Modul AjarBab 4Fase CSemester 2

Modul Ajar PJOK Kelas 6 Bab 4: Makanan Sehat Bahan Bakar untuk Bergerak

Modul Ajar ini memuat seluruh rangkaian PJOK kelas 6 untuk Bab 4 "Makanan Sehat Bahan Bakar untuk Bergerak", lengkap per pertemuan dalam satu dokumen.

MEJAGURU.ID - DOKUMEN MODUL AJAR

Modul Ajar PJOK Kelas 6 Bab 4: Makanan Sehat Bahan Bakar untuk Bergerak

PJOK - Kelas 6

Bab 4

MODUL AJAR

PJOK — Kelas 6 (Fase C)

Topik: Bab 4 — Makanan Sehat Bahan Bakar untuk Bergerak

INFORMASI UMUM

Mata PelajaranPJOK
Fase / KelasFase C / Kelas 6
TopikBab 4 — Makanan Sehat Bahan Bakar untuk Bergerak
Alokasi Waktu23 JP (23 x 35 menit = 805 menit)
Jumlah Pertemuan8
Tahun Ajaran2026/2027
Semester2

TUJUAN PEMBELAJARAN

  1. TP 6.4.1 Mengidentifikasi keterkaitan antara gaya hidup dan risiko kesehatan sesuai rekomendasi otoritas kesehatan
  2. TP 6.4.2 Menghubungkan gaya hidup dengan aktivitas pencegahan risiko kesehatan sesuai rekomendasi otoritas kesehatan
  3. TP 6.4.3 Menjelaskan kandungan gizi pada makanan berdasarkan informasi nilai gizi
  4. TP 6.4.4 Menjelaskan pola makan sehat untuk menunjang aktivitas jasmani berdasarkan informasi kandungan gizi pada makanan

PROFIL LULUSAN

DimensiDisasar
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
Kewargaan
Penalaran Kritis✓
Kreativitas
Kolaborasi✓
Kemandirian✓
Kesehatan✓
Komunikasi

PERTANYAAN PEMANTIK

  1. Apa yang membedakan kebiasaan anak yang aktif bergerak dengan anak yang banyak duduk atau sedenter?
  2. Mengapa otoritas kesehatan menganjurkan anak usia sekolah beraktivitas fisik minimal 60 menit sehari?
  3. Apa risiko yang bisa terjadi pada tubuh kita jika terbiasa menghabiskan waktu berjam-jam tanpa bergerak?
  4. Apa yang terjadi pada tubuh kita jika setiap hari kita hanya duduk berjam-jam tanpa melakukan aktivitas gerak?
  5. Pernahkah kamu mendengar penyakit seperti obesitas atau diabetes? Menurutmu, apakah penyakit tersebut bisa muncul akibat kebiasaan malas bergerak?
  6. Mengapa tubuh kita membutuhkan aktivitas jasmani rutin setiap hari dan bukan hanya saat pelajaran olahraga?
  7. Bagaimana aktivitas fisik sedang hingga berat selama 60 menit per hari dapat melindungi diri kita dari risiko penyakit di masa depan?
  8. Mengapa tubuh kita mudah terserang flu atau lesu jika sering begadang?
  9. Bagaimana kebiasaan mencuci tangan dengan sabun dapat mencegah infeksi saluran pencernaan?
  10. Pernahkah kalian membaca tabel kecil bertuliskan 'Informasi Nilai Gizi' di belakang bungkus makanan ringan atau susu favorit kalian?
  11. Mengapa tubuh kita memerlukan zat gizi makro (karbohidrat, protein, lemak) dalam jumlah banyak, sementara vitamin dan mineral hanya dibutuhkan sedikit?
  12. Ketika kalian membaca label makanan kemasan, apa arti tulisan 'takaran saji' dan 'jumlah sajian per kemasan' bagi jumlah gula yang kalian makan?
  13. Mengapa kita perlu mencermati kandungan gula, garam (natrium), dan lemak pada label informasi nilai gizi sebelum memilih camilan?
  14. Mengapa atlet lari maraton membutuhkan sarapan yang kaya karbohidrat sebelum berlari, sedangkan atlet angkat beban lebih membutuhkan protein?
  15. Apa yang terjadi pada tubuh kita saat berolahraga berat jika sebelumnya hanya mengonsumsi makanan manis tanpa zat gizi seimbang?
  16. Bagaimana pilihan kebiasaan harian kita dapat mempengaruhi risiko kesehatan di masa depan?
  17. Bagaimana cara memanfaatkan informasi nilai gizi pada kemasan untuk menyusun menu makanan yang menunjang aktivitas fisik kita?

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pertemuan 1 — Mengidentifikasi Pola Gaya Hidup Sehat dan Sedenter Berdasarkan Rekomendasi Otoritas Kesehatan — 2 JP (2 x 35 menit = 70 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.4.1 Mengidentifikasi keterkaitan antara gaya hidup dan risiko kesehatan sesuai rekomendasi otoritas kesehatan

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kesiapan fisik serta kehadiran murid, dan memandu doa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu mengidentifikasi pola gaya hidup sehat dan sedenter serta keterkaitannya dengan risiko kesehatan berdasarkan rekomendasi otoritas kesehatan (Kemenkes/WHO) (3 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal singkat melalui kuis lisan cepat tentang 2 contoh kebiasaan bergerak aktif dan 2 kebiasaan sedenter (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak paparan dan infografis rekomendasi otoritas kesehatan (Kemenkes/WHO) mengenai aktivitas fisik minimal 60 menit per hari untuk anak usia sekolah serta pembatasan perilaku sedenter (kurang gerak/screen time) maksimal 2 jam di luar waktu belajar (10 menit).
  • Murid mengidentifikasi ciri-ciri kebiasaan aktif (seperti jalan cepat, bersepeda, bermain lompat tali) dan kebiasaan sedenter (seperti duduk menonton TV berjam-jam, rebahan bermain gawai tanpa jeda, duduk terus-menerus lebih dari 2 jam) beserta potensi risiko kesehatannya (misalnya obesitas, penurunan kebugaran, nyeri punggung) (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid memainkan permainan tantangan gerak 'Zona Aktif vs Zona Sedenter': guru membacakan 4 kartu skenario kebiasaan harian, dan murid bergerak melompat ke sisi kanan (Zona Aktif Sehat) atau sisi kiri (Zona Sedenter Berisiko) sesuai analisis kebiasaan tersebut. Skenario 1: 'Bermain lempar tangkap bola di halaman selama 30 menit sepulang sekolah' (kunci: Aktif Sehat); Skenario 2: 'Duduk bermain game di ponsel selama 3 jam tanpa beranjak' (kunci: Sedenter Berisiko); Skenario 3: 'Berjalan kaki santai bersama teman menuju sekolah sejauh 500 meter' (kunci: Aktif Sehat); Skenario 4: 'Menonton serial televisi sambil rebahan dari siang hingga sore hari' (kunci: Sedenter Berisiko) (12 menit).
  • Secara mandiri, murid mengerjakan Lembar Detektif Gaya Hidup untuk mengelompokkan 4 kartu aktivitas berikut ke dalam kolom 'Gaya Hidup Aktif' atau 'Gaya Hidup Sedenter' serta menandai 1 risiko kesehatan yang relevan untuk pola sedenter: Kartu A: 'Bersepeda keliling taman selama 45 menit'; Kartu B: 'Menonton video gawai sambil tiduran selama 4 jam'; Kartu C: 'Membantu menyapu dan mengepel lantai rumah'; Kartu D: 'Duduk diam berjam-jam bermain komputer'. Kunci pengelompokan: Kartu A dan C = Gaya Hidup Aktif; Kartu B dan D = Gaya Hidup Sedenter; Kunci risiko pola sedenter: memicu penumpukan kalori/kegemukan (obesitas) dan tubuh mudah lelah (13 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid memeriksa kembali hasil pengelompokannya dan mengidentifikasi kebiasaan harian diri sendiri apakah sudah mendekati anjuran aktif 60 menit atau masih didominasi perilaku sedenter (10 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan pola gaya hidup sehat sesuai anjuran otoritas kesehatan yaitu aktif bergerak minimal 60 menit sehari dan membatasi perilaku sedenter agar terhindar dari risiko gangguan kesehatan (3 menit).
  • Guru memberikan asesmen akhir berupa 2 pertanyaan cek pemahaman singkat dan menutup kegiatan pembelajaran dengan doa (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu aktivitas bergambar konkret yang memperjelas aktivitas gerak vs diam; murid yang lebih cepat diberikan kartu aktivitas kombinasi situasi sehari-hari.
  • Proses: Murid yang mengalami kesulitan mengidentifikasi risiko dibimbing dengan pertanyaan penuntun ('Apa yang dirasakan tubuh jika 3 jam tidak berpindah posisi?'); murid yang mandiri langsung menganalisis secara independen.
  • Produk: Murid dapat menunjukkan hasil identifikasi melalui penempelan kartu berkode warna hijau (aktif) dan merah (sedenter) atau penulisan langsung pada lembar kerja.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab lisan diagnostik kesiapan: Guru meminta murid menyebutkan masing-masing 1 contoh perilaku aktif dan 1 contoh perilaku kurang gerak/sedenter. Kriteria ketercapaian: murid tepat menyebutkan aktivitas fisik bergerak (misal: lari, main bola, naik sepeda, jalan cepat) dan aktivitas kurang gerak/diam (misal: tiduran main ponsel, duduk menonton TV berjam-jam, duduk bermain game).

