Modul AjarBab 5Fase CSemester 2

Modul Ajar PJOK Kelas 6 Bab 5: Pahlawan Cilik: Siap Menolong dan Jaga Diri

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian PJOK kelas 6 untuk Bab 5 "Pahlawan Cilik: Siap Menolong dan Jaga Diri", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar PJOK Kelas 6 Bab 5: Pahlawan Cilik: Siap Menolong dan Jaga Diri

PJOK - Kelas 6

Bab 5

MODUL AJAR

PJOK — Kelas 6 (Fase C)

Topik: Bab 5 — Pahlawan Cilik: Siap Menolong dan Jaga Diri

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPJOK
Fase / KelasFase C / Kelas 6
TopikBab 5 — Pahlawan Cilik: Siap Menolong dan Jaga Diri
Alokasi Waktu25 JP (25 x 35 menit = 875 menit)
Jumlah Pertemuan9
Tahun Ajaran2026/2027
Semester2

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 6.5.1 Mengidentifikasi risiko kesehatan akibat cedera sedang di lingkungan sekolah
  2. TP 6.5.2 Menghubungkan risiko kesehatan akibat cedera sedang dengan aktivitas pencegahannya sesuai rekomendasi otoritas kesehatan
  3. TP 6.5.3 Mempraktikkan penanganan cedera sedang berupa keseleo sesuai pemahaman tentang prinsip pertolongan pertama
  4. TP 6.5.4 Mempraktikkan penanganan cedera sedang berupa pingsan sesuai pemahaman tentang prinsip pertolongan pertama

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis✓
Kreativitas
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan✓
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Pernahkah kalian melihat teman yang pergelangan kakinya bengkak setelah salah mendarat saat bermain di lapangan sekolah?
  2. Apa tanda-tanda pada tubuh yang menunjukkan bahwa seseorang mengalami cedera sedang dan bukan sekadar lecet biasa?
  3. Apa yang akan terjadi pada tubuh kita jika cedera keseleo saat berolahraga tidak segera diobati atau dipaksa terus bermain?
  4. Mengapa rasa pusing dan gelap saat pingsan di lapangan sekolah berbahaya jika diabaikan?
  5. Mengapa atlet selalu melakukan pemanasan teratur sebelum mulai berlari kencang atau bertanding?
  6. Apa hubungan antara memakai sepatu olahraga berukuran pas dengan pencegahan risiko cedera terkilir atau lecet?
  7. Mengapa lantai kelas yang basah atau lapangan yang berlubang bisa memicu terjadinya cedera sedang?
  8. Bagaimana kita menghubungkan bahaya yang ada di sekitar sekolah dengan tindakan pencegahan cedera yang tepat sesuai anjuran kesehatan?
  9. Apa tindakan pertama yang harus kita lakukan saat teman terjatuh dan pergelangan kakinya terkilir di lapangan?
  10. Mengapa es batu tidak boleh langsung ditempelkan ke kulit yang mengalami keseleo tanpa pembungkus kain?
  11. Mengapa perban elastis pada kaki yang terkilir tidak boleh dipasang terlalu ketat atau terlalu longgar?
  12. Bagaimana cara mengatur posisi kaki yang terkilir agar posisinya lebih tinggi dari jantung?
  13. Apa yang pertama kali harus kita periksa saat melihat teman tiba-tiba roboh dan tidak sadarkan diri di lapangan?
  14. Mengapa posisi kaki korban pingsan sebaiknya diangkat lebih tinggi daripada letak kepalanya?
  15. Kapan kita boleh menangani teman yang pingsan sendiri dan kapan kita harus segera memanggil bantuan medis?
  16. Informasi penting apa saja yang harus kita laporkan saat memanggil guru atau petugas medis ketika ada korban pingsan?
  17. Bagaimana kita mengenali risiko kesehatan akibat cedera sedang di sekolah dan menghubungkannya dengan langkah pencegahan yang tepat?
  18. Apa langkah terpenting yang harus dipraktikkan saat melakukan pertolongan pertama pada teman yang mengalami keseleo dan pingsan?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Mengidentifikasi Jenis dan Gejala Cedera Sedang di Lingkungan Sekolah — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.5.1 Mengidentifikasi risiko kesehatan akibat cedera sedang di lingkungan sekolah

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kesiapan fisik murid, dan mengajak berdoa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu mengidentifikasi jenis, gejala, dan risiko kesehatan akibat cedera sedang (keseleo/terkilir dan pingsan) di lingkungan sekolah (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik melalui kuis cepat mengangkat kartu hijau (cedera sedang) atau kartu merah (bukan cedera sedang) terhadap 3 contoh kejadian di sekolah (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid menyimak ulasan guru berbantuan media visual mengenai 2 jenis cedera sedang yang kerap terjadi di lingkungan sekolah: keseleo/terkilir (cedera sendi/ligamen akibat salah tumpuan) dan pingsan (kehilangan kesadaran sementara akibat penurunan aliran oksigen ke otak) (10 menit).
  • Murid menelaah 4 kartu gejala dan risiko kesehatan cedera sedang yang dibagikan guru, yaitu: (1) Kartu A: Rasa nyeri tajam pada pergelangan kaki dan pembengkakan lokal (gejala keseleo); (2) Kartu B: Kerusakan jaringan ligamen yang lebih parah dan ketidakmampuan menopang berat badan jika dipaksa berjalan (risiko kesehatan keseleo); (3) Kartu C: Pandangan gelap, tubuh lemas, dan respons lambat sebelum hilang kesadaran (gejala pingsan); (4) Kartu D: Cedera kepala lanjutan akibat terbentur lantai keras dan penurunan fungsi fisik sementara (risiko kesehatan pingsan) (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid secara berpasangan memainkan aktivitas gerak 'Estafet Detektif Cedera': setiap pasangan berlari santai secara bergantian menuju papan pos untuk mengidentifikasi dan menempelkan kartu risiko kesehatan ke kolom jenis cedera sedang yang tepat pada lembar matriks detektif cedera (15 menit).
  • Setiap murid menyelesaikan Lembar Identifikasi Mandiri berisi 4 butir pernyataan untuk menentukan jenis cedera sedang dan risiko kesehatannya: (1) Pergelangan kaki terputar saat lompat tali hingga bengkak -> Jenis: Keseleo, Risiko: Kerusakan ligamen/sendi kaki; (2) Berdiri terlalu lama di lapangan terik hingga tidak sadar dan roboh -> Jenis: Pingsan, Risiko: Terbentur lantai/penurunan pasokan oksigen; (3) Siku terbentur tiang gawang lalu terasa nyeri hebat saat ditekuk -> Jenis: Keseleo/terkilir sendi, Risiko: Pembengkakan sendi dan keterbatasan gerak tangan; (4) Merasa pusing berkunang-kunang lalu pandangan gelap saat upacara -> Jenis: Pingsan, Risiko: Hilang kesadaran dan risiko cedera fisik sekunder (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru mencocokkan hasil identifikasi mandiri dengan kunci acuan kelas untuk menyadari pentingnya kepekaan terhadap tanda-tanda cedera sedang di sekolah (5 menit).

Penutup:

  • Murid dan guru menyimpulkan jenis gejala serta risiko kesehatan dari cedera sedang (keseleo dan pingsan) yang telah diidentifikasi (3 menit).
  • Guru memberikan umpan balik atas ketercapaian identifikasi risiko cedera sedang murid dan menutup pembelajaran dengan doa serta salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu identifikasi dengan teks ringkas berhuruf besar dan ikon cedera bagi murid yang membutuhkan dukungan visual.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan panduan petunjuk kata kunci gejala fisik pada kartu, sedangkan murid yang cepat mengidentifikasi diberikan 2 kartu skenario risiko tambahan untuk diidentifikasi secara mandiri.
  • Produk: Format penandaan identifikasi risiko cedera dapat berupa lembar centang bergambar atau penulisan nama risiko secara mandiri sesuai kesiapan murid.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pemeriksaan diagnostik cepat menggunakan respons kartu hijau (cedera sedang) atau kartu merah (bukan cedera sedang) terhadap 3 situasi di sekolah: (1) Lutut tergores sedikit di lantai berdebu (acuan: Bukan cedera sedang/merah - termasuk luka ringan); (2) Pergelangan kaki terlipat saat bermain basket dan langsung membengkak (acuan: Cedera sedang/hijau - keseleo); (3) Murid mendadak lemas dan hilang kesadaran saat berdiri di terik matahari (acuan: Cedera sedang/hijau - pingsan).

Proses:

  • Pengamatan formatif keterlibatan murid dalam memasangkan kartu jenis cedera dan kartu risiko kesehatan pada papan pos estafet sesuai acuan: Kartu Keseleo berpasangan dengan kartu pembengkakan/kerusakan ligamen, Kartu Pingsan berpasangan dengan kartu hilang kesadaran/risiko benturan sekunder.

Akhir Pertemuan:

  • Pengecekan Lembar Identifikasi Mandiri (4 butir) dengan acuan kunci: Butir 1 (Keseleo - Risiko: Kerusakan ligamen/sendi kaki), Butir 2 (Pingsan - Risiko: Terbentur lantai/gangguan pasokan oksigen), Butir 3 (Keseleo/terkilir sendi - Risiko: Pembengkakan sendi dan keterbatasan gerak tangan), Butir 4 (Pingsan - Risiko: Hilang kesadaran dan risiko cedera fisik sekunder). Kriteria ketercapaian: murid tepat mengidentifikasi minimal 3 dari 4 butir risiko kesehatan cedera sedang.

