Modul AjarBab 3Fase DSemester 1

Modul Ajar PJOK Kelas 8 Bab 3: Menyusun dan Menerapkan Strategi Gerak

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian PJOK kelas 8 untuk Bab 3 "Menyusun dan Menerapkan Strategi Gerak", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar PJOK Kelas 8 Bab 3: Menyusun dan Menerapkan Strategi Gerak

PJOK - Kelas 8

Bab 3

MODUL AJAR

PJOK — Kelas 8 (Fase D)

Topik: Bab 3 — Menyusun dan Menerapkan Strategi Gerak

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPJOK
Fase / KelasFase D / Kelas 8
TopikBab 3 — Menyusun dan Menerapkan Strategi Gerak
Alokasi Waktu12 JP (12 x 40 menit = 480 menit)
Jumlah Pertemuan6
Tahun Ajaran2026/2027
Semester1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 8.3.1 Memperagakan strategi gerak yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan capaian keterampilan gerak dalam situasi permainan
  2. TP 8.3.2 Membuktikan strategi gerak yang paling efektif dalam situasi gerak yang berbeda
  3. TP 8.3.3 Menerapkan kepemimpinan ketika berpartisipasi di dalam berbagai aktivitas jasmani
  4. TP 8.3.4 Menerapkan kolaborasi dan pengambilan keputusan kelompok ketika berpartisipasi di dalam berbagai aktivitas jasmani

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis✓
Kreativitas
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan✓
Komunikasi✓

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Bagaimana cara tim penyerang menciptakan ruang kosong agar bola dapat dialirkan menembus pertahanan lawan?
  2. Gerakan tanpa bola apa yang paling efektif untuk memecah fokus penjagaan lawan saat menyusun serangan?
  3. Bagaimana posisi tubuh dan langkah kaki yang tepat saat membatasi ruang gerak lawan yang membawa bola?
  4. Kapan waktu yang paling tepat untuk menutup jalur passing lawan dibanding langsung merebut bola?
  5. Mengapa satu strategi gerak yang berhasil dalam satu situasi bisa gagal ketika situasi pergerakan lawan atau ruang berubah?
  6. Bagaimana cara kita membuktikan secara nyata bahwa suatu pilihan strategi gerak lebih efektif dibanding strategi lainnya?
  7. Apa tindakan konkret seorang pemimpin di lapangan saat anggota timnya mulai kehilangan arah gerak?
  8. Bagaimana caramu memberikan instruksi gerak yang jelas dan memotivasi rekan satu tim saat aktivitas jasmani berlangsung?
  9. Mengapa dalam aktivitas jasmani kelompok, keberhasilan tim sangat bergantung pada kesepakatan bersama dan saling membantu?
  10. Bagaimana cara kelompokmu mengambil keputusan yang cepat dan tepat saat menghadapi perubahan situasi permainan di lapangan?
  11. Bagaimana kita membuktikan bahwa suatu strategi gerak lebih unggul dan efektif dibandingkan strategi lain saat menghadapi situasi lawan yang berbeda?
  12. Bagaimana kepemimpinan dan kolaborasi tim memengaruhi keberhasilan peragaan strategi gerak penyerangan maupun pertahanan di lapangan?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Memperagakan Strategi Gerak Penyerangan untuk Meningkatkan Capaian Keterampilan Gerak dalam Situasi Permainan — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.3.1 Memperagakan strategi gerak yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan capaian keterampilan gerak dalam situasi permainan

Pendahuluan:

  • Guru mengumpulkan murid di lapangan, memimpin doa, memeriksa kehadiran, dan memandu pemanasan dinamis berbasis permainan operan cepat (10 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran serta melakukan asesmen awal berupa tes peragaan taktis singkat: murid berpasangan diminta memperagakan operan sambil bergerak mencari ruang kosong menghadapi 1 pemain bertahan pasif untuk memetakan kesiapan gerak penyerangan (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru memberikan demonstrasi dan penjelasan terarah mengenai 2 bentuk pola gerak penyerangan dasar dalam situasi permainan invasi: pola 'oper dan lari ke ruang kosong' (give and go) serta pola 'memancing lawan keluar untuk menciptakan celah tembak' (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Dalam kelompok kecil (3 penyerang vs 2 bertahan), murid memperagakan strategi gerak penyerangan pola 'give and go' di area berbatas (10 x 10 meter) untuk mencapai garis akhir sasaran tanpa kehilangan bola (20 menit).
  • Murid memperagakan simulasi permainan invasi modifikasi 4 lawan 4 dengan aturan khusus penyerangan: poin bernilai sah jika didahului minimal 3 kali operan berpindah posisi dan pergerakan membuka ruang tanpa bola (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama kelompoknya mengevaluasi pelaksanaan peragaan strategi penyerangan: menilai ketepatan waktu bergerak mencari ruang kosong dan keberhasilan menuntaskan serangan ke area lawan (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid melakukan gerakan pendinginan statis untuk menurunkan detak jantung dan merilekskan otot (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik atas peragaan strategi penyerangan yang telah dilakukan, mengecek pencapaian target gerak murid, dan menutup pembelajaran dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan berlatih dengan rasio keunggulan pemain serang lebih besar (3 lawan 1) pada area yang lebih luas; murid mahir berlatih dengan rasio ketat (3 lawan 3) dengan pembatasan sentuhan bola maksimal 2 kali sentuh.
  • Proses: Pemberian jeda evaluasi taktik lebih sering bagi kelompok yang masih kesulitan mengalirkan bola ke ruang kosong.
  • Produk: Variasi jumlah penyelesaian serangan ke sasaran yang berhasil diperagakan sesuai tingkat kesiapan gerak kelompok.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Uji peragaan taktis awal 2 penyerang vs 1 bertahan pasif: murid dinilai kemampuannya memperagakan operan dan gerak berpindah posisi membuka ruang. Acuan kriteria: (1) Mengoper bola ke teman yang tidak terkawal; (2) Segera berlari mencari ruang bebas setelah mengoper. Murid yang memenuhi kedua kriteria masuk kategori Siap Mandiri, jika hanya 1 atau belum memenuhi masuk kategori Butuh Bimbingan.

Proses:

  • Lembar observasi unjuk kerja saat simulasi 3 vs 2 dan 4 vs 4 dengan 3 indikator ketercapaian peragaan: (1) Gerak membuka ruang kosong tanpa bola; (2) Ketepatan waktu dan arah operan penyerangan (timing passing); (3) Keberhasilan peragaan pola 'give and go' menembus pertahanan lawan (acuan: minimal 2 kali percobaan berhasil dilakukan per murid).

