Modul AjarBab 1Fase DSemester 1

Modul Ajar PJOK Kelas 8 Bab 1: Mengefektifkan Gerak

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian PJOK kelas 8 untuk Bab 1 "Mengefektifkan Gerak", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar PJOK Kelas 8 Bab 1: Mengefektifkan Gerak

PJOK - Kelas 8

Bab 1

MODUL AJAR

PJOK — Kelas 8 (Fase D)

Topik: Bab 1 — Mengefektifkan Gerak

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPJOK
Fase / KelasFase D / Kelas 8
TopikBab 1 — Mengefektifkan Gerak
Alokasi Waktu12 JP (12 x 40 menit = 480 menit)
Jumlah Pertemuan6
Tahun Ajaran2026/2027
Semester1

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 8.1.1 Menerapkan keterampilan gerak yang memanfaatkan gaya dalam aktivitas jasmani
  2. TP 8.1.2 Mentransfer keterampilan gerak ke dalam berbagai situasi gerak aktivitas jasmani
  3. TP 8.1.3 Memperagakan strategi gerak yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan capaian keterampilan gerak
  4. TP 8.1.4 Membuktikan strategi gerak yang paling efektif dalam situasi gerak yang berbeda

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis✓
Kreativitas
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan✓
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Mengapa saat kita menekan tanah lebih kuat dengan kaki ke arah belakang-bawah saat melangkah, laju lari kita ke depan menjadi lebih cepat?
  2. Bagaimana sudut dan kekuatan dorongan kaki pada papan tumpuan menentukan jarak lompatan yang kita hasilkan?
  3. Bagaimana koordinasi antara langkah kaki dan ayunan lengan saat melempar bola saat berlari?
  4. Mengapa kita perlu menyesuaikan panjang langkah dan kekuatan ayunan lengan ketika posisi teman berada jauh atau dekat?
  5. Bagaimana cara kita menyesuaikan langkah kaki dan ayunan lengan saat harus melewati rintangan tanpa kehilangan kendali bola?
  6. Mengapa saat terjadi transisi cepat kita harus segera mengubah pola gerak berlari menjadi bersiap menangkap atau mengoper bola?
  7. Mengapa berlari ke area tanpa penjagaan (ruang kosong) membuat operan teman menjadi lebih mudah diterima?
  8. Bagaimana operan cepat dapat membuka celah pertahanan lawan saat menyerang?
  9. Kapan strategi penjagaan satu lawan satu (man-to-man) terasa lebih menguntungkan dibanding menjaga area tertentu (zone defense)?
  10. Bagaimana kita membuktikan bahwa suatu strategi bertahan benar-benar lebih efektif saat lawan mengubah pola penyerangannya?
  11. Bagaimana penerapan gaya tolakan dan dorongan menentukan keberhasilan penyerangan dan pertahanan tim?
  12. Mengapa strategi gerak tertentu terbukti lebih efektif dibandingkan strategi lainnya dalam situasi permainan dinamis?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Menerapkan Keterampilan Gerak yang Memanfaatkan Gaya Tolakan dan Dorongan dalam Berlari dan Melompat — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.1.1 Menerapkan keterampilan gerak yang memanfaatkan gaya dalam aktivitas jasmani

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memimpin doa, memeriksa kehadiran, dan memastikan kesiapan fisik murid di lapangan (3 menit).
  • Guru memandu pemanasan dinamis berfokus pada otot tungkai dan persendian kaki, dilanjutkan penyampaian tujuan pembelajaran tentang penerapan gaya dorongan dan tolakan dalam lari dan lompat (7 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik unjuk kerja singkat: meminta murid melakukan lari sprint 10 meter dan satu kali lompatan ke depan untuk mengamati pemanfaatan gaya tolakan kaki ke permukaan tanah (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid menyimak penjelasan dan demonstrasi guru mengenai konsep gaya dorong ke tanah pada fase lari akselerasi (gaya aksi) yang menghasilkan dorongan tubuh melaju ke depan (gaya reaksi/Hukum III Newton) serta gaya tolakan eksplosif satu kaki pada papan tumpuan untuk fase lepas landas lompat (7 menit).
  • Murid membedakan secara visual dua peragaan gerak: dorongan kaki yang lemah vs dorongan kaki yang kuat dan sudut tolakan yang tepat (45 derajat) dalam menghasilkan lintasan gerak optimal (8 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid secara berpasangan mempraktikkan keterampilan gerak lari sprint akselerasi 20 meter dengan fokus menerapkan gaya dorongan telapak kaki belakang ke tanah secara bertahap makin kuat, dilakukan sebanyak 3 repetisi bergantian (12 menit).
  • Murid mempraktikkan keterampilan gerak tolakan melompat melewati rintangan busa/tali setinggi 30 cm dari awalan lari 4 langkah, menumpu dengan satu kaki kuat memanfaatkan gaya tolakan vertikal-diagonal, mendarat dengan kedua lutut mengeper, diulang 4 kali per murid (15 menit).
  • Murid berpartisipasi dalam permainan tantangan menggembirakan 'Lompat Zona Gaya': murid berlari 5 langkah lalu menolak di garis tumpu untuk mendarat pada 3 zona target bertingkat (Zona A: 1,5 m; Zona B: 2,0 m; Zona C: 2,5 m), merasakan langsung pengaruh besarnya gaya tolakan terhadap jarak pendaratan (10 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid berhenti sejenak, mengamati sensasi otot tungkai dan mengevaluasi keterkaitan antara besar dorongan/tolakan kaki yang mereka berikan ke tanah dengan kecepatan lari serta jarak lompatan yang dicapai (5 menit).

Penutup:

  • Guru memandu aktivitas pendinginan (cooling down) untuk mengendurkan otot-otot tungkai dan mengatur pernapasan (4 menit).
  • Guru bersama murid melakukan cek pemahaman singkat lisan mengenai fungsi gaya dorongan dan tolakan dalam mengecilkan hambatan dan memaksimalkan kecepatan serta jarak (2 menit).
  • Guru memberikan umpan balik konstruktif terhadap ketercapaian gerak hari ini, menginformasikan materi transfer keterampilan gerak ke bola tangan untuk pertemuan berikutnya, dan menutup pembelajaran dengan doa (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan garis start dan garis tumpu dengan tanda visual warna berbeda untuk memudahkan orientasi penempatan kaki tolakan.
  • Proses: Bagi murid yang masih ragu menolak, jarak awalan dikurangi menjadi 2 langkah dan ketinggian rintangan diturunkan menjadi 15 cm; bagi murid yang sudah terampil, jarak awalan ditingkatkan menjadi 6-8 langkah dengan target zona pendaratan lebih jauh.
  • Produk: Variasi capaian diukur berdasarkan keteraturan teknik penerapan gaya dorong dan tolakan (bukan semata-mata jarak absolut meteran).

