai penjelasan mekanisme pemutusan kebiasaan diam dan manfaatnya bagi pencegahan penyakit secara mandiri dan tepat.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 80 menit cukup memfasilitasi murid dalam memahami perbedaan konsep aktivitas jasmani dan perilaku sedenter?
  • Bagian langkah manakah yang membuat murid paling antusias dalam mengidentifikasi strategi gaya hidup aktif?
  • Apakah instrumen lembar studi kasus efektif mengukur kemampuan murid dalam menjelaskan strategi secara terukur?

Murid:

  • Apakah kamu sekarang menyadari berapa lama waktu sedenter (duduk/rebahan) yang kamu jalani setiap hari?
  • Strategi peningkatan aktivitas jasmani apa yang paling mudah dan siap kamu terapkan mulai hari ini di sekolah maupun di rumah?

Pertemuan 2 — Menganalisis Risiko Kesehatan Akibat Gaya Hidup Berdasarkan Rekomendasi Otoritas Kesehatan — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.7.2 Menganalisis risiko kesehatan akibat gaya hidup berdasarkan rekomendasi otoritas kesehatan

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan memimpin doa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, yaitu menganalisis risiko kesehatan akibat gaya hidup berdasarkan rekomendasi otoritas kesehatan (Kemenkes RI dan WHO) (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan cepat dengan meminta murid menentukan benar/salah 2 pernyataan gaya hidup: (1) 'Kurang aktivitas fisik meningkatkan risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular' [Kunci: Benar]; (2) 'Rekomendasi WHO untuk remaja usia 5-17 tahun adalah cukup duduk santai minimal 60 menit per hari' [Kunci: Salah, rekomendasi WHO adalah aktivitas fisik sedang hingga berat minimal 60 menit per hari] (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid mencermati infografis rekomendasi otoritas kesehatan (Kemenkes RI/WHO) tentang faktor risiko Penyakit Tidak Menular (PTM) akibat gaya hidup: (a) Kurang aktivitas fisik (<60 menit/hari), (b) Pola makan tidak seimbang (tinggi gula, garam, lemak), (c) Kurang istirahat/tidur (<8 jam/hari) (10 menit).
  • Secara berpasangan, murid memainkan tantangan seru 'Detektif Risiko' (permainan mencocokkan kartu kasus gaya hidup dengan risiko penyakit yang relevan berdasarkan panduan Kemenkes: Kasus A 'Konsumsi minuman manis berlebih harian' dipasangkan dengan 'Risiko Diabetes Melitus Tipe 2 dan Obesitas'; Kasus B 'Duduk terus-menerus main gawai >6 jam tanpa olahraga' dipasangkan dengan 'Risiko Penyakit Jantung Koroner dan Hipertensi') (10 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru membagikan Lembar Kerja Analisis Kasus yang memuat 3 skenario gaya hidup remaja nyata: Skenario 1 (Riko: durasi layar 7 jam/hari, konsumsi makanan cepat saji tinggi natrium 4x/minggu, jarang jalan kaki); Skenario 2 (Siti: tidur 4-5 jam/hari, konsumsi kopi manis kemasan 3 botol/hari, tidak pernah berolahraga); Skenario 3 (Doni: sering melewatkan sarapan bergizi, camilan gorengan tinggi lemak jenuh, aktivitas hanya duduk saat sekolah dan di kamar) (10 menit).
  • Murid secara mandiri menganalisis ketiga skenario tersebut dengan menuliskan: (1) Faktor risiko gaya hidup yang terjadi, (2) Jenis penyakit tidak menular (PTM) yang berisiko muncul, dan (3) Hubungan sebab-akibat antara gaya hidup tersebut dan risiko penyakit berdasarkan standar otoritas kesehatan (WHO/Kemenkes) (acuan analisis: Skenario 1 berisiko hipertensi/kardiovaskular akibat natrium tinggi dan minim gerak; Skenario 2 berisiko diabetes dan gangguan metabolik/imunitas akibat defisit tidur dan kelebihan gula; Skenario 3 berisiko dislipidemia dan obesitas sentral akibat lemak jenuh dan pola makan tidak teratur) (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid melakukan verifikasi hasil analisisnya dengan mencocokkan matriks kunci analisis risiko kesehatan yang ditampilkan guru di layar, menandai ketepatan identifikasi faktor risiko dan risiko penyakit yang telah diuraikan (10 menit).
  • Murid menuliskan refleksi kesadaran diri pada buku catatan mengenai 1 kebiasaan gaya hidup pribadinya yang berisiko terhadap kesehatan serta alasan mengapa kebiasaan itu berbahaya berdasarkan rekomendasi otoritas kesehatan (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap kesimpulan analisis murid bahwa gaya hidup sedenter, pola makan buruk, dan kurang tidur merupakan faktor pemicu utama PTM menurut otoritas kesehatan (3 menit).
  • Guru menutup pertemuan dengan memberikan apresiasi atas ketelitian analisis murid, mengingatkan persiapan materi pertemuan berikutnya (merancang tindakan pencegahan melalui aktivitas jasmani), dan berdoa bersama (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan lembar kerja berpemandu dengan tabel pengait kata kunci risiko PTM (Kemenkes), sedangkan murid yang lebih cepat diberikan analisis dampak jangka panjang komplikasi metabolik.
  • Proses: Bagi murid yang kesulitan menelaah sebab-akibat, guru memberikan scaffolding bertahap melalui pertanyaan penuntun hubungan gaya hidup dengan organ tubuh; murid yang mahir menganalisis ketiga skenario secara mandiri tanpa bantuan panduan.
  • Produk: Analisis dituangkan dalam lembar kerja tertulis dengan kedalaman rincian sebab-akibat yang disesuaikan kesiapan murid tanpa mengurangi indikator identifikasi faktor risiko dan risiko penyakit.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Kuis diagnostik lisan benar/salah mengenai hubungan gaya hidup dengan risiko penyakit: (1) Pernyataan: 'Kurang aktivitas fisik meningkatkan risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular' (acuan jawaban: Benar); (2) Pernyataan: 'Rekomendasi WHO untuk remaja usia 5-17 tahun adalah cukup duduk santai minimal 60 menit per hari' (acuan jawaban: Salah; rekomendasi tepat adalah beraktivitas fisik intensitas sedang hingga berat minimal 60 menit per hari).