Akhir Pertemuan:

  • Cek unjuk kerja akhir di penutup: setiap murid memperagakan 1 kali rangkaian taktik serangan 'give and go' berpasangan melewati 1 rintangan aktif menuju sasaran. Acuan keberhasilan: operan terarah tepat ke rekan dan pelari berhasil menerima bola kembali di ruang bebas di belakang pemain bertahan.

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja peragaan strategi penyerangan (pola give and go dan pergerakan tanpa bola) selama simulasi permainan modifikasi.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Peragaan Pola Serangan Membuka Ruang (Give and Go)Belum mampu memperagakan gerak lari ke ruang kosong setelah mengoper bola, cenderung diam di tempat setelah melepas bola.Mulai memperagakan gerak lari ke ruang kosong setelah mengoper bola, namun arah lari masih mendekati posisi pemain bertahan sehingga jalur umpan tertutup.Mampu memperagakan pola 'give and go' dengan berlari ke ruang kosong dan menerima bola kembali melewati pemain bertahan secara konsisten.Mampu memperagakan pola 'give and go' dengan penempatan posisi ruang kosong yang sangat tepat, waktu lari yang presisi, dan menghasilkan peluang tembakan bebas secara mandiri.
Peragaan Strategi Gerak Penyerangan Tanpa Bola dalam PermainanHanya bergerak saat bola berada dalam penguasaannya dan tidak melakukan pergerakan taktis saat rekan menguasai bola.Memperagakan pergerakan tanpa bola namun timing dan jarak dengan rekan pembawa bola terlalu dekat sehingga mempermudah penjagaan lawan.Konsisten memperagakan gerak tanpa bola menjauh dari pengawalan lawan untuk menciptakan opsi passing bagi rekan setim.Secara konsisten dan efektif memperagakan gerak tipuan tanpa bola yang memecah konsentrasi pertahanan lawan serta membuka jalur serangan rekan tim secara berkelanjutan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 20 menit pada latihan 3 vs 2 dan 15 menit pada simulasi 4 vs 4 cukup memberikan kesempatan bagi setiap murid untuk memperagakan peran penyerangan?
  • Bagaimana efektivitas modifikasi ukuran lapangan dalam membantu murid memahami konsep pergerakan ke ruang kosong?

Murid:

  • Bagian mana dari strategi gerak penyerangan (membuka ruang atau waktu mengoper) yang paling mudah dan paling menantang untuk saya peragakan?
  • Apa yang harus saya lakukan saat rekan membawa bola agar tim kami dapat menembus pertahanan lawan dengan efektif?

Pertemuan 2 — Memperagakan Strategi Gerak Bertahan untuk Meningkatkan Capaian Keterampilan Gerak dalam Situasi Permainan — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.3.1 Memperagakan strategi gerak yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan capaian keterampilan gerak dalam situasi permainan

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, berdoa bersama, memeriksa kehadiran murid, serta memeriksa kesiapan fisik untuk beraktivitas jasmani di lapangan (3 menit).
  • Guru memimpin pemanasan dinamis berorientasi gerak bertahan (footwork defensive slide, backpedal, dan lari zig-zag menjaga keseimbangan tubuh) untuk mengaktifkan kesiapan otot (7 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui simulasi gerak 1 lawan 1 singkat tanpa bola untuk memetakan kesiapan murid dalam memperagakan kuda-kuda bertahan (rendah dan seimbang) serta reaksi menutup arah gerak penyerang (acuan kesiapan: lutut ditekuk, pinggul rendah, tangan terentang aktif, kaki bergerak meluncur tanpa menyilang) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid menyimak peragaan guru dan seorang peraga mengenai 2 pola strategi gerak bertahan: (1) Penjagaan orang-ke-orang (man-to-man defense) dengan fokus menjaga jarak satu lengan dan membendung laju lawan; (2) Penjagaan ruang/daerah (zone defense) dengan fokus menutup jalur umpan dan mengamankan area tengah lapangan (7 menit).
  • Murid secara berpasangan mempraktikkan gerakan dasar sikap bertahan (defensive stance dan slide step) secara berkesadaran, merasakan tumpuan berat badan pada bola kaki bagian depan agar responsif berpindah arah gerak (8 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid berpasangan memainkan tantangan menggembirakan 'Shadow Defensive Mirror': satu murid menjadi penyerang yang bergerak lincah ke kanan-kiri dalam koridor 3x3 meter selama 30 detik, dan pasangannya sebagai pemain bertahan wajib memperagakan gerak bayangan mengimbangi langkah penyerang tanpa menjatuhkan kerucut pembatas (10 menit).
  • Murid dalam kelompok kecil memperagakan strategi gerak bertahan dalam simulasi permainan modifikasi 3 lawan 3 setengah lapangan (permainan invasi modifikasi menggunakan bola tangan/basket sederhana): tim bertahan memperagakan strategi menutup ruang gerak, mengganggu operan bola, dan menjaga pemain lawan agar tidak mendekati area gawang/ring (11 menit).
  • Murid memperagakan penyesuaian strategi bertahan saat situasi permainan berganti: beralih dari menjaga area ke menempel ketat pemain penyerang yang memegang bola saat bola memasuki garis serang (12 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid duduk melingkar dalam sesi refleksi terbimbing untuk mengevaluasi keberhasilan peragaan gerak bertahannya: menilai apakah posisi tubuh sudah cukup rendah dan apakah komunikasi isyarat gerak berhasil menutup celah serangan lawan (5 menit).

Penutup:

  • Murid melakukan aktivitas pendinginan (stretching statis otot paha, betis, dan punggung) serta pengaturan napas untuk memulihkan denyut jantung (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik formatif terhadap konsistensi peragaan sikap bertahan murid dan mengingatkan materi strategi pertemuan berikutnya (bukan akhir bab), ditutup dengan doa dan merapikan alat olahraga bersama (7 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan berlatih pola gerak bertahan dalam koridor sempit dengan tempo langkah lambat; murid yang sudah mahir menghadapi variasi pergerakan penyerang dengan perubahan arah mendadak.
  • Proses: Scaffolding diberikan guru melalui aba-aba hitungan saat meluncur (slide step) bagi murid pemula; murid mahir langsung memperagakan penjagaan bertahan secara mandiri dalam simulasi dinamis.
  • Produk: Semua murid memperagakan keterampilan gerak bertahan, dengan variasi tingkat kecepatan reaksi langkah dan ketepatan menjaga jarak bertahan sesuai kemampuan gerak masing-masing.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Simulasi gerak 1 lawan 1 tanpa bola (5 menit): guru mengamati postur dan reaksi kuda-kuda bertahan murid. Acuan kesiapan: (1) Kuda-kuda rendah dengan lutut ditekuk; (2) Tangan merentang aktif menjaga keseimbangan; (3) Langkah kaki meluncur ke samping (slide) tanpa menyilangkan kaki. Kategori: Siap jika memenuhi ketiga indikator; Perlu Bimbingan jika belum memenuhi minimal 2 indikator.