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Guru mengamati unjuk kerja sprint 10 meter dan 1 kali lompat tumpuan satu kaki. Kriteria pengamatan diagnostik: (1) Adanya hentakan dorongan ujung telapak kaki ke belakang saat melangkah lari; (2) Adanya dorongan melompat ke atas-depan menggunakan satu kaki tumpu kokoh tanpa berhenti di garis tumpu. Acuan kesiapan: Murid siap bila memperagakan dorongan aktif kaki tanpa langkah tertahan.

Proses:

  • Lembar observasi unjuk kerja gerak saat lari akselerasi dan lompat rintangan. Guru mengamati 2 indikator kinerja: (1) Penerapan gaya dorongan telapak kaki ke tanah ke arah belakang-bawah saat akselerasi lari; (2) Penerapan gaya tolakan eksplosif satu kaki pada papan/garis tumpuan dengan arah tolakan ke depan-atas serta pendaratan mengeper. Acuan ketercapaian: Murid berhasil jika mampu melakukan kedua teknik gaya secara tepat minimal pada 3 dari 4 kali percobaan.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan penutup: Guru menanyakan, 'Ke arah manakah kaki harus menekan tanah agar tubuh terdorong melesat ke depan saat berlari, dan mengapa tolakan lompat harus mengarah ke atas-depan?' (Kriteria penerimaan: Jawaban tepat jika menyebutkan kaki mendorong ke belakang-bawah untuk lari ke depan sesuai gaya reaksi, dan menolak ke atas-depan untuk menghasilkan ketinggian dan jarak lompatan melayang sebelum ditarik gravitasi).

Formatif:

  • Asesmen Awal: Pengamatan unjuk kerja dorongan kaki pada sprint 10 meter dan 1 kali lompatan awalan.
  • Asesmen Proses: Lembar observasi checklist penerapan gaya tolakan dan dorongan pada aktivitas sprint 20 meter dan lompat rintangan.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penerapan gaya dorongan kaki saat berlariMelangkah lari dengan tapak kaki datar tanpa dorongan aktif ke belakang-bawah, sehingga laju lari lambat.Menerapkan dorongan telapak kaki ke belakang-bawah saat lari tetapi belum konsisten (hanya 1 dari 3 repetisi) dan arah dorongan belum optimal.Menerapkan gaya dorongan telapak kaki ke belakang-bawah secara tepat dan konsisten pada minimal 2-3 repetisi lari akselerasi secara mandiri.Menerapkan gaya dorongan telapak kaki secara kuat, ritmis, dan eksplosif pada seluruh repetisi lari akselerasi secara konsisten dan stabil.
Penerapan gaya tolakan kaki saat melompatMelompat dengan tumpuan dua kaki secara kaku atau ragu-ragu tanpa tolakan vertikal-diagonal yang terarah.Menerapkan gaya tolakan satu kaki pada garis tumpuan tetapi arah tolakan masih terlalu datar ke depan atau melambat menjelang tumpuan (hanya 1-2 kali percobaan tepat).Menerapkan gaya tolakan satu kaki secara eksplosif ke arah atas-depan secara tepat pada minimal 3 dari 4 kali percobaan rintangan/zona lompat.Menerapkan gaya tolakan satu kaki dengan koordinasi ayunan lengan penuh dan pendaratan mengeper secara tepat di semua percobaan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 80 menit cukup untuk memberikan repetisi gerak yang memadai bagi seluruh murid?
  • Bagaimana respons murid saat merasakan langsung hubungan antara besarnya gaya dorongan/tolakan dengan hasil kecepatan dan jarak gerak?
  • Apakah modifikasi tantangan rintangan sudah cukup aman dan inklusif bagi seluruh tingkat kebugaran murid?

Murid:

  • Apa perbedaan yang kamu rasakan pada kecepatan tubuhmu saat mendorong tanah lebih kuat dengan kaki dibandingkan saat melangkah santai?
  • Bagian gerak mana yang paling menantang ketika kamu harus mengubah kecepatan lari menjadi gaya tolakan melompat ke atas-depan?

Pertemuan 2 — Mentransfer Keterampilan Gerak Langkah dan Ayunan Lengan ke dalam Situasi Permainan Bola Tangan Sederhana — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.1.2 Mentransfer keterampilan gerak ke dalam berbagai situasi gerak aktivitas jasmani

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas di lapangan dengan salam, berdoa bersama, memeriksa kehadiran, dan memimpin pemanasan dinamis berfokus pada mobilitas tungkai serta sendi bahu (8 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu mentransfer keterampilan gerak langkah dan ayunan lengan ke dalam situasi gerak permainan bola tangan sederhana (2 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik unjuk kerja berupa transfer gerak 3 langkah berirama diikuti ayunan lengan melempar ke sasaran dinding berjarak 4 meter (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid mengamati peragaan guru dan menganalisis mekanisme transfer gerak: transfer momentum dari awalan 3 langkah berirama (kiri-kanan-kiri atau kanan-kiri-kanan) yang diteruskan menjadi ayunan lengan melempar bola secara berkesinambungan (8 menit).
  • Murid secara mandiri melakukan latihan drill adaptasi pola gerak dasar langkah berirama yang dipadukan dengan ayunan lengan melempar tanpa bola terlebih dahulu untuk merasakan perpindahan berat badan (7 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid berpasangan mempraktikkan transfer gerak langkah dan ayunan lengan dengan bola: bergerak maju 3 langkah lalu mengayunkan lengan mengoper bola setinggi dada kepada pasangan yang bergerak menyamping pada jarak 5 meter (15 menit).
  • Murid menerapkan transfer keterampilan gerak langkah dan ayunan lengan tersebut ke dalam situasi permainan modifikasi bola tangan sederhana 4 lawan 4 di lapangan berukuran 10x15 meter dengan batas maksimal 3 langkah sebelum bola dioper atau dilempar (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid duduk beristirahat dan mengevaluasi pelaksanaan transfer gerak yang telah dilakukan, mengidentifikasi sinkronisasi antara langkah kaki terakhir dengan saat pelepasan bola melalui ayunan lengan (10 menit).