Proses:

  • Pemeriksaan lembar kerja pengerjaan mandiri analisis risiko kesehatan pada 3 skenario gaya hidup (Skenario 1 Riko, Skenario 2 Siti, Skenario 3 Doni) berdasarkan rubrik ketepatan analisis risiko kesehatan dan rekomendasi otoritas kesehatan (acuan: Skenario 1 mengidentifikasi risiko hipertensi/penyakit jantung akibat konsumsi natrium tinggi dan kurang gerak; Skenario 2 mengidentifikasi risiko diabetes melitus dan obesitas akibat asupan gula tinggi dan kurang tidur; Skenario 3 mengidentifikasi risiko dislipidemia/obesitas akibat lemak jenuh dan pola makan buruk).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman tertulis singkat (2 soal): (1) Tuliskan 2 contoh penyakit tidak menular (PTM) yang berisiko muncul akibat perilaku kurang gerak (sedenter) menurut Kemenkes/WHO! (acuan jawaban: Penyakit jantung koroner, hipertensi, stroke, atau diabetes melitus tipe 2); (2) Jelaskan mengapa asupan gula berlebih pada minuman kemasan berisiko memicu diabetes menurut rekomendasi kesehatan! (acuan kriteria: menjelaskan bahwa konsumsi gula berlebih memicu resistensi insulin dan penumpukan lemak tubuh/kelebihan kalori).

Formatif:

  • Penilaian proses analisis risiko kesehatan pada Lembar Kerja Kasus Gaya Hidup (mengukur ketepatan identifikasi faktor risiko, keterkaitan penyakit tidak menular, dan rujukan rekomendasi otoritas kesehatan)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Ketepatan menganalisis risiko kesehatan akibat gaya hidupHanya mampu mengidentifikasi 1 faktor risiko gaya hidup tanpa menghubungkan dengan risiko penyakit tidak menular secara tepat pada 3 skenario yang diberikan.Mampu mengidentifikasi faktor risiko gaya hidup dan menghubungkannya dengan risiko penyakit secara tepat pada 1 dari 3 skenario yang diberikan sesuai acuan.Mampu mengidentifikasi faktor risiko gaya hidup dan menganalisis hubungan sebab-akibat timbulnya risiko penyakit secara tepat pada 2 dari 3 skenario yang diberikan sesuai rekomendasi otoritas kesehatan.Mampu mengidentifikasi seluruh faktor risiko gaya hidup dan menganalisis hubungan sebab-akibat timbulnya risiko penyakit secara tepat dan lengkap pada seluruh (3) skenario yang diberikan berdasarkan rekomendasi otoritas kesehatan (WHO/Kemenkes).
Kesesuaian dengan rekomendasi otoritas kesehatanBelum mampu mengaitkan analisis risiko dengan standar rekomendasi otoritas kesehatan (WHO/Kemenkes).Menyebutkan batasan rekomendasi otoritas kesehatan (misal batasan gula/garam atau anjuran aktivitas fisik) namun belum tepat menggunakannya dalam menganalisis kasus.Menggunakan rujukan rekomendasi otoritas kesehatan (misal batas aktivitas fisik WHO atau anjuran GGL Kemenkes) secara tepat dalam menganalisis sebagian besar kasus.Menggunakan rujukan rekomendasi otoritas kesehatan secara tepat, utuh, dan konsisten sebagai dasar analisis risiko kesehatan pada seluruh skenario kasus.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah skenario kasus gaya hidup yang disajikan kontekstual dan memudahkan murid memahami kaitan nyata antara perilaku harian dengan risiko penyakit?
  • Bagaimana ketercapaian pemahaman murid dalam menganalisis risiko kesehatan berdasarkan data/rekomendasi otoritas kesehatan?

Murid:

  • Pola gaya hidup apa dari diri saya yang paling berisiko terhadap kesehatan setelah mempelajari rekomendasi otoritas kesehatan hari ini?
  • Mengapa penting bagi saya untuk memahami risiko penyakit tidak menular sejak usia remaja?

Pertemuan 3 — Merancang Tindakan Pencegahan Melalui Aktivitas Jasmani Berdasarkan Rekomendasi Otoritas Kesehatan — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.7.3 Merancang tindakan pencegahan melalui aktivitas jasmani berdasarkan rekomendasi otoritas kesehatan

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan memfasilitasi doa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu merancang tindakan pencegahan penyakit melalui jadwal dan program aktivitas jasmani berdasarkan standar otoritas kesehatan (WHO/Kemenkes) (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat untuk menguji pengetahuan dasar murid mengenai standar rekomendasi aktivitas jasmani anak usia 5-17 tahun menurut WHO/Kemenkes (durasi minimal 60 menit per hari dengan intensitas sedang hingga berat) dan prinsip FITT (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak dan mencermati tabel pedoman rekomendasi aktivitas jasmani dari otoritas kesehatan (WHO/Kemenkes) yang memuat prinsip FITT untuk remaja: Frekuensi (setiap hari / minimal 3-5 kali seminggu), Intensitas (sedang hingga berat), Waktu/Time (minimal 60 menit akumulatif per hari), dan Tipe/Type (aerobik seperti lari/bersepeda serta penguatan otot dan tulang minimal 3 kali seminggu) (10 menit).
  • Murid secara berpasangan menganalisis contoh kasus profil risiko kesehatan seorang remaja sedenter dan mendiskusikan komponen FITT apa saja yang perlu dirancang untuk memulihkan kebugarannya (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid secara mandiri merancang draf 'Rencana Aksi Aktivitas Jasmani Pencegahan Penyakit 7 Hari' pada lembar kerja yang memuat kolom: Hari, Jenis Penyakit Target Pencegahan (misal: obesitas, diabetes melitus tipe 2, hipertensi), Jenis Aktivitas Jasmani (Aerobik/Penguatan Otot), Frekuensi, Intensitas (Sedang/Berat), dan Durasi Waktu (minimal 60 menit per hari sesuai rekomendasi WHO) (20 menit).
  • Murid mengikuti tantangan 'Circuit Fitness Plan Swap' (tantangan berpasangan menggembirakan): murid saling bertukar rancangan program dengan rekan sebangku, memilih 1 jenis latihan jasmani berintensitas sedang dari rancangan pasangannya (misal: jumping jacks 1 menit atau skipping), dan memperagakannya bersama selama 2 menit untuk memvalidasi kelayakan gerak yang dirancang (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa ulang dan menyelaraskan rancangan pribadinya berdasarkan hasil uji kelayakan gerak, memastikan semua parameter rekomendasi otoritas kesehatan telah terpenuhi secara utuh (10 menit).

