Modul AjarBab 2Fase DSemester 1

Modul Ajar PJOK Kelas 8 Bab 2: Menerapkan Konsep Gerak

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian PJOK kelas 8 untuk Bab 2 "Menerapkan Konsep Gerak", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar PJOK Kelas 8 Bab 2: Menerapkan Konsep Gerak

PJOK - Kelas 8

Bab 2

MODUL AJAR

PJOK — Kelas 8 (Fase D)

Topik: Bab 2 — Menerapkan Konsep Gerak

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPJOK
Fase / KelasFase D / Kelas 8
TopikBab 2 — Menerapkan Konsep Gerak
Alokasi Waktu12 JP (12 x 40 menit = 480 menit)
Jumlah Pertemuan6
Tahun Ajaran2026/2027
Semester1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 8.2.1 Menerapkan keterampilan gerak lintasan parabola ke dalam berbagai situasi gerak
  2. TP 8.2.2 Mentransfer keterampilan gerak proyektil ke dalam berbagai situasi gerak
  3. TP 8.2.3 Memperagakan strategi gerak berbasis pengaturan keseimbangan dan stabilitas untuk meningkatkan capaian keterampilan gerak
  4. TP 8.2.4 Membuktikan strategi gerak berbasis konsep gerak yang paling efektif dalam situasi gerak yang berbeda

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis✓
Kreativitas
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan✓
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Bagaimana bentuk lintasan bola di udara saat kamu melempar bola agar dapat melampaui rintangan dan masuk tepat ke keranjang sasaran?
  2. Mengapa lemparan yang jalurnya melengkung ke atas (parabola) lebih mudah menjangkau sasaran tetap dibandingkan lemparan mendatar ketika ada pembatas di depannya?
  3. Bagaimana sudut pelepasan bola harus diubah ketika jarak sasaran lemparan berubah dari dekat menjadi jauh?
  4. Mengapa lemparan yang terlalu tinggi atau mendatar sulit mencapai sasaran berjarak sedang secara akurat?
  5. Mengapa atlet judo atau angkat besi membuka kedua kakinya lebar-lebar saat menahan beban atau dorongan?
  6. Bagaimana posisi telapak kaki dan jarak tumpuan memengaruhi ketahanan tubuhmu agar tidak mudah goyah atau jatuh saat diam di tempat?
  7. Mengapa atlet sepak bola atau basket menekuk lututnya lebih rendah ketika hendak berbelok tajam melewati lawan?
  8. Apa yang terjadi pada tubuh kita jika mengubah arah lari cepat dengan posisi badan tetap tegak lurus?
  9. Mengapa lemparan bola melambung tinggi dengan sudut 70 derajat tidak mencapai jarak sejauh lemparan dengan sudut 45 derajat?
  10. Saat menghadapi dorongan atau perubahan arah mendadak, manakah yang lebih kokoh: berdiri tegak dengan kaki rapat atau merendahkan badan dengan kaki terbuka lebar?
  11. Bagaimana sudut lemparan bola mempengaruhi lintasan parabola agar tepat mencapai sasaran pada jarak dekat dan jarak jauh?
  12. Mengapa menurunkan pusat gravitasi dan memperlebar tumpuan kaki membuat tubuh kita lebih seimbang saat berpindah arah?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Menerapkan Keterampilan Gerak Lemparan Lintasan Parabola pada Sasaran Tetap — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.2.1 Menerapkan keterampilan gerak lintasan parabola ke dalam berbagai situasi gerak

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas di lapangan dengan salam, memeriksa kehadiran, memimpin doa bersama, dan mengecek kesiapan fisik murid untuk beraktivitas jasmani (5 menit).
  • Guru memandu pemanasan umum dan dinamis berfokus pada peregangan bahu, lengan, dan sendi pergelangan tangan untuk mempersiapkan tubuh melakukan aktivitas melempar (7 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menerapkan keterampilan gerak lemparan lintasan parabola pada sasaran tetap, serta melakukan asesmen awal diagnostik dengan meminta murid menjawab 2 pertanyaan pemantik secara lisan mengenai bentuk lintasan bola lengkung dan sudut pelepasan (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mengamati demonstrasi guru mengenai teknik pelepasan bola ke arah atas depan (sudut elevasi sekitar 45 derajat) yang menghasilkan lintasan lengkung (parabola) melewati tali rintangan setinggi 1,5 meter menuju wadah keranjang sasaran tetap (5 menit).
  • Murid membedakan secara visual dua lintasan lemparan: lintasan garis lurus/mendatar yang menabrak tali pembatas vs lintasan parabola yang melambung melengkung melewati tali pembatas dan menukik masuk ke sasaran tetap (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid berbaris mandiri di pos masing-masing dan melakukan latihan pelepasan bola melengkung (parabola) secara bertahap melewati tali rintangan setinggi 1,5 meter ke arah keranjang sasaran tetap berjarak 3 meter sebanyak 5 kali ulangan (15 menit).
  • Murid mengikuti permainan tantangan gembira 'Tembak Keranjang Parabola': melempar bola kecil melewati mistar pembatas menuju wadah keranjang sasaran tetap berjarak 4 meter sebanyak 5 kali lemparan, di mana setiap lemparan yang melambung membentuk parabola dan masuk ke keranjang dihitung sebagai poin keberhasilan (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid secara mandiri memeriksa hasil lemparannya: mengidentifikasi apakah lintasan bola yang dilepaskan sudah membentuk lengkungan parabola yang cukup tinggi untuk melewati mistar pembatas dan menjangkau sasaran tetap (10 menit).

Penutup:

  • Murid melakukan aktivitas pendinginan statis untuk melemaskan otot lengan dan tungkai serta mengatur napas (8 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan bahwa lemparan lintasan parabola membutuhkan sudut pelepasan melambung ke atas depan agar bola melengkung melompati rintangan dan tepat jatuh di sasaran tetap (5 menit).
  • Guru menyampaikan rencana aktivitas pertemuan berikutnya mengenai transfer gerak proyektil berbagai sudut lemparan, merapikan alat olahraga bersama, dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan bola dengan ukuran dan bobot berbeda (bola tenis yang lebih ringan dan bola karet berukuran sedang) sesuai kenyamanan genggaman murid.
  • Proses: Bagi murid yang kesulitan membentuk lintasan lengkung, jarak sasaran didekatkan menjadi 2,5 meter dengan mistar pembatas yang lebih rendah (1,2 meter); bagi murid yang telah mahir, jarak sasaran tetap ditambah menjadi 5 meter.
  • Produk: Target ketercapaian disesuaikan pada jumlah lemparan parabola yang berhasil melampaui rintangan dan masuk tepat sasaran (minimal 2 dari 5 lemparan untuk pemula, minimal 4 dari 5 lemparan untuk mahir).