Penutup:

  • Murid melakukan gerakan pendinginan statis untuk meregangkan otot lengan, bahu, dan tungkai (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik menyeluruh terhadap penerapan transfer keterampilan langkah dan ayunan lengan dalam situasi permainan, menyampaikan rencana pertemuan berikutnya, dan menutup pembelajaran dengan doa (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan menggunakan bola spons lunak dengan jarak operan 3-4 meter, sedangkan murid yang mahir menggunakan bola tangan standar nomor 2 dengan jarak sasaran 6-8 meter.
  • Proses: Murid yang belum stabil langkahnya melakukan transfer gerak langkah dan ayunan secara berulang dengan marka penanda jejak langkah di lantai; murid yang mahir diberikan variasi transfer langkah dengan perubahan tempo langkah sebelum ayunan lemparan.
  • Produk: Semua murid dinilai berdasarkan kemampuan mentransfer koordinasi langkah dan ayunan lengan ke dalam situasi bermain.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik unjuk kerja perorangan: Murid melakukan gerak 3 langkah berirama dilanjutkan ayunan lengan melempar bola ke dinding target berjarak 4 meter (acuan ketercapaian: langkah kaki tidak tersendat sebelum ayunan lengan, ayunan lengan dilakukan berkelanjutan tanpa jeda berhenti total saat melempar).

Proses:

  • Lembar observasi formatif unjuk kerja saat permainan modifikasi bola tangan 4 lawan 4, mengamati 2 indikator transfer gerak: (1) mentransfer langkah berirama maksimal 3 langkah saat menguasai bola; (2) mentransfer momentum langkah ke ayunan lengan saat melempar/mengoper bola secara kontinu.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman dan peragaan konfirmasi di akhir sesi: Guru memanggil 3 perwakilan murid untuk memperagakan kembali 1 rangkaian transfer langkah ke ayunan lemparan di depan teman-temannya (kriteria penerimaan: langkah berirama mulus dan ayunan lengan melempar mengalir tanpa jeda putus).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja transfer gerak koordinasi langkah kaki dan ayunan lengan pada situasi gerak permainan modifikasi bola tangan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Transfer Keterampilan Gerak Langkah dan Ayunan Lengan ke Situasi PermainanBelum mampu mentransfer kombinasi gerak; langkah kaki berhenti total atau terputus sebelum ayunan lengan melempar bola dalam situasi permainan.Mampu mentransfer gerak langkah ke ayunan lemparan dalam situasi statis/latihan drill berpasangan, namun koordinasi langkah dan ayunan lengan masih kaku dan sering terhenti saat masuk ke situasi permainan modifikasi.Mampu mentransfer keterampilan gerak 3 langkah berirama ke ayunan lengan melempar secara kontinu dan tepat sasaran dalam situasi permainan modifikasi bola tangan.Mampu mentransfer keterampilan gerak langkah dan ayunan lengan secara kontinu, mulus, dan konsisten dalam berbagai situasi permainan modifikasi yang dinamis tanpa jeda ragu.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu drill dan situasi permainan sudah cukup memberi kesempatan bagi setiap murid untuk mentransfer gerak langkah dan ayunan lengan?
  • Bagian mana dari rantai transfer gerak (dari langkah ke ayunan) yang paling sering mengalami hambatan pada murid?

Murid:

  • Apakah kamu merasakan peningkatan kelancaran lemparan saat memanfaatkan momentum langkah kaki?
  • Apa kesulitan yang kamu hadapi saat harus menyesuaikan ayunan lengan ketika bergerak dalam situasi permainan?

Pertemuan 3 — Mentransfer Keterampilan Gerak Berpindah Tempat dan Manipulatif ke dalam Situasi Rintangan dan Transisi Cepat — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.1.2 Mentransfer keterampilan gerak ke dalam berbagai situasi gerak aktivitas jasmani

Pendahuluan:

  • Guru membuka pelajaran dengan salam, memimpin doa bersama, memeriksa kehadiran murid, dan memastikan kesiapan fisik murid untuk beraktivitas di lapangan (3 menit).
  • Guru memandu pemanasan dinamis berkesadaran yang berfokus pada kelenturan persendian kaki, lutut, dan lengan melalui peregangan aktif terpimpin (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen diagnostik singkat dengan meminta 3 perwakilan murid memperagakan gerakan melompati cone rendah lalu segera menangkap bola lambung dari guru untuk memetakan kesiapan transfer gerak lokomotor ke manipulatif (acuan: tumpuan kaki stabil usai mendarat dan kedua telapak tangan siap menyerap bola tanpa terjatuh) (4 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu melatih kemampuan mentransfer keterampilan gerak berpindah tempat (lokomotor) dan keterampilan memegang/mengoper bola (manipulatif) saat menghadapi jalur rintangan dan perubahan arah transisi cepat (3 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid mengamati peragaan guru mengenai 2 bentuk transfer keterampilan gerak: (1) Gerak lokomotor lari zig-zag di antara 4 cone pembatas yang disambung lompatan melewati kardus/hurdle rendah, lalu (2) langsung beralih ke gerak manipulatif berupa menangkap bola yang melambung dan melakukan operan dada (chest pass) ke sasaran dinding target dalam tempo berkesinambungan (5 menit).
  • Murid secara berpasangan mempraktikkan pengenalan gerak dasar secara bertahap di jalur berjarak 10 meter: murid A melakukan lari zig-zag 4 pancang dan lompat satu rintangan, kemudian murid B melempar bola setinggi dada agar murid A menangkap bola tepat pada langkah pertama setelah mendarat, dilakukan bergantian masing-masing 3 repetisi (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid melakukan latihan transfer gerak sirkuit terstruktur: berlari cepat 5 meter, melompati 2 rintangan mini-hurdle berturut-turut, menyerap hentakan pendaratan ke langkah lari sprint pendek, menerima operan bola pantul (bounce pass) dari rekan stasiun, lalu segera mentransfer ke gerak mengoper bola ke ring sasaran kain gantung sejauh 4 meter (15 menit).
  • Murid mengikuti simulasi permainan tantangan beregu menggembirakan 'Estafet Rintangan Transisi': 4 tim berbaris di lintasan rintangan; setiap murid harus berlari melewati rintangan bangku rendah dan 3 cone zig-zag sambil menggiring bola basket/tangan, melakukan transisi gerak berhenti mendadak (stop jump), lalu mentransfer dorongan tubuh untuk melakukan lemparan tepat ke keranjang sasaran sebelum berlari kembali menyerahkan giliran ke teman berikutnya (19 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid berkumpul dalam lingkaran tenang, mengatur napas secara teratur, lalu mengevaluasi keselarasan perpindahan gerak tubuhnya sendiri: apakah ritme langkah saat melewati rintangan dapat langsung mengalir secara mulus ke gerak memegang/melempar bola atau masih terputus kaku saat transisi (5 menit).
  • Guru memberikan umpan balik langsung mengenai pentingnya kontrol titik berat badan dan kesiapan koordinasi mata-tangan-kaki agar transfer gerak dari lari-lompat ke menangkap-mengoper dapat berlangsung stabil dan efisien (3 menit).