Proses:

  • Pemeriksaan Lembar Detektif Gaya Hidup: Ketepatan mengelompokkan 4 kartu aktivitas: Kartu A ('Bersepeda keliling taman selama 45 menit') -> Aktif; Kartu B ('Menonton video gawai sambil tiduran selama 4 jam') -> Sedenter; Kartu C ('Membantu menyapu dan mengepel lantai rumah') -> Aktif; Kartu D ('Duduk diam berjam-jam bermain komputer') -> Sedenter. Ketepatan mengidentifikasi risiko kesehatan pola sedenter: menyebutkan minimal 1 risiko yang tepat (obesitas/kegemukan, tubuh kaku/lemas, penurunan kebugaran jantung-paru).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman tertulis singkat (2 butir soal): Butir 1: 'Berapa durasi minimal aktivitas fisik harian yang direkomendasikan otoritas kesehatan untuk anak usia sekolah?' (Kunci: minimal 60 menit per hari); Butir 2: 'Sebutkan 1 risiko kesehatan jika seseorang terbiasa bergaya hidup sedenter/kurang gerak!' (Kunci: obesitas/kegemukan berlebih, penurunan kebugaran tubuh, atau nyeri otot/sendi akibat terlalu lama duduk).

Formatif:

  • Observasi ketepatan reaksi gerak pada permainan 'Zona Aktif vs Zona Sedenter'
  • Penilaian kinerja Lembar Detektif Gaya Hidup (pengelompokan 4 kartu aktivitas dan identifikasi risiko kesehatan)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Identifikasi Pola Gaya Hidup Sehat dan SedenterMengelompokkan 1 dari 4 kartu aktivitas dengan tepat sesuai kategori aktif atau sedenter.Mengelompokkan 2 dari 4 kartu aktivitas dengan tepat sesuai kategori aktif atau sedenter.Mengelompokkan 3 dari 4 kartu aktivitas dengan tepat sesuai kategori aktif atau sedenter.Mengelompokkan seluruh 4 kartu aktivitas (A: Aktif, B: Sedenter, C: Aktif, D: Sedenter) dengan tepat secara mandiri.
Keterkaitan Gaya Hidup Sedenter dengan Risiko KesehatanBelum mampu mengidentifikasi risiko kesehatan yang timbul dari gaya hidup sedenter.Mengidentifikasi risiko kesehatan akibat gaya hidup sedenter tetapi kurang tepat atau membutuhkan bimbingan penuh guru.Mengidentifikasi 1 risiko kesehatan akibat gaya hidup sedenter (misal: obesitas atau kebugaran menurun) dengan tepat sesuai rekomendasi otoritas kesehatan.Mengidentifikasi lebih dari 1 risiko kesehatan akibat gaya hidup sedenter (misal: obesitas dan menurunnya kebugaran/daya tahan tubuh) dengan tepat secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah murid dapat membedakan dengan jelas batasan antara aktivitas aktif dan perilaku sedenter sesuai panduan otoritas kesehatan?
  • Bagaimana keterlibatan murid dalam permainan 'Zona Aktif vs Zona Sedenter' dalam memperkuat pemahaman risiko kurang gerak?

Murid:

  • Apakah waktu bergerak aktifku setiap hari sudah mencapai minimal 60 menit seperti yang dianjurkan?
  • Kebiasaan sedenter apa yang paling sering aku lakukan dan perlu aku kurangi mulai hari ini agar tubuhku tetap sehat?

Pertemuan 2 — Mengidentifikasi Keterkaitan Pilihan Gaya Hidup Kurang Gerak dengan Risiko Masalah Kesehatan — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.4.1 Mengidentifikasi keterkaitan antara gaya hidup dan risiko kesehatan sesuai rekomendasi otoritas kesehatan

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kesiapan murid, dan mengajak berdoa bersama (5 menit).
  • Guru melakukan apersepsi dan asesmen awal diagnostik dengan menanyakan keterkaitan antara kebiasaan kurang bergerak dan dampaknya pada tubuh: (1) Apa dampak utama jika duduk bermain gawai lebih dari 5 jam sehari tanpa olahraga? (acuan: tubuh kelebihan berat badan/obesitas, otot lemas/pegal); (2) Mengapa kurang bergerak dapat membebani kerja jantung? (acuan: aliran darah kurang lancar/penumpukan lemak di pembuluh darah) (10 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru memaparkan materi keterkaitan pilihan gaya hidup kurang gerak (sedenter) dengan 4 risiko kesehatan utama berdasarkan panduan kesehatan anak: (1) Obesitas (penumpukan kalori tidak terpakai), (2) Masalah Jantung & Hipertensi (penurunan efisiensi pemompaan jantung), (3) Diabetes melitus tipe 2 (gangguan sensitivitas insulin akibat pasif gerak), dan (4) Otot Lemah & Tulang Rapuh (kurangnya stimulasi beban pada tulang dan otot) (15 menit).
  • Murid menyimak dan mencocokkan contoh kebiasaan sedenter (duduk seharian menonton TV, rebahan terus-menerus bermain gim, enggan berjalan kaki) dengan organ tubuh yang terdampak secara sadar dan penuh perhatian (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Guru memandu permainan 'Detektif Risiko Kesehatan': murid berpasangan menerima 4 kartu kasus gaya hidup sedenter dan kartu risiko kesehatan, lalu bergerak cepat menjodohkan kartu kasus dengan kartu risiko yang tepat (15 menit).
  • Murid secara mandiri mengerjakan Lembar Kerja 'Analisis Hubungan Sedenter dan Risiko Kesehatan' dengan menjodohkan 4 pasangan kasus dan risiko berikut: (1) Kasus: 'Beni menghabiskan 6 jam sehari bermain gim di ponsel sambil tiduran tanpa beranjak' -> Pasangan tepat: Risiko Kelemahan Otot & Penumpukan Lemak/Obesitas; (2) Kasus: 'Siti menolak berjalan kaki atau bersepeda dan selalu naik motor meski jarak dekat, tubuhnya jarang berkeringat' -> Pasangan tepat: Risiko Penurunan Kapasitas Kebugaran Jantung; (3) Kasus: 'Doni sering duduk diam berjam-jam menonton TV tanpa gerak fisik teratur selama berbulan-bulan' -> Pasangan tepat: Risiko Gangguan Metabolisme Gula Tubuh/Diabetes; (4) Kasus: 'Lina jarang bergerak aktif di luar ruangan sehingga tulangnya minim menerima beban aktivitas fisik' -> Pasangan tepat: Risiko Tulang Menjadi Rapuh/Kurang Padat (30 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid bersama guru mengecek hasil pengerjaan lembar kerja berdasarkan acuan kunci jawaban yang ditampilkan di papan tulis, lalu murid menilai pemahamannya sendiri tentang bahaya perilaku sedenter (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan terhadap hasil identifikasi murid mengenai pentingnya menghindari gaya hidup kurang gerak demi mencegah berbagai penyakit (5 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran hari ini dan menutup kegiatan pembelajaran dengan doa (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Untuk murid yang memerlukan bimbingan, lembar kasus dilengkapi kata kunci bergambar; untuk murid yang lebih cepat, kasus disajikan dalam narasi deskripsi aktivitas harian yang lebih panjang.
  • Proses: Murid yang memerlukan bimbingan didampingi guru membaca hubungan sebab-akibat; murid yang mandiri langsung menganalisis pasangan kartu secara mandiri.
  • Produk: Semua murid menghasilkan identifikasi pasangan kasus sedenter dan risiko kesehatan yang sama sesuai acuan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan lisan diagnostik: (1) Apa risiko utama bila tubuh seharian hanya duduk dan tidak pernah berolahraga? (acuan: berat badan naik/obesitas, tubuh cepat lelah/lemas); (2) Mengapa jantung membutuhkan kita aktif bergerak? (acuan: agar pompa jantung kuat dan peredaran darah lancar).

Proses:

  • Pengamatan keterlibatan murid dalam menjodohkan 4 kartu kasus sedenter dengan risiko kesehatan dalam permainan berpasangan.
  • Pemeriksaan Lembar Kerja 'Analisis Hubungan Sedenter dan Risiko Kesehatan' yang berisi 4 butir penjodohan kasus sedenter dan risiko kesehatan.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman tertulis singkat pada 4 butir LKPD: (1) Kasus duduk bermain gim berjam-jam -> Obesitas/kelemahan otot; (2) Kasus enggan jalan kaki/jarang berkeringat -> Penurunan kapasitas kerja jantung; (3) Kasus pasif berbulan-bulan di depan TV -> Risiko diabetes/metabolisme; (4) Kasus tidak pernah gerak aktif luar ruang -> Risiko kepadatan tulang rendah/rapuh (acuan: tepat minimal 3 dari 4 butir).

Formatif:

  • Penilaian kinerja menjodohkan kartu gaya hidup kurang gerak dengan risiko kesehatan pada LKPD.
  • Tanya jawab lisan diagnostik pada awal pembelajaran.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengidentifikasi keterkaitan gaya hidup kurang gerak dengan risiko kesehatanMengidentifikasi 1 dari 4 pasangan keterkaitan gaya hidup kurang gerak dengan risiko kesehatan secara tepat sesuai acuan kunci LKPD.Mengidentifikasi 2 dari 4 pasangan keterkaitan gaya hidup kurang gerak dengan risiko kesehatan secara tepat sesuai acuan kunci LKPD.Mengidentifikasi 3 dari 4 pasangan keterkaitan gaya hidup kurang gerak dengan risiko kesehatan secara tepat sesuai acuan kunci LKPD.Mengidentifikasi seluruh 4 dari 4 pasangan keterkaitan gaya hidup kurang gerak dengan risiko kesehatan secara tepat sesuai acuan kunci LKPD.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah murid dapat mengenali dengan jelas bahwa kebiasaan kurang gerak secara langsung memicu risiko penyakit kronis?
  • Apakah media kartu kasus sedenter dan risiko kesehatan efektif membantu murid dalam mengidentifikasi hubungan sebab-akibat?