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik di awal pembelajaran: (1) Sebutkan bentuk lintasan bola saat melambung di udara (acuan: lintasan melengkung/parabola, bukan garis lurus datar); (2) Ke arah mana tangan mendorong bola agar bola melambung tinggi melewati rintangan sebelum jatuh ke sasaran? (acuan: ke arah atas-depan membentuk sudut elevasi sekitar 45 derajat).

Proses:

  • Observasi unjuk kerja gerak lemparan parabola pada aktivitas tantangan sasaran tetap: memeriksa apakah murid melepaskan bola ke arah atas-depan sehingga terbentuk lintasan melengkung (parabola) melewati mistar pembatas dan mengarah tepat ke keranjang sasaran tetap (acuan keberhasilan: melakukan 5 kali percobaan lemparan dengan kriteria pelepasan sudut melambung dan mendarat di area keranjang).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman dan peragaan akhir: Murid melakukan 1 kali lemparan pembuktian dengan menerapkan lintasan parabola melewati mistar pembatas ke keranjang sasaran tetap berjarak 4 meter (kriteria penerimaan: bola terbukti melambung melengkung melewati atas mistar pembatas tanpa menyentuh mistar dan mendarat di dalam atau menyentuh bibir keranjang sasaran).

Formatif:

  • Pengamatan unjuk kerja keterampilan gerak lemparan lintasan parabola pada sasaran tetap menggunakan lembar observasi proses.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penerapan Keterampilan Gerak Lemparan Lintasan Parabola pada Sasaran TetapBelum mampu menerapkan lintasan parabola; lemparan cenderung mendatar/lurus ke depan sehingga selalu membentur mistar pembatas dan tidak mencapai keranjang sasaran (0 dari 5 percobaan berhasil).Mulai mampu menerapkan lintasan parabola melambung ke atas, namun kontrol tenaga dan sudut pelepasan belum konsisten sehingga hanya 1-2 dari 5 lemparan yang melengkung melewati mistar dan mendekati sasaran.Mampu menerapkan keterampilan gerak lemparan lintasan parabola secara konsisten; bola melambung membentuk kurva melengkung melewati mistar pembatas dan masuk ke sasaran tetap pada 3-4 dari 5 lemparan.Sangat mahir menerapkan keterampilan gerak lemparan lintasan parabola secara mandiri dan akurat; seluruh bola (5 dari 5 lemparan) melambung melengkung sempurna melewati mistar pembatas dan tepat masuk ke dalam keranjang sasaran tetap.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 80 menit mencukupi untuk setiap murid melakukan latihan dan tantangan lemparan parabola secara optimal?
  • Bagaimana efektivitas penggunaan mistar pembatas dalam membantu murid memvisualisasikan dan mempraktikkan lintasan melengkung (parabola)?

Murid:

  • Bagian mana dari gerakan melempar melambung yang terasa paling menantang saat mencoba memasukkan bola ke keranjang sasaran?
  • Bagaimana perasaanmu setelah berhasil membuat bola melambung melengkung melewati mistar dan tepat mengenai sasaran?

Pertemuan 2 — Mentransfer Keterampilan Gerak Proyektil Berbagai Sudut Lemparan pada Variasi Jarak Target — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.2.2 Mentransfer keterampilan gerak proyektil ke dalam berbagai situasi gerak

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran, memeriksa kehadiran murid di lapangan, dan memandu pemanasan dinamis berfokus pada mobilitas bahu, siku, dan pergelangan tangan (7 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik dengan meminta setiap murid mencoba 1 kali lemparan ke target lingkaran berjarak 6 meter untuk mengamati kesiapan awal murid mengarahkan proyektil (acuan: proyektil dilepaskan melambung terarah ke target, bukan menggelinding atau dilepas asal-asalan) (8 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mengamati peragaan guru mengenai transfer gerak proyektil bola pada 3 variasi sudut pelepasan: sudut rendah (sekitar 30 derajat), sedang (sekitar 45 derajat), dan tinggi (sekitar 60 derajat) untuk mengenali hubungan sudut lontaran dengan jarak jangkauan (10 menit).
  • Murid secara berpasangan mencoba masing-masing 2 kali lemparan dengan sudut rendah (30 derajat) dan sudut optimal (45 derajat) ke arah dinding/penanda untuk menyadari perbedaan jangkauan lintasan proyektil di udara (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Murid melakukan 'Tantangan Zona Proyektil' secara berpasangan bergantian melempar bola ke 3 variasi jarak target: Zona Dekat (3 meter, sudut pelepasan sekitar 30–35 derajat), Zona Sedang (6 meter, sudut pelepasan sekitar 40–45 derajat), dan Zona Jauh (9 meter, sudut pelepasan sekitar 45–50 derajat dengan dorongan optimal), masing-masing sebanyak 3 kali lemparan per zona (acuan ketepatan: bola jatuh di dalam area kardus target diameter 1 meter) (20 menit).
  • Murid mentransfer keterampilan lemparan proyektil tersebut ke dalam situasi permainan target estafet lempar bola ke keranjang bertingkat dengan variasi jarak dinamis (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid mengidentifikasi secara mandiri sudut pelepasan mana yang paling efektif untuk target jarak dekat (sudut rendah/datar), sedang (sudut sekitar 45 derajat), dan jauh (sudut 45 derajat dengan tenaga maksimal) berdasarkan hasil lemparannya (5 menit).

Penutup:

  • Murid melakukan gerakan pendinginan statis untuk meregangkan otot lengan dan tungkai serta merapikan peralatan lemparan ke tempat semula (3 menit).
  • Guru memberikan umpan balik pencapaian transfer keterampilan gerak proyektil murid serta menyampaikan topik latihan untuk pertemuan berikutnya (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan bola dengan ukuran dan bobot bervariasi (bola tenis yang lebih ringan untuk pemula dan bola kasti/bola tangan untuk murid yang lebih mahir).
  • Proses: Murid yang belum stabil dalam lemparan proyektil berlatih di jarak 3 dan 5 meter terlebih dahulu, sedangkan murid yang sudah mahir langsung mentransfer gerak proyektil pada variasi jarak target 6, 9, dan 12 meter.
  • Produk: Ketepatan mendaratkan proyektil pada zona target dengan variasi sudut lontaran yang dapat disesuaikan tingkat kesulitannya.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Peragaan 1 kali lemparan awal proyektil ke target jarak 6 meter (acuan kesiapan: murid melepaskan bola dengan lintasan melambung terarah ke target, bukan dilempar menyusur tanah atau dilepaskan tanpa sudut elevasi).