Formatif:

  • Asesmen diagnostik awal menggunakan 3 kartu situasi.
  • Observasi unjuk kerja saat aktivitas Estafet Detektif Cedera.
  • Pemeriksaan Lembar Identifikasi Mandiri jenis dan risiko kesehatan cedera sedang (4 butir).

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Identifikasi risiko kesehatan akibat cedera sedang di lingkungan sekolahMengidentifikasi risiko kesehatan akibat cedera sedang kurang dari 2 butir dari 4 butir skenario acuan dengan bantuan penuh guru.Mengidentifikasi risiko kesehatan akibat cedera sedang sebanyak 2 butir dari 4 butir skenario acuan secara tepat.Mengidentifikasi risiko kesehatan akibat cedera sedang sebanyak 3 butir dari 4 butir skenario acuan secara tepat.Mengidentifikasi risiko kesehatan akibat cedera sedang pada seluruh 4 butir skenario acuan secara tepat dan mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas permainan Estafet Detektif Cedera berhasil memotivasi murid memahami risiko cedera sedang secara aktif?
  • Bagian skenario mana yang masih sulit dibedakan oleh murid antara cedera ringan dan cedera sedang?

Murid:

  • Gejala cedera sedang apa yang sekarang paling mudah kamu kenali saat berada di lingkungan sekolah?
  • Mengapa kita tidak boleh mengabaikan teman yang pergelangan kakinya bengkak atau tampak linglung hendak pingsan?

Pertemuan 2 — Mengidentifikasi Risiko Kesehatan Akibat Cedera Sedang dalam Aktivitas Fisik Sekolah — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.5.1 Mengidentifikasi risiko kesehatan akibat cedera sedang di lingkungan sekolah

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan fisik murid, serta memimpin doa bersama (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik singkat dengan menanyakan: 'Jika teman kalian terkilir pergelangan kakinya saat bermain sepak bola lalu dipaksa berlari, apa risiko kesehatan yang bisa terjadi?' (acuan jawaban: pembengkakan semakin parah, robekan ligamen/otot bertambah berat, nyeri hebat, sulit berjalan) (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu mengidentifikasi risiko kesehatan yang timbul akibat cedera sedang (keseleo dan pingsan) dalam aktivitas fisik di sekolah (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak penjelasan guru dan kartu kasus tentang 2 jenis cedera sedang dalam aktivitas fisik sekolah beserta risiko kesehatannya jika diabaikan: (1) Keseleo (sprain/strain): risiko kesehatan berupa robekan ligamen/jaringan ikat, pembengkakan bertambah besar, nyeri sendi menetap, dan ketidakmampuan menopang berat badan; (2) Pingsan (sinkop): risiko kesehatan berupa kekurangan pasokan oksigen sementara ke otak, cedera benturan kepala sekunder akibat jatuh, dan dehidrasi/kelelahan panas (heat exhaustion) (15 menit).
  • Murid secara berpasangan membaca lembar ringkasan risiko kesehatan dan mencocokkan dampak langsung pada fungsi tubuh manusia akibat cedera sedang tersebut (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Murid bermain tantangan aktif 'Estafet Detektif Risiko Cedera': murid dibagi dalam kelompok baris estafet, berlari bergantian menuju pos meja di ujung lapangan/aula untuk mengambil dan menempelkan kartu risiko kesehatan ke papan cedera yang sesuai (15 menit).
  • Dalam permainan estafet tersebut, murid mengidentifikasi dan mengelompokkan 6 kartu pernyataan risiko kesehatan: Kartu 1 'Ligamen pergelangan kaki meregang berlebih atau robek' (acuan: Keseleo); Kartu 2 'Aliran darah dan oksigen ke otak berkurang sementara' (acuan: Pingsan); Kartu 3 'Pembengkakan sendi membesar dan nyeri saat menumpu' (acuan: Keseleo); Kartu 4 'Penurunan kesadaran mendadak yang memicu benturan sekunder' (acuan: Pingsan); Kartu 5 'Kerusakan jaringan lunak di sekitar persendian lutut/engkel' (acuan: Keseleo); Kartu 6 'Kelelahan panas dan kehilangan cairan tubuh ekstrem' (acuan: Pingsan) (15 menit).
  • Murid secara mandiri mengerjakan Lembar Identifikasi Mandiri berisi 4 skenario aktivitas fisik sekolah untuk mengidentifikasi risiko kesehatan yang terjadi: Skenario 1 (Kaki tertekuk saat mendarat lompat kangkang -> risiko: keseleo pergelangan kaki/robek ligamen); Skenario 2 (Upacara bendera terik matahari tanpa sarapan -> risiko: pingsan/gangguan pasokan oksigen otak); Skenario 3 (Tabrakan lutut terpelintir saat main kasti -> risiko: keseleo sendi lutut/bengkak dan nyeri gerak); Skenario 4 (Lari jarak menengah napas tersengal lalu pandangan gelap -> risiko: pingsan/penurunan kesadaran) (acuan: identifikasi tepat skenario 1-4) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid bersama guru memeriksa ketepatan pengelompokan risiko kesehatan pada papan cedera dan lembar kerja mandiri secara teliti (5 menit).
  • Murid menyimpulkan bahwa mengenali risiko kesehatan sejak dini penting agar tubuh tidak mengalami kerusakan fisik yang lebih parah saat beraktivitas jasmani (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik atas ketepatan murid dalam mengidentifikasi risiko kesehatan akibat cedera sedang pada aktivitas fisik (5 menit).
  • Guru memimpin pendinginan ringan dan doa penutup pembelajaran (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu skenario bergambar visual organ/tubuh yang terdampak, sedangkan murid yang lebih cepat diberikan skenario teks variatif tanpa petunjuk gambar.
  • Proses: Pada tugas mandiri, murid yang belum lancar mengidentifikasi dibantu dengan memilih opsi risiko dari daftar acuan, sedangkan murid mahir mengidentifikasi risiko kesehatan langsung secara mandiri.
  • Produk: Semua murid menghasilkan lembar identifikasi risiko kesehatan dari skenario yang diberikan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik: 'Apa risiko kesehatan yang terjadi jika pergelangan kaki yang terkilir/keseleo dipaksa terus berolahraga?' (acuan jawaban: pembengkakan semakin parah, robekan ligamen bertambah parah, nyeri hebat, sendi tidak stabil/sulit berjalan).

Proses:

  • Observasi ketepatan murid saat memasangkan 6 kartu risiko kesehatan pada papan jenis cedera sedang: (1) Ligamen terkilir/robek -> Keseleo; (2) Oksigen otak menurun -> Pingsan; (3) Pembengkakan sendi bertambah -> Keseleo; (4) Penurunan kesadaran mendadak -> Pingsan; (5) Kerusakan jaringan sendi lunak -> Keseleo; (6) Kelelahan panas ekstrem -> Pingsan.
  • Pemeriksaan lembar kerja mandiri 4 skenario aktivitas fisik: Skenario 1 (Keseleo engkel), Skenario 2 (Pingsan), Skenario 3 (Keseleo lutut), Skenario 4 (Pingsan).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan di akhir sesi: Murid menyebutkan masing-masing 1 risiko kesehatan utama dari cedera keseleo (acuan: robeknya ligamen/bengkak hebat pada sendi) dan cedera pingsan (acuan: penurunan kesadaran akibat kurang oksigen di otak/risiko benturan jatuh sekunder).

Formatif:

  • Penilaian kinerja dalam permainan Estafet Detektif Risiko Cedera (ketepatan memilah 6 kartu risiko kesehatan cedera sedang)
  • Pemeriksaan lembar kerja mandiri identifikasi risiko kesehatan pada 4 skenario aktivitas fisik sekolah

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengidentifikasi risiko kesehatan akibat cedera sedang di lingkungan sekolahMengidentifikasi dengan tepat kurang dari 2 dari 4 skenario risiko kesehatan cedera sedang pada aktivitas fisik sekolah sesuai acuan.Mengidentifikasi dengan tepat 2 dari 4 skenario risiko kesehatan cedera sedang pada aktivitas fisik sekolah sesuai acuan.Mengidentifikasi dengan tepat 3 dari 4 skenario risiko kesehatan cedera sedang pada aktivitas fisik sekolah sesuai acuan.Mengidentifikasi dengan tepat seluruh 4 skenario risiko kesehatan cedera sedang pada aktivitas fisik sekolah sesuai acuan secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas estafet kartu efektif membantu murid memahami perbedaan risiko kesehatan antara keseleo dan pingsan?
  • Bagaimana keterlibatan murid yang membutuhkan bimbingan saat mengidentifikasi skenario cedera pada aktivitas fisik?

Murid:

  • Risiko kesehatan apa yang paling berbahaya jika kita mengabaikan tanda-tanda pingsan atau keseleo saat berolahraga?
  • Bagian kegiatan mana yang paling membantuku memahami bahaya cedera sedang di sekolah?