Murid:

  • Apakah aku sudah bisa menyebutkan bahaya yang mengintai jika aku terlalu banyak duduk dan malas bergerak?
  • Kebiasaan kurang gerak apa yang ada pada diriku yang harus segera kuubah agar terhindar dari risiko penyakit?

Pertemuan 3 — Menghubungkan Gaya Hidup Aktif dengan Aktivitas Jasmani Rutin untuk Pencegahan Risiko Kesehatan — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.4.2 Menghubungkan gaya hidup dengan aktivitas pencegahan risiko kesehatan sesuai rekomendasi otoritas kesehatan

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, doa bersama, dan memeriksa kehadiran murid (5 menit).
  • Guru memandu asesmen awal secara lisan untuk memetakan kesiapan mengenai rekomendasi durasi aktivitas fisik harian anak (usia 5-17 tahun) menurut WHO/Kemenkes: 'Berapa durasi minimal aktivitas fisik yang direkomendasikan otoritas kesehatan setiap hari untuk anak seusia kalian?' (acuan jawaban benar: minimal 60 menit per hari dengan intensitas sedang hingga berat) (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menghubungkan gaya hidup aktif melalui aktivitas jasmani rutin dengan pencegahan risiko masalah kesehatan tertentu sesuai rekomendasi otoritas kesehatan (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid menyimak paparan infografik panduan otoritas kesehatan (WHO/Kemenkes) mengenai piramida aktivitas jasmani rutin serta hubungannya dalam menurunkan risiko obesitas, diabetes melitus tipe 2, hipertensi, dan penurunan kepadatan tulang (15 menit).
  • Guru memberikan penguatan konsep tentang bagaimana aktivitas fisik aerobik membakar kelebihan kalori dan melatih kekuatan otot/tulang guna mencegah penyakit tidak menular (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid memainkan permainan tantangan berpasangan 'Pasang Perisai Kesehatan': tiap pasangan menerima lembar kerja pencocokan 4 skenario gaya hidup aktif dan aktivitas jasmani rutin dengan risiko kesehatan yang dicegah (15 menit).
  • Murid secara mandiri menghubungkan 4 butir skenario aktivitas jasmani rutin dengan risiko penyakit yang dicegah pada lembar kerja: (1) Berjalan kaki cepat/bersepeda 60 menit per hari -> Mencegah penumpukan lemak berlebih/obesitas; (2) Latihan lompat tali dan kekuatan otot 3 kali seminggu -> Mencegah penurunan kepadatan tulang/osteoporosis dini; (3) Senam aerobik teratur -> Mencegah gangguan sirkulasi darah dan hipertensi; (4) Mengganti kebiasaan duduk lama bermain gawai dengan bermain bola di lapangan -> Mencegah kekakuan sendi dan resistensi insulin/diabetes melitus (acuan: pasangan 1 ke 1, 2 ke 2, 3 ke 3, 4 ke 4) (25 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru mencocokkan hasil analisis hubungan aktivitas jasmani rutin dengan risiko kesehatan dan mengoreksi pemahaman yang keliru berdasarkan panduan otoritas kesehatan (15 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan penguatan atas ketepatan hubungan antara aktivitas jasmani rutin dan pencegahan risiko kesehatan yang telah dianalisis murid (5 menit).
  • Guru menutup pertemuan dengan memberikan apresiasi terhadap fokus belajar murid dan memimpin doa penutup (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu panduan bergambar yang mencantumkan nama risiko penyakit, sedangkan murid mahir diberikan teks studi kasus gaya hidup tanpa label nama penyakit secara langsung.
  • Proses: Murid yang memerlukan bimbingan mendapatkan arahan langsung dari guru secara bertahap saat memasangkan skenario, sedangkan murid yang cepat menyelesaikan menghubungkan butir tambahan mengenai frekuensi aktivitas per minggu.
  • Produk: Semua murid menghasilkan lembar pencocokan hubungan aktivitas jasmani dan pencegahan risiko kesehatan sesuai kriteria acuan.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan: 'Berapa durasi minimal aktivitas fisik yang direkomendasikan otoritas kesehatan (WHO/Kemenkes) setiap hari untuk anak usia sekolah, dan sebutkan 1 penyakit yang dapat dicegah jika kita rutin bergerak?' (acuan: rekomendasi minimal 60 menit per hari intensitas sedang-berat; penyakit yang dicegah: obesitas / diabetes melitus / hipertensi / penyakit jantung).

Proses:

  • Pemeriksaan lembar kerja mandiri menghubungkan 4 butir skenario aktivitas jasmani dengan pencegahan risiko kesehatan: Butir 1 (Jalan cepat/bersepeda 60 menit/hari -> obesitas); Butir 2 (Lompat tali/latihan kekuatan 3x seminggu -> kerapuhan tulang/osteoporosis); Butir 3 (Senam aerobik teratur -> hipertensi/gangguan peredaran darah); Butir 4 (Mengganti duduk lama gawai dengan aktif bergerak -> diabetes melitus/resistensi insulin).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman singkat (lisan/catatan reflektif): 'Hubungkan jenis aktivitas aerobik rutin dengan salah satu risiko kesehatan yang berhasil kamu cegah sesuai pedoman kesehatan!' (kriteria: murid menghubungkan minimal 1 aktivitas jasmani aerobik berdurasi tepat dengan 1 risiko kesehatan yang relevan sesuai panduan otoritas kesehatan).

Formatif:

  • Penilaian tes tertulis objektif (menjodohkan 4 butir skenario aktivitas jasmani rutin dengan risiko kesehatan yang dicegah)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menghubungkan gaya hidup aktif dengan pencegahan risiko kesehatanMenghubungkan kurang dari 2 dari 4 skenario aktivitas jasmani rutin dengan pencegahan risiko kesehatan secara tepat sesuai acuan kunci.Menghubungkan 2 dari 4 skenario aktivitas jasmani rutin dengan pencegahan risiko kesehatan secara tepat sesuai acuan kunci.Menghubungkan 3 dari 4 skenario aktivitas jasmani rutin dengan pencegahan risiko kesehatan secara tepat sesuai acuan kunci secara mandiri.Menghubungkan seluruh 4 skenario aktivitas jasmani rutin dengan pencegahan risiko kesehatan secara tepat tanpa kekeliruan sesuai acuan kunci secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah murid dapat memahami keterkaitan logis antara aktivitas fisik rutin dengan mekanisme pencegahan penyakit tidak menular?
  • Bagian langkah manakah yang paling efektif membantu murid memahami rekomendasi otoritas kesehatan?

Murid:

  • Aktivitas jasmani rutin apa yang paling ingin kamu lakukan setiap hari untuk menjaga kesehatan tubuhmu?
  • Risiko kesehatan apa yang paling kamu sadari dapat dicegah dengan mengurangi kebiasaan malas bergerak?

Pertemuan 4 — Menghubungkan Pemilihan Pola Istirahat dan Hidup Bersih dengan Upaya Pencegahan Risiko Kesehatan — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.4.2 Menghubungkan gaya hidup dengan aktivitas pencegahan risiko kesehatan sesuai rekomendasi otoritas kesehatan

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengajak berdoa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran, yaitu menghubungkan pola istirahat dan perilaku hidup bersih dengan pencegahan risiko gangguan kesehatan sesuai panduan otoritas kesehatan (Kemenkes/WHO) (4 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal berupa tes diagnostik singkat 3 butir tanya-jawab lisan terkait pola istirahat dan kebersihan diri untuk memetakan kesiapan murid (8 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mencermati infografik panduan otoritas kesehatan (Kemenkes) mengenai 4 pilar pencegahan: (1) Durasi tidur anak usia sekolah 9-11 jam semalam, (2) Praktik Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) 6 langkah dengan air mengalir, (3) Menjaga kebersihan rongga mulut dan gigi dengan menyikat gigi minimal 2 kali sehari, serta (4) Mandi dan mengganti pakaian bersih setiap hari (12 menit).
  • Guru memandu tanya-jawab mendalam mengenai mekanisme bagaimana kurang tidur menurunkan imunitas tubuh serta bagaimana kuman/bakteri pada tangan yang kotor dapat menimbulkan diare (13 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Murid mengikuti permainan berpasangan 'Tantangan Detektif Pencegah Risiko': murid menerima 4 kartu kasus gaya hidup dan risiko kesehatan berikut: (Kasus 1) Kurang tidur hanya 5 jam semalam berisiko penurunan daya tahan tubuh dan sulit konsentrasi; (Kasus 2) Jarang cuci tangan sebelum makan berisiko infeksi diare dan cacingan; (Kasus 3) Malas menggosok gigi sebelum tidur berisiko karies gigi dan infeksi gusi; (Kasus 4) Mengenakan pakaian lembap berpeluh berisiko jamur kulit dan gatal-gatal (15 menit).
  • Setiap murid secara berpasangan menghubungkan ke-4 kasus tersebut dengan kartu tindakan pencegahan yang tepat dari 4 opsi tindakan: (A) Tidur teratur 9-11 jam setiap malam; (B) CTPS dengan air mengalir sebelum memegang makanan; (C) Sikat gigi dengan pasta gigi berfluoride sebelum tidur malam; (D) Mengganti pakaian bersih dan mandi 2 kali sehari setelah beraktivitas fisik [Kunci: 1-A, 2-B, 3-C, 4-D] (10 menit).
  • Murid secara mandiri menyelesaikan Lembar Kerja 'Matriks Hubungan Pencegahan Risiko Kesehatan' berisi 4 butir penentuan hubungan sebab-akibat pencegahan risiko (17 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru memeriksa kebenaran hasil pengisian Lembar Kerja dengan mengacu pada panduan otoritas kesehatan (8 menit).
  • Murid mengidentifikasi 1 kebiasaan istirahat atau kebersihan diri pribadinya yang masih perlu diperbaiki untuk mencegah penyakit infeksi maupun kelelahan (7 menit).