Proses:

  • Pengamatan langsung unjuk kerja memperagakan strategi gerak bertahan dalam simulasi 3 lawan 3: dinilai berdasarkan ketepatan posisi tubuh membendung pergerakan lawan, kelincahan gerak kaki menutup ruang, dan antisipasi terhadap perpindahan bola lawan (acuan: tubuh selalu berada di antara penyerang dan sasaran, tidak melompat sebelum lawan melepaskan bola/tembakan).

Akhir Pertemuan:

  • Cek unjuk pemahaman gerak penutup: murid memperagakan kembali 1 kali gerakan perpindahan bertahan lateral (kiri ke kanan) 3 langkah dan posisi tangan membendung serangan. Kriteria penerimaan operasional: posisi pinggul tetap rendah, dada tegak, kaki tidak menyilang, dan tangan aktif merentang.

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja gerak bertahan (lembar ceklis peragaan: defensive stance, footwork slide, penutupan ruang tembak/operan) selama kegiatan inti

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Memperagakan Sikap dan Posisi Kuda-Kuda Bertahan (Defensive Stance)Berdiri tegak, lutut tidak ditekuk, dan tangan pasif di samping badan saat mencoba bertahan dalam situasi permainan.Memperagakan kuda-kuda bertahan dengan menekuk lutut tetapi posisi badan terlalu condong ke depan sehingga mudah kehilangan keseimbangan saat lawan bergerak.Memperagakan posisi kuda-kuda bertahan yang seimbang (lutut ditekuk, pinggul rendah, tangan aktif merentang) secara tepat saat mengawal lawan.Memperagakan posisi kuda-kuda bertahan secara konsisten, stabil, dan sigap merespons perubahan gerak lawan secara mandiri tanpa kehilangan keseimbangan.
Memperagakan Langkah Kaki dan Penutupan Ruang Gerak Lawan (Footwork & Positioning)Langkah kaki sering menyilang atau diam terpaku di tempat sehingga penyerang lawan mudah melewati posisi bertahan.Memperagakan langkah meluncur (slide step) ke satu arah, namun masih terlambat menutup ruang gerak saat lawan mengubah arah serangan.Memperagakan langkah meluncur (slide step) secara lincah dan tepat menutup jalur gerak atau jalur operan lawan dalam simulasi permainan.Memperagakan langkah kaki bertahan secara cepat, fleksibel mengubah arah, dan selalu berhasil menempatkan posisi tubuh di antara lawan dan sasaran secara konsisten.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu simulasi 3 lawan 3 cukup memberikan kesempatan kepada seluruh murid untuk memperagakan peran bertahan?
  • Bagaimana efektivitas peragaan gerak yang dicontohkan dalam membantu murid memahami cara menutup ruang gerak lawan?

Murid:

  • Bagian mana dari gerakan bertahan (kuda-kuda rendah atau langkah meluncur) yang terasa paling menantang bagimu?
  • Apakah kamu merasa strategi bertahan yang kamu peragakan berhasil menyulitkan lawan mencetak poin?

Pertemuan 3 — Membuktikan Strategi Gerak yang Paling Efektif dalam Situasi Gerak yang Berbeda — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.3.2 Membuktikan strategi gerak yang paling efektif dalam situasi gerak yang berbeda

Pendahuluan:

  • Guru mengumpulkan murid di lapangan, memimpin doa, memeriksa kehadiran, dan memfasilitasi pemanasan dinamis yang berfokus pada kelincahan reaksi gerak (7 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu membuktikan strategi gerak yang paling efektif dalam dua situasi gerak yang berbeda (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik lisan dengan menyajikan 2 situasi: Situasi A (area depan kosong dan terbuka lebar) dan Situasi B (area tengah dijaga ketat oleh 2 lawan); murid diminta memilih strategi gerak yang paling efektif untuk tiap situasi dari opsi: (1) Menggiring/berlari cepat lurus menerobos ruang kosong, atau (2) Mengoper bola cepat melambung/melebar menghindari kepungan (acuan: Situasi A paling efektif menggunakan opsi 1 karena ada ruang bebas; Situasi B paling efektif menggunakan opsi 2 untuk memindahkan arah serangan dan menghindari kepungan) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna):

  • Murid mengamati penjelasan guru mengenai parameter pembuktian efektivitas strategi gerak, yaitu keberhasilan mencapai target sasaran, efisiensi waktu, serta minimnya risiko kehilangan bola/posisi dalam menghadapi rintangan (5 menit).
  • Murid mencermati demonstrasi 2 skenario situasi gerak berbeda di lapangan: Situasi 1 (situasi gerak ruang terbuka/serangan balik cepat dengan jarak 15 meter) dan Situasi 2 (situasi gerak ruang sempit/area terbatas dengan 2 penanda rintangan aktif di jalur tengah) (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Murid melakukan uji coba pembuktian pada Situasi 1 (Ruang Terbuka): murid menguji dua strategi berbeda secara bergiliran—Strategi A (operan pendek bertahap) vs Strategi B (dribel/sprint cepat langsung ke target)—lalu mencatat bukti strategi mana yang paling efektif berdasarkan waktu tempuh dan ketercapaian target (acuan bukti: Strategi B sprint/dribel cepat langsung terbukti paling efektif di ruang terbuka karena memangkas waktu tanpa hambatan) (15 menit).
  • Murid melakukan uji coba pembuktian pada Situasi 2 (Ruang Sempit/Terjaga): murid menguji dua strategi berbeda—Strategi X (menerobos lurus sendirian) vs Strategi Y (gerak tipu/mengubah arah lintasan ke samping penanda)—lalu membuktikan strategi mana yang paling efektif berdasarkan keberhasilan melewati rintangan tanpa kehilangan bola (acuan bukti: Strategi Y terbukti paling efektif di ruang sempit karena memanfaatkan celah sisi dan menghindari kontak langsung) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa dan membandingkan data catatan hasil uji coba kedua situasi tersebut secara mandiri untuk membuktikan kesimpulan efektivitas strategi gerak: Situasi 1 paling efektif dengan penetrasi cepat langsung, sedangkan Situasi 2 paling efektif dengan manuver perubahan arah (10 menit).