Proses:

  • Observasi unjuk kerja transfer gerak proyektil pada Tantangan Zona Proyektil: (1) Zona Dekat 3 meter (sudut datar/sekitar 30-35 derajat), (2) Zona Sedang 6 meter (sudut menengah/sekitar 45 derajat), dan (3) Zona Jauh 9 meter (sudut 45-50 derajat dengan pendorongan penuh) (acuan ketercapaian: minimal 2 dari 3 lemparan tiap zona mendarat tepat di dalam target kardus 1 meter).

Akhir Pertemuan:

  • Cek keterampilan di akhir sesi: murid memperagakan 1 lemparan jarak jauh (9 meter) dengan sudut pelepasan optimal sekitar 45 derajat (acuan: bola berhasil mencapai zona target 9 meter tanpa terjatuh sebelum jarak 8 meter).

Formatif:

  • Pengamatan unjuk kerja lemparan proyektil pada 3 variasi jarak target (3 m, 6 m, dan 9 m) dengan lembar observasi ketercapaian sudut dan jatuhnya bola.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Transfer Keterampilan Gerak Proyektil ke Variasi Jarak TargetBelum mampu mentransfer sudut lemparan proyektil; lemparan pada seluruh jarak (3 m, 6 m, dan 9 m) menggunakan sudut dan dorongan yang sama sehingga meleset dari target.Mampu mentransfer gerak proyektil dengan sudut pelepasan yang tepat hanya pada 1 variasi jarak target (misalnya hanya pada jarak dekat 3 meter).Mampu mentransfer gerak proyektil dengan sudut pelepasan yang tepat pada 2 variasi jarak target (jarak dekat 3 m dan sedang 6 m) secara tepat.Mampu mentransfer gerak proyektil dengan penyesuaian sudut pelepasan yang akurat secara mandiri dan konsisten pada ketiga variasi jarak target (dekat 3 m, sedang 6 m, dan jauh 9 m).

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu untuk latihan 3 variasi jarak lemparan proyektil sudah memadai bagi semua murid?
  • Apakah murid dapat mengenali dan mentransfer perubahan sudut pelepasan proyektil secara mandiri saat jarak target diubah?

Murid:

  • Bagaimana caramu mengubah sudut lemparan ketika jarak target dipindahkan lebih jauh?
  • Tantangan apa yang kamu hadapi saat mencoba mengarahkan lemparan proyektil pada target jarak 9 meter?

Pertemuan 3 — Memperagakan Pengaturan Posisi Tumpuan Kaki untuk Menjaga Keseimbangan dan Stabilitas Statis — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.2.3 Memperagakan strategi gerak berbasis pengaturan keseimbangan dan stabilitas untuk meningkatkan capaian keterampilan gerak

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memimpin doa bersama, memeriksa presensi kehadiran, serta memastikan kesiapan fisik dan kerapian seragam olahraga murid (5 menit).
  • Guru memandu pemanasan statis dan dinamis yang berfokus pada peregangan sendi pergelangan kaki, lutut, dan panggul untuk mencegah cedera saat menumpu (7 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu memperagakan pengaturan posisi tumpuan kaki untuk menjaga keseimbangan dan stabilitas statis (3 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik unjuk kerja: murid diminta berdiri dengan 2 variasi posisi kaki (Posisi A: kedua kaki rapat; Posisi B: kaki dibuka selebar bahu). Guru memberikan dorongan ringan terkontrol pada bahu murid untuk mengidentifikasi kesiapan awal pengaturan tumpuan kaki (acuan: Posisi B lebih stabil dan tidak mudah goyah karena luas bidang tumpuan lebih besar) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mengamati peragaan guru mengenai 3 variasi posisi tumpuan kaki statis: (1) Tumpuan sempit (kaki rapat), (2) Tumpuan selebar bahu paralel, dan (3) Tumpuan langkah kuda-kuda (satu kaki di depan dan satu di belakang) (5 menit).
  • Murid secara berkesadaran merasakan pergeseran distribusi berat badan dan letak garis proyeksi gravitasi di dalam bidang tumpuan pada ketiga posisi tersebut melalui panduan instruksi guru (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid berpasangan melakukan latihan memperagakan 3 variasi tumpuan kaki statis secara bergantian: Posisi 1 (tumpuan sempit kedua kaki rapat), Posisi 2 (tumpuan paralel selebar 1,5 kali bahu dengan lutut sedikit ditekuk), dan Posisi 3 (tumpuan langkah/kuda-kuda depan-belakang). Pasangan memberikan dorongan tangan pelan dari arah depan dan samping untuk menguji kestabilan masing-masing posisi (10 menit).
  • Murid berpartisipasi dalam permainan tantangan menggembirakan 'Batu Karang Kokoh' (Rock of Stability): satu murid memposisikan tumpuan kaki statis paling kokoh (posisi kuda-kuda lebar) dan berusaha mempertahankan posisi diam selama 10 detik saat pasangannya memberikan dorongan terkontrol pada kedua bahu secara bergantian; murid yang berhasil tidak melangkah keluar dari batas tumpuannya mendapatkan poin (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama pasangannya saling mengevaluasi ketepatan posisi tumpuan kaki dan derajat stabilitas tubuh: mengidentifikasi posisi kaki mana yang paling kokoh menahan dorongan samping vs dorongan depan (acuan: tumpuan paralel lebar paling kokoh menahan dorongan samping; tumpuan kuda-kuda depan-belakang paling kokoh menahan dorongan depan) (10 menit).
  • Murid mengulang peragaan posisi tumpuan kaki statis terbaik secara mandiri untuk memperbaiki posisi telapak dan sudut lutut berdasarkan hasil refleksi (5 menit).