Penutup:

  • Guru memimpin aktivitas pendinginan (cooling down) statis untuk menurunkan denyut jantung dan merelaksasi otot tungkai serta lengan bawah (5 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan intisari pembelajaran hari ini bahwa keterampilan gerak lokomotor dan manipulatif saling terhubung secara terpadu dalam situasi gerak yang dinamis (3 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan variasi tinggi rintangan (ketinggian cone/hurdle 15 cm untuk pemula dan 30 cm untuk yang mahir) serta jarak sasaran lemparan manipulatif (3 meter dan 5 meter).
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan melakukan transisi rintangan dengan kecepatan lari sedang dan lemparan bola berjarak dekat; murid yang sudah mahir diinstruksikan melakukan transisi sprint penuh dan merespons operan bola acak berkecepatan tinggi.
  • Produk: Unjuk kerja transfer gerak dinilai berdasarkan kesinambungan perpindahan dari gerak lokomotor rintangan ke gerak manipulatif sasaran tanpa jeda berhenti total.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Peragaan diagnostik singkat: Melompat melewati 1 cone pembatas rendah (tinggi 20 cm) dan langsung menangkap bola operan dada sejauh 3 meter (acuan: kaki mendarat seimbang dengan lutut mengeper dan kedua tangan langsung menangkap bola tanpa terlepas).

Proses:

  • Pengamatan langsung saat murid melakukan sirkuit rintangan dan simulasi 'Estafet Rintangan Transisi' dengan fokus pada 2 kriteria: (1) kelancaran transisi gerak dari lari/lompat ke menguasai bola, dan (2) kesinambungan pelepasan operan manipulatif ke sasaran segera setelah melewati rintangan tanpa kehilangan keseimbangan badan.

Akhir Pertemuan:

  • Cek penguasaan gerak di akhir sesi: Murid memperagakan satu kali lintasan uji gerak (lari zig-zag 3 cone -> lompat 1 hurdle -> tangkap bola pantul -> operan ke target sasaran) dengan kriteria ketercapaian: seluruh 4 rangkaian gerak terlaksana berkesinambungan tanpa jeda henti lebih dari 2 detik dan bola terarah ke bidang sasaran.

Formatif:

  • Pengamatan unjuk kerja transfer gerak (lokomotor melewati rintangan langsung menyambung ke gerak manipulatif menerima dan melepas bola) menggunakan lembar observasi proses.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Transfer Gerak Berpindah Tempat (Lokomotor) ke Manipulatif pada Situasi RintanganTerhenti kaku saat berpindah dari melompati rintangan ke gerak manipulatif menerima/melempar bola, atau kehilangan keseimbangan saat mendarat.Mampu melakukan gerak melompati rintangan dan gerak manipulatif bola, tetapi masih membutuhkan jeda berhenti lama (>2 detik) untuk menyeimbangkan posisi tubuh sebelum mengoper.Mampu mentransfer gerak melompati rintangan langsung ke gerak manipulatif menangkap dan mengoper bola secara berkesinambungan dengan posisi tubuh seimbang.Mampu mentransfer rangkaian gerak lokomotor melompati rintangan dan gerak manipulatif menangkap serta mengoper bola secara mengalir mulus dalam kecepatan tinggi dan arah operan sangat akurat.
Adaptasi Gerak pada Situasi Transisi CepatBelum mampu mengubah arah gerak atau menyesuaikan kecepatan langkah saat terjadi pergantian situasi dari berlari ke menguasai bola.Mampu mengubah arah langkah kaki pada jalur transisi cone, tetapi kehilangan kontrol terhadap bola saat berpindah posisi gerak.Mampu menyesuaikan perubahan arah langkah kaki dan mengontrol bola secara tepat saat terjadi transisi lari cepat menuju sasaran.Mampu mengantisipasi dan menyesuaikan kecepatan langkah kaki, perubahan arah tubuh, serta kontrol manipulatif bola secara otomatis dan konsisten pada setiap transisi cepat.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah desain lintasan rintangan dan transisi gerak manipulatif yang dirancang sudah memfasilitasi seluruh murid untuk aktif bergerak?
  • Bagian transisi gerak mana yang paling sering membuat murid kehilangan keseimbangan atau kehilangan kendali terhadap bola?

Murid:

  • Apa kesulitan yang saya rasakan ketika harus langsung menangkap atau mengoper bola tepat setelah mendarat dari melompat?
  • Bagaimana posisi kaki dan badan saya agar tidak limbung saat harus berbelok cepat dan langsung melempar bola ke sasaran?

Pertemuan 4 — Memperagakan Strategi Gerak Penempatan Ruang Kosong dan Operan Cepat untuk Meningkatkan Capaian Keterampilan Gerak Menyerang — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.1.3 Memperagakan strategi gerak yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan capaian keterampilan gerak