Penutup:

  • Murid melakukan pendinginan statis dan peregangan otot tungkai serta lengan yang dipandu oleh guru (5 menit).
  • Guru memberikan asesmen akhir berupa umpan balik konfirmasi pembuktian efektivitas gerak murid dan memberikan apresiasi atas proses pengujian gerak yang telah dilakukan tanpa membahas akhir bab (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan variasi jarak lintasan (10 meter untuk pemula, 15 meter untuk yang sudah mahir) dan variasi lebar celah rintangan pada Situasi 2 tanpa mengubah kompetensi pembuktian strategi gerak.
  • Proses: Bagi murid yang masih ragu, guru memberikan bimbingan langsung saat membandingkan waktu dan keberhasilan strategi; bagi murid yang tanggap, mereka menguji efektivitas strategi dengan menambah rintangan bergerak secara mandiri.
  • Produk: Hasil pembuktian dicatat pada lembar observasi gerak sederhana atau disampaikan secara lisan terstruktur sesuai acuan efektivitas situasi gerak.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan pada pendahuluan: Guru memberikan 2 skenario singkat: Skenario 1 (jalur lurus tanpa halangan sejauh 15 meter) dan Skenario 2 (jalur tengah dijaga ketat oleh 2 orang rintangan). Murid menentukan strategi paling efektif dari 2 pilihan: (A) Lari/dribel lurus secepatnya, (B) Gerak tipu operan/berkelit menyamping. (Acuan: Skenario 1 = Pilihan A; Skenario 2 = Pilihan B).

Proses:

  • Observasi kinerja pembuktian efektivitas strategi gerak selama tahap Mengaplikasi menggunakan lembar observasi: (1) Murid menguji kedua strategi pada Situasi 1 dan Situasi 2; (2) Murid membuktikan bahwa Strategi Sprint Cepat paling efektif pada Situasi 1 (acuan: waktu lebih cepat mencapai target), dan Strategi Manuver Menyamping paling efektif pada Situasi 2 (acuan: berhasil melewati rintangan tanpa kehilangan kontrol bola/keseimbangan).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pembuktian akhir di penutup: Murid menyebutkan bukti konkret dari hasil uji coba: pada situasi ruang terbuka strategi yang paling efektif adalah dribel/sprint langsung (karena efisiensi waktu), sedangkan pada situasi ruang sempit/terhalang strategi paling efektif adalah perubahan arah lintasan/gerak menghindar (karena mempertahankan penguasaan dan lolos dari rintangan) (acuan: ketepatan membuktikan 2 situasi tersebut sesuai hasil uji coba lapangan).

Formatif:

  • Asesmen diagnostik lisan kesiapan memilih strategi gerak berbasis situasi pada apersepsi
  • Lembar ceklis observasi unjuk kerja pembuktian efektivitas strategi gerak pada Situasi 1 dan Situasi 2

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Membuktikan efektivitas strategi gerak pada situasi gerak berbedaBelum mampu menguji dan belum mampu membuktikan strategi gerak yang paling efektif pada Situasi 1 (ruang terbuka) maupun Situasi 2 (ruang sempit).Mampu menguji namun hanya mampu membuktikan strategi gerak yang paling efektif pada salah satu situasi saja (Situasi 1 atau Situasi 2 sesuai acuan efektivitas).Mampu menguji dan membuktikan strategi gerak yang paling efektif pada kedua situasi (Situasi 1: dribel/sprint cepat langsung; Situasi 2: manuver perubahan arah) secara tepat dengan bantuan arahan guru.Mampu menguji dan membuktikan strategi gerak yang paling efektif pada kedua situasi (Situasi 1 dan Situasi 2) secara mandiri, tepat, dan konsisten berdasarkan bukti keberhasilan capaian gerak.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah desain rintangan pada Situasi 1 dan Situasi 2 berhasil memberikan kontras yang jelas sehingga murid dapat membuktikan perbedaan efektivitas strategi gerak secara nyata?
  • Bagaimana keterlibatan aktif murid dalam membandingkan hasil uji coba strategi selama kegiatan berlangsung?

Murid:

  • Faktor apa yang menjadi bukti terkuat bahwa suatu strategi gerak benar-benar lebih efektif dibandingkan strategi lainnya saat kamu mencobanya di lapangan?
  • Bagaimana kamu menyesuaikan keputusan gerakmu ketika situasi di depanmu tiba-tiba berubah dari ruang terbuka menjadi ruang yang terjaga?

Pertemuan 4 — Menerapkan Kepemimpinan ketika Berpartisipasi di dalam Berbagai Aktivitas Jasmani — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.3.3 Menerapkan kepemimpinan ketika berpartisipasi di dalam berbagai aktivitas jasmani

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kesiapan fisik murid, dan memimpin doa bersama di lapangan (4 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menerapkan kepemimpinan ketika berpartisipasi di dalam aktivitas jasmani (3 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik lisan dengan menanyakan 2 tindakan kepemimpinan dalam tim jasmani: (1) Bagaimana memandu posisi teman yang tidak dijaga? (acuan: memberi aba-aba arah/isyarat verbal segera); (2) Apa yang dilakukan saat teman melakukan kesalahan operan? (acuan: memberi motivasi positif tanpa menyalahkan) (5 menit).
  • Pemanasan dinamis terpimpin dalam formasi lingkaran yang melibatkan gerakan peregangan persendian dan lari keliling lapangan secara teratur (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak penjelasan dan peragaan guru mengenai wujud kepemimpinan lapangan dalam aktivitas jasmani, yaitu: (1) memberikan aba-aba/instruksi gerak yang jelas, (2) mengoordinasikan pembagian posisi/ruang antaranggota, dan (3) memberikan dorongan semangat saat rekan setim mengalami kesulitan (7 menit).
  • Guru membagi kelas menjadi 4 kelompok (masing-masing 7-8 murid) dan menetapkan peran pemimpin lapangan secara bergilir dengan penanda pita lengan, lalu menjelaskan skenario tantangan mini 'Oper Alir Berpindah Posisi' (8 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Tantangan Menggembirakan: Setiap kelompok melakukan simulasi permainan jasmani modifikasi 'Tangkap dan Amankan Zona', di mana pemimpin giliran pertama wajib aktif memberikan komando arah lari, mengatur perpindahan rekan ke ruang kosong, dan menyuarakan instruksi gerak secara lantang dan teratur (7 menit).
  • Rotasi kepemimpinan: Pemimpin kelompok berganti ke anggota berikutnya; pemimpin baru memimpin kelompoknya menyusun penempatan formasi gerak cepat saat transisi bertahan ke menyerang, sambil memberi motivasi langsung kepada setiap anggota (15 menit).
  • Seluruh kelompok mempraktikkan permainan terapkan kepemimpinan dalam situasi permainan penuh (3 lawan 3 atau 4 lawan 4 mini) dengan fokus setiap kapten menjalankan 3 tindakan kepemimpinan (mengarahkan formasi, memberi komando bola, menyemangati tim) secara mandiri (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid berkumpul dalam lingkaran kelompok untuk mengidentifikasi bagaimana peran kepemimpinan yang dijalankan tadi memengaruhi keteraturan dan semangat anggota saat bergerak di lapangan (5 menit).
  • Setiap perwakilan pemimpin giliran menyampaikan satu tindakan kepemimpinan yang paling efektif ia jalankan dan satu kendala yang dirasakan saat mengarahkan gerak rekan satu timnya (5 menit).