Penutup:

  • Guru memandu pendinginan (cooling down) untuk melemaskan otot-otot tungkai bawah, paha, dan punggung (5 menit).
  • Guru dan murid menyimpulkan prinsip tumpuan kaki terhadap stabilitas statis: semakin luas bidang tumpuan kaki dan garis gravitasi berada di tengah tumpuan, maka stabilitas statis tubuh semakin tinggi (3 menit).
  • Guru menutup pertemuan dengan doa bersama dan mengingatkan murid untuk tetap menjaga kebugaran jasmani sebelum kembali ke kelas (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan tanda visual berupa garis kapur/kun di lantai untuk memandu rentang lebar pembukaan kaki bagi murid yang memerlukan panduan jarak tumpuan.
  • Proses: Bagi murid yang masih goyah diberikan scaffolding berupa latihan tumpuan kaki dekat dinding atau tumpuan lebih lebar; bagi murid yang mahir diberikan tantangan menahan dorongan dengan mata terpejam pada tumpuan yang ditentukan.
  • Produk: Variasi durasi menahan stabilitas statis: 5 detik untuk murid yang berkembang, dan 10-15 detik untuk murid yang sudah mahir.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Uji diagnostik unjuk kerja singkat: Murid berdiri memperagakan 2 posisi tumpuan kaki (Posisi A: kaki rapat; Posisi B: kaki selebar bahu) saat diberi dorongan ringan terkontrol dari arah samping. (Acuan: Murid siap jika mampu mengidentifikasi dan memperagakan bahwa Posisi B lebih kokoh/stabil dibandingkan Posisi A karena alas tumpuan lebih luas).

Proses:

  • Observasi unjuk kerja saat murid memperagakan 3 posisi tumpuan kaki (sempit, paralel lebar, dan kuda-kuda depan-belakang) serta ketahanannya mempertahankan posisi diam tanpa melangkah/terjatuh saat menerima dorongan ringan berpasangan.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman peragaan akhir: Setiap murid diminta memperagakan 1 posisi tumpuan kaki statis yang paling efektif untuk menahan dorongan dari arah depan (acuan benar: posisi tumpuan kaki kuda-kuda dengan satu kaki di depan dan satu kaki di belakang dengan lutut sedikit ditekuk).

Formatif:

  • Lembar observasi unjuk kerja peragaan pengaturan tumpuan kaki statis
  • Cek pemahaman lisan/tanya jawab singkat di akhir latihan unjuk kerja

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Pengaturan Posisi Tumpuan Kaki untuk Stabilitas StatisBelum mampu memperagakan posisi tumpuan kaki yang tepat; kedua kaki selalu rapat atau goyah dan langsung berpindah tempat/jatuh saat menahan posisi diam.Mampu memperagakan variasi tumpuan kaki lebar namun posisi telapak kaki belum menapak sempurna atau lutut masih kaku sehingga masih mudah goyah.Mampu memperagakan pengaturan posisi tumpuan kaki paralel selebar bahu dan kuda-kuda secara tepat, telapak kaki menapak kokoh, serta mampu menjaga keseimbangan statis selama 5-10 detik saat menahan tahanan ringan secara mandiri.Mampu memperagakan pengaturan posisi tumpuan kaki statis (paralel lebar dan kuda-kuda depan-belakang) secara sangat kokoh dan konsisten, menyesuaikan tumpuan secara optimal terhadap arah gaya dorong tanpa kehilangan keseimbangan sama sekali.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid aktif memperagakan variasi posisi tumpuan kaki dengan aman selama aktivitas berpasangan?
  • Apakah instruksi mengenai pengaruh luas bidang tumpuan terhadap stabilitas statis dapat dipahami dan dipraktikkan murid dengan jelas?

Murid:

  • Posisi tumpuan kaki mana yang paling membuat tubuhmu terasa kokoh dan tidak mudah jatuh saat diam?
  • Kesulitan apa yang kamu rasakan saat harus mempertahankan keseimbangan statis dengan tumpuan kaki sempit dibandingkan tumpuan kaki lebar?

Pertemuan 4 — Memperagakan Pengaturan Ketinggian Pusat Gravitasi Tubuh untuk Menjaga Keseimbangan dan Stabilitas Dinamis saat Mengubah Arah — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.2.3 Memperagakan strategi gerak berbasis pengaturan keseimbangan dan stabilitas untuk meningkatkan capaian keterampilan gerak

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan memimpin doa pembuka serta peregangan dinamis terarah berfokus pada sendi pergelangan kaki, lutut, dan pinggul (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu memperagakan strategi gerak pengaturan ketinggian pusat gravitasi tubuh (merendahkan tubuh dengan menekuk lutut dan pinggul) untuk menjaga stabilitas dinamis saat melakukan gerak mengubah arah (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik unjuk kerja singkat: setiap murid secara bergiliran diminta berlari lurus 5 meter lalu melakukan gerak berhenti mendadak dan memutar arah 90 derajat ke kanan (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak demonstrasi guru mengenai dua postur gerak berbelok: (A) Berbelok dengan lutut tegak/pusat gravitasi tinggi vs (B) Berbelok dengan lutut ditekuk/merendahkan pusat gravitasi tubuh (5 menit).
  • Murid mencoba secara berkesadaran di tempat: berdiri tegak lalu merasakan titik berat tubuh, kemudian menekuk lutut hingga sudut sekitar 100-120 derajat untuk merasakan perpindahan pusat gravitasi menjadi lebih rendah dan stabil menopang tubuh (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid mempraktikkan keterampilan gerak lari zig-zag melewati lintasan 5 kerucut berjarak 2 meter, dengan memperagakan strategi menurunkan pusat gravitasi (menekuk lutut dan sedikit condong ke arah belokan) pada setiap titik belokan tanpa terjatuh atau terpeleset (15 menit).
  • Murid melakukan tantangan permainan berpasangan 'Cermin Tangkas Berkelit' (Joyful Challenge): Murid A menjadi pengecoh yang berlari dan mengubah arah secara tiba-tiba di area 4x4 meter, sementara Murid B mengikuti gerakannya dengan merendahkan pusat gravitasi agar dapat mengubah arah secara stabil dan tidak tertinggal (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid duduk berjarak di lapangan dan melakukan refleksi peragaan: merasakan perbedaan kemudahan mengontrol tubuh saat berbelok dengan lutut ditekuk dibandingkan saat posisi tubuh tegak (10 menit).