Pertemuan 3 — Menghubungkan Risiko Cedera Sedang dengan Aktivitas Pencegahan saat Berolahraga — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.5.2 Menghubungkan risiko kesehatan akibat cedera sedang dengan aktivitas pencegahannya sesuai rekomendasi otoritas kesehatan

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memandu doa bersama, dan memeriksa kehadiran murid (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik dengan meminta murid menjawab secara lisan hubungan antara 2 tindakan pencegahan dan risiko cedera: (1) 'Pemanasan peregangan otot sebelum lari' (acuan: mencegah risiko cedera kram atau ketegangan otot); (2) 'Mengikat tali sepatu dengan kuat dan rapi' (acuan: mencegah risiko terkilir atau tersandung) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak penjelasan guru melalui bagan panduan otoritas kesehatan tentang hubungan sebab-akibat antara 4 risiko cedera sedang saat berolahraga dan tindakan pencegahannya: (1) Risiko cedera kram/tarikan otot dihubungkan dengan aktivitas pemanasan dinamis; (2) Risiko dehidrasi berat/pusing dihubungkan dengan hidrasi minum air putih teratur sebelum dan saat jeda; (3) Risiko pergelangan kaki terkilir (keseleo) dihubungkan dengan penggunaan sepatu olahraga bertali yang pas serta memeriksa kerataan lantai lapangan; (4) Risiko pusing/kelelahan ekstrem dihubungkan dengan pendinginan bertahap setelah olahraga intensitas tinggi (15 menit).
  • Murid secara mandiri mencocokkan kartu uji pemahaman yang berisi 4 pasangan risiko dan pencegahan tersebut untuk memastikan pemahaman logika hubungan pencegahan cedera (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid mengikuti permainan tantangan gerak 'Estafet Sambung Kartu Pencegahan': murid bergerak aktif mengambil kartu risiko cedera di seberang lintasan dan memasangkannya pada papan aktivitas pencegahan yang tepat untuk 4 skenario olahraga (30 menit).
  • Murid mengerjakan Lembar Kerja Mandiri 'Pahlawan Olahraga Aman' yang berisi 4 kasus risiko cedera saat berolahraga untuk dihubungkan ke tindakan pencegahan yang tepat: Kasus 1: Anton mengalami kram betis saat lari sprint tanpa pemanasan -> dihubungkan ke: Melakukan pemanasan dan peregangan dinamis minimal 5-10 menit; Kasus 2: Siti mengalami pusing dan lemas saat bermain basket di siang terik -> dihubungkan ke: Minum air putih secara berkala sebelum haus dan berteduh saat jeda; Kasus 3: Doni pergelangan kakinya terkilir karena memakai sandal licin saat bermain bola di lapangan rumput -> dihubungkan ke: Memakai sepatu olahraga berukuran pas dengan sol berpola anti-slip; Kasus 4: Riko mual dan pusing mendadak setelah langsung duduk diam usai lari keliling lapangan -> dihubungkan ke: Melakukan pendinginan jalan santai dan peregangan statis setelah berolahraga (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali hasil pemasangan pada lembar kerja secara mandiri berdasarkan kunci verifikasi dari otoritas kesehatan yang dibacakan guru untuk melihat ketepatan hubungan yang telah dibuat (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap ketepatan murid dalam menghubungkan 4 risiko cedera sedang dengan aktivitas pencegahannya (3 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan pentingnya memilih hidup yang menyehatkan melalui disiplin pencegahan cedera sebelum, saat, dan sesudah berolahraga (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang memerlukan bimbingan diberikan lembar kerja dengan petunjuk kata kunci bergambar (ikon sepatu, ikon botol air, ikon pemanasan, ikon pendinginan), sedangkan murid yang cepat diberikan 2 skenario olahraga tambahan (renang dan bulu tangkis).
  • Proses: Murid yang belum tepat menghubungkan dibimbing guru dengan pertanyaan alur sebab-akibat sederhana, sedangkan murid yang sudah mahir mengerjakan secara mandiri penuh.
  • Produk: Semua murid menghasilkan lembar kerja penjodohan hubungan risiko cedera dan aktivitas pencegahan yang terverifikasi.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan pada pendahuluan: Murid menghubungkan 2 tindakan pencegahan dengan risiko cedera: (1) Tindakan pemanasan peregangan otot sebelum lari dihubungkan ke pencegahan risiko cedera kram/ketegangan otot; (2) Tindakan mengikat tali sepatu olahraga dengan rapi dihubungkan ke pencegahan risiko terkilir/tersandung.

Proses:

  • Pemeriksaan ketepatan pengisian Lembar Kerja Mandiri 'Pahlawan Olahraga Aman' yang memuat 4 butir hubungan risiko cedera sedang dan pencegahannya: (1) Risiko kram betis -> Tindakan pemanasan peregangan dinamis; (2) Risiko lemas/dehidrasi -> Tindakan hidrasi berkala minum air putih; (3) Risiko pergelangan kaki terkilir -> Tindakan memakai sepatu olahraga bertali dan ber-sol anti-slip; (4) Risiko pusing usai olahraga intensitas tinggi -> Tindakan pendinginan jalan santai dan peregangan statis.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir lisan: Menyebutkan pasangan pencegahan yang tepat untuk risiko cedera kram otot (acuan: melakukan pemanasan) dan risiko cedera terkilir pergelangan kaki (acuan: menggunakan sepatu olahraga bertali yang pas).

Formatif:

  • Penilaian proses Lembar Kerja Mandiri 'Pahlawan Olahraga Aman' menghubungkan 4 risiko cedera sedang saat berolahraga dengan aktivitas pencegahannya sesuai rekomendasi otoritas kesehatan.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menghubungkan risiko kesehatan akibat cedera sedang dengan aktivitas pencegahannya saat berolahragaMenghubungkan 0 sampai 1 dari 4 risiko cedera sedang saat berolahraga dengan aktivitas pencegahannya secara tepat (daftar acuan: (1) kram betis - pemanasan dinamis; (2) lemas/dehidrasi - hidrasi berkala minum air; (3) pergelangan kaki terkilir - memakai sepatu olahraga pas ber-sol anti-slip; (4) pusing mendadak usai lari - pendinginan jalan santai).Menghubungkan tepat 2 dari 4 risiko cedera sedang saat berolahraga dengan aktivitas pencegahannya sesuai daftar acuan.Menghubungkan tepat 3 dari 4 risiko cedera sedang saat berolahraga dengan aktivitas pencegahannya sesuai daftar acuan.Menghubungkan seluruh 4 dari 4 risiko cedera sedang saat berolahraga dengan aktivitas pencegahannya secara tepat sesuai daftar acuan tanpa kekeliruan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas permainan gerak estafet kartu membantu murid mengonstruksi pemahaman hubungan risiko cedera dan pencegahannya secara aktif?
  • Bagian mana dari hubungan risiko cedera dan pencegahan yang paling sering keliru dipasangkan oleh murid?

Murid:

  • Apakah kamu sekarang sudah tahu apa yang harus dilakukan sebelum berolahraga agar kakimu tidak mudah terkilir atau kram?
  • Langkah pencegahan cedera mana yang paling sering kamu lupakan saat berolahraga di sekolah?

Pertemuan 4 — Menghubungkan Potensi Risiko Lingkungan Sekolah dengan Rekomendasi Pencegahan Cedera — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.5.2 Menghubungkan risiko kesehatan akibat cedera sedang dengan aktivitas pencegahannya sesuai rekomendasi otoritas kesehatan

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memandu doa bersama, memeriksa kehadiran murid, dan memastikan kesiapan fisik murid untuk belajar (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menghubungkan potensi risiko cedera di lingkungan sekolah dengan tindakan pencegahannya sesuai rekomendasi kesehatan (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat secara lisan dengan membacakan 2 situasi: (1) 'Lantai lorong depan kelas licin terkena tumpahan air minum' dan (2) 'Ada kerikil berserakan di lintasan lari lapangan'. Guru meminta murid menghubungkan risiko cedera dengan tindakan pencegahannya (acuan: situasi 1 berisiko terpeleset/keseleo pergelangan kaki dicegah dengan mengeringkan lantai atau memasang tanda licin dan berjalan tenang; situasi 2 berisiko tersandung/keseleo lutut dicegah dengan membersihkan kerikil sebelum beraktivitas) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak paparan dan lembar informasi dari guru mengenai hubungan antara potensi bahaya fisik di lingkungan sekolah (seperti lantai licin, lapangan berlubang, undakan tangga licin, serta penataan meja kursi yang sempit) dengan risiko cedera sedang (keseleo ligamen sendi, dislokasi ringan, dan terbentur memar/pingsan) serta prinsip rekomendasi pencegahan menurut otoritas kesehatan (pemeriksaan area sebelum aktivitas fisik, penataan ruang aman, dan pembatasan aktivitas berisiko) (15 menit).
  • Guru memandu murid menganalisis contoh kasus nyata di sekolah: 'Seorang murid berlari kencang menuruni tangga yang licin setelah hujan lalu tergelincir sehingga pergelangan kakinya membengkak (keseleo)'. Murid bersama guru membedah keterkaitan sebab-akibat antara bahaya lingkungan (tangga licin), risiko cedera (keseleo pergelangan kaki), dan tindakan pencegahan yang tepat (berjalan tertib berpegangan pada railing tangga serta memastikan tangga kering sebelum dilalui) (10 menit).