Penutup:

  • Guru memfasilitasi murid menyimpulkan intisari perancangan aktivitas jasmani yang tepat sesuai standar otoritas kesehatan (3 menit).
  • Guru melakukan asesmen akhir berupa pengecekan kelengkapan lembar rancangan tindakan pencegahan dan memberikan umpan balik langsung terhadap kesesuaian parameter FITT (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan lembar panduan rekomendasi aktivitas jasmani dengan format infografis visual bagi murid yang memerlukan dukungan pemahaman, serta teks pedoman teknis WHO yang lebih mendalam bagi murid yang telah mahir.
  • Proses: Memberikan scaffolding bertahap berupa templat tabel FITT rumpang bagi murid yang membutuhkan bimbingan, sementara murid cepat merancang variasi aktivitas jasmani yang mengombinasikan latihan aerobik dan resistensi secara mandiri.
  • Produk: Rancangan rencana aksi aktivitas jasmani 7 hari dapat disajikan dalam bentuk tabel terstruktur, matriks jadwal mingguan, atau diagram alur aktivitas harian.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tes diagnostik lisan/singkat di awal pembelajaran: Sebutkan rekomendasi durasi minimal aktivitas jasmani harian untuk remaja usia sekolah menurut WHO/Kemenkes dan 4 komponen prinsip latihan FITT! (Acuan jawaban: durasi minimal 60 menit per hari berintensitas sedang hingga berat; komponen FITT: Frequency/Frekuensi, Intensity/Intensitas, Time/Waktu-Durasi, Type/Tipe-Jenis aktivitas).

Proses:

  • Observasi unjuk kerja dan telaah lembar kerja rancangan rencana aksi aktivitas jasmani 7 hari, dinilai berdasarkan ketepatan mencantumkan 4 parameter FITT yang memenuhi standar WHO (minimal 60 menit/hari, intensitas sedang-berat, jenis aerobik & penguatan otot, frekuensi harian) untuk mencegah penyakit tidak menular.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman di akhir sesi: Pengumpulan dan verifikasi kelengkapan lembar 'Rencana Aksi Aktivitas Jasmani 7 Hari'. Kriteria penerimaan: dokumen memuat jadwal 7 hari lengkap dengan rincian penyakit sasaran, jenis aktivitas tergolong sedang/berat, durasi per hari memenuhi minimal 60 menit sesuai standar WHO, serta frekuensi latihan penguatan otot tercantum minimal 3 hari dalam seminggu.

Formatif:

  • Penilaian proses lembar kerja perancangan aktivitas jasmani mingguan berdasarkan ketepatan prinsip FITT dan rekomendasi otoritas kesehatan (WHO/Kemenkes).

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Perancangan Tindakan Pencegahan Aktivitas Jasmani Sesuai Rekomendasi Otoritas KesehatanRancangan aktivitas jasmani belum memuat prinsip FITT yang sesuai dan durasi total belum memenuhi standar rekomendasi otoritas kesehatan (kurang dari 60 menit/hari).Rancangan aktivitas jasmani memuat prinsip FITT namun belum lengkap (hanya memuat 1-2 komponen tepat) dan durasi belum konsisten memenuhi rekomendasi otoritas kesehatan.Rancangan aktivitas jasmani memuat seluruh komponen FITT (Frekuensi, Intensitas, Waktu, Tipe) dengan tepat dan memenuhi standar rekomendasi otoritas kesehatan (minimal 60 menit/hari intensitas sedang-berat untuk pencegahan penyakit).Rancangan aktivitas jasmani memuat seluruh komponen FITT secara lengkap, tepat, dan terperinci dengan pembagian variasi latihan aerobik serta penguatan otot-tulang minimal 3 hari seminggu sesuai standar otoritas kesehatan secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 80 menit memadai bagi seluruh murid untuk menyelesaikan penyusunan rencana aksi aktivitas jasmani sesuai rekomendasi otoritas kesehatan?
  • Bagian mana dari penjelasan prinsip FITT dan rekomendasi otoritas kesehatan yang masih memerlukan bimbingan tambahan bagi murid?