Penutup:

  • Guru memandu gerakan pendinginan statis untuk menurunkan detak jantung dan merelaksasi otot tungkai (5 menit).
  • Guru melakukan evaluasi singkat unjuk kerja, memberikan umpan balik korektif terkait teknik merendahkan lutut, dan menyampaikan materi untuk pertemuan berikutnya mengenai pembuktian strategi sudut lontaran dan stabilitas (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan jarak antar-kerucut yang berbeda: 2,5 meter untuk pemula agar ancang-ancang belok lebih leluasa, dan 1,5 meter untuk murid yang memerlukan tantangan kelincahan lebih rapat.
  • Proses: Murid yang masih kesulitan menjaga keseimbangan mempraktikkan gerak jalan cepat zig-zag terlebih dahulu sebelum berlari kencang, sedangkan murid yang sudah stabil diminta menambah kecepatan lari saat memotong arah.
  • Produk: Variasi kecepatan lari: murid pemula dinilai kestabilan belokannya pada tempo sedang, sedangkan murid mahir dinilai kestabilannya pada kecepatan maksimal.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Uji diagnostik peragaan lari dan belok 90 derajat sejauh 5 meter. Kriteria acuan pengamatan: (1) Menekuk kedua lutut saat deselerasi/berbelok, (2) Tubuh tidak limbung atau kehilangan keseimbangan lebih dari 1 langkah pemulihan. Murid dikelompokkan butuh bimbingan jika lutut tetap lurus kaku dan badan terhuyung saat berbelok.

Proses:

  • Lembar observasi ketercapaian peragaan gerak lari zig-zag 5 kerucut. Kriteria penilaian: (1) Murid secara aktif menekuk lutut merendahkan tubuh di setiap titik pancang kerucut, (2) Posisi badan seimbang terkontrol tanpa menyentuh kerucut dan tanpa langkah limbung di kelima titik belokan (acuan tuntas: berhasil seimbang di minimal 4 dari 5 belokan).

Akhir Pertemuan:

  • Cek unjuk kerja penutup: Setiap murid memperagakan 1 kali sprint 5 meter, rem mendadak dengan merendahkan tubuh (lutut ditekuk), dan berbalik arah 180 derajat. Kriteria acuan ketercapaian: Posisi lutut ditekuk stabil (pusat gravitasi rendah), kedua telapak kaki menapak kokoh, dan badan langsung siap melesat berbalik arah tanpa kehilangan keseimbangan.

Formatif:

  • Pengamatan unjuk kerja peragaan merendahkan pusat gravitasi saat mengubah arah pada lintasan zig-zag dan permainan gerak.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Peragaan Strategi Pengaturan Ketinggian Pusat Gravitasi saat Mengubah ArahBerlari dan mengubah arah dengan posisi tubuh tetap tegak lurus, lutut tidak ditekuk, sehingga tubuh limbung atau terjatuh saat berbelok.Mulai menekuk lutut saat berbelok namun terlambat atau tidak konsisten (hanya pada 1-2 belokan), dan masih tampak kehilangan keseimbangan.Mampu memperagakan penurunan pusat gravitasi dengan menekuk lutut dan condong terkontrol secara konsisten pada lintasan belokan sehingga keseimbangan dinamis terjaga.Memperagakan penurunan pusat gravitasi dengan sangat luwes, presisi, dan stabil pada kecepatan tinggi saat mengubah arah secara mendadak tanpa sedikit pun kehilangan keseimbangan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu praktik lari zig-zag dan permainan cermin tangkas mencukupi seluruh murid untuk mengulang peragaan?
  • Apakah instruksi visual dan demonstrasi merendahkan pusat gravitasi dapat dipahami dan ditiru dengan tepat oleh murid yang kesulitan keseimbangan?

Murid:

  • Bagian otot mana yang paling kamu rasakan bekerja keras saat menahan tubuh dan menekuk lutut ketika berbelok cepat?
  • Apakah kamu merasa lebih mudah mengubah arah saat tubuhmu direndahkan dibandingkan saat berdiri tegak? Mengapa?

Pertemuan 5 — Membuktikan Strategi Sudut Lontaran Proyektil dan Posisi Stabilitas yang Paling Efektif pada Berbagai Situasi Gerak — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.2.4 Membuktikan strategi gerak berbasis konsep gerak yang paling efektif dalam situasi gerak yang berbeda

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memimpin doa, mengecek kehadiran murid, dan memastikan kesiapan fisik serta perlengkapan olahraga (4 menit).
  • Murid melakukan pemanasan dinamis terpimpin berorientasi kelenturan sendi bahu, panggul, dan tungkai (6 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui 2 pertanyaan verifikasi konsep: (1) 'Berapa perkiraan sudut elevasi lemparan agar proyektil menempuh jarak mendatar terjauh?' (acuan: sekitar 45 derajat); (2) 'Bagaimana posisi titik berat tubuh dan bidang tumpuan agar posisi berdiri paling kokoh terhadap dorongan?' (acuan: titik berat diturunkan/merendahkan lutut dan memperlebar bidang tumpuan/jarak kedua kaki) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru menjelaskan lembar uji eksperimen gerak yang memuat 2 situasi gerak pembuktian: Situasi 1 (Uji Jarak Proyektil: melontarkan bola dengan sudut rendah ~30°, sudut sedang ~45°, dan sudut tinggi ~70°) dan Situasi 2 (Uji Ketahanan Stabilitas: menerima dorongan terkontrol saat berdiri tegak kaki rapat vs merendahkan lutut kaki selebar bahu) (5 menit).
  • Murid dalam kelompok kecil (3-4 orang) mengamati demonstrasi model gerak lontaran bola dan posisi tumpuan, lalu merumuskan hipotesis awal mengenai strategi gerak yang paling efektif untuk masing-masing situasi (5 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid secara berpasangan dalam kelompok mempraktikkan Situasi 1: melakukan masing-masing 3 kali lontaran bola pada 3 variasi sudut (30°, 45°, 70°) dari garis pangkal yang sama, kemudian mencatat jarak jatuh bola pada lembar uji (acuan keberhasilan: murid mengidentifikasi dan mencatat bahwa sudut ~45° menghasilkan jarak capaian terjauh dibanding sudut 30° dan 70°) (10 menit).
  • Murid mempraktikkan tantangan menggembirakan 'Game Benteng Kokoh' pada Situasi 2: secara berpasangan saling memberikan kontak dorongan bahu terkontrol dengan 2 variasi posisi—Posisi A (kaki rapat, badan tegak lurus) dan Posisi B (kaki dibuka selebar bahu, lutut ditekuk/titik berat rendah), lalu mencatat tingkat kestabilan tubuh (acuan: Posisi B terbukti paling kokoh/stabil mempertahankan posisi tanpa bergeser/terjatuh) (15 menit).
  • Setiap kelompok mengumpulkan data hasil uji dari kedua situasi, membandingkan efektivitas antar-variasi strategi gerak, dan merumuskan bukti kesimpulan kelompok pada lembar pengamatan (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Perwakilan kelompok membacakan bukti data hasil uji mengenai sudut lemparan proyektil dan posisi stabilitas yang terbukti paling efektif di depan guru dan teman sekelas (6 menit).
  • Murid dipandu guru menghubungkan data hasil pembuktian dengan prinsip mekanika gerak (hubungan sudut elevasi terhadap jangkauan parabola, serta pengaruh luas tumpuan dan pusat gravitasi rendah terhadap stabilitas) (4 menit).