Mengaplikasi (Bermakna, Menggembirakan):

  • Guru membagi murid ke dalam kelompok kecil (4-5 murid) untuk melakukan aktivitas 'Safari Detektif Bahaya Lingkungan Sekolah', di mana tiap kelompok mengamati 4 pos simulasi potensi bahaya lingkungan yang disiapkan guru: Pos 1 (Lapangan olahraga bergelombang dan berlubang), Pos 2 (Lantai kamar mandi/lorong yang basah dan licin), Pos 3 (Anak tangga sekolah tanpa karet antiselip dan ada tas berserakan), dan Pos 4 (Area ruang kelas dengan sudut meja tajam dan tas menghalangi jalur evakuasi/jalan) (15 menit).
  • Dalam suasana yang menggembirakan melalui tantangan 'Misi Detektif Selamat', setiap kelompok berdiskusi dan mengisi Lembar Kerja Detektif Risiko untuk menghubungkan setiap pos bahaya dengan risiko cedera spesifik dan tindakan rekomendasi pencegahan (acuan LK: Pos 1 = risiko kaki terperosok hingga keseleo pergelangan kaki/lutut, pencegahan = memeriksa dan meratakan lubang atau memberi penanda bahaya sebelum olahraga; Pos 2 = risiko terpeleset hingga memar pinggul atau keseleo pergelangan kaki, pencegahan = mengeringkan lantai segera dan tidak berlari di lorong; Pos 3 = risiko tersandung lalu terkilir atau terbentur tangga hingga pingsan, pencegahan = merapikan tas ke loker dan berjalan tertib di tangga; Pos 4 = risiko terbentur sudut meja hingga luka memar/cedera sendi, pencegahan = menata lorong meja kelas tetap rapi dan bebas hambatan barang) (10 menit).
  • Perwakilan kelompok membacakan lembar hasil analisis penghubungan risiko dan tindakan pencegahan di depan kelas, sementara kelompok lain mencocokkan hasil analisisnya berdasarkan kunci acuan yang dipandu oleh guru (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid secara individu mengerjakan lembar cek pemahaman menghubungkan 4 kartu skenario risiko lingkungan sekolah dengan kartu rekomendasi pencegahannya (acuan: Skenario A [lapangan becek berlumpur] -> Rekomendasi 3 [memindahkan aktivitas lari ke area kering/lapangan indoor]; Skenario B [keramik tangga pecah dan tajam] -> Rekomendasi 1 [melaporkan ke pihak sekolah untuk perbaikan dan tidak melompat di tangga]; Skenario C [kabel proyektor melintang di lantai kelas] -> Rekomendasi 4 [menempelkan lakban pelindung kabel ke lantai agar tidak memicu tersandung]; Skenario D [sampah botol plastik berserakan di lapangan basket] -> Rekomendasi 2 [memungut sampah botol sebelum bermain agar sepatu tidak menginjak botol lalu tergelincir]) (10 menit).
  • Murid menyimpulkan bahwa mengenali risiko bahaya fisik di lingkungan sekitar merupakan langkah awal yang krusial untuk mencegah terjadinya cedera sedang saat beraktivitas jasmani di sekolah (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid melakukan ulasan singkat terhadap seluruh hasil analisis keterkaitan bahaya lingkungan dan rekomendasi pencegahan cedera (3 menit).
  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap ketepatan pasangan risiko dan pencegahan yang telah dikerjakan murid (4 menit).
  • Guru menginformasikan materi untuk pertemuan berikutnya (Pertemuan 5: Mempraktikkan Prosedur Rest dan Ice pada Penanganan Cedera Keseleo) dan menutup sesi dengan doa serta salam penutup (3 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan lembar kerja bergambar yang memuat pilihan kata kunci risiko dan pencegahan yang terarah, sedangkan murid yang mahir diberikan kartu skenario lingkungan dengan kondisi bahaya ganda.
  • Proses: Murid yang masih kesulitan menghubungkan dibimbing langsung oleh guru pada saat pengamatan pos simulasi, sedangkan kelompok yang mandiri langsung mendiskusikan 4 pos secara kolaboratif.
  • Produk: Murid yang memerlukan bantuan cukup mencocokkan garis hubung antara kartu bahaya dan kartu tindakan pencegahan; murid mahir menuliskan rumusan kalimat hubungan sebab-akibat secara mandiri.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik di awal pembelajaran tentang keterkaitan kondisi lingkungan dengan risiko cedera: (1) Situasi lorong sekolah licin terkena air; murid menghubungkan risiko (terpeleset, keseleo pergelangan kaki) dan pencegahan (mengeringkan lantai/berjalan hati-hati). (2) Situasi kerikil tajam di lintasan lari; murid menghubungkan risiko (tersandung, keseleo lutut/terbentur) dan pencegahan (membersihkan lintasan sebelum lari).

Proses:

  • Observasi formatif saat pengerjaan Lembar Kerja Detektif Risiko pada 4 pos: Pos 1 (lapangan berlubang), Pos 2 (lantai basah/licin), Pos 3 (anak tangga terhalang tas), Pos 4 (meja sudut tajam menghalangi jalan). Guru memeriksa ketepatan analisis hubungan bahaya, risiko cedera, dan pencegahannya sesuai acuan kunci LK.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman individu menghubungkan 4 kartu skenario lingkungan sekolah dengan rekomendasi pencegahan: (1) Skenario A (lapangan becek) terhubung dengan Rekomendasi 3 (pindahkan aktivitas ke area kering); (2) Skenario B (keramik tangga pecah) terhubung dengan Rekomendasi 1 (laporkan perbaikan dan gunakan sisi tangga aman); (3) Skenario C (kabel melintang di lantai kelas) terhubung dengan Rekomendasi 4 (rekatkan kabel dengan lakban pelindung); (4) Skenario D (botol plastik di lapangan basket) terhubung dengan Rekomendasi 2 (bersihkan botol sebelum bertanding).

Formatif:

  • Penilaian kinerja diskusi dan pengisian Lembar Kerja 'Safari Detektif Bahaya Lingkungan Sekolah'
  • Tes tertulis cek pemahaman menjodohkan 4 kartu skenario bahaya lingkungan dengan kartu rekomendasi pencegahan cedera

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menghubungkan potensi risiko lingkungan sekolah dengan rekomendasi pencegahan cedera sedangMenghubungkan dengan tepat 1 dari 4 pasangan skenario risiko lingkungan sekolah dan rekomendasi pencegahan cedera sesuai kunci acuan.Menghubungkan dengan tepat 2 dari 4 pasangan skenario risiko lingkungan sekolah dan rekomendasi pencegahan cedera sesuai kunci acuan.Menghubungkan dengan tepat 3 dari 4 pasangan skenario risiko lingkungan sekolah dan rekomendasi pencegahan cedera sesuai kunci acuan.Menghubungkan dengan tepat seluruh 4 dari 4 pasangan skenario risiko lingkungan sekolah dan rekomendasi pencegahan cedera secara mandiri sesuai kunci acuan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah aktivitas Safari Detektif Risiko di 4 pos lingkungan sekolah efektif memfasilitasi murid dalam menghubungkan bahaya lingkungan dengan rekomendasi pencegahannya?
  • Bagaimana keterlibatan aktif murid saat berdiskusi membedah kasus risiko cedera di lingkungan sekolah?

Murid:

  • Bahaya apa di lingkungan sekolah yang menurutmu paling sering memicu terjadinya cedera keseleo atau terbentur?
  • Tindakan pencegahan apa yang bisa kamu lakukan mulai hari ini agar dirimu dan teman-teman tidak mengalami cedera di kelas maupun lapangan?

Pertemuan 5 — Mempraktikkan Prosedur Rest dan Ice pada Penanganan Cedera Keseleo — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.5.3 Mempraktikkan penanganan cedera sedang berupa keseleo sesuai pemahaman tentang prinsip pertolongan pertama

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memimpin doa bersama, dan mengecek kehadiran murid (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu mempraktikkan dua langkah awal pertolongan pertama cedera keseleo berupa Rest (mengistirahatkan) dan Ice (mengompres dingin) (4 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik dengan menanyakan 2 pertanyaan pemantik terkait tindakan awal saat terkilir dan cara penggunaan es pada luka terkilir untuk memetakan kesiapan praktik murid (8 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak peragaan guru tentang prosedur Rest (membantu korban duduk/berbaring dengan tenang, melarang berdiri/berjalan, dan menyangga pergelangan kaki yang cedera) serta prosedur Ice (menyiapkan es batu yang dibungkus kain/handuk kecil lalu menempelkannya lembut di area pergelangan kaki yang terkilir tanpa ditekan keras) (10 menit).
  • Murid berpasangan mengamati dan mengidentifikasi 4 langkah kunci tindakan: (1) Menghentikan pergerakan kaki, (2) Memposisikan kaki nyaman tanpa beban, (3) Membungkus es dengan kain pelindung, dan (4) Menempelkan kompres es tepat pada sendi yang bengkak/nyeri (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid bermain peran dalam simulasi berpasangan 'Misi Tanggap Pahlawan Cilik': satu murid berperan sebagai atlet yang baru saja terkilir pergelangan kakinya, dan satu murid berperan sebagai penolong pertama (3 menit).
  • Murid penolong mempraktikkan prosedur Rest: segera meminta korban berhenti bergerak, memandu korban duduk berselonjor di matras dengan posisi kaki tertopang nyaman, dan memastikan tidak ada beban bertumpu pada pergelangan kaki (14 menit).
  • Murid penolong melanjutkan dengan prosedur Ice: mengambil kantong es/batu es terbungkus kain bersih, lalu menempelkan kompres es tersebut pada pergelangan kaki korban selama simulasi berlangsung dengan posisi yang tepat dan aman (15 menit).
  • Murid berganti peran secara bergantian sehingga setiap murid mempraktikkan langsung kedua prosedur (Rest dan Ice) dengan perlengkapan simulasi (matras, kain pembungkus, kantong kompres/ice pack imitasi) (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama pasangannya saling memeriksa ketepatan prosedur yang baru dilakukan dengan lembar cek berpasangan (apakah kaki langsung diistirahatkan dan apakah es dibungkus kain sebelum ditempelkan) (8 menit).
  • Perwakilan pasangan memperagakan ulang prosedur Rest dan Ice di hadapan kelas, kemudian guru memberikan umpan balik korektif terkait posisi penopangan sendi dan kehati-hatian dalam mengompres dingin (7 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan intisari langkah penanganan Rest dan Ice pada cedera keseleo sebagai pertolongan pertama yang tepat untuk mencegah pembengkakan bertambah parah (5 menit).
  • Guru menyampaikan rencana kegiatan pertemuan berikutnya yaitu melanjutkan jurus RICE pada tahap Compression dan Elevation, lalu menutup pembelajaran dengan doa dan salam (3 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan bergambar urutan langkah Rest dan Ice, sedangkan murid yang sudah mahir mempraktikkan skenario tanpa kartu panduan visual.
  • Proses: Pada tahap Mengaplikasi, murid yang ragu-ragu mempraktikkan di bawah bimbingan langsung guru langkah demi langkah, sedangkan murid yang mandiri mempraktikkan langsung bersama teman berpasangan secara mandiri.
  • Produk: Semua murid mendemonstrasikan unjuk kerja praktik yang sama, yaitu pelaksanaan prosedur Rest dan Ice pada kasus keseleo sendi kaki.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Diagnostik lisan di awal pembelajaran: (1) Apa tindakan awal saat teman terkilir? (acuan benar: segera menghentikan gerakan/mengistirahatkan kaki korban/Rest), (2) Bagaimana cara mengompres es yang aman pada bagian terkilir? (acuan benar: es dibungkus kain/handuk dan ditempelkan pada bagian yang terkilir, tidak ditempelkan langsung tanpa alas).