Murid:

  • Apakah rencana aktivitas jasmani yang telah saya rancang realistis dan dapat saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari selama 7 hari ke depan?
  • Manfaat pencegahan penyakit apa yang paling ingin saya capai melalui program aktivitas jasmani yang telah saya susun?

Pertemuan 4 — Mempraktikkan Prosedur Penanganan Cedera Berdasarkan Prinsip Pertolongan Pertama — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.7.4 Mempraktikkan prosedur untuk menangani cedera yang berisiko terhadap kesehatan dan keselamatan berdasarkan prinsip pertolongan pertama

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memimpin doa, memeriksa kehadiran, dan menyampaikan tujuan pembelajaran yaitu mempraktikkan prosedur penanganan cedera menggunakan prinsip RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation) (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat: meminta murid memperagakan urutan prinsip penanganan cedera RICE menggunakan gestur/posisi tubuh (acuan urutan: Rest/istirahatkan bagian cedera, Ice/kompres dingin, Compression/balut tekan elastis, Elevation/tinggikan posisi di atas jantung) untuk mengelompokkan kesiapan murid (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru mendemonstrasikan secara langsung prosedur pertolongan pertama cedera memar/terkilir (sprain) dengan metode RICE dan murid mengamati setiap tahapan secara cermat: 1. Rest (korban didudukkan/diistirahatkan tanpa membebani kaki), 2. Ice (kompres es yang dibalut kain selama 10-15 menit), 3. Compression (membebat pergelangan menggunakan perban elastis dari arah distal ke proksimal secara pas tidak terlalu ketat), 4. Elevation (menyangga kaki lebih tinggi dari posisi jantung) (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Tantangan Praktik Berpasangan (Joyful Drill): Murid bekerja berpasangan saling bergantian menjadi penolong dan korban cedera simulasi (terkilir pergelangan kaki). Murid mempraktikkan secara langsung 4 langkah RICE menggunakan perlengkapan P3K (kain/kompres es tiruan, perban elastis, bantal/penyangga) dengan cekatan dan tepat urutannya (35 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid mengevaluasi praktik penanganan cedera yang baru saja dilakukan bersama pasangannya dengan memeriksa kekencangan bebat perban (tidak menyebabkan kebas) dan posisi elevasi (15 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan kembali urutan tindakan pertolongan pertama RICE dan memberikan apresiasi atas kerja sama murid selama praktik (5 menit).
  • Guru menutup pertemuan dengan doa bersama dan mengingatkan persiapan untuk asesmen sumatif di pertemuan berikutnya (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan bergambar langkah kerja RICE di pos praktiknya; murid yang lebih cepat diberikan skenario cedera tambahan seperti terkilir pada pergelangan tangan.
  • Proses: Praktik dilakukan bertahap dengan pendampingan langsung oleh guru untuk pasangan yang masih kesulitan membebat perban.
  • Produk: Unjuk kerja praktik RICE dinilai langsung menggunakan daftar cek peragaan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Peragaan singkat urutan akronim RICE oleh murid secara mandiri di awal sesi. Acuan ketepatan: R = Rest (mengistirahatkan bagian cedera), I = Ice (mengompres dingin bagian cedera), C = Compression (membalut tekan dengan perban), E = Elevation (meninggikan anggota badan yang cedera melebihi posisi jantung).

Proses:

  • Pengamatan unjuk kerja prosedur RICE saat praktik berpasangan. Kriteria keberhasilan unjuk kerja: (1) Memposisikan korban istirahat tanpa tumpuan beban; (2) Menempelkan kompres dingin beralas kain pada titik cedera; (3) Membebat perban elastis dengan kerapian dan ketegangan yang tepat (tidak menghambat sirkulasi); (4) Menopang bagian cedera lebih tinggi dari posisi jantung.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan/praktik kilat: Murid diminta memperagakan tindakan pembebatan (compression) dan elevasi yang tepat dalam waktu 1 menit (kriteria acuan: bebat rapi menutup sendi tanpa kerutan dan posisi tungkai terangkat stabil di atas tumpuan).