Penutup:

  • Guru dan murid menyimpulkan intisari pembelajaran mengenai keterkaitan istirahat cukup dan kebersihan diri sebagai perisai alami pencegahan risiko kesehatan (4 menit).
  • Guru memberikan umpan balik atas ketepatan kerja murid serta menyampaikan rencana topik pertemuan berikutnya mengenai zat gizi makro dan mikro (3 menit).
  • Pembelajaran ditutup dengan doa bersama dan salam penutup (1 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang memerlukan bimbingan diberikan lembar panduan bergambar yang mencantumkan alur sebab-akibat secara visual, sedangkan murid berkemampuan cepat menelaah kartu kasus dengan variasi kondisi aktivitas fisik harian.
  • Proses: Pada murid lambat guru memberikan bantuan terarah (scaffolding) dengan menuntun penelusuran hubungan gejala ke pencegahan; murid cepat bekerja mandiri menganalisis 4 kasus langsung.
  • Produk: Seluruh murid menyelesaikan matriks penentuan hubungan gaya hidup dan pencegahan risiko kesehatan yang sama.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan awal (3 butir): (1) 'Berapa jam rekomendasi tidur malam untuk anak usia sekolah dasar?' (Acuan: 9-11 jam per malam); (2) 'Kapan waktu penting kita wajib mencuci tangan memakai sabun?' (Acuan: sebelum makan, setelah buang air kecil/besar, atau setelah beraktivitas kotor); (3) 'Apa risiko kesehatan bila jarang menyikat gigi sebelum tidur malam?' (Acuan: gigi berlubang/karies atau sakit gusi).

Proses:

  • Pengamatan keterlibatan murid dalam menjodohkan kartu kasus dengan tindakan pencegahan pada permainan detektif kesehatan.
  • Pemeriksaan ketepatan pengisian Lembar Kerja 'Matriks Hubungan Pencegahan Risiko Kesehatan' 4 butir: (Butir 1) Risiko turun imunitas akibat tidur larut -> Tindakan: Tidur cukup 9-11 jam; (Butir 2) Risiko diare akibat kuman tangan -> Tindakan: Cuci tangan pakai sabun di air mengalir; (Butir 3) Risiko karies gigi akibat sisa makanan asam -> Tindakan: Menyikat gigi sebelum tidur; (Butir 4) Risiko infeksi jamur kulit akibat keringat lembap -> Tindakan: Mandi dan ganti pakaian bersih.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman akhir berupa kuis singkat 2 butir pernyataan benar/salah: (1) Tidur 5 jam semalam cukup bagi anak kelas 6 asalkan minum vitamin (Acuan kunci: Salah, rekomendasi resmi adalah 9-11 jam untuk pemulihan optimal); (2) Mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun dapat memutus penularan kuman penyebab penyakit saluran pencernaan (Acuan kunci: Benar).

Formatif:

  • Penilaian kinerja berpasangan pada permainan memasangkan 4 kartu gaya hidup berisiko dengan tindakan pencegahan otoritas kesehatan
  • Pemeriksaan lembar kerja penentuan keterkaitan pola istirahat dan kebersihan diri dengan pencegahan risiko kesehatan

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menghubungkan pola istirahat dan hidup bersih dengan aktivitas pencegahan risiko kesehatanMenghubungkan 1 dari 4 pola gaya hidup (istirahat/kebersihan) dengan aktivitas pencegahan risiko kesehatan secara tepat dengan bantuan penuh guru.Menghubungkan 2 dari 4 pola gaya hidup (istirahat/kebersihan) dengan aktivitas pencegahan risiko kesehatan secara tepat sesuai acuan.Menghubungkan 3 dari 4 pola gaya hidup (istirahat/kebersihan) dengan aktivitas pencegahan risiko kesehatan secara tepat sesuai acuan secara mandiri.Menghubungkan seluruh 4 pola gaya hidup (istirahat/kebersihan: durasi tidur, cuci tangan pakai sabun, menyikat gigi, dan mengganti pakaian bersih) dengan aktivitas pencegahan risiko kesehatan secara tepat tanpa kekeliruan secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alur penjelasan mengenai hubungan mekanisme kuman/kurang tidur dengan timbulnya risiko penyakit mudah dipahami oleh seluruh murid?
  • Bagaimana keterlibatan murid saat memainkan permainan memasangkan kartu pencegahan risiko kesehatan?

Murid:

  • Bagian mana dari aturan istirahat dan kebersihan diri yang paling sering kamu lupakan di rumah?
  • Tindakan pencegahan apa yang akan mulai kamu biasakan secara disiplin mulai malam ini?

Pertemuan 5 — Menjelaskan Zat Gizi Makro dan Mikro pada Makanan Berdasarkan Tabel Informasi Nilai Gizi — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.4.3 Menjelaskan kandungan gizi pada makanan berdasarkan informasi nilai gizi

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, menyapa murid, dan memimpin doa bersama untuk kesiapan belajar (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menjelaskan zat gizi makro dan zat gizi mikro yang terkandung dalam makanan berdasarkan tabel Informasi Nilai Gizi pada kemasan (5 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat dengan menunjukkan 1 contoh tabel Informasi Nilai Gizi di layar/papan tulis dan mengajukan pertanyaan pemetaan pemahaman awal: (1) Sebutkan 1 contoh zat gizi makro yang tertulis pada tabel! (acuan jawaban: Karbohidrat total, Protein, atau Lemak total); (2) Sebutkan 1 contoh zat gizi mikro yang tertulis pada tabel! (acuan jawaban: Vitamin A, Vitamin D, Kalsium, atau Zat Besi) (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Berkesadaran):

  • Murid menyimak penjelasan bermakna dari guru menggunakan media visual pembesar tabel Informasi Nilai Gizi susu kemasan, yang membedakan zat gizi makro (zat yang dibutuhkan dalam jumlah gram/banyak: karbohidrat untuk tenaga utama, protein untuk pertumbuhan otot, dan lemak sebagai cadangan energi) serta zat gizi mikro (zat yang dibutuhkan dalam jumlah miligram/mikrogram: vitamin dan mineral untuk menjaga daya tahan tubuh) (15 menit).
  • Murid mengamati tabel peraga 'Detektif Gizi' berisi data kemasan sereal gandum: Takaran saji: 30 g, Karbohidrat Total: 22 g, Protein: 3 g, Lemak Total: 1 g, Vitamin C: 15 mg, Zat Besi: 4 mg, lalu mencermati cara membaca jenis zat gizi dan jumlah kandungannya secara sadar dan teliti (10 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan):

  • Murid mengikuti permainan berpasangan 'Tantangan Detektif Gizi Cilik', di mana setiap pasangan menerima Lembar Analisis Berpasangan dan 2 kartu sampel tabel kemasan makanan (Kartu A: Susu Kotak Kedelai; Kartu B: Biskuit Havermut), lalu murid berlomba mencocokkan dan mencatat kandungan zat gizi makro dan mikro yang tertera dalam tabel kemasan tersebut secara tepat (15 menit).
  • Murid secara mandiri mengerjakan Lembar Kerja Siswa (LKS) 'Membaca Nilai Gizi Kemasan' untuk menjelaskan kandungan gizi pada 1 label kemasan makanan fiktif (Sereal Jagung Berenergi) yang tercantum di lembar kerja dengan menjawab 4 butir pertanyaan terstruktur: (1) Menuliskan 3 zat gizi makro beserta jumlahnya (acuan: Karbohidrat total 24 g, Protein 2 g, Lemak total 1,5 g); (2) Menuliskan 2 zat gizi mikro beserta jumlahnya (acuan: Vitamin B1 0,4 mg, Kalsium 120 mg); (3) Menjelaskan fungsi zat gizi makro karbohidrat bagi tubuh anak yang aktif bergerak (acuan: menyediakan sumber energi/tenaga utama untuk aktivitas fisik); (4) Menjelaskan fungsi zat gizi mikro kalsium/vitamin bagi kesehatan tubuh (acuan: memelihara kepadatan tulang/menjaga daya tahan tubuh) (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid memeriksa kembali hasil pekerjaannya secara mandiri dengan mencocokkan kembali angka dan satuan (gram vs miligram) pada tabel nilai gizi untuk membangun kesadaran literasi gizi pribadi (15 menit).
  • Beberapa murid membacakan penjelasannya mengenai perbedaan zat gizi makro dan mikro yang mereka temukan pada kemasan makanan, sementara guru memberikan konfirmasi dan apresiasi atas ketepatan penjelasan murid (5 menit).