Proses:

  • Pengamatan unjuk kerja saat simulasi berpasangan terhadap 2 tindakan utama: (1) Prosedur Rest: memosisikan korban duduk santai dan menyangga sendi tanpa digerakkan; (2) Prosedur Ice: membungkus es dalam kain dan mengompres bagian sendi terkilir secara tepat.

Akhir Pertemuan:

  • Cek unjuk kerja ringkas di akhir sesi: Setiap murid memvalidasi bahwa mereka telah melakukan 4 tindakan kunci simulasi: (1) Menghentikan gerak korban, (2) Memposisikan sendi rileks, (3) Membungkus es dengan kain, (4) Menempelkan kompres pada area sendi yang terkilir.

Formatif:

  • Unjuk kerja praktik simulasi berpasangan (penanganan Rest dan Ice pada cedera keseleo)
  • Observasi lembar cek berpasangan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Praktik Prosedur Rest pada KeseleoBelum mampu mempraktikkan prosedur Rest (membiarkan korban tetap berdiri/berjalan dan kaki yang cedera belum diistirahatkan).Mempraktikkan prosedur Rest dengan bimbingan penuh guru (membantu korban duduk namun posisi kaki masih belum tertopang stabil).Mempraktikkan prosedur Rest secara tepat dan mandiri (meminta korban berhenti bergerak, memandu korban duduk/berbaring dengan menyangga kaki yang cedera tanpa beban tumpuan).Mempraktikkan prosedur Rest secara tepat, mandiri, dan cepat serta memastikan korban tenang dan sendi terfiksasi aman tanpa gerakan berulang.
Praktik Prosedur Ice pada KeseleoBelum mampu mempraktikkan prosedur Ice (menempelkan es langsung tanpa alas kain atau meletakkan kompres di luar area cedera).Mempraktikkan prosedur Ice dengan bimbingan (menggunakan es berlapis kain namun peletakan kompres masih bergeser dari area sendi).Mempraktikkan prosedur Ice secara tepat dan mandiri (membungkus es dengan kain pelindung dan menempelkan kompres tepat pada bagian sendi yang cedera).Mempraktikkan prosedur Ice secara tepat, mandiri, dan teliti (membalut es dengan kain rapi, meletakkan kompres tepat pada sendi yang terkilir, dan menjaga kestabilan posisi kompres selama tindakan pertolongan).

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah seluruh murid dapat mempraktikkan prosedur Rest dan Ice secara aman dan sesuai panduan pertolongan pertama?
  • Bagian prosedur mana yang paling sering keliru dilakukan murid saat simulasi berpasangan?

Murid:

  • Apakah aku sudah bisa menolong teman yang terkilir dengan cara mengistirahatkan kakinya secara benar?
  • Mengapa aku harus selalu membungkus es dengan kain sebelum mengompres bagian yang terkilir?

Pertemuan 6 — Mempraktikkan Prosedur Compression dan Elevation Lengkap pada Cedera Keseleo — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.5.3 Mempraktikkan penanganan cedera sedang berupa keseleo sesuai pemahaman tentang prinsip pertolongan pertama

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, doa bersama, dan memeriksa kesiapan fisik murid untuk praktik penanganan cedera (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu mempraktikkan prosedur Compression (balut tekan elastis) dan Elevation (menaikkan posisi) secara lengkap pada cedera terkilir/keseleo (5 menit).
  • Asesmen Awal: Guru menguji pemahaman awal murid dengan mengajukan 2 pertanyaan lisan: (1) 'Apa fungsi pembalutan elastis (compression)?' (acuan jawaban: menjaga kestabilan sendi dan membatasi pembengkakan); (2) 'Mengapa bagian cedera harus diangkat lebih tinggi dari jantung (elevation)?' (acuan jawaban: memperlancar aliran darah kembali ke jantung dan mengurangi bengkak) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mengamati demonstrasi guru tentang teknik Compression menggunakan perban elastis (membalut dari arah ujung jari/distal ke arah atas pergelangan dengan pola spiral tumpang-tindih separuh lebar perban, memastikan kerapian balutan, mengecek sirkulasi dengan menekan ujung kuku jari kaki agar tidak kebiruan/kesemutan) (10 menit).
  • Murid mengamati demonstrasi teknik Elevation, yaitu meletakkan tungkai/pergelangan kaki di atas tumpukan bantal atau ganjalan sehingga posisinya terbukti lebih tinggi dari letak jantung korban yang berbaring (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Tantangan Berpasangan 'Pahlawan Cilik Balut-Angkat': Murid secara berpasangan bergantian memerankan korban cedera keseleo pergelangan kaki dan penolong cilik (15 menit).
  • Murid mempraktikkan prosedur Compression secara berpasangan: memasang perban elastis pada pergelangan kaki pasangan mulai dari pangkal jari kaki, memutar menyilang melingkari sendi tumit/pergelangan dengan ketegangan sedang dan rapi, lalu mengunci ujung perban (15 menit).
  • Murid mempraktikkan prosedur Elevation: membaringkan pasangannya secara nyaman, lalu menopang dan mengangkat pergelangan kaki korban di atas ganjalan matras/bantal sehingga tingginya melampaui posisi dada/jantung (15 menit).
  • Murid menggabungkan kedua prosedur dalam satu simulasi utuh: membalut pergelangan kaki (compression) lalu segera menopangnya lebih tinggi dari jantung (elevation) sambil memeriksa ujung jari kaki korban untuk memastikan aliran darah tetap lancar (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama pasangannya saling memeriksa hasil balutan dan posisi elevasi, mengevaluasi apakah balutan terlalu ketat/kendur serta apakah tinggi kaki sudah tepat di atas dada (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik langsung terhadap keterampilan pembalutan dan penataan posisi elevasi yang telah dipraktikkan murid (3 menit).
  • Guru mengonfirmasi pemahaman murid mengenai kaitan antara kompresi yang pas dan elevasi yang benar terhadap pengurangan rasa nyeri dan bengkak (1 menit).
  • Guru menutup pertemuan dengan doa bersama dan mengingatkan murid untuk merapikan kembali perban elastis dan matras (1 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan perban elastis dengan berbagai ukuran lebar (lebar 7,5 cm dan 10 cm) serta gambar panduan alur balutan pola spiral/angka 8.
  • Proses: Bagi murid yang masih canggung membalut, guru memberikan bimbingan langsung langkah demi langkah; bagi murid yang sudah terampil, diberikan tantangan simulasi dengan waktu yang lebih terukur dan variasi posisi korban di matras.
  • Produk: Kualitas kerapian dan ketepatan tensi balutan elastis serta ketepatan sudut elevasi kaki korban pada saat simulasi berpasangan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik di awal pembelajaran tentang pemahaman fungsi compression dan elevation pada cedera keseleo: (1) Fungsi balut tekan elastis (acuan jawaban: menstabilkan sendi yang cedera dan membatasi pembengkakan); (2) Posisi elevation (acuan jawaban: posisi sendi/tungkai yang cedera diangkat lebih tinggi dari letak jantung korban).

Proses:

  • Observasi unjuk kerja saat murid mempraktikkan prosedur Compression dan Elevation secara berpasangan, dinilai berdasarkan 4 indikator operasional: (1) Memulai balutan dari bagian bawah/distal ke arah atas sendi pergelangan kaki; (2) Kerapian balutan dan ketegangan sedang (tidak terlalu longgar dan tidak menyebabkan jari kesemutan/kebiruan); (3) Mengunci/merapatkan ujung perban dengan aman; (4) Menopang kaki di atas bantal/ganjalan hingga posisinya lebih tinggi dari dada/jantung korban.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman praktis di akhir pembelajaran: Murid mendemonstrasikan cara memeriksa bahwa balutan kompresi tidak menghambat aliran darah (acuan: menekan ujung kuku/kulit jari kaki korban dan memastikan warna merah muda kembali dalam hitungan 2 detik, serta jari kaki tidak dingin/pucat).