Formatif:

  • Unjuk kerja praktik simulasi pertolongan pertama pada cedera menggunakan daftar cek langkah RICE

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Praktik Prosedur Penanganan Cedera (RICE)Mempraktikkan kurang dari 2 langkah dari 4 prosedur RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation) secara tepat walau dibimbing guru.Mempraktikkan 2-3 langkah dari 4 prosedur RICE secara tepat namun urutan pembebatan atau posisi elevasi masih membutuhkan arahan guru.Mempraktikkan seluruh 4 langkah prosedur RICE secara runtut dan tepat (Rest, Ice, Compression dengan ketegangan pas, Elevation lebih tinggi dari jantung) secara mandiri.Mempraktikkan seluruh 4 langkah prosedur RICE secara runtut, tepat, cekatan, dan konsisten memposisikan bagian cedera secara stabil dan aman tanpa kesalahan teknik.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 35 menit cukup bagi setiap murid untuk bergantian mempraktikkan prosedur RICE secara utuh?
  • Bagian prosedur mana yang paling banyak mengalami kekeliruan teknik oleh murid (misalnya kerapian atau ketegangan perban)?

Murid:

  • Langkah mana dari prinsip RICE yang menurutmu paling menantang untuk dipraktikkan dengan benar?
  • Apakah kamu merasa percaya diri memberikan pertolongan pertama bila ada teman yang terkilir di lapangan?

Pertemuan 5 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 9.7.1 Menjelaskan strategi peningkatan aktivitas jasmani dan pencegahan perilaku sedenter untuk mendukung pencegahan penyakit
  • TP 9.7.2 Menganalisis risiko kesehatan akibat gaya hidup berdasarkan rekomendasi otoritas kesehatan
  • TP 9.7.3 Merancang tindakan pencegahan melalui aktivitas jasmani berdasarkan rekomendasi otoritas kesehatan
  • TP 9.7.4 Mempraktikkan prosedur untuk menangani cedera yang berisiko terhadap kesehatan dan keselamatan berdasarkan prinsip pertolongan pertama

Pendahuluan:

  • Guru membuka sesi asesmen sumatif dengan salam, mengecek kehadiran murid, dan memimpin doa pembuka (2 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif bab yang mencakup penyelesaian portofolio individual dan unjuk kerja simulasi pertolongan pertama cedera (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid menyimak petunjuk teknis pengerjaan lembar kerja portofolio perencanaan tertulis serta alur giliran simulasi unjuk kerja pertolongan pertama secara mandiri dan tertib (3 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid mengerjakan Tugas 1 secara individual selama 40 menit: menyelesaikan Lembar Portofolio Rencana Hidup Sehat yang berisi (a) Analisis 3 risiko kesehatan akibat gaya hidup sedenter mengacu rekomendasi Kemenkes/WHO [Acuan risiko: obesitas, diabetes melitus tipe 2, dan hipertensi akibat penumpukan lemak serta penurunan sensitivitas insulin]; (b) Penjelasan 2 strategi peningkatan aktivitas jasmani harian dan pencegahan perilaku sedenter [Acuan strategi: melakukan peregangan aktif setiap 30-60 menit saat duduk lama dan memilih berjalan kaki/naik tangga alih-alih kendaraan motor/lift]; serta (c) Rancangan jadwal aksi preventif mingguan [Acuan: minimal 150 menit per minggu aktivitas intensitas sedang seperti jalan cepat/joging/bersepeda yang terbagi dalam minimal 3-5 hari]. Guru memeriksa keselarasan jawaban dengan acuan tersebut (40 menit).
  • Murid secara bergiliran dalam 7 kelompok kecil (masing-masing 4 murid tampil 4 menit per kelompok, total 28 menit) melaksanakan Tugas 2: Unjuk kerja simulasi pertolongan pertama cedera keseleo/sprain pergelangan kaki menggunakan prinsip RICE. Tiap anggota mempraktikkan perannya sesuai acuan prosedur baku: (1) Rest: mengistirahatkan sendi yang cedera tanpa beban tumpuan; (2) Ice: mengompres es berbalut kain pada area bengkak selama 15 menit; (3) Compression: membebat dengan perban elastis dari arah distal ke proksimal secara merata tanpa mematikan aliran darah; (4) Elevation: meninggikan pergelangan kaki lebih tinggi dari posisi jantung. Guru menilai menggunakan lembar observasi (28 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid mengumpulkan lembar portofolio kerja individual dan merapikan kembali peralatan simulasi P3K (mitela, perban elastis, kantung kompres) ke tempat semula (2 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan konfirmasi singkat atas pelaksanaan seluruh tahapan asesmen sumatif bab 7 dan mengingatkan komitmen penerapan pola hidup sehat serta keselamatan dalam beraktivitas (2 menit).