Penutup:

  • Guru bersama murid menyimpulkan intisari pembelajaran tentang cara menjelaskan kandungan zat gizi makro dan mikro dari tabel Informasi Nilai Gizi (5 menit).
  • Guru memberikan asesmen akhir berupa 2 pertanyaan cek pemahaman langsung: (1) Mengapa karbohidrat dan protein dikelompokkan ke dalam zat gizi makro? (acuan: karena dibutuhkan tubuh dalam jumlah besar/satuan gram sebagai sumber energi dan pembangun); (2) Di bagian mana pada tabel kemasan kita dapat menemukan zat gizi mikro? (acuan: pada daftar vitamin dan mineral dengan takaran kecil/miligram/mikrogram atau %AKG) (3 menit).
  • Guru menyampaikan topik yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya (Pertemuan 6: Membaca kandungan gula, garam, lemak, dan takaran saji), kemudian menutup pembelajaran dengan doa dan salam (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan tabel Informasi Nilai Gizi dengan penanda visual warna (warna kuning untuk zat gizi makro, warna hijau untuk zat gizi mikro). Murid yang berpencapaian tinggi diberikan kemasan dengan daftar mikronutrien yang lebih bervariasi (termasuk seng, asam folat, dan vitamin D).
  • Proses: Murid yang memerlukan pendampingan dibimbing guru membaca baris demi baris nama zat gizi dan satuannya. Murid yang mahir diarahkan langsung mengelompokkan dan membandingkan proporsi zat makro dan mikro tanpa panduan warna.
  • Produk: Semua murid menjelaskan 4 butir kandungan gizi pada LKS. Murid berpencapaian tinggi menjelaskan rincian fungsi masing-masing zat gizi secara mandiri dan lengkap.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Tanya jawab diagnostik di awal pembelajaran menggunakan 1 contoh tabel Informasi Nilai Gizi: (1) Sebutkan 1 contoh zat gizi makro yang tertulis pada tabel! (acuan: Karbohidrat total, Protein, atau Lemak total); (2) Sebutkan 1 contoh zat gizi mikro yang tertulis pada tabel! (acuan: Vitamin A, Vitamin D, Kalsium, atau Zat Besi).

Proses:

  • Pemeriksaan Lembar Kerja Siswa (LKS) 'Membaca Nilai Gizi Kemasan' pada tahap Mengaplikasi dengan 4 butir acuan ketepatan: Butir 1: Tepat menyebutkan 3 zat gizi makro (Karbohidrat total 24 g, Protein 2 g, Lemak total 1,5 g); Butir 2: Tepat menyebutkan 2 zat gizi mikro (Vitamin B1 0,4 mg, Kalsium 120 mg); Butir 3: Tepat menjelaskan fungsi karbohidrat (penyedia energi/tenaga utama beraktivitas); Butir 4: Tepat menjelaskan fungsi kalsium/vitamin (pembentuk kekuatan tulang atau penjaga daya tahan tubuh).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan di akhir sesi: (1) Mengapa karbohidrat dan protein disebut zat gizi makro? (acuan: karena dibutuhkan tubuh dalam jumlah besar/satuan gram); (2) Apa contoh zat gizi mikro pada kemasan dan bagaimana satuannya? (acuan: vitamin dan mineral, satuannya miligram/mikrogram atau persen AKG).

Formatif:

  • Asesmen Awal: Tanya jawab diagnostik identifikasi awal zat gizi makro dan mikro pada contoh tabel Informasi Nilai Gizi.
  • Asesmen Proses: Observasi keaktifan dan ketepatan murid saat mengerjakan permainan 'Tantangan Detektif Gizi Cilik' serta penugasan mandiri analisis tabel kemasan pada LKS.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menjelaskan kandungan zat gizi makro pada makanan berdasarkan tabel Informasi Nilai Gizi (Butir 1 dan 3)Belum mampu mengidentifikasi zat gizi makro (karbohidrat, protein, lemak) pada tabel Informasi Nilai Gizi dan belum mampu menjelaskan fungsinya.Mampu menyebutkan 1 dari 3 zat gizi makro pada tabel Informasi Nilai Gizi dengan tepat, tetapi belum tepat menjelaskan fungsinya bagi tubuh.Mampu menyebutkan minimal 2 dari 3 zat gizi makro pada tabel Informasi Nilai Gizi secara tepat beserta takarannya dan menjelaskan fungsinya sebagai sumber tenaga/pembangun tubuh dengan bimbingan.Mampu menyebutkan seluruh (3 dari 3) zat gizi makro (karbohidrat, protein, lemak) beserta takarannya secara tepat dan menjelaskan fungsi zat gizi makro bagi tubuh secara mandiri dan lengkap.
Menjelaskan kandungan zat gizi mikro pada makanan berdasarkan tabel Informasi Nilai Gizi (Butir 2 dan 4)Belum mampu mengidentifikasi zat gizi mikro (vitamin, mineral) pada tabel Informasi Nilai Gizi dan belum mampu menjelaskan fungsinya.Mampu menyebutkan 1 zat gizi mikro pada tabel Informasi Nilai Gizi, namun takaran satuannya keliru dan belum mampu menjelaskan fungsinya.Mampu menyebutkan 2 zat gizi mikro pada tabel Informasi Nilai Gizi secara tepat beserta takarannya dan menjelaskan fungsi zat gizi mikro untuk pemeliharaan tubuh dengan bimbingan.Mampu menyebutkan minimal 2 zat gizi mikro beserta takarannya secara tepat pada tabel Informasi Nilai Gizi dan menjelaskan fungsinya dalam memelihara kesehatan tubuh secara mandiri dan lengkap.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah penggunaan media tabel Informasi Nilai Gizi berukuran besar efektif membantu murid membedakan zat gizi makro dan mikro?
  • Bagian mana dari langkah penugasan 'Detektif Gizi' yang membutuhkan scaffolding tambahan bagi murid yang kesulitan membaca angka tabel?

Murid:

  • Apakah kamu sekarang sudah bisa membedakan zat gizi makro dan zat gizi mikro ketika melihat tabel kemasan makanan?
  • Informasi gizi apa yang paling mengejutkan atau baru kamu ketahui dari kemasan makanan yang kamu selidiki hari ini?

Pertemuan 6 — Menjelaskan Kandungan Gula, Garam, Lemak, dan Takaran Saji pada Kemasan Makanan — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.4.3 Menjelaskan kandungan gizi pada makanan berdasarkan informasi nilai gizi

Pendahuluan:

  • Guru membuka pembelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran murid, dan mengondisikan kelas siap belajar (5 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menjelaskan kandungan gula, garam (natrium), lemak, dan takaran saji berdasarkan tabel Informasi Nilai Gizi pada kemasan makanan (5 menit).
  • Guru melakukan asesmen awal diagnostik melalui kuis lisan cepat tentang label gizi makanan kemasan (5 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran, Bermakna):

  • Murid mencermati bagan contoh label Informasi Nilai Gizi di papan tulis yang memuat 4 unsur kunci: Takaran Saji (misal: 25 gram), Jumlah Sajian per Kemasan (misal: 2 sajian), Gula (misal: 12 gram per sajian), Natrium/Garam (misal: 150 mg per sajian), dan Lemak Total (misal: 5 gram per sajian) (15 menit).
  • Murid mendengarkan penjelasan guru mengenai cara membaca tabel gizi: angka zat gizi yang tertera berlaku per satu takaran saji, sehingga jika satu kemasan dihabiskan seluruhnya, jumlah gula, garam, dan lemak yang masuk ke tubuh dikalikan dengan jumlah sajian per kemasan (15 menit).

Mengaplikasi (Menggembirakan, Bermakna):

  • Secara berpasangan, murid memainkan simulasi permainan peran 'Detektif Cilik Label Gizi': murid menerima 2 contoh kemasan riil (Kemasan A: Biskuit Manis, takaran saji 20 g, 3 sajian per kemasan, gula 8 g/sajian, natrium 50 mg/sajian, lemak 4 g/sajian; Kemasan B: Keripik Gurih, takaran saji 30 g, 2 sajian per kemasan, gula 1 g/sajian, natrium 220 mg/sajian, lemak 9 g/sajian) dan melengkapi lembar detektif dengan menghitung total kandungan bila kemasan dihabiskan (15 menit).
  • Setiap murid secara individu mengerjakan Lembar Kerja Penyelidikan Nilai Gizi untuk menjelaskan kandungan gizi pada 3 kartu sampel makanan: Kartu 1 Minuman Teh Kemasan (takaran saji 250 ml, isi 2 sajian, gula 18 g/sajian, natrium 20 mg/sajian, lemak 0 g/sajian), Kartu 2 Mi Instan (takaran saji 80 g, isi 1 sajian, gula 2 g/sajian, natrium 890 mg/sajian, lemak 14 g/sajian), dan Kartu 3 Susu UHT (takaran saji 200 ml, isi 1 sajian, gula 6 g/sajian, natrium 70 mg/sajian, lemak 6 g/sajian) dengan menuliskan takaran saji serta total gula, garam, dan lemak bila seluruh kemasan dikonsumsi (acuan: Kartu 1 = takaran saji 250 ml, total habis: gula 36 g, natrium 40 mg, lemak 0 g; Kartu 2 = takaran saji 80 g, total habis: gula 2 g, natrium 890 mg, lemak 14 g; Kartu 3 = takaran saji 200 ml, total habis: gula 6 g, natrium 70 mg, lemak 6 g) (20 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid bersama guru mencocokkan hasil analisis dari lembar kerja dan mengidentifikasi produk mana yang paling tinggi kandungan gulanya per kemasan (Kartu 1 dengan total 36 g) serta mana yang paling tinggi kandungan natrium/garamnya (Kartu 2 dengan 890 mg) (10 menit).
  • Murid menuliskan refleksi kesadaran pribadi pada catatan ringkas tentang pentingnya selalu membaca takaran saji sebelum membeli atau memakan camilan kemasan (5 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik atas ketelitian murid dalam menghitung dan menjelaskan hubungan antara takaran saji dengan asupan gula, garam, dan lemak (5 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran hari ini dan menutup kegiatan pembelajaran dengan doa serta salam (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan kartu label dengan jumlah sajian per kemasan angka bulat sederhana (1 atau 2 sajian). Murid dengan kesiapan lebih mahir diberikan label kemasan dengan sajian pecahan/kompleks (misal: 3,5 sajian per kemasan).
  • Proses: Murid yang memerlukan scaffolding dibimbing guru membaca baris takaran saji terlebih dahulu sebelum melihat baris zat gizi. Murid mahir menganalisis langsung secara mandiri.
  • Produk: Semua murid menjelaskan takaran saji, gula, garam, dan lemak; murid mahir menambahkan penjelasan perbandingan total gula antarproduk dengan kemandirian penuh.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan: 'Jika pada label tertulis takaran saji 30 gram dan jumlah sajian per kemasan adalah 2, berapa total berat seluruh makanan di kemasan tersebut jika kamu habiskan semuanya?' (acuan jawaban: 60 gram, diperoleh dari 30 gram x 2 sajian).