Formatif:

  • Unjuk kerja praktik prosedur compression (pemasangan perban elastis) dan elevation (posisi tungkai lebih tinggi dari jantung) menggunakan lembar observasi.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Praktik Prosedur Compression pada Cedera KeseleoBelum mampu membebat perban elastis pada pergelangan kaki yang terkilir, balutan terlepas atau arah balutan salah total.Mampu membebat perban elastis pada pergelangan kaki, tetapi balutan masih terlalu longgar atau terlalu kencang, dan belum mengunci ujung perban dengan tepat.Mampu mempraktikkan pembalutan elastis (compression) dari arah bawah ke atas melingkupi sendi pergelangan kaki dengan ketegangan sedang dan rapi secara mandiri.Mampu mempraktikkan pembalutan elastis (compression) dengan sangat rapi, ketegangan presisi, mengunci dengan kuat, serta secara cermat melakukan pemeriksaan sirkulasi darah pada jari kaki korban.
Praktik Prosedur Elevation pada Cedera KeseleoBelum mampu mengatur posisi bagian cedera, kaki diletakkan mendatar atau lebih rendah dari tubuh korban.Mampu meletakkan ganjalan di bawah kaki yang cedera, namun posisi kaki masih sejajar atau belum melampaui ketinggian jantung korban.Mampu mempraktikkan prosedur elevation dengan menopang pergelangan kaki di atas bantal/ganjalan secara aman hingga posisinya lebih tinggi dari jantung korban.Mampu mempraktikkan prosedur elevation secara mandiri dan cepat dengan penopang yang stabil, memastikan seluruh tungkai tertopang nyaman lebih tinggi dari jantung tanpa menimbulkan nyeri tambahan pada sendi.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah murid mengalami kesulitan teknis dalam mengatur ketegangan perban elastis saat membalut sendi?
  • Bagaimana keterlibatan murid dalam simulasi berpasangan, apakah peran penolong dan korban berjalan tertib dan menyenangkan?

Murid:

  • Bagian mana yang paling menantang saat membalut kaki temanmu dengan perban elastis?
  • Bagaimana caramu memastikan bahwa kaki teman yang terkilir sudah terangkat lebih tinggi dari posisi jantungnya?

Pertemuan 7 — Mempraktikkan Langkah Awal Pemeriksaan dan Posisi Pertolongan Pertama pada Korban Pingsan — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.5.4 Mempraktikkan penanganan cedera sedang berupa pingsan sesuai pemahaman tentang prinsip pertolongan pertama

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan memastikan kesiapan fisik murid untuk mengikuti simulasi pertolongan pertama di aula/lapangan beralas matras (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik peragaan cepat kepada 3 murid sukarelawan untuk memperagakan cara memeriksa kesadaran teman yang terbaring (acuan tepat: menepuk pundak dengan lembut sambil memanggil nama, tidak mengguncang tubuh secara kasar) (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran hari ini, yaitu mempraktikkan langkah awal pemeriksaan kesadaran dan pengaturan posisi telentang dengan tungkai terangkat (shock position) pada korban pingsan (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak demonstrasi guru mengenai 3 langkah awal pemeriksaan dan pemosisian korban pingsan: (1) Cek respon/kesadaran dengan menepuk bahu dan memanggil nama; (2) Cek pernapasan dengan melihat naik-turunnya dada selama 5-10 detik; (3) Mengatur posisi telentang di tempat teduh/datar serta meninggikan tungkai kaki korban setinggi 20-30 cm menggunakan bantalan atau bangku pendek (15 menit).
  • Murid dalam kelompok kecil mengidentifikasi lembar panduan bergambar yang memuat 3 langkah baku tersebut untuk memastikan urutan tindakan aman tanpa memindahkan korban secara sembarangan (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Murid berpasangan memainkan peran 'Pahlawan Cilik dan Korban Pingsan' secara bergantian di atas matras, mempraktikkan langkah 1 (tepuk bahu dan cek respon suara) serta langkah 2 (amati kembang kempis dada untuk memastikan korban bernapas) (20 menit).
  • Murid melanjutkan simulasi dengan mempraktikkan langkah 3: melonggarkan pakaian ketat (kerah/dasi/ikat pinggang korban) dan mengangkat kedua tungkai korban setinggi 20-30 cm dengan meletakkan tumpukan matras/tas di bawah pergelangan kaki (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid saling memeriksa ketepatan praktik pasangannya menggunakan lembar ceklis peragaan berpasangan dan mendiskusikan kendala saat mengangkat tungkai atau memeriksa napas secara tenang tanpa panik (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap keterampilan murid dalam memeriksa kesadaran dan mengatur posisi tungkai korban pingsan dengan tepat (5 menit).
  • Guru memandu murid melakukan pendinginan otot, merapikan matras bersama-sama, dan menyampaikan bahwa pada pertemuan berikutnya akan dipelajari penanganan lanjutan serta prosedur pemanggilan bantuan medis (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan visual berisi urutan 3 foto langkah pemeriksaan dan pemosisian; murid yang mahir langsung mempraktikkan skenario simulasi tanpa melihat panduan visual.
  • Proses: Pada saat latihan pemosisian kaki, murid yang kesulitan mengangkat tungkai bekerja dalam kelompok bertiga (satu korban, dua penolong yang berbagi tugas menyangga dan memasang bantalan matras).
  • Produk: Seluruh murid mendemonstrasikan 3 keterampilan inti (cek respon, cek napas, dan posisikan kaki terangkat 20-30 cm) secara langsung di hadapan guru atau pengamatan rekan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tes peragaan diagnostik singkat: Guru meminta murid memperagakan cara awal memeriksa respon teman yang tergeletak tidak sadar. Kriteria acuan penerimaan: Murid menepuk kedua bahu/pundak dengan intensitas aman dan memanggil nama korban, tanpa mengguncang leher/kepala (acuan benar: tepuk bahu sambil panggil; acuan salah: menggoyang kepala korban secara kasar atau mendudukkan paksa).

Proses:

  • Lembar observasi unjuk kerja berpasangan selama simulasi dengan 3 indikator ketercapaian: (1) Melakukan cek kesadaran dengan menepuk bahu dan memanggil dengan suara jelas; (2) Memeriksa hembusan/pergerakan dada minimal 5 detik; (3) Memposisikan korban telentang dengan tungkai disangga lebih tinggi 20-30 cm dari lantai serta melonggarkan pakaian yang menjepit (acuan: terpenuhinya ketiga langkah secara berurutan dan aman).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman praktis di akhir sesi: Murid secara lisan atau peragaan kilat menjawab/menunjukkan 2 hal: (1) Berapa perkiraan ketinggian tungkai kaki yang harus diangkat saat menolong korban pingsan? (acuan tepat: 20-30 cm atau setinggi ganjalan 1-2 bantal/matras lipat); (2) Bagian tubuh mana yang ditepuk untuk mengecek kesadaran? (acuan tepat: bahu/pundak korban).

Formatif:

  • Observasi unjuk kerja simulasi langkah pemeriksaan respon dan pemosisian tungkai korban pingsan menggunakan lembar amatan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Pemeriksaan Awal Kesadaran dan Pernapasan Korban PingsanBelum mampu mempraktikkan pemeriksaan kesadaran dan pernapasan dengan benar (mengguncang tubuh dengan kasar atau tidak memeriksa gerakan dada).Mampu mempraktikkan pemeriksaan respon dengan menepuk bahu tetapi belum memeriksa gerakan napas dada korban secara tepat.Mampu mempraktikkan pemeriksaan respon (menepuk bahu dan memanggil) serta memeriksa pernapasan dada korban selama 5-10 detik secara tepat.Mampu mempraktikkan pemeriksaan respon dan pernapasan dada secara runtut, tenang, mandiri, serta memastikan lingkungan sekitar aman bagi korban.
Pengaturan Posisi Pertolongan Pertama (Shock Position)Belum mampu mengatur posisi korban pingsan (mendudukkan korban atau mengangkat kepala alih-alih tungkai kaki).Mampu membaringkan korban telentang tetapi posisi tungkai belum ditinggikan 20-30 cm di atas permukaan dada/kepala.Mampu membaringkan korban secara telentang di permukaan datar dan meninggikan tungkai kaki setinggi 20-30 cm dengan bantalan secara tepat.Mampu membaringkan korban, meninggikan tungkai 20-30 cm secara mantap, serta melonggarkan pakaian ketat korban (kerah/dasi/ikat pinggang) secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu praktik berpasangan cukup memberikan kesempatan bagi setiap murid untuk bergantian menjadi penolong dan korban?
  • Apakah murid dapat memposisikan tungkai kaki korban pada ketinggian yang tepat tanpa mencederai persendian korban?

Murid:

  • Langkah pemeriksaan mana yang menurutmu paling mudah dan paling menantang dilakukan saat menghadapi teman yang pingsan?
  • Bagaimana perasaanmu setelah berhasil mempraktikkan cara membaringkan dan menaikkan kaki teman yang pura-pura pingsan?

Pertemuan 8 — Mempraktikkan Rangkaian Penanganan Korban Pingsan dan Prosedur Pemanggilan Bantuan Medis — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.5.4 Mempraktikkan penanganan cedera sedang berupa pingsan sesuai pemahaman tentang prinsip pertolongan pertama