Penutup:

  • Murid melakukan aktivitas pendinginan terpadu (cooling down) untuk mengembalikan frekuensi denyut nadi dan relaksasi otot (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap pembuktian data murid dan menyampaikan rencana asesmen sumatif sirkuit gerak untuk pertemuan berikutnya, lalu menutup sesi dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan bola dengan ukuran berbeda (bola tenis vs bola voli mini) dan marka sudut visual di dinding/lapangan untuk memudahkan verifikasi sudut lontaran proyektil.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan busur derajat visual lapangan saat menguji sudut; murid yang cepat diberikan tantangan menguji sudut efektif lemparan pada sasaran yang tingginya berbeda.
  • Produk: Pencatatan bukti efektivitas dapat disajikan dalam bentuk tabel data angka jarak atau ceklis komparasi langsung.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik singkat kesiapan pembuktian: (1) Menanyakan perkiraan sudut lontaran yang menghasilkan jarak terjauh (acuan: ~45 derajat); (2) Menanyakan posisi tubuh yang paling stabil saat menahan dorongan (acuan: kaki terbuka selebar bahu dan lutut ditekuk/rendah).

Proses:

  • Observasi formatif saat murid melakukan uji coba 3 sudut lontaran (30°, 45°, 70°) dan 2 posisi stabilitas (tegak kaki rapat vs tumpuan lebar pusat gravitasi rendah) beserta verifikasi pencatatan bukti pada lembar kerja (acuan: sudut 45° terbukti menghasilkan jarak terjauh; tumpuan lebar dan lutut ditekuk terbukti paling stabil menahan dorongan).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan/tertulis singkat di akhir sesi: Murid menyimpulkan strategi gerak berbasis data uji: (1) Sudut mana yang terbukti paling efektif untuk jangkauan jarak jauh? (acuan: sudut 45 derajat); (2) Pengaturan tumpuan dan titik gravitasi mana yang terbukti paling efektif menahan dorongan/gangguan keseimbangan? (acuan: tumpuan kaki dibuka selebar bahu dengan menurunkan ketinggian pusat gravitasi/menekuk lutut).

Formatif:

  • Penilaian kinerja pembuktian eksperimen gerak menggunakan lembar observasi data efektivitas sudut proyektil dan posisi stabilitas.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Pembuktian Strategi Sudut Lontaran ProyektilBelum mampu membandingkan hasil lontaran pada variasi sudut lemparan sehingga gagal menunjukkan sudut yang paling efektif berdasarkan data.Mampu mempraktikkan lontaran pada 3 variasi sudut (30°, 45°, 70°), namun pembuktian sudut efektif (~45°) masih belum konsisten dan membutuhkan bantuan penuh guru dalam membaca data.Mampu menguji dan membuktikan secara tepat berdasarkan data percobaan bahwa sudut ~45° menghasilkan jangkauan terjauh dibandingkan sudut 30° dan 70°.Mampu menguji, mencatat data akurat, dan membuktikan secara mandiri serta terperinci bahwa sudut ~45° paling efektif untuk jangkauan jarak terjauh pada berbagai variasi percobaan.
Pembuktian Strategi Posisi Stabilitas TubuhBelum mampu mengidentifikasi perbedaan ketahanan stabilitas antara posisi tumpuan rapat dengan posisi tumpuan lebar saat diuji dorongan.Mampu melakukan kedua posisi tumpuan (kaki rapat vs kaki selebar bahu ditekuk), tetapi belum mampu menyimpulkan secara tepat posisi mana yang paling stabil tanpa diarahkan.Mampu menguji dan membuktikan secara tepat bahwa posisi tumpuan kaki dibuka selebar bahu dengan menurunkan pusat gravitasi (lutut ditekuk) lebih stabil menahan dorongan dibanding posisi tegak kaki rapat.Mampu menguji, membuktikan secara konsisten dan mandiri, serta menguraikan alasan berbasis fakta gerak bahwa kombinasi bidang tumpuan lebar dan titik gravitasi rendah adalah strategi paling efektif untuk stabilitas.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah desain eksperimen Situasi 1 dan Situasi 2 memfasilitasi murid secara nyata untuk membuktikan konsep gerak berdasarkan data pengamatan langsung?
  • Bagaimana keterlibatan aktif dan kerja sama murid dalam kelompok saat mengukur dan mencatat hasil uji gerak?

Murid:

  • Berdasarkan hasil uji coba kelompokmu, apa bukti nyata bahwa sudut lontaran dan posisi titik berat tubuh memengaruhi keberhasilan gerak?
  • Bagian mana dari kegiatan pengujian gerak hari ini yang paling membantu kamu memahami pentingnya strategi gerak yang efektif?