Proses:

  • Pemeriksaan ketepatan Lembar Kerja Penyelidikan Nilai Gizi murid pada 3 kartu sampel makanan: Kartu 1 Minuman Kemasan (acuan: takaran saji 250 ml; bila habis = gula 36 g, natrium 40 mg, lemak 0 g), Kartu 2 Mi Instan (acuan: takaran saji 80 g; bila habis = gula 2 g, natrium 890 mg, lemak 14 g), Kartu 3 Susu UHT (acuan: takaran saji 200 ml; bila habis = gula 6 g, natrium 70 mg, lemak 6 g).

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman tertulis singkat (1 butir): 'Sebutkan 4 informasi gizi utama yang harus diperhatikan pada tabel informasi nilai gizi suatu kemasan camilan dan jelaskan arti dari takaran saji!' (acuan jawaban: 4 informasi utama meliputi takaran saji, gula, natrium/garam, dan lemak; arti takaran saji adalah jumlah atau ukuran porsi makanan yang disarankan dalam satu kali makan/konsumsi).

Formatif:

  • Penilaian proses lembar kerja individu analisis tabel informasi nilai gizi (menghitung dan menjelaskan takaran saji, gula, natrium/garam, dan lemak)
  • Observasi ketepatan murid dalam membaca dan menjelaskan data tabel gizi selama simulasi pasangan Detektif Cilik

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Menjelaskan kandungan gizi (gula, garam, lemak, dan takaran saji) berdasarkan informasi nilai giziBelum mampu menjelaskan kandungan gizi dan keliru membaca takaran saji serta jumlah gula, garam (natrium), dan lemak pada seluruh kartu sampel.Mampu menjelaskan takaran saji dan kandungan gula, garam (natrium), atau lemak dengan tepat pada 1 dari 3 kartu sampel makanan sesuai acuan.Mampu menjelaskan takaran saji dan menghitung total kandungan gula, garam (natrium), serta lemak dengan tepat pada 2 dari 3 kartu sampel makanan sesuai acuan.Mampu menjelaskan takaran saji dan menghitung total kandungan gula, garam (natrium), serta lemak dengan tepat dan mandiri pada seluruh (3 dari 3) kartu sampel makanan sesuai acuan.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah murid dapat membedakan dengan jelas antara kandungan zat gizi per sajian dengan kandungan zat gizi total dalam satu bungkus kemasan makanan?
  • Bagian penjelasan mana yang masih membuat murid keliru saat mengalikan takaran saji dengan jumlah gula, garam, atau lemak?

Murid:

  • Apa hal baru yang kamu pelajari hari ini saat menjadi 'Detektif Cilik Label Gizi'?
  • Setelah mengetahui cara membaca label ini, apa yang akan kamu periksa terlebih dahulu saat ingin membeli camilan di kantin atau warung?

Pertemuan 7 — Menjelaskan Pola Makan Sehat dan Kebutuhan Kalori untuk Menunjang Aktivitas Jasmani Harian — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.4.4 Menjelaskan pola makan sehat untuk menunjang aktivitas jasmani berdasarkan informasi kandungan gizi pada makanan

Pendahuluan:

  • Guru membuka kelas dengan salam, memeriksa kehadiran, dan memandu doa bersama (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran pertemuan ini, yaitu menjelaskan pola makan sehat dan kebutuhan energi/kalori untuk menunjang aktivitas jasmani harian (4 menit).
  • Guru melaksanakan asesmen awal diagnostik singkat secara lisan kepada seluruh murid dengan mengajukan 2 pertanyaan pemetaan kesiapan: (1) 'Zat gizi apa yang menjadi sumber energi utama untuk bergerak?' (acuan jawaban benar: karbohidrat/lemak); (2) 'Mengapa kita perlu makan makanan bergizi sebelum berolahraga?' (acuan jawaban benar: agar tubuh memiliki energi/tenaga/bahan bakar untuk bergerak dan tidak lemas) (8 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Bermakna, Menggembirakan):

  • Murid menyimak penjelasan guru dan mencermati paparan infografis 'Bahan Bakar Tubuh untuk Bergerak' mengenai hubungan antara intensitas aktivitas fisik (ringan, sedang, berat) dengan kebutuhan kalori serta zat gizi makro (karbohidrat sebagai sumber energi utama gerak, protein untuk perbaikan sel otot, dan lemak sebagai cadangan energi) (15 menit).
  • Murid secara berpasangan mengikuti kuis interaktif cepat 'Tebak Bahan Bakar Atlet' di mana guru membacakan 3 skenario singkat aktivitas fisik, lalu murid mengangkat kartu zat gizi utama yang paling dibutuhkan (skenario 1: lari jarak jauh -> karbohidrat; skenario 2: pemulihan setelah latihan kekuatan push-up -> protein; skenario 3: jalan santai harian -> gizi seimbang porsi sedang) (10 menit).

Mengaplikasi (Berkesadaran, Bermakna):

  • Guru membagikan Lembar Kerja 'Analisis Pola Makan Penunjang Aktivitas' yang memuat 3 profil aktivitas murid: Profil A (Budi, latihan sepak bola 90 menit), Profil B (Siti, les melukis dan duduk santai 2 jam), dan Profil C (Edo, bersepeda lintas alam menanjak 60 menit) (5 menit).
  • Murid secara mandiri mengerjakan lembar kerja dengan menjelaskan pola makan sehat yang tepat dan kebutuhan kalori/zat gizi yang harus dipenuhi untuk setiap profil berdasarkan acuan data kandungan gizi yang disediakan pada lembar kerja (30 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Murid membandingkan dan memeriksa kecocokan penjelasannya dengan kunci acuan pola makan sehat yang dipaparkan guru di papan tulis, lalu menandai mandiri bagian penjelasan yang sudah tepat maupun yang masih kurang lengkap (10 menit).
  • Perwakilan murid membacakan simpulan penjelasannya mengenai bagaimana pilihan pola makan sehat menentukan performa dan kesiapan tubuh saat melakukan aktivitas fisik harian (10 menit).

Penutup:

  • Guru memberikan umpan balik umum terhadap hasil kerja analisis murid dan meluruskan miskonsepsi umum mengenai kebutuhan kalori saat berolahraga (5 menit).
  • Guru bersama murid menyimpulkan pembelajaran hari ini bahwa asupan makanan sehat harus disesuaikan dengan jenis dan intensitas aktivitas jasmani agar tubuh berfungsi optimal, serta menutup pembelajaran dengan doa bersama (5 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Murid yang membutuhkan bimbingan diberikan lembar kerja dengan panduan daftar pilihan zat gizi utama (karbohidrat, protein, lemak, vitamin/mineral); murid mahir diberikan profil aktivitas tambahan yang melibatkan variasi durasi latihan fisik.
  • Proses: Guru memberikan bimbingan terarah (scaffolding) saat analisis profil aktivitas bagi murid yang kesulitan menghubungkan zat gizi dengan intensitas gerak.
  • Produk: Seluruh murid menyusun penjelasan tertulis pada lembar kerja; murid dengan hambatan menulis diperbolehkan menjelaskan secara lisan kepada guru pada poin profil aktivitas yang sama.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Pertanyaan diagnostik lisan: (1) 'Zat gizi apa yang menjadi sumber energi utama saat kita berolahraga lari?' (acuan benar: karbohidrat); (2) 'Mengapa tubuh kita lemas jika berolahraga berat tanpa sarapan bergizi seimbang?' (acuan benar: tubuh kekurangan cadangan kalori/energi untuk bahan bakar gerak otot).

Proses:

  • Pemeriksaan Lembar Kerja: Murid menjelaskan pola makan sehat dan kebutuhan kalori/gizi untuk 3 profil aktivitas. Daftar acuan jawaban: Profil A (Budi, sepak bola 90 menit) -> membutuhkan kalori tinggi dengan fokus karbohidrat kompleks sebagai sumber energi utama dan protein untuk pemulihan otot; Profil B (Siti, duduk melukis 2 jam) -> membutuhkan kalori sedang/rendah dengan gizi seimbang berserat tinggi agar tidak terjadi penumpukan kalori berlebih; Profil C (Edo, bersepeda menanjak 60 menit) -> membutuhkan energi tinggi cepat serap dan cairan cukup, didominasi karbohidrat untuk menunjang daya tahan otot kaki.