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kesiapan fisik murid, dan mengajak berdoa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ke-8, yaitu mempraktikkan rangkaian lengkap penanganan korban pingsan mulai dari pertolongan pertama dasar hingga prosedur pemanggilan bantuan medis (2 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal berupa uji lisan acak kepada murid terkait tanda kedaruratan pingsan yang membutuhkan bantuan medis dan 3 butir informasi darurat yang wajib dilaporkan (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak demonstrasi guru mengenai integrasi 4 langkah pertolongan pertama pingsan (membaringkan di tempat teduh, melonggarkan pakaian, elevasi tungkai kaki 20-30 cm, serta memantau pernapasan) dan prosedur pemanggilan bantuan medis jika korban tidak kunjung sadar setelah 1 menit (8 menit).
  • Murid mencermati panduan kartu informasi panggilan darurat medis yang memuat 3 elemen wajib: (1) Lokasi kejadian, (2) Kondisi korban/status kesadaran, dan (3) Tindakan awal yang telah dilakukan (7 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid dibagi berpasangan atau bertiga dalam 'Tantangan Simulasi Cepat Pahlawan Cilik': satu murid berperan sebagai korban pingsan, satu penolong utama, dan satu penghubung bantuan medis secara bergantian dengan antusias dan tertib (10 menit).
  • Murid mempraktikkan skenario simulasi: penolong melakukan tindakan awal penanganan pingsan (baringkan terlentang di tempat teduh, longgarkan pakaian/kancing kerah, tinggikan kaki 20-30 cm dengan ganjalan tas/matras), lalu ketika korban disimulasikan belum sadar lebih dari 1 menit, murid memeragakan pemanggilan bantuan medis dengan menyebutkan 3 data wajib kepada petugas (15 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama pasangannya saling memeriksa ketepatan gerakan fisik pertolongan dan kelengkapan informasi panggilan bantuan yang baru saja dipraktikkan menggunakan lembar cek berpasangan (8 menit).
  • Murid bersama guru merefleksikan pentingnya ketenangan, ketepatan posisi tubuh korban, dan keberanian mengambil keputusan memanggil bantuan medis demi keselamatan nyawa (7 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap keterampilan seluruh murid dalam mempraktikkan rangkaian penanganan pingsan dan pemanggilan bantuan (3 menit).
  • Guru menutup pertemuan dengan doa bersama dan mengingatkan murid untuk menjaga kesehatan diri menjelang pertemuan asesmen sumatif (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan kartu panduan visual berisi diagram alur tindakan penanganan pingsan dan kartu kata kunci panggilan darurat untuk kelompok yang membutuhkan panduan visual konkret.
  • Proses: Murid yang membutuhkan bimbingan berlatih mempraktikkan langkah penanganan dengan aba-aba langsung dari guru langkah demi langkah; murid yang mahir mempraktikkan simulasi skenario kasus dengan variasi kondisi korban (misalnya pingsan di terik matahari lapangan lalu segera dipindahkan dan ditangani secara mandiri).
  • Produk: Unjuk kerja praktik penanganan pingsan dan simulasi pelaporan bantuan medis dengan kriteria kompetensi yang seragam untuk seluruh murid.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan awal: (1) Sebutkan batas waktu korban pingsan yang belum sadar sehingga wajib segera dipanggilkan bantuan medis profesional/petugas UKS? (Acuan: pingsan lebih dari 1 menit / tidak sadar setelah 1 menit). (2) Sebutkan 3 informasi yang wajib dilaporkan saat meminta bantuan medis! (Acuan: lokasi kejadian, kondisi kesadaran/gejala korban, dan tindakan awal yang sudah diberikan).

Proses:

  • Observasi unjuk kerja saat simulasi: Mengamati ketepatan murid mempraktikkan 4 prosedur penanganan fisik pingsan (membaringkan di tempat aman/teduh, melonggarkan pakaian ketat, mengangkat kaki 20-30 cm, memeriksa jalan napas) dan 3 kelengkapan butir pelaporan bantuan medis (lokasi, kondisi, tindakan).

Akhir Pertemuan:

  • Umpan balik formatif dan cek verifikasi praktik di akhir simulasi: Memastikan setiap pasangan murid telah mendemonstrasikan rangkaian penanganan fisik posisi pingsan secara tepat dan menyebutkan 3 butir laporan medis darurat (Acuan laporan: 'Ada korban pingsan di lapangan basket dekat tiang bendera, belum sadar lebih dari 1 menit dan denyut lemah, posisi kaki sudah ditinggikan').

Formatif:

  • Penilaian unjuk kerja simulasi rangkaian penanganan pingsan dan prosedur pemanggilan bantuan medis
  • Ceklis observasi kinerja praktik berpasangan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Praktik Penanganan Cedera Pingsan dan Prosedur Pemanggilan Bantuan Medis (Acuan 4 prosedur fisik: baringkan di tempat teduh, longgarkan pakaian, tinggikan kaki 20-30 cm, pantau napas; Acuan 3 butir laporan medis: lokasi kejadian, kondisi korban, tindakan yang telah dilakukan)Mempraktikkan kurang dari 2 prosedur fisik penanganan pingsan secara tepat dan tidak menyampaikan butir laporan medis darurat secara tepat.Mempraktikkan 2-3 prosedur fisik penanganan pingsan secara tepat dan menyampaikan minimal 1 butir laporan medis darurat dengan benar sesuai acuan.Mempraktikkan seluruh 4 prosedur fisik penanganan pingsan secara tepat dan menyampaikan minimal 2 dari 3 butir laporan medis darurat dengan benar sesuai acuan.Mempraktikkan seluruh 4 prosedur fisik penanganan pingsan secara runtut dan mandiri, serta menyampaikan seluruh 3 butir laporan medis darurat secara lengkap dan tepat sesuai acuan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu simulasi berpasangan cukup memberikan kesempatan bagi semua murid untuk mempraktikkan peran penolong dan pelapor darurat?
  • Bagian prosedur mana yang masih sering keliru atau terlewat oleh murid saat menangani korban pingsan?

Murid:

  • Bagian mana dari tindakan menolong korban pingsan yang paling menantang bagimu?
  • Apakah kamu merasa tenang dan siap menolong jika melihat seseorang pingsan di sekitarmu?

Pertemuan 9 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.5.1 Mengidentifikasi risiko kesehatan akibat cedera sedang di lingkungan sekolah
  • TP 6.5.2 Menghubungkan risiko kesehatan akibat cedera sedang dengan aktivitas pencegahannya sesuai rekomendasi otoritas kesehatan
  • TP 6.5.3 Mempraktikkan penanganan cedera sedang berupa keseleo sesuai pemahaman tentang prinsip pertolongan pertama
  • TP 6.5.4 Mempraktikkan penanganan cedera sedang berupa pingsan sesuai pemahaman tentang prinsip pertolongan pertama

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan memimpin doa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pertemuan ke-9 sebagai sesi asesmen sumatif bab yang mencakup tes tertulis penugasan analisis risiko cedera serta unjuk kerja simulasi pertolongan pertama berpasangan (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru membagikan Lembar Kerja Asesmen Tertulis dan menjelaskan petunjuk pengerjaan Bagian A (identifikasi risiko kesehatan cedera sedang) serta Bagian B (pemetaan hubungan risiko dengan tindakan pencegahan) yang dikerjakan secara serentak (5 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Seluruh murid mengerjakan Lembar Kerja Asesmen Tertulis secara serentak dan mandiri selama 30 menit. Lembar kerja memuat 4 butir soal: Butir 1 mengidentifikasi 2 risiko kesehatan akibat cedera terkilir pergelangan kaki (acuan: pembengkakan/kerusakan ligamen sendi dan penurunan mobilitas berjalan); Butir 2 mengidentifikasi 2 risiko kesehatan akibat pingsan saat upacara (acuan: penurunan kesadaran sementara akibat suplai oksigen ke otak berkurang dan bahaya trauma kepala akibat benturan saat jatuh); Butir 3 menghubungkan 2 risiko cedera olahraga dengan aktivitas pencegahan (acuan: risiko otot robek dicegah dengan pemanasan/peregangan dinamis sebelum berlari; risiko dehidrasi/kelelahan ekstrem dicegah dengan istirahat teratur dan mencukupi asupan cairan); Butir 4 menghubungkan 2 potensi risiko lingkungan sekolah dengan pencegahan (acuan: lantai koridor licin dicegah dengan memasang tanda peringatan/segera mengepel kering; lapangan berlubang dicegah dengan meratakan permukaan tanah dan memakai sepatu bertali kencang) (30 menit).
  • Guru mengumpulkan lembar kerja, lalu membagi murid ke dalam 14 pasangan (28 murid) dan menyiapkan pos simulasi berpasangan (5 menit).
  • Pelaksanaan simulasi pertolongan pertama berpasangan dinilai langsung oleh guru secara bergantian (14 pasang x 4 menit = 56 menit, murid yang menunggu giliran duduk tenang di area pengamatan). Skenario 1: Praktik penanganan keseleo pergelangan kaki dengan prosedur RICE lengkap (Rest: mengistirahatkan korban dan mendudukkannya; Ice: mengompres dingin dengan handuk berbalut es selama 10-15 menit; Compression: membalut pergelangan kaki dengan perban elastis/mitela secara rapi tidak terlalu ketat; Elevation: menopang pergelangan kaki lebih tinggi dari jantung). Skenario 2: Praktik penanganan korban pingsan (memeriksa respons dan jalan napas, membaringkan korban di tempat teduh dengan kaki ditinggikan 20-30 cm, melonggarkan kerah/pakaian ketat, serta melakukan simulasi pemanggilan bantuan medis/guru UKS bila korban belum sadar) (51 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Guru memfasilitasi murid mengevaluasi jalannya asesmen, kedisiplinan diri, dan keberhasilan penerapan prinsip keselamatan selama simulasi (3 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan umum mengenai pentingnya peran murid sebagai Pahlawan Cilik yang tanggap risiko dan tepat prosedur dalam memberikan pertolongan pertama (2 menit).
  • Guru menyampaikan apresiasi atas ketertiban seluruh murid selama asesmen, menutup pembelajaran Bab 5, dan mengakhiri sesi dengan doa penutup (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Akomodasi akses: teks soal pada lembar kerja dicetak dengan huruf jelas berukuran memadai; bagi murid yang memerlukan dukungan baca disiapkan pembacaan petunjuk tugas secara netral tanpa mengubah konten soal.
  • Proses: Akomodasi akses waktu: pasangan dengan hambatan gerak ringan dipersilakan melakukan simulasi di dekat matras berposisi rendah dengan instruksi bantuan fisik tanpa mengurangi prosedur RICE dan pingsan yang dinilai.
  • Produk: Akomodasi penyampaian: murid dengan kendala menulis cepat diizinkan menuliskan poin jawaban berupa frasa ringkas pada lembar kerja selama inti konsep risiko dan pencegahan terpenuhi.