Pertemuan 6 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.2.1 Menerapkan keterampilan gerak lintasan parabola ke dalam berbagai situasi gerak
  • TP 8.2.2 Mentransfer keterampilan gerak proyektil ke dalam berbagai situasi gerak
  • TP 8.2.3 Memperagakan strategi gerak berbasis pengaturan keseimbangan dan stabilitas untuk meningkatkan capaian keterampilan gerak
  • TP 8.2.4 Membuktikan strategi gerak berbasis konsep gerak yang paling efektif dalam situasi gerak yang berbeda

Pendahuluan:

  • Guru membuka sesi dengan salam, mengecek kehadiran, dan memimpin doa bersama (2 menit).
  • Guru bersama murid melakukan pemanasan terstruktur (stretching dinamis dan jogging ringan) untuk kesiapan fisik (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif bab 2, alur pelaksanaan sirkuit keterampilan gerak, tata tertib, dan rubrik penilaian unjuk kerja serta tes lisan (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid dalam 4 kelompok (masing-masing 7 orang) mencermati tata letak dan instruksi tugas di setiap stasiun sirkuit: Stasiun 1 Lemparan Parabola Sasaran Tetap (3 meter), Stasiun 2 Proyektil Sudut Jarak Bertingkat (jarak 3 meter sudut ~60° dan jarak 6 meter sudut ~45°), Stasiun 3 Keseimbangan Dinamis (berlari zig-zag 4 cone dengan posisi tubuh rendah dan tumpuan kaki lebar saat berpindah arah), serta Stasiun 4 Pembuktian Lisan (3 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Tugas 1: Secara paralel dalam 4 kelompok stasiun beranggotakan masing-masing 7 murid (total 28 murid), murid melakukan unjuk kerja keterampilan gerak pada sirkuit: memperagakan lemparan parabola ke target sasaran tetap, melakukan penyesuaian sudut lontaran proyektil pada dua variasi jarak (3 meter dan 6 meter), serta memperagakan posisi tubuh rendah dengan tumpuan kaki stabil saat berpindah arah zig-zag; guru mengobservasi performa tiap murid menggunakan rubrik unjuk kerja (50 menit).
  • Tugas 2: Setiap kelompok secara bergiliran menghadap guru untuk tes lisan pembuktian konsep gerak; perwakilan kelompok didukung konfirmasi anggota menjawab 2 pertanyaan pembuktian konsep: (1) Perbandingan efektivitas sudut lontaran proyektil (acuan jawaban: sudut tinggi ~60° efektif untuk jarak dekat 3 meter agar bola jatuh menukik ke target, sedangkan sudut optimal ~45° paling efektif untuk mencapai target jarak jauh 6 meter karena menghasilkan jarak horizontal maksimum) dan (2) Alasan biomekanis posisi tubuh rendah menghasilkan stabilitas lebih baik (acuan jawaban: posisi tubuh rendah menurunkan pusat gravitasi mendekati bidang tumpuan dan tumpuan kaki yang diperlebar memperluas alas tumpuan, sehingga garis gravitasi tetap berada di dalam bidang tumpuan saat tubuh mengubah arah gerak) (12 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama kelompok mengevaluasi kesesuaian teknik gerak parabola, pengaturan sudut lontaran, dan kontrol keseimbangan tubuh yang telah mereka peragakan dalam sirkuit (2 menit).

Penutup:

  • Guru memandu gerakan pendinginan statis dan peregangan relaksasi otot untuk memulihkan denyut nadi (2 menit).
  • Guru memberikan rekapitulasi pelaksanaan asesmen sumatif bab 2, menyampaikan umpan balik umum performa gerak, dan menutup pembelajaran dengan doa penutup (1 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Akomodasi akses visual berupa tanda visual garis batas dan warna cone yang kontras di setiap stasiun sirkuit tanpa mengubah standar jarak dan sudut yang diuji.
  • Proses: Pemberian instruksi pengulangan secara verbal yang jelas saat pergantian giliran stasiun bagi kelompok yang membutuhkan adaptasi tempo gerak tanpa mengubah kriteria penilaian unjuk kerja.
  • Produk: Format penyampaian bukti pembuktian konsep pada tes lisan dapat dilakukan secara bergantian antaranggota kelompok untuk saling mengonfirmasi poin jawaban sesuai acuan biomekanis.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pengecekan kesiapan fisik melalui pemanasan dan presensi kondisi kebugaran murid sebelum pelaksanaan sirkuit uji unjuk kerja.

Proses:

  • Observasi keterlibatan, kepatuhan keselamatan, dan giliran gerak antarmurid di stasiun sirkuit asesmen sumatif.

Sumatif Bab:

  • unjuk kerja praktik sirkuit gerak dan tes lisan: peragaan lemparan bola lintasan parabola dan penyesuaian sudut lontaran jarak bertingkat, peragaan keseimbangan dinamis saat mengubah arah gerak, serta penjelasan lisan perbandingan efektivitas sudut lontaran dan stabilitas posisi
  • unjuk kerja sirkuit gerak: peragaan keterampilan melempar bola membentuk lintasan parabola ke target, penyesuaian sudut lontaran proyektil pada dua variasi jarak berbeda, serta peragaan posisi tubuh rendah dengan tumpuan kaki stabil saat berpindah arah; dinilai secara paralel dalam 4 kelompok stasiun beranggotakan masing-masing 7 murid (total 28 murid selesai dalam 55 menit) (55 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja keterampilan gerak dan stabilitas)
  • tes lisan kelompok: penjelasan dan pembuktian secara lisan oleh perwakilan kelompok (didukung konfirmasi anggota) mengenai perbandingan sudut lontaran yang paling efektif mencapai target jarak berbeda serta alasan biomekanis posisi tubuh rendah menghasilkan stabilitas lebih baik (25 menit; kelompok; instrumen: lembar observasi dan panduan tanya jawab lisan)

Sumatif:

  • unjuk kerja praktik sirkuit gerak dan tes lisan: peragaan lemparan bola lintasan parabola dan penyesuaian sudut lontaran jarak bertingkat, peragaan keseimbangan dinamis saat mengubah arah gerak, serta penjelasan lisan perbandingan efektivitas sudut lontaran dan stabilitas posisi
  • unjuk kerja sirkuit gerak: peragaan keterampilan melempar bola membentuk lintasan parabola ke target, penyesuaian sudut lontaran proyektil pada dua variasi jarak berbeda, serta peragaan posisi tubuh rendah dengan tumpuan kaki stabil saat berpindah arah; dinilai secara paralel dalam 4 kelompok stasiun beranggotakan masing-masing 7 murid (total 28 murid selesai dalam 55 menit) (55 menit; kelompok; instrumen: rubrik unjuk kerja keterampilan gerak dan stabilitas)
  • tes lisan kelompok: penjelasan dan pembuktian secara lisan oleh perwakilan kelompok (didukung konfirmasi anggota) mengenai perbandingan sudut lontaran yang paling efektif mencapai target jarak berbeda serta alasan biomekanis posisi tubuh rendah menghasilkan stabilitas lebih baik (25 menit; kelompok; instrumen: lembar observasi dan panduan tanya jawab lisan)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Keterampilan Gerak Lintasan Parabola (TP 8.2.1)Belum mampu menghasilkan lintasan lemparan melengkung (parabola), arah bola mendatar lurus atau jatuh jauh sebelum sasaran.Mampu menghasilkan lemparan melengkung parabola ke sasaran tetap tetapi belum konsisten pada ketinggian lintasan puncak.Mampu menerapkan gerak lemparan membentuk lintasan parabola yang melengkung stabil dan terarah ke sasaran tetap jarak 3 meter.Mampu menerapkan gerak lemparan parabola secara mulus, lintasan parabola melengkung presisi tepat mendarat ke pusat sasaran tetap secara konsisten.
Transfer Gerak Proyektil Sudut Variasi Jarak (TP 8.2.2)Belum mampu menyesuaikan sudut lontaran proyektil pada jarak yang berbeda (melempar dengan sudut dan kekuatan yang sama di kedua jarak).Mampu mengubah sudut lontaran proyektil namun sudut lemparan belum sesuai acuan (belum membedakan sudut tinggi ~60° untuk 3 meter dan sudut ~45° untuk 6 meter).Mampu mentransfer keterampilan proyektil dengan membedakan sudut lontaran secara tepat: sudut tinggi (~60°) untuk target 3 meter dan sudut optimal (~45°) untuk target 6 meter.Mampu mentransfer keterampilan gerak proyektil secara presisi dengan penyesuaian sudut lontaran dan kontrol daya lepas bola yang sangat akurat pada kedua jarak sasaran.
Strategi Pengaturan Keseimbangan dan Stabilitas Dinamis (TP 8.2.3)Posisi tubuh tegak, kaki rapat saat berpindah arah zig-zag sehingga tubuh goyah atau kehilangan keseimbangan.Mampu menekuk lutut namun tumpuan kaki masih sempit saat berbelok, masih terjadi sedikit kehilangan keseimbangan.Memperagakan posisi tubuh rendah (lutut ditekuk/pusat gravitasi turun) dengan alas tumpuan kaki melebar secara stabil saat mengubah arah di setiap cone tanpa terjatuh.Memperagakan pengaturan pusat gravitasi rendah dan tumpuan kaki lebar secara luwes, cepat, dan sangat stabil tanpa kehilangan kontrol kecepatan gerak saat berpindah arah.
Pembuktian Konsep Gerak Parabola dan Stabilitas secara Lisan (TP 8.2.4)Belum mampu menjelaskan secara tepat perbandingan sudut lontaran maupun alasan biomekanis posisi tubuh rendah terhadap stabilitas sesuai acuan kunci jawaban.Mampu membuktikan salah satu konsep secara tepat sesuai acuan kunci jawaban (antara perbandingan sudut 45° vs 60° ATAU alasan penurunan pusat gravitasi/alas tumpuan).Mampu membuktikan secara lisan kedua konsep secara lengkap sesuai acuan: (1) sudut 60° efektif untuk jarak dekat dan sudut optimal 45° untuk jarak jauh; (2) posisi tubuh rendah menurunkan pusat gravitasi dan memperlebar alas tumpuan.Mampu membuktikan secara lisan kedua konsep secara mendalam, runut, menggunakan istilah biomekanis yang tepat (pusat gravitasi, bidang tumpuan, sudut lontaran horizontal) serta mengaitkannya langsung dengan hasil peragaan sirkuit.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu sirkuit 4 stasiun untuk 28 murid berjalan efektif sesuai batas waktu yang direncanakan?
  • Apakah instrumen rubrik unjuk kerja dan panduan tes lisan memberikan data ketercapaian 4 TP bab secara objektif?

Murid:

  • Apakah kamu dapat merasakan perbedaan stabilitas tubuh saat mengubah arah dengan posisi tubuh tinggi dibandingkan posisi rendah?
  • Bagaimana sudut lontaran bola yang kamu lepaskan mempengaruhi ketepatan dan jangkauan jarak lemparan pada uji sirkuit tadi?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan untuk SMP/MTs Kelas VIII (Kemendikbudristek 2021)
  2. Buku Siswa PJOK Kelas VIII SMP/MTs Bab 2: Menerapkan Konsep Gerak
  3. Alat peraga: bola tenis / bola kecil karet (sejumlah murid), keranjang / ember sasaran tetap (6 buah), tiang dan tali/mistar pembatas rintangan setinggi 1,5 meter, cones penanda jarak (2 meter, 3 meter, 4 meter, 5 meter), peluit, dan stopwatch.
  4. Buku Panduan Guru PJOK SMP/MTs Kelas VIII, Kemendikbudristek 2021
  5. Buku Panduan Siswa PJOK SMP/MTs Kelas VIII, Kemendikbudristek 2021
  6. Bola kasti/bola tenis/bola mini
  7. Kardus target/keranjang dan cones penanda jarak
  8. Buku Panduan Guru PJOK SMP/MTs Kelas VIII, Kemendikbudristek
  9. Buku Panduan Siswa PJOK SMP/MTs Kelas VIII, Kemendikbudristek
  10. Area lapangan datar/lantai aula olahraga
  11. Kun/cone atau kapur penanda batas tumpuan kaki
  12. Buku Panduan Guru PJOK SMP/MTs Kelas VIII (Kemendikbudristek, 2021)
  13. Buku Teks Siswa PJOK SMP/MTs Kelas VIII (Kemendikbudristek, 2021)
  14. Cone / kerucut pembatas (minimal 15 buah)
  15. Peluit dan stopwatch
  16. Lapangan olahraga sekolah
  17. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2021). Buku Panduan Guru PJOK SMP/MTs Kelas VIII. Jakarta: Pusat Perbukuan.
  18. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2021). Buku Siswa PJOK SMP/MTs Kelas VIII. Jakarta: Pusat Perbukuan.
  19. Bola sepak/bola basket mini/bola tenis, meteran ukur/garis lintasan berjarak, kerucut (cones), peluit, lembar kerja pengamatan pembuktian konsep gerak.
  20. Buku Panduan Guru PJOK SMP/MTs Kelas VIII, Kemendikbudristek 2021 (Bab 2: Menerapkan Konsep Gerak)
  21. Buku Siswa PJOK SMP/MTs Kelas VIII, Kemendikbudristek 2021 (Bab 2: Menerapkan Konsep Gerak)
  22. Bola basket/bola voli/bola karet kecil (4-8 buah)
  23. Cone/kerucut pembatas rintangan zig-zag (16 buah)
  24. Sasaran target dinding/keranjang target
  25. Meteran pengukur jarak dan peluit

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.