Penutup:

  • Guru memandu aktivitas pendinginan statis dan relaksasi pernapasan untuk menurunkan denyut nadi murid (3 menit).
  • Guru memberikan umpan balik menyeluruh terhadap penerapan kepemimpinan yang ditunjukkan murid selama permainan modifikasi (3 menit).
  • Guru menutup pertemuan dengan doa bersama dan mengarahkan murid kembali ke kelas dengan tertib (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan kata kunci komando kepemimpinan (misal: 'Bagi Ruang!', 'Maju Bersama!', 'Kawal Kanan!'), sedangkan murid yang mahir memimpin secara mandiri tanpa bantuan kartu teks.
  • Proses: Pada kelompok dengan kemampuan awal berkembang, durasi jeda antarbabak ditambah untuk memberi waktu bagi pemimpin menyusun instruksi secara terstruktur; pada kelompok mandiri, pemimpin langsung mengarahkan secara spontan di tengah dinamika gerak cepat.
  • Produk: Tindakan kepemimpinan pada murid pemula dinilai dari minimal mempraktikkan 1-2 instruksi verbal terarah, sedangkan murid yang lebih percaya diri dinilai dari pemenuhan ketiga tindakan kepemimpinan (aba-aba posisi, koordinasi ruang, dan motivasi) secara konsisten.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik singkat di pendahuluan mengenai 2 tindakan nyata kepemimpinan dalam aktivitas jasmani. Butir pertanyaan: (1) Tindakan apa yang dilakukan pemimpin saat melihat area pertahanan kosong? (acuan jawaban: memberikan aba-aba/komando agar rekan terdekat mengisi kekosongan ruang tersebut); (2) Tindakan apa yang dilakukan pemimpin saat rekan kehilangan bola? (acuan jawaban: memberikan dorongan semangat positif dan mengingatkan untuk segera kembali ke posisi gerak pertahanan).

Proses:

  • Observasi keterlibatan murid selama tahap Mengaplikasi dengan instrumen lembar amatan 3 indikator kepemimpinan: (1) memberikan aba-aba/instruksi gerak yang jelas kepada rekan, (2) mengoordinasikan penempatan posisi/ruang gerak tim, (3) memberikan dorongan semangat/motivasi verbal saat bermain (acuan ketuntasan: murid mempraktikkan minimal 2 dari 3 indikator secara aktif).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman formatif di penutup: Murid menyebutkan 2 tindakan kepemimpinan yang telah ia terapkan di lapangan saat memimpin tim jasmani (acuan jawaban yang diterima: salah satu kombinasi dari mengarahkan posisi teman, memberi komando operan/lari, atau memotivasi rekan yang berbuat kekeliruan tanpa mencela).

Formatif:

  • Lembar observasi unjuk kepemimpinan guru saat murid memandu pergerakan tim dalam simulasi permainan jasmani modifikasi
  • Cek lisan pemahaman tindakan kepemimpinan pada asesmen awal dan refleksi penutup

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penerapan Kepemimpinan dalam Aktivitas JasmaniBelum mampu memberikan instruksi gerak maupun mengarahkan posisi rekan tim selama aktivitas jasmani berlangsung walau telah dimotivasi guru.Mampu menerapkan kepemimpinan hanya dengan memberikan dorongan semangat verbal atau satu aba-aba gerak sederhana dengan bimbingan langsung guru.Mampu menerapkan minimal 2 tindakan kepemimpinan (memberikan aba-aba gerak yang jelas dan mengoordinasikan pembagian posisi ruang) secara mandiri saat berpartisipasi.Mampu menerapkan seluruh 3 tindakan kepemimpinan (memberikan aba-aba gerak terarah, mengoordinasikan posisi ruang, dan memberikan motivasi positif kepada rekan) secara konsisten dan mandiri sepanjang aktivitas jasmani.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid mendapatkan kesempatan merata untuk mempraktikkan peran kepemimpinan dalam rotasi kelompok?
  • Bagaimana respons dan perubahan kepercayaan diri murid yang pendiam ketika ditugaskan memimpin rekan-rekannya di lapangan?

Murid:

  • Tindakan apa yang paling menantang bagimu saat harus memberi instruksi gerak kepada rekan satu tim?
  • Bagaimana perasaanmu ketika instruksi gerak yang kamu berikan berhasil membantu tim bergerak lebih teratur?

Pertemuan 5 — Menerapkan Kolaborasi dan Pengambilan Keputusan Kelompok ketika Berpartisipasi di dalam Berbagai Aktivitas Jasmani — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.3.4 Menerapkan kolaborasi dan pengambilan keputusan kelompok ketika berpartisipasi di dalam berbagai aktivitas jasmani