Diferensiasi:

  • Proses: Akomodasi akses: murid dengan hambatan penglihatan ringan dapat meminta cetakan lembar portofolio dengan ukuran teks lebih besar tanpa mengubah butir, kriteria acuan, maupun durasi pengerjaan tugas.

Asesmen Pertemuan:

Sumatif Bab:

  • Portofolio rencana gaya hidup sehat tertulis dan unjuk kerja simulasi pertolongan pertama: Dokumen portofolio analisis risiko, strategi aktivitas fisik, dan jadwal preventif, serta demonstrasi kelompok prosedur pertolongan pertama cedera
  • portofolio perencanaan tertulis: Lembar kerja portofolio individual yang berisi analisis risiko gaya hidup sedenter berdasarkan rujukan otoritas kesehatan, penjelasan strategi peningkatan aktivitas jasmani harian, serta rancangan jadwal aksi preventif terstruktur (45 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian portofolio perencanaan kesehatan)
  • unjuk kerja simulasi kelompok: Peragaan terstruktur dalam kelompok kecil (7 kelompok beranggotakan 4 murid, masing-masing 5 menit tampil bergantian) dalam mempraktikkan tahapan prosedur pertolongan pertama pada kasus kedaruratan cedera ringan/sedang (prinsip RICE/penanganan kram/keseleo) (35 menit; kelompok; instrumen: lembar observasi dan rubrik unjuk kerja prosedur pertolongan pertama)

Sumatif:

  • Portofolio rencana gaya hidup sehat tertulis dan unjuk kerja simulasi pertolongan pertama: Dokumen portofolio analisis risiko, strategi aktivitas fisik, dan jadwal preventif, serta demonstrasi kelompok prosedur pertolongan pertama cedera
  • portofolio perencanaan tertulis: Lembar kerja portofolio individual yang berisi analisis risiko gaya hidup sedenter berdasarkan rujukan otoritas kesehatan, penjelasan strategi peningkatan aktivitas jasmani harian, serta rancangan jadwal aksi preventif terstruktur (45 menit; individual; instrumen: rubrik penilaian portofolio perencanaan kesehatan)
  • unjuk kerja simulasi kelompok: Peragaan terstruktur dalam kelompok kecil (7 kelompok beranggotakan 4 murid, masing-masing 5 menit tampil bergantian) dalam mempraktikkan tahapan prosedur pertolongan pertama pada kasus kedaruratan cedera ringan/sedang (prinsip RICE/penanganan kram/keseleo) (35 menit; kelompok; instrumen: lembar observasi dan rubrik unjuk kerja prosedur pertolongan pertama)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menganalisis Risiko Kesehatan Akibat Gaya Hidup (TP 9.7.2)Belum mampu menyebutkan risiko kesehatan akibat perilaku sedenter yang sesuai rujukan otoritas kesehatan.Menganalisis 1 risiko kesehatan akibat gaya hidup sedenter secara tepat sesuai acuan rujukan (obesitas/diabetes melitus/hipertensi).Menganalisis 2 risiko kesehatan akibat gaya hidup sedenter secara tepat sesuai acuan rujukan (obesitas/diabetes melitus/hipertensi).Menganalisis 3 risiko kesehatan akibat gaya hidup sedenter secara lengkap dan tepat sesuai acuan rujukan (obesitas, diabetes melitus, dan hipertensi).
Menjelaskan Strategi Peningkatan Aktivitas Jasmani dan Pencegahan Sedenter (TP 9.7.1)Belum mampu menjelaskan strategi konkret peningkatan aktivitas jasmani untuk mencegah penyakit.Menjelaskan 1 strategi operasional peningkatan aktivitas jasmani dan jeda duduk sesuai acuan rujukan.Menjelaskan 2 strategi operasional peningkatan aktivitas jasmani dan jeda duduk secara tepat sesuai acuan rujukan.Menjelaskan lebih dari 2 strategi operasional peningkatan aktivitas jasmani dan jeda duduk secara mendalam dan tepat sesuai acuan rujukan.
Merancang Tindakan Pencegahan Melalui Jadwal Aktivitas Jasmani (TP 9.7.3)Rancangan jadwal belum memuat alokasi durasi mingguan dan jenis aktivitas jasmani.Merancang jadwal aktivitas jasmani namun total durasi belum memenuhi batas minimal rekomendasi (<150 menit per minggu).Merancang jadwal aktivitas jasmani dengan total akumulasi minimal 150 menit per minggu yang terbagi teratur sesuai rekomendasi otoritas kesehatan.Merancang jadwal aktivitas jasmani terstruktur mencakup durasi minimal 150 menit per minggu, variasi intensitas sedang, serta pembagian hari yang konsisten.
Mempraktikkan Prosedur Penanganan Cedera Prinsip RICE (TP 9.7.4)Mempraktikkan kurang dari 2 tahapan prinsip RICE secara runtut dan tepat pada cedera keseleo.Mempraktikkan 2 tahapan dari prinsip RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation) secara tepat sesuai prosedur.Mempraktikkan 3 tahapan dari prinsip RICE secara tepat dan runtut sesuai prosedur penanganan cedera.Mempraktikkan seluruh (4 tahapan) prinsip RICE (Rest, Ice, Compression, Elevation) secara runtut, tepat teknik, dan terampil sesuai prosedur baku.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu pembagian sesi portofolio tertulis dan simulasi unjuk kerja kelompok berjalan tepat sesuai rancangan alur?
  • Bagaimana tingkat penguasaan murid pada kompetensi peragaan prosedur pertolongan pertama dibandingkan dengan kompetensi analisis tertulis?