Akhir Pertemuan:

  • Cek pemahaman lisan di akhir sesi: 'Jelaskan mengapa seseorang yang berolahraga berat membutuhkan pola makan dengan porsi karbohidrat dan protein yang lebih tinggi dibandingkan saat beristirahat?' (acuan benar: karbohidrat dibutuhkan untuk memasok energi gerak yang terkuras banyak, sedangkan protein dibutuhkan untuk memperbaiki serat otot setelah aktivitas fisik berat).

Formatif:

  • Tanya jawab lisan diagnostik kesiapan awal pembelajaran.
  • Kuis cepat berpasangan 'Tebak Bahan Bakar Atlet' pada tahap Memahami.
  • Lembar Kerja analisis penjelasan pola makan sehat penunjang aktivitas jasmani pada tahap Mengaplikasi.

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Penjelasan Pola Makan Sehat Berdasarkan Kebutuhan Aktivitas JasmaniBelum mampu menjelaskan keterkaitan pola makan sehat dan zat gizi dengan kebutuhan aktivitas jasmani pada ketiga profil (0 profil tepat sesuai acuan).Mampu menjelaskan pola makan sehat dan kebutuhan zat gizi secara tepat pada 1 dari 3 profil aktivitas sesuai acuan.Mampu menjelaskan pola makan sehat dan kebutuhan zat gizi secara tepat pada 2 dari 3 profil aktivitas sesuai acuan.Mampu menjelaskan pola makan sehat dan kebutuhan zat gizi secara tepat dan lengkap pada seluruh 3 profil aktivitas sesuai acuan secara mandiri.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah murid dapat memahami konsep kalori dan zat gizi makanan sebagai bahan bakar untuk melakukan aktivitas fisik harian?
  • Apakah alokasi waktu pada tahap pengerjaan lembar kerja mandiri mencukupi bagi seluruh murid untuk merumuskan penjelasannya?

Murid:

  • Apa hal baru yang kamu pelajari tentang hubungan antara sarapan bergizi dan staminamu saat berolahraga?
  • Bagian mana dari penjelasan pola makan penunjang aktivitas yang menurutmu paling menantang untuk dipahami?

Pertemuan 8 — Asesmen Sumatif Bab — 3 JP (3 x 35 menit = 105 menit)

Tujuan Pertemuan:

  • TP 6.4.1 Mengidentifikasi keterkaitan antara gaya hidup dan risiko kesehatan sesuai rekomendasi otoritas kesehatan
  • TP 6.4.2 Menghubungkan gaya hidup dengan aktivitas pencegahan risiko kesehatan sesuai rekomendasi otoritas kesehatan
  • TP 6.4.3 Menjelaskan kandungan gizi pada makanan berdasarkan informasi nilai gizi
  • TP 6.4.4 Menjelaskan pola makan sehat untuk menunjang aktivitas jasmani berdasarkan informasi kandungan gizi pada makanan

Pendahuluan:

  • Guru membuka sesi asesmen sumatif dengan salam, mengecek kehadiran, dan mengondisikan ruang kelas agar siap untuk pengerjaan tugas tertulis dan produk kelompok (3 menit).
  • Guru menyampaikan tujuan asesmen sumatif bab akhir, yaitu mengukur pemahaman utuh mengenai analisis gaya hidup dan risiko kesehatan, pencegahannya, serta analisis nilai gizi dan rancangan menu pendukung aktivitas jasmani (4 menit).

Kegiatan Inti:

Memahami (Berkesadaran):

  • Guru membagikan Lembar Kerja Asesmen Sumatif Bagian 1 dan Bagian 2 serta menjelaskan petunjuk pengerjaan, alokasi waktu tiap bagian, dan rubrik penilaian secara transparan tanpa membahas kunci jawaban soal (5 menit).

Mengaplikasi (Bermakna):

  • Murid dalam kelompok mengerjakan Tugas 1 (durasi 45 menit): menyelesaikan Lembar Kerja Bagian 1 yang berisi penjelasan tertulis analisis risiko 4 pilihan gaya hidup dan menjodohkan 4 risiko kesehatan dengan aktivitas pencegahannya sesuai rekomendasi otoritas kesehatan (45 menit).
  • Murid dalam kelompok mengerjakan Tugas 2 (durasi 40 menit): menelaah zat gizi makro dan mikro pada contoh label informasi nilai gizi kemasan sereal oat (takaran saji 35 g, energi total 140 kkal, karbohidrat 24 g, protein 4 g, lemak total 2,5 g, natrium 10 mg, kalsium 8% AKG, zat besi 10% AKG, gula 1 g) dan menyusun lembar rancangan menu makan harian bergizi seimbang (sarapan, makan siang, makan malam, dan selingan) yang disesuaikan dengan kebutuhan energi aktivitas jasmani murid (40 menit).

Merefleksi (Berkesadaran):

  • Setiap kelompok mengumpulkan seluruh artefak lembar kerja asesmen sumatif kepada guru tepat waktu, lalu melakukan pemeriksaan kelengkapan identitas anggota kelompok (3 menit).

Penutup:

  • Guru memandu murid melakukan refleksi singkat mengenai proses pengerjaan asesmen sumatif bab 4 dan komitmen menerapkan pola hidup sehat dalam keseharian (3 menit).
  • Guru menutup pertemuan dengan memberikan apresiasi atas kerja sama seluruh kelompok, menyampaikan tindak lanjut umpan balik hasil asesmen, dan berdoa bersama (2 menit).

Diferensiasi:

  • Konten: Menyediakan lembar label gizi dengan cetakan huruf dan angka yang diperbesar (font lebih besar) bagi kelompok murid yang membutuhkan kemudahan keterbacaan visual tanpa mengubah data angka gizi.
  • Proses: Memberikan pendampingan pembacaan instruksi kerja secara netral bagi kelompok murid dengan hambatan membaca lancar tanpa memberikan petunjuk isi jawaban.
  • Produk: Format penyajian isian lembar kerja dan tabel rancangan menu diseragamkan sesuai acuan tugas tertulis serentak.

Asesmen Pertemuan:

Awal:

  • Cek kesiapan fisik, mental, dan kelengkapan alat tulis murid sebelum asesmen sumatif dimulai melalui pertanyaan kesiapan singkat.

Proses:

  • Pemantauan kepatuhan terhadap instruksi pengerjaan kelompok, alokasi waktu, serta kemandirian berpikir kelompok selama mengerjakan tugas sumatif tertulis.

Sumatif Bab:

  • penugasan tertulis dan produk portofolio analisis gizi serta menu aktivitas jasmani: lembar kerja analisis risiko gaya hidup beserta aktivitas pencegahannya, lembar identifikasi zat gizi dari label makanan kemasan, dan lembar rancangan menu harian bergizi seimbang penunjang aktivitas jasmani
  • penugasan tertulis serentak: lembar kerja berisi penjelasan tertulis keterkaitan pilihan gaya hidup dengan risiko kesehatan serta tabel pasangan analisis antara risiko kesehatan dan aktivitas pencegahannya sesuai rekomendasi otoritas kesehatan yang dikerjakan serentak oleh seluruh murid (45 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian lembar kerja dan pedoman penskoran)
  • produk rancangan dan analisis tertulis serentak: lembar telaah informasi nilai gizi (zat gizi makro dan mikro) dari contoh label makanan yang disediakan serta lembar rancangan susunan menu makan harian bergizi seimbang yang disesuaikan dengan kebutuhan energi untuk aktivitas jasmani murid yang dikerjakan serentak oleh seluruh murid (60 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian produk rancangan menu dan analisis gizi)

Sumatif:

  • penugasan tertulis dan produk portofolio analisis gizi serta menu aktivitas jasmani: lembar kerja analisis risiko gaya hidup beserta aktivitas pencegahannya, lembar identifikasi zat gizi dari label makanan kemasan, dan lembar rancangan menu harian bergizi seimbang penunjang aktivitas jasmani
  • penugasan tertulis serentak: lembar kerja berisi penjelasan tertulis keterkaitan pilihan gaya hidup dengan risiko kesehatan serta tabel pasangan analisis antara risiko kesehatan dan aktivitas pencegahannya sesuai rekomendasi otoritas kesehatan yang dikerjakan serentak oleh seluruh murid (45 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian lembar kerja dan pedoman penskoran)
  • produk rancangan dan analisis tertulis serentak: lembar telaah informasi nilai gizi (zat gizi makro dan mikro) dari contoh label makanan yang disediakan serta lembar rancangan susunan menu makan harian bergizi seimbang yang disesuaikan dengan kebutuhan energi untuk aktivitas jasmani murid yang dikerjakan serentak oleh seluruh murid (60 menit; kelompok; instrumen: rubrik penilaian produk rancangan menu dan analisis gizi)

Rubrik Pertemuan:

AspekBelum BerkembangMulaiBerkembangSangat Berkembang
Mengidentifikasi Keterkaitan Gaya Hidup dan Risiko Kesehatan (Tugas 1 - Soal 1)Mengidentifikasi 1 dari 4 keterkaitan gaya hidup dan risiko kesehatan dengan tepat (Daftar 4 analisis tepat: 1. Kebiasaan sedenter/duduk menonton gawai >4 jam/hari berisiko memicu obesitas dan kekakuan otot; 2. Sering mengonsumsi makanan/minuman manis berlebih berisiko memicu karies gigi dan diabetes melitus; 3. Kurang tidur/istirahat <8 jam/malam berisiko memicu penurunan daya tahan tubuh dan penurunan konsentrasi; 4. Jarang mencuci tangan dengan sabun berisiko memicu infeksi saluran pencernaan/diare).Mengidentifikasi 2 dari 4 keterkaitan gaya hidup dan risiko kesehatan dengan tepat sesuai daftar acuan.Mengidentifikasi 3 dari 4 keterkaitan gaya hidup dan risiko kesehatan dengan tepat sesuai daftar acuan.Mengidentifikasi seluruh 4 keterkaitan gaya hidup dan risiko kesehatan dengan tepat sesuai daftar acuan.
Menghubungkan Gaya Hidup dengan Aktivitas Pencegahan (Tugas 1 - Soal 2)Memasangkan 1 dari 4 pasangan risiko kesehatan dan aktivitas pencegahannya dengan tepat (Kunci pasangan: 1. Risiko obesitas & penyakit kardiovaskular dipasangkan dengan 'Melakukan aktivitas jasmani intensitas sedang minimal 60 menit per hari'; 2. Risiko diabetes & kerusakan gigi dipasangkan dengan 'Membatasi konsumsi gula maksimal 4 sendok makan atau 50 gram per hari'; 3. Risiko imunitas rendah & kelelahan kronis dipasangkan dengan 'Tidur teratur dan cukup 9-11 jam setiap malam untuk usia anak'; 4. Risiko infeksi kuman & penyakit menular dipasangkan dengan 'Mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun selama minimal 20 detik').Memasangkan 2 dari 4 pasangan risiko kesehatan dan aktivitas pencegahannya dengan tepat sesuai kunci acuan.Memasangkan 3 dari 4 pasangan risiko kesehatan dan aktivitas pencegahannya dengan tepat sesuai kunci acuan.Memasangkan seluruh 4 pasangan risiko kesehatan dan aktivitas pencegahannya dengan tepat tanpa kekeliruan sesuai kunci acuan.
Menjelaskan Kandungan Gizi Berdasarkan Informasi Nilai Gizi (Tugas 2 - Soal 1)Mengidentifikasi dan menjelaskan 1 dari 3 komponen nilai gizi kemasan sereal oat dengan tepat (Acuan telaah: 1. Takaran saji dan energi total: 35 gram per sajian menghasilkan 140 kkal energi; 2. Zat gizi makro: karbohidrat 24 g sebagai sumber energi utama, protein 4 g untuk pertumbuhan/perbaikan sel, dan lemak total 2,5 g; 3. Zat gizi mikro dan batas anjuran: natrium 10 mg tergolong rendah, gula 1 g tergolong rendah, serta kalsium 8% dan zat besi 10% AKG untuk kesehatan tulang dan darah).Mengidentifikasi dan menjelaskan 2 dari 3 komponen nilai gizi kemasan sereal oat dengan tepat sesuai acuan.Mengidentifikasi dan menjelaskan seluruh 3 komponen nilai gizi kemasan sereal oat dengan tepat sesuai acuan.Mengidentifikasi dan menjelaskan seluruh 3 komponen nilai gizi kemasan sereal oat dengan tepat dan memberikan rincian fungsi zat gizi makro serta mikro secara lengkap.
Menjelaskan Pola Makan Sehat untuk Menunjang Aktivitas Jasmani (Tugas 2 - Soal 2)Menyusun rancangan menu harian yang hanya memenuhi 1 dari 4 waktu makan (sarapan, makan siang, makan malam, selingan) dengan komposisi seimbang yang disesuaikan dengan jenis aktivitas jasmani.Menyusun rancangan menu harian yang memenuhi 2 dari 4 waktu makan dengan komposisi seimbang sesuai prinsip Isi Piringku (karbohidrat, protein, sayur, buah) dan relevan dengan kebutuhan aktivitas jasmani.Menyusun rancangan menu harian yang memenuhi 3 dari 4 waktu makan dengan komposisi seimbang sesuai prinsip Isi Piringku dan relevan dengan kebutuhan aktivitas jasmani.Menyusun rancangan menu harian lengkap pada seluruh 4 waktu makan (sarapan, makan siang, makan malam, selingan) secara seimbang sesuai prinsip Isi Piringku dan menjelaskan alasan pemilihannya untuk mendukung aktivitas jasmani.

Refleksi Pertemuan:

Guru:

  • Apakah alokasi waktu 45 menit untuk Tugas 1 dan 40 menit untuk Tugas 2 mencukupi bagi kelompok dalam menyelesaikan seluruh instrumen asesmen sumatif?
  • Bagian mana dari capaian TP 1-4 yang masih menunjukkan tingkat kesulitan tertinggi bagi murid berdasarkan hasil pengerjaan lembar sumatif?

Murid:

  • Bagian mana dari tugas analisis gaya hidup dan rancangan menu sehat yang paling menantang untuk dikerjakan bersama kelompok?
  • Setelah menyelesaikan asesmen ini, kebiasaan hidup sehat dan pola makan apa yang paling ingin segera kamu perbaiki dalam keseharianmu?

SUMBER BELAJAR

  1. Buku Panduan Guru PJOK SD/MI Kelas VI, Kemendikdasmen 2025, Bab IV (hlm. 156-164)
  2. Buku Siswa PJOK SD/MI Kelas VI, Kemendikdasmen 2025, Bab IV (hlm. 108-114)
  3. Infografis Panduan Aktivitas Fisik dan Pengurangan Perilaku Sedenter (Kementerian Kesehatan RI / WHO)
  4. Set Kartu Aktivitas Harian dan Kartu Risiko Kesehatan
  5. Buku Panduan Guru PJOK untuk SD/MI Kelas VI (Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, 2025)
  6. Buku Siswa PJOK untuk SD/MI Kelas VI Bab 4
  7. Set kartu kasus gaya hidup sedenter dan kartu risiko penyakit
  8. Lembar Kerja Murid (LKPD) 'Analisis Hubungan Sedenter dan Risiko Kesehatan'
  9. Buku Panduan Guru PJOK Kelas VI SD/MI Kemendikdasmen 2025 Bab IV
  10. Buku Siswa PJOK Kelas VI SD/MI Kemendikdasmen 2025 Bab IV
  11. Pedoman Aktivitas Fisik Anak Usia Sekolah Kemenkes RI / WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour
  12. Lembar Kerja 'Pasang Perisai Kesehatan'
  13. Buku Panduan Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan untuk SD/MI Kelas VI (Kemendikdasmen 2025, Bab IV)
  14. Buku Siswa PJOK Kelas VI SD/MI (Kemendikdasmen 2025)
  15. Pedoman Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
  16. Kartu kasus dan kartu solusi pencegahan risiko kesehatan
  17. Buku Panduan Guru PJOK Kelas VI SD/MI, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2022.
  18. Buku Siswa PJOK Kelas VI SD/MI, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, 2022.
  19. Contoh kemasan makanan/minuman berlabel Informasi Nilai Gizi (kotak susu, bungkus biskuit, sereal) atau lembar cetak tabel nilai gizi.
  20. Lembar Kerja Siswa 'Membaca Nilai Gizi Kemasan'.
  21. Buku Panduan Guru PJOK Kelas VI SD/MI, Kemendikdasmen 2025, Bab IV Makanan Sehat Bahan Bakar untuk Bergerak
  22. Buku Siswa PJOK Kelas VI SD/MI, Kemendikdasmen 2025, Bab IV Makanan Sehat Bahan Bakar untuk Bergerak
  23. Contoh kemasan asli makanan dan minuman ringan (biskuit, keripik, jus kotak, susu)
  24. Kartu Sampel Informasi Nilai Gizi dan Lembar Kerja Siswa
  25. Buku Panduan Guru PJOK untuk SD/MI Kelas VI (Kemendikdasmen, 2025), Bab IV: Makanan Sehat, Bahan Bakar untuk Bergerak.
  26. Buku Siswa PJOK Kelas VI (Kemendikdasmen, 2025), Bab IV: Makanan Sehat, Bahan Bakar untuk Bergerak.
  27. Infografis Panduan Isi Piringku dan Kebutuhan Energi Aktivitas Fisik Anak Usia Sekolah Dasar.
  28. Buku Panduan Guru PJOK Kelas VI SD/MI, Kemendikbudristek 2022, Bab 4 Makanan Sehat Bahan Bakar untuk Bergerak
  29. Buku Siswa PJOK Kelas VI SD/MI, Kemendikbudristek 2022, Bab 4 Makanan Sehat Bahan Bakar untuk Bergerak
  30. Lembar Kerja Asesmen Sumatif Bab 4 (Bagian 1: Analisis Gaya Hidup & Pencegahan Risiko; Bagian 2: Analisis Nilai Gizi & Rancangan Menu Harian)
  31. Contoh label Informasi Nilai Gizi kemasan makanan sereal oat

Lihat & unduh lengkap

Masuk pakai Google untuk membuka modul ajar bab ini secara penuh.

Apa isi bab ini?

Dokumen memuat seluruh pertemuan bab ini dalam satu berkas: tujuan pembelajaran per pertemuan, urutan kegiatan inti sesuai alokasi JP, pertanyaan pemantik, asesmen formatif, asesmen sumatif bab, rubrik, dan refleksi. Cocok dipakai sebagai persiapan tatap muka sekaligus lampiran supervisi.

Cara pakai bab ini

Unduh DOCX, lalu sesuaikan nama sekolah, kepala sekolah, dan NIP. Bagian kegiatan inti bisa Bapak/Ibu kurangi atau tambah sesuai karakter siswa di kelas; tujuan pembelajaran sebaiknya tetap selaras dengan ATP induk.