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memimpin doa bersama, memeriksa kehadiran murid, serta memastikan kesiapan fisik murid untuk beraktivitas jasmani di lapangan (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-5, yaitu menerapkan kolaborasi dan pengambilan keputusan kelompok saat berpartisipasi dalam aktivitas jasmani (2 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui tanya jawab singkat mengenai pembagian peran kelompok dalam situasi permainan beregu (3 menit).
  • Murid melakukan pemanasan dinamis dalam lingkaran kelompok kecil yang dipimpin oleh salah satu perwakilan murid dengan pengawasan guru (7 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak penjelasan guru mengenai prinsip kolaborasi (pembagian peran, saling mendukung posisi kawan) dan tahapan pengambilan keputusan kelompok (musyawarah cepat memilih opsi taktik kelompok sesuai skenario situasi) dalam aktivitas jasmani (5 menit).
  • Guru menyajikan 2 skenario situasi taktis kelompok pada papan taktik: Skenario A (lawan menumpuk di area tengah lapangan) dan Skenario B (lawan menekan ketat satu per satu di area pertahanan). Murid dalam kelompok kecil (4-5 murid) mendiskusikan opsi keputusan kelompok untuk masing-masing skenario (acuan keputusan tepat: Skenario A = menyepakati pembagian peran menyebar ke sisi sayap/lebar lapangan untuk membuka ruang; Skenario B = menyepakati pemberian umpan pendek cepat dan pergerakan saling mendekat untuk membantu kawan yang terkunci) (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Murid secara berkelompok mempraktikkan permainan operan bola berbatas waktu 'Tantangan 5 Menit Zona Sasaran': kelompok berkolaborasi membagi peran penyerang dan pendukung serta mengambil keputusan kelompok secara cepat saat situasi lapangan berubah setiap kali guru meniup peluit tanda pergantian arah bertahan (20 menit).
  • Setiap kelompok menerapkan mekanisme 'Time-Out Taktis 1 Menit' di tengah permainan modifikasi untuk mengevaluasi posisi kawan, bermusyawarah mengambil keputusan kelompok terkait penyesuaian peran, dan kembali berkolaborasi di lapangan untuk mempraktikkan keputusan yang telah disepakati bersama secara antusias dan kompak (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama kelompoknya duduk melingkar untuk merefleksikan bagaimana bentuk kolaborasi dan efektivitas keputusan kelompok yang tadi diambil selama permainan jasmani berlangsung (5 menit).

Penutup:

  • Murid melakukan aktivitas pendinginan gerak statis berpasangan untuk mengendurkan otot-otot tubuh setelah beraktivitas jasmani (5 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran mengenai pentingnya kolaborasi dan musyawarah pengambilan keputusan kelompok dalam aktivitas fisik beregu (3 menit).
  • Guru memberikan apresiasi atas kerja sama tim seluruh murid, memberikan tindak lanjut untuk pertemuan berikutnya (sumatif kinerja), serta menutup kegiatan dengan doa dan salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan 2 pilihan opsi keputusan taktis terstruktur di kartu kendali peran, sedangkan murid yang siap diberikan kebebasan merumuskan opsi keputusan kelompok secara mandiri.
  • Proses: Pada simulasi permainan, kelompok yang masih berkembang didampingi guru saat sesi musyawarah time-out, sedangkan kelompok yang sudah mahir langsung mengambil keputusan bersama secara mandiri.
  • Produk: Penerapan kolaborasi dan keputusan kelompok ditunjukkan langsung melalui kesepakatan pembagian peran nyata di lapangan permainan modifikasi.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan pemetaan kesiapan: Guru mengajukan pertanyaan: 'Jika dalam permainan regumu sedang terdesak karena dua teman dijaga ketat lawan, apa keputusan kelompok yang harus segera disepakati bersama?' (Kriteria penerimaan operasional: murid menjawab dengan opsi taktis kerja sama yang logis, seperti bersepakat membuka ruang kosong, mendekat memberi opsi operan, atau saling bertukar posisi untuk membebaskan ruang gerak kawan).

Proses:

  • Lembar observasi keterlibatan kolaborasi: Guru mengamati keterlibatan setiap murid dalam membagi peran dan saling mendukung posisi teman seregu selama aktivitas jasmani.
  • Lembar ceklis pengambilan keputusan kelompok: Guru menilai ketepatan kelompok dalam menyepakati dan menjalankan keputusan bersama menghadapi 2 skenario permainan (acuan: Skenario A kelompok memutuskan menyebar memanfaatkan lebar lapangan; Skenario B kelompok memutuskan saling mendekat dan melakukan operan pendek cepat).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman dan refleksi aplikasi gerak di akhir sesi: Murid secara lisan menyampaikan 1 bukti tindakan kolaborasi dan 1 keputusan bersama yang berhasil diterapkan oleh kelompoknya selama simulasi (kriteria penerimaan operasional: menyebutkan pembagian peran nyata yang dijalankan bersama kawan dan keputusan taktis yang disepakati saat time-out).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja kolaborasi kelompok selama aktivitas jasmani berlangsung
  • Penilaian lembar observasi pengambilan keputusan kelompok saat simulasi permainan modifikasi

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penerapan Kolaborasi dalam Aktivitas JasmaniBelum menunjukkan kerja sama; bermain sendiri tanpa menghiraukan peran atau posisi rekan dalam kelompok.Mulai berkolaborasi menjalankan peran dalam kelompok, namun masih perlu diarahkan guru untuk saling mendukung posisi kawan.Menerapkan kolaborasi dengan konsisten membagi peran dan saling mendukung pergerakan teman satu kelompok selama aktivitas jasmani.Menerapkan kolaborasi secara konsisten, proaktif mengisi ruang kosong kawan, dan menjaga kekompakan peran tim tanpa perlu arahan guru.
Pengambilan Keputusan Kelompok dalam Aktivitas JasmaniBelum mampu menyepakati keputusan kelompok saat menghadapi perubahan situasi permainan jasmani.Mampu menyepakati keputusan kelompok namun penerapannya dalam aktivitas jasmani masih ragu-ragu dan belum selaras.Mampu bermusyawarah dan menyepakati keputusan kelompok dengan tepat sesuai skenario situasi serta menerapkannya dalam aktivitas jasmani.Mampu mengambil keputusan kelompok secara cepat dan mandiri dalam situasi bermain yang dinamis serta mengeksekusinya secara terpadu di lapangan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid terlibat aktif dalam proses musyawarah pengambilan keputusan kelompok di sesi time-out?
  • Bagaimana efektivitas permainan modifikasi dalam memfasilitasi murid menerapkan kolaborasi nyata di lapangan?

Murid:

  • Bagaimana perasaanku ketika berhasil menyepakati dan menerapkan keputusan bersama teman satu kelompok di lapangan?
  • Bentuk bantuan atau kerja sama apa yang paling bermanfaat yang aku berikan kepada rekan tim hari ini?