Murid:

  • Bagian mana dari rencana hidup sehat mingguan yang telah kamu rancang yang paling siap kamu terapkan dalam kehidupan sehari-hari?
  • Apakah kamu sudah merasa yakin dan mampu melakukan tahapan prosedur RICE secara mandiri jika menemui teman yang mengalami cedera keseleo?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan untuk SMP/MTs Kelas IX, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2022.
  2. Buku Siswa PJOK Kelas IX SMP/MTs Kurikulum Merdeka.
  3. Lembar ringkasan informasi dan studi kasus gaya hidup sedenter.
  4. Kartu pernyataan aktivitas harian.
  5. Buku Panduan Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan untuk SMP/MTs Kelas IX (Kemendikbudristek 2022).
  6. Bahan Informasi Kemenkes RI tentang Pencegahan Penyakit Tidak Menular (PTM) dan Pedoman Gizi Seimbang.
  7. Lembar Kerja Murid (LKPD) Analisis Skenario Gaya Hidup Remaja.
  8. Infografis Panduan Aktivitas Fisik dan Pola Hidup Sehat Remaja menurut WHO.
  9. Buku Panduan Guru PJOK Kelas IX SMP/MTs, Kemendikbudristek RI, Unit 7.
  10. Buku Siswa PJOK Kelas IX SMP/MTs, Kemendikbudristek RI.
  11. Panduan Aktivitas Fisik untuk Remaja menurut World Health Organization (WHO) dan Kementerian Kesehatan RI (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat / GERMAS).
  12. Lembar Kerja Murid (LKPD) 'Rencana Aksi Aktivitas Jasmani 7 Hari'.
  13. Buku Panduan Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan SMP Kelas IX
  14. Kotak P3K sekolah, perban elastis (elastic bandage), bantal/penyangga kaki, kantung kompres dingin tiruan
  15. Buku Panduan Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan untuk SMP/MTs Kelas IX, Kemendikbudristek 2022
  16. Buku Siswa PJOK Kelas IX SMP/MTs, Kemendikbudristek 2022
  17. Lembar Kerja Portofolio Rencana Hidup Sehat
  18. Perlengkapan P3K: perban elastis (elastic bandage), mitela, kantung kompres es simulasi

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.