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan memimpin doa pembuka di lapangan (3 menit).
  • Guru memandu pemanasan dinamis yang melibatkan peregangan aktif, lari zig-zag ringan, dan reaksi tanggap gerak (7 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik unjuk kerja berupa simulasi bergerak mencari ruang: murid berpasangan saling mengoper bola dalam area terbatas dengan 1 orang bayangan pasif. Guru mengecek apakah murid langsung diam atau bergerak membuka sudut operan bebas halangan (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru mendemonstrasikan bersama 2 orang murid tentang konsep strategi penempatan ruang kosong (membuka jalur operan tanpa terhalang penjaga) dan eksekusi operan cepat satu-dua sentuhan (give and go) untuk melewati rintangan bertahan (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid dibagi ke dalam kelompok kecil beranggotakan 4 orang (3 penyerang vs 1 pemain bertahan pasif/semi-aktif) dalam petak 8x8 meter untuk melakukan latihan strategi operan cepat dan lari membuka ruang kosong (drill 3 vs 1). Penyerang wajib memperagakan perpindahan posisi segera setelah melepas operan (15 menit).
  • Murid melakukan permainan modifikasi menyerang yang menggembirakan: 'Tantangan Zona Bebas' (3 vs 2 dalam lapangan 10x15 meter dengan gawang kerucut). Tim penyerang mendapatkan poin bila berhasil mencetak gol melalui skema peragaan penempatan ruang kosong dan operan cepat sebelum bola direbut bertahan (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid berkumpul dalam lingkaran untuk melakukan pendinginan mandiri sembari mengevaluasi efektivitas gerakan: menilai kapan waktu terbaik berlari ke ruang kosong dan apa dampak keterlambatan melepas operan terhadap keberhasilan serangan (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan prinsip utama strategi gerak menyerang (membuka ruang dan melepaskan operan cepat sebelum ruang tertutup kembali) (5 menit).
  • Guru memberikan apresiasi kepada seluruh kelompok, menyampaikan garis besar materi pertemuan berikutnya, dan menutup pembelajaran dengan doa serta pembubaran barisan (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan area petak latihan yang lebih luas (10x10 meter) untuk murid yang membutuhkan ruang gerak lebih longgar, dan area lebih sempit (6x6 meter) bagi murid yang siap dengan tantangan ruang terbatas.
  • Proses: Memberikan pendampingan berupa tanda isyarat visual/cone petunjuk arah lari bagi murid yang masih kesulitan membaca ruang, sedangkan murid yang sudah mahir diberi penambahan intensitas tekanan bertahan dari lawan semi-aktif menjadi aktif penuh.
  • Produk: Tidak dibedakan karena targetnya adalah peragaan langsung strategi penempatan ruang kosong dan operan cepat dalam situasi gerak latihan permainan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Simulasi gerak berpasangan 2 vs 1 (1 penjaga bayangan pasif): Murid diminta mengoper bola ke teman melewati penjaga. Kriteria ketercapaian awal: Murid penerima bergerak menjauh dari garis halang penjaga untuk menciptakan jalur operan terbuka (acuan: posisi penerima tidak berada tepat di belakang tubuh penjaga dan membentuk sudut segitiga bebas rintangan).

Proses:

  • Pengamatan performa peragaan strategi gerak penyerangan pada permainan modifikasi 3 vs 2. Indikator yang diamati: (1) Penempatan ruang kosong: Murid berpindah ke area lapangan yang tidak terjaga segera setelah mengoper bola; (2) Operan cepat: Murid melepaskan operan tepat waktu (maksimal 2-3 detik saat menguasai bola) ke arah rekan yang berdiri bebas tanpa terpotong lawan.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman tindakan gerak di akhir sesi: Murid secara lisan/tindakan menunjukkan dua keputusan gerak utama saat menyerang (acuan jawaban: 1. Berlari menuju area kosong yang tidak dijaga lawan; 2. Segera mengoper bola ke teman yang berdiri bebas sebelum ruang ditutup pemain bertahan).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja gerak saat drill 3 vs 1 dan permainan modifikasi 3 vs 2 dengan lembar ceklis indikator peragaan strategi gerak penyerangan.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Peragaan Penempatan Ruang KosongMurid cenderung berdiri diam di posisinya atau berlari ke arah yang sudah tertutup oleh pemain bertahan saat tim menguasai bola.Murid mulai bergerak mencari ruang kosong namun pergerakannya terlambat sehingga jalur operan sudah kembali tertutup lawan.Murid secara tepat memperagakan gerakan berlari menuju ruang kosong yang membuka jalur operan bebas rintangan dari rekan setim.Murid secara konsisten memperagakan gerakan membuka ruang kosong dengan pemilihan waktu (timing) yang tepat dan segera menciptakan ruang baru setelah bola dialirkan.
Peragaan Operan Cepat untuk MenyerangMurid menahan bola terlalu lama tanpa mengalirkan bola sehingga serangan mudah dipatahkan atau direbut lawan.Murid mampu melepaskan operan namun dengan irama lambat sehingga pemain bertahan sempat menutup ruang gerak penerima.Murid memperagakan operan cepat secara akurat ke arah teman yang bebas sebelum lawan sempat merebut bola.Murid memperagakan operan cepat satu-dua sentuhan secara akurat, terarah, dan konsisten dalam memecah pertahanan lawan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu untuk drill 3 vs 1 dan permainan 3 vs 2 mencukupi bagi setiap murid untuk mempraktikkan pembukaan ruang kosong?
  • Bagaimana respons murid terhadap variasi modifikasi tantangan ruang yang diberikan?

Murid:

  • Kapan saat yang paling tepat bagi saya untuk berlari mencari posisi baru di lapangan?
  • Apa hambatan utama yang saya rasakan ketika mencoba melepaskan operan secara cepat?

Pertemuan 5 — Membuktikan Strategi Gerak Penjagaan Daerah Dibandingkan Penjagaan Satu Lawan Satu yang Paling Efektif dalam Situasi Gerak Berbeda — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.1.4 Membuktikan strategi gerak yang paling efektif dalam situasi gerak yang berbeda

Pendahuluan:

  • Guru membariskan murid, memimpin doa, mengecek kehadiran, dan memfasilitasi pemanasan dinamis berorientasi reaksi gerak bertahan (5 menit).
  • Guru memberikan apersepsi dan asesmen awal diagnostik melalui 2 pertanyaan lisan: (1) 'Jika lawan memiliki 1 penyerang cepat yang dominan mencetak angka, strategi bertahan mana yang lebih efektif?' (acuan jawaban: penjagaan satu lawan satu/man-to-man); (2) 'Jika lawan mengandalkan operan cepat ke ruang kosong yang lebar, strategi bertahan mana yang lebih efektif?' (acuan jawaban: penjagaan daerah/zone defense) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid menyimak penjelasan guru dan mengamati simulasi perbandingan dua strategi bertahan pada permainan invasi/bola tangan: penjagaan satu lawan satu (mengikuti pergerakan individu lawan kemanapun bergerak) dan penjagaan daerah (menjaga sektor ruang tertentu dan menutup jalur bola) (10 menit).
  • Murid dibagi ke dalam kelompok kecil beranggotakan 4-5 orang dan mencermati lembar pengamatan pembuktian efektivitas yang memuat dua situasi uji: Situasi A (penyerang lawan bergerak menyebar dengan operan cepat memanfaatkan ruang) dan Situasi B (penyerang lawan mengandalkan satu pemain kunci dengan dribel penetrasi langsung) (5 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid memainkan simulasi permainan modifikasi 4 lawan 4 yang menggembirakan secara bergantian: Tim bertahan pertama kali menguji strategi Penjagaan Satu Lawan Satu pada Situasi A selama 6 menit, lalu beralih menerapkan strategi Penjagaan Daerah pada Situasi A selama 6 menit, sembari pencatat kelompok menghitung jumlah operan lawan yang terputus atau peluang tembakan yang digagalkan (17 menit).
  • Murid melanjutkan permainan modifikasi pada Situasi B: Tim bertahan menguji kembali strategi Penjagaan Satu Lawan Satu selama 6 menit, kemudian menguji strategi Penjagaan Daerah selama 6 menit, dengan mencatat perbandingan keberhasilan menggagalkan penetrasi lawan pada lembar data (12 menit).
  • Murid dalam kelompok mengolah data hasil uji tanding kedua situasi untuk membuktikan perbandingan efektivitas: membandingkan efektivitas Penjagaan Daerah vs Satu Lawan Satu pada Situasi A dan Situasi B berdasarkan bukti perolehan angka kegagalan serangan lawan (11 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mengonfirmasikan temuan kelompoknya untuk menarik kesimpulan pembuktian strategi gerak: Penjagaan Daerah terbukti paling efektif pada Situasi A (karena menutup celah operan ke ruang kosong), sedangkan Penjagaan Satu Lawan Satu terbukti paling efektif pada Situasi B (karena mengunci ruang gerak individu penyerang utama) (10 menit).

Penutup:

  • Murid melakukan pendinginan terpandu untuk menurunkan denyut nadi dan melemaskan otot (3 menit).
  • Guru memfasilitasi asesmen akhir/cek pemahaman singkat dan menyampaikan rencana aktivitas pertemuan berikutnya tanpa menutup bab (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan visualisasi pembagian zona lapangan menggunakan cone pembatas untuk memudahkan pembedaan strategi, sedangkan kelompok mahir langsung menguji strategi di lapangan penuh tanpa garis bantu.
  • Proses: Kelompok yang kesulitan menganalisis dibimbing langsung oleh guru dalam mencatat frekuensi keberhasilan bertahan, sedangkan kelompok mandiri mengumpulkan data statistik pertahanan secara otonom.
  • Produk: Kelompok dapat menyajikan kesimpulan pembuktian strategi secara lisan langsung saat refleksi atau berupa catatan ringkas tabel data perbandingan efektivitas bertahan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik kesiapan konsep strategi bertahan: (1) Pertanyaan: 'Jika lawan memiliki 1 penyerang cepat yang dominan mencetak angka, strategi bertahan mana yang lebih efektif?' (Acuan jawaban benar: Penjagaan satu lawan satu / man-to-man); (2) Pertanyaan: 'Jika lawan mengandalkan operan cepat ke ruang kosong yang lebar, strategi bertahan mana yang lebih efektif?' (Acuan jawaban benar: Penjagaan daerah / zone defense).

Proses:

  • Lembar observasi keterlibatan murid saat mempraktikkan penjagaan satu lawan satu dan penjagaan daerah dalam simulasi 4 lawan 4.
  • Pengecekan keakuratan data pembuktian pada lembar kerja kelompok: murid memverifikasi bahwa Penjagaan Daerah lebih efektif untuk memutus operan di Situasi A (minimal 3 operan terputus) dan Penjagaan Satu Lawan Satu lebih efektif menahan penetrasi individu di Situasi B (minimal 3 penetrasi digagalkan).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan penutup: Guru menanyakan kepada perwakilan murid: 'Berdasarkan uji coba tadi, buktikan mengapa penjagaan daerah lebih efektif menghadapi lawan yang rajin mengoper ke ruang kosong dibanding satu lawan satu?' (Acuan jawaban: Penjagaan daerah membatasi ruang dan memotong jalur operan tim lawan secara kolektif tanpa terpancing meninggalkan pos pertahanan, sedangkan satu lawan satu mudah ditembus jika pemain bertahan kalah kecepatan saat mengejar lawan).

Formatif:

  • Pengamatan unjuk kerja penerapan dan pengujian strategi bertahan (penjagaan daerah vs satu lawan satu) dalam permainan modifikasi.
  • Pemeriksaan lembar data pembuktian efektivitas strategi gerak bertahan pada dua situasi gerak berbeda.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Membuktikan efektivitas strategi penjagaan daerah vs satu lawan satu dalam situasi gerak berbedaBelum mampu membuktikan strategi gerak bertahan yang paling efektif pada kedua situasi gerak yang diuji (Situasi A dan Situasi B).Mampu membuktikan strategi gerak bertahan yang paling efektif hanya pada 1 situasi gerak secara tepat berdasarkan data uji coba (Situasi A saja atau Situasi B saja).Mampu membuktikan strategi gerak bertahan yang paling efektif pada kedua situasi gerak (Situasi A terbukti efektif dengan Penjagaan Daerah dan Situasi B terbukti efektif dengan Penjagaan Satu Lawan Satu) berdasarkan data uji coba secara tepat dengan bimbingan.Mampu membuktikan strategi gerak bertahan yang paling efektif pada kedua situasi gerak (Situasi A terbukti efektif dengan Penjagaan Daerah dan Situasi B terbukti efektif dengan Penjagaan Satu Lawan Satu) secara tepat dan mandiri berdasarkan data uji coba yang lengkap.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah desain situasi permainan 4 lawan 4 berhasil memunculkan perbedaan nyata efektivitas antara penjagaan daerah dan penjagaan satu lawan satu?
  • Bagaimana partisipasi dan kolaborasi murid saat mengumpulkan data pembuktian efektivitas strategi bertahan di lapangan?

Murid:

  • Apa bukti nyata di lapangan yang menunjukkan bahwa strategi penjagaan daerah lebih ampuh meredam operan cepat ruang kosong dibanding penjagaan satu lawan satu?
  • Kendala apa yang kelompokmu temui saat mencoba membuktikan efektivitas kedua strategi bertahan tersebut?