Pertemuan 6 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.3.1 Memperagakan strategi gerak yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan capaian keterampilan gerak dalam situasi permainan
  • TP 8.3.2 Membuktikan strategi gerak yang paling efektif dalam situasi gerak yang berbeda
  • TP 8.3.3 Menerapkan kepemimpinan ketika berpartisipasi di dalam berbagai aktivitas jasmani
  • TP 8.3.4 Menerapkan kolaborasi dan pengambilan keputusan kelompok ketika berpartisipasi di dalam berbagai aktivitas jasmani

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memimpin doa, memeriksa kehadiran murid, serta memastikan kondisi fisik murid siap mengikuti aktivitas jasmani di lapangan (3 menit).
  • Guru memandu pemanasan dinamis terstruktur dan peregangan aktif untuk mempersiapkan kesiapan otot dan sendi menghadapi simulasi permainan intensitas sedang (4 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif bab, alur 3 tugas kinerja sumatif, serta kriteria rubrik penilaian kinerja unjuk gerak dan analisis strategi tim dalam simulasi permainan modifikasi (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Tugas 1 (Bagian A) - Memahami Petunjuk & Dinamika Kelompok: Setiap tim berkumpul di area taktik masing-masing untuk mencermati 2 situasi gerak simulasi permainan modifikasi (Situasi 1: pertahanan lawan rapat di area tengah; Situasi 2: pertahanan lawan menekan tinggi/man-to-man) serta pembagian peran tugas lapangan (5 menit).
  • Tugas 1 (Bagian B) - Pengambilan Keputusan Taktik: Murid dalam tim menjalankan kepemimpinan bergiliran dalam memberi arahan taktik dan berkolaborasi menyepakati keputusan bersama mengenai pola penyerangan (pemanfaatan ruang lebar) dan pertahanan (zona rapat) yang akan diperagakan, sementara guru mengamati menggunakan lembar observasi kepemimpinan dan kolaborasi kelompok (15 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Tugas 2 - Unjuk Kerja Peragaan Gerak Tim: Murid memperagakan penerapan strategi gerak ofensif (pergerakan tanpa bola, membuka ruang kosong, sirkulasi cepat) dan defensif (menutup jalur operan, menjaga area) secara serentak per tim pada simulasi permainan modifikasi (misalnya 4 vs 4 passing-target game) selama dua babak dengan jeda rotasi taktik, sementara guru menilai ketercapaian peragaan gerak menggunakan rubrik unjuk kerja peragaan strategi gerak (35 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Tugas 3 - Penilaian Kinerja Analisis Komparatif: Setiap tim mengisi lembar kerja tertulis kelompok untuk membuktikan secara evaluatif perbandingan efektivitas 2 strategi gerak yang digunakan pada Situasi 1 dan Situasi 2 berdasarkan bukti nyata di lapangan (keberhasilan mencetak poin, pemanfaatan ruang kosong, dan rasio kehilangan penguasaan bola) sesuai acuan analisis rubrik (10 menit).

Penutup:

  • Guru memimpin pendinginan (cooling down) terpandu untuk menurunkan denyut nadi dan merelaksasi ketegangan otot setelah simulasi permainan (2 menit).
  • Guru mengumpulkan lembar kerja analisis kelompok, menyampaikan rekapitulasi pelaksanaan unjuk kerja sumatif secara umum, mengapresiasi fair play seluruh tim, serta menutup pertemuan Bab 3 dengan doa bersama (3 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Akomodasi akses: Petunjuk teks tertulis skenario situasi 1 dan 2 pada lembar kerja dilengkapi dengan diagram visual pola formasi lapangan tanpa mengubah indikator taktik yang diuji.
  • Proses: Akomodasi akses: Murid yang memiliki keterbatasan mobilitas fisik ringan dialokasikan pada peran taktis playmaker/pengatur bola dengan batasan area gerak yang tetap menjalankan fungsi distribusi strategi penyerangan.
  • Produk: Standar bukti kinerja unjuk gerak dan lembar analisis perbandingan efektivitas strategi tetap sama untuk seluruh kelompok.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pengecekan kesiapan fisik melalui skrining kesiapan gerak dan konfirmasi pemahaman aturan keselamatan lapangan sebelum memulai asesmen unjuk kerja sumatif (acuan: murid berada dalam kondisi bugar, berseragam olahraga lengkap, dan memahami batas area permainan modifikasi).

Proses:

  • Observasi formatif keterlaksanaan peran kepemimpinan dan kolaborasi murid saat koordinasi kelompok di pinggir lapangan sebelum peluit pertandingan dibunyikan.

Sumatif Bab:

  • penilaian kinerja unjuk gerak dan analisis strategi tim dalam simulasi permainan modifikasi: demonstrasi peragaan strategi gerak, lembar perbandingan efektivitas strategi gerak pada dua situasi, serta rekaman observasi kepemimpinan dan kolaborasi tim
  • observasi proses dinamika kelompok saat menyusun dan menyepakati taktik: catatan perilaku kepemimpinan dalam memberi arahan taktik dan keterlibatan kolaboratif setiap anggota dalam pengambilan keputusan kelompok sebelum dan saat jeda simulasi permainan (20 menit; kelompok; instrumen: lembar observasi kepemimpinan dan kolaborasi kelompok)
  • unjuk kerja peragaan gerak tim dalam simulasi permainan: demonstrasi penerapan strategi gerak ofensif dan defensif terencana yang diperagakan murid dalam situasi permainan modifikasi (dinilai serentak per tim/lapangan) (35 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja peragaan strategi gerak)
  • penilaian kinerja analisis komparatif: lembar kerja tertulis kelompok yang berisi bukti perbandingan evaluatif tentang efektivitas penerapan dua strategi gerak yang berbeda pada dua situasi permainan yang dihadapi (25 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian lembar perbandingan efektivitas strategi gerak)

Sumatif:

  • penilaian kinerja unjuk gerak dan analisis strategi tim dalam simulasi permainan modifikasi: demonstrasi peragaan strategi gerak, lembar perbandingan efektivitas strategi gerak pada dua situasi, serta rekaman observasi kepemimpinan dan kolaborasi tim
  • observasi proses dinamika kelompok saat menyusun dan menyepakati taktik: catatan perilaku kepemimpinan dalam memberi arahan taktik dan keterlibatan kolaboratif setiap anggota dalam pengambilan keputusan kelompok sebelum dan saat jeda simulasi permainan (20 menit; kelompok; instrumen: lembar observasi kepemimpinan dan kolaborasi kelompok)
  • unjuk kerja peragaan gerak tim dalam simulasi permainan: demonstrasi penerapan strategi gerak ofensif dan defensif terencana yang diperagakan murid dalam situasi permainan modifikasi (dinilai serentak per tim/lapangan) (35 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja peragaan strategi gerak)
  • penilaian kinerja analisis komparatif: lembar kerja tertulis kelompok yang berisi bukti perbandingan evaluatif tentang efektivitas penerapan dua strategi gerak yang berbeda pada dua situasi permainan yang dihadapi (25 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian lembar perbandingan efektivitas strategi gerak)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Peragaan Strategi Gerak Penyerangan dan Pertahanan (TP 8.3.1)Memperagakan gerakan penyerangan dan pertahanan tanpa pola terencana, bergerak sporadis dan tidak memanfaatkan ruang gerak yang tersedia dalam permainan.Memperagakan strategi gerak ofensif atau defensif terencana, namun penyesuaian posisi terhadap ruang kosong atau pergerakan lawan masih sering terlambat.Memperagakan strategi gerak ofensif (membuka ruang, pergerakan tanpa bola) dan defensif (menjaga lawan, menutup jalur) terencana secara tepat dan konsisten dalam simulasi permainan modifikasi.Memperagakan seluruh strategi gerak ofensif dan defensif secara konsisten, tepat waktu, mengantisipasi celah permainan secara mandiri dan efektif dalam berbagai variasi tekanan lawan.
Pembuktian Efektivitas Strategi Gerak Berbeda (TP 8.3.2)Lembar kerja hanya mencantumkan hasil skor tanpa menyajikan bukti komparasi efektivitas strategi pada dua situasi gerak yang berbeda.Membuktikan efektivitas strategi gerak dengan membandingkan Situasi 1 dan Situasi 2, namun argumen perbandingan belum didukung bukti indikator lapangan yang relevan.Membuktikan strategi gerak yang paling efektif dengan membandingkan performa dua strategi pada Situasi 1 dan 2 secara logis berdasarkan bukti pemanfaatan ruang dan konversi angka (Acuan: Situasi 1 memanfaatkan ruang lebar; Situasi 2 operan pendek cepat untuk lepas dari tekanan tinggi).Membuktikan strategi gerak yang paling efektif pada kedua situasi secara komprehensif, kritis, dan menyertakan bukti evaluatif terperinci mengenai efisiensi gerak dan rasio keberhasilan taktik.
Kepemimpinan dalam Aktivitas Jasmani (TP 8.3.3)Pasif selama sesi penyusunan strategi dan tidak memberikan arahan atau inisiatif taktis bagi timnya.Menunjukkan inisiatif memberi arahan gerak/taktis kepada anggota tim, tetapi hanya ketika diminta atau diarahkan guru.Menerapkan kepemimpinan secara mandiri dengan memberikan arahan pembagian peran posisi dan instruksi taktik permainan yang konstruktif kepada anggota tim.Menerapkan kepemimpinan yang konsisten, memotivasi seluruh anggota tim secara positif, serta tanggap memandu adaptasi taktik di lapangan saat situasi permainan berubah.
Kolaborasi dan Pengambilan Keputusan Kelompok (TP 8.3.4)Bekerja secara individual di lapangan dan tidak berpartisipasi dalam perumusan keputusan taktik bersama kelompok.Terlibat dalam pembagian tugas kelompok, namun pengambilan keputusan taktik masih didominasi oleh salah satu anggota tanpa konsensus penuh.Menerapkan kolaborasi aktif dengan mendengarkan masukan teman dan bersepakat menetapkan keputusan bersama mengenai strategi tim sebelum dan saat jeda simulasi permainan.Menerapkan kolaborasi yang solid, memastikan setiap anggota tim mengeksekusi keputusan taktis bersama secara kompak dan saling melengkapi peran gerak di lapangan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alur alokasi waktu 80 menit asesmen sumatif memadai untuk mengamati seluruh tim secara adil pada unjuk kerja gerak dan analisis lembar kerja?
  • Bagaimana variasi penerapan strategi gerak oleh murid menunjukkan ketercapaian pemahaman mendalam mereka terhadap konsep ruang dan waktu dalam permainan?

Murid:

  • Apakah strategi gerak yang kamu dan kelompokmu susun terbukti berhasil saat menghadapi tekanan lawan di lapangan? Apa buktinya?
  • Bagaimana peranmu dalam memimpin atau berkolaborasi saat kelompok mengambil keputusan penyesuaian taktik gerak?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru PJOK Kelas VIII SMP/MTs Kemendikbudristek
  2. Buku Panduan Siswa PJOK Kelas VIII SMP/MTs Kemendikbudristek
  3. Bola (sepak bola / futsal / basket modifikasi) sebanyak 8-10 buah
  4. Rompi tim 2 warna berbeda (masing-masing 12 buah)
  5. Cone / kerucut pembatas lapangan (16 buah), peluit, dan stopwatch
  6. Buku Panduan Guru PJOK SMP/MTs Kelas VIII, Kemendikbudristek 2021
  7. Buku Siswa PJOK SMP/MTs Kelas VIII, Kemendikbudristek 2021
  8. Lapangan olahraga / halaman sekolah
  9. Bola tangan / bola basket modifikasi (6 buah)
  10. Kerucut / cone pembatas (16 buah)
  11. Peluit dan stopwatch
  12. Cones / penanda rintangan (10 buah)
  13. Bola (sepak bola / basket) atau bola modifikasi (8 buah)
  14. Stopwatch untuk mencatat waktu uji efektivitas
  15. Peluit dan area lapangan datar yang aman
  16. Buku Panduan Guru PJOK SMP/MTs Kelas VIII, Kemendikbudristek 2021/2023
  17. Buku Teks Siswa PJOK Kelas VIII Bab 3
  18. Peluit, kun/kerucut penanda batas lapangan, bola karet/bola tangan modifikasi, pita lengan penanda pemimpin kelompok
  19. Buku Panduan Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan untuk SMP Kelas VIII, Kemendikbudristek 2021
  20. Buku Siswa Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan untuk SMP Kelas VIII, Kemendikbudristek 2021
  21. Peralatan: Bola (sepak bola/bola tangan), rompi tim 2 warna, kerucut pembatas (cones), peluit, papan taktik kecil dan spidol
  22. Buku Panduan Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan untuk SMP/MTs Kelas VIII (Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Kemendikbudristek 2021, Bab 3)
  23. Buku Panduan Siswa PJOK Kelas VIII SMP (Kemendikbudristek 2021, Bab 3: Uji Kompetensi)
  24. Lapangan olahraga sekolah (lapangan basket/voli/futsal bersekat), rompi tim (bibs) 2 warna berbeda, bola permainan, kerucut penanda batas (cone), peluit, stopwatch, dan Lembar Asesmen Kinerja Tim

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.