Asesmen Pertemuan:

Sumatif Bab:

  • kombinasi tes tertulis penugasan dan unjuk kerja simulasi berpasangan: lembar kerja analisis risiko serta pencegahan cedera sedang dan peragaan simulasi pertolongan pertama pada cedera terkilir serta pingsan sesuai prosedur
  • tes tertulis dan penugasan serentak: lembar kerja berisi identifikasi risiko kesehatan akibat cedera sedang di sekolah serta tabel pemetaan langkah pencegahan keselamatan yang dikerjakan serentak oleh seluruh murid (35 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian tertulis dan kunci jawaban)
  • unjuk kerja simulasi berpasangan: praktik simulasi tindakan pertolongan pertama terkilir/keseleo (metode RICE) dan pertolongan korban pingsan serta pemanggilan bantuan secara berpasangan bergantian dinilai guru (14 pasang x 5 menit = 70 menit, muat 28 murid satu kelas) (70 menit; kelompok; instrumen: lembar observasi dan rubrik unjuk kerja pertolongan pertama)

Sumatif:

  • kombinasi tes tertulis penugasan dan unjuk kerja simulasi berpasangan: lembar kerja analisis risiko serta pencegahan cedera sedang dan peragaan simulasi pertolongan pertama pada cedera terkilir serta pingsan sesuai prosedur
  • tes tertulis dan penugasan serentak: lembar kerja berisi identifikasi risiko kesehatan akibat cedera sedang di sekolah serta tabel pemetaan langkah pencegahan keselamatan yang dikerjakan serentak oleh seluruh murid (35 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian tertulis dan kunci jawaban)
  • unjuk kerja simulasi berpasangan: praktik simulasi tindakan pertolongan pertama terkilir/keseleo (metode RICE) dan pertolongan korban pingsan serta pemanggilan bantuan secara berpasangan bergantian dinilai guru (14 pasang x 5 menit = 70 menit, muat 28 murid satu kelas) (70 menit; kelompok; instrumen: lembar observasi dan rubrik unjuk kerja pertolongan pertama)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Identifikasi risiko kesehatan akibat cedera sedang (TP 6.5.1)Mengidentifikasi 1 risiko kesehatan atau belum tepat mengidentifikasi risiko pada cedera terkilir dan pingsan dari 4 target acuan yang ditentukan.Mengidentifikasi dengan tepat 2 dari 4 risiko kesehatan (daftar acuan: pembengkakan sendi akibat terkilir, penurunan fungsi mobilitas kaki, berkurangnya suplai oksigen ke otak saat pingsan, bahaya benturan kepala saat terjatuh).Mengidentifikasi dengan tepat 3 dari 4 risiko kesehatan sesuai daftar acuan.Mengidentifikasi dengan tepat seluruh 4 risiko kesehatan sesuai daftar acuan secara lengkap dan mandiri.
Menghubungkan risiko cedera dengan pencegahan (TP 6.5.2)Menghubungkan 1 atau belum mampu menghubungkan pasangan risiko cedera dengan tindakan pencegahannya secara tepat dari 4 pasangan acuan.Menghubungkan dengan tepat 2 dari 4 pasangan risiko dan pencegahan (daftar pasangan acuan: 1. Robekan otot berolahraga - pemanasan dinamis; 2. Dehidrasi olahraga - istirahat dan hidrasi cairan; 3. Terpeleset lantai licin sekolah - pengeringan lantai dan tanda basah; 4. Tersandung lapangan berlubang - perataan permukaan tanah dan sepatu bertali kencang).Menghubungkan dengan tepat 3 dari 4 pasangan risiko dan tindakan pencegahan sesuai daftar pasangan acuan.Menghubungkan dengan tepat seluruh 4 pasangan risiko dan tindakan pencegahan sesuai daftar pasangan acuan secara tepat dan mandiri.
Praktik penanganan cedera keseleo (TP 6.5.3)Mempraktikkan hanya 1 prosedur RICE atau melakukan peragaan dengan urutan keliru dan membutuhkan bantuan penuh guru.Mempraktikkan dengan tepat 2 dari 4 langkah RICE (daftar acuan: Rest - istirahatkan posisi kaki; Ice - kompres dingin terbungkus kain 10-15 menit; Compression - balut perban elastis rapi tidak menjepit peredaran darah; Elevation - topang pergelangan kaki lebih tinggi dari dada).Mempraktikkan dengan tepat 3 dari 4 langkah RICE sesuai daftar acuan.Mempraktikkan dengan tepat seluruh 4 langkah prosedur RICE sesuai daftar acuan secara runtut dan mandiri.
Praktik penanganan korban pingsan (TP 6.5.4)Mempraktikkan 1 langkah atau tindakan belum sesuai prinsip keselamatan pertolongan pertama.Mempraktikkan dengan tepat 2 dari 4 langkah penanganan pingsan (daftar acuan: 1. Memeriksa respons kesadaran dan kelancaran napas; 2. Membaringkan di tempat aman/teduh dengan posisi kaki terangkat 20-30 cm; 3. Melonggarkan pakaian ketat/kerah korban; 4. Memperagakan prosedur pemanggilan bantuan guru/medis UKS bila belum sadar).Mempraktikkan dengan tepat 3 dari 4 langkah penanganan pingsan sesuai daftar acuan.Mempraktikkan dengan tepat seluruh 4 langkah penanganan pingsan sesuai daftar acuan secara runtut, tenang, dan mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 35 menit tes tertulis dan 70 menit simulasi berpasangan cukup memfasilitasi seluruh murid menunjukkan kompetensi terbaiknya?
  • Bagian prosedur pertolongan pertama mana yang masih paling sering terlewat oleh murid saat unjuk kerja simulasi?

Murid:

  • Bagian penanganan cedera mana yang paling saya kuasai dan dapat saya lakukan dengan percaya diri saat menolong teman?
  • Langkah apa yang perlu saya ingat kembali agar tidak panik ketika menghadapi situasi darurat di sekolah?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru PJOK Kelas VI SD/MI, Kemendikdasmen RI 2025, Bab 5: Pahlawan Cilik: Siap Menolong dan Jaga Diri.
  2. Buku Siswa PJOK Kelas VI SD/MI, Kemendikdasmen RI 2025, Bab 5.
  3. Kartu Skenario dan Gambar Cedera Sedang (Keseleo dan Pingsan), Papan Matriks Detektif Cedera, Peluit.
  4. Buku Panduan Guru PJOK Kelas VI SD/MI, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah 2025 (Bab 5: Pahlawan Cilik: Siap Menolong dan Jaga Diri)
  5. Buku Siswa PJOK Kelas VI SD/MI, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah 2025
  6. Set kartu kasus risiko kesehatan (6 kartu) dan papan jenis cedera (Keseleo dan Pingsan)
  7. Lembar Identifikasi Mandiri (4 skenario aktivitas fisik sekolah)
  8. Buku Panduan Guru PJOK SD Kelas VI, Kemendikdasmen 2025, Bab 5: Pahlawan Cilik: Siap Menolong dan Jaga Diri.
  9. Buku Siswa PJOK SD Kelas VI, Kemendikdasmen 2025, Subbab B: Jaga Diri, Jaga Teman: Keselamatan Nomor Satu.
  10. Kartu gambar skenario risiko cedera olahraga dan kartu aktivitas pencegahan rekomendasi otoritas kesehatan.
  11. Buku Panduan Guru PJOK Kelas VI SD/MI, Kemendikbudristek 2022 (Bab V: Pahlawan Cilik: Siap Menolong dan Jaga Diri)
  12. Buku Siswa PJOK Kelas VI SD/MI, Kemendikbudristek 2022
  13. Set kartu simulasi risiko lingkungan sekolah dan kartu rekomendasi pencegahan cedera
  14. Lembar Kerja Detektif Risiko Sekolah
  15. Buku Panduan Guru PJOK SD/MI Kelas VI (Kemendikdasmen 2025, Bab 5)
  16. Buku Siswa PJOK SD/MI Kelas VI (Kemendikdasmen 2025, Bab 5)
  17. Matras senam, kain/handuk bersih, dan kantong kompres dingin/ice pack imitasi
  18. Buku Panduan Guru PJOK Kelas VI SD/MI, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, 2025 (Bab 5).
  19. Buku Siswa PJOK Kelas VI SD/MI, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, 2025 (Bab 5).
  20. Perban elastis (elastic bandage/crepe bandage), peniti/klip pengait, bantal/ganjalan kaki, matras senam.
  21. Buku Panduan Guru PJOK SD/MI Kelas VI (Kemendikdasmen 2025), Bab 5
  22. Buku Siswa PJOK Kelas VI (Kemendikdasmen 2025), Bab 5 'Pahlawan Cilik: Siap Menolong dan Jaga Diri'
  23. Matras senam/olahraga sekolah dan bantalan penyangga tungkai kaki
  24. Buku Panduan Guru PJOK SD/MI Kelas VI Kemendikdasmen 2025 Bab V
  25. Buku Siswa PJOK SD/MI Kelas VI Bab V 'Pahlawan Cilik: Siap Menolong dan Jaga Diri'
  26. Matras olahraga/tikar, pengganjal kaki (tas/bantal kecil), dan kartu skenario situasi darurat
  27. Buku Panduan Guru PJOK Kelas VI Kemendikdasmen 2025 Bab V
  28. Buku Siswa PJOK Kelas VI Kemendikdasmen 2025 Bab V
  29. Lembar Kerja Asesmen Sumatif Tertulis Analisis Risiko dan Pencegahan
  30. Kit Pertolongan Pertama (perban elastis/mitela, kantong kompres es sintetis, matras/tikar tidur UKS)

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.