Pertemuan 6 — Asesmen Sumatif Bab — 2 JP (2 x 40 menit = 80 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 8.1.1 Menerapkan keterampilan gerak yang memanfaatkan gaya dalam aktivitas jasmani
  • TP 8.1.2 Mentransfer keterampilan gerak ke dalam berbagai situasi gerak aktivitas jasmani
  • TP 8.1.3 Memperagakan strategi gerak yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan capaian keterampilan gerak
  • TP 8.1.4 Membuktikan strategi gerak yang paling efektif dalam situasi gerak yang berbeda

Pendahuluan:

  • Guru membuka sesi dengan salam, memimpin doa, memeriksa kehadiran, dan memandu pemanasan statis serta dinamis berorientasi mobilitas sendi dan kelincahan (6 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif bab, tata tertib, serta kriteria unjuk kerja praktik permainan modifikasi dan tes lisan analisis strategi gerak (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Murid dalam 4 tim (masing-masing 7 orang) mendengarkan instruksi teknis alur simulasi pada dua lapangan modifikasi bola tangan, memahami rubrik penilaian gerak berbasis gaya, aturan transfer pola gerak, serta peragaan strategi gerak penyerangan dan pertahanan (5 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid melaksanakan unjuk kerja praktik permainan tim modifikasi secara simultan di 2 lapangan kecil (Tim A vs Tim B di Lapangan 1, Tim C vs Tim D di Lapangan 2) dengan durasi 2 babak @ 20 menit diselingi transisi, di mana guru mengobservasi ketercapaian TP 8.1.1 (penerapan gaya tolakan kaki saat sprint/lompat dan gaya dorongan lengan saat passing/shooting), TP 8.1.2 (mentransfer pola langkah kaki dan passing ke situasi rintangan/transisi dinamis), dan TP 8.1.3 (memperagakan penempatan ruang kosong dan operan cepat saat menyerang serta penjagaan ketat saat bertahan) menggunakan rubrik unjuk kerja (35 menit).
  • Setiap tim secara bergiliran melaksanakan tes lisan reflektif terstruktur selama 5 menit per tim di hadapan guru, menjawab 2 pertanyaan pembuktian efektivitas strategi: (1) 'Mengapa strategi penempatan ruang kosong dan operan cepat terbukti lebih efektif membongkar pertahanan dibanding menggiring bola individu?' (acuan: operan cepat mengalirkan bola melampaui jangkauan tangkapan lawan, mengurangi risiko kehilangan bola, dan menciptakan sudut tembak bebas), dan (2) 'Mengapa penjagaan daerah (zone defense) lebih efektif menghadapi lawan yang unggul kecepatan dibanding man-to-man?' (acuan: penjagaan daerah menutup celah ruang tembak tengah, menghemat energi transisi, serta membatasi ruang gerak lawan tanpa mudah tertinggal adu sprint perorangan) (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Perwakilan setiap tim menyampaikan refleksi mandiri singkat mengenai konsistensi performa penerapan gerak berbasis gaya dan kesesuaian eksekusi strategi tim di lapangan dengan rencana taktik yang dirancang (5 menit).

Penutup:

  • Guru memandu pendinginan (cooling down) terstruktur untuk menurunkan denyut nadi dan meregangkan otot tungkai serta lengan (3 menit).
  • Guru menyampaikan apresiasi sportivitas seluruh murid, memberikan rekapitulasi umum hasil pelaksanaan asesmen sumatif bab Mengefektifkan Gerak, serta menutup pembelajaran dengan doa bersama (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Akomodasi akses penyediaan kartu petunjuk visual ringkas berisi gambar posisi strategi zona dan alur lari untuk membantu orientasi murid yang membutuhkan penguatan spasial sebelum asesmen dimulai.
  • Proses: Pemberian kesempatan waktu berpikir 30 detik lebih panjang bagi kelompok yang memerlukan waktu ekstra dalam mengorganisasi giliran berbicara pada sesi tes lisan tanpa mengubah substansi pertanyaan.
  • Produk: Standar unjuk kerja dan kriteria pembuktian lisan tetap seragam untuk seluruh murid sesuai acuan rubrik sumatif.

Asesmen Pertemuan:

Sumatif Bab:

  • Unjuk kerja praktik permainan modifikasi dan tes lisan analisis strategi gerak: Rekaman lembar observasi performa penerapan keterampilan gerak yang memanfaatkan gaya, keberhasilan transfer gerak dalam situasi permainan baru, peragaan strategi gerak, serta bukti penjelasan lisan pembuktian efektivitas strategi gerak yang dipilih
  • Unjuk kerja praktik dalam permainan tim modifikasi: Performa kelompok (4 tim beranggotakan 7 murid bermain secara simultan di 2 lapangan kecil/area) dalam menerapkan keterampilan gerak berbasis pemanfaatan gaya, mentransfer pola gerak ke situasi permainan dinamis, dan memperagakan strategi gerak tim untuk efektivitas serangan/pertahanan (55 menit; kelompok; instrumen: Rubrik penilaian unjuk kerja keterampilan dan strategi gerak)
  • Tes lisan reflektif kelompok terstruktur: Argumen lisan perwakilan kelompok yang ditanggapi anggota kelompok saat jeda/akhir permainan untuk membuktikan efektivitas pemilihan strategi gerak pada situasi gerak yang dihadapi dibandingkan alternatif strategi lainnya (4 kelompok dinilai bergantian masing-masing 5-6 menit) (25 menit; kelompok; instrumen: Lembar perbandingan dan rubrik pembuktian efektivitas strategi gerak)

Sumatif:

  • Unjuk kerja praktik permainan modifikasi dan tes lisan analisis strategi gerak: Rekaman lembar observasi performa penerapan keterampilan gerak yang memanfaatkan gaya, keberhasilan transfer gerak dalam situasi permainan baru, peragaan strategi gerak, serta bukti penjelasan lisan pembuktian efektivitas strategi gerak yang dipilih
  • Unjuk kerja praktik dalam permainan tim modifikasi: Performa kelompok (4 tim beranggotakan 7 murid bermain secara simultan di 2 lapangan kecil/area) dalam menerapkan keterampilan gerak berbasis pemanfaatan gaya, mentransfer pola gerak ke situasi permainan dinamis, dan memperagakan strategi gerak tim untuk efektivitas serangan/pertahanan (55 menit; kelompok; instrumen: Rubrik penilaian unjuk kerja keterampilan dan strategi gerak)
  • Tes lisan reflektif kelompok terstruktur: Argumen lisan perwakilan kelompok yang ditanggapi anggota kelompok saat jeda/akhir permainan untuk membuktikan efektivitas pemilihan strategi gerak pada situasi gerak yang dihadapi dibandingkan alternatif strategi lainnya (4 kelompok dinilai bergantian masing-masing 5-6 menit) (25 menit; kelompok; instrumen: Lembar perbandingan dan rubrik pembuktian efektivitas strategi gerak)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menerapkan Keterampilan Gerak Berbasis Gaya (TP 8.1.1)Belum menerapkan gaya tolakan kaki saat berlari/melompat dan dorongan lengan saat mengoper bola secara terkoordinasi dalam permainan.Menerapkan gaya tolakan kaki atau dorongan lengan secara terpisah dengan koordinasi yang masih kaku selama situasi permainan terbatas.Menerapkan gaya tolakan kaki (menghasilkan akselerasi dan lompatan stabil) serta dorongan lengan (menghasilkan laju bola terarah) secara terkoordinasi dan konsisten dalam permainan modifikasi.Menerapkan gaya tolakan dan dorongan secara optimal, menghasilkan daya ledak gerak dan laju operan/tembakan yang presisi serta adaptif di segala situasi permainan dinamis.
Mentransfer Keterampilan Gerak ke Situasi Permainan (TP 8.1.2)Belum mampu mentransfer pola langkah kaki dan ayunan lengan saat menghadapi situasi rintangan lawan atau transisi permainan.Mampu mentransfer keterampilan gerak dasar langkah atau operan hanya ketika situasi permainan lambat dan tanpa rintangan tekanan lawan.Mampu mentransfer keterampilan gerak langkah kaki dan ayunan operan secara tepat ke dalam situasi transisi cepat dan situasi rintangan penjagaan lawan.Mampu mentransfer seluruh variasi keterampilan gerak berpindah tempat dan manipulatif secara luwes dan tepat sasaran di bawah tekanan transisi tinggi lawan.
Memperagakan Strategi Gerak Penyerangan dan Pertahanan (TP 8.1.3)Belum memperagakan pemanfaatan ruang kosong, operan cepat, maupun pola penjagaan tim secara terarah.Memperagakan pemanfaatan ruang kosong atau penjagaan daerah secara sporadis namun belum sinkron dengan pergerakan rekan satu tim.Memperagakan strategi penempatan ruang kosong dan operan cepat saat menyerang serta penutupan ruang/penjagaan daerah saat bertahan secara rapi bersama tim.Memperagakan strategi penyerangan cepat dan sistem pertahanan kompak secara konsisten, efektif memecah pertahanan lawan serta mencegah kebobolan.
Membuktikan Efektivitas Strategi Gerak (TP 8.1.4)Belum mampu memberikan alasan berbasis bukti fakta permainan saat membandingkan efektivitas strategi penyerangan atau pertahanan.Menyebutkan pilihan strategi yang efektif namun argumen pendukungnya belum mengaitkan aspek mekanika permainan (ruang, waktu, dan risiko).Membuktikan secara lisan efektivitas strategi penyerangan (operan cepat vs dribel) dan strategi pertahanan (zona vs satu-lawan-satu) dengan argumen tepat sesuai acuan teknis lapangan.Membuktikan secara lisan efektivitas strategi penyerangan dan pertahanan secara komprehensif, kritis, dan menyertakan bukti empiris dinamika kejadian pertandingan secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 55 menit unjuk kerja praktik dan 25 menit tes lisan kelompok terlaksana secara tertib dan mencakup seluruh indikator penilaian sumatif?
  • Bagaimana tingkat pemahaman konseptual dan aplikasi keterampilan gerak berbasis gaya yang ditunjukkan murid saat bertanding di bawah situasi dinamis?

Murid:

  • Keterampilan gerak berbasis gaya apa yang paling optimal berhasil saya terapkan dalam membantu serangan maupun pertahanan tim?
  • Apakah bukti dan argumen yang saya sampaikan dalam tes lisan sudah menggambarkan fakta efektivitas strategi permainan yang sebenarnya di lapangan?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru PJOK SMP/MTs Kelas VIII, Kemendikbudristek 2021
  2. Buku Siswa PJOK SMP/MTs Kelas VIII, Kemendikbudristek 2021
  3. Lintasan lari/lapangan olahraga sekolah, cone/corong pembatas, papan tumpuan/garis kapur, bilah busa/tali rintangan lompat, peluit, dan stopwatch
  4. Buku Panduan Guru PJOK Kelas VIII SMP/MTs Kemendikbudristek 2021
  5. Buku Siswa PJOK Kelas VIII SMP/MTs Kemendikbudristek 2021
  6. Bola tangan mini / bola spons
  7. Cone / marker pembatas lapangan
  8. Peluit dan stopwatch
  9. Buku Panduan Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan SMP/MTs Kelas VIII (Kemendikbudristek, 2024)
  10. Buku Panduan Siswa PJOK Kelas VIII (Kemendikbudristek, 2024) Bab 1: Mengefektifkan Gerak
  11. Peralatan: Cone/pancang penanda, hurdle mini/kardus rintangan, bola tangan/bola basket, sasaran target gantung, peluit, dan stopwatch.
  12. Buku Panduan Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan untuk SMP Kelas VIII, Pusat Perbukuan Kemendikbudristek 2021
  13. Buku Siswa PJOK Kelas VIII SMP, Kemendikbudristek 2021
  14. Bola tangan / bola sepak modifikasi / bola karet
  15. Kerucut penanda (cones)
  16. Rompi tim 2 warna
  17. Buku Panduan Guru PJOK SMP Kelas VIII, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2021.
  18. Buku Siswa PJOK SMP Kelas VIII, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2021.
  19. Lapangan olahraga/aula sekolah, bola tangan modifikasi (atau bola voli/futsal), rompi tim (bibs), cone penanda zona, dan peluit.
  20. Buku Panduan Guru PJOK SMP/MTs Kelas VIII, Kemendikbudristek 2024
  21. Buku Siswa PJOK SMP/MTs Kelas VIII Bab 1 dan Bab 3, Kemendikbudristek 2024
  22. Lapangan serbaguna/lapangan basket sekolah yang dimodifikasi menjadi 2 lapangan bola tangan kecil
  23. Bola tangan mini / bola voli lunak (4 buah)
  24. Cone/kerucut penanda batas area dan gawang kecil (16 buah)
  25. Rompi tim 4 warna berbeda
  26. Lembar instrumen observasi unjuk kerja dan rubrik penilaian tes lisan sumatif

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.